27 March 2020

Iman Kamilah / Haqiqatul bil Haqiqat



 ‏اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)‎  
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)‎
Denyutan Nadiku dengan  Alhamdulillah  (الْحَمْدُ لِلَّهِ)‎
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH  (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)‎
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar   (اللَّهُ أَكْبَرُ)‎
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ    ...اللهَ 

Iman Kamilah / Haqiqatul bil Haqiqat


Iman Kamilah / Haqiqatul bil Haqiqat

1

VI.         Tingkat IMAN KAMILAH / IMAN HAQIQATUL BIL HAQIQAT
  1. Ditinjau dari sifat-sifat Allah, adalah sifat Wujud-Nya: yang Wajibal Wujud; dimana wujud itu Qadim lagi Baqa’ yang Laisakamislihi (tiada umpama), karena Qiyamuhu bi nafsih (berdiri Ia dengan sendiri-Nya).
Kelima sifat inilah tempat bergantungnya sifat yang lima belas sebagai rahmat kepada sekalian alam.
  1. Dari kejadian enam masa, berada pada tingkat yang Ajali; yaitu semula jadi yang tidak banyak dapat diungkapkan karena sulitnya penalaran akal-fikir untuk menangkapnya, bahkan akal hanya akan tercengang ditingkat ini dan imanlah yang berfungsi.
  1. Alam yang dilalui adalah alam Lahut (alam Ketuhanan) dan alam ma’rifah yang menggoncangkan árasiy, meruntuhkan dan menghapuskan alam syariát, alam thareqat dan alam hakikat; karena tiada yang maujud pada segenap alam; melainkan Allah dengan segala Kesempumaan, Kebesaran dan Keindahan-Nya Yang Maha Agung pada Dzat-Nya.
  1. Pada urutan rukun iman yang enam perkara, ia telah berada pada derajat Dzat Tuhannya yaitu Percaya kepada Allah.
Dalam suatu hadits qudsiy Allah berfirman yang artinya :
“Tidak ada yang layak mengenal Allah, melainkan Allah”

Apabila sampai perjalanan ruhani itu kepada derajat Dzat-Allah ini, barulah seorang hamba Allah itu mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenarnya. Jika sampai pada Sifat, maka pada sifat itulah batas pengenalannya dan jika baru sampai pada Asma’, maka pada asma’ itulah tingkat ma’rifahnya kepada Allah. Fana pada Afál, maka afál itulah yang dikenalnya, selebihnya hanya ada dalam alam khayal dan ucapan nama Allah belaka, sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Mereka tidak mengenal Allah sebenar-benarnya; sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”
(Q.S. Al Hajj : 74)

