اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
Sifat 20
Sifat 20
Bismillahirrahmanirrahim
Sifat-sifat Allah yang 20
Adapun sifat-sifat Allah yang wajib diketahui oleh orang yang Mukhallaf, yakni orang yang telah akil baligh (akil = telah dapat membedakan antara baik buruk; baligh = kepada tubuhnya yang telah berfungsi dalam hal kelamin, baik laki-laki maupun perempuan), yaitu:1. WUJUD artinya “Ada”
“Allah sesungguhnya menciptakan (mengadakan) langit dan bumi serta isi diantara keduanya”.
2. QIDAM artinya “Sedia = tiada berpemulaan”
“Dialah (menciptakan) yang awal dan yang akhir”
3. BAQA’ artinya “Kekal = tiada berkesudahan”
“Dan kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan (Kesempurnaan)”.
4. MUKHALIFATAHU LIL HAWADITS artinya “Bersalah-salahan Allah Taála dengan sekalian alam atau tiada umpama bagi-Nya”
“Tiada umpama bagi-Nya pada tiap-tiap sesuatu”
5. QIYAMUHU TAÁLA BINAFSIH artinya “Berdiri Allah Taála dengan sendiri-Nya”
“Sesungguhnya Maha Kaya Allah dari sekalian alam”.
6. WAHDANIYAH artinya “Esa-Dzat, Esa-Sifat, Esa-Asma’ dan Esa-Afál”
“Katakanlah (Hai Muhammad) bahwa Dialah Allah Yang Maha Esa”.
7. QADRAT artinya “Kuasa”
“Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa”.
8. IRADAT artinya “Berkehendak, Menentukan”
“Berbuat Allah sekendak-Nya”
9. ÍLMU artinya “Mengetahui”
Dan Allah Pada tiap-tiap sesuatu Maha Mengetahui”
10. HAYAT artinya “Hidup”
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang menghidupkan (Maha Hidup) dan tidak mati”
11. SAMA’ artinya “Mendengar”
“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
12. BASHAR artinya “Melihat”
“Dan Allah Maha Melihat apa-apa yang diperbuat”
13. KALAM artinya “Berkata-kata”
“Berkata-kata Allah dengan Musa dengan sempurna Kata”
14. QADIRUN artinya “Yang (Maha) Kuasa”
15. MURIDUN artinya “Yang (Maha) Berkehendak, Yang (Maha) Menentukan”
16. ÁLIMUN artinya “Yang (Maha) Mengetahui”
17. HAYYUN artinya “Yang (Maha) Hidup”
18. SAMIÚN artinya “Yang (Maha) Mendengar”
19. BASHIRUN artinya “Yang (Maha) Melihat”
20. MUTAKALLIMUN artinya “Yang (Maha) Berkata-kata”
=================================================================
Pembagian “Sifat 20” menurut Fungsi dan TugasnyaSifat itu adalah sebagai berikut:
I. Sifat NAFSIYAH
Artinya: Hal yang wajib bagi Dzat (diri sebenar diri), selama Dzat bersifat Wujud yang tiada dikarenakan oleh sesuatu karena yang lain, melainkan Dzat itulah yang menyebabkan sesuatu itu ada. Sifat Nafsiyah hanya 1 (satu), yaitu “Wujud (Ada)”
II. Sifat SALBIYAH
Artinya: Menolak segala sifat yang berlawanan bagi sifat Allah. Sifat ini ada 5 (lima), yaitu:
- Qidam (sedia, tiada berpermulaan),
- Baqa’ (kekal, tiada berkesudahan),
- Mukhalifatahu Lil Hawadits (tiada berumpamaan),
- Qiyamuhu Taála Binafsih (berdiri dengan sendiri-Nya),
- Wahdaniyah (Esa-Dzat, Esa-Sifat, Esa-Asma dan Esa-Afál).
III. Sifat MAÁNI
Artinya: Tiap-tiap sifat yang Maujud (nyata zahir adanya) yang berdiri kepada Dzat yang Maujud yang mewajibkan Dzat bersifat suatu hukum, yaitu sifat Ma’nawiyah.
Yang termasuk sifat Maáni ini ada 7 (tujuh) sifat, yaitu:
- Qadrat (Kuasa),
- Iradat (berkehendak, menentukan),
- Ílmu (mengetahui),
- Hayat (hidup),
- Sama’ (mendengar),
- Bashar (melihat),
- Kalam (berkata-kata).
IV. Sifat MA’NAWIYAH
Artinya: Hal yang Tsabit (tetap) bagi Dzat yang menzahirkan sifat Maáni, sehingga antara sifat Maáni dengan Ma’nawiyah berlaziman (sempurna menyempurnakan). Maka nyta adanya selururh sifat (kelakuan) Allah itu pada Wahdaniyah (ke Maha Esa an) pada segenap alam se,esta. Karena sifat Wujud-Nya yang Qadim, Baqa, Mukhalifatahu Lil Hawadits dan Qiyamuhu Taála Binafsih. Yang termasuk Sifat Ma’nawiyah inipun ada 7 (tujuh), yaitu:
- Qadirun (yang Maha Kuasa),
- Muridun (yang Maha Berkehendak atau yang Maha Menentukan),
- Álimun (yang Maha Mengetahui),
- Hayyun (yang Maha Hidup),
- Samiún (yang Maha Mendengar),
- Bashirun (yagn Maha Melihat),
- Mutakallimun (yang Maha Berkata-kata).
================================================================
I. Derajat DZAT-Allah
Dzat artinya “Diri Sebenar diri yang tidak rusak (binasa)”. Termasuk kedalam Sifat Dzat ini ada 5 (lima) pembagian Sifat 20 menurut Fungsi dan Tugas sifat itu, yaitu:
- Wujud,
- Qidam,
- Baqa,
- Mukhalifatahu Lil Hawadits,
- Qiyamuhu Taála Binafsih.
II. Derajat SIFAT-Allah
Sifat artinya “Kelakuan yang menerbitkan perbuatan”. Termasuk kepada kelakuan ini ada 6 (enam) sifat, yaitu:
- Sama’
- Bashar,
- Kalam,
- Samiún,
- Bashirun.
- Mutakallimun.
III.Derajat ASMA’-Allah
Asma’ artinya “Nama”. Dari Dzat menerbitakan Sifat, Sifat menerbitkan Asma’ dan Asma’ menerbitkan Afál (perbuatan). Termasuk Asma’-Allah ini ada 4 (empat) sifat, yaitu:
- Hayyun,
- Álimun,
- Qadirun,
- Muridun.
IV. Derajat AFÁL-Allah
Afál artinya “Perbuatan yang senyata-nyatanya”. Seperti berjalan, bekerja, makan, minum dan lainnya. Termasuk kedalam derajat Afál ini ada 5 (lima) sifat, yaitu:
- Hayat,
- Ílmu,
- Qadrat,
- Iradat,
- Wahdaniyah (Mata memandang akan ke-Maha Esa-an Allah Subhanahu wa Taála pada segenap alam semesta).
Suatu KESIMPULAN
- Derajat Dzat-Allah yang mengandung 5 (lima) sifat tersebut terhimpun kedalam kalimah: “LAA”,
- Derajat Sifat-Allah yang mengandung 6 (enam) sifat tersebut terhimpun kedalam kalimah: “ILAAHA”,
- Derajat Asma’-Allah yang 4 (empat) sifat tersebut terhimpun kedalam kalimah: “ILLA”
- Derajat Afál-Allah yang mengandung 5 (lima) sifat tersebut terhimpun kedalam kalimah: “ALLAH”.
Sehingga Sifat-Allah yang “20” itu menghimpun sejak dari Dzat-Sifat-Asma’-Afál-Nya kedalam kalimah: LAA-ILAAHA-ILLA-ALLAH.
Sebagaimana firman Allah dalam Hadits Qudsiy:
Artinya: “Laa-Ilaaha-Illa-Allah itu adalah kalam-Ku dan Aku-lah Dia. Barangsiapa banyak-banyak menyebutnya, masuklah (ia) kedalam benteng-Ku, bebas dari ázab-Ku”.
Oleh karena itu, perbanyaklah menyebut atau mengingat Allah dimana saja, kapan saja. Pada waktu berdiri, duduk, maupun dalam keadaan berbaring serta berfikir tentang Allah dalam penciptaan langit dan bumi.
Sebagaimana Firman Allah:
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan (segala yang ada) ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka!”.
(Q.S. Ali Imran : 191)
Maka carilah penuntun untuk mengamalklan Dzikrullah itu, supaya terbuka pintu kepada kebenaran yang abadi dan meninjau kebenaran alam ghaib sebagaimana Imam Al Ghazali ada bermadah:
Marilah kembali kedasar Islam; Mengasuh rohani yang kelam
Mengingati Allah siang dan malam; Supaya terbuka tirai yang kelam
Adapun sifat yang terdapat pada derajat Dzat dan derajat Sifat, yakni sifat yang 5 (lima) dengan yang 6 (enam) sehingga menjadi 11 (sebelas) sifat yang disebut “Sifat Istighnaú “ artinya Sifat Maha Kaya.
“Terkaya Allah Yang Maha Besar dari tiap-tiap barang yang lainnya”.
Dan Sifat-Nya yang mencakup di dalam Asma’ dan Afál-Nya, yakni sifat yang 4 (empat) dan 5 (lima) sehingga menjadi 9 (sembilan) sifat disebut “Sifat Iftiqar” artinya Berkehendak.
“Berkehendak tiap-tiap barang yang lainnya kepadanya”.
Yakni, sifat yang 9 (sembilan) itu menyerah kepada yang 11 (sebelas). Arti menyerah yaitu menggantungkan nasib. La-Ilaaha yaitu 11 (ssebelas) sifat disebut juga Kalimat Nafi, “meniadakan” dan Illa-Allah yaitu 9 (sembilan) sifat disebut juga Kalimat Itsbat “menyatakan tetap ada-Nya”. Maka didalam Nafi itu terdapat Itsbat, dan didalam Istbat itu pulalah terdpat Nafi; karena Allah tiada lawan-Nya, yang ada hanya Dia yang berdiri dengan sendiri-Nya.
Sifat 20
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
.........................................................

No comments:
Post a Comment