اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
Iman Haqqul Yaqin
Iman Haqqul Yaqin
Seterusnya kita kembali kepada tingkatan iman, meneruskan tingkatan diatas fana sebelumnya pada Asma’-Allah.
Jika alam kecil (mikro) manusia adalah sebagai gambaran alam besar (makro) semesta, maka fana pada Asma’-Allah ini jika diumpamakan kepada perjalanan kedirgantaraan yang menggunakan khasiat alam kebendaan seperti pesawat ‘ulang alik’ misalnya; maka metafisik perjalanan alam kerohanian dengan khasiat Kenabian ini, telah berada diatas orbit bulan dalam mengelilingi bumi dan telah dekat keperbatasan langit pertama yang menjadi orbit planet Mars. Itulah sebabnya seorang muttaqin telah dapat melihat isi bumi hatinya yang buruk maupun yang baik.
Iman Áinul-Yaqin ini mengenal Allah sebatas pengenalannya terhadap qalbinya yang berasal dari Nuur Muhammad yaitu alam ruhani dan ruhani yang berasal dari Asma’-Allah tersebut, namun telah dapat untuk menerima syafaát dengan izin Allah pada hari berbangkit dari kenyenyakkan tidur dialam dunia bagi mereka yang lalai kepada dirinya dan kepada Tuhannya.
V. Tingkat IMAN HAQQUL-YAQIN
Demikian pulalah keadaan orang yang bermaqam Haqqul-Yaqin ini, karena ilmu-Laduni telah mulai dibukakan baginya, akan disampaikan kepada manusia atau tidak. Jika disampaikan, manusia akan banyak menolak kebenaran yang telah dicapainya; tetapi bila tidak disampaikan, siapakah yang akan mengemban tugas tersebut, padahal haqnya telah ada sebagai Khalifaturrasul. Bayangan alam cipta Allah itulah yang terjadi kepada manusia; karena seluruh peristiwa alam ini adalah alam Nadzarullah yang turun kepada Nuur Muhammad pada alam ajali, shuluhi qadim dan tanzizi qadim dan terlaksanalah nadzarullah itu kepada alam insaniyah dalam gambaran bentuk dan rupa, ruang dan waktu pada alam semesta, biasan warna dan lambang; cerita dalam arti kata sandiwara Allah pada alam dunia, kissah kembali pada-Nya jua; hanya manusia yang lalai dan lupa apa arti kehidupan ini semua.
Sama’, bashar dan kalam terngiang ditelinga, terpandang dimata, tersebut diujang lidah; kepada siapa tempat menerima berita, ilmu Allah terasa berat didada, disampaikan banyak yang durhaka, malahan mungkin tidak akan percaya; akhirnya akan menjadi fitnah belaka.
Demikianlah keragu-raguan itu bergejolak didalam dada orang-orang yang mulai duduk pada maqam muqarrabin tersebut, bimbang dan ragu untuk menyampaikan ilmu yang diturunkan Allah padanya; padahal Dia-lah yang menurunkan dan Dialah yang menjaganya. Manusia sekedar menyampaikan risalah Tuhannya, memberikan khabar gembira, menjadi saksi dan memberi peringatan kepada sesamanya; sedangkan beriman atau tidaknya manusia itu, kembali kepada urusan Allah. Bukan untuk menyampaikan iman kepada manusia, karena yang demikian itu adalah haq mutlak Allah SWT. dengan sendiri-Nya; menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan mengázab siapa yang dimurkai-Nya.
Alam ini disebut alam akal-fikir yang wadahnya pada otak yang ada dikepala yang dapat untuk berfikir secara normal antara perimbangan hidup dunia dan hidup akhirat; bahkan lebih banyak berfikir tentang akhirat yang kekal daripada dunianya yang sementara.
Jika manusia mempunyai sifat, tentulah ada asma’nya (namanya), maka asma’ manusia itu Afál bagi Allah; maksudnya petaruh Allah yang ada pada qalbi yakni sifat yang diatas itu lahir kepermukaan tubuh: dari qadirun, jelaslah sifat qadrat, dari muridun lahirlah iradat, dari hayyun muncullah hayyat dan dari álimun nyatalah ilmu dan dari kesempurnaannya itu tampaklah sifat wahdaniyah pada afál (perbuatan) Allah yang dinamakan Ke-Maha-Esa-an Allah pada segenap alam tubuh dan demikianlah sampai kepada alam semesta.
Bila manusia mempunyai nama, tentulah manusia itu juga mempunyai perbuatan, maka perbuatan manusia itu adalah kembali kepada Dzat-Allah yang mempunyai sifat: qadirun, muridun, hayyun, álimun, samiún, bashirun dan mutakallimun sebagai sifat ma’nawiyah yang bathin yang mendorong lahirnya sifat: qadrat, iradat, hayyat, ilmu, sama’, bashar, kalam sebagai sifat maáni yang lahirnya tampak pada segenap tubuh dan dengan kenyataan itulah yang disebut sifat wahdaniyat (ke-Esa-an) Allah. Lima belas sifat ini bergantung kepada sifat Dzat-Allah yang lima: wujud, qidam, baqa’, mukhalifatahu lil hawadits, qiyamuhu taála binafsih.
Dengan penjelasan itu, tidak ada lagi satu tempat yang kosong yang tidak diisi oleh sifat-sifat Allah pada segenap tubuh dan semesta alam ini; itulah artinya Tuhan Yang Maha Esa didalam áqidah Islam. Bukan hanya sebutan belaka dengan lidah, tetapi mempunyai faham dan pengertian yang dapat membuat manusia untuk berfikir dan pembuktian dengan amal Thareqatullah untuk menelusuri kebenarannya. Akhirnya akan ditemuinyalah dzati dirinya.
“Hai nafsulmuthmainah (hai jiwa yang tenang)”
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”
“Maka masuklah kedalam jemaáh hamba-hamba-Ku”
“Dan masuklah kedalam surga-Ku”
(Q.S. Al Fajr : 27-30)
Seruan Allah itu ada pada dua waktu, pertama ketika diakhir kalam mereka dengan kalam Dzat Allah, sehingga Izrail tinggal menyaksikan; dan kedua, ketika hari berbangkit. Alangkah nikmatnya dan syahdunya bagi orang-orang yang mendapat seruan yang demikian dari Tuhannya ketika akhir kalamnya dan pada hari berbangkit sehingga huru-hara yaumil mahsyar itu tidak lagi mereka rasakan sebagaimana adanya manusia-manusia yang durhaka dan lupa diri ketika hidup diduniawi ini.
Dalam firman Allah menyatakan :
“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”
(Q.S. Al Alaq : 5)
Maka apabila seorang muqarrabin mendapat pertanyaan dari seseorang yang tidak diketahui jawabannya, maka ia bertanya kerumah Allah yang kecil didalam dadanya (qalbil mu’minin baitullah), maka dari sifat álimun yang dipertaruhkan pada qalbi itutah yang menjawab pertanyaan itu dengan jelas dan terang dan tidak akan hilang karena Allah menyatakan yang artinya :
“Dan sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adzdzikro (kitabullah, petunjuk ingat), dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya”
(Q.S. Al Hijr : 9)
Itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah, bahwa siapa yang mengajarkan ilmunya dengan benar, maka Allah akan menambahinya tanpa susah dan payah mencari dalil-dalil pada buku-buku yang mati yang ditulis. oleh manusia dan Allah itulah Guru yang Hidup lagi Menghidupkan dan memelihara ilmu yang diturunkan-Nya kedalam dada hamba-hamba-Nya yang mengamalkan dzikrullah untuk menyucikan hati itu dari daki-daki alam kebendaan duniawi, maka bersinarlah hakikat dari pancaran-pancaran cahaya Allah yang dilangit maupun yang dibumi (*lihat Surah An Nuur : 35-38). Bayyanul-Haq itu adalah pembicaraan dan perkataan yang haq (benar) menurut konsepsi wahyu, sehingga seorang muqarrabin dalam menyampaikan yang haq itu tidak perlu membaca diktat dan menyusun konsep-konsep pidato dan perkataan; melainkan dalam berbicara itu, Allah-lah yang mengajarinya. Sebagaimana firman Allah yang artinya :
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah”
“Yang telah mengajarkan Al Qurán”
“Menciptakan manusia”
“Mengajarinya pandai berbicara”
(Q.S. Ar Rahmaan : l-4)
Pada maqam tawajjuh ini mereka telah mendapatkan karomah yang dikurniakan Allah bagi Nabi Musa Kalamullah dengan kefasihan berbicara untuk memperkatakan dan menyampaikan khabar yang baik dengan sifat kalam-mutakallimun yang diamanah kan kepada nurani yang menjadi nyata itu.
2) “Ya, Dzatil Wujud…”
Diatas tawajjuh: Ya, Bayyanul Haq; naiklah tingkatan mereka dan Khalifaturrasul pertama kepada Khalifaturrasul kedua.
Dzatil Wujud, artinya diri yang sebenarnya atau diri yang bathin dari manusia yang terbit dari sifat kebesaran Allah (Al Maala il a’la) yang disandarkan kepada Nabi Isa a.s. yang dinyatakan Allah sebagai titelnya yaitu Isa Ruhullah dan Malaikat dengan sebutan Ruhul Quddus (ruh suci) dan Rasulullah sendiri sebagai Ruhul Amin, sehingga ia mendapat gelar dari kaumnya Muhammad “Al Amin”.
Pada maqam ini, terbukalah bashar-bashirun (pandangan) terhadap keadaan ruh manusia yang dibawah tingkatan imannya, yakni dari iman Áinul-Yaqin, Ílmal-Yaqin, iman-Dalil dan iman-Taqlid; bagaimana keadaan ruh mereka ini yang mengambil sifat bimbang dan ragu, sifat hewaniyah, sifat syaitaniyah yang dibukakan Allah bagi pandangan bathin mereka dan hendaknya bila orang-orang yang belum mencapai derajat ketingkat iman muqarrabin ini, janganlah berbicara mengunggulkan kepintaran dan keahlian mereka tentang agama yang diperoleh dari hasil hafalan-hafalan otak yang lemah dari manusia; karena para muqarrabin itu dapat melihat hakikat mereka, suci atau tidak, namun karena hal itu adalah rahasia Allah, mereka tetap menyimpannya didalam hatinya, karena ditakutkan akan menjadi fitnah. Firman Allah yang artinya :
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku; dan tiada kamu diberi pengetahuan (tentang ruh itu), melainkan sedikit saja”
(Q.S., Al Isra’ : 85)
dan lagi firman Allah yang artinya :
“Demi jiwa dan apa yang menyempurnakannya”
“Lalu diilhamkan Allah kepadanya (jalan) yang salah dan (jalan) yang benar”
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya”
“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori (jiwa)nya”
(Q.S. Asy Syamsu : 7-10)
Pada ayat tersebut itu Allah menyatakan urusan ruh adalah urusan Tuhan, dan manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh itu, melainkan sedikit. Dalam hal sedikit itu ada dua pengertian; yaitu sedikit pengetahuan tentang ruh itu yang dibukakan oleh Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan sedikit pula orang-orang yang ditunjuki/dibukakan untuk itu. Kalaupun demikian ada orang yang mengetahuinya, tetapi sangat sedikit; yaitu orang-orang yang beriman yang sebenarnya dapat menyembunyikan rahasia-rahasia Allah kepada yang bukan ahlinya, karena bila dibukakan akan mengakibatkan kesalah fahaman dan menimbulkan fitnah yang besar bagi orang-orang yang akalnya mubtadi (rendah); dimana faham mereka tidak dapat menangkap hal-hal yang tidak berbenda, seperti ahli-ahli hukum fiqh yang tidak menjalani thareqatullah. Para ahli dzikrullah itulah tempat bertanya tentang masalah ruh ini bila sangat diperlukan keterangannya. Diantara Nabi-nabi dan Rasul-rasul; mengenai ruh ini dibukakan Allah kepada nabi Isa yang Allah beri gelar dengan titel Isa Ruhullah. Maka dalam perjalanan bathin melalui Thareqatullah, bila sampai kepada alam malakut ini, akan dibukakan Allah karomah Nabi Isa; sehingga dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit jiwa, orang-orang yang hidupnya merasa resah-gelisah dan orang-orang yang putus asa dalam hidupnya. Demikian pula orang-orang yang jiwanya rusak akibat narkoba dan sejenisnya; dapat mereka sadarkan kembali kepada kehidupan yang beradab dan segala penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan; insya Allah mereka usahakan sembuh dan setelah sembuh mereka akan bawa kejalan yang lurus, sehingga dapat melebihi kepandaian seorang psikiater sebagai ahli ilmu jiwa dalam, tanpa mereka perlu belajar diperguruan tinggi psikologi, tetapi terkadang bisa melebihi para psikolog. Seandainya seorang psikolog mengamalkan thareqatullah ini dengan tekun, disamping ilmu yang dituntutnya diperguruan tinggi, maka Allah menarnbahinya dari sisi yang bathiniyah. Alangkah luas dan dalamnya ilmu mereka dan Allah akan mengangkat derajat mereka ketingkat yang lebih tinggi lagi disisi-Nya. Dan demikian pula semua sarjana pakar ilmu pengetahuan dan teknologi, bila mengamalkan dzikrullah dengan tuntunan yang benar, niscaya ilmu mereka akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sarjana-sarjana yang ada dibumi ini.
Semoga para cendekiawan muslim mengamalkan dzikrullah untuk kebangkitan Islam diakhir zaman ini.
3) “Ya, Sayyidil Amin…”
Pada maqam tawajjuh: Ya, Sayyidil Amin ini adalah kesudahan maqam fana pada Sifatullah, derajat kekhalifahan rasul yang tertinggi; karena perkataan sayyid berarti penghulu atau kepala dari suatu unit. Amin itu adalah suatu perkenaan Allah dalam kebenaran; maka orang-orang muqarrabin yang telah dapat duduk dimaqam ini, Allah mengenankan kebenaran itu baginya dan doánya banyak terkabul.
Kebenaran yang diperoleh Nabi Ibrahim yang mendapat gelar Khalilullah (sahabat, kawan akrab) kepada Allah; ia sanggup mengorbankan anaknya Ismail demi taatnya kepada Allah, tetapi karena tidak ada keraguan baginya, maka ketika Ismail dibaringkan untuk disembelih, malaikat Jibril datang dengan perintah Allah untuk menggantikannya dengan seekor kibas sebagai korban (qurban); maka beliaulah yang menjadi penghulunya keikhlasan dan kejujuran disisi Allah.
Nabi Ibrahim a.s. Khalilullah diperintahkan oleh Allah untuk membangun rumah peribadatan manusia kepada Allah SWT. Ibrahim dan anaknya nabi Ismail lalu membangunnya dilembah Bakkah yang diberkati; yaitu dimaqam Nabi Adam Khalifatullah tempat turunnya sekalian ilmu dengan petunjuk Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”
(Q.S. Ali Imraan : 96)
Nabi Ibrahim dan Ismail inilah arsitek yang tiada tandingannya dalam masalah bangunan yang telah ribuan tahun usia Ka’bah; namun tetap megah sepanjang abad sampai waktu terakhir kelak dunia ini dikiamatkan oleh Allah; barulah bangunan itu diangkat oleh Allah kelangit dan setelah Ka’bah itu terangkat, goncanglah bumi ini.
Kegoncangan bumi itu kelak adalah karena telah diangkatnya jantung bumi, maka habislah masa duniawi menuju kehidupan ukhrawi yang kekal. Bagi mereka yang tidak suci hatinya yang mana Allah bersumpah dengan penyucian untuk penyempurnaannya, tempat kembalinya adalah neraka jahanam dan bagi mereka yang menyucikan hatinya dengan dzikrullah sehingga hati itu bercahaya kembali kepada Allah dengan tidak sedikitpun membawa debu-debu dunia, maka tempat kembalinya adalah surga yang bertingkat tingkat.
Dengan tawajjuh: “Ya, Bayyanul Haq”, tersingkaplah rahasia Kalamullah yang berkah mu’jizatnya bagi Nabi Musa Kalamullah yang berkahnya itu akan turun kepada para Muqarrabin; Dengan tawajuh: “Ya, Dzatil Wujud”, terbukalah rahasia Basharullah yang berkah mu’jizatnya bagi Nabi Isa Ruhullah;
Dengan tawajjuh: “Ya, Sayyidil Amin”, terbukalah hijab “Sami’ Allahu liman hamidah rabbana lakal hamdu” ketika bangkit dari ruku’, berdiri, kemudian sujud. Ketika berdiri dari ruku’ itulah sampainya perjalanan kerohanian manusia ditapal batas antara yang qadim lagi baqa’, yaitu sidratil munthaha dengan yang baharu (bermaqam binasa); itulah perjalanan “Ashalattu mi’rajul mu’minin : Shalat itu mi’rajnya seorang mu’min”.
Dilangit ketujuh itulah maqamnya Nabi Ibrahim Khalilullah menunggu hari kiamat untuk memberkati orang-orang yang sampai perjalanan kerohaniannya ketingkat fana pada Sifatullah; sehingga nama Nabi Ibrahim tercatat dan tersebut didalam shalat pada tahyat-akhir sesudah shalawat Muhammad. “Allahumma shalli ála Saiyyidina Muhammad, wa ála ali Saiyyidina Muhammad; kamaa shallaita ála lbrahim, wa ála ali lbrahim; …”
Pada waktu shalat itu didirikan, maka terliputlah seluruh alam semesta (alam makro) ini kepada alam tubuh si ahli-shalat sejak dari titik fokus matahari sampai menembus tujuh petala bumi dan tujuh petala langit yang berbatas pada sidratil munthaha; itulah tiang agama, siapa mendirikannya, berarti mendirikan agamanya dan barangsiapa yang meninggalkannya, berarti meruntuhkan agama.
Barangsiapa perjalanan kerohaniannya dengan khasiat Kenabian, kendatipun alam tubuh kasarnya berada dibumi; tetapi rahasia Rabbani (Q.S. Ali Imraan : 79) telah terbuka baginya semata-mata dengan rahmat dan kurnia Allah; maka hendaklah ia memotong seekor kibas/kambing sebagai iwat untuk tanda syukur kepada Allah dan memberi makan anak fakir miskin, supaya ilmu-ilmu rahasia Allah itu bertambah berkahnya.
Makna hakiki dari pada perjalanan kerohanian itu didalam shalat sebagai mi’rajnya seorang mu’min, tidak hanya dapat diresapi dengan jiwa yang khusu’, kecuali bagi orang-orang muqarrabin yang bermaqam pada fana Sifatullah. Untuk sampai kepada keadaan yang demikian bukanlah hal yang mudah, tetapi melalui perjalanan panjang dalam amal dzikrullah yang telah dicontohkan kepada nabi sebagai uswatun hasanah yang patut diikuti setiap umat dalam firman Allah yang artinya :
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
(Q.S. AI Isra’ : 1)
“Maha Suci” pada ayat tersebut bermaksud bahwa perjalanan itu bukanlah dihajatkan oleh Muhammad, tetapi adalah atas rahmat. qadrat dan iradat Allah sendiri tanpa campur tangan kehendak yang lain. Jadi Muhammad itu bukan berjalan, tetapi adalah diperjalankan. “Pada suatu malam” bermaksud, manusia itu benar-benar dalam kegelapan jika tidak ditunjuki oleh Allah.
“Dari Masjidil Haram”, bermaksud maqam sekalian jasad dan dari sanalah turun ilmu dan petunjuk kepada sekalian manusia kebumi ini.
“Ke Masjidil Aqsa”, adalah maqam ibu dan turunnya alam ruh, sehingga dengan demikian adalah untuk menunjukkan kepada sekalian manusia, darimana datangnya, dan dari sanalah tempat kembalinya. Barulah dari Masjidil Aqsa itu naik kelangit demi langit yang Allah ciptakan untuk menjadi jalan manusia kembali kepada-Nya yang harus dirintis selagi hidup didunia ini. Jika jalan itu tidak dapat dilihat ketika hidup didunia ini dengan mata bathin, maka kelak akan butalah diakhirat, maka sesatlah jalannya dan tercampaklah mereka itu kepada ázab yang pedih.
“Keberkatan sekelilingnya” itu adalah Nuur Kalimah Tauhid yang senantiasa membasahi lidah dan bibir sejak dari zaman nabi-nabi terdahulu.
“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, maka rahasia bashariyah dan samiún itulah sebagai tanda-tanda kebesaran Allah kepada Muhammad, yang kemudian perjalanan itu diikuti oleh para sahabatnya yang sambung menyambung silsilahnya sampai kepada ahli-thareqat yang mulia itu.
Jika alam kecil (mikro) manusia adalah sebagai gambaran alam besar (makro) semesta, maka fana pada Asma’-Allah ini jika diumpamakan kepada perjalanan kedirgantaraan yang menggunakan khasiat alam kebendaan seperti pesawat ‘ulang alik’ misalnya; maka metafisik perjalanan alam kerohanian dengan khasiat Kenabian ini, telah berada diatas orbit bulan dalam mengelilingi bumi dan telah dekat keperbatasan langit pertama yang menjadi orbit planet Mars. Itulah sebabnya seorang muttaqin telah dapat melihat isi bumi hatinya yang buruk maupun yang baik.
Iman Áinul-Yaqin ini mengenal Allah sebatas pengenalannya terhadap qalbinya yang berasal dari Nuur Muhammad yaitu alam ruhani dan ruhani yang berasal dari Asma’-Allah tersebut, namun telah dapat untuk menerima syafaát dengan izin Allah pada hari berbangkit dari kenyenyakkan tidur dialam dunia bagi mereka yang lalai kepada dirinya dan kepada Tuhannya.
V. Tingkat IMAN HAQQUL-YAQIN
- Ditilik dari sifat-sifat Allah, Iman Haqqul-Yaqin ini adalah termasuk derajat Sifat-Allah yang mencakup sifat-sifat: sama’, bashar, kalam, samiún, bashirun dan mutakallimun (enam sifat); yang jika dizahirkan kealam nyata, tiga sifat: sama’, bashar dan kalam akan nyata kepada telinga, mata dan lidah sedangkan yang tiga sifat lagi: samiún, bashirun dan mutakallimun akan tetap ghaib dialam asma’ dan sifat yang enam tersebut, itulah yang menjadi nyawa/ruh manusia; Nurani bagi Muhammad dan Sifat bagi Allah yang berdiri kepada Dzat-Nya. Ruh itulah yang mengenal dirinya, melihat, mendengar dan berkata-kata.
- Dari kejadian enam masa Allah menjadikan langit dan bumi, iman Haqqul-Yaqin ini berada ditingkat Shuluhi Qadim.
Demikian pulalah keadaan orang yang bermaqam Haqqul-Yaqin ini, karena ilmu-Laduni telah mulai dibukakan baginya, akan disampaikan kepada manusia atau tidak. Jika disampaikan, manusia akan banyak menolak kebenaran yang telah dicapainya; tetapi bila tidak disampaikan, siapakah yang akan mengemban tugas tersebut, padahal haqnya telah ada sebagai Khalifaturrasul. Bayangan alam cipta Allah itulah yang terjadi kepada manusia; karena seluruh peristiwa alam ini adalah alam Nadzarullah yang turun kepada Nuur Muhammad pada alam ajali, shuluhi qadim dan tanzizi qadim dan terlaksanalah nadzarullah itu kepada alam insaniyah dalam gambaran bentuk dan rupa, ruang dan waktu pada alam semesta, biasan warna dan lambang; cerita dalam arti kata sandiwara Allah pada alam dunia, kissah kembali pada-Nya jua; hanya manusia yang lalai dan lupa apa arti kehidupan ini semua.
Sama’, bashar dan kalam terngiang ditelinga, terpandang dimata, tersebut diujang lidah; kepada siapa tempat menerima berita, ilmu Allah terasa berat didada, disampaikan banyak yang durhaka, malahan mungkin tidak akan percaya; akhirnya akan menjadi fitnah belaka.
Demikianlah keragu-raguan itu bergejolak didalam dada orang-orang yang mulai duduk pada maqam muqarrabin tersebut, bimbang dan ragu untuk menyampaikan ilmu yang diturunkan Allah padanya; padahal Dia-lah yang menurunkan dan Dialah yang menjaganya. Manusia sekedar menyampaikan risalah Tuhannya, memberikan khabar gembira, menjadi saksi dan memberi peringatan kepada sesamanya; sedangkan beriman atau tidaknya manusia itu, kembali kepada urusan Allah. Bukan untuk menyampaikan iman kepada manusia, karena yang demikian itu adalah haq mutlak Allah SWT. dengan sendiri-Nya; menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan mengázab siapa yang dimurkai-Nya.
- Alam yang dilalui untuk mencapai tingkat iman Haqqul-Yaqin.
Alam ini disebut alam akal-fikir yang wadahnya pada otak yang ada dikepala yang dapat untuk berfikir secara normal antara perimbangan hidup dunia dan hidup akhirat; bahkan lebih banyak berfikir tentang akhirat yang kekal daripada dunianya yang sementara.
- 4. Tingkat rukun-iman, Percaya Kepada Malaikat.
- Tingkatan iman ini disebut Haqqul-Yaqin, maksudnya telah mengenal yang haq bagi dirinya. Yang haq disini adalah hakikat dirinya, yaitu ruh.
Jika manusia mempunyai sifat, tentulah ada asma’nya (namanya), maka asma’ manusia itu Afál bagi Allah; maksudnya petaruh Allah yang ada pada qalbi yakni sifat yang diatas itu lahir kepermukaan tubuh: dari qadirun, jelaslah sifat qadrat, dari muridun lahirlah iradat, dari hayyun muncullah hayyat dan dari álimun nyatalah ilmu dan dari kesempurnaannya itu tampaklah sifat wahdaniyah pada afál (perbuatan) Allah yang dinamakan Ke-Maha-Esa-an Allah pada segenap alam tubuh dan demikianlah sampai kepada alam semesta.
Bila manusia mempunyai nama, tentulah manusia itu juga mempunyai perbuatan, maka perbuatan manusia itu adalah kembali kepada Dzat-Allah yang mempunyai sifat: qadirun, muridun, hayyun, álimun, samiún, bashirun dan mutakallimun sebagai sifat ma’nawiyah yang bathin yang mendorong lahirnya sifat: qadrat, iradat, hayyat, ilmu, sama’, bashar, kalam sebagai sifat maáni yang lahirnya tampak pada segenap tubuh dan dengan kenyataan itulah yang disebut sifat wahdaniyat (ke-Esa-an) Allah. Lima belas sifat ini bergantung kepada sifat Dzat-Allah yang lima: wujud, qidam, baqa’, mukhalifatahu lil hawadits, qiyamuhu taála binafsih.
Dengan penjelasan itu, tidak ada lagi satu tempat yang kosong yang tidak diisi oleh sifat-sifat Allah pada segenap tubuh dan semesta alam ini; itulah artinya Tuhan Yang Maha Esa didalam áqidah Islam. Bukan hanya sebutan belaka dengan lidah, tetapi mempunyai faham dan pengertian yang dapat membuat manusia untuk berfikir dan pembuktian dengan amal Thareqatullah untuk menelusuri kebenarannya. Akhirnya akan ditemuinyalah dzati dirinya.
- Tingkatan manusia yang sampai kepada Sifat-Allah ini dialam malakut disebut Muqarrabin, artinya orang yang qarib (dekat, hampir) kepada Tuhannya dalam segala keadaan dan kondisi dengan rasa iman, rasa Islam, rasa tauhid, dan rasa Nuurullah sehingga ia tidak dapat lagi untuk lari dari pada-Nya; melainkan patuh dan tunduk dan mereka yang duduk dimaqam ini tidak lagi membaca Al Qurán secara harfiyah, tetapi mengenal makna dan tujuannya yang hakiki, dan tidak menafsirkannya dengan akal fikir yang lemah dari manusia, melainkan makna yang hakiki itu adalah dengan petunjuk Allah jua.
- Derajat kekhalifahan yang diraih oleh orang-orang muqarrabin ini adalah Khalifaturrasul (dalam ilmu thareqat disebut: Syeikh Muda) dan telah dapat membaiát orang-orang yang akan berjalan dijalan Allah, tetapi masih dibawah tuntunan guru mursyidnya.
- Tingkat nafsu mereka ini adalah Nafsulmuthmainah, jiwanya tenang, tulus mulus, suci murni dalam berbakti kepada Allah semata-mata, bukan lagi karena mencari pahala dan takut kepada dosa; melainkan mereka tahu bahwa Allah tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Nya. Mereka inilah yang mendapat seruan dari Tuhannya dengan seruan Allah yang artinya:
“Hai nafsulmuthmainah (hai jiwa yang tenang)”
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”
“Maka masuklah kedalam jemaáh hamba-hamba-Ku”
“Dan masuklah kedalam surga-Ku”
(Q.S. Al Fajr : 27-30)
Seruan Allah itu ada pada dua waktu, pertama ketika diakhir kalam mereka dengan kalam Dzat Allah, sehingga Izrail tinggal menyaksikan; dan kedua, ketika hari berbangkit. Alangkah nikmatnya dan syahdunya bagi orang-orang yang mendapat seruan yang demikian dari Tuhannya ketika akhir kalamnya dan pada hari berbangkit sehingga huru-hara yaumil mahsyar itu tidak lagi mereka rasakan sebagaimana adanya manusia-manusia yang durhaka dan lupa diri ketika hidup diduniawi ini.
- Tingkat dirinya yang hakiki telah diketahuinya yaitu Nurani yang terbit dari Sifat-Allah dan menjadi nyawa/ruh manusia (*lihat keterangan no.5).
- Tingkat kefanaan, adalah fana pada Sifatullah yang menjadi hakikatnya manusia dari derajat Sifatullah.
- Hal keadaan syafaát, mereka telah mendapat syafaát sendiri dengan panggilan Allah Yang Maha Tinggi kepadanya dengan seruan nafsulmuthmainah.
- Tingkat kalam tauhid yang dilalui dalam berjalan menuju Allah adalah kalam llaaha, artinya terkaya dari segala yang ada ini; pada derajat sifat-Allah yang mengandung: sama’-samiun, bashar-bashirun, kalam-mutakallimun, maka ruh itulah yang dipertaruhkan untuk: melihat yang diperlihatkan, mendengar yang diperdengarkan dan berkata yang diperkatakan.
- Seruan/tawajjuh mereka kepada Allah apabila hendak berkomunikasi dengan Tuhannya, adalah :
Dalam firman Allah menyatakan :
“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”
(Q.S. Al Alaq : 5)
Maka apabila seorang muqarrabin mendapat pertanyaan dari seseorang yang tidak diketahui jawabannya, maka ia bertanya kerumah Allah yang kecil didalam dadanya (qalbil mu’minin baitullah), maka dari sifat álimun yang dipertaruhkan pada qalbi itutah yang menjawab pertanyaan itu dengan jelas dan terang dan tidak akan hilang karena Allah menyatakan yang artinya :
“Dan sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adzdzikro (kitabullah, petunjuk ingat), dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya”
(Q.S. Al Hijr : 9)
Itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah, bahwa siapa yang mengajarkan ilmunya dengan benar, maka Allah akan menambahinya tanpa susah dan payah mencari dalil-dalil pada buku-buku yang mati yang ditulis. oleh manusia dan Allah itulah Guru yang Hidup lagi Menghidupkan dan memelihara ilmu yang diturunkan-Nya kedalam dada hamba-hamba-Nya yang mengamalkan dzikrullah untuk menyucikan hati itu dari daki-daki alam kebendaan duniawi, maka bersinarlah hakikat dari pancaran-pancaran cahaya Allah yang dilangit maupun yang dibumi (*lihat Surah An Nuur : 35-38). Bayyanul-Haq itu adalah pembicaraan dan perkataan yang haq (benar) menurut konsepsi wahyu, sehingga seorang muqarrabin dalam menyampaikan yang haq itu tidak perlu membaca diktat dan menyusun konsep-konsep pidato dan perkataan; melainkan dalam berbicara itu, Allah-lah yang mengajarinya. Sebagaimana firman Allah yang artinya :
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah”
“Yang telah mengajarkan Al Qurán”
“Menciptakan manusia”
“Mengajarinya pandai berbicara”
(Q.S. Ar Rahmaan : l-4)
Pada maqam tawajjuh ini mereka telah mendapatkan karomah yang dikurniakan Allah bagi Nabi Musa Kalamullah dengan kefasihan berbicara untuk memperkatakan dan menyampaikan khabar yang baik dengan sifat kalam-mutakallimun yang diamanah kan kepada nurani yang menjadi nyata itu.
2) “Ya, Dzatil Wujud…”
Diatas tawajjuh: Ya, Bayyanul Haq; naiklah tingkatan mereka dan Khalifaturrasul pertama kepada Khalifaturrasul kedua.
Dzatil Wujud, artinya diri yang sebenarnya atau diri yang bathin dari manusia yang terbit dari sifat kebesaran Allah (Al Maala il a’la) yang disandarkan kepada Nabi Isa a.s. yang dinyatakan Allah sebagai titelnya yaitu Isa Ruhullah dan Malaikat dengan sebutan Ruhul Quddus (ruh suci) dan Rasulullah sendiri sebagai Ruhul Amin, sehingga ia mendapat gelar dari kaumnya Muhammad “Al Amin”.
Pada maqam ini, terbukalah bashar-bashirun (pandangan) terhadap keadaan ruh manusia yang dibawah tingkatan imannya, yakni dari iman Áinul-Yaqin, Ílmal-Yaqin, iman-Dalil dan iman-Taqlid; bagaimana keadaan ruh mereka ini yang mengambil sifat bimbang dan ragu, sifat hewaniyah, sifat syaitaniyah yang dibukakan Allah bagi pandangan bathin mereka dan hendaknya bila orang-orang yang belum mencapai derajat ketingkat iman muqarrabin ini, janganlah berbicara mengunggulkan kepintaran dan keahlian mereka tentang agama yang diperoleh dari hasil hafalan-hafalan otak yang lemah dari manusia; karena para muqarrabin itu dapat melihat hakikat mereka, suci atau tidak, namun karena hal itu adalah rahasia Allah, mereka tetap menyimpannya didalam hatinya, karena ditakutkan akan menjadi fitnah. Firman Allah yang artinya :
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku; dan tiada kamu diberi pengetahuan (tentang ruh itu), melainkan sedikit saja”
(Q.S., Al Isra’ : 85)
dan lagi firman Allah yang artinya :
“Demi jiwa dan apa yang menyempurnakannya”
“Lalu diilhamkan Allah kepadanya (jalan) yang salah dan (jalan) yang benar”
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya”
“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori (jiwa)nya”
(Q.S. Asy Syamsu : 7-10)
Pada ayat tersebut itu Allah menyatakan urusan ruh adalah urusan Tuhan, dan manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh itu, melainkan sedikit. Dalam hal sedikit itu ada dua pengertian; yaitu sedikit pengetahuan tentang ruh itu yang dibukakan oleh Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan sedikit pula orang-orang yang ditunjuki/dibukakan untuk itu. Kalaupun demikian ada orang yang mengetahuinya, tetapi sangat sedikit; yaitu orang-orang yang beriman yang sebenarnya dapat menyembunyikan rahasia-rahasia Allah kepada yang bukan ahlinya, karena bila dibukakan akan mengakibatkan kesalah fahaman dan menimbulkan fitnah yang besar bagi orang-orang yang akalnya mubtadi (rendah); dimana faham mereka tidak dapat menangkap hal-hal yang tidak berbenda, seperti ahli-ahli hukum fiqh yang tidak menjalani thareqatullah. Para ahli dzikrullah itulah tempat bertanya tentang masalah ruh ini bila sangat diperlukan keterangannya. Diantara Nabi-nabi dan Rasul-rasul; mengenai ruh ini dibukakan Allah kepada nabi Isa yang Allah beri gelar dengan titel Isa Ruhullah. Maka dalam perjalanan bathin melalui Thareqatullah, bila sampai kepada alam malakut ini, akan dibukakan Allah karomah Nabi Isa; sehingga dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit jiwa, orang-orang yang hidupnya merasa resah-gelisah dan orang-orang yang putus asa dalam hidupnya. Demikian pula orang-orang yang jiwanya rusak akibat narkoba dan sejenisnya; dapat mereka sadarkan kembali kepada kehidupan yang beradab dan segala penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan; insya Allah mereka usahakan sembuh dan setelah sembuh mereka akan bawa kejalan yang lurus, sehingga dapat melebihi kepandaian seorang psikiater sebagai ahli ilmu jiwa dalam, tanpa mereka perlu belajar diperguruan tinggi psikologi, tetapi terkadang bisa melebihi para psikolog. Seandainya seorang psikolog mengamalkan thareqatullah ini dengan tekun, disamping ilmu yang dituntutnya diperguruan tinggi, maka Allah menarnbahinya dari sisi yang bathiniyah. Alangkah luas dan dalamnya ilmu mereka dan Allah akan mengangkat derajat mereka ketingkat yang lebih tinggi lagi disisi-Nya. Dan demikian pula semua sarjana pakar ilmu pengetahuan dan teknologi, bila mengamalkan dzikrullah dengan tuntunan yang benar, niscaya ilmu mereka akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sarjana-sarjana yang ada dibumi ini.
Semoga para cendekiawan muslim mengamalkan dzikrullah untuk kebangkitan Islam diakhir zaman ini.
3) “Ya, Sayyidil Amin…”
Pada maqam tawajjuh: Ya, Sayyidil Amin ini adalah kesudahan maqam fana pada Sifatullah, derajat kekhalifahan rasul yang tertinggi; karena perkataan sayyid berarti penghulu atau kepala dari suatu unit. Amin itu adalah suatu perkenaan Allah dalam kebenaran; maka orang-orang muqarrabin yang telah dapat duduk dimaqam ini, Allah mengenankan kebenaran itu baginya dan doánya banyak terkabul.
Kebenaran yang diperoleh Nabi Ibrahim yang mendapat gelar Khalilullah (sahabat, kawan akrab) kepada Allah; ia sanggup mengorbankan anaknya Ismail demi taatnya kepada Allah, tetapi karena tidak ada keraguan baginya, maka ketika Ismail dibaringkan untuk disembelih, malaikat Jibril datang dengan perintah Allah untuk menggantikannya dengan seekor kibas sebagai korban (qurban); maka beliaulah yang menjadi penghulunya keikhlasan dan kejujuran disisi Allah.
Nabi Ibrahim a.s. Khalilullah diperintahkan oleh Allah untuk membangun rumah peribadatan manusia kepada Allah SWT. Ibrahim dan anaknya nabi Ismail lalu membangunnya dilembah Bakkah yang diberkati; yaitu dimaqam Nabi Adam Khalifatullah tempat turunnya sekalian ilmu dengan petunjuk Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”
(Q.S. Ali Imraan : 96)
Nabi Ibrahim dan Ismail inilah arsitek yang tiada tandingannya dalam masalah bangunan yang telah ribuan tahun usia Ka’bah; namun tetap megah sepanjang abad sampai waktu terakhir kelak dunia ini dikiamatkan oleh Allah; barulah bangunan itu diangkat oleh Allah kelangit dan setelah Ka’bah itu terangkat, goncanglah bumi ini.
Kegoncangan bumi itu kelak adalah karena telah diangkatnya jantung bumi, maka habislah masa duniawi menuju kehidupan ukhrawi yang kekal. Bagi mereka yang tidak suci hatinya yang mana Allah bersumpah dengan penyucian untuk penyempurnaannya, tempat kembalinya adalah neraka jahanam dan bagi mereka yang menyucikan hatinya dengan dzikrullah sehingga hati itu bercahaya kembali kepada Allah dengan tidak sedikitpun membawa debu-debu dunia, maka tempat kembalinya adalah surga yang bertingkat tingkat.
Dengan tawajjuh: “Ya, Bayyanul Haq”, tersingkaplah rahasia Kalamullah yang berkah mu’jizatnya bagi Nabi Musa Kalamullah yang berkahnya itu akan turun kepada para Muqarrabin; Dengan tawajuh: “Ya, Dzatil Wujud”, terbukalah rahasia Basharullah yang berkah mu’jizatnya bagi Nabi Isa Ruhullah;
Dengan tawajjuh: “Ya, Sayyidil Amin”, terbukalah hijab “Sami’ Allahu liman hamidah rabbana lakal hamdu” ketika bangkit dari ruku’, berdiri, kemudian sujud. Ketika berdiri dari ruku’ itulah sampainya perjalanan kerohanian manusia ditapal batas antara yang qadim lagi baqa’, yaitu sidratil munthaha dengan yang baharu (bermaqam binasa); itulah perjalanan “Ashalattu mi’rajul mu’minin : Shalat itu mi’rajnya seorang mu’min”.
Dilangit ketujuh itulah maqamnya Nabi Ibrahim Khalilullah menunggu hari kiamat untuk memberkati orang-orang yang sampai perjalanan kerohaniannya ketingkat fana pada Sifatullah; sehingga nama Nabi Ibrahim tercatat dan tersebut didalam shalat pada tahyat-akhir sesudah shalawat Muhammad. “Allahumma shalli ála Saiyyidina Muhammad, wa ála ali Saiyyidina Muhammad; kamaa shallaita ála lbrahim, wa ála ali lbrahim; …”
Pada waktu shalat itu didirikan, maka terliputlah seluruh alam semesta (alam makro) ini kepada alam tubuh si ahli-shalat sejak dari titik fokus matahari sampai menembus tujuh petala bumi dan tujuh petala langit yang berbatas pada sidratil munthaha; itulah tiang agama, siapa mendirikannya, berarti mendirikan agamanya dan barangsiapa yang meninggalkannya, berarti meruntuhkan agama.
Barangsiapa perjalanan kerohaniannya dengan khasiat Kenabian, kendatipun alam tubuh kasarnya berada dibumi; tetapi rahasia Rabbani (Q.S. Ali Imraan : 79) telah terbuka baginya semata-mata dengan rahmat dan kurnia Allah; maka hendaklah ia memotong seekor kibas/kambing sebagai iwat untuk tanda syukur kepada Allah dan memberi makan anak fakir miskin, supaya ilmu-ilmu rahasia Allah itu bertambah berkahnya.
Makna hakiki dari pada perjalanan kerohanian itu didalam shalat sebagai mi’rajnya seorang mu’min, tidak hanya dapat diresapi dengan jiwa yang khusu’, kecuali bagi orang-orang muqarrabin yang bermaqam pada fana Sifatullah. Untuk sampai kepada keadaan yang demikian bukanlah hal yang mudah, tetapi melalui perjalanan panjang dalam amal dzikrullah yang telah dicontohkan kepada nabi sebagai uswatun hasanah yang patut diikuti setiap umat dalam firman Allah yang artinya :
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
(Q.S. AI Isra’ : 1)
“Maha Suci” pada ayat tersebut bermaksud bahwa perjalanan itu bukanlah dihajatkan oleh Muhammad, tetapi adalah atas rahmat. qadrat dan iradat Allah sendiri tanpa campur tangan kehendak yang lain. Jadi Muhammad itu bukan berjalan, tetapi adalah diperjalankan. “Pada suatu malam” bermaksud, manusia itu benar-benar dalam kegelapan jika tidak ditunjuki oleh Allah.
“Dari Masjidil Haram”, bermaksud maqam sekalian jasad dan dari sanalah turun ilmu dan petunjuk kepada sekalian manusia kebumi ini.
“Ke Masjidil Aqsa”, adalah maqam ibu dan turunnya alam ruh, sehingga dengan demikian adalah untuk menunjukkan kepada sekalian manusia, darimana datangnya, dan dari sanalah tempat kembalinya. Barulah dari Masjidil Aqsa itu naik kelangit demi langit yang Allah ciptakan untuk menjadi jalan manusia kembali kepada-Nya yang harus dirintis selagi hidup didunia ini. Jika jalan itu tidak dapat dilihat ketika hidup didunia ini dengan mata bathin, maka kelak akan butalah diakhirat, maka sesatlah jalannya dan tercampaklah mereka itu kepada ázab yang pedih.
“Keberkatan sekelilingnya” itu adalah Nuur Kalimah Tauhid yang senantiasa membasahi lidah dan bibir sejak dari zaman nabi-nabi terdahulu.
“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, maka rahasia bashariyah dan samiún itulah sebagai tanda-tanda kebesaran Allah kepada Muhammad, yang kemudian perjalanan itu diikuti oleh para sahabatnya yang sambung menyambung silsilahnya sampai kepada ahli-thareqat yang mulia itu.
Iman Haqqul Yaqin
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................

No comments:
Post a Comment