Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sesungguhnya Aku berniat kerana Allah:
Daku Niatkan Tasbih anggota tubuhku buat Allah.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya kepada Mu Ya Allah..
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah سبحان الله
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah الحمد لله
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH لا إله إلا الله
Hembusan Nafasku berzikir Allāhu akbar الله أكبر
الحمد لله syukur kepada الله
Jumaat, 23 Januari 2015
PERDUKUNAN DALAM PANDANGAN ISLAM
PERDUKUNAN
DALAM PANDANGAN ISLAM
Ust. H. Ibnu Sholeh, M.A,M.P.I
Kita memiliki prinsip bahwa dukun adalah kekasih-kekasih syaithan, mereka tidak ada apa-apanya dihadapan seorang Muslim yang berpegang kepada syari' ah Allah. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits:
قَالَتْ عَائِشَةُ زَوْجُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلَ نَاسٌ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسُوا بِشَىْءٍ ». فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَاناً بِالشَّىْءِ يَكُونُ حَقًّا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّىُّ فَيُقِرُّهَا فِى أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ »
Dari 'Aisyah RA berkata: banyak orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang para dukun, maka beliau menjawab: "Sungguh mereka itu tidak ada apa-apanya." Mereka bertanya; "Sungguh mereka kadang-kadang mengatakan sesuatu maka menjadi kenyataan? Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Ucapannya itu dari yang benar, dicuri dari golongan jin, lalu dibisikkan jin ke telinga dukun seperti. berkokoknya ayam betina, dan mereka mencampur-adukannya dengan seratus kebohongan. "(HR. Bukhari).
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَنْزِلُ فِي الْعَنَانِ وَهُوَ السَّحَابُ فَتَذْكُرُ الْأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ فَتَسْتَرِقُ الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ فَتُوحِيهِ إِلَى الْكُهَّانِ فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
Dari 'Aisyah RA istri Rasulullah SAW bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya para malaikat turun di awan, maka menyebutkan urusan yang ditetapkan di langit, maka syaithan-syaithan mencuri dengar, sampai mereka bisa mendengar, kemudian mereka wahyukan kepada para dukun, maka dukun-dukun itu berbohong bersama kalimat itu seratus kebohongan dari diri mereka sendiri. " (HR. AI¬ Bukhari 3210 dan Muslim 2228)
Malah Rasulullah SAW melarang kita untuk mendatangi seorang dukun atau tukang ramal kemudian berkonsultasi, beliau bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافاًكاهنا فَسَأَلَهُ عنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أرْبَعِينَ يَوماً
Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, kemudian ia menanyakan sesuatu kepadanya dan mempercayainya, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari. (HR. Muslim)
Sedangkan orang yang mempercayai nasehat tukang ramal atau dukun, maka ia berarti kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SA W.
عن أبي هريرة ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من أتى عرافا أو كاهنا ، فصدقه بما يقول ، فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم »
Dari Abu Hurairah RA berkata: Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, kemudian ia meyakini apa yang ia ucapkan, maka telah ingkar terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.(HR. Imam Ahmad)
Saya sangat prihatin, ketika banyak orang menjaga diri dari godaan syaithan dengan cara-cara musyrik tanpa mereka sadari, mereka mengandalkan benda-benda jimat (tamimah) sebagai tumbal (penjaga keselamatan) dalam berbagai bentuk dan rupa seperti keris, tornbak. gelang, cincin, kalung, sabuk, potongan kayu, potongan kulit binatang, taring babi, bawang jantan, mrica (lada), bungkusan kemenyan, rokok cerutu, batu akik, batu kali, kerang laut, tanah kuburan, potongan kain kafan, bolpen, korek api, dan sebagainya yang berasal dari dukun atau kyai ataupun diperoleh dari tempat-tempat yang dianggapnya keramat.
lni dipakai oleh orang-orang yang jauh dari agama. Ketika mereka merujuk ke dukun-dukun untuk menyelesaikan masalahnya, ternyata tidak selesai. Bahkan ada yang harus menebus jimat-jimat itu dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah, atau mencarinya harus menjadikan nyawa sebagai taruhannya.
Alhamdulillah, dan alhmadulillah berkat hidayah Allah, setelah mereka mengikuti pelatihan ruqyah dan berdiskusi dengan saya, mereka rela menyerahkan benda-benda tersebut kepada saya dan langsung saya musnahkan dengan membakarnya. Kemudian mereka bertaubat kepada Allah ta'ala
Sedangkan banyak juga dari kalangan kaum muslimin yang rajin menjalankan shalat, atau bisa dibilang “taat beragama”, tetapi mereka terjerumus dalam kemusyrikan, tanpa mereka sadari juga.
Sebab banyak dikalangan umat Islam, ketika menyelesaikan masalahnya banyak merujuk kepada orang yang dianggap 'kyai' atau 'wali' atau “orang pinter” atau “paranormal” orang yang menggunakn kedok agama untuk melegalisasi kemusyrikannya.
Maka mereka mengajarkan sedikit do'a dan amalan agama untuk daya pikat dan mengelabuhi “sang korban” kemusyrikannya. Akan tetapi mereka juga memberikan rajah yang dibungkus rapih atau disegel kepada 'sang korban' agar dibawa pulang untuk dijadikan wasilah penangkal bahaya (tolak bala') atau wasilah yang mendatangkan manfaat secara ghaib.
Rajah-rajah (aufaq) yang mereka bikin atau sekedar fotokopinya, biasanya ada tulisan ayat qur' an, doa kepada Allah dengan nama-nama aneh, bukan dari Al Asmaul Husna, bukan nama nabi atau rnalaikat, dan bukan pula nama-nama ulama terkenal.
Tapi tulisan itu berisi nama nama yang mereka yakini sebagai nama naman raja jin, seperti: Asy Syatat, Shal'ashun,Ya'shalun, Jaljalut, Ikhrisya, inilah nama-nama yang diagungkan dan diundang untuk dimintai pertolongan. Bahkan ada yang jelas: ya syaikh Abdal Qadir Al Jailani aghitsni (Wahai guruku Abdul Qadir Al jilani tolong selamatkan aku), ya sayyidi Ali anqidzni (Wahai tuanku Ali selamatkan aku), kemudian ditambah angka¬ angka tertentu dan huruf-huruf tertentu yang tidak ada maknanya di kamus. Selain itu juga ada simbol-simbol atau gambar-gambar yang dianggap akan membawa manfaat atau untuk menoIak bala', seperti bintang, lingkaran, kotak-kotak, segitiga, gambar pedang, harimau, duplikat sandal Nabi SAW, dan sebagainya.
Cara penggunaan rajah itu terkadang dibakar kemudian abunya dicampur dengan air untuk diminum, dan rajah direndam di air kemudian diminum, rajah dipendam di tanah, ditempel di tembok bagian atas, dibuat ikat pinggang, dibungkus kuat untuk dikantongi atau dibuat kalung, dibuat rompi, dibuat sapu tangan.
Media penulisan rajah-rajah itu biasanya berfariasi, ada rajah dengan tulisan Arab yang ditulis diatas kertas biasa, atau karton, logam kuningan, aluminium, sendok, gelas, garpu, piring, kain kafan, kayu, kulit binatang (lulang), dan ditambah batu akik murahan untuk dibuat cincin.
Kegunaan rajah-rajah itupun beraneka ragam, untuk penglaris dagangan, menolak musuh, menolak penyakit ,menolak pencuri /garong/thuyul, menolak sihir/santet, mengusir syaithan, untuk kewibawaan, agar dicintai orang lain, untuk kekebalan, untuk pengobatan penyakit, untuk keharmonisan, untuk kemudahan urusan,untuk menaklukkan lawan, untuk membungkam lawan, untuk menghilang (agar tidak diketahui orang lain), dan sebagainya.
Para ulama salaf sepakat bahwa menggunakan jimat, rajah, atau tamimah diharamkan berdasarkan hadits tentang tamimah yang bersifat umum dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
Sesungguhnya mantra-mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim berkata Shahih dengan syarat Bukhari dan Muslim)
Sedangkan tulisan ayat Al Qur'an murni saja (tidak bercampur dengan yang bukan Quran) untuk dijadikan "azimah mereka melarangnya sebagai sadd lidz dzari'ah (menutup pintu dosa besar), dan tidak ada shahabat yang menjadikan Quran sebagai jimat.
Dosa besarya adalah syirik, maka segala pintu-pintu yang mengarah kepada syirik harus ditutup, jangan diberi celah sedikitpun. Sebagaimana khalifah Umar bin Khathab RA menebang pohon di Hudaibiyah tempat bai'ah 1400 orang shahabat kepada Nabi SAW, karena banyak orang yang melakukan ibadah di bawah pohon itu dan berthawaf. Hal itu dilakukan sebagai upaya menutup pintu bid'ah dan syirik.
Tetapi Umar bin Khathab RA jugalah yang mengusulkan penulisan Al-Qur'an pada masa khalifah Abu Bakar RA, karena menutup pintu bahaya yang besar, yaitu hilangnya AI¬ Qur'an dari ummat Islam disaat para qurra' banyak yang syahid di medan perang, sedangkan Islam sudah menyebar ke seluruh Jazirah Arab.
Dari 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani RA bahwa Rasulullah SAW didatangi sekelompok orang, maka beliau baiah sembilan orang, dan beliau menahan satu orang. Mereka bertanya Wahai Rasulullah, sembilan orang berbaiah, engkau tahan satu orang ini? Beliau bersabda Sesungguhnya pada orang ini ada jimat. Maka beliau memasukkan tangannya memutuskan jimat itu, kemudian beliau membaiahnya.
Dan beliau bersabda:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِىِّ َنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ « إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً ». فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ « مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
Barang siapa , bergantung kepada jimat, maka ia telah syirik:" (HR. Ahmad dan Hakim, Iihat Silsilah ' Hadits Shahih Syekh Al-Albani: 492)
Orang yang menggunakan tamimah, jimat, wifiq, haikal, rajah dan sejenisnya karena ia meyakini ada manfaatnya, atau sebagai wasilah kepada Allah, maka ia tidak bisa tawakkal kepada Allah, karena jimat itu lebih ia yakini dan inilah syirik kecil, akan tetapi apabila ia meyakini bahwa jimatnya itu adalah penangkal bahaya atau yang mendatangkan manfaat sendiri, maka ia telah jatuh dalam syirik besar.
Kaidahnya dalam masalah ini adalah:
كل من جعل سببا لم يجعله الله سببا لاشرعا ولاقدرا فقد اشرك شركا اصغر
Setiap orang yang menjadikan sabab (perantara) yang tidak dijadikan oleh Allah sebagai perantara, baik secara syar'i ataupun terukur, maka ia telah melakukan syirik kecil
Perantara yang syar'i seperti ruqyah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, berbekam,madu, air zam zam, habbah sauda’, minyak zaitun dan makan kurma 'Ajwah.
Perantara yang terukur adalah terukur kadarnya, terukur lama konsumsinya, terukur kondisi pasiennya, seperti herbal, obat dokter, ada dosisnya, lama mengkonsumsi obat itu, disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien berdasarkan analisa.
Maka menjadikan madu sebagai obat diare adalah shah berdasarkan syari'at (hadits Nabi SAW) dan juga bisa diukur dosisnya, lama mengkonsumsinya, dan bagaimana kondisi pasiennya saat akan dan sesudah mengkonsumsinya.
Sangatlah berbeda dengan rajah, jimat yang dikalungkan atau dibakar kemudian abunya disedu dengan air kemudian diminum. Ini perbuatan bodoh, yang tidak ada Iandasan syar'i dan tidak bisa diukur dosisnya, lama mengkonsumsinya, dan bagaimana kondisi pasien.
Akan tetapi para dukun menjadikan rajah, jimat sebagai perantara yang sering disebut "ini hanya syari'at berobat, sedangkan hakikat yang menyembuhkan hanyalah Allah." Ini kalimat yang sesat dan menyesatkan, karena jimat dilarang oleh syariat, bagaimana dia katakan ini hanya syari'at berobat?
Alhamdulillah dan Alhamdulillah banyak Rajah dan berbagai jimat yang saya terima dari berbagai daerah pada saat pelatihan RUQYAH SYAR’IYYAH, kemudian saya bakar dengan membaca ayat kursi. Alhamdulillah,semua rajah musnah dan tidak ada yang bisa membela dirinya pada saat saya musnahkan dengan cara membakarnya. Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
Perdukunan telah merasuk dalam masyarakat Islam, sehingga kebenaran dan kebathilan menjadi samar. Karena banyak ilmu-ilmu perdukunan dikemas dengan kemasan agamis, sehinga masyarakat Islam banyak yang tertipu oleh para dukun.
Sebagai contoh, banyak pasien yang menyampaikan keluhan-keluhan mereka kepada saya setelah sekian lama menderita sakit terkena sihir dan telah berobat ke banyak orang, ada yang disebut sebagai orang pintar, 'paranormal, orang tua, dukun, kyai, kyai haji, pak haji, habib, bahkan ada yang hafal AI Quran dan menguasai ilmu-ilmu alat dan pandai baca kitab bahasa Arab, tetapi sayangnya mereka melakukan praktik ilmu perdukunan secara terselubung di balik kedok agama dan keshalihan dalam penampilannya.
Maka kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita terjerumus dalam perdukunan terselubung dan kita harus bertaubat kepada Allah dari interaksi dengan dukun (kahin, sahir, 'arraf dajjal, musya'widz),
MEWASPADAI CIRI-CIRI PERDUKUNAN
Diantara ciri-ciri perdukunan yang saya dapatkan informasinya dari para pasien yang bertaubat, atau dukun-dukun yang bertaubat, kemudian saya teliti dan saya sering menerima informasi yang sama dari para pasien, diantara ciri lain praktik perdukunan sbb:
1. Membutuhkan informasi tentang pasien, atau orang yang dimaksudkan dengan menanyakan namanya dan nama ibunya untuk dijadikan bahan ramalannya. Ini sebagai doktrin kufur syaithan yang tidak mengakui adanya pernikahan yang shah secara syari'at, maka nasab anak dinisbatkan kepada ibunya,
2. Menanyakan hari lahir dan pasarannya (kliwon, legi, pahing, pon, wage) atau orang Jawa sering menyebutnya weton (hari lahir dan pasarannya), termasuk waktu Iahirnya pagi, sore, siang atau malam untuk dikaitkan dengan nasibnya. Maka banyak perhitungan dukun yang membatalkan pernikahan seseorang karena tidak cocok dengan perhitungan hari lahir calon pasangannya.
3. Memberikan mantra-mantra terkadang ayat tertentu dengan dibalik dan doa dengan menyebut nama jin tertentu, atau membaca mantra, atau membaca simbol-simbol tertentu sebagai pengganti mantranya agar diamalkan secara khusus dan dengan cara dan hitungan khusus.
4. Meminta sesaji apapun bentuknya, baik kemenyan, bunga-bungaan, buah-buahan, binatang, telur, benda mati dan sebagainya. Kemudian diletakkan di tempat khusus yang ia tentukan.
5. Memberikan jimat, rajah, wifiq, haikal dengan tulisan arab, benda-benda yang dianggap pusaka, potongan kayu, selembar kain, atau rajah yang dibungkus rapih dimasukkan dalam ikat pinggang, dompet, digantung dan sebagainya.
6. Memberi informasi ghaib tentang keberadaan makhluk ghaib dengan ciri-cirinya atau karakternya atau memberitahukan posisi orang yang kabur, posisi pencuri, atau keberadaan barang yang hilang.
7. Menunjukkan bahwa dirinya punya kekuatan ghaib, bantuan malaikat, atau bantuan jin, tenaga dalam, kebatinan, transfer energi positif atau membuang energi negative, pengobatan jarak jauh bahkan hanya dengan mendengar suara via telpon sudah bisa mendeteksi penyakit¬penyakit pasien dan mengobatinya cukup dengan duduk tenang releks, akhirya pasien sembuh.
8. Memberikan ramalan ghaib tentang sesuatu yang sudah terjadi atau sedang terjadi atau yang akan terjadi. Seperti menjelaskan dosa-dosa pasien yang barn datang secara rinci, atau masa lalu pasien, menerangkan isi rumah pasien, dan meramal masa depannya.
9. Tathayyur (rnenghubung-hubungkan sebuah peristiwa fenomena alam dengan nasib baik/buruk seseorang atau suatu kaum). Seperti seorang dianggap nasibnya sial karena dia punya rumah tepat di pertigaan yang sering disebut rumah tusuk sate.
10. Menggunakan media manusia rnisalnya anak kecil atau orang lain sebagai sarana jin masuk, atau menggunakan barang untuk berhubungan dengan makhluk ghaib, atau untuk memohon bantuan ghaib di kamar gelap, dengan bakar kemenyan dan sesaji.
11. Memberikan amalan bid'ah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah seperti puasa pati¬ geni, puasa ngrowot, puasa mutih, puasa ngebleng atau amalan sunnah dengan tata-cara bid'ah seperti shalat malam 41 malam tanpa putus dengan pakaian yang sama, rakaat yang sarna, bacaan yang sarna, di tempat terbuka yang sarna atau arnalan syirik seperti menyembelih binatang untuk kuburan gurunya atau melakukan dosa besar seperti meninggalkan shalat shubuh karena sedang menjalani dzikir telanjang sambil berendam di sungai dari malarn sarnpai terbit matahari.
12. Menggunakan benda-benda bekas pasien, benda pusaka atau tempat-tempat khusus sebagai syarat dalam ritualnya untuk pengobatan atau mendapatkan solusi masalah kliennya.
13. Melakukan sihir atas permintaan orang lain atau menunjukkan kemampuan sihimya, seperti menyulap daun menjadi uang, atau menggandakan uang, menarik harta karun, jasa santet, sihir penglarisan, sihir pelet, sihir menghalangi pernikahan.
14. Mencabut sihir dan mengeluarkan benda-benda sihir dari tubuh pasien, seperti pecahan kaca, kerikil, paku, kawat, atau melalui bedah tanpa berdarah, atau dengan cara dibekam keluar kalajengking, kelabang, dan sebagainya. Kemudian dikatakan ini sihimya sudah saya cabut. Padahal benda-benda itu sudah disiapkan sebelumnya, meskipun disembunyikan.
15. Melakukan pemagaran/pembentengan ghaib bagi orang yang dituju atau tempatnya agar tidak ada gangguan dari makhluk ghaib dengan cara mengirim jin untuk menjaganya.
16. Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan bagaimana cara mengetahui hal-hal ghaib, beliau melakukan pembentengi diri dengan dzikirullah dan doa-doa yang sangat banyak, melakukan pengobatan dengan ruqyah, doa, obat-obat herbal, makanan yang baik, minuman yang baik, berbekam, dan beliau berolah-raga berjalan, berlari, naik kuda, naik unta, memanah, gulat, Iempar lembing, berlatih pedang dan beliau perintahkan agar para hahabat mengajari anak mereka berkuda, memanah, dan berenang.
Unknown di 22.09
Lihat juga...
Bomoh pawang
Khadam jin.
Bab alam ghaib ini payah dan panjang bahasnya.
Kenapa dirasuk??
Kenapa bila solat ade gangguan??

No comments:
Post a Comment