27 March 2020

Iman Ilmal Yaqin



 ‏اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)‎  
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)‎
Denyutan Nadiku dengan  Alhamdulillah  (الْحَمْدُ لِلَّهِ)‎
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH  (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)‎
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar   (اللَّهُ أَكْبَرُ)‎
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ    ...اللهَ 

Iman Ilmal Yaqin


Iman Ilmal Yaqin

0

III.         Tingkat IMAN ÍLMAL-YAQIN

  1. Dari sifat-sifat Allah, masih setaraf dengan iman-Taqlid dan iman-Dalil; masih mengenal ke-aku-an sihamba dan menguasai sifat qudrat dan iradat sebagai bukti keimanan.
Banyak diantara ahli-ahli Ílmal-Yaqin ini menjadi rusak imannya karena menguasai sifat- sifat qadrat dan iradat Allah yang mereka salah gunakan; misalnya untuk menunjukkan kekebalan, tahan pukul, tahan api sebagaimana permainan saudati dan debus yang terkenal ditanah rencong Aceh.
Kalau yang demikian itulah gunanya ilmu-tauhid, apa bedanya dengan orang-orang Tamil yang menggunting-gunting lidah pada hari Galungan sebagai hari korban buat kepercayaan Hindu yang sering kita lihat. Semoga mereka sadari semua itu.

  1. Dari kejadian enam masa, iman Ílmal-Yaqin berada pada tingkat Tanzizi-Muhaddits, yaitu hari pertamanya Allah menjadikan semesta; tetapi masih dialam Nurani, sebelum zahir kealam Tanzizi Muqaddar (dunia) ini. Ketika itulah Allah mengambil perjanjian sekalian ruh untuk menjalankan tugasnya masing-masing sebagai pelakon sandiwara Allah yang berbabak tunggal.

  1. Alam yang dilalui untuk mencapai tingkat iman yang lebih tinggi, masih di alam-Nasut seperti iman-Taqlid dan iman-Dalil yang terdahulu; namun amal mereka telah lebih sempurna dan telah mendapatkan sedikit tentang pengetahuan ruh melalui ilmu kalam dengan mempelajari sifat-sifat Allah yang dua puluh itu dan ditambah sifat-sifat nabi yang empat; Siddiq, Amanah, Tabliqh dan Fathanah.
Tentang ilmu Ketuhanan, mereka telah berada diatas iman-Dalil, yakni; dalam ilmu mereka, kendati alam semesta dan sekalian makhluk yang lain tidak diciptakan Allah; namun Dzat Allah tetap ada dan bersifat: Wujud, Qidam, Baqa, Laisa kamislihi dan Qiyamuhu taála bi nafsihi.
Mereka inilah yang disebut sebagai ahli-ahli ilmu-kalam atau ahli Ushuluddin atau ahli tauhid dan i’tikad mereka ini disebut Ahlussunah wal Jamaáh yang tidak membedakan antara syariát dan hakikat. Tetapi untuk tidak membedakan antara keduanya belum mereka laksanakan, karena baru berada pada tingkatan alam nasut, perliputan ruh kepada jasad.

  1. Ditinjau dari susunan dan urutan rukun iman, tingkat iman Ílmal-Yaqin ini berada pada tingkatan Percaya kepada Rasul-rasul Allah. Oleh karenanya mereka lebih banyak berbicara tentang peranan Rasul dan sifat-sifatnya dan segala pribadi Rasul yang menjadi ikutan umat, terutama tentang Nuur Muhammad.
Seluruh ibadah mereka kepada Allah mereka cari hakikat yang diperkuat Rasul dan para sahabat yang dekat dengannya; namun Thareqat Rasul belum mereka laksanakan, selain hanya membicarakan saja.

  1. Dari sisi tingkatan iman; iman ketiga ini disebut Iman Ílmal-Yaqin; yaitu keraguan tentang adanya Allah tidak ada lagi, dengan mahirnya mereka akan sifat-sifat Allah yang terhimpun pada Áqaidul-Iman yang lima puluh, yakni: Sifat Allah dalam menciptakan alam semesta ada dua puluh, lawannya tentu dua puluh; dan satu sifat “harus” sehingga berjumlah empat puluh satu sifat.
Sifat Rasul ada empat, lawannya empat pula ditambah satu sifat “insaniyah” sebagaimana adanya manusia biasa, sehingga sifat Rasul itu ada sembilan.
Sifat Allah yang empat puluh satu terhimpun kepada kalimah Laa Ilaaha Illa Allah (syahadat-Tauhid) dan sembilan sifat Rasul terhimpun kepada kalimah Muhammadarasulullah (syahadat-Rasul). Maka dengan áqaidul iman yang lima puluh sifat Allah dan Rasulnya, terhimpunlah kepada syahadat tauhid: “Asyhadualla Ilaaha Illa Allah Wa Asyhaduanna Muhammadarasulullah”.

* Pembagian sifat-sifat Allah ini, lihatlah pada tabel ma’rifah nomor pertama.

  1. Tingkatan manusia yang dikaruniai oleh Allah iman semacam ini disebut Ikhsan (baik) Pelaksanaan syariát mereka telah lebih baik dari iman-Dalil karena bathinnya telah mengenal Allah dari dasar sifat-sifat-Nya, sehingga mereka lebih kyusuk dalam beribadah kepada Allah SW’T.

  1. Derajat kekhalifahan pada iman Ílmal-Yaqin ini belum ditemui, karena mata bathin mereka belum terbuka. Yang terbuka adalah mata ilmu yang bersumber akal-fikir, bukan mata bathin sebagaimana firman Allah yang bermaksud :

“Karena sesungguhnya bukanlah mata (yang dikepala) itu yang buta, melainkan yang buta adalah hati yang didalam dada”
(Q.S. Al Hajj : 46)

Dari ayat tersebut bagi orang yang berfikir tentang akhiratnya, pastilah ia mencari jalan untuk membukakan mata hati yang didalam dada itu, gunanya adalah untuk menilik dirinya sendiri tentang tingkat imannya kepada Allah sebelum ia dipanggil kembali untuk menghadap Allah pada waktu yang tidak siapapun tahu kapan masanya.
Bila hati itu masih kotor dari debu-debu dunia ini, sudah tentu tidak diterima disisi Allah; karena Allah itu Maha Suci, tentulah tidak menerima yang kotor kembali kesisinya; melainkan barang yang suci jugalah yang kembali kepada Yang Maha Suci; itulah Sunatullah Fil álamin.

  1. Dari sisi nafsu (diri); (*lihat kembali gambaran alam mikro yang lalu), iman Ílmal-Yaqin ini telah meningkat dari nafsu syaitaniyah kepada nafsu hewaniyah dan dari nafsu hewaniyah kepada nafsu “Amarah”, yakni nafsu yang masih belum dapat menahan sabar dan ridha Allah apalagi qanaáh, menerima sesuatu yang datang daripada Allah. Sabda Rasulullah yang artinya :

“Sebaik-baik mu’min adalah arang yang dapat menahan amarahnya padahal ketika itu ia sudah pantas untuk marah”

Kalaupun ia marah ketika suatu peristiwa yang terjadi baginya dan dibenarkan oleh hukum syara’, tetapi ia masih sanggup berlaku sabar dan hanya sekedar memberikan nasehat; itulah orang yang sebaik-baik mu’min yang telah dicabut darinya nafsu amarah, karena ia tahu bahwa menurut rukun iman yang enam perkara itu salah satu diantaranya adalah “Percaya kepada qadha dan qadar Allah”, yakni buruk dan baik datang daripada Allah. Sehingga ia dapat memegang ilmu áqidahnya, ia tidak marah tetapi memberi nasehat kepada orang yang pantas dinasehatinya itu.
Pada tingkat Ílmal-Yaqin ini nafsu amarah itu masih menguasai dirinya kendatipun setelah kejadian berlaku beberapa waktu, ia akan sadar kembali; tetapi itu sudah terlambat, karena kesadaran iman ini tidak spontanitet.

  1. Dari tingkat kejadian dirinya, masih belum dapat menghayati Nuur Muhammad yang menjadi tubuhnya yang halus (ruh), ini terbukti ia masih dikuasai sifat amarah yang mengakibatkan pandangan bathinnya masih berada dalam keadaan dzulma (kegelapan) yang memandang kepada alam kebendaan yang materialis; padahal dalam ilmu ia telah mengetahui bahwa dirinya itu tercipta dari karunia Allah untuk terciptanya seluruh alam, yaitu dari Nuur Nabinya Muhammaad saw.; tetapi karena mata bathin itu belum terbuka pada alam nuur itu, berarti ilmu yang diketahui dan dimilikinya belum dapat dihayati sebagai pedoman dan pengamalannya.
Bagi manusia yang mempunyai ilmu, tetapi belum dapat dipraktekkan, belumlah ilmu itu dapat membela dirinya; baik untuk kehidupan duniawi maupun ukhrawinya. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda yang artinya :

“Ilmu tanpa amal seumpama pohon rindang yang tidak berbuah, dan amal tanpa ketiadaan ilmu adalah zindiq (gila)”

  1. Dari sudut tingkat kefanaan dalam mengenal Allah, telah berada setingkat dari iman- Dalil. Oleh karena dalam alam ilmu iman Ílmal-Yaqin ini telah dapat mengi’tiqadkan bahwa seadainya alam ini tidak diciptakan Allah untuk menjadi dalil adanya Allah, namun iman jenis ini dapat mengakui bahwa Allah itu tetap ada-Nya.
Dengan ilmu áqidah Ketuhanan yang demikian, mereka disebut dapat memfanakan (melenyapkan) dirinya dalam Afál (ciptaan) Allah, setingkat lagi kepada fana dalam Asma’ Allah. Namun karena masih dalam alam ilmu, ke-aku-an sihamba masih menguasai dirinya; itulah sebabnya nafsu amarah belum dapat lenyap dari dirinya dan ke-Aku-an Allah belum terbit dari lubuk jiwanya yang paling dalam.
Bila dalam tingkatan iman Ílmal-Yaqin ini mereka berpulang (meninggal) untuk menghadap Allah SWT., nafsu amarah itulah yang akan diperolehnya sebagai balasan kepada dirinya. Karena dalam keadaan bagaimana manusia itu dimatikan, maka dalam keadaan sakratul maut itu pulalah ia dibangkitkan kelak dan dalam keadaan itu pulalah ia dibalasi. Alangkah ruginya mereka yang meninggalkan dunia ini dalam keimanan yang masih membawa nafsu amarah.

  1. Hal keadaan syafaát tidaklah didapatinya; karena nafsu amarah itu adalah nafsu yang dilambangkan kepada hewan yang buas seperti macan, singa misalnya.
Itulah hikmahnya Allah menciptakan beribu-ribu jenis binatang dibumi ini; baik yang berada didarat, dilaut, didalam tanah, binatang ternak binatang liar; manfaat semuanya adalah :
Pertama    : Untuk menjadi iktibar (pelajaran) alam-misal kepada manusia dari sisi kelakuannya; ada yang tukang tanduk, tukang gigit, tukang belit, dll. Dimana manusia ini terlampau banyak mengambil sifat-sifat hewan dalam hidupnya. Seandainya ia mati dalam sifat-sifat hewaniyah yang belum sempat dibersihkan dan disucikannya selama hidup yang singkat ini, kelak seperti tubuh hewan-hewan yang menjadi sifatnya itulah menjadi tubuh diakheratnya saat dibangkitkan dari alam kuburnya; tentulah tidak mendapat syafaát. Yang mendapat syafaát (pertolongan) pada huru-hara Yaumil Mahsyar adalah yang berbentuk insaniyah.

Adapun yang berbentuk insaniyah itu adalah sebagai yang telah diterangkan pada keterangan yang lalu, bahwa kejadian manusia kealam dunia ini mempunyai proses; dimana secara singkat proses itu adalah :
  • Dari Dzat-Allah menjadi bathin-Muhammad, yaitu “Rabbani” (Q.S. Ali Imraan : 79). Rabbani inilah yang masih menjadi “rahasia insaniyah” (lembaga Adam) sebelum orang-orang yang beriman sampai kepada derajat tersebut; karena didalam sepotong hadits qudsiy, firman Allah menyatakan :

“Insan itu rahasia-Ku, rahasia-Ku itu sifat-Ku dan sifat-Ku itu tidak lain dari pada Aku”

  • Dari Sifat-Allah menjadi awalnya-Muhammad, yaitu “Nurani”. Nurani inilah yang menjadi nyawa/ruh setiap manusia setelah sijasad sedia dalam kandungan ibu untuk menerimanya.
  • Dari Asma’-Allah menjadi akhirnya-Muhammad, yaitu “Ruhani”. Ruhani Muhammad inilah yang menjadi qalbi manusia untuk diisi dengan Asma’ Allah tersebut melalui dzikrullah yang disebut dengan Thareqatullah (Q.S. Al Jin : 16) sebagai jalan yang lurus menuju kepada ridha Allah.
  • Dari Afál-Allah menjadi zahirnya-Muhammad, yaitu “Insani”. Insani Muhammad inilah yang menjadi tubuh/jasmani manusia (lembaga Adam).

Dari jajaran garis horizontal maupun vertikal dapat dilihat dengan jelas dalam keadaan empat derajat; yakni sebagai derajat keempat sebagai garis vertikal tempat manusia berdomisili yang berdiri dari api (matahari), air (tujuh petala langit, tujuh planet; *lihat gambaran tata surya), angin (tujuh sinar gelombang frekwensi matahari termasuk dua orbit planet) dan tanah (bumi dan bulan sebagai satelitnya).

Bila kita hendak menjadi bentuk “Insani” yang tidak dimasukkan kedalam neraka, mestilah mencapai diri kita yang bathin, yaitu Nuur Muhammad, dengan proses: Fanakan tubuh/jasmani yang kasar ini kepada zahir Muhammad, maka ia akan masuk kepada Insani. Bila telah dapat memfanakan tubuh jasmani ini kepada Insani Muhammad, tentulah urutannya kepada Ruhani; seterusnya kepada Nurani, dan akan di lihat disana pada derajat Dzat adalah Rabbani.
Jika insani pada afál, tentulah rabbani pada derajat Dzat; berarti telah duduk dimaqam rahasia Allah. Jika telah duduk pada maqam rahasia Allah sewaktu masih hidup didunia ini dan dijaga dengan melalui berserah diri kepada Allah, maka dengan maqam insani itu manusia dimatikan, dan dengan maqam insani itu pulalah akan dibangkitkan dan seperti itu pula dibalasi.

Dihari akherat nanti, ketika manusia sedang dalam keadaan huru-hara, Rasulullah memohon kepada Allah untuk dikurniakan syafaát-Nya yang dijanjikan; sesuai dengan janji Allah yang tidak menyalahi janji-Nya untuk menyafaátkan seluruh Nabi-nabi dan Rasul-rasul barulah mereka menyafaátkan umatnya masing-masing pula; dan demikian juga syafaát beliau untuk umatnya.

Ketika menerima syafaát untuk para Nabi, para Rasul dan seluruh orang-orang yang shaleh, Allah menyatakan kepada Rasulullah saw.; bahwa yang boleh menerima syafaát itu adalah yang berupa “insaniyah” (manusia yang utuh), sedangkan yang berbentuk “hewaniyah dan syaitaniyah” dilarang menerima syafaát. Karena itu adalah haq Allah untuk ditempatkan didalam neraka, supaya mereka dapat melihat ke-Agungan Allah itu dari pihak ázab yang amat pedih karena tidak mengakui adanya diri yang bathin yang terbit dari Nuur Muhammad; dan Nuur Muhammad itu terbit dari Dzat Allah Yang Maha Suci yang tiada anasir lain selain dari Allah sendiri yang berdiri Ia dengan sendiri-Nya dalam penciptaan alam beserta isinya.

Diakui atau tidak seluruh keterangan itu, namun demikianlah keberadaan kebenaran-Nya dan rencana Allah berjalan terus dan menunjuki kebenaran-Nya itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Kedua        : Hewan/binatang diciptakan untuk menolong kehidupan manusia itu sendiri, asal manusia dapat mengajarinya dengan kesabaran dan latihan; seperti unta, lembu, kuda, gajah dan lainnya.
Ketiga        : Hewan/binatang diciptakan untuk menjadi makanan bagi manusia dan didalam Islam, diatur pula mana yang haram dan mana yang wajib disembelih, mana yang tidak.
Keempat    : Hewan/binatang diciptakan Allah untuk perhiasan dalam rumah tangga dan ada yang dapat dijadikan sebagai penjaga rumah dari serangga yang merusak, seperti kucing misalnya.

  1. Dari tingkat kalam tauhid yang dilalui menuju Allah, masih tetap pada derajat Afál-Allah, yaitu alam nyata dengan kalam: Allah.

  1. Dari sisi seruan/tawajjuh yakni untuk berhadap kepada Allah dalam sesuatu yang sulit untuk dipecahkan dalam suatu masalah adalah “Ya, Allah… “, maka maksudnya adalah dengan mencari dalil-dalil-Nya dalam Al Qurán yang tertulis diatas kertas, tentulah sulit untuk mencari makna yang hakiki dibalik yang tersurat itu.
Al Qurán dari apa yang tertulis dan terbaca, kendatipun ahli-ahli bahasa Arab dengan segala sastranya tidak semua maksud dan tujuan ayat dapat diterobos dengan alam akal-fikir; karena yang dapat ditanggapi alam akal-fikir hanyalah yang mempunyai benda, apalagi didalam A1 Qurán banyak sekali ayat-ayat mutasyabihat yang sulit ditafsirkan oleh alam akal-fikir manusia yang lemah ini, kecuali ayat-ayat yang muhkamat yang jelas maksudnya. Contoh dari ayat mutasyabihat misal firman Allah yang artinya :

“Dan Dial-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) diatas air, …”
(Q.S. Hud : 7)

Menurut logika, air yang kita kenal yang diturunkan dari tujuh petala langit diatas orbit bumi (Q.S. Al Mu’minun : 17-18), adalah air yang ada dimuka bumi ini seperti air laut, air sungai, air mata air dan sebagainya. Tentulah air itu menurut pendapat akal-fikir adalah air yang ada ini, sedangkan air yang ada ini ada setelah diciptakan langit dan bumi. Padahal sebelum diciptakan langit dan bumi, Allah bersemayam diatas air; maka dengan logika tidaklah ada kemungkinan air yang ada dimuka bumi ini sebagai tempat persemayaman Allah; itu tidak mungkin. Sebab Allah bersemayam diatas air yang diciptakan-Nya sebelumnya. Tentu tidak mungkin, kalau air yang dimaksud menurut ayat itu sebelum alam tercipta, sudah tentu akal-fikir bertanya: “air yang dimaksud dengan kias itu apa, sebagai tempat persemayaman Allah sebelum langit dan bumi dicipta?” Kalau tidak boleh dipertanyakan dan bersifat menerima saja, apakah ajaran Islam ini sejenis ajaran ‘dogma’ yang tidak boleh diusul? Sedangkan Allah menyuruh manusia menggunakan akal-fikirnya yang dikaruniai-Nya.

Oleh sebab itu, ayat tersebut tidak dapat ditafsirkan dengan akal-fikir yang meraba-raba dengan segala teori ilmu bahasa, melainkan adalah dengan petunjuk-Nya jua.
Untuk mendapatkannya itulah perlunya amal dzikrullah yang maha penting itu, supaya Dia membukakan nuur yang berdamping nuur itu (Q.S. An Nuur : 35). Untuk mencapai nuur (petunjuk) itu, bacalah ayat An Nuur selanjutnya, yaitu ayat: 36,37 dan 38; disana jelas amal apa yang harus digunakan untuk mendapatkannya sebagai sebab-sebab untuk mendapatkan hasil sebagai akibat.
Maka untuk seluruh isi Al Qurán yang menjadi pemandu zaman itu yang mengandung seluruh ilmu pengetahuan teknologi, baik untuk duniawi maupun untuk ukhrawi dan dapat ditafsirkan dengan bahasa akal-fikir manusia itu sendiri. Allah yang menurunkan A1 Qurán, maka Dia-lah yang mengetahui tiap-tiap sesuatu. Jika demikian halnya, bahwa Dia-lah Yang Maha Mengetahui maksud dan tujuan ayat-ayat itu, tentulah sudah pasti tempat bertanya adalah pada Allah itu sendiri.

Yang menjadi masalahnya, bagaimana manusia itu dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan-Nya sebagaimana para Nabi dan Rasul dapat berbicara dengan Tuhannya dengan bahasa Ketuhanan; itulah penting dan perlunya manusia menyebut maupun mengingat Allah melalui Thareqatullah yang menjadi jalan yang lurus untuk membuka tabir rahasia antara yang Khaliq dengan makhluk-Nya.
Barangsiapa yang menolak adanya Thareqatullah didalam Islam, berarti menghancurkan keselamatan dirinya sendiri dan menghalangi kehidupan agama Islam, karena Thareqat-Tashauf itulah jantung kehidupannya addinul Islam dan áqidah yang benar itulah ruhnya Islam dan syariát itu adalah tubuhnya Islam; yang apabila diserasikan, diselaraskan dan diseimbangkan ketiganya dalam kehidupan penuntutan dan pengamalannya, niscaya jayalah Islam itu kembali untuk yang terakhir kalinya dizaman ilmu pengetahuan dan teknologi secanggih ini, Insya Allah.

Iman Ílmal-Yaqin, belum dapat mempedomani, menghayati dan mengamalkan isi Al Qurán dengan benar, kendatipun mereka membacanya sampai hafal dan menjadi qari dan qariáh, selain dari membacanya dengan suara dan lagu-lagu merdu, tetapi kebenaran isinya belumlah mereka fahami dan hayati sampai kepada jiwanya yang murni untuk menegakkan kebenaran. Sekurang-kurangnya untuk dirinya sendiri. Semoga iman Ílmal-Yaqin ini dapat ditingkatkan lagi kepada derajat yang lebih tinggi untuk meniti karir rohani dibidang Ketuhanan Yang Maha Tinggi sebagai manusia-manusia muslim yang bertanggung jawab bagi agamanya.

Ketiga tingkat/derajat iman yang sudah dibicarakan diatas, yaitu Iman-Taqlid, Iman-Dalil dan Iman Ílmal-Yaqin; disisi Allah masih binasa, karena ketiga iman itu masih berada pada derajat Afá1, itu berarti ciptaan yang nyata pada alam Tanzizi Muqaddar (dunia) ini.
Bila iman sederajat dengan alam yang binasa yaitu semesta alam ini, maka apabila alam binasa/kiamat, sudah pasti imannya juga akan binasa berserta dengan binasanya alam itu.
Yang dikatakan alam nyata adalah segala yang dapat dinalari aleh alat deria atau panca indra, yaitu sejak dari sisi langit tertinggi (langit ketujuh diatas orbit bumi) yang berbatasan dengan sidratil munthaha sampai ketitik fokus tata surya, matahari, seluruhnya akan binasa; sedangkan yang kekal adalah diatas sidratil munthaha, yaitu derajat Dzat-Allah yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka sewaktu hidup dialam dunia ini, marilah melakukan perjalanan menuju kesana dengan berbekal khasiat Kenabian dan Kerasulan. Sedangkan ahli-ahli teknologi membuat perjalanan kelangit tersebut dengan berbekal alam kebendaan, niscaya pada batas langit pertama saja mereka akan dilempari oleh Allah dengan nyala api dan cairan tembaga (Q.S. Ar Rahmaan : 33 dan 35), karena walaupun nampaknya tujuh lapis langit itu merupakan alam musyahadah, tetapi alam metafisiknya adalah alam malakut, alam nuur para malaikat dan alamnya para ruhaniyah suci sebelum bumi dan alam ini dikiamatkan oleh Allah sesuai dengan janjinya.
Keatas sidratul munthaha itulah perjalanan yang harus ditembus oleh alam ruhani yang menjadi qalbi manusia dan Asma’ bagi Allah dengan berbekal dzikrullah, karena menurut peringatan Allah yang bermaksud :

“Semua yang ada dibumi itu akan binasa”
“Dan akan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai wajah yang berkebesaran dan berkemuliaan”
(Q.S. Ar Rahmaan : 26-27)

Iman yang sebatas dengan bumi (Afál-Allah), akan binasa; karena ketika kita masih duduk dibumi ini, seluruh bumi kita ini tidak akan kelihatan. Untuk melihatnya, haruslah naik keangkasa bumi sampai kebulan. Jika kita telah berada dibulan, maka seluruh bumi dengan peredarannya akan terlihat jelas; apakah bumi ini indah atau buruk, pasti akan terlihat. Perjalanan alam kebendaan ini dengan ilmu pengetahuan telah dicapai oleh orang barat, maka mereka mengatakan bahwa bumi ini sangat indah, yaitu dengan kendaraan angkasa luar Apollo 11 pada tahun 1959.
Dengan perjalanan kerohanian, yang berbekal khasiat Kenabian, apabila telah melintasi alam metafisiknya bulan, pasti kita melihat keadaan bumi diri kita ini dari sisi metafisiknya; apakah buruk (sifat hewaniyah) ataupun baik (sifat insaniyah); niscaya terlihat dan inilah yang dikatakan fana pada Asma’-Allah. Karena manusia itu adalah pada hakikatnya Asma’-Allah sebagai Khalifah-Nya untuk berbuat baik atau buruk pada dirinya sendiri atau bagi orang lain maupun bagi alam lingkungan hidupnya.
Oleh karena dalam perjalanan kerohanian tentang iman ini masih berada pada tingkat Afál-Allah, maka ketiga tingkat iman yang terdahulu ini akan binasa bersertaan dengan binasanya bumi ini kelak pada waktu kiamat yang dijanjikan Allah tiba. Maka sebelum kiamat besar tersebut sampai pada masanya, kiamat kecil beribu-ribu datang setiap harinya (kematian), dialami oleh setiap pribadi manusia; apalagi dalam keadaan perang yang terjadi dimana-mana di lima benua ini.
Titik temu perjalanan alam kebendaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan perjalanan kerohanian dengan khasiat Kenabian dan Kerasulan adalah pada batas langit pertama diatas penjuru bulan, dekat dengan planet Mars (orbit langit petarna).
Diatas penjuru bulan untuk memasuki orbit Mars, menurut ayat-ayat Allah (Q.S. Ar Rahmaan : 7-10 dan 33-35), tidak dapat dilampaui oleh alam kebendaan, kendatipun oleh makhluk halus Jin; tetapi dengan alam kerohanian akan dapat menembus tujuh penjuru/petala langit, yaitu alamnya malaikat, karena pada hakikatnya manusia lebih tinggi derajatnya daripada malaikat, sedangkan alam kebendaan lebih rendah dari kejadian malaikat dan manusia, maka setiap yang beranasir kebendaan tidak akan dapat menembus alam malaikat.

Oleh sebab itu, akan sia-sialah biaya milyaran dollar setiap saat dengan membakarnya diangkasa luar dan pada hakikatnya angkasa luar itu adalah tujuh lapis langit diatas orbit bumi dan tujuh lapis langit dibawah orbit bumi sampai ketitik fokus matahari; dan diatas langit ketujuh diatas orbit bumi adalah sidratil munthaha. Penjuru bulan masih berada pada penjuru orbit bumi sebagai satelit bumi untuk menerima berita-berita langit kebumi dan dari bumi kelangit, baik dari ketujuh lapis langit diatas orbit bumi yang dikatakan sebagai bisikan Malaikat (dari alam nuur), maupun dari bawah orbit bumi sebagai bisikan Iblis (dari alam naar) yang terus menerus mempengaruhi manusia dengan (hawa) alam kebendaan melalui angin pada sinar gelombang frekwensi matahari.

Selanjutnya kita kembali membicarakan tingkat iman manusia yang mengaku sebagai umat Muhammad untuk menilik dan meneliti sampai dimana tingkatan iman kita disisi Allah; lepas dari ukuran manusia, karena iman ukuran manusia tidak dapat dipertanggung jawabkan kelak disisi Allah. Hanya ukuran iman disisi Allah-lah yang berlaku dihari berbangkit dan sementara ajal belum tiba, maka setiap saat kita wajib beramal menurut ilmu yang dituntut.
Iman Ilmal Yaqin

Wallahu Alam Bishshawab.


Moga Bermanfaat.


Insya ALLAH 

.........................................................

No comments: