27 March 2020

Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam



Mengungkap Penciptaan Nabi Adam Berdasarkan Alquran

https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 19 614 2093795 mengungkap-penciptaan-nabi-adam-berdasarkan-alquran-Ki49ZbNrf5.jpgAllah menciptakan alam semesta dan Nabi Adam (Foto: Video Block)
Banyak dari kita mungkin menganggap kalau Nabi Adam tercipta dari tanah. Tapi, tak sedikit juga menjelaskan kalau Nabi pertama itu diciptakan Allah SWT dari sari pati tanah atau tanah liat.
Ketidaksamaan pernyataan tersebut mungkin membuat Anda bertanya-tanya, sejatinya Nabi Adam terbuat dari apa? Bagaimana kemudian perbedaan pendapat ini bisa muncul dan apa jawaban Alquran yang paling tepat?
 Alquran menceritakan penciptaan Nabi Adam
Menjawab ketidakpastian yang kerap membingungkan terkait penciptaan Nabi Adam, dalam buku 'Sains dalam Alquran: Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah' karya Dr Nadiah Thayyarah, diterangkan dengan jelas bagaimana Nabi Adam diciptakan.
Nabi Adam terbuat dari semua bahan itu. Tetapi, bagaimana bisa? Sebenarnya, itu hanyalah tahapan dalam proses penciptaan Adam. Apa yang diterangkan di dalam Alquran secara tidak langsung menjelaskan prosesi penciptaan Adam yang bertahap.
Diterangkan lebih lanjut, tahap pertama penciptaan Adam adalah dari tanah. Hal ini diisyaratkan dalam hadis Nabi, “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari satu genggam yang diambil-Nya dari seluruh tanah bumi. Kemudian anak keturunan Adam terlahir hingga bilangannya sejumlah tanah bumi, ada yang berwarna putih, merah, hitam, dan antara dua warna itu; ada yang buruk, baik, senang, sedih, dan di antara dua keadaan itu." (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud).
Oleh karenanya, sifat-sifat manusia itu bermacam-macam berdasarkan sifat-sifat tanah. Dan keturunan Adam terlahir serupa dengan ragam dan jenis tanah.
Di antara mereka ada yang memiliki kepribadian yang lembut seperti tanah yang subur, ada pula yang memiliki kepribadian yang sulit dan keras, seperti lahan kering yang tak dapat menumbuhkan tanaman dan tidak mengandung air.
Sementara itu, ada yang memiliki kepribadian sombong dan keras kepala. Sifat-sifat manusia itu bermacam-macam sesuai sifat tanah yang menjadi bahan penciptaan Adam.
Ada pula yang putih, hitam, dan merah- warnanya beragam seperti warna-warna tanah. Tabiat manusia pun mencerminkan contoh dari sifat-sifat tanah karena Allah mengambil satu genggam tanah yang diambil dari seluruh macam tanah untuk menciptakan Adam.
Oleh sebab itu, Nabi Adam diberi nama Adam karena ia berasal dari kulit bumi (adîm), dan kulit bumi berarti tanah.
Dinamakan Adam supaya Anda selalu ingat dari apa Anda berasal sehingga Anda harus tunduk dan merendahkan diri kepada kekuasaan dan keagungan Sang Khalik. Sebab, Anda tahu apa arti Adam dan dari apa ia tercipta.
Detail penciptaan Nabi Adam
Awal penciptaan Adam adalah dari tanah. Kemudian tanah itu dibasahi dengan air. Setelah dibasahi, ia menjadi sari pati tanah (lihat tahapan fase penciptaan). Allah berfirman,
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari sari pati tanah." (Shad: 71).
Kemudian sari pati tanah tadi dibasahi lagi. Dan saat dibasahi, ia menjadi tanah yang liat. Semakin banyak air ditambahkan ke dalamnya, ia akan semakin kuat dan lengket. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 11).
Makna tanah liat ialah tanah yang satu sama lain saling merekat dan bersatu. Tanah liat ini dibentuk Allah dengan kedua tangan-Nya yang mulia sehingga berbentuk manusia. Siapa yang membentuknya? Yang membentuknya adalah Allah langsung.
Allah berfirman, "Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?" (Shad: 75).
Tadinya kalian adalah tanah, lalu tanah itu dibasahi sehingga menjadi sari pati tanah. Dan sari pati tanah itu dibasahi sehingga menggumpal dan menjadi tanah liat. Kemudian tanah liat ini dibentuk Allah sehingga menjadi tanah kering.
Tanah kering ini dibentuk dan terlalu sering dibasahi, maka ia menjadi hitam pekat. Kemudian tanah kering yang dibasahi tadi dibiarkan hingga mengering lagi sehingga menjadi seperti tembikar.
Allah membuat lubang di bagian mulutnya sehingga terlihat seperti tembikar. Sampai saat itu, Allah belum meniupkan ruh ke dalamnya.
Di dalam atsar (riwayat) disebutkan bahwa Allah membiarkannya selama empat puluh hari berupa tembikar yang berbentuk manusia, persis seperti patung.
Mengilhami penciptaan Nabi Adam
Jika Anda mengetahui hal ini dan hidup dengan itu, apakah Anda tahu betapa sederhana dan lemahnya Anda, dan betapa hebat dan maha kuasa Allah itu?
Allah berfirman: "Ketika Aku telah menyempurnakan ciptaan-Nya, dan telah mencurahkan ke dalamnya roh-Ku, maka kamu akan tunduk kepadanya." (Al-Hijr: 29).
Kemudian di tanah kering buatan manusia, Allah meniupkan satu embusan sehingga dia berubah menjadi manusia hidup yang bisa mendengar, berpikir, melihat, dan mengerti. Manusia dengan kepala, usus, hati dan tangan bergerak.
Semuanya itu dilakukan dengan apa? Dengan satu embusan Allah. Tadinya berupa tembikar, kini telah berubah menjadi manusia yang bisa mendengar dan melihat. Kemudian Tuhan menyuruh para malaikat-Nya untuk sujud kepada-Nya.
Berapa banyak ayat yang berbicara tentang penciptaan manusia dan kemampuan Allah untuk itu seharusnya membuat Anda berpikir. Lihatlah apa yang dikatakan dalam ayat berikut:
"Kami telah menunjukkan kepada mereka tanda-tanda (kekuatan) dari semua wilayah di bumi dan diri mereka sendiri, sampai mereka yakin Alquran itu benar. Apakah tidak cukup bahwa Tuhanmu adalah saksi dari semua hal?" (Fushshilat: 53).
Ungkapan ayat di atas memaksa kita untuk berpikir, bagaimana Adam diciptakan? Tadinya Adam hanya sebentuk patung dari tanah kering. Dan dengan satu embusan Allah, jadilah Adam. Karena itu belajarlah untuk takut kepada Allah!
(DRM)

Kejadian Manusia Pertama (Adam) Menurut Al-Quran Dan Pentateuch (Torah)


Khairul Nizam Abdul Karim

PENDAHULUAN
Islam merupakan al-Din yang lengkap dan paling sempurna mengatasi agama-agama samawi yang lain, dan ia mendapat pengiktirafan daripada Allah secara langsung dan diturunkan melalui Kitab Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad S.A.W sebagai agama samawi yang terakhir. Manakala Pentateuch pula adalah istilah yang digunapakai terhadap kitab-kitab samawi yang diturunkan sebelum al-Qur’an. Ia merangkumi Kitab Zabur, Taurat dan juga Injil. Dalam kertas kerja ini, penulis melihat bahawa persoalan penciptaan manusia pertama merupakan suatu kajian yang amat menarik untuk diselidiki di dalam al-Qur’an dan dibandingkan dengan kandungan Pentateuch.

Ini kerana, terdapat persamaan terhadap beberapa peristiwa penting yang berlaku ketika berlangsungnya proses pencipaan manusia tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kebenaran yang terkandung di dalam Pentateuch itu sama ada ia masih asli ataupun sudah diselewengkan. Selain dari itu juga penulis cuba untuk melihat perbezaan-perbezaan maklumat yang terkandung di antara Pentateuch dan juga al-Qur’an, seterusnya bakal merungkai bagaimana atau siapakah manusia pertama yang telah “diciptakan” itu.
KEJADIAN MANUSIA PERTAMA (ADAM) MENURUT AL-QUR’AN

Pendahuluan

Di peringkat awal sebelum penciptaan manusia bermula Allah S.W.T telah berfirman kepada malaikat bahawa akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini. Sebagaimana firmanNya yang bermaksud:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.....
Surah al-Baqarah (2): 30
Merujuk kepada ayat di atas falsafah kejadian manusia iaitu sebagai khalifah merupakan satu penganugerahan sebagai ciptaan terbaik di antara ciptaanNya. Selian itu sebagai khalifah manusia juga mempunyai tanggungjawab yang tinggi untuk mentadbir alam ini.

Falsafah Penciptaan Manusia daripada Tanah

Berkenaan penciptaan manusia pertama di dalam Al-Quran terdapat di dalam beberapa surah yang kebanyakan ayat menyatakan bahawa manusia adalah dicipta daripada tanah. Sudah tentu penciptaan ini mempunyai intisari dan falsafahnya yang tesendiri.

Manusia telah dipaparkan di dalam Al-Quran sebagai ciptaan yang dihubungkan dengan tanah. Sebagaimana firman Allah:

“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sabaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu(daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya” Surah Nuh (71): 17 –18

“Dari bumi(tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” Suran Thaha (20): 55

Merujuk kepada ayat-ayat di atas ianya menunjukkan bahawa aspek spiritual mengenai asal-usul kejadian manusia daripada tanah ialah menekankan bahawa manusia akan kembali kepada tanah selepas mati. Selain itu ia juga merujuk kepada kebangkitan manusia di hari penghisaban atau hari perhitungan.

Manakala Dr. Maurice Bucaille di dalam bukunya iaitu What Is The Origin Of Man?, mengatakan bahawa perkataan khalaqa yang biasanya diberi pengertian sebagai menjadikan atau “ to create” adalah kurang besesuaian. Beliau menafsirkan perkataan yang paling sesuai ialah “ to give porpotion to the a thing, atau “to make it of a certain propotion or quantity” atau to bring into existence a thing which did not formerly exist . Beliau juga menekankan bahawa perkataan di atas adalah hampir kepada perkataan asal yang digunakan di dalam Bahasa Arab .

Kompenen dan Proses Kejadian Manusia

Terdapat banyak surah di dalam al-Quran yang menghuraikan tentang penciptaan manusia. Didapati kebanyakan ayat menerangkan bahawa kejadian manusia adalah daripada tanah ( turab ). Di antara firman Allah itu ialah :

“ ...maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu daripada tanah,....”
Surah al-Hajj (22): 5

Maka dalam huraian seterusnya penulis akan menghuraikan proses kejadian manusia ini melalui beberapa peringkat dengan merujuk kepada beberapa ayat yang bersesuaian.

Pertama:Peringkat Saripati Tanah( سلالة من طين )

Pada peringkat ini didapati bahawa Allah S.W.T melakukan beberapa penyaringan debu tanah. Firman Allah:

“ Kemudian Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati(berasal) dari tanah”Surah al-Mu’minun (23): 12

Proses ini bertujuan untuk mendapatkan saripati tanah (sulālat min ţīn) yang bersih dan amat sesuai untuk dijadikan bahan sebagai salah satu unsur daripada penciptaan manusia. Ini menunjukkan bahawa tanah yang digunakan ini telah melalui proses penyaringan dan bukan daripada tanah biasa sebagaimana yang manausia pada hari ini fikirkan. Ini amat bersesuaian dengan kemuliaan yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada manusia. Dari aspek lain dipaparkan juga adalah kebesaran Allah S.W.T dalam penciptaan makhluqnya dan Dia sebagai Khāliqnya.

Manakala Dr. Maurice Bucaille menghuraikan dengan merujuk kepada Surah al-Furqan: 54 bahawa keturunan manusia juga berasal daripada air iaitu saripati sperma atau yang dipanggil secara sciencetific sebagai spermatozoon . Oleh itu beliau melihat saripati tanah yang dikemukakan di atas hendaklah dirujuk bersama pelbagai kompenen lain yang merangkumi saripati tanah dan saripati air yang menjadi elemen terpenting dalam penciptaan manusia.

Kedua: Peringkat Tanah Melakat (طين لازب )

Pada peringkat ini dikenali sebagai peringkat tanah melekat. Sebagaimana firman Allah:
“…Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat”
Surah As-Shaffat (37): 11
Sebagaimana diketahui tanah liat pada dasarnya mempunyai sifat melekat. Al-Qurtubiyy menghuraikan bahawa pada peringkat ini keadaan tanah melakat atau menempel di antara satu sama lain. Manalaka selepas itu tanah ini akan menjadi tanah yang keras .

Pada peringkat ini Al-Qurtubiyy juga menerangkan di dalam tafsirnya bahawa manusia pertama iaitu yang dikaitkan dengan Adam dikatakan kekal sebagai satu lembaga yang berbentuk tanah liat. Selain itu tempuh ia berada dalam keadaan ini adalah selama empat puluh tahun sehingga sifat fizikalnya berubah menjadi keras dan kering .

Ketiga: Peringkat Tanah Berbau (حماء مسنون)

Peringkat ini adalah dengan merujuk kepada firman Allah yang bermaksud:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
Surah al-Hijr (15): 26

Mengikut tafsiran Dr. Maurice Bucaille حماء مسنون diertikan juga sebagai lumpur atau tanah berorganik dan tidak tertumpu kepada pengertian lain seperti lumpur yang berubah-ubah yang berwarna hitam serta mempunyai bau tersendiri . Ini adalah disebabkan proses penyebatian di anatara tanah dan air telah berlaku.

Keempat: Peringkat Tanah Keras ( الصلصال)

Perkataan ini tidak sempurna jika perumpamaannya tidak dijelaskan bersama iaitu كاالفخار yang membawa erti seperti tembikar. Maka jelas bahawa pada peringkat ini dari aspek fizikalnya manusia yang ingin diciptakan oleh Allah S.W.T berada dalam keadaan yang keras seperti sifat tembikar. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
“Dia mencipta manusia dari tanah kering seperti tembikar”
Surah Ar-Rahman (55): 14
Manakala Abū Hasan al-Tibrisī menerangkan bahawa dengan fizikal yang keras, ia dapat mengeluarkan dentingan bunyi yang gemerincing serta berulang-ulang di udara seperti suara besi yang dipukul angin . Pada peringkat ini menunjukkan bahawa masa untuk Adam menjadi lembaga manusia yang lengkap sudah tiba. Pada peringkat ini juga ianya dilihat sebagai peringkat terakhir penciptaan manusia dari aspek fizikalnya termasuk tiga peringkat yang terawal sebagaimana yang diterangkan sebelum ini.

Kelima: Peringkat Peniupan Roh

Peringkat yang kelima ini menunjukkan proses penciptaan manusia pertama(Adam) dari aspek spiritual, setelah aspek fizikalnya telah lengkap hingga ke tahap menjadi satu lembaga. Di dalam kitab Qisās al-Ambiyā’ penerangan tentang proses penciptaan manusia yang seterusnya dipaparkan dengan amat jelas. Dikatakan Allah S.W.T meniup roh ke dalam diri Adam melalui kepala dan selepas itu malaikat dengan perintah Allah telah mengajar Adam untuk memuji Allah iaitu (الحمد لله ) lalu dia menyebut. Apabila roh memasuki bahagian matanya, Adam telah dapat melihat denga jelas buah-buah yang terdapat di dalam syurga. Selepas itu apabila sampai roh ke bahagi kerongkong Adam ingin makan. Dan sebelum roh sampai kebahagian kaki, maka Adam segera ingin menjankau buah tersebut .

Di sini terdapat dua persoalan yang dapat dijelaskan. Pertama, jika merujuk kepada huraian di atas bahawa proses peniupan roh ke dalam jasad Adam berlaku di dalam syurga maka boleh dibuat kesimpulan bahawa tempat penciptaan manusia pertama(Adam) adalah berlaku di dalam syurga. Ini adalah bertepatan dengan pendapat yang menyatakan Adam dicipta di syurga Ma’wa iaitu tempat kediaman kepada orang-orang sāleh sepertimana yang dihuraikan di dalam kitab Hayāt Ādam .

Persoalan kedua adalah berkenaan dengan sikap gopoh Adam dam proses penyempurnaan penciptaannya. Ia dapat dilihat dalam sikap manusia pada hari ini yang suka melaksanakan sesuatu perkara dalam keadaan yang tergesa-gesa atau inginkan sesuatu itu dalam kadar yang segera. Sebagaimana pepatah Melayu:
“ Belum duduk sudah nak melunjur”.

Dalam hal ini Allah S.W.T telah menerangkan sikap ini di dalam al-Quran sebagaimana firmannya yang bermaksud:
“Manusia telah dijadikan(bertabiat) tergesa-gesa…” Surah Al-Anbiya’(21): 37

Maka dengan berakhir proses peniupan roh ini sempurnalah kejadian Adam iaitu sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah S.W.T. Jika dilihat dengan teliti proses penciptaan manusia pertama yang dipaparkan di dalam al-Quran amat teliti dan huraiannya adalah bersifat kronologi.


KEJADIAN MANUSIA PERTAMA (ADAM) MENURUT PENTATEUCH(TORAH)M


Pendahuluan

Kejadian manusia pertama yang dihuraikan di dalam Pentateuch adalah amat ringkas. Kebanyakan huraian terdapat di dalam Kitab Genesis iaitu di dalam chapter 1 – 2. Jika dirujuk secara teliti di dalam Kitab Genesis didapati manusia bukan cipataan Tuhan yang pertama.

Secara umum proses kejadian makhluk sebagaimana yang dihuraikan di dalam Kitab Genesis merangkumi 6 hari. Setiap hari terdapat ciptaan yang dijadikan oleh Tuhan sepertimana pada hari pertama siang mendahulu ciptaan-ciptaan yang lain. Manakala pada hari kedua Ia menciptakan air dan tumbuhan diciptakan pada hari ketiga. Selain itu matahari, bulan dan bintang turut diciptakan pada hari tersebut. Seterusnya pada hari keempat diciptakan makhluk-makhluk di daratan dan juga makhluk di lautan. Manakala pada hari kelima binatang berkepak pula dicipta sebagai makhluk di angkasa .

Maka pada hari keenam bermula penciptaan manusia sebagaimana yang diungkapkan di dalam Genesis ( 1:26):

“ The God said, “Let Us make humankind in our image, occording to our likeness and let them have dominion over the fish of the seaand over the birds of the air and over the cattle and over all the wild animals of the earth and over every creeping things that creeps upon earth”

Penulis melihat bahawa tidak terdapat banyak ayat atau ungkapan di dalam Kitab Genesis yang menghuraikan secara terperinci berkenaan proses penciptaan manusia pertama. Didapati hanya terdapat satu ayat sahaja iaitu di dalam Genesis (2 : 7). Walaubagaimanapun penulis melihat ayat tersebut dapat dibahagikan huraiannya kepada dua aspek iaitu darisegi fizikal dan spiritual. Maka dalam huraian seterusnya penulis akan menumpukan perbincangan kepada dua aspek tersebut.

Kejadian manusia dari aspek fizikal

Kitab Suci Bibble iaitu di dalam Genesis telah menerangkan bahawa manusia pertama yang dicipatakan oleh Tuhan adalah daripada debu tanah. Sebagaimana yang diungkapkan di dalam Genesis ( 2:7 ):
“ then the LORD God formed man from the dust of the ground...”

Dengan jelas pada pandangan penulis fakta kejadian manusia daripada tanah ini harus dipegang oleh penganut Kristian. Walaubagaimanapun terdapat pelbagai pandangan yang diutarakan berkenaan fakta tanah ini.

Di dalam Evolution and Theology terdapat ahli agama yang menafsirkan penciptaan manusia daripada tanah itu harus difahami dalam bentuk metafora semata-mata dan bukan dalam bentuk tanah yang sebenar. Ini adalah kerana dari segi pandangan kasar tidak mungkin tanah akan dapat membentuk sehingga menjadi manusia yang lengkap seperti pembentukan Adam.

Selain itu mereka juga berpendapat bahawa jika ia berlaku, maka akan wujud proses-proses pembentukan tanah sehingga lengkap menjadi seorang manusia. Tetapi pada hakikatnya mereka tidak dapat menghuraikan pandangan tersebut dan bagaimanakah proses-proses pembentukan itu berlaku. Pada pandangan mereka, dalam hal ini seharusnya kepatuhan untuk menerima sebarang huraian daripada Kitab Suci iaitu Bibile harus diutamakan .

Penulis juga menemui bahawa ada terdapat huraian lain berkenaan persoalan tanah atau dust sebagaimana yang diungkapkan oleh Bibile. Di antaranya sebagaimana huraian di dalam Creation Revealed karangan Fredk A. Filby, perkataan tanah atau dust adalah dirujuk kepada particles atau butir-butir . Selain itu ia juga telah rujuk kepada unsur atom . Pada pandangan penulis huraian ini adalah mengambil kira aspek atom di mana dari segi fizikalnya terdiri daripada unsur-unsur yang kecil sepertimana unsur yang terdapat di dalam debu tanah.

Dengan melihat kepada huraian dan sumber yang terhad dan masa yang terbatas penulis dapati bahawa tidak terdapat huraian yang kukuh atau tepat tentang penciptaan manusia pertama iaitu Adam, begitu juga mengenai proses-proses pembentukannya. Ini dikuatkan lagi dengan hujah yang dikemukakan di dalam buku I Belileve in the Creator karangan James M. Houstan yang mengatakan bahawa kejadian manusia dari segi fizikal tidak banyak dihuraikan di dalam Old Testament mahupun New Testament. Oleh itu beliau membuat kesimpulan bahawa tidak terdapat seorang pun yang menghuraikan dengan kapasiti yang tepat berkenaan asal-usul manusia sepertimana penciptaan Adam .


Kejadian manusia dari aspek spiritual

Penulis telah menegaskan sebelum ini bahawa hanya terdapat satu ayat sahaja yang menghuraikan kejadian manusia pertama iaitu Adam di dalam Genesis. Bahagian pertama ayat tersebut telah dikategorikan sebagai huraian kepada pembentukan manusia secara fizikal. Manakala sebahagian yang lain telah menghuraikan dari aspek spiritual. Sebagaimana yang diungkap di dalam Genesis ( 2: 7 ):

“...and breathed into his nostril the breath of life; and the man became a living being.”

Dengan melihat kepada ungkapan di atas penulis mendapati terdapat dua komponen utama dalam penyempurnaan penciptaan manusia, iaitu nostril mewakili badan atau body dan breath of life mewakil roh atau spirit. Penjelasan ini amat ketara sebagaimana huraian yang terdapat di dalam The Nature and Destiny of Man .

Dengan meneliti ayat di atas penulis tidak jelas dan tidak pasti sama ada ayat tersebut merupakan huraian kepada proses terakhir penciptaan manusia atau sebaliknya. Ia amat berbeza sebagaimana huraian yang dijelaskan dalam pendangan Islam terhadap peniupan roh ke dalam jasad Adam. Di sini penulis membuat kesimpulan dengan berdasarkan huraian dalam Islam sebagaimana huraian di perigkat peniupan roh bahawa, pada peringkat ini adalah peringkat terakhir kejadian penciptaan Adam.

Di dalam menafsir ayat di atas didapati bahawa terdapat unsur anthropomorphic . Di dalam The Genesis Record didapati seakan-akan Tuhan mempunyai pipi sehingga dapat mengembungkannya dan seterusnya meniupkan roh (breath of life) ke dalam jasad Adam melalui lubang hidung (nostril ). Ini menunjukkan bahawa Tuhan mempunyai jasad sepertimana manusia.

Berkenaan dengan jangkamasa penciptaan manusia pertama iaitu Adam, Genesis memaparkan bahawa proses ini hanya berlaku dalam tempoh masa yang singkat iaitu satu hari. Ini dapat dirujuk kepada Genesis ( 1:27 ). Penciptaan ini terjadi pada hari keenam sebelum Tuhan beristirehat pada hari seterusnya. Walaubagaimanapun al-Quran memaparkan bahawa proses penciptaan manusia mengambil masa yang panjang.

Persamaan dan perbezaan al-Quran dan Pentetuech dalam penciptaan manusia pertama

Dalam perbincangnan sebelum ini dengan jelas didapati bahawa terdapat hanya satu persamaaan di antara al-Quran dan Pentatuech dalam penciptaan manusia. Kedua-duanya menyatakan penciptaan manusia adalah daripada tanah. Walaubagaimanapun dalam perbincangan al-Quran unsur tanah ini mempunyai falsafahnya yang tersendiri. Di antaranya sebagaimana yang dihuraikan sebelum ini manusia dicipta oleh Allah S.W.T daripada tanah dan ia akan kembali ke tanah selepas mati. Selain itu Ibn Kathir menyatakan unsur tanah ini adalah bermaksud tetap pendirian dan ia juga adalah alternatif Allah ke atas zat tanah yang pada dasarnya tanah mempunyai manfaat dan lebih baik daripada unsur lain yang wujud seperti api dan sebagainya .

Di dalam Evolution and Theologi, St. Augustine menerangkan bahawa perbincangan penciptaan manusia adalah suatu yang tidak memberi manfaat. Ini adalah kerana mereka lebih mengutamakan persoalan dari aspek Theologi yang membicarakan persoalan manusia dengan Tuhannya .

Manakala dari segi perbezaan, penulis mendapati terdapat beberapa perbezaan yang amat ketara. Di antaranya berkenaan proses keseluruhan penciptaan manusia. Di dalam al-Quran proses penciptaan manusia ini dihurai dengan cara yang tersusun dan mempunyai peringkat-peringkat tertentu. Dengan ini ia akan lebih mudah difahami dan diyakini.

Manakala huraian yang terdapat di dalam Pentatuech agak ringkas dengan penggunaan satu ayat sahaja iaitu di dalam Genesis ( 2:7 ). Pada pandangan penulis ia sukar difahami dengan jelas bukan sahaja kepada penganut agama lain malah penganut agama Kristian sendiri termasuk ahli-ahli Theologi mereka. Selain itu ia juga akan mengundang salah interpretasi terutama dalam persoalan unsur tanah.

Perbezaan seterusnya adalah berkenaan dengan tempoh masa kejadian manusia. Walaupun penulis masih belum dapat memastikan tempoh masa sebenar penciptaan manusia di dalam al-Quran disebabkan masa yang terhad, tetapi yang pasti tempohnya mengambil masa yang panjang iaitu 40 tahun sebagaimana yang diterangkan sebelum ini.

Ini adalah berdasarkan huraian di peringkat sebelum peniupan roh ke dalam jasad Adam sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas dengan merujuk kepada kalimah “الدهر ” yang membawa maksud waktu daripada masa. Manakala di dalam Genesis dengan jelas menunjukkan penciptaan manusia ini hanya mengambil masa yang singkat iaitu selama satu hari sahaja iaitu pada hari keenam. Ini dengan merujuk kepada Genesis ( 1: 27-31 ).

Penulis melihat bahawa adalah benar jika untuk mengatakan bahawa perbincangan mengenai penciptaan manusia di dalam Bibble bukan suatu yang penting dan utama bagi masyarakat Kristian. Ini adalah kerana ia tidak termasuk salah satu doktrin agama Kristian seperti Konsep Triniti, Dosa Warisan, Salvation dan beberapa yang lain. Dalam Islam walaupun ia bukan termasuk dalam perbincangan doktrin utama sekalipun, tetapi persoalan ini bersangkut paut dengan kepercayaan dan keimanan terhadap kekuasaan Allah yang berkuasa untuk menentukan apa sahaja yang diinginiNya.

AL-QURAN: KEASLIAN KALAM TUHAN

Pendahuluan

Al-Quran telah diturunkan ke atas Nabi Muhammad S.A.W secara beransur-ansur sekitar dua puluh tahun, dan ia masih lagi belum sempurna sebagai satu kitab. Sebagaimana yang diketahui bahawa al-Quran atau wahyu diturunkan melalui pelbagai cara kepada Nabi Muhammad dan juga kepada Nabi-nabi terdahulu . Di antaranya perantaraan malaikat Jibril , mimpi yang benar dan ilham. Dalam proses penurunan ini Allah S.W.T memelihara dan menjamin supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau sesuatu unsur yang dapat mengggugat keaslian dan kemurnian kalamNya selama-lamanhya. Sebagaimana fimanNya yang bermasksud:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" Surah Al-Hijr(15):9

Dari perspektif al-Quran amat jelas bahawa tidak akan berlaku sebarang penyelewengan terhadap wahyu atau al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul. Ini adalah kerana ia dipelihara oleh Allah S.WT. Dalam huraian yang seterusnya penulis akan cuba melihat secara ringkas dari aspek peralihan ayat-ayat al-Quran melalui cara penghafalan, pengumpulan dan seterusnya proses pembukuan al-Quran. Di mana semua ini akan dapat membuktikan bahawa kalam Tuhan yang diturunkan ini tetap asli dan terpelihara kemurniannya.

Proses Penghafalan dan Peralihan secara lisan

Peralihan ayat-ayat al-Quran secara lisan adalah berasaskan konsep hifz atau penghafalan. Pada peringkat ini Nabi Muhammad S.A.W adalah orang yang pertama menghafal ayat-ayat al-Quran atau wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Maikat Jibril. Penulis merujuk penjelasan ini sebagai mana yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam beberapa ayt-ayat al-Quran .

Pada peringkat seterusnya Nabi Muhammad S.A.W menerangkan tentang penurunan wahyu dan mengarahkan para sahabat untuk menghafalnya. Pelbagai langkah dan usaha telah di ambil oleh Rasulullah S.A.W untuk memastikan setiap ayat yang dihafal oleh para sahabat terus terpelihara. Sebagaimana Hadith yang diriwayatkan oleh Uthman bin 'Affan yang bermaksud:

"Uthman bin 'Affan meriwayatkan bahawa, Rasulullah S.A.W telah bersabda: Orang yang paling tinggi kedudukannya di antara kamu(Muslim) adalah mereka yang mempelajari al-Quran dan mengajkarnya"

Di samping itu para sahabat juga menggunakan ayat-ayat tersebut sebagai ayat bacaan di dalam sembahyang. Pada peringkat ini para sahabat mendengar dengan tekun ayat yang dibaca oleh Rasulullah S.A.W berulang kali dan kemudian mereka menghafalnya. Untuk memastikan mereka tidak lupa, ia digunakan sebagai ayat bacaan di dalam sembahyang seharin. Selain membacanya di dalam sembahyang Rasulullah S.A.W juga mendengar secara terus ayat-ayat yang telah dihafal oleh para sahabat . Ini adalah untuk memastuikan ia tidak silap dan peralihan daripadaNya melaui hafalan akan terus terpelihara.

Pada hakaikatnya lebih daripada dua puluh orang daripada kalangan mereka yang terkenal di dalam Islam yang telah menghafal ayat-ayat al-Quran . Di anatara mereka ialah Abu Bakr, 'Umar , 'Uthman, 'Ali, Ibn Mas'ud, Abu Huraira, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin 'Amr bin al'As, 'Aisha, Hafsa Umm Salam dan lain lagi.

Pada peringkat ini penulis membuat kesimpulan awal bahawa proses penghafalan yang dilakukan pada zaman awal penurunan al-Quran menunjukkan kepada kita bahawa ianya amat terpelihara daripada sebarang unsur penyelewengan atau perubahan. Ini adalah kerana proses ini telah diteliti oleh Rasulullah satu persatu serta menyemak dari bacaan penghafal sendiri. Tradisi ini telah berlarutan di kalangan sahabat selepas kamatian Rasulullah, dan selepas itu di kalangan tabi'un dan ke semua generasi Muslim hingalah ke hari ini.

Proses Peralihan dalam bentuk Penulisan dan Dokumentasi

Suyuti di dalam Itqan telah menyatakan bahawa proses penulisan al-Quran telah dilakukan pada zaman Rasulullah lagi tetapi proses pembukuan atau dokumentasi masih belum berjalan dengan baik . Manakala proses seterusnya berlaku dengan sempurna ketika zaman Abu Bakr dan 'Uthman.

Secara umum maksud pengumpulan al-Quran ini ialah (i) Mengumpulkan ayat-ayat al-Quran secara lisan daripada penghafal al-Quran. (ii) Mengumpulkan ayat-ayat al-Quran dalam bentuk penulisan di atas kertas mahupun buku.

Proses yang terakhir dilihat dalam sejarah pembukuan al-Quran adalah pada zaman 'Uthman yang diketahui umum sebagai Mashaf 'Uthmani. Walaupun pada permulaannya terdapat sedikit perbezaan dari segi pembacaan terutama mashaf yang terdapat di zaman Abu Bakr. Selepas perbincangan dengan para sahabat mereka bersetuju untuk menyemek kembali Mashaf Abu Bakr yang disimpan oleh Hafsa sebagaimana yang diriwayatkan Anas bin Malik di dalam Hadith . Maka selepas itu 'Uthman meminta para sahabat seperti Zaid bin Thabit untuk menulis semula ayar-ayat ini dalam keadaan yang sempurna dan dikenali sebagai Mashaf 'Uthmani.

Oleh yang demikian adalah amat jelas proses yang dipaparkan di atas menunjukkan bahawa bagaimana ayat-ayat al-Quran it terus dipelihara dan dijaga daripada sebarang perubahan dan penyelewengan bermula daripada penurunannya sehingalah dibukukan sebagaimana yang digunakan olek seluruh umat islam di dunia. Pada hakikatnya keasl;ian dan kesahihan ayat-ayat al-Quran sebagai kalam Allah yang asal tidak dapat dipertikikan lagi.

Keagungan dan keaslian kalam Allah ini bukan sahaja diakui oleh seluruh umat Islam tetapi terdapat juga tokoh-tokoh Kristian yang mengakuinya, Sebagai contoh sebagaiman di dalam buku Keagungan Dunia Terhadap Islam, seorang tokoh Kristian iaitu Paul Cassanova mengatakan:
"bilamana saja Muhammad diminta sesuatu mukjizat sebagai bukti kebenaran ajarannya, dia mengutip ayat-ayat al-Quran dengan keistimewaan sasteranya yang tiada tandingan, sebagi bukti al-Quran itu datang dari Ilahi .

PENTATEUCH(TORAH) BUKAN KALAM TUHAN

Perspektif al-Quran

Pada bahagia ini penulis akan cuba mengemukakan hujah-hujah yang mengatakan bahawa Pentateuch atau Torah adalah bukan kalam Allah yang asal sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Musa.Ini adalah keran telah berlaku banyak penyelewengan terhadap sumber asal tesebut. Penulis hanya akan merujuk kepada sumber utama iaitu al-Quran untuk menghuraikan persoalan tersebut.

Allah telah berfirman di dalam al-Quran yang bermaksud:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya(ada) petunjuk dan cahaya(yang meneranngi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”
Surah al-Maidah (5): 44

Merujuk kepada ayat di atas al-Quran telah menerangkan bahawa Taurat ialah kitab yang diturunkan(diwahyukan) Tuhan kepada Nabi Musa. Pada dasarnya kitab ini mengandungi petunjuk, penerangan, hukum-hukum, peringatan dan juga nasihat bukan hanya untuk Nabi Musa tetapi untuk seluruh bangsa Yahudi.

Manakala dalam ayat lain Allah berfirman yang bermaksud:
“ Sesungguhnya Kami telah memberi petunjuk kepada Musa dan Kami wariskan kepada Bani Israil kitab petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai fikiran" Surah al-Ghafir(40):53-54.

Dengan merujuk kepada ayat di atas maka dengan jelas menunjukkan bahawa pada hakikatnya Taurat itu telah sempurna diwahyukan kepada Nabi Musa ebagai kalam Allah dan telah diwariskan serta diajarkan kepada seluruh Bani Israil pada ketika Beliau masih hidup di dunia.

Tetapi dalam firman Allah yang seterusnya, telah dinyatakan pula sikap Bani Israil yang telah dan berpaling daripada ajaran yang di bawa oleh Nabi Musa sehingakan mereka mengubah perkataan yang terdapat di dalam Taurat seterusnya melupakan sebahagian peringatan Allah kepada mereka. Allah berfirman yang bermaksud:

" Maka dengan sebab mereka( Bani Israil) membatalkan janjinya, Kami laknat mereka dan Kami jadikan hatinya keras; mereka mengubah-ubah perkataan dari tempatnya dan mereka melupakan sebahagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka dan engkau sentiasa melihat pengkhianatan mereka kecuali sedikit di antaranya" al-Maidah (5): 13

Terdapat juga beberapa ayat lain yang menerangkan bahawa Bani Israil ini telah melakukan banyak perubahan di dalam Kitab Taurat asal sebagaimana yang telah diturunkan kepada Nabi Musa. Di anataranya di dalam Surah al-Baqarah(2): 75, Surah an-Nisa'(4): 46 dan Surah al-Maidah(5): 41.

Selain daripada mengubah ayat-ayat yang terdapat di dalam Taurat, Bani Israil juga telah mengarang kitab dengan tangan mereka dan seterusnya mengatakan bahawa kitab itu adalah diutuskan oleh Allah. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:

" Maka celakalah bagi mereka yang menulis kitab dengan tangannya kemudian katanya: "Ini dari sisi Allah". Supaya dengan demikian mereka dapat menukarnya dengan harga yang sedikit. Maka celakalah bagi mereka dari(sebab) apa yang telah ditulis tangannya dan celakalah bagi mereka dari(sebab) apa yang diusahakannya" Surah al-Baqarah(2): 79.

Penulis juga dapat menegaskan lagi bahawa Taurat kini adalah bukan kalam Allah sebagaimana yang asal. Ini adalah kerana Bani Israil juga bukan sekadar mengubah dan mengarang tetapi telah menyembunyikan sebahagian ayat-ayat di dalam Taurat. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
" Hai ahli kitab! Sesungguhya telah datang kepadamu Rasul Kami menerangkan kepada kamu banyak di antara kitab yang telah kamui sembunyikan dan banyak yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kamu daripada Allah penerangan dan kitab yang terang"
Surah al-Maidah(5): 15.

Di dapati juga sebahagian cerdik pandai Yahudi melakukan pembohongan atau cuba memutarbelitkan lidah mereka ketika membaca Taurat supaya orang akan menganggap apa yang dibaca itu adalah dari kalam Tuhan. Tetapi pada hakikatnya mereka membaca atau mengemukakan pandangan mereka sendiri. Allah telah menerangkan hal ini di dalam al-Quran yang bermaksud:

"Dan sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutarbelitkan lidahnya dengan kitab supaya kamu kira dia darikitab sedang dia bukan dari kitab; dan kata mereka dia dari sisi Allah sedang dia bukan dari sisi Allah dan mereka berkata dusta atas Allah sedang mereka mengetahui". Surah al-'Imran(3):78)

Pada bahagian ini penulis ingin membuat kesimpulan awal bahawa dengan merujuk kepada sumber utama iaitu al-Quran di dapati terdapat penerangan yang jelas bahawa Kitab Taurat yang dipegang oleh Bangsa Yahudi kini adalah bukan kalam Allah dan hal ini bukan perkara baru tetapi telah berlaku pada zaman Nabi Musa lagi. Ianya bermula dengan pengingkaran terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Maka seterusnya berlaku beberapa penyelewengan lain seperti melakukan perubahan pada Taurat, mengarang kitab dengan tangan mereka sendiri, menyembunyikan sebahagian ayat-ayat Taurat, memutarbelitkan ketika membaca Taurat, menyamakan kebenaran dengan kabatilan dan mereka juga telah menyembunyikan kebenaran mengenai kenabian Nabi Muhammad S.A.W .

Oleh yang demikian kitab yang terdapat pada orang-orang yahudi mahupun Kristain kini yang dianggap sebagai kitab suci tidak dapat diyakini lagi keaslian dan kesuciannya sebagai kala m yang berasal dari Allah.

Perspektif Sarjana Kristian

Di dalam bukunya yang bertajuk Perbandingan Agama Kristen dan Islam, H.M. Arsyad Talib Lubis telah mengemukakan bahawa terdapat pengakuan dari pihak Sarjana Kristian yang mengatakan bahawa Taurat yang ada kini bukan Taurat yang asli sebagaimana yang mereka dakwa. Beliau telah merujuk kepada huraian dua tokoh Kristian iaitu Dr. Mr. D.C.Mulder dan Dr.H.Rosin.

Beliau menulis, Dr. Mr. D.C.Mulder mengatakan bahawa sebelum abad ke 19 ahli-ahli fikir masih belum mampu berfikir kritis terhadap Alkitab dan tentang tradisi-tradisi mengenai terjadinya Alkitab itu. Tetapi dengan tersebarnya konsep rasionalism pada abad ke 19 mereka telah mula berubah dan mula menyelidiki tradisi-tradisi Alkitab secara kritis. Maka dengan kajian yang telah dijalankan akhir

ENAM PERINGKAT PENCIPTAAN NABI ADAM A.S


Muqaddimah

Nabi Adam A.S adalah Bapa Manusia yang merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dan tinggal di syurga dalam beberapa tempoh sebelum diturunkan ke dunia selepas memakan buah dari pokok yang dilarang.

Nama Adam disebut sebanyak 25 kali didalam Al-Quran di pelbagai surah yang menjelaskan kisah-kisah bermula dari penciptaannya dari tanah sebagai penciptaan manusia pertama hinggalah kepada kisah pergaduhan anak-anaknya. Di dalam hadith Rasulullah disebut juga beberapa kisah tentang Nabi Adam A.S antaranya ketika perbualan Adam dan Musa A.S.


Proses Penciptaan Adam A.S

1. Peringkat Pertama: Dicipta dari pelbagai jenis tanah bumi (تراب)

Firman Allah SWT:
 اِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ  [59]

"Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Nabi Isa di sisi Allah adalah sama seperti (kejadian) Nabi Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah lalu berfirman kepadanya: Jadilah engkau! maka menjadilah ia." (Ali 'Imran : 59)

Maksud tanah didalam ayat tersebut dijelaskan oleh Rasulullah SAW:

(عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الأرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمْ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ)

Maksudnya: "Dari Abu Musa al-Asya'ari RA, dari Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari genggaman yang di ambil dari seluruh bumi, lalu anak keturunan Adam datang sesuai dengan kadar (tanah), di antara mereka ada yang (berkulit) merah, putih dan hitam. Dan diantaranya pula ada yang ramah, sedih, keji dan baik." [HR At-Tirmidhi. No. Hadith 2879]

Terdapat rahsia yang tersirat dari penciptaan manusia yang pelbagai warna dan sifat kerana kepelbagaian penciptaan Adam dari pelbagai jenis tanah dunia. Maka dengan itu, lahirlah manusia yang mempunyai perbezaan rupa kulit, sifat dan tabiat semula jadi, dan pelbagai lagi sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
2. Peringkat Kedua: Dicipta dari tanah liat  (طين)

Peringkat seterusnya selepas diciptakan dari pelbagai jenis tanah dunia, maka tanah tersebut di campurkan dengan air hingga menjadi tanah liat (طين) sebagaimana firman Allah:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ [71]

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." (Şād : 71)

Proses ini boleh diumpamakan seperti pelbagai jenis tepung yang di adun dalam satu bekas. Kemudian tepung tersebut ditambahkan dengan air hingga menjadikan tepung tersebut menjadi pejal. Dengan sebab penciptaan Adam AS yang melalui proses inilah, maka iblis ingkar untuk bersujud kepadanya kerana merasakan penciptaan iblis dari api yang hitam lebih baik dari penciptaan Adam AS dari tanah yang dicampur dengan air sebagaimana di firmankan oleh Allah SWT:

 [12] قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

"Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (Al-'A`rāf : 12)
Maka berlakulah pengingkaran pertama oleh makhluk ciptaan Allah SWT dan iblis dilaknat selamanya.


3. Peringkat Ketiga: Dicipta dari tanah liat yang pekat (طين لازب)

Setelah pelbagai jenis tanah tadi dicampur dengan air, dalam beberapa tempoh selepas itu terhasillah tanah liat yang pekat (طين لازب) yang menjadikan ia sebagai peringkat ketiga penciptaan Adam yang menjadikan ia kukuh.

Firman Allah SWT:
[11] فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ

"Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Aş-Şāffāt:11)

4. Peringkat Keempat: Dicipta dari tanah liat kering yang hitam (صلصال من حماء)

Seterusnya tanah liat pekat tadi berubah menjadi tanah liat kering yang berwarna hitam (صلصال من حماء) dan diberikan bentul oleh Allah SWT sebagaimana firmanNya:

[14] وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ



"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk," (Al-Ĥijr : 28) 

5. Peringkat Kelima: Diciptakan dari tanah liat yang dibakar (صلصال كالفخار)


Firman Allah SWT:
[14] خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar." (Ar-Raĥmān:14)

Didalam ayat ini, Allah SWT menggunakan perumpamaan tanah liat kering seperti tembikar bukanlah bermaksud Adam AS itu berbentuk seperti tembikar selepas proses pembentukan peringkat keempat. Akan tetapi yang dimaksudkan dengan (صلصال كالفخار) adalah tanah liat yang dibakar sebagai salah satu proses pembentukan ciptaanNya yang berasal dari tanah. 

Seperti pembuatan tembikar yang bermula dari tanah liat, kemudian dibentuk dan dikeringkan. Maka untuk menguatkan lagi struktur tembikar, kebiasaannya ia akan dibakar untuk menghasilkan tembikar yang berkualiti tinggi dan kukuh. 

Pengkhabaran Allah Kepada Malaikat

Sebelum Adam A.S diciptakan secara sempurna, Allah SWT mengkhabarkan kepada malaikat bahawa Dia akan mencipta Adam AS sebagai khalifah di bumi untuk memerintah dunia. Perbualan ini berlaku ketika peringkat kelima penciptaan Adam selepas dibentuk dari tanah liat yang dibakar melalui firman Allah SWT:
 وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْن [30]

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya."  (Al-Baqarah : 30)


6. Peringkat Keenam: Ditiupkan Ruh

 Apabila telah selesai penciptaan tersebut, maka Allah meniupkan ruh yang membangkitkan Adam sebagai manusia bernyawa dan Allah SWT memerintahkan makhluk lain untuk sujud kepadanya.

Firman Allah SWT:
[72] فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ


"Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (Şād : 72) 


Demikianlah proses dan peringkat penciptaan Adam Alaihissalam sebagaimana yang dikhabarkan oleh Allah SWT melalui kalam Al-Quran. Bagaimana pula proses penciptaan isteri Adam Alaihissalam (Hawa)? InshaAllah akan dijelaskan dalam penulisan seterusnya.


KISAH PENCIPTAAN NABI ADAM ALAIHISSALLAM

Oleh

Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc

Manusia pertama yang diciptakan Allâh Azza wa Jalla adalah Adam Alaihissallam . Beliau Alaihissallam adalah bapak dan nenek moyang semua manusia di seluruh dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

Wahai anak Adam! Janganlah kalian terfitnah oleh syaithan, sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga [Al-A’râf/7:27]

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan dalam ayat di atas bahwa Adam dan pasangannya adalah orang tua seluruh manusia.

Allâh Azza wa Jalla menciptakan Adam Alaihissallam dari segenggam tanah yang Allâh Azza wa Jalla ambil dari seluruh permukaan tanah, maka lahirlah anak Adam yang sesuai dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada yang berulit putih, merah, hitam dan perpaduan antara warna-warna tersebut. Diantara meraka ada yang bersifat lembut dan kasar serta perpaduan antara keduanya serta di antara mereka ada yang baik dan jahat.[1]

Sebelum menciptakan Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla terlebih dahulu mengabarkan kepada para Malaikat-Nya bahwa Dia akan menciptakannya manusia di muka bumi. Mendengar ini, para Malaikat bertanya kepada Allâh Azza wa Jalla tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi, padahal para Malaikat terus-menerus beribadah dengan memuji dan bertasbih kepada Allâh Azza wa Jalla tanpa henti dan tidak pernah berbuat durhaka kepada-Nya, sementara manusia ada kemungkinan akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Menjawab ini, Allâh Azza wa Jalla mengatakan kepada mereka bahwa Dia Azza wa Jalla  lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh para Malaikat.

Allâh Azza wa Jalla  berfirman :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allâh berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah/2:30]

Perkataan para Malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan darah yang akan dilakukan manusia di muka bumi berdasarkan apa yang pernah dilakukan jin di muka bumi sebelum Adam Alaihissallam diciptkan.[2]

KEMULIAN ADAM ALAIHISSALLAM

Setelah Adam Alaihissallam diciptakan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para Malaikat dan jin untuk sujud kepada Adam Alaihissallam :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al-baqarah/2:34]

Ini merupakan kemulian yang sangat agung yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada Adam Alaihissallam .

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, “Allah memerintahkan kepada para Malaikat yang saat itu sedang bersama dengan Iblis, bukan kepada semua malaikat yang ada di langit, ‘Sujudlah kepada Adam!’ Semua Malaikat itu sujud kepada Adam kecuali Iblis. Dia tidak mau sujud dan menyombongkan diri. Dia mengatakan, ‘Saya tidak akan sujud kepadanya. Saya lebih baik daripada dia. Saya lebih tua dan lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api sementara Adam, Engkau ciptakan dari tanah.’ Iblis memandang bahwa api lebih kuat daripada tanah.[3]

Inilah awal mula permusuhan Iblis terhadap Bani Adam.

Sujud yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan, bukan seperti sujud dalam shalat. Karena sujud yang seperti dalam shalat merupakan hak Allâh yang tidak boleh diberikan kepada selain Allâh Azza wa Jalla .[4]

Bentuk lain dari kemulian yang Allâh Azza wa Jalla  anugerahkan kepada nabi Adam Alaihissallam adalah dia diajari seluruh nama-nama benda. Kemulian ini yang Allâh tampakkan di hadapan para Malaikat, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla  sebutkan dalam firman-Nya:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ﴿٣١﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Allâh berfirman, “Hai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh berfirman, “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Al-Baqarah/2:31-33]

Ibnu Katsir rahimahullah memandang bahwa perintah sujud lebih dulu diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla  dibandingkan pengajaran Allâh Azza wa Jalla  kepada Adam akan nama seluruh benda. Namun penyebutannya didahulukan sebelum ayat yang memerintahkan sujud, di karenakan lebih sesuai dengan pertanyaan para Malaikat tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi.[5]

Setelah para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam Alaihissallam , Allâh mempersilahkan Adam Alaihissallam untuk tinggal dalam surga.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di surga ini! Dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al-Baqarah/2:35]

Untuk melengkapi kebahagian Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla menciptakan Hawa yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dari tulang rusuk Adam Alaihissallam yang menemaninya di dalam surga, keduanya diperbolehkan untuk menikmati semua kenikmatan di dalam surga, kecuali memakan satu jenis buah.[6]

Jenis buah yang terlarang bagi Adam Alaihissallam dan Hawa untuk mengkonsumsinya tidak diketahui jenisnya, walaupun sebagian Ulama menyebutkan beberapa jenis buah, tapi selama Allâh Azza wa Jalla tidak menjelaskannya maka memahami ayat tanpa menentukan jenisnya lebih baik.[7]

PELAJARAN PENTING

Semua ketetapan Allâh Azza wa Jalla mengandung hikmah yang terkadang tidak dijelaskan kepada para makhluk-Nya, sehingga mereka tidak mengetahuinya dengan pasti.
Adam Alaihissallam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dia juga merupakan manusia pertama yang tinggal di muka bumi.
Jin tinggal di muka bumi sebelum manusia dan mereka melakukan kerusakan di atasnya.
Kepatuhan para Malaikat terhadap perintah Allâh dan kekufuran Iblis.
Kesombongan adalah salah satu penyebab Iblis jatuh pada kekufuran dan kemudian di keluarkan dari surga dengan mendapatkan laknat sampai hari kiamat.


Kisah Penciptaan Nabi Adam


Nabi Adam A.S merupakan manusia pertama yang ciptakan Allah s.w.t dan bukaannya manusia seperti Teori Darwin yang mengatakan manusia itu berevolusi daripada beruk/mawas. Teori Darwin mengatakan hidupan dibumi ini berevolusi daripada makhluk satu sel kepada makhluk yang berakal seperti manusia. Sebagai umat Islam kita percaya bahawa Allah menciptakan manusia bukan daripada haiwan lain seperti beruk/mawas dan sebagainya. Mari kita ikuti sirah penciptaan Nabi Adam A.S




Sirah Penciptaan Nabi Adam


Assalamualaikum. suka disini untuk saya menceritakan sirah penciptaan manusia yang pertama iaitu Nabi Adam A.S berikutan dengan entri yang lepas berkenaan Iblis. Kisah pencipataan manusia ini berkaitan besar dengan kemungkaran Iblis terhadap perintah Allah s.w.t. 

Penciptaan Nabi Adam adalah satu ujian daripada Allah s.w.t kepada Azazil (Iblis) yang pada ketika itu Iblis merupakan makhluk Allah yang tinggi darjatnya. Allah mengangkat Azazil daripada kalangan Jin kerana keimanannya kepada Allah s.w.t. Allah mengangkaynya bersama-sama beribadah bersama Malaikat. 

Allah berkata kepada Malaikat " Aku hendak menciptakan suatu ciptaan yang diperbuat daripada tanah ". Dan Malaikat tahu Allah menjadikan mereka daripada cahaya dan Allah menciptakan Jin daripada Api. 

seperti dalam firman Allah s.w.t :


" Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepad para Malaikat " Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata " Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerosakan padanya dan pertumpahan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah berfirman " Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" 
(Surah Al-Baqarah : 30)


 Dan Malaikat tahu apa yang berlaku pada bangsa Jin, Jin melakukan kerosakan dimuka bumi dan pertumpahan darah. Allah menyuruh malaikat untuk turun kebumi dan berlawan dengan Jin sehingga semua Jin terpaksa berpindah di sebuah pulau. 



Allah mengambil tanah daripada tempat yang berbeza dibumi dan dicampurkan semua. Seperti kita tahu tanah ada pelbagai warna mengikut tempat seperti pasir putih kekuningan, tanah bukit yang kemerahan, tanah lumpur yang berwarnah gelap dan lain-lain jenis tanah dimuka bumi. 

Sebab itulah manusia mempunyai pelbagai warna kulit. Ada yang putih kekuningan, putih kemerahan, ada yang sedikit perang, ada yang gelap dan lain-lain. 


Selepas Allah mencampurkan kesemua jenis tanah yang diambil dibumi dengan air, Allah membentuk tubuh badan Adam dan dibiarkan seketika tanpa roh (tanpa nyawa).

Bagaimanakah tubuh badan Nabi Adam?


Setengah Ulama mentafsirkan saiz tubuh Adam setinggi 60 kaki (feet) lebih kurang 18 meter. Dan didalam Hadis mengatakan, "Adam diciptakan dengan rupa yang sebenar" bermaksud Adam diciptakan sudah mencapai tahap kematangan iaitu dewasa. Seperti kita tahu manusia akan membesar dari bayi hinggalah satu tahap kita berhenti membesar. Ya tahap kita berhenti membesarlah Adam diciptakan bermula hari pertamanya.

Adam tidak diciptakan seperti kita, kita lahir daripada rahim ibu bersaiz bayi. Allah menjadikan Adam seperti rupa sebenarnya. 



Pada ketika ciptaan Adam, Iblis tertanya-tanya apakah kelebihan ciptaan/makhluk baru yang Allah cipta ini. Sedikit demi sedikit perasaan cemburu, dengki mula muncul didalam hati Iblis. Iblis memerhati tubuh Adam. Melihat setiap inci sebuah tubuh berwarna perang (coklat) yang tidak bernyawa. Iblis ketuk-ketuk (tapping, knocking) badan Adam dan juga dia menendang tubuh Adam.

Disebabkan Iblis diciptakan daripada api yang mempunyai jisim yang kurang ketumpatan (less dense)  daripada tanah, Iblis mampu untuk menembusi tubuh Adam. Iblis melihat seluruh isi tubuh Adam. Dan dalam Hadis mengatakan Iblis melihat isi tubuh Adam ini kosong, tiada yang hebat. Iblis merasakan ciptaan baru ini iaitu manusia adalah makhluk yang lemah. 

Pada masa yang sama, setiap kali melihat tubuh Adam ketika Allah tinggalkannya tidak bernyawa, Iblis bersana takut. Seperti kita melihat tubuh manusia yang tidak bernyawa, kita pasti ada sedikit takut tetapi Iblis melawan semula rasa ketakutanya terhadap tubuh Adam. 

Iblis mengatakan "Tiada yang hebat tentang Adam, Apa kelebihan dia? dan Aku adalah makhluk kesukaan Allah s.w.t". Dengan Angkuhnya Iblis mengatakan sebegitu untuk membuat rasa gerun terhadap tubuh Adam dan membuatkanya rasa terus dengki, ego dan bangga diri.

Roh ditiupkan kedalam tubuh Adam


Allah tiupkan roh ke dalam tubuh badan Adam bermula daripada kepala. Dan dari kepala turun kebawah tubuh. maka terjadilah organ-organ manusia bermula Otak dll. Tanah bertukar menjadi daging dan darah.

Diriwayatkan bahawa, Allah memberikan semua pengetahuan kepada Adam. Bermakna Adam sudah berilmu ketika dia bernyawa. Adam tidak sperti kita yang dilahirnya tidak tahu apa-apa kemudian perlahan-lahan belajar. 

Apabila hampir separuh badannya ditiupkan roh, mata Adam pun terbuka. Dan benda pertama yang dilihatnya ialah buahan ditaman syurga. Dan dia cuba menggapainya dengan tangan tetapi tidak sampai dan dia masih tidak boleh bergerak kerana kakinya masih belum benyawa. Maknanya roh masih belum masuk ke kakinya. Dalam Al-Quran mengatakan 'manusia sentiasa terburu-buru'.

Ketika Allah s.w.t menyuruh seluruh malaikat untuk bersujud, hanya Iblis yang tidak bersujud tanda hormat kepada Adam. Dan Allah bertanya kepada Iblis 'Apa yang menyebabkan kamu, Iblis tidak sujud kepada ciptaanKu yang dicipta dengan tanganku sendiri?'. Iblis menjawap dengan egonya 'Kau menciptakanku daripada Api. Dia diciptakan daripada Tanah, Aku lebih baik daripadanya'.

Allah berikan Iblis peluang. 'Aku ciptakan Dia (Adam) dan Aku perintahkanmu untuk bersujud pada dia (Adam)'. Iblis menjawab 'Aku lebih baik daripadanya, Kau ciptakan dia daripada tanah dan aku daripada api, bagaimana aku harus sujud padanya, dia patut sujud padaku, siapa dia?'

'Dengan kekuasaanMu dan kekuatanMu, Aku akan hasut mereka kejalan kemungkaran.' kata Iblis. 'Wahai tuhanku, berikan aku nyawa/kehidupan sehingga hari kebangkitan (Hari Akhirat)' kata Iblis. Allah berfirman ' Kami akan berikan kamu masa bukan sepertinya yang kami minta, bukan sehingga hari akhirat... kamu nak mengelak kematian? Tidak... Kami akan beri masa sehingga hari kiamat.. Apabila masa tiada, kamu akan mati ketika itu'. 'Tapi tunggu..... hambaku yang taat, kau tiada kuasa untuk menghasut padanya..' Iblis berkata 'Aku akan menghasut kejalan kesesatan kecuali hambamy yang taat.'

Soalan :
Apakah yang dimaksudkan dengan Hawa diciptakan bukan daripada tulang rusuk atau seperti tulang rusuk ?

Jawapan :
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga baginda SAW, sahabat baginda SAW serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah baginda SAW.
Berkaitan soalan yang diajukan, isu hadis yang menceritakan berkaitan penciptaan waniat atau Hawa daripada tulang rusuk telah berlaku perselisihan oleh para ulama’ dalam memahami hadis ini. Sebelum kami nyatakan pendapat ulama’ berkaitan hadis ini, kami sertakan dahulu hadis-hadis yang menceritakan tentang isu ini, antaranya ialah:
hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahawa Nabi SAW bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنساءِ خَيْرًا، فإنَّ المرأةَ خُلقتْ من ضِلَعٍ ، وإنَّ أَعْوَجَ شيءٍ في الضِّلعِ أَعْلَاه ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ ، وإن تركتَه لم يزلْ أَعْوَجَ ، فاستوصُوا بالنِّساءِ خَيْرًا
Maksudnya : “Nasihatilah para wanita kerana wanita diciptakan daripada tulang rusuk yang bengkok dan yang  paling bengkok daripada tulang rusuk itu adalah pangkalnya, jika kamu cuba untuk meluruskannya maka ia akan patah, namun bilamana kamu biarkan ia maka ia akan tetap bengkok, untuk itu, nasihatilah para wanita”.
[Riwayat al-Bukhari, kitab hadis-hadis berkaitan Nabi, bab penciptaan Adam dan keturunannya, no. hadis: 3083, kitab al-Nikah, bab Wasiat Untuk Wanita, no.hadis 4787]
Berdasarkan hadis ini, yang dimaksudkan dengan wanita itu diciptakan daripada tulang rusuk ialah asal penciptaan wanita adalah bengkok dan wanita tidak menerima pembetulan sebagaimana tulang rusuk juga tidak menerima pelurusan. Maka dengan itu, setiap kali kamu ingin membetulkannya maka ia akan patah. Ini adalah perumpamaan bagi talak iaitu jika kamu ingin daripadanya untuk meluruskan apa yang tidak lurus itu maka ia akan membawa kepada perpisahan. [Lihat: Fath al-Bari, 6:368]
Selain itu, terdapat hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahawa Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ المرأةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تستقيمَ لَكَ علَى طريقَةٍ، فإِنَّ استمْتَعْتَ بِها استمتعْتَ بِها وبِها عِوَجٌ، وإِنْ ذهبْتَ تقيمُها كسرْتَهَا، وكسرُها طلاقُها
Maksudnya: “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk dan tidak dapat kamu luruskan dengan cara bagaimanapun, jika kamu hendak bersenang-senang dengannya, kamu dapat bersenang-senang dengannya dan dia tetap saja bengkok, namun jika kamu berusaha meluruskannya, nescaya dia akan patah dan mematahkannya adalah menceraikannya”. [Riwayat Muslim, kitab Menyusui, bab Wasiat untuk wanita, no. hadis: 2670]
Padanya terdapat dalil atau tanda apa yang dikatakan oleh fuqaha’ atau sebahagian daripada mereka bahawa Hawa diciptakan daripada tulang rusuk Adam sebagaimana firman Allah SWT bahawa Allah SWT menciptakan manusia daripada diri yang satu dan daripada diri itu Allah SWT ciptakan pasangannya. Selain itu, Nabi SAW menjelaskan bahawa Hawa diciptakan daripada tulang rusuk. Di dalam hadis ini, dianjurkan agar berkelakuan baik dan lembut dengan wanita serta sabar di atas sikapnya yang bengkok dan juga kelemahan akalnya. Selain itu, dikeji mentalaknya tanpa sebab dan dalam keadaan dia (suami) tidak  ingin membetulkannya (isteri). [Lihat: al-Minhaj, 10:57]

Pendapat ulama’ dalam memahami isu ini
Para ulama’ telah berselisih pendapat dalam memahami makna hadis Nabi SAW ini. Antaranya ialah:
  • Pertama: Sebahagian ahli tafsir dan ahli hadis berpendapat bahawa hakikat penciptaan wanita itu adalah daripada tulang rusuk dan ia bukanlah perumpamaan sebagaimana yang dinyatakan oleh sebahagian ulama’ yang lain. Antaranya hujah yang mengatakan bahawa wanita ini diciptakan daripada tulang rusuk ialah, berdasarkan firman Allah SWT:
خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا
Maksudnya: “Dia (Allah) menciptakan kamu daripada diri yang satu (Adam), kemudian Ia menjadikan daripadanya isterinya (Hawa)”. [Al-Zumar : 6]
Al-Imam Ibn Kathir berkata ketika menafsirkan ayat ini:
“Maksud Allah SWT telah menciptakan kamu daripada diri yang satu ialah Allah SWT menciptakan kamu dalam keadaan berbeza jenis, golongan, lidah (bahasa), warna daripada diri yang satu iaitu Adam AS. Kemudian di jadikan daripadanya Hawa sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
Maksudnya: “Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) daripada diri yang satu (Adam), dan yang dijadikan daripadanya (Adam) itu pasangannya (isterinya Hawa), dan juga yang membiakkan daripada keduanya – (zuriat keturunan) - lelaki dan perempuan yang ramai”. [al-Nisa’ : 1] [Lihat: Tafsir Ibn Kathir, 7:75]

  • Kedua: Wanita diciptakan daripada tulang rusuk adalah sekadar perumpamaan dan ia bukannya menunjukkan akan hakikat penciptaan wanita. Ini merupakan pendapat al-Hafiz Ibn Hajar dan Imam al-Qurthubi ketika mensyarahkan hadis ini. Selain kebanyakan ulama’ kontemporari juga memilih pendapat ini. Antaranya ialah Syeikh Syuaib al-Arna’outh, beliau berkata:
“Apa yang dimaksudkan di sini (iaitu hadis bahawa wanita diciptakan daripada tulang rusuk) adalah sekadar perumpamaan dan ini jelas dinyatakan di dalam riwayat yang lain iaitu “إنَّ المرأةَ كالضِّلَعِ، (Sesungguhnya wanita itu seperti tulang rusuk)”. Begitu juga, ia tidak bermaksud bahawa wanita ini diciptkan daripada tulang rusuk Adam sebagaimana yang didakwa oleh sebahagian manusia dan dakwaan tersebut tidak ada dinyatakan di dalam sunnah (hadis) yang sahih”.

Tarjih
Berdasarkan apa yang telah dinyatakan dan dibahaskan oleh para ulama’, kami lebih cenderung kepada pendapat yang kedua yang menyatakan bahawa maksud hadis tersebut adalah sekadar perumpamaan dan bukannya wanita itu diciptakan daripada tulang rusuk. Ini kerana, tidak dinafikan bahawa perwatakan wanita itu amat berbeza dengan lelaki sehingga diumpamakan mereka ini seperti tulang rusuk. Tambahan pula, di dalam hadis ini juga, Nabi SAW memulakan dengan “Nasihatilah para wanita (dengan baik)” dan di dalam hadis ini juga tidak disebut daripada tulang rusuk Adam. Selain itu, terdapat sebuah hadis yang sahih sepertimana yang dinyatakan oleh Syeikh Syuaib al-Arna’outh iaitu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahawa Nabi SAW bersabda:
إنَّ المرأةَ كالضِّلَعِ، إذا ذَهبتَ تقيمُها كسرتَها، وإِنْ ترَكتَها استمتعتَ بِها وفيها عِوَجٌ
Maksudnya: “Sesungguhnya wanita itu diciptakan seperti tulang rusuk, jika kamu ingin meluruskannya nescaya akan patah dan jika kamu membiarkannya maka kamu akan dapat bersenang-senang akan tetapi dia tetap bengkok”. [Riwayat Muslim, kitab Menyusui, bab Wasiat untuk wanita, no. hadis: 2669]
Tambahan pula, berkenaan dengan maksud diri yang satu di dalam surah al-Zumar ialah  ialah jenis yang sama iaitu manusia dan bukannya asal penciptaan wanita itu daripada lelaki, bahkan manusia itu lahir dan tercipta daripada lelaki dan wanita. [Lihat: Tafsir al-Manar, 4:272]
Penutup
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, maka kita (lelaki) dituntut untuk sentiasa berlaku baik, lemah-lembut serta sabar dengan wanita dalam apa jua keadaan. Tambahan pula, wanita ini adalah ciptaan Allah SWT yang istimewa untuk kaum lelaki yang perlu dijaga akan kehormatannya dan memandunya ke arah mentaati Allah SWT dan melaksanakan segala syariat-Nya. Selain itu juga, wanita adalah sebahagian daripada lelaki sebagaimana yang dinyatakan di dalam sebuah hadis yang diriwayatakan oleh Aisyah RA bahawa Nabi SAW bersabda:
إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ
Maksudnya: “Sesungguhnya wanita itu adalah saudara kandung bagi lelaki”. [Riwayat Abu Daud, kitab bersuci, bab Orang yang mendapati seluarnya basah ketika tidur, no. hadis: 204]

Semoga dengan pencerahan yang ringkas ini dapat memberi manfaat kepada kita agar kita sentiasa berada di dalam naungan taufiq dan hidayah Allah SWT. Akhirnya, semoga Allah SWT memberi kita kefahaman di dalam agama dan memimpin kita untuk sentiasa berada di atas jalan yang benar serta menganugerahkan kepada kita isteri-isteri yang solehah dan keluarga yang bahagia di dunia dan akhirat. Amin.

Wallahua`lam

(Image: cosmosup.com)

Nabi Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Berbeda dengan malaikat yang diciptakan dari cahaya dan jin atau sebangsanya yang diciptakan dari api, ayah dari segala manusia, dalam hal ini adalah Nabi Adam, diciptakan dari tanah.
Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah menyebutkan bahwa Nabi Adam diciptakan dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh permukaan bumi, hal inilah menurut Imam Ibnu Katsir, yang kemudian menyebabkan manusia punya karakter fisik yang berbeda-beda: Putih, kuning, merah, hitam, cokelat, sawo matang, sawo hampir matang, sawo tidak matang, dan lain-lain.
Tidak seperti “penciptaan” manusia pada umumnya melalui proses melahirkan, proses penciptaan Nabi Adam tergolong perkara gaib, hanya diketahui oleh Allah bagaimana proses sebenarnya penciptaannya. Kita hanya tahu bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah. Namun, para ulama tafsir juga menyebutkan beberapa tahapan proses penciptaan Nabi Adam.
Tanah yang Bercampur Air
Adapun tanah yang dimaksud di sini berupa debu, debu yang bercampur air sehingga menjadi tanah liat. Hal ini berdasarkan surat as-Sajadah ayat 6-9.
Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

(Image: shutterstock.com)

Lumpur Hitam yang Diberi Bentuk
Nah, setelah proses pencampuran air dan tanah selesai. Allah menjadikan tanah liat tersebut tanah liat hitam yang diberi bentuk. Tanah ini, seperti disebut Quraish Shihab, memiliki komponen yang sama dengan manusia. Secara kimiawi, jenis tanah ini terdiri dari debu dan air, dua unsur yang membentuk manusia.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr ayat 26)
Shalshal (Tanah Liat Kering)
Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah liat kering, yang apabila diketuk akan terdengar suara melenting. Tanah liat ini berasal dari lumpur hitam tanah liat yang diberi bentuknya tersebut.
Ditiupkannya Ruh
Setelah segala proses ini, Allah kemudian meniupkan ruh kepada bapak segala umat manusia, Nabi Adam. Ruh inilah yang kemudian menjalar ke seluruh tubuh, yang membuat Nabi Adam bernafas dan bergerak atas perintah Allah yang Maha Pengasih.
Nah, beginilah proses keseluruhan penciptaan Nabi Adam alaihi wasalam, yang sempat disinggung oleh ulama. Kita ini bukan berasal dari cahaya, sehingga bisa berbangga-bangga. Kita juga bukan diciptakan dari api, sehingga tabiatnya suka menyombongkan diri.
Kita diciptakan dari tanah lumpur hitam, unsur yang sering disebut hina tapi juga sekaligus mulia. Unsur yang juga akan membentuk karakter kita sebagai manusia, menjadi hina atau mulia di hadapan Allah.[]



Nabi Adam diciptakan Allah dari unsur Bumi yang diambil dari empat sisi berbeda, melewati tiga fase yang masing-masih membutuhkan waktu 40 tahun.
Banyak orang bertanya, bagaimana proses penciptaan Nabi Adam sebenarnya, tetapi kebanyakan sumber menjelaskan proses penciptaan Adam secara singkat dan hanya menjabarkan ayat-ayat yang tertulis di alkitab. 

Berikut ini saya akan menjelaskan proses penciptaan jasad Adam dimulai dari pengambilan tanah hingga peniupan ruh, berdasarkan beberapa kitab tafsir Islam.
Nabi Adam Tercipta Dari Empat Unsur Bumi  
Ketika Allah hendak menciptakan Nabi Adam as, Dia telah menurunkan wahyu ke Bumi dalam surat Al Arais 16-17, Allah berfirman:
Sesungguhnya Aku menciptakan makhluk yang berasal dari unsurmu, sebagian mereka ada yang taat kepada-Ku dan sebagian lain berbuat maksiat Kepada-Ku. 

Maka barang siapa yang taat kepada-Ku, Aku akan memasukkan mereka kedalam surga dan baranf siap yang berbuat maksiat kepada-Ku ia akan masuk neraka.

Dalam hal ini, Allah kemudian mengutus malaikat jibril untuk mengambil debu yang ada di Bumi.

Ketika malaikat Jibril mencoba untuk melakukan kewajiban yang diperintahkan Allah, Bumi pun berkata kepada Jibril:
Aku berlindung atas nama Allah yang telah mengutusmu, janganlah engkau mengambil sesuatu dariku, karena dengan mengambil debu maka engkau akan menciptakan Bumi sebagai bagian dari api neraka.

Mendengar ucapan Bumi, malaikat Jibril kembali kepada Allah dengan tangan kosong, dia tidak mengambil apapun dari Bumi dan berkata kepada Tuhan:
“Wahai Tuhanku, dia meminta perlindungan kepada-Mu, maka aku tidak mau datang kembali kepadanya.”

Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Mikail untuk segera datang ke Bumi menggantikan tugas Jibril. 

Akan tetapi Bumi juga berkata dan meminta perlindungan dari Allah agar malaikat Mikail tidak mengambil apapun darinya. Mikail kembali dengan kondisi sama seperti malaikat Jibril yang tidak membawa sesuatu apapun dari Bumi.

Pada akhirnya, Allah memerintahkan malaikat maut untuk segera menjalankan tugas yang gagal dilaksanakan Jibril dan Mikail.

Pada waktu itu Bumi juga mengatakan hal yang sama seperti yang diucapkannya pada Jibril dan Mikail. tetapi malaikat Izrail pun mempunyai alasan dan berkata: “Aku berlindung kepada Allah agar aku tidak meninggalkan perintah-Nya“.

Riwayat ini menggambarkan bahwa Izrail adalah sosok malaikat yang tegas, dimana jika telah sampai pada waktunya maka tak ada alasan untuk menghindar,…. itulah kematian. 

Izrail berhasil mengambil unsur-unsur dari keempat sisi Bumi yang berlainan, dimulai dari dataran yang paling tinggi, tanah berlumpur, tanah biasa, tanah merah, tanah hitam dan putih.

Unsur-unsur ini menggambarkan karakteristik manusia, dimana anak cucu Adam memiliki sifat yang baik dan buruk, dan paras yang tercantik dan terjelek.

Bahkan unsur-unsur tanah ini juga mempengaruhi bentuk dan warna kulit manusia berbeda-beda, menciptakan beragam suku, bahasa dan budaya.

Setelah mengambil unsur-unsur Bumi, malaikat maut (Izrail) menghadap Allah dan mendapat perintah untuk mengolah unsur-unsur tersebut. 

Unsur tanah tersebut dicampur dengan air yang pahit, berasa manis dan asin, sehingga menjadi adonan tanah liat. Campuran air ini juga diyakini mempengaruhi perbedaan moral dan sifat manusia.

Dalam riwayat, malaikat meninggalkan adonan unsur tanah ini selama empat puluh tahun hingga menjadi tanah yang sangat lengket dan lentur. 

Dan setelah waktu empat puluh tahun itu, para malaikat kembali meninggalkan unsur tersebut selama empat puluh tahun lagi hingga unsur adonan tersebut membentuk tembikar. Kemudian tembikar ini dibentuk menjadi jasad manusia dan kembali ditinggalkan selama empat puluh tahun.

Dapat dibayangkan berapa tahun penciptaan Nabi Adam, diciptakan dalam tiga priode yang masing-masing waktu menghabuskan masa empat puluh tahun. Dan ingatlah, sehari waktu diakhirat sama dengan seribu tahun di Bumi. Jadi penciptaan Nabi Adam tidak secepat yang kita fikirkan.

Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Al Mu’minuun: 114

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. Al Hajj: 47

Pada awalnya, jasad Nabi Adam hanya sebuah karya yang dibentuk dari tembikar dan berada didepan pintu surga. Setiap malaikat yang melewati pintu tersebut akan melihat jasad dengan bentuk yang mengesankan dan belum pernah dilihat sebelumnya. 

Ketika iblis yang melewati pintu surga dan melihat jasad Nabi Adam, dia menyadari karena satu hal Adam diciptakan, kemudian dia memukul makhluk tersebut (jasad yang terbuat dari tembikar) dengan tanggannya, ternyata dia menyadari bahwa makhluk itu kosong. 

Iblis pun masuk kedalam tubuh makhluk tersebut dan keluar melalui duburnya. “Ini adalah makhluk yang kosong dan belum sempurna sehingga kita tidak dapat menyentuhnya.”

Imam Abdur Rohim bin Ahmad Al-Qadi ra menyebutkan, ketika Allah meniupkan ruh ke jasad Nabi Adam Allah memerintahkan kepada ruh agar pertama kali masuk dari otak. 

Disitulah ruh berputar-putar sekitar 200 tahun, kemudian ruh tersebut turun hingga kedua mata Adam sehingga dia bisa melihat jasadnya sendiri yang masih berupa tanah.

Setelah ruh sampai ditelinga, Adam mendengar suara tasbih para Malaikat. Seusai itu ruh pun turun hingga hidung sehingga dia bersin-bersin. Seusai bersin-bersin ruh turun sampai ke mulut dan lidah Nabi Adam.

Allah mengajarkan Adam membaca tahmid (Alhamdulillah) lalu Allah menjawab ‘Tuhanmu mengasihimu wahai Adam’. Setelah perjalanan ruh dari mulut kemudian turun hingga ke dada Adam. Saat itu Adam bergegas berdiri tetapi keadaan Nabi Adam belum sempurna dan tidak bisa berdiri.

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. Al Anbiyaa’: 37

Jadi dari riwayat yang diceritakan berdasarkan kitab-kitab tafsir, jasad proses penciptaan Nabi Adam diciptakan dengan sempurna dilangit, dan Dia menempatkannya didepan pintu surga.

Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Al Hijr: 26

Setelah Allah s.w.t. menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yang diciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara  Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya, mentadbir kekayaan yang tersimpan di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.
Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu, disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau kerana pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t. : "Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerosakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu: "Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, kerana Allah s.w.t.  melarang hamba-Nya beribadah kepada   sesama makhluk-Nya. "Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t. dari segumpal tanah liat, kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Iblis Ingkar.
Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain, yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya. Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih utama dan lebih agung dari Adam, kerana ia diciptakan dari unsur api, sedang Adam dari tanah dan lumpur. Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain, walaupun diperintah oleh Allah.
Tuhan bertanya kepada Iblis: "Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku? "Iblis menjawab: "Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia. Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur. "Kerana kesombongan, dan keingkarannya melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka. Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat. Allah memperkenankan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan, tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam, sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat, dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.
Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu: "Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah."
Adam Menghuni Syurga.
Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya. Ia  ditanya oleh malaikat: "Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu? "Berkatalah Adam: "Seorang perempuan. "Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya. "Siapa namanya? "tanya malaikat lagi. "Hawa",jawab Adam. "Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?" ,tanya malaikat lagi. Adam menjawab: "Untuk mendampingiku, memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."
Allah berpesan kepada Adam :"Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga, rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya, rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu. Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim. Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu, ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini."
Iblis Menggoda Adam dan Hawa.
Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh Allah dari Syurga akibat ingkar dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya. Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.
Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka. Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah kerana dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Diulang-ulangilah pujukan dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya. Sehingga pada akhirnya termakanlah pujuk rayu halus itu oleh Adam dan Hawa dan melakukan larangan Allah.
Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah melanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar. Seraya menyesal berkatalah mereka: "Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu kerana terkena pujuk rayu  Iblis. Ampunilah dosa kami kerana nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.
Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.
Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar kerana perbuatan pelanggaran perintah Allah, hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya, akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu. Berfirmanlah Allah kepada mereka: "Turunlah kamu ke bumi sebahagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disana sampai waktu yang telah ditentukan."
Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali. Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeza-beza warna kulit dan kecerdasan otaknya. Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Kisah Adam dalam Al-Quran.
Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38  [ http://www.geocities.com/hollywood/lot/6093/2baqara.html ]
Maksudnya:
[30]      Sebahagian (dari umat manusia) diberi hidayat petunjuk oleh Allah (dengan diberi taufik untuk beriman dan beramal soleh) dan sebahagian lagi (yang ingkar) berhaklah mereka ditimpa kesesatan (dengan pilihan mereka sendiri), kerana sesungguhnya mereka telah menjadikan Syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin (yang ditaati) selain Allah. Serta mereka pula menyangka, bahawa mereka berada dalam petunjuk hidayat.
[31]       Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada tiap-tiap kali kamu ke tempat ibadat (atau mengerjakan sembahyang) dan makanlah serta minumlah dan jangan pula kamu melampau; sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.
[32]      Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang (berani) mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal dari rezeki yang dikurniakanNya? Katakanlah: Semuanya itu ialah (nikmat-nikmat) untuk orang-orang yang beriman (dan juga yang tidak beriman) dalam kehidupan dunia; (nikmat-nikmat itu pula) hanya tertentu (bagi orang-orang yang beriman sahaja) pada hari kiamat. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat keterangan Kami satu persatu bagi orang-orang yang (mahu) mengetahui.
[33]      Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji, samada yang nyata atau yang tersembunyi dan perbuatan dosa dan perbuatan menceroboh dengan tidak ada alasan yang benar dan (diharamkanNya) kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah sedang Allah tidak menurunkan sebarang bukti (yang membenarkannya); dan (diharamkanNya) kamu memperkatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya.
[34]      Dan bagi tiap-tiap umat ada tempoh (yang telah ditetapkan); maka apabila datang tempohnya, tidak dapat mereka dikemudiankan walau sesaatpun dan tidak dapat pula mereka didahulukan.
[35]      Wahai anak-anak Adam! Jika datang kepada kamu Rasul-rasul dari kalangan kamu yang menceritakan kepada kamu ayat-ayat (perintah) Ku, maka sesiapa yang bertakwa dan memperbaiki amalnya, tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita.
[36]       Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat (perintah) Kami dan yang angkuh (merasa dirinya lebih) daripada mematuhinya, merekalah ahli Neraka, mereka kekal di dalamnya.
[37]      Maka tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang berdusta terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayatNya. Orang-orang itu akan mendapat bahagian mereka (di dunia) dari apa yang telah tersurat (bagi mereka), hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) yang mengambil nyawa mereka, bertanyalah malaikat itu (kepada mereka): Manakah (makhluk-makhluk dan benda-benda) yang kamu sembah selain Allah? Mereka menjawab: Semuanya itu telah hilang lenyap daripada kami dan mereka pula menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, bahawa mereka adalah orang-orang yang ingkar
[38]      Allah berfirman: Masuklah kamu ke dalam Neraka bersama-sama umat-umat yang terdahulu daripada kamu, dari jin dan manusia. Tiap-tiap satu umat yang masuk, mengutuk akan saudaranya (golongannya sendiri); hingga apabila mereka semua berhimpun di dalamnya, berkatalah golongan yang akhir mengenai golongan yang pertama di antara mereka: Wahai Tuhan kami, mereka inilah yang telah menyesatkan kami; oleh itu berilah kepada mereka azab seksa yang berlipat ganda dari (azab) Neraka. Allah berfirman: Kamu masing-masing disediakan (azab seksa) yang berlipat ganda tetapi kamu tidak mengetahui.

               
h

Kisah Penciptaan Adam: Susahnya Malaikat Izrail Meminta Tanah Dari Bumi

tanah-liat
Penciptaan Nabi Adam a.s. adalah kisah penciptaan manusia yang pertama. Peristiwa tersebut disebut dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah Muhammad saw.
Ketika Allah berfirman kepada malaikat:
https://i1.wp.com/www.dudung.net/images/quran/2/2_30.png
wa-idz qaala rabbuka lilmalaa-ikati innii jaa‘ilun fii al-ardhi khaliifatan qaaluu ataj’alu fiihaa man yufsidu fiihaa wayasfiku alddimaa-a wanahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisu laka qaala innii a’lamu maa laa ta’lamuuna
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” . (Surat Al Baqarah [2]: 30)
Ciptaan dari tanah
Allah telah memerintahkan Malaikat Jibril turun ke Bumi untuk mengambil sebagian kecil tanah sebagai bahan untuk menjadikan Adam, manusia pertama di Bumi.
Walau bagaimanapun, Bumi enggan membenarkan tanahnya diambil, malah Bumi bersumpah dengan nama Allah bahwa Bumi tidak rela untuk menyerahkannya kerena kebimbangannya, mirip seperti yang dibimbangkan oleh para malaikat. Ternyata, Bumi tak mau memberikan tanahnya, maka Jibril kembali ke hadapan Allah setelah mendengar sumpah Bumi tersebut.
Lalu Allah mengutuskan malaikat kedua, yaitu Malaikat Izrafil. Maka Izrafil pun turun ke Bumi untuk mengambil sedikit tanah guna penciptaan Adam, sebagai manusia pertama di Bumi.
Tapi ternyata Malaikat Izrafil juga kembali ke hadapan Allah, karena juga tidak diberikan oleh Bumi, ia tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa akibat sumpah demi Allah yang dibuat oleh Bumi.
Maka, Allah memerintahkan malaikat ketiga, yaitu Malaikat Izrail untuk melakukan tugas tersebut, dan Allah menugaskan Izrail mendesak Bumi agar tidak menolak walaupun Bumi bersumpah, karena tugas tersebut dijalankan atas perintah dan nama Allah.
Maka, Izrail turun ke Bumi dan mengatakan bahwa kedatangannya adalah atas perintah Allah dan memberi amanat kepada Bumi untuk tidak membantah, yang memungkinkan Bumi mendurhakai Allah.
Menurut Ibnu Abbas, tanah bumi dan syurga, digunakan untuk dijadikan bahan mencipta Adam. Berikut adalah tanah-tanah yang sebagian wilayahnya disebut sebagai bagian dari negara atau wilayah Bumi pada masa kini. Tanah tersebut adalah:
  • Tanah Baitulmuqaddis (Palestina) – kepala sebagai tempat kemuliaan untuk diletakkan otak dan akal.
  • Tanah Bukit Tursina (Mesir) – telinga sebagai tempat mendengar dan menerima nasihat.
  • Tanah Iraq – dahi sebagai tempat sujud kepada Allah.
  • Tanah Aden (Yaman) – muka sebagai tempat berhias dan kecantikan.
  • Tanah telaga Al-Kautsar – mata sebagai tempat menarik perhatian.
  • Tanah Al-Kautsar – gigi sebagai tempat memanis-manis.
  • Tanah Kaabah (Makkah) – tangan kanan sebagai tempat mencari nafkah dan bekerjasama.
  • Tanah Paris (Perancis) – tangan kiri sebagai anggota untuk melakukan istinjak.
  • Tanah Khurasan (Iran) – perut sebagai tempat berlapar.
  • Tanah Babilon (Iraq) – kelamin sebagai organ seks dan tempat bernafsu serta godaan syaitan.
  • Tanah Tursina (Mesir) – tulang sebagai peneguh manusia.
  • Tanah India – kaki sebagai anggota tubuh untuk berdiri dan berjalan.
  • Tanah Firdaus (Syurga) – hati sebagai tempat keyakinan, keimanan, dan kemahuan.
  • Tanah Taif (Arab Saudi) – lidah sebagai tempat untuk mengucapkan syahadah, syukur dan do’a.
Sesungguhnya tanah yang akan dijadikan “tubuh Adam” adalah tanah pilihan. Maka sebelum dijadikan patung, tanah itu dicampurkan dengan rempah-rempah dan wangi-wangian dari sifat Nur sifat Allah, dan diresmikan dengan air hujan “Barul Uluhiyah”.
Penyempurnaan
Tubuh Adam mempunyai sembilan rongga atau liang. Tujuh liang di kepala dan dua dibawah badan yaitu dua mata, dua telinga, dua hidung, satu mulut, satu dubur dan satu uretra.
Lima panca indera dilengkapi dengan anggota tertentu seperti mata untuk penglihatan, telinga untuk pendengaran, hidung untuk pengesanan bauan, lidah untuk perasa seperti asam, asin, manis dan pahit dan kulit untuk sentuhan bagi panas, dingin, tekanan, viskositas dan sakit.
Ketika Allah menjadikan tubuh Adam, tanah dicampurkan dengan air tawar, asin dan anyir beserta api dan angin.
Kemudian Allah resapkan Nur ke dalam tubuh Adam dengan berbagai “sifat”. Lalu tubuh Adam digenggam dengan genggaman Jabarut dan diletakkan di dalam Alam Malakut.
Tanah itu dicampurkan lagi dengan istilah wewangian dan ramuan dari Nur-Sifat Allah dan dirasmi dengan “Bahrul Uluhiyah“.
Kemudian, tubuh tersebut dibenamkan dalam “Kudral ‘Izzah” yaitu sifat “Jalan dan Jammal” lalu disempurnakan tubuh tersebut.
Waktu kejadian, manusia belum disebut, berapa lama masanya, melalui cara apa, seperti dalam al-Quran suraj Al Insaan (manusia):
76_1
hal ataa ‘alaa al-insaani hiinun mina alddahri lam yakun syay-an madzkuuraan
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (Surat Al Insaan [76]:1)
Menurut keterangan ulama, tubuh Adam diselubungi dalam tempo 120 tahun, 40 tahun di tanah yang kering, 40 tahun di tanah yang basah dan 40 tahun di tanah yang hitam dan berbau.
Dari situ, Allah ubah tubuh Adam dengan rupa kemuliaan dan tertutuplah dari rupa hakikatnya. Karena proses kejadian itu melalui peringkat yang “kotor”, tidak heran Malaikat dan Iblis memandang rendah akan kejadian manusia yang diciptakan dari tanah.
Izrail yang mengambil tanah, maka Izrail pula yang akan mencabut Rohnya
Ketika Izrail berhasil mengambil tanah dari Bumi, lalu Israil kembali mengadap Allah.
Allah berfirman: “Wahai Israil! Engkau yang Ku-tugaskan untuk mengambil tanah, dan kelak engkau pula yang Aku tugaskan untuk mencabut nyawa manusia”.
Lalu Israil berkata: ”Wahai Tuhanku! Hamba takut akan dibenci oleh seluruh anak Adam!”
Allah menjawab melalui firman-Nya: ”Tidak!, Mereka (manusia) tidak akan memushi engkau”. Aku yang mengaturnya. Lalu Aku jadikan ada sebab untuk mendatangkan kematian mereka seperti terbunuh, terbakar dan sebagainya”.
Masuknya Roh
Roh diperintah Allah untuk memasuki jasad Adam, tetapi seperti makhluk lain, roh itu enggan, malas dan segan karena jasad yang seperti batu. Dikatakan ruh berputar mengelilingi jasad Adam sambil disaksikan malaikat.
Kemudian, Allah memerintahkan Malaikat Izrail untuk memaksa roh memasuki ke dalam tubuh Adam tersebut. Ia memasukkannya ke dalam tubuh dan roh secara perlahan-lahan masuk hingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun.
Setelah meresapi ke kepala Adam, maka berfungsilah otak dan tersusunlah urat saraf dengan sempurna. Lalu, terbukalah mata dan  melihat tubuhnya yang masih keras dan juga melihat malaikat di sekelilingnya.
Telinga mulai berfungsi dan didengarnya kalimah tasbih para malaikat. Apabila roh tiba ke hidung, lalu ia bersin dan mulutnya juga terbuka. Allah mengajarkan kalimah “Alhamdulillah” yang merupakan kalimah pertama yang diucapkan Adam, dan Allah sendiri yang membalasnya.
Kemudian, roh tiba ke dadanya, lalu Adam berkeinginan untuk bangun padahal tubuhnya yang bawah masih keras membatu. Ketika itu ditunjukkan sifat manusia yang terburu-buru.
17_11
wayad’u al-insaanu bialsysyarri du’aa-ahu bialkhayri wakaana al-insaanu ‘ajuulaan
“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. (Al-Israa’ [17]:11)
Ketika roh sampai di perut, maka organ dalam dan perut tersusun sempurna dan saat itu Adam mula merasakan lapar. Akhirnya, roh meresap ke seluruh tubuh Adam, tangan dan kaki dan berfungsilah dengan sempurna segala darah, daging, tulang, urat saraf dan kulit. Urat-urat berkulit dengan sempurna, yang mana kulit itu kian lama kian cantik dan halus.
Menurut riwayat, kulit Adam sangat baik ketika itu, jika berbanding kulit manusia pada masa kini. Kerena Adam telah diturunkan ke dunia, terjadilah perubahan pada warna kulitnya.
Sebagai peringatan, yang masih tertinggal warnanya hanyalah pada kuku manusia. Oleh itu, meskipun orang kulitnya hitam, tetapi warna kukunya adalah sama, ialah putih kemerah-merahan.
Dengan itu, sempurnalah sudah kejadian manusia pertama, dan Adam digelar sebagai “Abul Basyar” yaitu Bapak Manusia. Walau bagaimanapun, hanya Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelaran “Abul Ruh” atau “Abul Arwah” iaitu Bapak segala Roh.
Wajahnya Nabi Adam a.s. cukup cantik rupawan, semua malaikat berasa kagum melihat Adam yang begitu menawan. Kemudian Adam diarak oleh malaikat-malaikat selama 100 tahun lalu diperkenalkan kepada seluruh penghuni jagat raya, dari langit pertama hingga ke langit ketujuh, sebelum dibawa kembali ke syurga tempat awalnya Adam diciptakan.
Kajian Sains
Kajian sains telah menunjukkan bahawa unsur kimia pada tubuh manusia terdiri daripada unsur yang terdapat pada tanah.
Nisbah unsur yang terdapat di dalam badan juga memberikan kesesuaian dalam sifat dan fungsi anggota setiap bahagian manusian. Antaranya unsur yang didapati adalah:
Karbon, Oksigen, Hidrogen, Fosforus, Sulfur, Nitrogen, Kalsium, Kalium, Natrium, Klorat, Magnesium, Ferrum, Manganese, Cuprum, Iodin, Klorin, Kobalt, Zink, Silikon, Alumunium, Molibdenum, Boron, Vanadium, Selenium dan Kromium.
Begitulah proses kejadian tubuh Adam manusia pertama di Bumi. Setelah kejadian Adam sempurna sebagai manusia, maka dialah merupakan makhluk manusia yang pertama. (IslamIsLogic.wordpress.com)
(sumber: Wikipedia / Himpunan Kisah-Kisah Malaikat / Himpunan Kisah Teladan terbitan Syarikat Nurulhas)
PROSES TERCIPTANYA NABI ADAM AS.


Sesuai dengan yang telah Allah swt firmankan pada Malaikat, bahwa Allah swt akan menciptakan makhluk yang akan ditempatkan di bumi. Yang tujuan awal dari terciptanya mahluk itu adalah sebagai kholifah fi-Al Ardli. Yaitu sebagai pemimpin untuk melestarikan hukum-hukum Allah swt. di bumi. Allah swt. menciptakan makhluk itu pada hari jum’at. Sebagaimana seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas ra. Makhluk itu oleh Allah swt diciptakan dari tanah, yang kemudian dicampur dengan air. Diriwayatkan bahwa TUROB (tanah kering) yang dibuat sebagai bahan dasar terbuatnya makhluk itu, diambil dari berbagai macam bentuk tanah dan berbagai macam bentuk pula sifat dan rasanya. Ada yang berwarna merah muda, kuning, cokelat, sampai yang berwarna hitam. Kesemuanya itu oleh Allah swt. dicampur dan diaduk dengan air dari berbagai macam nama air dan sifatnya. Sehingga TUROB menjadi AT-THIN (tanah basah). Setelah proses pencampuran antara tanah dan air selesai, dilanjutkan degan proses pembentukan makhluk yang diberi bermacam–macam anggota tubuh. Seperti tangan, kaki, kepala dan lain sebagainya. Sampai akhirnya pada proses yang terakhir yaitu peniupan Ruh pada tubuh makhluk itu. Sehingga akhirnya jadilah makhluk_yang awalnya berupa benda padat itu menjadi benda yang bisa bergerak, bisa bicara serta kemampuan-kemampuan lainnya. Oleh Allah swt. makhkuk itu diberi nama Adam as.
Dengan terbentuknya Nabi Adam as. dari kedua unsur itu (tanah dan air), ternyata membawa pengaruh pada kejiwaan dan kepribadian anak cucunya. Seperti perbedaan warna kulit, ada yang berkulit putih, hitam dan kulit sawo matang dan juga perbedaan budaya, akhlak, adat istiadat. Itu semua ada kaitannya dengan bahan dasar yang dipakai untuk penciptaan Nabi Adam as. Perbedaan kulit misalnya, itu disebabkan oleh terbentuknya Nabi Adam as. dari berbagai macam warna dan sifat bumi. Sedangkan perbedaan tentang budaya dan akhlak manusia, itu karena dipengaruhi oleh terciptanya Nabi Adam as. dari berbagai macam air. Ada yang dari air tawar, air asin dan yang lain.
Namun perlu diingat, bahwa perbedaan yang ada dalam diri anak cucu Nabi Adam as. itu hakikatnya sudah menjadi takdir bagi mereka. Mengenai tanah dan air itu hanya sebatas pengaruh saja, bukan dasar. Konon sewaktu Allah swt. berkehendak untuk menciptakan Nabi Adam as. Allah swt. berfirman pada bumi :
اني خالق منك خلقا من اطاعني ادخلته الجنة ومن عصاني ادخلته النار
Artinya: “Sesungguhnya Aku (Allah swt.) adalah Dzat yang akan menciptakan makhluk yang berasal dari kamu (Bumi). Barang siapa taat kepadaKu, maka akan Aku masukkan dia di syurga. Dan barang siapa durhaka kepadaKu, maka akan Aku masukkan dia ke dalam neraka”.
Kemudian bumi bertanya :
فقالت يا ربنا اتخلق مني خلقا يدخل النار ؟ فقال نعم, فبكت فنبعت العيون من بكائها فهي تجري الى يوم القيامة
Artinya: “Wahai Tuhan kami. Apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang berasal dari kami dan Engkau masukkan ke dalam neraka ? Allah swt. menjawab: Benar. Lalu bumi menangis hingga dari tangisnya itu, keluar beberapa mata air yang kemudian mata air itu akan terus mengalir hingga hari kiamat.
Ibnu Abbas ra. berkata: Allah swt. menciptakan Adam as. itu dari tanah. Kepala nabi Adam as. diambilkan dari tanah Baitul Maqdis, wajahnya dari tanah syurga, kedua telinganya dari tanah Thurisina’, dahinya dari tanah Iraq, giginya dari tanah Kautsar, tangan kanan sampai jari-jarinya dari tanah Ka’bah, tangan kiri sampai jari-jarinya dari tanah Paris, kedua kaki sampai mata kakinya dari tanah Hindia, tulangnya dari tanah perbukitan, auratnya dari tanah Babil, Punggungnya dari tanah Iraq, Perutnya dari tanah Khurasan, hatinya dari tanah Syurga Firdaus, lisannya dari tanah Thaif dan kedua mata Adam as. dari tanah telaga.
Imam Abdur Rohim bin Ahmad Al-Qadi ra. menyebutkan bahwa, Sewaktu Allah swt. akan meniupkan ruh ke jasad Nabi Adam as; Allah swt. memerintahkan kepada ruh untuk masuk pertama kali dimulai dari otak. Disana ruh berputar-putar sekitar 200 tahun lamanya. Kemudian ruh itu turun sampai di kedua mata Nabi Adam as. Sehingga Nabi Adam as. bisa melihat jasadnya sendiri yang masih berupa tanah basah. Setelah ruh sampai di telinganya, Nabi Adam as. mendengar suara tasbih para Malaikat. Sesudah itu ruh turun sampai di hidung Nabi Adam as. Sehingga ia bersin-bersin. Selesai bersin-bersin, ruh itu turun sampai ke mulut dan lidah Nabi Adam as. Oleh Allah swt; Nabi Adam as. diajari membaca tahmid yaitu membaca الحمد لله (segala puji bagi Allah swt.) lalu Allah swt. menjawab يرحمك ربك يا ادم (Tuhanmu mengasihimu wahai Adam). Dari mulut, ruh turun sampai ke dada Nabi Adam as. Pada saat itu Nabi Adam as. bergegas untuk berdiri. Lantaran keadaan Nabi Adam as. yang belum sempurna, Nabi Adam as. tidak bisa berdiri. Hal yang demikian ini persis seperti firman Allah swt.
وكان الانسان عجولا
Artinya “Dan manusia itu adalah mahluk yang tergesa-gesa”
Ada satu ka’idah yang artinya “tergesa-gesa itu merupakan perbuatan Syaitan”. Sangatlah masuk akal adanya ka’idah tersebut. Karena dengan tergesa-gesa manusia akan lupa dan tidak mau memikirkan sesuatu yang akan dilaksanakannya dengan matang. Sehingga hasilnya akan banyak merugikan pada diri mereka sendiri. Dan itu merupakan harapan Syaitan
Sewaktu ruh sampai pada lambung Nabi Adam as. Ia berhasrat untuk memakan makanan. Kemudian akhirnya ruh itu menyebar ke seluruh jasad. Sehingga Nabi Adam as. _yang asalnya berupa benda padat_ menjadi benda yang bisa bergerak.
Dalam kandungan surat Al A’rof juga disebutkan, bahwa Iblis tidak akan bisa mati sebelum adanya نفخةالاولى (tiupan terompet Malaikat Isrofil as. yang pertama kali). Ia meminta untuk terus hidup dan terus untuk menjerumuskan anak cucu Nabi Adam as. ke jalan yang sesat.
Dalam tafsiran ayat di atas itu, juga disebutkan tentang proses pembuatan Nabi Adam as. yaitu :
Pertama : Nabi Adam as. asalnya berupa تراب (tanah yang masih kering)
Kedua : Diadon dengan beberapa air menjadi طين (tanah yang basah karena tercampur air)
Ketiga : Dibiarkan, sehingga berbau tidak sedap dan menjadi hitam (حماء مسنون)
Keempat : Dicetak dengan berbentuk manusia, kemudian Nabi Adam as. dikeringkan
Kelima : Setelah kering, jasad Nabi Adam as. ditiupkanlah ruh ke dalamnya. Selesainya proses penciptaan Nabi Adam as. selama 120 tahun. Yaitu 40 tahun berupa طين, 40 tahun berupa حماء مسنون, 40 tahun berupa مصور صلصل (tanah yang dibentuk seperti manusia).
Oleh sebab itu, anak cucu Nabi Adam as. sewaktu dalam proses pembuatannya dalam rahim seorang Ibu selama 40 hari berupa نطفه (segumpal mani) 40 hari علقه(segumpal darah), 40 hari lagi berupa مضغه (segumpal daging). Baru kemudian ditiupkan ruh ke dalam daging itu sebagaimana yang
dijelaskan dalam hadis Nabi saw ;

عن عبد الرحمن عبد الله بن مسعود حدثنارسول الله وهوالصادق المصدوق ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذالك ثم يكون مضغة مثل ذالك ثم يرسل اليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤ مر باربع كلمات بكتب رزقه واجله وعمله وشقي اوسعيد
Itulah seputar sejarah terciptanya Nabi Adam as. Tentang kebenarannya, hanya Allah swt. sendiri yang tahu. Manusia hanya bisa mengambil ibroh dari kejadian-kejadian yang sudah ada.




Setelah itu dalam ayat 29 Allah swt. meneruskan firmanNya :
وعلم ادم الاسماء كلها ثم عرضهم على الملائكة فقال أنبئوني باسماء هؤلاء ان كنتم صادقين قالوا سبحانك لا علم لنا الا ما علمتنا انك انت العليم لحكيم
Artinya: “ Dan Allah swt. telah mengajarkan kepada Adam as. tentang semua nama-nama benda. Kemudian Allah swt. menanyakan nama-nama itu kepada Malaikat. Maka Allah swt. berfirman “Ceritakanlah kamu semua (Malaikat) padaKu, nama-nama benda jika kalian termasuk golongan yang benar” Malaikat menjawab “ Maha Suci Engkau, tiada ilmu untuk kami kecuali apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Mengetahui dan Bijaksana” .
Untuk membuktikan Allah SWT. itu Maha Tahu terhadap apa-apa yang tidak diketahui oleh Malaikat. Serta untuk membuktikan tentang keutamaan Nabi Adam as. Allah swt. memperlihatkan kepada Nabi Adam as. semua benda yang mempunyai nama. Dan Allah swt. memberi tahu nama-nama benda tersebut kepada Nabi Adam as. Sehingga Nabi Adam as. mampu menjawab semua yang ditanyakan oleh Allah swt. kepadanya.


Sebenarnya Allah swt. pun sudah memperlihatkan semua benda kepada Malaikat. Namun Allah swt. tidak memberi tahu nama-nama dari benda-benda itu kepada Malaikat. Sebelum itu semua Malaikat pernah berkata
“ Tuhan kami (Allah swt.) tidak akan menciptakan mahluk yang lebih mulia dari kami, karena kami diciptakan lebih dahulu. Dan kita telah menyaksikan apa-apa yang mahluk lain tidak menyaksikan”.
Kemudian Allah swt. berfirman :
واذ قلنا للملائكة اسجدوا لادم فسجدوا الا أبليس ابى واستكبر وكان من الكافرين
Artinya : “ Dan ketika Aku (Allah swt.) berkata pada Malaikat sujudlah kamu sekalian pada Adam as; maka sujudlah semua para Malaikat kecuali Iblis. Ia tidak mau sujud dan sombong, dan ia termasuk dari golongan orang-orang yang kafir”.
Perintah Allah swt. kepada Malaikat untuk sujud pada Nabi Adam as. Itu, lebih kepada ikatan antara syekh (guru) kepada muridnya. Karena dengan Nabi Adam as. menceritakan nama-nama dari benda-benda yang telah disebutkan di atas itu menyebabkan Nabi Adam as. menjadi syekh dari Malaikat dikarenakan Malaikat menjadi mengerti lantaran uraian-uraian Nabi Adam as.


Kejadian itu semua berada di luar syurga. Makna sujud di sini bukan seperti sujud pada saat sujud dalam sholat. Di sini lebih diartikan pada makna lughotnya (bahasanya). Yaitu inhina’ (membungkukkan kepala). Sujud atau inhina’ pada saat itu merupakan suatu penghormatan sebagaimana syariat-syariat Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Untuk Nabi Muhammad saw. Dan ummatnya, ada cara tersendiri dalam penghormatan yaitu dengan ucapan salam. Perlu diketahui bahwa sujudnya Malaikat terhadap Nabi Adam as. itu sebelum Nabi Adam as. berada di surga. Dan memang proses pembuatan Nabi Adam as. itu di luar syurga. Disebutkan bahwa, Yang pertama kali sujud adalah Malaikat Jibril as. kemudian Malaikat Mikail as. kemudian Malaikat Isrofil as. Kemudian Malaikat Izroil as. kemudian diikuti Malaikat moqorrobun as.
Tentang lamanya sujud yang dilakukan Malaikat itu masih diperdebatkan oleh ulama’. Ada yang mengatakan bahwa lamanya sujud itu kurang lebih 100 tahun. Ada lagi yang mengatakan bahwa sujudnya selama 500 tahun. Dan pendapat-pendapat lainnya.
Iblis pada saat itu ternyata melakukan tiga kesalahan. Yaitu :
Menentang perintah Allah swt. (memisahkan diri dari jama’ah).
Sombong dan menganggap remeh terhadap Nabi Adam as.
Iblis tidak mau hormat pada Nabi Adam as. karena Iblis berkeyakinan, bahwa semestinya dialah yang harus dihormati. Iblis membandingkan asal kejadian dirinya dengan asal kejadian Nabi Adam as. Yang mana Iblis diciptakan dari api, yang menurut Iblis adalah جسم(benda yang bisa diindera), yang لطيف (lembut), yang نوراني (bercahaya). Sedang طين adalah جسم yang كشيف (kasar), yang ظلما ئ (gelap). Bagi Iblis, sesuatu yang lembut dan bercahaya itu lebih bagus daripada yang keras dan gelap. Iblis tidak mengerti bahwa kenyataanya طين lebih banyak manfa’atnya. Karena dengan tin alam menjadi teratur. Dimana kebanyakan dari kebutuhan makhluk itu berasal dari tanah. Sehingga banyak sekali yang membutuhkannya. Begitu juga dari tanah itulah tumbuh beberapa makanan seperti buah-buahan dan biji-bijian. Dan dari tanah itu pula mengalir beberapa macam mata air yang memang semua mahluk di bumi ini sangat membutuhkan terhadap benda (air) itu. Lain halnya dengan api, karena tanpa api pun, manusia bisa hidup dan tidak jarang pula api bisa merusak dan menghanguskan berbagai benda-benda yang ada muka bumi.


Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Kisah Penciptaan Nabi Adam alaihissalam.. Tatkala Allah hendak menciptakan bentuk Nabi Adam a.s, Dia mencampur air, tanah, api dan uap dalam penciptaannya, lalu bertajalli kepada campuran tersebut dengan sifat dan zatNya, serta digenggam dengan kekuasaannya, lalu campuran itu dibawa ke alam malakut dan dicampur dengan wangi-wangian surga serta disirami dengan bahrul uluhiyah. Adapun masa penciptaan Nabi Adam as, kira-kira120 tahun yakni 40 tahun dalam tanah berlumpur, 40 tahun dalam tanah bebatuan dan 40 tahun dalam lapisan tanah yang membusuk, akan tetapi tidak diketahui kapan masa penciptaannya tersebut. Allah berfirman: “Bukankah Telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat. (QS. Al-Insaan : 1-2) Kemudian Allah sempurnakan bentuknya seperti keadaan manusia sekarang ini serta Allah rahasiakan hakikat bentuk dan kejadiannya dari para malaikat, sehingga membuat memandang dengan hina, karena kebodohan mereka tentang rahasia Allah. Maka tatkala Allah menciptakan nabi Adam, Dia berfirman kepada para malaikat, sebagaimana tertulis dalam sebuah al-Qur’an. “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (QS. Shaad:71-72) Lalu Allah berfirman kepada malaikat Jibril “Hai Jibril turunlah kamu ke dunia, ambillah beberapa jenis tanah, Aku hendak menciptakan makhluk baru yang bernama manusia”. Malaikat Jibril pun turun ke dunia untuk mengambil beberapa jenis tanah, sesampainya di dunia ia ditanya oleh tanah : “Hai Jibril, untuk apa Allah menyuruhmu mengambil tanah?” Malaikat Jibril menjawab : “Allah hendak menciptakan makhluk baru yang bernama manusia”. "Jangan! Aku tidak mau bertanggung jawab atas ciptaan ini, aku takut apabila Allah menciptakan sesuatu dariku yang aku tidak sanggup menanggungnya”. Mendengar penolakan tersebut, malaikat jibril pun naik ke langit dan melaporkan kepada Allah perihal tanah yang tidak sanggup menanggung beban karena takut akibat yang akan terjadi bila Allah menciptakan manusia. Lalu Allah memerintahkan malaikat Mikail untuk turun ke dunia. Sebagaimana halnya malaikat Jibril, permohonan kepada bumi pun di tolak, dan iapun kembali dengan tangan hampa, lalu Allah memerintahkan malaikat Isropil untuk turun ke dunia mengambil beberapa jenis tanah sebagaimana halnya malaikat Jibril dan Mikail, permohonan kepada bumi pun dibantah, dan ia pun kembali ke langit melaporkan tugasnya yang gagal. Maka Allah memerintahkan malaikat Izrail untuk turun ke dunia, sebagaimana halnya yang lain, permohonannya kepada bumi untuk minta beberapa jenis tanah ditolak. Kemudian ia berkata kepada bumi : “Hai bumi tahukah kamu sesungguhnya hal ini bukan keinginan kami, para malaikat, akan tetapi Allah lah yang telah memerintahkan kami untuk mengambil beberapa jenis tanah darimu, dan Dialah zat yang Maha mengetahui semua rahasia dibalik penciptaan seluruh makhluknya. Mendengar penjelasan malaikat Izrail, bumipun diam tubuhnya begetar hebat karena takut kepada Allah, lalu malaikat Izrail merentangkan seluruh sayapnya dari Timur ke Barat, dan diambil beberapa jenis tanah, yang berwarna merah, putih, hitam, kuning, coklat dan kelabu. Itulah yang menyebabkan anak cucu keturunan Nabi Adam berlainan warna kulitnya. Kemudian, malaikat Izrail membawa beberapa jenis tanah itu kehadapan Allah : “Ya Allah, zat yang Maha Mengetahui, inilah hambaMu yang datang membawa tugas”. Allah berfirman : “Engkau telah berhasil melaksanakan tugasmu, untuk itu Kupercayakan pula untuk mencabut ruh keturunan Nabi Adam as”. “Ya Allah, alangkah berat tugas ini, karena hamba akan mendapat cacian dan makian dari mereka”. “Tidak! Tugasmu hanya mencabut ruh, sedangkan kematian mereka ada sebabnya, diantara mereka ada yang mati karena tenggelam, ada yang mati karena terjatuh, terbunuh, tertabrak, dan sebagainya”. Walaupun sebabnya bermacam-macam, tapi hakikat kematian itu hanya satu yaitu dicabutnya ruh dari jasad mereka. Kemudian Allah memerintahkan malaikat Mikail untuk mengambil 4 jenis air dari dalam surga yaitu, air manis, air pahit, air asin, dan air amis, lalu tanah yang telah diambil oleh malaikat Izrail pun disiram dengan keempat jenis air tersebut, maka jadilah keempat jenis air itu menempati sudut-sudut dalam tubuh manusia, yaitu air liur rasanya manis, air mata rasanya asin, air hidung rasanya amis dan air telinga rasanya pahit. Allah berfirman dalam hadits qudsi : "Aku telah mencampur, tanah adam (yakni tanah yang dipilih oleh Allah sebagai bahan dasar penciptaan jasad Nabi Adam) dengan kekuasaanKu selama 4 hari." Syekh Abdul Wahab berpendapat : Sesungguhnya Allah telah menciptakan jasad Nabi Adam dengan tanah yang diambil dari 7 lapis bumi, yaitu lapisan pertama Allah ciptakan kepalanya, lapisan kedua Allah ciptakan batang lehernya, lapisan ketiga Allah ciptakan dadanya, lapisan keempat Allah ciptakan kedua tangannya, lapisan yang kelima Allah ciptakan punggung dan perutnya, lapisan keenam Allah ciptakan pinggang dan pangkal pahanya, dan lapisan yang ketujuh Allah ciptakan kakinya. Sedangkan Abdullah bin Abbas ra, berpendapat : seusungguhnya Allah telah menciptakan jasad Nabi Adam dari tanah yang berasal dari beberapa negeri. Kepalanya berasal dari tanah Makkah, dadanya dari tanah Madinah, punggung dan perutnya dari tanah Hindustan, kedua tangannya dari tanah Syam dan kedua kakinya dari tanah Maroko. Dalam riwayat lain beliaupun berpendapat, bahwa Allah menciptakan jasad Nabi Adam dari tanah yang berlainan yaitu : - Kepalanya dijadikan dari tanah di sekitar Baitul Maqdis dan ia gunakan sebagai tempat berpikir dan bicara. - Wajahnya dijadikan dari tanah surga, dan ia menjadi lambang bentuk kecantikan dan ketampanannya. - Telinganya dijadikan dari tanah Thursina, dan ia digunakan untuk mendengar nasihat-nasihat agama. - Dahinya dijadikan dari tanah Irak, dan ia dijadikan untuk sujud menyembah Allah SWT. - Tangan kanannya dijadikan dari tanah di sekitar Ka’bah maka ia diperintahkan untuk menjadi orang yang dermawan dan suka menolong. - Tangan kirinya dijadikan dari tanah Persia (Iran) maka digunakan sebagai alat untuk bersuci dari kekotoran. - Matanya dijadikan dari tanah di sekitar telaga Kautsar, maka ia digunakan untuk melihat yang baik-baik. - Perutnya dijadikan dari tanah Khurasan, maka perutnya cenderung merasa lapar dan butuh kepada makanan. - Uratnya dijadikan dari tanah Babilonia, maka ia menjadi sarana pelampiasan syahwat manusiawi. - Tulangnya dijadikan dari tanah Bukah, maka ia menjadi lambang keperkasaan dan kekuatan. - Hatinya dijadikan dari tanah surga Firdaus, maka Allah, meletakkan di dalamnya iman dan hawa nafsu. - Lidahnya dijadikan dari tanah Thoif, maka ia digunakan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Di dalam diri Nabi Adam terdapat 5 anggota badan yang paling penting dinamakan Panca Indera, yaitu mata sebagai alat melihat, hidung sebagai alat pencium, telinga sebagai alat mendengar, lidah sebagai alat merasa dan kulit sebagai alat meraba. Ruh masuk ke dalam tubuh Nabi Adam (manusia) melalui ubun-ubun dan langsung menuju otak, lalu ruh itu berputar di dalam jaringan-jaringan otak selama 200 tahun, kemudian turun ke mata, telinga, hidung, mulut dan lidah, lalu Allah mengajarkan ruh itu memuji kebesaranNya, maka ia segera mengucap اَلْحَــمْدُ ِللهِ (segala puji hanya untuk Allah yang telah menciptakan hamba). Allah menjawab dengan ucapan يرحمك يــا ادم (semoga Allah merahmatimu hai Adam). Kemudian ruh itu turun ke dada, ke perut dan sampai ke ujung kaki, setelah melihat dirinya telah sempurna, ia pun menggerakan tubuhnya hendak bangun, tapi tubuhnya masih lemah belum bertenaga, dan hal itulah yang menjadi sifat manusia, Allah berfirman : “Dan Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, kami sediakan bagi mereka azab yang pedih. Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra : 10-11) Allah pun memerintahkan malaikat Jibril untuk meniup ubun-ubun nabi Adam, maka mengalirlah darah disekujur tubuhnya, meresap ke dalam jaringan-jaringan tubuh menjadi daging, tulang, urat, kulit dan sebagainya. Perkembangan organ tubuhnya semakin hari kian tampak jelas, rambutnya menjadi panjang, kukunya bertambah sedikit demi sedikit. Menurut sebuah riwayat dijelaskan, bahwa kulit Nabi Adam as putih (bersih bercahaya) seperti putihnya pangkal kuku (kuku muda), maka tatkala beliau melanggar larangan Allah yaitu memakan buah khuldi, Allah pun mengganti kulitnya, seperti kulit kita sekarang ini (yakni kulit penduduk negeri Arab pada umumnya) dan Dia meninggalkan bekasnya pada pangkal kuku, untuk menjadi peringatan bagi manusia dari mana sebenarnya mereka berasal. Setelah sempurna kejadian fisik dan rohaninya. Allah menutupi tubuhnya dengan pakaian surga yang terbuat dari benang emas bertahtakan permata dan mutiara, lalu Allah memasukkan nur Muhammadiyah ke dalam ruhnya, sehingga membuat wajah dan tubuhnya bercahaya laksana bulan purnama. Dan nur Muhammadiyah ini berpindah-pindah dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain, atau generasi yang satu ke generasi lain, hingga sampai ke dalam ruh Abdullah bin Abdul Mutholib, yaitu ayahanda nabi Muhammad SAW dan pada akhirnya akan diterima oleh beliau sebagai pemilik nur tersebut. Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat untuk mengajak nabi Adam menyaksikan kebesaran KerajaanNya di tujuh petala langit dan bumi selama 100 tahun. Maka tak satupun dari kerajaan Allah yang disaksikannya, kecuali bertambah kagum dan yakin atas kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dalam perjalanannya mengelilingi alam semesta itu, beliau mengendarai seekor kuda putih yang terbuat dari larutan minyak kasturi, namanya Maimun, kedua sayapnya terbuat dari permata, pelananya dari Zabarjad dan tali kendalinya dari batu Yakut. Dari mulutnya selalu terucap kalimat pujian dan sanjungan atas ke Maha Kekuasaan Allah SWT. Dan malaikat Jibril memegang tali kendalinya, sedangkan di sebelah kanan kirinya terdapat malaikat Mikail dan Isrofil yang mengawal perjalanannya. Mereka berkeliling menyaksikan seluruh ciptaan Allah hingga tiba di surga Adn, seluruh penduduk surga menyambut kedatangannya dengan suka cita, mereka bertasbih memuji Allah atas kesempurnaan ciptaanNya, yaitu menciptakan makhluk baru bernama manusia. Nabi Adam pun memasuki halaman surga Adn yang bergemerlapan cahayanya, ia memberi salam kepada penduduk surga dengan ucapan اَلسَّــلاَ مُ عَلــَـيْكـُـمْ (Assalamu'alaikum) , lalu penduduk surga menjawab dengan ucapan وَعَــلَــيْكـُــمُ السَّـــلاَ مُ (Waalaikumsalam). dan ucapan inilah yang menjadi lambang pernghormatan seorang muslim bila berjumpa dengan saudaranya seagama, hingga hari kiamat. Setelah itu Nabi Adam as tinggal di dalam surga Adn, maka sebagai teman hidupnya. Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuknya yang sebelah kiri. Sebuah riwayat berpendapat, bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di dalam surga Adn, hanya setengah hari akhirat (500 tahun dunia) saja. Dan Allah memberi kebebasan kepada keduanya untuk menikmati seluruh isi surga kecuali buah dari pohon khuldi (yaitu buah anggur kering yang pada zaman modern ini diperas untuk pembuatan minuman keras). Iblis laknatullah tidak senang melihat kesenangan mereka, lalu ia menggoda Nabi Adam dan Siti Hawa untuk makan buah khuldi dengan alasan agar kehidupan mereka di dalam surga menjadi abadi. Mereka akhirnya melanggar larangan Allah untuk memakan buah khuldi tersebut, maka terlepaslah seluruh pakaian yang dikenakannya. Dan Allah pun mengusir mereka dari dalam surga hanya dengan memakai 3 helai daun, sehelai untuk badannya, sehelai untuk menutup auratnya, dan sehelai lagi untuk menutup sorbannya (kepalanya). Pada saat itu, ada 5 makhluk yang terusir dari surga karena terlibat dalam pelanggaran tersebut, yaitu Nabi Adam as, Siti Hawa, Iblis laknatullah, ular hitam dan burung merak (kedua makhluk ini terlibat, karena turut serta merayu Nabi Adam dan Siti Hawa). Syekh Ka’ab Al Ahbar berpendapat : sesungguhnya Allah menurunkan mereka ke dunia pada tempat yang berlainan, Nabi Adam diturunkan di negeri Hindustan (pulau Sailon) dan Siti Hawa di Jeddah, sedangkan Iblis diturunkan di negeri Basrah, ular di negeri Ashpihan (Iran) dan burung merak dibuang kelautan lepas. Setelah perpisahannya dengan Siti Hawa, Nabi Adam menyesali perbuatannya, ia menangis selama 300 tahun dan tidak berani mengangkat kepalanya ke atas langit karena malu kepada Allah, demikian halnya dengan Siti Hawa, keduanya merasa kehilangan. Kemudian Allah membantu mereka dengan memerintahkan angin untuk membawa suara Nabi Adam kepada Siti Hawa dan begitu pula sebaliknya, sehingga keduanya dapat berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya seolah-olah mereka sedang berdampingan. Setelah 300 tahun bertaubat menyesali perbuatannya, Allah menerima taubatnya dan memerintahkannya untuk menunaikan ibadah haji ke Ka’bah Baitullah, dan disanalah pada hari Jum’at Nabi Adam bertemu dengan Siti Hawa, yaitu di sebuah padang pasir yang amat luas dan tandus yang pada masa ini dinamakan Padang Arafah (pertemuan atau perkenalan). Mereka melepas rindu setelah ratusan tahun tidak berjumpa. Dan malaikat Jibril mengajarkan mereka, bagaimana mendapatkan keturunan, maka keduanya bersebadan pada hari Jum’at tersebut. Berkat izin dan taqdir Allah, Siti Hawa hamil dan melahirkan 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan, yang laki-laki diberi nama Abdullah sedangkan yang perempuan diberi nama Amatullah. Dan pada tahun-tahun berikutnya, Siti Hawa hamil kembali dan melahirkan pula 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan. Yang laki-laki diberi nama Abdurrahman sedangkan yang perempuan diberi nama Amaturahman. Demikianlah seterusnya, hingga beliau melahirkan anak kembar sebanyak 20 kali, yaitu 20 anak laki-laki dan 20 anak perempuan. Para ahli sejarah berselisih pendapat tentang Qabil dan Habil, apakah mereka anak yang pertama atau anak yang terakhir, sedangkan kebanyakan para ahli mengatakan bahwa Habil adalah anak laki-laki pertama Nabi Adam sedangkan Qabil adalah anak yang kedua. Sebagaimana yang lain Habil pun mempunyai saudara sekandung yang bernama Faliman (dalam riwayat lain bernama Labuda), dan Qobil mempunyai saudara sekandung perempuan, yang bernama Iqlima. Setelah mereka berusia remaja, Nabi Adam hendak menikahkan mereka, sedangkan manusia ketika itu hanya keluarga Nabi Adam saja, kemudian Allah mengutus malaikat Jibril untuk memberikan jalan keluarnya, maka sesuai dengan petunjuk Allah Habil harus menikah dengan Iqlima dan Qobil harus menikah dengan Labuda. Habil sebagai pemuda yang shaleh menerima peraturan tersebut sedangkan Qobil menolaknya, lalu ia membunuh saudaranya. Dan inilah pertumpahan darah pertama kali yang terjadi dalam sejarah umat manusia. Setelah kematian Habil, Allah menganugerahkan seorang anak laki-laki yang bernama Syits, dalam bahasa Arab artinya pemberian Allah atau karunia Allah. Wajahnya, akhlaknya, imannya dan kesabarannya sama dengan yang dimiliki oleh Habil. Syits diangkat menjadi seorang Nabi, ia mendapat tugas dari Nabi Adam untuk memerangi Qobil dan pengikutnya. Setelah genap usianya 1000 tahun (dalam riwayat yang lain usianya 930 tahun), nabi Adam berpulang ke Rahmatullah, pada hari Jum’at saat tergelincirnya matahari bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari. Beliau berpesan kepada Nabi Syits untuk melanjutkan perjuangannya dalam menegakkan dakwah Islamiyah di muka bumi. Mendengar kematian suaminya, Siti Hawa menangis tersedu-sedu, ia keluar dari mihrobnya (tempat sholat) dan menangis di sisi maqam nabi Adam selama 40 hari. Setelah itu ia jatuh sakit hingga beberapa hari kemudian menyusul nabi Adam berpulang ke Rahmatullah. Nabi Syits mengebumikan jasad ibunya di samping kiri maqam nabi Adam.  Posted by Unknown at 3:22:00 pm

Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto

Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto


Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto
*Sila click iklan di blo

Nabi Adam a.s. (آدم)
Dicatat oleh Ibnu Qelatani


Setelah Allah s.w.t. menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan, menciptakan malaikat-malaikatNya ialah sejenis makhluk halus yang diciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabiNya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi bagi memeliharanya, menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Di peringkat awal sebelum penciptaan manusia bermula Allah S.W.T telah berfirman kepada malaikat bahawa akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini. Sebagaimana firmanNya yang bermaksud:

Merujuk kepada ayat di atas falsafah kejadian manusia iaitu sebagai khalifah merupakan satu penganugerahan sebagai ciptaan terbaik di antara ciptaanNya. Selain itu sebagai khalifah manusia juga mempunyai tanggungjawab yang tinggi untuk mentadbir alam ini.

Penciptaan Adam diriwayatkan sebagai satu daripada ciptaan Allah yang paling kontroversi atau paling disebut-sebut oleh makhluk Allah yang lain. Peristiwa tersebut disebut dalam Al-Quran apabila para malaikat mempersoalkan kejadian (manusia) sebagai khalifah atau pengganti di bumi.

Kekhuatiran Para Malaikat

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya

dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan

memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang

tidak kamu ketahui."
Al-Baqarah: 30




Para malaikat ketika diberitahu oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu, disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau kerana pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disedari. Mereka berkata kepada Allah s.w.t.:

"Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerosakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman bagi menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:

"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu”. Sujud di sini sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, kerana Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."

Allah telah memerintahkan malaikat Jibril turun ke bumi untuk mengambil sebahagian tanah sebagai bahan untuk menjadikan Adam. Walau bagaimanapun, bumi enggan membenarkan tanahnya diambil malah bersumpah dengan nama Allah yang dia tidak rela untuk menyerahkannya kerana kebimbangannya seperti yang dibimbangkan oleh para malaikat.

Jibril kembali setelah mendengar sumpah tersebut lalu Allah mengutuskan pula malaikat Mikail dan kemudiannya malaikat Israfil tetapi kedua-duanya juga tidak berdaya hendak berbuat apa-apa akibat sumpah yang dibuat oleh bumi. Maka, Allah memerintahkan malaikat Izrail untuk melakukan tugas tersebut dan menggesa agar tidak berundur walaupun bumi bersumpah kerana tugas tersebut dijalankan atas perintah dan nama Tuhan.

Maka, Izrail turun ke bumi dan mengatakan yang kedatangannya adalah atas perintah Allah dan memberi amaran kepada bumi untuk tidak membantah yang memungkinkan bumi menderhaka kepada Allah. Menurut Ibnu Abbas, tanah bumi dan syurga digunakan untuk dijadikan bahan mencipta Adam.

Penciptaan Manusia Daripada Tanah

Berkenaan penciptaan manusia pertama di dalam Al-Quran terdapat di dalam beberapa surah yang kebanyakan ayat menyatakan bahawa manusia adalah dicipta daripada tanah. Sudah tentu penciptaan ini mempunyai intisari dan falsafahnya yang tersendiri.

Manusia telah dipaparkan di dalam Al-Quran sebagai ciptaan yang dihubungkan dengan tanah. Sebagaimana firman Allah:

“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya”

Nuh 71: 17 –18




“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”

Thaha 20: 55

Merujuk kepada ayat-ayat di atas ianya menunjukkan bahawa aspek spiritual mengenai asal-usul kejadian manusia daripada tanah ialah menekankan bahawa manusia akan kembali kepada tanah selepas mati. Selain itu ia juga merujuk kepada kebangkitan manusia di hari penghisaban atau hari perhitungan.

Komponen dan Proses Kejadian Manusia

Terdapat banyak surah di dalam al-Quran yang menghuraikan tentang penciptaan manusia. Di dapati kebanyakan ayat menerangkan bahawa kejadian manusia adalah daripada tanah. Maka dalam huraian seterusnya akan menghuraikan proses kejadian manusia ini melalui beberapa peringkat dengan merujuk kepada beberapa ayat yang bersesuaian. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:


“Dia mencipta manusia dari tanah kering seperti tembikar”

Ar-Rahman 55: 14




Yang dimaksudkan dengan kata ‘sal-sal’ (الصلصال) pada ayat ini ialah ‘tanah kering’ atau ‘setengah kering’ yakni ‘zat pembakar’ (oksigen).


Di ayat ini disebut juga kata ‘fakhkhar’ (كاالفخار) yang maksudnya ialah ‘zat arang’ (carbonium).




Maka jelas bahawa pada peringkat ini dari aspek fizikalnya manusia yang ingin diciptakan oleh Allah S.W.T berada dalam keadaan yang keras seperti sifat tembikar.




“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari

lumpur hitam yang diberi bentuk”

Al-Hijr 15: 28




Di ayat itu juga disebut juga ‘sal-sal’ yang telah diterangkan, sedangkan kata ‘hamaain’ (حماء) di ayat tersebut ialah ‘zat lemas’ (netrogenium).




Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

As Sajdah 32:7




Yang dimaksudkan dengan kata ‘thien’ (طين) di ayat itu ialah ‘atom zat air’ (hydrogenium).




Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa [1273] yang telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.

Ash Shaaffaat 37:11

[1273]. Maksudnya: malaikat, langit, bumi dan lain-lain.




Yang dimaksudkan dengan kata ‘lazib’ di ayat itu ialah tanah liat ‘zat besi’ (ferrum).




Sebagaimana diketahui tanah liat pada dasarnya mempunyai sifat melekat. Al-Qurtubiyy menghuraikan bahawa pada peringkat ini keadaan tanah melakat atau menempel di antara satu sama lain. Manalaka selepas itu tanah ini akan menjadi tanah yang keras. Pada peringkat ini Al-Qurtubiyy juga menerangkan di dalam tafsirnya bahawa manusia pertama iaitu yang dikaitkan dengan Adam dikatakan kekal sebagai satu lembaga yang berbentuk tanah liat. Selain itu tempuh ia berada dalam keadaan ini adalah selama empat puluh tahun sehingga sifat fizikalnya berubah menjadi keras dan kering.




Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:

"Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.

Ali 'Imran 3:59




Yang dimaksudkan dengan ‘turab’ (tanah) di ayat ini ialah ‘unsur-unsur zat a li’ yang terdapat dalam tanah (zat-zat anorganis).




Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud [796].

Al Hijr 15:29


[796]. Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.




Melalui ketujuh-tujuh ayat al-Quran tadi, Allah telah menunjukkan tentang proses kejadian Nabi Adam sehingga berbentuk manusia lalu ditiupkan kepadanya roh sehingga menjadi manusia bernyawa. Proses kejadian manusia ini melalui adunan ‘zat pembakar’ (oksigen), ‘zat arang’ (istilah sainsnya carbonium), ‘zat lemas’ (nitrogenium), ‘zat air’ (hydrogenium), ‘zat besi’ (ferrum), sodium, kalium, silicium, dan mangaan, yang disebut ‘laazib’ (zat-zat anorganis). Dalam proses persenyawaan terbentuklah zat yang dinamai protein.




Pada hakikatnya ayat-ayat tersebut menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani (visible) hingga kepada badan halusnya (invisible) sampai wujud seorang manusia.

Menurut keterangan ulama, tubuh Adam diselubungi dalam tempoh 120 tahun, 40 tahun di tanah yang kering, 40 tahun di tanah yang basah dan 40 tahun di tanah yang hitam dan berbau. Dari situ, Allah ubah tubuh Adam dengan rupa kemuliaan dan tertutuplah dari rupa hakikatnya. Kerana proses kejadian itu yang melalui peringkat yang "kotor", tidak hairan Malaikat dan Iblis memandang rendah akan kejadian manusia yang dicipta dari tanah.

Peringkat Peniupan Roh

Roh diperintah Allah untuk memasuki jasad Adam tetapi seperti makhluk lain, roh juga enggan, malas dan segan kerana jasad yang seperti batu. Dikatakan roh berlegar-legar mengelilingi jasad Adam sambil disaksikan malaikat. Kemudian, Allah memerintahkan malaikat Izrail memaksa ruh memasuki tubuh tersebut masuk ke dalam tubuh Adam. Ia memasukkannya ke dalam tubuh dan roh secara perlahan-lahan masuk hingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun. Setelah meresapi ke kepala Adam, maka berfungsilah otak dan tersusunlah urat saraf dengan sempurna. Lalu, terjadilah mata dan terus terbuka melihat tubuhnya yang masih keras dan malaikat di sekelilingnya. Telinga mulai berfungsi dan didengarnya kalimah tasbih para malaikat. Apabila roh tiba ke hidung, lalu ia bersin dan mulutnya juga terbuka. Allah mengajarkan kalimah "(الحمد لله)” yang merupakan kalimah pertama diucapkan Adam dan Allah sendiri yang membalasnya.

Kemudian, roh tiba ke dadanya lalu Adam berkeinginan untuk bangun padahal tubuhnya yang bawah masih keras membatu. Ketika itu ditunjukkan sifat manusia yang terburu-buru.

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa…”

Al-Anbiya’21: 37




Ketika roh sampai di perut, maka organ dalam dan perut tersusun sempurna dan saat itu Adam mula merasakan lapar. Akhirnya, roh meresap ke seluruh tubuh Adam, tangan dan kaki dan berfungsilah dengan sempurna segala darah daging, tulang, urat saraf dan kulit. Menurut riwayat, kulit Adam amat baik ketika itu berbanding kulit manusia di kini dan warnanya masih dapat di lihat di kuku sebagai peringatan kepada keturunan manusia.

Dengan itu, sempurnalah sudah kejadian manusia pertama dan Adam digelar sebagai "Abul Basyar" iaitu Bapa Manusia. Walau bagaimanapun, hanya Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelaran "Abul Ruh" atau "Abul Arwah" iaitu Bapa segala Roh.




Iblis Membangkang




Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

Al A'raaf 7:11




Selanjutnya, Nabi Adam membuka kedua matanya dan ia melihat para malaikat semuanya bersujud kepadanya, kecuali satu makhluk yang berdiri di sana. Nabi Adam tidak tahu siapakah makhluk yang tidak mahu bersujud itu. Ia tidak mengenal namanya. Iblis berdiri bersama para malaikat tetapi ia bukan berasal dari golongan mereka. Iblis berasal dari kelompok jin. Allah SWT menceritakan kisah penolakan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam pada beberapa surah. Allah SWT berfirman:




'Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi? 'Iblis berkata: 'Aku lebih baik daripadanya, kerana Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman: 'Maka keluarlah kamu dari syurga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.' Iblis berkata: 'Ya Tuhanku, bertangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat).' Iblis menjawab: 'Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.”

Shad 38:75-83

*yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.




Nabi Adam mengikuti peristiwa yang terjadi di depannya. Ia merasakan suasana cinta, rasa takut, dan kebingungan. Nabi Adam sangat cinta kepada Allah SWT yang telah menciptakannya dan memuliakannya dengan memerintahkan para malaikat-Nya untuk sujud kepadanya. Adam juga merasa takut saat melihat Allah SWT marah terhadap iblis dan mengusirnya dari pintu rahmat-Nya. Ia merasakan kebingungan ketika melihat makhluk ini yang membencinya, padahal ia belum mengenalnya. Makhluk itu membayangkan bahawa ia lebih baik dari Nabi Adam, padahal tidak ada bukti yang menunjukkan bahawa salah satu dari mereka lebih baik dibandingkan dengan yang lain.




Karena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.


Iblis Diusir Keluar Dari Syurga




Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat. Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan, tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam, sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat, dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat, mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh. Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:


"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala

kepandaianmu menghasut dan memfitnah."





Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda


Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi, maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta, kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:




Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"

Al Baqarah 2:31




Yang dimaksud adalah kebenaran mereka untuk menginginkan khilafah. Para malaikat memperhatikan sesuatu yang ditunjukkan oleh Allah SWT kepada mereka, namun mereka tidak mengenali nama-namanya. Mereka mengakui di hadapan Allah SWT tentang kelemahan mereka untuk menamai benda-benda tersebut atau memakai simbol-simbol untuk mengungkapkannya. Para malaikat berkata sebagai bentuk pengakuan terhadap ketidakmampuan mereka:




"Maha Suci Engkau."Al-Baqarah 2:32




Yakni, kami menyucikan-Mu dan mengagungkan-Mu.




"Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Al-Baqarah 2:32




Yakni, mereka mengembalikan semua ilmu kepada Allah SWT. Allah SWT berkata kepada Adam:




"Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini."

Al-Baqarah 2:33




Kemudian Nabi Adam memberitahu mereka setiap benda yang Allah SWT tunjukkan kepada mereka dan mereka tidak mengenali nama-namanya:


"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat itu lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.' Mereka menjawab:




'Maha Suci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.' Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama benda-benda itu, Allah berfirman: 'Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahawa sesungguhnya Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?'"

Al-Baqarah 2:31-33





Para malaikat menyedari bahawa Nabi Adam adalah makhluk yang mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui. Ini adalah hal yang sangat mulia. Dan para malaikat mengetahui, mengapa Allah memerintahkan mereka untuk bersujud kepadanya sebagaimana mereka memahami rahsia penciptaannya sebagai khalifah di muka bumi, di mana ia akan menguasainya dan memimpin di dalamnya dengan ilmu dan pengetahuan. Yaitu, pengetahuan terhadap Sang Pencipta yang kemudian dinamakan dengan Islam atau iman. Para malaikat pun mengetahui sebab-sebab kemakmuran bumi dan pengubahannya dan penguasaannya, serta semua hal yang berkenaan dengan ilmu-ilmu mated di muka bumi.


Adalah hal yang maklum bahawa kesempurnaan manusia tidak akan terwujud kecuali dengan pencapaian ilmu yang dengannya manusia dapat mengenal Sang Pencipta, dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengan alam. Jika manusia berhasil di satu sisi, namun gagal di sisi yang lain maka ia laksana burung yang terbang dengan sayap satu di mana setiap kali ia terbang sayap yang lain mencegahnya.


Nabi Adam mengetahui semua nama-nama dan terkadang ia berbicara bersama para malaikat, namun para malaikat disibukkan dengan ibadah kepada Allah SWT. Oleh kerana itu, Adam merasa kesepian. Kemudian Adam tidur dan tatkala ia bangun ia mendapati seorang perempuan yang memiliki mata yang indah, dan tampak penuh dengan kasih sayang. Kemudian terjadilah dialog di antara mereka:




Adam berkata: "Mengapa kamu berada di sini sebelum saya tidur." Perempuan itu menjawab: "Ya." Adam berkata: "Kalau begitu, kamu datang di tengah-tengah tidurku?" Ia menjawab: 'Ya." Adam bertanya: "Dari mana kamu datang?" Ia menjawab: "Aku datang dari dirimu. Allah SWT menciptakan aku darimu saat kamu tidur." Adam bertanya: "Mengapa Allah menciptakan kamu?" Ia menjawab: "Agar engkau merasa tenteram denganku." Adam berkata: "Segala puji bagi Allah. Aku memang merasakan kesepian."




Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Ar Ruum 30:21




Para malaikat bertanya kepada Adam tentang namanya. Nabi Adam menjawab: "Namanya Hawa." Mereka bertanya: "Mengapa engkau menamakannya Hawa, wahai Adam?" Adam berkata: "kerana ia diciptakan dariku saat aku dalam keadaan hidup."


Nabi Adam adalah makhluk yang suka kepada pengetahuan. Ia membagi pengetahuannya kepada Hawa, di mana ia menceritakan apa yang diketahuinya kepada pasangannya itu, sehingga Hawa mencintainya. Allah SWT berfirman:




"Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, tinggallah kamu dan isterimu di syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'"

Al-Baqarah 2:35




Iblis Mulai Beraksi




Nabi Adam dan Hawa mengerti bahawa mereka dilarang untuk memakan sesuatu dari pohon ini, namun Nabi Adam adalah manusia biasa, dan sebagai manusia ia lupa dan hatinya berbolak-balik serta tekadnya melemah. Maka iblis memanfaatkan kemanusiaan Nabi Adam dan mengumpulkan segala kedengkiannya yang disembunyikan dalam dadanya. Iblis terus berusaha membangkitkan waswas dalam diri Nabi Adam.


Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh Allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya. Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.


Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka. Ia membisikan kepada mereka bahwa larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah kerana dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Diulang-ulangilah pujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya. Sehingga pada akhirnya termakanlah pujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.




Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan

durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya

maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Taha 20: 120-122




Belum selesai Nabi Adam memakan buah tersebut sehingga ia merasakan penderitaan, kesedihan, dan rasa malu. Berubahlah keadaan di sekitarya dan berhentilah muzik indah yang memancar dari dalam dirinya. Ia mengetahui bahawa ia tak berpakaian, demikian juga isterinya. Akhirnya, ia mengetahui bahawa ia seorang lelaki dan bahawa isterinya seorang wanita. Ia dan isterinya mulai memetik daun-daun pohon untuk menutup tubuh mereka yang terbuka. Kemudian Allah SWT mengeluarkan perintah agar mereka turun dari syurga ke bumi.



QURAN SAINTIFIK : MENYINGKAP RAHSIA PENCIPTAAN NABI ADAM DAN MANUSIA


PENSYARAH : PUAN NORAINI BINTI NAWAWI


NAMA AHLI KUMPULAN:

1) MUHAMAD HAFIZUDDIN BIN MOHAMAD                                               02DEP16F1024

2)MUHAMAD AMIRUL BIN SABRI                                                               02DEP16F1022

3)MUHAMMAD NURARIFF BIN HAMIDUN                                                   02DEP16F1023

4)MUHAMMAD NAKIB BIN MOHD SUKRI                                                    02DEP16F1020



KELAS: DEP2A                                                                                    DISEMBER 2016



 ISI KANDUNGAN

1.0 PENDAHULUAN
 2.0 SEJARAH PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
3.0 PENCIPTA HAWA
4.0 PERBEZAAN ANTARA MANUSIA DAN HAIWAN
5.0 KITARAN HIDUP MANUSIA 
6.0 MENYINKAP PENCIPTAAN ADAM
7.0 KESIMPULAN 
8.0 RUJUKKAN
9.0 LAMPIRAN



1.0 PENDAHULUAN

 “Quran saintifik: Menyingkap rahsia penciptaan Nabi Adam dan manusia”. Tujuan Allah swt menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan haiwan serta tumbuhan sebagai membantu dalam pertumbuhan ekosistem ini. Ini merupakan keseimbangan yang stabil telah ditetapkan sejak dahulu kala. Manusia sebagai hamba Allah swt yang layak untuk menggalas tanggungjawab yang sangat besar di bumi ini. Allah swt telah memberi amanat kepada manusia untuk menduduki sementara di bumi pinjamannya kerana manusia merupakan golongan yang mempunyai perubahan dan berfikir terhadap sesuatu berbanding dengan malaikat. Oleh itu, diyakini bahawa malaikat percaya dan mengaku bahawa manusia mempunyai kelebihan tersendiri yang telah diberikan Allah swt.

           Manusia dijadikan sebagai insan iaitu makhluk terbaik yang diberikan dua peranan yang sangat besar untuk digalas dan menjalankan tanggungjawab tersebut dengan sebaik mungkin iaitu peranan sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini dan dalam masa yang sama sebagai hamba yang diperintahkan supaya beribadah kepadaNYA. Sebelum Allah swt menjadikan manusia (Adam a.s), terlebih dahulu Allah swt telah menciptakan alam dan seluruh cakerawala, bulan, bintang, matahari dan bumi dengan segala isinya iaitu tumbuh-tumbuhan, ikan yang hidup di laut, haiwan yang terbang di udara dan sebagainya. Allah swt telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kelebihan diri kita dari segi unsur-unsur dalam yang dikurniakan oleh Allah swt ialah akal fikiran untuk berfikir untuk menganalisis sesuatu yang baik mahupun buruk kepada diri sendiri dan hati sebagai khazanah berharga untuk menyimpan segala rahsia dan ingatan yang pernah laluinya. Di dalam al-quran ada menyebut mengenai khalifah di muka bumi ini. “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]:30).

2.0 SEJARAH PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
  
Sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an menjadi salah satu hal yang diakui oleh agama lain sebagai pengetahuan yang benar alias fakta. Berdasarkan cerita di dalam Kitab Suci milik Islam, Malaikat adalah kehidupan yang dijadikan terlebih dahulu sebelum manusia ada. Malaikat sendiri merupakan makhluk yang paling patuh dan tidak pernah melanggar sumpahnya di hadapan Allah SWT. Namun, ketika Allah menciptakan manusia yang akan menjadi khalifah atau pemimpin di bumi, malaikat melakukan protes kepada Allah. Mereka bersuara dan mempertanyakan keputusan Sang Maha Esa tersebut.
Malaikat mengerti bahwa manusia nantinya bisa membuat kerusakan di bumi, dan membuat bumi menjadi hancur. Sementara Allah sendiri berniat membuat manusia sebagai khalifah di bumi. Allah menjawab pertanyaan dan juga protes dari malaikat dengan mengatakan bahwa Allah memiliki maksud tersendiri untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Meski manusia bisa membuat bumi hancur dan rusak, namun manusia pula yang bisa membuat bumi kembali indah seperti semula.
Manusia pertama dalam Al-Qur’an
Akhirnya proses penciptaan manusia dimulai. Nabi Adam AS adalah menjadi manusia pertama yang diciptakan dari segumpal tanah kering yang dibuat oleh Allah. Setelah itu ditiupkan ruh ke dalam bentuk manusia tersebut, jadilah Nabi Adam yang hidup di surga sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Inilah tonggak dan juga awal mula terciptanya manusia dalam sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an.
Allah tidak menginginkan Nabi Adam hidup sendirian. Apalagi pada dasarnya segala sesuatu di dunia ini yang diciptakan oleh Allah selalu berpasangan. Allah kemudian menciptakan istri untuk Nabi Adam agar dapat menemani dirinya hidup di surga dan menjadi khalifah di bumi. Jika dilihat lebih dalam, Allah menciptakan 2 manusia yaitu pria dan wanita untuk saling berpasangan. Dengan kata lain hubungan pria dan wanita melalui jalan perkawinan menjadi suatu usaha guna menggabungkan tulang rusuk yang terpisah. Apalagi, Siti Hawa sendiri dibuat dari tulang rusuk Adam. Dengan proses perkawinan ini, tentu saja akan mendatangkan keturunan-keturunan yang membuat manusia berkembang biak.
Usai Siti Hawa terbentuk, datanglah sosok setan yang menggoda kedua manusia ini untuk memakan buah Quldi yang sebelumnya sudah dilarang oleh Allah untuk dimakan. Namun Nabi Adam dan Siti Hawa tidak kuasa menahan godaan setan yang akhirnya membuat keduanya mendapatkan hukuman dari Allah yaitu untuk segera turun ke bumi dan terpisahkan dengan jarak yang cukup jauh.
Manusia Ketiga Dalam Al-Qur’an
Inilah awal mula kejadian manusia ke-3 dalam sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an yang merupakan semua keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa melalui proses perkawinan. Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sendiri juga memberitahukan mengenai proses terjadinya manusia mulai dari Nabi Adam hingga terbentuknya manusia di dalam rahim seorang perempuan.
Disebutkan bahwa manusia berasal dari saripati tanah yang adalah protein dan sari makanan yang dimakan oleh manusia hingga menjadi energi. Dan semua yang kita makan berasal dari tanah. Semua saripati tanah tersebut akan dimetabolisme oleh tubuh sehingga menghasilkan sperma yang bertugas membuahi sel telur dalam sebuah pernikahan atau perkawinan yang sah. Sperma dan sel telur yang bertemu dalam sebuah hubungan, akan membentuk embrio di dalam rahim seorang perempuan. Embrio tersebut kemudian akan membentuk manusia yang sempurna.
Namun sebelumnya ada beberapa tahapan sebelum embrio berubah menjadi manusia sempurna yang terbentuk di dalam rahim.
1. Bertemunya sperma dan juga sel telur di dalam rahim yang berhasil menyatu dengan sempurna. Dan dari sperma laki-laki, akan terbentuk saraf, tulang dan jaringan tubuh. Sementara dari sel telur perempuan akan terbentuk darah dan juga daging yang akan membuat bentuk sempurna.
2. Tahap berikutnya terjadi pada hari ke 7. Sel telur yang berhasil dibuahi akan segera tertanam di dinding rahim seorang perempuan.
3. Pada minggu ke 4, pembentukan otak, saraf, telinga dan bagian tubuh yang lain termasuk sistem pernafasan bayi sudah mulai terlihat walau belum sempurna. Janin yang berada di dalam rahim sang ibu memiliki saluran darahnya sendiri. Jantung dari bayi sudah mulai berdegup. Dan mulai minggu ke 7, bayi sudah mulai bernafas sendiri.
4. Di minggu ke 5 hingga ke 7, pembentukan tulang dan juga otot sudah mulai terjadi dimana otot akan membungkus tulang. Sementara saat usia 7 minggu, Bagian perut, usus, saraf, otak hingga sistem tulang belakang sudah mulai terbentuk. Selain itu area sistem pernapasan serta kantong paru juga sudah mulai terlihat. Bagian dalam tubuh seperti hati, pankreas dan juga usus mulai terbentuk sempurna. Bagian kaki dan tangan serta panca indera lain juga mulai terlihat.
5. Di minggu ke 8, embrio sudah berubah menjadi janin. Semua tulang janin sudah terbentuk dengan sempurna termasuk kuku di bagian tangan dan kaki.
6. Di tahap ke 6 ruh mulai di masukkan ke dalam janin. Menurut Al Qur’an, nilai kehidupan janin yang berada di alam rahim sudah mempunyai hubungan dengan Allah SWT. Dan di minggu ke 12 atau 40 hari, peran serta orang tua bisa membentuk kepribadian sang janin menjadi lebih baik lagi.
Pengetahuan mengenai terbentuknya manusia dan juga proses janin sendiri baru mulai ditemukan di tahun 1940-an. Sementara sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW menerima wahyu tersebut di tahun 610 M. 
3.0  PENCIPTAAN HAWA
  
Dalam satu kesempatan, Allah SWT berfirman kepada para Malaikat,"Kau bawalah Adam itu ke langit untuk menghadap Aku, Tuhan yang Mahamulia lagi Mahabesar."
Seluruh isi langit memuji Alllah SWT. Kemudian Tuhan melihat rupa Adam. Setelah Adam dinobatkan sebagai khalifah, beliau kemudian diarak ke dalam sorga Janatul Firdaus. Namun, di dalam sorga tak seorang pun dia melihat yang serupa dengannya sebagai seorang manusia.
Adam a.s. ingin berisitirahat. Dia berbaring di atas lambung kanannya. Rasa kantuk membuatnya tertidur. Allah SWT Maha Mengetahui isi hati setiap makhluk-Nya. Demikian pula dengan keadaan Nabi Adam as., Allah SWT mengetahui Adam a.s. berduka, karena tidak memiliki seorang teman yang sejenis dengannya. Lalu diciptakanlah seorang manusia baru saat ia masih tidur. Ciptaan yang baru itu adalah Hawa.
Tatkala ciptaan itu sudah berwujud, Adam a.s. terjaga. Dia terpesona ketika melihat seseorang yang begitu indahnya telah berada di sisinya. Adam a.s. pun ingin menjabat tangan Hawa Allah SWT segera melarangnya,
"Hai Adam, jangan engkau jabat dia dulu Aku akan nikahkan saja engkau dengan dia."
Adam berkata “Bahwa seluruhnya itu adalah anugerah dari Allah SWT juga, dan hamba-Mu menjunjung apa-apa (yang menjadi) perintah-Mu."
"Allah SWT memerintahkan para Malaikat, "Hai para Malaikat, bawalah oleh kamu baki yang berisi emas, perak, mutiara, intan, dan manikam yang indah-indah ke hadapan Adam dan Hawa. Bahwasanya Aku hendak menikahkan Adam dengan Hawa."
Kemudian Allah SWT mengucapkan prakata menjelang pernikahan Adam dan Hawa:
"Segala puji bagi Allah Ta’ala yang sangat besar Kebesaran-Nya. Bahwa seluruhnya itu telah percaya terhadap-Ku. Dan segala puji-pujian bagi kekasih-Ku dan pesuruh-Ku Telah bersaksi seluruh malaikat-Ku dan seluruh isi langit-Ku, dan seluruh malaikat yang menanggung ‘Arsy-Ku, bahwasanya telah Kunikahkan hamba-Ku Adam dan Hawa di atas langit-Ku dengan kudrat-Ku. Bahwa Adam a.s. mengucap tasbih terhadap Aku, dan membesarkan Aku, dan memuji terhadap Aku, yaitu dengan kemuliaan ayat Kursi. Dan bersaksilah Aku bahwasanya Tiada Tuhan yang menjadikan segala sesuatu, hanya Aku juga yang Maha Kuasa. Bahwasanya Adam khalifah-Ku dan Hawa itu isterinya, dan berkenanlah ia (Hawa) untuk mengasihinya (Adam), dan mereka seluruhnya beribadah kepada-Ku. Dan telah membawa imanlah mereka itu terhadap Muhammad kekasih-Ku dan rasul-Ku yang Kubesarkan atas segala sesuatu."
Pernikahan Adam dan Hawa
Allah SWT Yang Maha Pengasih untuk menyempurnakan nikmatnya lahir dan batin kepada kedua hamba-Nya yang saling memerlukan itu, segera memerintahkan gadis-gadis bidadari penghuni sorga untuk menghiasi dan menghibur mempelai perempuan itu serta membawakan kepadanya hantaran-hantaran berupa perhiasan-perhiasan sorga. Sementara Itu diperintahkan pula kepada malaikat langit untuk berkumpul bersama-sama di bawah pohon "Syajarah Thuba", menjadi saksi atas pernikahan Adam dan Hawa.
Diriwayatkan bahwa pada akad pernikahan itu Allah SWT berfirman: "Segala puji adalah kepunyaan-Ku, segala kebesaran adalah pakaian-Ku, segcla kemegahan adalah hiasan-Ku dan segala makhluk adalah hamba- Ku dan di bawah kekuasaan-Ku. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para penghuni langit dan sorga bahwa Aku menikahkan Hawa dengan Adam, kedua ciptaan-Ku dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid kepada-Ku!".
Setelah akad nikah selesai berdatanganlah para malaikat dan para bidadari menyebarkan mutiara-mutiara yaqut dan intan-intan permata kemilau kepada kedua pengantin agung tersebut. Selesai upacara akad, diantarlah Adam a.s mendapatkan isterinya di istana megah yang akan mereka diami.
Hawa menuntut haknya. Hak yang disyariatkan Tuhan sejak semula.
“Mana mahar?" tanyanya, la menolak persentuhan sebelum mahar pemberian ditunaikan dahulu.
Adam a.s bingung seketika. Lalu sadar bahwa untuk menerima haruslah sedia memberi, la insaf bahwa yang demikian itu haruslah menjadi kaedah pertama dalam pergaulan hidup. Sekarang ia sudah mempunyai kawan. Antara sesama kawan harus ada saling memberi dan saling menerima. Pemberian pertama pada pernikahan untuk menerima kehalalan ialah mahar. Oleh karenanya Adam a.s menyadari bahwa tuntutan Hawa untuk menerima mahar adalah benar. Pergaulan hidup antara laki-laki dan wanita akan berubah menjadi persahabatan yang ‘kekal’ apabila disertai dengan mahar. Dan kini apakah bentuk mahar yang harus diberikan? Itulah yang sedang dipikirkan Adam.
Untuk keluar dari keraguan, Adam a.s berseru: "Ilahi, Rabbi’ Apakah gerangan yang akan kuberikan kepadanya? Emaskah, intankah, perak atau permata?".
"Bukan!" kata Tuhan.
"Apakah hamba akan berpuasa atau solat atau bertasbih untuk-Mu sebagai maharnya?" tanya Adam a.s dengan penuh pengharapan.
"Bukan!" tegas suara Ghaib.
Adam diam, mententeramkan jiwanya. Kemudian bermohon : "Kalau begitu tunjukilah hamba-Mu jalan keluar!".
Allah SWT berfirman: "Mahar Hawa ialah shalawat sepuluh kali atas Nabi-Ku, Nabi yang bakal Kubangkitkan yang membawa pernyataan dari sifat-sifat-Ku: Muhammad, cincin permata dari para anbiya’ dan penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali!".
Adam a.s merasa lega. la mengucapkan sepuluh kali shalawat atas Nabi Muhammad SAW sebagai mahar kepada isterinya. Suatu mahar yang bernilai spiritual, karena Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai mahar.
"Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa bagimu", perintah Allah, "dan dapatlah ia sebagai isterimu!".
Adam a.s bersyukur lalu memasuki isterinya dengan ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang seimbang.
Allah SWT. berfirman kepada mereka: "Hai Adam, diamlah engkau bersama isterimu di dalam sorga dan makanlah (serta nikmatilah) apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini karena (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim". (Al-A’raaf: 19). Dengan pernikahan ini Adam a.s tidak lagi merasa kesepian di dalam sorga. Inilah percintaan dan pernikahan yang pertama dalam sejarah ummat manusia, dan berlangsung di dalam sorga yang penuh kenikmatan. Yaitu sebuah pernikahan agung yang dihadiri oleh para bidadari, jin dan disaksikan oleh para malaikat.
Peristiwa pernikahan Adam dan Hawa terjadi pada hari Jum’at. Entah berapa lama keduanya berdiam di sorga, hanya Allah SWT yang tahu. Lalu kelak keduanya diperintahkan turun ke bumi. Turun ke bumi untuk menyebarluaskan keturunan yang akan mengabdi kepada Allah SWT dengan janji bahwa sorga itu tetap tersedia di hari kemudian bagi hamba-hamba yang beriman dan beramal soleh
 4.0 PERBEZAAN ANTARA MANUSIA DAN HAIWAN

Di sini kami ingin kongsikan bahawa manusia dijadikan sebagai insan iaitu makhluk terbaik yang diberi dua peranan iaitu sebagai khalifah Allah s.w.t di muka bumi dan sebagai hamba yang diperintahkan supaya beribadah kepadaNya. Sebelum Allah s.w.t menjadikan manusia (Adam), terlebih dahulu Allah s.w.t telah menciptakan alam dan seluruh cakerawala, bulan, bintang, matahari dan bumi dengan segala isinya iaitu tumbuh-tumbuhan, ikan yang hidup di laut, haiwan yang terbang di udara, haiwan yang hidup di darat dan sebagainya. Allah s.w.t telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kelebihan diri kita dari segi unsur-unsur dalam dengan dikurniakan oleh Allah s.w.t ialah akal untuk berfikir dan hati sebagai khazanah untuk menyimpan segala rahsia dan ingatan.
            Manusia dan haiwan boleh didefinisikan melalui pelbagai aspek dan perspektif. Tambahan pula, kedua-duanya mempunyai variasi tafsiran oleh tokoh-tokoh islam. Maksud manusia dan haiwan adalah seperti yang dijelaskan dalam jadual berikut: 
MANUSIA
HAIWAN
Al-Quran menggunakan 3 istilah bagi mendefinisikan manusia iaitu insan, basyar, bani adam ataupun zhuriyat adam. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, yang diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga, jasmani dan rohani.
ISLAM
Islam mentafsir haiwan sebagai makhluk yang sama diciptakan seperti manusia tetapi tidak diberikan kedudukan yang setaraf dengan manusia dari segi akal fikiran, manakala kededukan mereka dari sudut kehambaan adalah sama seperti manusia.
Makhluk sosial yang mampu berinteraksi antara satu sama lain serta bermasyarakat.
SOSIOLOGI
Haiwan mengenal dunia sekelilingnya hanya dengan melalui pancaindera ( alat untuk merasa, mencium, bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu dengan naluri. Pengetahuannya khusus, tidak universal dan tidak umum.
Manusia merupakan makhluk utama di bumi yang mempunyai sistem tubuh badan yang istimewa dan lengkap seperti sistem saraf dan kardiovaskular serta berkemampuan mengatur hidup secara sistematik.  
SAINS
Haiwan merupakan organisma hidup yang mempunyai ciri-ciri tertentu bagi membezakan mereka dengan spesies kelompok yang lain.
Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens iaitu sebuah spesies primata yang juga merupakan kingdom animalia tetapi dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
BIOLOGI
Ahli biologi mentafsir haiwan sebagai kingdom animalia yang merupakan organisma eukariotik iaitu organisma yang mempunyai banyak sel.
Manusia ialah makhluk yang diciptakan oleh Allah S.W.T di syurga. Sejarah kejadian manusia bermula dari Adam AS dan juga Hawa. Kejadian manusia seringkali menjadi pertikaian Barat yang banyak mencipta teori mengikut logik akal. Namun begitu, Islam sudah lama menjelaskan dalam kiab Al-Quran yang kejadian manusia bukanlah seperti yang diwar-warkan oleh ideology Barat yang mendakwa bahawa manusia berevolusi. Semua ideologi ini amatlah bercanggah dengan penciptaan manusia oleh Allah S.W.T.
Perkara berkaitan ideologi ini amatlah terlampau banyak lemahnya kerana kemampuan manusia amatlah terbatas jika hendak dibandingkan dengan Allah S.W.T yang tiada batasnya. Jika Allah sudah mensyariatkan sesuatu, hendaklah kia sebagai makhluk mentaati-Nya sebagai Pencipta. Seringkali manusia mempersoalkan kenapa dan kenapa, maka hendaklah kita melihat kepada surah Al-Dzariyat ayat 56:

5.0 KITARAN HIDUP MANUSIA 
Setiap manusia mempunyai paras rupa yang berbeza-beza. Begitu juga sifat peribadi mereka. Setiap kejadian manusia telah diciptakan ciri-ciri yang berlainan bagi membezakan mereka antara satu sama lain. Kitaran hidup manusia bermula daripada sperma dan ovum sehingga tercetusnya kelahiran seorang bayi setelah ditiupkan roh di alam rahim. Rajah di bawah menunjukkan gambaran kitaran hidup manusia bermulanya daripada kelahiran seorang bayi sehingga ke peringkat warga emas.

Janin bayi mengalami beberapa fasa perkembangan selama 1-40 hari di dalam rahim ibu. Kitaran rajah di bawah menunjukkan secara ringkas bagaimana wujudnya seorang bayi.
                                    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEih0SlYBPjasnpaQk64v9NZChQcJuklWAbBMRh1IZJ4AlLHu21-n7v323tWwOJiPU87LxUHRksu4X6G5qhwGypoH0aBSfrhrvofeRNuCbWRD8gUo0rXBjY0olMj7oRx7U5LSDAyU0kqhbU/s400/Untitled.jpg
         
KERATAN DARI MAKSUD AYAT AL-QURAN BERKAITAN KEJADIAN MANUSIA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMIFnrZoPBKAetfzQv2IO_N8SlbHbl5NAWSCljJdqUNMKQm418mWnRusYOntebHiiWhvOavnSOhq2dmUOVlQVj2KCZcRi7v6I-Gls0srK9oBUW5LzaFSB-cgQSMW88rRhMwQM-b9UFFng/s640/Untitled.jpg
6.0 MENYINKAP PENCIPTAAN ADAM
MENYINGKAP PENCIPTAAN ADAM


Proses Penciptaan Adam 
Allah SWT berfirman kepada Jibril, "Hai Jibril, turunlah engkau ke bumi. Ambilkan Aku segenggam tanah. Aku hendak menciptakan Adam!"
Jibril pun turun ke bumi, saat akan diambil tanah itu bergoncang hebat. Dengan izin-Nya, Jibril dapat mendengar suara bumi. "Demi Allah, Tuhan Yang Maha Tinggi. Hai Jibril, jangan engkau ambil, aku takut (diriku) dijadikan sebagai khalifah, kerana aku takut berbuat derhaka kepada Tuhan seru seluruh alam. dan aku sangat takut terhadap siksa neraka."
Jibril pun kembali kepada Allah SWT lalu melaporkan sikap bumi yang menolaknya untuk dijadikan sebagai bahan penciptaan Adam. Jibril bersedia diperintahkan sekali lagi, namun Allah SWT memerintahkan malaikat Mikail yang harus mengambil tanah di bumi. Mikail pun mengalami perlakuan seperti Jibril. Seperti juga Jibril, Mikail pun melaporkan hasil kerjanya kepada Allah SWT, dan siap pula menjalankan perintahnya sekali lagi. Namun, Allah tidak memerintahkan lagi Mikail, melainkan malaikat Israfil yang akan mengambilnya. Israfil juga disumpahi oleh bumi agar tidak mengambil sebahagian dirinya. Setelah melaporkannya kepada Allah SWT, Dia memerintahkan malaikat Izrail.
Sebagaimana ketiga Malaikat tadi, Izrail pun disumpahi agar tidak mengambil tanah, namun izrail mengatakan, "Hai bumi, bahwa engkau menyumpahiku ini telah kuketahui. Akan tetapi ini bukan kehendakku, melainkan atas firman Allah Tuhan semesta alam ”. Luruhlah hati bumi mendengar perkataan dari Izrail itu. Izrail kemudian mengambil tanah di muka bumi. Tangannya menembus sampai ke lapisan bumi ketujuh untuk mengambil tanah. Bekas tempat pengambilan tanah itu konon menjadi Lautan Qulzum. Tanah itu pun kemudian dibawa menghadap kepada Allah SWT. Tanah yang diambil berwarna-warni : hitam, putih, merah, biru, hijau dan kuning. Oleh karena itulah, anak cucu Adam kelak akan beragam warna-warna kulitnya pada tiap bangsa atau etnis.
"Ya Rabbi, ya Saidi, Ya llahil ‘aalamin, bahwa Engkau jugalah Tuhan yang amat mengetahui bahwa hamba-Mu disumpahi oleh bumi," ucap Izrail.
Allah SWT berfirman, "Bahwasanya sumpah bumi kepadamu telah aku tolak, hai Izrail. Bahwasanya Aku hendak menciptakan Adam. Maka mereka (Adam dan Hawa) dan anak cucunya, terserah (kehendak-Ku, akan) Kusuruh Izrail untuk mengambil nyawanya."
"Ya Tuhanku, jika demikian, mereka (akan) bermusuhan dengan hamba-Mu ini."
Firman Allah SWT, "Hai Izrail, Aku amat kuasa berbuat sekehendak-Ku. Jika Aku perintahkan seorang hamba-Ku untuk mengerjakan suatu pekerjaan, di mana halnya engkau akan dibawanya (untuk) bermusuhan. Lebih khusus pula terhadap seorang yang Kumatikan yang disebabkan karena demam, atau sakit yang parah, atau tenggelam di dalam air, atau disebabkan dimakan oleh binatang, atau disebabkan karena berkelahi melawan sesamanya, atau sebab terbakar dilahap api, atau sebab jatuh tertimpa kayu. Maka semua itu (hanyalah) namanya tersebabkan. Dengan demikian tidak ada siapapun dapat berdalih kepadamu lagi."
Kemudian Allah SWT memerintahkan Izrail untuk mencampurkan tanah di atas bumi dengan air. Dicampurkanlah dengan empat jenis air, yaitu: air tawar, air asin, air anyir, dan air pahit. Kemudian Allah resapkan Nur kebenaran dalam diri Adam dengan berbagai macam "sifat". Air tawar itu yang nantinya akan menjadi air liur. Air asin menjadi air mata. Air anyir menjadi lendir di hidung. Air pahit menjadi kotoran telinga. Proses pencampuran itu dilakukan selama empat puluh tahun.
Kata Ibnu Abbas r.a. bahwa Allah SWT menciptakan Adam ‘alaihis salam dari tujuh lapisan bumi. Di antaranya: Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis; dadanya berasal dari tanah Dahna; tulangnya dari tanah bukit Qof; zakarnya dari tanah Babil; hati dari tanah sorga Jarnnatul Firdaus; kedua matanya dari tanah Hud; lidahnya dari tanah Thaif; kakinya dan tanah Hindi, dan bagian belakangnya dari tanah Arafah.
Kemudian Allah menjadikan di dalam tubuh anak Adam sembilan pintu, yaitu di kepalanya terletak pada kedua lubang hidung, kedua lubang telinga kedua mata, mulut, dubur, dan kemaluan. Diciptakannya pula panca indera. Penciptaan ini dilakukan pada hari Jum’at. Panjang tubuhnya enam puluh hasta. Bidang dadanya tujuh hasta.
Setelah semua organ tubuhnya sudah lengkap, Allah SWT membaringkannya di antara Mekah dan Thaif. Kemudian oleh beberapa malaikat, atas perintah Allah, tubuh tersebut diangkat ke langit. Melihat keberadaan tubuh Adam itu, para Malaikat bertanya:
"Ya Tuhanku, hikmah apakah pada yang demikian ini?"
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi," jawab Allah SWT.
"Siapakah yang akan Engkau jadikan (khalifah) itu, ialah yang akan berbuat kerusakan di muka bumi ini, dan mengucurkan darah sesamanya. Sejak semula kami senantiasa mengucap tasbih kepada Engkau dengan mensucikan-Mu" ujar para Malaikat.
"Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui," firman Allah SWT.
Selanjutnya Allah SWT menurunkan air hujan duka-cita mengguyur tubuh Adam selama empat puluh tahun lamanya. Kemudian hujan suka-cita mengguyurnya selama setahun. Sehingga segala kesedihan dan kebahagian telah menyatu ke dalam jasad Adam. Hal itu mengisyaratkan bahwa kelak anak cucu Adam akan lebih banyak menerima keadaan duka cita daripada suka citanya.
Kini, Allah SWT hendak memasukkan nyawa ke dalam jasad Adam. Sebelumnya Allah telah menciptakan nyawa dua ribu tahun sebelum menciptakan tubuh Adam. Sebagaimana terdapat di dalam sebuah hadist, yang artinya "bahwasanya Allah Ta’ala menciptakan nyawa terlebih dahulu daripada jasad kira-kira selama dua ribu tahun." Di dalam riwayat yang lain ada yang menyatakan selama empat ribu tahun.
Nyawa itulah Cahaya (Nur) Muhammad saw. Maka rahasia Cahaya itu pun dicampurkan dengan sebagian dari tubuh Adam. Allah SWT berfirman kepada Jibril:
"Bawalah tanah yang bercampur dengan ruh (nur) itu dengan kesturi, ambar, za’faran, dan kapur, dan khalembak." Jibril pun menurutinya.
"Bawalah tanah cahaya itu, kenakanlah pada dahi tubuh itu!"
Jibril melakukan seperti apa yang diperintahkan. Lalu tubuh Adam itu digenggam dengan genggaman "Jabarut" kemudian diletakkan di dalam "Alam Malakut". Kemudian tubuh itu dibenamkan di dalam air "Kudral-lzzah-Nya" yaitu sifat "Jalai dan Jammal". Lalu diciptakan menjadi tubuh Adam yang sempurna.
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail,
"Setiap dari kalian bersama dengan (masing-masing) tujuh ribu malaikat, maka bawalah olehmu baki yang berisi nyawa Adam itu."
Lalu nyawa itu pun dibawa oleh para Malaikat menuju tubuh Adam. Nyawa kemudian dihantarkan di kepalanya.
"Masuklah engkau ke dalam jasad ini," perintah Allah SWT kepada nyawa,
"Bahwa badan inilah tempatmu diam."
Namun sang nyawa tidak langsung masuk, melainkan mengelilinginya terlebih dahulu tujuh kali. Para Malaikat yang tengah menyaksikan kejadian itu, sangat menantikan sang nyawa segera masuk ke dalam tubuh Adam.
"Ya Tuhanku, bahwasanya aku ini adalah ruh yang amat lembut dengan cahayaku. Maka betapakah aku masuk ke rumah yang kelam ini," ujar nyawa.
"Masuk dipaksa, dan tatkala engkau keluar pun dipaksa juga," firman Allah SWT.
Dan awal penciptaan hingga nyawa masuk ke dalam tubuh Adam, memakan waktu selama 120 tahun. Akhirnya nyawa itu pun masuk melalui mulut. Setelah itu menuju otak, dan di bagian ini ia berkeliling seraya memuji Allah SWT, dua ratus tahun lamanya. Kehadiran nyawa itu mulai memunculkan kesadaran Kepada tubuh Adam.
Kata Adam kepada Allah SWT, "Ya Ilahi, Kau segerakanlah kiranya penciptaanku ini sebelum tenggelamnya matahari”.
Firman Allah SWT yang artinya. "Diciptakan Adam dengan tergesa-gesa."
Kemudian nyawa berada di bagian mata, maka terbukalah mata Adam. Dilihatnya tubuhnya yang terbuat dari tanah itu, dan dilihatnya pula buah-buahan yang ada di sorga. Ketika nyawa berada di telinganya, terdengarlah ucapan-ucapan tasbih dari para malaikat. Saat nyawa telah masuk ke bagian hidung, Adam mulai dapat bersin. Allah SWT mengilhamkan kepada Adam untuk mengucapkan tahmid, setelah nyawa sampai di mulutnya.
Allah membalas ucapannya dengan ucapan: "Yarhamukallaahu”’artinya, "Semoga Allah mengasihimu, hai Adam. Inilah anugerah-Ku kepadamu sebagai balasan terhadap pujianmu tadi, hai Adam."
Nyawa berangsur menuju ke kerongkongan; terus ke dada; dan ke pusar Adam. Adam mulai ingat makan tatkala nyawa sudah berada di perut. Tangan Adam mulai dapat digerakkan. Adam pun berusaha duduk, namun masih belum mampu.
Malaikat berkomentar: " (Karena) setengah badannya masih tanah, bahwa hendak duduk pun (tidak bisa). Perangai ini amat tergesa-gesa".
Allah SWT berfirman: "Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa". (Q.S. 17:11 )
Akhirnya, sampailah nyawa itu pada setiap rongga tubuh Adam, dan lengkaplah nyawa itu pada setiap organ tubuhnya. Daging dan darah pun mulai tumbuh. Lalu hiduplah Adam a.s.
Kemudian Allah SWT menciptakan asap dari ruh Adam. Allah menyuruh Jibril untuk menyimpannya. Sesungguhnya terdapat hikmah Allah di dalamnya, yaitu kelak Allah SWT akan menciptakan seseorang yang bernama Isa a.s. dari asap tersebut. Jibril pun menuruti perintah Nya. Dipeliharanya asap itu hingga datang masanya Isa menjadi Nabi.
Nabi Adam a.s. mulai berdiri. Dianugerahkan kepadanya pakaian kebesaran. Nabi Adam pun banyak berbuat kebajikan setiap harinya. Tidak berbuat dosa sedikit pun. Itulah kesempurnaan Nabi Adam. Diberikan pula pakaian dari sorga, yaitu makat dan qomar, dan sejumlah perhiasan.
Nabi Adam a.s. diperintahkan untuk melilingi langit bersama para Malaikat agar dapat menyaksikan segala kebesaran Allah SWT. Dengan menunggang seekor kuda yang bernama Mihun. Kuda tersebut diciptakan dari kapur, kasturi, za’fuur. Bulu kuduknya dari zabarjad. Kedua sayapnya terbuat dari mutiara dan marjan. P elananya dari marjan dan kekangnya dari yakut. Pada mulut kuda itu terdengar ucapan-ucapan tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid. Jibril mengawal di sebelah depan. Mikail di sebelah kanan. Israfil di sebelah kiri, dan Izrail dari belakang. Mereka mulai berkeliling untuk melihat segala keajaiban Allah SWT yang akan membuatnya semakin yakin terhadap kebesaran-Nya. Segala apa pun yang melihat Adam, terkesima seraya memuji keindahan Adam. Pada setiap perjumpaannya dengan para Malaikat, Adam a.s. selalu mengucapkan salam kepada mereka.
Allah SWT berfirman, "Hai Adam, bahwa salam inilah pegangan (ucapan) bagimu dan seluruh anak cucumu hingga datang pada han kiamat(kelak)."
Dikisahkan tatkala Nabi Adam a.s. sudah diarak mengelilingi langit, kemudian diarak pula menuju bumi. Di bumi ini pada waktu itu terdapat para Malaikat bersama Iblis. Allah SWT memerintahkan kepada para Malaikat dan Iblis untuk bersujud hormat,
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis" (Q.S. 2:34). Para malaikat yang melihat Iblis tidak bersujud, bergumam di dalam hatinya:
"Siapa yang telah tidak mau bersujud, itulah Iblis, dan ialah (akan) menjadi Iblis."
Para malaikat sekali lagi bersujud, sujud syukur kali ini, yaitu memuji karunia Tuhan terhadap Nabi Adam a.s. Para malaikat akan selalu menjujung tinggi dan menuruti segala apa yang difirmankan-Nya, serta tidak akan mengikuti segala apa yang tidak diperintahkannya. Oleh karena itu, para malaikat hingga kini selalu taat terhadap perintah Allah SWT.
Perilaku Iblis yang tidak menuruti perintah Allah SWT menjadi pertanyaan Allah SWT,
"Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku?’ (Q.S. 38:75)
Jawab lblis; "Aku lebih baik darinya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". (Q.S. 38:76)
“Hai Iblis, keluarlah engkau di bawah langit-Ku dan dari atas bumi-Ku, dan keluarlah engkau dari rupa malaikat-Ku, masuklah engkau pada rupa Iblis, dan engkau kaku tiada berkesudahan."
Maka Azazil(nama sebelum menjadi Iblis) pun berubah menjadi rupa Iblis. Matanya menjadi menonjol keluar.
Allah SWT menghardiknya, "Ikrarkanlah terhadap diri engkau, hai Iblis!"
Iblis menyanggupinya. Lalu berucap: "Karena Adamlah maka aku Engkau murkai, dan nikmat dari-Mu Engkau ambil dari hamba-Mu. Akan tetapi, mulai hari ini hingga datang hari kiamat, aku minta janji ke hadirat- Mu, ya Tuhanku, perkenankan pinta hamba-Mu, maka beranilah hamba- Mu datang sembah ke hadirat-Mu, ya Tuhanku."
Jawab Allah SWT, "Telah-Ku perkenankan pintamu itu Berdatang sembahlah engkau, hai Iblis."
Ibils menjawab, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka". (Q S. 38:82-83)
Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan". (Q.S. 38:84)
“Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya”. (Q..S. 38:85)
Sejak kejadian itu, dendam mulai merasuki hati Iblis terhadap Nabi Adam as. dan anak cucunya. Iblis berupaya dengan segala cara untuk menyesatkan mereka semua. Dan itulah pekerjaan tetapnya hingga hari kiamat datang.

7.0 KESIMPULAN 
Secara kesimpulannya, proses kejadian manusia terbahagi kepada 2 teori iaitu barat dan Islam. Melalui teori barat pada mulanya dipercayai tetapi akhirnya diragui oleh golongan intelektual dan di anggap tidak releven. Hanya teori Islam masih releven dan terbukti hingga kini. Oleh itu, manusia dianggap mulia dan sebaik-baik kejadian di muka bumi. Manusia juga telah menjadi khalifah di muka bumi ini dengan menjalankan tanggungjawab dan tugasan mereka. Tanggungjawab itu merupakan amanah Allah swt. Kita sebagai manusia haruslah memikul amanah ini dengan penuh tanggungjawab supaya kita tidak dipandang hina oleh masyarakat. Bagi memikul tanggungjawab ini, pengisian rohani dan pemantapan akidah adalah sangat penting bagi melancarkan tugasan yang telah diberikan oleh Allah swt kepada kita. Kita seharusnya menghargai darjat yang dikurniakan oleh Allah swt kepada kita kerana kita adalah semulia-mulia kejadian yang telah diciptakan oleh Allah swt.


8.0 RUJUKKAN
MOHD AZLI ADNAN,SAINS TEKNOLOGI DAN KEJURUTERAAN DALAM ISLAM, KUALA LUMPUR ,OXFORD FAJAR



9.0 LAMPIRAN
                                                                                    




Image result for SURAH BERKENAAN KEHIDUPAN
Image result for SURAH BERKENAAN KEHIDUPAN
Image result for SURAH BERKENAAN KEJADIAN MANUSIA
Pos
Monday, 8 August 2011 

Pembaca budiman saya percaya hampir semua daripada kita mengetahui bagaimana penciptaan Nabi Adam tapi saya tetap akan berkongsi dan mencoret disini tentangnya

Pada satu hadith diriwayatkan dan barkatalah Ibnu Abbas :Allah swt telah menciptakan Adam as.maka dijadikan kepada nabi Adam dari tanah Baitul Muqaddis,wajahnya dari tanah syurga,kedua telinganya dari tanah gunung Thursina,keningnya dari tanah Iraq,gigi-giginya dari tanah kautsar,tangan kanan beserta jari-jemarinya dari tanah Parsi,kedua kakinya beserta betis dri tanah India,tulang temulangnya dari tanah gunung,auratnya dari tanah Babilon,punggungnya dari tanah Iraq,perutnya dari tanah Khurasan,hatinya dari tanah Firdaus,lidahnya dari tanah Thaif,kedua matanya dari tanah telaga alkauthar.

Dan Allah swt menjadikan dalan tubuh Adam tersebut sembilan pintu,tujuh pintu terletak dikepala iaitu,kedua mata,kedua telinga dan kedua lubang hidung dan mulut.Kemudian dua pintu ditubuhnya iaitu qubul dan dubur.Dan Allah menjadikan pula pancaindera penglihatan dimata,pendengaran,perasa,peraba dan pencium,Ketika Allah swt hendak meniup roh kejasad Adam as.Allah memerintahkan roh agar masuk kedalamnya selama 200 tahun,lalu turun lah roh pada kedua mata maka terlihatlah ia akan dirinya sendiri,terlihat olehnya dalam bentuk yang kering.Ketika roh tersebut sampai dikedua telinga terdengar olehnya tasbihnya para malaikat,kemudian turunlah roh itu ke rongga hidung bersin lah iasetelah selesai bersin turun lah roh kemulut dan lidahnya. Lalu Allah swt mengajari Adam as, untuk menyebut Alhamdulillah dan Allah swt menjawap dengan kalimat Yarhamuka rabbuka ya Adam.Lalu turunlah roh kedadanya dan tergesa-gesalah dia berdiri tetapi tidak mampu,hal ini sesuai dengan firman Allah swr yang bermaksud:
:Manusia itu adalah tergesa-gesa….(Israil-11)

Ketika roh itu sampai keperut Adaam as.maka dia bernafsu untuk makan,lalu menyebar lah roh itu keseluruh tubuhnya jadilah jasad itu daging,darah dan otot-otot yang merata dalam tubuh,lalu Allah swt mengenakanya pakaian dari kuku yang setiap hari pakaian tersebut bertambah baik dan indah,ketika Adam as berbuat dosa maka Allah swt ,menggantikan kuku tersebut dengan kulit dan tinggallah kuku-kuku tersebut dihujung jari-jarin kita sebagai pengingat awal kejadiannya.

Lalu Allah swt menyempurnakan kejadian Adam as. Dan meniup roh kedalam jasadnya dan mengenakanya pakaian dari syurga,sedangkan Nur nya dari Nabi Muhammad saw bersinar diwajahnya seperti bulan purnama,kemudian diangkat Adam as ketempat tidur dan diangkat diatas bahu Malaikat.Dan berfirman Allah swt kepada mereka,Berkelilinglah kalian bersama Adam as, yang berada diatas tempat tidur itu,agar ia melihat keajaiban langit dan segala sesuatu yang ada didalamnya.  Maka bertambahlah keyakinan Adam itu,lalu para Malaikat menjawap,”Rabbana sami’na wa atha’na(wahai tuhan kami,telah ku dengar perintahmu dan kutaati,)Maka dibawalah Adam as. Itu berkeliling dibeberapa langit selama seratus tahun,lalu Allah menciptakan kuda dari minyak kasturi putih yang semerbak baunya untuk Adam as.Kuda itu dinamakan Maimun;dia mempunyai dua sayap dari intan dan marjan.

Maka naiklah Adam as.sedangkan malaikat Jibril memegang cemeti,malaikat Mikail berada disebelah kanannya,malaikat israfil berada disebelah kirinya,maka berkelilinglah semua malaikat tadi keseluruh penjuru langit itu.Kemudian Adam as. Mengucapkan salam kepada malaikat,dengan ucapan Asalamualaikum,Maka menjawaplah Malaikat dengan ucapan Waalaikumusalam,lalu Allah swt berfirman;

“Wahai Adam ini lah penghormatan bagimu dan bagi orang –orang mukmin dari anak cucumu yang tetap bagi mereka sampai hari kiamat.

Begitulah dikisahkan tentang awal penciptaan Adam ,sekalipun kita pernah membacanya tapi perlu juga untuk kita mengingati kembali kisah kisahnya yang seakan ia telah berlalu pergi sedikit demi sedikit dari ingatan kita.
Selamat membaca dan semoga sentiasa mendapat kerahmatnya.

SEJARAH PENCIPTAAN NABI ADAM AS


6 Votes

PADA suatu ketika, Allah menitahkan malaikat Jibrail ke bumi mengambil sebahagian tanahnya mencipta Adam.
Tetapi, bumi enggan membenarkan tanahnya diambil untuk dijadikan Adam, kerana bumi bimbang Adam berbuat maksiat kepada Allah.
Lalu Jibrail kembali menemui Tuhan, ia tidak dapat berbuat apa-apa, mendengar sumpah bumi. Kemudian, Allah memerintah malaikat Mikail, jawapan bumi tetap sama dan Allah menitah pula malaikat Israfil, tetapi bumi masih enggan dan masing-masing kembali dengan tangan penuh hampa.
Lalu yang terakhir, Allah menyuruh malaikat Izrail ke bumi. Kata Allah: ” Hai Izrail engkaulah kini yang aku tugaskan mengambil tanah.
Meskipun bumi menyumpah dengan ucapan bagaimanapun jangan engkau undur. Katakan kamu melakukan atas perintah dan atas nama-Ku.”
Apabila Izrail ke bumi dan menyampaikan perintah Allah, bumi akhirnya akur tanahnya diambil.
Setelah Izrail mengambil beberapa jenis tanah, dia kembali ke hadrat Allah. Lalu Allah berfirman: “Ya Izrail, pertama engkau yang Ku-tugaskan mengambil tanah, dan kelak Ku-tugaskan engkau mencabut roh manusia.”
Maka Izrail bimbang dibenci manusia. Lalu Allah berfirman: “Tidak, mereka tidak akan memusuhi kamu, Aku Yang mengaturnya, dan aku jadikan kematian mereka itu bersebab, terbunuh, terbakar atau sakit.”
Click Here
Tanah bagaimana dijadikan Adam?
1. Tanah tempat bakal berdirinya Baitul Mugaddis
2. Tanah Bukit Tursina
3. Tanah Iraq
4. Tanah Aden
5. Tanah Al-Kautsar
6. Tanah tempat bakal berdirinya Baitullah
7. Tanah Paris
8. Tanah Khurasan
9. Tanah (Babylon)
10. Tanah India
11. Tanah syurga
12. Tanah Tha’if
Kata Ibnu Abbas :
1. Kepala Adam dari tanah Baitul Muqadis, kerana di situlah berada otak manusia, dan di situlah tempatnya akal.
2. Telinganya dari tanah Bukit Thursina, kerana dia alat pendengar dan tempat menerima nasihat.
3. Dahinya dari tanah Iraq, kerana di situ tempat sujud kepada Allah.
4. Mukanya dari tanah Aden, kerana di situ tempat berhias dan tempat kecantikan.
5. Matanya dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat menarik perhatian.
6. Giginya dari tanah Al-Kautsar, tempat manis.
7. Tangan kanannya dari tanah Kaabah, untuk mencari nafkah dan kerjasama sesama manusia.
8. Tangan kirinya dari tanah Paris, tempat beristinjak.
9. Perutnya dari tanah Babylon. Di situlah tempat seks (berahi) dan tipu daya syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
10. Tulangnya dari tanah Bukit Thursina, alat peneguh tubuh manusia.
11. Dua kakinya dari tanah India, tempat berdiri dan jalan.
12. Hatinya dari tanah syurga Firdaus, kerana di situlah iman, keyakinan, ilmu dan kemahuan.
13. Lidahnya dari tanah Tha’if, tempat mengucap syahadah, bersyukur dan mendoakan kepada Tuhan.
Bagaimanakah prosesnya :
1. Ketika Allah menjadikan Adam, tanah itu bercampur air tawar, air masin, air hanyir, angin, api. Kemudian Allah resapkan Nur kebenaran dalam diri Adam dengan pelbagai macam “sifat”.
2. Lalu tubuh Adam itu digenggam dengan genggaman “Jabarut” kemudian diletakkan di dalam “Alam Malakut”.
3. Sesungguhnya tanah yang akan dijadikan “tubuh Adam” adalah tanah pilihan. Maka sebelum dijadikan patung, tanah itu dicampurkan dengan rempah-rempah, wangi-wangian dari sifat nur sifat Allah, dan dirasmi dengan air hujan “Barul Uluhiyah”.
4. Kemudian tubuh itu dibenamkan di dalam air “Kudral-Izzah-Nya” iaitu sifat “Jalan dan Jammal”. Lalu diciptakan menjadi tubuh Adam yang sempurna.
5. Demikian pula roh, ketika itu diperintah masuk ke tubuh Adam, ia malas dan enggan, malah berputar-putar, mengelilingi patung Adam yang terlantar.
Kemudian Allah menyuruh malaikat Izrail untuk memaksa roh itu masuk, akhirnya ia menyerah kepada Izrail.
Menurut riwayat ketika Adam masih di syurga, sangat baik sekali kulitnya. Tidak seperti warna kulit kita sekarang ini.
Kerana Adam diturunkan ke dunia, terjadilah perubahan pada warna kulitnya. Sebagai peringatan yang masih tertinggal warnanya hanyalah pada kuku manusia.
Hal ini kita biasa lihat meskipun orang kulitnya hitam, warna kukunya adalah sama, ialah putih kemerah-merahan. Dijadikan pada tubuh Adam ada sembilan rongga atau liang.
Tujuh buah liang di kepala dan dua liang di bawah badan letaknya.
Tujuh buah letaknya di kepala: dua liang mata, dua liang telinga, dua liang hidung dan sebuah liang mulut.
Yang dua macam di bawah: sebuah liang kemaluan dan liang dubur.
Dijadikan pula lima pancaindera:
1. Mata alat penglihatan
2. Hidung alat penciuman
3. Telinga alat pendengaran
4. Mulut alat perasa manis, masin dan sebagainya.
5. Anggota tubuh lainnya seperti kulit, telapak tangan, untuk merasa halus, kasar dan sebagainya.
Selepas roh masuk tubuh Adam perlahan-lahan sehingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun.
Demikianlah Allah memberi kekuatan pada Izrail memasukkan roh ke tubuh Adam. Dahulu Izrail ditugaskan mengambil tanah untuk Adam, dan kini mencabut nyawa manusia.
Selepas meresap ke kepala Adam, maka terjadilah otak dan tersusun urat sarafnya dengan sempurna. Kemudian terjadilah matanya seketika itu matanya terus terbuka melihat dan melirik ke kiri dan ke kanan.
Dan juga melihat ke bawah di mana bahagian badannya masih adalah tanah keras. Dilihatnya kiri dan kanan malaikat yang sedang menyaksikan kejadian dia.
Ketika itu Adam mendengar malaikat mengucapkan tasbih dengan suara merdu dan mengasyikkan. Ketika roh sampai ke hidungnya lalu ia bersin, serta mulutnya terbuka.
Ketika itulah Allah mengajarnya mengucap Alhamdulillah. Itulah ucapan Adam yang pertama kepada Allah.
Lalu Allah berkata: “Yarkhamukallah” yang ertinya: “semoga engkau diberi rahmat Allah”. Oleh kerana itu jika orang bersin menjadi ikutan sunat mengucap “Alhamdulillah” dan orang yang mendengarnya sunat mengucapkan
“Yarkhamukallah”.
Kemudian ketika roh sampai pada dadanya, tiba-tiba saja ia mahu bangun. Padahal bahagian badannya ke bawah masih menjadi tanah keras.
Di sini menunjukkan sifat manusia yang suka tergesa-gesa (tidak sabar). Sebagaimana firman Allah yang bermaksud: “Dan adalah manusia itu, suka tergesa-gesa”.
Maka, ketika roh itu sampai di perutnya, terjadilah susunan isi perut dengan sempurna. Maka seketika itu terasa lapar.
Kemudian terus roh itu meresap ke seluruh tubuh Adam, tangan, kaki lalu terjadi darah daging dan tulang, urat-urat, berkulit dengan sempurna, kian lama kian bagus dan halus.
Apabila kejadian Adam sempurna sebagai manusia baru, maka dialah adalah jenis makhluk manusia yang pertama.
Wajahnya cukup cantik, semua malaikat kagum melihat Adam yang menawan. Adam diarak malaikat selama 100 tahun lalu diperkenalkan kepada seluruh penghuni langit pertama hinggalah ketujuh sebelum dibawa ke syurga tempat mula-mula Adam dijadikan.


letterm_letr_12663 MMenarik mempelajari awalin mengenai kejadian manusia (post sebelumnya meneguhkan kesadaran awalin dan akhirin).
Beberapa ulama berpendapat bahwa manusia ketika di arasy sebelum diturunkan ke dunia juga  bersyahadat selain ditetapkan 4 takdirnya itu. Syahadat berisi 2 kalimat yaitu bersaksi pada Allah dan bersaksi pada Muhammad (LailahaillaLlah MuhammadarasuluLlah). Syahadat yang pertama  bernama syahadat Tauhid dan yang kedua adalah syahadat Risalah.
Ada hal yang menarik terkait dengan syahadat Risalah yang menyebutkan kesaksian pada Muhammad saw. Pertanyaannya apakah manusia sebelum nabi Muhammad saw, khususnya nabi Adam As mengucapkan juga syahadat risalah, padahal Muhammad Saw belum ada waktu itu ?
Terkait penjelasan bahwa Muhammad Saw  memang telah ada dan disebutkan Allah pada awal penciptaan Nabi Adam As, maka ada dalil atau riwayat yang menjelaskan hal itu
1. Hadist nabi Saw sebagai berikut:
Dalam kitab Usfuriyah, dijelaskan bahwa bahwa Muhammad Saw  memang telah ada dan disebutkan Allah pada awal penciptaan Nabi Adam As, maka ada dalil yang menjelaskan hal itu
Rasulullah Saw bersabda: Ketika Nabi Adam mengakui kesalahannya, lalu dia berkata dan memohon: “Ya Tuhanku hamba memohon kepadaMu dengan kebenaran Muhammad ampunilah hamba “. Lalu Allah berfirman kepada Adam: ” Hai Adam bagimana kamu tahu tentang Muhammad padahal Aku belum lagi ciptakannya?”
Adam menjawab: “Ya Tuhanku sesungguhnya ketika Engkau ciptakan hamba, hamba mengangkat kepala, kemudian terlihat olehku tulisan dipintu gerbang Arasy berbunyi Lailahaillallah Muhammadarasulullah, maka ketika itu mengertilah hamba, tidak mungkin ada satu nama yang bersanding dengan namaMu kecuali mahkluk yang sangat Kau sayangi.
Maka Allah berfirman: “Benar Engkau hai Adam sesungguhnya Muhammad itu adalah makhlukKu yang paling kusayangi, bila engkau memohon kepadaKu dengan kebenarannya sungguh Aku ampuni engkau” ( HR Baihaqi)
2. Riwayat orang Shaleh sebagai berikut
Diriwayatkan Ibnu Jauzi dalam kitab Salwatul Ahzaan  disebutkan bahwa Adam As ketika hendak mendekati Siti Hawa, maka siti Hawa meminta mas kawin. Lalu adam As berdoa: “Ya Rabb apakah yang harus saya berikan padanya?”
Allah berfirman : Ya Adam bacalah shalawat untuk kekasihku Muhammad Saw 20 kali. Maka itu kemudian dipatuhi dan dilaksanakan Adam As untuk mendekati siti Hawa.
Penjelasan keberadaan Muhammad Saw
Muhammad yang disebut Allah kepada Nabi Adam itu adalah Muhammad Awalin atau beberapa ulama menyebutnya sebagai Nur Muhammad  (sebagian lagi Hakikat Muhammad).
Terkait dengan penjelasan ruh Muhammad Saw, dari beberapa riwayat menyatakan keberadaan  Muhammad saw lebih dulu dari para nabi  pada saat di arasy. Pada Alam ruh ini Muhammad saw telah mendapatkan kenabian dan jelas kepemimpinannya atas semua nabi sebagaimana hadis diriwayatkan Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa
Nabi Saw bersabda : Menurut Allah, Aku sudah menjadi Penutup para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.
Lalu kalau ada awalin tentu ada akhirin?.
Sosok dan kemuliaan Muhammad yang diturunkan Allah kedunia yang membawa berita kebenaran, sebagai nabi penutup dan menjadi teladan karena keluhuran ahlaqnya itulah sebagai Muhammad Akhirin.
Dengan demikian dapat dipahami kalau Rasulullah Saw sendiri juga mengucapkan syahadat secara lengkap kepada dirinya yaitu syahadat Tauhid dan syahadat Risalah  pada tasyahud akhir sesuai dengan tuntunan shalat yang diajarkan beliau sendiri kepada umatnya.
Wallahu ‘alam

Kisah Penciptaan Tubuh Rasulullah S.A.W

Ka’ab al Ahbaar radhiy-Allahu ‘anhu mengatakan, “Ketika Allah SWT
menginginkan untuk menciptakan Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Ia
memerintahkan Malaikat Jibril untuk membawa kepada-Nya tanah liat yang
menjadi jantung dari bumi, yang menjadi kemegahan dan cahayanya. Jibril
pun turun, ditemani beberapa malaikat dari Tempat Tertinggi di Syurga.
Ia mengambil segenggam tanah untuk penciptaan Nabi sall-Allahu ‘alaihi
wasallam dari suatu tempat yang kini menjadi makam suci beliau
sall-Allahu ‘alaihi wasallam; tanah itu berkilau putih cerah. Kemudian
ia meramas dan mengadun tanah itu dengan air ciptaan terbaik dari Air
Terjun SyurgawiT asn iim, yang berada dalam sungai-sungai jernih yang
mengalir di Syurga. Ia mengaduninya sampai tanah itu menjadi suatu
mutiara putih dengan pancaran warna putihnya yang cemerlang.

Para malaikat membawanya, mengelilingi ‘Arasy Syurgawi dan gunung-gunung
dan samudera. Dengan begitu, para malaikat dan seluruh makhluq
mengetahui akan keberadaan junjungan kita Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallam dan kehormatan beliau; sebelum mereka mengetahui Adam.” Ibn
‘Abbas radhiy-Allahu ‘anhumengatakan, “Asal usul dari tanah liat Nabi
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam adalah dari pusat bumi, di Makkah, di titik
di mana Ka’bah berdiri. Kerana itu pula, Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallam menjadi asal usul penciptaan, dan semua makhluq ciptaan adalah
pengikut-pengikut beliau.”

Pengarang Awarif al Ma’arif [al-Suhrawardi], berkata bahawa ketika
Banjir meluap, menebarkan buih ke seluruh penjuru, esensi dari Nabi
sall-Allahu ‘alaihi wasallam berhenti hingga ke suatu tempat di dekat
tanah kubur baginda di Madinah, sehingga baginda sall-Allahu ‘alaihi
wasallam menjadi seseorang yang termasuk dalam Makkah mahupun Madinah.

Diriwayatkan bahawa ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Adam
‘alaihissalam, Ia Subhanahu Wa Ta’ala mengilhamkan kepada Adam untuk
bertanya, “Wahai Tuhan, mengapakah Engkau memberiku nama panggilan, Abu
Muhammad (ayah dari Muhammad)?” Allah menjawab, “Wahai Adam, angkat
kepalamu.” Adam pun mengangkat kepalanya dan ia melihat cahaya dari
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam dalam kubah ‘Arsy. Adam kemudian
bertanya lagi, “Wahai Tuhan, cahaya apakah ini?” Allah menjawab, “Ini
adalah cahaya dari seorang Nabi keturunanmu. Namanya di Syurga adalah
Ahmad, dan di Bumi namanya Muhammad sall- Allahu ‘alaihi wasallam. Jika
bukan demi dirinya, tentu Aku tidak akan menciptakan dirimu, tidak pula
Langit, tidak pula Bumi.” ‘Abd al-Razzaq meriwayatkan, dari Jabir bin
‘Abdullah radhiy-Allahu ‘anhu, bahawa ia berkata, “Ya RasulAllah, semoga
ayahku dan ibuku dikorbankan demi dirimu, ceritakan padaku tentang hal
pertama yang Allah ciptakan, sebelum yang lain-lainnya.” Beliau
menjawab, “Wahai Jabir, Allah menciptakan, sebelum apa pun yang lain,
cahaya Nabimu dari cahaya-Nya. Cahaya itu mulai bergerak ke mana pun
Allah kehendaki dengan Qudrat Ilahiah Allah.

Pada saat itu belum ada Tablet (Lauh) belum pula Pena; belum ada Syurga
mahupun Neraka, tidak ada malaikat; tidak ada Langit, tidak pula Bumi;
tak ada Matahari mahupun Bulan, tak ada Jinn ataupun manusia. Ketika
Allah ingin untuk menciptakan makhluq-Nya, Ia membahagi cahaya itu
menjadi empat bahagian.

Dari bahagian pertama, Ia menciptakan Pena, dari yang kedua, Tablet
(Lauh), dan dari yang ketiga, ‘Arasy. Kemudian, Ia membahagi bahagian
keempat menjadi empat bahagian: bahagian pertama membentuk para pembawa
‘Arasy, bahagian kedua menjadi penunjang kaki ‘Arasy, dan dari bahagian
ketiga Ia menciptakan malaikat- malaikat lainnya. Ia kemudian membahagi
bahagian keempat menjadi empat bahagian lagi: Ia menciptakan langit dari
bahagian pertama, bumi-bumi dari bahagian kedua, Syurga dan Neraka dari
bahagian ketiga. Kemudian Ia membahagi lagi bahagian keempat sisanya
menjadi empat bahagian: menciptakan cahaya firasat orang-orang beriman
dari bahagian pertama, cahaya kalbu-kalbu mereka(iaitu ma’rifat Allah)
dari bahagian kedua, dan dari bahagian ketiga Ia ciptakan cahaya
kesenangan dan kegembiraan (Uns, iaitu Laa ilaha illa Allah, Muhammadun
Rasuulullah).

Suatu riwayat lain dari ‘Ali ibn Al-Husain radhiy-A llahu ‘anhu dari
ayahnya [iaitu Husain ibn 'Ali ibn Abi Talib, peny.] radhiy-Allahu
‘anhu, dari datuknya [iaitu 'Ali ibn Abi Talib] karram-Allahu wajhahu,
dari Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, “Aku adalah suatu
cahaya di hadapan Tuhanku, empat belas ribu tahun sebelum penciptaan
Adam.” Telah pula diriwayatkan bahawa ketika Allah menciptakan
Adam‘alaihiss alam, Ia Subhanahu Wa Ta’ala menaruh cahaya itu di
punggung Adam, dan cahaya itu biasa berkilau dari bahagian depannya,
menelan seluruh sisa cahayanya. Kemudian Allah menaruh cahaya itu ke
‘Arasy Kekuasaan-Nya, dan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya membawanya
di pundak mereka, dan memerintahkan mereka pula untuk membawa Adam
berkeliling di Langit dan mempertunjukkan padanya keindahan-keindahan
Kerajaan-Nya.

Ibn ‘Abbas radhiy-Allahu ‘anhu berkata, Penciptaan Adam adalah pada hari
Jumat di siang hari. Allah kemudian menciptakan baginya Hawa’, isterinya,
dari satu tulang rusuk kirinya ketika ia sedang tertidur. Saat ia bangun
dan melihat Hawa’, Adam merasa tenteram dengannya, dan ia mulai
merentangkan tangannya ke Hawa’. Malaikat berkata, “Berhenti, Adam.”
Adam berkata, “Kenapa, tidakkah Allah menciptakannya untukku?” Mereka
menjawab, “Tidak boleh hingga kau membayar mas kawin padanya”. Adam
bertanya, “Apa mas kawinnya?” Para Malaikat menjawab, “Dengan membaca
salawat atas Muhammad tiga kali.” [ dan dalam riwayat lain, dua puluh kali].

Telah pula diriwayatkan bahawa ketika Adam‘alaihis salam meninggalkan
Syurga, ia melihat tertulis di kaki ‘Arasy dan di setiap titik dalam
Syurga, nama Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam di samping nama
Allah. Adam bertanya, “Wahai Tuhan, siapakah Muhammad?” Allah menjawab,
“Dia adalah anakmu, yang jika seandainya tidak demi dirinya, tentu Aku
tidak akan menciptakanmu.”Kemudian Adam berkata, “Wahai Tuhan, demi anak
ini, kurniakanlah rahmat pada ayahnya.” Allah memanggil, “Wahai Adam,
seandainya engkau akan bersyafa’at melalui
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bagi seluruh penduduk Langit dan
Bumi, Kami akan kabulkan permohonan syafa’atmu.”

‘Umar Ibn al-Khattab radhiy-Allahu ‘anhu berkata bahawa Sayyidina
Muhammads all- Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika Adam berbuat
dosa, ia berkata, ‘Ya Allah, aku memohon kepadamu demi Muhammad untuk
mengampuniku.’ AllahSubhan ahu Wa Ta’ala berfirman padanya, ‘Bagaimana
dirimu tahu akan Muhammad padahal Aku belum menciptakannya?’ Adam
menjawab, ‘Kerana ketika Engkau, Ya Tuhanku, menciptakanku dengan
Tangan- Mu, dan meniupkan padaku dari Ruh-Mu, aku memandang ke atas dan
melihat tertulis di kaki-kaki ‘Arasy, Laa ilaaha illallah, Muhammadun
Rasuulullah. Aku tahu bahawa Engkau tidak akan menaruh suatu nama di
samping Nama-Mu, melainkan pastilah itu adalah nama seseorang yang
paling Kau-cintai dari makhluq-Mu.’ Allah berfirman,

‘Oh, Adam, kau telah mengatakan kebenaran: dialah yang paling Kucintai
di antara makhluk ciptaan-Ku. Dan kerana engkau telah memohon pada-Ku
demi dirinya, engkau kuampuni. Seandainya tidak untuk Muhammad, Aku tak
akan menciptakanmu. Dialah penutup para Nabi dari keturunanmu.’”

Dalam Hadits Salman radhiy-Allahu ‘anhu, diriwayatkan bahawa Jibril
turun menemui Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Tuhanmu
mengatakan, ‘Jika Aku telah menjadikan Ibrahim sebagai yang Ku-cintai,
sahabat dekat (khalil), Aku pun menganggapmu demikian. Tak pernah
Ku-ciptakan makhluk apa pun yang lebih berharga bagi-Ku daripada dirimu,
dan telah Ku-ciptakan dunia ini dan penduduknya dengan maksud untuk
membiarkan mereka mengetahui kehormatanmu dan mengetahui erti
keberadaanmu bagi-Ku; dan seandainya tidak
untukmu, tidaklah Kuciptakan dunia ini’”.

Hawa melahirkan empat puluh anak dari Adam, dalam dua puluh kali
kelahiran; tetapi ia melahirkan Seth [atau Syits]‘alaihiss alam secara
terpisah, sebagai kehormatan bagi junjungan kita Muhammad sall-Allahu
‘alaihi wasallam, yang cahayanya berpindah dari Adam ke Seth. Sebelum
wafatnya, Adam menitipkan pemeliharaan anak-anaknya kepada Seth, dan ia
pun, sebagai gilirannya, mempercayakan pada anak-anak tersebut, wasiat
dari Adam: untuk menaruh cahaya itu hanya pada wanita yang suci. Wasiat
ini berlanjutan, abad demi abad, sampai Allah memberikan cahaya itu
kepada Abdul Muttalib dan puteranya, Abdullah. Dengan cara inilah, Allah
menjaga kemurnian salasilah tanpa cela dari Nabi Muhammads all- Allahu
‘alayhi wasallam, dari perzinaan orang-orang bodoh. Ibn ‘Abbas
radiyAllahu ‘anhu berkata,“Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam
bersabda, ‘Tak satu pun perzinaan jahil menyentuh kelahiranku. Aku
dilahirkan tidak lain hanya dengan pernikahan Islam.’” Hisyam ibn
Muhammad Al-Kalbi meriwayatkan bahawa ayahnya berkata, “Aku menghitung
bagi (silsilah) Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam ada lima
ratus ribu ibu, dan tak kutemukan di antara mereka satu jejak pun
perzinaan, atau apa pun dari interaksi orang-orang bodoh.”


Ali radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Aku datang dari pernikahan, aku tidak datang dari perzinaan;
dari Adam hingga diriku dilahirkan dari ayah dan ibuku, tak satu pun
perzinaan orang jahil yang menyentuh diriku.”

Ibn ‘Abbas radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi Muhammad sall-Allahu
‘alaihi wasallam bersabda, “Orang tua moyangku tak pernah melakukan
perzinaan. Allah menjaga memindahkanku dari sulbi yang baik ke rahim
yang suci, murni dan tersucikan; bila saja ada dua jalan untuk
berpindah, aku menuju ke yang terbaik di antara mereka.” Anas
radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallammembaca, “La qad jaa-akum Rasuulum min Anfusikum” [QS. 9:128],
dan bersabda, “Aku adalah yang terbaik di antara kalian dalam
silsilahku, dalam hubungan-hubungan-ku dan nenek moyangku: tak ada
perzinaan pada ayah-ayahku dalam setiap tingkat hingga ke Adam.”

‘Aisyah radiyAllahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi sall-Allahu ‘alaihi
wasallam bahawa Jibril‘alaihis s alam berkata, “Aku telah meneliti Bumi
dari timur ke barat, dan tak kutemui seorang manusia pun yang lebih baik
dari Muhammadsall- Allahu ‘alaihi wasallam, dan tak kutemui seorang anak
laki-laki dari ayah mana pun yang lebih baik dari anak-anak Hasyim (Bani
Hasyim).” Dalam Sahih Al-Bukhari, Abu Hurairah radiyAllahu ‘anhu
meriwayatkan bahawa Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku
telah diutus dari generasi terbaik dari Anak-anak Adam, satu demi satu
hingga aku mencapai keadaanku sekarang ini.” Dalam Sahih Muslim, Watsila
ibn al-Aska’ meriwayatkan bahawa Muhammadsall- Allahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Allah telah memilih Kinana dari anak-anak Isma’il, dan
Quraisy dari Kinana, dan dari Quraish, anak-anak Hasyim, dan akhirnya
memilihku dari Bani Hasyim.” Al ‘Abbas radiyAllahu ‘anhu berkata Nabi
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah menciptakan
makhluq, dan menempatkanku dalam kelompok- kelompok terbaik, dan yang
terbaik dari dua kelompok; kemudian Ia memilih suku, dan menaruhku pada
yang terbaik di antara keluarga-keluarga mereka. Kerana itulah, aku
memiliki keperibadian terbaik, roh dan sifat terbaik, dan memiliki
asal-usul terbaik di antara mereka.”

Ibn ‘Umar radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Allah memeriksa ciptaan-Nya dan memilih Bani Adam
(manusia) dari mereka; Ia memeriksa Bani Adam dan memilih orang-orang
Arab darinya; Ia memeriksa kaum Arab dan memilihku dari antara mereka.
Kerananya, aku selalu menjadi yang terpilih di antara yang terpilih.
Lihatlah, orang-orang yang mencintai kaum Arab, adalah kerana cinta
kepadaku hingga mereka mencintai kaum Arab, dan mereka yang membenci
kaum Arab, adalah kerana mereka membenciku hingga mereka pun membenci Arab.”

Ketahuilah bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam tidaklah terkait
(memiliki) secara langsung pada saudara laki-laki atau perempuan siapa
pun dari orang tua-orang tuanya; beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam
adalah anak satu-satunya mereka dan silsilah mereka berhenti pada
beliau. Dengan begitu, beliau secara eksklusif ‘memegang penuh’ suatu
silsilah yang Allah (SWT)inginkan menjadi yang tertinggi yang dapat
dicapai suatu kenabian, dan yang memegang puncak kehormatan.

Jika Anda memeriksa status silsilah beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam
dan mengetahui kesucian kelahiran beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam,
Anda akan yakin bahawa silsilah beliau adalah suatu keturunan dari
ayah-ayah yang terhormat, kerana beliau adalah Al-Nabi sall-Allahu
‘alaihi wasallam, Al ‘Arabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Abtahi
sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Harami sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al
Hasyimi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Quraisyi sall-Allahu ‘alaihi
wasallam, elite dari Bani Hasyim, seseorang yang telah dipilih dari
suku-suku terunggul bangsa Arab, dari silsilah terbaik, keturunan paling
mulia, cabang yang paling subur, pilar tertinggi, asal usul terbaik,
akar-akar terkuat, memiliki lidah terfasih, gaya bicara terhalus, darjat
kebajikan) yang paling memberatkan, iman paling sempurna, persahabatan
paling kuat, kaum kerabat paling terhormat dari kedua pihak orang tua,
dan dari tanah Allah yang paling mulia. Beliaus all- Allahu ‘alaihi
wasallam memiliki banyak nama dan yang paling terkemuka adalah Muhammad
sall-Allahu ‘alaihi wasallam ibn (putera) Abdullah. Beliau juga adalah
putera Abdul Muttalib, yang namanya adalah Syaybat-ul Hamd, anak Hasyim,
yang namanya adalah Amr; anak dari Abd Manaaf, yang namanya adalah
al-Mughiirah, anak dari Qusai, yang namanya adalah Mujammi’, anak dari
Kilaab, yang namanya Hakiim, ibn Murra, ibn Ka’b (dari suku Quraisy),
ibn Lu’ai, ibn Ghalib, ibn Fihr, yang namanya adalah Kinana, ibn
Khuzaima, ibn Mudrika, ibn Ilias, ibn Mudhar, ibn Nizar, ibn Ma’add, ibn
Adnan.

Ibn Dihia berkata, “Para ulama setuju dan kesepakatan ulama adalah bukti
bahawa Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan
silsilah beliau hingga Adnan, dan tidak menyebutkan di atas itu.” Ibn
‘Abbas radiyAllahu ‘anhu meriwayatkan bahawa bila saja Muhammads all-
Allahu ‘alaihi wasallam menyebutkan silsilahnya beliau tak pernah
menyebut di atas Ma’add, ibn Adnan, dan akan berhenti, dengan
mengatakan, “Para genealogis (ahli silsilah) telah berbohong.” Beliau
akan mengulangi ucapannya itu dua atau tiga kali. Ibn ‘Abbas juga
berkata, “Di antara Adnan dan Isma’il ada tiga puluh ayah yang tak
diketahui [namanya, red.].”

Ka’b al-Ahbaar radiyAllahu ‘anhu berkata, “Ketika cahaya Muhammadsall-
Allahu ‘alaihi wasallam sampai pada Abdul Muttalib, dan dia telah
mencapai usia kedewasaan, dia tidur suatu hari di halaman Ka’bah; ketika
ia bangun, matanya terhitamkan dengan antimony (kohl), rambutnya
terminyaki, ia terhiasi dengan jubah yang indah dan cantik. Ia terkejut,
tak mengetahui siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Ayahnya
menggapai tangannya dan segera membawanya ke tukang ramal Quraisy;
mereka menasihatinya untuk menikah, dan ia pun menikah. Bau dari misk
terbaik biasa memancar keluar dari dirinya, dengan Nur (cahaya) dari
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam berkilauan dari dahinya. Bila saja
terjadi kekeringan, kaum Quraisy biasa membawanya ke Gunung Tsabiir, dan
berdoa kepada Allah melalui dirinya memohon Allah untuk menurunkan
hujan. Allah akan menjawab doa mereka dan menurunkan hujan kerana
barakah dari Nur Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam.” Ketika Abrahah,
raja Yaman datang untuk menghancurkan rumah suci (Ka’bah) dan khabar
tentang ini sampai ke kaum Quraisy, Abd al-Muttalib berkata pada mereka,
“Ia tak akan sampai ke Rumah ini, kerana Rumah ini di bawah perlindungan
Tuhannya.”

Dalam perjalanannya ke Makkah, Abrahah menjarah unta-unta dan domba kaum
Quraisy, di antaranya empat ratus unta betina milik Abd Al-Muttalib. Ia
dan banyak dari kaum Quraisy pergi ke Gunung Tsabiir. Setelah mendaki
gunung tersebut, cahaya dari NabiyAllah sall-Allahu ‘alaihi wasallam
muncul dalam bentuk suatu lingkaran di dahinya seperti sebuah bulan
sabit, dan sinarnya terpantulkan ke Rumah Suci Ka’bah. Ketika ‘Abdul
Muttalib melihat hal itu, ia berkata, “Wahai, kaum Quraisy, engkau boleh
kembali sekarang, sudah aman. Demi Allah, kini cahaya ini telah
membentuk suatu lingkaran pada diriku, tak ada keraguan bahawa
kemenangan menjadi milik kita.”

Mereka kembali ke Makkah, di mana mereka bertemu seorang laki-laki yang
diutus Abrahah. Saat melihat wajah ‘Abdul Muttalib, laki-laki tersebut
tertegun, lidahnya tergagap-gagap. Ia pun pingsan, sambil melenguh
seperti lembu jantan yang tengah disembelih. Ketika ia sedar kembali, ia
pun jatuh bersujud kepada Abdul Muttalib, sambil berkata, “Aku bersaksi
bahawa engkau benar-benar Pemimpin Kaum Quraisy.”

Telah diriwayatkan pula bahawa ketika Abdul Muttalib muncul di depan
Abrahah, gajah putih yang besar dalam pasukannya melihat ke wajah Abdul
Muttalib dan jatuh berlutut seperti seekor unta, dan jatuh bersujud.
Allah membuat gajah tersebut berbicara, berkata, “Keselamatan bagi
cahaya di sulbimu, wahai Abd al-Muttalib.” Ketika pasukan Abrahah
mendekat untuk menghancurkan Ka’bah suci, gajah tadi berlutut kembali.
Mereka memukulinya kepalanya dengan hebat untuk membuatnya berdiri, yang
tak mahu ia lakukan. Tetapi, ketika mereka memutarnya menuju Yaman, ia
pun berdiri. Kemudian Allah mengirimkan untuk melawan mereka,
armada-armada burung dari lautan, setiap ekor dari mereka membawa tiga
batu: satu dalam paruhnya, dan satu dalam setiap cakar kakinya.
Batu-batu itu memiliki ukuran seperti miju-miju, dan jika satu batu
mengenai seorang prajurit, prajurit itu akan terbunuh. Pasukan Abrahah
lari tunggang langgang. Abrahah sendiri terserang suatu penyakit. Hujung
jari-hujung jarinya terlepas, satu demi satu. Tubuhnya mengeluarkan
darah dan nanah, dan akhirnya jantungnya terbelah, dan ia pun tewas.

Peristiwa inilah yang diacu oleh Allah ketika Ia berfirman pada
Nabi-Nyas all- Allahu ‘alaihi wasallam, mengatakan, “Tahukah engkau
bagaimana Tuhanmu memperlakukan Pasukan Gajah…” (QS Al-Fiil:1-5).
Peristiwa ini adalah suatu tanda akan martabat dari junjungan kita,
Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, dan suatu tanda akan kenabiannya,
dan kedudukannya. Peristiwa ini juga menunjukkan kehormatan yang
dikurniakan pada masyarakatnya, dan bagaimana mereka dilindungi, yang
membuat kaum Arab menyerah pada mereka, dan percaya pada kemuliaan dan
keunggulan mereka, kerana adanya perlindungan Allah atas diri mereka dan
pembelaan-Nya pada mereka melawan plot dari Abrahah yang seakan-akan tak
dapat dikalahkan 


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Abu Daud, Bab fil Qadar dan Imam at-Tirmidzi, Bab wa min Sûratil Baqarah

[2] Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan Tafsir Ibnu Katsir , Surat al-Baqarah/2:30

[3]  Lihat Tafsir Ibnu Katsir

[4] Tafsir Ibnu Katsir

[5] Tafsir Ibnu Katsir.

[6] Para Ulama berbeda pendapat tentang jenis buah yang dilarang untuk di makan itu. Sebagian mereka menyebutkan buah anggur dan ada yang berpendapat buah zaitun dan ada yang mengatakan gandum. Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan tafsir Ibnu Katsir

[7] lihat Tafsir Sûratil Baqarah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 129



Read more https://almanhaj.or.id/5919-kisah-penciptaan-nabi-adam-alaihissallam.html




© 2010 salam-umie blogspot.com Design by DzigNine. Powered by Blogger.

Follow By Email


No comments: