أعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
(الْحَمْدُ لِلَّهِ)Tahmid Dengan Denyutan Nadiku
(لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)Tahlil Degupan Jantongku
(اللَّهُ أَكْبَرُ)Takbir Hela Turun Naik Nafasku
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ... ALLAH اللهَ
Petaruh (Amanah) Allah pada Alam Semesta
Petaruh (Amanah) Allah pada Alam Semesta
![]() |
| Alam semesta sangat luas, |
Selanjutnya betapa pula petaruh-petaruh (amanah) Allah kepada semesta alam sehingga alam ini dapat menjadi wadah kedudukan manusia yang ditugaskan untuk menjadi Khalifah Allah dimuka bumi. Mari kila jajaki dari satu planet kepada planet berikutnya, sehingga alam ini dapat hidup dan memenuhi kebutuhan zahir dan bathin manusia.
Matahari dan planet-planet lainnya dan seluruh yang bersifat alam kebendaan termasuk tubuh jasmani manusia, tercipta dari Nuur Bailtil Ma’mur.
I. Matahari dalam susunan tata surya yang menjadi titik fokusnya alam semesta ini yang dikelilingi oleh planet-planet lainnya sambil berputar pada porosnya, adalah merupakan bola api yang menerangi dan menjadi sumber segala cahaya semesta ini yang seolah-olah tergantung pada pusat semesta alam dan seolah-olah bercahaya dengan sendirinya; sebagaimana firman Allah yang berarti :
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lobang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur (sesuatu) dan tidak (pula) disebelah barat(nya), yang hampir bercahaya dengan sendirinya, walaupun tidak disentuh api. Cahaya berdamping sesama cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya itu siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”
(Q.S. An Nuur : 35)
Pada ayat An Nuur tersebut demikian jelas Allah menyatakan tentang sebuah lobang yang tak tembus, yang maksudnya suatu ruangan yang amat luas yang terbatas pada suatu tumpuan yang tidak dapat ditembus alam akal-fikir manusia yang terbatas dan lemah.
Batas yang tak dapat ditembus oleh alam akal-fikir manusia itu adalah perbatasan antara alam baharu (semesta) dengan alam yang qadim, Dzat Allah dengan nadzar-Nya. Perbatasan itu adalah alam Sidratul Munthaha, dimana malaikatpun tak mampu untuk membuka dan melewatinya; karena bila dilewatinya, niscaya terbakarlah dirinya; dimana maksud terbakar adalah sirna jati dirinya.
Dialam nyata inilah disebutkan Allah adanya sebuah pelita besar, itulah matahari dan alam semeta inilah kaca (cermin) Allah sebagai tempat mata memandang akan Kesempurnaan, Kebesaran, Keindahan dan Ke-Agungan-Nya bagi orang yang mendapat petunjuk seolah-olah bagaikan bintang yang mempunyai cahaya seperti mutiara. Petunjuk itu adalah suatu keberkatan yang tiada terhingga yang menyusup kedalam qalbi manusia; dimana dzikrullah yang senantiasa berkumandang didalam qalbi itulah semisal minyak zaitun yang berkah, yang tidak tumbuh disebelah timur dan baratnya karena Asma’ Allah itu tidak mempunyai timur dan barat.
Petunjuk Allah itu menyusup kedalam qalbi dengan qadirun, muridun, hayyun dan terbitlah alimun yang diamanahkan kepada metafisiknya qalbi; itulah Ruhani sebagai gambarannya Asma’-Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara tetapi nyata dengan penglihatan mata bathin sebagai kesimpulan Asma’-Nya yang sembilan puluh sembilan dan itulah yang keseratus-nya. Maka barangsiapa yang menemui dan melihatnya, itulah rabithahnya yang kedua setelah guru yang mursyid dialam nyata ini.
Barangsiapa yang tidak dapat melihatnya itulah alamat orang yang buta, sebagaimana firman Allah yang berarti :
“Karena sesungguhnya bukanlah mata (yang dikepala) itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang didalam dada”
(Q.S. Al Hajj : 46)
Cahaya petunjuk untuk membuka mata hati yang mukasyafah yang demikian adalah melalui lapisan-lapisan cahaya metafisiknya alam semesta ini dengan kurnia Allah sendiri dengan sebab ilmu yang disertai amal dan amal yang disertai ilmu.
Demikianlah Allah mengajari manusia itu dengan perumpamaan-perumpamaan dan Dia-lah Yang Mengetahui tiap-tiap sesuatu. Maka untuk membaca perumpaman-perumpamaan itu, marilah membaca kembali petaruh/amanah Allah kepada semesta alam ini dan metafisiknyalah yang akan kita cari supaya mengenali diri dan alam semesta dan untuk mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya yang maha menakjubkan ini.
Matahari yang merupakan bola api terdiri dari lumpur logam: besi magnet, besi baja, besi tuang, babet, emas, perak, timah dan tembaga bercampur menjadi satu.
Matahari mendapat sinarnya adalah dari pancaran sinar Naar-Nya Dzat Allah tetapi Dzat Allah itu bukanlah api sebagaimana baterai dapat menerbitkan api apabila bertemu kutub positif (+) dengan kutub negatif (-); padahal pada dasarnya baterai adalah berisi air 1,3. Oleh sebab itu kita jangan memahami Dzat Allah lebih jauh lagi; karena apabila dikumpulkan seluruh alam akal flkir yang ada pada manusia menjadi satu, tidak akan mampu memikirkan Dzat Yang Maha Halus (latief) itu. Namun dari Dzat dan alam Nadzar-Nya itulah terciptanya alam dalam susunan tata surya yang hanya satu unit dari milyaran galaksi yang adalah alam jagad raya dan itulah maha luasnya pembendaharaan Allah yang disebut Baitil Makmur, maka apakah dapat diukur oleh alam akal-fikir yang lemah seperti manusia?
Urusan Dzat hanyalah dengan iman dan ma’rifah, bukan urusan akal-fikir. Urusan akal fikir hanyalah mengenai ciptaan-Nya ini, itupun terbatas bagi kebanyakan yang dapat ditangkap alat panca indera pada alam kebendaannya, sedangkan pada alam metafisiknya sangat terbatas pula.
Dari pancaran sinar matahari inilah cahaya seluruh semesta ini dengan tujuh sinar gelombang frekwensi sejak dari permukaannya sampai kejalur orbit bumi dan bulan sebagai satelitnya. Oleh karena matahari ini adalah pancaran Naar (api) dari Dzat Allah Yang Maha Halus itu, maka matahari menerima petaruh/amanah untuk kehidupan alam makro ini yang selanjunya diteruskan kepada isi alam semesta termasuk manusia didalamnya.
Petaruh-petaruh itu adalah:
- Pada sinar gelombang frekwensi pertama dari lapisan kulitnya, dipertaruhkan/ diamanahkan kepada sifat Muridun (yang maha berkehendak) yang pada hakekatnya adalah atas nama Dzat;
- Pada sinar gelombang frekwensi kedua petaruh itu ada pada sifat Qadirun (yang maha kuasa);
- Pada sinar gelombang frekwensi ketiga petaruh Allah adalah Hayyun (yang maha hidup);
- Pada sinar gelombang frekwensi keempat petaruh itu adalah Alimun (yang maha mengetahui);
- Pada sinar gelombang frekwensi kelima adalah sifat Mutakallimun (yang maha berkata-kata);
- Pada sinar gelombang frekwensi keenam adalah sifat Bashirun (yang maha melihat);
- Pada sinar gelombang frekwensi ketujuh adalah sifat Samiún (yang maha mendengar).
II. Semua petaruh/amanah yang merupakan sifat yang bathiniyah dari sinar gelombang frekwensi matahari; termasuk jalur orbit Merkurius pada frekwensi keenam dan jalur orbit Venus pada frekwensi ketujuh yang berbatas pada jatur orbit Bumi dan Bulan sebagai satelit bumi, dipancarkan sampai keperbatasan Sidratil Munthaha diatas langit ketujuh orbit Bumi sebagaimana yang berikut :
1. Planet Pluto menerima petaruh sifat lradat dengan motorik sifat Muridun. Planet ini berintikan besi magnet yang berkutub positif untuk pemandu sekalian planet dalam mengitari induk planet (matahari) sambil berputar pada sumbunya. Keadaan suhu dan cuaca disini, termasuk jalur orbitnya sangat dingin dan terlampau padat; sehingga kala revolusinya dalam rotasinya mengitari matahari menurut ilmu pengetahuan antariksa memakan waktu 284,4 tahun sampai pada titik edar semula.
Telah menjadi hukum alam (sunatullah), bahwa semakin jauh dari matahari atau tidak mendapat sinar ultra violetnya sesuatu benda alam, maka akan semakin dingin dan bahkan sampai membeku; sebagaimana contohnya dibumi ini, kutub utara dan kutub selatan yang enam bulan sekali mendapat sinar matahari, udaranya padat dan salju yang membeku, sehingga yang paling puncak tidak dapat didiami oleh manusia.
Pancaran sinar dari matahari yang menerima petaruh muridun dan menjadi petaruh iradat pada pluto, diterima oleh jalur orbit bumi dan petaruhnya adalah pada bumi itu sendiri sebagai umpan balik, dan dari bumi dipertaruhkan pula kepada makhluk, terutama kesempurnaannya yang sangat jelas adalah pada manusia yang dibebani alam akal-pikir.
Manusia yang menerima petaruh iradat itu, adalah segenap darahnya yang mengalir keseluruh penjuru tubuh dengan pompaan denyut jantungnya.
2. Planet Neptunus pada langit keenam dari bumi, menerima petaruh/amanah Qudrat dari sinar gelombang matahari kedua dari induk planet tersebut. Planet neptunus ini terdiri dari induk besi baja dan kala revolusinya 164,8 tahun dalam rotasinya mengelilingi matahari.
Dari neptunus diteruskan kebumi melalui bulan sebagai satelit bumi dan dari bumi kepada manusia, dan sifat qudrat ini diterima oleh tulang-tulang manusia; itulah sebabnya menurut ilmu kesehatan manusia memerlukan zat besi.
3. Planet Uranus yang terdiri dari besi tuang/bebet; menerima petaruh Hayat yang digerakkan dari sinar gelombang ketiga dari matahari, dan planet uranus ini berada pada langit kelima dari orbit bumi.
Kala revolusinya 84 tahun dalam rotasinya mengitari matahari. Dari sifat hayat sebagai petaruh pada planet uranus ini diterirna kebumi oleh manusia melalui bulan dan sampailah petaruh hayat itu kepada manusia dan makhluk lainnya, sesuai qadarnya masing-masing yang telah ditentukan oleh Maha Penentu. Meliputlah sinar kehidupan itu pada seluruh anggota tubuh dan apabila telah dicabut hayat itu, tidak dapat lagi disambung, sebagaimana besi tuang yang tidak dapat dilas.
4. Planet Saturnus yang mempunyai cincin, adalah terdiri dari induk emas murni yang menerima petaruh llmu dengan dorongan sifat Alimun dari gelombang keempat dari matahari dan planet ilmu ini berada pada langit keempat dari jaiur orbit bumi. Kala revolusinya 29,5 tahun .
Ilmu yang dipertaruhkan padanya diteruskan kebumi melalui bulan dan diterima manusia pada qalbinya, dan qalbi inilah sebagai pengganti kursiy Allah dimuka bumi-Nya ini; dimana prosesnya telah diterangkan terdahulu, yaitu dari raf-raf turun ke shuluhi qadim, dari shuluhi qadim ke tanzizi muhaddats dan disinilah ditulis dalam kitab Luh, dan dari luh ke Masjidil Haram, dari Masjidil Haram ke rahim ibu sebagai sandaran/pengganti rahim Allah dimuka bumi dan dari rahim ibu itulah kepada qalbi manusia dan disinilah yang disebut dengan kursy dan lahirlah ia kealam kasar (mahfuz) dunia ini, dimana ketika dialam ajali disebut Árasiy-Allah.
Dengan jalan yang berliku-liku ia turun kebumi sebagai Ruhani pada Akhir Muhammad dan qalbi bagi manusia, itulah asma’ bagi Allah; maka wajiblah ia mencari jalannya kembali ke raf-raf Allah ketempat yang tiada binasa setelah rnengambil bentuk dan lapangan dialam dunia ini sebagai hasil perantauannya untuk melihat kesempurnaan, kebesaran dan keindahan Tuhannya Dzat Yang Maha Agung. Maka ditempatkanlah ia ditempat yang nikmatnya tak dapat dibayangkan oleh alam akal-pikir. Seandainya ia tahu dan mencari jalan kembalinya kepada Allah jika ia tidak terlena oleh kenikmatan dunia yang sementara ini. Ilmu itulah pada hakikatnya kekuatan dan derajat manusia, bukan pada keturunan, pangkat dan kedudukan. Semoga kita dapat memahami perjalanan panjang turunnya ilmu itu dan bagaimana pula perjalanan yang akan ditembus untuk kembali kepada Tuhannya, maka bertanyalah kepada ahli-dzikir.
Oleh karena mulianya ilmu itu, maka Allah Azza wa Jallah mempertaruhkan/ mengamanahkannya pada logam mulia atau logam adi yang tidak dimakan karat, dan itulah yang diperebutkan manusia didunia ini sehingga menyebabkan perang dunia dan seluruh mata uang dikurskan menurut nilai intriknya (nilai logam adi) yang terdapat pada setiap lembaran mata uang, bukan pada nominal ysng tertulis didalam kertas. Jika deking emas dibank sebanding antara nilai nominalnya, maka terjadilah inflasi, nilainya turun, harga akan naik dan bila terjadi sebaliknya, nilai uang akan naik dan harga akan turun.
Itu adalah urusan ekonomi; tetapi manusia lupa, yang dikejar-kejar manusia dimuka bumi ini hanyalah logam adinya, tetapi rnelupakan hikmah metafisiknya yang terkandung didalamnya; karena kata pepatah: diam itu emas, berkata itu perak.
5. Planet Yupiter berada dilangit ketiga diatas orbit bumi yang terdiri dari induk perak asli; menerima petaruh Kalam yang dipancarkan dari sinar gelombang kelima matahari dengan sifat Mutakallimun-nya. Berumpan balik kebumi melalui satelit bulan dan diterima oleh manusia pada lidah/mulut dan perlengkapannya. Kala revolusi planet perak/kalam ini 11,9 tahun.
Guna kalam ini adalah untuk membicarakan dan menyampaikan ilmu Allah kepada manusia, bukan untuk umpat dan caki maki sesama saudara semuslim; fitnah dan cerca itu adalah seumpama memakan mayat saudaranya yang mati; maka itulah bahagian orang-orang yang lupa kepada tuntunan agamanya yang haq.
6. Planet Minor yang merupakan bintang-bintang yang bertabur yang intinya adalah timah hitam; menerima petaruh Bashar pada langit kedua dari jalur orbit bumi dan satelitnya bulan. Petaruh ini adalah pancaran dari gelombang matahari pada frekwensi keenam yang rnenjadi jalur orbit planet merkurius yang terdekat pada matahari dengan kala revolusinya 80 hari dan suhu diplanet ini sangat panas, intinya timah putih.
Kala revolusi planet minor adalah 4 sampai 6 tahun. Petaruhnya pada mata dan perlengkapannya, inilah kekuatan sejauh mata memandang dengan mata telanjang, artinya tanpa teropong bintang. Dan lagi bintang-bintang ini adalah merupakan lambang banyaknya ruhaniyah yang disucikan Allah sejak bumi terbentang sampai umat terakhir diakhir zaman nanti.
7. Planet Mars adalah petaruh Sama’ pada langit pertama dari jalur orbit bumi yang intinya terdiri dari tembaga yang berpadu dari sinar gelombang matahari pada lapisan ketujuh dari matahari itu sendiri dan pada gelombang ketujuh ini pula jalur orbitnya planet venus yang berintikan kuningan, dimana kala revolusi venus ini adalah 224,7 hari dan kala revolusi planet mars 687 hari.
Petaruh sama’ pada manusia adalah pada telinga dan perlengkapannya.
III. Jalur orbit Bumi dan Bulan sebagai satelitnya yang mengitari bumi untuk menerima petaruh-petaruh yang diturunkan dari langit kebumi dan apa-apa yang naik kepadanya; demikian juga apa-apa yang naik dari bumi kelangit dan apa-apa yang diturunkan kepadanya. Semua itu adalah melalui bulan, demikian juga suhu panas dan dingin yaitu mengatur air yang turun dari langit dengan qadar yang telah ditentukan oleh Allah; angin yang terbit dari pancaran sinarnya matahari melalui tujuh gelombang sinar, diatur kebumi ini oleh peredaran bulan dalam mengelilingi bumi; sehingga berpadulah segala petaruh yang ada diatas penjuru bumi yaitu tujuh lapis langit dengan penjuru langit yang berada dibawah jalur orbit bumi, yaitu tujuh gelombang sinar dibawah jalur orbit bumi; itulah yang disebut dengan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, maka sifat maáni dari planet penjuru langit dan sifat ma’nawiyah dari tujuh sinar gelombang matahari termasuk dua planet (venus dan merkurius) penjuru bumi berpadu pada bumi sebagai wadah kenyataannya yang disebut: Wahdaniyat, yakni tempat jatuhnya mata memandang tentang ke-Maha Esa-an seluruh sifat-sifat Allah yang lima belas itu yang berdiri kepada Dzat-Nya yang lima sifat yang telah diterangkan terdahulu.
Yang lima belas sifat itulah (tujuh maáni dan tujuh ma’nawiyah ditambah satu sifat wahdaniyah) yang menjadi kenyataan Wujudullah yang bersifat qadim lagi Baqa’, Laisakamislihi Syaiín dan Qiyamuhu Binafsih Rabbil Alamin, yang memiliki alam nadzar yang tiga derajat itu.
Bumi inilah yang paling lengkap menerima pancaran Naar Dzat dan Nuur Nadzar-Nya yang terdiri bumi ini dari induk tanah, bulan dari batu apung/buih. Kala revolusinya 365,3 dari dalam rotasinya mengelilingi matahari dan kala revolusi matahari adalah 0 hari, ia beredar dan berputar pada porosnya sendiri.
Bumi diantara gaya tarik menarik antara tujuh planet diatas penjuru bumi yang dipertaruhkan dengan logam-logam magnet, besi baja, besit uang, emas, perak, timah dan tembaga dengan lumpur logam yang sebanding sebagaimana yang terdapat pada tujuh planet itu ditambah dengan daya tarik dua planet venus dan merkurius; sehingga bumi tetap stabil pada jalur orbitnya. Tetapi pada masa abad-abad terakhir ini, bumi telah semakin panas karena timbangan langit itu ada pada bumi, yaitu barang-barang mineral seperti minyak dan gas telah banyak dikuras dari perutnya oleh tangan-tangan manusia yang membuat kerusakkan di bumi tanpa disadari dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi; maka akibatnya bumi semakin mendekat kearah matahari dan jangkauan larutan air yang diantaranya bernama ozon menurut ilmu pengetahuan akan semakin menipis; padahal bukan semakin rnenipis, melainkan semakin jauhnya lapisan air yang dapat sampai kebumi karena bumi semakin merenggang dari tujuh lapis langit yang menurunkan air, sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan diatas kamu tujuh buah jalan (tujuh penjuru langit), dan Kami sekali-kali tidaklah lalai (lengah) terhadap ciptaan (Kami)”
“Dan Kami turunkan dari langit (yang tujuh itu) air menurut suatu qadar (ukuran), lalu Kami jadikan air itu menetap dibumi dan sesungguhnya Kami berkuasa (pula) menghilangkannnya”
(Q.S. Al Mu’minum: 17-18)
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa tujuh buah jalan yang diciptakan oleh Allah adalah untuk ditembus dengan khasiat kenabian sebagaimana Isra’Mi’raj nya Rasulullah saw., melalui tujuh penjuru langit itu yakni alam malakut dan diatasnya itulah Sidratil Munthaha.
Dari langit ini pulalah Allah menurunkan air kebumi dan menetap untuk ssmentara sebahagian diantaranya menunggu hari kiamat ketika kiamat nanti. Air itu akan diangkatkan oleh Allah kembali; inilah yang menyebabkan Rasulullah merasa kedinginan yang teramat sangat ketika ia pertama kali ditemui Jibril di Gua Hira’ untuk menerima ayat pertama lqra’, karena Jibril itu bermaqam dialam malakut sebagai sumber Nuur yang diturunkan kebumi menjadi air.
Mengenai langit yang dikejar-kejar oleh para ilmuwan angkasawan untuk menembus penjuru langit itu, Allah telah menjelaskan dengan firman-Nya supaya jangan melewatinya dengan firman-Nya yang bermaksud :
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (timbangan)”
“Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu”
“Dan letakkanlah timbangan (langit) itu dengan adil dan janganlah kamu menguranginya”
“Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya).”
(Q.S. Ar Rahmaan : 7-10)
Timbangan langit itu sesungguhnya bukan dilangit, tetapi ada dibumi ini; sebagaimana balon udara yang diterbangkan dengan menggunakan kekuatan gas yang ditiupkan kedalam balon dari tempat pengendaranya. Bila hendak lebih tinggi dan naik, maka gas ditambah dan bila hendak rendah dan turun kebumi, maka gasnya dikurangi. Maka seperti itu pulalah planet bumi kita ini. Jika gas dan minyak bumi terus dikuras, maka bumi ini akan sernakin rnendekat keinduk planet yaitu matahari, yang menyebabkan bumi semakin panas. Itulah yang dimaksud Allah timbangan langit dan jangan dikurangi. Tetapi dimasa kemajuan teknologi canggih ini, bukan lagi dikurangi sebagaimana yang dilarang oleh Allah, tetapi malah dimusnahkan, dibom dan dibakar seperti adanya ladang-ladang minyak di Kuwait yang dibakar oleh para perusak bumi yang masing-masing gila kekuasaan yang melebihi kedengkian lblis terhadap manusia.
Pantaslah Allah menyatakan, ditangan manusia itulah rusaknya bumi ini yang mengakibatkan kiamat itu setelah gas dan minyak bumi yang menjadi timbangan langit dibumi menjadi kering, lalu bumi melayang-layang seperti balon yang kekurangan dan memang kehabisan gas. Akibatnya beradulah satu planet dengan planet lainnya yaitu bulan dengan bumi, venus dan merkurius; karena dua planet itulah yang dibawah jalur orbit bumi yang akan diproses menjadi bumi neraka, sedang planet yang tujuh diatas orbit bumi akan diproses kembali menjadi bumi-bumi surga. Wallahhu a’lam.
Nafsu-nafsu amarah manusia yang hendak mencapai planet-planet di atas penjuru bumi, dipersilahkan oleh Allah, tetapi diberi tantangannya, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :
“Hai jemaáh Jin dan Manusia, jika kamu sanggup, menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi (tujuh lapis langit diatas bumi dan tujuh lapis langit dibawah bumi), maka lintasilah, kamu tidak akan dapat melintasinya melainkan dengan kekuatan (sedang kamu tidak mempunyai kekuatan)”
“Kepada kamu (Jin dan Manusia) dilepaskan nyala api (dari penjuru langit dibawah orbit bumi) dan cairan tembaga (dari penjuru langit diatas orbit bumi, yaitu Mars) maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri”
(Q.S. Ar Rahmaan : 33-35)
Dibawah penjuru bumi kearah matahari sangat panas dan itulah jalur orbit venus dan merkurius, sedangkan diatas penjuru bumi sangat dingin, sehingga tidak memungkinkan untuk ditembus oleh alam kebendaan yang membawa anasir api, karena akan padam sampai diperbatasan langit pertama. Sedangkan jin yang bertubuh halus tidak dapat menembusnya, karena mereka terjadi dari anasir api, sehingga sealim-alim jin yang beragama lslam. Apabila mereka masuk surga, tidak lebih hanya mendapat surga tingkat pertama, karena asalnya yang dari api itu tidak dapat mengikuti perjalanan kerohanian sebagaimana manusia dapat mengikuti perjalanan Isra’ Mi’raj nya Rasulullah menembus alam malakut yang tercipta dari Nuur Raf-raf Allah.
والله أعلم بالـصـواب
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................



No comments:
Post a Comment