اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
Anak Kunci Ilmu Kalam
Anak Kunci Ilmu Kalam
Bismillahirrahmanirrahim
Maha Suci Allah, segala Puja Puji hanya tertentu bagi-Nya dan Maha Besar Ia pada segenap Alam yang menjadi cahaya-Nya langit dan bumi. Bahwa Muhammad Rasulullah Pesuruh-Nya yang menjadi Saksi, pemberi peringatan kepada seluruh manusia yang menjadi Rahmat kepada Sekalian Alam, Nabi terakhir pembawa Syafaát; Shalawat dan Salam atasnya dan atas seluruh sahabatnya dan segenap keluarganya serta sekalian pemegang Sunnahnya dan tiada lagi Nabi sesudahnya.
Tiada daya dan upaya manusia sedikitpun melainkan dengan Qadrat dan Iradah-Nya., Sama’, Bashar dan Kalam-Nya. Maka Maha Esa lah Ia yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu, yang nyata maupun yang tersembunyi dihati manusia ataupun pada segenap alam ini.
Shadaqallah !
Sebelum sampai pada pokok tujuan ceramah mengenai Ilmu Tauhid yang sangat penting bagi Ilmu Islam yang menjadi pokok pangkal agama itu, terlebih dahulu perlu diuangkapakan sebab musababnya; maka perlunya Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam yang disebut juga Ilmu Ushuluddin (Ilmu Sifat-sifat Allah).
Seluruh yang dikatakan “manusia” pada tiap pribadinya ada 3 (tiga) unsur, yaitu:
ì Pertama
J a s a d atau tubuh kasar, dan ia mempunyai jenis kelamin, laki-laki atau perempuan atau diantara keduanya yang disebut Khunsa.
Tubuh ini juga terbagi menjadi suku dan bangsa, warna kulit yang berbeda-beda, adat istiadat atau budaya yang berbeda pula menurut suku dan bangsanya yang dijadikan Allah supaya saling mengenal diantara sesamanya.
Sebagaimana Firman Allah:
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami (Allah) menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan dijadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling Taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Al Hujarat : 13)
Disini jelas bahwa manusia itu disisi Allah sama saja derajatnya dijadikan, yang gunanya tidak labih hanyalah untuk saling mengenal diantara sesamanya. Tetapi diantara derajat itu, yang mulia disisi Allah adalah taqwanya; dimana arti Taqwa sesungguhnya adalah Mengerjakan seluruh perintah Allah sedapat-dapatnya dan meninggalkan larangan-Nya sebisa mungkin. Untuk membedakan bangsa dan sukunya adalah jasad, kulit dan bahasanya.
ì Kedua
H a t i; dalam hal ini yang disebut dengan hati, yaitu Qalbi atau jantung (kedokteran) segumpal darah yang merupakan daging yang terletak pada bagian dada sebelah kiri yang berfungsi menyalurkan darah kesegenap tubuh melalui pembuluh-pembuluh darah atau urat yang berjunlah 6.666 urat, dari urat yang terkecil hingga yang terbesar.
Mengenai Hati atau Qalbi atau jantung manusia itu, Allah berfirman:
Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”.
(Q.S. Al Baqarah : 10)
dan Rasulullah SAW. bersabda :
Artinya: “Ketahuilah bahwa didalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka akan baiklah tubuh itu seluruhnya, dan jika buruk maka akan buruklah tubuh itu seluruhnya; ketahuilah bahwa hal itu adalah Qalbi”.
(H.R. Bukhari-Muslim)
Pada firman dan hadist tersebut dapat kita ketahui betapa penting masalah qalbi dan seluk beluknya untuk dikaji dan dipelajari penyakitnya yang membawa kepada ázab yang pedih.
Penyakit yang ada pada hati manusia itu adalah: takkabur, sombong, ujub, riya, hasad, dengki, tamak (loba, rakus dan serakah), dendam kesumat, Iblis, syetan, hawa-nafsu, cinta dunia, lupa; dan segala sifat yang dicela oleh Hukum Syara’ yakni sifat Majmumah.
Hati yang suci adalah: jujur, ikhlaas, rendah hati, pemurah, pemaáf, belas kasihan, bnijaksana, arif, iman, Islam, bertawakkal, qanaáh (menerima apa adanya), tidak resah gelisah, ridha, berbudi, sopan santun, berakhlak karimah (mulia); pendek kata adalah segala sifat-sifat yang diridhai oleh Hukum Syara’ yaitu sifat Mahmudah.
Obat penyembuhnya adalah sebagaimana firman Allah:
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.
“(Adapun) orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka kebahagian dan tempat kembali yang baik”.
(Q.S. Ar Ra’du : 28-29)
sebagaimana pelaksanaan Shalat, Puasa, Zakat Fitrah dan Haji. Maka mengamalkan Dzaikrullah juga mempunyai syarat dan rukun. Haruslah dituntun oleh orang yang ahli dibidang itu yang disebut dengan Guru Mursyid, dan bukan setiap orang shaleh dapat menuntun kearah itu, karena ia berkenaan dengan hal-hal yang ghaib. Sebagaimana Rasulullah SAW. dalam perjalanan Isra’ Mi’raj nya yang dituntun oleh Saidina Jibril álaihissalam.
Seorang penuntun itu sebagaimana disebut oleh Imam Al Ghajali Al Hujjatul Islam dalam kitab Oh Anak, menyebutkan sebagai berikut: “Adapun syarat bagi seorang guru maka ia layak menjadi pengganti Rasulullah SAW. ,itu adalah bahwa ia sebenar-benar álim”.
Tetapi tidak pulalah tiap-tiap orang álim itu layak menempati kedudukan sebagai pengganti Rasulullah itu. Disini disebutkan dengan ringkas sebagian dari tanda-tandanya, supaya jangan tiap-tiap orang dengan mudah mengaku bahwa ia seorang penuntun. Adapun yang boleh tempat mempercayakan diri demikian ialah orang yang telah melepaskan diri dari kungkungan “cinta dunia” dan “gila pangkat” dan ia mengikuti seorang ahi yang sambung bersambung jalan ikutannya sampai kepada penghulu segala Rasul, Nabi Muhammad SAW. Dan ia berhati-hati pula mendidik dirinya sendiri, dengan membiasakan sedikit makan, sedikit berkata-kata dan sedikit tidur, serta memperbanyak Shalat, Sedekah dan Puasa.
Lagipula, dalam kehidupannya seorang yang ahli itu dijadikannya segala akhlak yang utama; sebagai sabar, shalt, syukur, tawakkal, yakin, tidak keluh kesah (ridha), dengan apa adanya, berhati tenang, berdada lapang, rendah hati, tenang, tidak tergesa-gesa, tahu diri, berlaku benar dan sebagaimana menjadi pakaian kehidupannya.
Orang yang demikianlah yang boleh dikatakan satu daripada Nur Muhammad SAW. yang patut dijadikan panutan. Tetapi adanya orang yang begitu jarang sekali, lebih sukar dari Kibrit Merah (menurut tafsir dari Khadimi; adalah semacam batu mutiara yang bercaya diwaktu malam). Diceritakan bahwa, Nabi Sulaiman as. meletakkan sebutir batu itu dilengkungan kuil, dan ia mengeluarkan cahaya sampai satu mil jauhnya, sehingga bolh perempuan-perempuan bertenun dibawah cahayanya. (*tamsil sulitnya untuk bertemu dengan seorang guru mursyid)
Dan barang siapa yang bernasib baik dan bertemu olehnya seorang guru yang sifatnya sebagai yang tersebutkan, serta sang guru (penuntun) itu suka pula ia menerimanya, patutlah dihormati zahir dan bathin.
Adapun yang dimaksud hormat pada zahir, ialah bahwa tidak dilawannya bertengkar dan tidak diajaknya beradu fikiran tentang berbagai-bagai masalah, biarpun ia mengetahui kesalahan guru itu tentang sesuatu perkara (karena sikap demikian boleh menghilangkan penghargaan terhadap guru, dan kesudahannya menyia-nyiakan tuntunannya yang sangat dihajatkannya itu).
Dan lagi janganlah ia mengembangkan sajadahnya dihadapan guru itu, melainkan ketika hendak shalat saja. Apabila shalat telah selesai hendaknya diangkatnya kembali, dan janganlah ia memperbanyak shalat sunat dihadapan guru. Dan apa-apa yang disuruh guru itu untuk dikerjakan, hendaklah ia mengerjakan menurut kekuatan dan kecakapannya.
Dan adapun yang dimaksud dengan hormat pada bathin ialah bahwa segala apa yang didengar dan diterimanya dari guru tersebut, baik perkataan atau perbuatan, tidak diingkarinya pada bathin. Supaya dirinya jangan bernoda Nifak (pekerti orang munafik; pepat diluar rancung didalam).
Jika ia (murid) tidak dapat berbuat demikian, hendaklah diputuskan dahulu hubungannya dengan guru itu, hingga bathinnya dapat sejalan dengan zahirnya. Dan lagi hendaklah ia menjauhi pergaulan dengan ahli kejahatan, supaya ia dapat mengurangi pengaruh bangsa syetan, bangsa jin dan manusia dari ruang hatinya sehingga ia suci dari kotoran kejahatan syetan. Dan bagaimanapun juga, hendaknya ia memilih kemiskinan diatas kekayaan.
Demikianlah selayang pandang mengenai seluk beluk hati, penyakit dan penyembuhannya serta guru atau penuntun yang dapt menjadi panutan didalam cara pembersihan hati.
ì Ketiga
R u h , masalah ruh ini Allah berfirman:
Artinya: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadian dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.
(Q.S. Al Hijr : 29)
Maka jelaslah sudah, bahwa unsur manusia menurut dalil Al Qurán dan Hadits dan dalam kenyataannya pada diri setiap manusia itu ada: Tubuh (raga, jasad), Hati (qalbi, jantung) dan Ruh. Salah satu rusak, sakit atau binasa, maka berpengaruh besar kepada yang lainnya. Hal ini tidak dapat siapapun menyangkalnya.
- Sakit tubuh sebagai wadah jantung dan ruh, maka sakit pulalah yang lainnya;
- Sakit jantung, berpegaruh pada jasad dan ruh;
- Ghaib ruh, maka busuklah tubuh dan jantung.
Oleh sebab itu, diantara ketiganya harus serasi, selaras dan seimbang. Untuk mengatur ketiga unsur tersebut Allah membekali masing-masing ilmu untuk berjalan dimuka bumi ini dalam menuju kembali kepada-Nya dalam tugas manusia sebagai hamba-hamba-Nya yang percaya kepada-Nya dan hari berbangkit setelah manusia mati (perpindahan dari alam dunia ke alam aklhirat yang kekal). Ketiga unsur tersebut adalah Sifat, Asma’ dan Afál Allah yang terbit dari Dzat-Nya yang Maha Lathif atau Maha Halus.
Z Sifat “JAMAL Allah”; yakni Keindahan-Nya dialam nyata ini adalah Jasad (raga) yang dinamakan Syariát (yang nyata). Allah menurunkan “Ílmu Fiqh” yang berorientasi kepada segala yang nyata, seperti: hukum bersuci, beribadah dengan syarat dan rukunnya, syah dan batalnya, halal dan haram, wajib dan sunat, hukum perkawinan, hukum benda, hukum negara, pidana, dagang, dll. Maka Ilmu Fiqh inilah yang mengatur, dengan janji dosa atau pahala, yang akhirnya surga atau neraka.
Z Sifat “KAMAL Allah”; yakni Kesempurnaan-Nya dialam nyata ini adalah Qalbi (hati), sebagai persemayaman Sifat-sifat Allah yang dinamakan Thareqat.
Sebagaimana firman Allah:
Artinya: “Dan bahwasannya jikalau mereka tetap berjalan (berthareqat) diatas jalan yang lurus itu, pasti kami akan menurunkan rezki dengan tidak kekurangan”.
(Q.S. Al Jin : 16)
Maka untuk mengatur Thareqat yang berhubungan dengan urusan hati (qalbi), Allah menurunkan “Ílmu Tashauf” untuk atau merupakan suatu cara pengobatan hati, karena hati itulah raja setiap manusia. Bila hati itu baik maka baiklah seluruh jasad; bila hati buruk, buruk pulalah tingkah laku jasadnya, sebagai tempat memandang bathiniah seseorang. Orientasi Ílmu Tashauf ini akhirnya untuk menyucikan Hati itu terhadap Allah dan Suci Hati terhadap segala yang dijadikan oleh Allah, yakni segenap makhluk-Nya sekalipun terhadap seekor semut.
Z Sifat “JALAL Allah”; yakni Kebesaran-Nya dialam nyata ini, adalah Ruh yang disebut Hakikat. Maka untuk mengatur perjalanan Ruh itu dalam menilik segala Kebesaran Allah supaya trerhapus dari segala kesyirikan, baik Syirik halus (Khafi) maupun Syirik yang nyata. Maka Allah menurunkan “Íl mu Tauhid” (Ílmu Kalam atau Ushuluddin).
Apabila ilmu yang tiga tersebut, yaitu: “Fiqh” sebagai pakaian Tubuh, “Tashauf” sebagai pakaian Qalbi dan “Tauhid” sebagai pakaian Ruh; ketiganya serasi, selaras dan seimbang, dimana tubuh/jasad itu sebagai Keindahan Allah yang diucapkan dengan “Alhamdulillah”, qalbi itu sebagai Kesempurnaan Allah yang diucapkan dengan “Subhanallah”, dan ruh itu sebagai Kebesaran Allah yang diucapkan dengan “Allahu Akbar”, majka sampailah ia dengan selamat kepada Ílmu Keempat, yakni “Ílmu Ma’rifat” yang menjadi dasar dan pondasi terkokoh, terutama dan terpenting dalam Ilmu Islam. Dimana sesungguhnya “Awal Agama adalah mengenal Allah”, bukan sekedar ucapan-ucapan belaka, tetapi wajiblah mengenali sifat-sifat-Nya serta segala yang ada ini terutama diri kita masing-masing.
Allah berfirman:
Artinya: “Dan pada bumi ini adalah tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berhati yakin”.
“Dalam dirimu sendiri, kenapa tidak kamu perhatikan?”
(Q.S. Az Zariyat : 20-21)
dan lagi firman Allah:
Artinya: “Barangsiapa yang buta hatinya (terhadap yang ghaib) didunia ini, niscaya butalah ia di akhirat dan tersesat jalannya”.
(Q.S. Bani Israil : 72)
Demikian dalil untuk mempelajari keadaan diri kita masing-masing dalam mencari keselamatan akhirat. Dan dalam risalah kecil ini secara singkat dan sistematis, khusus akan diterangkan pada bagian ilmu ketiga, yakni “Ílmu Tauhid” dalam melepaskan diri dari kesyirikan yang menonjolkan “ke-aku-an” manusia dan melupakan “ke-Aku-an” Allah.
Allah berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang lain selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”.
(Q.S. An Nisa’ : 116)
Untuk menghilangkan kesyirikan itulah perlunya “Ílmu Tauhid” yang akan dibahas ini.
Sabda Rasulullah SAW. yang artinya:
“Fikirkanlah oleh kamu akan Sifat Allah, namun jangan memikirkan Dzat-Nya”.
Anak Kunci Ilmu Kalam
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
.........................................................

No comments:
Post a Comment