أعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
(الْحَمْدُ لِلَّهِ)Tahmid Dengan Denyutan Nadiku
(لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)Tahlil Degupan Jantongku
(اللَّهُ أَكْبَرُ)Takbir Hela Turun Naik Nafasku
اَلْحَمْدُ ِللهِ syukur kepada اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ... ALLAH اللهَ
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Hadits Dzikir Zahar dan Sirr

1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang
berkeliling, mereka mengikuti majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemui
majelis yang didalamnya ada dzikir, maka mereka duduk bersama-sama orang yang
berdzikir, mereka mengelilingi para jamaah itu dengan sayap-sayap mereka,
sehingga memenuhi ruangan antara mereka dengan langit dunia, jika para jamaah
itu selesai maka mereka naik ke langit (HR Bukhari no. 6408 dan Muslim no.
2689)
2. Abdullah Ibnu Abas r.a berkata : “semasa zaman
kehidupan Rosulullah(SAW) adalah menjadi kebiasaan untuk orang ramai berdzikir
dengan suara yang kuat selepas berakhirnya sholat berjamaah (HR.Bukhori)
3. Abdullah Ibnu Abas r.a berkata :”Apabila aku mendengar
ucapan dzikir, aku dapat mengetahui bahwa sholat berjamaah telah berakhir
(HR.Bukhori)
4. Abdullah Ibnu Zubair r.a berkata :”Rasululloh(SAW)
apabila melakukan salam daripada solatnya, mengucap doa/zikir berikut dengan
suara yang keras-”La ilaha illallah…”(Musnad Syafi’i)
5. Sahabat Umar bin Khattab selalu membaca wirid dengan
suara lantang, berbeda dengan Sahabat Abu Bakar yang wiridan dengan suara
pelan. Suatu ketika nabi menghampiri mereka berdua, dan nabi lalu bersabda:
Kalian membaca sesuai dengan yang aku sampaikan. (Lihat al-Fatâwâ
al-hadîtsiyah, Ibnu Hajar al-Haitami, hal 56)
6. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA bahwa
mengeraskan suara dalam berdzikir seusai orang orang melaksanakan sholat wajib
dgn berjamaah sudah menjadi kebiasaan pada masa nabi SAW, kata Abdullah bin
Abbas : ketika saya mendengar dzikir tersebut saya tahu bahwa orang2 sudah
selesai melaksanakan sholat berjamaah (Bukhari No. 841 )
7. Diriwayatkan oleh Abu Ma’bad:
(budak yang telah bebas dari Ibn ‘Abbas) Ibn ‘Abbas
berkata padaku, “Dalam masa hidup pada Nabi itu lazim untuk menyelenggarakan
zikir Puji-pujian pada Allah bersuara keras sesudah jamaah shalat wajib. (Sahih
Bukhari 1/802)
8. Imam Zainuddin al-Malibari menegaskan: “Disunnahkan
berzikir dan berdoa secara pelan seusai shalat. Maksudnya, hukumnya sunnah
membaca dzikir dan doa secara pelan bagi orang yang shalat sendirian,
berjama’ah, imam yang tidak bermaksud mengajarkannya dan tidak bermaksud pula
untuk memperdengarkan doanya supaya diamini mereka.” (Fathul Mu’in: 24).
Berarti kalau berdzikir dan berdoa untuk mengajar dan membimbing jama’ah maka
hukumnya boleh mengeraskan suara dzikir dan doa.
Memang ada banyak hadits yang menjelaskan keutamaan
mengeraskan bacaan dzikir, sebagaimana juga banyak sabda Nabi SAW yang
menganjurkan untuk berdzikir dengan suara yang pelan. Namun sebenarnya hadits
itu tidak bertentangan, karena masing-masing memiliki tempatnya
sendiri-sendiri. Yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
8. Contoh hadits yang menganjurkan untuk mengeraskan
dzikir riwayat Ibnu Abbas berikut ini: “Aku mengetahui dan mendengarnya
(berdzikir dan berdoa dengan suara keras) apabila mereka selesai melaksanakan
shalat dan hendak meninggalkan masjid.” (HR Bukhari dan Muslim)
9. Ibnu Adra’ berkata: “Pernah Saya berjalan bersama Rasulullah
SAW lalu bertemu dengan seorang laki-laki di Masjid yang sedang mengeraskan
suaranya untuk berdzikir. Saya berkata, wahai Rasulullah mungkin dia (melakukan
itu) dalam keadaan riya’. Rasulullah SAW menjawab: “Tidak, tapi dia sedang
mencari ketenangan.”
10. Hadits lainnya justru menjelaskan keutamaan berdzikir
secara pelan. Sa’d bin Malik meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Keutamaan
dzikir adalah yang pelan (sirr), dan sebaik rizki adalah sesuatu yang
mencukupi.” Bagaimana menyikapi dua hadits yang seakan-akan kontradiktif itu.
berikut penjelasan Imam Nawawi:
11. “Imam Nawawi menkompromikan (al jam’u wat taufiq)
antara dua hadits yang mensunnahkan mengeraskan suara dzikir dan hadist yang
mensunnahkan memelankan suara dzikir tersebut, bahwa memelankan dzikir itu
lebih utama sekiranya ada kekhawatiran akan riya’, mengganggu orang yang shalat
atau orang tidur, dan mengeraskan dzikir lebih utama jika lebih banyak
mendatangkan manfaat seperti agar kumandang dzikir itu bisa sampai kepada orang
yang ingin mendengar, dapat mengingatkan hati orang yang lalai, terus
merenungkan dan menghayati dzikir, mengkonsentrasikan pendengaran jama’ah,
menghilangkan ngantuk serta menambah semangat.” (Ruhul Bayan, Juz III: h. 306).
Jadi, Masihkah ada yang memaksakan pendapat bahwa Dzikir
Jahar itu dilarang???
Ikhtilaafu ummatii rahmah, perbedaan di kalangan ummatku
adalah rahmat, Maka semoga kita yang mengaku ummatnya bukannya malah menjadikan
perbedaan menjadi sumber bencana perpecahan, bukan Rahmat???
Saya coba mengutip perkataan indah dari Imam Ali b. Abi
Thalib bahwa :
"Tak seorang pun dapat mencari kebenaran sebelum ia
sanggup berfikir bahwa jalan kebenaran itu sendiri mungkin salah".
Mari kita terus belajar, belajar tanpa apriori, belajar
tanpa merasa paling benar, semoga Allah SWT membantu kita mendapatkan ilmu-Nya
Perhatikan firman-firman Allah :
Katakanlah bahwa Aku dekat (AL BAQARAH 2 : 186).
Lebih dekat Aku dari pada urat leher (AL QAF 50 : 16).
Akan Kami perlihatkan kepada mereka, tanda-tanda Kami
disegenap penjuru dan pada diri mereka (FUSHSHILAT 41 : 53).
Dzat Allah meliputi segala sesuatu (FUSHSHILAT 41 : 54).
Dia bersamamu dimanapun kamu berada (AL HADID 57 : 4).
Kami telah mengutus seorang utusan dalam diri-mu (AT
TAUBAH 9 : 128).
Di dalam dirimu apakah engkau tidak memperhatikan
(AZZARIYAT 52 : 21).
Tuhan menempatkan diri antara manusia dengan kolbunya (AL
ANFAL 8:24).
HADITS QUDSI :
Di dalam setiap rongga anak Adam Aku ciptakan suatu
mahligai yang disebut dada, dalam dada ada kolbu, dalam kolbu ada fuad, dalam
fuad ada syagofa, di dalam syagofa ada Sir, di dalam Sir ada AKU ….
Aku tidak berada di bumi, Aku tidak berada di langit,
tapi Aku berada dalam hati orang-orang
yang beriman
Oleh karena itu wajar bila para sufi mengatakan : Qolbu
mukmin baitullah...
Wajar juga bila Rosulullah-pun tidak menganjurkan mencari
Tuhan ke Mekah, tapi menganjurkan mencari Tuhan ke dalam diri agar tidak
tersesat..!!!
Apa kata Rosulullah ?
Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya.
