26 March 2020

Proses Sifat-sifat Allah Pada Kejadian Diri Manusia



 ‏اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)‎  
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)‎
Denyutan Nadiku dengan  Alhamdulillah  (الْحَمْدُ لِلَّهِ)‎
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH  (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)‎
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar   (اللَّهُ أَكْبَرُ)‎
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ    ...اللهَ 

Proses Sifat-sifat Allah Pada Kejadian Diri Manusia

Proses Sifat-sifat Allah Pada Kejadian Diri Manusia

4

Proses Sifat-sifat Allah Pada Kejadian Diri Manusia
firman Allah :
Artinya: “Dan tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, tetapi Dia-lah yang melihat segala penglihatan dan Dia bersifat lemah lembut lagi Maha Mengetahui”.
(Q.S. Al Anám : 103)
Sabda Rasulullah SAW. :
Artinya: “Berfikirlah tentang makhluk Allah dan jangan sekali-kali berfikir tentang Dzat Allah, karena kamu tidak akan dapat menduga-duga dengan sebenar-benarnya”.
(H.R. Ashbihani dan Abusy Syeikh) Sumber: Ibnu Abbas
v  Proses PERTAMA
Adapun “Afál-Allah” itu kepada manusia adalah tubuh yang zahir yang berupa materi; darah, tulang, urat dan daging.
  • Darah daripada = Api
  • Tulang daripada = Air
  • Urat daripada = Angin
  • Daging daripada = Tanah
v  Proses KEDUA
Adapun “Asma’-Allah” itu kepada manusia adalah gambaran hati (Qalbi).
Sabda Rasulullah SAW. :
Artinya: “Ketahuilah bahwa dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika segum,pal daging itu baik, maka akan baiklah tubuh itu seluruhnya; dan jika buruk, maka buruklah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah bahwa hal itu adalah qalbi”.
(Al Hadits Bukhari Muslim)
Hati itulah yang menjadi raja tubuh dan menjadi ikutan manusia. Pada hati itu “Petaruh Allah” pada diri setiap manusia yang menjadi Khalifah-Nya; maksudnya adalah Pengganti pekerjaan Tuhan dimuka bumi untuk meluluskan segala hukum-hukum-Nya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
Petaruh itu ada 2 (dua) jenis:
  1. Petaruh Kebaikkan yang disebut Sifat Mahmudah, yang diridhai oleh hukum syara’, dan
  2. Petaruh Keburukkan yang disebut Sifat Majmumah, yang mengikuti kehendak yang bernama Iblis, hawa nafsu, cinta dunia dan syetan.
Bila digambarkan gambaran hati itu akan tampak sebagai berikut:
hati
Dalil untuk gambaran hati itu berdasarkan Firman Allah:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah iman mereka karenanya, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”
“Yaitu orang-orang yang mendirikan Shalat dan yang menafkahkan sebahagian rezki yang kami berikan kepada mereka.”
“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar iman. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikamt) yang mulia.”
(Q.S. Al Anfal : 2-4)
Ulasannya :
“..disebut nama Allah, gemetarlah hati..”
Tidak mungkin menggetar hati seseorang apabila disebut nama Allah, melainkan adalah karena cinta, rindu, kasih dan sayang. Hal cinta kasih ini tentulah karena kenal; seumpama kata pepatah: “tak tahu maka tak sayang, tak kenal maka tak cinta”. Jika tidak Ma’rifah kepada Allah, niscaya Iblis lah yang bersarang dibelahan Fuád hatinya. Bila seseorang itu Ma’rifah kepada Allah, niscaya nemarlah Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul-Nya; dengan lidah, hati dan perbuatan, maka kokohlah imannya.
“..apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah..”
Bagi orang-orang yang beriman itu, niscaya bertambah pulalah iman yang telah ada didalam Lub hatinya. Jika tidak bertambah Iman seseorang bila dibacakan ayat-ayat Allah, niscaya Hawa (pengaruh) dunialah yang disudut hati seseorang itu. Tetapi apabila seseorang itu benar-benar beriman kepada Allah serta Hari Kemudian, niscaya kalau cukup nisab hartanya ia akan mengeluarkan Zakat hartanya, zakat emas dan peraknya, zakat perniagaan dan zakat pertaniannya sesuai dengan delapan mustahaq.
“..dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”
Arti bertawakkal adalah menyerah diri, tidak ada ketakutan didalam hati mereka selain Allah. Bila Tawakkal tidak ditemui didalam salah satu belahan hatinya, niscaya Cinta Dunia lah yang ada pada dirinya dann itulah alamat manusia yang menumpuk harta berketurunan, tamak, loba dan rakus lagi serakah terhadap harta dunia yan kelak akan menjadi bahan bakar dirinya dihari berbangkit dan kenyenyakkan tidurnya dialam dunia ini dengan segala hartanya yang bertumpuk-tumpuk itu tanpa memperdulikan kemelaratan sesamanya dalam lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Tetapi bila tawakkal itu ada pada sudut hati seseorang, niscaya sukalah ia melaksanakan Puasa, tetapi bukan hanya puasa dibulan Ramadhan, melainkan puasa dari kekotoran jiwa, puasa dari pada mengejar pangkat dan kedudukan, puasa daripada menumpuk-numpuk harta berketurunan, puasa daripada fitnah dan cela dan segala perbuatan ma’siat.
“..orang yang mendirikan Shalat..”
Firman Allah:
Artinya: “Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari pada kejahatan dan kemungkaran”.
Bila hati seseorang nampaknya mendirikan shalat, tetapi pekerjaan ma’siat; seperti penyelewengan jabatan, korupsi, manipulasi, suap, judi, minuman keras, egois dan memperkaya diri sendiri. Itulah Shalatnya Iblis sebagai kamuflase yang tidak disadari kebanyakkan manusia yang Shalat, yang hanya mengikutkan nafsu kenikmatan dunia karena tidak sedikitpun Ma’rifah, Iman dan Tawakkal dihatinya itu tidak ditemui di Shudurnya. Bila seseorang itu mengaku beragama Islam, maka tanda yang zahir itulah Shalat yang dapat mencegah dirinya dari segala kejahatan dan kemungkaran.
“..menafkahkan sebahagian rezki..” sebagai karunia Allah padanya dijalan Allah untuk kepentingan dirinya dan agamanya.
Bila ada Nur  (petunjuk) ditengah (pusat) hatinya, yaitu Bahajatul Qulub, niscaya syetan-syetan akan kepanasan dan sukalah seseorang itu berinfak dan akan menunaikan ibadah Haji-nya sebagai rukun Islam kelima dengan segala ilmu. Bukan karena hanya sebagai pamor, atau penampilan karena ada uang. Banyak umat Islam telah menunaikan ibadah Haji, namun sombong, takabur, riya’, hasad dan dengki tidak terhapus daripadanya; bahkan tamak dan loba semakin bersarang dan membudaya. Maka perikasalah sebab musababnya, tentu bukan karen Iman Islam, Ma’rifah dan Tauhidnya; melainkan adalah karena kemegahan untuk dunia dan nama semata dan uang yang digunakan untuk ibadah Haji itu periksalah dahulu, dari yang halalkah, haramkah atau subhat?
Hati manusia itu seakan gelas minuman. Tidak boleh diisi dengan racun, tetapi isilah dengan madu ataupun susu. Apabila diisi keduanya dalam satu gelas, maka jika diminum juga akan membawa mudarat bagi peminumnya. Demikianlah hati itu, hanya dapat memuat salah satu diantara dua, yaitu:
þ  RIDHA ALLAH
  1. 1.      Ma’rifah menyebabkab Syahadat;
  2. 2.      Iman menyebabkab Zakat;
  3. 3.      Tawwakal menyebebkan Puasa;
  4. 4.      Islam menyebabkan Shalat;
  5. 5.      Nur menyebabkan Haji.
Sehingga dari hati yang baik itulah yang menerbitkan Rukun Islam yang (lima) perkara itu; (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji).
ý  MURKA ALLAH
  1. 1.      Iblis menyebabkan Kufur;
  2. 2.      Hawa  menyebabkan Hilangnya malu;
  3. 3.      Cinta dunia menyebabkan Tamak, Loba dan serakah terhadap dunia;
  4. 4.      Nafsu menyebabkab ingin terus terpuaskan segala syahwat dalam mencari kenikmatan dunia, lupa kepada akhiratnya.
Dengan penjelasan itu, tilik dan periksalah hati anda, pada Rdha Allah kah atau pada Murka Allah. Karena anda tidak akan dapat menyembunyikannya karena hati anda tidak akan pernah berbohong, anda pasti tahu sendiri karena hati itu adalah “tape recorder” Allah yang setiap saat mendeteksi segala perbuatan anda dimana saja anda berada dan melapor kepada malaikat pencatat buruk dan baik yang kelak akan diperlihatkan kepada anda sendiri rekaman hati itu di hari berbangkit; satu jarrah kebaikkan tak akan hilang dan satu jarrah kejahatan tak akan sembunyi.

v  Proses KETIGA
Adapun “Sifat Allah” itu adalah Ruh bagi manusia. Ruh itu dtiupkan melalui ubun-ubun kepada qalbi manusia, semasih ia dalam kandungan rahim ibu, yaitu swetelah berumur 3 x 40 hari.
Dari jantung itulah kehidupan Ruh itu dipompakan keseluruh tubuh melalui pembuluh-pembuluh darah/vessel, maka gerak tubuh itu adalah gerak ruh dengan kendali hati. Baik kendali hati, baiklah gerak ruh yang zahir kepada jasad (raga). Buruk kendali hati, buruklah gerak ruh yang zahir kepada jasad. itulah sebabnya tak trerpisah antara Syariát dengan Hakikat yang diatur oleh Thareqat, dan barangsiapa menceraikan anatara keduanya, maka mereka itu terbakarlah dirinya. Ketika itu tinggallah segala Rabithah (penuntun). Nabi berhadap langsung dengan Allah, dalam menjemput tiang Agama, setelah lebih dari 13 tahun mendirikan fondasi “Awaluddin Ma’rifatullah”. Barangsiapa yang mengabaikan Thareqat Dzikrullah, tidaklah dia berdiri dan berjalan diatas jalan yang lurus.
Sebagaimana firman Allah:
Artinya: “Dan bahwasannya, jikalau mereka tetap berjalan diatas jalan yang lurus, pasti kami akan beri rezki dengan tidak kekurangan”.
(Q.S. Al Jin : 16)

v  Proses KEEMPAT
Adapun “Dzat Allah” Yang Maha Halus yang tidak dapat dilihat baik oleh mata zahir maupun mata batin (hati), adalah Sir (rahasia); yaitu suatu hubungan yang tidak bercerai atau terpisahkan, tetapi tidak pula bersekutu. “Dekat tdak bersentuh, jauh tidak berantara”.
Hubungan itu adalah :
  • Tiada manusia itu kuasa, melainkan yang dikuasakan;
  • Tiada manusia itu menentukan, melainkan yang ditentukan dan dikehendaki-Nya;
  • Tiada manusia itu hidup; melainkan yang dihidupkan;
  • Tiada manusia itu mengetahui, melainkan yang diberitahu oleh-Nya;
  • Tiada manusia itu mendengar, melainkan yang diperdengarkan;
  • Tiada manusia itu melihat, melainkan yang diperlihatkan;
  • Tiada manusia itu berkata-kata, melainkan yang diperkatakan.
Untuk letaknya menyempurkan antara sifat Maáni (yang zahir kepada tubuh) dengan sifat Ma’nawiyah (yang bathin pada tubuh), maka jelaslah alam tubuh itu sebagai wadah tempat memandang (Wahdaniyat), itulah yang terkandung kepada Afál, Asma’ dan Sifat Allah yang 15 (lima belas) sifat Rahmatan Lilálamin yang berdiri kepada Dzat yang 5 (lima) sifat: Wujud Qidam, Baqa, Mukhlifatahu lil Hawadits dan Qiyamuhu Taála Binafsihi.
Jadi adanya manusia itu adalah: bodoh, pekak, buta, daif, hina, kelu dan tiada daya upaya disisi Allah yang terkandung kepada kalimah:
“Laa Haula wa laa Quwata Illa Billahil Áliyil Ádjim”
dan inilah isyarat Hadits Qudsiy:
Artinya : “Insan itu rahasia-Ku, rahasia-Ku itu Sifat-Ku dan Sifat-Ku itu tidak lain daripada Aku”
Dan lagi firman Allah :
Artinya: “Dan Apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah): bahwasannya Aku adalah dekat; Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoá kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
(Q.S. Al Baqarah : 186)

dari seluruh keterangan demi keterangan sebagai kesimpulan adanya Hakikat manusia itu bila hendak dikatakan manusia itu mempunyai Dzat, boleh juga dengan keterangan sebagai berikut:
  • Dzat manusia adalah Sifat bagi Allah
  • Sifat manusia adalah Asma’ bagi Allah
  • Asma’ manusia adalahi Afál bagi Allah
  • Afál manusia adalah bekas Qadrat, Iradat, Hayat, Sama’, Bashar dan Kalam Allah yang mempunyai Dzat yang Wajibal Wujud, Qadim lagi Baqa, Laisa Kamislihi Syaiín dan Qiyamuhu Taála Binafsihi, Rabbal Álamin.

Proses Sifat-sifat Allah Pada Kejadian Diri Manusia

Wallahu Alam Bishshawab.


Moga Bermanfaat.

.........................................................

No comments: