26 March 2020

Alam Nadzarullah



 ‏اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)‎  
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)‎
Denyutan Nadiku dengan  Alhamdulillah  (الْحَمْدُ لِلَّهِ)‎
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH  (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)‎
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar   (اللَّهُ أَكْبَرُ)‎
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ    ...اللهَ 

Alam Nadzarullah


Alam Nadzarullah

0

Alam NADZARULLAH yang bersifat KAMAL, JALAL dan JAMAL

Alam Nadzarullah ini adalah Nuur alam fikir Dzat itu sendiri yang terdiri dari 3 (tiga) derajat, yaitu :
1.    Raf-raf Allah
Raf-raf inilah sifat Kamalat (kesempurnaan) Allah yang menjadi “Pusat pembendahara-an/ghasanah llmu dan Hikmah baik yang nyata maupun yang tersembunyi”, dimana luas ilmu dan hikmah-Nya itu sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :
“Katakanlah (ya, Muhammad): Kalau seandainya (air) lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah air lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat (ilmu pengetahuan) Tuhanku, meskipun kami datangkan sebanyak itu pula”
(Q.S. Al Kahfie : 109)

Sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi manusia yang betapapun canggihnya, demikian ilmu para Rasul, Nabi dan Wali Allah, demikian juga ilmu para malaikat dan makhluk halus lainnya diturunkan Allah dari Raf-raf-Nya ini.
Dari alam inilah Allah menurunkan Air kemuka bumi dan dialam Nadzar Raf-raf inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya :
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) diatas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya…”
(Q.S. Hud : 7)

2.    Al Maala iI A’la
Al Maala il A’la adalah sifat Jalalah (kebesaran) Allah yang menjadi “Pusat segala pembendaharaan/ghasanah Hukum-hukum yang nyata dan yang tersembunyi dan Ruh sekalian kehidupan, baik kehidupan yang dilangit (malaikat) dan seluruh makhluk dibumi”.
Adapun yang dimaksud manusia dengan hukum alam/fisika, hukum  adat, hukum negara, hukum agama dan sekalian yang berkenaan dengan hukum dan undang-undang duniawi maupun ukhrawi, diturunkan Allah dari alam Nadzar-Nya yang kedua ini, karena disinilah Kebesaran-Nya.
Untuk kejadian alam semesta, dari alam inilah Allah menurunkan Angin kebumi yang  kita diami ini.

3.    Baitul Ma’mur
Bait adalah rumah, tempat tinggal, Ma’mur adalah berkecukupan dengan tiada kekurangan sedikitpun, serba ada, tinggal ambil segala yang diinginkan dan dihajati.
Pada Baitul Ma’mur inilah segala “Pusat pembendaharaan/ghasanah Kebendaan dan Tubuh yang bersifat alam kasar”. Apakah yang diturunkan kedunia ini maupun alam kebendaan untuk ahli-ahli surga ataupun neraka kelak, diturunkan Allah dari alam nadzar-Nya yang ketiga ini. Dan disinilah sifat Jamalah (keindahan) Allah dan yang turun kealam semesta ini adalah seumpama setitik air dari tujuh lautan dunia ini, alangkah maha luasnya kekayaan Allah sebagai pembendaharaan yang tersembunyi.
Kealam dunia ini diturunkan sekalian benda-benda alam kasar, termasuk seluruh planet yang ada disusunan tata surya ini. Tetapi yang paling sempurna adalah pada planet Bumi yang kita diami sekarang ini sebagai tempat Khalifah Allah memandang segala Kesempurnaan, Kebesaran, dan Keindahan Allah yang Maha Agung dalam segala ciptaan-Nya.

Ketiga alam Nadzarullah yang ber-Kesempurnaan, ber-Kebesaran dan ber-Keindahan itu berdiri dari Dzat-Nya Yang Maha Halus dan Dzat itulah Yang Maha Agung lagi Maha Suci. Untuk kejadian alam semesta, maka sinar Dzat itulah yang menjadi Api kebumi ini, tetapi bukan berarti Dzat Allah itu adalah api. Semisal baterai dapat mengeluarkan api dengan bertemunya kutub positif dengan negatif, tetapi baterai bukanlah api.
Kejadian ENAM MASA, ALLAH Menciptakan LANGIT dan BUMI
Disebabkan Allah tidak ada lawan dan tandingan-Nya, maka untuk menciptakan langit dan bumi dan isi diantara keduanya adalah dari Nuur Dzat dan dari Alam Nadzar-Nya itu sendiri.
Sebelum Allah menciptakan alam semesta, hanya Dia-lah yang mengetahui segala kesempurnaan, kebesaran dan keindahan Dzat-Nya Yang Maha Agung itu, maka Dia pulalah yang memuji diri-Nya sendiri yang dikatakan sebagai Nuur Yang Memuji (Muhammad), maka Nuur Muhammad yang Ajali adalah alam Nadzarullah itu sendiri, dan ketiganya itulah Nuur Muhammad (Yang Memuji) dalam keadaan yang Qadim.

Proses Kejadian Langit dan Bumi dalam Enam Masa
1.    Masa Ajali
Alam Ajali ini disebut juga alam Mubarram. Hanya Dzat yang mempunyai nadzar yang tiga derajat itulah Yang Maha Ada. Dia-lah Yang Maha Mengetahui sifat Kesempumaan, Kebesaran dan Keindahan-Nya itu. Dia yang memuji, maka Dialah yang terpuji. Ahmad terpuji, Muhammad yang memuji. Para ahli Tashauf menyatakan “Puji Qadim bagi Qadim”
Alam ajali atau alam mubaram ini adalah awal daripada pemujian yang tiada masa yang diturunkan dari alam nadzar-Nya yang bernama raf-raf terdahulu.

2.    Masa Shuluhi Qadim
Shuluhi Qadim adalah masa bagi Allah sendiri yang bukan masa pada alam semesta dalam memikirkan atau bernadzar untuk menciptakan alam lain selain Dzat-Nya supaya ada yang memuji, melihat dan mengakui segala kesempurnaan, kebesaran dan keindahan-Nya itu.
Dalam nadzar-Nya itu terjadi suatu alam pertimbangan. Pertirnbangan yang dimaksud adalah: jika diciptakan sesuatu dari Dzat dan nadzar-Nya itu, kelak yang diciptakan itu akan durhaka kepada-Nya, karena yang diciptakan itu akan merasa berdiri sendiri pula sebagaimnaa Dia mempunyai kekuasaan, terlepas dari Yang Menciptakannya. Bila tidak diciptakan, maka keadaan-Nya akan tetap seperti sediakala, yaitu Dia jugalah yang merasakan ke Maha Agungan-Nya dengan sendiri-Nya.
Alam pertimbangan antara akan sesuatu yang akan atau tidak diciptakan ini, tiada yang mengetahui dalam berapa jembatan masa, karena masih dalam keadaan qadim.
Dalam alam Shuluhi Qadim inilah berita tentang seluruh malaikat yang patuh tunduk pada-Nya dibawah pimpinan Uzazil, sehingga kesempurnaan, kebesaran dan keindahan-Nya itu hanya dari satu pihak saja, yaitu pihak yang patuh tunduk.
Sesuatu yang bersifat sepihak, tentulah tidak akan terlihat sifat-sifat yang lain seperti kegagahan, kehebatan yang tiada taranya, kemurkaan/kemarahan yang luar biasa.
Proses Shuluhi Qadim ini adalah dari alam nadzar-Nya Al Maala il A’la yang menjadi pusat sekalian hukum-Nya yang nyata dan tersembunyi dan pembendaharaan sekalian ruh kehidupan, dari sinilah asal sekalian ruh dan akan kembali kesini pula akhirnya bagi yang mencari jalannya didunia untuk kembali kepada Tuhannya, dan ruh itu pulalah kelak yang terhukum atau menerirna siksa bila durhaka dan akan menerima nikmat bila tidak durhaka dan kembali dengan selamat setelah menempuh perjalanan panjang pergi dan pulang.
Setelah sekian jembatan yang mana hanya Dia sendiri yang mengetahuinya, maka durhaka atau tidak bukanlah masalah siapa-siapa, itu masalah-Nya sendiri, mau ditunjuki atau mau diázab, hal itu adalah haq-Nya sendiri sebagaimana banyak terdapat dalam firman-Nya yang artinya :
“Kutunjuki siapa yang Kukehendaki dan Kuázab siapa yang Kukehendaki.”

Tidak ada yang turut campur tangan, karena siapapun itu tidak ada.
Dengan keputusan-Nya sendiri dengan llmu dan Hikmah-Nya (Raf-raf) beserta nadzar-Nya Al Maala il A’la ini, berlanjutlah kepada proses nadzar ketiga.

3.    Tanzizi Qadim
Tanzizi Qadim ini adalah keputusan penciptaan sesuatu untuk maksud supaya ada yang menyaksikan segala sifat-sifat yang tersebut diatas.
Dialam inilah segala program dan planning yang amat lengkap. Betapa cerita dan kisah Uzazil yang tadinya sebagai penghulu sekalian malaikat yang patuh tunduk pada-Nya, maka ketika dinyatakan-Nya kepada sekalian malaikat bahwa Dia akan menciptakan Adam dari pada tanah, maka menyangkallah Uzazil karena takutnya kehilangan pangkat, wibawa dan kharisma dan takut kehilangan kedudukan.
Alam Tanzizi Qadim ini diturunkan dari alam Baitil Ma’mur, pusat sekalian pembendaharaan benda dan jasad, itulah sebabnya dialam ini cerita tentang Adam. Betapapun tantangan Uzazil, namun Allah tetap menciptakan Adam untuk menjadi Khalifah dialam yang akan dilahirkan, yaitu Alam Muqaddar (dunia).
Setelah selesai penciptaan Adam dengan sebaik-baik kejadian dan bentuk, maka Allah meniupkan ruh-Nya yang menjadi sifat-Nya dari Al Maala il A’la dan dibekali ilmu dan hikmah dari Raf-raf-Nya, maka sujudlah sekalian malaikat karena dibukakan hijab bagi seluruh malaikat mengenai bathinnya Adam dari Nuur Muhammad, yaitu sebagai pengganti pekerjaan Allah untuk meluluskan sekalian hukum-hukum-Nya.
Bagi Uzazil ditutupkan hijab itu, sehingga ia enggan sujud kepada Adam dan tetap membangkang, dan lagi rahasianya adalah: Ilmu dan Hikmah yang diamanahkan kepada Adam yang tersimpan didalam qalbunya adalah dari Raf-raf Allah, Ruh dan Hukum-hukum yang diembannya adalah dari Al Maala il A’al dan tubuhnya yang menyimpan qalbu/hati dan tempat perliputan ruhnya adalah dari Baitil Ma’mur, yang ketiganya itu adalah dari alam nadzarullah, yaitu Nuur Dzat Allah. Sedangkan Uzazil yang menjadi Iblis, adalah penciptaan langsung dari Naar Dzat Allah, tentulah ia tidak akan mau sujud kepada yang lebih rendah derajat kejadiannya. Itu telah menjadi Sunatullah sebelumpun alam baharu ini dicipta. Maka pantas yang bernama Uzazil (artinya: goncangan) tidak mau bersujud dan goncanglah dirinya berubah menjadi Iblis.
Sedangkan kehidupan Adam yang mempunyai anasir darah yang terbit daripada api dari kejadian yang sama dengan Uzazil, adalah termasuk anasir lblis, betapa ia tidak sakit hati. Tetapi keputusan Allah telah ditetapkan Qadha dan Qadar-Nya, siapa yang dapat mengganggu gugat, sedangkan pembangkangan Iblis itupun adalah ketentuan dari pada-Nya pula, karena Allah sendirilah yang bertindak sebagai sutradara skenario dan segala sesuatunya dalam sandiwara-Nya yang berbabak tunggal, terawal, terakhir, terzahir dan terbathin dalam dunia kita yang ada ini, hanya manusia dibekali ilmu dan hikmah dari Raf-raf-Nya sana untuk menilik dipihak manakah kita berada.
Bila sedang berada dipihak Iblis, maka akan celakalah diri kita ini, karena akan melihat segala kesempurnaan, kebesaran, keindahan dan ke-Agungan-Nya kelak dari pihak azab neraka yang penuh segala siksa dan penderitaan yang tidak berkesudahan; maka jika ada kesadaran dengan petunjuk Allah, cepatlah taubat sebelum terlambat. Jika sedang berada dipihak malaikat yang patuh tunduk kepada Adam sebagai pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi ini, maka syukurilah semoga Allah menambahinya. Jangan kufuri supaya tidak termasuk kepada orang-orang yang disesatkan Allah, dan mudah-mudahan kelak di hari akhirat yang tiada masa lagi baginya, akan melihat dan menyaksikan segala kesempumaan, kebesaran dan keindahan serta ke-Agungan Dzat Tuhan dari pihak nikmat yang tidak dapat dan tidak pernah terbayangkan oleh otak manusia kesempumaan nikmat-nikmat Allah itu.
Begitulah Adam seorang diri tinggal di Baitil Ma’mur, pusat segala kesenangan itu seorang diri, maka inginlah ia mempunyai teman untuk menjadi sahabat berbincang-bincang tentang segala kesenangan dan kenikmatan itu. Lalu Allah perkenankan niatnya, diciptalah Hawa dari tulang rusuk kirinya Adam pada bagian penutup jantung/hatinya, sehingga Hawa diciptakan dengan berlainan jenis sebagai pasangan yang menjadi kekasih jantung hatinya. Karena Hawa dicipta dari dirinya sendiri untuk menjadi teman hidup dan pakaian pribadinya Adam. Mereka hidup berdua di surga didalam pembendaharaan Allah Yang Maha Luas, tetapi dengan satu syarat mutlak bahwa ada satu pohon Khuldi yang tidak boleh didekati apalagi memakan buahnya. Jika didekati apalagi memakan buahnya, inilah kelak yang akan menyebabkan kesengsaraan turun kebumi, lalu perjanjian Allah dengan Adam dan istrinya  Siti Hawa didengar oleh malaikat Uzazil yang menjadi lblis dan inilah suatu kesempatan baginya untuk menggoda Hawa supaya memakannya dan akibatnya akan terusirlah Adam dan Hawa dari tanah asalnya kealam dunia.

Semua kisah itu adalah dialam Nadzarullah yang dikatakan sebagai alam Nuur Muhammad, dan alam baharu sesungguhnya belum tercipta. Seluruh apa yang ada dialam ini sejak awal sampai akhir (kiamat), dari zahir sampai bathin (kembali kepada Allah) telah ada dalam rencana Allah SWT.
Demikian juga segala langkah setiap sesuatu, rezki, pertemuan dan mautnya telah ditetapkan dialam Tanzizi Qadim ini. Begitu pula amal perbuatan seseorang telah ditentukan disini sebelum turun kedunia ini sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
 “Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya dengan terbuka”
(Q.S. Al Isra’ : 13)

Dan lagi firman Allah yang bermaksud :
“Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari-Ku. Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam itu dengan sepenuh-penuhnya jin dan manusia bersama-sama”
(Q.S. As Sajdah : I3)

Mengenai siapa yang dikehendaki Allah petunjuk baginya dan siapa yang dikehendaki kesesatan baginya, juga telah ditetapkan Allah dengan firman-Nya yang artinya :
“Allah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qurán yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karena kulit orang yang takut kepada Tuhannya kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingati Allah. Dia memimpin siapa yang dikehendaki-Nya dan barangsiapa disesatkan Allah niscaya tidak ada baginya seorang pemimpinpun”
(Q.S. Az Zumar : 23)

Semua ketetapan sebelum terjadinya itu dikatakan oleh Allah sebagai sunatullah yang tidak berubah sejak dinadzarkan-Nya sebagaimana maksud firman-Nya :
“Itulah sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu (sebelum dinyatakan kealam ini), kamu sekali-kali tidak akan menemui perubahan bagi sunatullah itu”
(Q.S. Al Fattah : 23)

Semua ketetapan yang telah ditentukan Allah dialam nadzar-Nya yang masih qadim itu dinamakan “Qadha dan Qadar Allah” yaitu hukum-hukum dan ketentuan (ketetapan yang tidak akan berubah, misalnya terhadap yang dikatakan “hukum alam” seperti; sesuatu yang berat jenisnya lebih besar dari air (BJ 1), jika diletakkan dipermukaan air, akan tenggelam. Sifat api, adalah panas dan membakar; sifat air membasahi dan menumbuhkan biji-bijian, yang demikian termasuk sunatullah.

Bila Qadha dan Qadar Allah itu tidak diakui dan manusia merasa dapat mengubahnya dengan kehendaknya, maka Allah menjawabnya dengan firman-Nya dalam Hadits Qudsiy : “Barangsiapa tidak ridha dengan Qadha dan Qadar-Ku (hukum/takdir/ketentuan Allah), maka hendaklah dia mencari Tuhan selain Aku”
(H.Q. Riwayat : Baihaqi dari Ibnu Umar dan Thabrani)

Bagi orang yang benar-benar dapat berfikir, walaupun satu ayat Allah yang dijadikan argumentasi dengan tafsiran yang benar, tidak akan dibantahnya dan digunakanlah akal itu untuk memeriksa keadaan dirinya, sedang dalam keadaan bagaimanakah dirinya itu; apakah sedang dalam taat, maka syukurilah; jika sedang dalam ma’siat segeralah bertaubat. Itulah guna akal untuk berfikir, membedakan antara yang buruk dengan yang baik. Baik dan buruk yang hakiki bukanlah menurut hawa-nafsu, melainkan menurut konsepsi wahyu Illahi, itulah  alamat orang yang berhakikat.

Ketiga alam nadzarullah yang telah diproses kepada tiga proses berfikir dari pada Allah sendiri, yaitu :
  • Dari Raf-raf ke alam Ajali
  • Dari Al Maala il A’la ke alam Shuluhi Qadim
  • Dari Baitil Ma’mur keTanzizi Qadim, adalah masih qadim, belum diciptakan apa-apa walaupun kisah sujudnya seluruh malaikat kepada Adam sebagaimana maksud firman-Nya :
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya (Adam), dan telah meniupkan kedalam (tubuh)-nya ruh-Ku, maka tunduklah kamu (malaikat) kepadanya (Adam) dengan bersujud”
“Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya”
“Kecuali Iblis, dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir”
“Allah berfirman: Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (kamu) merasa termasuk arang-arang yang (lebih) tinggi?”
“Iblis berkata: aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”
“Allah berfirman: Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir”
(Q.S. Ash Shaad : 72-77)

Semua kisah itu masih belum dialam dunia ini, hanyalah dialam nadzarullah sendiri. Setelah lengkap segala perencanaan Allah yang sangat tangguh sebagaimana firman-Nya :
“Dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh (kuat)”
(Q.S. Al A’raaf : 183)

Maka barulah diturunkan kealam baharu dan itupun bertahap-tahap pula, yakni dimulai dengan masa keempat sebagaimana kelanjutannya yang berikut.

Namun sebelum dilanjutkan kepada kejadian masa yang keempat ini, perlu diingatkan bahwa dialam yang Ajali itulah yang disebut dengan Árasy Allah, suatu sifat pemerintahan Allah yang tidak binasa yang mengandung kalimah “Laa” yang mempunyai sifat: Wujud,  Qidam, Baqa’, Mukhalafatahu Lilhawadits dan Qiyamuhu Binafsihi.
Dan dari alam Ajali ini jugalah ketentuan sekalian langkah-langkah manusia dialam dunia, dan alam rabbani (rahasia-rahasia Allah).

4.    Alam Tanzizi Muhaddits (diturunkan kealam Baharu)
Firman Allah, maksudnya :
“Sesungguhnya keadaan-Nya (Allah), apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya: Kun (jadilah), maka terjadilah (fayakun) ia”
“Maka Maha Suci (Allah) yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan”
(Q.S. Yaasin : 82-83)

Dengan berpadunya antara sifat Kamal (kesempurnaan) dengan Jalal (kebesaran) serta Jamal (keindahan), maka terbitlah kalam-Nya yang tersebut diatas, disinilah “Awal Nuur Muhammad” yang baharu yang bermakam binasa, dimana dengan kalam kun itu terbitlah Nurani dari Shuluhi Qadim, dimana Shuluhi Qadim berasal dari Al Maala il A’la (pembendaharaan hukum nyata dan tersembunyi dan pembendaharaan sekalian yang bernyawa).
Dari alam Nurani inilah nyawa sekalian yang hidup, termasuk nyawa manusia, malaikat dan nyawa yang bertubuh kasar lainnya, kecuali nyawa Iblis.
Alam Nurani ini juga disebut “Yaumil Ahda wal Mitsaq “, yaitu hari penentuan janji setiap ruh yang akan diturunkan kealam dunia pada masa kelima nanti, serta tugas-tugasnya untuk mengabdi kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :
“Dan tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi (menyembah) kepada-Ku”
(Q.S. Az Zariyaat : 56)

Allah mengambil perjanjian sekalian ruh itu untuk tidak menyalahi segala ketetapan sebagaimana yang telah diterangkan pada ayat-ayat yang lalu.
Firman Allah yang berarti :
“Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu, jika kamu orang-orang yang beriman”
(Q.S. Al Hadiid : 8)

dan lagi firman Allah yang berarti :
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh/jiwa mereka (seraya firman- Nya): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar, Engkau Tuhan, kami menjadi saksi; (Kami lakukan yang demikian itu) agar nanti di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesunguhnya kami (bani Adam) tidak diberi peringatan terhadap ini (Hari berbangkit)”
“Atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah menyekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami atas perbuatan orang yang sejak dahulu?”
“Dan demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”
(Q.S. AI A’raaf : 172-174)

Dialam Nurani yang menjadi ruh/jiwa manusia inilah yang disebut alam derajat Sifat-Allah yang mengandung kalimah Tauhid pada derajat Sifatullah, yaitu “Ilaaha” yang meliputi sifat: Sama’ (mendengar), Bashar (melihat), Kalam (berkata-kata), Samiún (yang maha mendengar), Bashirun (yang maha melihat), dan Mutakalimun (yang maha berkata-kata).
Dan dialam ini jugalah ketentuan segala rezki yang menjadi bahagian masing-masing makhluk Allah yang disebutkan telah tertulis disatu kitab yang bernama Luh yang menjadi ketentuan dari pada Allah sesuai dengan qadamya masing-masing, sebagaimana firrnan-Nya yang berarti :
“Sesungguhnya Kami menciptakan sesuatu menurut qadar (ukuran)”
“Dan perintah Kami hanyalah satu perkatan secepat kedipan mata”
(Q.S. Al Qomar : 49-50)

Alam sifat inilah yang patuh tunduk kepada Dzat yang menzahirkan sifat. Buruk baik (Qadha Qadar) datang dari pada Allah, dimana yang dimaksud buruk adalah: kufur/ingkar dan maksiat/kejahatan; dan yang baik adalah: iman menurut perintah Allah dan taat/meninggalkan larangan Allah.
Ketentuan itu tertulis didalam kitab Luh ini, dimana untuk menetapkan hal itu sebagai salah satu diantara rahasia-rahasia Allah yang tersembunyi yang hanya ditunjuki kepada orang- orang yang dikehendaki-Nya petunjuk. Adalah sebenarnya ketika seluruh ruh ditanya dan diambil perjanjiannya, Allah bertanya tiga kali; Alastu birabbikum, Alastu birabbikum, Alastu birabbikum? Maka ruh itu menjawab; tiga kali, dua kali, dan sekali, bahkan ada yang tidak menjawab sama sekali. Dengan tabel sebagai berikut :

4.1.
Pertanyaan Allah
Jawaban tiap-tiap ruh/jiwa
Alastu birabbikum?
3 x
Bala
Bala
Bala
Bala
Bala
bala
Bala
Bala
Bala
Bala
Bala
Bala
4.2.
Jawaban ruh/jiwa itulah yang akan menjadi kenyataan di alam Muqaddar (dunia) ini, sehingga walaupun dia (ruh) itu kafir dalam kenyataannya didunia ini, sebenarnya pada hakikatnya adalah patuh tunduk kepada janjinya untuk menjadi kafir dan mernbuat segala keingkaran dan kejahatan yang telah menjadi sunatullah dipermukaan alam ini yang terlebih dahulu ditetapkan qadha dan qadarnya, hanya untuk menutupinya, Allah memperbuat/menjadikan sebab-sebab dan sebab-sebab itu juga merupakan ketentuan-Nya pula, misalnya: seseorang yang ditentukan untuk menjadi kaya dimuka bumi ini, Allah mengiringinya dengan sebab yang bernama ‘usaha dan ikhtiar’, maka barangsiapa memandang ‘sebab’ dengan tidak menilik kepada Yang menjadikan sebab, maka dia itu bertuhan ‘sebab’ itulah yang dinamakan syirik.
Ketentuan yang bernama usaha dan ikhtiar itu juga disebabkan oleh ketentuan yang lain pula, misalnya dengan adanya pendidikan, ketentuan pendidikan itu juga merupakan sebab adanya kemauan dan biaya dan dengan sebab pendidikan itu ia menjadi seorang pengusaha besar. Untuk menjadikan sebab usaha dan ikhtiar itu muncul kepermukaan, akhirnya seluruh kehidupan ini adalah hukum sebab-akibat (Kausalitet) dalam siklus yang tidak berkesudahan bila tidak dikembalikan kepada Yang Maha Menjadikan hukum kausalitet tersebut. Diakui atau tidak, namun akhir daripada siklus kausalitet itu kembali kepada Allah Maha Pencipta yang ada ini.
Kealam bumi ini, perjalanan ruh/jiwa setiap manusia tidak langsung kerahim ibu dari alam Tanzizi Muhaddits atau alam “Kandil-Muallaq”, tetapi melalui Baitil Maqdis di Jerussalam yang telah dilambangkan kepada Nabi Isa alaihissalam, dimana Maryam telah melahirkannya tanpa perkawinan yang alami, ketika Maryam hendak menjauhkan diri dari keluarganya kesuatu tempat disebelah timur.
Firman Allah yang maksudnya :
“Ia (Jibril) berkata: Sesungguhnya aku ini hanya seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci“
“Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang penzina”
“Jibril berkata: Demikianlah. Tuhanmu berfirman: Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan (Kami berbuat demikian) agar dapat Kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu urusan (perkara) yang sudah diputuskan (sebelum terjadinya)”
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya ketempat yang jauh”
(Q.S. Maryam : 19-22)

Dan inilah salah satu hikmah yang tersembunyi, mengapa Rasulullah saw., ketika perjalanan Isra’ Mi’raj-nya harus melalui Masjidil Aqsa dari Masjidil Haram, padahal bila dikehendaki Allah, dapat saja melalui Masjidil Haram langsung melintasi penjuru ketujuh langit, sampai ke Sidratul Munthaha dan berhadap kepada Dzat Tuhannya. Tetapi tentu ada sebab yang  tersembunyi, yaitu Rasulullah menghadap kehadirat Allah bukan hanya untuk menjemput kewajiban Shalat, tetapi adalah untuk menapaki/menelusui jalan kembalinya kepada Allah ketika sampai hukum/ajalnya yang pasti datang dan untuk tidak sesat dalam perjalanan dan itu pada hakikatnya adalah sebagai contoh tauladan bagi umatnya yang berfikir tentang hari akhirat, sedang dia itu adalah rahmat bagi segenap alam dan telah dijamin Allah dengan sifat Ma’sum/suci. Dan karena di Jerussalam inilah turunnya sekalian ruh/jiwa baru kedalam rahim ibu, maka menjadi kota suci bagi tiga agama langit, yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani.
Demikian juga turunnya segenap ilmu, baik untuk pembangunan duniawi maupun pembangunan ukhrawi; sebelum kerahim ibu, ilmu dan hikmah itu diturunkan Allah melalui Masjidil Haram dikota Mekkah dan ini pulalah hikmahnya Rasulullah memulai perjalanan lsra’ Mi’rajnya itu dari Masjidil Haram, karena tanpa ilmu, manusia tidak dapat berbuat apapun karena ilmu itu adalah derajat dan kekuatan sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“…Allah mengangkat orang yang beriman diantara kamu dan arang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat”
(Q.S. Al Mujaadalah : 11)

Maka dengan ilmu Ma’rifah, Iman, Islam, Tauhid/tawakkal dan Nuur diatas Nuur itulah Rasullullah saw., diperjalankan untuk menemui Tuhannya untuk menelusuri rahasia-rahasia Ketuhanan.
Jika ruh/jiwa diturunkan melalui Masjidil Aqsa di Jerussalem barulah ditiupkan kerahim ibu untuk meliputi seluruh tubuh, dan ilmu segenap manusia diturunkan melalui Masjidil Haram di Makkah. Dan ilmu serta hikmah itu meliputi pula pada hati/qalbi manusia, maka turunnya tubuh/jasad kealam rahim adalah melalui bumi dimana ibu dan bapak mencari makan, sari makanan itulah yang akan menjadi bibit manusia yang bernama Ajbul Janab (bibit dosa) sebagai ke-aku-an lembaga Adam yang tersimpan pada tulang sulbi si ayah dan dada/dokoh si ibu.

5.    Tanzizi Muqaddar
Tanzizi Muqaddar ini adalah alam dunia yang sekarang sedang kita tempati ini yang kelak akan binasa setelah tibanya hari kiamat, karena Allah menjadikannya dengan ketentuan yang telah ditetapkan; tetapi bila masanya -seorangpun tidak diberi pengetahuan tentang itu- hanya tanda-tandanya telah banyak ditemui, misalnya: lebih banyak perempuan daripada kaum lelaki, perempuan meniru lelaki dan lelaki meniru perempuan, buah-buahan telah berkurang wanginya; apabila fitnah telah merajalela, orang-orang gunung yang berlomba-lomba membangun rumah bertingkat, ilmu yang kurang berkahnya, para budak melahirkan tuannya, para Úlama menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah yang ditukarkannya dengan dunia yang sedikit, dan banyak lagi tanda-tanda yang lain bagi orang yang mau berfikir kearah itu.
Yang mula-mula turun kealam planet bumi ini adalah nenek sekalian manusia Siti Hawa yang turun disebelah barat Jazirah Arab dan Adam a.s. turun di timur negeri India, demikian menurut ahli-ahli sejarah, maka ini menjadi suatu ikhtibar, bahwa pengaruh bangsa-bangsa baratlah yang berkuasa atas bangsa-bangsa timur dan ini telah dibuktikan oleh sejarah; sedangkan pada awalnya ilmu pengetahuan itu adalah datangnya dari timur terutama setelah ilmu Islam dan kebudayaannya tumbuh dan berkembang menguasai dunia Eropa, tetapi akibat kelalaian umat Islam, timurlah yang terjajah oleh kebudayaan barat sampai saat ini.
Kepada anak keturunan Adam, dari kandil muallaq melalui Masjidil Aqsa adalah ruh dan melalui Masjidil Haram adalah ilmu dan melalui bumi dimana ibu dan bapak mencari nafkah hidup; maka ketiga unsur itu diturunkan Allah melalui rahim-Nya yang disandarkan pada rahim ibu, maka itulah “Rabithah” manusia untuk hadir kemuka bumi ini sesuai dengan ketentuannya masing-masing; terjadilah masa, ada terdahulu dan ada terkemudian, sedangkan pada ajalinya adalah sama tuanya, karena sekali “kun”.
Ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dialam Luh sana itulah yang dibawa oleh nasibnya masing-masing yang digoreskan dengan tulisan yang maha lathief alamul qalbi/hati yang menjadi rajanya setiap manusia, dimana rakyatnya adalab ruh/jiwa dan kerajaannya adalah tubuh/jasad masing-masing; itulah sebabnya Rasulullah saw. ada bersabda :
“Ketahuilah bahwa dalam tubuh itu ada sepotong daging. Jika sepotong daging itu baik, maka akan baiklah tubuh itu seluruhnya; jika sepotong daging itu buruk, maka akan buruklah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah hal itu adalah qalbi”
(H.R. Bukhari dan Muslim)

AIam kandungan ibu ini adalah “AIam Misal”, karena rahim ibu itu adalah petaruh (amanah) Allah sebagai pengganti rahim-Nya dimuka bumi. Itulah sebabnya maka dibawah telapak kaki ibu yang beriman kepada Allah dan mendidik anak-anaknya sesuai dengan kehendak Allah, akan menjadi surga. Dan bila si ibu sampai meninggal dunia dalam melahirkan bayinya, maka dihitung kematian itu sebagai mati syahid-kecil.
Alam ini (kandungan) disebut juga “Alam Asma”, karena alam rahim ibu itu adalah alam atas nama Allah, hanya saja disandarkan kepada rahim ibu yang mengandung sihamba Allah.
Ketika ruh/jiwa masih berada dialam Tanzizi Muhaddits (kandil muallaq), ruh/jiwa itu masih kasyaf (dapat melihat alam ghaib), tetapi setelah berada didalam kandungan ibu, sedikit demi sedikit kasyaf itu mulai hilang, apalagi setelah dilahirkan kealam nyata, hilang lenyaplah pandangan ghaib itu berganti dengan pandangan terhadap alam kasar yang terdiri dari alam kebendaan yang ada ini dan alam kasar inilah yang menutup pandangan terhadap alamul ghaib yang mesti dibuka kembali sebelum mati, karena firman Allah yang berarti :
“Dan barangsiapa buta (buta hatinya didunia) ini, akan buta (pula) diakhirat dan terlebih sesat (lagi) dari jalan (yang benar)”
(Q.S. Bani Israil : 72)

Dengan ayat tersebut adalah merupakan suatu argumentasi bagi manusia yang beriman kepada Allah dan hari kemudian untuk membuka jalannya kembali kepada Allah setelah mengembara didunia fana ini, karena ia datang melalui rahim Allah yang rabithahnya adalah rahim ibu dalam keadaan suci sampai akil-baligh. Maka seharusnya juga ia kembali kepada Tuhannya dalam keadaan suci melalui rahim Allah dengan melalui rabithah orang-orang yang telah disucikan Allah pula, yakni para ahli-dzikir yang diridhai oleh Allah dan itulah maka Allah mengangkat para ahli-dzikir itu sebagai tempat bertanya, sebagaimana firman-Nya yang berarti :
“Bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui sesuatu (perkara)”
(Q.S. An Nahl : 43)

mereka itulah orang-orang yang berjalan dijalan yang lurus, sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Dan bahwasannya; jikalau mereka tetap berjalan dijalan yang lurus (Thariqat), pasti kami memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang melimpah)”
(Q.S. AI Jin : 16)

Alam kandungan ini adalah juga disebut alam Kursiy, yaitu alam petaruh ilmu Allah yang digoreskan didalam qalbu sebagai hati nurani manusia dan bila hati itu suci dari kotoran cinta dunia, ia akan menjadi rumah Allah, yakni tempat/wadah ilmu dan hikmah yang dikurniakan Allah baginya dan mereka yang hatinya suci itulah petaruh kerajaan Allah dimuka bumi; sedangkan dilangit adalah para malaikat, sebagaimana firman Allah dalam ayatul kursiy :
“…Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah yang dilangit dan dibumi. Siapakah yang dapat memberi syafaát disisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka. Sedang mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Kursiy (wadah ilmu) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tiada merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”
(Q.S. Al Baqarah : 255)

Dan mengenai ketinggian hati-nurani (sebagai akhir Muhammad), Allah berfirman dalam Hadits Qudsiy yang artinya :
“Sesangguhnya langit dan bumi tidak berdaya menjangkau-Ku, namun Aku telah dijangkau oleh hati seorang mu’min”
(H.Q. Riwayat Ahmad dari Wahab bin Munabbih)

Alam Asma’-Allah ini mengandung kalimah Tauhid “Illa” yang mempunyai sifat: Qadirun (yang maha kuasa), Muridun (yang maha berkehendak), Hayyun (yang maha hidup) dan Alimun (yang maha mengetahui). Empat sifat Allah itulah yang diamanahkan Allah untuk menjadi petaruh ilmu-Nya yang disebut Kursiy dan hati itu tidak pernah tidur daripada memompakan darah keseluruh tubuh, walaupun tubuh itu tidur dan mengantuk namun hati nurani itu tetap terus menyebut Asma’-Allah (itsmu-Dzat) : Allah..Allah..Allah.. ±70 kali permenitnya. Tetapi manusia banyak lalai dan lupa untuk memeriksa dirinya yang patut dikasihinya melebihi alam luar dirinya itu; tetapi karena telah ketentuan kebanyakan diantara pemilik hati, akibatnya mereka lalai dan lupa.
Selanjutnya kita lihat kenyataan yang berlaku atas tiap-tiap kenyataan manusia yang ditinjau dari iman atau kufurnya, berdasarkan janji ketentuan ruh yang menjawab pertanyaan Allah dihari penentuan janji ruh itu dengan tabel jawaban yang lalu, adalah sebagai berikut :
Ket : yang menjawab dengan tanda (+) dan yang tidak menjawab dengan tanda (-)
  1. (+) – (+) – (+), artinya : manusia itu akan lahir kedunia ini dari seorang Islam, hidupnya dalam Islam, kelak berpulangnya tetap dalam Islam. Karena tiga kali dia menjawab pertanyaan Allah dengan Bala.
  2. (-) – (+) – (+), artinya : manusia itu bukan lahir dari keluarga Muslim, tetapi setelah akil baligh dengan berbagai sebab dia menjadi Muslim dan kelak matinya dalam Islam pula.
  3. (-) – (-) – (+), artinya: manusia itu dilahirkan bukan dari keluarga Muslim dan saat dewasanya dan pergaulannya bukan juga Muslim, namun dekat pada akhir kalamnya memasuki Islam dan setelah lslamnya itu iapun meninggal dalam Islam.
  4. (+) – (-) – (+), artinya : manusia itu dilahirkan dari keluarga Muslim, tetapi sepanjang masa mudanya ia menjadi kafir, tidak tahu sedikipun tentang agama. Namun setelah tua ia bertaubat nashuha dan akhirnya mati dalam Islam.
  5. (-) – (-) – (-), artinya : seseorang itu lahir dari keluarga kafir hidupnya dalam kafir kemudian matinya dalam kafir pula.
  6. (+) – (-) – (-), artinya : dia lahir dari keluarga Muslim, selama hidupnya ia tidak mengenal agamanya hingga kafir namun dia tidak bertaubat dan akhirnya ia mati dalam kekafirannya.
  7. (+) – (+) – (-), artinya : ia lahir dari keluarga Muslim, hidupnya dalam lingkungan Muslim yang taat, namun dengan sebab-sebab ia mencintai dunia hingga ia menjadi pendusta akhirnya matinya dalam kafir.
  8. (-) – (+) – (-), artinya : ia lahir dari keluarga kafir, namun masa mudanya ia masuk Islam, misal dengan sebab ia menikah dengan seorang Muslim untuk beberapa lama. Namun dengan sebab lain ia kembali pada agamanya yang dulu kafir akhirnya ia mati dalam kafir juga.

Dari derajat yang delapan tersebut dapat dilihat ke-Maha Adil-lan Allah; empat diantara manusia itu yang mati didalam Islam, dan empat derajat pula yang mati didalam kekafiran.
Bagi manusia yang telah mendahului menemui ajalnya, dapat dilihat kematian manusia ini apakah mati didalam Islam ataupun didalam kafir. Tetapi bagi yang masih hidup, terutama diri kita masing-masing, apakah ruh kita dahulu menjawab dengan bala atau tidak, yang menentukan matinya dalam Islam atau kafir, tentu sekarang ini kita tidak tahu, hanya tunggu saja kedatangan maut kita nanti. Karena disanalah jatuhnya qadha dan qadar itu; mudah-mudahan pada waktu ketiga pertanyaan Allah itu, ruh/jiwa kita dahulu ada menjawab : bala!
Oleh karena kita belum diberi pengetahuan tentang itu; maka bagi yang ditentukan kepada ruh/jiwa suatu kesadaran, Allah akan menurunkan sebab-sebab dengan amal yang shaleh, berusaha dan berikhtiar mencari jalan kembali kepada-Nya sebelum maut itu dengan tiba-tiba saja datang yang tidak dapat dimajukan atau dimundurkan walau satu saat saja.

Alam masa kelima atau Alam Tanzizi Muqaddar (dunia) inilah yang dikatakan alam Tubuh Kasar bagi manusia dan bagi zahir Muhammad disebut alam Insani. Dan disinilah yang dikatakan Ma’fuz itu (alam kasar), yakni derajat Afál (ciptaan yang nyata) daripada Allah yang mengandung kalimah Tauhid: “Allah” yang bersifat: Qadrat (kuasa), Iradat (kehendak), Ilmu (mengetahui), Hayat (hidup) dan Wahdaniyah (tempat memandang sifat ke-Esa-an Allah pada segenap alam (semesta) yang tiada bilangan bagi-Nya) itulah arti Maha Esa.
Oleh sebab itu gunakanlah kehidupan ini untuk merintis dan membuka jalan kembali
kepada Allah dengan segala sifat rahim-Nya, apakah dengan harta yang ada maupun dengan jiwa kita sendiri untuk tidak menyesal apabila memasuki masa keenam yang telah berada diambang pintu kehidupan setiap insan.
Kita datang/diturunkan kealam dunia ini dengan perantaraan rabithah ibu, maka cari pulalah rabithah untuk kembali kepada-Nya karena bagi setiap orang, alam ghaib itu masih gelap dan tertutup, bahkan diri kita yang sebenarnya pun yang paling akrab/dekat kepada kita belum kita lihat dan kita kenal, apalagi untuk mengenal Allah. Sedangkan Allah itu bersama kamu dimana saja kamu berada, terlebih hampir dari pada urat kuduk, tetapi belum kita kenal. Bagaimana hendak berjalan sendiri kepada yang belum dikenal. Sedangkan dalam perjalanan ghaib itu banyak sekali aral melintang, onak dan duri yang dipasang oleh Iblis dan syetan-syetan ghaib jalanan dan banyak pula rambu-rambu lalu lintas alam ghaib yang belum diketahui. Maka untuk itu sangat diperlukan seseorang penuntun dalam menempuh perjalanan Allah semasih dialam dunia ini supaya tidak menemui kesesatan kelak.
Alam Asma’ inilah alam pertemuan, sebab apa yang ditemui didalam qalbi manusia itu, itulah yang akan dibawanya kembali kepada Allah. Apabila baik yang ditemui, maka yang baik itulah yang akan menjadi bahagiannya dan apabila ditemui itu buruk, maka yang buruk itulah yang akan dihadapkannya kepada Allah. Maka celakalah dirinya dinegeri yang kekal itu.

6.        Masa Alam Barzah
Masa keenam ini adalah masa terakhir buat seorang manusia dalam hidup didunia dengan melalui pintu maut sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasai mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka ia sungguh telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah sandiwara”
(Q.S. Ali Imraan : 185)

dan lagi firman Allah yang berarti :
“Semua yang ada dibumi itu akan fana (binasa)”
“Dan akan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai wajah yang berkebesaran dan berkemuliaan”
(Q.S. Ar Rahman : 26-27)

Oleh karena bumi ini dan segala isinya akan binasa, maka marilah menuju kepada tempat yang kekal disisi Allah dengan memperbuat perjalanan kepada-Nya dengan tiga ilmu yang wajib bagi setiap orang yang telah berakal-baligh, yaitu: Syariát-Fiqh sebagai tempat berhukum, Thareqat-Tashauf sebagai tempat beramal dan Hakekat-Tauhid sebagai tempat berpegang; serasi, selaras dan seimbang antara ketiganya, maka itulah jalan untuk menempuh dan mendapatkan ilmu Ma’rifah-Hikmah.
Sebelum sampai pada masa yang keenam ini (alam barzah), marilah kita menggoncangkan bumi hati ini dengan Dzikrullah supaya keluar semua penyakit hati yang dikandungnya seperti takabur, sombong, tamak, loba dan serakah, hasad dan dengki, nafsu Iblis, syetan penggoda, hawa nafsu, cinta dunia, angan-angan kosong, pemalas, lalai dan lupa; bila semua penyakit hati itu sembuh dengan siraman Asma’-Allah melalui dzikrullah, maka akan terbitlah dari bumi hati itu sifat-sifat: ikhlas, rendah hati, pemurah, penyantun, iman, Islam, ma’rifah, tauhid, Nuur petunjuk, rajin beramal dan bekerja, ridha dan tawakkal, ingat.
Ketahuilah bahwa yang sesungguhnya yang akan diperhitungkan oleh Allah kelak terhadap hamba-hamba-Nya dihari berbangkit adalah dalam keadaan apa yang terkandung didalam hati manusia itu yang akan dibangkitkan. Maka dalam keadaan itu pulalah ia akan dibangkitkan dan dalam keadaan itu jugalah ia akan menerima balasan.
Oleh karena itulah Rasulullah ada menyatakan yang artinya :
“Sesungguhnya setiap sesuatu ada alat penyucinya. Sesungguhnya alat penyuci hati adalah Dzikrullah.”

Pada hakekat yang sebenarnya, hati-qalbi manusia itu tidak lain daripada ruhani Muhammad yang terbit dari Asma’-Allah yang diturunkan Raf-raf Allah, yakni pembendaharaan ilmu dan hikmah Allah SWT. Dan Raf-raf-Nya yang berdiri kepada Dzat- Nya Yang Maha Lathief, sehingga ilmu hikmah itulah yang menjadi mu’jizat para Rasul dan Nabi, kiramah para Wali, alat raja-raja yang adil dan maúnah manusia biasa yang berserah diri kepada Allah dengan hati yang ikhlas karena-Nya.
Bila alam semesta ini diperkecil, maka itulah planet bumi ini dimana jantungnya adalah Ka’batullah di Masjidil Haram, sedangkan paru-parunya tempat bernafas adalah Masjidil Aqsa tempat turunnya seluruh jiwa. Bila bumi ini diperkecil lagi, itulah manusia. Seluruh tubuhnya, itulah seumpama bumi ini, hati/jantungnya itulah seumpama Ka’bah dan paru-paru tempat bernafas itulah seumpama Masjidil Aqsa. Masjid Nabawi dikota Madinah adalah seumpama rahim Allah yang disandarkan pada rahim ibu sebagai rabithah seluruh manusia turun kebumi; sehingga Rasul menyatakan bahwa seutama-utama masjid dimuka bumi ini adalah Masjidil Haram dikota Makkatul Mukarramah, kedua adalah Masjidil Aqsa di Jerusallem dan ketiga Masjidil Nabawi di Madinatul Munawarrah, itulah hikmah ketiga masjid tersebut jika kita mempercayai adanya suatu hikmah yang dijadikan Allah dibalik setiap alam bendanya atau metafisiknya.
Dengan hikmah itu jelaslah bahwa hati hamba yang mu’min itu adalah menjadi masjid
mini (masjid kecil, yakni rumah kecil) Allah; dimana maksudnya hati hamba-Nya yang mu’min itu adalah tempat mengingati Allah setiap waktu, dalam keadaan berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring, kendatipun tidak melalaikan hal kehidupan dunianya sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan (langit dan bumi) ini dengan sia-sia (percuma), Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”
(Q.S. Ali Imraan : 191)

Pada ayat tersebut dinyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi ini tidak sia-sia (percuma), karena itulah setiap sesuatu yang ada fisiknya, pasti mengandung hikmah petaruh (amanah) Allah bagi orang yang diberi ilmu hikmah untuk membacanya.
Orang yang dapat membaca hikmah setiap sesuatu yang dijadikan oleh Allah adalah para ahli Dzikir dalam keadaan dan situasi bagaimanapun, namun hatinya tetap kepada Allah selain tetap mendirikan rukun Islam yang wajib dan yang sunat; bukan hanya “iling” sebagai aliran kepercayaan yang tidak bersyariát dan tidak berhakikat itu (tidak bertubuh dan tidak bernyawa). Setelah selesai dzikir, timbullah fikir tentang segala apa yang ada dilangit dan yang dibumi, sedangkan fikirnya itu bukanlah fikirannya sendiri; tetapi Allah yang memberikan fikiran itu dengan menunjukinya kepada membaca semesta alam ini, inilah yang menyebabkan (Inna kulli syaiín sababa) para ahli-dzikir itulah sebagai tempat bertanya tentang sesuatu hal yang tidak diketahui oleh manusia, karena mereka itu adalah sebagai petaruh (amanah) Allah dimuka bumi.
Dan lagi sesungguhnya seorang laki-laki itu disisi Allah adalah :
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati/qalbi dan penglihatan menjadi goncang”
(Q.S. An Nuur : 37)

Dari ayat tersebut dapat diperhatikan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah, bahwa laki-laki adalah orang-orang yang tidak lalai dari mengingat Allah walaupun dalam berniaga dan jual-beli, dimana maksud berniaga dan jual-beli ini adalah meliputi segala profesi dalam mencari kehidupan duniawi yang ditujukan untuk kehidupan ukhrawi, bukan untuk dunia semata, dan bukan lagi amalan yang nawafil saja; tetapi adalah mendirikan shalat dan membayar zakat. Dari membayar zakat ini dapat disimpulkan, bahwa zakat adalah diwajibkan bagi orang yang mempunyai harta dengan qadar-qadar tertentu barulah diwajibkan atasnya; maka dengan inilah umat Islam perlu dengan kekayaan dunia; tetapi kekayaan yang sebagiannya digunakan untuk jalan Allah, bukan untuk ditumpuk sampai tujuh turunan dan pamer dengan kekayaannya itu diatas penderitaan orang lain.
Kalau lelaki itu hanya mencari harta namun tidak teringat kepada Allah, pada hakikatnya adalah perempuan atau lebih dibawahnya lagi. Karena perempuanlah pakaian dan perhiasan bagi laki-laki, sedangkan pakaian dan perhiasan perempuan itu adalah emas dan perak. Maka apabila ia (laki-kaki) telah mengejar emas dan perak dan perhiasan dunia lainnya, berarti ia telah diperbudak perhiasannya sendiri yakni nafsu (diri)nya itu telah diperbudak dan dikungkung oleh pengaruh (hawa) keduniawian yang melupakan bagian akhiratnya, sehingga ia tidak ingat pada suatu hari, dimana hari itu tergoncanglah hati/qalbi dan penglihatan.
Carilah dunia itu untuk digunakan kepada akhirat, apakah itu merupakan kekayaan, pangkat dan kedudukan atau pengaruh; tetapi jangan sampai kesemuanya itu menjadi kecintaan yang tersimpan didalam hati, karena segala alam kebendaan yang tersimpan didalam hati itulah yang akan menjadi makanan api dihari berbangkit. Jika didalam hati itu hanya ada Nuur Kalimah Asma’-Allah, tentulah tidak akan ada yang dibakar, berarti tidak memasuki neraka yang terdiri dari api dan bahan bakarnya adalah kotoran dunia yang disimpan didalam hati.

Dunia ini adalah kotoran Iblis jika tidak dicuci dengan dzikrullah setiap waktu.
Sebagai bukti bahwa dunia ini adalah kotoran, misalnya; jika seseorang selesai makan, pastilah ia mencuci tangan dan mengusap mulutnya dengan serbet, padahal makanan yang dimasukkan kedalam mulut itu adalah bersih. Setiap saat lantai rumahnya walaupun tegelnya dari batu gek, tetap harus disapu, demikian juga pakaian yang dipakai harus dicuci kendatipun hanya dipakai dirumah saja. Bangun tidur harus mandi, sekurang-kurangnya mencuci muka barulah ia keruang makan dan ketika hendak makan, ia masih juga mencuci tangannya, walaupun tangannya bersih.
Semua itu adalah kebersihan yang bersifat lahiriyah yang menunjukkan kotornya dunia ini, tetapi apakah Allah akan menerimanya (hati) dengan membawa kotoran dunia dengan sekalian debu-debunya, sedangkan Allah itu Maha Suci?

Wahai umat, dunia ini telah hampir menjelang Maghrib, mandilah untuk membersihkan kotoran dan debu-debu dunia yang melekat pada qalbi itu; dengarkanlah seruan ádzan dan panggilan iqamah, karena lahir dahulunya di ádzankan (anak laki-laki) atau dengan di iqamatkan (anak perempuan). Maka kembalinya kepada Allah juga haruslah dengan kesucian dan kemenangan melawan pengaruh dunia yang fana ini.
Goncangkanlah hati itu dengan dzikrullah, jangan turut bisikan Iblis yang menyatakan bahwa Thareqat-Dzikrullah itu tidak terdapat didalam Islam; thareqat itu adalah aliran kepercayaan dari umat Hindu, rabithah itu syirik dan bidáh; kita hanya boleh langsung kepada Allah dan mengikuti Nabi itu adalah setelah ia dirasulkan; semua itu adalah bisikan Iblis yang bersarang didalam hati yang tidak pernah disucikan dengan dzikrullah. Jika hanya mengikuti Rasul itu menurut yang lahiriyahnya saja, mengapa kita tidak tunggu saja ketika kita berumur empat puluh tahun baru menjadi Muslim?
Apakah Isra’ dan Mi’raj itu bukan suatu contoh teladan kesucian dan keimanan? Yang pada tahap tertentu menyertakan rabithah Jibril, tetapi setelah sampai diperbatasan yang qadim dengan yang baharu (sidratul munthaha), maka tinggallah sekalian rabithah/penuntun, langsung berhadapan dengan Allah SWT, untuk menerima ilmu dan hikmah yang mana yang pantas buat kita sesuai dengan pandangan Allah sendiri; maka dimaqam (kedudukan) inilah ia diwisuda oleh Allah dengan terbukanya beberapa rahasia diantara rahasia-rahasia Allah dan beberapa hukum diantara hukum-hukum Allah kepada orang-orang yang melaksanakan perjalanan kerohanian dengan khasiat kenabian dan itulah yang disebut dengan bathinnya Muhammad, yakni Rabbani.

Mengenai Rabbani ini Allah berfirman :
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena selalu mengajarkan AI kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”
(Q.S. Ali Imraan : 79)

Hanya dengan dzikrullah itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dapat sampai kepada kedudukan manusia-rabbani dengan menggoncangkan bumi hatinya dengan kalimatul haq: Laa Ilaaha Illa Allah ataupun Allah..Allah.., supaya keluar isi hati yang mengandung kotoran dunia yang sangat berat menjadi beban akhirat nantinya. Jangan tunggu goncangan terakhir sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Apabila bumi digancangkan dengan goncangan (yang dasyat)”
“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya”
“Dan manusia bertanya: Mengapa bumi (jadi begini)?”
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya”
“Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya”
“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-mecam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka”
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikkan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”
(Q.S. Al Zalzalah : 1-8)

Apabila telah sampai pada masa keenam yakni hari kiamat yang tersebut pada Surat Al Zalzalah itu, tidak ada lagi gunanya segala penyesalan, semua berbangkit dari kuburnya masing-masing dalam keadaan apa ia dimatikan dahulunya sebagai beban-beban berat yang ditanggung oleh bumi selama ini.
Barulah manusia bertanya pada hari itu: “Mengapa bumi menjadi begini?”, bumi menceritakan beritanya pada hari itu kepada seluruh manusia, bahwa dia (bumi) jadi begitu, yakni menjadi kering dan membara disebabkan segala unsur untuk kehidupan yang dahulunya begitu banyak dan melimpah ruah, kini sebutir nasipun tak ada, gunung-gunung telah rata, air lautan telah kering setitik airpun tiada, rumput sehelaipun telah lenyap, udara nembakar kulit dan daging; seluruh manusia dalam keadaan telanjang dan rupa manusia telah berubah dengan rupa dan bentuk ketika dia dimatikan; ada yang serupa binatang ternak dan ada yang serupa binatang liar, baik yang halal maupun yang haram; ada yang bermuka putih bagi yang masih ada setetes iman yang dibawanya ketika dimatikan, tetapi kebanyakan bermuka hitam lagi kotor, menurut isi hatinya masing-masing.
Dibumi itu hanya tumbuh sejenis pohon yang bemarna Zaqqum yang rasanya lebih pahit daripada empedu, air segar setitikpun tak berbekas, melainkan air panas yang mendidih ribuan derajat yang terlebih bahaya dari air keras; itulah makanan dan minuman ahli neraka setelah lepas dari hari bertimbang; sedangkan para ahli surga berada dipintu-pintu surga menunggu selesai perhitungan orang-orang yang berdosa, dan barulah mereka masuk kedalamnya setelah terlebih dahulu diberkati oleh Rasulullah saw., sebagai rahmat sekalian alam, termasuk alam surga yang masih ghaib itu bagi manusia yang hidup didunia ini.

Bumi sekira-kira bersabda: “Wahai manusia, berapa banyaknya dahulu Rasul dan Nabi-Nabi yang mengajak kamu kejalan Allah dan supaya kamu jangan mencintai aku dari segala kenikmatan yang kukandung dalam perut dan kulitku serta yang didalam lautku, tetapi kamu tidak perduli, kamu terpedaya oleh bisikan lblis yang telah menggoda datuk dan nenekmu  Adam dan Hawa sehingga kamu tercampak kepadaku; seluruh kenikmatan itu telah Allah kembalikan kepada pembendaharaan harta-Nya ke Baitil Ma’mur; maka sekarang yang ada hanyalah pohon Zaqqum yang pahit dan air mendidih yang membakar perutmu, itulah yang ada padaku kini dan itulah akibat cintamu kepada dunia. Maka sekarang ini rasakanlah olehmu betapa sengsaramu. Dahulu engkau wahai manusia mencintai aku sampai ajalmu tiba, maka inilah aku apa adanya, nikmatilah segala kejahatan duniamu yang dahulu dengan azab yang ada ini dan aku bersyukur kepada Tuhanku yang menjadikan kamu dan menjadikan aku karena kamu tetap setia mencintai aku, maka kekallah cintamu kepadaku sehingga tetaplah ramai kulitku dengan kamu, dan jeritanmu yang sekarang adalah dendang-dendang musik duniamu dahulu; gerak kepanasanmu karena terbakar, itulah tarian-tarian perangsang nafsumu dahulu, harta kekayaanmu itulah kayu bakar untuk membakarmu, tipu dayamu itulah minuman yang mendidih bagimu, kepura-puraanmu dengan rayuan yang manis-manis untuk menipu manusia dengan kepentingan pribadimu, itulah buah zaqqum yang pahit yang menjadi makananmu, pangkat dan kedudukanmu yang tidak engkau gunakan pengaruhnya untuk membawa manusia kejalan Tuhanmu, itulah derajat dirimu dalam neraka; pakaianmu yang indah-indah dan mahal harganya yang tidak kau pakai untuk mengabdi kepada Allah, itulah binatang-binatang api yang buas yang melilit dan menggigit tubuhmu, kata-katamu yang bohong itulah yang menjadi gunting lidahmu, riba yang engkau makan dahulu, itulah darah-darah busuk yang menjadi air mandimu yang membakar kulit dan rambutmu, amanah penderitaan rakyat yang engkau khianati, itulah beban-beban berat yang engkau pikul sekarang; perzinahan yang engkau lakukan dan engkau izinkan, itulah daging-daging busuk dan berulat yang menjadi isi perutmu, umpat dan caci maki sesama muslim dahulu didunia, itulah daging mayat saudaramu sebagai makanan tambahan bagimu, shalat yang tidak engkau dirikan padahal engkau mengaku Muslim, itulah seumpama kotoran anjing sebagai makanan ringanmu disini, kedurhakaanmu kepada kedua orang tuamu, itulah batu-batu yang menimpa kepalamu hingga pecah-pecah tetapi bersatu kembali supaya engkau kekal menerima segala siksa”.

Pendeknya, segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia itu dalam kejahatannya, diungkap kembali oleh bumi yang telah diproses oleh Allah menjadi bumi neraka sewaktu kiamat; dimana bumi, bulan, venus dan merkurius bersatu dan berfungsi menjadi bumi neraka;  sedangkan planet-planet diatas orbit bumi dan seluruh jalurnya diproses oleh Allah menjadi bumi surga dan pembendaharaannya adalah Baitil Ma’mur dengan delapan tingkatannya itu.
Renungkanlah wahai umat, fikirkanlah kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara saja dan akhirat itulah yang kekal. Oleh karena kekekalan itu dari dua pihak, maka gunakanlah akal sebagai kurnia Allah yang paling mulia untuk berfikir, kemanakah akhirnya hidup ini, kepada kekekalan yang berada dipihak nikmatkah? Atau kekekalan dipihak ázab? Karena keduanya adalah sama-sama kebesaran Allah untuk melihat kasih sayang-Nya dan melihat kemurkaan-Nya.
Berbahagialah orang yang dikaruniakan nikmat yang berkekalan dan merugilah orang yang diberi ázab yang kekal.
Alam Nadzarullah

Wallahu Alam Bishshawab.


Moga Bermanfaat.

.........................................................

No comments: