03 March 2020

Dajjal Dan Simbol Syaitan-Bab 2






Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Subhanallah 100X سبحان الله
Alhamdulillah 100X الحمد لله
LA ILAHA ILLALLAH 100X  لا إله إلا الله
Allāhu akbar 100X  الله أكبر

Alhamdulillah syukur kepada ALLAH



Dajjal Dan Simbol Syaitan-Bab 2 (a)


BAB 2 (A)
___________________________
TANDATANDA DATANGNYA DAJAL
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.”(an-Naml:82).
Gerakan zionisme Dajjal tidak hanya menguasai perekonomian dan kewangan dunia, namun juga menguasai teknologi dan jaringan spionase (pengintipan) global. Mereka juga “menyusup” ke dalam bidang agama, moral, dan budaya. Mereka memanfaatkan celah-celah dogmatis yang boleh ditafsirkan sedemikian rupa, serta membuat pentafsiran Alkitab sesuai keinginannya. Bahkan, menyisipkan kebohongan dan khayalan-khayalan dengan mengaku-ngaku bahwa hal itu seakan-akan datangnya dari Allah.
Salah satu bidang agama yang disusupnya adalah mentafsirkan datangnya Mesiah serta penentuan waktu akhir dunia. Dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama mahupun Perjanjian Baru, dikisahkan tentang persamaan antara Nabi Ilyas a.s. dan Nabi Isa a.s. Kedua nabi tersebut naik ke langit dan akan turun menjelang “hari Tuhan” (kiamat). Dalam kitab Injil Perjanjian Lama II Raja-raja 2:11, diterangkan tentang Nabi Ilyas:
“Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke surga dalam angin badai.”
Dalam kitab Injil Perjanjian Lama Maleakhi 4: 5 diterangkan :
“Sesungguhnya aku akan mengutus Nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu.”
Juga tentang kedatangan kembali nabi Ilyas dapat dibaca pula pada kitab Matius 17:10 dan Lukas l:17.
Di samping harapan akan turunnya kembali Nabi Ilyas (Elia) dan Nabi Isa, berbagai tanda telah dinubuatkan oleh Injil Perjanjian Baru (Wahyu 13) di antaranya:
“Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh, di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat.”
(Wahyu 13:1).
“Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba yang telah disembelih…”
(Wahyu 13: 8)
“Yang penting di sini ialah hikmat barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, kerana bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Wahyu 13: 18).
Anda pasti sangat tertarik bila berbicara tentang hari kiamat, yaitu tentang kekacauan, kegetiran, serta ramalan-ramalan tentang nasib manusia. Dan minat Anda tersebut akan terpuaskan bila mendengarkan kisah-kisah tentang ramalan-ramalan serta berbagai pentafsirannya, yang didasarkan pada asumsi rasional atau pseudo-rational:
Dalam kaitannya dengan hari kiamat ini, kita pun mengenal kepercayaan akan datangnya al-Masih ad-Dajjal dan turunnya Nabi Isa a.s. yang akan membunuh Dajjal dan kemudian memimpin umat manusia untuk memeluk agama Islam. Namun dalam pembahasan ini tidak akan dibahas tentang Imam MahdiYajuj dan Majuj, atau Gog dan Magog, melainkan akan dibahas sekitar Almasih Isa a.s. serta ad-Dajjal yang banyak ditanyakan oleh umat dalam majelis-majelis, diantara pertanyaan tersebut, yaitu sebagai berikut:
____TENTANG AL-MASIH NABI ISA A.S.
  • Apakah Nabi Isa a.s. telah wafat ataukah masih hidup di langit?
  • Apakah Nabi Isa a.s. akan turun lagi ke bumi untuk memerangi Dajjal?
  • Apabila Nabi Isa a.s. tidak wafat, bagaimanakah keadaannya di langit?
  • Apakah yang dia kerjakan selama ribuan tahun tinggal di sana?
  • Apakah wajah dia sama dengan yang kita lihat dalam penyaliban?

_____________TENTANG ADDAJJAL
  • Apakah Dajjal itu berupa binatang atau manusia raksasa yang bermata satu?
  • Ataukah Dajjal merupakan simbol karakter anti agama?
  • Apakah Dajjal itu wakil syaitan di muka bumi?
Menjawab berbagai pertanyaan tersebut, tentu saja tidak mudah. Bahkan, diantara para ahli tafsir dan hukum Islam pun masih berbeza pendapat satu sama lain. Ada yang mengatakan Nabi Isa a.s. akan turun kembali untuk membunuh Dajjal, kemudian tinggal di bumi selama waktu tertentu. Ada yang mengatakan Nabi Isa tidak akan turun lagi ke bumi. Juga ada yang mengatakan Dajjal itu tidak lain adalah sebuah simbolisasi dari ajaran syaitan pada saat mendekati akhir zaman, dan sebagainya.
Sedangkan dalam kaitan ini akan dibahas beberapa pemikiran kontroversi sekitar pertanyaan tentang Isa Al-masih dan Dajjal tersebut dan mencuba melihat kaitannya secara kontekstual.
______________________________
APendapat Pertama: Nabi Isa Telah Wafat & Tidak Akan Turun ke Bumi.
Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat, merujuk pada penafsiran Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:
“(Ingatlah) tatkala Allah ber firman, ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku akan memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang kamu perselisihkan padanya’…” (Ali Imran: 55).
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Maa’idah:117)
Berkaitan dengan surat al-Maa’idah ayat 117 maka timbul penafsiran kata tawaffaitanitawafayatawaffamutawaffi, yang ertinya ‘mematikan, mencabut nyawa atau mewafatkan’. Pengertian ini tentu saja berlaku untuk seluruh ayat yang berkaitan dengan kata tawafaa. Sehingga surat Ali Imran ayat 55 di atas harus difahami secara yakin bahwa Allah telah mewafatkan, mematikan, atau mencabut nyawa Nabi Isa a.s.
Kata tawaffa berasal dari kata kerja wafaya (wau-fa-ya) mempunyai erti: ‘melunasi, menyelesaikan, menyempurnakan, wafat‘ (mati). Akar kata wafat (mati) sangat dekat dengan akar kata wifa‘ yang artinya, ‘penyempurnaan atau pelunasan’. Sehingga dua kata itu merujuk pada sesuatu tugas yang sempurna atau telah selesai, atau seseorang yang telah selesai menjalani hidupnya alias mati. Apabila kata wafaya tersebut ditambah huruf mati ta dan fa, yaitu tawaffaya memberikan erti ‘sangat bersungguh-sungguh’. Dan bila kata tawaffa dihubungkan dengan firman Allah surat al-Maa’idah ayat 117, maka memberikan erti yang pasti bahwa, “…Engkau wafatkan (angkat) aku…”
Dengan pembahasan kata tersebut sampailah pada kesimpulan bahwa kata muttawafika dalam surat Ali Imran: 55, bererti Allah sungguh-sungguh (benarlah) akan mewafatkan engkau (Nabi Isa). Hal ini tidak dapat ditafsirkan lain kecuali Allah akan mewafatkan Nabi Isa. Apabila kata tersebut ditafsirkan lagi dengan ayat yang lain, maka akan didapat pengertian yang sama pada ayat ayat sebagai berikut: “… sampai mereka menemui ajalnya (yatawaffahunna)….” (an-Nisa’: 15)
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan (tawaffaahum) malaikat… ” (al-Maa’idah: 97)
“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa (yatawaffa) orang-orang….” (al-Anfal: 50)
Masih banyak lagi kata atau ungkapan tawaffa dalam surat-surat pada Al-Qur’an yang keseluruhannya memberikan erti ‘mewafatkan , mencabut nyawa’, dan sebagainya. Apabila seluruh kata tawaffa dalam ayat-ayat yang disebutkan tersebut menunjukkan erti “mewafatkan
dan mematikan”, lantas atas dasar apa yang meragukan bahwa Nabi Isa telah diwafatkan (mati). Oleh kerana itu, tidak dapat ditafsirkan lain bahwa Nabi Isa tidur, Nabi Isa istirahat, dan sebagainya.
1. Kata Rafia
Kata raafiuka (mengangkatmu) sebagaimana terdapat dalam Ali Imran: 55, tidak dapat ditafsirkan sebagai mengangkat Nabi Isa ke langit, kerana tidak didukung oleh ayat lain yang memperkuat argumentasi bahawa kata raafiuka menisbatkan kepada naiknya Nabi Isa ke langit dan kemudian hidup, tidur, atau istirahat di sana.
Kata rafiu adalah isim fa’il atau pelaku yang berasal dari kata kerja rafaa (telah mengangkat) dan bentuk rafaa dengan segala bentukannya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an menunjukkan pada sebuah makna ‘meningkatkan darjat, mengungguli, dan mengatasi’, sebagaimana di sebut di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“. . . dan sebagiannya Allah meninggikan beberapa darjat…. (wa rafa’a ba’dhuhum darajatin).” (al-Baqarah: 253 ).
“… dan mengangkat sebahagian kamu di atas sebahagian yang lain (wa rafa’a ba’dhukum fawqa ba’dhin).” (al-An’am: 165).
Selanjutnya kata-kata rafaa yang bererti ‘mengangkat darjat’sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an, terdapat pula pada surat surat “wa rafana” (az-Zukhruf: 32); “wa rafana” (Alam Nasyrah: 4); “yarfau” (al-Mujadilah: 11); dan “narfau” (Yusuf: 76).
Dari uraian tadi dapat disimpulkan, sebagai berikut:
a. Nabi Isa a.s. telah diwafatkan oleh Allah SWT sesuai dengan Sunnatullah yang tidak mungkin akan berubah selama-lamanya (al-Ahzab:62). Nabi Isa telah wafat dan diangkat darjatnya oleh Allah. Dan tentang wafatnya Nabi Isa, sesuai pula dengan Sunatullah bahwa segala benda yang bernyawa pasti akan menemui kematian.
b. Al Qur’an tidak pernah menyebutkan secara jelas dan muhkamat mahupun mutasyabihat, apakah Nabi Isa masih hidup dan apakah sampai saat ini masih berada di langit? Lalu apakah setelah itu, ia akan turun kembali ke bumi untuk membasmi Dajjal. Padahal, tidak ada satu kata pun di dalam Al-Qur’an yang menyebut nama Dajjal. Dengan demikian, hal ini memperkuat argumentasi bahwa Nabi Isa telah wafat, dan tidak akan turun ke bumi dan tidak akan membunuh Dajjal.
c. Kiamat akan segera tiba setelah turunnya Nabi Isa yang akan megalahkan Dajjal, kemudian mempersatukan umat manusia serta menjadikan semuanya beragama Islam dan menjadi imam sholat, tentunya berita ini merupakan berita besar yang mustahil luput dari uraian Al-Qur’an.
d. Mengingat turunnya Nabi Isa dan datangnya Dajjal tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an, maka tidak menyebabkan berdosa apabila kita tidak mengimaninya. Lagi pula, rukun Iman yang telah diakui seluruh ulama sejak dahulu tidak mencantumkan hal ini.
2. Hadits-Hadits tentang Nabi Isa a.s. dan Dajjal Argumentasi yang berdasarkan pada Al-Qur’an mengatakan bahwa Nabi Isa telah wafat dan tidak akan turun lagi ke bumi untuk memberentas Dajjal. Tentu hal itu tidak berdasarkan dalil hadits, walupun hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan yang lainnya. Bagi mereka yang menyangkal hadits tersebut didasarkan bahwa berita-berita yang diriwayatkannya bertentangan satu sama lain, kerana mereka mendasari itu terhadap alasan-alasan berikut:
a. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash disebutkan,
“…kemudian Isa Almasih itu, menetap bersama manusia tujuh tahun lamanya…”
b. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, al-Hakim, dan Ahmad bin Hanbal dari Abu
Hurairah r a. menyebutkan, “…Isa menetap di bumi empat puluh tahun lamanya, kemudian ia pun wafat, maka kaum muslimin menyembahyangkannya …”
c. Menurut Joesoef Souyb salah satu hadits yang meriwayatkan kedatangan Dajjal diterima melalui Ka’ab al-Ahbar yang mengatakan, “Aku akan mengirimmu kelak menghadapi Dajjal si Juling, dan engkau akan membunuhnya, lalu hidup di bumi sehabis itu selama dua puluh empat tahun dan Aku akan mematikanmu, seperti halnya orang yang hidup.”
Penulisan hadits dengan isi pernyataan yang berbeza satu sama lainnya dan diceritakan melalui satu orang saja (hadits ahad) menyebabkan kedudukan hadits tersebut tidak termasuk mutawatir (hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi). Di samping itu, sangat besar kemungkinannya adanya kesengajaan penyusupan dongeng atau kisah-kisah, seperti dituliskan dalam kitab Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Wahyu 19: 11-21, Wahyu 20: 4-6).
Perlu diingat bahwa dalam teologi dan liturgi (ketuhanan dan tata cara agama) Yahudi dan Nasrani sangat kental akan kepercayaan Mesiah dan Adventisme (harapan atau keyakinan akan turunnya Jesus ke bumi) untuk membasmi segala roh jahat dan mengajak umat manusia hanya percaya kepada Kristus.
_____________________________
BPendapat KeduaNabi ISA a.sAkan Turun ke Bumi
Pendapat yang meyakini bahwa Nabi Isa akan turun ke bumi, hal ini didasarkan pada argumentasi serta pentafsirannya yang mendalam atas ayat dan hadits yang ada. Bahwa yang dimaksudkan dengan mutawaffiika (mewafatkanmu) sebagaimana termaktub dalam surat Ali Imran ayat 55, tidak harus di terjemahkan secara tersurat, tetapi sebaiknya dilihat juga secara menyeluruh; mengingat ada kaitannya dengan kata rafiuka (mengangkat). Sehingga kata “wafat” tidak semestinya diterjemahkan dengan mati, melainkan dapat pula diberikan makna ‘tidur atau diangkat’ atau disempurnakan.
Dengan merujuk Tafsyir al-Kasyaf jilid I halaman 432 bahwa kata Inni mutawaffiika dapat diberi makna ‘Aku menyempurnakan ajalmu’, ertinya Allah telah melindungi dan menyempurnakan Isa as. dari kaum kafir (kuffar) yang akan membunuhnya. Sedangkan kata “wa rafiuka ilayya” bermakna ‘mengangkatmu ke langit-Ku’. Dan kata “wa muthahhiruka minalladzina kafaru” bermakna ‘Aku membersihkanmu’, memeliharamu, atau melindungimu dari kejahatan kaum-kaum kafir’. Hal ini dikaitkan pula dengan surat az-Zumar: 42 yang mempunyai makna ‘mengangkatmu dalam keadaan tidur hingga engkau tidak dihinggapi khuatir dan engkau berada di langit’.
Kesimpulan pendapat kedua ini dapat dirangkumkan sebagai berikut:
1. Nabi Isa a.s diangkat ke langit dan benar benar akan turun ke bumi untuk menyelamatkan umat manusia dari kejahatan Dajjal.
2. Pentafsiran surat Ali Imran ayat 55, “inni mutawaffiika” harus ditafsirkan: ‘menidurkan atau menyelamatkan’. Dengan pentafsiran tersebut, maka Nabi Isa a.s. dalam keadaan masih hidup (sedang tidur) ketika diangkat ke langit untuk melanjutkan misi Nabi Muhammad saw dan menjadikan umat manusia memeluk agama Islam di mana Nabi Isa a.s. akan memimpin sholat atau sebagai imamnya.
Dari perbezaan pendapat pro dan kontra tentang turunnya atau tidaknya Nabi Isa a.s. ke bumi, justeru salah satu yang tidak dipersoalkan adalah akan datang atau munculnya al-Masih ad-Dajjal itu sendiri. Dan dalam pembahasan ini -pro dan kontra tentang turun atau tidaknya Almasih Isa a.s. ke bumi- polemik tersebut tidak akan dijadikan pembahasan, tetapi penulis mencuba melihat pentafsiran “dua term” aktual, yaitu al-Masih dan ad-Dajjal dengan merujuk kedua pendapat tadi dikaitkan dengan gerakan zionisme dengan seluruh konspirasinya yang ada.
1alMasih dan adDajjal
Salah satu doa yang dibaca di kalangan umat Islam adalah memohon perlindungan Allah SWT dari fitnah Dajjal. Sedangkan yang dimaksud dengan kata al-Masih, yaitu ‘orang yang kepalanya diusap atau yang telah diberi berkah, direstui, dan disucikan’, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang telah disampaikan-Nya kepada Maryam…” (an-Nisa’: 171)
Nabi Isa yang diberi gelar Almasih tidak lain adalah utusan Allah, sebagaimana juga misi para nabi dan rasul lainnya. Akan tetapi, di kalangan umat Kristian sering diertikan bahawa Almasih bererti “juru selamat” atau Mesiah, di samping juga dianggapnya sebagai Tuhan kerana keajaiban kelahirannya, padahal bagi Allah penciptaan itu adalah kekuasaannya, sebagaimana Allah SWT menciptakan Adam, cukuplah Dia berkata, “…kun fayakun, jadilah (seorang manusia) .” (Ali Imran: 59).
Berkaitan dengan penjelasan tadi, penyebutan Nabi Isa dengan Al-masih mempunyai erti, “nabi yang diberkati atau yang telah diusap kepalanya sebagaimana kebiasaan penasbihan atau penyucian dalam upacara kaum Bani Israel pada waktu itu. Dia adalah utusan Allah. Dan ia bukan Tuhan, sebagaimana diyakini para Ahli Kitab.
2Dajjal dan Ahli Kitab
Dajjal berasal dari kata dajala yang artinya ‘tertutup oleh sesuatu, pembohong, penipu’. Sehingga kata dajala tersebut dapat ditafsirkan ke dalam beberapa pengertian tentang sifat manusia, sebagai berikut:
a. Orang yang tertutup mata hatinya dari kebenaran. Atau mereka yang berupaya untuk menghilangkan kebenaran dan menguasai orang lain dengan kepalsuan yang ditawarkan dengan penuh tipu muslihat dan kebohongan.
b. Apabila “Dajjal” ditafsirkan sebagai manusia atau bangsa yang bertujuan ingin menghapuskan kebenaran dan menawarkan konsep-konsep pemikirannya yang penuh kepalsuan, maka siapa lagi yang paling layak untuk menyandangnya, kecuali Ahli Kitab yang telah menyisipkan berbagai ajaran palsu yang diakuinya sebagai firman Tuhan. Padahal, itu hanyalah sebuah angan-angan belaka, hal ini sebagaimana firman-Nya:
“… dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab: Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu….” (an-Nisa’: 123).
Al-Qur’an telah melakukan penilaian sangat tepat dan akurat terhadap sifat-sifat sebahagian dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Sebahagian dari mereka terus berusaha dari waktu ke waktu untuk mengajak orang-orang yang beriman agar menjadi kafir. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu; padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri….” (Ali Imran: 69).
Mereka cuba memalsukan berbagai keterangan, membuat dongeng, dan khayalan sehingga mengguncangkan hati manusia. Seakan-akan, dongeng itu datangnya dari Tuhan, padahal benar-benar hanyalah sebuah karangan, sesuai dengan tradisi kaum Yahudi yang sangat gemar membuat dongeng dan nyanyian sebagai akibat terbelenggu oleh kekuasaan Rom yang beragama Pagan (musyrik, sinkretisme, dan pantheisme). Mereka pun masih terobsesi oleh keyakinan sebagai “bangsa pilihan” yang harus menguasai dunia dan membangun kembali menara Babil serta The Temple of Solomon (kuil Sulaiman).
Al-Qur’an mengungkapkan sifat para Ahli Kitab Yahudi tersebut sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya diantara mereka itu ada satu golongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Alkitab supaya kamu mengira itu sebagian dari Alkitab, padahal ia bukan dari Alkitab dan mereka mengatakan, ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 78).
Penyisipan serta berbagai kontradiksi mewarnai Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sehingga Al-Qur’an memberikan koreksi terhadap kaum Yahudi agar mereka kembali kepada ajaran Taurat dan Injil, yang sebenarnya telah dirangkum dalam Al-Qur’an.
Sebagaimana kita ketahui bahwa obsesi kaum Yahudi untuk menguasai empat penjuru bumi: utara, selatan, timur, dan barat (lambang angka 13 = 1+3 = 4) dan merindukan “tanah yang dijanjikan” (Ezrat Yisrail atau zion) telah berlangsung ratusan tahun dan dirancangkan dengan rapi melalui berbagai gerakan dan ideologi, seperti Iluminasi dan freemason. Mereka merasa bahwa dengan rancangan-rancangan tersebut akan diperoleh keuntungan atau hasil yang besar. Dalam hal ini, Allah SWT mengecam perbuatan mereka:
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri; lalu mengatakannya: ‘Ini dari Allah’ (dengan maksud), untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu…” (al-Baqarah: 79)
Gerakan konspirasi rahasia zionis, yaitu Iluminasi dan freemason mencuba membuat tafsiran-tafsiran rasional dan kontroversial untuk melemahkan orang-orang yang beriman. Upaya kaum Iluminasi dan freemason untuk mengubah Alkitab dan membuat penafsiran yang bersifat mistik telah di isyaratkan dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…” (an-Nisa’: 46).
Semua ambisi kaum zionis tersebut, tidak lain mereka lakukan untuk menguasai dunia, iaitu untuk membentuk “satu dunia baru” (novus ordo seclorum): satu dunia, satu pemerintahan, satu agama, satu kewarganegaraan. Hal itu dimaksudkan untuk mewujudkan dan menjadikan umat manusia agar mengingkari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah:
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman….” (al-Baqarah: 109).
Pada zaman dahulu, para pengikut Dajjal mengubah dan menempatkan kalimat-kalimat palsu dalam Alkitab, yaitu berupa dongeng dan pemujaan terhadap dewa atau Tuhan palsu. Pada zaman moden ini, dongeng mereka tentu saja disesuaikan dengan cara berfikir dan kondisi yang ada. Dengan segala caranya, mereka mengepung umat manusia dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membentuk opini serta image simpatik kepada gerakan yang mereka kempenkan, sehingga lambat-laun umat manusia terperangkap ke dalam strategi kaum zionis yang ingin menguasainya. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah akan senang bila umat Islam bersatu atau berjaya. Mereka bersatu-padu dengan kroni-kroninya, kaum kafir dan musyrik untuk menghancurkan ajaran Islam dan umatnya dari muka bumi:
“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu…” (al-Baqarah: 105).
Firman Allah pasti benar dan tidak mungkin digugat atau ditafsirkan lain, kecuali berpihak kepada kebenaran. Demikian pula, posisi umat Islam dalam menghadapi “perang global” yang didukung oleh orang-orang Yahudi dan kaum kafir, maka itu harus dilawan dengan tindakan yang bersifat simultan dan total, sebagaimana firman-Nya:
“Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208).
Kaum zionis yang menghalalkan dan membiayai usahanya dengan segala cara, benar- benar telah buta mata hatinya walaupun akal fikirannya sangat cerdas sekalipun. Mata hati untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya sebagai kebenaran telah tertutup (dajala) dan begitu pula dengan akalnya. Dan fikirannya pun telah dikuasai hawa nafsu syaitan. Bahkan, saat ini begitu semarak penyembahan terhadap syaitan yang diyakininya akan menyelamatkan umat manusia. Hal ini dikeranakan ajaran palsu yang mereka sisipkan dalam Alkitab bahawa syaitan dan para pengiringnya adalah “malaikat yang diutus” (the fallen angels) yang akan menguasai dan menjelajahi bumi. Kemudian mereka menampakkan wujudnya dalam bentuk binatang, naga, ular; bahkan wujud manusia bermata satu yang dikeningnya bertuliskan “666”, yang kemudian akan dibunuh oleh Jesus setelah turun dari langit. Lalu ia tinggal di bumi untuk membangun “kerajaan tuhan” selama seribu tahun, sebelum datangnya hari kiamat yang diawali dengan pertempuran dahsyat antara Jesus dengan Dajjal tersebut (The Armageddon).
Apabila kita melihat kisah-kisah dongeng, sebagaimana dikisahkan dalam Injil Perjanjian Baru, Wahyu 12 hingga 13. Sesungguhnya, hal itu ada semacam kemiripan, yang diduga adanya penyisipan hadits yang dimasukkan oleh Ka’ab al-Ahbar (mantan rabbi Yahudi yang kemudian memeluk Islam) yang kemudian membuat goncang hati manusia, kecuali orang-orang yang beriman. Padahal, upaya mereka tersebut hanyalah sebuah tipuan dan upaya untuk mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan sebagaimana firman Allah:
“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?” (Ali Imran: 71)
3Dajjal Gerakan Kafirisasi Materialistik
Dengan pemahaman tersebut, kita harus melihat Dajjal dalam bentuk tafsiran yang aktual, yaitu sebagai satu ajaran yang palsu, gerakan manipulasi internasional untuk menghancurkan segala agama, agar orang yang beriman terperangkap dalam jaringan konspirasi zionisme yang bersifat menyeluruh dan menyentuh seluruh kehidupan manusia. Konspirasi Dajjal yang bersifat matrialistik sekuler, pada hakikatnya telah berlangsung sejak lama.
Dendam sejarah kaum Yahudi yang selalu menjadi “bulan-bulanan” bangsa-bangsa yang menjajahnya sampai pada saat diaspora (terpencar-pecah di beberapa negara), menyebabkan mereka tidak henti-hentinya mencari jalan untuk membalas kekalahan tersebut untuk kembali bersatu. Ajaran filsafat pada abad pertama telah merasuki pola filsafat Yunani-Romawi dengan ajaran epikurisme (ajaran yang semata-mata bersifat hedonisme), yaitu mengejar kenikmatan dunia semata-mata. Mereka ingin meneguk kenikmatan dunia, kerana bagi aliran ini, syurga hanya ada di dunia belaka. Motto mereka, “nikmatilah hidup setiap hari” (carpe diem); “pakailah mahkota bunga mawar, sebab esok kita akan mati!” (coromemus nos yosis, cras enim moriemur).
Sementara, Prof. J.S. Malan mendukung teori “reformasi dunia baru” yang diajarkan zionis Dajjal dengan cara membangun hanya “satu pemerintahan dunia” (new world government), iaitu pemerintahan dunia yang semakin transparan dan tanpa batas. Dan hanya dengan cara seperti inilah, dogma-dogma agama yang dianggapnya sebagai racun dan pemacu konffik, bahkan perang, akan menemui “ajalnya”.
Filsafat dan cara berpikir seperti ini telah merasuki zaman moden yang serba mudah dan berlimpahan tawaran kenikmatan dunia, sehingga memalingkan hati umat manusia dari hidupnya yang hakiki. Sehubungan dengan hal tersebut, kiranya kita harus mentafsirkan Dajjal tidak dalam bentuk fizik: bermata juling, sakti mandraguna, mampu melompat bumi dalam sekejap, dan sebagainya. Kita harus mentafsirkannya dalam bentuk pesan-pesan aktual, di mana Dajjal tidak lain adalah sebuah gerakan ideologi untuk mengkafirkan kaum beragama, cara berpikir, atau ajaran yang akan menyimpangkan perhatian orang-orang yang beriman kepada penyembahan materi yang dikempenkan kaum zionis melalui organisasi rahsia mereka iaitu Iluminasi dan freemason. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka; Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (an-Naml: 82).
Pentafsiran terhadap ayat tersebut (an-Naml: 82) pada kata “apabila perkataan telah jatuh”, dimaksudkan sebagai saat tertentu ketika datangnya ketetapan Allah untuk mengubah seluruh tatanan nilai yang telah rosak akibat keingkaran manusia terhadap ayat-ayat Allah. Sedangkan dabbah, dengan segala bentuknya disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak empat belas kali, diterjemahkan sebagai ‘binatang melata’ dan ditafsirkan pula sebagai kata simbolik yang menggambarkan keadaan manusia yang sudah memiliki sifat-sifat binatang. Sifat yang tidak lagi mempertimbangkan potensi hati, melainkan hanya mengabdikan dirinya kepada gelegak potensi hawa nafsu yang lebih hina dari binatang.
Abdulah Yusuf Ali dalam tafsirnya The Holy Qur’an mengatakan, “Dalam bahasa simbolik, ia (dabbah) memperlihatkan sifat materialismenya yang murni.”
Selanjutnya, ia mentafsirkan surat an-Naml:82 pada kata taklimuhu yang dibaca sebagai kata lawan dari tukallimuhum, akan memberikan erti binatang itu akan mencederakan mereka, atau secara simbolik memberikan arfi bahwa materialisme itu akan mendatangkan kesengsaraan sebagai balasan (nemesis) bagi dirinya sendiri. Untuk memahami secara lebih mendalam tentang apa yang dimaksudkan dengan binatang melata tersebut, Allah berfirman:
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi (daabbatin) dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab sedikit pun, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.” (al-An’am: 38).
Dari pentafsiran tersebut, binatang melata itu dapat berupa manusia (umat-umat seperti kamu) dengan segala pemikirannya yang menyimpang dan mempunyai ambisi yang sangat kuat untuk menguasai dunia. Binatang melata dapat pula disimbolkan sebagai satu fahaman baru yang ingin menghapuskan dogma-dogma agama. Membebaskan manusia dari belenggu Kerajaan Rom Katolik serta agama lain (termasuk Islam) untuk diganti dengan ideologi atau fahaman universalisme, unitarianisme, sesuai dengan cita-cita Adam Weishaupt di dalam bukunya novus ordo seclorum. Sebagai kelanjutan dari agama Pagan yang diagungkan oleh Kaisar Konstantin, yaitu the sun worship atau sol invictus. Dalam semangat penyembahan “dewa matahari” tersebut terkandung semangat universalisme, sinkretisasi, atau penyatuan seluruh agama di dalam naungan sol invictus tersebut.
Fahaman materialisme tidak lain adalah pembebasan umat manusia dari agama-agama. Bukan hanya sekadar fahaman sekuler (seculum ertinya kekinian, hidup hari ini, atau memisahkan agama dengan negara) tetapi benar-benar membebaskan manusia dari agama yang mereka anggap sebagai racun. Bagi aliran materialisme ini, agama-agama di muka bumi hanyalah bentuk lain untuk menciptakan konflik dan pertentangan.
Untuk itu, mereka harus mencipta cara berfikir yang baru dengan bersandarkan kepada rasionalisme materialistik yang bersifat global. Menciptakan agama baru (quasi religion) sebagai pengganti agama konvensional.
Dabbah atau binatang melata dapat pula ditafsirkan sebagai manusia atau bangsa yang membawa ajaran materialisme yang anti agama. Ia adalah susuk manusia yang berjiwa binatang yang telah buta mata hatinya, bahkan lebih hina, lebih sesat, dan lebih kejam dari binatang. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak mau dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-Araf: 179).
Dajjal tidak lain adalah ajaran sesat yang mempunyai impak global. Ajaran sesat yang didukung oleh kekuatan intelektual dan sarana yang supramodern. Dajjal menjadi satu entiti (satuan yang berwujud) bangsa yang disimbolkan hanya punya satu mata yaitu “matrialisme radikal”. Struktur tubuhnya yang gagah dan intelektualnya yang tinggi, mereka tidak manfaatkan untuk mengenal Allah. Sebaliknya, mereka menunjukkan sikap yang sombong dengan cara membuat dan merekacipta dogma agama baru.
Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qur’an bahwa mata, telinga, dan hatinya telah tidak berfungsi untuk mengenal cahaya Ilahi. Maka jelaslah bahawa Dajjal bukan binatang dalam bentuk naga berkepala sepuluh atau ular atau bentuk binatang (the Beast) sebagaimana didongengkan oleh Injil Perjanjian Baru (Wahyu 10-20), melainkan manusia yang mempunyai ajaran yang sesat. Dan nilai mereka, sama dengan binatang melata yang seakan-akan muncul di permukaan bumi dengan ajaran-ajaran sesatnya yang memikat hati orang-orang yang ingkar.
Gerakan Dajjal yang dikembangkan sebagai agama dan ritual freemason telah diketahui oleh Kerajaan Rom Katolik, kerana mereka sedar bahawa gerakan ini menyerang eksistensi gereja dengan menamakan dirinya anti-Kristus. Itulah sebabnya, Kerajaan Gereja Rom Katolik telah mengeluarkan peminggiran (excommunication) bagi mereka yang menjadi anggota freemason -those who lend their names to a amsonic sect or other association of the same kind who plot against the church incur the penalty of excommunication resting simply in the Apostolic See (Canon 2335 of the Code of Cannon Law, promulgated, 27 May 1917).
________________________
4Aliran Mistik Syaitanisme
Dajjal dalam bentuk pemujaan terhadap material dipresentasikan oleh dunia Barat dalam bentuk pemikiran rasional dan menjadikan para pengikutnya untuk berfikir bebas (freethinker). Mereka meyakini bahwa kehidupan hanyalah ada di dunia. Oleh kerana itu, segala macam dogma agama harus disingkirkan, sebab itu memenjarakan manusia: kebebasan, hawa nafsu, seks, dan segala keinginan manusia yang harus dinikmati, selagi tidak mengganggu orang lain. Itulah sebabnya, ajaran syaitan ini mengakomodasi para lesbian, homoseksual, dan kebebasan seks.
Gerakan syaitanisme yang dipresentasikan secara rasional dan diberikan dasar-dasar falsafahnya, sesuai dengan tuntutan dunia moden yang rasionalis-materialistik, pertama kali dipelopori Aleister Crowley seorang sastrawan, pendaki gunung dan juga anggota dari aliran kepercayaan Hermetic Order di Inggeris, telah memperkenalkan ajaran mistik Thelema (dari bahasa Yunani Thel-ay-mah) yang ertinya ‘keinginan atau kecenderungan’. Ajaran Thelema merupakan adopsi dari mistik kuno di Mesir yang mendewakan Isis dan Osiris, serta memuja angka keramat “tujuh”, disebabkan alam semesta berdiri di atas angka tujuh tersebut. Ajarannya menekankan kebebasan manusia sebagai bintang-bintang di muka bumi yang mempunyai kebebasan untuk mewujudkan apa saja yang diinginkan oleh manusia. Itulah sebabnya, kesaksian para aliran Thelema adalah “lakukan segalanya sekehendakmu dengan hukummu.” sebagaimana diuraikan dalam buku karangannya Liber Legis (Kitab Hukum).
Kebebasan manusia didasarkan pada cinta sebagai hukum utamanya, tetapi cinta itu pun harus tetap berada dalam kendalinya. Pengembaraan Crowley ke Mesir dan dunia Timur telah memberikan ilham dan pemerkayaan pengetahuannya dalam mengharungi kegilaannya kepada dunia mistik, sehingga ajaran Thelema merupakan sinkretisasi dari ajaran sesat dengan menggabungkan sesembahan yang ada di India, Mesir, dan daratan Eropah. Di dalam inti ajaran Thelema disebutkan beberapa “guru” yang disebut Avatar, Ahman, Baphomet yang dituangkannya dalam motto: sigillum sanctum fraternitum yang menghiasi cakra tujuh segi sebagai lambang kebebasan universal (universalist liberalist).
Ajaran mistik Crowley, Thelema, semakin berkembang dan mengilhami pemikiran materialis-rasional para pemikir Amerika. Misalnya, ajaran tentang unitarian universalist, sebuah ajaran yang mengajak umat manusia untuk bersatu-padu dalam ikatan kemanusiaan, persaudaraan, kesatuan, dan kasih sayang. Yang tidak lain adalah ajaran yang telah dikumandangkan atau dipengaruhi oleh para pemikir bebas dan ateis freemason melalui “penyembahan syaitan” (satanic worship) yang dikembangkan sebagai satu agama yang disebutnya sebagai satanic church oleh Anton Szandor La Vey pada tahun 1966.
Sebagaimana Adam Weishaupt pendiri Iluminasi dan tokoh freemason, La Vey juga adalah seorang aktivis gereja yang menyempall kerana merasa kecewa dengan sistem gereja yang dianggapnya penuh dengan kemunafikan. Untuk menumbuhkan kredo atau keyakinan pengikutnya, La Vey mengarang beberapa buku petunjuk antara lain The Satanic Bible dan The Satanic Ritual pada tahun 1969. Lalu pada tahun 1972, dia membuat buku The Complete Wick dan The Devil Notebook yang sangat laris.
Mereka sangat membanggakan nilai kemanusiaan, persamaan hak, dan kebebasan (humanity, equality, dan freedom). Manusia dilahirkan sama dan harus mempunyai kebebasan yang sama. Seseorang melebihi yang lain, bererti melawan fitrah kerana kelebihan seseorang dari yang lain, bererti telah merampas sebagian dari kebebasan manusia yang lain. La Vey menetapkan tiga ajaran pokok syaitanisme, yaitu memuaskan rasa ingin tahu intelektual, tindakan kebebasan individu, dan memanjakan diri (intellectual curiousity, personal liberty of action, dan physical indulgence).
Hal ini mendekati definisi yang dibuat oleh The American Humanist Association (Asosiasi Humanis Amerika) bahwa humanisme adalah falsafah dari berfikir yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, diilhami dengan seni, didorong oleh kasih sayang. Humanisme membela dan sekaligus mengembangkan partisipasi manusia dalam proses demokrasi yang mengembangkan keterbukaan dan membela keadilan sosial.
Ajaran syaitan ini bukan lagi sebagai khayalan, tetapi benar-benar ada. Bahkan, ia telah berkembang cepat –telah dilegalkan- dan bercambah ke kota-kota besar di seluruh dunia. Mereka ingin menjadikan ajaran ini sebagai agama alternatif; secara terselubung profesional dan dengan dukungan dana yang berlimpah. Mereka terus memasuki berbagai bidang kehidupan manusia. Memasuki institusi dan dengan sangat pandai membelokkan moral dan dogma, sesuai dengan keinginan mereka.
Syaitanisme ajarannya menekankan pada rasionalisme bahawa dalam kehidupan nyata, sebuah sistem harus didasarkan pada rasio diri sendiri, memanjakan diri, dan membangun keterasingan. Ber fikir bebas atas dasar asumsi bahwa manusia belum bebas, selama masih dipenjarakan oleh dogma-dogma agama, khususnya agama Kristian -sebab itulah mereka menyebut dirinya sebagai anti-Kristus.
Manusia belum bebas selama masih terkotak-kotik dalam agama yang menjadi pemacu konflik. Sebab itu, manusia harus menyambut baik ajaran syaitan bersama para pengiringnya (the fallen angels), yang justeru ingin menempatkan manusia sebagai raja di muka bumi. Mereka sangat yakin bahwa syaitanisme merupakan agama yang memperkenalkan kebenaran sejati dan lebih tua dari ajaran Kristian itu sendiri. Inti ajarannya adalah merangkumi segala pemikiran yang bebas dari dogma agama. Walaupun ajaran mereka sendiri penuh dengan dogma dan kontradiksi satu sama lainnya. Akan tetapi, ajarannya tetap merupakan ancaman dan tentangan bagi para juru dakwah agama bahwa ajaran syaitan dengan segala derivasinya telah merambah dunia dan memperkenalkan berbagai ajaran yang mereka ajarkan dengan rasional, lebih tepat bahwa ajaran mistik sinkretisme yang dicarinya adalah rasionalisasinya.
Cita-cita ajaran syaitan ini menjadikan dunia menjadi satu, dengan asumsi bahwa seluruh umat manusia harus dibebaskan dari dogma agama. Mereka harus patuh pada satu pemerintahan dan satu kekuatan, yaitu Baphomet sebagai “bapak” dari segala syaitan termasuk binatang the Beast 666.
Gerakan mistik dan okultis sebagai bahagian dari jaringan konspirasi kaum ateis, pemikir bebas, dan leftist yang sangat membenci agama samawi, semakin berkembang dari waktu ke waktu, bahkan mampu mengorganisasikan dirinya dengan sangat profesional untuk menyimpangkan, atau jelasnya mengkafirkan orang-orang yang beriman.
Berbagai okultis-mistik secara sengaja diarahkan kepada kaum muda, misalnya Children of God, Worldwide Church of Satanic Liberation, The Satanic Orthodox Church, Temple of Set, dan sebagainya. Peringatan Al-Qur’an tentang akan datangnya Dabbah sudah terbukti. Binatang melata yang dimaksudkan Al-Qur’an tidak lain adalah ajaran syaitan yang “dikemas” dengan sangat moden, ditawarkan dengan “bungkus” rasionalisme, humanisme, dan demokrasi. Hal itu pada dasarnya adalah cara kaum zionis yang ingin melumpuhkan seluruh umat manusia agar terlena dengan godaan material yang mereka tawarkan tersebut. Lalu pada akhirnya, mereka akan menguasai dunia dengan ajaran-ajararmya tersebut.
Pemikir atau filosof taraf dunia antara lain Friedrich W Nietzsche, Isaac Newton, Karl Marx, Thomas Jefferson adalah beberapa contoh tokoh yang merupakan mata rantai dari kelangsungan dan penyempurnaan akan datangnya Dajjal dalam bentuk pemikiran bebas dan berorientasi hanya pada material.
Ajaran syaitan yang telah memutarbalikkan pentafsiran Alkitab telah menjadi pembangkang paling gigih menentang gereja Katolik dan Kristian pada umumnya. Mereka meyakini bahwa binatang dengan bilangan 666 -sebagaimana dimuat di dalam Kitab Wahyu 13: 18- merupakan berkah bagi umat manusia, kerana “binatang 666” itu adalah anak dari Baphomet, kosmik Kristus yang akan turun ke bumi dan tinggal selama tiga setengah tahun untuk menghantarkan umat manusia ke dunia baru.
<<< Dajjal Dan Simbol Syaitan-Bab 1 (d)




Dajjal Dan Simbol Syaitan – Bab 2 (B)

5Ramalan terhadap AngkaAngka
Aliran syaitan yang merupakan aliran sesat itu meramalkan bahwa tahun 1999 adalah tahun berakhirnya segala tirani (ajaran). Tahun 1999 adalah simbol dari the Beast 666 sebagaimana mereka tafsirkan bila 1999 dibalik, menjadi 666 1, ertinya sebuah informasi bahwa tahun 1999 adalah tahun kedatangan the Beast 666 yang dibimbing oleh Baphomet pada tahun 2000 atau millennium baru, gerakan zionisme yang selama ini lebih mirip kepada gerakan bawah tanah (dabbatam minal-ardhi; surat an-Naml: 82) harus tampil menunjukkan keperkasaannya menguasai seluruh pranata kehidupan. Mereka meramalkan kesaktian angka “3, 6, 9, dan 1” sebagai angka penghancuran umat beragama, khususnya umat Islam. Contohnya sebagai berikut:
REPORT THIS AD

a. Tahun 1999 adalah tahun kemunculan dari Lucifer sebagai “tuhan cahaya” (the God of light) yang merujuk pada planet Venus dan Bintang Pagi yang terang-benderang, dalam bahasa Yahudi disebut Heyley. Tahun 1999 adalah simbol waktu berakhirnya segala penentang zionisme dan berjayanya kekuatan anti-Kristus atau antiagama, sebagaimana disebutkan dalam buku Moral and Dogma karangan Alber Pike.
b. 6699 bererti pada tanggal 6 bulan 6 tahun 99 akan terdapat perlanggaran planet dan mempengaruhi perilaku manusia, semakin bengis bagaikan the Beast (binatang) dan kebengisan tersebut dapat pula terjadi pada bulan 3 atau bulan 9 tahun 99.
c. 9999 bererti pada tanggal 9 bulan 9 tahun 99 akan terjadi kemuncak kerosakan di bahagian timur dunia dan akan segera padam pada akhir tahun 1999 untuk memberikan jalan bagi cahaya Lucifer serta the Beast 666 menjadi raja dunia.
d. Menurut ramalan mereka setiap manusia yang tinggal di belahan timur dunia yang berada di atas pada garis lintang khatulistiwa harus berpihak kepada Lucifer, kerana syaitan akan menyerbu dari dalam tanah pada angka 1-3-6-9, misalnya kegelapan yang akan melanda pada tanggal dan bulan, antara lain: 19 Januari, 6 Jun, 9 September dan tanggal 13 atau 31 Desember 1999.
Menurut ramalan mereka, setelah the Beast 666 menyelesaikan tugasnya, maka Baphomet akan melaksanakan tugasnya sampai akhir tahun 2003. Sejak itu, seluruh umat manusia telah berada dalam satu pengawasan dari tuhan Lucifer (the eye of Lucifer) sebagaimana dilambangkan dalam wang satu dolar Amerika. Hal itu begitu diyakini oleh para anggota freemason dan ajaran “penyembah setan” (satanic worship) sebagaiana tertulis di dalam peraturan para anti-Kristus (OAI: Ordo Antichrist Illuminati) yang mengatakan:
“Sekarang, aku datang di bumi dengan semangat ‘bapak’ (tuhan), the Beast 666, dan inilah tubuhku yang menghisap dan menghembuskan kegembiraan dari nafas ‘bapak’. Dengan demikian, semua pemuda dan wanita menjadi satu dengan tuhan Baphomet di dunia. Semua bergabung untuk menikmati kekuatan hawa nafsu di dunia guna mewujudkan kebebasan (now I am come on earth in the spirit of my father, the Beast 666. This is my body, inhales and exhales in etasy, the breath of my father. Thus are all men and women made one with my father Baphomet in me, on earth, and in this unity of force there is lust and joy on earth in the rapture of freedom –David Cherabum 1969).”
Sangat jelas bahawa rancangan jahat mereka yang dituangkan dalam bentuk ramalan tersebut merupakan manipulasi pentafsiran atas Kitab Injil Perjanjian Baru (Wahyu 10-20). Yang pasti, ajaran syaitan ini merupakan bentuk ajaran Pagan, iaitu ajaran syirik yang bercampur baur antara sinkretisme, sihir, mistik, okultisme, dan aliran kepercayaan yang dimodenisasi, sebagaimana Notradamus (kepercayaan terhadap Drakula, ed.). Ilmu perbintangan (astrologi) yang secara terang-terangan melawan agama-agama samawi, bahkan agama lainnya yang sudah ada sebelumnya, sebagaimana dikatakan oleh Anton Sandzor La Vey:
“Filsafat syaitanisme yang lurus, berdaya cipta dan semulajadi, selalu saja menjadi musuh dari agama yang memperbudak manusia, seperti Budha, Islam, Kristian, dan sebagainya.”
Ajaran syaitanisme tersebut merupakan kelanjutan dari penyembahan berhala kuno, yang sejak awal selalu diperingatkan Al-Qur’an:
“… Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.. . . ” (an-Nisa’: 60)
Ajaran syaitan yang telah dipraktikkan sejak masa lalu terus dikembangkan, dikemas, dan ditawarkan sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga benarlah bahwa Sunatullah tidak pernah berubah, sebagaimana firman-Nya:
“Sebagai Sunnah Allah yang berlaku terhadap orang-orang dahulu sebelum (kamu)….” (al Ahzab: 62)
“… sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.” (al-Anfal: 38).
Orang-orang kafir yang mengikuti ajaran syaitan yang sesat telah dibutakan mata-hatinya. Mereka menyangka bahawa apa yang diyakininya serta dewa-dewa mereka, seperti: Baphomet, Iris, Osiris, Avatar, Ahiman, dan Jahbulon atau masih banyak lagi sesembahan yang dijadikannya sebagai kekuatan. Itu semua mereka yakini seakan-akan datang dan diperintahkan Allah. Padahal, apa yang mereka lakukan benar-benar adalah ajaran syaitan yang sesat. Hal ini sebagaimana penyembahan pada zaman dahulu kala yang telah dikoreksi dan diperingatkan Al-Qur’an:
“Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahiirah, saaibah, washiila atau haam. Akan tetapi orang-orang kafir itulah yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (al-Maa’idah: 103).
Abdullah Yusuf Ali mentafsirkan ayat tersebut dikeranakan orang-orang kafir itu tidak dapat menangkap rahsia alam ghaib. Kemudian mereka menghubungkan seluruh gejala yang ada pada kemurkaan langit, dan mereka dicekam oleh rasa takut terhadap tahyul yang menghantui dirinya sendiri (The Holy Qur’an; hlm. 280).
Di lain pihak, sesungguhnya keliru apabila gerakan Dajjal yang telah memperkenalkan aliran kepercayaan, berupa mistik dan penyembahan kepada syaitan Lucifer hanya diikuti oleh orang-orang kampung yang tidak terpelajar. Berbagai catatan telah membuktikan bahwa di kelompok elit, justru kepercayaan terhadap tahyul, musyrik, dan sesembahan syaitan dan itu telah menjadi trend sejak dahulu kala. Bahkan, salah seorang presiden Amerika yaitu James Garfield, seorang freemason dengan peringkat “grand orient” merupakan susuk elit penyembah syaitan yang disebut dengan Naga Hydra (The Dragon of Hydra). Aliran kepercayaan tersebut membuat ritual dengan menjadikan tengkorak manusia sebagai cawan untuk minum. Membuat altar penyembahan kepada Lucifer dan bersumpah dengan mengutuk Kristus, sebagaimana ditulis Cherabum:
“Aku panggil dia agar hidup dan bertindak kepadaku agar aku hidup dan bertindak sepertinya. Atas namanya, aku kutuk Kristus dengan gereja Katholiknya, dan semua sakramennya…”
(I call upon him to live and act in me as I also live and act in him. In his name, I curse Christ the only Catholic church and all his sacraments…).
Mereka adalah budak-budak dan prajurit syaitan yang dengan jelas dan ketara mengisytiharkan diri sebagai penguasa “kerajaan dunia”. Mereka membuat rancangan-rancangan serta ramalan sehingga umat manusia merasa getir, dan pada saat yang sama dipengaruhi oleh ramalan tersebut. Kerana, orang-orang yang bimbang dan lapar akan mudah dikuasai oleh ramalan dan ajaran mereka, sehingga sungguh merupakan sebahagian dari konspirasi syaitan adalah membuat kekacauan diantara umat manusia, khususnya umat beragama sehingga mereka mempunyai justifikasi bahwa agama hanya menumbuhkan konflik dan darah. Padahal, konflik tersebut sudah masuk dalam rancangan mereka yang dikerjakan secara rahsia dan sangat profesional, kerananya setiap anggota syaitanisme menguasai teori konspirasi dan jaringan rahsia dunia.
Cita-cita mereka menjadikan segala sesuatu serba satu (monoteisme) melalui propaganda “reformasi dunia baru” (the new age reform) yang akan dipimpin oleh Lucifer sebagai bentuk dari kosmik Kristus, yang sekaligus wujud kembali kejayaan Babilonia yang sangat dibanggakan oleh kaum zionisme. Kitab Injil Perjanjian Baru (Wahyu 17-18) diyakininya pula sebagai isyarat akan datangnya “satu dunia baru” tersebut, iaitu satu pemerintahan, satu agama, dan satu kewarganegaraan.
_____________________________
6PokokPokok Ajaran Syaitanisme
Dari pembahasan sebelumnya tentang kaitan antara the Knight Templar zionismeIluminasi freemason dan ajaran syaitanisme serta unitarian-universalist dapat disimpulkan beberapa ciri serta ajaran mereka, yang di zaman moden ini telah dikemaskini dengan bungkusan yang sangat menarik. Ajaran yang diperkenalkan dengan begitu menyentuh pemikiran rasional, bebas, dan mendekati naluri kemanusiaan, sehinga seseorang yang tidak mempunyai keyakinan yang cukup serta bekal keimanan yang tertanam sejak kecil, nescaya akan mudah tergugat dengan “kosmetik promosi” ajaran mistik ini.
Dengan mengenal ajaran serta perkembangan sejarah ajaran syaitanisme yang telah dimanfaatkan oleh gerakan zionis untuk melemahkan keimanan, kiranya seluruh umat beragama harus bersatu padu melawan dominasi syaitanisme yang telah menyusup dalam “kemasan” materialisme, sehingga para remaja dan pemuda tidak terperangkap dalam jaringan ajaran mereka yang sudah merebak hampir di pelusuk kehidupan. Untuk memudahkan dan membandingkannya antara kedatangan Dajjal yang mengancam (imminence) dan ajaran syaitanisme itu dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Syaitanisme merupakan rangkuman atau percampuran (sinkretisme) dari segala ajaran mistik, penyembahan terhadap dewa-dewa kegelapan (the prince of darkness), yang kemudian dikemaskini dengan penalaran rasiona -l-lebih tepat psuedo rasionalisme– sebagai bahan argumentasi penyebaran ajarannya terutamanya di kalangan anak muda.
b. Masyarakat yang dalam keadaan kacau atau masyarakat individualistik akan lebih mudah dipengaruhi oleh ajaran syaitanisme. Terutama bagi kelompok anggota masyarakat yang mencari pengakuan, misalnya kelompok lesbian, homoseksual, dan transgender. Dalam kelompok tersebut, ajaran syaitanisme mendapat sambutan hangat dikeranakan kemasannya yang melemparkan kemanusiaan, kasih sayang, persaudaraan, cinta, dan kebebasan.
c. Ajaran syaitanisme zionis yang diperlambangkan melalui matawang satu dolar Amerika (in God we trust one) dimaksudkan, atau diberikan makna mistik’ bahwa dewa Lucifer sebagai Jehovah (the son of God) harus mewujudkan cita-citanya membangun satu tatanan dunia baru sekuler yang mengabdi kepada tuhan yang satu, yaitu “materi” -annuit coeptis novus ordo seclorum.
d. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ajaran Desime lebih digiatkan dengan memberikan alasan rasional bahwa pangkal konflik itu diawali oleh keyakinan-keyakinan dogmatis yang menyebabkan terputusnya persaudaraan asasi manusia. Oleh kerana itu, seluruh agama harus lebur dalam satu fahaman “dunia baru”, yaitu unitarian universalist. Gereja universalist, sinagog, serta gereja Jehovah harus menjadi pelopor dalam membangun pemahaman kemanusiaan yang benar-benar memberikan hak asasi secara semulajadi, yang terbebas dari dogma agama, khususnya Kerajaan Gereja Katolik. Untuk itu, mereka menamakan dirinya serta melandaskan diri pada ajaran Iluminasi yang anti-Kristus, Ordo Antichrist Illuminati (OAI)
e. Mereka menyebarkan ramalan-ramalan kiamat dan kedatangan the Beast 666 serta Lucifer sebagai perancangan mereka untuk menguasai dunia melalui kecanggihan teknologi dan kewangannya, dengan cara menghembuskan bahwa tahun 1999 merupakan datangnya tanda-tanda dari the Beast 666 dan akan segera terbentuknya “pemerintahan yang satu” (novus ordo), yaitu pada dekad yang diawali pada tahun 2000; millenium baru.
f. Ajaran syaitanisme memperdayakan kaum muda agar mereka tenggelam dengan kehidupan yang serba materialistik dan menyuntikkan ajaran pemikiran bebas (freethinker) secara sangat halus, sehingga generasi demi generasi mulai terlepas dari pokok ajaran agamanya masing-masing. Meracuni genersi muda dengan satanic drug dan makanan instan yang syubhat (diragukan halal dan haramnya). Memperkenalkan moralitas pergaulan didasarkan pada egaliter liberal, sehingga setiap penghormatan antara junior-senior, atau antara anak-orang tua dianggap sebagai feodalisme yang merendahkan martabat kemanusiaan. Kerana itu, maka sesama manusia harus setara betapapun hubungan ikatan darah antara anak dan orang tua. Manusia terlahir bebas. Dia berhak untuk hidup bebas tanpa otoritas siapa pun yang menguasainya.
g. Memperkenalkan berbagai kenikmatan hidup (hedonistik) kerana syurga sejati boleh dinikmati di dunia, sedangkan syurga di akhirat hanyalah mitos belaka. Sebab itu, barangsiapa yang menjadi pengikut syaitan, niscaya akan diberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan kenikmatan dunia. Ajaran syaitan memperkenalkan pula tata cara ritual okultisme yang pada hakikatnya merupakan agama baru untuk menyaingi agama yang mereka anggap sebagai palsu (pseudo religion). Kerana ajaran s yaitan adalah bersifat mistik dan sinkretis, maka segala sesuatu yang ada di muka bumi ini dinyatakan dalam pemaknaan simbol-simbol berupa warna, garis, angka, huruf dan kaitannya dengan astrologi (ilmu perbintangan, nujum, sihir, dan sebagainya).
Al-Masih ad-Dajjal atau anti-Kristus dapat ditafsirkan sebagai para penipu yang berlagak suci. Sebenarnya, mereka telah hadir secara nyata dan bersentuhan setiap saat dengan kehidupan kita. Mereka menyamar sebagai seorang muslim ataupun orang beragama pada umumnya. Hal ini sekaligus merupakan tentangan dakwah yang harus lebih kreatif bagi kita agar dapat memenangkan pertempuran global dengan memanfaatkan akses informasi dan menggali serta memperkaya wawasan zaman yang semakin cepat berubah dan penuh dengan tentangan serba materialistik-rasional.
Kepiawaian para juru dakwah yang mampu mematahkan argumentasi ajaran syaitan, tidak dapat lagi hanya berlandaskan semata-mata pada pendekatan normatif, tetapi benar-benar harus dilakukan secara multidimensional dan pendekatan total. Kader-kader mubalig yang menguasai bahasa asing (terutama Arab dan Inggeris) serta mempunyai jiwa perantauan merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan dan menebarkan nilai-nilai Islam ke pelusuk bumi. Sebagaimana kita ketahui, kemajuan bidang teknologi informasi yang begitu cepatnya berkembang, misalnya pesan-pesan yang ditayangkan melalui homepage internet yang dibaca oleh jutaan umat manusia di muka bumi dapat menjadi alat dakwah yang efektif sekaligus saingan.
Warna budaya, kesejarahan, serta perkembangan pemikiran umat manusia saat ini dan di masa depan harus diperkirakan seawal mungkin, sehingga pesan-pesan dakwah dapat menjadi bekal dalam menghadapi problematika kehidupan di masa depan yang semakin rumit dan penuh dengan tantangan.
_____________________________
7SimbolSimbol Ajaran Syaitan
Para pengikut syaitanisme, umumnya, sangat memuja simbol-simbol serta falsafah dari simbol-simbol ajaran syaitan. Dengan membuat simbol, anggota pengikut syaitan merasa akan terikat dan sekaligus dapat dijadikan sebagai lambang organisasi dan mempunyai kekuatan magis.
Eksistensi kekuatan kaum mason zionis dikukuhkan melalui keyakinan mereka bahwa Monumen Washington yang didirikan oleh Priapic Senuseret sengaja dibuat sebagai simbol dari kekuatan syaitan yang akhbar. Hal ini sebagaimana ditulis oleh David Moses Peacock, Ketua Parti Islam British:
“Bahwa Monumen Washington adalah replika besar yang bersimbolkan kekuatan syaitan yang dibuat oleh Priapic Senuseret.” (D.M. Peacock; hlm. 15)
Kaum freemason merasa yakin bahwa tegaknya beberapa monumen dan bangunan di Amerika merupakan simbol dari kekuatan kerajaan mereka. Setiap titik antara satu bangunan ke bangunan yang lain membentuk simbol-simbol magis yang memberikan kekuatan keyakinan kepada para anggota mason bahwa Amerika adalah “kerajaan” bagi kaum mason. Bila ditarik sebuah garis dari Rumah Putih, Jefferson Memorial, Washington Monumen dan House of the Temple yang merupakan “ibu pejabat” freemason dimana di dalam bangunan tersebut berkumpul semua orang dari pelusuk dunia untuk menerima pengukuhan atau ijazah anggota mason yang memasuki tingkat (peringkat) 33. Garis tersebut akan membentuk segi tiga, pentagram, dan lambang lainnya diyakini mereka mempunyai kekuatan magis.
Di samping itu, mereka mempercayai angka-angka. Mereka menafsirkan angka-angka tersebut sebagai sebahagian dari rancangan mereka, sehingga ramalan yang diperkirakannya dapat menjadi kenyataan. Misalnya, mereka meramalkan bahwa pada tanggal 31 Desember 1999 adalah akhir dari segala kejayaan agama-agama di muka bumi, serta bangkitnya Kerajaan Sion untuk memerintah millennium baru yang diawali tahun 2000. Akhir tahun 1999, adalah target mereka bahwa seluruh agama sudah harus lumpuh. Walaupun ritual agama umumnya masih tetap ada, seperti sholat, haji, kebaktian, misa, dan segala upacara agama yang bersifat ritus, tetapi umat agama pada umumnya tidak berhak untuk ikut dalam perjalanan pemerintahan yang mereka kuasai. Negara harus bersifat sekular dan tidak mengurus soal agama. Agama dan pemerintahan harus terpisah. Soal pemerintahan diberikan kepada “kaisar” dan soal agama diberikan kepada gereja.
Mereka juga percaya bahwa tanggal 19 Januari 1999 sebagai kemunculannya “perajurit syaitan” yang akan menyerang kaum dogmatis agama di belahan timur khatulistiwa. Agar ramalan ini menjadi kenyataan, tentu saja mereka sendiri yang harus mewujudkannya secara aktif melalui para ajen-ajen rahsia mereka (provokator), sehingga umat manusia percaya atas keampuhan syaitanisme dalam meramal perkara tersebut.
Pada tahun 1999 ini, mereka sendiri yang akan menyalakan api kekacauan agar memudahkan jalan bagi mereka mengisi perbaikan dunia menuju “reformasi milenium baru”. Simbol-simbol syaitan tersebut antara lain berbentuk sebagai berikut:
  1. • Bentuk Piramida = Ditafsirkannya sebagai bentuk yang kukuh dan tidak terkalahkan, kerana bentuk piramida adalah bentuk yang dibimbing atau diajarkan langsung oleh dewa Lucifer. Piramida melambangkan pula kembalinya kejayaan Sulaiman (The Temple of Solomon) dan lambang kekuatan manusia sebagai bintang-bintang cemerlang di muka bumi. Bentuk piramida ini telah dikenal sejak zaman Fir’aun dan kemudian sempat menjadi model kuburan bagi para pemimpin freemason.
  2. • Bentuk Pembaris dan Jangka Pengukur = Ditafsirkan sebagai kemampuan para anggota freemason zionis agar dapat mengawal dan menguasai seluruh dunia berdasarkan pada ukuran serta perkiraan yang tepat. Lambang ini menggambarkan pula pemikiran bebas (freethinker) dan nihilis.
  3. • Bentuk Satu Mata Pengawas = Melambangkan kecerdasan, kewibawaan, dan kekuasaan. Tidak ada satu bangsa pun yang luput dari pengawasannya .
  4. • Huruf “G” = Ditafsirkan sebagai god, great, glory, geometry (Tuhan, kebesaran, kemuliaan, geometri) bahwa tuhan yang dimaksudkan bukanlah Tuhan sebagaimana disembah oleh kaum agama konvensional. Tuhan yang dimaksud adalah manusia itu sendiri yang harus mempunyai kekuatan besar, mampu menggapai kemenangan, dan menguasai seluruh bumi secara tepat dan terukur (geometris).
  5. • Lingkaran = Ditafsirkan sebagai lambang kesempurnaan dan kesatuan dunia unitarian dan univeysalist). Pada milenium baru yang akan datang, orde “dunia baru” adalah dunia yang global. Satu pemerintahan, satu agama, dan satu kewarganegaraan.
  6. • Segi lima atau enam = (pentagram dan heksagram). Dilambangkan kekuatan bintang atau bumi, dan menganggap bahwa lelaki dan perempuan adalah bintang-bintang di bumi.
_____________________________
Angkaangka
1. Angka 13 bererti menunjukkan nombor keberuntungan (lucky number) dan angka tuhan serta mempunyai makna penguasaan dunia serta kod panggilan untuk kaum Yahudi yang terserak (diaspora) di empat (1+3) penjuru mata angin barat, timur, utara, dan selatan.
2. Angka 7 merupakan angka kehidupan dan kekuasaan makrokosmik.
3. Angka 666 atau di dalam Kitab Injil Perjanjian Baru Wahyu 13: 18 dikenal sebagai the Beast 666 yang merupakan angka kebijaksanaan, kekuatan, dan ketangguhan atau tidak terkalahkan. Angka ini melambangkan kesempurnaan. Tahun 1999 bila di balik akan memberikan kod revolusi. Sehingga setiap ada angka kembar berupa 66 atau 99 selalu merujuk pada perpindahan umat beragama.
4. Angka 33 melambangkan kegelisahan, persaingan, dinamika, keunggulan, dan kehancuran tuhan orang Katolik -Bapak, Anak, dan Rohul Kudus-yang akan disaingi dengan tuhan Lucifer, syaitan, dan the Beast 666 atau reinkarnasi dari Hiram Abif, Iris, dan Osiris dan sebagainya. Dan segi tiga dapat melambangkan “persekutuan tiga besar” Amerika (diwakili Amerika Utara, Amerika syarikat, dan Kanada), masyarakat Uni Eropah, dan Jepun.
5. Segi Lima atau Pentagram. Pente berarti lima, grama bererti gambar atau disebut juga dengan pentalphaPentagram melambangkan tuhan yang menguasai alam semesta dan melambangkan pula “lima kebijaksanaan”.
Seluruh pentafsiran dari lambang-lambang tersebut sangat sarat dengan mesej-mesej untuk menguasai dunia, dengan cara menampung kelemahan manusia yang bimbang serta dalam situasi kacau, dengan mengaitkannya terhadap prediksi atau ramalan bahawa kiamat sudah sangat dekat. Dari berbagai catatan peristiwa, kita mengetahui betapa diantara mereka telah menetapkan tanggal, hari, dan bulan terjadinya kiamat Tidak saja di Amerika, tetapi juga di Philipina pernah tersebar seruan dari pimpinan agama mereka untuk bersiap-siap menghadapi hari kiamat (Armagedon) yang dengan rinci diberitahukan kepada jemaahnya tentang waktu kejadiannya yang kemudian tidak terbukti.
Hal ini membuktikan bahwa ajaran-ajaran palsu telah menyelusup ke dalam tubuh ajaran agama samawi. Padahal, seluruh ajaran agama tidak dapat memberikan kepastian waktu tanggal dan tahun terjadinya kiamat. Akan tetapi, dengan pendekatan yang rasional kemudian menterjemahkan hubungan bintang-bintang dan mengaitkannya dengan ayat-ayat pada Alkitab, sempurnalah gerakan mereka untuk menggoyahkan keyakinan manusia dan melepaskan diri dari akidah yang selama ini diyakini oleh umat beragama. Seharusnya, umat manusia dan seluruh agama dan keyakinan yang ada bersatu untuk menghadapi gerakan syaitanisme zionis ini, yang dengan sangat jelas ingin menghapuskan agama -the abolition of all religions except satanism.
Mereka tidak pernah menginginkan adanya persatuan diantara suatu bangsa dengan semangat nasionalismenya, apalagi persatuan berdasarkan agama. Hal itu bagi mereka adalah sebuah “kanser” yang harus dibasmi sampai akarnya. Untuk itu, segala upaya terus dicari untuk menggoyahkan stabilitas. Dan setiap stabilitas yang ada dianggapnya bertentangan dengan nilai-nilai kebebasan dan dinamika manusia. Nasionalisme harus disingkirkan dan diganti dengan universalisme. Untuk itu, sikap yang berbau partisan harus dihapuskan.
Negera-negara kecil harus diadu domba supaya memudahkan kaum zionis menguasainya. Mereka menjadikan bangsa-bangsa untuk saling bertikai sebagai medan pemasaran dan ujian senjata, sekaligus melumpuhkan kekuatan negara kesatuan yang dicerai-beraikan menjadi negara-negara kecil, sehinga tidak mempunyai semangat perlawanan. Lumpuh total dan mereka menjadi budak-budak yang patuh. Semuanya itu, mereka lakukan sebagai bukti kesombongannya dan sebagai balas dendam atas pengalaman pahit kaum Yahudi yang terserak (diaspora).
Inilah yang dimaksudkan dengan Dabbah (binatang melata dari dalam bumi) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, atau Dajjal sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits.
_____________________________
CKonspirasi Dajjal
Untuk mengetahui bahawa Dajal beserta para pengikutnya merupakan sebuah gerakan rahsia, yaitu sebuah konspirasi global yang ingin menghancurkan tatanan agama, Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (an-Naml: 82).
Menurut Abdullah Yusuf, ahli tafsir The Holy Qur’an, mentafsirkan bahwa firman Allah pada surat an-Naml ayat 82 tersebut merupakan satu simbol bahawa yang dimaksudkan dengan “binatang melata” adalah manusia, suatu kaum, atau suatu bangsa yang membawa ajaran murni tentang materialisme yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Perihal keterangan ayat tersebut yang mengatakan bahwa Dabbah akan muncul dari bumi dapat saja di isyaratkan bahawa gerakan kaum materialis zionis tersebut selama ini bersifat rahsia atau sering diistilahkan sebagai “gerakan bawah tanah” atau sebuah konspirasi. Sangat menarik bahawa surat an-Naml ayat 82 tersebut hampir “senada” dengan prediksi kitab Injil Perjanjian Baru Wahyu 13:11,
“Dan aku melihat binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti domba dan ia berbicara seperti seekor naga.”
Dalam dunia intelejen, istilah “konspirasi” bererti sebuah jaringan yang saling menyokong yang bergerak secara terselubung atau gerakan bawah tanah (underground). Konspirasi yang berskala internasional, seringkali mampu menguasai dan mengarahkan para pemimpin negara tertentu melalui negosiasi, lobi, serta ancaman-ancaman tertentu, bahkan pembunuhan sekalipun. Mereka menjadi bayang-bayang dari sebuah kegiatan atau menjadi “aktor intelektual” dari sebuah peristiwa tanpa dapat diketahui atau diungkapkan secara faktual (dark case). Gerakan konspirasi zionisme didukung oleh para professional yang terpilih dengan sangat ketat. Mereka mampu membuat berbagai skenario serta berbagai taktik yang diolah dan disempurnakan dari waktu ke waktu, sesuai dengan pengalaman mereka. Berkaitan dengan taktik intelejen ini, Alvin Toffler dengan sangat jeli membuat analisis tentang taktik gerakan mata-mata atau intelejen, dalam kaitannya dengan konspirasi global ini, yaitu sebagai berikut:
1. Taktik Untuk Mengetahui (need to know tactic)
Hal tersebut dimaksudkan sebagai berbagai informasi yang harus diketahui oleh para kakitangan tertentu. Berbagai informasi dimasukkan ke dalam arkib tertentu dan diberi tanda “untuk diketahui”. Di samping itu, ada pula taktik kebalikannya yang disebut taktik “tidak perlu tahu”, di mana para bawahan secara sangat disiplin akan menjawab “tidak tahu”.
2Taktik Terpaksa harus Tahu (forced to know Tactic)
Hal tersebut dimaksudkan bahwa seseorang dalam sebuah kelompok terpaksa harus tahu dengan informasi yang ada. Bila terjadi sesuatu, ia harus ikut bertanggung jawab. Oleh kerana itu, taktik seperti ini dikenal juga dengan singkatan CYA (lindungi dirimu: cover your ash), ertinya setiap orang harus bertanggung jawab apabila tenyata terdapat kesalahan atas informasi yang mereka telanjur ketahui.
3Taktik Penghapusan (the omission tactic)
Hal tersebut dimaksudkan sebagai tindakan untuk segera menghapuskan atau memusnahkan segala bentuk informasi.
4Taktik Menggiring (mengelecek) Bola (the derrible tactic)
Hal tersebut dimaksudkan sebagai cara untuk memberikan informasi setahap demi setahap, sehingga dengan informasi yang diberikan secara sedikit demi sedikit, pihak yang berkonspirasi dapat mengetahui reaksi yang ada sebagai bahan masukan untuk membuat rencana taktik selanjutnya.
5Taktik Asap (the vapor tactic)
Hal tersebut dimaksudkan taktik untuk menyebarkan desas-desus dan bersamaan dengan desas-desus itu sedikit demi sedikit dikeluarkan informasi yang benar, sehingga pihak yang berkonspirasi tersebut dapat mengetahui bagaimana reaksi sasarannya setelah terkena desas-desus tersebut.
6Taktik Memukul dari Belakang (the blow back tactic)
Hal tersebut dimaksudkan taktik dengan cara mengirimkan beberapa informasi palsu ke luar negeri. Dan diharapkan pemberita di negeri yang menerima informasi tersebut “menikmati” berita informasi palsu tersebut dengan berebutan. Hal ini dimaksudkan pula sebagai upaya untuk menyesatkan atau melihat reaksi dari sasaran.
7Taktik Bohong Besar (the big lie tactic)
Hal tersebut adalah cara-cara propaganda yang telah diperkenalkan oleh Jesef Goebels selama Perang Dunia II. Mereka yakin bahwa kebohongan yang konsisten dan disampaikan secara berulang-ulang dapat diyakini sebagai kebenaran oleh pihak sasaran.
8Taktik Pembalikan (the reversal tactic)
Hal tersebut adalah cara untuk memutar-balikkan fakta yang sebenarnya dengan memanfaatkan teknologi media massa. Hampir dapat dipastikan bahwa para ejen gerakan rahsia yang merupakan bahagian dari konspirasi zionisme adalah tipikal manusia yang tidak mengenal belas kasihan. Mereka dapat membunuh dan menyingkirkan lawan-lawannya untuk mencapai tujuannya. Pelatihan para ejen rahsia ini dibentuk untuk memenangkan sebuah pertempuran bawah tanah. Sehingga tentu saja, mereka menguasai berbagai metode, menguasai antropologi sosio-politik cara berkomunikasi dan penyamaran yang unggul. Mereka boleh menampakkan wajah orang alim, sebagai pedagang, jutawan, atau boleh juga menyamar sebagai orang jalanan. Persis seperti apa yang sering ditayangkan di dalam film-film perisikan. Hanya saja gerakan konspirasi mempunyai jaringan yang sangat besar didukung oleh dana, sumberdaya manusia, serta teknologi yang mutakhir.
Mereka memasang orang-orang terlatih disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Di bidang teknologi, mereka mempunyai “Technint” seorang pakar di bidang teknologi, satelit, komputer, elektro, dan sebagainya. Di bidang komunikasi dan laluan, mereka mempunyai ahlinya yang disebut sebagai “Radint” yang menterjemahkan berbagai informasi yang ditangkap melalui isyarat radar, sekaligus melakukan intelejen pemantauan, iaitu menterjemahkan dan sekaligus melakukan pengawasan seluruh kegiatan yang dipantau melalui satelit.
Mungkin saja, negara tertentu membantah sebuah kerusuhan atau projek kilang senjata, tetapi di hadapan para “Radint” ini, mereka “telanjang”. Seluruh kegiatan, kerusuhan, dan kejadian apa pun dapat dengan sangat jelas dipotret melalui pemantauan satelit tersebut. Bahkan, mereka dapat mencuri dengar pembicaraan para pemimpin negara, duta besar, serta tokoh-tokoh dunia.
Gerakan rahsia konspirasi kaum zionis tidak saja memanfaatkan seluruh jaringan intelejen dan peralatannya, tetapi mereka juga melakukan kerjasama dengan ejen-ejen mereka di berbagai pusat intelejen negara-negara lain. Mereka membuka jaringan hotline dengan ejen yang bekerja secara rangkap dengan tugas rahsia negara lain tersebut. Misalnya, dengan khidmat Rahsia Inggeris (Secret Intelligence Service) yang dikenal dengan kod M16, atau dengan Perancis yang diwakili oleh GCR (Groupement de Controles Radioelectricque), atau dikenal juga dengan nama code La Pisisne yang ertinya ‘kolam renang’ -mungkin dikeranakan orang bertelanjang mini di kolam renang, lebih mudah melakukan pemantauan. Konspirasi ini melebarkan pula sayapnya dengan merekrut para eksekutif paling top dari perusahaan-perusahaan multinasional.
Pokoknya, gerakan Dajjal yang disimbolkan sebagai binatang melata bawah tanah, pada dasarnya merupakan ideologi pengkafiran yang telah beranak-pinak menyusup ke seluruh sendi kehidupan. Mereka membantu dan mengembangkan berbagai perintah yang ditetapkan dari House of Temple Washington, Pentagon, dan ejen-ejen mereka. Pembahagian tugas sudah sangat jelas. Diantara para pemikirnya adalah para penyandang anggota senior Iluminasi, menyandang tingkatan freemason yang rata-rata berada pada peringkat ke-33.
Cita-cita untuk membangun Menara Babil yang kedua telah terus berlangsung dan ditetapkannya pada millennium yang akan datang sebagai awal dari kejayaan kaum Yahudi untuk menguasai dunia yang akan dibawanya kepada satu pemerintahan, satu ekonomi, satu agama, dan satu kewarganegaraan sebagai wujud cita-cita dari Adam Weishaupt, novus ordo sclorum (membangun dunia baru).
_____________________________
DPenafsiran Hadist aktual tentang Dajjal
Allah SWT berfirman, “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (an-Naml: 82).
Sebagaimana telah disebut pada ayat tersebut bahawa yang dimaksudkan dengan kalimat daabbatam minal ardhi (binatang melata dari bumi) adalah suatu jaringan konspirasi, gerakan rahsia dari suatu kaum yang membawa ajaran sesat, dan mengaku dirinya sebagai orang suci. Padahal, mereka itu adalah para penipu yang mengatas-namakan diri sebagai Almasih yang dijanjikan. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa daabbatam minal ardhi, tidak lain adalah al-Masih adDajjal yang akan membawa “fitnah besar” di muka bumi ini dan menggoncangkan hati manusia dengan segala kekuatan konspirasi.
Dari pembahasan dan uraian sebelumnya, gerakan al-Masih adDajjal tersebut telah berlangsung sangat lama, bahkan sejak sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu pada saat imperium Romawi yang sangat memuja matahari dan mistik yang menguasai separuh belahan bumi. Dari generasi ke generasi, gerakan rahsia ini terus berlangsung dan semakin menunjukkan kekuatannya.Beberapa hadits di bawah ini menunjukkan informasi aktual, khususnya peringatan kepada umat Islam untuk bersatu padu dalam satu gerakan terpadu (ittihadul-ummah) untuk menghadapi al-Masih ad-Dajal yang semakin tampak tanda-tandanya, sebagaimana hadits dijelaskan pada berikut :
Anas r a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tiada seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan umatnya dari si buta sebelah dan pendusta. Ingatlah kami bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya dan Tuhan kamu tidak buta. Tertulis diantara mata Dajal itu ‘kafir’.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari Hudzaifah r. a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Suatu saat Dajal akan muncul dengan membawa air dan api. Adapun yang terlihat oleh manusia sebagai air, pada hakikatnya adalah api yang mambakar. Sedangkan yang terlihat oleh manusia sebagai api, pada hakikatnya adalah air yang sejuk dan tawar. Barangsiapa yang mendapatinya diantara kalian, maka hendaknya ia memilih apa yang terlihat sebagai api kerana pada hakihatnya ia adalah air tawar lagi baik.” (Muttafaq ‘alaihi).
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sukakah saya jelaskan kepadamu tentang Dajjal yang belum dijelaskan oleh seorang nabi kepada kaumnya. Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan ia akan membawa berupa syurga dan neraka, maka yang dikatakan syurga itu sebenarnya adalah neraka.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari hadits tersebut menjelaskan bahwa gerakan Dajjal telah diketahui dan ciri-ciri Dajjal sebagai berikut:
Pertama – bermata satu atau buta sebelah. Hal ini sebagaimana telah dibahas sebelumnya, salah satu lambang Dajjal adalah bermata satu yang disebut sebagai the one eye of Lucifer -sangat sesuai dengan penjelasan hadits tersebut. Mata satu melambangkan bahwa gerakan Dajjal bersifat materialistik murni yang sangat anti-agama. Hal ini sesuai pula dengan cita-cita Adam Weishaupt membangun “satu dunia baru” (novus ordo seclorum) atas dasar: satu pemerintahan, satu sistem perekonomian dan kewangan, satu kewarganegaraan. Mereka mengontrol seluruh kehidupan di muka bumi, menghapuskan nasionalisme, patriotisme, dan menghujat eksistensi agama-agama yang ditudingnya sebagai racun dan dogma yang “memenjarakan” kebebasan berfikir serta menindas nilai kemanusiaan. Kerana menurut Dajjal, selama manusia masih terkotak-kotik dalam agama, mereka tidak pernah akan menikmati nilai kemanusiaan yang universal.
Rasulullah memberikan simbol “buta sebelah” ertinya mereka membutakan diri dari kebenaran Ilahi, menolak Allah dan Rasul-Nya.
Kedua – pendusta atau pemfitnah. Sudah sangat jelas bahwa gerakan konspirasi Dajjal telah membuat dongeng-dongeng serta rekayasa yang sangat canggih untuk mendukung dan menyebarkan kebohongan ajarannya. Dengan kecerdasan dan kekuatannya yang sangat besar, mereka mampu menyebarkan berbagai fantasi dan kebohongan yang disebarkan secara simultan di muka bumi melalui kekuasaan videocracy (kekuatan filem) yang telah mereka kuasai.
Ketiga – menawarkan syurga padahal neraka. Dengan kekuatan intelejensinya yang tinggi kaum Dajjal ini menawarkan berbagai kenikmatan syurga dunia yang membius. Padahal syurga yang ditawarkannya itu tidak lain adalah neraka, sebagaimana hadits lain yang mengatakan bahwa Dajjal akan membawa api (neraka) padahal air (syurga) dan menawarkan air (syurga) padahal api (neraka). Sehingga orang-orang yang selamat harus berani menempuh bahaya menentang api, kerana api itulah sebenarnya syurga. Tipuan syaitan Dajjal itu tidak akan pernah membutakan mata-hati orang yang beriman kerana di hatinya ada Allah.




No comments: