اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
Iman Ainul Yaqin
Iman Ainul Yaqin
Selanjutnya kita kembali membicarakan tingkat iman manusia yang mengaku sebagai umat Muhammad untuk menilik dan meneliti sampai dimana tingkatan iman kita disisi Allah; lepas dari ukuran manusia, karena iman ukuran manusia tidak dapat dipertanggung jawabkan kelak disisi Allah. Hanya ukuran iman disisi Allah-lah yang berlaku dihari berbangkit dan sementara ajal belum tiba, maka setiap saat kita wajib beramal menurut ilmu yang dituntut.
I V. Tingkat IMAN ÁINUL-YAQIN
Isi kandungan Al Qurán itu ada tiga derajat yang lahir kepermukaan alam dan yang satunya sebagai kesimpulan yang berada pada derajat Dzat-Allah SWT.
Isi kandungan yang tiga itu adalah :
Pertama : Untuk mengatur syariát-fiqh yang berkenaan dengan alam kebendaan dan jasmani manusia sebagai wadah dan jatuhnya hukum-hukum benda dan perbuatan manusia; baik yang berhubungan kepada Allah sebagai úbudiyah, maupun yang berhubungan sesama manusia sebagai muamalah dan juga dengan alam sekitamya.
Kedua : Untuk mengatur perjalanan hati ruhani manusia dalam memperbaiki akhlak, yaitu thareqat-tashauf yang juga untuk menyucikan pandangan hati ruhani manusia terhadap Allah, maupun sesama hamba dan makhluk Allah lainnya.
Ketiga : Untuk mengatur áqidah/hakikat-tauhid manusia dalam nuraninya untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu barang yang diciptakan-Nya; ketiga isi kandungan Al Qurán inilah yang wajib diserasikan, diselaraskan dan diseimbangkan dalam penuntutan dan pengamalannya dalam keberadaan manusia keseharian.
Keempat : Bila telah serasi, selaras dan seimbang isi kandungan Al Qurán itu pada diri setiap umat Muhammad maka Allah dengan sendirinya akan menaikkannya ketingkat kandungan yang keempat dan disinilah hakikat kebenaran yang sesungguhnya daripada Al Qurán yang tidak dapat disebutkan; karena haram hukumnya untuk memperkatakannya dengan lidah, melainkan hanya dengan lisan kebatinan yang teramat tinggi yang hanya diketahui oleh orang yang disampaikan Allah baginya dengan kurnia Allah semata.
Untuk menyentuhnyapun diharamkan Allah, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :
“Sesungguhnya Al Qurán itu adalah bacaan yang amat mulia”
“(Yang terdapat) pada kitab yang terpelihara”
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”
“Diturunkan dari Tuhan semesta alam”
(Q.S. Al Waaqiah : 77-80)
Suci dalam masalah menyentuh Al Qurán dalam ayat diatas, bukanlah suci dalam hukum fiqh bab thaharah, melainkan adalah suci hati nurani manusia dari menyerikatkan Allah; karena Al Qurán yang dimaksudkan Allah disini adalah Al Qurán yang terpelihara disisi Dzat-Nya dibalik alam semesta. Maka untuk menyentuhnya adalah dengan perjalanan kerohanian yang mernbawa khasiat Kenabian dengan terlebih dahulu menyucikan diri dari sifat-sifat kesyirikan, barulah dapat menyentuhnya. Karena Al Qurán yang tidak binasa itu berada diatas sidratil munthaha melampaui alam malak, yaitu dialam Lahut, alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi. Barangsiapa yang sampai kesana perjalanan hati nuraninya, sampailah ia kemaqam rabbani, maka dengan sampainya seseorang hamba Allah kesana, Allah akan mengurniakan baginya ilmu-hikmah sebagai llmu-Laduni, lawan daripada ilmu yang Burhani yang memakai dalil-dalil.
Maqam hawa (pengaruh; kalau kepada manusia, itulah perempuan ataupun anak dan istri sendiri) yang senantiasa menarik manusia kelembah nafsu amarah, atau lebih rendah lagi kepada nafsu hewaniyah seumpama perzinahan dan lebih fatal lagi kepada nafsu syaitaniyah (tentara lblis) yang membawa kepada minum-minuman keras, judi, rampok, bunuh, bakar, perkosa dan kejahatan lainnya. Maqam hawa kejahatan ini pada manusia adalah dari pusatnya sampai pada lututnya dan dari lututnya sampai pada pergelangan kakinya adalah nafsu hewaniyah; karena kaki itulah yang membawa kepada kejahatan bila tidak dikontrol oleh akal-fikir yang ada dikepala. Sedangkan maqam (kedudukan) Iblis adalah dari pergelangan kaki ketapak kaki yang mempunyai mata kaki. Jikalau mata kaki inilah yang membawa perjalanan manusia dimuka bumi ini, kelak ia akan direndam pada lumpur/lembah logam yang membakar dirinya yang dilambangkan pada matahari.
Apabila si nafsu (dirinya manusia sebagai lembaga Adam) tidak kuasa lari dari bawah daya tarik si hawa (pengaruh anak dan istri yang merongrong, dan perempuan lain; kecuali anak dan istri yang taat dan beriman yang mempengaruhi kepada kebaikkan) dan nafsu hewaniyah yang menjerat kakinya oleh ikatan Iblis dari lembah lumpur logam yang berada pada pergelangan kakinya, niscaya darah-darah yang mengalir menyusupi seluruh tubuh sebagai tempat sahamnya Iblis dalam kehidupan ini akan mempengaruhi seluruh si hawa-lawammah.
Untuk mengatasi dan membatasi pengaruh Iblisiyah yang mengalir pada seluruh tubuh (*ingatlah bahwa Iblis tercipta dari api, dan anasir api menjadi darah bagi manusia), maka apabila ia akan naik melampaui pusat keatas, perlulah nuur dzikrullah untuk membatasinya; sehingga darah-darah yang terus mengalir setiap saat dan mengelilingi tubuh dengan pompaan jantung, tidak lagi membawa pengaruh besar terhadap kejahatan dari si nafsu dan si sifat lblis, dan telah dapat diperintah untuk patuh dan tunduk kepada hukum-hukum Allah pada diri manusia itu sendiri. Sehingga dengan memperbanyak dzikrullah akan sampailah manusia itu kemaqam (kedudukan) malaikat yang memerintah pada otak yang bersumberkan konsepsi wahyu tauhid.
Pada alam kebimbangan yang demikianlah keadaannya orang-orang yang berada pada tingkat muttaqin ini, perjuangannya sangat sengit untuk menolak semua pengaruh kejahatan yang setiap saat merongrongnya untuk kembali dari perjuangannya menempuh yang haq. Karena semakin tinggi tempat yang hendak dicapai, semakin keras tantangan yang dihadapi; seumpama semakin tinggi nilai mutiara yang hendak diselami, semakin dalam lautan yang dihadapi dan tantangan ombak dan badai semakin besar pula, demikian pula karang-karang yang tajam akan menanti terlebih lagi ikan pemangsa terus menyerang.
Betapa hebatnya pengaruh hawa ini kepada manusia, sungguh luar biasa sebagaimana yang dialami oleh Nabi Nuh a.s. sehingga beliau untuk menguasai anak istrinyapun tidak berdaya untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangkali kalau kita periksa iman kita dengan sungguh-sungguh, banyaklah yang binasa sebagaimana adanya keadaan iman yang telah diterangkan.
Oleh karena sulitnya membuka mata hati ini, maka apabila telah dibukakan oleh Allah, perbanyaklah syukur kepada-Nya dengan memperbanyak amal dan tawakkal supaya ditambah oleh Allah dan janganlah kufuri akan apa yang telah dibukakan Allah tersebut karena bila dikufuri, sungguh ázab Allah sangat pedih.
Jika hati itu belum bersih, maka ia akan melihat dengan jelas dengan penglihatan bathinnya bentuk-bentuk hewan yang dijadikan Allah untuk menjadi ikhtibar atau perumpamaan kepada manusia. Jika ia selama ini adalah seorang yang merasa jagoan dan menjadi centeng pada suatu perusahaan misalnya, kemudian bila ia mengamalkan dzikrullah dengan tekun; pada suatu saat ia akan melihat dirinya dengan pandangan bathinnya dalam bentuk hewan yang ganas; umpama seperti macan ataupun seekor singa. Bila bentuk-bentuk hewan yang ganas itu telah dilihat dengan mata bathinnya, itu berarti sifat hewaniyah yang meliputi dirinya selama ini telah keluar dari alam ruhaninya. Hanya menunggu saat yang tertentu dengan ketekunan dalam amalnya, ia akan melihat dirinya itu kelak telah berbentuk insaniyah.
Pada hakikatnya, jika Allah telah membukakan mata hati itu untuk melihat diri kita sendiri; maka bila yang dilihat diluar diri kita itu, itulah diri kita yang asli dan yang pada tubuh kasar ini hanyalah bayangan belaka. Maka yang asli itulah yang akan berhadap kelak dengan Allah SWT. Jika diri kita itu berbentuk hewan (menurut tingkah laku kita), manalah mungkin Allah menerimanya, kecuali telah berbentuk insani. Maka itulah yang selamat dan mendapat syafaát Rasul dengan izin Allah.
Keterangan tersebut dibenarkan oleh Allah dengan firman-Nya yang artinya :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka jahanam kebanyakkan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati/qalbi, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi tidak dipergunakan) untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”
(Q.S. Al A’raf : 179)
Dengan penjelasan firman Allah tersebut, nyatalah betapa pentingnya mengenal seluk-beluk hati manusia itu sebagai petaruh sifat: qadirun, muridun, hayyun dan álimun (*lihat no.1). Hati itu haruslah digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, karena pada hati itu telah Allah pertaruhkan empat sifat-Nya yang maha penting supaya digunakan untuk memahami apa sebenarnya hidup dan kehidupan ini.
Bila hati itu tidak digunakan untuk wadah álimun Allah dan tiga sifat tersebut, maka manusia itu adalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Jika lebih sesat, tentulah menjadi hewan-hewan yang liar dan buas, bahkan menjadi syaitaniyah. Bagi orang yang berakal, peringatan Allah itu cukup keras untuk didengar, diperhatikan dan dihayati, lalu bertaubat untuk kembali kejalan Allah yang lurus melalui Thareqat-Allah yang dianjurkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mendengar.
“Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka ia telah menyatakan perang kepada-Ku. Dan Aku tak pernah ragu melaksanakan sesuatu, sebagaimana ragu-Ku untuk mematikan seorang mu’min, sebab ia enggan mati dan Aku tidak suka mengganggunya. Dan adakalanya seorang wali-Ku (kekasih-Ku) yang mu’min minta kaya, maka aku palingkan kepada kemiskinan, sebab sekiranya Aku berikan kekayaan, niscaya bahaya baginya. Dan adakalanya wali-Ku yang mu’min minta miskin, maka Aku berikan kekayaan, sebab sekiranya Aku berikan kemiskinan, berbahaya baginya. Sesungguh nya Allah berfirman : Demi Kemuliaan dan Kebesaran-Ku, yang mengutamakan kesukaan-Ku dari kesukaan hawa nafsunya, melainkan Aku tetapkan (ingatkan selalu) ajalnya seolah-olah didepan matanya dan Aku jamin rizkinya dilangit dan dibumi, dan Aku utamakan segala hajatnya lebih dari pada semua pedagang”
(Firman Allah dalam Hadits Qudsiy; riwayat Aththabrani)
Ilaaha itu pada derajat Sifat-Allah yang mengandung enam sifat;
Illa itu pada derajat Asma’-Allah yang mengandung empat sifat yang sedang dibicarakan ini (qadirun, muridun, hayyun dan álimun).
Illa pada makna harfiyahnya adalah “melainkan” dimana maksud melainkan disini adalah untuk menjadi argumentasi atau dalil yang menunjukkan adanya sesuatu pertanda kebenaran yang mutlak. Yang dimaksudkan pada awal kalimat (Laa; artinya. tidak), maka “menidakkan atau menafikkan” pada awal kalimat adalah yang disambung dengan kalimat Illaha, artinya Tuhan (Illah) adalah untuk menyatakan “adanya atau mengitsbatkan” dengan dalil llla (melainkan) Allah (nama bagi Dzat) Yang Maha Wujud.
Allah itu derajat Afál-Allah yang mengandung lima sifat, sehingga dari Dzat sampai Afál berjumlah dua puluh sifat yang wajib diketahui oleh setiap umat Muhammad untuk mengenal Allah; sekurang-kurangnya mengenal sifat-sifat Allah yang dipertaruhkan kepada semesta alam pada umumnya pada manusia khususnya.
Pada tingkat kalam-tauhid “Illa'” ini adalah pada derajat Asma’-Allah yang mana asma’ itu pada alam benda; abstraknya adalah Ruhani yang dapat dilihat hanya dengan ketajaman mata hati yang menjadi qalbi manusia; dan hati/qalbi inilah “Diri yang terperi” bagi setiap manusia. “Diri yang terjalin (tersusun)” adalah tubuh yang terdiri dari darah, tulang, urat dan daging. “Diri yang tersembunyi” adalah ruh dan “Diri sebenar diri” adalah Dzat Allah; yang melahirkan segalanya itu dengan sifat Kesempurnaan, Kebesaran dan Keindahan-Nya Yang Maha Agung.
Bila kita kaji lebih jauh dan dalam, maka manusia itu adalah bertindak atas nama Allah dengan sifat: qadirun, muridun, hayyun dan álimun yang dipertaruhkan kepada hati/qalbi manusia; dan ketahuilah bahwa itulah sebabnya Rasulullah saw. menyatakan :
“Setiap pekerjaan yang baik (menurut konsepsi wahyu), lakukanlah dengan mengucapkan ‘Bismillahirahmaanirahiim’ (dengan/atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)”
Oleh sebab itu janganlah lagi ada keraguan didalam hati untuk menerima kebenaran itu, bahwa memang benar setiap perbuatan manusia (buruk-baik) adalah atas nama Allah; demikian juga Jibril yang pertama kali menemui Rasul untuk menyampaikan wahyu adalah atas nama Allah (“Bacalah dengan/atas nama Allah…”), bukankah Allah yang menjadikan manusia dengan membuat tiap-tiap perbuatan manusia itu? Hanya saja bagi perbuatan yang buruk, sucikanlah nama Tuhan itu dengan mengatakan: “Yang buruk itu datang daripada Iblis dan dirimu sendiri”; tetapi dalam rukun-iman, tidak dapat dikatakan yang demikian supaya identitas ketauhidan itu tidak hilang. Maka dinyatakan secara gamblang: Percaya kepada Qadha dan Qadar (buruk dan baik) datang daripada Allah.
