اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
Tingkat IMAN-TAQLID
Iman Taqlid
I. Tingkat IMAN-TAQLID
Yang terbanyak umat iman Muhammad diakhir zaman ini adalah ditingkat taqlid ini, menurut sensus penduduk mereka beragama Islam, itupun karena keturunan.
“Tidaklah engkau Ku-utus (Ya, Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat (kurnia terciptanya) segenap alam (semesta)”
(Q.S. Al Anbiyaa’ : 107)
Yang dimaksud dengan alam telah diterangkan pada penjelasan yang lalu, yaitu adalah segala yang diciptakan Allah termasuk alam ghaib seperti alam Malaikat.
Jika derajat Muhammad sama dengan manusia biasa, tentulah tidak akan dapat menjadi rahmat sekalian alam ini. Dan bukanlah Muhammad itu sekedar bapak seorang laki-laki diantara kamu sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu”
(Q.S. AI Ahzab : 40)
Muhammad diutus pada awalnya untuk rahmat sekalian alam, berarti sebelum alam tercipta, Nuurnyalah yang terdahulu tercipta, kemudian beliau dinyatakan oleh Allah bukanlah bapak seorang laki-laki diantara manusia kendatipun bertindak sebagai manusia biasa; kawin dan berumah tangga, mempunyai anak; namun beliau itu bukan manusia biasa sehingga anaknya Siti Fatimah yang kawin dengan saudara sewarisnya Saidina Ali k.w. tidak disebut dengan Fatimah binti Muhammad, tetapi Fatimah binti Rasuli; maka dari sini saja kita dapat berfikir lebih jauh untuk memahami Muhammad, apalagi dia itu membawa cap kenabian terakhir (Khatamanubuah) yang tertulis halus dari bulu-bulu roma diantara urat belikat kirinya yang tersingkap rahasianya oleh Pendeta Bukhaira, ketika beliau dibawa oleh Pakciknya Abu Thalib, pergi berniaga kenegeri Syam sewaktu beliau berumur ±14 tahun dan sejak kecilnya apabila berjalan dibawah teriknya panas padang pasir yang menggigit, tetap dilindungi oleh awan.
Hal yang demikian adalah untuk melindungi dari manusia supaya jangan terlihat bahwa Muhammad itu tidak berbayang-bayang, kecuali pakaian yang dipakainya. Sebab bila tampak oleh orang yang tidak memahaminya, nanti akan menjadi kesyirikan seperti umat Nabi Isa a.s., oleh karena salah satu mu’jizatnya yang dapat menghidupkan orang mati, maka setelah wafatnya dianggap sebagai Tuhan; padahal itu hanyalah merupakan salah satu ilmu-hikmah yang disebut sebagai mu’jizat kepada Rasul-rasul dan kepada paraWali-wali Allah disebut sebagai suatu Karomah (keramat). Oleh karena Nuur nya yang dijadikan oleh Allah sebagai yang mengawali yang ada ini, maka dia pulalah yang mengakhiri seluruh Nabi-nabi yang membawa petunjuk untuk seluruh umat manusia dimuka bumi ini. Tidak seperti Nabi-nabi yang terdahulu dari padanya hanyalah diutus untuk kaumnya saja dan dialah yang menjadi penghulu sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang akan mensyafaát-kan mereka dan seluruh orang-orang yang beriman termasuk umatnya sendiri yang membenarkan kerasulan dan Nuurnya. Karena Nuurnya itulah yang diberkahi oleh Allah untuk menjadi syafaát. Maka siapa yang tidak mengenali Nuurnya itu didunia ini, kelak tidaklah akan mendapat syafaátnya. Wallahu a’ lam.
“Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan (ilmu) hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (pula)”
(Q.S. An Nahl : 125)
Dan orang yang dikaruniai oleh Allah ilmu-hikmah itu adalah orang yang di anugerahi kebajikkan yang banyak sebagaimana firman-Nya yang berarti :
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberikan kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat berfikir (mengambil pelajaran), kecuali orang-orang yang berakal”
(Q.S. Al Baqarah : 269)
Orang yang mendapat ilmu-hikmah yang mempunyai kebajikan yang banyak itu adalah setelah menjadi orang-orang rabbani, yaitu orang-orang yang telah dibukakan baginya “inkisyaf” (terbukanya mata bathin untuk memandang rahasia-rahasia Allah dibalik alam fisika ini) dengan kesempurnaan ma’rifahnya kepada Allah dari yang awal sampai yang akhir, dari yang zahir sampai yang bathin.
Mengenai seruan Allah untuk menjadi orang-orang rabbani ini adalah firman Allah yang bermaksud :
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang rabbani (sempurna ma’rifah dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Alkitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”
(Q.S. Ali Imraan : 79)
Oleh karena pada dasarnya semua manusia adalah awam (tidak mempunyai pengetahuan), maka untuk mencapainya, apakah pengetahuan itu mengenai alam kebendaan yang bersifat materialis (nyata), terlebih-lebih mengenai alam ghaib. Maka wajiblah seseorang itu mempunyai wasilah (perantara sementara sebelum mendapat hakikat yang dicari), karena apabila berjalan sendiri tanpa tuntunan, dikhawatirkan akan mengalami kesesatan dan hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Untuk ikutan bagi umatnya dalam perjalanan ghaibnya ketika isra’ mi’raj menembus tujuh petala langit melewati sidratul munthaha sampai kealam Nuumya, yaitu alam Nadzarullah yang berdiri kepada Dzat-Nya Yang Maha Halus.
Kendatipun Nuur Muhammad itu lebih tinggi daripada Nuur Malaikat (Jibril), tetapi karena beliau dari alam syariát menuju ke alam ma’rifat, maka harus melalui alam Jabarut (Thareqat) untuk menembus alam Malak (Hakikat) yang dituntun oleh Jibril sampai kepada alam Nuurnya (Jibril).
Oleh karena sampailah perjalanan ghaib itu ketapal batas alamnya Jibril, maka apabila dilampauinya, niscaya terbakarlah dirinya diatas Sidrat maka Muhammad Rasulullah yang mampu untuh menembus alam Nuurnya sendiri melewati Baitil Ma’mur, Al Maala il a’la dan Raf-raf yang kemudian bertemu dengan Dzat Tuhannya yang tidak dapat dibicarakan lagi dengan lisan dan perkataan; karena akan mengandung salah bagi setiap kata yang diucapkan; itulah Ma’rifat, utama, indah dan menakjubkan, tiada huruf dan suara untuk melukiskan dan membayangkannya; hanya saja setelah Rasulullah wafat, maka ditempatnya maqam Kerasulan itu digantikan oleh Allah seorang Khalifah yang akan menuntun umat kejalan ma’rifat itu; dan setelah ma’rifat kepada Allah, tinggalah seluruh rabithah untuk langsung bertemu dan berkomunikasi dengan Allah. Maka seorang Khalifatullah itulah yang dimaksud oleh Allah sebagai “Washilah”, sebagaimana firman-Nya yang berarti :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (bersungguh-sunggah) pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (sukses)”
(Q.S. Al Maidah : 35)
Bila seseorang menemui seorang ahli washilah yang jalan tuntunannya sambung bersambung sampai kepada Rasulullah saw. dan penuntun itu sudi menerimanya sebagai orang yang akan dituntunnya kejalan Allah melalui alam-Nasut, alam-Jabarut, alam-Malakut, untuk sampai kealam-Lahut (alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi), hendaklah dipatuhinya tuntunan (rabithah)nya itu lahir dan bathin; sebagaimana Nabi Khaidir menuntun Nabi Musa a.s. mencari hakikat (kebenaran). Bila tidak dipatuhi karena ada pandangan yang tidak sesuai dengan alam syariát, maka perjalanan hakikat itu akan terbatas, tidak akan sampai kealam ma’rifat.
Arti syafaát adalah pertolongan maka sebelum pertolongan itu sampai untuk memperolehnya dari Rasulullah yang dikaruniakan Allah bagi Rasul, maka syafaát itu adalah melalui syafaát Al Úlama Waratsatul Anbiyaa’, sehingga itulah yang disebut syafaát mensyafaátkan.
Demikianlah keadaan orang-orang yang beriman Taqlid dan apabila tidak berguru atau belajar kepada seorang yang telah Allah dudukkan sebagai Khalifatullah (pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi untuk meluluskan hukum-hukum-Nya), dan hanya belajar kepada orang awam dan dari buku-buku bacaan saja, maka akhir kalam mereka itu sangat disangsikan; apalagi buku-buku itu hanyalah karangan ahli-ahli syariát. Niscaya banyak tafsiran yang tidak menuju alam ma’rifat dan demikian juga buku-buku tashauf yang dibaca oleh orang awam, tidak akan difahaminya makna dan tujuan keterangan-keterangannya; karena buku-buku tashauf itu hanya dapat difahami oleh orang-orang yang menjalani Thareqatullah, itupun tidak semua dapat memahaminya dengan benar, sebelum ia sampai kepada maqam Khalifatullah.
Dengan uraian-uraian mengenai kedudukan iman-Taqlid ini, maka tampak jelas segala kekurangan pengertian dan pemahaman tentang Addinul Islam secara sempurna, kendatipun hanya sekedar ilmu yang fardhu áin.
Oleh sebab itu perlu lagi iman itu ditingkatkan pada tingkatan yang lebih tinggi, dimana yang kurang dari iman-Taqlid yang hanya bersandar kepada guru-guru dan kitab/buku-buku agama saja, namun harus mencari seorang penuntun yang berderajat Al Waratsatul An Biyaa’ supaya sampai kepada maqam rabbani. Apabila senantiasa berguru kepada manusia, ketahuilah bahwa guru itu suatu saat akan meninggalkan dunia ini dan apabila ia belajar pada buku-buku, padahal buku itu tidak akan menerangkan apa yang tidak difahaminya disana; oleh sebab itu pergilah kepada guru yang hidup lagi menghidupkan melalui rabithah yang mursyid, supaya menemu Allah dan Allah itulah guru sekalian manusia, sebagaimana firman-Nya yang berarti :
“Lalu mereka menemukan salah seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat (karunia) dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”
(Q.S. Al Kahfie : 65)
Demikianlah Allah menyuruh mencari seorang guru yang akan menuntun manusia itu berjalan kepada-Nya dan apabila telah sampai kepada Allah, maka Allah akan mengajari orang yang disampaikan kepada-Nya itu ilmu yang disebut llmu-Hikmah (rahasia-rahasia dan keajaiban disisi Allah) dan mereka itu akan mendapat kebajikan yang besar pula daripada Allah SW’T.
Semoga orang-orang awam dari iman-Taqlid mencari kebenaran seperti yang diterangkan ini dan membuang segala sifat angkuh, sombong, ria, takabur, hasad, dengki, khianat, dendam kesumat, nafsu iblis dan hawa buruk, cinta dunia dan segala sifat-sifat yang dicela oleh hukum syara’. Semoga, amin…
- Dari sifal-sifat Allah, iman ditingkat ini adalah termasuk derajat Afál-Allah yang mengandung sifat: Qadrat, Iradat, Ilmu, Hayat dan Wahdaniyat (5 sifat) sebagai wadah mazharnya sifat-sifat Allah yang lahiriyahnya kepermukaan tubuh (alam nyata) kebendaan dan inilah yang menjadi pandangan iman taqlid ini; sehingga sifat “ke-aku-an” manusia itulah yang menonjol.
- Dari kejadian enam masa, iman Taqlid berada ditingkat alam Barzah; berarti iman yang masih dalam keadaan mati, jiwa yang tidak hidup, apatis.
Yang terbanyak umat iman Muhammad diakhir zaman ini adalah ditingkat taqlid ini, menurut sensus penduduk mereka beragama Islam, itupun karena keturunan.
- Alam yang dilalui untuk mencapai tingkat iman semacam ini masih berada di alam Nasut, yaitu alam nyata, alam perliputan alam ruh terhadap tubuh jasmani; mereka belum mengetahui perbedaaan antara ruh dan jasad. Apalagi tentang apa yang disebut antara ruh dan jasad tidak bersekutu, tetapi tidak bercerai. Belum memahami sifat-sifat Ketuhanan dan orang-orang semacam inilah yang paling awam.
- Ditinjau dari susunan dan urutan rukun iman, tingkat iman seperti ini adalah sejajar dengan Qadha dan Qadar; artinya sifat menerima apa adanya saja karena qadha dan qadar itu ditemui oleh manusia setelah mautnya dan disanalah baru melihat kebenaran yang hakiki.
- Dari urutan tingkat iman, imannya adalah iman-Taqlid yang Sedang dibicarakan ini.
- Dari sisi manusianya, mereka ini sekedar disebut Muslim.
- Derajat kekhalifahan belum ada karena masih ditingkat awam dan masalah alam ghaib masih jauh dari alam fikirnya.
- Dari sisi nafsu (diri), (*lihat gambaran alam mikro yang lalu) mereka masih berada dalam pada pendirian naar (api) yang berarti masih nafsu Iblis (syaitaniyah); kemana yang dikehendaki oleh si hawa (pengaruh) alam luar dirinya, kesanalah ia dalam keadaan terombang-ambing. Karena tinjauan masa datangnya belum hidup pada jiwanya yang masih mati tentang sesuatu keyakinan ataupun kepercayaan.
- Dari tingkat kejadian dirinya yang berasal dari Nuur Muhammad, mereka ini tidak/belum mengenal dan mengakui adanya Nuur Muhammad, apalagi yang disebut zahirnya Muhammad adalah insani. Mereka mengenal Muhammad Rasulullah tidak lebih dari sebagai mengenal dirinya yang mempunyai ayah dan ibu dan begitulah mereka mengenal Muhammad Rasulullah yang berayahkan Abdullah dan beribukan Aminah, bangsa Arab dari suku Quraisy.
“Tidaklah engkau Ku-utus (Ya, Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat (kurnia terciptanya) segenap alam (semesta)”
(Q.S. Al Anbiyaa’ : 107)
Yang dimaksud dengan alam telah diterangkan pada penjelasan yang lalu, yaitu adalah segala yang diciptakan Allah termasuk alam ghaib seperti alam Malaikat.
Jika derajat Muhammad sama dengan manusia biasa, tentulah tidak akan dapat menjadi rahmat sekalian alam ini. Dan bukanlah Muhammad itu sekedar bapak seorang laki-laki diantara kamu sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu”
(Q.S. AI Ahzab : 40)
Muhammad diutus pada awalnya untuk rahmat sekalian alam, berarti sebelum alam tercipta, Nuurnyalah yang terdahulu tercipta, kemudian beliau dinyatakan oleh Allah bukanlah bapak seorang laki-laki diantara manusia kendatipun bertindak sebagai manusia biasa; kawin dan berumah tangga, mempunyai anak; namun beliau itu bukan manusia biasa sehingga anaknya Siti Fatimah yang kawin dengan saudara sewarisnya Saidina Ali k.w. tidak disebut dengan Fatimah binti Muhammad, tetapi Fatimah binti Rasuli; maka dari sini saja kita dapat berfikir lebih jauh untuk memahami Muhammad, apalagi dia itu membawa cap kenabian terakhir (Khatamanubuah) yang tertulis halus dari bulu-bulu roma diantara urat belikat kirinya yang tersingkap rahasianya oleh Pendeta Bukhaira, ketika beliau dibawa oleh Pakciknya Abu Thalib, pergi berniaga kenegeri Syam sewaktu beliau berumur ±14 tahun dan sejak kecilnya apabila berjalan dibawah teriknya panas padang pasir yang menggigit, tetap dilindungi oleh awan.
Hal yang demikian adalah untuk melindungi dari manusia supaya jangan terlihat bahwa Muhammad itu tidak berbayang-bayang, kecuali pakaian yang dipakainya. Sebab bila tampak oleh orang yang tidak memahaminya, nanti akan menjadi kesyirikan seperti umat Nabi Isa a.s., oleh karena salah satu mu’jizatnya yang dapat menghidupkan orang mati, maka setelah wafatnya dianggap sebagai Tuhan; padahal itu hanyalah merupakan salah satu ilmu-hikmah yang disebut sebagai mu’jizat kepada Rasul-rasul dan kepada paraWali-wali Allah disebut sebagai suatu Karomah (keramat). Oleh karena Nuur nya yang dijadikan oleh Allah sebagai yang mengawali yang ada ini, maka dia pulalah yang mengakhiri seluruh Nabi-nabi yang membawa petunjuk untuk seluruh umat manusia dimuka bumi ini. Tidak seperti Nabi-nabi yang terdahulu dari padanya hanyalah diutus untuk kaumnya saja dan dialah yang menjadi penghulu sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang akan mensyafaát-kan mereka dan seluruh orang-orang yang beriman termasuk umatnya sendiri yang membenarkan kerasulan dan Nuurnya. Karena Nuurnya itulah yang diberkahi oleh Allah untuk menjadi syafaát. Maka siapa yang tidak mengenali Nuurnya itu didunia ini, kelak tidaklah akan mendapat syafaátnya. Wallahu a’ lam.
- Tingkat kefanaan pada derajat iman-taqlid ini belum mereka kenal, karena fana bagi mereka selain mengalami mati tidaklah ada dan amalnya disandarkan kepada adanya dosa-pahala semata sesuai dengan janji-janji Allah.
- Hal keadaan syafaát adalah seperti keterangan pada no.9, yakni tidak mendapat syafaát, kecuali mereka mengamalkan dzikrullah yang dipimpin oleh seorang guru yang mursyid; maksudnya adalah dalam mengamalkan dzikrullah itu mereka dipimpin oleh seorang guru yang telah mendapat maqam (kedudukan) Khalifatullah yang dibekali dengan ilmu-hikmah dan dengan ilmu-hikmah itulah Allah memerintahkan para Nabi dan Rasul dan pewaris kerasulan (Al Úlama Waratsatul An Biyaa’) sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan (ilmu) hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (pula)”
(Q.S. An Nahl : 125)
Dan orang yang dikaruniai oleh Allah ilmu-hikmah itu adalah orang yang di anugerahi kebajikkan yang banyak sebagaimana firman-Nya yang berarti :
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberikan kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat berfikir (mengambil pelajaran), kecuali orang-orang yang berakal”
(Q.S. Al Baqarah : 269)
Orang yang mendapat ilmu-hikmah yang mempunyai kebajikan yang banyak itu adalah setelah menjadi orang-orang rabbani, yaitu orang-orang yang telah dibukakan baginya “inkisyaf” (terbukanya mata bathin untuk memandang rahasia-rahasia Allah dibalik alam fisika ini) dengan kesempurnaan ma’rifahnya kepada Allah dari yang awal sampai yang akhir, dari yang zahir sampai yang bathin.
Mengenai seruan Allah untuk menjadi orang-orang rabbani ini adalah firman Allah yang bermaksud :
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang rabbani (sempurna ma’rifah dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Alkitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”
(Q.S. Ali Imraan : 79)
Oleh karena pada dasarnya semua manusia adalah awam (tidak mempunyai pengetahuan), maka untuk mencapainya, apakah pengetahuan itu mengenai alam kebendaan yang bersifat materialis (nyata), terlebih-lebih mengenai alam ghaib. Maka wajiblah seseorang itu mempunyai wasilah (perantara sementara sebelum mendapat hakikat yang dicari), karena apabila berjalan sendiri tanpa tuntunan, dikhawatirkan akan mengalami kesesatan dan hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Untuk ikutan bagi umatnya dalam perjalanan ghaibnya ketika isra’ mi’raj menembus tujuh petala langit melewati sidratul munthaha sampai kealam Nuumya, yaitu alam Nadzarullah yang berdiri kepada Dzat-Nya Yang Maha Halus.
Kendatipun Nuur Muhammad itu lebih tinggi daripada Nuur Malaikat (Jibril), tetapi karena beliau dari alam syariát menuju ke alam ma’rifat, maka harus melalui alam Jabarut (Thareqat) untuk menembus alam Malak (Hakikat) yang dituntun oleh Jibril sampai kepada alam Nuurnya (Jibril).
Oleh karena sampailah perjalanan ghaib itu ketapal batas alamnya Jibril, maka apabila dilampauinya, niscaya terbakarlah dirinya diatas Sidrat maka Muhammad Rasulullah yang mampu untuh menembus alam Nuurnya sendiri melewati Baitil Ma’mur, Al Maala il a’la dan Raf-raf yang kemudian bertemu dengan Dzat Tuhannya yang tidak dapat dibicarakan lagi dengan lisan dan perkataan; karena akan mengandung salah bagi setiap kata yang diucapkan; itulah Ma’rifat, utama, indah dan menakjubkan, tiada huruf dan suara untuk melukiskan dan membayangkannya; hanya saja setelah Rasulullah wafat, maka ditempatnya maqam Kerasulan itu digantikan oleh Allah seorang Khalifah yang akan menuntun umat kejalan ma’rifat itu; dan setelah ma’rifat kepada Allah, tinggalah seluruh rabithah untuk langsung bertemu dan berkomunikasi dengan Allah. Maka seorang Khalifatullah itulah yang dimaksud oleh Allah sebagai “Washilah”, sebagaimana firman-Nya yang berarti :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (bersungguh-sunggah) pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (sukses)”
(Q.S. Al Maidah : 35)
Bila seseorang menemui seorang ahli washilah yang jalan tuntunannya sambung bersambung sampai kepada Rasulullah saw. dan penuntun itu sudi menerimanya sebagai orang yang akan dituntunnya kejalan Allah melalui alam-Nasut, alam-Jabarut, alam-Malakut, untuk sampai kealam-Lahut (alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi), hendaklah dipatuhinya tuntunan (rabithah)nya itu lahir dan bathin; sebagaimana Nabi Khaidir menuntun Nabi Musa a.s. mencari hakikat (kebenaran). Bila tidak dipatuhi karena ada pandangan yang tidak sesuai dengan alam syariát, maka perjalanan hakikat itu akan terbatas, tidak akan sampai kealam ma’rifat.
Arti syafaát adalah pertolongan maka sebelum pertolongan itu sampai untuk memperolehnya dari Rasulullah yang dikaruniakan Allah bagi Rasul, maka syafaát itu adalah melalui syafaát Al Úlama Waratsatul Anbiyaa’, sehingga itulah yang disebut syafaát mensyafaátkan.
- Tingkat kalam tauhid. yang ditempuh dari maqam iman-taqlid ini barulah pada ujung kalimah yang maha lengkap itu, yaitu kalam “Allah” yang berarti baru seperempat dari kalimah yang lengkap dari kalimah “Laa Ilaaha Illa Allah”
- Seruan/tawajjuh untuk berkomunikasi dengan Allah bila ada sesuatu yang sangat pelik untuk dipikirkan yang tidak dapat diputuskan dengan akal karena bimbang dan ragu; maka orang-orang yang beriman-Taqlid ini berseru: “Ya, Guru…”, maksudnya ia harus menghadap gurunya, secara langsung menghadapkan masalahnya yang pelik itu kepada gurunya dan gurunya itulah yang berhadap kepada Allah untuk memecahkan problema yang ia hadapi, maka itulah yang disebut dengan pertolongan keberkahan.
Demikianlah keadaan orang-orang yang beriman Taqlid dan apabila tidak berguru atau belajar kepada seorang yang telah Allah dudukkan sebagai Khalifatullah (pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi untuk meluluskan hukum-hukum-Nya), dan hanya belajar kepada orang awam dan dari buku-buku bacaan saja, maka akhir kalam mereka itu sangat disangsikan; apalagi buku-buku itu hanyalah karangan ahli-ahli syariát. Niscaya banyak tafsiran yang tidak menuju alam ma’rifat dan demikian juga buku-buku tashauf yang dibaca oleh orang awam, tidak akan difahaminya makna dan tujuan keterangan-keterangannya; karena buku-buku tashauf itu hanya dapat difahami oleh orang-orang yang menjalani Thareqatullah, itupun tidak semua dapat memahaminya dengan benar, sebelum ia sampai kepada maqam Khalifatullah.
Dengan uraian-uraian mengenai kedudukan iman-Taqlid ini, maka tampak jelas segala kekurangan pengertian dan pemahaman tentang Addinul Islam secara sempurna, kendatipun hanya sekedar ilmu yang fardhu áin.
Oleh sebab itu perlu lagi iman itu ditingkatkan pada tingkatan yang lebih tinggi, dimana yang kurang dari iman-Taqlid yang hanya bersandar kepada guru-guru dan kitab/buku-buku agama saja, namun harus mencari seorang penuntun yang berderajat Al Waratsatul An Biyaa’ supaya sampai kepada maqam rabbani. Apabila senantiasa berguru kepada manusia, ketahuilah bahwa guru itu suatu saat akan meninggalkan dunia ini dan apabila ia belajar pada buku-buku, padahal buku itu tidak akan menerangkan apa yang tidak difahaminya disana; oleh sebab itu pergilah kepada guru yang hidup lagi menghidupkan melalui rabithah yang mursyid, supaya menemu Allah dan Allah itulah guru sekalian manusia, sebagaimana firman-Nya yang berarti :
“Lalu mereka menemukan salah seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat (karunia) dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”
(Q.S. Al Kahfie : 65)
Demikianlah Allah menyuruh mencari seorang guru yang akan menuntun manusia itu berjalan kepada-Nya dan apabila telah sampai kepada Allah, maka Allah akan mengajari orang yang disampaikan kepada-Nya itu ilmu yang disebut llmu-Hikmah (rahasia-rahasia dan keajaiban disisi Allah) dan mereka itu akan mendapat kebajikan yang besar pula daripada Allah SW’T.
Semoga orang-orang awam dari iman-Taqlid mencari kebenaran seperti yang diterangkan ini dan membuang segala sifat angkuh, sombong, ria, takabur, hasad, dengki, khianat, dendam kesumat, nafsu iblis dan hawa buruk, cinta dunia dan segala sifat-sifat yang dicela oleh hukum syara’. Semoga, amin…
Tingkat IMAN-TAQLID
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................

No comments:
Post a Comment