Mengungkap Penciptaan Nabi Adam Berdasarkan Alquran
Allah menciptakan alam semesta dan Nabi Adam (Foto: Video Block)
Banyak dari kita mungkin menganggap kalau Nabi Adam tercipta dari tanah. Tapi, tak sedikit juga menjelaskan kalau Nabi pertama itu diciptakan Allah SWT dari sari pati tanah atau tanah liat.
Ketidaksamaan pernyataan tersebut mungkin membuat Anda bertanya-tanya, sejatinya Nabi Adam terbuat dari apa? Bagaimana kemudian perbedaan pendapat ini bisa muncul dan apa jawaban Alquran yang paling tepat?

Menjawab ketidakpastian yang kerap membingungkan terkait penciptaan Nabi Adam, dalam buku 'Sains dalam Alquran: Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah' karya Dr Nadiah Thayyarah, diterangkan dengan jelas bagaimana Nabi Adam diciptakan.
Nabi Adam terbuat dari semua bahan itu. Tetapi, bagaimana bisa? Sebenarnya, itu hanyalah tahapan dalam proses penciptaan Adam. Apa yang diterangkan di dalam Alquran secara tidak langsung menjelaskan prosesi penciptaan Adam yang bertahap.
Diterangkan lebih lanjut, tahap pertama penciptaan Adam adalah dari tanah. Hal ini diisyaratkan dalam hadis Nabi, “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari satu genggam yang diambil-Nya dari seluruh tanah bumi. Kemudian anak keturunan Adam terlahir hingga bilangannya sejumlah tanah bumi, ada yang berwarna putih, merah, hitam, dan antara dua warna itu; ada yang buruk, baik, senang, sedih, dan di antara dua keadaan itu." (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud).
Oleh karenanya, sifat-sifat manusia itu bermacam-macam berdasarkan sifat-sifat tanah. Dan keturunan Adam terlahir serupa dengan ragam dan jenis tanah.
Di antara mereka ada yang memiliki kepribadian yang lembut seperti tanah yang subur, ada pula yang memiliki kepribadian yang sulit dan keras, seperti lahan kering yang tak dapat menumbuhkan tanaman dan tidak mengandung air.
Sementara itu, ada yang memiliki kepribadian sombong dan keras kepala. Sifat-sifat manusia itu bermacam-macam sesuai sifat tanah yang menjadi bahan penciptaan Adam.
Ada pula yang putih, hitam, dan merah- warnanya beragam seperti warna-warna tanah. Tabiat manusia pun mencerminkan contoh dari sifat-sifat tanah karena Allah mengambil satu genggam tanah yang diambil dari seluruh macam tanah untuk menciptakan Adam.
Oleh sebab itu, Nabi Adam diberi nama Adam karena ia berasal dari kulit bumi (adîm), dan kulit bumi berarti tanah.
Dinamakan Adam supaya Anda selalu ingat dari apa Anda berasal sehingga Anda harus tunduk dan merendahkan diri kepada kekuasaan dan keagungan Sang Khalik. Sebab, Anda tahu apa arti Adam dan dari apa ia tercipta.
Detail penciptaan Nabi Adam
Awal penciptaan Adam adalah dari tanah. Kemudian tanah itu dibasahi dengan air. Setelah dibasahi, ia menjadi sari pati tanah (lihat tahapan fase penciptaan). Allah berfirman,
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari sari pati tanah." (Shad: 71).
Kemudian sari pati tanah tadi dibasahi lagi. Dan saat dibasahi, ia menjadi tanah yang liat. Semakin banyak air ditambahkan ke dalamnya, ia akan semakin kuat dan lengket. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 11).
Makna tanah liat ialah tanah yang satu sama lain saling merekat dan bersatu. Tanah liat ini dibentuk Allah dengan kedua tangan-Nya yang mulia sehingga berbentuk manusia. Siapa yang membentuknya? Yang membentuknya adalah Allah langsung.
Allah berfirman, "Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?" (Shad: 75).
Tadinya kalian adalah tanah, lalu tanah itu dibasahi sehingga menjadi sari pati tanah. Dan sari pati tanah itu dibasahi sehingga menggumpal dan menjadi tanah liat. Kemudian tanah liat ini dibentuk Allah sehingga menjadi tanah kering.
Tanah kering ini dibentuk dan terlalu sering dibasahi, maka ia menjadi hitam pekat. Kemudian tanah kering yang dibasahi tadi dibiarkan hingga mengering lagi sehingga menjadi seperti tembikar.
Allah membuat lubang di bagian mulutnya sehingga terlihat seperti tembikar. Sampai saat itu, Allah belum meniupkan ruh ke dalamnya.
Di dalam atsar (riwayat) disebutkan bahwa Allah membiarkannya selama empat puluh hari berupa tembikar yang berbentuk manusia, persis seperti patung.
Mengilhami penciptaan Nabi Adam
Jika Anda mengetahui hal ini dan hidup dengan itu, apakah Anda tahu betapa sederhana dan lemahnya Anda, dan betapa hebat dan maha kuasa Allah itu?
Allah berfirman: "Ketika Aku telah menyempurnakan ciptaan-Nya, dan telah mencurahkan ke dalamnya roh-Ku, maka kamu akan tunduk kepadanya." (Al-Hijr: 29).
Kemudian di tanah kering buatan manusia, Allah meniupkan satu embusan sehingga dia berubah menjadi manusia hidup yang bisa mendengar, berpikir, melihat, dan mengerti. Manusia dengan kepala, usus, hati dan tangan bergerak.
Semuanya itu dilakukan dengan apa? Dengan satu embusan Allah. Tadinya berupa tembikar, kini telah berubah menjadi manusia yang bisa mendengar dan melihat. Kemudian Tuhan menyuruh para malaikat-Nya untuk sujud kepada-Nya.
Berapa banyak ayat yang berbicara tentang penciptaan manusia dan kemampuan Allah untuk itu seharusnya membuat Anda berpikir. Lihatlah apa yang dikatakan dalam ayat berikut:
"Kami telah menunjukkan kepada mereka tanda-tanda (kekuatan) dari semua wilayah di bumi dan diri mereka sendiri, sampai mereka yakin Alquran itu benar. Apakah tidak cukup bahwa Tuhanmu adalah saksi dari semua hal?" (Fushshilat: 53).
Ungkapan ayat di atas memaksa kita untuk berpikir, bagaimana Adam diciptakan? Tadinya Adam hanya sebentuk patung dari tanah kering. Dan dengan satu embusan Allah, jadilah Adam. Karena itu belajarlah untuk takut kepada Allah!
(DRM)
Kejadian Manusia Pertama (Adam) Menurut Al-Quran Dan Pentateuch (Torah)
- Published in Kontemporari
- Read 37828 times
- font size decrease font size increase font size
Khairul Nizam Abdul Karim
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Islam merupakan al-Din yang lengkap dan paling sempurna mengatasi agama-agama samawi yang lain, dan ia mendapat pengiktirafan daripada Allah secara langsung dan diturunkan melalui Kitab Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad S.A.W sebagai agama samawi yang terakhir. Manakala Pentateuch pula adalah istilah yang digunapakai terhadap kitab-kitab samawi yang diturunkan sebelum al-Qur’an. Ia merangkumi Kitab Zabur, Taurat dan juga Injil. Dalam kertas kerja ini, penulis melihat bahawa persoalan penciptaan manusia pertama merupakan suatu kajian yang amat menarik untuk diselidiki di dalam al-Qur’an dan dibandingkan dengan kandungan Pentateuch.
Ini kerana, terdapat persamaan terhadap beberapa peristiwa penting yang berlaku ketika berlangsungnya proses pencipaan manusia tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kebenaran yang terkandung di dalam Pentateuch itu sama ada ia masih asli ataupun sudah diselewengkan. Selain dari itu juga penulis cuba untuk melihat perbezaan-perbezaan maklumat yang terkandung di antara Pentateuch dan juga al-Qur’an, seterusnya bakal merungkai bagaimana atau siapakah manusia pertama yang telah “diciptakan” itu.
Ini kerana, terdapat persamaan terhadap beberapa peristiwa penting yang berlaku ketika berlangsungnya proses pencipaan manusia tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kebenaran yang terkandung di dalam Pentateuch itu sama ada ia masih asli ataupun sudah diselewengkan. Selain dari itu juga penulis cuba untuk melihat perbezaan-perbezaan maklumat yang terkandung di antara Pentateuch dan juga al-Qur’an, seterusnya bakal merungkai bagaimana atau siapakah manusia pertama yang telah “diciptakan” itu.
KEJADIAN MANUSIA PERTAMA (ADAM) MENURUT AL-QUR’AN
Pendahuluan
Di peringkat awal sebelum penciptaan manusia bermula Allah S.W.T telah berfirman kepada malaikat bahawa akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini. Sebagaimana firmanNya yang bermaksud:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.....
Surah al-Baqarah (2): 30
Merujuk kepada ayat di atas falsafah kejadian manusia iaitu sebagai khalifah merupakan satu penganugerahan sebagai ciptaan terbaik di antara ciptaanNya. Selian itu sebagai khalifah manusia juga mempunyai tanggungjawab yang tinggi untuk mentadbir alam ini.
Falsafah Penciptaan Manusia daripada Tanah
Berkenaan penciptaan manusia pertama di dalam Al-Quran terdapat di dalam beberapa surah yang kebanyakan ayat menyatakan bahawa manusia adalah dicipta daripada tanah. Sudah tentu penciptaan ini mempunyai intisari dan falsafahnya yang tesendiri.
Manusia telah dipaparkan di dalam Al-Quran sebagai ciptaan yang dihubungkan dengan tanah. Sebagaimana firman Allah:
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sabaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu(daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya” Surah Nuh (71): 17 –18
“Dari bumi(tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” Suran Thaha (20): 55
Merujuk kepada ayat-ayat di atas ianya menunjukkan bahawa aspek spiritual mengenai asal-usul kejadian manusia daripada tanah ialah menekankan bahawa manusia akan kembali kepada tanah selepas mati. Selain itu ia juga merujuk kepada kebangkitan manusia di hari penghisaban atau hari perhitungan.
Manakala Dr. Maurice Bucaille di dalam bukunya iaitu What Is The Origin Of Man?, mengatakan bahawa perkataan khalaqa yang biasanya diberi pengertian sebagai menjadikan atau “ to create” adalah kurang besesuaian. Beliau menafsirkan perkataan yang paling sesuai ialah “ to give porpotion to the a thing, atau “to make it of a certain propotion or quantity” atau to bring into existence a thing which did not formerly exist . Beliau juga menekankan bahawa perkataan di atas adalah hampir kepada perkataan asal yang digunakan di dalam Bahasa Arab .
Kompenen dan Proses Kejadian Manusia
Terdapat banyak surah di dalam al-Quran yang menghuraikan tentang penciptaan manusia. Didapati kebanyakan ayat menerangkan bahawa kejadian manusia adalah daripada tanah ( turab ). Di antara firman Allah itu ialah :
“ ...maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu daripada tanah,....”
Surah al-Hajj (22): 5
Maka dalam huraian seterusnya penulis akan menghuraikan proses kejadian manusia ini melalui beberapa peringkat dengan merujuk kepada beberapa ayat yang bersesuaian.
Pertama:Peringkat Saripati Tanah( سلالة من طين )
Pada peringkat ini didapati bahawa Allah S.W.T melakukan beberapa penyaringan debu tanah. Firman Allah:
“ Kemudian Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati(berasal) dari tanah”Surah al-Mu’minun (23): 12
Proses ini bertujuan untuk mendapatkan saripati tanah (sulālat min ţīn) yang bersih dan amat sesuai untuk dijadikan bahan sebagai salah satu unsur daripada penciptaan manusia. Ini menunjukkan bahawa tanah yang digunakan ini telah melalui proses penyaringan dan bukan daripada tanah biasa sebagaimana yang manausia pada hari ini fikirkan. Ini amat bersesuaian dengan kemuliaan yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada manusia. Dari aspek lain dipaparkan juga adalah kebesaran Allah S.W.T dalam penciptaan makhluqnya dan Dia sebagai Khāliqnya.
Manakala Dr. Maurice Bucaille menghuraikan dengan merujuk kepada Surah al-Furqan: 54 bahawa keturunan manusia juga berasal daripada air iaitu saripati sperma atau yang dipanggil secara sciencetific sebagai spermatozoon . Oleh itu beliau melihat saripati tanah yang dikemukakan di atas hendaklah dirujuk bersama pelbagai kompenen lain yang merangkumi saripati tanah dan saripati air yang menjadi elemen terpenting dalam penciptaan manusia.
Kedua: Peringkat Tanah Melakat (طين لازب )
Pada peringkat ini dikenali sebagai peringkat tanah melekat. Sebagaimana firman Allah:
“…Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat”
Surah As-Shaffat (37): 11
Sebagaimana diketahui tanah liat pada dasarnya mempunyai sifat melekat. Al-Qurtubiyy menghuraikan bahawa pada peringkat ini keadaan tanah melakat atau menempel di antara satu sama lain. Manalaka selepas itu tanah ini akan menjadi tanah yang keras .
Pada peringkat ini Al-Qurtubiyy juga menerangkan di dalam tafsirnya bahawa manusia pertama iaitu yang dikaitkan dengan Adam dikatakan kekal sebagai satu lembaga yang berbentuk tanah liat. Selain itu tempuh ia berada dalam keadaan ini adalah selama empat puluh tahun sehingga sifat fizikalnya berubah menjadi keras dan kering .
Ketiga: Peringkat Tanah Berbau (حماء مسنون)
Peringkat ini adalah dengan merujuk kepada firman Allah yang bermaksud:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
Surah al-Hijr (15): 26
Mengikut tafsiran Dr. Maurice Bucaille حماء مسنون diertikan juga sebagai lumpur atau tanah berorganik dan tidak tertumpu kepada pengertian lain seperti lumpur yang berubah-ubah yang berwarna hitam serta mempunyai bau tersendiri . Ini adalah disebabkan proses penyebatian di anatara tanah dan air telah berlaku.
Keempat: Peringkat Tanah Keras ( الصلصال)
Perkataan ini tidak sempurna jika perumpamaannya tidak dijelaskan bersama iaitu كاالفخار yang membawa erti seperti tembikar. Maka jelas bahawa pada peringkat ini dari aspek fizikalnya manusia yang ingin diciptakan oleh Allah S.W.T berada dalam keadaan yang keras seperti sifat tembikar. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
“Dia mencipta manusia dari tanah kering seperti tembikar”
Surah Ar-Rahman (55): 14
Manakala Abū Hasan al-Tibrisī menerangkan bahawa dengan fizikal yang keras, ia dapat mengeluarkan dentingan bunyi yang gemerincing serta berulang-ulang di udara seperti suara besi yang dipukul angin . Pada peringkat ini menunjukkan bahawa masa untuk Adam menjadi lembaga manusia yang lengkap sudah tiba. Pada peringkat ini juga ianya dilihat sebagai peringkat terakhir penciptaan manusia dari aspek fizikalnya termasuk tiga peringkat yang terawal sebagaimana yang diterangkan sebelum ini.
Kelima: Peringkat Peniupan Roh
Peringkat yang kelima ini menunjukkan proses penciptaan manusia pertama(Adam) dari aspek spiritual, setelah aspek fizikalnya telah lengkap hingga ke tahap menjadi satu lembaga. Di dalam kitab Qisās al-Ambiyā’ penerangan tentang proses penciptaan manusia yang seterusnya dipaparkan dengan amat jelas. Dikatakan Allah S.W.T meniup roh ke dalam diri Adam melalui kepala dan selepas itu malaikat dengan perintah Allah telah mengajar Adam untuk memuji Allah iaitu (الحمد لله ) lalu dia menyebut. Apabila roh memasuki bahagian matanya, Adam telah dapat melihat denga jelas buah-buah yang terdapat di dalam syurga. Selepas itu apabila sampai roh ke bahagi kerongkong Adam ingin makan. Dan sebelum roh sampai kebahagian kaki, maka Adam segera ingin menjankau buah tersebut .
Di sini terdapat dua persoalan yang dapat dijelaskan. Pertama, jika merujuk kepada huraian di atas bahawa proses peniupan roh ke dalam jasad Adam berlaku di dalam syurga maka boleh dibuat kesimpulan bahawa tempat penciptaan manusia pertama(Adam) adalah berlaku di dalam syurga. Ini adalah bertepatan dengan pendapat yang menyatakan Adam dicipta di syurga Ma’wa iaitu tempat kediaman kepada orang-orang sāleh sepertimana yang dihuraikan di dalam kitab Hayāt Ādam .
Persoalan kedua adalah berkenaan dengan sikap gopoh Adam dam proses penyempurnaan penciptaannya. Ia dapat dilihat dalam sikap manusia pada hari ini yang suka melaksanakan sesuatu perkara dalam keadaan yang tergesa-gesa atau inginkan sesuatu itu dalam kadar yang segera. Sebagaimana pepatah Melayu:
“ Belum duduk sudah nak melunjur”.
Dalam hal ini Allah S.W.T telah menerangkan sikap ini di dalam al-Quran sebagaimana firmannya yang bermaksud:
“Manusia telah dijadikan(bertabiat) tergesa-gesa…” Surah Al-Anbiya’(21): 37
Maka dengan berakhir proses peniupan roh ini sempurnalah kejadian Adam iaitu sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah S.W.T. Jika dilihat dengan teliti proses penciptaan manusia pertama yang dipaparkan di dalam al-Quran amat teliti dan huraiannya adalah bersifat kronologi.
KEJADIAN MANUSIA PERTAMA (ADAM) MENURUT PENTATEUCH(TORAH)M
Pendahuluan
Kejadian manusia pertama yang dihuraikan di dalam Pentateuch adalah amat ringkas. Kebanyakan huraian terdapat di dalam Kitab Genesis iaitu di dalam chapter 1 – 2. Jika dirujuk secara teliti di dalam Kitab Genesis didapati manusia bukan cipataan Tuhan yang pertama.
Secara umum proses kejadian makhluk sebagaimana yang dihuraikan di dalam Kitab Genesis merangkumi 6 hari. Setiap hari terdapat ciptaan yang dijadikan oleh Tuhan sepertimana pada hari pertama siang mendahulu ciptaan-ciptaan yang lain. Manakala pada hari kedua Ia menciptakan air dan tumbuhan diciptakan pada hari ketiga. Selain itu matahari, bulan dan bintang turut diciptakan pada hari tersebut. Seterusnya pada hari keempat diciptakan makhluk-makhluk di daratan dan juga makhluk di lautan. Manakala pada hari kelima binatang berkepak pula dicipta sebagai makhluk di angkasa .
Maka pada hari keenam bermula penciptaan manusia sebagaimana yang diungkapkan di dalam Genesis ( 1:26):
“ The God said, “Let Us make humankind in our image, occording to our likeness and let them have dominion over the fish of the seaand over the birds of the air and over the cattle and over all the wild animals of the earth and over every creeping things that creeps upon earth”
Penulis melihat bahawa tidak terdapat banyak ayat atau ungkapan di dalam Kitab Genesis yang menghuraikan secara terperinci berkenaan proses penciptaan manusia pertama. Didapati hanya terdapat satu ayat sahaja iaitu di dalam Genesis (2 : 7). Walaubagaimanapun penulis melihat ayat tersebut dapat dibahagikan huraiannya kepada dua aspek iaitu darisegi fizikal dan spiritual. Maka dalam huraian seterusnya penulis akan menumpukan perbincangan kepada dua aspek tersebut.
Kejadian manusia dari aspek fizikal
Kitab Suci Bibble iaitu di dalam Genesis telah menerangkan bahawa manusia pertama yang dicipatakan oleh Tuhan adalah daripada debu tanah. Sebagaimana yang diungkapkan di dalam Genesis ( 2:7 ):
“ then the LORD God formed man from the dust of the ground...”
Dengan jelas pada pandangan penulis fakta kejadian manusia daripada tanah ini harus dipegang oleh penganut Kristian. Walaubagaimanapun terdapat pelbagai pandangan yang diutarakan berkenaan fakta tanah ini.
Di dalam Evolution and Theology terdapat ahli agama yang menafsirkan penciptaan manusia daripada tanah itu harus difahami dalam bentuk metafora semata-mata dan bukan dalam bentuk tanah yang sebenar. Ini adalah kerana dari segi pandangan kasar tidak mungkin tanah akan dapat membentuk sehingga menjadi manusia yang lengkap seperti pembentukan Adam.
Selain itu mereka juga berpendapat bahawa jika ia berlaku, maka akan wujud proses-proses pembentukan tanah sehingga lengkap menjadi seorang manusia. Tetapi pada hakikatnya mereka tidak dapat menghuraikan pandangan tersebut dan bagaimanakah proses-proses pembentukan itu berlaku. Pada pandangan mereka, dalam hal ini seharusnya kepatuhan untuk menerima sebarang huraian daripada Kitab Suci iaitu Bibile harus diutamakan .
Penulis juga menemui bahawa ada terdapat huraian lain berkenaan persoalan tanah atau dust sebagaimana yang diungkapkan oleh Bibile. Di antaranya sebagaimana huraian di dalam Creation Revealed karangan Fredk A. Filby, perkataan tanah atau dust adalah dirujuk kepada particles atau butir-butir . Selain itu ia juga telah rujuk kepada unsur atom . Pada pandangan penulis huraian ini adalah mengambil kira aspek atom di mana dari segi fizikalnya terdiri daripada unsur-unsur yang kecil sepertimana unsur yang terdapat di dalam debu tanah.
Dengan melihat kepada huraian dan sumber yang terhad dan masa yang terbatas penulis dapati bahawa tidak terdapat huraian yang kukuh atau tepat tentang penciptaan manusia pertama iaitu Adam, begitu juga mengenai proses-proses pembentukannya. Ini dikuatkan lagi dengan hujah yang dikemukakan di dalam buku I Belileve in the Creator karangan James M. Houstan yang mengatakan bahawa kejadian manusia dari segi fizikal tidak banyak dihuraikan di dalam Old Testament mahupun New Testament. Oleh itu beliau membuat kesimpulan bahawa tidak terdapat seorang pun yang menghuraikan dengan kapasiti yang tepat berkenaan asal-usul manusia sepertimana penciptaan Adam .
Kejadian manusia dari aspek spiritual
Penulis telah menegaskan sebelum ini bahawa hanya terdapat satu ayat sahaja yang menghuraikan kejadian manusia pertama iaitu Adam di dalam Genesis. Bahagian pertama ayat tersebut telah dikategorikan sebagai huraian kepada pembentukan manusia secara fizikal. Manakala sebahagian yang lain telah menghuraikan dari aspek spiritual. Sebagaimana yang diungkap di dalam Genesis ( 2: 7 ):
“...and breathed into his nostril the breath of life; and the man became a living being.”
Dengan melihat kepada ungkapan di atas penulis mendapati terdapat dua komponen utama dalam penyempurnaan penciptaan manusia, iaitu nostril mewakili badan atau body dan breath of life mewakil roh atau spirit. Penjelasan ini amat ketara sebagaimana huraian yang terdapat di dalam The Nature and Destiny of Man .
Dengan meneliti ayat di atas penulis tidak jelas dan tidak pasti sama ada ayat tersebut merupakan huraian kepada proses terakhir penciptaan manusia atau sebaliknya. Ia amat berbeza sebagaimana huraian yang dijelaskan dalam pendangan Islam terhadap peniupan roh ke dalam jasad Adam. Di sini penulis membuat kesimpulan dengan berdasarkan huraian dalam Islam sebagaimana huraian di perigkat peniupan roh bahawa, pada peringkat ini adalah peringkat terakhir kejadian penciptaan Adam.
Di dalam menafsir ayat di atas didapati bahawa terdapat unsur anthropomorphic . Di dalam The Genesis Record didapati seakan-akan Tuhan mempunyai pipi sehingga dapat mengembungkannya dan seterusnya meniupkan roh (breath of life) ke dalam jasad Adam melalui lubang hidung (nostril ). Ini menunjukkan bahawa Tuhan mempunyai jasad sepertimana manusia.
Berkenaan dengan jangkamasa penciptaan manusia pertama iaitu Adam, Genesis memaparkan bahawa proses ini hanya berlaku dalam tempoh masa yang singkat iaitu satu hari. Ini dapat dirujuk kepada Genesis ( 1:27 ). Penciptaan ini terjadi pada hari keenam sebelum Tuhan beristirehat pada hari seterusnya. Walaubagaimanapun al-Quran memaparkan bahawa proses penciptaan manusia mengambil masa yang panjang.
Persamaan dan perbezaan al-Quran dan Pentetuech dalam penciptaan manusia pertama
Dalam perbincangnan sebelum ini dengan jelas didapati bahawa terdapat hanya satu persamaaan di antara al-Quran dan Pentatuech dalam penciptaan manusia. Kedua-duanya menyatakan penciptaan manusia adalah daripada tanah. Walaubagaimanapun dalam perbincangan al-Quran unsur tanah ini mempunyai falsafahnya yang tersendiri. Di antaranya sebagaimana yang dihuraikan sebelum ini manusia dicipta oleh Allah S.W.T daripada tanah dan ia akan kembali ke tanah selepas mati. Selain itu Ibn Kathir menyatakan unsur tanah ini adalah bermaksud tetap pendirian dan ia juga adalah alternatif Allah ke atas zat tanah yang pada dasarnya tanah mempunyai manfaat dan lebih baik daripada unsur lain yang wujud seperti api dan sebagainya .
Di dalam Evolution and Theologi, St. Augustine menerangkan bahawa perbincangan penciptaan manusia adalah suatu yang tidak memberi manfaat. Ini adalah kerana mereka lebih mengutamakan persoalan dari aspek Theologi yang membicarakan persoalan manusia dengan Tuhannya .
Manakala dari segi perbezaan, penulis mendapati terdapat beberapa perbezaan yang amat ketara. Di antaranya berkenaan proses keseluruhan penciptaan manusia. Di dalam al-Quran proses penciptaan manusia ini dihurai dengan cara yang tersusun dan mempunyai peringkat-peringkat tertentu. Dengan ini ia akan lebih mudah difahami dan diyakini.
Manakala huraian yang terdapat di dalam Pentatuech agak ringkas dengan penggunaan satu ayat sahaja iaitu di dalam Genesis ( 2:7 ). Pada pandangan penulis ia sukar difahami dengan jelas bukan sahaja kepada penganut agama lain malah penganut agama Kristian sendiri termasuk ahli-ahli Theologi mereka. Selain itu ia juga akan mengundang salah interpretasi terutama dalam persoalan unsur tanah.
Perbezaan seterusnya adalah berkenaan dengan tempoh masa kejadian manusia. Walaupun penulis masih belum dapat memastikan tempoh masa sebenar penciptaan manusia di dalam al-Quran disebabkan masa yang terhad, tetapi yang pasti tempohnya mengambil masa yang panjang iaitu 40 tahun sebagaimana yang diterangkan sebelum ini.
Ini adalah berdasarkan huraian di peringkat sebelum peniupan roh ke dalam jasad Adam sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas dengan merujuk kepada kalimah “الدهر ” yang membawa maksud waktu daripada masa. Manakala di dalam Genesis dengan jelas menunjukkan penciptaan manusia ini hanya mengambil masa yang singkat iaitu selama satu hari sahaja iaitu pada hari keenam. Ini dengan merujuk kepada Genesis ( 1: 27-31 ).
Penulis melihat bahawa adalah benar jika untuk mengatakan bahawa perbincangan mengenai penciptaan manusia di dalam Bibble bukan suatu yang penting dan utama bagi masyarakat Kristian. Ini adalah kerana ia tidak termasuk salah satu doktrin agama Kristian seperti Konsep Triniti, Dosa Warisan, Salvation dan beberapa yang lain. Dalam Islam walaupun ia bukan termasuk dalam perbincangan doktrin utama sekalipun, tetapi persoalan ini bersangkut paut dengan kepercayaan dan keimanan terhadap kekuasaan Allah yang berkuasa untuk menentukan apa sahaja yang diinginiNya.
AL-QURAN: KEASLIAN KALAM TUHAN
Pendahuluan
Al-Quran telah diturunkan ke atas Nabi Muhammad S.A.W secara beransur-ansur sekitar dua puluh tahun, dan ia masih lagi belum sempurna sebagai satu kitab. Sebagaimana yang diketahui bahawa al-Quran atau wahyu diturunkan melalui pelbagai cara kepada Nabi Muhammad dan juga kepada Nabi-nabi terdahulu . Di antaranya perantaraan malaikat Jibril , mimpi yang benar dan ilham. Dalam proses penurunan ini Allah S.W.T memelihara dan menjamin supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau sesuatu unsur yang dapat mengggugat keaslian dan kemurnian kalamNya selama-lamanhya. Sebagaimana fimanNya yang bermasksud:
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" Surah Al-Hijr(15):9
Dari perspektif al-Quran amat jelas bahawa tidak akan berlaku sebarang penyelewengan terhadap wahyu atau al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul. Ini adalah kerana ia dipelihara oleh Allah S.WT. Dalam huraian yang seterusnya penulis akan cuba melihat secara ringkas dari aspek peralihan ayat-ayat al-Quran melalui cara penghafalan, pengumpulan dan seterusnya proses pembukuan al-Quran. Di mana semua ini akan dapat membuktikan bahawa kalam Tuhan yang diturunkan ini tetap asli dan terpelihara kemurniannya.
Proses Penghafalan dan Peralihan secara lisan
Peralihan ayat-ayat al-Quran secara lisan adalah berasaskan konsep hifz atau penghafalan. Pada peringkat ini Nabi Muhammad S.A.W adalah orang yang pertama menghafal ayat-ayat al-Quran atau wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Maikat Jibril. Penulis merujuk penjelasan ini sebagai mana yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam beberapa ayt-ayat al-Quran .
Pada peringkat seterusnya Nabi Muhammad S.A.W menerangkan tentang penurunan wahyu dan mengarahkan para sahabat untuk menghafalnya. Pelbagai langkah dan usaha telah di ambil oleh Rasulullah S.A.W untuk memastikan setiap ayat yang dihafal oleh para sahabat terus terpelihara. Sebagaimana Hadith yang diriwayatkan oleh Uthman bin 'Affan yang bermaksud:
"Uthman bin 'Affan meriwayatkan bahawa, Rasulullah S.A.W telah bersabda: Orang yang paling tinggi kedudukannya di antara kamu(Muslim) adalah mereka yang mempelajari al-Quran dan mengajkarnya"
Di samping itu para sahabat juga menggunakan ayat-ayat tersebut sebagai ayat bacaan di dalam sembahyang. Pada peringkat ini para sahabat mendengar dengan tekun ayat yang dibaca oleh Rasulullah S.A.W berulang kali dan kemudian mereka menghafalnya. Untuk memastikan mereka tidak lupa, ia digunakan sebagai ayat bacaan di dalam sembahyang seharin. Selain membacanya di dalam sembahyang Rasulullah S.A.W juga mendengar secara terus ayat-ayat yang telah dihafal oleh para sahabat . Ini adalah untuk memastuikan ia tidak silap dan peralihan daripadaNya melaui hafalan akan terus terpelihara.
Pada hakaikatnya lebih daripada dua puluh orang daripada kalangan mereka yang terkenal di dalam Islam yang telah menghafal ayat-ayat al-Quran . Di anatara mereka ialah Abu Bakr, 'Umar , 'Uthman, 'Ali, Ibn Mas'ud, Abu Huraira, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin 'Amr bin al'As, 'Aisha, Hafsa Umm Salam dan lain lagi.
Pada peringkat ini penulis membuat kesimpulan awal bahawa proses penghafalan yang dilakukan pada zaman awal penurunan al-Quran menunjukkan kepada kita bahawa ianya amat terpelihara daripada sebarang unsur penyelewengan atau perubahan. Ini adalah kerana proses ini telah diteliti oleh Rasulullah satu persatu serta menyemak dari bacaan penghafal sendiri. Tradisi ini telah berlarutan di kalangan sahabat selepas kamatian Rasulullah, dan selepas itu di kalangan tabi'un dan ke semua generasi Muslim hingalah ke hari ini.
Proses Peralihan dalam bentuk Penulisan dan Dokumentasi
Suyuti di dalam Itqan telah menyatakan bahawa proses penulisan al-Quran telah dilakukan pada zaman Rasulullah lagi tetapi proses pembukuan atau dokumentasi masih belum berjalan dengan baik . Manakala proses seterusnya berlaku dengan sempurna ketika zaman Abu Bakr dan 'Uthman.
Secara umum maksud pengumpulan al-Quran ini ialah (i) Mengumpulkan ayat-ayat al-Quran secara lisan daripada penghafal al-Quran. (ii) Mengumpulkan ayat-ayat al-Quran dalam bentuk penulisan di atas kertas mahupun buku.
Proses yang terakhir dilihat dalam sejarah pembukuan al-Quran adalah pada zaman 'Uthman yang diketahui umum sebagai Mashaf 'Uthmani. Walaupun pada permulaannya terdapat sedikit perbezaan dari segi pembacaan terutama mashaf yang terdapat di zaman Abu Bakr. Selepas perbincangan dengan para sahabat mereka bersetuju untuk menyemek kembali Mashaf Abu Bakr yang disimpan oleh Hafsa sebagaimana yang diriwayatkan Anas bin Malik di dalam Hadith . Maka selepas itu 'Uthman meminta para sahabat seperti Zaid bin Thabit untuk menulis semula ayar-ayat ini dalam keadaan yang sempurna dan dikenali sebagai Mashaf 'Uthmani.
Oleh yang demikian adalah amat jelas proses yang dipaparkan di atas menunjukkan bahawa bagaimana ayat-ayat al-Quran it terus dipelihara dan dijaga daripada sebarang perubahan dan penyelewengan bermula daripada penurunannya sehingalah dibukukan sebagaimana yang digunakan olek seluruh umat islam di dunia. Pada hakikatnya keasl;ian dan kesahihan ayat-ayat al-Quran sebagai kalam Allah yang asal tidak dapat dipertikikan lagi.
Keagungan dan keaslian kalam Allah ini bukan sahaja diakui oleh seluruh umat Islam tetapi terdapat juga tokoh-tokoh Kristian yang mengakuinya, Sebagai contoh sebagaiman di dalam buku Keagungan Dunia Terhadap Islam, seorang tokoh Kristian iaitu Paul Cassanova mengatakan:
"bilamana saja Muhammad diminta sesuatu mukjizat sebagai bukti kebenaran ajarannya, dia mengutip ayat-ayat al-Quran dengan keistimewaan sasteranya yang tiada tandingan, sebagi bukti al-Quran itu datang dari Ilahi .
PENTATEUCH(TORAH) BUKAN KALAM TUHAN
Perspektif al-Quran
Pada bahagia ini penulis akan cuba mengemukakan hujah-hujah yang mengatakan bahawa Pentateuch atau Torah adalah bukan kalam Allah yang asal sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Musa.Ini adalah keran telah berlaku banyak penyelewengan terhadap sumber asal tesebut. Penulis hanya akan merujuk kepada sumber utama iaitu al-Quran untuk menghuraikan persoalan tersebut.
Allah telah berfirman di dalam al-Quran yang bermaksud:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya(ada) petunjuk dan cahaya(yang meneranngi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”
Surah al-Maidah (5): 44
Merujuk kepada ayat di atas al-Quran telah menerangkan bahawa Taurat ialah kitab yang diturunkan(diwahyukan) Tuhan kepada Nabi Musa. Pada dasarnya kitab ini mengandungi petunjuk, penerangan, hukum-hukum, peringatan dan juga nasihat bukan hanya untuk Nabi Musa tetapi untuk seluruh bangsa Yahudi.
Manakala dalam ayat lain Allah berfirman yang bermaksud:
“ Sesungguhnya Kami telah memberi petunjuk kepada Musa dan Kami wariskan kepada Bani Israil kitab petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai fikiran" Surah al-Ghafir(40):53-54.
Dengan merujuk kepada ayat di atas maka dengan jelas menunjukkan bahawa pada hakikatnya Taurat itu telah sempurna diwahyukan kepada Nabi Musa ebagai kalam Allah dan telah diwariskan serta diajarkan kepada seluruh Bani Israil pada ketika Beliau masih hidup di dunia.
Tetapi dalam firman Allah yang seterusnya, telah dinyatakan pula sikap Bani Israil yang telah dan berpaling daripada ajaran yang di bawa oleh Nabi Musa sehingakan mereka mengubah perkataan yang terdapat di dalam Taurat seterusnya melupakan sebahagian peringatan Allah kepada mereka. Allah berfirman yang bermaksud:
" Maka dengan sebab mereka( Bani Israil) membatalkan janjinya, Kami laknat mereka dan Kami jadikan hatinya keras; mereka mengubah-ubah perkataan dari tempatnya dan mereka melupakan sebahagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka dan engkau sentiasa melihat pengkhianatan mereka kecuali sedikit di antaranya" al-Maidah (5): 13
Terdapat juga beberapa ayat lain yang menerangkan bahawa Bani Israil ini telah melakukan banyak perubahan di dalam Kitab Taurat asal sebagaimana yang telah diturunkan kepada Nabi Musa. Di anataranya di dalam Surah al-Baqarah(2): 75, Surah an-Nisa'(4): 46 dan Surah al-Maidah(5): 41.
Selain daripada mengubah ayat-ayat yang terdapat di dalam Taurat, Bani Israil juga telah mengarang kitab dengan tangan mereka dan seterusnya mengatakan bahawa kitab itu adalah diutuskan oleh Allah. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
" Maka celakalah bagi mereka yang menulis kitab dengan tangannya kemudian katanya: "Ini dari sisi Allah". Supaya dengan demikian mereka dapat menukarnya dengan harga yang sedikit. Maka celakalah bagi mereka dari(sebab) apa yang telah ditulis tangannya dan celakalah bagi mereka dari(sebab) apa yang diusahakannya" Surah al-Baqarah(2): 79.
Penulis juga dapat menegaskan lagi bahawa Taurat kini adalah bukan kalam Allah sebagaimana yang asal. Ini adalah kerana Bani Israil juga bukan sekadar mengubah dan mengarang tetapi telah menyembunyikan sebahagian ayat-ayat di dalam Taurat. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
" Hai ahli kitab! Sesungguhya telah datang kepadamu Rasul Kami menerangkan kepada kamu banyak di antara kitab yang telah kamui sembunyikan dan banyak yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kamu daripada Allah penerangan dan kitab yang terang"
Surah al-Maidah(5): 15.
