22 April 2020

Mati Ibarat Mimpi




 ‏اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)‎  
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)‎
Denyutan Nadiku dengan  Alhamdulillah  (الْحَمْدُ لِلَّهِ)‎
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH  (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)‎
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar   (اللَّهُ أَكْبَرُ)‎
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ    ...اللهَ 
Mati Ibarat Mimpi

Mati Ibarat Mimpi
Elias Hj Idris
Nabi saw telah memberikan misal manusia itu akan mati seperti tidur. Jadi tidur itu mati kecil. Maka ahli-ahli agama lalu mengambil perbandingan tidur dengan keadaan mati. Sifat-sifat dan perasaan ruhaniat kita waktu tidur banyak berbeza dari satu saat ke lain saat; menurut situasi ketenangan dan kesucian jasmani dan ruhani pada setiap masa. Pada siang hari kita tenang, banyak beribadat dan tidak terjadi hal-hal yang merugikan manusia lain, terutama diri sendiri. Maka pada waktu tidur kita akan aman dan tenteram saja.

Kemudian sebelum tidur itu kita terlebih dahulu solat sunat atau membaca ayat-ayat suci atau memuji Allah swt dengan cara yang pantas serta tidur dalam keadaan berwudhu', maka suasana selama kita tidur itu akan beroleh ketenangan yang baik sekali. Kita pun dapat melihat mimpi-mimpi yang bagus.

 
Haiwan memang tidak ada perhitungan...

Sebaliknya, dengan tidur tanpa beribadat terlebih dahulu, apatah lagi dengan tidak memuji Allah swt dan tidak pula berwudhu' - akan menyebabkan kita bermimpi dengan mimpi-mimpi yang mengerikan serta melihat hal-hal yang tidak suci dan cukup tidak menyenangkan.

Hayat dunia ini selama beberapa puluh tahun itu cuba kita kumpulkan jadi satu hari. Maut yang datang kepada kita, kita misalkan dengan tidur yang menanti hari berbangkit. Maka pada umumnya, semua amal kita selama hidup bakal menentukan situasi kita dalam tidur yang terakhir itu. Jika jumlah amal baik kita lebih besar daripada jumlah kejahatan, maka senanglah orang itu di dalam kuburnya.


Nilai senang dan susahnya di dalam kubur, iaitu ibarat orang yang tidur - amat bergantung kepada tinggi tidaknya peratus amal kebaikannya. Demikian pula tinggi atau tidak akan terletak pada tinggi atau rendah nilai kejahatan seseorang manusia itu sewaktu dia hidup di atas dunia. Ini telah pun disepakati oleh alim-ulama. 
Kematian Sebagai Satu Nasihat
Elias Hj Idris
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan. Kematian bakal mengingatkan kita bahwa waktu yang sangat berharga.

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi tempoh waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya?

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakikatnya ia sedang menggiring dirinya ke jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1,

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

 
Hirsi Ali, wanita somalia yang bangga jadi murtad.

Ketika tempoh waktu terbuang sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44,

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa? Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala kisah kehidupan. Apa dan siapa pun watak yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, selesai sudahlah permainan. Semua kembali kepada kehidupan yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita lakonkan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya watak yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat watak sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berlakon sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, watak-watak itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa? Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Tak kira siapa pun dia? Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata, semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu semata-mata.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir pun dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.

Lalu, masih layakkah kita membangga diri ketika kita meraih kejayaan? Masih patutkah kita membangga-banggakan harta yang dimiliki? Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan akan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya lakonan. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika lakonan selesai, harta milik itu pun kembali kepada Allah swt. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa? Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan lakonan yang pernah kita mainkan.

Kematian mengingatkan bahwa hidup ini sementara. Kejayaan dan pencapaian kadang-kadang menghanyutkan manusia kepada sebuah khayalan bahwa dia akan hidup selama-lamanya; sampai bila-bila. Seolah dia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan yang ada di sekelilingnya.

Ketika kematian mulai datang menjengah berupa rambut yang semakin beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin kerepott, barulah dia tersadar. Bahawa, segala-galanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

 
Selepas menjalani hukuman pancung

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga. Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan sentiasa sedar bahwa hidup ini teramat berharga. Hidup tak ubah seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan bersungguh-sungguh. Petani itu khuatir, dia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.


** Petikan daripada: Santritafaqquhfiddin (Daarut-Tauhid, Jakarta).

Bernasib Baik atau Celaka Selepas Mati!
Elias Hj Idris
Kita perlu ingat, memilih agama dan menganuti kepercayaan bukan sama seperti memilih pakaian di pasar raya. Baju yang tidak selesa dipakai atau yang sudah buruk dapat dibuang lalu digantikan dengan yang baru. Kepercayaan beragama membabitkan soal untung nasib - di antara hidup dan mati; antara bernasib baik ataupun celaka selepas mati.

Kita juga perlu ingat bagaimana Allah s.w.t. mengizinkan manusia menganuti apa sahaja kepercayaan. Itulah sifat kemurahan Allah s.w.t. Namun terdapat catatan dalam al-Quran yang dengan tegas menyebutkan bahawa; Agama yang diredai Allah s.w.t. hanyalah Islam!

Gejala murtad begitu menjadi-jadi di kalangan teman-teman kita dan bangsa sendiri. Ia berpunca daripada susur-galur kefahaman agama suci ini yang tidak ada dalam diri; kesan daripada kejayaan dogma sekularisme Turki yang dibawa ke mari oleh Onn Jaafar. Kehidupan mereka yang rutin dan biasa; makan, tidur, berusaha untuk jaya, berkeluarga dan sekadar menunggu masa untuk mati, kemudiannya. Akhirnya, bangsa kita jadi begitu mudah menyanggah Allah s.w.t. ketika berada dalam kejahilan. Mereka menolak Tuhan yang hakiki lalu menerima konsep tuhan yang berbilang-bilang. Nauzubillah.


 

Persoalan ini pernah ditimbulkan oleh seorang doktor falsafah dalam bidang Sains Bioteknologi dari Amerika, Fidelma O’Leary dalam program 'Inside Mecca' terbitan National Geographic. Beliau bertanya, “Kalau benar Jesus itu tuhan kenapa dia mesti menyembah tuhan pula?” Akhirnya beliau memeluk Islam dan pergi menunaikan fardu haji di Mekah bersama-sama dengan dua juta umat yang lain. Di sana dia melihat sendiri keajaiban satu-satunya tempat ibadat di dunia yang tidak pernah pun ditutup kepada orang ramai.

Gejala murtad semakin menjalar dalam masyarakat Melayu sekarang. Asalnya mereka itu menjadi pelarian... pelarian jati diri dengan melupakan asal-usul. Mereka ingin jadi Melayu Baru. Jadi mereka berusaha agar segala-galanya mesti berbentuk baru, termasuk kepercayaan juga. Sedangkan pada hakikatnya bukan zat Allah s.w.t. itu yang tidak betul... tetapi diri mereka yang serba kekurangan! Kejahilan telah menjerumuskan mereka ke jurang tipu-daya syaitan dan pengaruh kebendaan. Mereka sendiri yang tidak faham akan hakikat kehidupan sebenar lalu mencipta kepalsuan.

 

Ia tidak ubah dengan perbuatan mereka yang membentuk batu dan tanah menjadi patung atau mengukirnya daripada kayu dengan tangan mereka. Apabila siap kemudian ditanam pula rasa takut dalam diri sendiri lalu menyembah patung itu semula. Dan paling parah mengikut kajian terbaru, cuma kira-kira 10% saja daripada orang Melayu Malaysia yang masih bersolat. Ini jelas menunjukkan 90% bakinya itu sekadar manusia yang menyerupai haiwan; haiwan berakal dengan kebiasaan rutin di atas tadi; makan, tidur, berusaha untuk jaya, berkeluarga (dan seks juga!) dan sekadar menunggu masa untuk mati - dan masuk neraka!

Jadi, dengan sebab itu saya suka mengajak kita semua agar menelusuri jalan tarikat dan tasauf. Pembinaan jiwa insan mesti dimulakan dari dalam. Di mana ruh iman di dalam itu mahu atau tidak kemudiannya akan memancar keluar lalu menjiwai seluruh tindakan dan perlakuan. Jadi, iman bukan sekadar ditepek-tepek macam kita menempek gambar di blog ini. Bukan.

Mati Ibarat Mimpi


Wallahu Alam Bishshawab.


Moga Bermanfaat.


Insya ALLAH 

.........................................................

No comments: