أعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
(الْحَمْدُ لِلَّهِ)Tahmid Dengan Denyutan Nadiku
(لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)Tahlil Degupan Jantungku
(اللَّهُ أَكْبَرُ)Takbir Hela Turun Naik Nafasku
اَلْحَمْدُ ِللهِ syukur kepada اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ... اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ ALLAH اللهَ
ALLAH اللهَ
ILMU GHAIB
ILMU
GHAIB
Keselamatan
dan kesehatan adalah faktor yang sangat penting dalam kehidupan, merupakan
syarat mutlak yang harus dimiliki dalam meraih dan menikmati kehidupan yang
lebih baik. Tanpa adanya dukungan dari kedua hal ini kehidupan dan segala hal
yang telah diraih akan terasa tidak berarti apa-apa. Kenyataan dilapangan
begitu banyak orang kehilangan masa depannya serta terenggut kebahagiaan dan
ketenangan hidupnya kerana keselamatannya tergadaikan atau kesehatannya bermasalah,
maka selagi keselamatan dan kesehatan itu berpihak pada diri, kita jaga dan
pertahankan sebaik-baiknya untuk kepentingan tersebut tuhan sang maha pencipta
telah mengaruniakan dalam diri manusia potensi energi perlindungan keselamatan
dan kesehatan yang paripurna dan menjadikan tubuh manusia sebagai pusat energi
spiritual terbesar dialam semesta.
Dan
energi tersebut terletak pada kekuatan mental, akal pikiran, hati, jiwa serta
semua fisik tubuh manusia, yang mana jika manusia boleh membangkitkan kinerja
semua unsur dalam taraf prima pada tubuh mereka, maka mereka memiliki kekuatan
yang sangat dahsyat atau dalam istilah spiritual lebih dikenal sebagai ilmu
ghaib (yang kekuatannya boleh dari unsur luar yakni jin atau qorin.
Ilmu
Gaib adalah ilmu Sirr (rahasia) yakni ilmu yang menyangkut hal-hal diluar akal
pikiran (no-sains dan non-logika). Seperti berjalan dari satu tempat-ketempat
lain hanya memerlukan waktu sekian menit padahal naik kendaraan saja memerlukan
waktu berjam-jam. Bagi mereka yang hubungan dengan sains dan teknologi mereka
menganggap ini adalah mustahil dan kegilaan psikis tapi itulah ghaib mereka
tidak boleh dinalar tapi keberadaannya nyata, seperti udara yang dihirup setiap
detiknya tapi kita tidak tahu wujud udara itu sendiri seperti apa? tapi kita
yakin udara itu ada.
Proses
penerimaan ilmu ghaib bermacam-macam ada yang melalui beragam laku dan tirakat
dan ada juga dengan menggunakan cara transfer energi dari seseorang yang telah
menguasai ilmu ghaib sehingga secara spontan dia memiliki keistimewaan layaknya
seorang yang telah mempelajari ilmu ghaib melalui sebuah tirakatan tertentu.
Cara ini lebih disukai dikeranakan si pengguna tidak memerlukan tirakat ataupun
bersusah payah tinggal cukup di isikan maka dia memiliki energi sebagaimana
mereka yang tirakat.
Ada
beberapa keilmuan dari jenis ilmu ghaib yang boleh diisi secara instan dan ada
pula yang tidak, keilmuan yang boleh di isikan biasanya Ilmu Kanuragan seperti
Kebal serta Pengasihan, sedangkan seperti Kerizkian, Pengobatan, Terawangan,
Lipat Bumi dan sebagainya harus di peroleh dengan ritual tertentu.
Perjuangan
dan kesungguhan hati dalam mendapatkan ilmu tersebut boleh kita lihat pada
zaman dahulu, dimana orang-orang yang memiliki tekat untuk mencari jawaban atas
kekuasaan sang khaliq, mereka dari satu negri ke negri lainnya mencari jalan
untuk menemukan jawaban atas apa yang ada dalam diri serta hakikatnya.
Adakalanya
saat ini, mahar yang diberikan pada seseorang untuk suatu keilmuan merupakan
suatu proses yang mewakili kesungguhan dan niatnya dalam mendapatkan keilmuan
tersebut, sehingga ilmu-ilmu yang ia dapatkan tersebut boleh terjaga
kekeramatannya kerana telah melalui proses suatu perjuangan untuk
mendapatkannya. Perlu anda ketahui, khususnya untuk mahar dalam setiap ilmu
yang di-ijazahkan bukanlah suatu nilai wajib atau nilai atau keampuhan dari
suatu keilmuan, namun arti mahar yang sesungguhnya dalam pengijazahan suatu
ilmu yang ingin anda pelajari adalah suatu bentuk nilai perjuangan dan
kesungguhan hati dalam mendapatkan ilmu tersebut.
Memberi
perhatian kepada spiritual dan persoalan gaib, baik soal hakikat tubuh, hakikat
jiwa, hakikat batin, hakikat kegaiban, tentang makhluk halus seperti malaikat,
jin, setan, soal keadaan alam kubur, alam gaib, dan sebagainya, akan besar
sekali faedahnya bagi perbaikan mental, kesemangatan ibadah, dan menjauhi
larangan-larangan agama.
Terkadang
ada kalanya kemunduran spiritual terjadi pada seseorang , disebabkan oleh
campur tangan orang lain yang berperanan seperti seorang guru spiritual sejati
yang menguasai ilmu-ilmu kegaiban, tetapi mereka tidak secara benar dan tidak
tahu dalam penurunan ilmu dan hakikatnya, sehingga berdampak pada orang-orang
yang merasakan ilmu yang mereka pelajari itu tidak bermanfaat dan tidak bertuah
untuk lahir atau batin mereka. Dan ada juga orang-orang yang sengaja
mengada-ada tentang ilmu gaib dipenuhi dengan kebohongan demi meraup materi
semata. Dari ketidaktahuan seseorang akan ilmu kegaiban secara tidak langsung
perbuatan-perbuatan diatas menimbulkan kerugian materi dan waktu bagi
orang-orang yang ingin mencapai pencerahan hakiki dijalan spiritual.
Hukum
Berdo'a dengan Tawassul
Pengertian
Tawassul
Pemahaman
tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah bahwa :
•
Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara , baik perantara
tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap
mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu dan
perantara doa untuk menuju Allah SWT.
•
Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan perantaraan berupa
sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai
perantaraan tersebut.
•
Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah
boleh memberi manfaat dan madlorot kepadanya da. Jika ia berkeyakinan bahwa
sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu boleh memberi manfaat
dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, kerana yang boleh
memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.
•
Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa. Banyak sekali cara untuk
berdo'a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir,
berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan mendahuluinya dengan bacaan
alhamdulillah dan sholawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga
tawassul adalah salah satu usaha agar do'a yang kita panjatkan diterima dan
dikabulkan Allah s.w.t. Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa
dan bukan merupakan keharusan.
Tawassul
dengan amal sholeh kita
Para
ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan perantaraan
perbuatan amal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa, membaca al-Qur’an,
kemudian mereka bertawassul terhadap amalannya tadi. Seperti hadis yang sangat
populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih yang menceritakan tentang tiga
orang yang terperangkap di dalam goa, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT
atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang kedua bertawassul kepada
Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada
kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas
perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan
mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi
mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyah mengupas masalah ini secara mendetail dalam
kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul Wal wasilah hal 160)
Tawassul
dengan orang sholeh
Adapun
yang menjadi perbedaan dikalangan ulama’ adalah bagaimana hukumnya tawassul
tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh
dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di depan Allah. Sebagaimana ketika
seseorang mengatakan : ya Allah aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu
Muhammmad atau Abu bakar atau Umar dll. Para ulama berbeda pendapat mengenai
masalah ini. Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama
mengatakan tidak boleh.
Akan
tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut
hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar kerana pada
dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), pada intinyaa dalah tawassul
pada amal perbuatannnya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang
diperbolehkan oleh ulama’.
Dalil-Dalil
Tentang Tawassul
Dalam
setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil
yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan
sebagai pegangan. Dan secara otomatis pendapattersebut tidak mempunyai nilai
yang berarti, demikian juga dengan permasalahan ini, maka para ulama yang
mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang
diperbolehkannya tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai
berikut:
A.
Dalil dari alqur’an.
1.
Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah, 35:
"Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu
mendapat keberuntungan."
Surat
Al-Isra', 57:
"Orang-orang
yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka [857]
siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang
(harus) ditakuti. [857] Maksudnya: Nabi Isa a.s., para malaikat dan 'Uzair yang
mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Lafadl Alwasilah dalam ayat ini adalah umum, yang berarti mencakup tawassul
terhadap dzat para nabi dan orang-orang sholeh baik yang masih hidup maupun
yang sudah mati, ataupun tawassul terhadap amal perbuatan yang baik.
2.
Wasilah dalam berdoa sebetulnya sudah diperintahkan sejak jaman sebelumNabi
Muhammad SAW. QS 12:97 mengkisahkan saudara-saudara Nabi Yusuf AS yang memohon
ampunan kepada Allah SWT melalui perantara ayahandanya yang juga Nabi dan
Rasul, yakni N. Ya'qub AS. Dan beliau sebagai Nabi sekaligus ayah ternyata
tidak menolak permintaan ini, bahkan menyanggupi untuk memintakan ampunan untuk
putera-puteranya (QS 12:98).
Mereka
berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa
kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".98. N.
Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Di
sini nampak jelas bahwa sudah sangat lumrah memohon sesuatu kepada Allah SWT
dengan menggunakan perantara orang yang mulia kedudukannya disisi Allah SWT.
Bahkan QS 17:57 dengan jelas mengistilahkan "ayyuhumaqrabu", yakni
memilih orang yang lebih dekat (kepada Allah SWT) ketika berwasilah.
3.
Ummat N. Musa AS berdoa menginginkan selamat dari adzab Allah SWTdengan meminta
bantuan N. Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT untuk mereka. Bahkan secara
eksplisit menyebutkan kedudukan N. Musa AS (sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT)
sebagai wasilah terkabulnya doa mereka. Hal ini ditegaskan QS 7:134 dengan
istilah"
Dengan
(perantaraan) sesuatu yang diketahui Allah ada pada sisimu (kenabian)".
Demikian
pula hal yang dialami oleh N. Adam AS, sebagaimana QS 2:37
"Kemudian
N. Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
Kalimat
yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan oleh ahli tafsirb erdasarkan
sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekalipun belum
lahir namun sudah dikenalkan namanya oleh Allah SWT,sebagai nabi akhir zaman.
4.
Bertawassul ini juga diajarkan oleh Allah SWT di QS 4:64 bahkan dengan janji
taubat mereka pasti akan diterima. Syaratnya, yakni mereka harus datang ke
hadapan Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT di hadapan Rasulullah SAW
yang juga mendoakannya.
"Dan
Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin
Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu,
lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Dalil
dari hadis.
a.
Tawassul kepada nabi Muhammad SAW sebelum lahirS ebagaimana nabi Adam AS pernah
melakukan tawassul kepada nabi Muhammad SAW. Imam Hakim Annisabur meriwayatkan
dari Umar berkata, bahwa Nabi bersabda :
"Rasulullah
s.a.w. bersabda:"Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia berkata Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad agar Kauampuni
diriku".
Lalu
Allah berfirman:"Wahai Adam, darimana engkau tahu Muhammad padahal belum
aku jadikan?"
Adam
menjawab:"Ya Tuhanku ketika Engkau ciptakan diriku dengan tanganMu dan
Engkau hembuskan ke dalamkus ebagian dari ruhMu, maka aku angkat kepalaku dan
aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis "Laailaaha illallaah
muhamadun rasulullah" maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan
mencantumkan sesuatu kepada namaMu kecuali nama mahluk yang paling Engkau
cintai".
Allah
menjawab:"Benar Adam, sesungguhnya ia adalah mahluk yang paling Aku
cintai, berdoalah dengan melaluinya maka Aku telah mengampunimu, dan andaikan
tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku menciptakanmu"
Imam
Hakim berkata bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanadnya. Demikian juga
Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail Annubuwwah, Imam Qostholany dalam kitabnya
Almawahib 2/392 , Imam Zarqoni dalam kitabnya Syarkhu Almawahib Laduniyyah
1/62, Imam Subuki dalam kitabnya Shifa’Assaqom dan Imam Suyuti dalam kitabnya
Khosois Annubuwah, mereka semua mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih.
Dan
dalam riwayat lain, Imam Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Beliau mengatakan
bahwa hadis ini adalah shohih segi sanad, demikian juga Syekh Islam Albulqini
dalam fatawanya mengatakan bahwa ini adalah shohih, dan Syekh Ibnu Jauzi
memaparkan dalam permulaan kitabnya Alwafa’ , dan dinukil oleh Ibnu Kastir
dalam kitabnya Bidayah Wannihayah 1/180.
Walaupun
dalam menghukumi hadis ini tidak ada kesamaan dalam pandangan ulama’, hal ini
disebabkan perbedaan mereka dalam jarkh wattta’dil (penilaian kuat dan tidak)
terhadap seorang rowi, akan tetapi dapat diambil kesimpulan bahwa tawassul
terhadap Nabi Muhammad SAW adalah boleh.
b.
Tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam masa hidupnya.
Diriwatyatkan
oleh Imam Hakim :
Dari
Utsman bin Hunaif: "Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang kepada
Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai orang
yang menuntunku dan aku merasa berat"
Rasulullah
berkata "Ambillah air wudlu, lalu beliau berwudlu dan sholat dua rakaat,
dan berkata: "bacalah doa (artinya)" Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu
dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad
sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu agar dibukakan
mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat".
Utsman berkata: "Demi Allah kami belum lagi bubar dan belum juga lama
pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar
bugar".(Hadist riwayat Hakim di Mustadrak). Beliau mengatakan bahwa hadis
ini adalah shohih dari segi sanad walaupun Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak
meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Dzahabi mengatakatan bahwa hadis ini adalah
shohih, demikian juga Imam Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa’wat mengatakan
bahwa hadis ini adalah hasan shohih ghorib. Dan Imam Mundziri dalam kitabnya
Targhib Wat-Tarhib 1/438, mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam
Nasai, Ibnu Majah dan Imam Khuzaimah dalam kitab shohihnya.
c.
Tawassul kepada nabi Muhammad SAW setelah meninggal.
Diriwayatkan
oleh Imam Addarimi :
Dari
Aus bin Abdullah: "Suatu hari kota Madina mengalami kemarau panjang, lalu
datanglah penduduk Madina ke Aisyah (janda Rasulullah s.a.w.) mengadu tentang
kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: "Lihatlah kubur Nabi Muhammad
s.a.w. lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit
terlihat langsung", maka merekapun melakukan itu kemudian turunlah hujan
lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk,maka disebutlah itu
tahun gemuk" (Riwayat Imam Darimi)
Diriwayatkan
oleh Imam Bukhori : Riwayat Bukhari: dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab
ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul
Muttalib, lalu Abbas berkata:"Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul
(berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami
bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlah hujan kepada, lalu turunlah
hujan.
d.
Nabi Muhammad SAW melakukan tawassul .