Di dapati juga sebahagian cerdik pandai Yahudi melakukan pembohongan atau cuba memutarbelitkan lidah mereka ketika membaca Taurat supaya orang akan menganggap apa yang dibaca itu adalah dari kalam Tuhan. Tetapi pada hakikatnya mereka membaca atau mengemukakan pandangan mereka sendiri. Allah telah menerangkan hal ini di dalam al-Quran yang bermaksud:
"Dan sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutarbelitkan lidahnya dengan kitab supaya kamu kira dia darikitab sedang dia bukan dari kitab; dan kata mereka dia dari sisi Allah sedang dia bukan dari sisi Allah dan mereka berkata dusta atas Allah sedang mereka mengetahui". Surah al-'Imran(3):78)
Pada bahagian ini penulis ingin membuat kesimpulan awal bahawa dengan merujuk kepada sumber utama iaitu al-Quran di dapati terdapat penerangan yang jelas bahawa Kitab Taurat yang dipegang oleh Bangsa Yahudi kini adalah bukan kalam Allah dan hal ini bukan perkara baru tetapi telah berlaku pada zaman Nabi Musa lagi. Ianya bermula dengan pengingkaran terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Maka seterusnya berlaku beberapa penyelewengan lain seperti melakukan perubahan pada Taurat, mengarang kitab dengan tangan mereka sendiri, menyembunyikan sebahagian ayat-ayat Taurat, memutarbelitkan ketika membaca Taurat, menyamakan kebenaran dengan kabatilan dan mereka juga telah menyembunyikan kebenaran mengenai kenabian Nabi Muhammad S.A.W .
Oleh yang demikian kitab yang terdapat pada orang-orang yahudi mahupun Kristain kini yang dianggap sebagai kitab suci tidak dapat diyakini lagi keaslian dan kesuciannya sebagai kala m yang berasal dari Allah.
Perspektif Sarjana Kristian
Di dalam bukunya yang bertajuk Perbandingan Agama Kristen dan Islam, H.M. Arsyad Talib Lubis telah mengemukakan bahawa terdapat pengakuan dari pihak Sarjana Kristian yang mengatakan bahawa Taurat yang ada kini bukan Taurat yang asli sebagaimana yang mereka dakwa. Beliau telah merujuk kepada huraian dua tokoh Kristian iaitu Dr. Mr. D.C.Mulder dan Dr.H.Rosin.
Beliau menulis, Dr. Mr. D.C.Mulder mengatakan bahawa sebelum abad ke 19 ahli-ahli fikir masih belum mampu berfikir kritis terhadap Alkitab dan tentang tradisi-tradisi mengenai terjadinya Alkitab itu. Tetapi dengan tersebarnya konsep rasionalism pada abad ke 19 mereka telah mula berubah dan mula menyelidiki tradisi-tradisi Alkitab secara kritis. Maka dengan kajian yang telah dijalankan akhir
ENAM PERINGKAT PENCIPTAAN NABI ADAM A.S
Muqaddimah
Nabi Adam A.S adalah Bapa Manusia yang merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dan tinggal di syurga dalam beberapa tempoh sebelum diturunkan ke dunia selepas memakan buah dari pokok yang dilarang.
Nama Adam disebut sebanyak 25 kali didalam Al-Quran di pelbagai surah yang menjelaskan kisah-kisah bermula dari penciptaannya dari tanah sebagai penciptaan manusia pertama hinggalah kepada kisah pergaduhan anak-anaknya. Di dalam hadith Rasulullah disebut juga beberapa kisah tentang Nabi Adam A.S antaranya ketika perbualan Adam dan Musa A.S.
Proses Penciptaan Adam A.S
1. Peringkat Pertama: Dicipta dari pelbagai jenis tanah bumi (تراب)
Firman Allah SWT:
"Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Nabi Isa di sisi Allah adalah sama seperti (kejadian) Nabi Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah lalu berfirman kepadanya: Jadilah engkau! maka menjadilah ia." (Ali 'Imran : 59)
Maksud tanah didalam ayat tersebut dijelaskan oleh Rasulullah SAW:
(عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الأرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمْ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ)
Maksudnya: "Dari Abu Musa al-Asya'ari RA, dari Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari genggaman yang di ambil dari seluruh bumi, lalu anak keturunan Adam datang sesuai dengan kadar (tanah), di antara mereka ada yang (berkulit) merah, putih dan hitam. Dan diantaranya pula ada yang ramah, sedih, keji dan baik." [HR At-Tirmidhi. No. Hadith 2879]
Terdapat rahsia yang tersirat dari penciptaan manusia yang pelbagai warna dan sifat kerana kepelbagaian penciptaan Adam dari pelbagai jenis tanah dunia. Maka dengan itu, lahirlah manusia yang mempunyai perbezaan rupa kulit, sifat dan tabiat semula jadi, dan pelbagai lagi sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
2. Peringkat Kedua: Dicipta dari tanah liat (طين)
Peringkat seterusnya selepas diciptakan dari pelbagai jenis tanah dunia, maka tanah tersebut di campurkan dengan air hingga menjadi tanah liat (طين) sebagaimana firman Allah:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ [71]
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." (Şād : 71)
Proses ini boleh diumpamakan seperti pelbagai jenis tepung yang di adun dalam satu bekas. Kemudian tepung tersebut ditambahkan dengan air hingga menjadikan tepung tersebut menjadi pejal. Dengan sebab penciptaan Adam AS yang melalui proses inilah, maka iblis ingkar untuk bersujud kepadanya kerana merasakan penciptaan iblis dari api yang hitam lebih baik dari penciptaan Adam AS dari tanah yang dicampur dengan air sebagaimana di firmankan oleh Allah SWT:
[12] قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
"Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (Al-'A`rāf : 12)
Maka berlakulah pengingkaran pertama oleh makhluk ciptaan Allah SWT dan iblis dilaknat selamanya.
3. Peringkat Ketiga: Dicipta dari tanah liat yang pekat (طين لازب)
Setelah pelbagai jenis tanah tadi dicampur dengan air, dalam beberapa tempoh selepas itu terhasillah tanah liat yang pekat (طين لازب) yang menjadikan ia sebagai peringkat ketiga penciptaan Adam yang menjadikan ia kukuh.
Firman Allah SWT:
[11] فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ
"Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Aş-Şāffāt:11)
4. Peringkat Keempat: Dicipta dari tanah liat kering yang hitam (صلصال من حماء)
Seterusnya tanah liat pekat tadi berubah menjadi tanah liat kering yang berwarna hitam (صلصال من حماء) dan diberikan bentul oleh Allah SWT sebagaimana firmanNya:
[14] وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk," (Al-Ĥijr : 28)
5. Peringkat Kelima: Diciptakan dari tanah liat yang dibakar (صلصال كالفخار)
Firman Allah SWT:
[14] خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar." (Ar-Raĥmān:14)
Didalam ayat ini, Allah SWT menggunakan perumpamaan tanah liat kering seperti tembikar bukanlah bermaksud Adam AS itu berbentuk seperti tembikar selepas proses pembentukan peringkat keempat. Akan tetapi yang dimaksudkan dengan (صلصال كالفخار) adalah tanah liat yang dibakar sebagai salah satu proses pembentukan ciptaanNya yang berasal dari tanah.
Seperti pembuatan tembikar yang bermula dari tanah liat, kemudian dibentuk dan dikeringkan. Maka untuk menguatkan lagi struktur tembikar, kebiasaannya ia akan dibakar untuk menghasilkan tembikar yang berkualiti tinggi dan kukuh.
Seperti pembuatan tembikar yang bermula dari tanah liat, kemudian dibentuk dan dikeringkan. Maka untuk menguatkan lagi struktur tembikar, kebiasaannya ia akan dibakar untuk menghasilkan tembikar yang berkualiti tinggi dan kukuh.
Pengkhabaran Allah Kepada Malaikat
Sebelum Adam A.S diciptakan secara sempurna, Allah SWT mengkhabarkan kepada malaikat bahawa Dia akan mencipta Adam AS sebagai khalifah di bumi untuk memerintah dunia. Perbualan ini berlaku ketika peringkat kelima penciptaan Adam selepas dibentuk dari tanah liat yang dibakar melalui firman Allah SWT:
وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْن [30]
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya." (Al-Baqarah : 30)
6. Peringkat Keenam: Ditiupkan Ruh
Apabila telah selesai penciptaan tersebut, maka Allah meniupkan ruh yang membangkitkan Adam sebagai manusia bernyawa dan Allah SWT memerintahkan makhluk lain untuk sujud kepadanya.
Firman Allah SWT:
[72] فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
"Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (Şād : 72)
Demikianlah proses dan peringkat penciptaan Adam Alaihissalam sebagaimana yang dikhabarkan oleh Allah SWT melalui kalam Al-Quran. Bagaimana pula proses penciptaan isteri Adam Alaihissalam (Hawa)? InshaAllah akan dijelaskan dalam penulisan seterusnya.
KISAH PENCIPTAAN NABI ADAM ALAIHISSALLAM
Oleh
Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc
Manusia pertama yang diciptakan Allâh Azza wa Jalla adalah
Adam Alaihissallam . Beliau Alaihissallam adalah bapak dan nenek moyang semua
manusia di seluruh dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ
أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ
Wahai anak Adam! Janganlah kalian terfitnah oleh syaithan,
sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga
[Al-A’râf/7:27]
Allâh Azza wa Jalla menyebutkan dalam ayat di atas bahwa
Adam dan pasangannya adalah orang tua seluruh manusia.
Allâh Azza wa Jalla menciptakan Adam Alaihissallam dari
segenggam tanah yang Allâh Azza wa Jalla ambil dari seluruh permukaan tanah,
maka lahirlah anak Adam yang sesuai dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada
yang berulit putih, merah, hitam dan perpaduan antara warna-warna tersebut.
Diantara meraka ada yang bersifat lembut dan kasar serta perpaduan antara
keduanya serta di antara mereka ada yang baik dan jahat.[1]
Sebelum menciptakan Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa
Jalla terlebih dahulu mengabarkan kepada para Malaikat-Nya bahwa Dia akan
menciptakannya manusia di muka bumi. Mendengar ini, para Malaikat bertanya
kepada Allâh Azza wa Jalla tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi,
padahal para Malaikat terus-menerus beribadah dengan memuji dan bertasbih
kepada Allâh Azza wa Jalla tanpa henti dan tidak pernah berbuat durhaka
kepada-Nya, sementara manusia ada kemungkinan akan berbuat kerusakan dan
menumpahkan darah di muka bumi. Menjawab ini, Allâh Azza wa Jalla mengatakan
kepada mereka bahwa Dia Azza wa Jalla
lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh para
Malaikat.
Allâh Azza wa Jalla
berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ
خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat,
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka
berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allâh berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah/2:30]
Perkataan para Malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan
darah yang akan dilakukan manusia di muka bumi berdasarkan apa yang pernah
dilakukan jin di muka bumi sebelum Adam Alaihissallam diciptkan.[2]
KEMULIAN ADAM ALAIHISSALLAM
Setelah Adam Alaihissallam diciptakan, Allâh Azza wa Jalla
memerintahkan para Malaikat dan jin untuk sujud kepada Adam Alaihissallam :
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا
إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat,
“Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan
takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
[Al-baqarah/2:34]
Ini merupakan kemulian yang sangat agung yang Allâh Azza wa
Jalla anugerahkan kepada Adam Alaihissallam .
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, “Allah
memerintahkan kepada para Malaikat yang saat itu sedang bersama dengan Iblis,
bukan kepada semua malaikat yang ada di langit, ‘Sujudlah kepada Adam!’ Semua
Malaikat itu sujud kepada Adam kecuali Iblis. Dia tidak mau sujud dan
menyombongkan diri. Dia mengatakan, ‘Saya tidak akan sujud kepadanya. Saya
lebih baik daripada dia. Saya lebih tua dan lebih kuat. Engkau telah
menciptakan aku dari api sementara Adam, Engkau ciptakan dari tanah.’ Iblis
memandang bahwa api lebih kuat daripada tanah.[3]
Inilah awal mula permusuhan Iblis terhadap Bani Adam.
Sujud yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah bentuk
penghormatan dan pemuliaan, bukan seperti sujud dalam shalat. Karena sujud yang
seperti dalam shalat merupakan hak Allâh yang tidak boleh diberikan kepada selain
Allâh Azza wa Jalla .[4]
Bentuk lain dari kemulian yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada nabi Adam Alaihissallam
adalah dia diajari seluruh nama-nama benda. Kemulian ini yang Allâh tampakkan
di hadapan para Malaikat, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
﴿٣١﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ
الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman,
“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang
yang benar!”
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami
ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Allâh berfirman, “Hai Adam! Beritahukanlah kepada mereka
nama-nama benda ini.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama
benda itu, Allâh berfirman, “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa
sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang
kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Al-Baqarah/2:31-33]
Ibnu Katsir rahimahullah memandang bahwa perintah sujud
lebih dulu diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla
dibandingkan pengajaran Allâh Azza wa Jalla kepada Adam akan nama seluruh benda. Namun
penyebutannya didahulukan sebelum ayat yang memerintahkan sujud, di karenakan
lebih sesuai dengan pertanyaan para Malaikat tentang hikmah penciptaan manusia
di muka bumi.[5]
Setelah para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam
Alaihissallam , Allâh mempersilahkan Adam Alaihissallam untuk tinggal dalam
surga.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا
مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا
مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan
isterimu di surga ini! Dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang
menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al-Baqarah/2:35]
Untuk melengkapi kebahagian Adam Alaihissallam , Allâh Azza
wa Jalla menciptakan Hawa yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dari tulang
rusuk Adam Alaihissallam yang menemaninya di dalam surga, keduanya
diperbolehkan untuk menikmati semua kenikmatan di dalam surga, kecuali memakan
satu jenis buah.[6]
Jenis buah yang terlarang bagi Adam Alaihissallam dan Hawa
untuk mengkonsumsinya tidak diketahui jenisnya, walaupun sebagian Ulama
menyebutkan beberapa jenis buah, tapi selama Allâh Azza wa Jalla tidak
menjelaskannya maka memahami ayat tanpa menentukan jenisnya lebih baik.[7]
PELAJARAN PENTING
Semua ketetapan Allâh Azza wa Jalla mengandung hikmah yang
terkadang tidak dijelaskan kepada para makhluk-Nya, sehingga mereka tidak
mengetahuinya dengan pasti.
Adam Alaihissallam adalah manusia pertama yang diciptakan
oleh Allâh Azza wa Jalla . Dia juga merupakan manusia pertama yang tinggal di
muka bumi.
Jin tinggal di muka bumi sebelum manusia dan mereka
melakukan kerusakan di atasnya.
Kepatuhan para Malaikat terhadap perintah Allâh dan
kekufuran Iblis.
Kesombongan adalah salah satu penyebab Iblis jatuh pada
kekufuran dan kemudian di keluarkan dari surga dengan mendapatkan laknat sampai
hari kiamat.
Kisah Penciptaan Nabi Adam
Nabi Adam a.s. (آدم)
Dicatat oleh Ibnu Qelatani
Setelah Allah s.w.t. menciptakan bumi dengan
gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya, menciptakan langit dengan
mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan, menciptakan
malaikat-malaikatNya ialah sejenis makhluk halus yang diciptakan untuk
beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba
terutama para rasul dan nabiNya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk
menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi bagi
memeliharanya, menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam
di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa
yang telah ditakdirkan baginya.
Di peringkat awal sebelum penciptaan manusia bermula Allah
S.W.T telah berfirman kepada malaikat bahawa akan menjadikan seorang khalifah
di bumi ini. Sebagaimana firmanNya yang bermaksud:
Merujuk kepada ayat di atas falsafah kejadian manusia iaitu
sebagai khalifah merupakan satu penganugerahan sebagai ciptaan terbaik di
antara ciptaanNya. Selain itu sebagai khalifah manusia juga mempunyai
tanggungjawab yang tinggi untuk mentadbir alam ini.
Penciptaan Adam diriwayatkan sebagai satu daripada ciptaan
Allah yang paling kontroversi atau paling disebut-sebut oleh makhluk Allah yang
lain. Peristiwa tersebut disebut dalam Al-Quran apabila para malaikat
mempersoalkan kejadian (manusia) sebagai khalifah atau pengganti di bumi.
Kekhuatiran Para Malaikat
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerosakan padanya
dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan
memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui."
Al-Baqarah: 30
Para malaikat ketika diberitahu oleh Allah s.w.t. akan
kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak
Allah menciptakan makhluk yang lain itu, disebabkan kecuaian atau kelalaian
mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau kerana pelanggaran yang mereka
lakukan tanpa disedari. Mereka berkata kepada Allah s.w.t.:
"Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk
lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah
dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan
ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain,
akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat
diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerosakan dan
kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."
Allah berfirman bagi menghilangkan kekhuatiran para malaikat
itu:
"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku
sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku
telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya, bersujudlah kamu di hadapan
makhluk baru itu”. Sujud di sini sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud
ibadah, kerana Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama
makhluk-Nya."
Allah telah memerintahkan malaikat Jibril turun ke bumi
untuk mengambil sebahagian tanah sebagai bahan untuk menjadikan Adam. Walau
bagaimanapun, bumi enggan membenarkan tanahnya diambil malah bersumpah dengan
nama Allah yang dia tidak rela untuk menyerahkannya kerana kebimbangannya
seperti yang dibimbangkan oleh para malaikat.
Jibril kembali setelah mendengar sumpah tersebut lalu Allah
mengutuskan pula malaikat Mikail dan kemudiannya malaikat Israfil tetapi
kedua-duanya juga tidak berdaya hendak berbuat apa-apa akibat sumpah yang
dibuat oleh bumi. Maka, Allah memerintahkan malaikat Izrail untuk melakukan
tugas tersebut dan menggesa agar tidak berundur walaupun bumi bersumpah kerana
tugas tersebut dijalankan atas perintah dan nama Tuhan.
Maka, Izrail turun ke bumi dan mengatakan yang kedatangannya
adalah atas perintah Allah dan memberi amaran kepada bumi untuk tidak membantah
yang memungkinkan bumi menderhaka kepada Allah. Menurut Ibnu Abbas, tanah bumi
dan syurga digunakan untuk dijadikan bahan mencipta Adam.
Penciptaan Manusia Daripada Tanah
Berkenaan penciptaan manusia pertama di dalam Al-Quran
terdapat di dalam beberapa surah yang kebanyakan ayat menyatakan bahawa manusia
adalah dicipta daripada tanah. Sudah tentu penciptaan ini mempunyai intisari
dan falsafahnya yang tersendiri.
Manusia telah dipaparkan di dalam Al-Quran sebagai ciptaan
yang dihubungkan dengan tanah. Sebagaimana firman Allah:
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan
sebaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan
kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya”
Nuh 71: 17 –18
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya
Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada
kali yang lain”
Thaha 20: 55
Merujuk kepada ayat-ayat di atas ianya menunjukkan bahawa
aspek spiritual mengenai asal-usul kejadian manusia daripada tanah ialah
menekankan bahawa manusia akan kembali kepada tanah selepas mati. Selain itu ia
juga merujuk kepada kebangkitan manusia di hari penghisaban atau hari
perhitungan.
Komponen dan Proses Kejadian Manusia
Terdapat banyak surah di dalam al-Quran yang menghuraikan
tentang penciptaan manusia. Di dapati kebanyakan ayat menerangkan bahawa
kejadian manusia adalah daripada tanah. Maka dalam huraian seterusnya akan
menghuraikan proses kejadian manusia ini melalui beberapa peringkat dengan
merujuk kepada beberapa ayat yang bersesuaian. Sebagaimana firman Allah yang
bermaksud:
“Dia mencipta manusia dari tanah kering seperti tembikar”
Ar-Rahman 55: 14
Yang dimaksudkan dengan kata ‘sal-sal’ (الصلصال) pada ayat
ini ialah ‘tanah kering’ atau ‘setengah kering’ yakni ‘zat pembakar’ (oksigen).
Di ayat ini disebut juga kata ‘fakhkhar’ (كاالفخار) yang
maksudnya ialah ‘zat arang’ (carbonium).
Maka jelas bahawa pada peringkat ini dari aspek fizikalnya
manusia yang ingin diciptakan oleh Allah S.W.T berada dalam keadaan yang keras
seperti sifat tembikar.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah
liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk”
Al-Hijr 15: 28
Di ayat itu juga disebut juga ‘sal-sal’ yang telah
diterangkan, sedangkan kata ‘hamaain’ (حماء) di ayat tersebut ialah ‘zat lemas’
(netrogenium).
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
As Sajdah 32:7
Yang dimaksudkan dengan kata ‘thien’ (طين) di ayat itu ialah
‘atom zat air’ (hydrogenium).
Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah
mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa [1273] yang telah Kami ciptakan
itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.
Ash Shaaffaat 37:11
[1273]. Maksudnya: malaikat, langit, bumi dan lain-lain.
Yang dimaksudkan dengan kata ‘lazib’ di ayat itu ialah tanah
liat ‘zat besi’ (ferrum).
Sebagaimana diketahui tanah liat pada dasarnya mempunyai
sifat melekat. Al-Qurtubiyy menghuraikan bahawa pada peringkat ini keadaan
tanah melakat atau menempel di antara satu sama lain. Manalaka selepas itu
tanah ini akan menjadi tanah yang keras. Pada peringkat ini Al-Qurtubiyy juga
menerangkan di dalam tafsirnya bahawa manusia pertama iaitu yang dikaitkan
dengan Adam dikatakan kekal sebagai satu lembaga yang berbentuk tanah liat.
Selain itu tempuh ia berada dalam keadaan ini adalah selama empat puluh tahun
sehingga sifat fizikalnya berubah menjadi keras dan kering.
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah
seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah
berfirman kepadanya:
"Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.
Ali 'Imran 3:59
Yang dimaksudkan dengan ‘turab’ (tanah) di ayat ini ialah
‘unsur-unsur zat a li’ yang terdapat dalam tanah (zat-zat anorganis).
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud [796].
Al Hijr 15:29
[796]. Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi
sebagai penghormatan.
Melalui ketujuh-tujuh ayat al-Quran tadi, Allah telah
menunjukkan tentang proses kejadian Nabi Adam sehingga berbentuk manusia lalu
ditiupkan kepadanya roh sehingga menjadi manusia bernyawa. Proses kejadian
manusia ini melalui adunan ‘zat pembakar’ (oksigen), ‘zat arang’ (istilah
sainsnya carbonium), ‘zat lemas’ (nitrogenium), ‘zat air’ (hydrogenium), ‘zat
besi’ (ferrum), sodium, kalium, silicium, dan mangaan, yang disebut ‘laazib’
(zat-zat anorganis). Dalam proses persenyawaan terbentuklah zat yang dinamai
protein.
Pada hakikatnya ayat-ayat tersebut menunjukkan proses asal
kejadian tubuh jasmani (visible) hingga kepada badan halusnya (invisible)
sampai wujud seorang manusia.
Menurut keterangan ulama, tubuh Adam diselubungi dalam
tempoh 120 tahun, 40 tahun di tanah yang kering, 40 tahun di tanah yang basah
dan 40 tahun di tanah yang hitam dan berbau. Dari situ, Allah ubah tubuh Adam
dengan rupa kemuliaan dan tertutuplah dari rupa hakikatnya. Kerana proses
kejadian itu yang melalui peringkat yang "kotor", tidak hairan
Malaikat dan Iblis memandang rendah akan kejadian manusia yang dicipta dari
tanah.
Peringkat Peniupan Roh
Roh diperintah Allah untuk memasuki jasad Adam tetapi
seperti makhluk lain, roh juga enggan, malas dan segan kerana jasad yang
seperti batu. Dikatakan roh berlegar-legar mengelilingi jasad Adam sambil
disaksikan malaikat. Kemudian, Allah memerintahkan malaikat Izrail memaksa ruh
memasuki tubuh tersebut masuk ke dalam tubuh Adam. Ia memasukkannya ke dalam
tubuh dan roh secara perlahan-lahan masuk hingga ke kepalanya yang mengambil
masa 200 tahun. Setelah meresapi ke kepala Adam, maka berfungsilah otak dan tersusunlah
urat saraf dengan sempurna. Lalu, terjadilah mata dan terus terbuka melihat
tubuhnya yang masih keras dan malaikat di sekelilingnya. Telinga mulai
berfungsi dan didengarnya kalimah tasbih para malaikat. Apabila roh tiba ke
hidung, lalu ia bersin dan mulutnya juga terbuka. Allah mengajarkan kalimah
"(الحمد لله)” yang merupakan kalimah pertama diucapkan Adam dan Allah
sendiri yang membalasnya.
Kemudian, roh tiba ke dadanya lalu Adam berkeinginan untuk
bangun padahal tubuhnya yang bawah masih keras membatu. Ketika itu ditunjukkan
sifat manusia yang terburu-buru.
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa…”
Al-Anbiya’21: 37
Ketika roh sampai di perut, maka organ dalam dan perut
tersusun sempurna dan saat itu Adam mula merasakan lapar. Akhirnya, roh meresap
ke seluruh tubuh Adam, tangan dan kaki dan berfungsilah dengan sempurna segala
darah daging, tulang, urat saraf dan kulit. Menurut riwayat, kulit Adam amat
baik ketika itu berbanding kulit manusia di kini dan warnanya masih dapat di lihat
di kuku sebagai peringatan kepada keturunan manusia.
Dengan itu, sempurnalah sudah kejadian manusia pertama dan
Adam digelar sebagai "Abul Basyar" iaitu Bapa Manusia. Walau
bagaimanapun, hanya Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelaran "Abul Ruh"
atau "Abul Arwah" iaitu Bapa segala Roh.
Iblis Membangkang
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami
bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah
kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk
mereka yang bersujud.
Al A'raaf 7:11
Selanjutnya, Nabi Adam membuka kedua matanya dan ia melihat
para malaikat semuanya bersujud kepadanya, kecuali satu makhluk yang berdiri di
sana. Nabi Adam tidak tahu siapakah makhluk yang tidak mahu bersujud itu. Ia
tidak mengenal namanya. Iblis berdiri bersama para malaikat tetapi ia bukan
berasal dari golongan mereka. Iblis berasal dari kelompok jin. Allah SWT
menceritakan kisah penolakan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam pada beberapa
surah. Allah SWT berfirman:
'Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang
telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri
ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi? 'Iblis berkata:
'Aku lebih baik daripadanya, kerana Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia
Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman: 'Maka keluarlah kamu dari syurga;
sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap
atasmu sampai hari pembalasan.' Iblis berkata: 'Ya Tuhanku, bertangguhlah aku
sampai hari mereka dibangkitkan.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan
waktunya (hari kiamat).' Iblis menjawab: 'Demi kekuasaan-Mu, aku akan
menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara
mereka.”
Shad 38:75-83
*yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah
diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.
Nabi Adam mengikuti peristiwa yang terjadi di depannya. Ia
merasakan suasana cinta, rasa takut, dan kebingungan. Nabi Adam sangat cinta
kepada Allah SWT yang telah menciptakannya dan memuliakannya dengan
memerintahkan para malaikat-Nya untuk sujud kepadanya. Adam juga merasa takut
saat melihat Allah SWT marah terhadap iblis dan mengusirnya dari pintu
rahmat-Nya. Ia merasakan kebingungan ketika melihat makhluk ini yang
membencinya, padahal ia belum mengenalnya. Makhluk itu membayangkan bahawa ia
lebih baik dari Nabi Adam, padahal tidak ada bukti yang menunjukkan bahawa
salah satu dari mereka lebih baik dibandingkan dengan yang lain.
Karena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya
melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir
dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan
laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat. Di samping itu ia
dinyatakan sebagai penghuni neraka.
Iblis Diusir Keluar Dari Syurga
Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan
itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal
hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat. Allah meluluskan permohonannya
dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan, tidak berterima kasih dan
bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan
menyesatkan Adam, sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya
dari barisan malaikat, dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala
sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya
menempuh jalan yang sesat, mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang
terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan
mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh. Kemudian Allah
berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang
semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak
akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku dengan
sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh
rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala
kepandaianmu menghasut dan memfitnah."
Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda
Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat
terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam
sebagai penguasa bumi, maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang
berada di alam semesta, kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para
malaikat seraya:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar
orang-orang yang benar!"
Al Baqarah 2:31
Yang dimaksud adalah kebenaran mereka untuk menginginkan
khilafah. Para malaikat memperhatikan sesuatu yang ditunjukkan oleh Allah SWT
kepada mereka, namun mereka tidak mengenali nama-namanya. Mereka mengakui di
hadapan Allah SWT tentang kelemahan mereka untuk menamai benda-benda tersebut
atau memakai simbol-simbol untuk mengungkapkannya. Para malaikat berkata
sebagai bentuk pengakuan terhadap ketidakmampuan mereka:
"Maha Suci Engkau."Al-Baqarah 2:32
Yakni, kami menyucikan-Mu dan mengagungkan-Mu.
"Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah
Engkau ajarkan kepada Kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana."
Al-Baqarah 2:32
Yakni, mereka mengembalikan semua ilmu kepada Allah SWT.
Allah SWT berkata kepada Adam:
"Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda
ini."
Al-Baqarah 2:33
Kemudian Nabi Adam memberitahu mereka setiap benda yang
Allah SWT tunjukkan kepada mereka dan mereka tidak mengenali nama-namanya:
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat itu
lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang
orang-orang yang benar.' Mereka menjawab:
'Maha Suci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui selain dari
apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama benda ini.' Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama
benda-benda itu, Allah berfirman: 'Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahawa
sesungguhnya Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu
nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?'"
Al-Baqarah 2:31-33
Para malaikat menyedari bahawa Nabi Adam adalah makhluk yang
mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui. Ini adalah hal yang sangat mulia.
Dan para malaikat mengetahui, mengapa Allah memerintahkan mereka untuk bersujud
kepadanya sebagaimana mereka memahami rahsia penciptaannya sebagai khalifah di
muka bumi, di mana ia akan menguasainya dan memimpin di dalamnya dengan ilmu
dan pengetahuan. Yaitu, pengetahuan terhadap Sang Pencipta yang kemudian
dinamakan dengan Islam atau iman. Para malaikat pun mengetahui sebab-sebab
kemakmuran bumi dan pengubahannya dan penguasaannya, serta semua hal yang
berkenaan dengan ilmu-ilmu mated di muka bumi.
Adalah hal yang maklum bahawa kesempurnaan manusia tidak
akan terwujud kecuali dengan pencapaian ilmu yang dengannya manusia dapat
mengenal Sang Pencipta, dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengan alam. Jika manusia
berhasil di satu sisi, namun gagal di sisi yang lain maka ia laksana burung
yang terbang dengan sayap satu di mana setiap kali ia terbang sayap yang lain
mencegahnya.
Nabi Adam mengetahui semua nama-nama dan terkadang ia
berbicara bersama para malaikat, namun para malaikat disibukkan dengan ibadah
kepada Allah SWT. Oleh kerana itu, Adam merasa kesepian. Kemudian Adam tidur
dan tatkala ia bangun ia mendapati seorang perempuan yang memiliki mata yang
indah, dan tampak penuh dengan kasih sayang. Kemudian terjadilah dialog di
antara mereka:
Adam berkata: "Mengapa kamu berada di sini sebelum saya
tidur." Perempuan itu menjawab: "Ya." Adam berkata: "Kalau
begitu, kamu datang di tengah-tengah tidurku?" Ia menjawab: 'Ya."
Adam bertanya: "Dari mana kamu datang?" Ia menjawab: "Aku datang
dari dirimu. Allah SWT menciptakan aku darimu saat kamu tidur." Adam
bertanya: "Mengapa Allah menciptakan kamu?" Ia menjawab: "Agar
engkau merasa tenteram denganku." Adam berkata: "Segala puji bagi
Allah. Aku memang merasakan kesepian."
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir.
Ar Ruum 30:21
Para malaikat bertanya kepada Adam tentang namanya. Nabi
Adam menjawab: "Namanya Hawa." Mereka bertanya: "Mengapa engkau
menamakannya Hawa, wahai Adam?" Adam berkata: "kerana ia diciptakan
dariku saat aku dalam keadaan hidup."
Nabi Adam adalah makhluk yang suka kepada pengetahuan. Ia
membagi pengetahuannya kepada Hawa, di mana ia menceritakan apa yang
diketahuinya kepada pasangannya itu, sehingga Hawa mencintainya. Allah SWT
berfirman:
"Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, tinggallah kamu dan
isterimu di syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik
di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang
menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'"
Al-Baqarah 2:35
Iblis Mulai Beraksi
Nabi Adam dan Hawa mengerti bahawa mereka dilarang untuk
memakan sesuatu dari pohon ini, namun Nabi Adam adalah manusia biasa, dan
sebagai manusia ia lupa dan hatinya berbolak-balik serta tekadnya melemah. Maka
iblis memanfaatkan kemanusiaan Nabi Adam dan mengumpulkan segala kedengkiannya
yang disembunyikan dalam dadanya. Iblis terus berusaha membangkitkan waswas
dalam diri Nabi Adam.
Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh
Allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati
dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat
selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya. Iblis mulai
menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup
berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.
Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka
dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan
kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk
mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat
dan petunjuknya kepada mereka. Ia membisikan kepada mereka bahwa larangan Tuhan
kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah kerana dengan memakan
buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.
Diulang-ulangilah pujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang
dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya. Sehingga pada akhirnya
termakanlah pujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan
Tuhan.
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan
berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan
kerajaan yang tidak akan binasa?”
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah
bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun
(yang ada di) surga, dan
durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian
Tuhannya memilihnya
maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
Taha 20: 120-122
Belum selesai Nabi Adam memakan buah tersebut sehingga ia
merasakan penderitaan, kesedihan, dan rasa malu. Berubahlah keadaan di
sekitarya dan berhentilah muzik indah yang memancar dari dalam dirinya. Ia
mengetahui bahawa ia tak berpakaian, demikian juga isterinya. Akhirnya, ia
mengetahui bahawa ia seorang lelaki dan bahawa isterinya seorang wanita. Ia dan
isterinya mulai memetik daun-daun pohon untuk menutup tubuh mereka yang
terbuka. Kemudian Allah SWT mengeluarkan perintah agar mereka turun dari syurga
ke bumi.
QURAN SAINTIFIK : MENYINGKAP RAHSIA PENCIPTAAN NABI ADAM DAN MANUSIA
PENSYARAH : PUAN NORAINI BINTI NAWAWI
NAMA AHLI KUMPULAN:
1) MUHAMAD HAFIZUDDIN BIN
MOHAMAD 02DEP16F1024
2)MUHAMAD AMIRUL BIN
SABRI 02DEP16F1022
3)MUHAMMAD NURARIFF BIN
HAMIDUN 02DEP16F1023
4)MUHAMMAD NAKIB BIN MOHD
SUKRI 02DEP16F1020
KELAS: DEP2A
DISEMBER 2016
ISI KANDUNGAN
1.0 PENDAHULUAN
2.0 SEJARAH PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
3.0 PENCIPTA HAWA
4.0 PERBEZAAN ANTARA MANUSIA DAN HAIWAN
5.0 KITARAN HIDUP MANUSIA
6.0 MENYINKAP PENCIPTAAN ADAM
7.0 KESIMPULAN
8.0 RUJUKKAN
9.0 LAMPIRAN
9.0 LAMPIRAN
1.0 PENDAHULUAN
“Quran saintifik: Menyingkap rahsia penciptaan Nabi Adam dan
manusia”. Tujuan Allah swt menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan
haiwan serta tumbuhan sebagai membantu dalam pertumbuhan ekosistem ini. Ini
merupakan keseimbangan yang stabil telah ditetapkan sejak dahulu kala. Manusia
sebagai hamba Allah swt yang layak untuk menggalas tanggungjawab yang sangat
besar di bumi ini. Allah swt telah memberi amanat kepada manusia untuk
menduduki sementara di bumi pinjamannya kerana manusia merupakan golongan yang
mempunyai perubahan dan berfikir terhadap sesuatu berbanding dengan malaikat.
Oleh itu, diyakini bahawa malaikat percaya dan mengaku bahawa manusia mempunyai
kelebihan tersendiri yang telah diberikan Allah swt.
Manusia
dijadikan sebagai insan iaitu makhluk terbaik yang diberikan dua peranan yang
sangat besar untuk digalas dan menjalankan tanggungjawab tersebut dengan sebaik
mungkin iaitu peranan sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini dan dalam
masa yang sama sebagai hamba yang diperintahkan supaya beribadah kepadaNYA.
Sebelum Allah swt menjadikan manusia (Adam a.s), terlebih dahulu Allah swt
telah menciptakan alam dan seluruh cakerawala, bulan, bintang, matahari dan
bumi dengan segala isinya iaitu tumbuh-tumbuhan, ikan yang hidup di laut,
haiwan yang terbang di udara dan sebagainya. Allah swt telah menciptakan
manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kelebihan diri kita dari segi unsur-unsur
dalam yang dikurniakan oleh Allah swt ialah akal fikiran untuk berfikir untuk
menganalisis sesuatu yang baik mahupun buruk kepada diri sendiri dan hati
sebagai khazanah berharga untuk menyimpan segala rahsia dan ingatan yang pernah
laluinya. Di dalam al-quran ada menyebut mengenai khalifah di muka bumi ini.
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan
memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]:30).
2.0 SEJARAH PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
Sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an menjadi salah satu
hal yang diakui oleh agama lain sebagai pengetahuan yang benar alias fakta.
Berdasarkan cerita di dalam Kitab Suci milik Islam, Malaikat adalah kehidupan
yang dijadikan terlebih dahulu sebelum manusia ada. Malaikat sendiri merupakan
makhluk yang paling patuh dan tidak pernah melanggar sumpahnya di hadapan Allah
SWT. Namun, ketika Allah menciptakan manusia yang akan menjadi khalifah atau
pemimpin di bumi, malaikat melakukan protes kepada Allah. Mereka bersuara dan
mempertanyakan keputusan Sang Maha Esa tersebut.
Malaikat mengerti bahwa manusia nantinya bisa membuat kerusakan di bumi,
dan membuat bumi menjadi hancur. Sementara Allah sendiri berniat membuat
manusia sebagai khalifah di bumi. Allah menjawab pertanyaan dan juga protes
dari malaikat dengan mengatakan bahwa Allah memiliki maksud tersendiri untuk
menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Meski manusia bisa membuat bumi
hancur dan rusak, namun manusia pula yang bisa membuat bumi kembali indah
seperti semula.
Manusia pertama dalam Al-Qur’an
Akhirnya proses penciptaan manusia dimulai. Nabi Adam AS adalah menjadi manusia pertama yang diciptakan dari segumpal tanah kering yang dibuat oleh Allah. Setelah itu ditiupkan ruh ke dalam bentuk manusia tersebut, jadilah Nabi Adam yang hidup di surga sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Inilah tonggak dan juga awal mula terciptanya manusia dalam sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an.
Akhirnya proses penciptaan manusia dimulai. Nabi Adam AS adalah menjadi manusia pertama yang diciptakan dari segumpal tanah kering yang dibuat oleh Allah. Setelah itu ditiupkan ruh ke dalam bentuk manusia tersebut, jadilah Nabi Adam yang hidup di surga sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Inilah tonggak dan juga awal mula terciptanya manusia dalam sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an.
Allah tidak menginginkan Nabi Adam hidup sendirian. Apalagi pada
dasarnya segala sesuatu di dunia ini yang diciptakan oleh Allah selalu
berpasangan. Allah kemudian menciptakan istri untuk Nabi Adam agar dapat
menemani dirinya hidup di surga dan menjadi khalifah di bumi. Jika dilihat
lebih dalam, Allah menciptakan 2 manusia yaitu pria dan wanita untuk saling
berpasangan. Dengan kata lain hubungan pria dan wanita melalui jalan perkawinan
menjadi suatu usaha guna menggabungkan tulang rusuk yang terpisah. Apalagi,
Siti Hawa sendiri dibuat dari tulang rusuk Adam. Dengan proses perkawinan ini,
tentu saja akan mendatangkan keturunan-keturunan yang membuat manusia
berkembang biak.
Usai Siti Hawa terbentuk, datanglah sosok setan yang menggoda kedua
manusia ini untuk memakan buah Quldi yang sebelumnya sudah dilarang oleh Allah
untuk dimakan. Namun Nabi Adam dan Siti Hawa tidak kuasa menahan godaan setan
yang akhirnya membuat keduanya mendapatkan hukuman dari Allah yaitu untuk
segera turun ke bumi dan terpisahkan dengan jarak yang cukup jauh.
Manusia Ketiga Dalam Al-Qur’an
Inilah awal mula kejadian manusia ke-3 dalam sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an yang merupakan semua keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa melalui proses perkawinan. Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sendiri juga memberitahukan mengenai proses terjadinya manusia mulai dari Nabi Adam hingga terbentuknya manusia di dalam rahim seorang perempuan.
Inilah awal mula kejadian manusia ke-3 dalam sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an yang merupakan semua keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa melalui proses perkawinan. Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sendiri juga memberitahukan mengenai proses terjadinya manusia mulai dari Nabi Adam hingga terbentuknya manusia di dalam rahim seorang perempuan.
Disebutkan bahwa manusia berasal dari saripati tanah yang adalah protein
dan sari makanan yang dimakan oleh manusia hingga menjadi energi. Dan semua
yang kita makan berasal dari tanah. Semua saripati tanah tersebut akan
dimetabolisme oleh tubuh sehingga menghasilkan sperma yang bertugas membuahi
sel telur dalam sebuah pernikahan atau perkawinan yang sah. Sperma dan sel
telur yang bertemu dalam sebuah hubungan, akan membentuk embrio di dalam rahim
seorang perempuan. Embrio tersebut kemudian akan membentuk manusia yang
sempurna.
Namun sebelumnya ada beberapa tahapan sebelum embrio berubah menjadi
manusia sempurna yang terbentuk di dalam rahim.
1. Bertemunya sperma dan juga sel telur di dalam rahim yang berhasil
menyatu dengan sempurna. Dan dari sperma laki-laki, akan terbentuk saraf,
tulang dan jaringan tubuh. Sementara dari sel telur perempuan akan terbentuk
darah dan juga daging yang akan membuat bentuk sempurna.
2. Tahap berikutnya terjadi pada hari ke 7. Sel telur yang berhasil
dibuahi akan segera tertanam di dinding rahim seorang perempuan.
3. Pada minggu ke 4, pembentukan otak, saraf, telinga dan bagian tubuh
yang lain termasuk sistem pernafasan bayi sudah mulai terlihat walau belum
sempurna. Janin yang berada di dalam rahim sang ibu memiliki saluran darahnya
sendiri. Jantung dari bayi sudah mulai berdegup. Dan mulai minggu ke 7, bayi
sudah mulai bernafas sendiri.
4. Di minggu ke 5 hingga ke 7, pembentukan tulang dan juga otot sudah
mulai terjadi dimana otot akan membungkus tulang. Sementara saat usia 7 minggu,
Bagian perut, usus, saraf, otak hingga sistem tulang belakang sudah mulai
terbentuk. Selain itu area sistem pernapasan serta kantong paru juga sudah
mulai terlihat. Bagian dalam tubuh seperti hati, pankreas dan juga usus mulai
terbentuk sempurna. Bagian kaki dan tangan serta panca indera lain juga mulai
terlihat.
5. Di minggu ke 8, embrio sudah berubah menjadi janin. Semua tulang
janin sudah terbentuk dengan sempurna termasuk kuku di bagian tangan dan kaki.
6. Di tahap ke 6 ruh mulai di masukkan ke dalam janin. Menurut Al
Qur’an, nilai kehidupan janin yang berada di alam rahim sudah mempunyai
hubungan dengan Allah SWT. Dan di minggu ke 12 atau 40 hari, peran serta orang
tua bisa membentuk kepribadian sang janin menjadi lebih baik lagi.
Pengetahuan mengenai terbentuknya manusia dan juga proses janin sendiri
baru mulai ditemukan di tahun 1940-an. Sementara sejarah proses
penciptaan manusia dalam Al-Qur’an sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW
menerima wahyu tersebut di tahun 610 M.
3.0 PENCIPTAAN HAWA
Dalam satu kesempatan, Allah SWT berfirman kepada
para Malaikat,"Kau bawalah Adam itu ke langit untuk menghadap Aku, Tuhan
yang Mahamulia lagi Mahabesar."
Seluruh isi langit memuji Alllah SWT. Kemudian
Tuhan melihat rupa Adam. Setelah Adam dinobatkan sebagai khalifah, beliau
kemudian diarak ke dalam sorga Janatul Firdaus. Namun, di dalam sorga tak
seorang pun dia melihat yang serupa dengannya sebagai seorang manusia.
Adam a.s. ingin berisitirahat. Dia berbaring di
atas lambung kanannya. Rasa kantuk membuatnya tertidur. Allah SWT Maha
Mengetahui isi hati setiap makhluk-Nya. Demikian pula dengan keadaan Nabi Adam
as., Allah SWT mengetahui Adam a.s. berduka, karena tidak memiliki seorang
teman yang sejenis dengannya. Lalu diciptakanlah seorang manusia baru saat ia
masih tidur. Ciptaan yang baru itu adalah Hawa.
Tatkala ciptaan itu sudah berwujud, Adam a.s.
terjaga. Dia terpesona ketika melihat seseorang yang begitu indahnya telah
berada di sisinya. Adam a.s. pun ingin menjabat tangan Hawa Allah SWT segera
melarangnya,
"Hai Adam, jangan engkau jabat dia dulu Aku akan
nikahkan saja engkau dengan dia."
Adam berkata “Bahwa seluruhnya itu adalah anugerah
dari Allah SWT juga, dan hamba-Mu menjunjung apa-apa (yang menjadi)
perintah-Mu."
"Allah SWT memerintahkan para Malaikat,
"Hai para Malaikat, bawalah oleh kamu baki yang berisi emas, perak,
mutiara, intan, dan manikam yang indah-indah ke hadapan Adam dan Hawa.
Bahwasanya Aku hendak menikahkan Adam dengan Hawa."
Kemudian Allah SWT mengucapkan prakata menjelang
pernikahan Adam dan Hawa:
"Segala puji bagi Allah Ta’ala yang sangat
besar Kebesaran-Nya. Bahwa seluruhnya itu telah percaya terhadap-Ku. Dan segala
puji-pujian bagi kekasih-Ku dan pesuruh-Ku Telah bersaksi seluruh malaikat-Ku
dan seluruh isi langit-Ku, dan seluruh malaikat yang menanggung ‘Arsy-Ku,
bahwasanya telah Kunikahkan hamba-Ku Adam dan Hawa di atas langit-Ku dengan
kudrat-Ku. Bahwa Adam a.s. mengucap tasbih terhadap Aku, dan membesarkan Aku,
dan memuji terhadap Aku, yaitu dengan kemuliaan ayat Kursi. Dan bersaksilah Aku
bahwasanya Tiada Tuhan yang menjadikan segala sesuatu, hanya Aku juga yang Maha
Kuasa. Bahwasanya Adam khalifah-Ku dan Hawa itu isterinya, dan berkenanlah ia
(Hawa) untuk mengasihinya (Adam), dan mereka seluruhnya beribadah kepada-Ku.
Dan telah membawa imanlah mereka itu terhadap Muhammad kekasih-Ku dan rasul-Ku
yang Kubesarkan atas segala sesuatu."
Pernikahan Adam dan
Hawa
Allah SWT Yang Maha Pengasih untuk menyempurnakan
nikmatnya lahir dan batin kepada kedua hamba-Nya yang saling memerlukan itu,
segera memerintahkan gadis-gadis bidadari penghuni sorga untuk menghiasi dan
menghibur mempelai perempuan itu serta membawakan kepadanya hantaran-hantaran
berupa perhiasan-perhiasan sorga. Sementara Itu diperintahkan pula kepada
malaikat langit untuk berkumpul bersama-sama di bawah pohon "Syajarah Thuba",
menjadi saksi atas pernikahan Adam dan Hawa.
Diriwayatkan bahwa pada akad pernikahan itu Allah
SWT berfirman: "Segala puji adalah kepunyaan-Ku, segala kebesaran adalah
pakaian-Ku, segcla kemegahan adalah hiasan-Ku dan segala makhluk adalah hamba-
Ku dan di bawah kekuasaan-Ku. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para
penghuni langit dan sorga bahwa Aku menikahkan Hawa dengan Adam, kedua
ciptaan-Ku dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid
kepada-Ku!".
Setelah akad nikah selesai berdatanganlah para
malaikat dan para bidadari menyebarkan mutiara-mutiara yaqut dan intan-intan
permata kemilau kepada kedua pengantin agung tersebut. Selesai upacara akad,
diantarlah Adam a.s mendapatkan isterinya di istana megah yang akan mereka diami.
Hawa menuntut haknya. Hak yang disyariatkan Tuhan
sejak semula.
“Mana mahar?" tanyanya, la menolak persentuhan
sebelum mahar pemberian ditunaikan dahulu.
Adam a.s bingung seketika. Lalu sadar bahwa untuk
menerima haruslah sedia memberi, la insaf bahwa yang demikian itu haruslah
menjadi kaedah pertama dalam pergaulan hidup. Sekarang ia sudah mempunyai
kawan. Antara sesama kawan harus ada saling memberi dan saling menerima.
Pemberian pertama pada pernikahan untuk menerima kehalalan ialah mahar. Oleh
karenanya Adam a.s menyadari bahwa tuntutan Hawa untuk menerima mahar adalah
benar. Pergaulan hidup antara laki-laki dan wanita akan berubah menjadi
persahabatan yang ‘kekal’ apabila disertai dengan mahar. Dan kini apakah
bentuk mahar yang harus diberikan? Itulah yang sedang dipikirkan Adam.
Untuk keluar dari keraguan, Adam a.s berseru:
"Ilahi, Rabbi’ Apakah gerangan yang akan kuberikan kepadanya? Emaskah,
intankah, perak atau permata?".
"Bukan!" kata Tuhan.
"Apakah hamba akan berpuasa atau solat atau
bertasbih untuk-Mu sebagai maharnya?" tanya Adam a.s dengan penuh
pengharapan.
"Bukan!" tegas suara Ghaib.
Adam diam, mententeramkan jiwanya. Kemudian
bermohon : "Kalau begitu tunjukilah hamba-Mu jalan keluar!".
Allah SWT berfirman: "Mahar Hawa ialah
shalawat sepuluh kali atas Nabi-Ku, Nabi yang bakal Kubangkitkan yang membawa
pernyataan dari sifat-sifat-Ku: Muhammad, cincin permata dari para anbiya’ dan
penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali!".
Adam a.s merasa lega. la mengucapkan sepuluh kali
shalawat atas Nabi Muhammad SAW sebagai mahar kepada isterinya. Suatu mahar
yang bernilai spiritual, karena Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin
(rahmat bagi seluruh alam). Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai
mahar.
"Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa
bagimu", perintah Allah, "dan dapatlah ia sebagai isterimu!".
Adam a.s bersyukur lalu memasuki isterinya dengan
ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang
seimbang.
Allah SWT. berfirman kepada mereka: "Hai Adam,
diamlah engkau bersama isterimu di dalam sorga dan makanlah (serta nikmatilah)
apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini
karena (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim". (Al-A’raaf:
19). Dengan pernikahan ini Adam a.s tidak lagi merasa kesepian di dalam sorga.
Inilah percintaan dan pernikahan yang pertama dalam sejarah ummat manusia, dan
berlangsung di dalam sorga yang penuh kenikmatan. Yaitu sebuah pernikahan agung
yang dihadiri oleh para bidadari, jin dan disaksikan oleh para malaikat.
Peristiwa pernikahan Adam dan Hawa terjadi pada
hari Jum’at. Entah berapa lama keduanya berdiam di sorga, hanya Allah SWT yang
tahu. Lalu kelak keduanya diperintahkan turun ke bumi. Turun ke bumi untuk
menyebarluaskan keturunan yang akan mengabdi kepada Allah SWT dengan janji
bahwa sorga itu tetap tersedia di hari kemudian bagi hamba-hamba yang beriman
dan beramal soleh
4.0 PERBEZAAN ANTARA MANUSIA DAN
HAIWAN
Di sini kami ingin
kongsikan bahawa manusia dijadikan sebagai insan iaitu makhluk terbaik yang
diberi dua peranan iaitu sebagai khalifah Allah s.w.t di muka bumi dan sebagai
hamba yang diperintahkan supaya beribadah kepadaNya. Sebelum Allah s.w.t
menjadikan manusia (Adam), terlebih dahulu Allah s.w.t telah menciptakan alam
dan seluruh cakerawala, bulan, bintang, matahari dan bumi dengan segala isinya
iaitu tumbuh-tumbuhan, ikan yang hidup di laut, haiwan yang terbang di udara,
haiwan yang hidup di darat dan sebagainya. Allah s.w.t telah menciptakan
manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kelebihan diri kita dari segi unsur-unsur
dalam dengan dikurniakan oleh Allah s.w.t ialah akal untuk berfikir dan hati
sebagai khazanah untuk menyimpan segala rahsia dan ingatan.
Manusia dan haiwan boleh didefinisikan melalui
pelbagai aspek dan perspektif. Tambahan pula, kedua-duanya mempunyai variasi
tafsiran oleh tokoh-tokoh islam. Maksud manusia dan haiwan adalah seperti yang
dijelaskan dalam jadual berikut:
MANUSIA
|
HAIWAN
|
||
Al-Quran menggunakan 3
istilah bagi mendefinisikan manusia iaitu insan, basyar, bani adam ataupun
zhuriyat adam. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, yang
diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga, jasmani
dan rohani.
|
ISLAM
|
Islam mentafsir haiwan
sebagai makhluk yang sama diciptakan seperti manusia tetapi tidak diberikan
kedudukan yang setaraf dengan manusia dari segi akal fikiran, manakala
kededukan mereka dari sudut kehambaan adalah sama seperti manusia.
|
|
Makhluk sosial yang mampu
berinteraksi antara satu sama lain serta bermasyarakat.
|
SOSIOLOGI
|
Haiwan mengenal dunia
sekelilingnya hanya dengan melalui pancaindera ( alat untuk merasa, mencium,
bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu dengan naluri.
Pengetahuannya khusus, tidak universal dan tidak umum.
|
|
Manusia merupakan makhluk
utama di bumi yang mempunyai sistem tubuh badan yang istimewa dan lengkap
seperti sistem saraf dan kardiovaskular serta berkemampuan mengatur hidup
secara sistematik.
|
SAINS
|
Haiwan merupakan
organisma hidup yang mempunyai ciri-ciri tertentu bagi membezakan mereka
dengan spesies kelompok yang lain.
|
|
Secara biologis, manusia
diklasifikasikan sebagai homo sapiens iaitu sebuah spesies primata yang juga
merupakan kingdom animalia tetapi dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
|
BIOLOGI
|
Ahli biologi mentafsir
haiwan sebagai kingdom animalia yang merupakan organisma eukariotik iaitu
organisma yang mempunyai banyak sel.
|
|
Manusia ialah makhluk yang diciptakan
oleh Allah S.W.T di syurga. Sejarah kejadian manusia bermula dari Adam AS dan
juga Hawa. Kejadian manusia seringkali menjadi pertikaian Barat yang banyak
mencipta teori mengikut logik akal. Namun begitu, Islam sudah lama menjelaskan
dalam kiab Al-Quran yang kejadian manusia bukanlah seperti yang diwar-warkan
oleh ideology Barat yang mendakwa bahawa manusia berevolusi. Semua ideologi ini
amatlah bercanggah dengan penciptaan manusia oleh Allah S.W.T.
Perkara berkaitan ideologi
ini amatlah terlampau banyak lemahnya kerana kemampuan manusia amatlah terbatas
jika hendak dibandingkan dengan Allah S.W.T yang tiada batasnya. Jika Allah
sudah mensyariatkan sesuatu, hendaklah kia sebagai makhluk mentaati-Nya sebagai
Pencipta. Seringkali manusia mempersoalkan kenapa dan kenapa, maka hendaklah
kita melihat kepada surah Al-Dzariyat ayat 56:
5.0 KITARAN HIDUP MANUSIA
5.0 KITARAN HIDUP MANUSIA
Setiap manusia mempunyai paras rupa
yang berbeza-beza. Begitu juga sifat peribadi mereka. Setiap kejadian manusia
telah diciptakan ciri-ciri yang berlainan bagi membezakan mereka antara satu
sama lain. Kitaran hidup manusia bermula daripada sperma dan ovum sehingga
tercetusnya kelahiran seorang bayi setelah ditiupkan roh di alam rahim. Rajah
di bawah menunjukkan gambaran kitaran hidup manusia bermulanya daripada
kelahiran seorang bayi sehingga ke peringkat warga emas.
Janin bayi mengalami beberapa fasa perkembangan
selama 1-40 hari di dalam rahim ibu. Kitaran rajah di bawah menunjukkan secara
ringkas bagaimana wujudnya seorang bayi.
KERATAN DARI MAKSUD
AYAT AL-QURAN BERKAITAN KEJADIAN MANUSIA

6.0 MENYINKAP PENCIPTAAN ADAM
MENYINGKAP
PENCIPTAAN ADAM
Proses Penciptaan Adam
Allah SWT berfirman kepada Jibril, "Hai Jibril, turunlah engkau ke bumi. Ambilkan Aku segenggam tanah. Aku hendak menciptakan Adam!"
Allah SWT berfirman kepada Jibril, "Hai Jibril, turunlah engkau ke bumi. Ambilkan Aku segenggam tanah. Aku hendak menciptakan Adam!"
Jibril pun turun ke bumi, saat akan diambil tanah itu bergoncang hebat.
Dengan izin-Nya, Jibril dapat mendengar suara bumi. "Demi Allah,
Tuhan Yang Maha Tinggi. Hai Jibril, jangan engkau ambil, aku takut (diriku)
dijadikan sebagai khalifah, kerana aku takut berbuat derhaka kepada Tuhan seru
seluruh alam. dan aku sangat takut terhadap siksa neraka."
Jibril pun kembali kepada Allah SWT lalu melaporkan sikap bumi yang
menolaknya untuk dijadikan sebagai bahan penciptaan Adam. Jibril bersedia
diperintahkan sekali lagi, namun Allah SWT memerintahkan malaikat Mikail yang
harus mengambil tanah di bumi. Mikail pun mengalami perlakuan seperti Jibril.
Seperti juga Jibril, Mikail pun melaporkan hasil kerjanya kepada Allah SWT, dan
siap pula menjalankan perintahnya sekali lagi. Namun, Allah tidak memerintahkan
lagi Mikail, melainkan malaikat Israfil yang akan mengambilnya. Israfil juga
disumpahi oleh bumi agar tidak mengambil sebahagian dirinya. Setelah
melaporkannya kepada Allah SWT, Dia memerintahkan malaikat Izrail.
Sebagaimana ketiga Malaikat tadi, Izrail pun disumpahi agar tidak
mengambil tanah, namun izrail mengatakan, "Hai bumi, bahwa engkau
menyumpahiku ini telah kuketahui. Akan tetapi ini bukan kehendakku, melainkan
atas firman Allah Tuhan semesta alam ”. Luruhlah hati bumi mendengar perkataan
dari Izrail itu. Izrail kemudian mengambil tanah di muka bumi. Tangannya
menembus sampai ke lapisan bumi ketujuh untuk mengambil tanah. Bekas tempat
pengambilan tanah itu konon menjadi Lautan Qulzum. Tanah itu pun kemudian
dibawa menghadap kepada Allah SWT. Tanah yang diambil berwarna-warni : hitam,
putih, merah, biru, hijau dan kuning. Oleh karena itulah, anak cucu Adam kelak
akan beragam warna-warna kulitnya pada tiap bangsa atau etnis.
"Ya Rabbi, ya Saidi, Ya llahil ‘aalamin, bahwa Engkau jugalah Tuhan
yang amat mengetahui bahwa hamba-Mu disumpahi oleh bumi," ucap Izrail.
Allah SWT berfirman, "Bahwasanya sumpah bumi kepadamu telah aku
tolak, hai Izrail. Bahwasanya Aku hendak menciptakan Adam. Maka mereka (Adam
dan Hawa) dan anak cucunya, terserah (kehendak-Ku, akan) Kusuruh Izrail untuk
mengambil nyawanya."
"Ya Tuhanku, jika demikian, mereka (akan) bermusuhan dengan
hamba-Mu ini."
Firman Allah SWT, "Hai Izrail, Aku amat kuasa berbuat
sekehendak-Ku. Jika Aku perintahkan seorang hamba-Ku untuk mengerjakan suatu
pekerjaan, di mana halnya engkau akan dibawanya (untuk) bermusuhan. Lebih
khusus pula terhadap seorang yang Kumatikan yang disebabkan karena demam, atau
sakit yang parah, atau tenggelam di dalam air, atau disebabkan dimakan oleh
binatang, atau disebabkan karena berkelahi melawan sesamanya, atau sebab
terbakar dilahap api, atau sebab jatuh tertimpa kayu. Maka semua itu (hanyalah)
namanya tersebabkan. Dengan demikian tidak ada siapapun dapat berdalih kepadamu
lagi."
Kemudian Allah SWT memerintahkan Izrail untuk mencampurkan tanah di atas
bumi dengan air. Dicampurkanlah dengan empat jenis air, yaitu: air tawar, air
asin, air anyir, dan air pahit. Kemudian Allah resapkan Nur kebenaran dalam
diri Adam dengan berbagai macam "sifat". Air tawar itu yang nantinya
akan menjadi air liur. Air asin menjadi air mata. Air anyir menjadi lendir di hidung.
Air pahit menjadi kotoran telinga. Proses pencampuran itu dilakukan selama
empat puluh tahun.
Kata Ibnu Abbas r.a. bahwa Allah SWT menciptakan Adam ‘alaihis salam
dari tujuh lapisan bumi. Di antaranya: Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis;
dadanya berasal dari tanah Dahna; tulangnya dari tanah bukit Qof; zakarnya dari
tanah Babil; hati dari tanah sorga Jarnnatul Firdaus; kedua matanya dari tanah
Hud; lidahnya dari tanah Thaif; kakinya dan tanah Hindi, dan bagian belakangnya
dari tanah Arafah.
Kemudian Allah menjadikan di dalam tubuh anak Adam sembilan pintu, yaitu
di kepalanya terletak pada kedua lubang hidung, kedua lubang telinga kedua
mata, mulut, dubur, dan kemaluan. Diciptakannya pula panca indera. Penciptaan
ini dilakukan pada hari Jum’at. Panjang tubuhnya enam puluh hasta. Bidang
dadanya tujuh hasta.
Setelah semua organ tubuhnya sudah lengkap, Allah SWT membaringkannya di
antara Mekah dan Thaif. Kemudian oleh beberapa malaikat, atas perintah Allah,
tubuh tersebut diangkat ke langit. Melihat keberadaan tubuh Adam itu, para
Malaikat bertanya:
"Ya Tuhanku, hikmah apakah pada yang demikian ini?"
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi," jawab Allah SWT.
"Siapakah yang akan Engkau jadikan (khalifah) itu, ialah yang akan
berbuat kerusakan di muka bumi ini, dan mengucurkan darah sesamanya. Sejak
semula kami senantiasa mengucap tasbih kepada Engkau dengan mensucikan-Mu"
ujar para Malaikat.
"Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui," firman Allah
SWT.
Selanjutnya Allah SWT menurunkan air hujan duka-cita mengguyur tubuh
Adam selama empat puluh tahun lamanya. Kemudian hujan suka-cita mengguyurnya
selama setahun. Sehingga segala kesedihan dan kebahagian telah menyatu ke dalam
jasad Adam. Hal itu mengisyaratkan bahwa kelak anak cucu Adam akan lebih banyak
menerima keadaan duka cita daripada suka citanya.
Kini, Allah SWT hendak memasukkan nyawa ke dalam jasad Adam. Sebelumnya
Allah telah menciptakan nyawa dua ribu tahun sebelum menciptakan tubuh Adam.
Sebagaimana terdapat di dalam sebuah hadist, yang artinya "bahwasanya
Allah Ta’ala menciptakan nyawa terlebih dahulu daripada jasad kira-kira selama
dua ribu tahun." Di dalam riwayat yang lain ada yang menyatakan selama
empat ribu tahun.
Nyawa itulah Cahaya (Nur) Muhammad saw. Maka rahasia Cahaya itu pun
dicampurkan dengan sebagian dari tubuh Adam. Allah SWT berfirman kepada Jibril:
"Bawalah tanah yang bercampur dengan ruh (nur) itu dengan kesturi,
ambar, za’faran, dan kapur, dan khalembak." Jibril pun menurutinya.
"Bawalah tanah cahaya itu, kenakanlah pada dahi tubuh itu!"
Jibril melakukan seperti apa yang diperintahkan. Lalu tubuh Adam itu
digenggam dengan genggaman "Jabarut" kemudian diletakkan di dalam
"Alam Malakut". Kemudian tubuh itu dibenamkan di dalam air
"Kudral-lzzah-Nya" yaitu sifat "Jalai dan Jammal". Lalu
diciptakan menjadi tubuh Adam yang sempurna.
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Jibril, Mikail, Israfil, dan
Izrail,
"Setiap dari kalian bersama dengan (masing-masing) tujuh ribu
malaikat, maka bawalah olehmu baki yang berisi nyawa Adam itu."
Lalu nyawa itu pun dibawa oleh para Malaikat menuju tubuh Adam. Nyawa
kemudian dihantarkan di kepalanya.
"Masuklah engkau ke dalam jasad ini," perintah Allah SWT
kepada nyawa,
"Bahwa badan inilah tempatmu diam."
Namun sang nyawa tidak langsung masuk, melainkan mengelilinginya
terlebih dahulu tujuh kali. Para Malaikat yang tengah menyaksikan kejadian itu,
sangat menantikan sang nyawa segera masuk ke dalam tubuh Adam.
"Ya Tuhanku, bahwasanya aku ini adalah ruh yang amat lembut dengan
cahayaku. Maka betapakah aku masuk ke rumah yang kelam ini," ujar nyawa.
"Masuk dipaksa, dan tatkala engkau keluar pun dipaksa juga,"
firman Allah SWT.
Dan awal penciptaan hingga nyawa masuk ke dalam tubuh Adam, memakan
waktu selama 120 tahun. Akhirnya nyawa itu pun masuk melalui mulut. Setelah itu
menuju otak, dan di bagian ini ia berkeliling seraya memuji Allah SWT, dua
ratus tahun lamanya. Kehadiran nyawa itu mulai memunculkan kesadaran Kepada
tubuh Adam.
Kata Adam kepada Allah SWT, "Ya Ilahi, Kau segerakanlah kiranya
penciptaanku ini sebelum tenggelamnya matahari”.
Firman Allah SWT yang artinya. "Diciptakan Adam dengan
tergesa-gesa."
Kemudian nyawa berada di bagian mata, maka terbukalah mata Adam.
Dilihatnya tubuhnya yang terbuat dari tanah itu, dan dilihatnya pula
buah-buahan yang ada di sorga. Ketika nyawa berada di telinganya, terdengarlah
ucapan-ucapan tasbih dari para malaikat. Saat nyawa telah masuk ke bagian
hidung, Adam mulai dapat bersin. Allah SWT mengilhamkan kepada Adam untuk
mengucapkan tahmid, setelah nyawa sampai di mulutnya.
Allah membalas ucapannya dengan ucapan: "Yarhamukallaahu”’artinya,
"Semoga Allah mengasihimu, hai Adam. Inilah anugerah-Ku kepadamu sebagai
balasan terhadap pujianmu tadi, hai Adam."
Nyawa berangsur menuju ke kerongkongan; terus ke dada; dan ke pusar
Adam. Adam mulai ingat makan tatkala nyawa sudah berada di perut. Tangan Adam
mulai dapat digerakkan. Adam pun berusaha duduk, namun masih belum mampu.
Malaikat berkomentar: " (Karena) setengah badannya masih tanah,
bahwa hendak duduk pun (tidak bisa). Perangai ini amat tergesa-gesa".
Allah SWT berfirman: "Dan adalah manusia bersifat
tergesa-gesa". (Q.S. 17:11 )
Akhirnya, sampailah nyawa itu pada setiap rongga tubuh Adam, dan
lengkaplah nyawa itu pada setiap organ tubuhnya. Daging dan darah pun mulai
tumbuh. Lalu hiduplah Adam a.s.
Kemudian Allah SWT menciptakan asap dari ruh Adam. Allah menyuruh Jibril
untuk menyimpannya. Sesungguhnya terdapat hikmah Allah di dalamnya, yaitu kelak
Allah SWT akan menciptakan seseorang yang bernama Isa a.s. dari asap tersebut.
Jibril pun menuruti perintah Nya. Dipeliharanya asap itu hingga datang masanya
Isa menjadi Nabi.
Nabi Adam a.s. mulai berdiri. Dianugerahkan kepadanya pakaian kebesaran.
Nabi Adam pun banyak berbuat kebajikan setiap harinya. Tidak berbuat dosa
sedikit pun. Itulah kesempurnaan Nabi Adam. Diberikan pula pakaian dari sorga,
yaitu makat dan qomar, dan sejumlah perhiasan.
Nabi Adam a.s. diperintahkan untuk melilingi langit bersama para
Malaikat agar dapat menyaksikan segala kebesaran Allah SWT. Dengan menunggang
seekor kuda yang bernama Mihun. Kuda tersebut diciptakan dari kapur, kasturi,
za’fuur. Bulu kuduknya dari zabarjad. Kedua sayapnya terbuat dari mutiara dan
marjan. P elananya dari marjan dan kekangnya dari yakut. Pada mulut kuda itu
terdengar ucapan-ucapan tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid. Jibril mengawal di
sebelah depan. Mikail di sebelah kanan. Israfil di sebelah kiri, dan Izrail
dari belakang. Mereka mulai berkeliling untuk melihat segala keajaiban Allah
SWT yang akan membuatnya semakin yakin terhadap kebesaran-Nya. Segala apa pun
yang melihat Adam, terkesima seraya memuji keindahan Adam. Pada setiap
perjumpaannya dengan para Malaikat, Adam a.s. selalu mengucapkan salam kepada
mereka.
Allah SWT berfirman, "Hai Adam, bahwa salam inilah pegangan
(ucapan) bagimu dan seluruh anak cucumu hingga datang pada han
kiamat(kelak)."
Dikisahkan tatkala Nabi Adam a.s. sudah diarak mengelilingi langit,
kemudian diarak pula menuju bumi. Di bumi ini pada waktu itu terdapat para
Malaikat bersama Iblis. Allah SWT memerintahkan kepada para Malaikat dan Iblis
untuk bersujud hormat,
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:
‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis" (Q.S.
2:34). Para malaikat yang melihat Iblis tidak bersujud, bergumam di dalam
hatinya:
"Siapa yang telah tidak mau bersujud, itulah Iblis, dan ialah
(akan) menjadi Iblis."
Para malaikat sekali lagi bersujud, sujud syukur kali ini, yaitu memuji
karunia Tuhan terhadap Nabi Adam a.s. Para malaikat akan selalu menjujung
tinggi dan menuruti segala apa yang difirmankan-Nya, serta tidak akan mengikuti
segala apa yang tidak diperintahkannya. Oleh karena itu, para malaikat hingga
kini selalu taat terhadap perintah Allah SWT.
Perilaku Iblis yang tidak menuruti perintah Allah SWT menjadi pertanyaan
Allah SWT,
"Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah
Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku?’ (Q.S. 38:75)
Jawab lblis; "Aku lebih baik darinya, karena Engkau ciptakan aku
dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". (Q.S. 38:76)
“Hai Iblis, keluarlah engkau di bawah langit-Ku dan dari atas bumi-Ku,
dan keluarlah engkau dari rupa malaikat-Ku, masuklah engkau pada rupa Iblis,
dan engkau kaku tiada berkesudahan."
Maka Azazil(nama sebelum menjadi Iblis) pun berubah menjadi rupa Iblis.
Matanya menjadi menonjol keluar.
Allah SWT menghardiknya, "Ikrarkanlah terhadap diri engkau, hai
Iblis!"
Iblis menyanggupinya. Lalu berucap: "Karena Adamlah maka aku Engkau
murkai, dan nikmat dari-Mu Engkau ambil dari hamba-Mu. Akan tetapi, mulai hari
ini hingga datang hari kiamat, aku minta janji ke hadirat- Mu, ya Tuhanku,
perkenankan pinta hamba-Mu, maka beranilah hamba- Mu datang sembah ke
hadirat-Mu, ya Tuhanku."
Jawab Allah SWT, "Telah-Ku perkenankan pintamu itu Berdatang
sembahlah engkau, hai Iblis."
Ibils menjawab, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka
semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka". (Q S.
38:82-83)
Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya
kebenaran itulah yang Kukatakan". (Q.S. 38:84)
“Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu
dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya”. (Q..S.
38:85)
Sejak kejadian itu, dendam mulai merasuki hati Iblis terhadap Nabi Adam
as. dan anak cucunya. Iblis berupaya dengan segala cara untuk menyesatkan
mereka semua. Dan itulah pekerjaan tetapnya hingga hari kiamat datang.
7.0 KESIMPULAN
Secara kesimpulannya, proses kejadian
manusia terbahagi kepada 2 teori iaitu barat dan Islam. Melalui teori barat
pada mulanya dipercayai tetapi akhirnya diragui oleh golongan intelektual dan
di anggap tidak releven. Hanya teori Islam masih releven dan terbukti hingga
kini. Oleh itu, manusia dianggap mulia dan sebaik-baik kejadian di muka bumi.
Manusia juga telah menjadi khalifah di muka bumi ini dengan menjalankan
tanggungjawab dan tugasan mereka. Tanggungjawab itu merupakan amanah Allah swt.
Kita sebagai manusia haruslah memikul amanah ini dengan penuh tanggungjawab
supaya kita tidak dipandang hina oleh masyarakat. Bagi memikul tanggungjawab
ini, pengisian rohani dan pemantapan akidah adalah sangat penting bagi
melancarkan tugasan yang telah diberikan oleh Allah swt kepada kita. Kita
seharusnya menghargai darjat yang dikurniakan oleh Allah swt kepada kita kerana
kita adalah semulia-mulia kejadian yang telah diciptakan oleh Allah swt.
8.0 RUJUKKAN
MOHD AZLI ADNAN,SAINS TEKNOLOGI DAN
KEJURUTERAAN DALAM ISLAM, KUALA LUMPUR ,OXFORD FAJAR
9.0 LAMPIRAN



Pos
Monday, 8 August 2011 Labels: Kisah Nabi
Pembaca budiman saya percaya hampir semua daripada kita mengetahui bagaimana penciptaan Nabi Adam tapi saya tetap akan berkongsi dan mencoret disini tentangnya
Pada satu hadith diriwayatkan dan barkatalah Ibnu Abbas :Allah swt telah menciptakan Adam as.maka dijadikan kepada nabi Adam dari tanah Baitul Muqaddis,wajahnya dari tanah syurga,kedua telinganya dari tanah gunung Thursina,keningnya dari tanah Iraq,gigi-giginya dari tanah kautsar,tangan kanan beserta jari-jemarinya dari tanah Parsi,kedua kakinya beserta betis dri tanah India,tulang temulangnya dari tanah gunung,auratnya dari tanah Babilon,punggungnya dari tanah Iraq,perutnya dari tanah Khurasan,hatinya dari tanah Firdaus,lidahnya dari tanah Thaif,kedua matanya dari tanah telaga alkauthar.
Dan Allah swt menjadikan dalan tubuh Adam tersebut sembilan pintu,tujuh pintu terletak dikepala iaitu,kedua mata,kedua telinga dan kedua lubang hidung dan mulut.Kemudian dua pintu ditubuhnya iaitu qubul dan dubur.Dan Allah menjadikan pula pancaindera penglihatan dimata,pendengaran,perasa,peraba dan pencium,Ketika Allah swt hendak meniup roh kejasad Adam as.Allah memerintahkan roh agar masuk kedalamnya selama 200 tahun,lalu turun lah roh pada kedua mata maka terlihatlah ia akan dirinya sendiri,terlihat olehnya dalam bentuk yang kering.Ketika roh tersebut sampai dikedua telinga terdengar olehnya tasbihnya para malaikat,kemudian turunlah roh itu ke rongga hidung bersin lah iasetelah selesai bersin turun lah roh kemulut dan lidahnya. Lalu Allah swt mengajari Adam as, untuk menyebut Alhamdulillah dan Allah swt menjawap dengan kalimat Yarhamuka rabbuka ya Adam.Lalu turunlah roh kedadanya dan tergesa-gesalah dia berdiri tetapi tidak mampu,hal ini sesuai dengan firman Allah swr yang bermaksud:
:Manusia itu adalah tergesa-gesa….(Israil-11)
Ketika roh itu sampai keperut Adaam as.maka dia bernafsu untuk makan,lalu menyebar lah roh itu keseluruh tubuhnya jadilah jasad itu daging,darah dan otot-otot yang merata dalam tubuh,lalu Allah swt mengenakanya pakaian dari kuku yang setiap hari pakaian tersebut bertambah baik dan indah,ketika Adam as berbuat dosa maka Allah swt ,menggantikan kuku tersebut dengan kulit dan tinggallah kuku-kuku tersebut dihujung jari-jarin kita sebagai pengingat awal kejadiannya.
Lalu Allah swt menyempurnakan kejadian Adam as. Dan meniup roh kedalam jasadnya dan mengenakanya pakaian dari syurga,sedangkan Nur nya dari Nabi Muhammad saw bersinar diwajahnya seperti bulan purnama,kemudian diangkat Adam as ketempat tidur dan diangkat diatas bahu Malaikat.Dan berfirman Allah swt kepada mereka,Berkelilinglah kalian bersama Adam as, yang berada diatas tempat tidur itu,agar ia melihat keajaiban langit dan segala sesuatu yang ada didalamnya. Maka bertambahlah keyakinan Adam itu,lalu para Malaikat menjawap,”Rabbana sami’na wa atha’na(wahai tuhan kami,telah ku dengar perintahmu dan kutaati,)Maka dibawalah Adam as. Itu berkeliling dibeberapa langit selama seratus tahun,lalu Allah menciptakan kuda dari minyak kasturi putih yang semerbak baunya untuk Adam as.Kuda itu dinamakan Maimun;dia mempunyai dua sayap dari intan dan marjan.
Maka naiklah Adam as.sedangkan malaikat Jibril memegang cemeti,malaikat Mikail berada disebelah kanannya,malaikat israfil berada disebelah kirinya,maka berkelilinglah semua malaikat tadi keseluruh penjuru langit itu.Kemudian Adam as. Mengucapkan salam kepada malaikat,dengan ucapan Asalamualaikum,Maka menjawaplah Malaikat dengan ucapan Waalaikumusalam,lalu Allah swt berfirman;
“Wahai Adam ini lah penghormatan bagimu dan bagi orang –orang mukmin dari anak cucumu yang tetap bagi mereka sampai hari kiamat.
Begitulah dikisahkan tentang awal penciptaan Adam ,sekalipun kita pernah membacanya tapi perlu juga untuk kita mengingati kembali kisah kisahnya yang seakan ia telah berlalu pergi sedikit demi sedikit dari ingatan kita.
Selamat membaca dan semoga sentiasa mendapat kerahmatnya.
SEJARAH PENCIPTAAN NABI ADAM AS
PADA suatu ketika, Allah menitahkan malaikat Jibrail ke bumi mengambil sebahagian tanahnya mencipta Adam.
Tetapi, bumi enggan membenarkan tanahnya diambil untuk dijadikan Adam, kerana bumi bimbang Adam berbuat maksiat kepada Allah.
Lalu Jibrail kembali menemui Tuhan, ia tidak dapat berbuat apa-apa, mendengar sumpah bumi. Kemudian, Allah memerintah malaikat Mikail, jawapan bumi tetap sama dan Allah menitah pula malaikat Israfil, tetapi bumi masih enggan dan masing-masing kembali dengan tangan penuh hampa.
Lalu yang terakhir, Allah menyuruh malaikat Izrail ke bumi. Kata Allah: ” Hai Izrail engkaulah kini yang aku tugaskan mengambil tanah.
Meskipun bumi menyumpah dengan ucapan bagaimanapun jangan engkau undur. Katakan kamu melakukan atas perintah dan atas nama-Ku.”
Apabila Izrail ke bumi dan menyampaikan perintah Allah, bumi akhirnya akur tanahnya diambil.
Setelah Izrail mengambil beberapa jenis tanah, dia kembali ke hadrat Allah. Lalu Allah berfirman: “Ya Izrail, pertama engkau yang Ku-tugaskan mengambil tanah, dan kelak Ku-tugaskan engkau mencabut roh manusia.”
Maka Izrail bimbang dibenci manusia. Lalu Allah berfirman: “Tidak, mereka tidak akan memusuhi kamu, Aku Yang mengaturnya, dan aku jadikan kematian mereka itu bersebab, terbunuh, terbakar atau sakit.”
Click Here
Tanah bagaimana dijadikan Adam?
1. Tanah tempat bakal berdirinya Baitul Mugaddis
2. Tanah Bukit Tursina
3. Tanah Iraq
4. Tanah Aden
5. Tanah Al-Kautsar
6. Tanah tempat bakal berdirinya Baitullah
7. Tanah Paris
8. Tanah Khurasan
9. Tanah (Babylon)
10. Tanah India
11. Tanah syurga
12. Tanah Tha’if
Kata Ibnu Abbas :
1. Kepala Adam dari tanah Baitul Muqadis, kerana di situlah berada otak manusia, dan di situlah tempatnya akal.
2. Telinganya dari tanah Bukit Thursina, kerana dia alat pendengar dan tempat menerima nasihat.
3. Dahinya dari tanah Iraq, kerana di situ tempat sujud kepada Allah.
4. Mukanya dari tanah Aden, kerana di situ tempat berhias dan tempat kecantikan.
5. Matanya dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat menarik perhatian.
6. Giginya dari tanah Al-Kautsar, tempat manis.
7. Tangan kanannya dari tanah Kaabah, untuk mencari nafkah dan kerjasama sesama manusia.
8. Tangan kirinya dari tanah Paris, tempat beristinjak.
9. Perutnya dari tanah Babylon. Di situlah tempat seks (berahi) dan tipu daya syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
10. Tulangnya dari tanah Bukit Thursina, alat peneguh tubuh manusia.
11. Dua kakinya dari tanah India, tempat berdiri dan jalan.
12. Hatinya dari tanah syurga Firdaus, kerana di situlah iman, keyakinan, ilmu dan kemahuan.
13. Lidahnya dari tanah Tha’if, tempat mengucap syahadah, bersyukur dan mendoakan kepada Tuhan.
Bagaimanakah prosesnya :
1. Ketika Allah menjadikan Adam, tanah itu bercampur air tawar, air masin, air hanyir, angin, api. Kemudian Allah resapkan Nur kebenaran dalam diri Adam dengan pelbagai macam “sifat”.
2. Lalu tubuh Adam itu digenggam dengan genggaman “Jabarut” kemudian diletakkan di dalam “Alam Malakut”.
3. Sesungguhnya tanah yang akan dijadikan “tubuh Adam” adalah tanah pilihan. Maka sebelum dijadikan patung, tanah itu dicampurkan dengan rempah-rempah, wangi-wangian dari sifat nur sifat Allah, dan dirasmi dengan air hujan “Barul Uluhiyah”.
4. Kemudian tubuh itu dibenamkan di dalam air “Kudral-Izzah-Nya” iaitu sifat “Jalan dan Jammal”. Lalu diciptakan menjadi tubuh Adam yang sempurna.
5. Demikian pula roh, ketika itu diperintah masuk ke tubuh Adam, ia malas dan enggan, malah berputar-putar, mengelilingi patung Adam yang terlantar.
Kemudian Allah menyuruh malaikat Izrail untuk memaksa roh itu masuk, akhirnya ia menyerah kepada Izrail.
Menurut riwayat ketika Adam masih di syurga, sangat baik sekali kulitnya. Tidak seperti warna kulit kita sekarang ini.
Kerana Adam diturunkan ke dunia, terjadilah perubahan pada warna kulitnya. Sebagai peringatan yang masih tertinggal warnanya hanyalah pada kuku manusia.
Hal ini kita biasa lihat meskipun orang kulitnya hitam, warna kukunya adalah sama, ialah putih kemerah-merahan. Dijadikan pada tubuh Adam ada sembilan rongga atau liang.
Tujuh buah liang di kepala dan dua liang di bawah badan letaknya.
Tujuh buah letaknya di kepala: dua liang mata, dua liang telinga, dua liang hidung dan sebuah liang mulut.
Yang dua macam di bawah: sebuah liang kemaluan dan liang dubur.
Dijadikan pula lima pancaindera:
1. Mata alat penglihatan
2. Hidung alat penciuman
3. Telinga alat pendengaran
4. Mulut alat perasa manis, masin dan sebagainya.
5. Anggota tubuh lainnya seperti kulit, telapak tangan, untuk merasa halus, kasar dan sebagainya.
Selepas roh masuk tubuh Adam perlahan-lahan sehingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun.
Demikianlah Allah memberi kekuatan pada Izrail memasukkan roh ke tubuh Adam. Dahulu Izrail ditugaskan mengambil tanah untuk Adam, dan kini mencabut nyawa manusia.
Selepas meresap ke kepala Adam, maka terjadilah otak dan tersusun urat sarafnya dengan sempurna. Kemudian terjadilah matanya seketika itu matanya terus terbuka melihat dan melirik ke kiri dan ke kanan.
Dan juga melihat ke bawah di mana bahagian badannya masih adalah tanah keras. Dilihatnya kiri dan kanan malaikat yang sedang menyaksikan kejadian dia.
Ketika itu Adam mendengar malaikat mengucapkan tasbih dengan suara merdu dan mengasyikkan. Ketika roh sampai ke hidungnya lalu ia bersin, serta mulutnya terbuka.
Ketika itulah Allah mengajarnya mengucap Alhamdulillah. Itulah ucapan Adam yang pertama kepada Allah.
Lalu Allah berkata: “Yarkhamukallah” yang ertinya: “semoga engkau diberi rahmat Allah”. Oleh kerana itu jika orang bersin menjadi ikutan sunat mengucap “Alhamdulillah” dan orang yang mendengarnya sunat mengucapkan
“Yarkhamukallah”.
Kemudian ketika roh sampai pada dadanya, tiba-tiba saja ia mahu bangun. Padahal bahagian badannya ke bawah masih menjadi tanah keras.
Di sini menunjukkan sifat manusia yang suka tergesa-gesa (tidak sabar). Sebagaimana firman Allah yang bermaksud: “Dan adalah manusia itu, suka tergesa-gesa”.
Maka, ketika roh itu sampai di perutnya, terjadilah susunan isi perut dengan sempurna. Maka seketika itu terasa lapar.
Kemudian terus roh itu meresap ke seluruh tubuh Adam, tangan, kaki lalu terjadi darah daging dan tulang, urat-urat, berkulit dengan sempurna, kian lama kian bagus dan halus.
Apabila kejadian Adam sempurna sebagai manusia baru, maka dialah adalah jenis makhluk manusia yang pertama.
Wajahnya cukup cantik, semua malaikat kagum melihat Adam yang menawan. Adam diarak malaikat selama 100 tahun lalu diperkenalkan kepada seluruh penghuni langit pertama hinggalah ketujuh sebelum dibawa ke syurga tempat mula-mula Adam dijadikan.
Menarik mempelajari awalin mengenai kejadian manusia (post sebelumnya meneguhkan kesadaran awalin dan akhirin).
Beberapa ulama berpendapat bahwa manusia ketika di arasy sebelum diturunkan ke dunia juga bersyahadat selain ditetapkan 4 takdirnya itu. Syahadat berisi 2 kalimat yaitu bersaksi pada Allah dan bersaksi pada Muhammad (LailahaillaLlah MuhammadarasuluLlah). Syahadat yang pertama bernama syahadat Tauhid dan yang kedua adalah syahadat Risalah.
Ada hal yang menarik terkait dengan syahadat Risalah yang menyebutkan kesaksian pada Muhammad saw. Pertanyaannya apakah manusia sebelum nabi Muhammad saw, khususnya nabi Adam As mengucapkan juga syahadat risalah, padahal Muhammad Saw belum ada waktu itu ?
Terkait penjelasan bahwa Muhammad Saw memang telah ada dan disebutkan Allah pada awal penciptaan Nabi Adam As, maka ada dalil atau riwayat yang menjelaskan hal itu
1. Hadist nabi Saw sebagai berikut:
Dalam kitab Usfuriyah, dijelaskan bahwa bahwa Muhammad Saw memang telah ada dan disebutkan Allah pada awal penciptaan Nabi Adam As, maka ada dalil yang menjelaskan hal itu
Rasulullah Saw bersabda: Ketika Nabi Adam mengakui kesalahannya, lalu dia berkata dan memohon: “Ya Tuhanku hamba memohon kepadaMu dengan kebenaran Muhammad ampunilah hamba “. Lalu Allah berfirman kepada Adam: ” Hai Adam bagimana kamu tahu tentang Muhammad padahal Aku belum lagi ciptakannya?”Adam menjawab: “Ya Tuhanku sesungguhnya ketika Engkau ciptakan hamba, hamba mengangkat kepala, kemudian terlihat olehku tulisan dipintu gerbang Arasy berbunyi Lailahaillallah Muhammadarasulullah, maka ketika itu mengertilah hamba, tidak mungkin ada satu nama yang bersanding dengan namaMu kecuali mahkluk yang sangat Kau sayangi.Maka Allah berfirman: “Benar Engkau hai Adam sesungguhnya Muhammad itu adalah makhlukKu yang paling kusayangi, bila engkau memohon kepadaKu dengan kebenarannya sungguh Aku ampuni engkau” ( HR Baihaqi)
2. Riwayat orang Shaleh sebagai berikut
Diriwayatkan Ibnu Jauzi dalam kitab Salwatul Ahzaan disebutkan bahwa Adam As ketika hendak mendekati Siti Hawa, maka siti Hawa meminta mas kawin. Lalu adam As berdoa: “Ya Rabb apakah yang harus saya berikan padanya?”
Allah berfirman : Ya Adam bacalah shalawat untuk kekasihku Muhammad Saw 20 kali. Maka itu kemudian dipatuhi dan dilaksanakan Adam As untuk mendekati siti Hawa.
Penjelasan keberadaan Muhammad Saw
Muhammad yang disebut Allah kepada Nabi Adam itu adalah Muhammad Awalin atau beberapa ulama menyebutnya sebagai Nur Muhammad (sebagian lagi Hakikat Muhammad).
Terkait dengan penjelasan ruh Muhammad Saw, dari beberapa riwayat menyatakan keberadaan Muhammad saw lebih dulu dari para nabi pada saat di arasy. Pada Alam ruh ini Muhammad saw telah mendapatkan kenabian dan jelas kepemimpinannya atas semua nabi sebagaimana hadis diriwayatkan Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa
Nabi Saw bersabda : Menurut Allah, Aku sudah menjadi Penutup para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.
Lalu kalau ada awalin tentu ada akhirin?.
Sosok dan kemuliaan Muhammad yang diturunkan Allah kedunia yang membawa berita kebenaran, sebagai nabi penutup dan menjadi teladan karena keluhuran ahlaqnya itulah sebagai Muhammad Akhirin.
Dengan demikian dapat dipahami kalau Rasulullah Saw sendiri juga mengucapkan syahadat secara lengkap kepada dirinya yaitu syahadat Tauhid dan syahadat Risalah pada tasyahud akhir sesuai dengan tuntunan shalat yang diajarkan beliau sendiri kepada umatnya.
Wallahu ‘alam
Kisah Penciptaan Tubuh Rasulullah S.A.W
Ka’ab al Ahbaar radhiy-Allahu ‘anhu mengatakan, “Ketika Allah SWT
menginginkan untuk menciptakan Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Ia
memerintahkan Malaikat Jibril untuk membawa kepada-Nya tanah liat yang
menjadi jantung dari bumi, yang menjadi kemegahan dan cahayanya. Jibril
pun turun, ditemani beberapa malaikat dari Tempat Tertinggi di Syurga.
Ia mengambil segenggam tanah untuk penciptaan Nabi sall-Allahu ‘alaihi
wasallam dari suatu tempat yang kini menjadi makam suci beliau
sall-Allahu ‘alaihi wasallam; tanah itu berkilau putih cerah. Kemudian
ia meramas dan mengadun tanah itu dengan air ciptaan terbaik dari Air
Terjun SyurgawiT asn iim, yang berada dalam sungai-sungai jernih yang
mengalir di Syurga. Ia mengaduninya sampai tanah itu menjadi suatu
mutiara putih dengan pancaran warna putihnya yang cemerlang.
Para malaikat membawanya, mengelilingi ‘Arasy Syurgawi dan gunung-gunung
dan samudera. Dengan begitu, para malaikat dan seluruh makhluq
mengetahui akan keberadaan junjungan kita Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallam dan kehormatan beliau; sebelum mereka mengetahui Adam.” Ibn
‘Abbas radhiy-Allahu ‘anhumengatakan, “Asal usul dari tanah liat Nabi
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam adalah dari pusat bumi, di Makkah, di titik
di mana Ka’bah berdiri. Kerana itu pula, Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallam menjadi asal usul penciptaan, dan semua makhluq ciptaan adalah
pengikut-pengikut beliau.”
Pengarang Awarif al Ma’arif [al-Suhrawardi], berkata bahawa ketika
Banjir meluap, menebarkan buih ke seluruh penjuru, esensi dari Nabi
sall-Allahu ‘alaihi wasallam berhenti hingga ke suatu tempat di dekat
tanah kubur baginda di Madinah, sehingga baginda sall-Allahu ‘alaihi
wasallam menjadi seseorang yang termasuk dalam Makkah mahupun Madinah.
Diriwayatkan bahawa ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Adam
‘alaihissalam, Ia Subhanahu Wa Ta’ala mengilhamkan kepada Adam untuk
bertanya, “Wahai Tuhan, mengapakah Engkau memberiku nama panggilan, Abu
Muhammad (ayah dari Muhammad)?” Allah menjawab, “Wahai Adam, angkat
kepalamu.” Adam pun mengangkat kepalanya dan ia melihat cahaya dari
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam dalam kubah ‘Arsy. Adam kemudian
bertanya lagi, “Wahai Tuhan, cahaya apakah ini?” Allah menjawab, “Ini
adalah cahaya dari seorang Nabi keturunanmu. Namanya di Syurga adalah
Ahmad, dan di Bumi namanya Muhammad sall- Allahu ‘alaihi wasallam. Jika
bukan demi dirinya, tentu Aku tidak akan menciptakan dirimu, tidak pula
Langit, tidak pula Bumi.” ‘Abd al-Razzaq meriwayatkan, dari Jabir bin
‘Abdullah radhiy-Allahu ‘anhu, bahawa ia berkata, “Ya RasulAllah, semoga
ayahku dan ibuku dikorbankan demi dirimu, ceritakan padaku tentang hal
pertama yang Allah ciptakan, sebelum yang lain-lainnya.” Beliau
menjawab, “Wahai Jabir, Allah menciptakan, sebelum apa pun yang lain,
cahaya Nabimu dari cahaya-Nya. Cahaya itu mulai bergerak ke mana pun
Allah kehendaki dengan Qudrat Ilahiah Allah.
Pada saat itu belum ada Tablet (Lauh) belum pula Pena; belum ada Syurga
mahupun Neraka, tidak ada malaikat; tidak ada Langit, tidak pula Bumi;
tak ada Matahari mahupun Bulan, tak ada Jinn ataupun manusia. Ketika
Allah ingin untuk menciptakan makhluq-Nya, Ia membahagi cahaya itu
menjadi empat bahagian.
Dari bahagian pertama, Ia menciptakan Pena, dari yang kedua, Tablet
(Lauh), dan dari yang ketiga, ‘Arasy. Kemudian, Ia membahagi bahagian
keempat menjadi empat bahagian: bahagian pertama membentuk para pembawa
‘Arasy, bahagian kedua menjadi penunjang kaki ‘Arasy, dan dari bahagian
ketiga Ia menciptakan malaikat- malaikat lainnya. Ia kemudian membahagi
bahagian keempat menjadi empat bahagian lagi: Ia menciptakan langit dari
bahagian pertama, bumi-bumi dari bahagian kedua, Syurga dan Neraka dari
bahagian ketiga. Kemudian Ia membahagi lagi bahagian keempat sisanya
menjadi empat bahagian: menciptakan cahaya firasat orang-orang beriman
dari bahagian pertama, cahaya kalbu-kalbu mereka(iaitu ma’rifat Allah)
dari bahagian kedua, dan dari bahagian ketiga Ia ciptakan cahaya
kesenangan dan kegembiraan (Uns, iaitu Laa ilaha illa Allah, Muhammadun
Rasuulullah).
Suatu riwayat lain dari ‘Ali ibn Al-Husain radhiy-A llahu ‘anhu dari
ayahnya [iaitu Husain ibn 'Ali ibn Abi Talib, peny.] radhiy-Allahu
‘anhu, dari datuknya [iaitu 'Ali ibn Abi Talib] karram-Allahu wajhahu,
dari Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, “Aku adalah suatu
cahaya di hadapan Tuhanku, empat belas ribu tahun sebelum penciptaan
Adam.” Telah pula diriwayatkan bahawa ketika Allah menciptakan
Adam‘alaihiss alam, Ia Subhanahu Wa Ta’ala menaruh cahaya itu di
punggung Adam, dan cahaya itu biasa berkilau dari bahagian depannya,
menelan seluruh sisa cahayanya. Kemudian Allah menaruh cahaya itu ke
‘Arasy Kekuasaan-Nya, dan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya membawanya
di pundak mereka, dan memerintahkan mereka pula untuk membawa Adam
berkeliling di Langit dan mempertunjukkan padanya keindahan-keindahan
Kerajaan-Nya.
Ibn ‘Abbas radhiy-Allahu ‘anhu berkata, Penciptaan Adam adalah pada hari
Jumat di siang hari. Allah kemudian menciptakan baginya Hawa’, isterinya,
dari satu tulang rusuk kirinya ketika ia sedang tertidur. Saat ia bangun
dan melihat Hawa’, Adam merasa tenteram dengannya, dan ia mulai
merentangkan tangannya ke Hawa’. Malaikat berkata, “Berhenti, Adam.”
Adam berkata, “Kenapa, tidakkah Allah menciptakannya untukku?” Mereka
menjawab, “Tidak boleh hingga kau membayar mas kawin padanya”. Adam
bertanya, “Apa mas kawinnya?” Para Malaikat menjawab, “Dengan membaca
salawat atas Muhammad tiga kali.” [ dan dalam riwayat lain, dua puluh kali].
Telah pula diriwayatkan bahawa ketika Adam‘alaihis salam meninggalkan
Syurga, ia melihat tertulis di kaki ‘Arasy dan di setiap titik dalam
Syurga, nama Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam di samping nama
Allah. Adam bertanya, “Wahai Tuhan, siapakah Muhammad?” Allah menjawab,
“Dia adalah anakmu, yang jika seandainya tidak demi dirinya, tentu Aku
tidak akan menciptakanmu.”Kemudian Adam berkata, “Wahai Tuhan, demi anak
ini, kurniakanlah rahmat pada ayahnya.” Allah memanggil, “Wahai Adam,
seandainya engkau akan bersyafa’at melalui
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bagi seluruh penduduk Langit dan
Bumi, Kami akan kabulkan permohonan syafa’atmu.”
‘Umar Ibn al-Khattab radhiy-Allahu ‘anhu berkata bahawa Sayyidina
Muhammads all- Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika Adam berbuat
dosa, ia berkata, ‘Ya Allah, aku memohon kepadamu demi Muhammad untuk
mengampuniku.’ AllahSubhan ahu Wa Ta’ala berfirman padanya, ‘Bagaimana
dirimu tahu akan Muhammad padahal Aku belum menciptakannya?’ Adam
menjawab, ‘Kerana ketika Engkau, Ya Tuhanku, menciptakanku dengan
Tangan- Mu, dan meniupkan padaku dari Ruh-Mu, aku memandang ke atas dan
melihat tertulis di kaki-kaki ‘Arasy, Laa ilaaha illallah, Muhammadun
Rasuulullah. Aku tahu bahawa Engkau tidak akan menaruh suatu nama di
samping Nama-Mu, melainkan pastilah itu adalah nama seseorang yang
paling Kau-cintai dari makhluq-Mu.’ Allah berfirman,
‘Oh, Adam, kau telah mengatakan kebenaran: dialah yang paling Kucintai
di antara makhluk ciptaan-Ku. Dan kerana engkau telah memohon pada-Ku
demi dirinya, engkau kuampuni. Seandainya tidak untuk Muhammad, Aku tak
akan menciptakanmu. Dialah penutup para Nabi dari keturunanmu.’”
Dalam Hadits Salman radhiy-Allahu ‘anhu, diriwayatkan bahawa Jibril
turun menemui Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Tuhanmu
mengatakan, ‘Jika Aku telah menjadikan Ibrahim sebagai yang Ku-cintai,
sahabat dekat (khalil), Aku pun menganggapmu demikian. Tak pernah
Ku-ciptakan makhluk apa pun yang lebih berharga bagi-Ku daripada dirimu,
dan telah Ku-ciptakan dunia ini dan penduduknya dengan maksud untuk
membiarkan mereka mengetahui kehormatanmu dan mengetahui erti
keberadaanmu bagi-Ku; dan seandainya tidak
untukmu, tidaklah Kuciptakan dunia ini’”.
Hawa melahirkan empat puluh anak dari Adam, dalam dua puluh kali
kelahiran; tetapi ia melahirkan Seth [atau Syits]‘alaihiss alam secara
terpisah, sebagai kehormatan bagi junjungan kita Muhammad sall-Allahu
‘alaihi wasallam, yang cahayanya berpindah dari Adam ke Seth. Sebelum
wafatnya, Adam menitipkan pemeliharaan anak-anaknya kepada Seth, dan ia
pun, sebagai gilirannya, mempercayakan pada anak-anak tersebut, wasiat
dari Adam: untuk menaruh cahaya itu hanya pada wanita yang suci. Wasiat
ini berlanjutan, abad demi abad, sampai Allah memberikan cahaya itu
kepada Abdul Muttalib dan puteranya, Abdullah. Dengan cara inilah, Allah
menjaga kemurnian salasilah tanpa cela dari Nabi Muhammads all- Allahu
‘alayhi wasallam, dari perzinaan orang-orang bodoh. Ibn ‘Abbas
radiyAllahu ‘anhu berkata,“Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam
bersabda, ‘Tak satu pun perzinaan jahil menyentuh kelahiranku. Aku
dilahirkan tidak lain hanya dengan pernikahan Islam.’” Hisyam ibn
Muhammad Al-Kalbi meriwayatkan bahawa ayahnya berkata, “Aku menghitung
bagi (silsilah) Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam ada lima
ratus ribu ibu, dan tak kutemukan di antara mereka satu jejak pun
perzinaan, atau apa pun dari interaksi orang-orang bodoh.”
Ali radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Aku datang dari pernikahan, aku tidak datang dari perzinaan;
dari Adam hingga diriku dilahirkan dari ayah dan ibuku, tak satu pun
perzinaan orang jahil yang menyentuh diriku.”
Ibn ‘Abbas radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi Muhammad sall-Allahu
‘alaihi wasallam bersabda, “Orang tua moyangku tak pernah melakukan
perzinaan. Allah menjaga memindahkanku dari sulbi yang baik ke rahim
yang suci, murni dan tersucikan; bila saja ada dua jalan untuk
berpindah, aku menuju ke yang terbaik di antara mereka.” Anas
radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallammembaca, “La qad jaa-akum Rasuulum min Anfusikum” [QS. 9:128],
dan bersabda, “Aku adalah yang terbaik di antara kalian dalam
silsilahku, dalam hubungan-hubungan-ku dan nenek moyangku: tak ada
perzinaan pada ayah-ayahku dalam setiap tingkat hingga ke Adam.”
‘Aisyah radiyAllahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi sall-Allahu ‘alaihi
wasallam bahawa Jibril‘alaihis s alam berkata, “Aku telah meneliti Bumi
dari timur ke barat, dan tak kutemui seorang manusia pun yang lebih baik
dari Muhammadsall- Allahu ‘alaihi wasallam, dan tak kutemui seorang anak
laki-laki dari ayah mana pun yang lebih baik dari anak-anak Hasyim (Bani
Hasyim).” Dalam Sahih Al-Bukhari, Abu Hurairah radiyAllahu ‘anhu
meriwayatkan bahawa Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku
telah diutus dari generasi terbaik dari Anak-anak Adam, satu demi satu
hingga aku mencapai keadaanku sekarang ini.” Dalam Sahih Muslim, Watsila
ibn al-Aska’ meriwayatkan bahawa Muhammadsall- Allahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Allah telah memilih Kinana dari anak-anak Isma’il, dan
Quraisy dari Kinana, dan dari Quraish, anak-anak Hasyim, dan akhirnya
memilihku dari Bani Hasyim.” Al ‘Abbas radiyAllahu ‘anhu berkata Nabi
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah menciptakan
makhluq, dan menempatkanku dalam kelompok- kelompok terbaik, dan yang
terbaik dari dua kelompok; kemudian Ia memilih suku, dan menaruhku pada
yang terbaik di antara keluarga-keluarga mereka. Kerana itulah, aku
memiliki keperibadian terbaik, roh dan sifat terbaik, dan memiliki
asal-usul terbaik di antara mereka.”
Ibn ‘Umar radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Allah memeriksa ciptaan-Nya dan memilih Bani Adam
(manusia) dari mereka; Ia memeriksa Bani Adam dan memilih orang-orang
Arab darinya; Ia memeriksa kaum Arab dan memilihku dari antara mereka.
Kerananya, aku selalu menjadi yang terpilih di antara yang terpilih.
Lihatlah, orang-orang yang mencintai kaum Arab, adalah kerana cinta
kepadaku hingga mereka mencintai kaum Arab, dan mereka yang membenci
kaum Arab, adalah kerana mereka membenciku hingga mereka pun membenci Arab.”
Ketahuilah bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam tidaklah terkait
(memiliki) secara langsung pada saudara laki-laki atau perempuan siapa
pun dari orang tua-orang tuanya; beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam
adalah anak satu-satunya mereka dan silsilah mereka berhenti pada
beliau. Dengan begitu, beliau secara eksklusif ‘memegang penuh’ suatu
silsilah yang Allah (SWT)inginkan menjadi yang tertinggi yang dapat
dicapai suatu kenabian, dan yang memegang puncak kehormatan.
Jika Anda memeriksa status silsilah beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam
dan mengetahui kesucian kelahiran beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam,
Anda akan yakin bahawa silsilah beliau adalah suatu keturunan dari
ayah-ayah yang terhormat, kerana beliau adalah Al-Nabi sall-Allahu
‘alaihi wasallam, Al ‘Arabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Abtahi
sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Harami sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al
Hasyimi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Quraisyi sall-Allahu ‘alaihi
wasallam, elite dari Bani Hasyim, seseorang yang telah dipilih dari
suku-suku terunggul bangsa Arab, dari silsilah terbaik, keturunan paling
mulia, cabang yang paling subur, pilar tertinggi, asal usul terbaik,
akar-akar terkuat, memiliki lidah terfasih, gaya bicara terhalus, darjat
kebajikan) yang paling memberatkan, iman paling sempurna, persahabatan
paling kuat, kaum kerabat paling terhormat dari kedua pihak orang tua,
dan dari tanah Allah yang paling mulia. Beliaus all- Allahu ‘alaihi
wasallam memiliki banyak nama dan yang paling terkemuka adalah Muhammad
sall-Allahu ‘alaihi wasallam ibn (putera) Abdullah. Beliau juga adalah
putera Abdul Muttalib, yang namanya adalah Syaybat-ul Hamd, anak Hasyim,
yang namanya adalah Amr; anak dari Abd Manaaf, yang namanya adalah
al-Mughiirah, anak dari Qusai, yang namanya adalah Mujammi’, anak dari
Kilaab, yang namanya Hakiim, ibn Murra, ibn Ka’b (dari suku Quraisy),
ibn Lu’ai, ibn Ghalib, ibn Fihr, yang namanya adalah Kinana, ibn
Khuzaima, ibn Mudrika, ibn Ilias, ibn Mudhar, ibn Nizar, ibn Ma’add, ibn
Adnan.
Ibn Dihia berkata, “Para ulama setuju dan kesepakatan ulama adalah bukti
bahawa Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan
silsilah beliau hingga Adnan, dan tidak menyebutkan di atas itu.” Ibn
‘Abbas radiyAllahu ‘anhu meriwayatkan bahawa bila saja Muhammads all-
Allahu ‘alaihi wasallam menyebutkan silsilahnya beliau tak pernah
menyebut di atas Ma’add, ibn Adnan, dan akan berhenti, dengan
mengatakan, “Para genealogis (ahli silsilah) telah berbohong.” Beliau
akan mengulangi ucapannya itu dua atau tiga kali. Ibn ‘Abbas juga
berkata, “Di antara Adnan dan Isma’il ada tiga puluh ayah yang tak
diketahui [namanya, red.].”
Ka’b al-Ahbaar radiyAllahu ‘anhu berkata, “Ketika cahaya Muhammadsall-
Allahu ‘alaihi wasallam sampai pada Abdul Muttalib, dan dia telah
mencapai usia kedewasaan, dia tidur suatu hari di halaman Ka’bah; ketika
ia bangun, matanya terhitamkan dengan antimony (kohl), rambutnya
terminyaki, ia terhiasi dengan jubah yang indah dan cantik. Ia terkejut,
tak mengetahui siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Ayahnya
menggapai tangannya dan segera membawanya ke tukang ramal Quraisy;
mereka menasihatinya untuk menikah, dan ia pun menikah. Bau dari misk
terbaik biasa memancar keluar dari dirinya, dengan Nur (cahaya) dari
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam berkilauan dari dahinya. Bila saja
terjadi kekeringan, kaum Quraisy biasa membawanya ke Gunung Tsabiir, dan
berdoa kepada Allah melalui dirinya memohon Allah untuk menurunkan
hujan. Allah akan menjawab doa mereka dan menurunkan hujan kerana
barakah dari Nur Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam.” Ketika Abrahah,
raja Yaman datang untuk menghancurkan rumah suci (Ka’bah) dan khabar
tentang ini sampai ke kaum Quraisy, Abd al-Muttalib berkata pada mereka,
“Ia tak akan sampai ke Rumah ini, kerana Rumah ini di bawah perlindungan
Tuhannya.”
Dalam perjalanannya ke Makkah, Abrahah menjarah unta-unta dan domba kaum
Quraisy, di antaranya empat ratus unta betina milik Abd Al-Muttalib. Ia
dan banyak dari kaum Quraisy pergi ke Gunung Tsabiir. Setelah mendaki
gunung tersebut, cahaya dari NabiyAllah sall-Allahu ‘alaihi wasallam
muncul dalam bentuk suatu lingkaran di dahinya seperti sebuah bulan
sabit, dan sinarnya terpantulkan ke Rumah Suci Ka’bah. Ketika ‘Abdul
Muttalib melihat hal itu, ia berkata, “Wahai, kaum Quraisy, engkau boleh
kembali sekarang, sudah aman. Demi Allah, kini cahaya ini telah
membentuk suatu lingkaran pada diriku, tak ada keraguan bahawa
kemenangan menjadi milik kita.”
Mereka kembali ke Makkah, di mana mereka bertemu seorang laki-laki yang
diutus Abrahah. Saat melihat wajah ‘Abdul Muttalib, laki-laki tersebut
tertegun, lidahnya tergagap-gagap. Ia pun pingsan, sambil melenguh
seperti lembu jantan yang tengah disembelih. Ketika ia sedar kembali, ia
pun jatuh bersujud kepada Abdul Muttalib, sambil berkata, “Aku bersaksi
bahawa engkau benar-benar Pemimpin Kaum Quraisy.”
Telah diriwayatkan pula bahawa ketika Abdul Muttalib muncul di depan
Abrahah, gajah putih yang besar dalam pasukannya melihat ke wajah Abdul
Muttalib dan jatuh berlutut seperti seekor unta, dan jatuh bersujud.
Allah membuat gajah tersebut berbicara, berkata, “Keselamatan bagi
cahaya di sulbimu, wahai Abd al-Muttalib.” Ketika pasukan Abrahah
mendekat untuk menghancurkan Ka’bah suci, gajah tadi berlutut kembali.
Mereka memukulinya kepalanya dengan hebat untuk membuatnya berdiri, yang
tak mahu ia lakukan. Tetapi, ketika mereka memutarnya menuju Yaman, ia
pun berdiri. Kemudian Allah mengirimkan untuk melawan mereka,
armada-armada burung dari lautan, setiap ekor dari mereka membawa tiga
batu: satu dalam paruhnya, dan satu dalam setiap cakar kakinya.
Batu-batu itu memiliki ukuran seperti miju-miju, dan jika satu batu
mengenai seorang prajurit, prajurit itu akan terbunuh. Pasukan Abrahah
lari tunggang langgang. Abrahah sendiri terserang suatu penyakit. Hujung
jari-hujung jarinya terlepas, satu demi satu. Tubuhnya mengeluarkan
darah dan nanah, dan akhirnya jantungnya terbelah, dan ia pun tewas.
Peristiwa inilah yang diacu oleh Allah ketika Ia berfirman pada
Nabi-Nyas all- Allahu ‘alaihi wasallam, mengatakan, “Tahukah engkau
bagaimana Tuhanmu memperlakukan Pasukan Gajah…” (QS Al-Fiil:1-5).
Peristiwa ini adalah suatu tanda akan martabat dari junjungan kita,
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, dan suatu tanda akan kenabiannya,
dan kedudukannya. Peristiwa ini juga menunjukkan kehormatan yang
dikurniakan pada masyarakatnya, dan bagaimana mereka dilindungi, yang
membuat kaum Arab menyerah pada mereka, dan percaya pada kemuliaan dan
keunggulan mereka, kerana adanya perlindungan Allah atas diri mereka dan
pembelaan-Nya pada mereka melawan plot dari Abrahah yang seakan-akan tak
dapat dikalahkan
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIX/1436H/2015.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak
Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Abu Daud, Bab fil Qadar dan Imam at-Tirmidzi, Bab
wa min Sûratil Baqarah
[2] Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan Tafsir Ibnu Katsir ,
Surat al-Baqarah/2:30
[3] Lihat Tafsir
Ibnu Katsir
[4] Tafsir Ibnu Katsir
[5] Tafsir Ibnu Katsir.
[6] Para Ulama berbeda pendapat tentang jenis buah yang
dilarang untuk di makan itu. Sebagian mereka menyebutkan buah anggur dan ada
yang berpendapat buah zaitun dan ada yang mengatakan gandum. Lihat al-Bidâyah
wan Nihâyah dan tafsir Ibnu Katsir
[7] lihat Tafsir Sûratil Baqarah, Syaikh Muhammad bin
Shalih al-Utsaimin, hlm. 129
Read more
https://almanhaj.or.id/5919-kisah-penciptaan-nabi-adam-alaihissallam.html











No comments:
Post a Comment