اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
NUR ILAHIYYAH, CAHAYA ATAS CAHAYA
Bismillahirrahmanirrahim
Tentang Cahaya di atas Cahaya terdapat dalam Surah an Nur
ayat 35-38:
“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya
ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang
yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak
berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan
tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya saja menerangi walaupun tidak
disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada
cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan
bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah
di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya
di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang, lelaki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah
dan dari mendirikan solat dan dari membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari
(yang dihari itu) Hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka yang mengerjakan
demikian itu supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan)
yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan
kurnianya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki pada siapa yang
dikehendakinya.” (An-Nur: 35-38)
Hakikat Cahaya
Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia
diumpamakan dengan lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat
adalah suatu lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama
dengan lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita
yang menerangi.
Petuah selanjutnya: Para Wali Qutub
Perumpamaan ketiga komponen ini adalah perumpamaan dari
manusia yang beriman, yang pada dirinya, terdapat jasadnya, hatinya dan cahaya
yang ada di dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan
dengan kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.
“Allah cahaya langit dan bumi”
Bermaksud; Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada
langit dan bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya.
Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebagai petunjuk bagi orang
mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan, kebesaran dan
kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.
Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi
hatinya, kaca ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang
merupakan petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia
mampu melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari
Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam perumpamaan.
Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita
atau hati yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang
diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu diserupakan
dengan mutiara, yang sangat cemerlang .
Tentang kaca dan semua pelitanya atau tentang hati dan
cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan bintang yang mutiara (al-Kaukub
ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu bersinar. Demikian pula kacanya, ia
bersinar dengan cemerlang dan putih bersih.
Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari
mana dan dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati?
Bagaimana kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain,
cahaya itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk
pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang diperolehinya hingga
ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani tersebut?
Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang
dinyalakan adalah pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati
orang mukmin dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya
atau yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah
timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah syariat
Allah.
Menurut Ibnu Kasir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada
dalam diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi
murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan seperti
minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit pun noda.
Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah
merupakan sumber dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat,
yang merupakan sumber dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya.
Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:
“Yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak
disentuh api”
Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi,
kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api. Kadar
besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa besar cahaya
hati yang diperoleh dari pancaran cahaya syariat?
Allah berfirman: “Cahaya di atas cahaya”
Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan
kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis yang
mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita dan minyak.
Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat benderangnya cahaya,
dengan pelita yang ada di dalam tempat yang sempit menyerupai lubang yang tidak
tembus, di mana ia mampu menghimpun dan memadukan seluruh cahaya. Hal ini
berbeda seandainya di tempat yang luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan
meliputi seluruh alam. Sedangkan (dinding) kaca memantulkan dan menambah
penerangan, demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.
Menurut Ibnu Kasir’As-Saddi yang pernah berkata tentang
firman Allah tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya
minyak bila bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan
memancarkan cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman
bersatu padu.
“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia
kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Maksudnya Allah membimbing seorang hamba kepada Cahaya Nya
sehingga Kolbu mereka diliputi oleh CahayaNya kemudian Cahaya itu dipantulkan
oleh Kolbu sehingga (seolah-olah) tubuhnya bercahaya.
Ayat berikutnya :
“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan
dan disebut nama-Nya di dalamnya.”
Jika masjid dalam diri kita (kolbu) dimuliakan dan selalu
kita kumandangkan Nama Nya, maka insya Allah Cahaya di atas Cahaya akan
terpancar dari dalam kolbu kita.
Sumber : Kerabat Sufi (Facebook)
...........................................

No comments:
Post a Comment