أعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
(الْحَمْدُ لِلَّهِ)Tahmid Dengan Denyutan Nadiku
(لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)Tahlil Degupan Jantongku
(اللَّهُ أَكْبَرُ)Takbir Hela Turun Naik Nafasku
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ... ALLAH اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ... ALLAH اللهَ
Kandungan Kalimah : “Laa Ilaaha Illa Allah”
Kandungan Kalimah : “Laa Ilaaha Illa Allah”
Mengenai Terhimpunnya Segenap Alam : Awal, Akhir, Zahir dan Batin
Yang Terkandung Kedalam Kalimah : “Laa Ilaaha Illa Allah”
Firman Allah:Artinya : “Kepunyaaan-Nya lah Kerajaan Langit dan Bumi. Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Q.S. Al Hadiid : 2-3)
Nama RUH menurut pembagian derajat dalam situasi dan kondisinya:
I. Pertama pada “Derajat DZAT” ;
- Ruh itu bernama “Arief”, apabila ia mengenal akan sesuatu;
- Ruh itu bernama “Iman”, jika ia mempercayai akan sesuatu.
Karena Allah berfirman:
Artinya : “Hendaklah kamu menjadi orang yang Rabbani (yang sempurna ma’rifahnya kepada Allah) karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
(Q.S. Ali Imran : 79)
Tiada yang lebih mengenal dan mempercayai diri-Nya selain Allah.
“Barangsiapa mengenal dirinya, make mengenal ia akan Tuhannya; barangsiapa mengenal Tuhannya, tahulah ia dirinya akan binasa.”
Kata para Shufi:
“Mengenal aku akan Tuhanku dengan Tuhanku, dengan Rahmat-Nya”.
II. Kedua pada “Derajat SIFAT” ;
- Ruh itu bernama “Ilmu”, bila ia mengetahu akan sesuatu;
- Ruh itu bernama “Akal”, jika ia dapat memikirkan sesuatu;
- Ruh itu bernama “Nyawa”, bila ia meliputi seluruh tubuh;
- Ruh itu bernama “Jiwa”, bila ia merasakan atau berprinsip akan sesuatu.
- Ruh itu bernama “Hati”, bila ia berkehendak akan sesuatu;
- Ruh itu bernama “Nafsu”, jika kehendak itu lebih dalam yang merupakan keinginan yang sulit dibendung.
- Nafsu Amarah; yaitu nafsu yang tercela. Menurut hukum Syara’ Fiqh, Tashauf (akhlak) dan Tauhid.
- Nafsu Lawwamah; nafsu yang dalam keadaaan bimbang dan ragu, tidak berpendirian yang tetap kepada kebenaran.
- Nafsu Muthmainah; nafsu yang diridhai Allah yang berhukum pada Fiqh, beramal pada Tashauf, berpegang pada Tauhid. Itulah nafsu yang tenang tulus mulus, dan nafsu inilah yang mendapat panggilan Allah untuk memasuki surga kelak.
Artinya : “Hai jiwa yang tenang”
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya’
“Maka masuklah kedalam jemaáh hamba-hamba-Ku”
“Dan masuklah kedalam surga-Ku”
(Q.S. Al Fajr : 27-30)
IV. Keempat pada “Derajat AFÁL” ;
- Ruh itu bernama “Usaha”, bila ia dapat berbuat akan sesuatu;
- Ruh itu bernama “Ikhtiar”, bila ia dapat memilih akan sesuatu sebagai jalan kepada uasaha;
- Ruh itu bernama “Nafas”, bila ia bertukar udara yang dihhirup dan dikeluarkannya melalui hidung.
Bila satu saja sifat ruh itu dicabut Allah dari si hamba, seperti “maut” seumpamanya, maka jadilah tubuh yang cantil rupawan, tampan bergaya yang berbangsa dan berbilang itu menjadi mayat yang terbujur; yang manakah lagi yang disombongkan dan dibanggakan itu?
Maka sadarlah wahai sekalian manusia pencinta dunia dan hawa nafsu, akhirat itu setiap detik ada dihadapan kita. Tetapi sayang, dunia mencengkeram terus diatas kuduk, sedangkan akhirat itu sangat hamir kepada diri setiap manusia, yang dipertemukan antara ruh dengan jasad. Bila ruh telah terangkat dari jasad, itulah akhirat, dalam jarak sekejab mata.
Dan luasnya dunia itu tidak lebih luas dari dua pelupuk mata setiap orang. Bila mata dipejamkan hilanglah dunia ini. Oleh sebab itu gunakanlah kesempatan hidup di dunia untuk bekal menuju akhirat yang kekal, indah, langgeng, syahdu, sempurna bahkan tak pernah terlintas dikhayalan manusia, dan tidak mungkin dikhayalkan betapa segala keasyikan dan kemasyukan bagi orang yang arif dan iman.
Tetapi demikian juga betapa hebat ázab-Nya bagi orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan taát zahir batin sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya didalam Al Quránul Karim dan Hadits Rasulullah SAW.
Sekedar madah aku sampaikan; Iman atau Kufur aku serahkan
Sujud dan sembah kepada Tuhan; semoga Ghafur Dia kurniakan
v KEINDAHAN (sifat Jamal Allah) itu adalah Tubuh pada yang zahir,
v KESEMPURNAAN (sifat Kamal Allah) itu adalah pada Hati yang Mu’min,
v KEBESARAN (sifat Jalal Allah) itu adalah pada Ruh sekalian manusia, yang ketiganya diatur dengan Syariát-Fiqh, Thareqat-Tashauf dan Hakikat-Tauhid.
Perhatikanlah sungguh-sungguh pembagian 4 (empat) derajat ini, dimana setiap urutan derajat Afál berdiri pada derajat Asma’ dan derajat Asma’ berdiri pada serajat Sifat dan derajat Sifat berdiri pada derajat Dzat. Dan meng-Esa-kan keempatnya adalah untuk menghapuskan segala kesyirikkan yang selalu disebabkan “ke-aku-an” si hamba selaku manusia yang tidak punya apa-apa dan kembalikanlah segala sesuatu itu krpada “ke-Aku-an” Allah Yang Maha Suci yang tiada dicampuri oleh anasir apapun.
Perhatikanlah daftar berikut:
No.
|
KETERANGAN
|
Derajat DZAT
|
Derajat SIFAT
|
Derajat ASMA’
|
Derajat AFÁL
|
1.
|
Ke-Esa-an Allah
|
Dzat (diri)
Ma’rifah
LAA
|
Sifat (kelakuan)
Hakikat
ILAAHA
|
Asma’ (nama)
Thareqat
ILLA
|
Afál (perbuatan)
Syariát
ALLAH
|
2.
|
Nabi Muhammad saw, dengan kebenarannya
|
Batin Muhammad
R a b b a n i
(Ali Imran : 79)
| Awal Muhammad
N u r a n i
| Akhir Muhammad
R u h a n i
| Zahir Muhammad
I n s a n i
|
3.
|
|
Shiddiq
Nabi
(Wadah Wahyu)
|
Amanah
Muhammad
(Yang Memuji)
|
Tabligh
Musthafa
(Pangkat yg. Tinggi)
|
Fathanah
Rasulullah
(Pekerjaan yg. Mulia)
|
4.
|
Sahabat Nabi yg. Utama
|
Abu Bakkar Shiddiq ra.
|
Umar bin Khattab ra.
|
Utsman bin Affan ra.
|
Ali bin Abi Thalib kw.
|
5.
|
a. Lembaga dan anasir Adam manusia
b. Diri Manusia
|
A p i
(menjadi Darah)
Diri Sebenar Diri
(Dzat Allah) itulah
S i r u l l a h
|
A i r
(menjadi Tulang)
Diri Tersembunyi
(Sifat Allah)
R u h
|
A n g i n
(menjadi Urat)
Diri Terperi
(Asma’ Allah)
H a t i
|
Tanah
(menjadi Daging)
Diri Terjali/Tersusun
(Afál Allah)
T u b u h
|
6.
|
Malaikat yang 10
|
| |||
7.
|
Kitabullah yang Wajib di Imani
|
Al Qurán
Nabi Muhammad saw
|
Injil
Nabi Isa as.
|
Zabur
Nabi Daud as.
|
Taurat
Nabi Musa as.
|
8.
|
Ilmu Islam yang Wajib bagi Mukhalaf
|
Ilmu Hikmah
(Ma’rifah)
pakaian lengkap seorang Mu’min
|
Ilmu Tauhid
(Hakikat)
pakaian Ruh
|
Ilmu Tashauf
(Thareqat)
pakaian Qalbi
|
Ilmu Fiqh
(Syariát)
pakaian Jasad
|
9.
|
Gerakkan dalam Shalat
|
Berdiri
Sifat Api
|
Sujud
Sifat Air
|
Ruku’
Sifat Angin
|
Duduk
Sifat Tanah
|
10.
|
Imam Mazhab
|
Imam Maliki
|
Imam Hambali
|
Imam Hanafi
|
Imam Syafií
|
11.
|
Rukun Pujian
|
Puji Qadim bagi Qadim
|
Puji Allah kepada Hamba
|
Puji Hamba kepada Allah
|
Puji Hamba kepada Hamba
|
12.
|
Hukum dalam Islam
|
|
(*baca: karangan rahasia menyingkap kalam Tauhid)
| ||
13.
|
Derajat Hari
|
| |||
14.
|
Derajat Makhluk
|
Manusia
|
Malaikat
|
J i n
|
Hewan/Tumbuhan
|
15.
|
Alam Semesta
|
Matahari
|
Planet/Bintang
|
Buln
|
Bumi
|
16.
|
Pembalasan pada Jin dan Manusia
|
Surga
|
Neraka
|
Pahala
|
Dosa
|
17.
|
Kelakuan Ruh menurut Situasi dan Kondisi
|
| |||
18.
|
Nama Ruh
|
| |||
19.
|
Alam Ghaib (Metaphisik)
|
Alam Lahut
|
Alam Malakut
|
Alam Jabarut
|
Alam Nasut
(Muqaddar)
|
20.
|
Manusia Abdi Allah
|
|
Ahli Hakikat
(Jabariyah)
|
Ahli Thareqat
(Ahlussunnah)
|
Ahli Syariát
(Qadariyah)
|
21.
|
Agama Dunia
|
Islam
(samawi)
|
Nasrani
(samawi)
|
Hindu/Budha
(agama Bumi)
|
Yahudi
(samawi)
|
22.
|
Mata Angin
|
U t a r a
|
T i m u r
|
S e l a t a n
|
B a r a t
|
23.
|
Situasi Hari dan Waktu
|
Siang
Dzuhur
|
Ashar
Maghrib
|
Subuh
Pagi
|
Malam
Gelap
|
24.
|
B e n u a
|
Asia/Eropah
|
Amerika
|
Australia
|
Afrika
|
25.
|
Rukun Iman
|
| |||
26.
|
Tingkat Iman
|
| |||
27.
|
Kekuasaan Allah
|
Árasyi
|
L u h
|
Kursiy
|
Mahfuz
|
28.
|
Rukun Islam
|
|
Puasa
|
Haji
|
Zakat/Fitrah
|
29.
|
Ketentuan yang Telah Ditetapkan
|
L a n g k a h
|
R e z e k i
|
P e r t e m u a n
|
M a u t
|
30.
|
Masjid Allah
|
Masjidil Haram
Di Makkah Al Mukarramah
|
Masjidil Aqsa
Di Yerusallem
|
Masjidil Nabawi
Di Madinatul Al Munawarrah
|
Masjid-masjid di permukaan Bumi
|
31.
|
Pemerintahan Langit dan Bumi dalam Enam Masa
|
| |||
32.
|
Ukuran Arah
|
Atas
|
Kiri
|
Kanan
|
Bawah
|
33.
|
Ukuran Umur/Volume
|
Besar
|
Tua
|
Muda
|
Kecil
|
34.
|
Hakikat Ilmu
|
Maha Álim
|
Ílmu
|
Úlama
|
Álam
|
35.
|
Keadaan Jiwa Manusia
|
H i d u p
|
P i n g s a n
|
S a d a r
|
M a t i
|
36.
|
Jenis Kelamin
|
Tidak Berjenis
|
K h u n s a
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
37.
|
Sebutan Dzikrullah
|
Hu…
(Dzikir Ma’rifah)
|
Allah..Hu
(Dzikir Nafas)
|
Allah…Allah…
(Dzikir Hati)
|
Laa Ilaaha Illa Allah
(Dzikir Lidah/Syariát)
|
38.
|
Unsur Perpaduan Manusa
|
Tali Nyawa yang Maha Halus bergantung kepada Dzat Allah
|
Ruh, yang meliputi segenap tubuh
|
Qalb atau Jantung yang mengalirkan darah keseluruh tubuh
|
Tubuh (jasad, raga) yang terdiri dari 4 (empat) anasir
|
39.
|
Dasar Hukum dan Ilmu Islam
|
Al Quránul Karim
|
Al Hadits
|
Ijma’
(Mufakat Para Úlama)
|
Qiyas
(menurut alam atau lingkungannya)
|
40.
|
Jenis Hewan
|
Terbang di Udara
|
Hidup di Air
|
Hidup di Air dan di Darat
|
Hidup di Darat
|
41.
|
Jenis Tumbuhan
|
Benalu
|
Tumbuh di Air
|
Tumbuh di Air dan Di Darat
|
Tumbuh di Darat
|
~
|
Dan lainnya…
|
Lain-lain…
|
Lain-lain…
|
Lain-lain…
|
Lain-lain…
|
Bila kita rajin meneliti dan meriset seluruh makhluk dan benda-benda alam ini menurut jenis dan genenya, tidak lebih hanya akan termasuk kedalam 4 (empat) derajat tersebut, dimana derajat Afál berdiri kepada Asma’, Asma’ berdiri kepada Sifat, Sifat berdiri kepada Dzat dan Dzat itulah sumber yang ada ini terkandung kedalam kalimah “Laa Ilaaha Illa Allah”.
Derajat yang satu menjadi jembatan kepada derajat yang lainnya. Barangsiapa tidak mengakui salah satu derajat diantara orang yang mengaku Islam, maka binasalah ia.
Ambillah semisal Syariát-Fiqh, ia tidak dapat berdiri sendiri atau melangkahi Thareqat-Tashauf untuk sampai kepada hakikat-Tauhid, apalagi langsung kepada Ilmu Ma’rifah, sebab Thareqat-Tashauf itu adalah jalan amal, antara lain:
þ Berdzikir kepada Allah; dan orang yang berdzikir itu disebut Allah laki-laki yang sesungguhnya , dengan dalil Firman Allah :
Artinya : “Laki-laki adalah yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah dan (dari) mendirikan Shalat dan (dari) membayar Zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) Hati dan penglihatan menjadi goncang.”
(Q.S. An Nur : 37)
þ Mendirikan Shalat; dan bila diketahui, jadilah hendaknya Shalat-Daimun (Shalat yang tidak berkeputusan);
þ Melakukan Ibadah Puasa, baik yang wajib maupun sunat;
þ Membayarkan Zakat, bagi yang mencukupi nisabnya;
þ Menunaikan Ibadah Haji dan Sedekah Jariah dan segala kebaikkan, seluruhnya itu adalah Thareqat (jalan) untuk kembali kepada Allah.
Sebanyak derajat Syariát sebanyak itu pula Thareqat, Hakikat dan Ma’rifat. Dan kalau menganggap Thareqat itu bidáh dan setiap bidáh itu sesat, dan sesat itu Fin-nar. Maka cobalah hapuskan kalam “Illa” dari kalimah “Laa Ilaaha Illa Allah”, dan menjadi “Laa Ilaaha Allah”, syahadat Tauhid siapakah yang berbunyi demikian? Selain orang yang tidak jeli otaknya. Bahkan mereka akan membunuh para Úlama Allah secara tidak langsung, karena jalur Úlama yang sebenarnya adalah pada jalur Thareqat. Dan seluruh yang terhimpun pada jalur itu akan tidak diakui. Apabila Thareqat-Tashauf yang menjadi “jantung” dan “rajanya“ Ilmu Islam yang tinggi itu dirusak oleh umat Islam yang hanya mengetahui tentang yang zahir saja yang berhubungan dengan alam kebendaan. Jika Yahudi bertuhankan materi, Nasrani bertuhankan Ruh dan Aliran Kepercayaan bertuhankan Hati, marilah umat Islam kembali bertuhankan Dzat Allah Yang Wajibal Wujud adanya dan Maha Suci dari sesuatu elemen atau jauhar. Itulah kebenaran yang Haq, jangan ikut rendong dengan pengaruh kebudayaan Barat yang telah menyusupi Islam itu dari segala aspek kehidupannya.
4 (empat) derajat itulah sesungguhnya “Rahasia Lambang Khataman-Nubuah” yang berada diantara urat belikat kiri Rasulullah SAW. untuk menyingkap “Tabir Rahasia Kalam Tauhid” yang menjadi Rahmat sekalian alam ini, baik pembangunan duniawi dan ukhrawi, sebagai berikut:

Masukkanlah tiap-tiap nomor dari derajat: Dzat, Sifat, Asma’ dan Afál menurut tempatnya masing-masing, kemudian ikutlah garis-garis panah yang melambangkan tali (hubungan) nyawa kehidupan ini, maupun kehidupan manusia itu sendiri dalam ketergantungannya kepada derajat Dzat Allah itu sendiri sebagai garis “Arus Balik” yang tiada putusnya, sebagai berikut:

Sebagai contoh; ambillah nomor 34 dari daftar derajat diatas, yaitu derajat Dzat: Maha Álim, derajat Sifat: Ílmu, derajat Asma’: Úlama dan derajat Afál: Álam.
Masukkan kedalam “Rumus Lambang Khataman-Nubuah”, maka tampak sebagai berikut:

Pada rumus, kita lihat bahwa yang Maha Álim itu adalah derajat Dzat Allah. Apabila ke Áliman-Nya itu diturunkan kealam Sifat, maka jadilah ia Ílmu. Ilmu itu ditanggung oleh orang-orang yang diberi-Nya petunjuk diantara hamba-hamba-Nya yang shaleh, maka bernamalah orang tersebut sebagai Úlama. Maka yang dibaca dan diterangkan oleh Úlama tersebut kepada manusia yang mau mendengar kata, adalah Álam ini. Supaya manusia tidak sesat kelak kembalinya kepada si Maha Álim itu.
Dan hal tersebut dapat dipantau; Álam tunduk kepada Úlama, Úlama tunduk kepada Ílmu dan Ílmu tunduk keasalnya si Maha Álim, maka itulah jalan yang lurus yang berkebenaran. Bukan sebaliknya Úlama tunduk kepada Álam, sehingga kebanyakkan Úlama masa kini gila pangkat, gila harta dan gila titel. Úlama ‘tempoe doeloe’ dapat menaklukkan alam, mereka berjalan dihujan lebat, tetapi tidak basah. Mereka menyeberangi lautan tanpa kapal dan perahu, mereka tahu apa yang di hati manusia sebelum diungkapkan. Itulah sekedar sekelumit dari perbedaan Úlama yang sesungguhnya dengan Úlama yang Hubuduni-ya.
Bila anda rajin membaca risalah ini, merenung dan berfikir tentang kebenarannya, Insya Allah ilmu anda akan bertambah luas dan dalam tentang Alam dan Ketuhanan.
Wabillahitaufiq walhidayah, Wasallamuálaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
4 Syafar 1410
Lubuk Pakam ——————–
5 September 1989
Ibka jauhar
ALLAH اللهَ ALLAH اللهَ
Kandungan Kalimah : “Laa Ilaaha Illa Allah”
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................



No comments:
Post a Comment