Dari
Abi Said al-Khudri: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa keluar dari
rumahnya untuk melaksanakan sholat, lalu ia berdoa: (artinya) YaAllah
sesungguhnya aku memintamu melalui orang-orang yang memintamu dan melalui
langkahku ini, bahwa aku tidak keluar untuk kejelekan, untuk kekerasan, untuk
riya dan sombong, aku keluar kerana takut murkaMu dan kerana mencari ridlaMu,
maka aku memintaMu agar Kau selamatkan dari neraka, agar Kau ampuni dosaku
sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali diriMu", maka Allah akan
menerimanya dan seribu malaikat memintakan ampunan untuknya". (Riwayat Ibnu
Majad dll.). Imam Mundziri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam
Ibnu Majah dengan sanad yang ma'qool, akan tetap Alhafidz Abu Hasan mengatakan
bahwa hadis ini adalah hasan.( Targhib Wattarhib 2/ 119). Alhafidz Ibnu Hajar
mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu
Khuzaimah, Abu Na’im dan IbnuSunni. (Nataaij Alafkar 1/272). Imam Al I’roqi
dalam mentakhrij hadis ini dikitab Ikhya’ Ulumiddin mengatakan bahwa hadis ini
adalah hasan, (1/323). Imam Bushoiri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan
oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan hadis ini shohih, (Mishbah Alzujajah 1/98).
Pandangan
Para Ulama’ Tentang Tawassul
Untuk
mengetahui sejauh mana pembahasan tawassul telah dikaji para ulama, ada baiknya
kita tengok pendapat para ulama terdahulu. Kadang sebagian orang masih kurang
puas, jika hanya menghadirkan dalil-dalil tanpa disertai oleh pendapat ulama’,
walaupun sebetulnya dengan dalil saja tanpa harus menyertakan pendapat ulama’
sudah boleh dijadikan landasan bagi orang meyakininya. Namun untuk lebih
memperkuat pendapat tersebut, maka tidak ada salahnya jika disini dipaparkan
pandangan ulama’ mengenai hal tersebut.
Pandangan
Ulama Madzhab
Pada
suatu hari ketika kholifah Abbasiah Al-Mansur datang ke Madinah dan bertemu
dengan Imam Malik, maka beliau bertanya: "Kalau aku berziarah ke kubur
nabi, apakah menghadap kubur atau qiblat? Imam Malik menjawab:"Bagaimana
engkau palingkan wajahmu dari (Rasulullah) padahal ia perantaramu dan perantara
bapakmu Adam kepada Allah, sebaiknya menghadaplah kepadanya dan mintalah
syafaat maka Allah akan memberimu syafaat". (Al-Syifa' karangan Qadli
'Iyad al-Maliki jus: 2 hal: 32).
Demikian
juga ketika Imam Ahmad Bin Hambal bertawassul kepada Imam Syafi’i dalam doanya,
maka anaknya yang bernama Abdullah heran seraya bertanya kepada bapaknya, maka
Imam Ahmad menjawab :"Syafii ibarat matahagi bagi manusia dan ibarat sehat
bagi badan kita"
Demikian
juga perkataan imam syafi’i dalam salah satu syairnya: "Keluarga nabi
adalah familiku, Mereka perantaraku kepadanya (Muhammad),aku berharap melalui
mereka, agar aku menerima buku perhitunganku di hari kiamat nanti dengan tangan
kananku"
Pandangan
Imam Taqyuddin Assubuky
Beliau
memperbolehkan dan mengatakan bahwa tawassul dan isti’anah adalah sesuatu yang
baik dan dipraktekkan oleh para nabi dan rosul, salafussholeh, para ulama,’
serta kalangan umum umat islam dan tidak ada yang mengingkari perbuatan
tersebut sampai datang seorang ulama’ yang mengatakan bahwa tawassul adalah
sesuatu yang bid’ah. (Syifa’ Assaqom hal160)
Pandangan
Ibnu Taimiyah
Syekh
Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya memperbolehkan tawassul kepada nabi
Muhammad SAW tanpa membedakan apakah Beliau masih hidup atau sudah meninggal.
Beliau berkata : “Dengan demikian, diperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad
SAW dalam doa, sebagaimana dalam hadis yangdiriwayatkan oleh Imam Turmudzi :
Rasulullah s.a.w. mengajari seseorang berdoa: (artinya)"Ya Allah
sesungguhnya aku meminta kepadaMu dan bertawassul kepadamu melalui nabiMu
Muhammad yang penuh kasih, wahai Muhammad sesungguhnya aku bertawassul denganmu
kepada Allah agar dimudahkan kebutuhanku maka berilah aku sya'faat".
Tawassul seperti ini adalah bagus (fatawa Ibnu Taimiyah jilid 3 halaman 276)
D.
Pandangan Imam Syaukani
Beliau
mengatakan bahwa tawassul kepada nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain
(orang sholeh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah
merupakan ijma’ para shohabat.
E.
Pandangan Muhammad Bin Abdul Wahab.
Beliau
melihat bahwa tawassul adalah sesuatu yang makruh menurut jumhur ulama’ dan
tidak sampai menuju pada tingkatan haram ataupun bidah bahkan musyrik. Dalam
surat yang dikirimkan oleh Syekh Abdul Wahab kepada warga qushim bahwa beliau
menghukumi kafir terhadap orang yang bertawassul kepada orang-orang sholeh.,
dan menghukumi kafir terhadap Al Bushoiri atas perkataannya YA AKROMAL KHOLQI
dan membakar dalailul khoirot. Maka beliau membantah : “ Maha suci Engkau, ini
adalah kebohongan besar. Dan ini diperkuat dengan surat beliau yang dikirimkan
kepada warga majma’ah (surat pertama dan kelima belas dari kumpulan surat-surat
syekh Abdul Wahabhal 12 dan 64, atau kumpulan fatwa syekh Abdul Wahab yang
diterbitkan oleh Universitas Muhammad Bin Suud Riyad bagian ketiga hal 68)
Dalil-dalil
yang melarang tawassul
Dalil
yang dijadikan landasan oleh pendapat yang melarang tawassul adalahsebagai
berikut:
1.
Surat Zumar, 2: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari
syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan
di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah
tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Orang yang
bertawassul kepada orang sholih maupun kepada para kekasih Allah, dianggap sama
dengan sikap orang kafir ketika menyembah berhala yang dianggapnya sebuah
perantara kepada Allah.
Namun
kalau dicermati, terdapat perbedaan antara tawassul dan ritual orang kafir
seperti disebutkan dalam ayat tersebut: tawassul semata dalam berdoa dan tidak
ada unsur menyembah kepada yang dijadikan tawassul , sedangkan orang kafir
telah menyembah perantara; tawassul juga dengan sesuatu yang dicintai Allah
sedangkan orang kafir bertawassul dengan berhala yang sangat dibenci Allah.
2.
Surah al-Baqarah, 186: Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran. Allah Maha dekat dan mengabulkan doa
orang yang berdoa kepadaNya. Jika Allah maha dekat, mengapa perlu tawassul dan
mengapa memerlukan sekat antara kita dan Allah.
Namun
dalil-dalil di atas menujukkan bahwa meskipun Allah maha dekat,berdoa melalui
tawassul dan perantara adalah salah satu cara untuk berdoa. Banyak jalan untuk
menuju Allah dan banyak cara untuk berdoa, salah satunya adalah melalui
tawassul.
3.
Surat Jin, ayat 18: Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah.
Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah)
Allah.Kita dilarang ketika menyembah dan berdoa kepada Allah sambil
menyekutukan dan mendampingkan siapapun selain Allah. Seperti ayat pertama,
ayat ini dalam konteks menyembah Allah dan meminta sesuatu kepada selain Allah.
Sedangkan tawassul adalah meminta kepada Allah, hanya saja melalui perantara.
Kesimpulan
Tawassul
dengan perbuatan dan amal sholeh kita yang baik diperbolehkan menurut
kesepakatan ulama’. Demikian juga tawassul kepada Rasulullah s.a.w. juga
diperboleh sesuai dalil-dalil di atas. Tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad
SAW mempunyai kedudukan yang mulia disisi Allah SWT, maka tidak ada salahnya
jika kita bertawassul terhadap kekasih Allah SWT yang paling dicintai, dan
begitu juga dengan orang-orang yang sholeh.
Selama
ini para ulama yang memperbolehkan tawassul dan melakukannya tidak ada yang
berkeyakinan sedikitpun bahwa mereka (yang dijadikan sebagai perantara) adalah
yang yang mengabulkan permintaan ataupun yang memberi madlorot. Mereka
berkeyakinan bahwa hanya Allah lah yang berhak memberi dan menolak doa
hambaNya. Lagi pula berdasarkan hadis-hadis yang telah dipaparkan diatas
menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan suatu yang baru dikalangan
umat islam dan sudah dilakukan para ulama terdahulu. Jadi jikalau ada umat
islam yang melakukan tawassul sebaiknya kita hormati mereka kerana mereka tentu
mempunyai dalil dan landasan yang cukup kuat dari Quran dan hadist.
Tawassul
adalah masalah khilafiyah di antara para ulama Islam, ada yang memperbolehkan
dan ada yang melarangnya, ada yang menganggapnya sunnah dan ada juga yang
menganggapnya makruh. Kita umat Islam harus saling menghormati dalam masalah
khilafiyah dan jangan sampai saling bermusuhan. Dalam menyikapi masalah
tawassul kita juga jangan mudah terjebak oleh isu bid'ah yang telah
mencabik-cabik persatuan dan ukhuwah kita. Kita jangan dengan mudah menuduh
umat Islam yang bertawassul telah melakukan bid'ah dan sesat, apalagi sampai
menganggap mereka menyekutukan Allah, kerana mereka mempunyai landasan dan
dalil yang kuat. Tidak hanya dalam masalah tawassul, sebelum kita mengangkat
isu bid'ah pada permasalahan yang sifatnya khilafiyah, sebaiknya kita membaca
dan meneliti secara baik dan komprehensif masalah tersebut sehingga kita tidak
mudah terjebak oleh hembusan teologi permusuhan yang sekarang sedang gencar
mengancam umat Islam secara umum.
Memang
masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang muslim awam dalam melakukan
tawassul, seperti menganggap yang dijadikan tawassul mempunyai kekuatan, atau
bahkan meminta-minta kepada orang yang dijadikan perantara tawassul,
bertawassul dengan orang yang bukan sholeh tapi tokoh-tokoh masyarakat yang
telah meninggal dunia dan belum tentu beragama Islam, atau bertawassul
dengan kuburan orang-orang terdahulu,
meminta-minta ke makam wali-wali Allah, bukan bertawassul kepada para para
ulama dan kekasih Allah. Itu semua tantangan dakwah kita semua untuk kita
luruskan sesuai dengan konsep tawassul yang dijelaskan dalil-dalil di atas.
Wallahu
a'lam bissowab
Penyusun:
Ustadz
Agus Zainal Arifin, Hiroshima
Ustadz
Muhammad Niam, Islamabad
Ustadz
Ulin Niam Masruri, Islamabad
ALLAH اللهَ ALLAH اللهَ ALLAH اللهَALLAH اللهَ
ILMU GHAIB اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
والله أعلم بالـصـواب
Moga Bermanfaat.
Moga Bermanfaat.
...........................................................................
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Subhanallah 100X سبحان الله
Alhamdulillah 100X الحمد لله
LA ILAHA ILLALLAH 100X لا إله إلا الله
Allāhu akbar 100X الله أكبر
Alhamdulillah syukur kepada ALLAH





No comments:
Post a Comment