  1. Tingkat iman mereka disisi Allah adalah lman-Kamilah
Iman-Kamilah berarti iman yang sebenarnya sempurna, atau dikatakan “Iman Haqiqatul bil Haqiqat”, yaitu iman hakikat dibalik hakikat lagi; artinya dibalik hakikat (sifat itu adalah ma’rifah Dzat, diatas sidratil munthaha, melampaui maqam rabbani, yaitu hakikat Dzat yang tidak dapat difikirkan oleh alam akal-fikir.
Pada derajat fana Asma’, disebut mengalaminya dengan Zuq;
Pada derajat fana Sifat, yang mengalaminya disebut Majzub;
Pada derajat fana Dzat, yang mengalaminya disebut Tajli-Dzat.
Zuq itu merupakan gambaran-gambaran alam misal dengan Asma’-Allah dan Mazjub itu adalah rahasia-rahasia ilmu dan hukum-hukum Allah yang tersembunyi, dan Tajli-Dzat itu adalah “Rasa-Dzat”, rasa Ketuhanan yang dialami oleh Wali-wali Allah, seperti yang dirasakan oleh para Wali-Songo (sembilan) yang ditanah Jawa pada empat/lima abad silam; dimana diluar yang sembilan itu adalah Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang.
Syekh Siti Jenar merasa dirinya dalam keadaan Tajli-Dzat, yaitu merasa dirinya Dzat Allah, sehingga ia mengatakan bahwa dirinya bukan Syekh Siti Jenar atau Lemah Abang, tetapi adalah “Pangeran Sejati”, artinya Dzat Allah yang hakiki.
Jika diumpamakan, keadaannya ketika itu adalah semisal sepotong besi biasa, didekatkan kepada besi magnet yang besar dimana daya tariknya terhadap besi yang kecil itu sangat kuat. Ketika besi sepotong itu berada dekat disisi magnit tersebut, betapapun besi biasa itu akan dialiri oleh magnit, maka jika ada besi kecil yang lain, paku seumpamanya, didekatkan pada besi biasa yang sedang dialiri magnit tersebut, maka paku itupun akan tertarik juga, walaupun paku itu tidak bersentuhan langsung dengan magnit yang mendampingi besi biasa itu; sehingga jika dikatakan bahwa besi biasa itu magnit, maka boleh diterima boleh tidak.
Boleh diterima, karena memang ada aliran magnit ketika itu; tidak diterima, karena pada waktu itu besi biasa berdampingan dengan magnit. Tetapi kalau dijauhkan, maka hilanglah aliran magnit pada besi biasa; dan sesungguhnyapun dia itu bukan magnit tetapi besi biasa; hanya ketika berdampingan dengan magnit itu, dia merasa dirinya juga magnit.
Dengan contoh yang sederhana itu, dapatlah difahami, apa yang dimaksud dengan Rasa-Dzat Ketuhanan yang sedang dialami oleh orang-orang yang berada pada fana Dzat-Allah; artinya binasa dirinya dalam derajat Dzat Tuhannya; sehingga ada orang yang menyangka hulul atau bersatu dengan Tuhannya. Sangkaan itu adalah salah, karena dengan Allah itu adalah “tidak sekutu/bersatu, tetapi tidak bercerai/berpisah”. Allah adalah Allah, makhluk adalah makhluk.
Kesalahan Syekh Siti Jenar adalah dinyatakannya kealam zahir keadaannya itu, bahwa dia itu Dzat Tuhan. Maka ini batal, karena kalau ia dzat Tuhan, mengapa mengambil bentuk dan rupa, ruang dan waktu, warna dan bayang; sedang Dzat Allah Maha Suci dari pada sifat-sifat demikian, maka untuk tidak merusak orang-orang awam dan menerima ilmu itu dengan meninggalkan syariát-fiqh sebagai syiar keindahan Islam, maka siapakah yang akan mengisi masjid-masjid, dan akan menghilangkan identitas Islam dari muka bumi ini; terpaksalah ia dipanggil oleh para wali dan dihukum mati, namun tubuhnyapun ghaib.
Wali-wali yang sembilan itupun merasakan Tajli-Dzat, tetapi mereka turun kembali kealam syariát untuk membawa manusia kepada apa yang telah mereka rasakan dengan membangun dan memperindah syariát, thareqat, hakikat menuju ma’rifat; ini disebabkan karena Allah mengangkat mereka itu sebagai Khalifatullah yang bermaqam “Kerasulan” untuk menyampaikan risalah Ketuhanan dan bagi yang bermaqam “Kenabian”, tidak akan menyampaikan risalah, melainkan sebagaimana adanya Nabi Khidir; beliau tidak mempunyai umat ataupun jemaáh, hanya sewaktu-waktu ia muncul dalam hal yang diperlukan Allah sebagai utusan atau ganti-Nya dimuka bumi.
  1. Iman manusia ditingkat ini disebut Arifin-Billah, yaitu orang yang telah mengenal Allah dengan sebenar-benarnya kenal, sebagaimana yang telah diterangkan pada no.5 diatas.
  1. Derajat kekhalifahan; mereka inilah Khalifutullah sebagai Al Úlama pewaris Nabi/kerasulan yang dibekali oleh Allah ilmu-hikmah untuk menyeru manusia kejalan Allah dengan bersyariát, berthareqat dan berhakikat menuju ma’rifat.
Disinilah kedudukan Adam Khalifatullah a.s.
Untuk sampai kepada derajat Adam Khalifatullah ini, bukanlah sembarang orang, karena tanpa menjalani thareqatullah tiadalah haq baginya menduduki kekhalifahan ini; sebab seorang yang menjadi khalifatullah itu telah dicontohkan Allah dialam Nuur, ketika itu belum diturunkan kealam dunia, dimana seluruh malaikat yang dikepalai oleh Uzazil ditanyai oleh Allah dan demikian juga Adam.
Seluruh benda-benda yang bakal diturunkan kealam dunia ini ditanyakan kepada seluruh malaikat, nama dan kegunaannya, tetapi setiap benda yang ditunjukkan itu tidak satupun yang diketahui oleh malaikat, termasuk Uzazil. Namun setelah Adam ditanya, Adam menjawab dengan tepat dan benar. Tidak satupun yang tidak diketahui oleh Adam, padahal seluruh benda-benda alam tersebut belum pernah dilihat dan diketahui sebelumnya dan ketika itu masih ghaib bagi Adam.
Apakah yang demikian dapat terjadi kepada manusia biasa yang bukan nabi atau rasul? Sesungguhnya hal itu tidak sulit, karena sebagaimana diketahui bahwa pada qalbi manusia itu ada pertaruh Allah, yaitu sifat: qadirun, muridun, hayyun dan álimun. Dengan sifat itulah sesungguhnya manusia itu dapat berkuasa, berkehendak dan menentukan sesuatu; dan dengan itulah manusia hidup dan mengetahui akan sesuatu pengetahuan.
Bila dengan sifat-sifat itu, kuasa dan kehendak itu ditujukan kepada kehidupan ilmu yang dapat melepaskan dan menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat sekaligus, maka sucikanlah hati itu dengan dzikrullah dalam segala keadaan dan kendatipun kekayaannya melimpah ruah tetapi tidak menjadi buah kecintaannya dan dapat menempatkan sesuatu itu pada tempatnya. Mobil ditempatkan digarasi, uang ditempatkan dibank, pesawat ditempatkan dibandara dan lainnya sesuai dengan hak dan kewajibannya. Dan Asma’-Allah ditempatkan diqalbi dengan cara mengingat dan menyebut secara bathin, maka kelak setelah debu-debu dunia itu terkikis bersih dari bilik-bilik hati yang berkamar lima itu; yakni:
  1. Fu-ád, wadah Iblis dan lawannya Ma’rifah
  2. Lubban, wadah Hawa (pengaruh) lawannya Iman
  3. Shuddur, wadah Nafsu (diri) lawannya Islam
  4. Qulub, wadah Cinta Dunia dan lawannya Tauhid/T’awakkal
  5. Bahajatul Qulub, wadah Syaitan dan lawannya Nuur.
Suatu wadah tidak mungkin dapat diisi dengan dua sifat yang berlainan, karena salah satu akan binasa atau bila seimbang, keduanya akan binasa pula. Itu hukum alam atau Sunatullah; misalnya madu dan racun diisikan pada sebuah gelas, niscaya keduanya rusak. Kambing dan harimau digabung dalam satu kandang, maka binasalah kambing. Hanya barang yang sejenis dalam sifat yang samalah yang dapat bersatu dan berkumpul.
Pada qalbi manusia, jik a diatasnya itu ma’rifat, maka jenis dan sifat yang samalah yang dapat mengisi bilik-bilik yang lain; yaitu iman, Islam, tawakkal dan nuur. Bila telah demikian isi qalbi itu, maka Allah akan menurunkan nuur petunjuknya kedalam qalbi mereka (nuur berdamping nuur, lihat Q.S. An Nuur : 35). Tetapi bila diatasnya (pada fu-ád isinya Iblis, maka jenisnya adalah hawa nafsu jahat, cinta dunia dan syaitan yang mengelilingi pusat hati itu; maka tidaklah ada kemungkinan mendapat ridha Allah dunia akhirat. Rasulullah bersabda, artinya :
“Setiap sesuatu ada alat penyucinya. Maka alat penyuci hati adalah dzikrullah”

Bagi mereka yang berfikir dan menggunakan akal sehatnya untuk kemaslahatan umat seluruhnya, ia tidak akan menunggu sampai esok; pasti mencari seorang penuntun untuk memimpinnya dalam penyucian hatinya. Kecuali mereka yang takut kehilangan martabat dan marwahnya; dia sebagai ahli syariát dan da’wahnya dimana-mana sedang favorit, hadits dan ayat-ayat Allah banyak hafal diluar kepalanya. Majlis taklimnya beribu manusia, tetapi untuk memasuki majlis dzikrullah dan dituntun oleh seorang mursyid ia enggan, karena takut kehilangan martabat dan marwahnya kepada jemaáhnya. Itulah sebenarnya iblis, sebagaimana Uzazil takut kehilangan martabat dan marwahnya dihadapan seluruh malaikat. Iblis itu adalah sifat, bendanya adalah diantara kebanyakkan jin dan manusia.
Bila hendak menjadi Khalifatullah dimuka bumi ini tanpa mengamalkan dzikrullah, hal itu adalah seumpama menggantang asap, mengukir diatas air. Kembalilah kejalan Allah yang lurus (Thareqatullah).
Amalkanlah dzikrullah, itulah jalan yang lurus untuk membangkitkan kebenaran Islam diakhir zaman ini sebagai petunjuk kepada jalan keadilan dan kemakmuran dalam dua kehidupan, dunia dan akhirat.
Jangan pekak dan tulikan telingamu atas anjuran kebenaran ini; dengar dan dengarlah firman Allah yang artinya :
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya disisi Allah, ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun (tidak mempergunakan akal untuk memahami kebenaran)”
(Q.S. Al Anfaal : 22)