Barang siapa mengenal Tuhan-nya maka dia merasa dirinya bodoh. Barang
siapa mencari Tuhan keluar dari dirinya
sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh…
Konon kabarnya ini bukan Hadits Rosulullah namun
dipopulerkan oleh Al Ghazali… Kita harus ingat bahwa Hadits-Hadits Rosulullah
mulai dipermasalahkan setelah 100 tahun Rosulullah wafat. Konon waktu itu mulai
tampak adanya gejala-gejala pemalsuan hadits yang muncul di wilayah sebelah
timur, pada saat pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khulafa ar-Rasyidin
yang ke-lima.
Umar bin Abdul Aziz memerintahkan Ibnu Shihab az-Zuhri
untuk menghimpun sunah-sunah Rosulullah dan membukukannya menjadi beberapa
eksemplar. Selanjutnya khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirimkan satu buku
kepada setiap pejabat di wilayah-wilayah kekuasaan Islam. Buku hadits pertama
kali muncul setelah 200 tahun Rosulullah wafat, melalui perdebatan panjang
antar kelompok kepentingan. Jadi wajar
bila ada Hadits-Hadits Qudsi ataupun Hadits-Hadits Rosululah yang dibuang atau
mungkin ada juga yang diberi bumbu, kita tidak Tahu… Kenyataannya memang benar,
mencari dan mengenal Allah bukan perjalanan ke mekah, tapi perjalanan dari alam
lahiriyah ke alam bathiniah.
Firman Allah :
Dialah Jibril yang telah menurunkan Al Qur’an ke dalam
qolbumu atas izin Allah (AL BAQARAH 2 :
97)
(Al Qur’an) ini adalah ayat-ayat yang nyata di dalam hati
orang-orang yang diberi ilmu dan hanya orang-orang durjana yang mengingkari
ayat-ayat Kami (AL ANKABUT 29 : 49)
Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada Hatinya
(AT-TAGABUN 64 : 11)
Sesungguhnya Al Qur’an yang mulia berada pada kitab yang
terpelihara dan tidak tersentuh kecuali oleh mereka yang di sucikan (AL WAQI’AH
56 : 77-78)
Oleh karena itu Rosulullah bersabda :
Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian
sendiri.
Selanjutnya Rosulullahpun bersabda :
- Segala sesuatu ada pembersihnya, pembersih Kolbu (Qolb)
adalah dzikir
- Dzikir adalah jalan terdekat menuju kepada Allah.
Qolbu mukmin itulah baitullah yang hakiki, yang harus
dibersihkan melalui dzikir. Bila hati kita bersih jalan menuju Tuhan terbuka
lebar, bebas hambatan. Dzikir adalah
jalan tol menuju kepada Allah. Dzikirullah itu dilakukan setiap saat, dimana
saja dan kapan saja. Dzikir itulah sholat yang kekal, dzikir itulah sholat
bathin.
Allah adalah Al Bathin, Rumahnya dan KitabNya ada di
dalam bathin, sholatnya pun sholat bathin dan wudunya adalah wudu perbuatan.
Kata Rosulullah kita harus bisa mati sebelum mati, agar kesadaran Ruhnya
bangkit untuk berkomunikasi dengan Allah, karena jasmani tidak bisa
berkomunikasi dengan Allah.
Perhatikan Surat Al A’raaf 7 : 172 : Bukankah Aku
Tuhanmu? Semua Ruh menjawab : Benar kami
bersaksi.
Apa kata Hamzah Fansuri?
Hamzah Fansuri berada di Mekkah, mencari Tuhan di Baitul
Ka’bah, dari Barus ke Kudus terlalu payah, akhirnya dijumpai di dalam
rumah…Rumah yang mana?
Apa kata Jalaluddin Rumi?
Aku menatap hatiku sendiri, disana kulihat Dia … Dia
tidak berada di tempat lain.
Kata Rosulullah :
Urusan dunia engkau lebih tahu, tata cara beribadah
ikutilah caraku.
LABELS:Dzikir
ALLAH اللهَ ALLAH اللهَALLAH اللهَALLAH اللهَ
Hadits Dzikir Zahar dan Sirr
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
والله أعلم بالـصـواب
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................


No comments:
Post a Comment