Pikirkanlah wahai umat, jika engkau telah mengakui dan meyakini kebenaran ini, mungkinkah tega hatimu berbuat ma’siat diluar keridhaan Allah bagimu; sedangkan setiap perbuatanmu itu adalah atas nama Allah yang menjadikan semesta alam. Janganlah diselewengkan “Bismillahirahmaanirahiim” yang dipertaruhkan kepada hatimu yang berisikan: qadirun (yang maha kuasa), muridun (yang maha berkehendak/menentukan segala sesuatu), hayyun (yang maha hidup) dimana qalbi/jantung itulah yang mengalirkan darah melalui pembuluhnya kesegenap tubuh untuk kehidupan seluruh tubuh lahir dan bathin dan álimun (yang maha mengetahui); keempat sifat Allah itulah yang dipertaruhkan pada jantungmu atas nama Allah.
Alangkah meruginya mereka yang dalam shalatnya membaca Al Fatihah, tetapi tidak membaca/melahirkan Bismillahirrahmanirrahiim; maka atas nama siapakah shalat yang didirikannya itu? Adakah atas namanya sendiri? Naúdzubillahi min dzaalik. Alangkah takabumya mereka disisi Allah kendatipun disisi manusia mereka sebagai orang-orang terhormat didalam agama Allah; tetapi mereka tidak lebih adalah orang-orang yang takabur dan sombong terhadap Allah, karena mereka merasa mempunyai kuasa, kehendak, kehidupan dan ilmu sendiri, bukan daripada petaruh-petaruh Allah. Semoga mereka mendapat petunjuk-Nya untuk kembali kepada áqidah tauhid yang benar, Amin!
Maksud ucapan-hati dalam berhadap dengan Allah ini, mereka sudah dapat berkomunikasi langsung kepada Allah tanpa bertanya lagi kepada guru, atau mencari dalil-dalil Hadits dan Al Qurán (sebagaimana iman-Taqlid, iman-Dalil dan iman Ílmal-Yaqin), tetapi mereka duduk menghadap kiblat dalam keadaan bersuci daripada hadats besar maupun kecil.
Malikul Ardhi, bermaksud Yang Merajai Bumi; sebagaimana di ketahui bahwa yang merajai langit dan bumi dan isi diantara keduanya adalah Allah. Tetapi Allah mempunyai petaruh/amanah dilangit dan dibumi ini. Petaruh kerajaan Allah dilangit adalah diamanahkan Allah pada malaikat-Nya yang dipenghului oleh Saidina Jibril pada tujuh lapis langit yang alam metafisiknya adalah alam-Malakut. Maka kerajaan Allah dimuka bumi ini, dipertaruhkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mu’min; dimana pada hati hamba yang mu’min itu adalah Kursiy pemerintahan Allah yang diturunkan dari Árasy Allah (derajat Dzat) kealam Luh (derajat Sifat), dari Luh kealam Kursiy (derajat Asma’) dan dari Kursiy kealam Mahfuz (derajat Afál) Allah; dimana seluruhnya terhimpunlah kalimat tauhid Laa Ilaaha llla Allah. Kalimat tauhid inilah tali pergantungan hamba-Nya kepada-Nya yang banyak berdzikir kepada-Nya dalam segala situasi dan kondisi.
Ketika si iman Áinul-Yaqin berhadap kepada Allah dalam tawajjuhnya setelah mengucapkan: Ya, Malikul Ardhi, dilenyapkanlah pandangan mata hatinya terhadap dunia ini, semata-mata berserah diri kepada Allah Khalikul Alam sejak dari sehelai rambut sampai kepada setitik darahnya dan disebutnyalah Ismu-Dzat itu dalam qalbinya: Allah…Allah… seterusnya. Maka dengan berkah guru-muryid nya itu, insya Allah akan diperolehnya petunjuk Allah dengan jelas. Disanalah ia berbicara dengan Tuhannya menurut bahasa lisan kebatinan dengan bahasa yang digunakannya sehari-hari; atau ia akan didatangi oleh “ruhaniyah gurunya” yang bertindak atas nama Allah sebagaimana misalan Muhammad didatangi oleh malaikat Jibril dalam menyampaikan wahyu yang diwahyukan.
Semua itu dapat berlaku setelah hati bersih dari segala kesyirikan yang didalam qalbi itu tidak lagi ditemui alam yang bernilai kebendaan, melainkan hanya ada asma’ Allah. Dan sifat amarah, hewaniyah dan syaitaniyah telah menyingkir dari qalbi itu; kendatipun baru dalam keadaan taraf nafsu lawwamah sebelum mencapai nafsu Muthmainah.
Bila ia telah dapat berkomunikasi dengan Allah dari hasil dzikimya itu kepada Allah, maka kedudukannya itu telah duduk pada maqam Khalifatunnabi (khalifah guru), karena masih dalam berkah gurunya. Itupun masih khalifah tingkat yang pertama/terendah, dan ilmu yang diperolehnya tersebut belum dapat menjadi da’wah atau hujjah; karena masih dalam nafsu yang lawwamah. Maka hanya dapat dipakainya untuk dirinya sendiri, sebagaimana nabi-nabi yang bukan berderajat Rasul.
2) “Ya, Malikussama-í …”
Apabila para ahli amal yang telah mendapat derajat Khalifatunnabi yang pertama ini terus melanjutkan amal dan tetap menjaganya dari segala yang dilarang hukum syara’ dan memeliharanya dengan mendirikan syariát yang lahiriyah; pada suatu waktu, ia akan dapat bertawassil/tawajjuh dengan seruan: Ya, Malikussama-í, yakni Yang Merajai Langit.
Yang merajai langit adalah alam malaikat, termasuk para silsilah thareqat dari guru-mursyid yang sambung bersambung jalan ilmu bathin itu sampai kepada salah seorang sahabat nabi yang empat (Khulafaurrasyiddin: Abu Bakkar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib r.a.) sampai kepada Rasulullah saw. ahlizzuq.
Pada maqam tawajjuh ini orang-orang muttaqin dapat bertemu dengan arwah-arwah para Nabi dan Rasul serta para Malaikat dalam keadaan jaga (bukan mimpi), sebagaimana Nabi Muhammad saw. dapat bertemu dengan para Nabi-nabi terdahulu daripadanya. Sehingga ketika dalam perjalanan alam ghaibnya Nabi dalam menemui Allah, yaitu ketika isra’mi’rajnya, dimana ketika itu Allah menugaskan kepada Muhammad dan umatnya untuk melaksanakan shalat dalam sehari semalam lima puluh waktu; tetapi dengan saran ruhaniyah Nabi Musa a.s., sehingga akhirnya kewajiban shalat itu tinggal lima waktu, itupun masih sangat berat oleh umat Muhammad; terutama umat akhir zaman yang telah dikuasai oleh nilai-nilai kebendaan yang disebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun demikian, banyak diantara Úlama Islarn yang menolak kebenaran bahwa manusia ini dapat bertemu dengan para ruhaniyah suci selagi masih dialam dunia; sedangkan Rasulullah saw. itu adalah ikutan umat sejak awal dan akhirnya, dari zahir sampai bathinnya. Jika kita orang-orang yang benar mengaku sebagai umatnya yang meliputi empat ilmu dalam perjalanan kerohanian: zahirnya menjadi syariát-fiqh, akhirnya menjadi thareqat-tashauf, awalnya menjadi hakikat-tauhid dan bathinnya menjadi ma’ rifah-hikmah.
Dengan dapatnya seorang muttaqin bertawajjuh kepada Allah dengan seruan: Ya, Malikussama-í dan juga dapat bertemu dengan ruhaniyah raja daripada Wali-wali Allah (Sultan Aulia Allah) yaitu: Syekh Abdul Qadir Al Jailani Quttuburrabbani, maka derajat mereka telah menjadi Khalifah Nabi tingkat kedua, maka apabila terus disyukuri, niscaya Allah akan menaikkan lagi derajatnya ketingkat yang lebih tinggi; tetapi segala aral dan rintangan akan semakin berat yang merupakan cobaan daripada Allah.
3) “Ya, Malikunnuurul Haq…”
Setelah mengalami berbagai rintangan dan cobaan dalam amalnya menuju Allah maka sehabis maqam fana pada Asma’-Allah ini adalah bertemu dengan ruhaniyah Rasulullah saw. sendiri, dimana dalam pertemuan itu sepcrti dalam partemuan dengan para ruhaniyah Nabi-nabi dan Wali-wali Allah yang lain; dapat melihat dengan jelas dan nyata wajahnya sebagaimana kita melihat dialam nyata ini. Tetapi ruhaniyah yang tercipta dari nuur Dzat-Allah secara langsung sebagai alam nadzarullah itu, tidak dapat ditentang untuk dapat melihat wajah beliau karena amat menyilaukan mata yang dikepala; kendatipun yang melihat alam bathin itu mata hati, tetapi kontak dan berhubungan dengan mata yang ada dikepala.
Bila tidak demikian keadaannya, bukanlah yang ditemuinya itu ruhaniyah Rasulullah, itulah pertanda yang utama; dan segenap jenis jin dan malaikat, tidak akan dapat meniru ruhaniyah Nabi karena mereka akan terbakar.
Bila seorang ahli amal dzikrullah telah melihat ruhaniyah nabinya, maka habislah perjalanan fana pada asma’-Allah ini. Karena sembilan puluh sembilan nama Allah sebagai Asma ul Husnah, maka terhimpunlah kesembilan puluh sembilan nama itu kepada yang keseratusnya yaitu kepada “Ruhaniyah Rasulullah” yang bernama Muhammad, sebagaimana sabdanya yang artinya :
“Namailah namamu (sahabat) sebagaimana namaku, tetapi jangan ambil pangkat dan jabatan/titelku”.
Sampai kepada perjalanan terakhir maqam fana pada asma’-Allah ini, cukuplah ia telah mengetahui petaruh/amanah Allah tentang kerajaan Allah yang dilangit dan yang dibumi; maka ia itu telah menjadi Khalifatunnabi yang tertinggi dan ketika itu wajiblah atas dirinya memotong seekor qurban tanda syukur kepada Allah yang telah menunjuki dan mengangkatnya kederajat disisi Allah dan ingatlah, bahwa kekhalifahan ini bukan angkatan manusia atau gurunya, tetapi angkatan Allah dengan sendiri-Nya. Hanya guru itu jualah yang men-tauliyah-kannya sebagai pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi ini untuk meluluskan hukum-hukum-Nya kepada sekalian manusia.
Adapun qurban yang dimaksud adalah sekurang-kurangnya seekor unggas (ayam jantan) sebagai “iwat” untuk menetapkan ilmu itu baginya dan qurban itu dikendurikannya bersama-sama guru mursyidnya.
I V. Tingkat IMAN ÁINUL-YAQIN
- Dari sifat-sifat Allah, iman keempat ini telah meningkat kepada derajat sifat yang terkandung kedalam kalimah Asma’-Allah; yaitu yang terliput pada qalbi: qadirun, muridun, hayyun dan álimun yang dapat memandang tubuh yang kasar dalam sifat yang burukkah atau yang baikkah, maksudnya apakah dalam bentuk sifat hewaniyah atau telah sempurna dalam bentuk insaniyah.
- Dari kejadian enam masa, tingkat iman Áinul-Yaqin telah meningkat kepada Tanzizi Qadim, yang berarti telah memiliki iman yang qadim (alam cita ketika Allah menyusun segala rencana-Nya untuk menciptakan seluruh alam) dari alam nadzar-Nya Nuur Muhammad.
- Alam yang sedang dilaluinya adalah alam Jabarut (alam misal), sebagaimana Rasulullah saw. ketika perjalanan ghaib isra’-mi’raj nya yang dituntun oleh Jibril. Dimana beliau banyak melihat tanda-tanda kebesaran Allah (peristiwa-peristiwa keadaan ruh yang durhaka kepada Allah), misalnya seseorang yang memikul beban berat. Beban itu tidak dapat diangkat dan dipikulnya, tetapi bukan dikuranginya bahkan ditambahinya lagi sehingga ia ditimpa terus oleh beban-beban berat itu. Rasulullah bertanya kepada Jibril dari makna yang dilihatnya itu, lalu Jibril menyatakan bahwa itulah ibarat umatnya yang banyak menerima amanah, tetapi amanah yang satu belum dikerjakan dia sudah menerima amanah yang lain. Bahkan amanah itu diselewengkannya untuk kepentingan pribadi ataupun golongannya.
- Dalam tingkatan Rukun Iman, iman Áinul-Yaqin ini berada pada taraf jajaran: Percaya kepada Kitabullah, yang utama adalah A1 Qurán, Injil, Zabur dan Taurat.
Isi kandungan Al Qurán itu ada tiga derajat yang lahir kepermukaan alam dan yang satunya sebagai kesimpulan yang berada pada derajat Dzat-Allah SWT.
Isi kandungan yang tiga itu adalah :
Pertama : Untuk mengatur syariát-fiqh yang berkenaan dengan alam kebendaan dan jasmani manusia sebagai wadah dan jatuhnya hukum-hukum benda dan perbuatan manusia; baik yang berhubungan kepada Allah sebagai úbudiyah, maupun yang berhubungan sesama manusia sebagai muamalah dan juga dengan alam sekitamya.
Kedua : Untuk mengatur perjalanan hati ruhani manusia dalam memperbaiki akhlak, yaitu thareqat-tashauf yang juga untuk menyucikan pandangan hati ruhani manusia terhadap Allah, maupun sesama hamba dan makhluk Allah lainnya.
Ketiga : Untuk mengatur áqidah/hakikat-tauhid manusia dalam nuraninya untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu barang yang diciptakan-Nya; ketiga isi kandungan Al Qurán inilah yang wajib diserasikan, diselaraskan dan diseimbangkan dalam penuntutan dan pengamalannya dalam keberadaan manusia keseharian.
Keempat : Bila telah serasi, selaras dan seimbang isi kandungan Al Qurán itu pada diri setiap umat Muhammad maka Allah dengan sendirinya akan menaikkannya ketingkat kandungan yang keempat dan disinilah hakikat kebenaran yang sesungguhnya daripada Al Qurán yang tidak dapat disebutkan; karena haram hukumnya untuk memperkatakannya dengan lidah, melainkan hanya dengan lisan kebatinan yang teramat tinggi yang hanya diketahui oleh orang yang disampaikan Allah baginya dengan kurnia Allah semata.
Untuk menyentuhnyapun diharamkan Allah, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :
“Sesungguhnya Al Qurán itu adalah bacaan yang amat mulia”
“(Yang terdapat) pada kitab yang terpelihara”
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”
“Diturunkan dari Tuhan semesta alam”
(Q.S. Al Waaqiah : 77-80)
Suci dalam masalah menyentuh Al Qurán dalam ayat diatas, bukanlah suci dalam hukum fiqh bab thaharah, melainkan adalah suci hati nurani manusia dari menyerikatkan Allah; karena Al Qurán yang dimaksudkan Allah disini adalah Al Qurán yang terpelihara disisi Dzat-Nya dibalik alam semesta. Maka untuk menyentuhnya adalah dengan perjalanan kerohanian yang mernbawa khasiat Kenabian dengan terlebih dahulu menyucikan diri dari sifat-sifat kesyirikan, barulah dapat menyentuhnya. Karena Al Qurán yang tidak binasa itu berada diatas sidratil munthaha melampaui alam malak, yaitu dialam Lahut, alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi. Barangsiapa yang sampai kesana perjalanan hati nuraninya, sampailah ia kemaqam rabbani, maka dengan sampainya seseorang hamba Allah kesana, Allah akan mengurniakan baginya ilmu-hikmah sebagai llmu-Laduni, lawan daripada ilmu yang Burhani yang memakai dalil-dalil.
- Dari tingkat iman adalah Iman Áinul-Yaqin yang sedang dibicarakan ini, yaitu mulai terbukanya ketajaman mata hati untuk membuka selapis dari alam ghaib yang berlapis-lapis banyaknya.
- Tingkatan manusia yang dikaruniai iman Áinul-Yaqin ini disebut Muttaqin, yaitu orang-orang yeng bertaqwa kepada Allah, dimana arti taqwa secara harfiyah adalah meninggalkan segala larangan-Nya sedapat mungkin dan melaksanakan perintah-Nya sedapat-dapatnya pula dan senantiasa menambah amal-ibadahnya termasuk amalan yang nawafil (sunat) seperti: shalat lail, shalat tahajjud, shalat dhuha, dzikir, tahmid dan tasbih pada setiap ada waktu lowong baginya diluar mencari kehidupan duniawinya.
- Derajat kekhalifahan bagi orang-orang muttaqin ini telah sampai, yaitu Khalifatunnabi (Khalifah-Guru), maksudnya adalah ilmu yang dituntut dan diperolehnya dengan natijah (hasil amalan yang diwiridkan setiap waktu) belum boleh untuk menjadi da’wah dan hujjah kepada orang lain; karena ilmu itu belum begitu kuat kedudukannya didalam dirinya, sehingga kekhalifahan pada tingkat iman Áinul-Yaqin ini ada tiga derajat yang akan dijelaskan pada nomor 13 yang akan datang.
- Tingkatan nafsu (diri) orang yang sampai kepada muttaqin ini masih ditingkat nafsu-Lawammah, yaitu bimbang dan ragu. Disebabkan oleh bermacam-macam pengaruh yang terus menerus dirongrong oleh hawa (pengaruh) alam luar. Dimana pengaruh alam luar itu datangnya dari bisikan Iblis (*lihat kembali gambar alam mikro), disana jelas yang dikatakan nafsu (diri) manusia itu adalah dari pusatnya keatas sampai pada leher ataupun sebatas bahunya.
Maqam hawa (pengaruh; kalau kepada manusia, itulah perempuan ataupun anak dan istri sendiri) yang senantiasa menarik manusia kelembah nafsu amarah, atau lebih rendah lagi kepada nafsu hewaniyah seumpama perzinahan dan lebih fatal lagi kepada nafsu syaitaniyah (tentara lblis) yang membawa kepada minum-minuman keras, judi, rampok, bunuh, bakar, perkosa dan kejahatan lainnya. Maqam hawa kejahatan ini pada manusia adalah dari pusatnya sampai pada lututnya dan dari lututnya sampai pada pergelangan kakinya adalah nafsu hewaniyah; karena kaki itulah yang membawa kepada kejahatan bila tidak dikontrol oleh akal-fikir yang ada dikepala. Sedangkan maqam (kedudukan) Iblis adalah dari pergelangan kaki ketapak kaki yang mempunyai mata kaki. Jikalau mata kaki inilah yang membawa perjalanan manusia dimuka bumi ini, kelak ia akan direndam pada lumpur/lembah logam yang membakar dirinya yang dilambangkan pada matahari.
Apabila si nafsu (dirinya manusia sebagai lembaga Adam) tidak kuasa lari dari bawah daya tarik si hawa (pengaruh anak dan istri yang merongrong, dan perempuan lain; kecuali anak dan istri yang taat dan beriman yang mempengaruhi kepada kebaikkan) dan nafsu hewaniyah yang menjerat kakinya oleh ikatan Iblis dari lembah lumpur logam yang berada pada pergelangan kakinya, niscaya darah-darah yang mengalir menyusupi seluruh tubuh sebagai tempat sahamnya Iblis dalam kehidupan ini akan mempengaruhi seluruh si hawa-lawammah.
Untuk mengatasi dan membatasi pengaruh Iblisiyah yang mengalir pada seluruh tubuh (*ingatlah bahwa Iblis tercipta dari api, dan anasir api menjadi darah bagi manusia), maka apabila ia akan naik melampaui pusat keatas, perlulah nuur dzikrullah untuk membatasinya; sehingga darah-darah yang terus mengalir setiap saat dan mengelilingi tubuh dengan pompaan jantung, tidak lagi membawa pengaruh besar terhadap kejahatan dari si nafsu dan si sifat lblis, dan telah dapat diperintah untuk patuh dan tunduk kepada hukum-hukum Allah pada diri manusia itu sendiri. Sehingga dengan memperbanyak dzikrullah akan sampailah manusia itu kemaqam (kedudukan) malaikat yang memerintah pada otak yang bersumberkan konsepsi wahyu tauhid.
Pada alam kebimbangan yang demikianlah keadaannya orang-orang yang berada pada tingkat muttaqin ini, perjuangannya sangat sengit untuk menolak semua pengaruh kejahatan yang setiap saat merongrongnya untuk kembali dari perjuangannya menempuh yang haq. Karena semakin tinggi tempat yang hendak dicapai, semakin keras tantangan yang dihadapi; seumpama semakin tinggi nilai mutiara yang hendak diselami, semakin dalam lautan yang dihadapi dan tantangan ombak dan badai semakin besar pula, demikian pula karang-karang yang tajam akan menanti terlebih lagi ikan pemangsa terus menyerang.
Betapa hebatnya pengaruh hawa ini kepada manusia, sungguh luar biasa sebagaimana yang dialami oleh Nabi Nuh a.s. sehingga beliau untuk menguasai anak istrinyapun tidak berdaya untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangkali kalau kita periksa iman kita dengan sungguh-sungguh, banyaklah yang binasa sebagaimana adanya keadaan iman yang telah diterangkan.
Oleh karena sulitnya membuka mata hati ini, maka apabila telah dibukakan oleh Allah, perbanyaklah syukur kepada-Nya dengan memperbanyak amal dan tawakkal supaya ditambah oleh Allah dan janganlah kufuri akan apa yang telah dibukakan Allah tersebut karena bila dikufuri, sungguh ázab Allah sangat pedih.
- Tingkat diri manusia yang tercipta dari Nuur Muhammad yang menjadi rahmat kepada segenap alam, adalah tingkatan Ruhani. Dalam keterangan yang lalu telah dinyatakan bahwa tubuh kasar manusia berasal dari Zahir-Muhammad dan Afál bagi Allah yang diturunkan dari alam Baitil Ma’mur dengan proses yang telah dinyatakan pada keterangan yang lalu. Hati atau qalbi manusia berasal dari Akhir-Muhammad, dimana Nuur Muhammad adalah Asma’ bagi Allah.
Jika hati itu belum bersih, maka ia akan melihat dengan jelas dengan penglihatan bathinnya bentuk-bentuk hewan yang dijadikan Allah untuk menjadi ikhtibar atau perumpamaan kepada manusia. Jika ia selama ini adalah seorang yang merasa jagoan dan menjadi centeng pada suatu perusahaan misalnya, kemudian bila ia mengamalkan dzikrullah dengan tekun; pada suatu saat ia akan melihat dirinya dengan pandangan bathinnya dalam bentuk hewan yang ganas; umpama seperti macan ataupun seekor singa. Bila bentuk-bentuk hewan yang ganas itu telah dilihat dengan mata bathinnya, itu berarti sifat hewaniyah yang meliputi dirinya selama ini telah keluar dari alam ruhaninya. Hanya menunggu saat yang tertentu dengan ketekunan dalam amalnya, ia akan melihat dirinya itu kelak telah berbentuk insaniyah.
Pada hakikatnya, jika Allah telah membukakan mata hati itu untuk melihat diri kita sendiri; maka bila yang dilihat diluar diri kita itu, itulah diri kita yang asli dan yang pada tubuh kasar ini hanyalah bayangan belaka. Maka yang asli itulah yang akan berhadap kelak dengan Allah SWT. Jika diri kita itu berbentuk hewan (menurut tingkah laku kita), manalah mungkin Allah menerimanya, kecuali telah berbentuk insani. Maka itulah yang selamat dan mendapat syafaát Rasul dengan izin Allah.
Keterangan tersebut dibenarkan oleh Allah dengan firman-Nya yang artinya :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka jahanam kebanyakkan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati/qalbi, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi tidak dipergunakan) untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”
(Q.S. Al A’raf : 179)
Dengan penjelasan firman Allah tersebut, nyatalah betapa pentingnya mengenal seluk-beluk hati manusia itu sebagai petaruh sifat: qadirun, muridun, hayyun dan álimun (*lihat no.1). Hati itu haruslah digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, karena pada hati itu telah Allah pertaruhkan empat sifat-Nya yang maha penting supaya digunakan untuk memahami apa sebenarnya hidup dan kehidupan ini.
Bila hati itu tidak digunakan untuk wadah álimun Allah dan tiga sifat tersebut, maka manusia itu adalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Jika lebih sesat, tentulah menjadi hewan-hewan yang liar dan buas, bahkan menjadi syaitaniyah. Bagi orang yang berakal, peringatan Allah itu cukup keras untuk didengar, diperhatikan dan dihayati, lalu bertaubat untuk kembali kejalan Allah yang lurus melalui Thareqat-Allah yang dianjurkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mendengar.
- Tingkat kefanaan diri manusia terhadap derajat Ketuhanan Yang Maha Tinggi, adalah fana pada Asma’-Allah; sebagaimana yang diterangkan pada no.9 diatas.
- Hal keadaan syafaát Rasul bagi tingkat iman Áinul-Yaqin ini telah Allah izinkan untuk menerimanya, karena tetap mengamalkan dzikrullah yang bertuntunan atas nama Allah; yaitu para ahli-dzikir yang menjadi tempat bertanya manusia atas jaminan Allah, asalkan penuntunnya itu tidak dikhianatinya zahir dan bathin sampai akhir hayatnya. Karena penuntun Thareqatullah itu adalah pewaris Nabi (Al Úlama Waratsatul an Biyaa’) yang dikurniakan Allah ilmu-ilmu hikmah untuk menyeru manusia kepada jalan Allah, dan mereka itulah para Wali-wali Allah yang menjadi Khalifah-Nya dimuka bumi ini dan diberi pengetahuan mengenai sesuatu yang awal, akhir, yang zahir maupun yang bathin dan barangsiapa memusuhinya, maka Allah berfirman yang maksudnya :
“Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka ia telah menyatakan perang kepada-Ku. Dan Aku tak pernah ragu melaksanakan sesuatu, sebagaimana ragu-Ku untuk mematikan seorang mu’min, sebab ia enggan mati dan Aku tidak suka mengganggunya. Dan adakalanya seorang wali-Ku (kekasih-Ku) yang mu’min minta kaya, maka aku palingkan kepada kemiskinan, sebab sekiranya Aku berikan kekayaan, niscaya bahaya baginya. Dan adakalanya wali-Ku yang mu’min minta miskin, maka Aku berikan kekayaan, sebab sekiranya Aku berikan kemiskinan, berbahaya baginya. Sesungguh nya Allah berfirman : Demi Kemuliaan dan Kebesaran-Ku, yang mengutamakan kesukaan-Ku dari kesukaan hawa nafsunya, melainkan Aku tetapkan (ingatkan selalu) ajalnya seolah-olah didepan matanya dan Aku jamin rizkinya dilangit dan dibumi, dan Aku utamakan segala hajatnya lebih dari pada semua pedagang”
(Firman Allah dalam Hadits Qudsiy; riwayat Aththabrani)
- Tingkat kalam-tauhid yang mereka lalui ialah kalam “Illa”, dimana maksudnya:
Ilaaha itu pada derajat Sifat-Allah yang mengandung enam sifat;
Illa itu pada derajat Asma’-Allah yang mengandung empat sifat yang sedang dibicarakan ini (qadirun, muridun, hayyun dan álimun).
Illa pada makna harfiyahnya adalah “melainkan” dimana maksud melainkan disini adalah untuk menjadi argumentasi atau dalil yang menunjukkan adanya sesuatu pertanda kebenaran yang mutlak. Yang dimaksudkan pada awal kalimat (Laa; artinya. tidak), maka “menidakkan atau menafikkan” pada awal kalimat adalah yang disambung dengan kalimat Illaha, artinya Tuhan (Illah) adalah untuk menyatakan “adanya atau mengitsbatkan” dengan dalil llla (melainkan) Allah (nama bagi Dzat) Yang Maha Wujud.
Allah itu derajat Afál-Allah yang mengandung lima sifat, sehingga dari Dzat sampai Afál berjumlah dua puluh sifat yang wajib diketahui oleh setiap umat Muhammad untuk mengenal Allah; sekurang-kurangnya mengenal sifat-sifat Allah yang dipertaruhkan kepada semesta alam pada umumnya pada manusia khususnya.
Pada tingkat kalam-tauhid “Illa'” ini adalah pada derajat Asma’-Allah yang mana asma’ itu pada alam benda; abstraknya adalah Ruhani yang dapat dilihat hanya dengan ketajaman mata hati yang menjadi qalbi manusia; dan hati/qalbi inilah “Diri yang terperi” bagi setiap manusia. “Diri yang terjalin (tersusun)” adalah tubuh yang terdiri dari darah, tulang, urat dan daging. “Diri yang tersembunyi” adalah ruh dan “Diri sebenar diri” adalah Dzat Allah; yang melahirkan segalanya itu dengan sifat Kesempurnaan, Kebesaran dan Keindahan-Nya Yang Maha Agung.
Bila kita kaji lebih jauh dan dalam, maka manusia itu adalah bertindak atas nama Allah dengan sifat: qadirun, muridun, hayyun dan álimun yang dipertaruhkan kepada hati/qalbi manusia; dan ketahuilah bahwa itulah sebabnya Rasulullah saw. menyatakan :
“Setiap pekerjaan yang baik (menurut konsepsi wahyu), lakukanlah dengan mengucapkan ‘Bismillahirahmaanirahiim’ (dengan/atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)”
Oleh sebab itu janganlah lagi ada keraguan didalam hati untuk menerima kebenaran itu, bahwa memang benar setiap perbuatan manusia (buruk-baik) adalah atas nama Allah; demikian juga Jibril yang pertama kali menemui Rasul untuk menyampaikan wahyu adalah atas nama Allah (“Bacalah dengan/atas nama Allah…”), bukankah Allah yang menjadikan manusia dengan membuat tiap-tiap perbuatan manusia itu? Hanya saja bagi perbuatan yang buruk, sucikanlah nama Tuhan itu dengan mengatakan: “Yang buruk itu datang daripada Iblis dan dirimu sendiri”; tetapi dalam rukun-iman, tidak dapat dikatakan yang demikian supaya identitas ketauhidan itu tidak hilang. Maka dinyatakan secara gamblang: Percaya kepada Qadha dan Qadar (buruk dan baik) datang daripada Allah.
Pikirkanlah wahai umat, jika engkau telah mengakui dan meyakini kebenaran ini, mungkinkah tega hatimu berbuat ma’siat diluar keridhaan Allah bagimu; sedangkan setiap perbuatanmu itu adalah atas nama Allah yang menjadikan semesta alam. Janganlah diselewengkan “Bismillahirahmaanirahiim” yang dipertaruhkan kepada hatimu yang berisikan: qadirun (yang maha kuasa), muridun (yang maha berkehendak/menentukan segala sesuatu), hayyun (yang maha hidup) dimana qalbi/jantung itulah yang mengalirkan darah melalui pembuluhnya kesegenap tubuh untuk kehidupan seluruh tubuh lahir dan bathin dan álimun (yang maha mengetahui); keempat sifat Allah itulah yang dipertaruhkan pada jantungmu atas nama Allah.
Alangkah meruginya mereka yang dalam shalatnya membaca Al Fatihah, tetapi tidak membaca/melahirkan Bismillahirrahmanirrahiim; maka atas nama siapakah shalat yang didirikannya itu? Adakah atas namanya sendiri? Naúdzubillahi min dzaalik. Alangkah takabumya mereka disisi Allah kendatipun disisi manusia mereka sebagai orang-orang terhormat didalam agama Allah; tetapi mereka tidak lebih adalah orang-orang yang takabur dan sombong terhadap Allah, karena mereka merasa mempunyai kuasa, kehendak, kehidupan dan ilmu sendiri, bukan daripada petaruh-petaruh Allah. Semoga mereka mendapat petunjuk-Nya untuk kembali kepada áqidah tauhid yang benar, Amin!
- Seruan/tawajjuh mereka kepada Allah jika mereka beriman Áinul-Yaqin (muttaqin) ingin berkomunikasi dengan Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya ada 3 (tiga) yaitu:
Maksud ucapan-hati dalam berhadap dengan Allah ini, mereka sudah dapat berkomunikasi langsung kepada Allah tanpa bertanya lagi kepada guru, atau mencari dalil-dalil Hadits dan Al Qurán (sebagaimana iman-Taqlid, iman-Dalil dan iman Ílmal-Yaqin), tetapi mereka duduk menghadap kiblat dalam keadaan bersuci daripada hadats besar maupun kecil.
Malikul Ardhi, bermaksud Yang Merajai Bumi; sebagaimana di ketahui bahwa yang merajai langit dan bumi dan isi diantara keduanya adalah Allah. Tetapi Allah mempunyai petaruh/amanah dilangit dan dibumi ini. Petaruh kerajaan Allah dilangit adalah diamanahkan Allah pada malaikat-Nya yang dipenghului oleh Saidina Jibril pada tujuh lapis langit yang alam metafisiknya adalah alam-Malakut. Maka kerajaan Allah dimuka bumi ini, dipertaruhkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mu’min; dimana pada hati hamba yang mu’min itu adalah Kursiy pemerintahan Allah yang diturunkan dari Árasy Allah (derajat Dzat) kealam Luh (derajat Sifat), dari Luh kealam Kursiy (derajat Asma’) dan dari Kursiy kealam Mahfuz (derajat Afál) Allah; dimana seluruhnya terhimpunlah kalimat tauhid Laa Ilaaha llla Allah. Kalimat tauhid inilah tali pergantungan hamba-Nya kepada-Nya yang banyak berdzikir kepada-Nya dalam segala situasi dan kondisi.
Ketika si iman Áinul-Yaqin berhadap kepada Allah dalam tawajjuhnya setelah mengucapkan: Ya, Malikul Ardhi, dilenyapkanlah pandangan mata hatinya terhadap dunia ini, semata-mata berserah diri kepada Allah Khalikul Alam sejak dari sehelai rambut sampai kepada setitik darahnya dan disebutnyalah Ismu-Dzat itu dalam qalbinya: Allah…Allah… seterusnya. Maka dengan berkah guru-muryid nya itu, insya Allah akan diperolehnya petunjuk Allah dengan jelas. Disanalah ia berbicara dengan Tuhannya menurut bahasa lisan kebatinan dengan bahasa yang digunakannya sehari-hari; atau ia akan didatangi oleh “ruhaniyah gurunya” yang bertindak atas nama Allah sebagaimana misalan Muhammad didatangi oleh malaikat Jibril dalam menyampaikan wahyu yang diwahyukan.
Semua itu dapat berlaku setelah hati bersih dari segala kesyirikan yang didalam qalbi itu tidak lagi ditemui alam yang bernilai kebendaan, melainkan hanya ada asma’ Allah. Dan sifat amarah, hewaniyah dan syaitaniyah telah menyingkir dari qalbi itu; kendatipun baru dalam keadaan taraf nafsu lawwamah sebelum mencapai nafsu Muthmainah.
Bila ia telah dapat berkomunikasi dengan Allah dari hasil dzikimya itu kepada Allah, maka kedudukannya itu telah duduk pada maqam Khalifatunnabi (khalifah guru), karena masih dalam berkah gurunya. Itupun masih khalifah tingkat yang pertama/terendah, dan ilmu yang diperolehnya tersebut belum dapat menjadi da’wah atau hujjah; karena masih dalam nafsu yang lawwamah. Maka hanya dapat dipakainya untuk dirinya sendiri, sebagaimana nabi-nabi yang bukan berderajat Rasul.
2) “Ya, Malikussama-í …”
Apabila para ahli amal yang telah mendapat derajat Khalifatunnabi yang pertama ini terus melanjutkan amal dan tetap menjaganya dari segala yang dilarang hukum syara’ dan memeliharanya dengan mendirikan syariát yang lahiriyah; pada suatu waktu, ia akan dapat bertawassil/tawajjuh dengan seruan: Ya, Malikussama-í, yakni Yang Merajai Langit.
Yang merajai langit adalah alam malaikat, termasuk para silsilah thareqat dari guru-mursyid yang sambung bersambung jalan ilmu bathin itu sampai kepada salah seorang sahabat nabi yang empat (Khulafaurrasyiddin: Abu Bakkar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib r.a.) sampai kepada Rasulullah saw. ahlizzuq.
Pada maqam tawajjuh ini orang-orang muttaqin dapat bertemu dengan arwah-arwah para Nabi dan Rasul serta para Malaikat dalam keadaan jaga (bukan mimpi), sebagaimana Nabi Muhammad saw. dapat bertemu dengan para Nabi-nabi terdahulu daripadanya. Sehingga ketika dalam perjalanan alam ghaibnya Nabi dalam menemui Allah, yaitu ketika isra’mi’rajnya, dimana ketika itu Allah menugaskan kepada Muhammad dan umatnya untuk melaksanakan shalat dalam sehari semalam lima puluh waktu; tetapi dengan saran ruhaniyah Nabi Musa a.s., sehingga akhirnya kewajiban shalat itu tinggal lima waktu, itupun masih sangat berat oleh umat Muhammad; terutama umat akhir zaman yang telah dikuasai oleh nilai-nilai kebendaan yang disebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun demikian, banyak diantara Úlama Islarn yang menolak kebenaran bahwa manusia ini dapat bertemu dengan para ruhaniyah suci selagi masih dialam dunia; sedangkan Rasulullah saw. itu adalah ikutan umat sejak awal dan akhirnya, dari zahir sampai bathinnya. Jika kita orang-orang yang benar mengaku sebagai umatnya yang meliputi empat ilmu dalam perjalanan kerohanian: zahirnya menjadi syariát-fiqh, akhirnya menjadi thareqat-tashauf, awalnya menjadi hakikat-tauhid dan bathinnya menjadi ma’ rifah-hikmah.
Dengan dapatnya seorang muttaqin bertawajjuh kepada Allah dengan seruan: Ya, Malikussama-í dan juga dapat bertemu dengan ruhaniyah raja daripada Wali-wali Allah (Sultan Aulia Allah) yaitu: Syekh Abdul Qadir Al Jailani Quttuburrabbani, maka derajat mereka telah menjadi Khalifah Nabi tingkat kedua, maka apabila terus disyukuri, niscaya Allah akan menaikkan lagi derajatnya ketingkat yang lebih tinggi; tetapi segala aral dan rintangan akan semakin berat yang merupakan cobaan daripada Allah.
3) “Ya, Malikunnuurul Haq…”
Setelah mengalami berbagai rintangan dan cobaan dalam amalnya menuju Allah maka sehabis maqam fana pada Asma’-Allah ini adalah bertemu dengan ruhaniyah Rasulullah saw. sendiri, dimana dalam pertemuan itu sepcrti dalam partemuan dengan para ruhaniyah Nabi-nabi dan Wali-wali Allah yang lain; dapat melihat dengan jelas dan nyata wajahnya sebagaimana kita melihat dialam nyata ini. Tetapi ruhaniyah yang tercipta dari nuur Dzat-Allah secara langsung sebagai alam nadzarullah itu, tidak dapat ditentang untuk dapat melihat wajah beliau karena amat menyilaukan mata yang dikepala; kendatipun yang melihat alam bathin itu mata hati, tetapi kontak dan berhubungan dengan mata yang ada dikepala.
Bila tidak demikian keadaannya, bukanlah yang ditemuinya itu ruhaniyah Rasulullah, itulah pertanda yang utama; dan segenap jenis jin dan malaikat, tidak akan dapat meniru ruhaniyah Nabi karena mereka akan terbakar.
Bila seorang ahli amal dzikrullah telah melihat ruhaniyah nabinya, maka habislah perjalanan fana pada asma’-Allah ini. Karena sembilan puluh sembilan nama Allah sebagai Asma ul Husnah, maka terhimpunlah kesembilan puluh sembilan nama itu kepada yang keseratusnya yaitu kepada “Ruhaniyah Rasulullah” yang bernama Muhammad, sebagaimana sabdanya yang artinya :
“Namailah namamu (sahabat) sebagaimana namaku, tetapi jangan ambil pangkat dan jabatan/titelku”.
Sampai kepada perjalanan terakhir maqam fana pada asma’-Allah ini, cukuplah ia telah mengetahui petaruh/amanah Allah tentang kerajaan Allah yang dilangit dan yang dibumi; maka ia itu telah menjadi Khalifatunnabi yang tertinggi dan ketika itu wajiblah atas dirinya memotong seekor qurban tanda syukur kepada Allah yang telah menunjuki dan mengangkatnya kederajat disisi Allah dan ingatlah, bahwa kekhalifahan ini bukan angkatan manusia atau gurunya, tetapi angkatan Allah dengan sendiri-Nya. Hanya guru itu jualah yang men-tauliyah-kannya sebagai pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi ini untuk meluluskan hukum-hukum-Nya kepada sekalian manusia.
Adapun qurban yang dimaksud adalah sekurang-kurangnya seekor unggas (ayam jantan) sebagai “iwat” untuk menetapkan ilmu itu baginya dan qurban itu dikendurikannya bersama-sama guru mursyidnya.
Iman Ainul Yaqin
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................

No comments:
Post a Comment