Jadilah Khalifatullah dimuka bumi bila imanmu diatas akal malaikat kepada Allah; bukan dengan menghafal-hafal hadits dan Qurán belaka. Karena hasil hafalan, suatu saat akan lupa; tetapi iman yang diqalbi itulah yang menjadi Kursiy Allah dimuka bumi ini.
  1. Tingkat nafsu manusia yang telah sampai kepada derajat Iman-Kamilah ini adalah menyerahkan segala-galanya, bahkan nafsu muthmainahpun telah sirna dari mereka; karena mereka adalah “Ahli-Allah”, mejadi Wali-Nya dimuka bumi ini sebagai Khalifah; sebagaimana firman Allah dalam Hadits Qudsiy yang artinya :
“Siapa mengganggu wali-Ku (kekasih-Ku), maka ia menyatakan perang kepada-Ku. Dan tiada sesuatu yang mendekatkan hamba kepada-Ku seperti melaksanakan amal yang Aku wajibkan atasnya. Dan selalu hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amal-amal yang sunat, sehingga Aku cinta kepadanya; maka apabila Aku cinta kepadanya, maka Aku-lah yang menjadi mata penglihatannya, telinga pendengarannya, dan kaki yang digunakan berjalan; dan hati yang digunakan merasa dan berfikir dan lidah ynng digunakan berkata-kata; bahkan apabila ia meminta pasti Aku perkenankan, dan bila ia berdoá pasti Aku terima. Dan Aku tidak ragu dalam segala yang Aku perbuat, sebagaimana ragu-Ku ketika mematikannya, karena ia tidak suka mati; dan Aku tidak suka mengganggunya (menyakiti hatinya)”
(H.Q. riwayat : Ahmad Al Hakim, Abu Ya’la, Aththabrani, Abu Naím, Ibnu Asakir)
Dari keterangan hadits qudsiy tersebut, maka nafsu mereka hanya apa yang dikehendaki Allah; itulah yang berlaku atas mereka. Ibarat buih diatas lautan yang disebabkan ombak dan gelombang. Lautan ibaratnya keadaan Allah, ombak dan gelombang ibarat keadaannya Nuur Muhammad, buih ibarat keadaannya Adam Khalifatullah yang diteruskan oleh generasi demi generasi sampai kepada zaman akhir adanya bumi ini.
  1. Tingkat diri manusia yang berasal dari Nuur Muhammad dan Nuur Muhammad yang berasal dari Nadzarullah, ialah pada maqam Rabbani; yakni tersingkapnya beberapa rahasia diantara rahasia-rahasia Allah dan beberapa hukum Allah yang tersembunyi kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Yang demikianlah yang disebut sebagai llmu-Hikmah sebagai kebajikkan yang besar. Dan dengan ilmu-hikmah itulah Allah menyuruh manusia untuk menyeru kejalan-Nya (Q.S. An Nahl : 125).
  1. Tingkat kefanaan diri manusia diderajat iman yang tertinggi ini ialah Fana Fillah-Baqa’ billah. Yaitu senantiasa berlaku atasnya qadrat, iradat, ilmu, hayyat sama’, bashar dan kalam Allah, sebagaimana keterangan pada no.8 tersebut diatas.
  1. Hal keadaan syafaát Rasulullah saw. yang dari pada Allah turun kepada mereka; adalah mereka dapat menyampaikan syafaát kepada para pengikut dibawahnya dengan izin Allah. Karena para Wali-Nya adalah ahli-Nya yang menjadi úlama pewaris nabi. Demikianlah yang disebut syafaát mensyafaátkan pada hari yaumil mahsyar untuk mempercepat proses berlangsungnya hari pertimbangan yang tiada kecurangan dan ketidak adilan didalamnya lagi. Siapa yang melakukan keadilan ketika hidup didunia berdasarkan konsepsi wahyu dan bukan dengan undang-undang hawa nafsu manusia, maka ia akan memperoleh keadilan dihari itu (yang pada hari itu tidak dibenarkan lagi segala penyesalan). Barangsiapa menghukum dengan hukum yang tidak dikehendaki Allah, maka merugilah mereka untuk selama-lamanya dan kekallah mereka dalam ázab Allah (Q.S. Al Maaidah : 44-45).
  1. Tingkat kalam tauhid yang mereka lalui adalah pada kalam “Laa” yang mengandung sifat: wujud, qidam, baqa’, mukhalifatahu lil hawadits dan qiyamuhu taála binafsih; dan inilah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya yang artinya :
“Semua yang ada dibumi akan binasa”
“Dan akan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai (wajah) yang berkebesaran dan berkemuliaan”
(Q.S. Ar Rahmaan : 26-27)
Dari ayat Allah tersebut, jika hati manusia dalam perjalanan kerohaniannya tidak sampai melewati sidratil munthaha, kendatipun tubuh kasarnya berada dibumi sebagai Khalifatullah, niscaya binasa dengan binasanya alam ini kelak; kecuali bagi mereka yang telah fana dalam derajat asma’ dan syafaát bagi mereka, dan demikian juga mereka yang fana pada derajat sifat, mereka telah mendapat panggilan nafsulmuthmainah; maka yang berada pada maqam afál, itulah yang hatinya penuh dengan debu-debu kotoran dunia: padahal asal mereka adalah dari sebaik-baik kejadian. Tetapi karena tidak memperbuat perjalanan hidup untuk hari akhiratnya dalam menyingkap jalan ghaib pada ruhnya didunia ini kepada Allah Maha Pencipta, maka buta pulalah kelak mereka pada akhir kalamnya disebabkan sebelumnya tidak menemui Wajahullah diatas sidratil munthaha (baitil-ma’mur, al maala il a’la, raf-raf), kepada ketiga derajat inilah manusia kembali kepada Tuhannya setelah melalui proses demi proses untuk menempa bentuk dan rupa, warna dan keindahan, nama dan bilangan pada alam dunia untuk ditempatkan pada surga bagi manusia yang beriman dan yang diberi pengetahuan yang ghaib. Demikian juga bentuk dan rupa, warna dan keburukkan, nama dan bilangan pada alam dunia ini untuk ditempatkan pada neraka bagi orang-orang yang buta mata hatinya kepada dirinya dan kepada Tuhannya.
INGATLAH!
Allah mempunyai Dzat. Dzat Allah mempunyai Nadzar (alam-fikir: Raf-raf, Al Maala il a’la dan Baitil Ma’mur), dari sini turunlah Nuur Muhammad kealam: dari raf-raf kealam Ajali, dari Al Maala il a’la kealam Shuluhi Qadim dan dari Baitil Ma’mur kealam Tanzizi Qadim yang masih berada dalam keqadiman; karena masih dalam program Allah dengan sendiri-Nya, baik cerita Uzazil dengan kepatuhan seluruh malaikat kepadanya, cerita Adam dan Hawa disurga (baitil-ma’mur) dan cerita bujukan Iblis dengan mempengaruhi Hawa; semua itu adalah dalam alam Nadzar Allah sendiri dan belum di-Kun-kan kealam dunia ini.
Ketika telah lengkap segala perencanaan itu, maka untuk melahirkan (merealisasikan) semua program itu adalah dialam dunia ini: maka terbitlah kalam-Nya “Kun” (jadilah) dengan berpadunya ketiga sifat tersebut: Raf-raf ialah Kesempurnaan-Nya, Al Maala il a’la ialah Kebesaran-Nya dan Baitil Ma’mur ialah Keindahan-Nya; maka lahirlah dari Ajali ke qalbi, dari Shuluhi Qadim ke Tanzizi-Muhaddats: ialah ruh, dan dari Tanzizi-Muqaddar kealam dunia :  ialah tubuh. Lengkaplah manusia itu terdiri dari ruh, qalbi dan tubuh. Untuk mengurus tubuh dan alam benda, ilmunya syariát-fiqh; yang mengurus urusan hati/qalbi, ilmunya thareqat-tashauf dan yang mengurus urusan ruh ilmunya hakikat-tauhid; dan melengkapi seluruhnya pada ilmu-hikmah.
Wadah mengabdi manusia adalah alam semesta yang sama asal kejadiannya dengan anasir manusia. Sehingga secara garis besarnya dapat disimpulkan sebagai berikut :
Dari Dzat kepada Nuur-Muhammad, diperkecil Nuur-Muhammad adalah alam semesta dan alam semesta diwakili oleh alam manusia. Diperkecil alam manusia adalah pada qalbinya, dan qalbi diperhalus lagi itu adalah ruhani (hati yang suci). Ruhani diperhalus lagi adalah Asma’-Allah, Asma’-Allah berdiri kepada Sifat-Nya dan Sifat-Nya berdiri kepada Dzat-Nya kembali.
Maka jelaslah bahwa Asma’-Allah yang diisikan kepada qalbi itulah manusia dapat kembali kepada wajah Tuhannya yang berdiri kepada Dzat-Nya Yang Maha Tinggi itu. Mengisi kalimah Allah itu kedalam qalbi, disebut mengamalkan dzikrullah dalam segala keadaan dan kondisi, supaya menjadi ahli-ahli fikir sebagaimana firman Allah yang artinya :
“(Yaitu) orang-orang yang berdzikrullah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”
(Q.S. Ali Imraan : 191)

Demikian gamblangnya Allah menyatakan perlu dan pentingnya berdzikrullah itu supaya terbuka akal-fikir manusia tentang penciptaan langit dan bumi (dari awal sampai akhir, dari zahir sampai bathin) dan supaya terhindar dari neraka dan ahli dzikir itu mendapat penghormatan dari pada Allah sebagai tempat bertanya karena mereka itu adalah ahli-ahli Allah; tetapi bukan pula sembarang ahli dzikir, melainkan yang telah duduk dimaqam Khalifatullah (Q S. An Nahl : 43).
  1. Seruan tawajjuh mereka kepada Allah bila hendak berkomunikasi kepada-Nya adalah :
1)        “Ya, Nuuriy..”
Maksudnya ialah menyeru nuur dirinya sendiri yang berasal dari nuur Muhammad yang mana yang diseru itu adalah asal kejadian jasadnya yang dari baitil-ma’mur diatas sidratil munthaha dan kelak sidratil munthaha inilah pusat segala kemakmuran surga.
Para wali Allah yang derajatnya sampai disini, terbukalah baginya rahasia alam semesta; sebagaimana Adam Khalifatullah dahulunya ketika ditanya oleh Allah akan nama dan kegunaan seluruh alam kebendaan dialam muqaddar ini, Adam menjawabnya dengan baik. Sedangkan seluruh malaikat tidak ada yang mengetahuinya, termasuk Uzazil sebagai penghulu sekalian malaikat ketika dialam nuur itu.
Setiap kalam yang mereka ucapkan akan menjadi kenyatan. bahkan pasirpun akan menjadi beras dan sebaliknya bila iradah Allah berkehendak demikian untuk menunjukkan kekuasaan-Nya melalui hamba-hamba-Nya yang dimuliakan yang disebut sebagai kekeramatan (karomah) Wali-wali Allah; sebagaimana yang sering terjadi kepada Wali-wali Allah yang sesudah zaman Kerasulan untuk meneruskan mu’jizat para Rasul bila terjadi kedurhakaan manusia yang melampaui batas.
Bila seseorang yang “tajli-dzat” yang demikian terjadi, maka itulah Khalifatullah tingkat yang pertama diatas sidratil munthaha dan boleh jadi meningkat atau sampai akhir hayatnya duduk dimaqam tersebut. Itu tergantung kepada asal kejadian alam akal-fikirnya yang akan diterangkan pada penjelasan yang akan datang.
2)        “Ya, Dzatiy…”
Kalaulah pada Khalifatullah yang pcrtama diatas menyeru pada asal jasad manusia maka Khalifatullah pada tingkatan kedua ini menyeru akan asal tubuh halusnya yaitu ruhnya yang daripada Al Maala il a’la; yaitu dzat dirinya yang menjadi awal Muhammad, nurani dan itulah sifatullah yang hakiki.
Jika yang pertama diatas kekeramatan mereka mengenal alam-alam kebendaan sebagaimana Nabi Musa dengan tongkatnya yang dapat membelah lautan, memukul batu yang kemudian mengeluarkan air untuk kaumnya yang dua belas kabilah maka yang kedua ini adalah mengenal alam dibalik kebendaannya (metafisik), yaitu masalah ruh.
Bila mereka diganggu oleh para pendurhaka Allah, maka orang-orang yang mengganggunya itu akan mati atau berubah akal, hilang ingatan dan sebagainya. Tetapi sebaliknya, jika minta tolong kepada mereka masalah yang berhubungan dengan penyakit jiwa, gila, kesurupan atau kesambet, kebingungan dan resah gelisah dalam hidupnya; pelarian yang salah dengan minum-minuman keras. narkoba dan segala yang berhubungan dengan kejiwaan manusia, mereka akan melebihi orang-orang yang keluar dari perguruan tinggi, semisal dokter, psikiater dan ahli-ahli ilmu jiwa; karena ilmu mereka adalah langsung dari pada Allah tanpa susah-susah untuk menghafal begitu banyak rumus-rumus medis dan kimia yang rumit itu dan apabila salah akan membahayakan manusia. Inilah maqam kerasulan Isa Ruhullah yang menjadi tabib yang ulung sampai dapat menghidupkan orang yang sudah mati; tetapi yang satu ini tidak akan terjadi lagi. Kemu’jizatan Nabi Allah Isa a.s. inilah yang menjadi kekeramatan (karomah) para Wali-wali Allah yang duduk dimaqam Khalifatullah kedua ini.
3)        “Ya, Álimul Ghoibi wasysyahadah…” (tanpa ucapan lagi, yang dihajatkannya telah tercipta)
Para Wali-wali Allah yang berada ditingkat tertinggi (Khalifatullah ketiga) ini, sampailah mereka kepada puncak kewalian, yaitu dalam perjalanan kerohanian. Ditingkat ini sampailah mereka kepada asal pembendaharaan Allah dalam masalah ilmu dan hikmah yang tersimpan didalam qalbinya sebagai petaruh/amanah Allah yang sempurna; dan diatasnya hanyalah haq khusus bagi Nabi kita Muhammad saw. yang menjadi rahmat sekalian alam dan beliaulah yang sampai bertemu dengan Dzat Tuhan Yang Tak Berbatas dan selainnya yang berada dibawah derajatnya termasuk seluruh Nabi-nabi dan Rasul-rasul.
Disinilah maqam Nabi Allah Ibrahim Khalilullah sebagai ahli ilmu dan bangunan, arsitek terbesar sepanjang zaman; dimana pembuktiannya adalah Ka’batullah yang dibangunnya bersama anaknya Nabi Ismail ribuan tahun silam, tetapi sampai saat ini tetap utuh sebagai kiblatnya seluruh kaum muslimin sedunia yang wajib dikunjungi setiap tahun hijriyah pada bulan Zulhijah untuk menunaikan ibadah hajji bagi yang memenuhi syarat sebagai penyucian diri dan diwajibkan atasnya qurban seekor unta atas perintah Allah dan bersujudlah semua kaum muslimin disekeliling Ka’bah dimaqam Adam Khalifatullah sebagai isyarat sujudnya seluruh malaikat yang dilangit kepada Adam a.s., itulah kisah malaikat dialam nuur dahulunya sebelum diturunkan kealam dunia ini; realisasinya dimuka bumi ini adalah sujudnya seluruh kaum muslimin yang dibekali akal-flkir sebagai lambang alam malaikat yang hanya dibekali oleh Allah dengan akal. Kendatipun Adam telah wafat, tetapi maqamnya itulah sebagai tempat sujudnya manusia untuk mengganti sujudnya kepada Allah SWT.; karena arti Khalifah adalah pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi untuk meluluskan sekalian hukum-hukum-Nya.
Maka Nabi Ibrahim-lah yang pertama sujud kepada rumah yang dibangunnya mengelilingi maqam Adam a.s.
Disamping ia membangun Ka’bah sebagai rumah Allah dipermukaan bumi yang menjadi tempat turunnya sekalian petunjuk (ilmu) kepada seluruh manusia; beliau juga menyeru sekalian manusia untuk berkunjung kerumah Allah yang mula-mula dibangun itu atas nama Allah dengan ilmu-hikmah yang dipertaruhkan Allah baginya. Sehingga setiap tahun manusia yang mu’min yang terpanggil seruannva itu untuk mengunjungi Ka’bah dalam menunaikan ibadah hajji sebagai rukun Islam yang kelima. Dan setelah Allah mengampuni dosa-dosa orang yang berkunjung kerumah-Nya itu untuk ziarah kepada-Nya dengan mencium batu Hajarul Aswad sebagai lambang tangan kanan Tuhan dimuka bumi. Barangsiapa yang mencium hajarul aswad itu, berarti mencium tangan kanan Allah: siapa mencium tangan kanan Allah, berarti ziarah kepada-Nya; dan siapa yang ziarah kepada-Nya, maka diampunkan oleh Allah segala dosa-dosanya yang telah lalu dan untuk menjaga keampunan itu sampai akhir hayatnya, maka sekembalinya dari menunaikan ibadah hajji, Allah menyuruh manusia untuk mengamalkan dzikrullah, sebagaimana firman-Nya yang artinya :
“Apabila kamu telah menunaikan manasik hajjimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) kepada Allah; sebagaimana kamu menyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah terlebih banyak dari itu”
(Q.S. Al Baqarah : 200)
Ayat tersebut menjadi peringatan yang begitu keras kepada mereka yang telah menunaikan ibadah hajjinya supaya sekembalinya dari manasik hajji, semestinya mengamalkan dzikrullah untuk menjaga kelestarian hajjinya dari dosa-dosa yang telah diampunkan Allah.
Dengan dzikrullah itulah perjalanan kerohanian yang berbekal Nuur Muhammad yang menjadi rahmatan lil álamin dan dapat kembali menemui hakikat dirinya diatas ketinggian sidratil munthaha yaitu asal kejadian: jasad dari baitil-makmur, asal ruhnya dari al maala il a’la dan asal ilmu dan hikmah dari raf-raf Allah, yang ketiganya adalah nadzarullah yang berdiri kepada Dzat-Nya Yang Tidak Berbatas. Maka sempurnalah kekhalifahan seorang mu’min dimuka bumi-Nya, karena telah menemui kembalinya identitas/dzati dirinya yang hakiki yang berasal dari seorang manusia yang bernama Adam sebagai bibit sekalian manusia.
Darinya Allah menciptakan sekalian manusia ini, maka kepada asal kejadiannya itulah kembalinya, maka yang disebut “Innalillahi wa inna illahi raajiiún” adalah dari kejadian Adam kembali kepada Adam yang hakiki untuk menikmati Kesempurnaan, Kebesaran dan Keindahan Dzat-Allah Yang Maha Agung yang tidak lagi rusak dan binasa disisi Allah, Dzat yang mempunyai wajah berkebesaran dan berkemuliaan setelah meninggalkan alam muqaddar yang fana ini.
Dengan berkat Nuur Muhammad, terbukalah rahasia Musa Kalamullah; yang mana kalam Musa itu sangat tajam, bahkan apabila ia mengatakan: “Kunu kiraadatan khasyiín”, artinya: “Jadilah kamu monyet yang berlompatan” kepada kaumnya, karena durhaka kepada Allah; maka kaumnya itu benar-benar menjadi monyet yang berlompatan. Musa menjadi Khalifah Allah dimuka bumi adalah untuk kaumnya.
Demikian juga terbukanya rahasia Isa Ruhullah yang dapat menghidupkan orang yang telah mati dan seterusnya menyingkap tabir rahasia Ibrahim Khalilullah yang memiliki ilmu-hikmah yang berkah untuk menyeru sekalian manusia untuk mengunjungi Ka’bah. Sampai akhir abad ini semakin banyak manusia yang menunaikan ibadah hajji atas seruannya kepada Ka’bah yang dibangunnya beserta Ismail.
Nabi Ibrahim a.s. sebagai Khalilullah juga sebagai Khalifah untuk membangun jiwa rohani umat manusia, namun beliau juga adalah seorang ahli bangunan duniawi.
Perjalanan kerohanian yang membawa khasiat Kenabian sebagai karya bathin untuk merintis jalan kembali kepada Allah sebelum ajal sampai bagi umat Muhammad adalah mutlak dengan segala karya bathin yang diwajibkan maupun yang disunatkan untuk menyucikan jalannya diri manusia berasal, kesanalah ia kembali.
Dengan khasiat Nuur Kenabian itu seseorang yang menempuh jalan Thariqatullah, ia akan sampai kepada maqam mu’jizat Nabi Musa, Isa dan lbrahim a.s. yang menjadi karomah seorang Wali Allah, dan ketika itu Allah akan menetapkannya sebagai pengganti Khalifah dimuka bumi ini untuk menggantikan Khalifah-khalifah terdahulu: maka ketika itu telah sampai pulalah ia kepada perjalanan Úlul Azhmi (penghulu hesar) dari kenabian sebagai Nabi pilihan diantara dua puluh lima rasul pilihan. Úlul Azhmi itu adalah: Nabi Muhammad saw., Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim dan Nabi Adam a.s. dan dari keseluruhan Úlul Azhmi, Nabi Muhammad saw. pulalah yang terpilih untuk menjadi Penghulu sekalian Nabi dan Rasul karena beliaulah sebagai Rahmatan Lil Álamin.
Shalat yang lima waktu yang diwajibkan atas umat Muhammad adalah shalat dari pada tiap-tiap Nabi yang lima itu. Shalat Subuh adalah shalat Nabi Muhammad saw., shalat Dzuhur adalah shalat Nabi Adam a.s., shalat Ashar adalah shalatnya Nabi Ibrahirn a.s., shalat Maghrib adalah shalatnya Nabi Isa a.s. dan shalat Isya adalah shalatnya Nabi Musa a.s.; maka yang melaksanakan seluruh shalat itu hanyalah umat Muhammad, sehingga umat Muhammad akhir zaman adalah umat yang paling disayangi oleh Allah karena melengkapi syariát Nabi-nabi terdahulu.
Iman Kamilah / Haqiqatul bil Haqiqat

Wallahu Alam Bishshawab.


Moga Bermanfaat.


Insya ALLAH 

.........................................................

No comments: