أعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
(الْحَمْدُ لِلَّهِ)Tahmid Dengan Denyutan Nadiku
(لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)Tahlil Degupan Jantungku
(اللَّهُ أَكْبَرُ)Takbir dalam Hela Turun Naik Nafasku
اَلْحَمْدُ ِللهِ syukur kepadaMU YA اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ... اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ ALLAH اللهَ
ALLAH اللهَ
TARIKAT INSAN
ALLAH اللهَ ALLAH اللهَ ALLAH اللهَALLAH اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ... اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ ALLAH اللهَ
TARIKAT INSAN
[THARIKAT INSAN]
بسم الله الرحمن الرحيم
Ketika bayi di Alam Rahim (di dalam air ketuban) belum ada nyawa, baru
ada hidup yaitu adanya RUH, RASA pendengaran dan Nafsu Muthmainah,
dari Alam Rahim bayi pindah ke Alam Dunia, dan SIFAT FITRAH RUH berubah
sifat menjadi ROH, ketika kontak dengan Alam Dunia itulah adanya NYAWA,
nyawa adalah DARAH ada di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya
NAFAS adalah adanya HIDUP, adanya HIDUP adalah karena adanya DZAT dan
SIFAT
1. RUH SULTHONIYAH ( HAK ALLAH )
Tempatnya di hati, jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian [Nafas]
2. RUH RUHANIYAH ( HAK RASULULLAH )
Tempatnya di dada [Jantung] dan pada 360 sendi = 360 hari, badaniyah bukan raga, Satu badan satu atap [Menyeluruh]
3. RUH MAKODIYAH
Ruh ini yang suka meninggalkan jasad,
termasuk mimpi, mimpi yang benar adalah kita bisa mengingatnya dan
menceritakannya dengan jelas, walaupun kejadian mimpinya sudah lama.
4. RUH DINNIYAH atau JASADIYAH
Berdirinya Islam, Fitrah diri atau Fitrah Agama, Ruh Samawi
5. RUHUL QUDUS RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM
1. RUH SULTHONIYAH > INJIL > PENCIUMAN
2. RUH MAKODIYAH > TAURAT > PENDENGARAN
3. RUH DINNIYAH > AL – QUR’AN > PENGLIHATAN
4. RUH RUHANIYAH > ZABUR > PERKATAAN
Hakikat NYAWA adalah RASA JASMANI, olahan dari API – ANGIN – AIR – BUMI
pada waktu itu mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa
mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya
ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja yang
berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang
empat (SAEPI 4) ini, menjadi NUR DARAH yang empat macam :
1. NUR DARAH MERAH dari Saripati API,
adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui
TELINGA hingga bisa mendengar.
[RUHUS SAMMA’ = RASA PENDENGARAN]
2. NUR DARAH KUNING dari Saripati
ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar
melalui HIDUNG hingga bisa mencium dan merasa.
[RUHUN NAFASI = RASA PENCIUMAN]
3. NUR DARAH PUTIH dari Saripati AIR,
adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui
MATA hingga bisa melihat.
[RUHUL BASHAR = RASA PENGLIHATAN]
4. NUR DARAH HITAM dari Saripati BUMI,
adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui
LIDAH [Mulut] hingga bisa berbicara.
[RUHUL KALAMI = RASA PERKATAAN]
5. NUR DARAH BENING
Setelah bayi membesar kulitnya,
membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar [banyak] sumsumnya,
maka keluarlah hawanya, yaitu nafsu yang empat yaitu:
1. NAFSU AMARAH berdomisili pada TELINGA
2. NAFSU SUFIAH berdomisili pada MATA
3. NAFSU LAWAMMAH berdomisili pada LIDAH
4. NAFSU MUTHMAINAH berdomisili pada HATI
Datangnya nafsu yaitu keinginan pada waktu di beri ASI, rasa menjadi
kontak dengan gulungan Api – Angin – Bumi – Air, sebab itulah adanya
air susu asal dari yang empat, buktinya adalah makanan yang di makan
oleh Ibu, sebab jika Ibunya tidak makan apa-apa, tidak akan ada air
susu, ketika mulut bertemu dengan air susu, tentu ada rasa, rasa enak
dan manis, terasa yang enak, sampai ingin lagi tidak mau telat, kalau
telat suka ngambek dan menjerit, semua terjadi karena adanya pertemuan
atau kontak, bukti kontaknya Ibu dan Bapak keluarlah seorang bayi dari
Alam Rahim dengan hidupnya, bertemulah hawa Baathin dan Dhohir, ketika
kontak dengan Alam Dunia adanya nyawa.
Sifat nyawa yaitu nafas, hakikatnya nyawa, rasa adalah buktinya, ketika
rasa kontak dengan makanan maka akan menjadi nafsu dan banyak kemauan
sudah pasti, dan bibit dari pada kemauan adalah karena tadi sudah
merasakan air susu itu enak di rasakannya.
Ada enak sudah pasti ada tidak enak. Murakabah enak dan tidak enak
sudah tentu, kepada telinga, mata, kepada penciuman begitu juga, sudah
pasti ada enak dan tidak enak, bukti di pendengaran juga begitu, ada
yang enak di dengar, ada yang tidak enak di dengar sehingga menimbulkan
amarah.
Jika pendengaran kontak dengan suara yang jelek, kejadiannya menjadi
rasa tidak enak, begitu juga jika kontak dengan suara yang baik akan
menimbulkan enak, seterusnya begitu. Di mata pun bukti, ada enak di
lihat dan tidak enak di lihat, malah ada penglihatan yang suka
menimbulkan amarah. Matapun tergantung kontaknya dengan sifat, sifat
yang baik dan yang buruk, jika baik maka akan menjadi enak, di
penciuman pun begitu ada enak dan tidak enak, sama dengan pendengaran.
Semuanya itu adalah bukti dari adanya segala KEINGINAN. SIFAT RASA BAIK dan SIFAT RASA BURUK.
” Tidak ada Tuhan selain Aku. Akulah hakikat DZAT yang Maha Suci, yang
meliputi SIFAT-Ku, yang menyertai [ASMA] Nama-Ku, dan yang menandai
[AF’AL] perbuatan-perbuatan-Ku .”
“ Sesungguhnya AKU ini adalah ALLAH, TIDAK ADA TUHAN (yang hak) selain
AKU, maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU ” [At
-Thaahaa : 14]
AKU = DZAT atau Nurullah, SIFAT Laisa kamishlihi syaiun, Dzat yang
tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya.
BILLA HAEFFIN, artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang.
BILLA MAKANIN, artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat
tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun
di bawah.
DZAT yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk
lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Allah, untuk
bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhirat, adanya Alam semesta,
Dunia, Arasy, Malaikat, Idajil atau Azazil, Iblis, Setan, Jinn dan
Manusia, dan semua ciptaan-Nya yang ada, adalah karena akibat dari
adanya Dzat Yang Maha Suci.
1. Sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Alam-alam, termasuk
Alam Semesta, Arasy, Bumi dan Langit beserta isinya, yang ada hanyalah
Dzat di Kesunyian Sejati Martabat Yang Maha Suci, Alam Tunggal Sejati,
Ghaibul Ghaib.
SIFAT adalah Laisa kamishlihi syaiun, bukti adanya JAUHAR AWWAL
RASULULLAH atau samudra hidup, pohon nyawa, wadah amal, kubur sejati,
hidupnya segala rupa, seluruh isi tujuh lapis bumi dan tujuh lapis
langit, asalnya yaitu dari cahaya yang satu, yaitu JAUHAR AWWAL
RASULULLAH atau RUH ILMU RASULULLAH utusan Maha Agung.
DZAT atau NURULLAH yang menjadikan Alam Dunia dan isinya, TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH, DZAT dan SIFAT.
Sifat = Jauhar Awwal Rasulullah =
Hakikat Muhammad [Ruh Ilmu Rasulullah] atau disebut SEJATINYA SYAHADAT,
yaitu syahadatnya DZAT dan SIFAT, Ahadiat dan Wahdat, sudah tidak
pisah, seperti gula dan manisnya.
Ibarat :
DZAT adalah MANIS, SIFAT adalah GULA
DZAT adalah WANGI, SIFAT adalah BUNGA
DZAT dan SIFAT adalah PASTI, TIDAK AKAN ADA SIFAT, JIKA TIDAK ADA DZAT, begitupun sebaliknya.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH yaitu cahayanya Allah. yaitu Nur Ilmu
Rasulullah sinarnya yang empat rupa dari Jauhar Awwal Rasulullah. Dzat
Sifat-Nya Allah sifatnya sangat halus, mengeluarkan cahaya empat rupa :
MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM disebut NUR ILMU RASULULLAH [Nur Muhammad]
yaitu Hakikat Adam bibit untuk Alam Dhohir atau Asmanya Allah,
yang empat menjadi lafadz :
ALIF – LAM – LAM – HA, tadinya adalah Asma Allah. yaitu Alam DZAT yang
pertama disebut, dua SIFAT, barulah ASMA nomor tiga, kenyataannya
sesudah adanya NUR ILMU RASULULLAH atau Hakikat Adam, yang tiga
bergulung jadi satu :
Allah – Muhammad – Adam = “ Wa nahnu aqrobbu ilaihi min hablil wariid “
Sifat -sifat diri jika di telusuri dari kenyataan DZAT, SIFAT, dan ASMA
Allah, yang keempatnya AF’AL Maha Suci, yaitu Alam Ilmu, API – ANGIN –
AIR – BUMI disebut ARWAH yang menjadikan RUH dan DARAH, bibit Adam
Manusia, jadi, Api, Angin, Air, Bumi adalah dari sinarnya Nur Ilmu
Rasulullah, Af’alnya Allah Yang Maha Agung, buktinya kekuasaan Allah
adalah adanya Alam Dunia dari Nur Ilmu Rasulullah cahaya yang empat.
Cahaya MERAH sinarnya menjadi API
Cahaya KUNING sinarnya menjadi ANGIN
Cahaya PUTIH sinarnya menjadi AIR
Cahaya HITAM sinarnya menjadi BUMI
Dari cahaya empat rupa itu, dihidupkan oleh sinarnya Matahari, sifatnya
yaitu terang, jika di dunia tidak ada terang, manusia dan tumbuhan akan
mati, akan tetapi Matahari tadi tidak akan terang, jika tidak terkena
sinar Dzat Sifat-Nya, tidak ada bedanya lahir dan baathin, di dhohirnya
menjadi nyata, API, ANGIN, AIR, BUMI menjadi Asma Allah yaitu ALIF –
LAM – LAM – HA. Matahari bisa terang, yaitu yang menjadi Tasjidnya,
yang menghidupkan semua, di dunia juga pasti ada Asmanya Yang Maha
Agung, satu cukup untuk semua, sifatnya meliputi.
adalah nyatanya jasad manusia berasal dari bumi, air, api, angin,
syariatnya terasa, semuanya dari proses nabati dan hewani, tanaman yang
ditanam menjadi besar karena adanya unsur bumi, api, air, angin, tidak
ada unsur yang kurang satupun. Kejadian di diri manusia, yaitu kulit,
daging, tulang, sumsum menjadi nafsu empat rupa :
1. Nafsu Amarah dari DAGING hawanya keluar melalui TELINGA
2. Nafsu Lawammah dari SUMSUM hawanya keluar menuju MATA
3. Nafsu Sufiah dari KULIT hawanya keluar menuju MULUT
4. Nafsu Muthmainah dari TULANG hawanya keluar menuju HIDUNG.
diwajibkan oleh Maha Suci, manusia harus ikhtiar, harus mencari ilmu,
untuk mengetahui asal, asal jasad waktu di Qadim, yaitu yang empat
tadi. Nur ilmu Rasulullah, MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM, asalnya jasad
manusia, jika manusia sudah kenal kepada empat perkara, dengan yakin
dan di dasari ilmu yang haq, itulah Mitsal, yaitu ma’rifat kepada alam
tadi
adalah sudah ma’rifat kepada Dzat Sifat Yang Agung, yaitu Jauhar Awwal
Rasulullah, sejatinya syahadat, sejatinya Iman, bibit nyawa semuanya.
artinya manusia sempurna [mukmin sejati] sudah sampai kepada asal,
yaitu samudra hidup, kesempurnaan nyawa, pasti bisa pulang kepada
asalnya yang dahulu, asal dari Allah kembali kepada Allah, Allah sudah
janji, kepada siapapun manusia yang tahu, yang ma’rifat kepada Dzat
Maha Suci, sewaktu di dunia, terus sampai ke Akhirat, tidak akan pisah
dengan Dzat Yang Maha Agung, jika buta waktu di dunia, maka di Akhirat
akan lebih buta lagi, tidak akan bertemu dengan terang, gelap sudah
pasti karena tidak bisa melihat Dzat Yang Maha Agung, sewaktu gelap
sudah pasti Neraka, karena di dunia tidak mencari ilmu dan ibadah,
sibuk mengantar NAFSU DHOHIR.
Ibarat : DZAT adalah WANGI, SIFAT adalah BUNGA, DZAT adalah MANIS,
SIFAT adalah GULA, TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH, Syahadatnya Dzat dan
Sifat, Ahadiyat dan Wahdat.
DI LUAR NAMA :
DZATTULLAH yaitu disebut Alam, inilah yang memangku atau menopang Alam Dunia
SIFATULLAH adalah Nur Ruh Ilmu Rasulullah seluas langit, tidak ada yang
keluar dari DZAT SUCI, semuanya terliputi oleh satu cahaya.
ASMATULLAH adalah Api, Air, Angin, Bumi, Asma yang Agung. Satu, cukup
untuk semua, Api, Air, Angin, Bumi menjadi huruf ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu hawa yang menghidupkan bumi dan isinya
DI DIRI MANUSIA :
DZATULLAH nyatanya di diri, buktinya adalah sekujur badan, yang memangku keadaan, segala hal yang menyangkut keadaan pada wujud
SIFATULLAH nyatanya adalah rupa, rupa
manusia tidak ada yang sama dengan manusia lainnya, hanya satu di alam
dunia, tawilnya adalah ALLAH HANYA SATU.
ASMATULLAH yang bukti di badan adalah : KULIT, DAGING, TULANG, SUMSUM, menjadi lafadz Asma Allah yaitu : ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu geraknya wujud,
semuanya diringkas kepada yang empat rupa, nyatanya Dzatullahi, yaitu
perkataan, sebab perkataanlah yang menjadikan semuanya, yaitu keramaian
Alam dhohir, adanya kemauan manusia, sehingga menjadi bukti dengan
adanya gedung, rumah, mobil dll karena adanya bibit dari Dzat.
Dari Ibn Abbas r.a., dari Nabi
Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya : “FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA
APA YANG DI CIPTAKAN ALLAH, TETAPI JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG
DZAT ALLAH..”
[HR Abu Syeikh]
Abu Dzar r.a., dari Nabi Shalallahu
‘alaihi wassalam. sabdanya : “FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA MAKHLUK
ALLAH, DAN JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH, KARENA YANG
DEMIKIAN MENYEBABKAN KAMU BINASA [DALAM KESESATAN]”
[HR Abu Syeikh]
” FIKIRKANLAH OLEHMU SIFAT ALLAH DAN JANGAN KAMU MEMIKIRKAN AKAN DZAT-NYA. ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU ”
[Al-Fushilat : 54]
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak
disembah], yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang
berilmu juga menyatakan yang demikian. Tak ada Tuhan melainkan Dia
[yang berhak disembah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
[Ali-Imran:18]
“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”
Semua umat Allah wajib marifat, harus tahu kepada iman sejati, iman yang satu yaitu kepada DZAT MAHA SUCI.
SIFAT Laisa kamishlihi syaiun adalah JAUHAR AWWAL RASULULLAH, TANDA KENYATAAN ADANYA DZAT.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH, yang Awwal Akhir di ciptakan oleh Allah.
Ainal yakin dengan Ilmu, supaya bisa pulang, pulang kembali kepada
Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak
perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Jauhar
Awwal Rasulullah, inilah jalan pulang yang sempurna.
“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada sejatinya hidup, sifat hidup
harus di dapat, diri yang mana yang harus di cari? Apakah jasmani yang
terlihat? Yang harus dicari adalah badan Ruhani atau Jiwa. Sejatinya
syahadat adalah bibit segala rupa yaitu Jauhar Awwal [Ruh Ilmu
Rasulullah] Samudra Ilmu dan Kehidupan.
“Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi”
Melihat Hakikat Allah Ta’ala di Dunia oleh mata Baathin. Bila Qolbu
manusia sudah dianugrahi Sifat Nur Ilmu Rasulullah, Qolbunya bisa
dipakai untuk tempat melihat kepada Allah Ta’ala melalui mata Baathin
karena sudah diberitahu oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah, sehingga bisa
merasakan ni’mat dari Dunia sampai di Akhirat, sudah tidak merasakan
berpisah dengan Sifat Nur Ilmu Rasulullah, lantaran wujud itu. Siang
dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah untuk melihat
Allah Ta’ala, melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat,
Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf.
“Ru’yatullohi Ta’ala bil akhiroti bi’ainil arsi”
Melihat Allah di Akhirat, tentu sama mata, tidak salah lagi, sebab sudah bersatu seperti gula dan manisnya.
Wajib hukumnya mencari tahu diri, diri yang sejati, diri manusia, sebenar-benarnya diri.
Cahaya empat rupa adalah :
NARUN [Merah]
HAWAUN [Kuning]
MA’UN [Putih]
TUROBUN [Hitam]
yaitu badan ruhani [jiwa], inilah yang harus ketemu, jasmani harus
hilang, tapi jangan hilang tanpa sebab, hilangnya harus terganti oleh
cahaya empat rupa [Sifat Nur Ilmu Rasulullah] hilangnya badan jasmani,
harus terganti oleh badan ruhani.
Jas artinya adalah baju, mani adalah badan ruhani, baju adalah bungkus, bungkusnya ruhani, manusia tidak akan mendapatkan hasil,
jika hanya mengetahui badan nyata saja, harus di buka dulu bajunya,
supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada
Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan
ketemu,
diibaratkan kucing, maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari
liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus
malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan hasil,
kucing diibaratkan jasad, tikus ibarat yang Latif, tidak akan ketemu
jika rasa jasad tidak hilang.
Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja
kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama
seperti di diri manusia, jika ingin ma’rifat kepada Dzat Allah Ta’ala,
harus merasa pasti, merasakan bahwa manusia tidak memiliki jasad. Rasa
jasmani harus hilang, terganti oleh Rasa Rasulullah
[SIFAT NUR ILMU] > Ladun Qolbin Salim > Ladunni > Hati yang
selamat. Rasa ni’mat yang sejati [Ni’mat Islam, Ni’mat Iman] karena
saking ni’matnya melihat kepada Dzat Maha Agung, tentu merasa hilang
dunia dan jasmani [Iman Akhirat, Rasa Akhirat]
“Waman aroffa nafsahu, faqod aroffa robbahu… man aroffa robbaha, faqod jahilan nafsah”
“Lahaula wala quwata, illa billahil aliyil ‘adim”…
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya …
Shalat sejatinya adalah ketika waktu Nafi Isbat bergulung, menerapkan
Muhammad af’al. Ta’udz dan Bismillah untuk berlindung kepada Yang Maha
Agung, disinilah adanya kebersamaan, yang empat bersatu, hilangnya
dunia dan wujud, bertemu dengan wujud Agama, barulah dikatakan Islam
jika sudah ketemu kepada sejatinya Agama atau Ruh Samawi [Fitrah Agama]
yaitu hidup manusia, tentu wajib hukumnya, untuk tahu kepada sejatinya
Agama, agar ibadah menjadi sah, tahu bibit rukun Islam, rukunnya yang
empat di badan :
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Penciuman
4. Perkataan.
yang ke lima adalah Rasa Rasulullah [penguasa RASA] jadi hakikatnya shalat adalah wujud rupa diri.
“Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“,
“Shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.
IHKROM – MI’RAJ – MUNAJAT – TUBADIL
Artinya adalah shalat sejati, syariatnya ada di Mekkah, ketika orang pergi Haji, hakikatnya ada di hati.
IHKROM : Bersiap-siap, menyiapkan tekad sebelum pergi, ibarat burung
niat ingin terbang, sayapnya sudah dibentangkan tapi tidak dikepakkan.
MI’RAJ : Jika sudah dengan terbang dan melayang, sudah meninggalkan Alam Dunia, lupa kepada Alam Dhohir.
MUNAJAT : Sudah mau sampai ke Alam Baathin.
TUBADIL : Sudah sampai kepada yang yang dituju, yaitu Baitullah suci,
Baitullah sejati, bukan di Utara, bukan di Selatan, tidak di Timur dan
di Barat [Billa haefin, Billa makanin] inilah yang di maksud hakikat
Ka’bah atau Kubah [rongga dada manusia] Itiqod [tidak terkena rusak]
kiblat nyawa yang sempurna yaitu Dzat Yang Maha Agung, sifatnya cahaya
padang halus, terang benderang atau Jauhar Awwal Rasulullah, samudra
ilmu dan hidup, kiblat waktu wafat.
Bertemunya ASHHADU = Allah dan WA ASHHADU = Diri Manusia [Ghoib]
Sebab itu kiblat wafat wajib harus di ketemukan, jika tidak ketemu
dikhawatirkan jadi gentayangan, nyawa tidak sampai kepada asalnya
dahulu, pantas adanya Neraka yaitu siksaan diri, sebab tidak menemukan
jalan pulang yang sempurna, mumpung di dunia harus bersungguh-sungguh
mencari jalannya wafat, agar nyawa bisa pulang,
IBADAH : sudah ada patokan yaitu Al-Qur’an dan Hadist, sudah mencukupi,
tinggal bersungguh-sungguh menghafal dan prakteknya, kalau jalan mati,
itu lain aturan, itu adalah penghujung, ujungnya harus wafat, yang
ibadah dan yang tidak, semua manusia akan mengalami kematian,
syariatnya sama, ada sekaratnya…
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali r.a. menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan
pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan
HAKIKAT KEIMANAN “.
Jika manusia yang ma’rifat, mutajilah sudah pasti, sebab menjirimkan
Allah terlihat oleh mata kepala, yang berarti ada dua diri, Allah
adalah NAFI ISBAT, ada Isbat hilang Nafi, ada Nafi hilang Isbat, Isbat
adanya pasti, wujud jasmani, Nafi adanya Jiwa, untuk Nafi Isbat-nya
harus tidak ada.
SIFAT NUR ILMU RASULULLAH adalah JAUHAR LATIF : Cahaya halus yang
menghidupkan wujud manusia, matahari dalam wujud jagad shagir, yang
tidak terlihat oleh mata kepala, dan hanya bisa di lihat dengan MATA
BAATHIN.
AL – ILMU NURULLAH > Ilmu Sifat untuk mengabdikan diri kepada Allah
dan Rasulullah, Ilmu Sifat tidak akan samar, wangi bunga rose tidak
akan tertukar dengan wangi bunga melati. ‘Ain > Iliyin tempat
tertinggi yang bisa di capai oleh orang berilmu. Ilmu Ladunni atau Ilmu
Sifat, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan
pengamalan, mulai dari mandi, shalat, wirid, baca Qur’an dll. Melalui
jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Mari’fat.
Tuhan hanya bisa dikenal jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali.
Sifat Nur Ilmu adalah kendaraan bagi baathin untuk sampai ke sisi-Nya,
melalui Sifat Rasa Rasulullah. Tidak ada manusia yang bisa langsung
ma’rifat kepada Allah Ta’ala, kecuali Nabi Muhammad Shalallahu alaihi
wassalam melihat langsung dan berdialog dengan Allah Ta’ala.
Sifat Nur Ilmu ini akan menerangi
qolbu, baathin, hati dan ruh, Sirr nya berperan menyingkap tabir
hakikat dan mengenal akan Allah Ta’ala. Hakikat akan diketahui apabila
seseorang giat mendalami pengetahuan tentang hakikat melalui proses
pengamalan, khalwat atau tirakat, muqarobah, mandi, sholat, wirid
melalui bimbingan
Guru Mursyid > Allah, Ilmu Ma’sum
> Ilmu Syafa’at yang bisa memisahkan unsur Sifat Malaikat [NURR] dan
unsur Sifat Jinn [API] di dalam darah (Sifat darah ), seorang guru
wajib menguasai 12 pan Ilmu, jika ilmunya tidak ma’sum, maka
dikhawatirkan bangsa mahluk halus akan ikut-ikutan nyusup atau masuk ke
dalam pengamalan, sehingga seseorang itu tidak merasa bahwa di dalam
dirinya sudah di tempati oleh Jinn, merasa berilmu padahal Jinn yang
mengendalikan.
Sifat Nur Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya
dari kegelapan serta membawanya untuk menyaksikan sesuatu dalam
keadaannya yang asli. Apabila cahaya atau latifah di diri sudah membuka
tirai dan cahaya terang telah bersinar, maka mata baathin dapat
memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh
alam nyata. Semakin terang cahaya Illahi yang diterima oleh hati akan
menambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya. Pengetahuan yang
diperoleh melalui pandangan mata baathin yang bersumber dari Cahaya
Awwal atau Jauhar Awwal Rasulullah atau Ruh Ilmu Rasulullah inilah yang
dinamakan Ilmu Ladunni atau Ilmu Sifat atau Ilmu Syafa’at atau Ilmu
Shalat.
اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
والله أعلم بالـصـواب
Moga Bermanfaat.
Moga Bermanfaat.
...........................................................................................................
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم
Maka sebutlah, ucaplah, lafazlah dengan lidahmu disetiap saat akan zikir memuji dan mengAgungkan kebesaran ALLAH Swt dengan Tasbih dibawah secara istiqomah.
100 X (سُبْحَانَ اللَّهِ)
100X (أسْتَغْفِرُاللهَ)
100X (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ)
100X (اللَّهُ أَكْبَرُ)
100X (اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهِ)
100X (اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهِ)
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ
اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ





No comments:
Post a Comment