Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Subhanallah 100X سبحان الله
Alhamdulillah 100X الحمد لله
LA ILAHA ILLALLAH 100X لا إله إلا الله
Allāhu akbar 100X الله أكبر
Alhamdulillah syukur kepada ALLAH

Dajjal Dan Simbol Syaitan – Bab 3 (A)
Bab 3 (A)
MENGHADAPI PERANG GLOBAL
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al-Anfal:45).
_____________________________
A. Persatuan Umat (Ittihadul–Ummah)
Entah, bahasa apa yang dapat membekas di hati kita agar memahami makna dan pentingya persatuan umat (ittihadul-ummah). Kepedihan sejarah yang mendera umat Islam selama ini dikeranakan hilangnya harga diri (muru’ah) terhadap persatuan. Dan kalau ada, keinginan tersebut seringkali hanyalah sekadar pemanis pidato dan retorika. Nurani terasa bergetar setiap mendengarkan gelora para mubaligh cerdik yang “menggeletek” agar kita mahu melepaskan segala kebanggaan terhadap suatu golongan (‘ashabiyah) dan menggantinya dengan “jubah” jamaah: satu komando (imamah), satu jamaah, satu harakah. Sesekali iman terasa segar kerana mendengarkan firman Allah:
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat siksa yang berat.” (Ali Imran: 105)
Akan tetapi, alangkah sedihnya nasib persatuan umat. Alangkah berdukanya pelita persaudaraan. Seruan dan untaian ayat tersebut bagaikan angin lalu. Sesaat angin berhembus penuh harapan, lalu diam. Mereka pun kembali asyik dengan dirinya sendiri, golongan, dan mazhabnya masing-masing. Seakan-akan, mata hati dan pendengarannya telah buta dan tuli untuk melihat dan mendengarkan jeritan umat yang tercabik oleh angkara zionis Yahudi dan kaum kafir yang “melahap” hampir seluruh pori-pori tubuh umat yang mengaku beragama Islam. Lantas, bahasa seperti apakah yang paling memukau dan menggerakkan jiwa untuk membuat kita mengerti. Padahal, betapa di luar tempat ibadah masih terlalu banyak persoalan umat. Betapa di lapangan kehidupan nyata, jiwa umat tercabik dan terkoyak serta kehilangan arah dan panduan. Bagaikan tidak mengenal kata “kapok”, para pemimpin umat tidak pernah ingin “meleburkan” dirinya dalam satu barisan dan bangunan yang kukuh, iaitu jamaah.
Kalau saja kita mahu merenung dengan hati yang tulus dan ikhlas secara mendalam. Apalah ertinya parti, golongan, dan organisasi, kalau semua itu hanya dijadikan sekadar alat dan bukanlah tujuan. Kalau saja kita memang bergemuruh ingin menjayakan Islam dan umatnya, lantas beban apakah yang paling berat untuk melepaskan atribut, ketua, pemimpin, atau apa pun jabatan organisasi demi persatuan umat. Kiranya, kita masih memerlukan lebih banyak negarawan yang berpihak kepada umat keseluruhan dan tidak cukup sekadar menapakkan wajah politisi yang hanya mempunyai ambisi memenangkan parti atau golongannya.
Sindiran Rasulullah SAW yang mengatakan umat Islam yang banyak tetapi bagaikan buih yang tidak lagi menggugah jiwa. Kebanggaan kelompok dan sikap egois telah membuat kita terpecah bagaikan makanan yang terhidang nikmat untuk diperebutkan orang-orang lapar. Memang kelihatannya kita sama-sama bekerja, padahal tidak pernah mahu bekerja sama. Kalau ada, itu pun hanya sekadar simbol. Tidak pernah sampai pada tujuannya yang paling substansial. Umat merintih pedih kerana kita tidak lagi mempunyai khilafah. Wajah umat mengharu-biru kerana tidak ada lagi arah dan tempat mengadu.
Ketika sepatu laars tentara zionis menapakkan kakinya di hamparan kehidupan, mengepulkan asap, dan debu-debu kemenangan, juga merampas dan memburu diri kita yang terpenjara dalam “strategi 9F“:
- Finance/fund (kewangan),
- Food (makanan),
- Film (filem),
- Fashion (busana),
- Fun (kesenangan),
- Fiction (khayalan),
- Faith (kepercayaan),
- Friction (perpecahan),
- Fitnah.
Kita semua bagaikan terkena hipnotis, tidak berdaya, bahkan tanpa perasaan berdosa sedikit pun, berpura-pura menyambutnya dengan penuh antusias. Dari hari ke hari, perangkap itu semakin mengikat, membelenggu cara berfikir, bahkan cara berbudaya yang menyebabkan kita lupa dengan firman Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Ali Imran:100)
Peringatan Allah tidak lagi menggetarkan nurani kita, tidak juga jiwa para pemimpin umat yang seharusnya dengan gigih tidak mengenal lelah memperjuangkan cita-cita luhur memenuhi seruan Ilahi yang dengan sangat jelas menyerukan kepada terwujudnya persatuan umat (ittihadul ummah).
Rasulullah SAW bersabda,
“Aku wasiatkan kepada kalian (agar mengikuti) para sahabat kepada generasi berikutnya, kemudian kepada generasi berikutnya. Kalian harus berjamaah. Waspadalah terhadap perpecahan, kerana sesungguhnya syaitan bersama orang yang sendirian. Dia akan lebih jauh dari dua orang. Barangsiapa menginginkan bau wangi syurga maka hendaklah tetap teguh dengan jamaah.” (HR at-Tirmidzi).
Dalam hal ini, jelaslah bahwa wasiat Rasulullah saw telah diabaikan dan diganti oleh sebahagian umat dengan mengangkat benderanya masing masing dengan penuh kebanggaan. Sungguh mustahil apabila ada anggota parti atau golongan yang tidak mempunyai kebanggaan terhadap parti atau golongannya. Sebab apabila tidak, bererti mereka termasuk seorang anggota yang tidak memiliki loyalitas, menurut rakan-rakan separti atau segolongannya walaupun sering kita mendengar berbagai alasan rasional dari para anggotanya, bahawa parti dan golongan hanyalah sekadar alat dan siasat. Untuk itu, ada baiknya sesekali kita merenungkan ayat dan hadits tentang jamaah dan persatuan umat Setelah melakukan perenungan tersebut, kini saatnya untuk melihat dengan mata hati kita yang paling tajam.
Tangkaplah deru perjuangan dengan akal kita yang paling cemerlang; tidakkah pada hakikatnya kita telah terperangkap dalam jebakan zionis Yahudi yang berseru lantang:
“Lumpuhkan umat Islam, penjarakan mereka dengan kebanggaan parti dan kelompoknya masing masing, kerana hanya dengan cara itu kita (para pengikut kaum zionis) mampu menguasai mereka.”
Padahal, kalau saja bisikan nurani didengar dengan jujur, fahamlah kita bahawa salah satu yang termasuk golongan musyrik itu, antara lain adalah mereka yang bangga dan fanatik dengan parti atau golongannya. Hal itu sebagaimana firman-Nya:
“.. janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, iaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (ar-Rum: 31-32).
“Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (al-Mu’minun: 53).
Ayat tersebut seakan-akan mempertegas dan sekaligus menjadi garis pemisah (furqan) antara masyarakat muslim dan musyrikin. Sebuah batas kesedaran yang hanya dapat difahami melalui perenungan serta kerendahan hati yang penuh rasa takut. Tentu saja, segudang argumentasi dapat disusun dengan rapi dan jenius untuk menyatakan bahwa perbezaan tersebut tidaklah menunjukkan perpecahan. Jelaslah bahawa dalih tersebut benar-benar hanya siasat dan bukan tujuan, melainkan alat.
Untuk kesekian kalinya kita harus pahami bahawa apa pun bentuk siasat, takkik, metode, atau wasilah akhirnya berpulang kepada hati nurani kita masing-masing. Benarkah demikian? Benarkah ketika kita berargumentasi bahawa parti dan golongan itu hanya sekadar siasat dan tidak dipengaruhi unsur hawa nafsu fanatisme golongan atau ‘ashabiyah?
Bagaimana mungkin kekuatan yang besar itu tidak berdaya berhadapan dengan musuh-musuh yang dengan sangat jelas ingin menghancurkan eksistensi sistem Islam. Bukankah Umar bin Khaththab r.a. telah mengatakan kalimat “bersayap” tentang persyaratan tegaknya Islam melalui: imamah, jama’ah, tha’ah, bai’at, sudah sangat jelas diuraikan. Setiap gerakan kehidupan tidak dapat terlepas dari sistem jamaah. Hidup dan berparti sekalipun seharusnya bertumpu pada sistem jamaah (al hayatu wal-hizb huwal jama’ah). Tanpa berjamaah niscaya kita akan teperosok dalam sikap egois, individualistis, dan mengulangi pahitnya sejarah kekalahan Islam yang terusir dari Andalusia. Tragedi sejarah tanah Karbala yang memilukan, kecemerlangan Cordova dan Universiti Castilia di Andalusia telah sirna.
Nurani yang tercabik hanya boleh bermadah sembilu, seperti bait berikut:
Karbala oh Karbala • Jantung nubuwah • memerah darah • Hawa amarah mencabik ukhuwah • Jeritan pewaris cinta • Mengiringi umat semakin resah • Cordova oh Cordova • Sepenggal cahaya telah sirna • Mutiara berbinar dari Andalusia • Bangkit sejenak kemudian diam • Cordova- al-Hambra • Castilia dan Granada • Hanya tinggal nama • Tahukah Tuan, mengapa demikian? • Kerana umat berkelompok-kelompok • Lupa hikmah dan petuah • Tiada tegak Islam kecuali berjamaah • Tiada jamaah kecuali imamah • Tiada imamah kecuali tha’ah • Jangan lukai jiwa bagaikan tragedi Karbala • Atau kekalahan Cordova • Hanya ada satu kata, jamaah! • Hanya satu jiwa la ilaha illallah
Tatanan khilafah telah runtuh dan diubah dengan sistem dinasti atau sistem yang sungguh jauh dari Al-Qur’an, walaupun lambat, tetapi pasti. Seluruh sistem yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dapat menyebabkan hilangnya jamaah. Seharusnya, para mubaligh dan para pemimpin Islam tidak mengenal henti untuk memperkukuh barisan dan mempersatukan hati (ta’liful-quluub) untuk menuju satu sistem yang utuh, total, dan mencakup segala segi yang holistis (bersifat keseluruhan, ed.) agar terhindar dan tidak terkontaminasi oleh gaya pemikiran kaum kafir yang bersifat hedonistik, individualistik, dan sekular. Nilai-nilai agama mereka buang di kotak sampah. Jiwa amarah membungkus para abdi nafsu dengan penuh ambisius, seraya mencatut nama rakyat. Mereka pun menikam harga diri orang beragama. Moral, etika, dan sopan santun hanya sebuah kata yang semakin samar-samar, apalagi cinta dan akhlak karimah.
Prinsip jamaah yang berdiri di atas tiang saling memahami (tafahum), saling bertanggung jawab (takaful), saling menolong serta saling membela (ta’awun), dan adil berkesimbangan (tawazun), kini hanya tinggal kenangan. Serpihan-serpihan yang sulit untuk dikumpulkan kembali, kerana jiwa telah dinista oleh gaya berfikir yang jauh dari prinsip Islami. Padahal, dengan sangat jelas telah dirobohkan, Allah telah menyerukan mereka dengan firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah:208).
Totalitas gerakan tersebut tidak lain dalam satu ritma (rentak) organisasi yang berada dalam sistem jamaah. Inilah kunci kemenangan umat Islam. Tidak pernah ada satu aksioma yang dapat memenangkan perjuangan umat Islam kecuali dalam sebuah tatanan jamaah.
Lantas iman yang seperti apa lagi yang akan menafikan seruan Allah dengan firman-Nya,
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (ash-Shaff: 4).
Bagaimana mungkin bangunan menjadi kuat apabila tumpukan batanya berserakan? Bagaimana mungkin pula memenangkan peperangan apabila seluruh kekuatan tidak disatu-padukan dalam satu langkah, satu komando menuju kemenangan. Ayat tersebut merupakan aksioma Ilahiyah yang tidak boleh digugat.
Selama umat Islam terkotak-kotik dan terpelanting dalam kolam-kolam yang kecil, maka ia tidak akan diperhitungkan, bahkan tidak akan dipandang dengan sebelah mata pun oleh musuh-musuhnya. Bagaikan buih. Keberadaan dan ketiadaannya sama saja. Batu-bata betapapun mahal kualitinya, tetaplah hanya sebuah batu-bata. Akan tetapi, apabila mereka ditumpuk dan dikelola di bawah tangan seorang yang mahir, maka jadilah dinding bangunan yang kukuh. Mungkin, inilah keperihatinan yang teramat mendalam dari ucapan terakhir Rasulullah saw menjelang wafatnya beliau, “Umatku, umatku, umatku.”. Adakah beliau gundah melihat umatnya kelak yang terpecah-pecah? Adakah beliau berwasiat kepada kita semua agar mewujudkan cita-citanya untuk menjadi umat yang berjamaah? Kalau saja dugaan kita benar, betapa beliau merintihkan harapannya kepada kita. Dengan kata lain, apabila kita tetap tidak peduli dengan seruan persatuan umat, masih patutkah kita berdiri dan mengaku pengikutnya? Sedangkan wasiat beliau agar tidak berkelompok (berfirqah), namun tidak sedikit pun yang mahu memperjuangkannya? .
Maka tidak ada kata yang paling mendesak untuk dilaksanakan, kecuali persatuan umat (ittihadul-ummah). Kalau saja dimungkinkan, seharusnya ada semacam reformasi pemikiran untuk menjadikan persatuan umat sebahagian dari rukun perjuangan umat Islam. Kalau saja diupayakan dengan penuh kesungguhan, kiranya persatuan umat dapat menjadi “pelajaran wajib”, khususnya bagi putra-putri kita yang memasuki bangku sekolah. Sayang, seruan ini hanya dianggap sebagai angin lalu. Persyaratan utama yang menyebabkan tidak datangnya pertolongan Allah, kerana kita menganggap persatuan umat atau berjamaah hanya sebagai retorika belaka. Padahal, seruan ini bersumber pula dari wasiat suci baginda Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda:
“Umat Muhammad saw akan berada dalam kesesatan (selama tidak berjamaah), kerana tangan Allah bersama jamaah. Barangsiapa menyempal maka dia menyempal ke neraka.” (HR at-Tirmidzi).
Oleh kerana pentingnya hakikat berjamaah maka Rasulullah saw kembali menyerukan kita sebagaimana sabdanya,
“Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah, sejengkal kemudian dia mati maka matinya adalah mati jahiliah.” (Muttafaq’alaih dari Ibnu Abbas).
Tidakkah kita merasa takut kepada Allah apabila seruan Rasulullah saw serta ayat-ayat muhkamat Nya-ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya- kita abaikan? Ataukah jiwa kita telah dicuci oleh kenikmatan dunia, harta; dan ambisi kekuasaan, sehingga dada kita kosong dari kesedaran (zikir) akan pentingnya parti Allah; yang berorientasikan pada satu pimpinan; satu gerakan satu kekuatan, Islam bersatu?
Air mata mengalir dari jiwa yang merintih kerana diantara kita sudah kehilangan kesedaran perjuangan untuk meneruskan warisan suci ini. Padahal Allah berfirman, “Syaitan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah bahawa sesungguhnya golongan syaitan itu golongan yang merugi.” (al-Mujadilah: 19).
Kita sangat mafhum bahwa ajaran syaitan dapat berwujud dalam bentuk apa pun juga. Dia menyusup dalam otak manusia. Dari produksi hasil pemikiran yang telah diselusupi syaitan itu adalah penolakan terhadap gairah Islamiyah untuk mempersatukan umat: Dengan gaya retorika dan logika palsunya, mereka berdendang, “Ini semua siasat bung! Kami tidak berpecah, kami tetap bersumberkan Al-Qur’an dan hadits.”
Alangkah naifnya cara berfikir seperti itu yang tercabut dari akarnya. Umat Islam bagaikan terlena dalam gemuruh nikmat dan hiasan duniawi yang “diimport” dari pusat-pusat pergerakan zionis. Seperti ungkapan ini, “Siang hari kamu lupa bekerja dan lalai, wahai orang yang tertipu. Dan malam hari kamu lelap tertidur, sungguh celaka tidak terelakkan!”
Kalau saja umat Islam terjaga dari tidurnya niscaya mereka memahami makna akidah sebagai keberpihakan penuh (kaffah). Mulai dari niat, alat, dan siasat haruslah berpihak pada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Dan barangsiapa mengambil Allah; Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. ” (al-Maa’idah: 56)
_____________________________
B. Perang Global
Allah SWT berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sehingga kamu mengikuti agama mereka….” (al-Baqarah: 120).
Pihak zionis telah “memproklamasikan” perang global. Perajuritnya bukan dalam bentuk tentera berseragam dengan senjata konvensional, melainkan tentera dalam bentuk pemanfaatan dan pengembangan teknologi, seperti media massa, khususnya media elektronik/television. Musuh-musuh Islam sangat sadar bahawa umat Islam tidak dapat ditundukkan dengan senjata konvensional, betapapun berteknologi tinggi. Contohnya Negara Teluk yang disekat oleh para zionis, bahkan diserang dengan kekuatan terpadu yang memakai sandi the blue star, tapi pada akhirnya dapat mengandaskan ambisi “Yahudi besar” Amerika (sedangkan Yahudi kecilnya adalah Israel) Begitu pula dengan Soviet Union dan Rusia “terkapar” tidak mampu menghancurkan semangat jihad kaum Mujahidin Afghanistan. Tentera Amerika pilihan tidak pula mampu menghentam negara Sudan mahupun Libya.
Mereka harus menukar taktik, yaitu menghancurkan umat Islam dengan serangan budaya, ekonomi, sosial, dan politik. Mulailah dengan memecah-belahkan diantara mereka dan membiarkan kita memetik buah dari konflik internal umat Islam sendiri. Alvin Toffler dalam bukunya Powershift (Pergeseran Kekuasaan) ketika membahas bab “Gladiator Global” menghuraikan dengan sangat terperinci tentang kekuatan global gereja Katolik. Mereka mengirimkan para diplomatnya yang sangat terlatih untuk memberikan pengaruh di daerah mereka bertugas. Mereka harus menunjukkan aktivitasnya yang simpatik, melebur dalam denyut kehidupan sosio-politik dengan menghidupkan seluruh jaringan gereja. Jaringan ini bukanlah hanya sekadar rancangan di atas meja, tetapi sebuah “panggilan suci”. Kita dapati hasilnya mulai tampak nyata, bermula dari Filipina sampai Panama.
Gereja Polandia semakin menujukkan wibawanya sebagai “pemerintah yang tenang” (the silent government) dan dikagumi kerana keberhasilannya mempengaruhi kaum buruh solidarinos melawan rejim Komunis. Para diplomat Vatikan mengakui bahawa berbagai perubahan yang terjadi seluruh Eropah Timur sebagian besar dipacu oleh Paus Johanes Paulus II yang didasarkan kepada obsesinya untuk membangun “kerajaan Tuhan” di dunia. Kebijakan Paus merujuk pada dokumen yang beredar di berbagai ibu kota Eropah pada tahun 1918, isinya mendesak pembentukan negara-negara super Katolik yang terdiri dari: Bavaria, Hongaria, Austria, Kroasia, Bohemia, Slovakia, dan Polandia. Usulan Paus mengenai Eropah yang Kristian, dewasa ini, mencakup seluruh Eropah, mulai dari Atlantik sampai Pegunungan Ural dengan populasi 700 juta jiwa (A. Toffler, Powershifi: 1990).
Semangat kesaksian mereka sungguh sangat mengkagumkan. Mereka ditunjangi oleh kekuatan dan profesionalisme, mempunyai dana, organisasi, sumber daya manusia dengan semangat “keterpanggilan” yang luar biasa. Setiap hari kerja, peta dunia dibentangkan di meja para pembantu Paus di Vatikan. Peta dunia dianalisis dan diberikan berbagai catatan kecil sebagai petunjuk penilaian pencapaian gerakan para “perajurit Tuhan”. Dari meja kepausan di Vatikan disebarkanlah jutaan mesej-mesej ke pelusuk bumi. Dari keuskupan di ibu kota sampai hutan belukar di pedalaman Afrika dan Papua Nugini.
Jutaan buku di perpustakaan disunting dan dibuatkan kliping serta garis besarnya untuk melengkapi bahan para “perajurit tuhan” melaksanakan kesaksian sucinya. Mereka membentuk ikatan para ahli, mulai dari sejarawan, antropolog, dokter, pekerja sosial yang menguasai berbagai bahasa, kebiasaan, budaya, sosial-ekonomi, bahkan kecenderungan politiknya. Mereka mendirikan berbagai pendekatan kemanusiaan yang berkualiti, bermula dari pra sekolah, hospital, lembaga pendidikan sampai pada rumah kebajikan . Kaum zionis bersatu padu untuk menghentam dan menenggelamkan gerakan dan ghairah dakwah Islamiyah. Itulah sebabnya, dalam perang global yang tidak “berbau” belerang (peluru), tetapi “beraromakan” dunia material hedonistik, mereka seludupkan ke pelosok negeri, umat Islam diingatkan Allah sebagaimana firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maa’idah: 51).
Memang, kita tidak memilih “orang” dari kaum kafir untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi sungguh sayang-disadari atau tidak-dengan penuh suka cita, kita menari dan meragut seluruh umpan yang mereka taburkan dari pusat-pusat pengendalian mereka. Kita merasa menang dan bersorak, dengan penuh kebahagiaan yang meluap. Padahal di belahan bumi Barat, kaum zionis “mengangkat gelas” kemenangan menyaksikan umat yang telah kehilangan keperibadian (muru’ah) dan terpecah dalam kelompoknya (firqah)
_____________________________
C. Kerajaan Tuhan (The Kingdom of God)
Gerakan pengkafiran yang memikat dan ditunjang oleh sumber daya manusia, dana, serta teknologi menyebabkan usaha untuk mengkafirkan umat Islam, secara perlahan tapi pasti berhasil dalam waktu yang relatif singkat. Pembahagian “kek” (wilayah) yang diawali semangat conquistador antara Spanyol dan Portugis, kini menjadi kenyataan. Mula dari Papua Nugini, Timor Timur, Filipina, Hongkong, Makao, sampai pantai-pantai dan pelosok Afrika Selatan dan Pantai Gading. Akan tetapi, mereka menghadapi kepedihan yang memalukan di Indonesia.
Belanda -majoriti Protestan- yang menjajah dan memeras habis-habisan sumber daya alam dan penduduk pribumi selama 350 tahun, tidak mampu menjadikan Kristian sebagai agama majoriti di Indonesia. Berbeza dengan Filipina, mereka berhasil menjadikan Katolik majoriti di sana. Kegagalan ini menjadi luka yang menganga dan membangkitkan perhatian serta ambisi Vatikan untuk memprioritaskan Indonesia sebagai salah satu bentuk sukses misinya di masa depan. Maka, mereka pun “melirik” dengan sangat tajam kepada masalah Timor Timur. Sebuah tempat strategis yang baru saja ditinggalkan Portugis untuk dimasukkan dalam peta kesaksian “perajurit Tuhan”.
Masalah Timtim (Timor Timur) secara terus-menerus dijadikan isu politik internasional yang benar-benar menyudutkan Indonesia di mata dunia. Bukan tidak mungkin Timtim yang diperjuangkan dengan darah dan dana harus segera merdeka lepas dari Indonesia, akan mengundang “Yahudi besar” (pemerintah Amerika) membangun pangkalan militerinya untuk menjadi “penyengat” stabilitas dari gangguan “raksasa” Cina, sekaligus melindungi kepentingan Amerika sebagai polisi internasional, atau mungkin bentuk imperialisme gaya baru? Atau Timor Timur sebagai pengganti pangkalan militeri di Subic Filipina.
Dan kalaupun Timtim merdeka, pihak zionis tentunya tak akan melepaskan peluangnya untuk membangun habis-habisan Timtim, sekaligus mempermalukan Indonesia dan mengusik kecemburuan pulau lainnya. Para prajurit ABRI (angkatan bersenjata republik indonesia) yang gugur atau cacat kerana pengabdiannya kepada negara (pada Operasi Seroja) harus sia-sia belaka. Bagaikan veteran Amerika yang pulang dari Vietnam bukan untuk mendapatkan pujian, tetapi cemuhan belaka yang mereka terima.
Bagaikan mengulang nostalgia lama, ketika Cornelis de Houtman memijakkan kakinya di bumi Nusantara dan Jan Pieter Zoon Coon sukses memimpin VOC (Verenigde Oos Indische Compagnie) dan berhasil menguasai seluruh kota Jayakarta, yang kemudian digantinya dengan nama Batavia pada tanggal 30 Mei 1619 dan menjadikan kota Batavia sebagai “kerajaan kecil” (koningcrijk). Inilah awal pembagian “kek” wilayah yang akan dimisikan, Indonesia yang subur dan melimpah dengan rempah-ratus tersebut.
Perseteruan Belanda (Protestan) dan Portugis (Katolik) diteruskan tidak di daratan Eropah saja, tetapi meluas hingga pembahagian kekuasaan di Timur Jauh. Sejak semula, Belanda sangat membenci Portugis kerana bersekutu dengan Spanyol. Sebagai pengikut Protestan, Belanda tidak senang melihat perluasan Katolik yang sedang dikembangkan Portugis di Maluku. Tujuan Belanda sudah sangat jelas, iaitu meyingkirkan dominasi Portugis yang sekaligus menyingkir Katolik diganti dengan Protestan (K.H. Ahmad Zuhril: 1980).
Kaum zionis ingin memanfaatkan segala sentimen yang ada di Indonesia. Warna budaya yang rukun harus digoncang. Kecemburuan sosial dan agama harus dipertentangkan secara diametral. Bila Katolik memperoleh Timor Timur, lantas daerah mana yang paling tepat untuk kedudukan Protestan? Kita harus waspada, jangan sampai Indonesia dibahagi dan dipecah menjadi negara-negara kecil agar mudah dilakukan pengawasan dan melakukan negoisasi kepentingannya. Keberhasilan mereka meruntuhkan negara Beruang Merah, Soviet Union dan Rusia, menjadi pemacu dan menambah keyakinan untuk membangun kembali menara Babil, Kerajaan Tuhan zionis yang mengangkangi seluruh dunia sebagai bukti semangat imperialisme, sekaligus balas dendam kepada seluruh bangsa yang menyebabkan dirinya mereka terdiaspora (tercerai-berai).
Hampir seluruh negara yang majoriti penduduknya Islam telah mereka haru-birukan. Negara-negara yang majoriti Islam penduduknya, mereka buat resah dan selalu saja ada pekerjaan rumah yang menyita perhatian lebih bagi negara tersebut, sehingga ia lupa untuk membangun ekonominya.
Misalnya, Arab Saudi yang kaya dengan sumber daya alamnya, yaitu minyaknya. Semula Arab Saudi diharapkan dapat menjadi sumber dana bagi negara Islam lainnya, namun kini ia lumpuh tidak berdaya. Seluruh kekayaan minyaknya dieksplorasi dan dikuasai oleh perusahaan multinasional Amerika. Perang Teluk telah melumpuhkan negara negara Timur Tengah. Iraq yang masih boleh bertahan dengan sekatan Amerika beberapa waktu yang lalu, hampir sulit mengembangkan dirinya dalam bayangan pengawasan konspirasi zionis yang sudah menguasai dunia. Sedangkan Libya, mereka biarkan sedemikian rupa sebagai sparing partner untuk menjadi konsumsi berita dunia.
Para zionis dengan “mata Lucifer nya” mengerlingkan arahnya ke negeri zamrud khatulistiwa, yaitu Indonesia. Indonesia mereka anggap mulai kurang ajar kerana berani melecehkan pemerintah Amerika dengan membatalkan pembelian pesawat jet tempur F-16 produksinya, lalu melirik dan membeli pesawat jet tempur Mirage buatan Eropah. Indonesia mereka anggap pula telah menentangnya dengan memasukkan Myanmar ke dalam tubuh ASEAN dan juga telah bertingkah dengan menyelenggarakan Asia Pacific Economic (APEC) dan menganjurkan pertemuan internasional, seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan KTT non-Blok.
Untuk itu, mereka harus berlumba dengan keberhasilan ekonomi Indonesia agar pemerintah Indonesia tidak mampu membangun seluruh negerinya. Pembangunan ekonomi oleh pemerintah Republik Indonesia -kerana Indonesia majoriti penduduknya Islam yang terbesar di dunia- mereka anggap sebagai “duri” yang bertambah menghalangi gerakan Kristianisasi. Tingkat pertumbuhan ekonominya yang pesat harus dihambat, bahkan dihancurkan.
Catatan Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahawa jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 1976 adalah 54,4 juta atau 40% dari jumlah penduduk ternyata menurun dengan sangat drastis menjadi 25,9 juta atau 13,7% pada tahun 1993, sebuah angka yang menakjubkan. Pokoknya, dengan segala tekad -pemerintah pada waktu itu menyatakan perang dengan kemiskinan- pemerintah sedar bahawa kemiskinan hanya akan menyuburkan kembali fahaman komunis. Pemerintah juga sedar bahawa inilah cara untuk menyelamatkan umat sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :
“Kefakiran itu mendekatkan seseorang kepada kekufuran.”
Menurut laporan Bank Dunia (1990) pada tahun 1967, pendapatan per kapita (GNP) Indonesia hanya 50 dolar Amerika, iaitu separuh pendapatan per kapita (GNP) India, Bangladesh, dan Nigeria. Akan tetapi, mulai tahun 1980 pendapatan per kapita Indonesia meleset hampir mencapai 500 dolar Amerika per kapita yang bererti 30% lebih tinggi daripada pendapatan per kapita (GNP) India sebelumnya, 49% lebih tinggi dari pendapatan per kapita (GNP) Nigeria, dan 150% lebih tinggi daripada pendapatan per kapita (GNP) Bangladesh.
Pemerintah relatif sukses dalam mewujudkan tujuan ganda mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat dan memastikan distribusi pendapatan yang lebih seimbang. GNP riel tumbuh sampai sekitar 6,5% per tahun selama tahun 1974-1978, dengan pertumbuhan pertanian sampai 4% per tahun. Konsumsi pribadi per kapitanya juga meningkat.
Kecenderongan pemerintah yang membuka lebar kesempatan lebih luas kepada umat Islam, setelah dua puluh tahun hanya sebagai masyarakat marjinal yang tersisih (mustad’afin) dan tidak mempunyai akses, ternyata menambah cemburu dan marah kaum zionis. Keberhasilan ekonomi hanya akan memperkuat umat Islam di masa mendatang dan inilah yang membuat kaum zionis sangat tidak menyukainya.
Keberhasilan perekonomian Indonesia hanya akan menguntungkan umat Islam yang majoriti di Indonesia. Pendapatan per kapita yang meningkat tajam, walaupun belum merata, telah memberikan harapan bagi kelompok menengah sehingga mereka mampu membiayai pendidikan lebih baik. Mahasiswa yang berlatar belakang Islam juga telah mendapatkan biasiswa untuk sekolah ke luar negeri. Hal itulah yang dikhuatirkan oleh para zionis bahawa mahasiswa-mahasiswa tersebut nantinya akan menjadi “intelektual baru muslim” (the new intelectual muslim) yang akan memegang kendali pemerintahan Indonesia di masa mendatang. Kekhuatiran ini semakin beralasan ketika seluruh “saluran” dibuka aksesnya untuk menuju pengambilan keputusan sehingga mulai longgar pintu kekuatan ekonomi politik yang sebelumnya terkunci rapat, mulai dibuka.
Bagaikan pertaubatan besar maka dimulailah “pencerahan” dengan cara membuka akses bagi umat Islam yang selama ini menjadi majoriti yang tertindas. Kemudian berdirilah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Bank Muamalat, dan BPR Syari’ah mula merebak di mana-mana -sebagai landasan ekonomi Islam. Konferensi-konferensi internasional pun dianjur dan diselenggarakan oleh Indonesia, antara lain: KTT non Blok, OKI, dan OPEC. Bahkan, dengan naiknya wibawa Indonesia di mata ASEAN, bagi kaum zionis dapat merusak rancangan yang telah mereka strategikan “petanya” di atas meja. Lebih menyakitkan mereka lagi ketika Myanmar yang telah mendapatkan tekanan dari Amerika, diimbau oleh Indonesia untuk menjadi bahagian anggota ASEAN. Juga yang membuat mereka kesal pula bahawa para anggota legislatif Indonesia didominasi oleh umat Islam, termasuk isu adanya “ABRI hijau”. Gema dakwah mulai bertalu-talu.Betapapun orang mengatakan bahawa dakwah hanyalah baru menyentuh simbol-simbol, tetapi justru itulah kuncinya.
Dengan simbol itu, harapan umat Islam mulai merebak mekar dan memberikan ghairah yang membahana. Tuntutan para mujahid yang dipenjara, selangkah demi selangkah mulai dipenuhi. Umat Islam mulai diberikan haknya secara profesional, sehingga semarak dakwah kian luar biasa. Derap langkah nuansa Islam semakin menyeruak tatkala kabinet mulai diduduki oleh majoriti Islam, yang selama beberapa tahun lalu jabatan strategis selalu dipegang oleh nonmuslim.
Di lain pihak, APEC dan AFTA akan segera diberlakukan. Bila Indonesia di bidang ekonominya sudah telanjur berjaya, nescaya neraca transaksi perdagangannya tidak mengalami defisit Oleh kerana itulah, kaum zionis berkesimpulan bahwa apabila Indonesia tidak dilumpuhkan maka barang produksi mereka tidak dapat mendominasi pasaran di Indonesia. Bahkan sebaliknya, Indonesia yang akan mengekspor barangnya ke pasaran mereka, iaitu dunia Barat.
Pokoknya, semua perkembangan di Indonesia yang “mementaskan” umat Islam dalam gelanggang pemerintah telah menjadi kecemburuan kaum zionis, yang lalu memacu akselerasi mereka untuk menghancurkan Indonesia. Hal seperti itu tidak boleh dibiarkan. Para zionis kafir bersemboyan, “Jangan sekali-kali membiarkan pintu terbuka untuk umat Islam.” Oleh Kerana, hanya dengan memiskinkan umat Islam, maka gerakan zionisme lebih mudah bergerak. Terlebih lagi, dengan banyaknya “kanser” yang bergelimangan di lingkungan birokrat dan pengusaha. iaitu, para birokrat dan pengusaha yang menjadi penguasa, atau sebaliknya penguasa yang menjadi pengusaha. Mulai dari korupsi yang sudah “mendarah daging” sampai yang “mewabah”.
Kolusi yang menyebabkan tumbuhnya kekuasaan tersembunyi yang dikuasai oleh segelintir manusia dan golongan, serta pertumbuhan ekonomi yang tidak merata antara kelompok “penikmat kebijakan” (kalangan atas atau the ruling class) dan masyarakat yang lemah {dizalimi; mustad’afin) merupakan “pemacu” yang paling mudah meletup untuk mempercepat kehancuran seluruh tatanan yang ada. Oleh kerana pertumbuhan ekonomi yang meleset tersebut, kondisinya tidak melibatkan “arus bawah” dan telah melahirkan percanggahan serta kecemburuan sosial yang melebar. Sehingga pertumbuham ekonomi berdiri di atas fondasi (asas) yang sangat rapuh, tidak mempunyai akar fundamental yang kuat. Peredaran wang dan kebijaksanaan ekonomi hanya beredar di tangan para keturunan Cina, yang melebarkan pengaruhnya ke tepian kekuasaan.
Politik monolitik (politik yang berpihak pada satu golongan, ed): represif, dan kesenjangan (percanggahan) ekonomi, serta gaya hidup kaum yang berpunya telah menjadi pemacu utama timbulnya “kegundahan” rakyat kecil yang merasa hak asasinya tersumbat dan sulit menembus benteng-benteng kekuasaan. Ini semua adalah “ranjau-ranjau” keresahan sosial yang setiap saat dapat menjadi pemicu terjadinya “bom” perlawanan rakyat.
Dalam perang global ini (ghazwul-frkri), “tangan-tangan” perbankan zionis mulai bergerak. Yayasan Quantum milik George Soros diberi tugas untuk melakukan intervensi ekonomi global melalui strategi kewangan internasional. Percubaan pengintervensiannya yang pertama dilakukan di Thailand dan Korea, dengan harapan impaknya akan menjunamkan rupiah dari lalu lintas matawang dunia. George Soros berhasil, Indonesia hancur secara ekonomi dan merebak ke bidang-bidang vital lainnya, sebuah tindakan licik seorang Yahudi yang tidak sudi umat Islam berjaya. Hal ini sekaligus membuktikan kebenaran firman Allah:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak pernah akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (al-Baqarah:120).
Sementara, kedatangan dan pertolongan International Monetery Fund (IMF) dianggap oleh kita sebagai “juru penyelamat” (Mesiah) agar Indonesia dapat keluar dari krisis matawang dan ekonomi yang menghimpit. IMF, yang 80% dananya diperoleh dari para donatur Amerika, yang terutamanya kaum zionis serta kekuatan lobi Yahudi, telah memaksa Indonesia agar menerima segala klausul persyaratan yang sangat “menjerumuskan” Indonesia ke jurang yang semakin dalam. Padahal, justeru terbukti bahawa strategi IMF tidak memberikan solusi apa pun bagi krisis yang melanda Indonesia, justeru membuat Indonesia bergantung terhadap hutang-hutang baru. Hal itu pun justeru menjerat Indonesia untuk terikat akan sistem kebijakan ekonomi negara yang memberikan pinjaman.
Kemudian setelah ajen-ajen zionis licik tersebut telah berhasil memiskinkan Indonesia yang semakin terperosok, lalu langkah-langkah “perajurit Tuhan” akan lebih mudah memacakkan panji-panjinya di bumi Nusantara. Jatuhnya harga saham, dengan harga indeks gabungan yang sangat murah, akan mendorong para pengusaha zionis untuk memborong saham-saham tersebut. Itulah sebabnya, salah satu lobi mereka yang sangat agresif adalah mengarahkan pemerintah Indonesia agar mengizinkan perusahaan asing menguasai saham sebesar-besarnya dan kalau perlu secara keseluruhan, 100%. Dengan cara seperti ini, kelak seluruh infrastruktur, perusahaan, dan jaringan usaha akan dikuasai oleh perusahaan mereka.
Bermulalah era penjajahan ekonomi global, khususnya penindasan gerak ekonomi umat Islam di Indonesia. Lantas pujian indah untuk Indonesia yang biasa disebut sebagai “sepotong syurga” yang dipindahkan ke dunia, kini berubah menjadi sebuah “potongan kesengsaraan”. Cita-cita kaum zionis untuk menguasai dunia, diawali dengan penguasaan total terhadap perekonomian dan sistem kewangan dunia. Myron Pagan dalam tulisannya, A Satanic Plot for a One World Government menyebutkan bahwa para Iluminasi terdiri dari orang-orang elite. Mereka yang menjadi pemimpin tertingginya harus mengontrol para banker internasional.

Dajjal Dan Simbol Syaitan – Bab 3 (B)
D. Pengintipan Global
Untuk menghancurkan umat Islam, jaringan perisikan semakin menunjukkan keperkasaannya. Perusahaan multinasional bekerja sama dengan CIA (Central Intelligence Agent), ejen rahsia Amerika, saling menukar informasi menguntungkan. Tidak jarang para eksekutif di suatu negara merangkap pula sebagai ejen CIA. Bahkan, kebelakangan ini diketahui pula bahawa perusahaan multinasional mengembangkan jaringan intelijennya sendiri. Hal itu seperti apa yang ditulis Tofffer bahwa kontak antara intelijen rnereka dan intelijen CIA, serta intelijen di negara lain dilakukan secara profesional melalui kontak berkala.
Bechtel Corporation perusahaan konstruksi yang bermarkas di San Fransisco mempunyai kontrak bernilai ratusan juta dolar di Timur Tengah. Mereka telah memberi pekerjaan nominal untuk ejen CIA. Lalu sebagai imbalannya, Bechtel memperoleh informasi komersial dari CIA.
REPORT THIS AD
Bechtel adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang informasi rahsia (Bussiness Environment Risk Information) di Long Beach, California, telah mendapat pujian kerana memberikan keterangan kepada pelanggannya bahawa Presiden Mesir Anwar Sadat akan dibunuh. Ternyata, informasi tersebut memang benar, terbukti ia terbunuh dalam sebuah upacara militer oleh kelompok ekstrem yang disusupi oleh pihak intelijen lainnya. Demikian pula ramalan mereka tentang serbuan Irak ke Iran, juga menjadi kenyataan.
Hal ini membuktikan dengan jelas bahwa tidak ada negara yang bebas dari jaringan perisikan yang dikelola secara profesional oleh pihak CIA dan perusahaan multinasional negara-negara super power, terutama Amerika. Walaupun tidak dimungkiri, para perekrut CIA mendekati dan menggarap beberapa mahasiswa yang cerdas untuk diajaknya bekerja sama sebagai agen CIA dan kelak akan menjadi rakan yang menguntungkan apabila mahasiswa tersebut kembali ke negerinya. Peranan kedutaan besar di setiap negara sangat dominan dalam hal jaringan intelijen ini. CIA saling bertukar infomasi dengan Mossad (ejen rahasia Israel, ed.) pada saat umat Islam terlalu dominan. Mereka sibuk menyelusup ke dalam tubuh umat Islam sebagai suatu strategi untuk menghancurkan umat Islam.
REPORT THIS AD
Sangat disayangkan, negara-negara dengan penduduk majoritinya umat Islam tidak mempunyai minat yang besar untuk mempelajari strategi global dunia Barat yang terutamanya merupakan ambisi kaum zionis. Padahal Jepun telah menyebarkan seluruh kekuatan jaringan informasinya ke seluruh negara Amerika dan Eropah. Ratusan ribu mahasiswa tersebar di negara-negara tersebut, mereka belajar dan menimba ilmu, sekaligus sebagai perisik yang sangat loyal untuk kejayaan negerinya. Isu-isu politik internasional seringkali merupakan alat propaganda kepentingan para pemimpin Barat.
Ketika Bill Clinton diperkarakan dan nyaris terkena impeachment tuduhan terhadap skandal seks Bill Clinton dengan Monica Lewinsky, kemudian tidak lama setelah itu, Washington memerintahkan untuk mengebom Irak sehingga perhatian dunia internasional beralih kepada kes tersebut Gerakan konspirasi perisikan dan cara-cara kaum zionis yang ikut campur tangan ke dalam urat nadi pemerintahan negara-negara yang majoriti penduduknya Islam atau Katolik telah menunjukkan bukti- bukti yang nyata, walaupun secara faktual sulit dibuktikan kerana perannya sebagai gerakan rahsia adalah mustahil terbuka dan mudah diperoleh datanya yang faktual. Gerakan konspirasi internasional zionis merupakan sebuah gerakan yang dapat “dirasakan” walaupun sulit dibongkar sepak terjangnya secara nyata. Akan tetapi, satu hal yang harus diketahui umat Islam bahwa gerakan tersebut merupakan jaringan kebencian kaum zionis terhadap kaum beragama. Cita-cita yang berbaur dengan balas dendam mereka telah menunjukkan sikapnya yang sangat jelas untuk menguasai hak asasi kaum beragama.
REPORT THIS AD
Mereka menyatukan seluruh potensi serta para simpatisannya. Mereka menguasai seluruh perlembagaan internasional, mulai dari lembaga kewangan dan perbankan, Persyarikatan Bangsa-Bangsa, para komunis, sampai para milioner yang telah membuktikan kesetiaannya terhadap cita-cita membangun “satu dunia baru” melalui konspirasi yang sangat canggih.
Melvin Sickler mengatakan, “Dalam fasa akhir konspirasinya; iaitu membentuk satu pemerintahan dunia merupakan kunci menuju kediktatoran. Dengan menguasai Persyarikatan Bangsa-Bangsa, lembaga keuangan dan perbankan, para milioner, komunis, serta ilmuwan. Mereka bersatu untuk membuktikan cita-citanya dalam membangun konglomerasi manusia yang berjaya (satu dunia baru) melalui konspirasi yang canggih.”
Betapa nyatanya fakta gerakan kaum zionis Dajjal yang sangat berambisi untuk menciptakan satu dunia, satu agama, satu matawang, satu sistem perekonomian, dan satu kewarganegaraan yang dikontrol dari Telewash (Tel Aviv-London-Washington) melalui jalur Threelateral Amerika Utara (Amerika Syarikat dan Kanada), Eropah, dan Jepun. Di negara tersebut sengaja ditumbuhkan berbagai aliran kepercayaan yang berbau mistik dan radikal, yang maksudnya untuk menyaingi eksistensi agama-agama samawi: Islam dan Kristian.
Berbagai fakta untuk mewujudkan cita-cita dunia baru (novus ordo seclorum) sebagaimana dicita-citakan Adam Weishaupt, “Saat ini sudah matang buahnya dan hanya tinggal beberapa saat lagi untuk memetik-nya.” Dunia global sebagai kenyataan yang ada dan sebagai akibat kemajuan teknologi, sekaligus dijadikan jambatan emas untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Mereka kuasai media massa sampai ke pusatnya. Para pemimpin media massa internasional adalah bahagian dari sindikasi konspirasinya yang dijaring sedemikan rupa, sehingga tidak mereka sedari bahawa dirinya telah menjadi “budak” yang secara total dimanfaatkan dan menjadi bahagian dari konspirasi tersebut.
Perang konvensional telah berlalu. Perang atom dan nuklear telah memasuki tahap penghancuran. Saat ini adalah tahap “perang ideologi” dan tidak ada satu pun ideologi yang boleh unggul di hadapan ideologi zionis. Mereka menganggap bahawa agama sebagai dogma yang meracuni hak asasi manusia kerana sifatnya yang mendominasi dan memperbudak kebebasan asasi. Pengintipan atau konspirasi global telah berlangsung sejak sekian lama. Tidak terlewat pula targetnya iaitu negara-negara berkembang (membangun). Negara-negara berkembang diibaratkan seakan-akan bagaikan segerombolan kambing yang siap untuk diterkam oleh singa dan harimau yang berbaur tanpa mereka ketahui keberadaannya, kerana para singa dan harimau itu tidak segan-segan berpura-pura sebagai kambing. Kira-kira seperti itulah ibaratnya, begitu pula dengan “konspirasi licik” yang dilakukan antara CIA dan Mossad Israel yang begitu sangat kompak. CIA berkolaborasi dengan Mossad, kerana CIA memanfaatkan pengalaman anggota Mossad yang berpengalaman dalam mengadu domba umat Islam dan membuat berbagai rencana konspirasi untuk menghancurkan agama, memecah persatuan, dan menjadikan satu negara menjadi “kobaran api”.
______________________________________________
E. Imperialisme Informasi (The Global of Videocracy)
Dunia semakin sempit. Dataran bumi merupakan lahan yang paling empuk untuk dipotret dan ditelanjangi oleh kemajuan pengetahuan. Jaringan pusat satelit didirikan oleh Amerika dengan memakai nama Pusat Penelitian Cuaca. Jutaan informasi dari seluruh negara diolah dan dianalisis untuk kepentingan perusahaan dan ambisi para zionis untuk mewujudkan cita-citanya menguasai seluruh bangsa. Media television menjadi “tuhan baru” bagi jutaan manusia di muka bumi, menjadi “penguasa media” (videocracy) yang menghipnotis jutaan penontonnya. Slogan mereka adalah “tiada hari kecuali mata yang melekat pada kaca TV”, bagaikan terkena sihir. Jutaan anak-anak sangat hafal dengan program acara yang menayangkan film fiksi. Jutaan ibu rumah tangga menghabiskan waktunya menonton telenovela, sebuah acara opera sabun yang beritma emosional. Television bukanlah sekadar lahan usaha yang menggiurkan, melainkan bahan informasi yang boleh juga menyesatkan, tentunya bergantung kepada kepentingan pemegang sahamnya.
Dunia semakin sempit. Dataran bumi merupakan lahan yang paling empuk untuk dipotret dan ditelanjangi oleh kemajuan pengetahuan. Jaringan pusat satelit didirikan oleh Amerika dengan memakai nama Pusat Penelitian Cuaca. Jutaan informasi dari seluruh negara diolah dan dianalisis untuk kepentingan perusahaan dan ambisi para zionis untuk mewujudkan cita-citanya menguasai seluruh bangsa. Media television menjadi “tuhan baru” bagi jutaan manusia di muka bumi, menjadi “penguasa media” (videocracy) yang menghipnotis jutaan penontonnya. Slogan mereka adalah “tiada hari kecuali mata yang melekat pada kaca TV”, bagaikan terkena sihir. Jutaan anak-anak sangat hafal dengan program acara yang menayangkan film fiksi. Jutaan ibu rumah tangga menghabiskan waktunya menonton telenovela, sebuah acara opera sabun yang beritma emosional. Television bukanlah sekadar lahan usaha yang menggiurkan, melainkan bahan informasi yang boleh juga menyesatkan, tentunya bergantung kepada kepentingan pemegang sahamnya.
Trilioner media, seperti Rupert Murdoch, W. Randolph Hearst salah satu pengikut zionis, telah menjadi susuk yang sangat berpengaruh dalam dunia politik, bahkan menentukan nasib suatu pemerintahan kerana lobi mereka. Pengaruh “mata” zionis yang hebat ini telah mengubah perilaku budaya, selera, bahkan keyakinan manusia. Acara-acara yang ditayangkan television pun mampu membuat penontonnya begitu terpengaruh secara emosional hingga menangis dan gemas. Hal itu berhasil karena kepiawaian perancangnya dalam mengelola program-program acaranya sehingga menyebabkan jutaan umat Islam terpana dan larut dengan impian yang ditawarkan para copywriter (penulis skenario) periklanan. Kekuatan psikologis television dalam “meneror” para penontonnya melalui: ilusi, kesan (impression), dan pembentukan citra (image) telah berhasil menempatan Amerika sebagai super videocracy. Setiap inci filemnya ditata dengan menyisipkan ketiga karakter psikologi tersebut.
Jutaan mata sembab kerana menangis melihat suasana dramatik tenggelamnya kapal Titanic yang dilatarbelakangi nyanyian Celine Dion. Suguhan film fiksi, seperti Jurassic Park dan Armageddon membuat para penonton seperti larut dalam setiap episodnya. Dan jutaan manusia dibuai seakan menjadi Rambo ketika film ini menunjukkan keperkasaan Sylvester Stallone sebagai seorang macho hero yang membebaskan tawanan Amerika dari para Vietkong hanya dengan seorang diri -(publik lupa bahawa Amerika kalah perang di Vietnam). Amerika berhasil memanfaatkan media informasi untuk tetap membangun citranya sebagai negara super power yang sangat peduli sebagai pembela hak asasi manusia, sehingga setiap pembunuhan berdarah di Irak, Sudan, atau negara lainnya, mereka tetap tidak dipersalahkan. Hal itu tentulah kerana mereka telah berhasil membentuk image kuat melalui informasi dan filem khurafat (dongeng) yang begitu membekas dalam pandangan publik.
Television merupakan cara paling ampuh untuk membuka koridor penjajahan baru kaum zionis di muka bumi, bahkan ada semacam “penuhanan” terhadap television.
Oleh kerana kelangsungan hidup stesyen television sangat ditentukan oleh pemasukan iklannya, sedangkan perusahaan-perusahaan menghadapi masalah likuiditas dan dana tunai sehingga mereka “tercungap-cungap”–baik untuk memasang iklan maupun ikut investasi– bukan tidak mungkin saham suatu stesyen television akan dibeli perusahaan asing tentunya dengan lobi dan tekanan kepada pemerintah. Inilah “mata pedang” para prajurit tuhan tersebut. Mereka menguasai media massa, khususnya jaringan stesyen television, kerana dengan itu mereka lebih mudah mengontrol program-program penayangan yang berbau dakwah, sekaligus memudahkan pembentukan opini untuk keuntungan mereka.
REPORT THIS AD
Kisah sukses penginjilan telah dirintis oleh penginjil ulung, Jimmy Swaggart, yang menjadikan television sebagai senjatanya yang ampuh untuk mempengaruhi jamaahnya. Khutbahnya yang berenergi muncul pada saat fajar menyingsing dan ditutup menjelang tidur stesysen television dibuat secara khusus. Rumah produksi (production house) mereka buat dengan peralatan dan dekorasi yang canggih, mengemas-kini dan memproduksi jutaan video kaset untuk para jamaahnya sendiri dan diekspot sebagai bahan kajian para kader-kader para penginjil di seluruh pelosok negara.
Jaringan television yang dikuasai Yahudi (CNN, CNBC, ABC, MTI dan sebagainya) merupakan “tangan gurita” mereka, yang menjajah dan sekaligus menguasai konsumsi informasi secara sebelah pihak. Umat Islam dan negara berkembang semakin terperuk dalam komoditi informasi. Imperialisme informasi, inilah dua kata yang paling tepat untuk menunjukkan dominasi negara Barat. Abad ini adalah millennium of television yang mampu “mencengkeram” syaraf-syaraf penontonnya dan sekaligus mengubah budayanya. Televisyen bukan sekadar kotak hiburan, tetapi ia membawa pesan-pesan tersembunyi, sehingga tanpa kita sedari telah mengubah budaya suatu bangsa. Kita sering dikejutkan oleh perilaku anak muda yang popular dengan sebutan “generasi MTV“. Sayangnya, umat Islam yang majoriti di dunia, jangankan mempunyai jaringan televisyen bersifat internasional (seperti CNN) sedangkan jaringan lokal saja tidak mampu memilikinya. Padahal, dengan memiliki jaringan televisyen yang berorientasi kepada umat niscaya umat dapat mengetahui dan menangkis trik-trik kelicikan para zionis yang sudah “memenuhi” dunia media elektronik, sebagaimana mereka mempunyai ajen-ajennya, yaitu kaum orientalis.
Alvin Toffler mengulas, “Dewasa ini, keberhasilan gereja di dunia bukan hanya pengaruh moral dan sumber daya ekonominya, tetapi kerana ia tetap berfungsi sebagai medium massa. Kemampuannya menjangkau jutaan umat setiap pagi Minggu memainkan pula peranan dengan memanfaatkan surat khabar, majalah, dan media lainnya.”
Kekuasaan media menjadi fenomena baru dalam perang urat syaraf dan propaganda. Ketika Adolf Hitler sang pemimpin besar Nazi meminta Jenderal Gobel selaku Menteri Propaganda Jerman untuk memenangi perang, Gobel menyambutnya seakan-akan dia berkata, “Sebarkan kebohongan dan terus ulangi dan ulangi, kerana kebohongan-kebohongan tersebut akan menjadi kebenaran yang diyakini.” Hal ini memberikan kesan kepada kita akan kekuatan propaganda, terlebih bila dilancarkan melalui media massa. Tidak pernah kita bayangkan bahwa kekuatan media melalui selulosa video telah menjadi satu kekuatan besar yang membentuk citra, sikap, bahkan mengubah suatu kebiasaan, budaya dan ideologi suatu negara melalui penguasaan media (videocracy). Kemakmuran yang dinikmati segelintir kelompok, terutama kaum Cina yang menjadi penyandang dana kaum Nasrani, menyebabkan pula terjadinya keresahan sosial di kalangan umat Islam. Agresivitas pengkafiran semakin menampakkan keberaniannya. Kelompok minoriti yang fundamentalis berhadapan dengan majoriti yang idealis, menyebabkan tumbuhnya berbagai kekesalan yang terpendam di kalangan umat Islam. Di satu pihak, upaya toleransi agama hanya beredar dan dapat difahami hanya di kalangan elite dan kurang sekali diupayakan program sosialisasinya.
REPORT THIS AD
Padahal,sekiranya sejak awal, hal itu direalisasikan dalam bentuk toleransi, persaudaraan, dan kebanggaan sebagai satu bangsa dengan menghapuskan berbagai phobia agama dan persepsi yang salah tentang kesukuan mahupun ras, niscaya jambatan untuk menuju kepada saling memahami dan kerja sama sebagai satu bangsa akan segera terzahirkan.
Akan tetapi, sangat disayangkan hal tersebut tidak pernah menyentuh sampai ke dasarnya secara substantif. Bahkan, sebaliknya umat Islam belum menemukan format yang mampu mewujudkan kohesivitas (kesepaduan) pemikiran yang praktikal dan dinamik untuk menjawab tentangan global ini. Dalam beberapa hal, umat Islam masih tertinggal jauh dari agamawan lainnya yang bergerak dengan sangat profesional yang didukung oleh dana, hubungan internasional, serta sumber daya manusia yang kuat. Pola dakwah Islamiyah masih “jalan di tempat”. Dakwah baru menyentuh kepada simbol-simbol yang dangkal (superficial), masih berkutat (berjuang) pada tahap mata hati (bashiran), belum menyentuh mata hati yang menyinari (pelaksanaannya; sirajam-muniran). Dakwah dengan lisan masih lebih dominan daripada dakwah dengan perbuatan. Hal ini menyebabkan umat Islam kehilangan daerah yang strategik untuk melancarkan dakwahnya secara simultan, terintegrasi, dan dikoordinasikan dalam satu pengurusan yang profesional.
REPORT THIS AD
Buku Fakta dan Data yang diterbitkan Media Dakwah pada halaman 57 menyebutkan, “Lapangan media informasi harus dikontrol paling tidak 75% oleh orang Kristian, kerana informasi merupakan senjata yang paling tajam untuk menguasai umat Islam.”
Sementara, Umar Husein menulis tentang efektivitas ajakan Paus John Paul II, “Paus menyeru kepada umat Katolik agar menyebarkan ajaran Kristian (Pope calls on Catholics to spread Christianity).”
Dan hasilnya seruan Paus langsung diikuti oleh para jamaah dengan penuh semangat, dengan hasil dua kali ganda peratusan perkembangan laju penduduk Indonesia sendiri, terbukti perkembangan Kristian Katolik pun sangat pesat di Kalimantan (Kalimantan Barat 9,5 peratus; Kalimantan Timur 18,5 peratus; dan Kalimantan Tengah 16,5 peratus). Sedangkan peratusan umat Islam sendiri mengalami penurunan:
REPORT THIS AD
tahun 1980 (87 peratus), tahun 1985 (86,9 peratus). Boleh disimpulkan bahawa Indonesia adalah salah satu daerah tujuan penyebaran Injil. Demikian yang ditulis Husein Umar (Fakta dan Data: hlm. 24). Fakta ini memberikan informasi serta hikmah bahwa dalam dunia demokrasi global, umat Islam harus mampu bersaing memenangkan citra. Oleh kerana kebenaran yang hanya disimpan di dalam hati akan terhakis (lindap) digantikan oleh keyakinan yang setiap hari ditayangkan dengan penuh kesan. Perang global bukanlah perang konvensional yang mengepulkan peluru dan deru suara senjata api. Akan tetapi, sebuah kreativitas otak dan seni untuk memenangkan sebuah ambisi. Maka terkenanglah kita akan ucapan Umar bin Khaththab ra.:
“Kebatilan yang terorganisasi dengan rapi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisasi.”
Ini merupakan aksioma universal yang harus dijadikan pegangan hidup umat Islam. Kita tidak mungkin hanya bersifat apologetika (membela diri dengan melihat ke masa lalu, ed.) seraya melihat ke belakang mengenang kejayaan Andalusia. Di hadapan kita terpampang suatu “tentangan global” yang harus dihadapi dengan menyatukan pikiran, dana, dan ghairah untuk menjadi pemenangnya. Kita pun tidak perlu bermalas-malasan, seraya memimpikan datangnya Imam Mahdi, Ratu Adil, atau Mesiah yang dengan baik budi mahu menghulurkan tangan menolong penderitaan umat. Kita harus menjawab, “Tidak!” Kerana Allah tidak akan mengubah suatu bangsa (kaum) kecuali bangsa (kaum) itu sendiri yang mengubah nasibnya.
REPORT THIS AD
Menyedari gerakan zionis yang menyusup ke seluruh tubuh kehidupan termasuk kehidupan beragama -baik itu Islam, Kristian, Budha, atau Hindu- kiranya sudah saatnya semua pihak tanpa melihat perbezaan agama harus saling bergandingan tangan untuk membentengi negara tercinta yang merupakan amanat Ilahi dari gangguan ambisi kaum zionis. Semangat cinta Tanah Air merupakan salah satu kunci yang kukuh dalam menghadapi perang global ini. Setiap agama pasti menghargai makna Tanah Air sebagai amanat Ilahi. Pertentangan agama serta berbagai kecemburuan yang dijadikan pemicu konflik harus kita akhiri, kerana pada akhirnya hanya kaum zionislah yang akan memetik keuntungannya.
Seluruh umat beragama harus membaur dalam citra persatuan kebangsaan, kerana itulah kita semua berdiri menjadi pandu yang membentengi setiap jengkal harta dan martabat kita bersama. Sudah saatnya, kita melupakan luka sejarah yang penuh dengan pertentangan dan membuka ruang persamaan serta memperkecil nilai-nilai yang berbeza. Tidak ada pilihan bagi umat Islam di Indonesia kecuali membuka sekatan perbezaan, menghulurkan tangan, dan saling bergandengan tangan bahawa musuh kita bukanlah bangsa kita sendiri, tetapi sebuah kekuatan “raksasa” zionis yang harus dihadapi melalui persatuan dan kesatuan umat. Pertentangan sekecil apa pun tidak pernah akan memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam kecuali tepukan kebahagiaan bagi kaum zionis yang tidak rela bila ada satu negara yang tidak mahu mereka jadikan bonekanya. Jauhkanlah segala bentuk perbezaan yang tidak prinsipil yang hanya menuju kepada pertikaian. Hamparkanlah jambatan kebangsaan yang menghantarkan kita ke jambatan emas masyarakat baru Indonesia. Menjadikan cinta dan kasih sayang diantara sesama bangsa Indonesia sebagai tema sentral tatanan (pembentukan) pergaulan seraya memperkecil segala bentuk perbezaan. Bukan justeru sebaliknya, bangsa Indonesia kehilangan cinta dan kasih sayang kerana kita disibukkan dengan mempertajam perbezaan abadi yang secara fitrah melekat pada diri setiap manusia.
REPORT THIS AD
Umat Islam harus tidak mengenal kata menyerah dalam menghidupkan prinsip-prinsip kehidupan dalam sistem jamaah. Meramaikan masjid-masjid sebagai pusat tali ukhuwah dan membuka diri terhadap fahaman yang berbeza selama dalam kerangka cinta kasih dan saling menghargai. Hal ini tidak hanya dapat dituangkan dalam upacara pidato belaka, tetapi harus dijadikan sebagai bahagian dari sistem pendidikan bangsa, sejak mereka mengenal bangku sekolah. Buanglah jauh-jauh segala bentuk Islam phobia, Kristus phobia, Sino phobia, dan segala bentuk phobia yang akan menghambat persatuan kita sebagai satu bangsa yang telah memiliki tradisi nenek moyang yang luhur. Kuncinya tidak lain bersatu, sekali lagi bersatu. Hidup yang rukun, berdampingan dan saling menghargai, sebagaimana telah ditunjukkan oleh kebesaran jiwa Islam pada period Madinah dan Mekah, mahupun pada saat puncak kejayaan pemerintah Islam di Andalusia, yang oleh Max Dimont dikatakan, “Dampak dari 500 tahun di bawah kebijakan kaum muslimin, maka Spanyol yang saat itu terdiri dari tiga agama: Islam, Kristian, dan Yahudi yang hidup dalam satu wilayah, mereka saling bertoleransi dan penuh pengertian dalam bermasyarakat….” (Under the subsequent 500 year rule of the Moslems emerged the Spain of three religion and one bedrooms: Mohammedans, Christians, and Jews shared the same brilliant civilization….) Inti ajaran Islam adalah tauhid dan membawa kedamaian bagi alam semesta (rahmatan lil-alamin). Hal itu hanya dapat kembali ke panggung sejarah selama umat Islam bersatu dan menjadi payung kehidupan. Sebagaimana masyarakat madani yang kita cita-citakan hanya dapat terwujud bila kita semua mengarah kepada persatuan umat (ittihadulummah). Kemenangan Islam yang mengalahkan kaum Pagan musyrikin telah membuktikan satu tradisi bahawa di tangan daulat Islamiyah, masyarakat lain yang beragama non-Islam, dapat hidup tenteram berdampingan. Kalau saja para pemimpin mempunyai keberpihakan yang kuat kepada Allah dan Rasulnya, kalau saja mereka ingin membangun sebuah “samudra besar” yang disebut dengan persatuan umat. Kalau saja di hati para pemimpin ada semangat kenegarawanan yang sejati, bukan sekadar ahli orasi (pidato) dan politik niscaya mereka mau melepaskan baju ‘ashabiyah-nya (kebanggaan terhadap kelompok) seraya berkata: “Demi menegakkan Sunnah Nabi dan kekuatan jamaah yang bagaikan barisan yang… Kuat, demi Allah, saya tidak inginkan jabatan ini, asalkan kita dan para pengikut masing-masing meleburkan diri dalam satu kata yang paling dirindukan, yaitu ‘persatuan umat’ (ittihadul-ummah). Kalau Anda mahu memegang amanat umat yang satu, silakan pimpin dan bawalah umat ini menuju ke puncak-puncak kejayaan Islam, saya akan mendampingi Anda dalam suka dan duka untuk memenangkan cita-cita izzul Islam walmuslimin (menjunjung Islam dan kaum muslimin).” Akan tetapi, dari dalam lubuk hati yang paling dalam, nurani pun menjerit, adakah pemimpin yang seperti itu?
Lantas masih adakah para pemuda yang mempunyai tekad kuat (muru’ah) untuk berkempen tentang pentingnya persatuan dan kesatuan umat? Masih adakah pemuda yang berkata, “Demi persatuan umat dan menghilangkan kebingungan kerana banyaknya parti dan golongan yang mengatasnamakan Islam, maka dengan mohon maaf sebesar-besarnya kepada Anda sebagai pemimpin kiranya sudi dengan ikhlas mahupun terpaksa untuk ikut dengan kami ke satu tempat, di sana telah berkumpul para pemimpin Islam yang lainnya. Ini bukan menculik, seperti kes Chairul Saleh dan rakan-rakannya yang membawa Soekarno ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan Indonesia. Akan tetapi, sebuah harapan yang kami wujudkan dalam bentuk tindakan, bukan kata-kata, kerana kata persatuan umat sudah terlalu lama kami dengar tanpa melahirkan apa pun kecuali retorik belaka. Mohon maaf, ikutlah dengan kami ke satu tempat untuk memproklamasikan parti yang mampu menyatukan seluruh potensi umat dalam satu wadah satu harakah satu cita-cita ittihadul ummah.”
REPORT THIS AD
Akan tetapi, nurani bagaikan tercabik koyak. Pemikiran seperti ini hanyalah sebuah khayalan. Bahkan, boleh menjadi cemuhan belaka. Dan segudang tudingan pun pasti menuju kepada orang-orang utopia itu. Ini bermakna tidak demokratik, biarkanlah semua orang mempunyai haknya masing-masing. Hargailah orang yang berbeza pendapat, berbeza kelompok –yang segudang hadits dan ayat pun mereka bacakan. Anda jangan memaksakan kehendak kerana ingin mewujudkan persatuan umat dengan cara paksa dan itu adalah fasis (berpemikiran otoriter/memaksa, ed.).
______________________________________________
F. Hancurnya Persatuan
Persatuan umat Islam dalam bentuk ittihadul–ummah atau kuatnya persatuan dan kesatuan suatu bangsa adalah musuh utama kaum zionis. Mereka tidak pernah membiarkan umat atau suatu bangsa bersatu, kecuali itu hanya sebagai bahan imbangan kekuatan semata-mata. Beberapa bangsa dibiarkannya untuk stabil dan bersatu sepanjang dapat mereka kawal demi kepentingan mereka. Kerana dalam gerakan konspirasinya, kaum zionis menganggap pemimpin yang baik adalah yang mampu menciptakan konflik, mampu membuat musuh, tetapi semuanya itu harus dalam perancangan kerangka besar sehingga tetap terkawal. Memang benar bahawasanya umat Islam bukanlah pemalas. Mereka sama-sama bekerja, tetapi sayangnya tidak pernah mahu bekerja sama. Satu sama lain asyik dengan kepentingan atau urusan sendiri. Menutup sekat dari nilai penting persatuan dan persaudaraan yang hanya sebatas pemanis retorik belaka. Jiwanya rapuh diterpa kecintaan yang sangat mendalam terhadap dunia, terperangkap dalam jaringan yang telah dipersiapkan kaum Dajjal. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:
“Akan datang suatu saat, kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain yang bagaikan orang-orang yang kelaparan memperebutkan makanan dalam mangkuk. Para sahabat bertanya, ‘Apakah kerana jumlah kami waktu itu sedikit?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, bahkan jumlah kalian banyak sekali, tetapi bagaikan buih dan kalian ditimpa penyakit wahan.’ Mereka bertanya, ‘Apa yang dimaksud penyakit wahan, ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Kalian sangat cinta kepada dunia dan takut mati’…” (HR Abu Daud).
Dengan hadits tersebut, seharusnya kita merasa digugah bahwa gerakan kaum Dajjal itu sudah memperhitungkan pula kualiti umat Islam yang saat ini mulai kehilangan nilai, penurunan kualiti, dan hidup hanya bagaikan gunungan buih, sehingga dengan sangat mudahnya Dajjal dan para pengikutnya menebas dan merombak seluruh sistem kehidupan umat Islam seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah:120.
Sehingga, berbagai cara harus dilakukan agar umat Islam tidak sempat menjadi kuat dan menepuk dada sebagai satu bentuk negara yang baik. Pokoknya, tidak ada satu “lubang” pun yang luput dari pengawasan mereka. Dia pelihara benih-benih konflik agar pada waktu yang tepat dapat menjadi bahan akseleratif (lonjakan) kekacauan yang menjadi sarana baginya, yaitu agar orang-orang yang dalam keadaan kacau (chaos) dan frustrasi itu datang menyembah kepadanya. Cita-cita Dajjal membangun satu dunia baru yang global, yaitu: satu pemerintahan, satu agama; satukewarganegaraan, dan satu sistem perekonomian merupakan falsafah baru bagi para pengikutnya, kaum zionis. Mereka akan menghapuskan segala bentuk kebangsaan dan nasionalisme serta agama-agama yang ada. Dengan terang-terangan, mereka membuat gerakan unitarian-universalist dan menentang dengan sengit kekuatan gereja Katolik. Mereka menyebut dirinya sebagai anti-Kristus. Salah satu target mereka adalah menghancurkan kekuatan Kepausan yang menguasai dunia melalui gereja Katoliknya.
Sejarah masa lalu serta terusirnya kaum Yahudi dan terbunuhnya Jaques de Molay merupakan satu cita-cita untuk membalas dendam. Maka dicarilah berbagai justifikasi (pengesahan hukum sepihak) diantaranya dengan membuat tafsir-tafsir Bible yang disesuaikan dengan kepentingan gerakan konspirasi mereka. Dengan sangat cantiknya mereka menafsirkan peristiwa Menara Babil, di mana pada saat itu seluruh manusia berbahasa satu, berkebangsaan satu, dan mempunyai tujuan yang satu. Sebab itu adalah cita-cita yang sangat suci bila mereka mengembalikan kedudukan Menara Babil tersebut, agar manusia mencapai kesejahteraan yang sebenarnya. Mereka sangat anti terhadap agama yang dianggapnya sebagai racun. Kerana dengan dogma-dogmanya, ia telah membius manusia sehingga terpenjara dan tidak mempunyai kebebasan berfikir kecuali harus sesuai dengan agama mereka.
Generasi muda merupakan sasaran utama mereka, kerana sifat para pemuda yang sangat senang dengan pemikiran-pemikiran baru atau menunjukkan sikap yang berbeza dan anti-status quo. Di samping itu, pemikiran bebas (free-thinking) akan menjadikan satu model pemberontakan terselubung untuk menghadapi sistem pemikiran yang diperkenalkan agama sebagai status quo dan membunuh kreativitas. Dajjal dan para pengikutnya seakan-akan berteriak:
“Bebaskan dirimu dari segala ‘penjara kuno’ ini. Jadilah kaum pembaru. Lihatlah dunia semakin global. Janganlah terperuk dalam tempat yang sempit. Lihatlah dunia, mengembaralah engkau sebagai manusia bebas. Jadilah seorang pembela demokrasi sejati, melepaskan segala belenggu dari tirani (ajaran) dogma agama. Berpalinglah kepada syaitan kerana dia adalah ‘bapak demokrasi’ yang berani memprotes status quo dan mengambil risiko terusir dari syurga sebagai ‘malaikat diturunkan’ (the fallen angels). Lihatlah kenyataannya, agama tidak lain hanyalah racun dan sumber konflik belaka.”
Racun pemikirannya yang didasarkan pada rasionalisme, mengarahkan “mata pedangnya” kepada seluruh bangsa. Tentu saja, dalam situasi yang stabil dan tenang, gerakan mereka menghadapi kesulitan kerana berperannya seluruh institusi untuk mengembangkan agama (dakwah). Oleh kerananya, hanya dengan membangun perpecahan diantara umat beragama maka dengan meminjam istilah Prof J.S. Malan yaitu, “Cita-cita ‘era reformasi pembaharuan’ hanya dapat diwujudkan bila dogma-dogma agama konservatif sudah dapat dilumpuhkan.”
Dalam beberapa dekad ini, kita menyaksikan satu panggung kehancuran suatu bangsa yang terkoyak dan berkeping-keping menjadi negara-negara kecil sehingga memudahkan kaum zionis melakukan penguasaan. Negara Uni Soviet dan Rusia yang selama ini menjadi pesaing keras harus dijadikan contoh utama kemenangan zionis. Selanjutnya, mereka hancurkan pula Yugoslavia dengan memelihara kaum fanatik Serbia untuk menjadi ujung tombak atau budak zionis menghancurkan etnik muslim di Bosnia dan Kosovo Albania. Mata pedang selanjutnya di arahkan pula ke timur jauh, yaitu Indonesia. Isu suku, agama, dan antara golongan (SARA) harus dipelihara agar sewaktu-waktu menjadi bom yang memporak-porandakan negara kesatuan Republik Indonesia yang terutamanya penduduk yang majoriti umat Islam. Dalam rancangan konspirasi mereka, tentu saja tidak akan lama lagi terjadi huru-hara pertentangan atau konflik agama, antara Islam dan Kristian, khususnya Kristian Protestan -rumor beredar bahawa beberapa pulau di Indonesia yang penduduknya majoriti Kristian Protestan akan jadi target zionis- kerana diperkirakannya Katolik sudah cukup mendapatkan lahan (tanah) di TimorTimur. Hal ini sangat penting bagi terwujudnya cita-cita zionisme, iaitu memecah satu bangsa menjadi satu negara kecil, lalu mereka meniupkan kebebasan, kemandirian, dan sebagainya sebagai kamuflase (penyamaran). Bahkan, boleh jadi Indonesia akan diarahkan menjadi negara-negara kecil dalam bentuk federasi, atau bahkan terlepas sama sekali. Isu seperti ini akan terus merebak, dan umat Islam berkelompok-kelompok dengan memakai simbol-simbol baru.
Untuk memecah-belah persatuan harus ada motivator atau provokatornya. Untuk itu, kebebasan akhbar yang benar-benar bebas harus ditumbuhkan, sehingga media massa dapat menjadi pembawa mesej sesuai dengan fungsinya yang mempunyai daya penyebaran berita kepada publik sehingga membentuk opini. Media massa boleh memprovokasi suatu bangsa dan provokasinya bersifat legal kerana mereka berlindung di balik kebebasan akhbar. Amerika sebagai “raja demokrasi” telah memperkenalkan satu bentuk kebebasan akhbar tersebut melalui jaminan konstitusional berdasarkan: kebebasan untuk berbicara (the freedom of speech); kebebasan untuk berekspresi (the freedom of expression), kebebasan untuk mendapatkan dan memberikan informasi (the freedom of information), sehingga masyarakat Amerika dan dunia Barat lainnya adalah masyarakat yang sangat informatif. Hidup dalam limpahan informasi –harap diingat bahwa kecerdasan bangsa tersebut memungkinkan untuk memilih informasi sesuai dengan hati nuraninya. Akhbar yang kredibel dan profesional lebih banyak dibaca dibandingkan “akhbar kuning” –dalam dunia jurnalistik dikenal dengan yellow paper.
Untuk itu, kita hanya dapat berharap kepada insan akhbar islami yang mempunyai integriti tinggi dan mempunyai komitmen atau keberpihakan kepada umat Islam serta persatuan bangsa untuk membantu perjuangan mempertahankan persatuan. Selebihnya, umat Islam hanya menjadi konsumen (pengguna) setia dari lembaga akhbar orang-orang kafir yang dikelola secara profesional, atau memilih “akhbar kuning” yang hanya mementingkan nilai-nilai komersial berbanding keadilan dan moral bangsa dan agama. Bagaikan tidak berdaya, umat Islam telah menjadi objek dan konsumen setia terhadap media kaum kafir. Setiap detik, tayangan CNN, CNBS, ABC, dan sekian banyak lagi jaringan informasi “memasuki” rumah-rumah umat Islam melalui parabola tanpa mampu menolaknya. Kita tidak lagi menonton televisyen, tetapi televisyen menonton kita. Emosi dan keinginan kita disaksikan, dianalisis, kemudian dijadikan bahan untuk membuat kemasan iklan dan berita yang dapat memasuki saraf kita dan tanpa kita sedari.
Cara berfikir dan cara berbudaya kita sudah sangat berbeza sama sekali dengan apa yang selama ini kita yakini. Benturan (kesan) budaya dan pemikiran terus berlangsung, tanpa sedikit pun ada keinginan untuk membalas dengan kuantiti dan kualiti yang sama. Bila kita mengharapkan keadilan dunia media internasional untuk membuat keseimbangan beritanya, tentulah itu hanyalah sebuah utopia belaka. Hal itu kerana seluruh jaringan media telah mereka kuasai dan jadikan alat zionisme. Dengan kata lain, kita semua sedang berada dalam satu “pergolakan budaya” yang berada dalam posisi pasif. Kita hanya menjadi satu “noktah kecil” yang menjadi objek dari teleskop dunia. Seluruh gerak kehidupan kita bagaikan telanjang di hadapan mata Lucifer tuhan para zionis, yang dengan tajam mengawasi seluruh bangsa di dunia.
Walaupun dalam kaitan ini ajakan untuk menyebarkan idea persatuan umat dan seruan itu bagaikan percikan air hujan di tengah padang pasir, tetapi setidaknya dapat menjadi catatan generasi yang akan datang bahawa masih ada seorang mahluk hamba Allah yang merindukan terwujudnya persatuan dan jami’atul-muslimin. Kita yakin hanya inilah kunci kemenangan umat Islam di muka bumi, sebagaimana Allah memberikan kuncinya, yaitu bersatu dan berpihak pada parti Allah (hizbullah). Selama umat Islam tetap membanggakan dirinya dengan golongan, mazhab, dan kelompoknya, selama itu pulalah pertolongan Allah tidak pernah akan datang. Hal ini merupakan aksioma Ilahiyah yang seharusnya dapat difahami dan diyakini oleh para pemimpin umat. Bila umat Islam terpecah menjadi kelompok-kelompok, kekalahanlah yang akan kita terima.
________________________________________________
G. Tentangan Kaum Dajjal
Allah SWT telah memperingatkan kita di dalam Al-Qur’an bahwa seluruh umat Islam, bangsa Indonesia, bahkan seluruh umat beragama lainnya, harus mewaspadai pengaruh kaum Dajjal yang akan menjadikan masyarakat dan bangsa Indonesia tercerai-berai agar memudahkan mereka menyebarkan “racun-racun” ideologinya. Dalam suasana kita sedang mengupayakan pelaksanaan program reformasi (ishlah), serta upaya untuk membuat berbagai perbaikan dan menghancurkan segala yang rusak (f’asad) dan yang merusak (ifsad), jangan sampai ada pihak-pihak yang mengatas-namakan reformasi, padahal di lubuk hati mereka sedang mempersiapkan sebuah rencana besar untuk mempersiapkan kehancuran kaum beragama, sebagaimana diisyaratkan Al-Qur’an:
“Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘janganlah membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (al-Baqarah:11-12).
Reformasi bukanlah usaha bermusim, bukan pula sekadar “model busana”, melainkan merupakan bahagian dari misi dan visi setiap pribadi muslim dan bangsa Indonesia. Sebagaimana kita memahami makna upaya jihad untuk mengubah diri dari kegelapan menuju cahaya (minadz dzulumaati ilan-nuur). Sebab itu, reformasi merupakan sebuah upaya yang berkesinambungan, sebuah kontiniutas, dan dia tidak pernah akan berhenti, kendati para pejuangnya telah mati. Manusia boleh mati, lembaga dan parti boleh bubar, tetapi cita-cita dan upaya ishlah atau reformasi tidak pernah mengenal kata berhenti apalagi mati.
Dalam kaitan itu, janganlah terlalu terpaku, seakan-akan bahwa Dajjal itu hanya melulu dibuat oleh tangan kaum zionis. Ketahuilah bahawa siapa pun dapat menjadi pengikut dan menjadi anggota masyarakat Dajjal, selama dia tidak lagi berpihak kepada kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah. Masyarakat Dajjal adalah masyarakat yang telah kufur dan selalu berusaha melaksanakan program kafirisasi dalam segala bidang. Pokoknya, siapa pun dapat menjadi masyarakat Dajjal, selama mereka melepaskan tali persaudaraan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Selama mereka melepaskan segala ikatan moral dan etika yang telah lahir dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang panjang, sejak benih-benih negara moden ditanamkan oleh gerakan kebangkitan nasional yang pertama yang dipelopori oleh kaum Syarikat Dagang Indonesia, H.O.S. Tjokroaminoto pada tahun 1911, lalu dilanjutkan oleh Budi Oetomo pada tahun 1920.
Sebab itu, generasi demi generasi harus selalu menunjukkan sikap menyebelahi kepada persatuan, persaudaraan di atas landasan cinta. Ke manapun kita pergi, cinta adalah bahasa universal. Dia adalah bahasanya umat beragama, bahasanya suku, dan bangsa-bangsa di muka bumi. Cinta bererti semangat jiwa untuk saling menghargai, saling menolong, dan saling memberikan cahaya. Semangat ini harus menjadi pijakan utama bangsa Indonesia. Terlebih dalam menghadapi abad baru yang penuh dengan keterbukaan, benturan budaya dan ideologi, serta cara berfikir yang semakin global. Dalam cinta itulah, kita semua bergantung, tanpa cinta bangsa Indonesia akan terperuk dalam kepingan-kepingan derita yang teramat panjang dan menjadi “budak” dari Amerika Syarikat sebagai pusat gerakan zionis yang memang selalu ingin menunjukkan kekuasaannya di muka bumi ini.
______________________________________________
H. Tentangan Tiada Henti
Dalam waktu yang dekat, ideologi Dajjal akan segera merasuki seluruh denyut kehidupan. Dia akan diawali dengan cara berfikir, yang disebut dengan istilah berfikir bebas (free-thinking), melepaskan segala rujukan dan dasar pijakan dari agama. Menurut orang-orang yang berfikir bebas ini, selama masih merujuk kepada agama sebagai dasar penghujahannya, maka belumlah bebas. Merujuk kepada agama bererti masih diperbudak dan masih dalam perangkap tirani (ajaran pemikiran. “Bebaskan fikiranmu dari segala ikatan, barulah engkau dapat merasakan kebebasan itu sendiri,” demikianlah, seakan-akan moto berfikir mereka, yang sekaligus akan menjadi tentangan baru bagi kaum agamawan. Berfikir bebas bererti benar-benar bebas dari segala spekulasi, segala sesuatunya harus bersifat empirikal.
Bagaimana mungkin kita percaya dengan syurga dan neraka, sedangkan tidak ada satu pun peristiwa empirikal yang memberitakan kebenarannya. Lepaskan dirimu dari segala ikatan dogma. Lihatlah kenyataan, berpadulah dalam realiti, bukan dalam khayal dan impian. Kami ingin memberikan satu contoh untuk kalian wahai kaum agamawan. Tanpa merujuk pada satu ayat pun; kita akan merasakan bahwa “kemanusiaan” adalah bahasa yang universal. Ini lebih logik, lebih membumi, dan menyentuh realiti yang sebenarnya. Selama manusia masih merujuk pada agama, maka konflik tidak pernah akan bernaung di muka bumi ini. Lihatlah sejarah, berapa banyak sumber konflik, diawali dari keyakinan dogma-dogma agama yang memenjarakan kebebasan berfikir dan tidak manusiawi. Dunia telah mengglobal, tidak mungkin lagi ada isolasi atau sekatan-sekatan kehidupan manusia atas dasar agama, bangsa, atau budaya. Di muka bumi ini sudah menjadi hukum alam (sunnatullah) bahawa yang kuat itulah yang akan menang. Aksioma survival for the fittest (siapa yang kuat, dia yang akan bertahan, ed.) akan berlaku sepanjang zaman. Maka lepaskan segala fanatisme, nasionalisme, agama, dan kesukuan. Meleburlah menjadi satu “warga dunia” (planetary citizens), bergabunglah dalam satu pemerintahan global yang perkasa, ikatkan dirimu dalam satu budaya, satu agama, satu cita-cita, dan satu warna peradaban dunia yang baru novus ordo seclorum.
Lihatlah realiti. Berapa banyak manusia kelaparan di belahan bumi selatan: Afrika, Asia, India, Bangladesh, dan negara-negara lain di luar Barat. Mereka tidak berdaya tanpa pertolongan kemanusiaan dari dunia Barat yang sekular, tanpa embel-embel agama. Negara mana yang dengan fanatisme agamanya, ia mampu menghulurkan tangannya untuk membantu sesamanya, sebagaimana yang diajarkan oleh agama? Janganlah melarikan diri dari kenyataan. Hukum alam telah membuktikan bahwa budaya yang kuat akan mengungguli budaya yang lemah. Tidak lama lagi, seluruh dunia akan mengikuti budaya kami, budaya zionis. Budaya yang paling unggul dan yang akan meninggikan darjat manusia di muka bumi ini. Inilah realiti yang tidak terbantahkan. Kami mempunyai teknologi, juga pengalaman dari sebuah peradaban yang telah lama berkembang, dan kini sedang berproses mencapai titik yang tidak pernah akan terbayangkan oleh peradaban manusia sebelumnya. Berhentilah bermimpi dengan segala omong kosong. Teguk dan nikmatilah dunia nyata. Negeri kami mampu tegak, sejahtera, dan berkembang bukan kerana dogma agama, tetapi kerana intelektualitas, hukum yang menjadi primadona kehidupan dan hak asasi, di mana setiap orang dihargai sebagai manusia yang merdeka –inilah cita-cita Dajjal beserta zionisnya.
Inilah pula cita-cita para zionis dengan perkataannya, “Kami datang untuk melebarkan sayap budaya unggul kami, dan janganlah dicurigai. Kami ingin mengangkat martabat manusia menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang bebas dan mengetahui hak asasinya sebagai manusia. Kami ingin melepaskan Anda dari segala tirani (ajaran) gereja dan lembaga agama apa pun yang tidak memberikan hak demokrasi serta kebebasan bagi manusia. Itulah sebabnya, demi hak dan martabat manusia, kami membuka pintu bagi kaum lesbian, homoseksual, dan intergender serta lainnya. Mereka semua adalah manusia, dan kita harus memperlakukannya sebagaimana seharusnya manusia merdeka dan bebas.”
______________________________________________
I. Pekerjaan Besar Untuk Para Ulama, Mubaligh, dan Agamawan
Dunia bertambah global dengan segala implikasinya yang merupakan sebuah realitas. Dan pertanyaan serta tentangan masyarakat Dajjal tidak boleh dipandang dengan sebelah mata. Kerana ideologi ini sudah dapat kita saksikan beberapa fragmentasinya di panggung kehidupan dunia Barat yang sekular. Mereka mengembangkan dan mencuba meningkatkan propagandanya dengan pendekatan total dan multidimensional. Gerakan: kemerdekaan manusia (libertian), orang-orang kiri (leftist), pemikir bebas (freethinkers), sosialisme baru, neo-komunisme, sekularisme materialistik, termasuk pseudo agama dalam bentuk mistik dan okultisme. Itu semua tidak dapat dihadapi hanya dengan pendekatan hitam-putih mahupun halal-haram. Akan tetapi, itu memerlukan sebuah format intelektual yang membuka wawasan serta mampu menjawab seluruh argumentasi ideologi baru ini melalui kapasitas intelektual logis –yang saat ini menjadi model di kalangan para kawula muda.
Kaum agamawan tidak cukup hanya dengan menguraikan nilai-nilai normatif dalam menghadapi objek dakwah yang kebetulan telah bersentuhan dengan informasi global. Mereka menguji kita dengan pendekatan komparatif (perbandingan). Mempertanyakan norma-norma yang disajikan dengan deskriptif-empiris. Kita telah menyaksikan betapa gerakan dakwah sangat sedikit, baik dari segi kuantiti maupun kualiti, apabila dibandingkan dengan propaganda budaya sekular tersebut. Dakwah bagaikan deret hitung, sementara godaan kenikmatan hedonistik bagaikan deret ukur.
______________________________________________
J. Solusi Ataukah Ilusi
Apakah ilusi boleh menjadi solusi, ataukah sebaliknya penawaran sebuah solusi hanyalah ilusi belaka yang akhirnya tidak memberikan apa pun kecuali kembali kepada kebiasaan-kebiasaan dan membiarkan diri “telanjang” di hadapan bidikan “kamera” kaum Dajjal.
_________________________________________^^^__
K. Bidang Ekonomi
Kalau saja saat ini, umat Islam mempunyai pemimpin sebenar-benarnya pemimpin, seperti Rasulullah saw, niscaya ekonomi menurut syariat Islam boleh dikomandokan agar seluruh umat Islam melaksanakannya. Dan niscaya umat Islam akan mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat dan sulit untuk ditembus oleh infiltrasi fahaman zionis, walau mereka bersekutu dengan kaum Dajjal lainnya di muka bumi ini. Setiap pengusaha atau masyarakat mempunyai keterpanggilan untuk hanya menyimpan wang mereka di bank Islam. Melakukan sistern ekonomi dan perbankan dengan sistem yang ditetapkan secara halal menurut konvensi syariat. Tentunya, bank Islam tersebut akan mengalami likuiditas yang tinggi, dana tunai yang sihat, dan pada saatnya mampu mengalirkan kembali dana tabungan tersebut untuk membantu kaum muslimin. Jaringan dunia perbankan Islam akan menyebar ke semua pelusuk dan memperkuat fondasi ekonomi umat.
Akan tetapi, jauh dari lubuk hati kita masing-masing, tentunya ada semacam pesimis, selama umat Islam tidak berada dalam satu komando kepemimpinan umat yang berwibawa. Selama kepemimpinan dan jemaah belum dianggap sebagai persyaratan kehidupan umat Islam, maka himbauan apa pun akan tetap kalah bersaing dengan hingar bingarnya sistem zionis yang secara duniawi sangat memikat manusia. Patutlah Rasulullah saw menjawab bahawa umat yang banyak, tetapi berkualiti buih. Kita telah kehilangan daya inovasi dan lebih senang menari dengan iringan muzik kaum kafir yang tidak pernah mengenal lelah ingin mengadu domba sesama umat Islam.
______________________________________________
L. Zakat, Infaq, dan Sedekah
Kalau saja umat Islam mempunyai “imam” yang mampu mengomandokan agar beberapa bahagian dari penghasilan umat Islam dikeluarkan untuk dizakatkan, diinfakkan, dan disedekahkan kepada mereka yang memerlukannya (kaum dhuafa) niscaya tidak akan ada lagi proposal yang beredar atau surat-surat edaran yang meminta sumbangan, tidak akan ada lagi para saudara kita yang menghulur-hulurkan tangan diiringi loudspeaker di pinggir jalan untuk biaya pembangunan masjid baru. Kerana pengelolaan dana dizakatkan, diinfakkan, dan disedekahkan umat dilakukan dengan profesional dengan satu imamah, tentunya.
Pembangunan masjid dievaluasi oleh satu tim. Apakah diperlukan membangun masjid baru sedangkan di sebelahnya ada masjid yang sepi dari jamaah. Bagaimana rasio populasinya, dari manakah dananya, dan lainnya. Kerana kita tidak mempunyai imamah maka umat Islam mencicit seperti anak ayam kehilangan induknya yang bergerak di lapangan terbuka tanpa perlindungan dari mata tajam helang rajawali yang siap menerkamnya. Bagaimana membuat satu fatwa atau gerakan dakwah agar dapat meramaikan masjid. Memakmurkannya dengan shalat berjamaah adalah sama besar pahalanya dengan membangun masjid. Apalah ertinya masjid dibangun di setiap RT atau RW (daerah), tetapi sepi dari orang-orang yang meramaikannya dengan shalat fardu berjamaah.
_______________________________________________
M. Membelanjakan Wang
Kita tidak ingin berdebat soal khilafiah bahwa ibadah seseorang tidak akan diterima selama empat puluh hari apabila di dalam perutnya ada makanan haram, tetapi kiranya harus direnungkan bagaimana dan kepada siapa kita harus membelanjakan wang ini. Dengan perekonomian global yang kita hadapi saat ini, berapa banyak perusahaan asing menanamkan modalnya di negara yang majoriti penduduknya umat Islam. Mereka melakukan kerja sama (joint venture) dengan pembahagian keuntungan yang lebih besar profitnya kepada para penanam modal dan pemilik royalti.
Misalnya, sistem komposisi sahamnya adalah 80:20, di mana 80 peratus untuk pemilik modal majoriti dan pemilik royalti, dan 20 peratus untuk pemodal dalam negeri. Maka sudah dapat kita ketahui berapa million rupiah mengucur ke para pemodal asing tersebut, lalu dibawanya keuntungan tersebut ke negeri asalnya. Wang yang kita belanjakan ternyata membantu pengembangan usaha mereka, kerana majoriti keuntungannya dinikmati di negara asalnya yang terutamanya merupakan bahagian dari jaringan zionis. Dan mereka tidak mendapatkan kewajiban berzakat, sehingga mustahil mereka menyisihkan keuntungan perusahaan dalam bentuk zakat.
______________________________________________
N. Berpihak Kepada Islam
Bagaimana mungkin ajaran dan syiar Islam akan merebak dan menjadi kuat, sedangkan umat Islam sendiri tidak mempunyai keberpihakan terhadap ajaran Islam secara kaffah (keseluruhan). Untuk itu, harus ada semacam reformasi besar di kalangan para pemimpin Isram untuk melepaskan segala egonya dan membiarkan dirinya hanya dipandu oleh semangat Islam dalam sebuah gerak langkah yang indah, yaitu persatuan umat (ittihadul ummah).
Semua persoalan dan kehidupan umat dapat kita kembalikan kepada program (manhaj) yang sesuai dengan syariat-Nya, dikeranakan umat dapat dengan jelas dan mudah pula ke mana mereka harus “mengadukan” nasib dirinya. Peranan lembaga-lembaga Islam yang ada saat ini seharusnya berada dalam satu payung para pemimpin ahli (ahlul hal walaqdi) yang berhimpun penuh integriti dan kredibiliti untuk menjadi pengawal umat.
Akan tetapi, rasa skeptis seakan menerpa diri kita. Mungkinkah kita mempunyai cukup keberanian untuk menyatakan diri berhimpun dalam satu “dewan imamah”? Duduk di dalam dewan tersebut para ulama, tokoh, dan cendekiawan yang 24 jam memikirkan nasib umat Islam? Nurani berbisik dari lubuk hati, benarlah apa yang disabdakan Rasulullah saw. bahwa umat Islam yang banyak ini bagaikan semangkok makanan yang diperebutkan kaum Dajjal yang kelaparan, kerana umat dilanda penyakit wahan (terlalu cinta dengan dunia).
______________________________________________
O. Persatuan Umat Beragama versus Ideologi Baru
Nabi Ibrahim a.s. sebagai “bapa tauhid” telah melahirkan tiga agama besar: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Semua misinya adalah sama, yaitu mengangkat martabat, kesejahteraan, serta kebahagiaan manusia; mempunyai akar sejarah yang sama serta misi tauhid yang semula begitu indah dan murni. Di satu sisi, kita menyaksikan bahwa zionisme bukan lagi aspirasi dari agama Yahudi, melainkan sudah menjadi ideologi imperialistik, menjadi satu “fahaman atau ideologi baru”, sehingga tidak harus menjadi Yahudi dahulu untuk menjadi seorang zionis.
Negara Cina yang penduduknya dua million serta kekuatannya, the overseas Chinese (Huaren), merupakan pula satu potensi, yang harus diwaspadai. Bila mereka bergerak dan dirasuki fahaman zionis, niscaya jaringan konspirasinya (Triad) akan sama bahayanya. Juga akan sama halnya dengan Jepun yang telah menggurita perekonomiannya, dan semakin bercambah aliran-aliran mistik serta konspirasi rahasianya (Yakuza), akan menjadi ancaman pula di masa depan bagi para juru dakwah.
Kaum zionis akan menghentam seluruh agama samawi. Menyingkirkan logika iman yang dianggapnya sebagai tirani, racun, dan kebodohan untuk digantikan dengan liberalisme total serta sekular materialistik. Dengan demikian, dalam menghadapi kaum kafir zionis yang bercita-cita untuk menghapus agama (abollition of all religion) merupakan tugas para juru dakwah. Sudah saatnya seluruh agama bersatu-padu menghadap ideologi mereka. Tidak ada alasan lagi untuk melakuan konflik dan silang sengketa yang melelahkan, saling berebut pengaruh dengan menghitung jumlah dan menghalalkan segala cara untuk memperbanyak jamaah. Konflik diantara umat beragama hanya membuat “tertawa dan terbahaknya” kaum zionis. Dan tentunya pula, hal itu melemahkan misi umat beragama itu sendiri.
Perpecahan dan konflik dalam dan antara agama, hanyalah sebuah kegelapan yang panjang. Itu tidak memberikan dampak apa pun kecuali luka yang semakin menganga dan derita yang semakin membuat nelangsa (sedih)
______________________________________________
Tentangan Dan Jawaban
| Tentangan Kaum Dajjal | Jawaban Umat Islam |
|---|---|
| Menghapuskan segala dogma agama yang dianggap sebagai tirani (ajaran)yang mengebiri kebebasan manusia. Agama tidak realistik, bertentangan dengan fitrah manusia yang realistik, dan empirik.Dalam sejarah manusia, ternyata agama merupakan sumber konflik. | Gerakan reformasi (Ishlah)dalam metod dan aplikasi dakwah secara total dan menyentuh kehidupan (toal dakwah. melalui pendekatan; pengetahuan kesejarahan, pendekatan nasional, dan penguasaan berbagai ideologi sebagai bahan perbandingan. |
| Menguasai seluruh jaringan pranata kehidupan, terutamanya dominasi dibidang ekonomi dan kewangan, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai jambatan emas menuju cita-cita satu pemerintahan dunia (novus ordo seclorum) | Pola pendidikan umat yang harus dikembangkan secara faktual. Disamping pendekatan ritual normatif,ditanamkan pula berbagai metod pendidikan yang bersifat aktual aplikatif serta metod belajar parsipatif. |
| Untuk memecah keyakinan dogmatis, dirancang agama palsu (pseudo and quasi religion)dalam bentuk agama alternatif, misalnya; Jehovah, satanisme, okultisme, unitariun-universalist dansebagainya, dengan pendekatan nasioanal. | Pola pendidikan tauhid, pemahaman budaya barat (westernologi) sudah harus dikuasai oleh cendekiawan Islam,sehingga mampu mengkounter tendensi atau mewabahnya aliran mistik, pseudo tasawuf dan sebagainya. |
| Untuk mewujudkan cita-cita dajjal menguasai dunia maka seluruh potensi konflik harus dimunculkan ke permukaan. Pertentangan antara etnik, pertentangan rasial dan konflik harus dijadikan pemacu untuk kepentingan konspirasi Dajjal. Kebanggaan nasionalisme, patriotisme mwerupakan penghalang bagi mempercepat cita-cita kaum dajjal, sehingga sejak dari awal sudah dirancangkan satu gerakan penghancuran nasionalisme melalui konflik SARA, agar dengan mudah dajjal memperbudak mereka dalam kandang kekuasaan dunia yang monolitik. | Umat Islam hanya akan menang selama bersatu (ittihadul ummah).Bila umat Islam berpecah maka bersiaplah untuk kalah. Sudah merupakan aksioma Ilahiyah bahawa persatuan umat dan jemaah merupakan kunci untuk menjawab tentangan dajjal. Termasuk juga sokongan persaudaraan antara agama, etnik dan ras demi menghadapi gerakan kafirisasi yang akan memporak-porandakan persatuan dan kesatuan dan penghapuskan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Sudah saatnya umat beragama bersatu dalam tali cinta dan persaudaraan kerana sejarah kebangsaan yang plularis-unitarian dan sebaliknya. |
| Mengembangkan budaya natural-realistik yang bebas dari nuansa agama, sehingga mampu merasuki alam fikiran masyarakat | Melakukan kounter dengan memotivasi para budayawan Islam untuk lebih kreatif dan tetap populis, sehingga seni budaya mampu menjadi sarana dakwah yang mengglobal. |
| Meningkatkan peredaran ubat-ubatan syaitan, alkohol, serta berbagai bentuk hiburan moden, misal kafe, kelab malam, dan bentuk hiburan lainnya sebagai tempat peredaran ubat. | Menanamkan fanatisme bahwa memasuki kafe, kelab malam, serta tempat hiburan malam bernuansa sekular adalah sama nista dengan mendekati zinah. Dan pada saat yang sama menghidupkan kembali rumah tangga Islami (usrah-Islamiyah). |
| Membius anak-anak muda dengan berbagai jerat yang sangat profesional, mulai dari budaya seni, artis, selebriti, ubat, dan penghancuran mentalitas. | Menggiatkan minat anak-anak remaja terhadap olahraga, seni budaya, dan seluruh pranata sosial dengan cara saling menunjang antara satu dengan yang lain. |
| Menyebarkan fitnah dan mengadu-domba (friksi) di kalangan tokoh- tokoh agama atau para mujahid Islam yang cerdas dan potensial, sehingga mereka mati sebelum berkembang. Fitnah merupakan senjata kaum Dajjal yang ampuh dan membunuh tanpa harus mati | menanamkan fanatisme tentang pentingnya jamaah, ukhuwah dalam bentuk yang nyata. Memberikan bekas yang mendalam bahawa fitnah adalah api menyala dari nafsu Dajjal. Dan mereka yang memfitnah, betapapun mengatas-namakan agama, tidak lain adalah pengikut Dajjal. |
| Memanfaatkan media massa sebagai “juru bicara ideologi” dan memojokkan atau tidak memberi kesempatan kepada para tokoh potensial untuk berdakwah (menulis) di media massa yang ada, sehingga hubungan emosional para tokoh tersebut tertutup dengan umatnya. Sebarkan fitnah kepada para pemimpin redaksi terhadap tokoh tertentu agar mereka punya alasan untuk mem-black out. | Melakukan satu rekrutmen organisasi jurnalis Islamik, sehingga mereka senantiasa mampu berpihak pada agamanya dari bersifat objektif. Para pemangku lembaga media massa harus mempunyai gairah Islamiyah yang nyata dan transparan. Memberikan kesempatan yang luas kepada tokoh agama untuk memberikan pemikirannya melalui media massa di mana mereka mempunyai akses dan otoritas. |
| Agama merupakan dogma yang menyalahi kebebasan berfikir, tidak sesuai dengan jalan pikiran logik, dan tidak boleh dibuktikan dengan hukum, sebagaimana diyakini oleh kaum pemikir. | Melakukan gerakan pembaharuan dalam material dan metod dakwah dengan melalui pendekatan argumentatif, mempelajari hukum logika dan mengikuti perkembangan pemikiran zaman, di mana banyak tentangan ideologi baru yang pada hakikatnya cenderung untuk bersifat materialistik absolut dengan mengandalkan ilmu logika |
| Mempersiapkan kader-kader muda pendukung ideologi masyarakat Dajjal yang berfikiran bebas nilai tanpa ikatan dogma agama. | Menggerakkan seluruh pranata dakwah dan menjadikan mesjid sebagai pusat pengkaderan. |
| Mencuci otak anak-anak kecil dengan fantasi dan buku-buku sekular, sehingga jiwanya dikuasai oleh ideologi Dajjal. | Melakukan kounter dengan cara menerbitkan buku-buku Islamik yang bersifat kontemporari dan aktual sehingga diminati anak-anak kecil. |
Tabel di atas terlihat simplistik, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dari apa yang telah kita urut
dalam tabel tersebut. Hal ini baru tahap awal analisis penulis.
dalam tabel tersebut. Hal ini baru tahap awal analisis penulis.

Dajjal Dan Simbol Syaitan – Bab 4 (A)
BAB 4 (A)
JAMAAH DAN INTIPATI PERSATUAN UMMAT
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercera-berai…” (Ali Imran:103).
Menghadapi tentangan zaman yang semakin mengglobal serta jaringan Dajjal yang telah merasuk seluruh denyut kehidupan manusia, seharusnya ada semacam tekad yang bersungguh-sungguh diantara kita. Iaitu, tekad bahawa gerakan kaum kafir tidak mungkin dihadapi secara individu, kecuali dalam satu pembentukan persatuan umat (ittihadul-ummah) yang hanya berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya.
REPORT THIS AD
Kekuatan, kekompakan, kecerdasan, serta ambisi (cita-cita) kaum Dajjal materialistik tersebut bukan sebuah ilusi, tetapi benar-benar nyata. Bukan hanya dapat dibuktikan secara fakta, tetapi diperingatkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Sehingga, tidak ada satu cara pun untuk menghadapi mereka kecuali membangun akidah dan pemahaman agama secara komprehensif bagi generasi muda agar mereka mampu menghadapi tentangan global dan memenangkannya, sebagaimana termaktub dalam surat at–Taubah:33, al–Fath:28, dan ash–Shaff:9. Sebagaimana diketahui, agama-agama formal di dunia Barat telah kehilangan nilainya sebagai pegangan hidup. Hal ini dimanfaatkan olehnya dengan membuat agama-agama palsu dengan memperkenalkan berbagai aliran-aliran okultisme mistik yang direka dan dipromosikan melalui berbagai media sebagai agama baru yang bersifat menipu dan hanyalah sebuah angan-angan belaka (deceptive).
REPORT THIS AD
Pengaruh aliran filsafat neo–Platonisme (fahaman Plato, ed.) yang banyak mempengaruhi agama Kristian telah memperkuat kecenderungan dunia Barat untuk melahirkan berbagai aliran mistik okultis yang dikemas-kini dan dipropagandakan dengan bahasa rasional dan penuh dengan janji-janji. Sehingga, kemudian orang-orang yang dalam keadaan depresi (kemurungan) sangat mudah terpengaruh untuk menerimanya. Di satu pihak, falsafah aliran Aristoteles yang banyak mempengaruhi agama Yahudi lebih menekankan pada pendekatan yang menonjolkan nisbah, telah mentafsirkan berbagai ayat Bibel (Alkitab) dengan semangat Judaisme zionistik, di mana ada semacam misi imperialistik untuk menguasai dunia dalam bentuk yang lebih rasional. Sebagaimana diketahui, agama Yahudi bukanlah agama misionaris sehingga semangat ekspansi (pengembangan) zionisnya bukan atas dasar berapa banyak orang yang harus beragama Yahudi, tetapi berapa banyak orang dikuasai oleh fahaman-fahaman rasionalitasnya, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, iaitu melalui penguasaan teknologi, kewangan, dan konspirasi global. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan daabatam minal ardhi (binatang melata dari dalam bumi), yaitu susuk bangsa yang selama ini berada di bawah tanah, yang melakukan gerakan rahsia.
REPORT THIS AD
Dan pada milenium ketiga ini, susuk tersebut akan menampakkan wujudnya secara terang-terangan untuk menguasai dunia serta menyingkirkan umat beragama, terutamanya umat Islam. Kunci untuk membendungnya tidak lain adalah memperkukuh seluruh pembetukan sistem dan derap kehidupan, sesuai dengan Sunnah Rasul, sebagaimana firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al-Anfal: 45).
Oleh sebab itu, kalau memang iman sudah bersemayam di dalam hati dan penuh dengan kerinduan akan persatuan dan kekuatan umat, kiranya ada baiknya kita mentafakuri makna dari shalat berjamaah, yaitu shalat wajib yang dilaksanakan lebih dari satu orang, yang nilai pahalanya lebih dibandingkan dengan shalat bersendirian atau munfarid. Beberapa isi kandungan etika yang dikaitkan dengan nilai dan prinsip shalat berjamaah, diantaranya sebagai berikut:
REPORT THIS AD
1. Apabila iqamat sudah dilaksanakan maka diwajibkan untuk segera menetapkan, menunjuk, dan memilih siapa yang akan menjadi imam dalam shalat berjamaah, juga kewajiban untuk meluruskan shaf (baris).
2. Dilarang untuk mendahului imam, baik dalam gerakan mahupun bacaan.
3. Dilarang mengeraskan suara bacaan melebihi ucapan atau suara imam.
4. Kewajiban untuk melakukan gerakan yang kompak (sekata) diantara sesama makmum, setelah terlebih dahulu mendapatkan isyarat sempurna dari imam.
5. Dilarang membuat jamaah baru, apabila jemaah yang awal belum selesai (menutup salam), bahkan kepada makmum yang tertinggal (masbuk) diharuskan untuk segera bergabung dengan jemaah.
REPORT THIS AD
6. Diwajibkan mengikuti seluruh gerakan imam tanpa “mencadangi-nya”, kecuali apabila imam berbuat salah baik dalam ucapan mahupun gerakannya, maka kewajiban makmum untuk menegurnya dengan mengucapkan, “Subhanallah.” Alangkah indahnya tujuh prinsip yang terkandung dalam pembentukan shalat berjemaah. Di dalamnya tersirat suatu pesan yang teramat dalam untuk dijadikan bahan renungan bagi setiap pribadi muslim yang sedang berjuang untuk meraih keindahan dan kelazatan iman. Sehingga sesuailah ia untuk disebut sebagai seorang mukmin.
Prinsip iqamat menunjukkan suatu simbolik bahawa mereka yang telah berkumpul untuk niat (shalat berjamaah) yang sama, harus segera mengumandangkan iqamat. Dengan panggilan iqamat tersebut, terputuslah segala urusan dengan dunia luar, tidak ada lagi yang melakukan pekerjaan lain, kecuali dengan penuh tanggung jawab memenuhi seruan iqamat untuk segera melaksanakan shalat berjamaah. Iqamat adalah lambang yang menyerukan persiapan untuk menuju pada satu arah kiblat yang sama, yaitu Ka‘bah Baitullah. Ruku yang sama, iktidal yang sama, bahkan ucapan serta niat yang sama. Dengan niat yang sama ini, mereka segera menunjuk imam shalat. Seakan-akan, hal itu merupakan suatu simbol agar kaum mukmin segera menunjuk siapa pemimpinnya, yang secara akrab, transparan dapat menuntun hidup dan kehidupannya yang maslahat dalam pembentukan suara takbir yang indah. Di dalam hubungan makmum dan imam ini, terlihat pula “prinsip demokrasi” yang dilambangkan melalui suatu norma bahwa apabila imam berbuat salah, baik dalam ruku’ maupun bacaannya, maka makmum dapat menegurnya dengan mengucapkan subhanallah atau meluruskan bacaannya yang betul.
REPORT THIS AD
Demikian pula, apabila secara nyata imam telah batal maka imam tersebut harus secara konsistenen segera berundur (untuk memperbaiki wudhunya) dan segera diganti oleh makmum di belakangnya untuk meneruskan shalat berjamaah. Kewajiban untuk meluruskan shaf adalah suatu prinsip yang menunjukkan satu simbol pengurusan serta pengelolaan jemaah yang berpadu dan bagaikan benteng yang kukuh-seperti yang disebutkan dalam surat ash-Shaff: 4 -bahu bersentuhan dengan bahu yang lain, barisannya lurus, sehingga tidak satu pun ada ruang yang kosong yang memberi peluang kepada syaitan untuk merosak dan menggoda kekhusyu’an shalat berjemaah.
Rasulullah saw bersabda, “Imam itu untuk diikuti”, sehingga kita pun mahfum bahwa yang dimaksudkan dengan “diikuti”, tentunya berada di belakang, dan bergerak sesuai dengan komando sang imam. Kepatuhan inilah yang menyebabkan sempurnanya jamaah. Dilarang makmum mengeraskan suara melebihi imam, adalah suatu perlambangan bahawa para makmum tidak diperkenankan untuk mengambil tindakan atau menyempal di luar apa yang ditetapkan oleh pemimpinnya. Kerana dalam prinsip berjemaah ini, seluruh pembetukan gerak harus di bawah satu kepemimpinan. Penyempalan atau tindakan lain hanya akan membatalkan makna dan kesempurnaan shalat itu sendiri. Selagi gerakan shalat berjamaah belum selesai, dan ada orang yang tertinggal atau baru memasuki ruang masjid, maka orang yang baru datang tersebut (makmum masbuk), wajib bergabung dan masuk diantara shaf yang ada, kemudian dengan khusyu’ mengikuti seluruh gerakan imamnya. Prinsip ini seakan memberikan suatu simbolik bahwa seorang muslim tidak diperbolehkan untuk menyempal, membuat gerakan sendiri, padahal sudah ada shaf yang bergerak terlebih dahulu.
REPORT THIS AD
Inilah pembentukan dalam shalat berjemaah yang ternyata mengandungi nilai-nilai serta prinsip yang menunjukkan suatu perlambangan agar umat Islam wajib berjemaah, apabila sudah berada dalam satu tempat, waktu shalat, dan telah mengumandangkan iqamat. Di dalam Al-Qur’an pun banyak disebutkan tentang wajibnya kita hidup berjemaah. Bahkan, pertolongan Allah hanya diberikan kepada setiap mukmin yang hidup berjemaah (yadullah fauqal jamaah), penuh persaudaraan, tidak pernah berbantah–bantahan, saling mengasihi dalam suka dan duka yang dibalut oleh cahaya ukhuwah semata. Sangat jelas, Allah memerintahkan agar kita hanya mengambil jalur petunjuk serta ikatan batin yang hanya didasarkan pada tali Allah, dan menghindarkan perpecahan (tafaruk), sebagaimana termaktub pada surat Ali Imran:103 dan ar-Rum: 32. Di mana pun seorang muslim berada, dia akan terus meningkatkan kualiti dirinya untuk menjadi bahagian dari kelompok kaum mukminin, kerana hanya dengan menjadi seorang mukminin, maka Allah akan memberikan pertolongan kepada dirinya.
REPORT THIS AD
Seruan Allah di dalam Al-Qur’an yang merupakan petunjuk yang utama dan pertama bagi mereka yang telah berikrar syahadat, ditujukan hanya kepada mereka yang telah beriman (yaa ayuhaladzina amanuu). Dengan demikian, yang dimaksud dengan jamaah, bukanlah hanya sekadar sekelompok orang, tetapi di dalamnya terikat satu “simen pelekat” yang sangat kental, iaitu cita dan rasa, visi dan tindakan yang seragam, serta menyatu dalam kerinduan untuk meraih cinta dan ridha Allah (mahab’bah lillah) semata-mata. Oleh kerana setiap anggota jemaah sangat sedar bahawasanya hanya orang-orang yang istiqamah, serta memiliki jiwa yang tenang sajalah yang akan mendapatkan kemuliaan di hari akhir kelak. Bagi setiap muslim yang mukmin, kehadiran jamaah merupakan pelabuhan hati, sekaligus sebagai terminal perjuangan hidupnya. Di dalam jemaah itulah, dia menimba butit-butir kebijakan hidup. Di dalam jemaah itu pulalah, ia mengasuh keimanannya sehingga setiap kali menambatkan hatinya, dia pun merasakan kedamaian Qur’ani.
REPORT THIS AD
Akan tetapi, tidak mungkinlah dia tenggelam atau terlalu asyik untuk menambatkan dirinya di pelabuhan ini. Sebab, selanjutnya dia harus segera berangkat mengayuh biduknya menerjang ombak samudera kehidupan yang penuh dengan liku-liku tentangan. Lalu dia menjelajahi samudra tersebut untuk mencari fadilah dan menaburkan jejak-jejak prestasi Qur’ani di sepanjang perjalanannya, berdakwah, dan beruswah menyeru dan menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling sesuai menjadi teladan.
Tengoklah perilaku kita ketika mengikuti shalat Jumaat, tidak ada khutbah dan shalat berjemaah yang terus berlangsung seharian, kecuali ditutup dengan salam. Kemudian setiap pribadi kembali ke tempatnya masing-masing untuk menyebar di muka bumi (f’antasiruu fil ardhi), lalu mempraktikkan apa yang telah diingatkan khatib, sebagimana disebutkan dalam surat al-Jumu’ah:10 dan al-Mulk:15. Maka jelas sudah bahwa jemaah bukan sekadar kumpulan manusia (as a crowd). Oleh kerana di dalam jemaah, ada satu prinsip yang mutlak harus dijadikan landasan pokoknya, ialah berpautnya cinta.
REPORT THIS AD
Dengan cinta sebagai dasar persaudaraan dan kegiatannya, maka hati setiap anggota akan terlihat transparan (tembus pandang). Tidak ada yang satu cuba menyembunyikan cita rasanya kepada anggotanya yang lain. Kerana hal ini jelas bertentangan dengan prinsip persaudaraan muslim, sebagaimana Nabi bersabda bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu bangunan tubuh, yang satu mengukuhkan yang lainnya. Ke dalam pun saling mengoreksi atau menasihati dan keluar dia saling mengukuhkan dan membelanya dari jebakan kekafiran maupun bujukan kekufuran.
Hal ini bererti bahawa esensi jemaah bukanlah terletak pada wujud, tetapi lebih penting lagi adalah ikatan emosional dan keterikatan jiwa. Sebab, Al-Qur’an menegaskan bahwa tipikal jemaah bukanlah sekelompok manusia yang sekadar berjumpanya sejumlah manusia, sedangkan hatinya berpecah, itikad anggotanya berbeza satu dengan yang lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT,
“…Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah….” (al-Hasyr: 14).
REPORT THIS AD
Hati yang dimaksudkan adalah aspirasi, idea, serta kerangka acuan dan tujuan dari para anggota jemaah yang sifatnya harus sama dan sebangun; yaitu hidup dalam jalan dan pengawasan Al-Qur’an serta Sunnah. Bagi kita yang telah mengaku diri sebagai seorang muslim, tentunya seluruh sikap hidup kita hanya didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah, sebab apabila dia mengambil ajaran atau panduan hidup yang lain, maka gugurlah nilai dan kualiti dirinya sebagai seorang muslim. Adapun sikap dirinya hanyalah berserah diri atau taslim, seraya berkata, “kami dengar dan aku taat” (sami’na wa atha’na) tanpa dislogani kecuali mengharapkan ridha Allah semata-mata. Apabila Al-Qur’an dan Sunnah sudah disepakati sebagai satu-satunya petunjuk utama dan pertama serta dijadikan sebagai dasar aspirasi dan tindakan kita, maka bolehlah kita bersiap diri untuk menuju pada tingkat yang berikutnya, iaitu meraih gelar sebagai seorang pribadi mukmin, sebagaimana disebutkan pada surat at-Taubah:111-112.
REPORT THIS AD
Mengingat konsep jemaah adalah prinsip yang disyariatkan, maka siapa pun yang mencuba untuk menutup mata, bahkan tidak mahu peduli dengan prinsip ini, maka terjebaklah dirinya ke dalam tatanan (pembetukan) yang disedari mahupun tidak. Dia telah mencarik ajarannya sendiri. Logikanya sangat sederhana, apabila sahnya seorang muslim kerana syahadat, maka konsekuensi syahadat adalah bersikap hidup konsekuen dan denyutan jantungnya selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Prinsip berjemaah adalah mutlak ajaran Al-Qur’an. Kemudian dicontohkan dengan sangat indah oleh Rasulullah saw . Maka kesimpulannya, siapa pun yang tidak mahu peduli dengan prinsip jemaah adalah membohongi dirinya sendiri. Apabila penolakan atas prinsip jemaah sudah mengakar sebagai suatu egoisme dan kecenderungan untuk mengisolasi diri dari pergaulan tatanan jemaah, maka jatuhlah dia ke dalam kelompok sempalan (mufariqun). Haru birunya umat Islam dikeranakan dia telah mencampakkan prinsip berjemaah. Bagaikan benda asing, umat Islam merasa alergi setiap mendengarkan kata-kata tentang jemaah, bahkan bagaikan penyakit yang boleh menular Upaya dan kesedaran apa pun tentang erti jemaah ini, pastilah dianggap aneh, justru oleh orang Islam sendiri, sungguh ironis.
REPORT THIS AD
Apabila umat Islam sudah merasa aneh dengan ajarannya sendiri, sungguh apakah Allah tidak berkenan menganugerahkan kurnia-Nya? Kehancuran umat Islam, bukan kerana jumlahnya yang banyak, tetapi justru kerana mereka sudah merasa asing dengan esensi agamanya sendiri. Kejayaan Islam pada kurun waktu paling awal, dimulai dari prinsip jemaah ini. Ikatan persaudaraan yang kental, perasaan yang sama di dalam menghadapi segala tentangan kehidupan, dan merasa memiliki kebenaran Islam adalah kondisi dari sesuatu yang mutlak. Mereka tidak pernah berniat atau melanggarnya sedikit pun, kerana bagi mereka menjadi seorang muslim konsekuen adalah suatu aksioma Ilahiah yang tidak boleh ditawar-tawar lagi keabsahannya.
REPORT THIS AD
Persatuan muslim bukanlah dikeranakan ikatan bangsa, primordial, kesukuan, ras, atau kelompok profesion, tetapi persatuan itu didasarkan atas iman semata-mata yang ditampung dalam semangat persaudaraan jemaah. Sejarah tentang kejayaan dan kemuliaan umat Islam di masa lalu tidak dapat dipungkiri eksistensinya tanpa kehadiran semangat jemaah. Pada period awal, sejak di Darul Arqam, para sahabat yang telah sebati dengan berjemaah dengan mewarnai dunia dengan tauhid, telah melahirkan satu generasi yang sangat unik dan sangat disegani. Itu semua kerana mereka menjadikan jemaah sebagai pelabuhan hati mereka untuk menimba, mengkaji, dan mempraktikkan semangat Qur’ani yang diilhami oleh tali persaudaraan yang teramat kuat
REPORT THIS AD
Tetapi tengoklah sekarang ini umat Islam terpelanting dalam kolam-kolam kecil, kebanggaan keturunan, kelompok profesion, dan kepentingan, terperangkap dalam semangat primordial yang sempit. Kalaupun mereka mengaku sesama muslim, tetapi kepentingan golongan, suku, dan bangsa justeru menjadikan penyekat yang paling utama. Kebanggaan kelompok ternyata nilainya telah melebihi semangat agamanya sendiri, bahkan melebihi semangat kemerdekaan dirinya sendiri yang setiap lima kali sehari diikrarkan sebuah pengakuan tauhid dalam melasanakan shalat, innaa shalati wa nusuki wa mahyaya wamamati lillahirabil alamiin. Sayang, ramai umat Islam tidak memahami dan tidak mahu konsekuen mempraktikkan ucapannya sendiri. Doa Iftitah tersebut kini hanya tinggal penghias bibir, sekadar formalitas, bahkan mungkin saja tanpa disedarinya apa yang diucapkan dalam doanya itu hanyalah sekadar pelengkap shalat, tidak ada kesannya, dan tidak ada getaran kalbu. Tapi kita pun mahfum bagaimana dapat menghayati isi doa tersebut, kerana kita pun tidak mengerti, bahkan membacanya pun kadang-kadang sangat terburu-buru, tanpa kehadiran jiwa, serta tanpa emosi sama sekali.
REPORT THIS AD
Padahal, kalau saja setiap pribadi muslim menyedari betapa dalamnya ikrar yang dia ucapkan ketika membaca doa iftitah tersebut, niscaya akan bergetar jiwanya, dan tersungkur dengan penuh kesyahduan di hadapan Ilahi Rabbi. Oleh kerana ikrar itu adalah lambang “kebebasan bertanggung jawab” manusia sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah fil-ardhi). Kemerdekaan jiwa inilah yang dimiliki oleh kelompok para pengikut Rasul pada kurun pertama kejayaan Islam. Mereka bergabung dalam jemaah yang secara kuantitatif adalah minoriti, tetapi tampil sebagai kelompok yang bernilai, dikeranakan memiliki harga diri dan kemuliaan sebagai manusia merdeka. Rasional yang dibimbing oleh hawa nafsu, tentunya tidak pernah akan memahami untuk dapat mengalahkan kemenangan umat Islam di dalam Perang Badar untuk melawan musuh-musuh jahiliah yang berlipat ganda, persenjataan yang konvensional, dan terbatas? Akan tetapi, rasional yang dibimbing cahaya Ilahi, lentera iman, dan semangat tauhid, pastilah dengan sangat tangkas akan segera memperoleh jawabannya, “Insya Allah, kita pasti menang kerana Allah beserta kita.”
REPORT THIS AD
Sesekali kita pun boleh bertanya, semangat apakah gerangan yang mengilhami para “penyiar” Islam sehingga dalam kurun waktu yang sangat singkat, cahaya kebenaran telah memeluk separuh dari belahan bumi. Padahal mereka tidak dibayar, tidak mendapatkan pakaian yang cukup, bahkan harus menghadapi berbagai suku bangsa yang asing, daerah yang sulit, dan berbagai budaya yang sudah mengakar di kalangan penduduk. Akan tetapi, para mujahid dakwah mampu menyebarkan Islam dalam tempo yang sangat menakjubkan.
Sir Thomas Arnold yang menulis sebuah buku berjudul, The Preaching of Islam terkagum-kagum melihat prestasi ini, sehingga walaupun agak sarkastis dia melukiskan kejayaan sinar dakwah itu sebagai “suatu kekuatan dakwah yang luar biasa daripada Rom”. Prestasi ini semua kerana di dalam dada para pelopor pertama (assabiquunal awwalun) memiliki keperibadian yang sangat khas, iaitu hanya berpandukan pada Al-Qur’an. Mereka tidak pernah mempunyai sedikit pun keraguan terhadap isi kandungan Al-Qur’an sebagai panduan hidup yang akan memberikan kekuatan yang maha dahsyat apabila mau melaksanakannya dengan konsekuen. Mereka adalah tipikal manusia yang berorientasi pada prestasi amaliah. Sehingga cara berfikir para jamaah ini, hanya semata-mata ingin dan sangatlah rindu untuk segera mengamalkan Al-Qur’an, walaupun hanya satu ayat. Betapa bersungguh-sungguhnya mereka, sehingga dalam sebuah hadits yang sahih, Rasulullah menyuruh Abdullah bin Umar, supaya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu. Begitulah juga para sahabat seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, dan Ubai bin Ka’ab telah menjadi bahagian dari wiridnya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an pada setiap hari Jumat.
REPORT THIS AD
Merupakan kebiasaan bagi para sahabat. Mereka secara bergotong-royong membaca Al-Qur’an, dengan cara membahagi-bahaginya berdasarkan surat-surat tertentu secara berurutan dari mulai surat al-Baqarah sampai an-Nas, sehingga dalam tempoh yang sangat singkat mereka mampu mengkhatamkannya. Inilah salah satu ciri khas dari peribadi anggota jemaah, di mana Al-Qur’an dijadikannya “ramuan batin” dan bahagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya. Mereka merasa tidak bernilai apabila ada satu hari tanpa membaca Al-Qur’an. Semangatnya untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an, yang didorong oleh keikhlasan yang murni, bukanlah sekadar untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan ilmu pengetahuan, tetapi sebagai salah satu panggilan jiwa, perasaan akrab dengan Ilahi. Kemudian, muncul dorongan untuk segera lari dan ke luar dari khemah-khemah mereka, mengembara ke setiap pelosok bumi, untuk mengamalkan dan mendakwahkannya. Mereka sedar bahawa hanya dengan menghampiri, menghayati, dan mengamalkan Al-Qur’an sajalah, mereka akan memperoleh petunjuk. Apalagi mereka pun sedar bahawa apabila mereka mengambil jalan lain atau referensi lain selain Al-Qur’an, maka hanya perpecahan dan kesesatanlah yang akan menimpa jamaah dan persatuan akidah mereka.
REPORT THIS AD
Allah SWT berfirman,
“Dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain) kerana jalan- jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153).
Para sahabat yang berkumpul dalam jemaah adalah manusia Qur’ani, bahkan kehidupannya semata-mata hanyalah refleksi dari keinginan Al-Qur’an belaka. Sesuailah apabila kepada mereka digelarkan sebagai “Al-Qur’an berjalan” (the walking Qur’an). Menurut standard atau tolak ukur budaya jahiliah, tentu saja sikap hidup Qur’ani, seperti yang ditunjukkan jemaah para sahabat Rasul itu, dianggap sebagai suatu kehidupan yang eksklusif. Dan, tidak aneh pula apabila tuduhan palsu yang diarahkan kepada para sahabat -pada zaman jahiliah- sebagai manusia yang membawa agama baru, yang akan merosak tatanan budaya, dan kepercayaan yang telah turun-temurun dipraktikkan oleh ajaran nenek moyangnya melalui sesembahan kaum jahiliah: Latta, Mana, dan Uzza. Padahal, apa yang dilakukan oleh para jemaah itu bukanlah kerana kebencian, tetapi kerana hanya ingin meluruskan kembali, fitrah manusia untuk bersatu dalam satu ikatan tauhid, yaitu hanya bertuhankan Allah semata, sebagaimana firman-Nya,
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. ” (al-Anbiya’:92).
REPORT THIS AD
Hanya kerana perasaan penuh kasih, maka para sahabat tersebut ingin mengajak umat manusia untuk meluruskan keyakinannya; dan menjauhi kesesatan yang disebabkan oleh hawa nafsu (vested interest) kaum jahiliah. Memahami erti dan esensi jemaah, bererti setiap peribadi muslim terpanggil untuk selalu mendahulukan nilai persamaan, persaudaraan, dan kekompakan. Tentu saja bahwa aspirasi seperti ini, seharusnya menjadi ciri dan cara hidup setiap peribadi muslim, yang tergabung dalam jemaah mana pun. Di samping itu, berjdmaah janganlah ditafsirkan sebagai suatu penyempalan dari tatanan harakah dakwah, kerana boleh jadi yang dimaksudkan dengan jemaah itu adalah suatu bentuk gerakan yang terorganisasi untuk melangsungkan dan memberikan kontribusi amar ma’ruf nahi munkar di dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteksnya yang lain, pemahaman terhadap esensi jemaah mendorong setiap peribadi muslim untuk ikut terjun secara berkelompok ke dalam suatu gerakan yang mempunyai aspirasi serta tujuan yang jelas. Kita dilarang untuk hidup secara egois (ananiyah) dan membutakan diri dari berbagai aspek problematika umat. Dan, cara untuk masuk dalam kehidupan nyata itu adalah seruan Islam yang mengajak setiap individu untuk berjalan secara bergandingan tangan, bersaf-saf yang teratur bagaikan suatu benteng yang kukuh untuk membendung, bahkan melawan segala fahaman jahiliah. Hal ini sebagaimana ucapan Umar bin Khaththab:
“Bahwa kebenaran tanpa organisasi yang rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.”
Memang benar bahawa kebenaran itu akhirnya pasti menang, kerana pertolongan Allah, tetapi harap diingat pula bahwa apa yang dikatakan Umar r a. adalah suatu peringatan. Sesungguhnya, pertolongan Allah hanyalah diberikan kepada mereka yang memenuhi kriteria kekuatan saf atau barisan yang rapi.
Dengan kukuhnya persatuan umat serta adanya kepemimpinan yang tangguh; nescaya gerakan Dajjal zionistik dapat kita hadapi secara kompak. Sebaliknya, bila kita berpecah-belah maka hanya kenelangsaan (kesedihan) yang akan ditanggung generasi demi generasi umat Islam yang telah terperuk dalam kelompok-kelompok dan budak nafsu kaum Dajjal tersebut.
______________________________________________
A. Identiti Anggota Jemaah
Ibarat pohon yang akarnya menghunjam kuat dan daunnya rimbun mencakar langit. Demikian pula dengan jemaah, akarnya adalah tauhid, batangnya adalah persaudaraan, daunnya adalah zikir, dakwah adalah bunganya yang semerbak penuh kasih, dan akhirnya bersiaplah memetik amal prestatif yang akan memberikan rahmat bagi alam sekitarnya (rahmatan lil ‘alaamin). Ciri atau karakter orang mukmin yang berhimpun dalam jemaah tersimpulkan dalam sepuluh mutiara akhlak orang beriman yang akan dihuraikan berikut sebagai bahan renungan bagi yang ingin mengembangkan kehidupan rohaninya dari seorang muslim menjadi mukmin.
Sepuluh mutiara akhlak mukmin itu di antaranya sebagai berikut:
1. Berfikir dan bertindak sesuai dengan petunjuk dan wawasan Al-Qur’an (Quranic Oriented).
2. Melaksanakan hijrah dan jihad dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan.
3. Tampak semangat persaudaraannya diantara sesama mukmin yang sangat kental dan penuh kasih.
4. Sangat menghargai keputusan musyawarah, selalu bertindak amanah menjaga keluhuran budi, indah akhlaknya, dan selalu ingin memberikan uswah atau keteladanan yang Qur’ani.
5. Sangat tabah (istiqamah) dalam menghadapi setiap cubaan dan rintangan.
6. Tawadhu’ dan rendah hati. Menjauhi sikap sombong, ta’asub (membanggakan diri).
7. Selalu dilanda obsesi untuk menjadikan hidupnya penuh bererti dan bermanfaat bagi lingkungannya.
8. Isi dakwah dijadikannya sebagai salah satu panggilan jiwa, yang menunjukkan rasa tanggung-jawabnya yang besar akan kasih-sayangnya kepada sesama manusia dan sekaligus sebagai rasa cintanya kepada Risalatul Kurb.
9. Selalu ingin meningkatkan kualiti dan kuantiti ibadahnya.
10.Rindu untuk menjadikan dirinya sebagai jambatan penyambung tali ukhuwah diantara sesama saudara seiman dan selalu ingin akrab dengan kaum dhu’afa.
Sepuluh mutiara kaum mukminin ini terangkum dengan sangat indah dan sempurna dalam Al-Qur’an, sehingga sangat dianjurkan selalu membaca, menghayati, dan mentafakuri makna ayat demi ayat yang terkandung di dalamnya, agar kita memperoleh nyata, pergaulan dunia dengan segala tentangannya.
B. Berwawasan Al–Qur‘an (Quranic Oriented)
Anggota jemaah Rasulullah saw. bukan sekadar sekelompok manusia yang mengaku diri sebagai muslim, tetapi lebih jauh dari itu. Mereka adalah para mukminin, yaitu jenis manusia yang selalu merindukan agar sikap hidupnya, tarikan nafas, dan prestasi dunianya selalu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka membaca dan menerima Al-Qur’an bukan untuk penghias bahan retorika atau sekadar referensi pengetahuan dirinya, tetapi bagi para anggota jami’atul mukminin ini, Al-Qur’an dijadikannya sebagai sumber aspirasi untuk beramal secara konkrit. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai benih yang memberikan energi baru yang sangat kuat, kemudian menabur bunga dakwah, lalu memetik buah prestasi yang menjadi tauladan bagi siapa pun yang menyaksikan jemaahnya.
Mereka bukan tidak percaya dengan kekuatan kata-kata, atau mengabaikan teori. Akan tetapi, bagi kelompok jemaah ini, kata-kata dan teori tidaklah cukup, kerana puncak dari misi pengabdian seorang mukmin adalah mengajak manusia pada kalimat yang sama, yaitu menjadikan tauhid sebagai pangkal kehidupan manusia di mana pun mereka berada. Kata-kata dan teori hanyalah jambatan atau alat untuk menghantarkan ke puncak dakwah, yaitu sikap hidup atau tindakan yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan yang mempunyai ciri sebagai uswatun hasanah (keteladanan). Bagi mereka: “tindakan dan perbuatan itu lebih membekas berbanding hanya kata-kata (action speak louder than words; lisaanul-haali afsahu min lisaanul maqaali).”
Bertebaran ayat-ayat Al-Qur’an tentang ciri dari orang mukmin, iaitu mereka yang telah menjadikan cawan kalbunya penuh terisi oleh kesejukkan citra Qur’ani dan rasa cinta yang mendalam terhadap Rasulullah saw. Pokoknya, Al-Qur’an merupakan sumber aspirasi dan dasar pijakan mereka untuk berfikir dan bertindak. Sehingga sesuailah kepada mereka diberikan tajuk Qur‘anic Thinker (berfikir berdasarkan Al-Qur’an).
Seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah r a., “Apakah akhlak Rasulullah itu.” Siti Aisyah menjawab, “Akhlak beliau adalah Al–Qur‘an (khuluquhul Qur’an).”
Maka ciri atau karakter yang paling dominan dari para pengikut Rasul tidak lain hanyalah meneladani Al-Qur’an. Sehingga, kalau saja ditanyakan kepada mereka, apakah yang menjadi sumber hukum dan petunjuk hidup, dengan tangkas dan antusias, mereka akan menjawab: pertama Al-Qur’an, kedua Al-Qur’an, ketiga Al-Qur’an, dan seterusnya. Sehingga, mereka ini tipikal manusia yang berfikir berdasarkan Al-Qur’an dan bersikap dengan Sunnah Rasulullah saw. Dirinya terasa tidak bererti apabila ada satu hari luput dari “sorotan kamera” Al Qur’an. Rasanya tidak berharga apabila perbuatannya tidak mencerminkan tindakan yang Qur’ani.
Seruan berlumba-lumba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), tidaklah melulu hanya mendendangkan atau memperlumbakan bacaan Al-Qur’an dan kemudian selesai. Bagi mereka memperlumbakan esensi Al-Qur’an dalam akhlak dan prestasi amaliah yang nyata, justru merupakan aplikasi dari seruan fastabiqul–khairat tersebut. Mereka tidak pernah mempunyai motivasi untuk mendapatkan piala atau pujian manusia hanya kerana membaca Al-Qur’an, tetapi dorongan yang paling menggebu di hati para anggota jemaah Rasul ini adalah kerinduannya untuk menyiarkan dan mengamalkan Al-Qur’an dalam bentuk yang membumi, nyata, dan ternikmati oleh manusia. Kalaupun dia takzim, itu semua dikeranakan dorongan untuk memenuhi perintah agama. Kerana hal tersebut merupakan salah satu perintah Rasulullah dalam metod dan pendekatan kita terhadap Kitab Suci.
Itulah sebabnya, salah satu program keluarga anggota jamaah, adalah menanamkan kecintaan putera-puterinya untuk menggemarkan membaca Al-Qur’an, menghafalkan surat-suratnya, dan secara tertib mula menggali, menghayati, dan mengikat keluarganya dengan semangat Qur’ani. Sehingga tidak jarang di kalangan keluarga tersebut, ada putera-puterinya walaupun umurnya masih sangat muda, mampu menghafal puluhan surat, bahkan hafal Al-Qur’an. Sayang sekali, dewasa ini pendidikan keluarga sudah sangat berorientasi ke dunia Barat dan tercabut dari akar fitrah diri seorang muslim. Dunia pendidikan keluarga dan sekolah menjadi asing dengan ajaran agamanya sendiri, kerana ada semacam “mencipta kurikulum” yang justeru menjebak para murid untuk menjadi manusia yang tumpul terhadap agama, otaknya cair, tetapi hatinya kering. Hardwarenya bertambah canggih, tetapi sayang software-nya terkena “virus” budaya Barat yang justeru tidak pernah berangkat atau diniatkan sedikit pun untuk menjayakan siar Islam.
Sebab itu, janganlah terlalu terkejut apabila ada sebuah keluarga muslim yang ternyata seluruh keluarganya tidak mampu membaca Al-Qur’an. Jangan pula hairan apabila di rumah, ternyata pada rak bukunya tidak terdapat Kitab Suci Al-Qur’an. Mereka berbangga apabila rak buku yang dipajang di ruang tamu itu, penuh sesak dengan sederetan buku-buku tebal, dan mulai Encyclopedia Britanica, Americana, sampai National Georgraphic. Jangan terlalu mengharapkan untuk melihat dinding kamar putera-puteri muslim, terpampang kaligrafi atau tulisan-tulisan tentang hadits atau nasihat, kerana kamar seorang putera yang moden harus dihiasi dengan selambak penyanyi musik rock, pop, dan rap. Adakah masih tersisa secercah kebanggaan untuk menjadi seorang manusia Qur’ani?
Ada sebuah adat istiadat yang mulai pudar di kalangan kaum muslimin dewasa ini, yaitu menguji calon manantu dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’annya, sehingga bapak mertua merasa bangga mempunyai calon menantu yang takzam, akrab, dan membaca Al-Qur’an dengan tartib sebagai jambatan menuju amaliah Qur’ani. Jangan-jangan apa yang digambarkan oleh Rasul bahwa kelak akan datang satu zaman di mana Al-Qur’an hanya tinggal bacaannya saja, walaupun pelahan tapi pasti, sebenarnya sudah mula datang dan menyelinap dalam kehidupan kita yang mengaku diri sebagai muslim. Cubalah semak sesekali mengenai upacara-upacara keagamaan yang ternyata tidak jarang di dalamnya dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Akan tetapi sayangnya, para hadirinnya tidak pernah merasakan kesejukan dan terpesona dengan bacaan ayat suci tersebut, padahal salah satu tanda orang yang beriman apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka mereka tersengkur, terharu, dan meleleh air matanya, kerana jiwanya diingatkan kepada Dia yang Maha Pencipta. Hal itu sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (kerananya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (al-Anfal: 2).
Mungkinkah Al-Qur’an hanya tinggal menjadi benda pusaka antik yang hanya sesuai digelar sebagai maskawin (mahar) untuk pelengkap upacara ijab kabul pernikahan. Rumah dan masjid telah menjadi sepi dari gaung syahdu bacaan Al-Qur’an. Padahal, Rasulullah sering rindu untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan suara yang merdu. Bahkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah r.a. Rasulullah saw meminta Abdullah
bin Mas’ud untuk membaca Al-Qur’an untuk beliau. Rasulullah saw. bersabda,
“Bacakanlah untukku!”
Aku (Abdullah bin Mas’ud) bertanya, “Aku bacakan kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?”
Beliau bersabda, “Aku ingin sekali mendengarkannya dari orang lain.” Kemudian Aku membacakannya surat an-Nisa’ ketika sampai pada ayat 41 yaitu,
“Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).
” Beliau bersabda, “Cukuplah dahulu.” “Aku melihat kedua air mata beliau berlinang”. (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Dajjal Dan Simbol Syaitan – Bab 4 (B)
C. Perdamaian (Ishlah) Wujud Reformasi Islami: Iman, Hijrah, dan Jihad
Bila kita mahu konsekuen (konsisten) sampai ke lubuk hati dan menimba seluruh sunnah dan wasilah Al-Qur’an, nescaya kita akan lebih mengenal dan mempopularkan kata ishlah, disamping kata reformasi. Dengan mempopularkan kata ishlah di kalangan kita, diharapkan dapat lebih menumbuhkan ghairah Islamiyah kita. Sebagaimana kita ketahui, kata “reformasi” mengingatkan kita terhadap budaya serta cara metod gerakan dunia Barat yang diawali dengan kemelut di lingkungan Gereja Roma Katolik yang kemudian direformasi oleh Martin Luther dan Calvin. Sehingga, ada semacam nuansa Kristiani dalam kata reformasi tersebut. Tentu saja, kita tidak tabu dan mengharamkan kata reformasi, kerana esensi (intipati) dan maknanya yang mendalam telah kita tangkap dan bahagian dari misi seorang muslim untuk selalu melakukan perbaikan. Akan tetapi tidakkah kita rasakan, betapa besarnya makna sebuah kata sebagai bentuk identiti umat Islam. Tidakkah kita rasakan bahawa dalam mempopularkan sebuah “kata”, umat Islam tidak berdaya mengunggulinya.
Padahal, bagi kita sudah sangat jelas bahawa semangat reformasi merupakan bahagian dari misi Islam itu sendiri yang selalu melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, Islam membawa misi reformasi, sebaliknya reformasi belum tentu membawa misi Islam. Alangkah indahnya apabila kita memakai kata ishlah (perdamaian), sebuah kata yang melekat pada amal setiap muslim yang memberikan segala usaha untuk memperbaiki sesuatu, serta menjauhi segala bentuk kerosakan. Di dalam kata ishlah tersebut terkandung pula kata shalah (perbaikan) yang mempunyai esensi (intipati) makna segala ikhtiar atau pilihan yang harus sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Kata ishlah sebagai usaha untuk melakukan usaha perbaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, merupakan lawan kata dari fasad (kerosakan).
Dengan memperkenalkan kata ishlah -dalam lingkup makna memperbaiki kerosakan- dalam gerakan melawan kaum zionis Dajal ini, maka terkandung di dalamnya nuansa religius, etika, moral, dan tanggung jawab agar segala tindakan kita selalu sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya; memperbaiki yang rosak dan menyempurnakan yang bermanfaat. Mengapa hal ini harus kita ke tengahkan? Tidak lain dalam rangka membersihkan hati dan pikiran, pada saat kita berupaya melakukan perbaikan. Sehingga tetap kita pada metod (manhaj) Nabi dan jalan lurus-Nya (sirathal-mustaqim). Kekhuatiran ini tidaklah berlebihan apabila kita cermati konspirasi global kaum zionis, termasuk IMF yang selalu membawa kata “reformasi” sebagai persyaratan agar dana pinjaman dikucurkannya (disalurkan). Jadi, apa yang direformasi? Apakah di balik ini ada semacam mesej terselubung untuk menyingkirkan umat Islam dari panggung kehidupan masyarakat?
Bukankah salah satu moto mereka “era reformasi baru” (new age reforms) sebuah misi untuk merombak dunia secara total, yang belum tentu membawa mesej-mesej Islami. Memang benar, umat Islam tidak perlu terpaku dengan istilah tersebut. Kerana dunia sudah menjadi global. Lagi pula bagi kaum intelektual dapat saja menjawab, “Apalah erti sebuah nama?” Padahal, bagi kaum muslim, nama merupakan sebuah identiti yang merupakan bahagian dari Sunnah. Sehingga sejak awal, Rasulullah sangat menganjurkan agar kita memberikan nama-nama yang indah untuk putera-puteri kita. Hal itu agar mereka lebih mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya, kita boleh menjawab kaum intelektual itu dengan jawaban, “Ada berbagai makna yang baik pada sebuah nama, teman!”
Nama dan istilah bukan saja memberikan identiti dan makna, tetapi juga merupakan ukuran dan jiwa (muru’ah) dakwah. Ketika Islam terpinggir, berapa banyak kata dan istilah yang memakai bahasa sansekerta; bahasa fosil yang tidak memberikan getaran identiti. Padahal, ketika darah para syuhada yang merebut kemerdekaan dari kaum kufur, deretan nuansa Islam menghiasi kehidupan bernegara. Setidaknya, ada tujuh kata yang masuk dalam ideologi negara seperti: adil, adab, rakyat, hikmah, musyawarah, wakil, dan daulat. Dengan demikian, seharusnya kita merasakan dengan penuh kenikmatan bahawa tiga kata ishlah, hijrah, dan jihad adalah mutiara yang paling indah, kerana di dalamnya berisi begitu banyak hikmah serta roh perjuangan yang mampu menghantarkan manusia kepada kemuliaan dan kemenangan. Tiga kata yang tidak boleh terpisahkan, kerana di dalam makna ishlah, ada semacam gerakan untuk selalu berbuat perbaikan, yang akan melahirkan “hijrah” dari yang batil menuju yang hak, dari yang gelap menuju yang terang dengan cara berjihad, yaitu mengerahkan seluruh potensi dan sumber daya untuk mewujudkan ishlah tersebut. Bahkan, hijrah kita tidaklah sekadar perubahan fizik, tetapi juga transformasi mental.
Bahkan, kalau kita mahu sedikit galak menghayati makna hijrah, ternyata sejak Al-Qur’an diturunkan, sudah terdapat padanan kata hijrah pada surat al-Mudatstsir ayat 5,
“Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah (war-rujza fahjur).”
Maka, salah satu ciri orang beriman adalah mereka yang melakukan hijrah mental, sebagaimana berulang-kali Al-Qur’an mengetuk kalbu kesedaran kaum beriman tentang makna dan keluhuran upaya untuk berhijrah ini. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi darjatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at Taubah: 20).
Tiga kata yang dirangkai secara berututan pada surat at-Taubah:20 tersebut, yaitu iman, hijrah, dan jihad; tentunya mempunyai makna yang sangat mendalam. Tidak mungkin salah satu dari tiga rangkaian kata itu hilang, demikian pula tidak mungkin yang satu mendahului yang lain, kerana semuanya sudah diatur dan disusun oleh yang Maha Pencipta. Orang tidak mungkin memperoleh nilai hijrah apabila upayanya itu tidak didasarkan pada iman. Demikian pula, orang yang mengaku berjihad, ia tidak akan mendapatkan nilai di sisi Allah, selama perjuangannya tidak didasarkan pada iman. Dan tidak mungkinlah orang disebut beriman, apabila keyakinannya tersebut tidak didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Hijrah bererti membuat garis tegas antara yang hak dan batil, membuat batas pemisah ( furqan) antara mukmin dan kafir. Bagaikan racun dan madu, tidak mungkin dua-duanya tercampur dalam satu gelas jemaah.
Maka dengan iman dan sikap yang istiqamah, jemaah mukmin berani mengambil risiko, meninggalkan segala kenikmatan, gelaran, dan sanjungan masyarakat jahiliah untuk menerima penderitaan dalam menapak ke jalan yang penuh dengan ironi. Akan tetapi, kerana yakin akan pertolongan kepada Allah dan semangat yang istiqamah tersebut, menyebabkan dalam jiwa mereka tidak pernah mengenal kata menyerah, apalagi bersekutu dengan kejahiliahan. Sesungguhnya, mereka yang telah berkata bahawa Allah adalah Tuhan kami, kemudian mereka beristiqamah, tidak ada rasa khuatir pada jiwa mereka, juga tidak merasa gentar. Mereka adalah calon penghuni surga yang kekal sebagai balasan atas jerih payahnya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada surat al-Hujurat ayat 14-15.
Kualitas imanlah yang telah menjadikan mereka tidak lagi mempedulikan untung-rugi duniawi, apabila panggilan Allah menyeru nuraninya. Kerana bagi mereka kebahagiaan yang hakiki itu adalah tercapainya jiwa yang bersih sebagai jaminan sukses di akhirat. Semangat seperti ini menjadikan generasi pelopor awal (assabiquunal awalun) menjadi umat yang unik iaitu yang tidak ada bandingannya sampai bila pun. Lebih baik terasing, terkapar dalam derita daripada menggadaikan keyakinan. Apalah ertinya kemuliaan dunia apabila akan disambut dengan penderitaan akhirat, sebagaimana firman Allah SWT:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri’….” (Saba’: 46)
Iman, hijrah, dan jihad merupakan tiga kata yang harus menghunjam dan mengakar di lubuk hati setiap mukmin, kerana hanya dengan tiga karakter inilah pertolongan Allah akan datang mengangkat dan memuliakan setiap orang yang telah mengikrarkan syahadatnya dengan konsekuen (konsisten). Tipu daya orang kafir yang dikemas dengan sangat cantik, apakah dalam bentuk kemajuan teknologi, kehidupan mewah yang konsumtif budaya bebas tanpa moral, semuanya tidak akan menggoyahkan muslim yang memiliki “tiga bintang” ciri orang mukmin tersebut. Allah telah berfirman:
“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan pertolongan para mukmin.” (al-Anfal: 62)
Apabila kualiti iman bersinar penuh cahaya langit, setiap anggota jemaah mukmin tidak pernah merasa khuatir menghadapi isolasi (pengasingan) atau tipuan apa pun. Ayat itu menegaskan kembali bahawa yang akan menolong mereka hanyalah Allah dan sesama mukmin, sedangkan mereka yang non muslim tidak pernah akan peduli dengan ciri dan cara hidup demikian. Hijrah pada zaman sesudah Rasul, seperti zaman sekarang ini, tidak lain adalah melakukan suatu “renovasi diri” untuk memisahkan dan hanya berpihak kepada Allah dan jemaah orang-orang mukmin.
Dalam menghadapi konspirasi Dajjal zionis yang semakin mengglobal ini, sudah merupakan aksiom bahawa Allah tidak pernah akan memberikan pertolongan kepada umat Islam, selama umat tidak berjihad, yaitu bersungguh-sungguh untuk meningkatkan diri sebagai seorang mukmin. Dan Allah tidak akan mengazab musuh-musuh Islam, selama ada sebagian umat Islam berada di tengah-tengah cara budaya kaum Dajjal yang saling mendukung dengan orang-orang kafir secara bercampur baur. Hal ini dengan sangat tegas dinyatakan Allah dalam firmanNya:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka (kaum kafir), sedangkan kamu masih ada diantara mereka….” (al-Anfal: 33).
Jangan bertangguh lagi, apabila kita ingin menjadi subjek dan memiliki harga diri, melepaskan segala jerat budaya Dajjal, maka setiap mukmin harus berhimpun dalam suatu jemaah-sebagaimana metod atau Sunnah Rasul yang dimulakan dari rumah salah seorang sahabat beliau yang kemudian dikenal sebagai Darul Arqam. Kerana hanya orang mukmin yang berjemaah yang mampu memiliki kentalnya iman, berpadunya cita, dan kukuhnya persaudaraan. Berhimpunnya kaum mukmin akan membuahkan suatu kekuatan iman yang maha dahsyat. Sebaliknya, apabila kaum mukmin bercerai-berai atau terkotak-kotak, nescaya tanpa kita sedari kekuatan yang ditawarkan Allah telah dibuang dengan sangat membazir. Bukankah Rasul bersabda bahwa hanya kambing yang keluar dari kelompoknya-lah yang akan diterkam serigala? Maka setiap peribadi muslim yang akan melakukan hijrah menuju ke pemukiman kaum mukminin itu, haruslah mula dari sekarang.
Oleh kerana itu, pandai-pandailah memilih teman yang senasib sepenanggungan, dan janganlah memilih teman lain kecuali Allah, Rasulullah, dan orang mukmin, sebagaimana termaktub pada surat at-Taubah ayat 16.
Kemampuan dan kesungguhan setiap muslim yang dinyatakan dalam kerja keras serta menyerahkan diri kepada-Nya agar dapat terpisah dari kebatilan menuju hak. Itulah yang disebut dengan jihad. Orang yang memiliki semangat jihad akan lebih waspada meniti buih kehidupan, dirinya sangat berkeinginan untuk selalu menjaga diri dengan penuh ketabahan. Itulah sebabnya, ketika seorang mujahid tidak terlalu banyak bersenda-gurau atau tertawa terbahak-bahak, kerana hal seperti ini bisa melambangkan kelalaian dan mudah terperangkap pada nafsu duniawi. Mukmin itu sesungguhnya lebih banyak menangis daripada tertawa, sebagaimana termaktub pada surat al Anfal ayat 22. Menangis merupakan lambang keperihatinan, sebagai salah satu ciri orang mukmin yang jiwanya sangat sensitif melihat penderitaan dan kesesatan manusia. Sehingga di sela-sela wiridnya selalu tersisipkan doa memohon pertolongan Allah bagi para mukmin yang dhaif (lemah) agar mereka diangkat dan dicerahkan jiwanya menjadi satu umat yang padu dan kuat (ummatan wahidah).
Para anggota jemaah sedar bahawa dengan mendekatkan diri kepada Allah (taqarub), bertakwa, dan terus berikhtiar kepada-Nya, maka pertolongan dari Allah pasti datang yang berupa furqan, yaitu kemampuan untuk membezakan antara yang hak dan batil, antara tauhid dan syirik, antara Al-Qur’an dan thagut seperti termaktub pada surat al-Anfal ayat 29. Hijrah dan jihad melahirkan rasa aman yang tidak terhingga dalam batin mereka, dan keikhlasan serta keridhaan yang tiada tara untuk menerima Allah sebagai cahaya benderang dari puncak harapan. Hidupnya memang hanyalah mencari keridhaan Allah semata, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah ayat 100 dan al-Fath ayat 29.
Dengan hijrah dan jihad, seakan-akan dirinya telah tergadai hanya kepada hukum dan peraturan Allah. Mereka para anggota jemaah itu sangat merindukan perjumpaan abadi dengan Sang Kekasihnya dan mengharapkan agar Allah membeli dirinya dengan surga dan pengampunan-Nya, seperti termaktub pada surat at-Taubah: 111. Dengan kata lain, seruan yang kita dengar dari sang muadzin yang menyeru, “Marilah meraih kemenangan,” (hayya alal-falah), hanyalah akan menjadi seruan kosong, apabila kita tidak menyambutnya dengan hijrah dan jihad yang disalut oleh tali iman sebagai lambang kecintaan yang mendalam kepada Allah. Orang mukmin yang telah berhijrah dan berpihak kepada Allah, apabila waktu shalat telah tiba, maka ia akan segera meninggalkan kesibukan dunia dan meraih sajadahnya untuk menyembah-Nya, kerana Dia Maha-segalanya telah menanti. Bahkan, dalam hadits disebutkan bahwa hal itu tidak sekadar hijrah, apabila mukmin secara konsisten mampu menjadikan perilakunya ini sebagai suatu kebiasaan, maka shalat itu menjadi “mikraj” orang mukmin. Orang mukmin yang telah berhijrah segera berpihak kepada Allah, ketika bisikan syaitan menggebu menggoda nafsu untuk memalingkan perhatiannya dari dzikrullah, maka seorang pemuda yang gagah adalah seorang yang mampu berhijrah dan berjihad; ketika dia mampu menolak rayuan seorang wanita, bagaimanapun cantiknya wanita itu, kerana ia takut kepada Allah. Adalah sebagai hijrah, apabila kita mengubah mentaliti memikirkan diri sendiri (ananiyah) dengan mencintai jemaah, mengubah sikap cinta pada golongan, ras, atau keturunan menjadi kecintaan pada jema’ah, iaitu persaudaraan kaum mukmin.
____________________________________________
D. Semangat Persaudaraan
Ketika gerakan dabbah Dajjal yang muncul dari bawah bumi mengibarkan panji-panji fitnah di seluruh dunia Islam, seharusnya kita segera merapatkan diri dan melawannya dengan panji-panji persaudaraan yang nyata. Mereka akan segera melangkahkan derap “sepatu laars”-nya atas nama “polis internasional” (Amerika) untuk memporak-porandakan umat beragama dengan cara mengadu-domba satu dengan lainnya. Mereka menjadi provokator yang paling profesional agar umat Islam dan umat beragama lain bertarung, sehingga lelah dan tidak lagi mempunyai suatu kekutaan untuk menghadapi tipu daya kaum Dajjal zionis tersebut. Betapa mungkin kita akan memenangkan sebuah pertempuran, bila diantara kita sendiri saling memfitnah, bahkan yang paling gigih memfitnah sesama seiman dan seagama. Alangkah pedihnya jiwa, seandainya ada seorang pemimpin dengan penuh semangat menuduh sesama saudaranya. Pemimpin yang menuduh sesamanya yang nyata-nyata telah bersyahadat; yang telah pula menunjukkan kecenderungannya kepada kebenaran (al-hanif), dan telah menunjukkan amal-amalnya untuk Islam, difitnah dan dihujat sebagai orang yang seagama, tetapi tidak seiman. Bila memang ada peristiwa seperti itu, maka “bahasa” orang yang mengaku pemimpin itu tidak lain adalah “bahasa kaum zionis” yang memutar-mutarkan lidahnya bagaikan para Ahli Kitab yang menyisipkan kalimat kebohongan dan diakuinya datang dari Allah.
Pemimpin itu pun dengan tidak merasa berdosa sedikit pun menepuk dada sambil merangkul kaum kafir dan menginjak martabat sesama saudaranya seagama. Akhlak karimahnya telah tercerabut dari jiwa dan mereka menggantinya dengan akhlak dabbah. Mereka merasa sangat bahagia bila dapat menertawakan penderitaan orang tertindas yang merintihkan doa, seraya bercucuran air mata. Di manakah lagi kata maaf? Di manakah keluhuran budi umat yang telah dicontohkan Rasulullah saw. ketika memperlakuan musuh-musuhnya pada saat penaklukan Mekah? Padahal, tidak ada yang paling indah dalam kehidupan manusia kecuali mempunyai sahabat seagama dan seiman. Betapa kentalnya nilai persaudaraan yang disambung oleh tali iman telah dibuktikan oleh para anggota jemaah Rasulullah, yang sekaligus sebagai bingkai kaca untuk bercermin dan menata kehidupan masyarakat Islam yang Qur’ani. Persaudaraan iman inilah yang menyatukan rasa, hasrat, dan cinta dalam jemaah, yang mampu membongkar segala kebanggaan golongan (ta’asub), keturunan, ras, dan kebanggaan kelompok lainnya. Akan tetapi, cubalah raba hati dan keadaan kita sekarang ini, betapa umat Islam yang terkena penyakit “mencintai dunia dan takut akhirat” (wahan), tercarik-carik menjadi santapan orang-orang kafir dikeranakan hilangnya nilai persaudaraan diantara sesama muslim sendiri. Bila ukhuwah Islamiyah telah redup cahayanya, apakah mungkin menyambung tali ukhuwah bashariyah dan wathaniyah.
Pelita hikmah tentang seruan Allah,
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara….” (al-Hujurat:10)
telah lenyap ditelan gemuruhnya pidato dengan gaya retorik yang hanya sebatas mencari pendukung golongannya, padahal janji-janji yang dikemas dengan bahasa retorik itu hanyalah manis dalam pernyataan, tetapi pahit dalam kenyataan. Jelaga hitam di hati kita, bertambah tebal dengan masuknya fahaman dan budaya kaum Dajjal yang secara halus menyelusup bagaikan virus yang merosak cara berfikir umat, sehingga seluruh sikap dan keputusannya sudah sangat jauh dari Al-Qur’an. Prinsip demokrasi yang diagungkan dunia Barat, ternyata diterima di kalangan umat Islam dengan sangat mentah, sehingga telah menyebabkan tumbuhnya berbagai kepentingan (vested interest) berbagai pengkotakan, perbezaan fahaman, dan perbezaan cita yang dikonfrontasikan secara tajam, bagaikan lawan dengan musuh dalam erti yang sebenarnya. Organisasi atau parti yang semula secara ideal dianggap sebagai alat untuk menampung aspirasi program dan rencana pembangunan umat, justru menjadi “alat pembunuh” persaudaraan. Hanya kerana berbeza parti atau organisasi, kadang-kadang kita menjadi berfikir hitam-putih (black and white). Sikap kebersamaan telah lenyap digasak kebanggaan kelompok dan yang mencuat (melekat) secara dominan adalah sikap keegoannya (keindividuannya) . Bahkan, boleh jadi kelihatannya mereka bersatu, padahal hatinya tidak pernah jumpa dan tidak ada kesesuaian idea; kelihatannya berjemaah, padahal hatinya telah lama berpisah.
Kejayaan umat akan tampil kembali di panggung dunia, apabila kita mahu melebur diri dalam satu jemaah yang di dalamnya berkumpul kaum mukmin yang maju menundukkan dunia secara bersaf, dan berkeperibadian luhur sesuai dengan Al-Qur an, iaitu barisan yang padu bagaikan benteng yang kukuh. Masing-masing muslim, saat ini, telah sama-sama bekerja untuk berbagai keperluan terrmasuk sama-sama bekerja dalam syiar dakwah. Akan tetapi disayangkan; hal itu belum mewujudkan suatu saling kerja sama yang total. Padahal, inti menuju bekerja sama, hanyalah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber berpijak dan tindakan, serta Sunnah Rasul sebagai rujukan sikap hidup kita. Semangat merujuk dan melaksanakan dua sumber hukum utama Islam tersebut tidak boleh pudar, betapa pun hebatnya otak kita. Kerana apalah ertinya isi otak kita yang hanya beberapa sentimeter kubik, dibandingkan dengan kebesaran alam semesta hasil ciptaan yang Maha perkasa itu.
Kebersamaan sebagai salah satu buah persaudaraan itu mutlak berada di lubuk hati masing-masing. Setiap anggota jemaah merasa larut dan merasa satu wujud, kerana nilai iman telah melebur dan sekaligus meruntuhkan segala perbezaan artifisial (palsu). Mereka yang mendambakan bunga dan buah persaudaraan, serta mahu duduk sebagai anggota jemaah, maka tidak ada satu pun sekat atau tabir yang akan menyebabkan tumbuhnya prasangka serta sikap egois (ananiyah). Hati dan sikap mereka satu dan transparan, sehingga tidak ada satu kebenaran pun yang dia sembunyikan di hadapan saudaranya. Sikap seperti ini menyebabkan para anggota jemaah merasa aman dan damai. Ibarat ikan dalam air, mereka tidak mahu lagi keluar dari kolam jemaah. Cinta kasih, kelembutan, sopan santun, serta rasa tanggung jawab diantara sesama anggota muslim, merupakan ciri khas yang paling menonjol dalam peribadi para anggota jemaah. Demikian pula, dalam cara pernyataan keyakinan yang mencakup iman, syariat, dan prinsip-prinsip beragama dan berkehidupan, dinyatakannya dengan sangat banyak sekali. Keterangan mahupun berbagai nash Islam ternyata memberikan satu mesej agar dalam menegakkan syiar Islam, selalu menyeru kepada satu sikap iktidal (dipertengahan). Hal itu kerana akan melarang sikap-sikap yang membuat rumit perilaku serta penalaran semulajadi, seperti: berlebih-lebihan (ghuluw), merasa diri paling pintar (tanatthu), dan mempersulit atau membuat bertambah berat (tasydid).
Sebenarnya, banyak sekali ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyatakan agar dalam beragama, kita berada di pertengahan. Hal itu banyak disampaikan oleh Rasulullah, misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan Musnad-nya, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dan al- Hakim dalam Mustadrak-nya. Dari Abdullah bin Abbas r a. bahwa Nabi saw bersabda:
“Hindarkanlah daripadamu sikap melampaui batas dalam agama (ghuluw), kerana sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa kerananya.”
Tentang peringatan agar suatu kaum, bahkan Ahli Kitab sekalipun untuk bersikap tidak melampaui batas dalam agama, telah dinyatakan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Oleh dua sumber utama umat tersebut telah diberikan contoh beribadah yang ringan. Misalnya, dalam pelaksanaan rukun haji, iaitu dalam hal memilih batu untuk melempar (jumrah), hendaknya mengambil batu sebesar biji kacang, dan diperintahkannya agar tidak melampaui batas (kualitas lemparannya). Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda
“Binasalah kaum Mutanatthi’un”
dan beliau mengulanginya tiga kali. Imam Nawawi berkata, “Al-Mutanatthi‘un ialah orang-orang yang merasa dirinya benar dan merasa paling pintar, serta merasa paling menguasai ketika membahas sebuah perkara. Ucapan mereka penuh bara angkara yang membakar, sehingga kadang-kadang keluar dari sifatnya seorang panutan yang seharusnya tetap berpegang pada tata nilai qaulan ma‘rufan (kata-kata yang indah menyejukkan)”.
Nabi pernah menegur Mu’adz dengan keras kerana Mu’adz memanjangkan bacaannya ketika shalat berjamaah, sehingga banyak orang yang mengadu kepada Nabi. Kemudian Nabi bersabda,
“Apakah engkau ingin menimbulkan fitnah, hai Mu’adz?”
Beliau mengulanginya tiga kali. Dalam peristiwa yang sama beliau bersabda pula:
“Sesungguhnya diantara kalian ada orang-orang yang menimbulkan antipati. Barangsiapa mengimami shalat bersama orang banyak (jemaah), maka ringankanlah (bacaannya) kerana di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang mempunyai keperluan.” (HR Bukhari).
Bila kita membuat analogi antara seorang imam shalat dan imam pada sebuah masyarakat, tentunya prinsip-prinsip imamah itu harus melekat pada para pemimpin Islam. Dia rasakan denyutan kepedihan umat. Dia ringankan beban hidupnya. Dia sejukkan pula kegelisahan jiwanya, dan dia berikan pelita keteduhan kepada mereka yang berjalan menatap hari esok dengan ketidakpastian. Ketika Nabi akan melepas Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman, beliau bersabda,
“Permudahlah olehmu berdua dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan jangan menyusahkan. Bersepakatlah dan jangan berselisih. ” (HR Bukhari dan Muslim)
Demikian pula dengan firman Allah,
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (al-Baqarah: 185).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda,
“Sesungguhnya agama ini adalah kemudahan. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama, melainkan ia pasti akan dikalahkan. Maka dari itu bersahajalah, dekatlah, dan gembiralah.” (HR Bukhari dan Nasa’i).
Maka dalam tatanan (pembentukan) pergaulan dengan siapa pun, hendaknya selalu menampakkan wajah dakwah. Sebuah refleksi tata etika kesopanan Islami yang sangat tinggi nilai luhurnya. Menyejukkan dan senantiasa memberikan kesan yang mendalam bagi pihak lain kerana ketauladanan akhlaknya.
________________________________________________
E. Tiang Persaudaraan
Sebagaimana telah ditetapkan oleh para anggota Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan al- Banna -semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya- prinsip persaudaraan itu dilandaskan pada empat tiang yang harus dibina secara kukuh, iaitu ta‘aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta‘awun (saling menolong), dan takaaful (saling bertanggung jawab). Itulah empat tiang yang ditegakkan di atas landasan akidah kuat yang merupakan ciri khas dari mereka, iaitu para anggota jemaah di mana pun mereka berada, seperti yang dicontohkan oleh gerakan ikhwan.
1. Ta‘aruf (Saling Mengenal)
Bagaimana mungkin terjadi wujud persaudaraan apabila hati penuh dendam amarah. Apakah kita telah berubah haluan sehingga menjadikan hawa nafsu menjadi Tuhan, dan tidak ada lagi pintu hati yang terbuka untuk mengulurkan tangan? Bagaimana mungkin kita membangun tali persatuan apabila tali silaturrahmi telah putus atau bahkan menumpuk di “gudang” kerana tidak pernah direntangkan sama sekali? Padahal, kita mengenal peribahasa: “tak kenal maka tak sayang”. Begitu juga dalam hal berjemaah, ta‘aruf ini merupakan tiang pertama yang harus ditegakkan dalam menjalin tali persaudaraan. Dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi, setiap anggota jemaah wajib ber-ta‘aruf sehingga dengan cara seperti ini, akan timbullah tiga rasa yang merasuk setiap relung dada anggota jemaah iaitu sebagai berikut:
- Timbulnya rasa persaudaraan yang kukuh.
- Berseminya rasa kasih sayang yang mendalam.
- Berbuahnya rasa tanggung jawab yang besar.
Untuk membuahkan rasa persaudaraan tersebut, setiap anggota hendaknya memiliki jiwa besar untuk sedia menerima dan memberikan bantuan dan pertolongan kepada sesama saudaranya. Menerima kritikan dan memberi teguran dengan kata-kata yang penuh kebijakan adalah warna anggota jemaah yang rindu persaudaraan muslim tersebut. Hendaknya, jiwa besar ini mampu mendorong setiap anggota untuk berfikir positif (khusnudzan), dengan cara sesama saudaranya saling menasihati. Kalau perlu memberikan kritikan kepada sesama saudaranya dengan landasan semangat seorang mutawadhi (rendah hati). Kritikan yang diarahkan kepada dirinya, akan dia terima atau dianggap sebagai “pantulan cinta” dari sesama saudaranya yang merasa takut apabila dirinya terjerumus dalam kezaliman. Bagi sesama anggota jamaah, kritikan dianggapnya sebagai cermin sikap diri, yang sekaligus merupakan dampak yang memberikan informasi atas segala bentuk tingkah pola (corak) dan wajah diri di hadapan orang lain. Bagaikan orang yang bersolek di depan cermin, maka demikianlah pantulan cermin itu sebagai kritik diri. Seandainya, ada kotoran pada wajah, tentu kita berterima-kasih kepada cermin, kerana dengan informasi yang dipantulkannya kita menjadi tahu di mana letak kotoran tersebut menempel.
Alangkah lucunya, apabila kita marah dan memecahkannya, hanya kerana wajah kita tampak kotor di depan cermin tersebut Walaupun begitu hendaknya kita waspada terhadap kritikan, sebab boleh jadi memang cermin yang kita hadapi itu, adalah cermin yang kurang memiliki pantulan yang baik. Cermin yang tidak objektif, yang tidak memantulkan wajah kita yang sebenarnya. Orang dengan niat dan itikad tertentu mungkin saja memberikan informasi yang baik, padahal ada udang di balik batu. Maka dengan sikap yang positif, kita harus tetap waspada, dengan cara melakukan pemeriksaan ulang (rechecking) terhadap informasi yang diterima. Hal itu sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (al-Hujurat: 6).
Dengan ayat ini dimaksudkan agar setiap pribadi muslim tidak cepat menjatuhkan vonis (keputusan), berprasangkaa buruk apabila menerima sesuatu berita yang menyangkut sesama saudaranya anggota jemaah. Dengan mengenal saudaranya secara mendalam, baik cara berfikirnya, kesulitannya, kelemahan, dan kelebihannya maka kita tidak akan tergesa-gesa bersikap reaktif terhadap sesuatu berita yang dapat merugikan sahabat dan saudara kita.
Sesungguhnya, yang menghancurkan umat itu adalah wabah buruk sangka. Kurang ta‘aruf dan silaturrahmi diantara kaum muslimin, sehingga menyebabkan setiap peribadi mengambil keputusan atau membuat asumsi menurut prasangkanya sendiri. Jika ada seorang teman yang menonjol, biasanya berseliweran tanggapan terhadapnya. Seorang muslim yang lemah, dengan mudah menerima informasi dari pihak lain yang tidak jelas kebenarannya, kemudian dengan sangat berapi-api membuat analisis subjektif dan terus menjatuhkan vonis (keputusan) melampui batas hukum. Padahal, seharusnya ia tidak langsung menjatuhkan vonis bersalah, sebelum mengetahui kebenaran fakta kesalahannya.
Al-Qur’an pun mengajarkan sikap kritis dan melarang hanya memperturutkan hawa nafsu untuk mengikuti sesuatu tanpa ilmu atau data terlebih dahulu –sebagaimana termaktub pada surat al-Isra’:36. Vonis (keputusan) terhadap suatu berita yang belum diperiksa kebenaran faktanya, adalah suatu fitnah. Dengan fitnah, seseorang dihadapkan pada musuh yang tidak berwujud. Dengan fitnah itu pula, seseorang akan tersingkir dari dunianya, dia akan sangat menderita zahir dan batin. Oleh kerana itu, kita menyedari betapa besarnya dampak dari suatu fitnah, maka janganlah terlalu cepat melabel negatif terhadap sesama saudara kita, sebelum berjumpa atau mengetahui duduk perkaranya. Sesungguhnya, dalam hal inilah, kebanyakan manusia mendapatkan dirinya sangat lemah, kerana memang syaitan sangat berkepentingan untuk menumbuhkan perpecahan di kalangan saudara sesama muslim tersebut. Walaupun sudah dilakukan pemeriksaan terhadap kebenaran berita yang ada, dan ternyata saudara kita memang bersalah, maka untuk menyelamatkan saudaranya dari jurang kehancuran, di dalam dadanya terkandung rasa cinta yang menutupi jelaga kebencian yang membara dalam nafsu dirinya.
Tundukkan kepala, ketika menerima berita buruk yang menimpa saudara kita. Kemudian berangkatlah menemuinya untuk menanyakan kebenaran berita tersebut, dan jika ada sesuatu keburukan maka cegahlah dengan perasaan penuh kasih sayang. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
“Orang muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara. Ia tidak menzaliminya dan tidak saling membiarkan.” (al-Hadits).
Inilah ikatan yang kuat diantara sesama muslim. Seorang muslim sejati meyakini bahwa dirinya belum patut tergolong orang mukmin apabila dia tidak mencintai sesama saudaranya, sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Seorang muslim tidak akan melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, kerana dia sendiri tidak mahu diperlakukan dengan perbuatan seperti itu. Agama Islam bukanlah “agama muzium” yang hanya sedap dalam pandangan, hanya digemari oleh para kolektor barang antik yang termenung dalam kenangan penuh nostalgia. Islam adalah agama amaliah yang mengalir hidup untuk menghidupkan. Tanamkanlah pada diri kita bahwa Islam ini akan jaya, bila setiap muslim sudah mempunyai niat, tindakan, dan wawasan bahawa jemaah itu adalah penting sebagai tali pengikat untuk berdirinya daulat Islamiyah. Dengan menanamkan pentingnya jemaah maka setiap muslim akan mampu mencurahkan kasih bagi alam semesta, sesuai dengan karakter setiap muslim yang harus tampil membawakan panji rahmatan lilalamin.
Sebenarnya, eksistensi (kewujudan) manusia itu hanya berharga ketika dia berbezaa dalam kebersamaan. Sebab itu, tidak mungkin seorang muslim menutup sebelah mata terhadap orang lain (nonmuslim), sebab bagaimanapun juga orang lain tersebut telah membawa erti bagi eksistensi (kewujudan) dirinya tersebut.
Cubalah renungkan, mungkinkah kita boleh menikmati sepiring nasi, apabila tidak ada seorang petani pun yang menanam padi? Mungkinkah seorang pemimpin menepuk dada, apabila tidak ada pengikut yang mendukungnya? Patutkah seorang bangga dengan menyandang atributnya sebagai hartawan, apabila tidak ada orang miskin? Itulah tiang ta‘aruf dalam membina persaudaraan Islam. Mereka sangat mendalam perhatiannya pada sesama saudaranya, sebagaimana kepada dirinya sendiri.
2. Tafahum (Saling Memahami)
Tiang persaudaraan yang kedua adalah tafahum yang artinya saling memahami atau ingin mengerti lebih mendalam. Tafahum bererti pula usaha setiap muslim untuk dapat menggali informasi sebanyak mungkin. Iaitu, menggali segala hal yang berkaitan dengan “cara berfikir” dan “lingkup pengalamannya” dari sesama saudara sejemaah. Masing-masing anggota akan saling menyesuaikan dirinya dengan kedua faktor tersebut, sehingga timbulah apa yang disebut dengan kerja sama yang harmonis: kesamaan wawasan, tujuan, dan tindakan.
Harus difahami bahwa keutuhan mereka itu sudah merupakan satu simen pelekat yang membaur dan sulit untuk dipisahkan, kerana terjadi suatu simbiosis–mutualis (kerja sama yang harmonis) yang sangat masif (utuh). Komunikasi yang harmonis, silaturahmi yang ikhlas dalam frekuensi yang intens, merupakan cara kita menjalin hubungan persaudaraan. Dalam hal ini, perlu disemak ucapan dari Ali bin
Abi Thalib r a.,
“Setiap manusia memandang manusia yang lainnya berdasarkan tabiatnya.”
Juga sebagaimana Rasulullah saw bersabda,
“Kami diperintahkan supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akalnya masing-masing.” (al-Hadits).
Hadits tersebut memberikan keyakinan kepada diri kita bahwa setiap muslim harus dapat menyampaikan ideanya sesuai dengan kadar akalnya, tabiat, serta pengalaman sesama saudaranya. Dengan pendekatan ini, diharapkan setiap ucapan tidak akan menimbulkan kesalah-fahaman diantara sesama saudara sejemaah. Untuk belajar memahami orang lain, hendaknya kita mampu mengidentifikasikan diri kita, sebagaimana karakter orang lain. Kita harus memiliki gambar khayalan tentang saudara kita yang kita sebut empati (memahami seseorang, ed.). Tafahum dalam persaudaraan merupakan tiang yang sangat penting agar dapat menyelami hakikat persaudaraan dengan cinta dan hikmah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” (an-Nahl: 125).
Sesama muslim juga saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling bertukar fikiran (mudzakarah) diantara sesama muslim. Hal itu merupakan dasar pokok terwujudnya persaudaraan Islamiyah. Dengan bertambah intensifnya komunikasi, bertambah seringnya bersilaturrahmi, dan bertambah luasnya saling tukar fikiran diantara sesama muslim, maka nescaya akan datang suatu saat di mana kasih sayang itu akan tumbuh dengan semarak dalam jemaah muslimin. Juga kita tidak perlu harus tergesa-gesa untuk segera menerima fahaman orang lain.
Hendaknya disedari bahwa di dunia ini tidak mungkin mengharapkan semuanya serba seragam dan serba memuaskan. Sebab, itu adalah salah satu sikap kita untuk mencapai tafahum dan mencari titik persamaan. Dari titik inilah, kita mula berbicara dan mengembangkannya. Kemudian titik persamaan itu bertambah melebar, sehingga perbezaan yang secara kualitatif tidak bersifat hakiki, dapat kita abaikan untuk sementara waktu. Akan tetapi, kita akan banyak berkomunikasi berdasarkan sifat-sifatnya yang sama sebagai nilai pertama dari awal jalinan silaturahmi. Kita hendaknya bersabar dan konsisten untuk menjadikan perbezaan itu tesingkir oleh berbagai persamaan dalam segala hal, baik itu wawasan, sikap, dan tindakan. Dengan bertambah melebarnya persamaan dan menyempitnya perbezaan, maka jadilah kita kelak bagaikan satu matawang yang berhimpit, serta sempurna bagaikan satu tubuh yang menyatu.
Selanjutnya, hendaklah kita dapat berfikir secara realistik dan terbuka, serta tidak cepat menyerah apabila berhadapan dengan orang yang berbeza pendapat. Kerana dengan kesabaran dan sikap yang istiqamah, tidaklah ada sesuatu yang tidak mungkin untuk ditundukkan. Bagaikan air yang menitik secara perlahan dan berterusan, ternyata mampu memberikan bekas mendalam, iaitu sebuah lubang pada batu cadas. Memahami seseorang, bererti kita masuk ke dalam diri orang tersebut. Kita tidak dapat dengan cepat mengambil kesimpulan tentang baik dan buruk seseorang. Kita harus mengenal dengan sangat kental dan terjun ke dalam hati sanubarinya. Memang inilah beratnya. Kadang-kadang asumsi-asumsi subjektif sering menyusup ke dalam hati kita, serta nilai ukur yang membuka diri, sehingga tidak ada dialog yang merupakan cara untuk melakukan pengambilan kesimpulan dari dua arah. Kita sangat akrab dengan istilah ukhuwah, yang ertinya persamaan, keselarasan, dan keserasian. Apabila kata ukhuwah ini kita tambah dengan Islamiyah, bererti mempunyai makna, sebagai berikut:
- Persamaan antara sesama muslim.
- Persaudaraan yang bersifat Islami.
- Persaudaraan yang diikat oleh nilai-nilai Islam dan sebagainya.
Apa pun juga, apabila kita hayati makna ukhuwah maka harus ada semacam getaran awal pada diri kita akan makna persamaan, keakraban, persaudaraan, sebagaimana dalam kamus bahasa Arab kata al–akh dapat bererti bersahabat, intim, atau akrab. Bahkan, kata al–akh dalam Al-Qur’an dalam bentuk jamak disebut sebanyak 52 kali dalam konteks pengertian yang merujuk pada erti saudara kandung. Dengan demikian, ketika berbicara, mengulas, bahkan mempraktikkan ukhuwah Islamiyah, yang terkandung di dalamnya suatu upaya diri untuk mencari titik persamaan diantara sesama muslim yang didasarkan pada semangat persaudaraan. Banyak orang melupakan makna persamaan ini, sehingga mereka selalu terperangkap pada kehendak untuk melakukan suatu percakapan, bahkan perdebatan yang mubazir di daerah perbezaan. Mereka lupa bahawa berbantahan itu hanya akan melemahkan kekuatan diantara sesama harakah pendakwah.
3. Ta’awun (Saling Menolong)
Apabila cinta kepada Allah telah menghujam di segenap relung dada seorang muslim, maka sifat ta’awun (saling menolong) merupakan salah satu karakter yang melekat seutuhnya pada dirinya. Menolong memiliki makna mengangkat atau meringankan beban orang lain, baik yang diminta maupun yang tidak diminta. Mengangkat seseorang dari penderitaan atau minimal meringankannya, baik dengan harta, jiwa, doa, dan nasihat. Hal itu tidak ada kerugiannya barang sedikit pun, kecuali hanyalah kebaikan belaka. Itulah sebabnya, ta‘awun sebagai dasar falsafah agama begitu mementingkan kekuatan yang merupakan tunggak utama bagi kejayaan akhlak setiap peribadi muslim. Cubalah tengok sejenak, mungkinkah kita mampu menolong orang lain, apabila di dalam dada dan sanubari kita tidak tertanam kekuatan akhlak.
Jadi titik utama Islam ini adalah kekuatan, kerana hanya dengan menjadi kuatlah maka segala sesuatunya dapat terwujud. Compang-campingnya umat Islam sekarang ini kerana tidak memiliki kekuatan, tercabut kebanggaan diri sebagai khairulummah (yang terbaik), dan hilangnya mahkota jiwa, yaitu semangat jihad. Ta‘awun atau saling menolong tidak mungkin boleh menjadi kenyataan, apabila setiap individu dilanda oleh penyakit wa4han, yang pengecut dan lemah. Padahal, tidak ada kamusnya bahwa setiap muslim itu harus hidup secara anani, terisolasi, dan tercabut dari kebersamaan dengan saudara semuslim. Tidak patut seorang muslim perutnya kekenyangan, sedangkan saudaranya atau tetangganya gemetar menahan diri dari kelaparan. Sangat tidak beretika seorang muslim yang hidup bermewah-mewah: rumah dengan gaya kastil (istana) berbagai kenderaan mewah dan mutakhir dipamerkan di garaj rumah, sedangkan di pihak lain tepat beberapa meter dari rumah mewahnya itu bertempat para kaum lemah dan tidak berdaya
(mustad’afin), yang terperuk di pondok-pondok usang sambil menjalin mimpi. Lantas bagaimana jika para hartawan itu tidak mempunyai kekuatan moral untuk menolong sesama saudaranya, lalu apalah ertinya kemewahan yang Allah kurniakan kepadanya? Tolong-menolong itu sudah dijadikan satu aksioma dalam agama kita, khususnya tolong-menolong dalam kebaikan (al-birri) dan dalam kecintaan kepada Allah (at-taqwa). Hal ini sebagaimana firman Allah:
“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (al-Maa’idah: 2).
Sikap saling menolong tersebut memberikan empat konsepsi bagi setiap anggota jamaah, yaitu sebagai berikut:
a. Dia tidak akan membiarkan saudaranya berbuat zalim mahupun menzalimi dirinya.
b. Dia tidak akan makan kenyang apabila di lain pihak saudaranya masih kelaparan. Dia tidaklah pula akan mampu tertawa, sementara masih banyak saudaranya yang menangis.
b. Dia tidak akan makan kenyang apabila di lain pihak saudaranya masih kelaparan. Dia tidaklah pula akan mampu tertawa, sementara masih banyak saudaranya yang menangis.
c. Dia akan selalu menjadi seorang pendahulu untuk mengambil inisiatif menolong dan mengangkat sesama saudaranya dari derita dan duka mereka. Meringankannya dari segala beban, mencegahnya dari yang mungkar, walaupun tidak dimintakan pertolongan sekalipun. Kerana baginya hidup yang indah adalah kehidupan yang mempunyai makna dan erti bagi lingkungannya. Dialah manusia yang pertama hadir, ketika ada orang yang tertimpa musibah. Dengan harta, tenaga, lidah, bahkan jiwa raganya, dia pertaruhkan dirinya untuk membela dan menolong sesama saudaranya, dalam erti yang sebenar-benarnya, tanpa mengharap pujian, apalagi tepukan.
d. Jiwanya cepat tergetar setiap melihat penderitaan manusia, kerana dia sedar bahawa pada dirinya ada kekuatan batin yang tidak boleh dibiarkan membazir, sehingga selalu mendorong dirinya untuk menyingsingkan lengan baju, dan sedia memberikan pertolongan. Sungguh dia ingin menjadi sirajam munira (orang menyentuh mata hati dan menyinari sesamanya). Menjadi lampu yang mempunyai cahaya benderang dan menerangi setiap relung kehidupan dengan syiar Islam melalui sikap dan tindakannya yang nyata.
Sungguh, apabila sikap ta‘awun ini sudah menjadi “kegemaran” bagi setiap peribadi muslim, khususnya anggota jamiatul mukmin, maka akan lahirlah harmoni, keseimbangan, dimana yang kuat menjadi pelindung yang lemah, yang kaya menjadi penggembira orang yang miskin, yang berilmu menjadi pelita bagi yang awam. Besar tidak melanda, kecil tidak patut terhina. Inilah sikap ta‘awun tersebut. Cuba bayangkan makna dari doa dalam bersin. Bukankah apabila ada orang yang bersin, kemudian dia berkata, “Alhamdulillah.” Maka harus kita jawab dengan ucapan atau doa, “Yarhamukullah.” Ini juga punya makna global bahawa apabila ada saudaranya yang bersin di Sabang, maka akan segeralah terdengar balasan ucapan yarhamukullah, dari seluruh saudaranya sampai ke Merauke.
4. Takaful (Saling Bertanggung Jawab)
Hasrat ingin ber-ta‘aruf, rindu bersilaturahim, cenderung ber-ta‘awun, sebenarnya dikeranakan kita semua merasakan adanya rasa tanggung jawab terhadap agama, terhadap amanat, dan rasa cinta yang besar terhadap sesama saudara seiman. Perasaan tanggung jawab ini, menyebabkan dirinya sangat waspada, dan mempunyai kendali diri yang tinggi untuk menjaga sesama saudaranya dari kehancuran, fitnah, dan celaan. Dia merasakan bahawa dirinya adalah juga bahagian dari saudaranya yang lain. Juga merupakan satu tubuh, yang apabila kakinya terpijak duri maka berdenyutlah rasa sakit itu di sekujur tubuhnya. Inilah dasar tanggung-jawab setiap muslim untuk menghindari dan sekaligus membentengi saudaranya dari segala cela dan fitnah. Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa menutupi cela saudaranya, maka Allah Ta’ala akan menutupi celanya di dunia dan akhirat.” (HR Ibnu Majah).
Seorang muslim harus pandai menjaga rahsia temannya, penuh amanat apabila diberi titipan, dan penuh tanggung jawab terhadap keselamatan sesama saudara seiman. Bahkan, dalam memegang rahsia, setiap peribadi muslim benar-benar menjaga amanat tersebut. Kerana teguhnya memegang suatu rahsia maka ia langsung “mengubur” amanat tersebut dan tidak pernah sedikit pun terbongkar. Kerana rasa tanggung jawab yang diselimuti dengan rasa cinta sesama anggota jemaah, maka ia tidak pernah sedikit pun ingin mengungkit sejarah buruk saudaranya dan membongkar cacat saudaranya sendiri. Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah kamu semua meneliti (mencari-cari) kejelikan orang lain, jangan pula mengamat-amatinya, juga janganlah saling memutuskan ikatan, saling berseteru, dan jadilah hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR Bukhari dan Muslim).
Jika seorang muslim mendengar berita dari seseorang tentang perbuatan tercela saudaranya, hendaknya ia berdiam diri. Tidak perlu menambah dengan komentar dan tidak pula ikut larut menganalisis dengan penuh buruk sangka (su’uzhan). Sesungguhnya, yang menyebabkan renggangnya tali persaudaraan dan rapuhnya tali cinta adalah perasaan buruk sangka. Setiap umat Rasul selalu mawas diri, menjaga lidahnya, dan terus-menerus merakit tali persaudaraan diantara sesama muslim. Hal ini tampak dari tekadnya untuk selalu menjadikan dirinya sebagai pembela dan pelindung dari harkat dan darjat sesama muslim. Apabila diberi amanat Allah berupa kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan, dia tidak akan melupakan sesama saudaranya untuk memberikan bantuan dan pertolongan agar dapat dicarikan jalan keluar bagi saudaranya tersebut. Kekuasaan, jabatan, dan harta adalah amanat. Dia sedar bahawa semuanya harus mempunyai nilai bagi saudaranya yang seiman. Sebab itu, seorang muslim tidak perhah egois. Dia selalu merindukan saudaranya agar dekat dan akrab dengan dirinya dalam suka dan duka. Apabila dia berkuasa maka sesama saudaranyalah yang dijadikan prioritas untuk dibantunya. Apabila dia punya kelebihan harta maka infak yang dia berikan ditujukan untuk para kerabat saudaranya seiman terlebih dahulu, ini semua menunjukkan rasa takaful dari seorang anggota jamiatul muslimin.
___________________________________________
F. Mengibarkan Panji Persaudaraan
Sebagaimana metode (manhaj) yang telah digariskan Rasulullah saw., maka program rekrutmen untuk menambah jumlah saudara seiman itu dimulakan dari kelompok terdekat terlebih dahulu. Setiap anggota wajib hadir dalam pertemuan taklim, tarbiyah, dan takwiniyah yang digariskan oleh jemaahnya. Kemudian masing-masing anggota akan berupaya dengan ketauladanan akhlaknya merekrut saudaranya terdekat untuk masuk dalam taklim tersebut bertujuan mendapatkan cucuran hikmah dan kemuliaan akhlaknya melalui percikan petunjuk Al-Qur’an. Jiwa seorang mujahid dakwah akan tampak dalam semangat untuk menyeru dan menarik manusia ke dalam shaf persaudaraan lni. Jiwanya tidak mengenal lelah, tidak mengenal bosan, apalagi gentar untuk menawarkan sebuah jalan yang lurus, untuk menyelamatkan dari kegelapan menuju cahaya. Partikel- partikel ikhwan bertebaran menebarkan cahaya nubuwah dengan memercikkan air rohani yang menyegarkan tumbuhan yang kering. Kemudian dia tebarkan benih-benih unggul itu dalam taman jemaah yang disiram melalui butiran tarbiyah yang membawa ketenteraman batin (mutma’inah). Sebuah taman miniatur dari kehidupan yang Islami, di mana terlihat dengan sangat jelas keakraban, persaudaraan, serta budi luhur yang diikat oleh sebuah kerinduan untuk menebarkan rasa damai. Apabila setiap anggota jamaah mampu membuat perancangan yang baik dan tepat, serta dilanjutkan melalui program jemaahnya, maka dalam waktu beberapa hari saja akan tampaklah bekas-bekas sujudnya. Yaitu, ketika jami’atul ikhwan sebagai lambang persaudaraan itu terwujud dan membawa manfaat kedamaian bagi umat semuanya.
Partikel ini bagaikan pecahan sel-sel hidup yang menghidupkan, yang ditata dan dikelola dengan profesional yang terpadu serta kurikulum yang jelas. Niscaya jamaah ini akan mempunyai mujahid dakwah yang bergerak dinamis, iaitu menyeru dan menebarkan benih-benih kesejukan hati. Panji-panji persaudaraan harus diangkat ke atas sebagai suatu pertanda atau simbol yang memberikan petunjuk bahawa di dalam masyarakat, di mana pun keberadaannya, ada satu kelompok manusia yang menawarkan khidmat pelayanan, sebagai bala tentara persaudaraan yang akan memberikan harapan, kesejukan, dan kedamaian bagi umat manusia. Panji-panji ini bagaikan pisau bermata dua, dari segi intern membina anggota muslim untuk menjadikan dirinya manusia berprestasi yang berakhlak mulia melalui berbagai programnya yang ringan dan realistik. Sedangkan segi eksternnya, mereka menyeru bukan menghakimi. Ikatan persaudaraan yang berawal dari ucapan dan keyakinan terhadap dua kalimat syahadat harus menjadi dasar pijakan anggota jemaah. Perbezaan dalam metode dakwah, mahupun tatacara yang berkaitan dengan khilafiah, bukan suatu alasan untuk memutuskan tali silaturahim.
Keyakinan ini harus melekat dan menghunjam di hati kita semua sebagai seorang muslim yang merindukan satu binaan umat yang padu. Kita harus mahfum bahwa masyarakat itu selalu berkembang. Tingkat berfikir manusia selalu berkembang. Tingkat berfikir manusia selalu bervariasi. Dan pola perilakunya pun sangat ditentukan oleh intensitas rangsangan (stimulans) yang mempengaruhi dirinya. Maka kewajiban kita semua adalah berlumba untuk memenangkan rangsangan terhadap Al-Qur’an melawan rangsangan non-Al-Qur’an. Hal ini jelas memerlukan waktu, kesabaran, keuletan, dan toleransi yang amat tinggi. Persaudaraan yang dilandaskan roh tauhid, seharusnya lebih diutamakan daripada berbagai perbezaan yang ada di kalangan umat. Apalagi kalau perbezaan itu hanyalah dalam hal khilafiah, rasanya tidak patut menjadi penyebab putusnya tali ukhuwah. Begitu pula perbezaan dalam hal metode dakwah, juga tidak boleh mengalahkan roh ukhuwah diantara sesama muslim yang bergerak maju untuk menjayakan al-Islam.
_______________________________________
_______________________________________
G. Ringankan Jangan Memberatkan
Dakwah dan panji persaudaraan yang diikat oleh tali iman akan menunjuk pada satu sikap iktidal (lurus) kerana para jemaah muslim itu menghayati betul akan berbagai makna ayat di dalam Al-Qur’an mahupun hadits yang mengajak umat manusia untuk berbuat segala sesuatunya termasuk ibadah dalam kondisi yang tu’maninah ringan dan tidak berlebih-lebihan. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT:
“… Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (al-Baqarah: 185).
Apabila Allah sendiri menghendaki perbuatan amaliah yang akan meringankan hamba-Nya, apalagi kita sebagai manusia yang lemah ini, apakah tidak mahu peduli dengan kerahmanan Allah? Hal itu sebagaimana hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Jauhilah olehmu sikap melampaui batas dalam agama, sebab orang-orang sebelum kamu telah binasa kerana sikap melampaui batas dalam agama.” (HR Ahmad, an Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim dengan sanad sahih).
Ketika Mu’adz memanjangkan bacaan shalat berjamaah, beliau pun bersabda kepadanya,
“Hai Mu’adz, apakah engkau ingin menimbulkan fitnah?”
Ucapan ini, beliau ulangi sampai tiga kali. Teguran Rasulullah tersebut terhadap Mu’adz memberikan penegasan kepada kita bahwa janganlah kita melaksanakan suatu syariat agama hanya sekadar mengikuti kata hati saja. Akan tetapi, hendaknya selalu ditimbang dengan kadar akal dan kemampuan dari para jema’ah atau kaum muslimin lainnya. Hal ini sebagaimana kebiasaan Rasulullah saw apabila diminta untuk memilih diantara dua pilihan, maka beliau memilih yang lebih ringan selama hal itu tidak mengandung dosa. Walau demikian, hal ini tentunya tidak melarang seseorang yang kerana ingin mencari keutamaan dalam pendekatan (taqarub) kepada Allah, lantas melatih diri dan mencari sesuatu yang lebih utama yang oleh kebanyakan manusia dirasakan berat. Kerana hal itu justeru merupakan suatu panggilan nurani dalam rangka merancangkan pembersihan jiwa (tadzkiatun-nafs) melalui berbagai program melatih diri (riyadhah). Hanya saja janganlah amalan yang sifatnya khusus dipaksakan sebagai sesuatu yang bersifat umum, sehingga akan menumbuhkan berbagai tafsiran seakan-akan agama ini terasa sangat berat bagi pemeluknya iaitu manusia pada umumnya.
Dr Yusuf Qardhawi seorang intelektual dari Mesir –dikenal si’bagai penerus dari kepeloporan Hasan al-Bana–menyebutkan, “Bahawa seorang juru dakwah yang bijaksana adalah yang dapat menyampaikan dakwahnya dengan sehalus-halus cara dan selunak-lunak kata, tanpa mengurangi sedikit pun dari kandungan maknanya kepada orang.” Sedangkan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulummuddin menyebutkan, “Tidaklah seseorang layak ber-amar maruf nahi munkar, kecuali ia bersikap lemah lembut dalam menyuruh berbuat baik dan lebih lembut dalam mencegah kemungkaran, dan benar-benar memahami apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya.”
Suatu saat, seseorang mendatangi dan mendakwahi Sultan al-Makmun agar ia berbuat baik dan menghindari kemungkaran. Akan tetapi, cara yang disampaikannya terasa kasar dan jauh dari sikap kesejukkan. Kemudian al-Makmun yang dikenal oleh orang-orang kerana pengetahuannya yang luas dalam agama, maka ia berkata kepadanya, “Wahai Saudaraku, bersikaplah lemah lembut dan santun. Sebab Allah SWT pun telah mengutus orang yang lebih baik darimu (Nabi Musa a.s.) kepada orang yang lebih jahat daripadaku (Fir’aun), dengan perintah-Nya agar bersikap lemah lembut. Diutus-Nya Musa dan Harun untuk menemui dan menegur Fir’aun, seorang yang lebih jahat daripadaku”, seraya berpesan kepadanya kemudian al-Makmun membacakan kepadanya sebuah ayat:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 43-44).
Dengan cara itu, lelaki yang mendakwahi al-Makmun tersebut terdiam. Dia sedar akan kata dan kalimat yang disampaikannya kepada al-Makmun sebagai suatu sikap yang tidak Islami. Beberapa orang Yahudi pernah mmperolok-olok Rasulullah, mereka menyampaikan salam kepada Rasulullah dengan ucapan, “As-samu’alaikum,” (artinya, matilah engkau), sebagai ganti dari ucapan, “Assalamu’alaikum” (damai sejahtera untukmu). Kemudian Aisyah ra. marah dan membalas ucapanYahudi itu dengan ucapan yang keras. Sedangkan, Rasulullah saw tidak mengucapkan apa pun kecuali sebuah ucapan pembalasan yaitu “wa’alaikum” (demikian pula atasmu). Setelah itu, beliau menegur Aisyah r a.. seraya bersabda:
“Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bersikap lemah-lembut dalam segala hal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain Rasulullah saw bersabda,
“Siapa saja yang dijauhkan daripadanya sikap lemah lembut adalah orang yang dijauhkan daripadanya segala kebaikan.” (HR Muslim).
________________________________________
H. Air Mata dan Amal
Malam hari menangis, siang hari bagaikan singa lapar yang “bolak balik” tidak mengenal lelah menundukkan dunia mencari fadilah yang disulut oleh sebuah tekad semangat yang ingin menjadikan dirinya penuh makna, bermanfaat, dan berprestasi. Para ikhwan mudah tersentuh melihat penderitaan kaum mukmin, sehingga kadang-kadang dirinya sendiri tidak begitu diperhatikan demi membela sesama saudaranya. Maka, dalam melatih diri (riyadhak) agar menjadi hati yang tumpah cintanya kepada Allah (mahabbah lillah), tampaklah titisn air matanya yang mengenang di pelupuk matanya yang merefleksikan rasa cemas dan harap kepada Allah. Sikap seperti inilal yang difiirmankan oleh Allah SWT:
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (al-Isra’: 109).
“Maka apakah kamu merasa hairan terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (an-Najm: 59-60).
Air mata yang mengalir dari kelopak mata dan membasahi kedua pipi para ikhwan, bukanlah suatu gambaran kemanjaan, tetapi suatu sikap kelembutan hati dari suatu jihad. Kerana bagi para ikhwan sikap yang keras itu tidak selamanya harus dinyatakan dengan cara yang keras. Bahkan sebaliknya, ada semacam moto bahawa pendiriannya tetap keras dan kental (istiqamah), tetapi cara dakwahnya adalah lemah-lembut menyejukkan. Di dalam Sunnah Rasulullah saw, titisan air mata pun mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur, sebagaimana berbagai hadits sahih meriwayatkannya. Rasulullah saw bersabda:
“Andaikan kamu mengetahui sebagaimana yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” Seketika itu pula para sahabat menutup muka masing-masing, dan menangis terisak-isak. (HR Bukhari dan Muslim).
Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Tidak akan pernah masuk ke dalam neraka, seorang yang pernah menangis kerana takut kepada Allah. Dan tidak akan dapat berkumpul debu dalam jihad fisabilillah dengan asap neraka Jahanam.” (HR at-Tirmidzi).
Bahkan, cubalah semak dan resapkan dengan sangat mendalam, lalu jadikanlah tujuh jenis manusia yang akan dilindungi Allah kelak di yaumul akhir ini sebagai keperibadian anggota Ikhwanul Muslimin semuanya; sebagaimana sabda Rasulullah saw pada riwayat berikut:
Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Ada tujuh macam orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari di mana tidak ada naungan (hari kiamat) kecuali naungan Allah, yaitu:
1. Imam (pemimpin) yang adil,
2. pemuda yang tumbuh dan tetap taat beribadah kepada Allah,
3. orang yang hatinya terpaut di masjid,
4. dua orang yang saling mengasihi semata-mata kerana Allah, baik ketika berjumpa mahupun berpisah,
5. seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan yang cantik maka ia menolaknya dengan berkata, ‘Aku takut kepada Allah.’
6. orang yang merahsiakan sedekahnya, sehingga tidak diketahui oleh tangan yang kiri terhadap apa yang diberikan oleh tangan yang kanan.
7. seorang yang berzikir dengan mengingat kepada Allah dengan seorang diri, kemudian bercucuran air matanya, dan menangis.” (HR Bukhari dan Muslim).
Abdullah bin as-Sikhiri r a.. mendatangi Nabi saw, namun beliau dalam keadaan shalat, maka terdengar nafas tangisnya, bagaikan suara air mendidih dalam bejana. (HR Abu Daud dan at Tirmidzi).
Ibnu Umar r a. mengatakan bahwa ketika Rasulullah saw. sakit kuat dan beliau mengingatkan untuk shalat berjamaah. Lalu Nabi bersabda, “Suruhlah Abu Bakar menjadi imam.” Lalu, Siti Aisyah ra. berkata, “Abu Bakar itu seorang yang lembut hatinya, jika membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Nabi bersabda, “Suruhlah Abu Bakar menjadi imam.” (al-Hadits).
Pada riwayat lain, Siti Aisyah ra berkata, “Abu Bakar jika berdiri di tempatmu, orang tidak akan mendengar suaranya kerana tangisannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Abu Utsman bin Ajlan Albahli r a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Tiada suatu yang sangat disukai Allah dari dua titisan dan dua bekas, titisan air mata kerana takut kepada Allah dan titisan darah yang tumpah kerana mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas ialah bekas dalam perjuangan fisabilillah dan bekas kerana melaksanakan kewajiban kepada Allah.” (HR at Tirmidzi).
Hendaknya dengan hadits-hadits yang sahih tadi, kita semua dapat meniru dan meresapkannya, sehingga jiwa kita menjadi roh yang ringan kerana selalu mampu melepaskan beban dunia, menyucikan diri dan membersihkan segala jelaga kepahitan hidup melalui linangan air mata. Setelah itu, setelah air mata tumpah dan rasa optimis membumbung, maka tegakkan kembali wajahmu. Pandanglah dunia yang terbentang ini, kemudian kerahkan segala fikiran, otot tubuh untuk bersimbah keringat. Lalu tundukkanlah segala budaya durjana dan tegakkanlah prestasi gemilang sebagai suatu kewajiban kehidupan nyata yang Islamik. Perasaan berdosa terus mengejar, apabila dalam hidup pribadi maupun berjemaah, ternyata kita tidak mampu mewujudkan apa yang dikonsepsikan oleh Al Qur’an. Oleh kerana itu, kepada para ikhwan selalu dituntut sebuah jawaban dari pertanyaan yang sangat sederhana, “Mana bukti konkrit dari amalmu, mana gerak nyata dari pernyataanmu, mana pula huluran tanganmu yang mampu mengangkat martabat umat?”
Rangkaian pertanyaan ini memerlukan jawaban dalam bentuk amal yang nyata. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun dari para ikhwan yang berbantah-bantah, kerana berselisih atau berbantahan dalam hal kebenaran yang nyata hanya akan melemahkan kesatuan dan tertundanya amal yang nyata. Budaya “kami dengar dan aku taat” (sami’na wa atha’na), menjadi satu keperibadian para ikhwan, bukan kerana bai’at kepada imam, tetapi karena panduan Al-Qur’an yang mewajibkannya. Boleh menjadi suatu kelemahan yang sangat nista, apabila kita hanya menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan menyemak ratusan hadits. Akan tetapi, hafalan dan pengetahuan kita hanyalah sekadar penyedap retorika, pemanis bahan pidato, dan sekadar pelengkap referensi dalam diskusi belaka, sungguh rugilah mereka. Sikap “kami dengar dan aku taat” terhadap seluruh keputusan majelis dan komitmen jemaah harus merasuk pada dada semua ikhwan. Kerana hanya dengan sistem seperti inilah, wujud kerja konkrit dapat segera terlaksana. Insya Allah.
Dari berbagai penjelasan dan penegasan ayat dan hadits-hadits yang sahih tadi, maka muncullah pertanyaan yang ditujukan kepada para jami’atul ikhwan, iaitu sebagai berikut:
1. Pernahkah engkau melakukan timbangan atas amal baik dan amal buruk, melakukan penilaian mengevaluasikan dan mengadili dirimu sendiri (muhasbatun-nafs)?
2. Pernahkah engkau menangis kerana menyesali dosa dan kesalahanmu? Padahal bukankah lebih baik kita menyesali dosa kita di dunia, daripada kelak kita menyesali setelah di akhirat? Maka, sesekali menangislah sebelum datang hari di mana engkau yang ditangisi.
3. Pernahkah engkau menangisi segala dosa dan kesalahan yang akan melahirkan optimisme dan ketegaran serta kelembutan jiwa.
Harus dihayati oleh peribadi muslim bahawa air mata -yang dimaksudkan dalam pembahasan ini- bukan saja titisan yang bercucuran dari kelopak mata kita kerana perasaan dosa dan segaia hal yang bersifat melankolik Ilahiyah. Tetapi, air mata juga merupakan suatu perlambang perasaan empati atas penderitaan para dhuafa. Suatu refleksi jiwa yang tergetar melihat penderitaan, kepincangan, serta ketidakadilan.
___________________________________________
I. Rumahtangga Muslim Adalah Benteng Pertama dan Utama
Menghadapi budaya Dajjal yang semakin menampakkan bentuknya, dengan mencabut jiwa anak-anak muda dari kerinduan dan kecintaannya kepada Allah. Budaya Dajjal menawarkan berbagai kenikmatan dunia, dan kita pun harus menghadapinya dengan pola pendidikan dan kebiasaan rumah tangga yang Islamik (usrah Islamiyah). Tayangan televisyen menawarkan kehidupan hedonistik sekular. Gerakan pemikiran bebas nilai (freethinking), okultisme sebagai ajaran mistik, tahyul yang menyesatkan, serta ubat-ubat syaitan yang ditebarkan di setiap kegiatan para anak-anak muda, merupakan bentuk yang sehari-hari sangat nyata kita saksikan.
Salah satu usaha preventifnya, tidak lain seluruh keluarga muslim harus mampu membentengi putra-putrinya dari godaan mereka. Iaitu, dengan cara menghidupkan rumah tangga sebagai masyarakat Islam, iaitu miniatur yang di dalamnya ditumbuhkan sunnah dan kebiasaan Islamik. Kebaikan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh upaya para keluarga untuk membina dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarganya sendiri. Pada period Rasulullah melaksanakan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi (sirriyah), sasaran dakwah yang pertama beliau lakukan adalah menuntun keluarga dan kerabatnya yang terdekat terlebih dahulu, untuk memenuhi perintah Allah. Hal itu sebagaimana firman-Nya:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, iaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, ‘Sesungguhnya, aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan’…” (asy-Syu’ara: 214-216).
Demikianlah metod awal dakwah Rasulullah yang disambut pertama kali oleh Khadijah binti Khuwalid yang beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. Meyakini, membenarkan, bahkan membela dakwah Rasul dengan mengorbankan seluruh hartanya. Seruan dakwah kepada kerabatnya disambut oleh Ali bin Abi Thalib yang merupakan lelaki pertama yang menerima seruan Rasulullah untuk memeluk Islam. Walaupun di zaman sekarang sasaran dakwah yang ditujukan kepada keluarga kadang-kadang lebih rumit dibandingkan dengan seruan kepada orang lain, tetapi para anggota jamaah tidak pernah patah hati. Dia sedar bahawa berbagai faktor psikologis yang berkaitan dengan keluarga dan kerabat terdekat, justeru lebih besar tentangannya. Mereka tidak patah hati dengan tentangan keluarganya. Kerana hal ini pun sudah menjadi suratan sejarah. Sebagaimana Nabi Nuh as. yang tidak mampu menolong anaknya, ummat Nabi Luth a.s. yang membangkang, bahkan bapak saudara Rasul sendiri tidak mampu mendapatkan hidayah dari Allah. Apalagi untuk kualitas manusia seperti kita, apakah kerana tentangan keluarga atau ketidak-berhasilan membina keluarga menyebabkan kita surut dari dakwah?
Maka di tengah-tengah badai tentangan dan akhlak para keluarga sendiri yang boleh jadi sangat bertentangan atau jauh dari Sunnah, para anggota jemaah akan tetap tegar menampilkan susuk dirinya sebagai mujahid. Mereka sedar bahawa pendidikan dan ketauladanan orangtua, serta rasa hormat dan sikap berdisiplin dalam beragama sejak kanak-kanak –sebagai pewaris tauhid akan sangat jelas mewarnai seluruh perilaku anggota rumah-tangga tersebut. Sehingga, tidak ada alasan baginya untuk memalingkan muka dari tanggung-jawabnya sampai pada batas-batas tertentu, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Hidup yang penuh dengan segala tentangan material, godaan kenikmatan sekularisme, serta budaya hedonisme, ternyata tidak saja didapatkan di luar pekarangan rumah, sekolah, atau budaya masyarakatnya, tetapi rangsangan itu telah pula memasuki sudut kehidupan yang sangat peribadi iaitu rumah. Kalau bukan kerana pendidikan dan ketauladanan yang istiqamah, niscaya rumah pun akan membusuk sebagai “tempat sampah duniawi” yang rakus. Laser disc, video tape, bahkan program televisyen atau filem yang jarang sekali, bahkan sama sekali tidak pernah sedikit pun memikirkan akhlak, tidak syak lagi akan menggoda anggota masyarakat kita yang terkecil ini, yaitu rumah tangga.
Membina rumah tangga muslim (binaa al-usrah al-muslimin), jelas bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi kita sedari bahawa betapa pun hebatnya ketauladanan orang tua, mereka tidak sepenuhnya dapat diawasi dua puluh empat jam oleh mata orang tuanya yang sangat terbatas, dan didera oleh kesibukan hidup yang padat. Hampir separuh dari gerak dan wahana fikiran anak-anak kita menjadi objek dari budaya di luar rumah dengan segala konsekuensinya. Bacaan, pergaulan, peran guru, pengaruh teman, dan sahabat di sekolah atau kelab permainan, semuanya kadang-kadang bagi anak-anak kita dianggap sebagai sesuatu yang membingungkan, terjadi satu benturan nilai. Antara sesuatu yang ideal (das sollen) dan kenyataan (das sein). Seakan antara teori dan praktik berbenturan, bahkan bertolak-belakang secara diametral antagonistik. Untuk menjadi anak yang Islamik, rasanya dia harus terisolasi dari pembentukan pergaulan. Untuk menjadi mahasiswa yang Islamik, dia akan berhadapan dengan segala peranti birokrat yang kadang-kadang bertentangan dengan hati nurani.
Banyak lagi persoalan yang sangat kompleks dalam sebuah garis nilai yang seakan-akan saling berlawanan. Tetapi, bagi keluarga anggota jami’atul muslimin, kenyataan ini tidaklah membuat dirinya surut. Mereka sedar bahawa untuk menggapai syurga dan janji kenikmatan yang abadi, bukanlah sebuah permainan tanpa perjuangan. Segala konsekuensi telah dia perhitungkan. Segala risiko sudah dia perkirakan, sekali tauhid tetap tauhid, sekali menata keluarga Islamk tidak pantang undur untuk berkompromi dengan budaya jahiliah. Semangat ini yang harus ditanamkan terlebih dahulu kepada seluruh anggota keluarga muslim. Bahawa dia mempunyai jati diri, serta mempunyai sesuatu yang memang berbeza dengan kaum jahiliah. Semangat dan kekuatan batin para anggota keluarga jemaah merupakan “filter” atau alat penyaring utama keluarga jemaah yang harus ditanamkan kepada seluruh anggota keluarga jemaah. Mereka harus bangga bahawa mereka bukan jenia manusia yang senang larut kerana kebiasaan pergaulan. Mereka tidak merasa terpelanting, dari pergaulan, manakala pergaulan yang ditawarkannya justru bertentangan dengan keyakinannya. Setiap perbezaan bagi para anggota keluarga jemaah dianggapnya sebagai sasaran dakwah. Tidak mungkin dia dipengaruhi ajaran jahiliah, kerana justeru dirinya harus tampil ke depan mempengaruhi mereka dengan ajaran keselamatan yang akan meluhurkan martabat manusia yang tidak lain adalah al-Islam.
_____________________________________
J. Membiasakan Diri
Kerana dahsyatnya tentangan di luar lingkungan jami’atul muslimin ini, maka prinsip jemaah mengajarkan kepada seluruh anggotanya agar mereka melatih dan selalu membiasakan diri dalam kebaikan melalui amal-amal jemaah. Misalnya, shalat berjemaah dengan seluruh anggota keluarganya merupakan salah satu ciri amalannya. Makan berjemaah yang diawali dengan doa, dan diakhiri pula dengan saling mendoakan. Sungguh itu adalah suatu kemesraan keluarga yang harus menjadi ciri dan citra keluarga muslim (usrah Islamiyah). Membiasakan diri mengajak anggota keluarga melakukan perjalanan silaturahmi kepada para kerabat, mahupun keluarga sesama jemaah adalah merupakan satu program pembinaan keluarga muslim. Keluarga muslim tidak dibentuk menjadi manusia yang ekstrem atau eksklusif tetapi dilatih dan diajarkan untuk pandai memilih dalam tata pergaulan tanpa memberikan bekas kebencian.
Kalau orang kebanyakan melakukan piknik, mereka pun boleh melakukannya, kerana hal itu adalah fitrah manusia. Hanya saja keluarga muslim harus pandai memilih dan merancangkan jenis piknik (rihlah) tersebut, yang justeru akan menambah pengikat tali kekeluargaannya. Dengan cara ini, mereka dilatih untuk hidup fungsional, tepat guna dan tidak terjebak pada pembaziran apalagi mempertontonkan kemewahan. Hidup sebagai muslim adalah hidup yang mempunyai program dan arah yang jelas, kerana mereka adalah jenis manusia yang dilahirkan sebagai makhluk yang memiliki jati diri, visi, dan misi llahiah, sebagaimana termaktub pada surat at–Taubah:33, al–Fath:28, dan al–Haqqah: 9.
Beberapa kebiasaan yang sangat dominan dilakukan oleh anggota keluarga jamaah diantaranya sebagai berikut:
1. Selalu melaksanakan ibadah berjamaah. Bahkan, salah satu tanda- tanda atau ciri ibadah jemaah adalah mereka yang selalu merindukan shalat berjemaah. Begitu haus dan rindunya mereka akan shalat jemaah maka dia tidak segan-segan mengajak, atau menantikan orang lain agar mereka boleh shalat berjemaah. Apalagi rumah mereka dekat dengan masjid maka secara berombongan, mereka bagaikan lebah menuju sangkar madunya, mereka bergerak menuju mesjid terdekat
2. Selalu ada waktu khusus untuk sarana pembinaan dan pengarahan bagi anggota keluarganya. Dalam pertemuan, orang tua memberikan arahan, sekaligus melakukan dialog dengan seluruh anggota keluarganya.
3. Para anggota keluarga dibiasakan untuk melakukan silaturahmi, dan saling mengenal diantara para ikhwan sesama anggota jemaah agar misi perjuangan serta tali persaudaraan dan kekerabatan tidak terputus, tetapi akan dilanjutkan oleh para putra-putrinya sebagai generasi Qur’ani yang akan meneruskan amanat al-Islam.
4. Bersama anggota keluarga ikut aktif melakukan perjalanan dakwah dengan sesama anggota jemaah (rihlah jama’iyah), sehingga bukan saja selalu terjalin hubungan (ittishal), tetapi juga akan mampu menumbuhkan ukhuwah yang lebih mendalam dalam menghayati semangat dan cita-cita jemaahnya.
5. Dengan menanamkan kebiasaan ini diantara sesama anggota keluarga sendiri mahupun bersama dengan keluarga anggota jemaah lain, maka secara tidak sedar tumbuhlah pembinaan terhadap masyarakat muslim (bina’al-mujtama’al muslim) yang secara spesifik memberikan kesejukan bagi sekitarnya melalui dakwah amaliah yang simpatik. Kalau saja para anggota jami’atul muslimin melakukannya dengan konsisten dan tetap dipimpin oleh niat dan semangat menjayakan agama dan umatnya, maka persatuan umat yang kita rindukan akan segera terwujud. Insya Allah.
Sambung ....
Dajjal Dan Simbol Syaitan-Bab 5 (A) >>>

No comments:
Post a Comment