Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Subhanallah 100X سبحان الله
Alhamdulillah 100X الحمد لله
LA ILAHA ILLALLAH 100X لا إله إلا الله
Allāhu akbar 100X الله أكبر
Alhamdulillah syukur kepada ALLAH
Riwayat + inti ajaran
ABU YAZID AL-BUSTAMI
Nama kecilnya ialah Thallur
Pernah beliau berkata yang ‘ganjil’ dan dalam, yang masih sangat hati hati memahamkannya, sebab dari mulut Beliau kerap kali keluar kata kata yang berisi kepercayaan bahwasanya :
“HAMBA dan TUHAN sewaktu waktu BISA BERPADU MENJADI SATU (Hulul)”.
Sampai oleh ahli Sufi yang datang dibelakang diberi misal bahwasanya “Hulul” itu adalah seumpama Perpaduan diantara Api dengan Besi, Sebagian dari perkataan beliau :
Tidak Ada Tuhan Melainkan Saya
Sembahlah Saya
Amat Sucilah Saya
Alangkah Besar KuasaKu
Salah satu perkataan beliau :
Pernah Tuhan mengangkat Daku, dan diletakkannya Aku dihadapannya sendiri, Maka berkatalah Dia kepadaku “ABU YAZID” Makhlukku ingin melihat Engkau.
Lalu Aku berkata “Hiasilah Aku dengan Wahdaniatmu, Pakaikanlah Kepadaku Keakuanmu, Angkatlah Aku kedalam Kesatunmu, sehingga apabila Makhluk Melihat Daku mereka akan berkata “ Kami telah melihat Engkau, maka Engkaulah itu, Dan Aku Tidak Ada disana.
Pada akhirnya Beliau berkata :
Demi Sadarlah Aku, dan Tahulah Aku
Bahwa Sesungguhnya/bahwasanya sama sekali
Itu hanyalah Khayalan Belaka.
Kata kata yang demikian dinamai orang SYATHATHAT artinya ialah kata kata yang penuh khayal yang tidak dapat dipegangi, dan dikenakan hukum, karena orang yang berkata kata waktu itu sedang Mabuk, bukan Mabuk Alkohol, Mabuk oleh tiada sadar akan dirinya lagi, sebab tenggelam kedalam lautan tafakur, sebab itu menurut pengamatan beliaulah yang mula mula sekali menciptakan suatu istilah Paham Tasawuf yang bernama “ASSAKAR” artinya Mabuk, “ AL ‘ISYQ” artinya Rindu Dendam.
YAHYA BIN MA’AZ, Pernah mengirim surat kepada Abu Yazid Bustami, bahwasanya Dia sudah mabuk, oleh karena terlalu banyak meminum Khamar Cinta.
Maka Abu Yazid membalas. Orang lainpun telah meminum Air demikian, sepenuh Lautan dan Bumi, tetapi Dia belum juga merasa puas, Dia masih tetap mengulurkan lidahnya meminta tambah lagi.
Tentu yang beliau maksud dengan orang lain itu ialah Dirinya sendiri. Disinilah masuknya pelajaran RABI’ATUL ADAWIYAH.
Cinta sejati tidak mengenal hitung-hitungan, kalau masih ada rasa bahwa Aku adalah Aku, dan Engkau adalah Engkau, belumlah sampai kepada inti Cinta.
Kadang kadang tak tahulah dia, apa yang akan dibicarakannya lagi, “tersesat” mulutya, sehingga Dia berkata karena saking Cintanya “ANA AL-HAQ”
Kadang kadang kemana saja dia memandang, kekasih itu saja yang kelihatan, ke Matahari ke Bulan Purnama Allah, ke Ombak bergulung, ke Angin sepoi sepoi Allah, ke Tangis Anak yang baru lahir Allah, ke Kuburan yang sunyi sepi Allah. Kadang kadang memuncaklah Cinta itu, sehingga merasa ingin mati saja mati saja dalam Cinta”.
“LAA ANA ILLA HUWA “ Tidak ada saya selain Dia.

No comments:
Post a Comment