اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
Keterangan Kejadian Susunan Tata Suria
Keterangan Kejadian Susunan Tata Suria
Selanjutnya untuk mempermudah penangkapan faham dan penalaran akal-fikir, perhatikanlah gambaran susunan tata surya yang disebut alam semesta yang tercipta dari Nadzarullah yang disebut Nuur Muhammad yang qadim, dan kemudian Nuur Muhammad yang baharu setelah alam semesta diciptakan sebagai berikut :
Dari matahari inilah sumber segala api dan cahaya untuk alam semesta yang dipertaruhkan oleh Allah, dan Dzat-Nya tidak menempatkan diri pada alam yang dijadikan-Nya.
Apabila Dzat itu menempatkan diri pada alam yang diciptakan-Nya tentulah alam ini akan binasa. Dengan hanya wajah-Nya saja dihadapkan di bukit Thursina, ketika Musa Kalamullah ingin melihat Dzat-Nya, maka hancurlah bukit thursina itu dan Nabi Musa pun dalam keadaan fana selama empat puluh hari, apalagi Dzat-Nya, maka hancurlah segala yang ada ini; tentulah kembali sebagaimana ajalinya.
Dalam keadaan fana itulah Nabi Musa a.s. menerima isi kitab Taurat yang diturunkan sekaligus untuk tuntunan umatnya dimasa beliau; tidak seperti turunnya Al Qurán yang diturunkan bertahap-tahap menurut keperluannya selama dua puluh dua tahun dua bulan.
Dari matahari inilah sebagai ganti Dzat-Nya, Allah menurunkan sifat ma’nawiyah yang tujuh itu, yakni; Muridun, Qudirun, Hayyun, Alimun, samiún, Bashirun dan Mutakallimun untuk kehidupan dan pergerakkan alam semesta ini. Tanpa petaruh atau amanah itu, maka alam ini akan kaku dan beku; tiada kehidupan dan pergerakkan, tiada suara dan penglihatan, tiada perkataan dan pendengaran semuanya akan mati.
Dzat itu tidak terbatas Maha Luasnya sebagaimana dalam gambar tersebut, sebelum Dzat-Nya yang Maha Luas yang tidak berbatas itu, masih diantarai oleh alam Nadzar-Nya yang tiga itu sebagai sifat kesempurnaan, kebesaran dan keindahan-Nya, dimana ketiganya itulah yang memuji dirinya pada alam ajali-Nya sebelum alam ini diciptakan-Nya. Dan sekali lagi Nuur Akal Allah itulah Nuur Muhammad saw. Maka siapa yang tidak mengakui adanya Nuur Muhammad itu, termasuklah ia orang yang jahil yang belum mengena Allah dan belum mengenal Muhammad sebagai Rasul Allah.
Sebagaimana yang telah diterangkan terdahulu dari pembendaharaan Allah yang tiga derajat tersebut, belum langsung menciptakan alam, tetapi masih ada proses sebelumnya, yaitu;
Demikian awal kejadian manusia ini pada awalnya, maka demikian pulalah alam yang mesti ditempuhnya untuk kembali kepada Tuhannya dengan bersusah payah dengan segala tantangannya dialam ghaib, sehingga menyebabkan manusia tersesat dalam perjalanannya kembali itu jika tidak dicari semasa masih sehat dalam kehidupan duniawi ini; karena sebelum perjalanan akhirat itu sampai adalah dilaksanakan didunia ini juga, untuk membuka mata hati terhadap yang ghaib itu, karena mata yang dikepala hanyalah untuk memandang alam nyata. Alam ghaib mesti dilihat dengan mata ghaib pula; yaitu mata bathin yang ada didalam Shuddur, salah satu kamar hati manusia dan yang lainnya bernama: Fuád, Lubban, Qulub dan Bahajatul Qulub.
Padahal jika diperiksa dengan teliti, mereka sebenarnya tidak/belum mengetahuai apa-apa tentang Allah dan tentang dirinya, maka jenis seperti inilah yang banyak merusak nama Thareqatullah didunia ketashaufan; sehingga orang berpendapat tashauf itu hina dan rendah dimata umat; padahal karena kesalahan oknum-oknurn pengamal thareqatullah itu sendiri; belumpun ia seorang mursyid, telah berani menjadi penuntun untuk rnenembus alam ghaib.
Daya tarik Iblis dengan hawa sebagai alatnya, akan menariknya kedalam neraka, dan barang siapa yang kuat daya tarik malaikat pada diri/nafsunya, akan menghantarkannya melampaui sidratul munthaha, ketempat asalnya semula jadi.
Dengan penjelasan itu manusia tinggal mempergunakan alam akal-flkirnya, hendak kemana filsafat hidupnya ditujukan menurut perhitungan akalnya yang mulia itu, terserah kembaii kepada Yang Maha Pemberi Petunjuk.
Dengan uraian yang demikian, maka jelaslah bahwa. kejadian semesta alam sesuai dengan alam asal kejadiannya yang tercipta dari Dzat dan Nadzarullah yang tiga derajat tersebut sebagaimana dalam daftar/tabel yang lalu (*pada hal. 20), yaitu :
v Cahaya Naar Dzat Allah kepada alam semesta adalah kepada matahari yang tercipta dari lumpur logam, itulah sumber api dan cahaya alam semesta dan menjadi darah bagi manusia.
v Cahaya Nuur Raf-raf kepada alam semesta adalah kepada seluruh tujuh lapis langit diatas penjuru bumi yang ditempati oleh tujuh planet serta jalur orbitnya. Dari sinilah sumber air dan kepada manusia menjadi tulang.
v Cahaya Nuur Al Maala il a’la kepada alam semesta adalah pada tujuh petala langit dibawah jalur orbit bumi termasuk dua jalur orbit planet venus dan merkurius yang menjadi jalur sinar gelombang frekwensi matahari dan dari sinilah sumber angin/udara kebumi ini dan kepada manusia menjadi urat-urat manusia.
v Cahaya Nuur Baitil Ma’mur kepada segenap alam adalah kepada seluruh benda-benda alam dan yang paling lengkap adalah kepada bumi yang diciptakan sebagai intinya tanah dan mengandung seluruh logam yang ada diplanet dan mineral lainnya yang telah diciptakan Allah untuk kehidupan makhluk-Nya dalam mengabdikan diri kepada-Nya dan tanah inilah yang menjadi daging pada manusia; dan bila mati seorang anak Adam, tubuhnya itu akan kembali kepada tanah.
Disini tampak dengan jelas bahwa jalur orbit bumi berada diantara tujuh lapis langit diatas penjuru bumi yang berbatasan dengan Sidratil Munthaha sebagai alamnya malaikat, dengan tujuh lapis langit dibawah penjuru bumi yang tertumpu kepada titik fokus semesta alam, yaitu matahari sebagai alamnya Iblis dan anasir angin serta lapisannya itu adalah sebagai hawa pengaruh kepada bumi yang tertumpu petaruhnya kepada manusia.
Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa jika alam semesta sebagai alam makro diperkecil, itulah bumi yang mengandung anasir yang empat, dimana sebagai paru-parunya adalah Masjidil Aqsa di Jerussalem tempat turunnya sekalian ruh dan jantungnya adalah Masjidil Haram sebagai tempat turunnya sekalian petunjuk (ilmu dan hikmah) kepada segenap alam yang diterima oleh manusia, sebagaimana firman Allah yang berarti :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat berbakti) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk (ilmu) bagi segenap alam (manusia)”
(Q.S. Ali Imraan : 96)
Selanjutnya lihatlah gambar yang berikut ini :
gambar 1 (pertama) :

gambar 2 (kedua) :

Perhatikanlah gambar tersebut secara seksama dan bandingkan dengan gambar susunan tata surya yang lalu untuk lebih memahami studi perbandingan alam semesta dengan identiknya eksistensi manusia yang menempatinya dan saling mempengaruhi antara alam semesta dan manusia itu sendiri; supaya manusia memahami dengan sebenar pemahaman :
“Siapakah sebenarnya manusia ini? Bagaimana kedudukannya yang amat mulia dari seluruh makhluk yang dijadikan Allah; bagaimana pula kedudukannya disisi semesta alam dan disisi Tuhannya sehingga ia dijadikan Allah untuk menggantikan pekerjaan Allah dimuka bumi guna menyampaikan dan meluluskan hukum-hukum Tuhan dimuka bumi ini yang disebut sebagai Khalifatullah”.
Dan inilah salah satu maksud dari salah satu hadist qudsiy yang berarti :
“Aku menjadikan Adam sesuai dengan gambaran diri-Ku”
Gambaran diri Allah yang dimaksud disini bukanlah gambaran postur tubuh, tetapi gambaran dari asal kejadian.
Pada gambar 1 (pertama) kita lihat: Kejadian dari alam makro (semesta) kealam mikro (insan) dan petaruh/amanah Allah kepada kedua alam tersebut.
v Kepala, adalah: tujuh lapis langit yang menjadi orbit planet:
1) Pluto, induk magnet; tanpa satelit
2) Neptunus, induk waja; satu satelit
3) Uranus, induk besi tuang; empat satelit
4) Saturnus, induk emas; empat dan tiga satelit
5) Yupiter, induk perak; tujuh dan empat satelit
6) Minor, bintang yang bertabur; induk timah hitam
7) Mars, induk tembaga; dua satelit
v Tangan, adalah: Bulan yang menjadi satelit bumi untuk menerima petaruh/amanah dari seluruh planet kebumi dan dari bumi keseluruh planet, apakah itu dari petala langit maupun dari petala bumi. Bulan terdiri dari induk batu-batuan dan yang utama adalah batu buih.
v T u b u h, adalah:
8) B u m i , induk tanah dengan satelitnya bulan. Bumi inilah yang menerima segala hukum kausalitet (sebab-akibat) buruk dan baik.
v Kaki (dari pinggul sampai mata kaki) adalah:
9) Venus, induk kuningan; kaki kanan
10) Merkurius, induk timah putih; kaki kiri
v Tapak kaki, adalah:
11) Matahari, lumpur logam yang membara, dimana kulitnya mencapai 6.000 derajat celcius.
Dari gambar dan keterangan tersebut jelas kepada keadaan insan itu adalah mewakili seluruh planet yang ada pada susunan tata surya ini sebanyak sebelas planet yang terbesar.
Diatas orbit planet pluto itulah batas sidratil munthaha menghadap kepada nadzarullah yang tidak terhingga, apalagi Dzat-Nya Yang Maha Halus; sehingga dari gambar tersebut tampak dengan jelas batas yang dapat difikirkan oleh alam akal, maka diatasnya bukan lagi perjalanan alam akal,tetapi adalah alam Iman dan Ma’rifat.
Pada gambar tersebut dapat dibaca, bahwa tujuh lapis langit kearah sidrat tersebut adalah alamnya Jibril, maka Jibril itu menjadi lambang akal kepada manusia, dimana seandainya dikumpul seluruh alam akal manusia yang ada ini, seluruhnya ghaib kepada alam akal Jibril; dan alam akal Jibril itu ghaib pula dalam Nuur Muhammad dan Nuur Muhammad itu ghaib pula dalam Nadzar Tuhannya dan Nadzarullah itu ghaib pula dalam Dzat Tuhannya.
Dibawah penjuru langit yang berfrekwensi tujuh lapis langit kearah matahari dimana ada dua jalur planet, inilah simbol yang melambangkan kaki dunia yang berpijak kepada titik fokus matahari sebagai lumpur logam yang mendidih yang senantiasa dipengaruhi oleh kakinya untuk tidak beranjak dari kehidupan duniawi ini karena nikmatnya alam kebendaan yang bersifat temporer dan fana sebagaimana logam-logam yang hancur dimakan api, itulah kelak yang akan terjadi setelah berpindah alam dari seberang kehidupan dunia ini kealam yang kekal dan abadi. Padahal diatasnya (kepala) adalah induk-induk logam yang tidak dimakan api, yaitu alam akal-fikir.
Bukan pada tempatnya berpijaknya (lumpur logam) benda yang kekal dan asli, tetapi ada diatas kehidupan malakut yang akan menjadi haqnya, seandainya ia dapat mempergunakan akalnya untuk berfikir tentang dirinya (manusia), tentang alam dan tentang Tuhan yang menciptakan ini semua.
Seperti filsafatnya gambar pertama itulah kelak segala harta yang mereka miliki jika tidak mengenal diri dan mengenal Allah dengan pengenalan yang hakiki lebih dari pada hanya menyebut dengan lidah perkataan Allah itu; tetapi jahil tentang hakikatnya; kendatipun mereka telah mengerjakan shalat, puasa, zakat, hajji dan shadaqah yang lain. Semua itu akan percuma kelak jika masih mengandung kesyirikan didalam amalnya.
Selanjutnya perhatikan gambar 2 (kedua) :
Anasir Kejadian Manusia
Api (ajalinya dari Dzat Allah); menjadi darah bagi manusia;
Air (ajalinya dari Raf-raf); menjadi tulang bagi manusia;
Angin (ajalinya dari Al Maala il a’la); menjadi urat bagi manusia;
Tanah (ajalinya dari Baitil Ma’mur); menjadi daging bagi manusia.
Pada gambar tersebut, daerah/wilayah malaikat pada sisi manusia itu dari alam metafisiknya tubuh adalah dari leher kekepala dan bila diturunkan kebumi, menjadi air. Air ini tidak perlu lagi dijelaskan seluruh gunanya karena tanpa air bumi ini akan kering mersik dan terbakar keseluruhannya; itulah sebabnya 71% bumi ini digenangi dengan air.
Malaikatlah yang patuh tunduk kepada Allah sebagai hamba dan makhluk-Nya yang terakrab dan tidak pernah membangkang; walaupun disuruh sujud kepada Adam pun mereka patuh. Tanda kepatuhan itu bagi manusia yang menggunakan akal-fikirnya adalah sujud kepada Allah didalam shalatnya.
Dari kaki pada titik fokus matahari ke kepala, adalah masih berada dalam lingkungan alam semesta; berarti masih bermaqam binasa menurut firman Allah yang bermaksud :
“Semua yang ada dibumi (alam) itu akan binasa”
“Dan akan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai wajah yang berkebesaran dan berkemuliaan”
(Q.S. Ar Rahmaan : 26-27)
Pada hakekatnya Adam Khalifatullah mesti disujudi para malaikat, maka untuk itulah
mesti mengadakan perjalanan hati-nurani kepada Allah untuk mendapatkan ketidak binasaan itu dengan melampaui alam malaikat disidratil munthaha, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah saw. Dengan perjalanan ghaibnya yang menakjubkan yang tidak dapat ditembus oleh alam akal ketika di Isra’ Mi’raj kan dengan bekal: Iman, Islam, Ma’rifah, Tawakkal dan Nuur berdamping Nuur (langit yang berlapis-lapis).
* buka kembali surah An Nuur ayat : 35 yang dilanjutkan keterangannya sampai kali ini.
Bila dalam perjalanan alam kerohanian hati-nurani dengan bekal tersebut, barulah seseorang itu mencapai tahap Iman-Kamil; barulah ia berhak menjadi khalifatullah, karena imannya telah melampaui iman malaikat. Jika masih sebatas malaikat, iman itu belum sempurna, tetapi telah mendapat derajat Muqarrabin. Jika mu’min yang sebenarnya harus diatas malaikat dan itulah para Arif-Billah, wali-wali Allah yang menjadi Ahlullah diatas Ahlussunah wal Jamaáh.
Sebelum berjalan kepada Allah dengan khasiat kenabian, manusia itu masih jauh dibawah malaikat, itulah yang disebut dengan lembaga Adam yang berada diantara daya tarik menarik malaikat dengan Iblis yang memperalat hawa (pengaruh) yang disebut juga sebagai syetan yang menggoda si Adam nya manusia ini, sebagai keturunan anak, cucu dan cicit nya.
Sebagaimana keadaanya gambar tersebut, seperti itulah sejarah turunnya Adam a.s. dari tanah surga ke alam dunia yang fana ini.
Pada ajalinya Adam itu berada diatas derajat malaikat, kemudian iblis yang tercipta dari api yaitu cahaya Naarullah, sedangkan Adam tercipta dari Nuurullah (Nazdarullah) dan Siti Hawa dari tulang rusuknya Adam, sehingga Adam begitu mencintainya.
Oleh karena asal derajat kejadian yang lebih tinggi ialah Iblis yang tidak mau sujud kepada Adam, walaupun Adam ditetapkan menjadi pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi untuk meluluskan sekalian hukum-hukum-Nya. Maka dengan asal kejadian itu, iblis memulai tugasnya untuk memanggil Adam turun kebumi melalui Hawa kekasih Adam; akibatnya terpengaruhlah Adam untuk mendekati dan memakan buah quldi yang menjadi pohon suaka alam surga. Maka terbukalah aurat keduanya dan naiklah syahwat keduanya, sedangkan percampuran itu bukanlah tempatnya disurga, melainkan dialam dunia.
Bila direnungkan sedalam-dalamya, yang bernama “Iblis” itu adalah salah satu sifat- penguji dan alat penyebab yang diciptakan Allah untuk membawa Adam dan Hawa kealam dunia; itulah maka Allah menyebutkan bahwa dunia ini adalah “Sandiwara Allah”, dimana para pelakonnya adalah seluruh makhluk-Nya yang ada dilangit dan dibumi dan isi diantara keduanya, dan dekorasinya adalah semesta raya yang terbentang luas ini. Maka butalah manusia yang hanya melihat kepada sebab yang hanya seolah-olah menjadi “kambing hitamnya” sesuatu peristiwa alam ini, sebenarnya yang perlu dicari dan dikenal adalah Yang Maha Menjadikan Sebab demi keselamatan dunia dan akherat.
Pada gambar jelas terlihat bahwa sifat Iblis itu tetap tidak bisa terpisahkan dari seluruh manusia yang masih mengalir darah ditubuhnya melalui pembuluh-pernbuluh darah yang didorong oleh hawa-udara (angin) meliputi seluruh tubuh manusia itu. Adanya Adam itu adalah wadahnya nafsu lawwamah (mudah tergoyang) oleh sesuatu pengaruh alam luar dirinya jika tidak menggunakan akal-fikirnya yang berada dikepala yang petaruhnya pada otak. Demikian juga sifat malaikat, lengkap ada pada setiap diri.
Bila manusia melangkah keatas kepada derajat yang tinggi untuk mengenali malaikat pada dirinya, nafsunya akan berubah kepada nafsul-muthmainah, yakni nafsu yang tenang (sakinah) yang kelak akan mendapat seruan dari Tuhannya untuk memasuki surga-Nya; tetapi bila ia melangkah kebawah, yakni kepada alam kebendaan yang menjadi lumpur logam, nafsunya akan menjadi nafsu amarah (cinta dunia). Jadilah ia memikul beban nafsu hewaniyah dan syaitaniyah. Supaya langkah-langkah manusia yang beriman itu tidak mengarah kepada langkah-langkah syaitan (hawa) yang dipengaruhi oleh yang bernama Iblis, maka Allah memperingatkan manusia dengan firman-Nya yang bermaksud :
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam (ilmu) Islam secara keseluruhan dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu seteru kamu yang nyata”
(Q.S. Al Baqarrah : 208)
Yang dimaksud oleh Allah memasuki Islam itu secara keseluruhannya adalah seluruh tubuh sejak dari ujung rambut yang dikepala sampai ujung jari kaki dengan empat derajat ilmu, yaitu:
Oleh sebab itu, berjalanlah dimuka bumi Allah ini dengan pengendalian alam malaikat yang disandarkan kepada akal yang ada dikepala; jangan berjalan dimuka bumi Allah ini dengan kendali nafsu syaitaniyah dengan pengaruh Iblis supaya diri dan manusia lainnya dalam masyarakat sosial mendapat keadilan dan kemakmuran dari tingkah laku kita yang berakhlak mulia sesuai dengan konsepsi wahyu yang tiada lagi konsep yang lebih tinggi lagi daripadanya. Wahyu Illahi yang diturunkan oleh Allah kepada Pemimpin Umat Manusia Akhir Zaman Pembawa Awal dan Akhir serta Zahir dan Bathin, tiada lagi Nabi sesudahnya, pantaslah menjadi ikutan seluruh umat manusia. Karena beliau itulah yang telah ditetapkan Allah SW’T. menjadi Nuur-Nya dan menjadi Rahmat sekalian alam; diakui atau tidak oleh manusia, namun ketetapan itu tetap berjalan terus sesuai dengan firman Allah yang berarti :
“Tidaklah engkau Ku-utus (Ya, Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat (kurnia terciptanya) segenap alam (semesta)”
(Q.S. Al Anbiya’ :107)
Namun demikian, bagi orang-orang yang tidak mengakui adanya Nuur Muhammad sebagai awal penciptaan yang ada ini, dan hanya Muhammad itu sebagai anak Abdullah dan Aminah saja, sama saja seperti orang-orang yang ingkar; diberi keterangan atau tidak, namun bagi mereka tetap sama saja yaitu tidak akan percaya; karena dianggapnya seluruh keterangan ini adalah hanya dibuat-buat saja dengan tafsiran secara reka-rekaan belaka. Semoga yang tidak mengakuinya mendapat petunjuk Allah kejalan kebenaran dengan Thareqatullah.
Begitu banyak ayat-ayat Allah yang menerangkan bahwa di Jerusallem tepatnya di Masjidil Aqsa, itulah tempat turunnya ruh pada sekalian alam ini, diantara yang menjadi kenyataan ialah Nabi Ibrahim yang memperanakkan Nabi Ismail, Nabi Zakaria yang memperanakkan Nabi Yahya, Siti Maryam yang menurunkan Nabi Isa a.s., yang pada mulanya adalah suatu hal yang tidak mungkin, mengingat Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria yang telah tua renta dan mempunyai istri yang mandul demikian juga Maryam yang masih suci dan tanpa perkawinan yang alami; hanya dengan tiupan ruh daripada Allah SWT, setelah beberapa lama dalam kandungan Maryam, lahirlah Isa a.s. dan Allah memberinya derajat yang tinggi yaitu Isa Ruhullah, maka ruh kehidupan semesta disandarkan Allah padanya. Sehingga merupakan isyarat secara metafisiknya bahwa turunnya sekalian ruh makhluk lil álamin adalah di Palestina sedangkan turunnya sekalian Ilmu dan Petunjuk pada sekalian alam adalah ada di lembah Bakkah (Mekkah) yang penuh berkah, yaitu Baitullah, sebagaimana yang telah ditegaskan Allah dengan firman-Nya yang bermaksud :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yung di Bakkah (Mekkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk (ilmu pengetahuan) bagi seluruh alam (manusia)”
(Q.S. AIi Imraan : 96)
Jika sekalian ruh turun di Masjidil Aqsa dan Ilmu di Masjidil Haram, maka turunnya alam jasad adalah diseluruh muka bumi yang ditempati manusia dimana manusia itu mencari kehidupannya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa miniatur daripada alam semesta ini adalah manusia. Pengendali nyawa/nafas manusia adalah paru-parunya, pengendali peredaran darahnya adalah pada jantung atau qalbinya dan yang dikendalikan itu adalah tubuhnya yang nyata sejak dari ujung rambut sampai ketelapak kakinya.
Bila manusia itu mengetahui betapa perlunya mengurus kesehatan paru-parunya dan jantungnya supaya tetap sehat dan kesehatan itu akan tampak lahiriyahnya kepada seluruh tubuh, dimana ruhani yang sehat akan mendapatkan jasmani yang sehat.
Kebaikan bumi ini tergantung pula kepada keadaan paru-parunya yang sehat dan jantungnya yang stabil. Bumi ini diamanahkan Allah kepada manusia yang mendiaminya. Bila manusia yang sehat hati-nuraninya yang menguasai bumi ini, maka akan baiklah bumi ini; tetapi bila bumi ini dikuasai oleh hati-nurani manusia yang telah kotor dengan segala keingkaran kepada Allah Maha Penciptanya, maka akan rusak binasalah bumi ini, sebagaimana firman Allah yang berarti :
“Telah tampak kerusakkan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar)”
(Q.S. Ar Rum : 41)
Kita telah sama mengetahui bahwa sejak tahun 1948, bangsa Yahudi telah merampas kembali tanah Palestina dengan politik-zionismenya yang dibantu oleh Amerika, Prancis dan Inggris, dan sejak itu terjadilah kekacauan diseluruh negara-negara Timur Tengah sampai saat ini; sejak mulai dari peperangan Republik Persatuan Arab (Mesir) sampai peperangan teluk yang terjadi selama ±6 minggu antara Iraq dengan sekutu (multi nasional 28 negara) dibawah pimpinan Amerika yang tidak pula ketinggalan pihak Yahudi yang pada hakekatnya, untuk mempertahankan pihak Yahudi itulah Amerika begitu keras prinsipnya untuk menyerang dan menghancurkan Iraq, dan Iraq demikian pula rakusnya terhadap kekuasaan dan kekayaan minyak Kuwait yang sekaligus ingin menghancurkan Yahudi di Palestina yang kesemuanya mereka itu telah membuat kerusakkan dimuka bumi ini dengan mempergunakan senjata-senjata mutakhir, hasil dari penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih yang membawa dampak negatif terhadap kebudayaan umat manusia yang dikendalikan oleh manusia-manusia yang haus kekuasaan dan kekayaan yang tidak ada batasnya itu jika tidak dikendalikan oleh iman dan jalan yang lurus disisi Allah.
Sesungguhnya Allah telah sangat murka kepada kita manusia yang mengaku sebagai hamba-hamba-Nya, tetapi salah jalan dari jalan yang lurus kejalan yang bengkok; dimana manusia ini diciptakan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya tetapi bukan Dia yang menjadi tempat pengabdian; melainkan harta, kekuasaan dan pengaruh keduniawian yang bersifat fana ini sebagaimana firman Allah dalam Hadist Qudsiy yang berarti :
“Sesungguhnya Aku merencanakan ázab dan siksa bagi penghuni bumi, namun bila Aku melihat kepada mereka yang memakmurkan rumah-rumah-Ku (mesjid-mesjid) dan mereka yang beristighfar diwaktu fajar, Aku elakkan ázab-Ku yang Kurencanakan itu”
(H.Q.R. Al Baihaqie)
Pada hadist qudsiy tersebut jelaslah bahwa orang-orang yang memakmurkan mesjid kecil dihati manusia yang menjadi rumah Allah yang kecil (qalbil mu’minin baitullah) yang selalu dzikir kepada Allah dan menunaikan syariát-syariát agamanya (Islam) itulah yang menjadi tiang yang kokoh untuk menopang masih utuhnya bumi ini atau menjadi paku-paku bumi sebelum ázab itu didatangkan oleh Allah, tetapi kebanyakkan manusia tidak menyadarinya.
Demikian pula firman Allah dalam hadist qudsiy yang lain yang diriwayatkan oleh Thabrani,
yang artinya :
“Aku-lah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; penguasa kerajaan dan Raja dari raja-raja. Hati para raja itu adalah ditangan-Ku; Aku isi dengan rahmat dan belas kasihan terhadap hamba-hamba yeng taát kepada-Ku, namun hamba-hamba yang melakukan maksiat, Aku isi hati raja-raja mereka dendam dan benci sehingga melakukan aniaya dan siksaan diatas hamba-hamba-Ku yang berbuat maksiat itu. Maka janganlah kamu sibukkan dirimu dengan berdoá memohon kebinasaan raja-raja itu, tetapi sibukkanlah dirimu dengan ber-dzikir dan mendekati-Ku; Aku lindungi kamu dari raja-rajamu itu”
Mengapa terjadi kerusakkan dan kehancuran yang begitu fatal di Timur Tengah sejak puluhan tahun yang lampau sampai saat ini tiada aman dan tertibnya dan perjuangan rakyat Palestina tidak berhasil dan Arab Saudi yang setiap tahun ibadah Hajji selalu saja ada malapetaka yang menimpa jemaáh, demikian pula Afghanistan yang terus bergolak; Bangladesh yang setiap tahun mengalami bencana alam yang dasyat. Hancurnya Iraq dan Kuwait; umumnya negara-negara yang mayoritas Islam, demikian juga negara-negara di Afrika, terus menerus dilanda oleh malapetaka yang tak kunjung reda. Semua itu adalah disebabkan umat Islam telah jauh meninggalkan agamanya yang haq dan berbuat banyak maksiat, tidak sesuai dengan konsep agama apa yang dilakukannya dalam hidup ini; sehingga Allah mengangkat pemimpin-pemimpin yang zalim untuk menzalimi seluruh kehidupan umat ini.
Bila kita sadari akan hal itu, kembali memakmurkan mesjid-mesjid Allah, maka dengan sendirinya Allah akan mengganti para penguasa itu dengan penguasa yang adil untuk memberikan keadilan dan kemakmuran kepada mereka; sehingga kembalilah bumi ini mengalami perbaikkan kembali.
Sebagaimana manusia yang sakit jantung dan paru-paru kotor, akan mengalami gejala-gejala tubuh yang terkadang sangat panas melebihi 41 derajat celcius, yang demikian itu juga terjadi kedinginan yang luar biasa, bahkan terkadang mengalami kematian yang menakutkan. Demikian pulalah bumi yang kita diami ini. Karena paru-parunya di Palestina telah tergores dan berlubang-lubang dan jantungnya yang membengkak mengakibatkan selalu terjadi pergolakkan yang menghancurkan umat manusia yang mendiaminya. Kebakaran terjadi dimana-mana, banjir yang melanda daerah-daerah bumi, angin tornado yang dasyat, gempa bumi yang merusak kota-kota dan manusianya, gunung-gunung meletus; itu adalah akibat banyaknya dosa-dosa manusia dan lupa kepada Allah dan kitab suci-Nya yang memandu manusia sekalian zaman untuk kemaslahatan umat manusia dalam kehidupan duniawi dan ukhrawinya.
Tidak ada jalan lain yang lebih singkat, efektif dan membawa kemaslahatan umat manusia dimuka bumi ini adalah kecuali kembali kepada ajaran agama yang haq dan jangan menyelewengkan ajaran agama untuk kepentingan pribadi dan golongan; itulah obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit paru-paru dan jantung bumi ini, sebagaimana nasehat Rasulullah saw. kepada umatnya ketika dekat hari kembalinya kepada Allah, yang artinya :
“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka), tidalah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya; yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”
Penyakit paru-paru bumi ini adalah diakibatkan tangan-tangan kotornya umat Yahudi yang telah Allah utus bagi mereka seorang Rasul, yaitu Nabi Musa a.s. yang dibekali sembilan mu’jizat yang kemudian dikuasai oleh umatnya dan disalah gunaan. Oleh karena kesembilan mu’jizat itu hampir menguasai teknologi pada akhir zaman ini dan Musa mendapat titel dari Allah sebagai Kalamullah, maka umatnya yang salah gunakan mu’jizat itulah yang menguasai keadaan politik; sehingga negara-negara super power tak dapat berbuat apa-apa terhadap kebiadaban mereka.
Setiap mu’jizat nabi-nabi itu akan diwarisi oleh umatnya masing-masing.
Umat Yahudi mempunyai peninggalan hasil dari mu’jizat Nabi Musa Kalamullah yang menguasai kalamnya dunia ini, sehingga apa-apa yang mereka katakan, mesti berlaku dengan bukti-bukti yang nyata, betapapun kebrutalan yang mereka lakukan terhadap negara-negara Arab, yang mana Amerika, Prancis dan Inggris sebagai sekutunya tidak dapat berbuat apa-apa kendatipun Amerika berkoak-koak dengan “Hak Azasi Manusia” nya, disebabkan mu’jizat yang umat Yahudi warisi dari Nabi Musa, kendatipun telah mereka salah gunakan kepada jalan keduniawian.
Isyarat mu’jizat itu adalah :
Umat Nashara, mempunyai peninggalan-peninggalan mu’jizat Nabi Isa a.s yang mendapat titel lsa Ruhullah. Maka umatnya menguasai masalah ruhnya kehidupan dunia ini dengan segala masalah sosial dan budaya dalam segala kehidupan bangsa-bangsa dan dunia ini; dimana tidak ada satu negarapun yang tidak menjadi bekas tanah jajahan mereka, baik di timur (negara yang mayoritas Islam) dan barat, termasuk benua Australia dan Amerika. Seluruhnya adalah bekas koloni mereka yang menaklukkan benua didunia ini. Merekalah yang menganggap dirinya nomor satu didunia ini, seperti; Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Prancis, Luxemburg, Belgia, dll.
Mereka menaklukkan seluruh benua; Afrika, Asia, Eropa, Australia dan Amerika.
Setelah habis masa kolonialisasi dan masih ada yang belum lepas dari belenggu penjajahan; kebudayaan barat itulah yang menguasai kebudayaan dunia yang mereka mengatakan dirinya penganut agama Nasrani. Tetapi sebenarnya adalah telah menyalah gunakan agamanya itu untuk menguasai bangsa-bangsa didunia. Padahal Nabi Isa a.s, tidak pernah mengajarkan hal yang demikian kepada umat, tetapi Nabi Isa menganjurkan umatnya untuk mengikuti ajaran Nabi Akhir Zaman Muhammad Rasulullah dalam menyempurnakan segala hukum-hukum-Nya; tetapi para Pendetanya takut kehilangan pangkat dan kedudukan, maka fasal menyatakan: Bahwa akan lahir nabi akhir zaman yang akan menyempurnakan hukum-hukum Isa itu, disunat oleh para pendetanya, mengubah dan mengolahnya dengan empat kitab karangan yang dikatakannya perjanjian baru, sehingga Allah menyebut mereka itu sebagai ahli kitab, yaitu dengan mengubah isi kitab Injil yang asli.
Umat Muhammad sendiri sesungguhnya mengatasi kedua umat yang masih terhitung penganut agama langit, yaitu mempunyai Rasul dan kitab, tetapi umat Muhammad lalai dengan ajaran Kitabullah yang suci yakni Al Qurán yang menjadi pemimpin dan pedoman kehidupan dunia dan akhirat dan juga sebagai pemandu zaman sampai hari yang dijanjikan Allah, yaitu Kiamat.
Banyak mu’jizat Nabi Muhammad yang dapat diikuti oleh umatnya untuk menunjukkan ketinggian Islam itu sebagai warisan Rasul, tetapi sayang telah didustakan oleh umatnya sendiri karena mengikuti hawa nafsu yang terpengaruh kepada dua umat diatas, yang Allah sendiri telah memperingatkan umat Muhammad, bahwa tidak akan pernah senang hati Yahudi dan Nasrani sebelum umat Muhammad mengikuti ajaran mereka dan itulah yang sedang berlangsung dizaman ini.
Mu’jizat Nabi Muhammad yang menjadi rahmat kepada sekalian alam dan mendapat titel dari
pada Allah yaitu Habibullah, kekasih Allah, telah lama ditinggalkan umatnya sekitar tujuh ratus tahun yang lampau; dimana ketinggian dan kekuatan Islam itu adalah pada Áqidah dan Tashaufnya, yaitu Hakikat dan Thareqatnya. Akibatnya hilanglah kekuatan dan kejayaan Islam
dimata dunia, yang tinggal hanyalah Fiqhnya yang berkenaan dengan alam kebendaan saja.
Umat Musa yang telah diberkahi Allah dengan alam kebendaan yang mereka telah salah
tanggapi dengan kurnia Allah tersebut, jadilah mereka yang rnempertuhankan benda. Sedangkan Nabi Isa diberkahi oleh Allah dengan alam kerohanian, tetapi akibat salah tanggap tentang Nabi Isa, maka mereka menjadi penganut yang bertuhankan ruh dan mengatakan Isa anak Tuhan.
Nabi Muhammad yang diberkahi dengan alam Asma’ yang membawa kepada Dzat-Allah yang rnenciptakan benda/jasad dan ruh.
Jika umat Musa sebagai syariát (kebendaan) dan umat Isa sebagai hakekat (alam ruh), maka umat Muhammad-lah yang seharusnya sebagai thareqat (jalan kepada Allah) sebagai jalan yang lurus yang menyerasikan dan menyeimbangkan antara hakikat dengan syariát melalui penyelarasan thareqat untuk menuju ma’rifat kepada Dzat Allah Maha Pencipta; tetapi kebanyakkan umat Muhammad, terutama para úlamanya telah pula salah kaprah dengan meniru-niru nilai-nilai kebendaan yang dipuji dan disanjung oleh umat Yahudi yang mengakibatkan bertuhankan alam kebendaan secara tidak disadari yang mendominasi Islam seolah-olah Islam itu hanyalah pada hukum-hukum fiqhnya semata; akhirnya hingga masa kini umat Islam tetap terjajah dimana-mana karena telah kehilangan jantung dan ruhnya Islam, yaitu thareqat dan tashaufnya. Bahkan kedua pokok ilmu Islam itu dianggap kebanyakkan oleh úlama Islam modern yang mengikuti hawa nafsunya, menganggap thareqat-tashauf itu sebagai ilmu bidáh dan semacam kesesatan didalam Islam, dimana mereka dengan syariát fiqh itu telah menjadi seorang úlama, yang sebenarnya didalam Islam yang mempunyai derajat ilmu yang bertingkat sejak dari syariát, thareqat, hakikat dan ma’rifat.
Seandainya dan semestinya, prasangka buruk terhadap firman Allah yang bermaksud :
“Wa anlawistaqoomuu álaththoriiqoti la asqoinaahum maa anghodaqo”
artinya:
“Dan bahwasannya: jikalau mereka tetap berdiri (berjalan) diatas jalan yang lurus (thariqat), pasti kami memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang melimpah)”
(Q.S. Al Jin : 16)
Haruslah kembali menjadi perhatian yang amat besar bagi úlama Islam jika benar-benar mereka itu ingin melihat kebangkitan Islam diakhir zaman ini. Thareqat wajib kembali diamalkan dengan dzikrullah yang dipimpin oleh seorang yang mursyid sebagai ahli-dzikir sebagai tempat bertanya umat. Tanpa thareqat menurut firman Allah tersebut, keadilan dan kemakmuran itu tidak akan tercapai karena disanalah letaknya jantung Islam dan pada áqidahnya merupakan ruhnya Islam; sedangkan syariát itu hanyalah merupakan tubuhnya yang menjadi wadah jantung dan peliputan ruh.
Apabila keterangan ini tidak juga diyakini oleh para úlama Islam akhir zaman ini, betapapun Islam tidak akan menjadi pemimpin diakhir zaman akan statis seperti adanya yang sekarang ini bahkan mungkin akan lebih fatal lagi yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dan mengagumkan akal umat manusia yang tidak pernah berfikir tentang hakikat hidup ini, dari mana mau kemana?
Jika jantung dan ruhnya ilmu Islam yang dicintai ini tidak dibangun kembali oleh para úlama dan umat secara bersama-sama dengan umaro yang berjiwa agama yang tidak cinta dunia secara belebihan yang sedang memegang kekuasaan, kita khawatir terhadap generasi penerus umat Islam yang sedang hanyut dan tenggelam dalam alam rasio yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat; akibatnya penilaian mereka terhadap alam kerohanian yang tinggi dan menjadi hakikatnya manusia sebagai alam idealisme yang harus dibangun akan hancur berantakan dan para penerus ajaran Islam itu cenderung kepada kebudayaan barat yang berorientasikan alam kebendaan semata, maka bagaimana sesudahnya warisan yang mereka terima selama ini dari kita yang terdahulu?
Segala sesuatu yang tolok ukurnya “alam kebendaan” yang materialis, sesungguhnya telah jauh meninggalkan fitrah manusia yang asli. Dari dasar kejadiannya telah diterangkan bahwa Allah Dzat Yang Maha Halus yang tidak dapat dipikirkan oleh alam akal rnanusia yang lemah, mempunyai alam nadzar yang tiga derajat :
Disana terlihat bahwa yang utama adalah ilmu untuk mengatur hukum, dan hukum mengatur benda; itulah hakikat kejadian, tetapi yang menjadi kenyataan diakhir zaman ini, kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki. Sehingga manusia berjalan dimuka bumi ini dalam keadaan terbalik sebagai lawakan dari sirkus, yaitu benda-benda mati itu mengatur ilmu dan hukum. Dengan benda-benda, kesarjanaan dapat mudah diperoleh, kemudian yang salah menjadi benar dan yang benar bisa menjadi salah. Ini akibat nilai-nilai kebendaan telah menjadi tumpuan hidup manusia dalam proses kemajuan zaman dengan nilai kemerosotan akhlak dalam penyebaran kebudayaan barat yang telah banyak menguasai kehidupan bangsa-bangsa didunia termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dimana kitab suci Al Qurán hanya dianggap sebagai barang antik pusaka lama dizaman ratusan tahun yang lampau kendatipun dibaca dan disayembarakan setiap tahun, tetapi isinya hampir-hampir tidak diamalkan lagi.
Mampukah umat Islam terutama para úlama untuk meraih kembali apa yang telah hilang dari pangkuannya selama beratus-ratus tahun yang lampau dengan sekedar dakwah-dakwah syariát yang berhubungan dengan halal dan haramnya untuk mengembalikan citra Islam yang tinggi dengan menyingkirkan jantung dan ruhnya Islam?
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasaskan alam rasio telah mendominasi kehidupan zaman, manusia menjadi materialis, sedangkan agama bersifat idealis; maka apakah halal dan haram masih dapat berjalan sebagai tubuhnya Islam sedangkan jantung dan ruhnya adalah pada thareqat dan hakikatnya, maka dimanakah agaknya letak ketinggian Islam itu?
Filsafat, teknologi, sosial budaya, ekonomi, hukum dan politik dunia digenggam erat oleh bangsa-bangsa barat (Yahudi dan Nasrani), utara (Komunis) dan Timur Jauh (Budha); sedangkan Islam senantiasa menjadi bulan-bulanannya mereka dari zaman kezaman. Sedangkan pada awal tahun 1401 Hijriyah telah dikumandangkan diseluruh dunia Islam, bahwa abad ke-XV H, adalah abad “Kebangkitan Islam”, maka apakah realisasinya yang menonjol, padahal yang menjadi kenyataan adalah hancurnya Bagdad, Arab Saudi dan Quwait diawal tahun 1991 oleh tentara rnulti nasional dibawah pimpinan Amerika (Nasrani). Kita tidak bermaksud berbicara tentang politik dunia, tetapi bicara tentang Islam itu sendiri.
Semua kehancuran umat Islam sejak pertama kalinya bangsa Barbar dibawah Hulaghu Khan, cucu dari Jenghis Khan memporak-porandakan kerajaan Islam yang berpusat di Bagdad ketika itu (±700 tahun lampau), adalah akibat kelalaian iman dari umat Islam itu sendiri, sehingga, ±80,000 Muslim mati terbunuh dan sungai Efrat rnenjadi hitam akibat kitab-kitab yang dibuang kesungai tersebut untuk menjadi jembatan tentara Tartar.
Semua itu menjadi peringatan sejarah yang teramat penting bagi umat Islam untuk bangkit kembali meninggikan agama Allah yang haq, karena setelah penaklukkan oleh tentara Barbar tersebut, berikutnya mulailah penaklukkan oleh bangsa-bangss Eropa barat terhadap dunia Islam sampai saat ini.
Oleh karena itu marilah kita tinjau ulang tingkatan iman kita dalam menghidupkan agama Allah yang tinggi ini; apakah iman itu telah benar-benar hidup dijiwa para mubaligh dan pendakwah-pendakwahnya sehingga dapat menghidupkan iman umat yang bergantung kepada mereka akan kebangkitan Islam itu.
Jika iman seorang juru dakwah belum hidup dijiwanya sendiri, maka bagaimana menghidupkan iman orang lain sedangkan imannya sendiri masih mati? Iman yang tidur dikasur kebendaan yang empuk dalam belaian mimpi bidadari yang cantik-cantik ditaman-taman surga dengan kebun-kebun dan gedungnya yang menjulang tinggi; bagaimana dapat mernbangunkan iman umat yang tidur pulas dipengapnya kelelahan kehidupan duniawi yang menggapai diri?
Untuk itu mari kembali kedasar Islam, mengasuh rohani jangan tenggelam, mengingat Allah siang dan malam, supaya terbuka tirai yang kelam.
Yang menutup iman manusia itu kepada Allah sehingga tidak dapat terbuka pandangan ketajaman mata hati, adalah disebabkan alam kebendaan yang fatamorgana ini. Luasnya dunia ini bagi setiap orang yang betapapun pangkat dan kedudukan serta kekayaannya, tidaklah lebih dari selebar pelupuk matanya. Itu pasti. Bukalah mata, maka akan nampaklah alam yang luas ini; pejamkan mata, maka lenyaplah semua yang dilihat didunia ini. Maka hanya selebar pelupuk mata itulah adanya dunia ini bagi setiap orang dan itulah yang diperebutkan sampai akhir hayatnya. Alangkah meruginya hidup ini bagi mereka yang terus berpacu dalam perebutan dunia yang sedikit namun meninggalkan akhiratnya yang langgeng dan penuh kenikmatan.
Bila ilmu pengetahuan dan teknologi dengan khasiat alam kebendaan yang diolah oleh alam rasio sehingga dapat menciptakan komputer untuk memantau dan memonitoring sesuatu yang diperlukan dan mempermudah cara hidup dan kehidupan duniawi; maka Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil pula untuk menunjuki hamba-hamba-Nya untuk menciptakan komputerisasi-keimanan dengan teknologi khasiat Kenabian yang diolah oleh alam kerohanian dibalik akal; sehingga mempermudah pula untuk memantau dan memonitoring keimanan kita masing-masing; tetapi dengan syarat: bahwa para teknokrat alam kebendaan itu adalah orang-orang yang bekerja keras untuk menciptakan komputer tersebut dan orang-orang yang mempergunakannya terpaksa harus melalui kursus-kursus singkat dan berlatih keras; maka demikian juga komputer keimanan ini. Untuk menggunakannya, harus bekerja keras dalam karya kerohanian, supaya iman yang didada itu hidup untuk dapat menghidupkan iman orang lain yang didakwahi itu. Maka barulah iman kita bangkit untuk membangkitkan Islam menjadi panutan umat manusia seluruh bumi diakhir zaman ini; kecuali yang telah Allah tetapkan, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Mereka adalah penduduk terakhir bumi yang tidak akan beriman kepada Allah.
Gambaran susunan Tata Surya
Matahari menjadi titik fokus alam semesta
Yang terbit dari Naar Dzat Allah dan Nadzar-Nya Nuur Muhammad
Keterangan Kejadian Susunan Tata Surya yang terbit dari Naar Dzat-Nya Allah
Dan alam Nadzar-Nya yang bernama Nuur Muhammad
- I. Naar Dzat Allah itu memancar kepada matahari yang tercipta dari lumpur logam yang berisi campuran logam-logam yang telah diterangkan terdahulu, dimana lumpur logam itu kealam ini adalah dari cahaya pembendaharaan Allah SWT; yaitu pembendaharaan benda-benda alam seluruhnya termasuk jasad tubuh manusia.
Dari matahari inilah sumber segala api dan cahaya untuk alam semesta yang dipertaruhkan oleh Allah, dan Dzat-Nya tidak menempatkan diri pada alam yang dijadikan-Nya.
Apabila Dzat itu menempatkan diri pada alam yang diciptakan-Nya tentulah alam ini akan binasa. Dengan hanya wajah-Nya saja dihadapkan di bukit Thursina, ketika Musa Kalamullah ingin melihat Dzat-Nya, maka hancurlah bukit thursina itu dan Nabi Musa pun dalam keadaan fana selama empat puluh hari, apalagi Dzat-Nya, maka hancurlah segala yang ada ini; tentulah kembali sebagaimana ajalinya.
Dalam keadaan fana itulah Nabi Musa a.s. menerima isi kitab Taurat yang diturunkan sekaligus untuk tuntunan umatnya dimasa beliau; tidak seperti turunnya Al Qurán yang diturunkan bertahap-tahap menurut keperluannya selama dua puluh dua tahun dua bulan.
Dari matahari inilah sebagai ganti Dzat-Nya, Allah menurunkan sifat ma’nawiyah yang tujuh itu, yakni; Muridun, Qudirun, Hayyun, Alimun, samiún, Bashirun dan Mutakallimun untuk kehidupan dan pergerakkan alam semesta ini. Tanpa petaruh atau amanah itu, maka alam ini akan kaku dan beku; tiada kehidupan dan pergerakkan, tiada suara dan penglihatan, tiada perkataan dan pendengaran semuanya akan mati.
Dzat itu tidak terbatas Maha Luasnya sebagaimana dalam gambar tersebut, sebelum Dzat-Nya yang Maha Luas yang tidak berbatas itu, masih diantarai oleh alam Nadzar-Nya yang tiga itu sebagai sifat kesempurnaan, kebesaran dan keindahan-Nya, dimana ketiganya itulah yang memuji dirinya pada alam ajali-Nya sebelum alam ini diciptakan-Nya. Dan sekali lagi Nuur Akal Allah itulah Nuur Muhammad saw. Maka siapa yang tidak mengakui adanya Nuur Muhammad itu, termasuklah ia orang yang jahil yang belum mengena Allah dan belum mengenal Muhammad sebagai Rasul Allah.
Sebagaimana yang telah diterangkan terdahulu dari pembendaharaan Allah yang tiga derajat tersebut, belum langsung menciptakan alam, tetapi masih ada proses sebelumnya, yaitu;
- Dari Raf-raf, diturunkan terlebih dahulu kealam Ajali,
- Dari Al Maala il a’la, diturunkan ke alam Shuluhi Qadim,
- Dari Baitil Ma’mur, diturunkan kealam Tanzizi Qadim.
Demikian awal kejadian manusia ini pada awalnya, maka demikian pulalah alam yang mesti ditempuhnya untuk kembali kepada Tuhannya dengan bersusah payah dengan segala tantangannya dialam ghaib, sehingga menyebabkan manusia tersesat dalam perjalanannya kembali itu jika tidak dicari semasa masih sehat dalam kehidupan duniawi ini; karena sebelum perjalanan akhirat itu sampai adalah dilaksanakan didunia ini juga, untuk membuka mata hati terhadap yang ghaib itu, karena mata yang dikepala hanyalah untuk memandang alam nyata. Alam ghaib mesti dilihat dengan mata ghaib pula; yaitu mata bathin yang ada didalam Shuddur, salah satu kamar hati manusia dan yang lainnya bernama: Fuád, Lubban, Qulub dan Bahajatul Qulub.
- II. Dari Raf-raf Allah, Nuur itu kealam susunan tata surya ini adalah kepada tujuh lapis langit yang tujuh sebagai tempat turunnya, air kemuka bumi ini (Q.S. Al Mu’minun : 17-18) pada tiap-tiap langit merupakan satu jalur orbit planet sebagaimana yang telah diungkapkan terdahulu yang menjadi petaruh sifat-sifat maáni; Iradat, Qudrat, Hayat, Ilmu, Sama’, Bashar, Kalam. Perpaduan sifat maáni dan ma’nawiyah itu adalah pada bumi yang menjadi tempat memandang kesempurnaan empat belas sifat tersebut maka zahirlah sifat kelima belas; yakni Wahdaniyat (ke-Esa-an) Dzat Allah yang menjadikan semua yang ada ini.
Padahal jika diperiksa dengan teliti, mereka sebenarnya tidak/belum mengetahuai apa-apa tentang Allah dan tentang dirinya, maka jenis seperti inilah yang banyak merusak nama Thareqatullah didunia ketashaufan; sehingga orang berpendapat tashauf itu hina dan rendah dimata umat; padahal karena kesalahan oknum-oknurn pengamal thareqatullah itu sendiri; belumpun ia seorang mursyid, telah berani menjadi penuntun untuk rnenembus alam ghaib.
- III. Dari Al Maala il a’la, Nuur Muhammad itu kealam semesta ini adalah kepada tujuh lapis langit dibawah penjuru bumi, termasuk dua jalur orbit planet venus dan merkurius yang menerbitkan angin kepermukaan bumi ini dan juga sebagai pengantar sifat-sifat ma’nawiyah yang dipertaruhkan kepada matahari.
Daya tarik Iblis dengan hawa sebagai alatnya, akan menariknya kedalam neraka, dan barang siapa yang kuat daya tarik malaikat pada diri/nafsunya, akan menghantarkannya melampaui sidratul munthaha, ketempat asalnya semula jadi.
Dengan penjelasan itu manusia tinggal mempergunakan alam akal-flkirnya, hendak kemana filsafat hidupnya ditujukan menurut perhitungan akalnya yang mulia itu, terserah kembaii kepada Yang Maha Pemberi Petunjuk.
- IV. Dari Baitil Ma’mur, Nuur Muhammad itu ke alam semesta ini adalah kepada seluruh benda-benda alam ditata surya ini, tetapi yang paling lengkap dan sempurna dan paling indah sesuai untuk kehidupan makhluk yang terjadi dari empat anasir, adalah bumi.
Dengan uraian yang demikian, maka jelaslah bahwa. kejadian semesta alam sesuai dengan alam asal kejadiannya yang tercipta dari Dzat dan Nadzarullah yang tiga derajat tersebut sebagaimana dalam daftar/tabel yang lalu (*pada hal. 20), yaitu :
v Cahaya Naar Dzat Allah kepada alam semesta adalah kepada matahari yang tercipta dari lumpur logam, itulah sumber api dan cahaya alam semesta dan menjadi darah bagi manusia.
v Cahaya Nuur Raf-raf kepada alam semesta adalah kepada seluruh tujuh lapis langit diatas penjuru bumi yang ditempati oleh tujuh planet serta jalur orbitnya. Dari sinilah sumber air dan kepada manusia menjadi tulang.
v Cahaya Nuur Al Maala il a’la kepada alam semesta adalah pada tujuh petala langit dibawah jalur orbit bumi termasuk dua jalur orbit planet venus dan merkurius yang menjadi jalur sinar gelombang frekwensi matahari dan dari sinilah sumber angin/udara kebumi ini dan kepada manusia menjadi urat-urat manusia.
v Cahaya Nuur Baitil Ma’mur kepada segenap alam adalah kepada seluruh benda-benda alam dan yang paling lengkap adalah kepada bumi yang diciptakan sebagai intinya tanah dan mengandung seluruh logam yang ada diplanet dan mineral lainnya yang telah diciptakan Allah untuk kehidupan makhluk-Nya dalam mengabdikan diri kepada-Nya dan tanah inilah yang menjadi daging pada manusia; dan bila mati seorang anak Adam, tubuhnya itu akan kembali kepada tanah.
Disini tampak dengan jelas bahwa jalur orbit bumi berada diantara tujuh lapis langit diatas penjuru bumi yang berbatasan dengan Sidratil Munthaha sebagai alamnya malaikat, dengan tujuh lapis langit dibawah penjuru bumi yang tertumpu kepada titik fokus semesta alam, yaitu matahari sebagai alamnya Iblis dan anasir angin serta lapisannya itu adalah sebagai hawa pengaruh kepada bumi yang tertumpu petaruhnya kepada manusia.
Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa jika alam semesta sebagai alam makro diperkecil, itulah bumi yang mengandung anasir yang empat, dimana sebagai paru-parunya adalah Masjidil Aqsa di Jerussalem tempat turunnya sekalian ruh dan jantungnya adalah Masjidil Haram sebagai tempat turunnya sekalian petunjuk (ilmu dan hikmah) kepada segenap alam yang diterima oleh manusia, sebagaimana firman Allah yang berarti :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat berbakti) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk (ilmu) bagi segenap alam (manusia)”
(Q.S. Ali Imraan : 96)
Selanjutnya lihatlah gambar yang berikut ini :
gambar 1 (pertama) :

gambar 2 (kedua) :

Perhatikanlah gambar tersebut secara seksama dan bandingkan dengan gambar susunan tata surya yang lalu untuk lebih memahami studi perbandingan alam semesta dengan identiknya eksistensi manusia yang menempatinya dan saling mempengaruhi antara alam semesta dan manusia itu sendiri; supaya manusia memahami dengan sebenar pemahaman :
“Siapakah sebenarnya manusia ini? Bagaimana kedudukannya yang amat mulia dari seluruh makhluk yang dijadikan Allah; bagaimana pula kedudukannya disisi semesta alam dan disisi Tuhannya sehingga ia dijadikan Allah untuk menggantikan pekerjaan Allah dimuka bumi guna menyampaikan dan meluluskan hukum-hukum Tuhan dimuka bumi ini yang disebut sebagai Khalifatullah”.
Dan inilah salah satu maksud dari salah satu hadist qudsiy yang berarti :
“Aku menjadikan Adam sesuai dengan gambaran diri-Ku”
Gambaran diri Allah yang dimaksud disini bukanlah gambaran postur tubuh, tetapi gambaran dari asal kejadian.
Pada gambar 1 (pertama) kita lihat: Kejadian dari alam makro (semesta) kealam mikro (insan) dan petaruh/amanah Allah kepada kedua alam tersebut.
v Kepala, adalah: tujuh lapis langit yang menjadi orbit planet:
1) Pluto, induk magnet; tanpa satelit
2) Neptunus, induk waja; satu satelit
3) Uranus, induk besi tuang; empat satelit
4) Saturnus, induk emas; empat dan tiga satelit
5) Yupiter, induk perak; tujuh dan empat satelit
6) Minor, bintang yang bertabur; induk timah hitam
7) Mars, induk tembaga; dua satelit
v Tangan, adalah: Bulan yang menjadi satelit bumi untuk menerima petaruh/amanah dari seluruh planet kebumi dan dari bumi keseluruh planet, apakah itu dari petala langit maupun dari petala bumi. Bulan terdiri dari induk batu-batuan dan yang utama adalah batu buih.
v T u b u h, adalah:
8) B u m i , induk tanah dengan satelitnya bulan. Bumi inilah yang menerima segala hukum kausalitet (sebab-akibat) buruk dan baik.
v Kaki (dari pinggul sampai mata kaki) adalah:
9) Venus, induk kuningan; kaki kanan
10) Merkurius, induk timah putih; kaki kiri
v Tapak kaki, adalah:
11) Matahari, lumpur logam yang membara, dimana kulitnya mencapai 6.000 derajat celcius.
Dari gambar dan keterangan tersebut jelas kepada keadaan insan itu adalah mewakili seluruh planet yang ada pada susunan tata surya ini sebanyak sebelas planet yang terbesar.
Diatas orbit planet pluto itulah batas sidratil munthaha menghadap kepada nadzarullah yang tidak terhingga, apalagi Dzat-Nya Yang Maha Halus; sehingga dari gambar tersebut tampak dengan jelas batas yang dapat difikirkan oleh alam akal, maka diatasnya bukan lagi perjalanan alam akal,tetapi adalah alam Iman dan Ma’rifat.
Pada gambar tersebut dapat dibaca, bahwa tujuh lapis langit kearah sidrat tersebut adalah alamnya Jibril, maka Jibril itu menjadi lambang akal kepada manusia, dimana seandainya dikumpul seluruh alam akal manusia yang ada ini, seluruhnya ghaib kepada alam akal Jibril; dan alam akal Jibril itu ghaib pula dalam Nuur Muhammad dan Nuur Muhammad itu ghaib pula dalam Nadzar Tuhannya dan Nadzarullah itu ghaib pula dalam Dzat Tuhannya.
Dibawah penjuru langit yang berfrekwensi tujuh lapis langit kearah matahari dimana ada dua jalur planet, inilah simbol yang melambangkan kaki dunia yang berpijak kepada titik fokus matahari sebagai lumpur logam yang mendidih yang senantiasa dipengaruhi oleh kakinya untuk tidak beranjak dari kehidupan duniawi ini karena nikmatnya alam kebendaan yang bersifat temporer dan fana sebagaimana logam-logam yang hancur dimakan api, itulah kelak yang akan terjadi setelah berpindah alam dari seberang kehidupan dunia ini kealam yang kekal dan abadi. Padahal diatasnya (kepala) adalah induk-induk logam yang tidak dimakan api, yaitu alam akal-fikir.
Bukan pada tempatnya berpijaknya (lumpur logam) benda yang kekal dan asli, tetapi ada diatas kehidupan malakut yang akan menjadi haqnya, seandainya ia dapat mempergunakan akalnya untuk berfikir tentang dirinya (manusia), tentang alam dan tentang Tuhan yang menciptakan ini semua.
Seperti filsafatnya gambar pertama itulah kelak segala harta yang mereka miliki jika tidak mengenal diri dan mengenal Allah dengan pengenalan yang hakiki lebih dari pada hanya menyebut dengan lidah perkataan Allah itu; tetapi jahil tentang hakikatnya; kendatipun mereka telah mengerjakan shalat, puasa, zakat, hajji dan shadaqah yang lain. Semua itu akan percuma kelak jika masih mengandung kesyirikan didalam amalnya.
Selanjutnya perhatikan gambar 2 (kedua) :
Anasir Kejadian Manusia
Api (ajalinya dari Dzat Allah); menjadi darah bagi manusia;
Air (ajalinya dari Raf-raf); menjadi tulang bagi manusia;
Angin (ajalinya dari Al Maala il a’la); menjadi urat bagi manusia;
Tanah (ajalinya dari Baitil Ma’mur); menjadi daging bagi manusia.
Pada gambar tersebut, daerah/wilayah malaikat pada sisi manusia itu dari alam metafisiknya tubuh adalah dari leher kekepala dan bila diturunkan kebumi, menjadi air. Air ini tidak perlu lagi dijelaskan seluruh gunanya karena tanpa air bumi ini akan kering mersik dan terbakar keseluruhannya; itulah sebabnya 71% bumi ini digenangi dengan air.
Malaikatlah yang patuh tunduk kepada Allah sebagai hamba dan makhluk-Nya yang terakrab dan tidak pernah membangkang; walaupun disuruh sujud kepada Adam pun mereka patuh. Tanda kepatuhan itu bagi manusia yang menggunakan akal-fikirnya adalah sujud kepada Allah didalam shalatnya.
Dari kaki pada titik fokus matahari ke kepala, adalah masih berada dalam lingkungan alam semesta; berarti masih bermaqam binasa menurut firman Allah yang bermaksud :
“Semua yang ada dibumi (alam) itu akan binasa”
“Dan akan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai wajah yang berkebesaran dan berkemuliaan”
(Q.S. Ar Rahmaan : 26-27)
Pada hakekatnya Adam Khalifatullah mesti disujudi para malaikat, maka untuk itulah
mesti mengadakan perjalanan hati-nurani kepada Allah untuk mendapatkan ketidak binasaan itu dengan melampaui alam malaikat disidratil munthaha, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah saw. Dengan perjalanan ghaibnya yang menakjubkan yang tidak dapat ditembus oleh alam akal ketika di Isra’ Mi’raj kan dengan bekal: Iman, Islam, Ma’rifah, Tawakkal dan Nuur berdamping Nuur (langit yang berlapis-lapis).
* buka kembali surah An Nuur ayat : 35 yang dilanjutkan keterangannya sampai kali ini.
Bila dalam perjalanan alam kerohanian hati-nurani dengan bekal tersebut, barulah seseorang itu mencapai tahap Iman-Kamil; barulah ia berhak menjadi khalifatullah, karena imannya telah melampaui iman malaikat. Jika masih sebatas malaikat, iman itu belum sempurna, tetapi telah mendapat derajat Muqarrabin. Jika mu’min yang sebenarnya harus diatas malaikat dan itulah para Arif-Billah, wali-wali Allah yang menjadi Ahlullah diatas Ahlussunah wal Jamaáh.
Sebelum berjalan kepada Allah dengan khasiat kenabian, manusia itu masih jauh dibawah malaikat, itulah yang disebut dengan lembaga Adam yang berada diantara daya tarik menarik malaikat dengan Iblis yang memperalat hawa (pengaruh) yang disebut juga sebagai syetan yang menggoda si Adam nya manusia ini, sebagai keturunan anak, cucu dan cicit nya.
Sebagaimana keadaanya gambar tersebut, seperti itulah sejarah turunnya Adam a.s. dari tanah surga ke alam dunia yang fana ini.
Pada ajalinya Adam itu berada diatas derajat malaikat, kemudian iblis yang tercipta dari api yaitu cahaya Naarullah, sedangkan Adam tercipta dari Nuurullah (Nazdarullah) dan Siti Hawa dari tulang rusuknya Adam, sehingga Adam begitu mencintainya.
Oleh karena asal derajat kejadian yang lebih tinggi ialah Iblis yang tidak mau sujud kepada Adam, walaupun Adam ditetapkan menjadi pengganti pekerjaan Allah dimuka bumi untuk meluluskan sekalian hukum-hukum-Nya. Maka dengan asal kejadian itu, iblis memulai tugasnya untuk memanggil Adam turun kebumi melalui Hawa kekasih Adam; akibatnya terpengaruhlah Adam untuk mendekati dan memakan buah quldi yang menjadi pohon suaka alam surga. Maka terbukalah aurat keduanya dan naiklah syahwat keduanya, sedangkan percampuran itu bukanlah tempatnya disurga, melainkan dialam dunia.
Bila direnungkan sedalam-dalamya, yang bernama “Iblis” itu adalah salah satu sifat- penguji dan alat penyebab yang diciptakan Allah untuk membawa Adam dan Hawa kealam dunia; itulah maka Allah menyebutkan bahwa dunia ini adalah “Sandiwara Allah”, dimana para pelakonnya adalah seluruh makhluk-Nya yang ada dilangit dan dibumi dan isi diantara keduanya, dan dekorasinya adalah semesta raya yang terbentang luas ini. Maka butalah manusia yang hanya melihat kepada sebab yang hanya seolah-olah menjadi “kambing hitamnya” sesuatu peristiwa alam ini, sebenarnya yang perlu dicari dan dikenal adalah Yang Maha Menjadikan Sebab demi keselamatan dunia dan akherat.
Pada gambar jelas terlihat bahwa sifat Iblis itu tetap tidak bisa terpisahkan dari seluruh manusia yang masih mengalir darah ditubuhnya melalui pembuluh-pernbuluh darah yang didorong oleh hawa-udara (angin) meliputi seluruh tubuh manusia itu. Adanya Adam itu adalah wadahnya nafsu lawwamah (mudah tergoyang) oleh sesuatu pengaruh alam luar dirinya jika tidak menggunakan akal-fikirnya yang berada dikepala yang petaruhnya pada otak. Demikian juga sifat malaikat, lengkap ada pada setiap diri.
Bila manusia melangkah keatas kepada derajat yang tinggi untuk mengenali malaikat pada dirinya, nafsunya akan berubah kepada nafsul-muthmainah, yakni nafsu yang tenang (sakinah) yang kelak akan mendapat seruan dari Tuhannya untuk memasuki surga-Nya; tetapi bila ia melangkah kebawah, yakni kepada alam kebendaan yang menjadi lumpur logam, nafsunya akan menjadi nafsu amarah (cinta dunia). Jadilah ia memikul beban nafsu hewaniyah dan syaitaniyah. Supaya langkah-langkah manusia yang beriman itu tidak mengarah kepada langkah-langkah syaitan (hawa) yang dipengaruhi oleh yang bernama Iblis, maka Allah memperingatkan manusia dengan firman-Nya yang bermaksud :
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam (ilmu) Islam secara keseluruhan dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu seteru kamu yang nyata”
(Q.S. Al Baqarrah : 208)
Yang dimaksud oleh Allah memasuki Islam itu secara keseluruhannya adalah seluruh tubuh sejak dari ujung rambut yang dikepala sampai ujung jari kaki dengan empat derajat ilmu, yaitu:
- 1. Ilmu SYARIÁT-Fiqh, yang mengatur alam benda dan jasad manusia dan mengatur perbuatan manusia yang berhubungan dengan alam kebendaan, baik yang berhubungan dengan Allah, maupun yang berhubungan sesama manusia.
- 2. Ilmu THAREQAT-Tashauf, yang mengatur perjalanan amaliyah manusia dengan hati-nuraninya untuk mensucikan pandangannya kepada Allah dan kepada sesama manusia dalam membentuk akhlak yang mulia; karena manusia itu akan dianggap manusia yang sebenarnya bila ia memiliki akhlak yang mulia. Walaupun ia seorang alim dan jenius, tetapi akhlaknya Masya Allah, dia itu adalah manusia hewaniyah atau syaitaniyah.
- 3. Ilmu HAKIKAT-Tauhid, mengatur áqidahnya manusia untuk meng-Esa-kan Tuhan, Esa Dzat, Esa Sifat, Esa Asma’ dan Esa Afál-Nya supaya tidak jatuh kepada kesyirikan yang tidak berampun.
- 4. Ilmu MA’RIFAH-Hikmah, yaitu ilmu keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara tiga ilmu yang tersebut diatas; baik dalam penuntutan maupun dalam pengamalannya; maka Allah akan menurunkan llmu-Hikmah yang menyingkap tabir rahasia alam ghaib/metafisik yang menjadi pakaian (ilmu) yang berguna untuk kehidupan duniawi dan dapat pula digunakan untuk tompangan biduk bila maut menjemput.
Oleh sebab itu, berjalanlah dimuka bumi Allah ini dengan pengendalian alam malaikat yang disandarkan kepada akal yang ada dikepala; jangan berjalan dimuka bumi Allah ini dengan kendali nafsu syaitaniyah dengan pengaruh Iblis supaya diri dan manusia lainnya dalam masyarakat sosial mendapat keadilan dan kemakmuran dari tingkah laku kita yang berakhlak mulia sesuai dengan konsepsi wahyu yang tiada lagi konsep yang lebih tinggi lagi daripadanya. Wahyu Illahi yang diturunkan oleh Allah kepada Pemimpin Umat Manusia Akhir Zaman Pembawa Awal dan Akhir serta Zahir dan Bathin, tiada lagi Nabi sesudahnya, pantaslah menjadi ikutan seluruh umat manusia. Karena beliau itulah yang telah ditetapkan Allah SW’T. menjadi Nuur-Nya dan menjadi Rahmat sekalian alam; diakui atau tidak oleh manusia, namun ketetapan itu tetap berjalan terus sesuai dengan firman Allah yang berarti :
“Tidaklah engkau Ku-utus (Ya, Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat (kurnia terciptanya) segenap alam (semesta)”
(Q.S. Al Anbiya’ :107)
Namun demikian, bagi orang-orang yang tidak mengakui adanya Nuur Muhammad sebagai awal penciptaan yang ada ini, dan hanya Muhammad itu sebagai anak Abdullah dan Aminah saja, sama saja seperti orang-orang yang ingkar; diberi keterangan atau tidak, namun bagi mereka tetap sama saja yaitu tidak akan percaya; karena dianggapnya seluruh keterangan ini adalah hanya dibuat-buat saja dengan tafsiran secara reka-rekaan belaka. Semoga yang tidak mengakuinya mendapat petunjuk Allah kejalan kebenaran dengan Thareqatullah.
Sebagaimana yang telah banyak diungkapkan diatas bahwa identiknya manusia dengan semesta yaitu semesta diperkecil kepada bumi dan bumi diperkecil kepada manusia dan manusia diperkecil kepada qalbinya dan qalbinya diperhalus lagi rnenjadi ruhaniyah dan ruhaniyah diperhalus lagi menjadi Asma’-Allah; maka qalbi itu qadarnya ditentukan untuk wadah mengingat dan menyebut Asma’-Allah. Maka akan terbukalah rahasia-rahasia-Nya yang patut ditunjuki-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang banyak mengingat akan Dia.
Selanjutnya, marilah kita ungkapkan betapa identiknya keadaan manusia yang dihinggapi oleh penyakit jantung dan paru-paru yang membawa maut jika tidak secepatnya disembuhkan; juga penyakit bumi yang kita tempati ini akibat tangan-tangan jahiliyah manusia yang tidak mengenal dirinya dan tidak mengenal Tuhannya.Begitu banyak ayat-ayat Allah yang menerangkan bahwa di Jerusallem tepatnya di Masjidil Aqsa, itulah tempat turunnya ruh pada sekalian alam ini, diantara yang menjadi kenyataan ialah Nabi Ibrahim yang memperanakkan Nabi Ismail, Nabi Zakaria yang memperanakkan Nabi Yahya, Siti Maryam yang menurunkan Nabi Isa a.s., yang pada mulanya adalah suatu hal yang tidak mungkin, mengingat Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria yang telah tua renta dan mempunyai istri yang mandul demikian juga Maryam yang masih suci dan tanpa perkawinan yang alami; hanya dengan tiupan ruh daripada Allah SWT, setelah beberapa lama dalam kandungan Maryam, lahirlah Isa a.s. dan Allah memberinya derajat yang tinggi yaitu Isa Ruhullah, maka ruh kehidupan semesta disandarkan Allah padanya. Sehingga merupakan isyarat secara metafisiknya bahwa turunnya sekalian ruh makhluk lil álamin adalah di Palestina sedangkan turunnya sekalian Ilmu dan Petunjuk pada sekalian alam adalah ada di lembah Bakkah (Mekkah) yang penuh berkah, yaitu Baitullah, sebagaimana yang telah ditegaskan Allah dengan firman-Nya yang bermaksud :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yung di Bakkah (Mekkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk (ilmu pengetahuan) bagi seluruh alam (manusia)”
(Q.S. AIi Imraan : 96)
Jika sekalian ruh turun di Masjidil Aqsa dan Ilmu di Masjidil Haram, maka turunnya alam jasad adalah diseluruh muka bumi yang ditempati manusia dimana manusia itu mencari kehidupannya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa miniatur daripada alam semesta ini adalah manusia. Pengendali nyawa/nafas manusia adalah paru-parunya, pengendali peredaran darahnya adalah pada jantung atau qalbinya dan yang dikendalikan itu adalah tubuhnya yang nyata sejak dari ujung rambut sampai ketelapak kakinya.
Bila manusia itu mengetahui betapa perlunya mengurus kesehatan paru-parunya dan jantungnya supaya tetap sehat dan kesehatan itu akan tampak lahiriyahnya kepada seluruh tubuh, dimana ruhani yang sehat akan mendapatkan jasmani yang sehat.
Kebaikan bumi ini tergantung pula kepada keadaan paru-parunya yang sehat dan jantungnya yang stabil. Bumi ini diamanahkan Allah kepada manusia yang mendiaminya. Bila manusia yang sehat hati-nuraninya yang menguasai bumi ini, maka akan baiklah bumi ini; tetapi bila bumi ini dikuasai oleh hati-nurani manusia yang telah kotor dengan segala keingkaran kepada Allah Maha Penciptanya, maka akan rusak binasalah bumi ini, sebagaimana firman Allah yang berarti :
“Telah tampak kerusakkan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar)”
(Q.S. Ar Rum : 41)
Kita telah sama mengetahui bahwa sejak tahun 1948, bangsa Yahudi telah merampas kembali tanah Palestina dengan politik-zionismenya yang dibantu oleh Amerika, Prancis dan Inggris, dan sejak itu terjadilah kekacauan diseluruh negara-negara Timur Tengah sampai saat ini; sejak mulai dari peperangan Republik Persatuan Arab (Mesir) sampai peperangan teluk yang terjadi selama ±6 minggu antara Iraq dengan sekutu (multi nasional 28 negara) dibawah pimpinan Amerika yang tidak pula ketinggalan pihak Yahudi yang pada hakekatnya, untuk mempertahankan pihak Yahudi itulah Amerika begitu keras prinsipnya untuk menyerang dan menghancurkan Iraq, dan Iraq demikian pula rakusnya terhadap kekuasaan dan kekayaan minyak Kuwait yang sekaligus ingin menghancurkan Yahudi di Palestina yang kesemuanya mereka itu telah membuat kerusakkan dimuka bumi ini dengan mempergunakan senjata-senjata mutakhir, hasil dari penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih yang membawa dampak negatif terhadap kebudayaan umat manusia yang dikendalikan oleh manusia-manusia yang haus kekuasaan dan kekayaan yang tidak ada batasnya itu jika tidak dikendalikan oleh iman dan jalan yang lurus disisi Allah.
Sesungguhnya Allah telah sangat murka kepada kita manusia yang mengaku sebagai hamba-hamba-Nya, tetapi salah jalan dari jalan yang lurus kejalan yang bengkok; dimana manusia ini diciptakan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya tetapi bukan Dia yang menjadi tempat pengabdian; melainkan harta, kekuasaan dan pengaruh keduniawian yang bersifat fana ini sebagaimana firman Allah dalam Hadist Qudsiy yang berarti :
“Sesungguhnya Aku merencanakan ázab dan siksa bagi penghuni bumi, namun bila Aku melihat kepada mereka yang memakmurkan rumah-rumah-Ku (mesjid-mesjid) dan mereka yang beristighfar diwaktu fajar, Aku elakkan ázab-Ku yang Kurencanakan itu”
(H.Q.R. Al Baihaqie)
Pada hadist qudsiy tersebut jelaslah bahwa orang-orang yang memakmurkan mesjid kecil dihati manusia yang menjadi rumah Allah yang kecil (qalbil mu’minin baitullah) yang selalu dzikir kepada Allah dan menunaikan syariát-syariát agamanya (Islam) itulah yang menjadi tiang yang kokoh untuk menopang masih utuhnya bumi ini atau menjadi paku-paku bumi sebelum ázab itu didatangkan oleh Allah, tetapi kebanyakkan manusia tidak menyadarinya.
Demikian pula firman Allah dalam hadist qudsiy yang lain yang diriwayatkan oleh Thabrani,
yang artinya :
“Aku-lah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; penguasa kerajaan dan Raja dari raja-raja. Hati para raja itu adalah ditangan-Ku; Aku isi dengan rahmat dan belas kasihan terhadap hamba-hamba yeng taát kepada-Ku, namun hamba-hamba yang melakukan maksiat, Aku isi hati raja-raja mereka dendam dan benci sehingga melakukan aniaya dan siksaan diatas hamba-hamba-Ku yang berbuat maksiat itu. Maka janganlah kamu sibukkan dirimu dengan berdoá memohon kebinasaan raja-raja itu, tetapi sibukkanlah dirimu dengan ber-dzikir dan mendekati-Ku; Aku lindungi kamu dari raja-rajamu itu”
Mengapa terjadi kerusakkan dan kehancuran yang begitu fatal di Timur Tengah sejak puluhan tahun yang lampau sampai saat ini tiada aman dan tertibnya dan perjuangan rakyat Palestina tidak berhasil dan Arab Saudi yang setiap tahun ibadah Hajji selalu saja ada malapetaka yang menimpa jemaáh, demikian pula Afghanistan yang terus bergolak; Bangladesh yang setiap tahun mengalami bencana alam yang dasyat. Hancurnya Iraq dan Kuwait; umumnya negara-negara yang mayoritas Islam, demikian juga negara-negara di Afrika, terus menerus dilanda oleh malapetaka yang tak kunjung reda. Semua itu adalah disebabkan umat Islam telah jauh meninggalkan agamanya yang haq dan berbuat banyak maksiat, tidak sesuai dengan konsep agama apa yang dilakukannya dalam hidup ini; sehingga Allah mengangkat pemimpin-pemimpin yang zalim untuk menzalimi seluruh kehidupan umat ini.
Bila kita sadari akan hal itu, kembali memakmurkan mesjid-mesjid Allah, maka dengan sendirinya Allah akan mengganti para penguasa itu dengan penguasa yang adil untuk memberikan keadilan dan kemakmuran kepada mereka; sehingga kembalilah bumi ini mengalami perbaikkan kembali.
Sebagaimana manusia yang sakit jantung dan paru-paru kotor, akan mengalami gejala-gejala tubuh yang terkadang sangat panas melebihi 41 derajat celcius, yang demikian itu juga terjadi kedinginan yang luar biasa, bahkan terkadang mengalami kematian yang menakutkan. Demikian pulalah bumi yang kita diami ini. Karena paru-parunya di Palestina telah tergores dan berlubang-lubang dan jantungnya yang membengkak mengakibatkan selalu terjadi pergolakkan yang menghancurkan umat manusia yang mendiaminya. Kebakaran terjadi dimana-mana, banjir yang melanda daerah-daerah bumi, angin tornado yang dasyat, gempa bumi yang merusak kota-kota dan manusianya, gunung-gunung meletus; itu adalah akibat banyaknya dosa-dosa manusia dan lupa kepada Allah dan kitab suci-Nya yang memandu manusia sekalian zaman untuk kemaslahatan umat manusia dalam kehidupan duniawi dan ukhrawinya.
Tidak ada jalan lain yang lebih singkat, efektif dan membawa kemaslahatan umat manusia dimuka bumi ini adalah kecuali kembali kepada ajaran agama yang haq dan jangan menyelewengkan ajaran agama untuk kepentingan pribadi dan golongan; itulah obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit paru-paru dan jantung bumi ini, sebagaimana nasehat Rasulullah saw. kepada umatnya ketika dekat hari kembalinya kepada Allah, yang artinya :
“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka), tidalah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya; yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”
Penyakit paru-paru bumi ini adalah diakibatkan tangan-tangan kotornya umat Yahudi yang telah Allah utus bagi mereka seorang Rasul, yaitu Nabi Musa a.s. yang dibekali sembilan mu’jizat yang kemudian dikuasai oleh umatnya dan disalah gunaan. Oleh karena kesembilan mu’jizat itu hampir menguasai teknologi pada akhir zaman ini dan Musa mendapat titel dari Allah sebagai Kalamullah, maka umatnya yang salah gunakan mu’jizat itulah yang menguasai keadaan politik; sehingga negara-negara super power tak dapat berbuat apa-apa terhadap kebiadaban mereka.
Setiap mu’jizat nabi-nabi itu akan diwarisi oleh umatnya masing-masing.
Umat Yahudi mempunyai peninggalan hasil dari mu’jizat Nabi Musa Kalamullah yang menguasai kalamnya dunia ini, sehingga apa-apa yang mereka katakan, mesti berlaku dengan bukti-bukti yang nyata, betapapun kebrutalan yang mereka lakukan terhadap negara-negara Arab, yang mana Amerika, Prancis dan Inggris sebagai sekutunya tidak dapat berbuat apa-apa kendatipun Amerika berkoak-koak dengan “Hak Azasi Manusia” nya, disebabkan mu’jizat yang umat Yahudi warisi dari Nabi Musa, kendatipun telah mereka salah gunakan kepada jalan keduniawian.
Isyarat mu’jizat itu adalah :
- 1. Tongkat yang dapat membelah laut merah ketika Musa dan umatnya dikejar oleh Firáun serta tentaranya, dan juga dapat membelah batu yang mengeluarkan air untuk kedua belas suku bangsa Yahudi. Mu’jizat tongkat ini adalah “Komando Dunia” ditangan mereka, ini terbukti dengan perintah merekalah yang berlaku atas negara-negara yang disebut sebagai “Super Power”.
- 2. Tangan, yang apabila dimasukkan kedalam ketiaknya, akan mengeluarkan cahaya putih yang dapat membakar apa saja yang dihadapkan kepadanya; maka inilah penemuan sinar Gamma, Alpha dan Betta; elekton, proton, neutron, sinar nuklir, atom, laser dan sinar x dan sebagainya yang pada umumnya adalah penemuan orang-orang Yahudi yang berdomisili di benua Eropa dan Amerika, dimana mereka menjadi ahli-ahli ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya saja mereka itu menjadi warga negara lain, namun sifat egois keyahudiannya sangat erat dan merupakan donatur bangsanya untuk membangun negaranya yang dirampas dari orang-orang Palestina.
- 3. Belalang, dimana pada zaman Musa banyak sekali kaumnya yang mendurhakai Allah dan Musa; akibatnya Allah menurunkan belalang yang melahap habis segala hasil pertanian mereka. Maka zaman ini adalah merupakan pesawat-pesawat penghancur dengan bom- bom dari segala jenis yang dijatuhkan melalui pesawat-pesawat udara.
- 4. Kutu-kutu, pada zaman ini adalah merupakan kendaraan-kendaraan tempur tank yang diperlengkapi dengan persenjataan mutakhir hasil teknologi modem penghancur umat dan peradaban manusia.
- 5. Katak/kodok, adalah pada zaman ini merupakan kendaraan amphibi, dapat beroperasi dilaut dan didarat.
- 6. Darah, yang pada zaman ini adalah banjir-banjir darah yang mengalir membasahi bumi akibat peperangan antar hawa nafsu manusia yang gila kekuasaan dan haus darah demi keagungan seorang diktator seperti Hitler, Musolini, Hirohito dan lainnya penguasa yang sejenis yang bersifat manusia buas melebihi binatang rimba, sedangkan akibatnya tidak lebih hanya menjadi kehancuran bangsa dan negaranya sendiri, seperti Jerman, Itali dan Jepang pada perang dunia ke-II. Dan bila perang dunia ke-III dengan menggunakan alat perang yang demikian canggihnya, apakah tidak akan terjadi kiamat yang besar?
- 7. Taupan, pada zaman ini adalah penguasaan terhadap kedirgantaraan dan termasuk polusi udara yang merusak kelestarian alam, semua itu akibat industri-industri berat dan kimia.
- 8. Lautan, penguasaan terhadap lautan dan rusaknya lautan itu sendiri dan akibat limbah-limbah industri dan pecahnya kapal-kapal tanker akibat perang dan kelalaian manusia yang rnembawa minyak bumi dari satu negara kenegara lainnya.
- 9. Bukit Thursina, dimana Musa memohon kepada Allah supaya Allah menunjukkan Dzat-Nya, cukup memperlihatkan wajah-Nya saja dan Musa melihat ke Bukit Thursina itu, sehingga Allah dan Musa bertemu pandang pada bukit itu, akibatnya Musa terfana selama empat puluh hari, karena bukit itu hancur dan ghaib dari pandangan Musa; lalu Musapun tidak mengingat lagi sedang berada dimana dia, tetapi setelah kembali kedalam alam sadarnya, ia telah mendapatkan suatu rasa yang luar biasa; yaitu dadanya telah dipenuhi ilmu yang langsung daripada Allah yang berisikan ilmu; itulah Taurat yang menjadi kitab petunjuk bagi umatnya yang turun sekaligus. Pada masa ini, keadaan Palestina itu juga sedang hancur-hancurnya akibat perang dan penindasan yang dilakukan umat Musa yang telah salah gunakan segala mu’jizat Nabi Musa tersebut kepada sifat-sifat negatif yang membawa kehancuran umat manusia.
Umat Nashara, mempunyai peninggalan-peninggalan mu’jizat Nabi Isa a.s yang mendapat titel lsa Ruhullah. Maka umatnya menguasai masalah ruhnya kehidupan dunia ini dengan segala masalah sosial dan budaya dalam segala kehidupan bangsa-bangsa dan dunia ini; dimana tidak ada satu negarapun yang tidak menjadi bekas tanah jajahan mereka, baik di timur (negara yang mayoritas Islam) dan barat, termasuk benua Australia dan Amerika. Seluruhnya adalah bekas koloni mereka yang menaklukkan benua didunia ini. Merekalah yang menganggap dirinya nomor satu didunia ini, seperti; Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Prancis, Luxemburg, Belgia, dll.
Mereka menaklukkan seluruh benua; Afrika, Asia, Eropa, Australia dan Amerika.
Setelah habis masa kolonialisasi dan masih ada yang belum lepas dari belenggu penjajahan; kebudayaan barat itulah yang menguasai kebudayaan dunia yang mereka mengatakan dirinya penganut agama Nasrani. Tetapi sebenarnya adalah telah menyalah gunakan agamanya itu untuk menguasai bangsa-bangsa didunia. Padahal Nabi Isa a.s, tidak pernah mengajarkan hal yang demikian kepada umat, tetapi Nabi Isa menganjurkan umatnya untuk mengikuti ajaran Nabi Akhir Zaman Muhammad Rasulullah dalam menyempurnakan segala hukum-hukum-Nya; tetapi para Pendetanya takut kehilangan pangkat dan kedudukan, maka fasal menyatakan: Bahwa akan lahir nabi akhir zaman yang akan menyempurnakan hukum-hukum Isa itu, disunat oleh para pendetanya, mengubah dan mengolahnya dengan empat kitab karangan yang dikatakannya perjanjian baru, sehingga Allah menyebut mereka itu sebagai ahli kitab, yaitu dengan mengubah isi kitab Injil yang asli.
Umat Muhammad sendiri sesungguhnya mengatasi kedua umat yang masih terhitung penganut agama langit, yaitu mempunyai Rasul dan kitab, tetapi umat Muhammad lalai dengan ajaran Kitabullah yang suci yakni Al Qurán yang menjadi pemimpin dan pedoman kehidupan dunia dan akhirat dan juga sebagai pemandu zaman sampai hari yang dijanjikan Allah, yaitu Kiamat.
Banyak mu’jizat Nabi Muhammad yang dapat diikuti oleh umatnya untuk menunjukkan ketinggian Islam itu sebagai warisan Rasul, tetapi sayang telah didustakan oleh umatnya sendiri karena mengikuti hawa nafsu yang terpengaruh kepada dua umat diatas, yang Allah sendiri telah memperingatkan umat Muhammad, bahwa tidak akan pernah senang hati Yahudi dan Nasrani sebelum umat Muhammad mengikuti ajaran mereka dan itulah yang sedang berlangsung dizaman ini.
Mu’jizat Nabi Muhammad yang menjadi rahmat kepada sekalian alam dan mendapat titel dari
pada Allah yaitu Habibullah, kekasih Allah, telah lama ditinggalkan umatnya sekitar tujuh ratus tahun yang lampau; dimana ketinggian dan kekuatan Islam itu adalah pada Áqidah dan Tashaufnya, yaitu Hakikat dan Thareqatnya. Akibatnya hilanglah kekuatan dan kejayaan Islam
dimata dunia, yang tinggal hanyalah Fiqhnya yang berkenaan dengan alam kebendaan saja.
Umat Musa yang telah diberkahi Allah dengan alam kebendaan yang mereka telah salah
tanggapi dengan kurnia Allah tersebut, jadilah mereka yang rnempertuhankan benda. Sedangkan Nabi Isa diberkahi oleh Allah dengan alam kerohanian, tetapi akibat salah tanggap tentang Nabi Isa, maka mereka menjadi penganut yang bertuhankan ruh dan mengatakan Isa anak Tuhan.
Nabi Muhammad yang diberkahi dengan alam Asma’ yang membawa kepada Dzat-Allah yang rnenciptakan benda/jasad dan ruh.
Jika umat Musa sebagai syariát (kebendaan) dan umat Isa sebagai hakekat (alam ruh), maka umat Muhammad-lah yang seharusnya sebagai thareqat (jalan kepada Allah) sebagai jalan yang lurus yang menyerasikan dan menyeimbangkan antara hakikat dengan syariát melalui penyelarasan thareqat untuk menuju ma’rifat kepada Dzat Allah Maha Pencipta; tetapi kebanyakkan umat Muhammad, terutama para úlamanya telah pula salah kaprah dengan meniru-niru nilai-nilai kebendaan yang dipuji dan disanjung oleh umat Yahudi yang mengakibatkan bertuhankan alam kebendaan secara tidak disadari yang mendominasi Islam seolah-olah Islam itu hanyalah pada hukum-hukum fiqhnya semata; akhirnya hingga masa kini umat Islam tetap terjajah dimana-mana karena telah kehilangan jantung dan ruhnya Islam, yaitu thareqat dan tashaufnya. Bahkan kedua pokok ilmu Islam itu dianggap kebanyakkan oleh úlama Islam modern yang mengikuti hawa nafsunya, menganggap thareqat-tashauf itu sebagai ilmu bidáh dan semacam kesesatan didalam Islam, dimana mereka dengan syariát fiqh itu telah menjadi seorang úlama, yang sebenarnya didalam Islam yang mempunyai derajat ilmu yang bertingkat sejak dari syariát, thareqat, hakikat dan ma’rifat.
Seandainya dan semestinya, prasangka buruk terhadap firman Allah yang bermaksud :
“Wa anlawistaqoomuu álaththoriiqoti la asqoinaahum maa anghodaqo”
artinya:
“Dan bahwasannya: jikalau mereka tetap berdiri (berjalan) diatas jalan yang lurus (thariqat), pasti kami memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang melimpah)”
(Q.S. Al Jin : 16)
Haruslah kembali menjadi perhatian yang amat besar bagi úlama Islam jika benar-benar mereka itu ingin melihat kebangkitan Islam diakhir zaman ini. Thareqat wajib kembali diamalkan dengan dzikrullah yang dipimpin oleh seorang yang mursyid sebagai ahli-dzikir sebagai tempat bertanya umat. Tanpa thareqat menurut firman Allah tersebut, keadilan dan kemakmuran itu tidak akan tercapai karena disanalah letaknya jantung Islam dan pada áqidahnya merupakan ruhnya Islam; sedangkan syariát itu hanyalah merupakan tubuhnya yang menjadi wadah jantung dan peliputan ruh.
Apabila keterangan ini tidak juga diyakini oleh para úlama Islam akhir zaman ini, betapapun Islam tidak akan menjadi pemimpin diakhir zaman akan statis seperti adanya yang sekarang ini bahkan mungkin akan lebih fatal lagi yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dan mengagumkan akal umat manusia yang tidak pernah berfikir tentang hakikat hidup ini, dari mana mau kemana?
Jika jantung dan ruhnya ilmu Islam yang dicintai ini tidak dibangun kembali oleh para úlama dan umat secara bersama-sama dengan umaro yang berjiwa agama yang tidak cinta dunia secara belebihan yang sedang memegang kekuasaan, kita khawatir terhadap generasi penerus umat Islam yang sedang hanyut dan tenggelam dalam alam rasio yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat; akibatnya penilaian mereka terhadap alam kerohanian yang tinggi dan menjadi hakikatnya manusia sebagai alam idealisme yang harus dibangun akan hancur berantakan dan para penerus ajaran Islam itu cenderung kepada kebudayaan barat yang berorientasikan alam kebendaan semata, maka bagaimana sesudahnya warisan yang mereka terima selama ini dari kita yang terdahulu?
Segala sesuatu yang tolok ukurnya “alam kebendaan” yang materialis, sesungguhnya telah jauh meninggalkan fitrah manusia yang asli. Dari dasar kejadiannya telah diterangkan bahwa Allah Dzat Yang Maha Halus yang tidak dapat dipikirkan oleh alam akal rnanusia yang lemah, mempunyai alam nadzar yang tiga derajat :
- 1. Perbendaharaan ilmu dan hikmah, yakni Raf-raf, dari sinilah alam qalbi dengan beberapa proses dan ilmu itu menjadi kekuatan, harkat dan martabat manusia disisi Allah dan manusia;
- 2. Perbendaharaan hukum dan ruh yang menjadi hakikat manusia yang diturunkan dari Al Maala il a’la;
- 3. Perbendaharaan benda dan jasad sebagai wadah meliputnya hukum ilmu hikmah dan ruh dan wadah dikenainya hukum-hukurn sunatullah, yang diturunkan dari Baitil Ma’mur; dimana ketiga nadzarullah ini berdiri kepada Dzat Yang Tidak Terbatas.
Disana terlihat bahwa yang utama adalah ilmu untuk mengatur hukum, dan hukum mengatur benda; itulah hakikat kejadian, tetapi yang menjadi kenyataan diakhir zaman ini, kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki. Sehingga manusia berjalan dimuka bumi ini dalam keadaan terbalik sebagai lawakan dari sirkus, yaitu benda-benda mati itu mengatur ilmu dan hukum. Dengan benda-benda, kesarjanaan dapat mudah diperoleh, kemudian yang salah menjadi benar dan yang benar bisa menjadi salah. Ini akibat nilai-nilai kebendaan telah menjadi tumpuan hidup manusia dalam proses kemajuan zaman dengan nilai kemerosotan akhlak dalam penyebaran kebudayaan barat yang telah banyak menguasai kehidupan bangsa-bangsa didunia termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dimana kitab suci Al Qurán hanya dianggap sebagai barang antik pusaka lama dizaman ratusan tahun yang lampau kendatipun dibaca dan disayembarakan setiap tahun, tetapi isinya hampir-hampir tidak diamalkan lagi.
Mampukah umat Islam terutama para úlama untuk meraih kembali apa yang telah hilang dari pangkuannya selama beratus-ratus tahun yang lampau dengan sekedar dakwah-dakwah syariát yang berhubungan dengan halal dan haramnya untuk mengembalikan citra Islam yang tinggi dengan menyingkirkan jantung dan ruhnya Islam?
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasaskan alam rasio telah mendominasi kehidupan zaman, manusia menjadi materialis, sedangkan agama bersifat idealis; maka apakah halal dan haram masih dapat berjalan sebagai tubuhnya Islam sedangkan jantung dan ruhnya adalah pada thareqat dan hakikatnya, maka dimanakah agaknya letak ketinggian Islam itu?
Filsafat, teknologi, sosial budaya, ekonomi, hukum dan politik dunia digenggam erat oleh bangsa-bangsa barat (Yahudi dan Nasrani), utara (Komunis) dan Timur Jauh (Budha); sedangkan Islam senantiasa menjadi bulan-bulanannya mereka dari zaman kezaman. Sedangkan pada awal tahun 1401 Hijriyah telah dikumandangkan diseluruh dunia Islam, bahwa abad ke-XV H, adalah abad “Kebangkitan Islam”, maka apakah realisasinya yang menonjol, padahal yang menjadi kenyataan adalah hancurnya Bagdad, Arab Saudi dan Quwait diawal tahun 1991 oleh tentara rnulti nasional dibawah pimpinan Amerika (Nasrani). Kita tidak bermaksud berbicara tentang politik dunia, tetapi bicara tentang Islam itu sendiri.
Semua kehancuran umat Islam sejak pertama kalinya bangsa Barbar dibawah Hulaghu Khan, cucu dari Jenghis Khan memporak-porandakan kerajaan Islam yang berpusat di Bagdad ketika itu (±700 tahun lampau), adalah akibat kelalaian iman dari umat Islam itu sendiri, sehingga, ±80,000 Muslim mati terbunuh dan sungai Efrat rnenjadi hitam akibat kitab-kitab yang dibuang kesungai tersebut untuk menjadi jembatan tentara Tartar.
Semua itu menjadi peringatan sejarah yang teramat penting bagi umat Islam untuk bangkit kembali meninggikan agama Allah yang haq, karena setelah penaklukkan oleh tentara Barbar tersebut, berikutnya mulailah penaklukkan oleh bangsa-bangss Eropa barat terhadap dunia Islam sampai saat ini.
Oleh karena itu marilah kita tinjau ulang tingkatan iman kita dalam menghidupkan agama Allah yang tinggi ini; apakah iman itu telah benar-benar hidup dijiwa para mubaligh dan pendakwah-pendakwahnya sehingga dapat menghidupkan iman umat yang bergantung kepada mereka akan kebangkitan Islam itu.
Jika iman seorang juru dakwah belum hidup dijiwanya sendiri, maka bagaimana menghidupkan iman orang lain sedangkan imannya sendiri masih mati? Iman yang tidur dikasur kebendaan yang empuk dalam belaian mimpi bidadari yang cantik-cantik ditaman-taman surga dengan kebun-kebun dan gedungnya yang menjulang tinggi; bagaimana dapat mernbangunkan iman umat yang tidur pulas dipengapnya kelelahan kehidupan duniawi yang menggapai diri?
Untuk itu mari kembali kedasar Islam, mengasuh rohani jangan tenggelam, mengingat Allah siang dan malam, supaya terbuka tirai yang kelam.
Yang menutup iman manusia itu kepada Allah sehingga tidak dapat terbuka pandangan ketajaman mata hati, adalah disebabkan alam kebendaan yang fatamorgana ini. Luasnya dunia ini bagi setiap orang yang betapapun pangkat dan kedudukan serta kekayaannya, tidaklah lebih dari selebar pelupuk matanya. Itu pasti. Bukalah mata, maka akan nampaklah alam yang luas ini; pejamkan mata, maka lenyaplah semua yang dilihat didunia ini. Maka hanya selebar pelupuk mata itulah adanya dunia ini bagi setiap orang dan itulah yang diperebutkan sampai akhir hayatnya. Alangkah meruginya hidup ini bagi mereka yang terus berpacu dalam perebutan dunia yang sedikit namun meninggalkan akhiratnya yang langgeng dan penuh kenikmatan.
Bila ilmu pengetahuan dan teknologi dengan khasiat alam kebendaan yang diolah oleh alam rasio sehingga dapat menciptakan komputer untuk memantau dan memonitoring sesuatu yang diperlukan dan mempermudah cara hidup dan kehidupan duniawi; maka Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil pula untuk menunjuki hamba-hamba-Nya untuk menciptakan komputerisasi-keimanan dengan teknologi khasiat Kenabian yang diolah oleh alam kerohanian dibalik akal; sehingga mempermudah pula untuk memantau dan memonitoring keimanan kita masing-masing; tetapi dengan syarat: bahwa para teknokrat alam kebendaan itu adalah orang-orang yang bekerja keras untuk menciptakan komputer tersebut dan orang-orang yang mempergunakannya terpaksa harus melalui kursus-kursus singkat dan berlatih keras; maka demikian juga komputer keimanan ini. Untuk menggunakannya, harus bekerja keras dalam karya kerohanian, supaya iman yang didada itu hidup untuk dapat menghidupkan iman orang lain yang didakwahi itu. Maka barulah iman kita bangkit untuk membangkitkan Islam menjadi panutan umat manusia seluruh bumi diakhir zaman ini; kecuali yang telah Allah tetapkan, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Mereka adalah penduduk terakhir bumi yang tidak akan beriman kepada Allah.
Keterangan Kejadian Susunan Tata Suria
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................


No comments:
Post a Comment