27 March 2020

Tingkat IMAN-DALIL



 ‏اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)‎  
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)‎
Denyutan Nadiku dengan  Alhamdulillah  (الْحَمْدُ لِلَّهِ)‎
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH  (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)‎
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar   (اللَّهُ أَكْبَرُ)‎
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ    ...اللهَ 

 Tingkat IMAN-DALIL


Iman Dalil

0

II.         Tingkat IMAN-DALIL

  1. Dari sifat-sifat Allah, sama dengan iman-Taqlid, yaitu masih memandang alam kebendaan.
  1. Dari kejadian enam masa, iman-Dalil ini berada ditingkat Tanzizi-Muqaddar (alam dunia), berarti iman yang telah mulai hidup dan dapat tumbuh untuk berkembang; tidak lagi apatis dan statis, tetapi mulai dinamis.
Mereka beragama bukan lagi karena turunan, tetapi telah berfikir tentang alam dan tentang Maha Pencipta sebagaimana dahulunya Nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan meneliti tiap-tiap sesuatu pada alam ini dan mereka-reka dalam alam fikirnya; apakah bulan, ataukah bintang atau mungkin matahari itulah Tuhan; karena matahari itu dilihatnya yang menerangi semesta ini, tetapi ketika malam, matahari tenggelam dan hilang dari pandangan mata.
Lalu Ibrahim berfikir, mana mungkin Tuhan bisa timbul tenggelam; tetapi kalau bukan matahari, mana Dia, mungkin juga seluruh alam, tetapi dirinya sendiri adalah alam.
Begitulah iman-Dalil ini dalam kepercayaannya, masih dalam rabaan dan menduga-duga dan menganggap Tuhan itu bertempat dilangit.
  1. Alam yang dilalui untuk mencapai tingkat iman seperti ini, masih sama dengan iman-Taqlid; yaitu alam-Nasut (alam nyata) ini.
  1. Ditinjau dari susunan dan urutan rukun iman, iman-Dalil ini sejajar dengan “Hari Kiamat”, ini berarti iman-Dalil masih bermaqam (berkedudukan) binasa, belum dapat dihadapkan kepada Allah dialam Yaumil Mahsyar nanti; yakni iman yang kiamat. Kalau demikian, masih memerlukan peningkatan yang lebih tinggi untuk menghidupkan iman yang ada didalam dada.
  1. Tingkat iman, adalah Iman-Dalil yang sedang kita bicarakan ini; yaitu ia mengakui adanya Tuhan, karena adanya alam ini sebagai dalil.
Ia melihat sebuah meja, meja itu tidak mungkin ada kalau tidak ada tukang yang membuatnya; maka demikian juga alam ini, tidak mungkin terjadi dengan sendirinya kalau tidak dijadikan Tuhan yang bernama Allah. Belum terfikir olehnya, jika alam ini tidak ada, apakah Allah juga tidak ada? Belum terpecahkan oleh alam fikirnya.
  1. Dari sisi manusianya, mereka telah bermaqam Mu’min; karena telah mulai berfikir dan mencari, bagaimanakah Allah yang sesungguhnya itu dan dari sifat-sifat Allah mereka ini belum memeriksa dan mengenalinya. Tetapi mereka ini akan menjadi mu’minasi bila mengingkari adanya sifat-sifat Allah yang dipertaruhkan kepada manusia dan ada kalanya mereka mengatakan bahwa mempelajari sifat-sifat Allah yang dibagi-bagi dalam kalimah Laa Ilaaha Illa Allah dalam empat derajat itu adalah bidáh dan bidáh itu adalah ahli neraka; maka pendapat seperti ini dengan secara tidak sadar telah memisahkan dirinya jauh daripada Allah dan berfaham Qadariyah, yaitu Allah itu duduk dalam suatu tempat yang tinggi dan dia sebagai seorang hamba yang mengabdi dibumi; maka Allah memperhatikan tingkah lakunya dari tempat yang tinggi itu dan pekerjaan kebaikannya itu akan menghasilkan pahala dan kejahatannya akan menghasilkan dosa. Secara tidak sadar bahwa pekerjaan baharu itu memberi bekas, maka ketika itu ia telah menguasai sifat- sifat Allah untuk digunakannya menyembah Allah. Dia tidak mengakui bahwa antara makhluk dan Khaliq, sesungguhnya tidak terpisah, tidak bercerai, namun tidak pula hal yang bersekutu. Semua itu ditolaknya dari dasar tauhid, jadilah ia orang yang merugi.
  1. Derajat kekhalifahan, belum ada; karena masih diderajat awam. Bahkan dapat rusak dari mu’minnya bila salah áqidahnya tentang keberadaan Allah yang amat jauh daripadanya. Padahal Allah itu terlebih hampir daripada urat lehernya.
  1. Dari sisi nafsu (diri)nya (*lihat gambaran alam mikro yang lalu), iman-Dalil ini masih setingkat dengan nafsu syaitaniyah, yaitu nafsu hewaniyah karena masih dipengaruhi alam hawa (pengaruh buruk) yang tetap masih menariknya kealam Naar (lumpur logam), sedangkan daya tarik alam malaikat masih jauh dari pada iman-Dalil ini.
  1. Dari tingkat kejadian dirinya yang berasal dari Nuur Muhammad, masih setaraf dengan iman-Taqlid; ia masih mengenal tubuh/jasmaniyahnya, belum mengenal insaniyahnya; atau tidak mengakui sama sekali. Bila ia tidak mengakui adanya Nuur Muhammad, jatuhlah ia kembali kelembah Taqlid atau diluar iman sama sekali karena membantah firman dan hadits yang menjadi dasar kepercayaan pada rukun iman.
  1. Dari sisi tingkat kefanaan sihamba dalam mengenal Allah belum ada pada mereka ini. Fana bagi mereka adalah mati kealam ghaib, sama halnya orang-orang yang beriman Taqlid.
  1. Hal keadaan syafaát, tidak/belum mendapatkannya; kecuali mereka mengamalkan Thareqatullah dengan mencari tuntunan sebagaimana halnya yang telah diterangkan pada iman-Taqlid yang lalu.
  1. Tingkat kalam tauhid ada pada kalam “Allah”, sama seperti iman-Taqlid.
  1. Seruan untuk bertawajjuh/berhadap kepada Allah dalam memutuskan masalah yang pelik, bagi iman-Dalil ini adalah “Ya, Rasulullah…”, maksudnya mereka mencari dalil hadits-hadits Rasulullah terutama yang shahih yang diperawikan oleh Bukhari, Muslim, dll.; tetapi Hadits-Qudsiy mereka tidak memakainya; kendatipun hadits qudsiy itu derajatnya lebih tinggi dari hadits biasa; tetapi firman Allah yang berada dibawah Al Quran dan tidak dapat dimasukkan sebagai firman yang resmi didalam Kitab Suci.
Kendatipun iman-dalil ini mencari dan memutuskan hukum-hukum Allah dengan hadits-hadits yang kuat, tetapi mereka belum mengenal hakikat hadits itu sendiri, walaupun ratusan ribu hadits yang mereka hafal. Namun beramal yang diwiridkan, seperti dzikrullah, belumlah mereka laksanakan. Seperti keadaannya tukang jual buah misalnya, segala macam dan jenis buah ada pada kiosnya untuk dijual, namun dia sendiri belum pernah mengecapi nikmat buah yang dijualnya; ataupun seperti penjual kain yang menjual bermacam jenis kain yang mahal namun dia sendiri belum pernah memakai kain yang dijualnya itu; maka alangkah meruginya mereka dengan keahliannya itu.
Berapa banyak ahli-ahli hadits yang hanya menghafal hadits-hadits, tetapi dia sendiri belum mengenal hakikat hadits, padahal hadist itu terbagi kepada tiga bagian, yaitu :
Pertama       : Perkataan Rasulullah saw. Kepada para sahabatnya dan seterusnya yang sampai kepada zaman kita ini, adalah merupakan hukum Syariát-Fiqh.
Kedua           : Diamnya Rasul itu bila ditanya, atau karena tidak ada lawannya bicara; maka diamnya itu menjadi Thareqat; disebabkan hati nabi itu tidak sunyi dari dzikrullah  yang beratus-ratus pula ayat-ayat Al Qurán yang menyuruh manusia untuk berdzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi; waktu berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi atau Dzikrul-maut. Itulah keadaan diam Nabi, yaitu Thareqat-Tashauf.
Ketiga           : Segala perbuatan nabi adalah menjadi Hakikat-Tauhid. Sewaktu Rasulullah melempar musuhnya dengan tombak, Allah berfirman yang artinya :
“Tidaklah engkau yang melempar (Ya, Muhammad) ketika engkau melempar, tetapi kamilah yang melempar ketika engkau melempar”

Dari keterangan ayat tersebut jelaslah setiap perbuatan nabi itu menjadi hakikat-tauhid.  Dan Al Qurán yang tiga puluh Juzu’ itulah pada hakikatnya prilaku dan pribadi Muhammad. Beliaulah pelaksana 100% yang tercantum dalam A1 Qurán sebagai pionir dan suri tauladannya yang menjadi uswatun hasanahnya untuk umatnya yang mcngikuti jejaknya sejak awal-akhir, zahir-bathin.
Bila seseorang yang benar-benar menjadi ahli hadits yang beratus ribu hadits dihafalnya, pastilah ia melaksanakan hakikat hadits tersebut; ia menjadi seorang ahli syariát-fiqh, menjadi ahli thareqat-tashauf dan sekaligus menjadi ahli hakikat-tauhid dalam menuju ahli ma’rifah hikmah sebagai kesimpulan seluruh ilmu Islam. Kalau keempat derajat ilmu itu tidak dikuasai oleh seorang ahli hadits, maka tidaklah pantas ia disebut sebagai Amirul Hadits; karena guna hadits itu dihafal adalah untuk diamalkan isinya, bukan untuk mendapat nama dari kawan, berlomba untuk mencari ketenaran dunia.
Kendatipun sepotong hadits yang diketahuinya dan diamalkannya dengan tekun, umpama sabda Rasulullah yang artinya :
“Barangsiapa pada akhir kalamnya berada dalam kandungan kalimah Laaillahaillallah, maka ia itu ahli surga dan tiada hisab baginya”

lalu orang itu mencari guru buat menuntunnya kejalan pengamalan ilmu tersebut (ilmu wajib dengan amal dan amal wajib dengan ilmu), maka Allah akan membukakan rahasia-rahasia-Nya yang ghaib dan akan menerima ilmu-hikmah yang banyak berkahnya dan mengetahui jalannya kembali kepada Allah jika sampai masanya; padahal modalnya cukup satu hadits saja, tetapi bukanlah dalam mengamalkan kalimah yang diwiridkannya itu meninggalkan syariát yang lain, seperti shalat, puasa, dll. Bukan sama sekali!
Hal itu sama misalnya dengan seorang kaya yang memiliki uang ratusan ribu rupiah, bahkan puluhan juta. Uang itu disimpannya saja dirumah didalam peti kayu yang kuat. Uang itu tidak dipergunakan untuk berniaga, karena ia takut rugi waktu misalnya, maka akhirnya uang itu akan habis dimakannya atau dimakan ngengat/rayap; lain dengan orang yang hanya mempunyai uang yang sedikit, misalnya hanya memiliki sepuluh ribu rupiah saja. Kemudian ia membeli telur ayam mentah, lalu direbusnya dan setiap hari ia menjualnya diterminal bus yang banyak orang memerlukan jajanan ringan; namun lama kelamaan, uangnya akan bertambah dan akan dapat membeli makanan dari hasil jualan telur itu.
Sedikit ilmu diamalkan, itulah yang bermanfaat; banyak ilmu dibanggakan, itulah yang mendapat ázab.

Mudah-mudahan anda telah berada ditingkat atas dari iman-Dalil ini; kalau belum carilah hakikat kebenaran itu secara utuh untuk keselamatan dunia dan akhirat.
 Tingkat IMAN-DALIL

Wallahu Alam Bishshawab.


Moga Bermanfaat.


Insya ALLAH 

.........................................................

No comments: