03 March 2020

Dajjal Dan Simbol Syaitan-Bab 5






Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Subhanallah 100X سبحان الله
Alhamdulillah 100X الحمد لله
LA ILAHA ILLALLAH 100X  لا إله إلا الله
Allāhu akbar 100X  الله أكبر

Alhamdulillah syukur kepada ALLAH




Dajjal Dan Simbol Syaitan-Bab 5 (A)

DAKWAH PERSAUDARAAN
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi pembawa khabar gembira, dan pemberi peringatan. Dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.” (al-Ahzab: 45).
Menghadapi gerakan konspirasi Dajjal yang bersifat global hanya dapat dilawan dengan kerinduan dan upaya kesinambungan kepada persatuan dan persaudaraan Islam yang sebenarnya. Dalam sebuah barisan yang kukuh bagaikan benteng yang kuat, umat Islam harus mampu menghimpun diri dan mewaspadai seluruh “jarum-jarum racun” serta “ranjau budaya” yang begitu halus menyusup di setiap pori-pori tubuh manusia yang ditebarkan kaum Dajjal. Mereka tidak hanya menyebarkan ideologi pemikiran bebas dan membongkar keimanan umat Islam dengan segala kelengkapannya, tetapi mereka juga mengadu-domba dan memecah-belah diantara sesama kaum Muslimin melalui penyebaran fitnah.
Jaringan zionisme Dajjal yang akan memecah-belah kesatuan dan persatuan umat harus dilawan dengan dakwah persaudaraan, iaitu seruan dan ajakan yang ditujukan kepada sesama Muslim dalam rangka menumbuhkan semangat persaudaraan sebagai salah satu tali perekat persatuan umat. Dalam program ini, gerakan dakwah harus memprioritaskan pencerahan keilmuan, kecintaan terhadap agama, akhlak karimah, serta semangat kesatria (futuwah) atas dasar persaudaraan. Dengan kata lain, program dakwah yang disusun oleh jamaah sebaiknya berorientasikan pada satu tahap (marhalah) yang sistematik untuk mewujudkan kualitas sumber daya insani yang mampu menghadapi racun-racun Dajjal yang akan meracuni mentaliti, akhlak, serta arah perilaku generasi muda yang semakin dijauhkannya dari semangat jihad, dan cara berpikir berdasarkan Al-Qur’an.
Gerakan dakwah yang dikoordinasikan oleh satu lembaga dakwah Islamiyah atau lembaga yang kredibel harus diupayakan dengan sangat sungguh-sungguh, kerana inilah kunci keberhasilan melawan kaum Dajjal zionis yang sangat kompak dan menguasai hampir setiap pelusuk kehidupan. Dakwah persaudaraan yang bersifat universal (rahmatan lil-alamin) harus mampu bersaing denganvpropaganda Dajjal. Dengan dakwah juga diupayakan merebut simpati semua golongan dalam tubuh umat Islam dan umat lainnya dalam rangka membangun citra dunia Dakwah yang memikat dan mengikat dalam satu pandangan yang utuh dan sempurna (syamil kamil) diupayakan agar jalan menuju pada persatuan umat menjadi lebih terbentang di hadapan kita. Setidak-tidaknya, dalam suasana penuh persaudaraan dan tidak teganggu oleh konflik-konflik diantara sesama saudara maka akan melahirkan suasana kondusif, sehingga melahirkan berbagai gagasan monumental sebagai warisan pencapaian keilmuan dan budaya bagi generasi yang akan datang. Sekaligus dapat membina kualiti umat agar mampu bersaing dengan umat yang lainnya. Untuk itu, strategi dakwah persaudaraan jamaah harus menekankan kepada kerangka acuan yang mendasar dalam gerakannya, yaitu sebagai berikut:
1. Perbezaan fahamab diantara sesama muslim tidak menjadikan hambatan bagi dirinya untuk menyambung tali persaudaraan. Mereka sedar pada akhirnya hanya Allah jualah yang akan menentukan kata akhir dari perjalanan hidupnya. Mereka akan berbicara tentang hal-hal yang sama diantara sesama muslim. Cita-cita yang sama, gerakan atau program-program amaliah yang sama, dan berusaha terus untuk memperlebar kesamaan diantara mereka, serta tetap saling menghargai hal-hal operasional, yang secara prinsip tidak membezakan dirinya dengan yang lain. Kita semua telah terikat oleh satu semangat yang terus berkembang menuju pada pemahaman tauhid yang sama.
2. Ciri khas dari gerakan dakwah Islamiyah adalah perasaan cinta dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap kemaslahatan umat. Dia menyeru, mengimbau, melakukan persuasi, dan bukan menghakimi, menuding, mencaci-maki, apalagi memutuskan tali silaturahim. Mereka sedar bahawa dakwah berdasarkan cinta telah mendorongnya untuk mendatangi dan menyelamatkan. Sebaliknya, dakwah yang disulut oleh rasa benci akan menjauhkan dirinya. dari objek dakwah dan membiarkan manusia berenang dalam kesesatan. Mereka sedar bahawa dirinya bukan panglima perang yang didoktrin dengan propaganda kebencian untuk melemahkan mental musuh agar mudahlah baginya membunuh lawan sebanyak-banyaknya untuk memenangkan pertempuran. Dirinya adalah mujahid dakwah yang bertugas untuk menundukkan fahaman, sikap, dan pandangan orang lain agar menjadi kawan, bahkan sahabat yang akan memperkuat barisan jemaahnya.
3. Rasa persaudaraannya yang sangat mendalam telah mendorong dirinya untuk ikut mempelajari segala hal yang ada dalam lingkungan budayanya. Sehingga, menjadikan dirinya sebagai sumber ilmu yang luas pandangannya dan kerananya tidak cepat terburu nafsu menjatuhkan hukum. Dia mengetahui di mana dan bila harus berbicara dan mengambil keputusan. Hanya dengan kekuatan akhlak, ilmu, dan pandangan yang luas, kita akan mampu menggerakkan program dakwah. Sebaliknya, keringnya keilmuan dan sempitnya wawasan, akan mendorong kita mengambil keputusan atau memecahkan berbagai persoalan secara sepihak. Maka setiap anggota jemaah adalah tipikal manusia yang selalu haus dalam meneguk tinta keilmuan, menapaki seluruh pelusuk kehidupan, dan membaur di dalam masyarakatnya. Mereka bukanlah manusia yang mengisolasi diri, membuat hijab, seakan-akan dirinyalah yang paling betul, seraya menafikan atau mencemuhkan golongan yang lain.
Dengan semangat persaudaraan, bergeraklah kita untuk menjalin tali ukhuwah yang konkrit dan membekas. Mewujudkan seluruh ayat dan hadits tentang tema-tema persaudaraan, tentang perasaan empati yang diungkapkan melalui makna “bersatunya raga”. Membuka rasa tanggung jawab dan rasa cinta, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantaramu sehingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim), sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lalu hal itu dilanjutkan dengan perasaan bahawa ada satu beban untuk terus mewujudkan satu program konkrit dan membekas dalam diri jemaah muslim, iaitu makna dari ayat yang menjadi acuan kita bersama iaitu,
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara…” (al-Hujurat:10).
Perasaan ini menyebabkan para anggota jami’atul ikhwan dalam setiap gerakan dakwahnya, menghindarkan diri dari sikap menjatuhkan hukuman, apalagi mengkafirkan sesama muslim. Rasulullah saw memberikan peringatan yang sangat keras, seraya bersabda:
Barangsiapa berkata kepada saudaranya, ‘Hai kafir’, maka berlakulah perkataan itu pada salah seorang dari keduanya.” (al-Hadits).
Dalam hadits yang lain beliau bersabda,
Barangsiapa mengucapkan laailaha illallah, maka ia telah masuk Islam serta terpelihara jiwa dan hartanya. Kalaupun ia mengucapkan kalimat itu kerana takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka perhitungannya kepada Allah. Sedangkan bagi kita cukuplah dengan yang lahir (nyata).” (al-Hadits).
Bagi kita, cukuplah seseorang menjadi muslim dari apa yang tampak di permukaannya dan kewajiban kita adalah bersama-sama memberikan pencerahan dan jalan terang untuk membangun kualitas iman, akhlak, dan amaliahnya, sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh syariat. Kerana itu pula, Nabi mengecam Usamah, ketika dia membunuh seseorang dalam suatu pertempuran, padahal orang yang dibunuh itu telah mengucapkan syahadat. Beliau bertanya, “Engkau membunuhnya, setelah ia mengucapkan lailaha illallah?” Usamah menjawab, “Ia hanya mengucapkan kalimat itu kerana hendak berlindung dari pukulan pedang.” Maka beliau pun bertanya kembali, “Mengapa tidak engkau belah dadanya?” Kemudian Usamah berujar terus-menerus bahawa Nabi tidak putus-putusnya mengucapkannya sehingga aku sangat ingin seandainya baru hari itu aku menjadi seorang muslim.” (al Hadits)
Tidak salah lagi, persaudaraan adalah kunci persatuan, bahkan merupakan roh yang menghidupkan di dalam denyutan jantung kehidupan jemaah. Haru biru umat Islam, cerai-berai, dan terperuk dalam perpecahan yang hampir-hampir membuat konflik diantara sesama umat, dikeranakan roh persaudaraan hanyalah menjadi pemanis bibir belaka. Indah dalam pernyataan, tetapi hampa dalam kenyataan. Ini semua dikeranakan kita semua hampir menjadikan ayat dan hadits hanya sekadar barisan huruf dan kalimat untuk konsumsi hafalan verbal, pelengkap skripsi, dan ramuan penyedap dalam pidato (ceramah) semata-mata. Membina masyarakat muslim, di mana siar dan keteladanan kolektif (uswah jama’) harus tumbuh dari dasar kehidupan masyarakat yang dewasa ini telah terkotak-katik, kerana pengaruh budaya antara bangsa sebagaimana kita pun tidak dapat mengisolasi diri dari pengaruh era globalisasi dan kemajuan teknologi yang tidak mampu dihindarkan oleh sesiapa pun makhluk manusia di muka bumi ini. Kehidupan kita adalah kehidupan yang penuh dengan segala informasi dan stimulasi yang diekspos melalui berbagai media elektronik yang setiap hari dirasakan bertambah maju. Antisipasi masyarakat atas pengaruh ini, tentu saja beragam dan penuh dengan goncangan.
Keagungan dan kesucian dakwah yang dibawakan oleh Rasulullah, ternyata mampu melahirkan satu generasi manusia, iaitu generasi para sahabat, suatu generasi yang mempunyai ciri tersendiri dalam sejarah Islam dan dalam seluruh sejarah umat manusia. Kita mengenal berbagai tokoh dalam sejarah, tetapi sedikit sekali kisah dan ketauladanan sejarah, sebagaimana dicontohkan oleh para pelopor dan para sahabat dalam kehidupan. Kenyataan ini harus menjadi pemikiran kita bersama, sebagai bahan renungan yang tajam dan saksama. Ini Al-Qur’an, hadits, dan pesanan serta tulisan para ulama berada di rak buku kita semua. Berlambak diperpustakaan dan dijajakan di kedai-kedai buku, tetapi mengapa generasi itu tidak terlahir kembali? Apakah kerana kita berandaian generasi itu terlahir oleh kerana ada Rasulullah. Kalau andaian ini dijadikan pegangan, lantas apakah Al-Qur’an itu hanya sebatas waktu dan tempat, serta kerana adanya Rasulullah sebagai tokoh utama atau figur sentral? Lantas di manakah keyakinan kita bahwa Al-Qur’an itu dapat berlaku sepanjang zaman?Ketahuilah, sebenarnya bukanlah tokoh, waktu, dan tempat yang menjadi kekangan lahirnya generasi ini. Tetapi, kenyataannya justeru sebaliknya bahawa sudah lama diantara kita tidak lagi bersikap meniru perilaku dan gaya hidup serta metod Rasulullah. Padahal, ketika Siti Aisyah r.a. ditanya seperti apakah akhlak Rasulullah, ia menjawab, “Akhlak yang berdasarkan Al-Qur’an,” (khuluquhul-Qur’an). Ini menandakan bahwa Al-Qur’an telah merasuk dan menjadi butir darah rasul dan diterima tanpa keraguan sedikit pun oleh para sahabat dengan penuh ghairah dan kepatuhan yang mengagumkan. Mereka bersihkan jiwa dengan Al-Qur’an. Mereka meluruskan shaf dan barisan masyarakatnya dengan Al-Qur’an. Hanya dengan Al-Qur’an, mereka merasakan hidup yang bermakna.
Dalam kondisi apa pun hatinya tidak pernah kosong dari butiran Al-Qur’an. Inilah kunci rahasianya. Apalagi pada zaman sekarang ini sedang terjadi “pertempuran ideologi” manusia melawan akidah, iaitubperang antara keyakinan iman yang dipertentangkan dengan alam fikir empiris. Hari ini dan di masa yang akan datang, perang berkecamuk bukan dengan senjata konvensional. Tetapi, perang hanyalah merupakan akibat saja dari pertarungan iman melawan keserakahan. Konflik abadi antara parti Allah (Hizbullah) yang berhadapan dengan pasukan kafir syaitan, yang tampil dan bersembunyi di sebalik jubah kesombongan serba material. Seharusnya, kita menyemak kembali sejarah, ketika para sahabat atau rombongan pelopor awal (assabiqunal-awalun), iaitu pada saat mereka masuk dan memeluk Islam, mereka meninggalkan seluruh masa lalunya. Pada waktu mereka memeluk Islam, mereka merasakan ada kehidupan baru dalam dirinya. Dia campakkan masa silamnya yang kotor, sehingga dirinya benar-benar merasa lahir kembali, pada saat mereka menghayati ikrar dua kalimat syahadat. Kesedaran diri memeluk Islam membawa satu amanat bahawa mereka harus segera membuat garis yang tegas (al-furqan) antara yang hak dan yang batil. Menghanguskan perilaku jahiliah mereka yang lalu dan beralih menuju pada satu harapan manusia Qurani dengan berupaya untuk menjadikan seluruh ajaran Islam sebagai pedoman hidup (minhajud-hayat) secara total. Setiap peribadi muslim harus menghayati amanat dakwah ini. Seruan suci ini adalah kewajiban setiap peribadi muslim yang melekat pada identiti dirinya. Amanat dakwah adalah tugas dan harga diri seorang muslim. Sebab tanpa misi ini, hal itu akan menjadi sia-sia nilai keislaman dirinya di hadapan Allah.
Sudah saatnya, kita semua mengisi qalbu dengan satu keyakinan bahawa Islam akan tegak dan menampakkan cahayanya, selama umat Islam peduli atas misi dakwah. Seharusnya, setiap peribadi muslim menyedari bahawa salah satu harga dirinya sangat bergantung pada prinsip untuk menyebarkan dakwah ini (an-nasyrul mabaadid-dakwah). Bentuk perjuangan paling awal yang dilakukan oleh para nabi, khususnya Rasulullah saw, adalah perjuangan menyeru manusia untuk hanya memperhambakan dirinya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah,
“Hai orang yang berselubung (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah..” (al-Muddatstsir: 1-3).
Perintah Allah tersebut membahana di seluruh relung dada Rasul, menyeruak dan membangkitkan satu kekuatan yang maha dahsyat untuk segera melaksanakan amanat dakwah. Peribadinya telah larut dalam tali kebenaran, batinnya luluh dalam harapan, dan mata batinnya menderang untuk mencari sasaran, dan kemudian menaburkan benih-benih kasih sayang yang penuh dengan butir hikmah. Kemudian diberitahulah perintah itu kepada isteri Rasul bahawa beliau telah mendapatkan satu amanat yang maha akbar Didatanginya sahabat sejak kecilnya, Abu Bakar ash-Shiddiq r a dan diusapnya kepala Ali bin Abu Thalib r a.. Dibinanya satu harakah pergerakan dakwah dari rumah ke rumah, yang dijadikannya sebagai “basis dakwah” paling awal untuk memupuk lazatnya tauhid dan tali persaudaraan dalam jemaah. Hal itu merupakan awal dari gerakan siar Islam yang sangat monumental. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Islam pada awal perkenalannya dianggap asing, dan kelak akan datang suatu masa di mana Islam akan dianggap asing kembali, maka berbahagialah wahai orang-orang asing, yaitu mereka yang selalu menghidupkan Sunnahku…”
Kita sedar bahawa dakwah adalah Sunnah Rasul. Kita takut akan mengkhianati amanat-Nya dan Rasul-Nya, di mana kita tidak boleh berpangku tangan membiarkan kemungkaran. Demikian pula, kita sedar bahawa sebagai umat Islam tidak mungkin menutup diri atau acuh berpangku tangan dengan problem umatnya sendiri. Maka seorang muslim adalah orang yang bahagia, kerana di dalam kiprahnya ia mengupayakan untuk menegakkan Sunnah Rasulullah. Akan tetapi; manakah tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para pelopor awal (assabquunal-awalun) ? Manakah yang paling menderita bila dibandingkan dengan para pengikut Rasul yang diboikot, diisolasi, bahkan disiksa di luar batas kemanusiaan? Manakah yang paling pahit, bila dibandingkan dengan dakwahnya pengikut Rasul yang compang-camping kerana terusir dari kampung halamannya? Lantas, alasan apalagi bagi seorang muslim untuk menutup mata dan hidup dengan gaya penuh egoisme, seraya tidak peduli akan amanat dakwah? Lantas, hati dan iman yang mana lagi yang akan engkau pakai apabila persaudaraan sudah engkau putuskan? Maka, ketahuilah wahai saudaraku para ikhwan, salah satu ciri khas keperibadian muslim adalah kentalnya rasa persaudaraan diantara sesama penegak syahadat. Yaitu, persaudaraan yang telah merobek segala fanatisme berlebihan (hisab ta’asub), nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme ashabiyah), serta kebanggaan kelompok. Persaudaraan adalah rohnya Islam. Tanpa persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, sehingga kaum Anshar rela membahagi hartanya, rela membahagi kebahagiaannya tanpa meminta imbalan, hanya semata-mata roh tauhid yang mencengkeram dadanya.
APerbezaan Metod Dakwah
Seringkali kita tercengang oleh lahirnya berbagai harakah dakwah. Dan, tidak jarang rasa hairan ini kemudian melembaga dalam sanubari kita menjadi satu rasa khuatir yang berlebih-lebihan, seakan-akan lahirnya gerakan-gerakan dakwah menunjukkan terjadinya pengelompokan (firqah) dalam tatanan perjuangan yang menjunjung Islam dan kaum muslimin (izzul Islam wal-muslimin). Di hampir pelusuk dunia, di mana ada kehidupan kaum muslimin, pastilah akan selalu tumbuh lembaga atau organisasi dakwah. Hal ini dikeranakan perintah Allah:
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (AliImran:104).
Lafaz ummatun pada ayat tersebut menunjukkan jumlah yang banyak. Kerana itu pula memberikan peluang kepada berbagai harakah dakwah yang beragam metodnya. Lagi pula kalau diperhatikan secara saksama, sighat jamak yang dipakai pada kata ummatun tersebut menunjukkan adanya kebolehan untuk terbentuknya berbagai organisasi atau harakah dakwah di dalam masyarakat Islam. Dengan demikian, lahirnya berbagai harakah dakwah janganlah ditafsirkan sebagai indikasi adanya perpecahan di dalam umat Islam. Akan tetapi, dengan kaca mata berfikir positif (husnuzhan), kita harus memperkaya khazanah dakwah Islamiyah. Selama harakah dakwah itu mempunyai cita-cita untuk menjayakan umat, memperbaiki akhlak dan tetap dalam satu struktur keislaman secara menyeluruh. Justeru, inilah yang boleh kita tangkap pengertiannya sebagai suatu rahmat dalam pengertian pemerkayaan berfikir dalam tubuh umat Islam secara mondial (mendunia). Orang yang menghakimi atau mengambil suatu kesimpulan bahawa dengan beragamnya gerakan dakwah tersebut adalah lahirnya firqah-firqah. Saya kira dikeranakan mereka dibayangi oleh obsesi persatuan umat manusia yang berlebih-lebihan, seakan-akan ingin umat manusia atau umat Islam pada khususnya bersatu dalam satu wadah harakah, bersatu dalam satu ummatan wahidah. Sebaliknya, harus kita fahami secara lebih bijaksana bahawa fenomena antropologis, sosiologis, dan kultural masyarakat yang beragam, membawa konsekuensi metod dakwah yang beragam pula. Bukankah Rasulullah sendiri telah bersabda,
Sampaikanlah dakwah ini sesuai dengan kadar akal mereka.” (al-Hadits).
Hadits tersebut memperkuat satu pemikiran bahwa umat manusia ini beragam dan kerangka serta kadar akalnya berbeza satu sama lain. Konsekuensinya akan melahirkan harakah dakwah yang beragam pula. Dengan demikian, munculnya berbagai harakah dakwah dengan memakai nama yang beragam pula, tidak serta-merta ditafsirkan sebagai firqah atau perpecahan dalam tubuh umat Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka…” (Hud: 118-119).
“Dan jika Tuhanmu menghendaki; tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka beriman semuanya?” (Yunus: 99).
Dengan firman tersebut, sadarlah bahawa tidak pernah kita akan menemukan satu masyarakat yang benar-benar mutlak bersatu secara “tatanan besar”, tanpa di dalamnya ada perbezaan-perbezaan. Kita harus menyedari bentang sejarah perkembangan dakwah Islamiyah bahawa sejak zaman Nabi sampai pada para sahabat Khulafa ar-Rasyidin, perbezaan itu selalu kita temukan dalam kuantiti dan kualitinya tersendiri yang unik menurut zamannya. Moto “berbeza-beza namun tetap satu” (unity in diversity, e. pluribus unum, bhineka tunggal ika) seharusnya menjadi aspirasi bagi jemaah muslimin. Walaupun kita memiliki perbezaan-perbezaan kerangka metod atau fikih, tetapi seharusnya kita tetap bersatu dalam satu tatanan besar, iaitu akidah Islamiyah. Dengan cara berfikir ini, kewajiban para anggota jemaah itu harus selalu berupaya untuk memperlebar jaringan silaturahim, dan memperkuat tali persaudaraan diantara anggota harakah dakwah. Membuang fanatisme buta atau rasa kebanggaan (ashabiyah) yang bertentangan dengan semangat persaudaraan dan mengikis habis kilasan perasaan, seakan-akan kelompoknyalah yang terbaik atau organisasinyalah yang paling benar. Sikap sempit seperti ini, justeru akan membuat tali persaudaraan diantara sesama pejuang dakwah bertambah jauh. Sehingga, mereka akan bekerja secara sporadis parsial (setengah-setengah). Total harus dijadikan satu kerangka berfikir seluruh harakah yang mengabdikan dirinya dalam lapangan perjuangan dakwah. Mereka menghindari berbantahan dalam hal metode, atau perbezaan taktik, kerana hal tersebut akan memperlemah kekuatan atau potensi umat. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
“… janganlah kamu berbantah-bantahan selisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu….” (al-Anfal: 46)
Salah satu kelemahan kita saat ini, justeru kita sering berbantahan dalam hal-hal yang berkaitan dengan khilafiah atau kerangka pentafsiran syariat. Kemudian perbezaan ini merembes ke dalam hati sanubari umat dalam bentuk pemasangan “barikade” untuk mengulurkan tali ukhuwah. Bentuk inilah yang diisyaratkan oleh Allah sebagai suatu sikap yang akan memperlemah kekuatan umat Islam di hadapan musuh-musuhnya. Kebanggaan kultural atau kebangsaan seringkali membuahkan pula silang sengketa, kerana rasa nasionalisme, etnik lebih dominan dibandingkan dengan rasa keislamannya. Maka setiap anggota jemaah yang berhimpun dalam harakah dakwah, apa pun nama gerakannya, harus mempunyai sikap toleran yang sangat tinggi terhadap sesama saudaranya yang lain. Jadi, mereka masih melaksanakan shalat, masih menghadap ke kiblat, dan masih melafazkan dua kalimat syahadat. Pokoknya, siapa pun yang telah bersyahadat, dia adalah saudara kita. Kalau ada diantara Anda membantah, “Ya, dia mengaku Islam, tetapi perilakunya justeru bertentangan dengan Islam.” Maka untuk Anda yang mempunyai pendapat kecintaan yang besar pada Islam –tentang ini, kami mengimbau bahawa tugas Andalah untuk mengislamkan teman Anda yang telah bersyahadat itu. Kita tidak boleh mengkafirkan atau menghakimi saudara kita yang telah bersyahadat, sebagai kafir atau munafik, kecuali dengan sangat nyata mereka telah ingkar dari keislamannya. Kita harus memahami dan menyatakan syukur kepada Ilahi Rabbi bahawa ada saudara kita yang telah bersyahadat. Kerana hal itu merupakan suatu aset Ilahiah yang harus kita kelola bersama. Kalau kita berlaku kasar, nescaya mereka akan lari dari tatanan Islam, dan akhirnya menambah persoalan yang baru.
Cubalah kita tafakur dengan sangat mendalam, apakah mungkin kita harus terkotak- kotik dan berpisah? Padahal Nabi kita sama, Kitab Suci kita sama, Kiblat kita pun sama, bahkan Tuhan serta syahadat kita merupakan dasar kesamaan yang paling hakiki. Berbagai perbezaan metod dakwah ataupun perbezaan fahaman dalam kaitan ibadah yang bersifat furu’iyah, tidak harus memisahkan persaudaraan diantara kita, apalagi saling mengkafirkan satu dengan lainnya, merasa diri yang paling sunnah atau yang paling surga. Ketahuilah bahwa perbezaan fahaman dalam bidang ibadah pun telah terjadi selama masa Rasulullah saw masih hidup. Diceritakan oleh Abu Sa’id al-Khudri bahawa ada dua orang sedang dalam perjalanan. Dan, ketika waktu shalat telah tiba, tetapi mereka tidak mendapatkan air, sehingga keduanya bertayamum untuk melaksanakan shalat. Ketika mereka tiba di suatu tempat yang ada airnya dan waktu shalat masih ada, maka timbullah perbezaan. Orang yang pertama berwudhu, kemudian mengulangi shalatnya, sedangkan yang kedua tidak. Setelah kejadian itu, mereka melapor kepada Rasulullah, dan beliau
bersabda kepada yang tidak mengulangi shalatnya, “Engkau telah berbuat sesuai dengan Sunnah dan shalatmu sudah cukup bagimu.” Dan kepada yang mengulangi shalat (orang yang pertama) , beliau bersabda, “Bagimu pahala dua kali.” (al-Hadits)
Masih banyak lagi bidang yang mengundang perbezaan dalam hal ibadah, berkaitan dengan tafsir, redaksional hadits, dan riwayatnya. Tentu saja, perbezaan pemahaman yang berkaitan erat dengan daya nalar seseorang yang seringkali dipengaruhi oleh kerangka berfikir dan kerangka pengalaman masing-masing. Untuk menghindari fanatisme kelompok yang akan mengarah kepada kejumudan dan semangat ashabiyah, hendaknya para anggota jamaah melakukan tindakan yang aktual sebagai berikut:
1. Selalu berupaya untuk menjalin tali silaturahim dengan berbagai kelompok dakwah tersebut. Masuklah ke dalam harakah mereka, semaklah dengan baik berbagai metod yang diperkenalkannya. Dengan cara seperti ini, kita tidak akan terjebak dalam fanatisme buta kerana mampu mengambil hal-hal yang sama (convergen) dari seluruh kelompok.
2. Tawarkan satu program bersama yang dapat dilaksanakan secara gotong-royong oleh berbagai harakah dakwah tersebut, sehingga tanpa disedari akan terjadi kristalisasi, dan mungkin pemikiran-pemikiran yang cemerlang akibat adanya intensitas interaksi diantara organisasi atau kelompok dakwah tersebut
3. Upayakan agar terwujudnya pertemuan-pertemuan rutin diantara sesama kelompok harakah dakwah tersebut untuk membicarakan berbagai program lapangan yang boleh dilaksanakan secara gotong-royong, jauhkanlah satu perdebatan atau pembicaraan yang mengarah pada hal yang berkaitan dengan khilafiah. Dengan kerangka berfikir seperti ini, maka sangat dianjurkan agar para anggota jemaah itu mahu belajar dan mencari mutiara hikmah di berbagai kelompok harakah dakwah, yang kemudian secara gradual akan membentuk satu keperibadian yang berlapang dada. Orientasi kita dalam makna total dakwah ini menjadi daya penggerak (dinamisator) terhadap berbagai program dakwah yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak dalam tubuh umat Islam. Kita jadikan setiap posisi dan peranan sebagai alat untuk menjadi pelabuhan untuk menyeru umat kepada nilai-nilai persaudaraan yang hakiki melampaui batas-batas keyakinan yang berkaitan dengan khilafiah. Dengan demikian, sikap berpikir positif, serta berprasangka baik (khusnuzhan) terhadap sesama kelompok dakwah harus menjadi ciri dan cara pribadi muslim bermasyarakat.
Sebagaimana Allah memerintahkan kita semua agar menghindari sikap buruk sangka (suuzhan), penuh berfikiran negatif (negative thinking), dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu mengumpat sebagian yang lain….”(al-Hujurat: 12)
Berpikiran sempit, apalagi ada prasangka, serta kecemburuan berdasarkan nafsu atas amal dan harakah sesama jemaah dakwah adalah penyakit yang harus “diamputasi”. Demikian pula, sikap memperolok-olokan satu dengan lainnya, baik lelaki mahupun perempuan adalah sebuah perintah Allah yang harus dihindarkan dari batin kalbu setiap peribadi muslim –seperti termaktub pada surat alHujurat:11. Maka anggaplah lahirnya berbagai gerakan dakwah adalah bagaikan kolam-kolam kecil yang bening. Dan, kewajiban setiap anggota jemaah adalah mengalirkan airnya agar dapat berpadu dalam satu samudra amaliah, dapat menimbulkan satu gerakan dinamik prestasi umat yang dahsyat.
Carta_Organisasi
Berdasarkan gambar diatas, tampak bahawa kewajiban kita adalah menyambung tali persaudaraan dengan seluruh harakah dakwah. Sehingga, seluruh semangat yang terpendam di dalam halaqah pertemuan dakwah -yang ada dapat teralirkan kepada satu visi dan misi yang sama, yaitu menuju kepada satu persatuan umat (ittihadul-ummah). Semangat ini harus ada di setiap relung kalbu anggota jemaah yang mempunyai tujuan yang sama serta sumber acuan yang sama, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada kelanjutannya, total dakwah menjadi satu kerangka acuan seluruh anggota jemaah, dimana seluruh gerakan kehidupannya selalu menuju pada pembebasan umat manusia dari penjara kekufuran yang menyesatkan. Sikap lapang dada (al-hanifiyyat al-samhah) untuk menyambung tali silaturahmi, serta mengambil hikmah kebenaran dari sudut kehidupan dari sesama harakah dakwah Islamiyah merupakan budi luhur yang harus ditegakkan oleh setiap peribadi muslim yang merindukan tumbuh berkembangnya nilai persaudaraan yang konkrit dan aktual tersebut. Lalu muncul pertanyaan, dari mana itu kita mulai? Setiap gagasan dan ajaran Islam selalu merujuk pada tanggung jawab peribadi terlebih dahulu, yakni memulakannya secara konsekuen dari diri sendiri (ibda binafsika). Maka semangat berjemaah dengan segala artibutnya harus diawali dari diri kita masing-masing. Dengan kesedaran bahawasanya Allah hanya akan melimpahkan kekuatan dan pertolongan-Nya kepada setiap pribadi muslim, apabila kita berhimpun dalam tatanan jemaah.
Terwujudnya jemaah Islamiyah hanya boleh direalisasikan apabila setiap anggota ingin dan sangat merindukan terbentuknya pembinaan peribadi yang kukuh dan selalu menjadikan agamanya sebagai tempat dia bertolak dan berlabuh. Jemaah harus mampu memberikan efek yang mendalam terhadap pembinaan peribadi pada setiap anggotanya. Hal itu merupakan salah satu dasar fundamental dari lahirnya peribadi yang istiqamah, iaitu peribadi muslim yang terbina (binaa’al fardul-muslim). Setiap anggota jemaah harus selalu menjalankan peranannya, sebagaimana akhlaknya para pengikut Nabi pada awal lahirnya Islam ini, yaitu para pelopor awal (assabiqunal-awaalun). Kerinduan untuk mati syahid sama besarnya dengan rasa cinta pada kehidupan yang saleh. Hidup bersih, akal cerdas, dan beramal prestatif merupakan rangkaian akhlak yang menjalin kehidupan dalam semangat jihad untuk menundukkan dunia, mengubah kegelapan dengan cahaya iman. Dengan segala daya dan upayanya, walaupun terasa sangat berat, dia akan terus berjalan mendakwahkan Islam melalui keteladanan akhlak yang dia banggakan kerana terlahir dari kecintaan yang mendalam kepada Ilahi Rabbi. Dalam tatanan pergaulan yang serba syubhat (tidak jelas) dan penuh dengan kehidupan yang materialistik ini, tidak perlu larut dalam budaya tersebut. Bahkan, dia tetap berdiri tegak dengan penuh simpati bagaikan mercu suar yang menjadi pemandu kapal yang mendermaga. Dilatih dirinya bagaikan setiap saat ia akan menghadapi pertempuran yang amat dasyat. Tidak ada waktu terbuang sedikit pun yang akan membuat dirinya terlena dari visi dan misi peribadinya sebagai kalifah di bumi (khalifah’ fil-ardhi) yang sangat gandrung untuk menebarkan amal saleh. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw,
Hendaklah engkau bekerja untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok.” (al-Hadits).
Sabda Rasulullah tersebut membentur jiwa muslim untuk berontak pada segala kebatilan, menjebol segala penyakit wahan, dan kemalasan. Setiap saat dirinya selalu berfikir, apa yang harus ia berikan untuk orang lain? Apakah hidupnya sudah punya makna? Bekal apakah yang telah ia persiapkan untuk menempuh perjalanan yang amat panjang di akhirat nanti? Sabda Rasulullah itu juga membuat dirinya gelisah. Dia mempunyai misi untuk menjadikan hidupnya sebagai ladang yang harus ditanami oleh tiap benih. Lalu, dia tebarkan benih tersebut,dan disiraminya dengan akhlak karimah agar membuahkan ridha Allah semata. Dia memandang hidup dan kehidupan sebagai satu amanat dan tugas yang amat berat. Tidak mungkin dia laksanakan amanat itu dengan bersantai-santai apalagi sampai terlupa dari dzikrullah. Betapa hidup harus penuh dengan kesungguhan (jihad), sebab dia yakin bahawa akhirnya segala sesuatu yang bernyawa akan berakhir dalam kemusnahan. Betapa segala sesuatu yang dia alami akan punah, sedangkan hanya kurnia Allah jugalah yang abadi. Sebab itu, setiap anggota jemaah tidak pernah akan melupakan sebuah peristiwa yang disampaikan oleh sahabat Anas ra. yang mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw berkhutbah yang sangat luar biasa, sehingga di mana saya belum pernah melihat Rasulullah berkhutbah seperti itu sebelumnya. Di antara isi khutbahnya itu, beliau bersabda, “Andaikan kamu mengetahui apa yang saya ketahui, nescaya kamu sekalian akan lebih banyak menangis dan akan sedikit sekali tertawa.” Maka setelah ucapan itu, saya melihat para sahabat Nabi yang mendengarkan khutbah tersebut, semuanya menutup muka mereka dan terdengarlah suara tangis yang terisak isak dari mereka. (HR Bukhari dan Muslim). Bergetarlah jiwa setiap anggota jemaah menyemak sabda Rasul tersebut. Itulah peringatan yang amat dahsyat tentang datangnya hari akhirat yang merenggut semua kenikmatan yang fana, serta memporak-porandakan segala impian kenikmatan khayalan dengan segala syahwatnya. Bertambahlah sikap tawadhunya para anggota jemaah itu; apabila mereka menyimak sabda Rasulullah saw:
“Tiada seorang pun dari kamu sekalian, kecuali akan berhadapan dan ditanya Allah di hari pengadilan kelak. Tidak ada juru bahasa yang akan membelanya, kecuali apabila ia melihat ke kanannya, dia hanya akan menyaksikan amal perbuatannya dan apabila dia pun menoleh ke kirinya, dia pun akan menyaksikan amal perbuatannya. Di hadapan mereka tiada terlihat sesuatu apa pun kecuali api yang menyala. Maka jagalah dirimu dari api neraka walau dengan memberikan sedekah separuh biji kurma sekalipun.” (HR Bukhari dan Muslim)
Rasa harap cemas menghadapi hari akhir merupakan salah satu keyakinan yang tidak pernah pupus walau sedetik pun dari ingatan dirinya. Perasaan yang kemudian melahirkan kewaspadaan dan hidup yang selalu ingin terpelihara dan dipelihara oleh amalan yang luhur dan terpuji. Setiap anggota jemaah adalah tipikal manusia yang melihat umur sebagai amanat Allah yang tidak syak lagi harus dia pelihara dengan penuh tanggung jawab. Dia sedar betul, betapa kematian merupakan takdir yang tidak terelakkan. Bahkan, apalah erti semua kehidupan ini bila dibandingkan dan ditafakuri dengan iman? Ketahuilah bahwa hidup ini tidak lebih dari pada sekadar pengembaraan sementara untuk menyongsong kematian yang pasti. Hidup ini tidak lain daripada menanti mati. Oleh kerana itu dalam kurun waktu penantiannya, dia hiasi seluruh penantiannya dengan karya, karsa, dan cipta yang bernuansa dan semerbak redha llahi. Hal ini sebagaimana Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr:1-3).
Sebuah kerugian yang tidak boleh ditebus, manakala nyawa sudah di tenggorokan. Sebuah jeritan penyesalan yang sia-sia, tatkala malaikat maut pemusnah kenikmatan merenggut nyawa. Kesedaran dan penghayatannya ini telah menyulut kesedaran dirinya untuk mengolah segala “aset” llahi yang telah dia terima untuk beramal saleh, lalu mempersiapkan segala sesuatu untuk satu jemputan yang pasti, kematian! Dia matikan segala nafsu rendah, dan dia hidupkan segala nafsu mutmainah. Dia padamkan segala kobaran kebatilan. Pada saat yang bersamaan, dia nyalakan pelita iman yang akan menerangi jalan kehidupannya yang panjang dengan tetap berucap, bersikap, dan berbuat atas satu garis yang pasti, “Laa Ilaha Illallah.” Sebuah jalan yang senantiasa, setiap muslim meminta kepada Allah agar tidak menyimpang darinya (ihdinas sirathal mustaqim).
Pokoknya, dalam hal ibadah dan amalan saleh lainnya, dia tidak pernah sedikit pun mengendurkan semangat untuk segera mengisi hidupnya dengan prestasi. Hanya dengan niat yang tulus, iman yang penuh dan dipancarkan melalui gerak amal prestasi, barulah dia merasakan betapa hidup ini mempunyai makna. Dia sedar bahawa Islam bukanlah hanya sekadar kata, tetapi harus punya makna. Bukan seperangkat keyakinan yang tersembunyi di semak belukar, tetapi dia harus menjadi pelita yang bersinar. Bukan pula hanya berhenti pada simbol-simbol kebendaan, tetapi harus memberikan substansi dan esensi keluhuran budi. Inilah kualiti setiap anggota jemaah muslimin yang ingin menekuni dan mengikatkan diri dalam sirah perjalanan kehidupan suci Rasulullah saw (minhajun-nabawiyah). Akhlakul karimah para Nabi, para sahabat, dan para wali Allah merupakan pantulan dari tapak sejarah yang menerpa seluruh relung dadanya. Di manapun dia berada, para anggota jemaah muslimin ini akan selalu memberikan bekas kesalehannya. Tidak ada keraguan dalam batinnya akan limpahan kurnia Allah. Kerana dia yakin bahawa. siapa pun yang berjuang dalam jalan Allah, pastilah Allah akan memberikan jalan, sebagaimana firman Nya:
“Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.” (al-Qashash: 69).

No comments: