اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
3X سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Sesungguhnya Aku berniat kerana اللهَ
Tugasan gerak organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Kerdipan Mataku berIstighfar Astaghfirullah (أسْتَغْفِرُاللهَ)
Hatiku berdetik disetiap saat menyebut Subhanallah (سُبْحَانَ اللَّهِ)
Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH (لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله)
Hela Turun Naik Nafasku berzikir Allāhu akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ syukur kepada وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ ...اللهَ
Mati Ibarat Mimpi
Mati Ibarat Mimpi
Elias Hj Idris
Nabi saw telah memberikan misal manusia itu akan mati
seperti tidur. Jadi tidur itu mati kecil. Maka ahli-ahli agama lalu mengambil
perbandingan tidur dengan keadaan mati. Sifat-sifat dan perasaan ruhaniat kita
waktu tidur banyak berbeza dari satu saat ke lain saat; menurut situasi
ketenangan dan kesucian jasmani dan ruhani pada setiap masa. Pada siang hari
kita tenang, banyak beribadat dan tidak terjadi hal-hal yang merugikan manusia
lain, terutama diri sendiri. Maka pada waktu tidur kita akan aman dan tenteram
saja.
Kemudian sebelum tidur itu kita terlebih dahulu solat sunat
atau membaca ayat-ayat suci atau memuji Allah swt dengan cara yang pantas serta
tidur dalam keadaan berwudhu', maka suasana selama kita tidur itu akan beroleh
ketenangan yang baik sekali. Kita pun dapat melihat mimpi-mimpi yang bagus.

Haiwan memang tidak ada perhitungan...
Sebaliknya, dengan tidur tanpa beribadat terlebih dahulu,
apatah lagi dengan tidak memuji Allah swt dan tidak pula berwudhu' - akan
menyebabkan kita bermimpi dengan mimpi-mimpi yang mengerikan serta melihat
hal-hal yang tidak suci dan cukup tidak menyenangkan.
Hayat dunia ini selama beberapa puluh tahun itu cuba kita
kumpulkan jadi satu hari. Maut yang datang kepada kita, kita misalkan dengan tidur
yang menanti hari berbangkit. Maka pada umumnya, semua amal kita selama hidup
bakal menentukan situasi kita dalam tidur yang terakhir itu. Jika jumlah amal
baik kita lebih besar daripada jumlah kejahatan, maka senanglah orang itu di
dalam kuburnya.
Nilai senang dan susahnya di dalam kubur, iaitu ibarat orang
yang tidur - amat bergantung kepada tinggi tidaknya peratus amal kebaikannya.
Demikian pula tinggi atau tidak akan terletak pada tinggi atau rendah nilai
kejahatan seseorang manusia itu sewaktu dia hidup di atas dunia. Ini telah pun
disepakati oleh alim-ulama.
Kematian Sebagai Satu Nasihat
Elias Hj Idris
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua
kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin
dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak
pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak
lari menyimpang.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian
begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang
mungkin sering kita rasakan dan lakukan. Kematian bakal mengingatkan kita bahwa
waktu yang sangat berharga.
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu
mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun
tahu berapa lama lagi tempoh waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir.
Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya?
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada
hakikatnya ia sedang menggiring dirinya ke jurang kebinasaan. Karena tak ada
satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt
mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1,
“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan
mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Hirsi Ali, wanita somalia yang bangga jadi murtad.
Ketika tempoh waktu terbuang sia-sia, dan ajal sudah di
depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan
ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar
ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan
tetap datang tanpa ada perundingan.
Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44,
“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari
(yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang
zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit,
niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”
Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa? Kalau
kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah
akhir segala kisah kehidupan. Apa dan siapa pun watak yang telah dimainkan,
ketika sutradara mengatakan ‘habis’, selesai sudahlah permainan. Semua kembali
kepada kehidupan yang sebenarnya.
Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika
bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita lakonkan. Hingga kapan
pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.
Sebagus-bagusnya watak yang kita mainkan, tak akan pernah
melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat watak sebagai orang kaya.
Silakan kita menangis ketika berlakon sebagai orang miskin yang menderita.
Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir.
Dan, watak-watak itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan
kedalam laci.
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin
bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu,
teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya.
Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.
Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa? Fikih
Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke
liang lahat kecuali kain kafan. Tak kira siapa pun dia? Kaya atau miskin.
Penguasa atau rakyat jelata, semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan
kain kafan. Cuma kain kafan itu semata-mata.
Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir pun dengan tidak
membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.
Lalu, masih layakkah kita membangga diri ketika kita meraih
kejayaan? Masih patutkah kita membangga-banggakan harta yang dimiliki? Kita datang
dengan tidak membawa apa-apa dan akan pergi pun bersama sesuatu yang tak
berharga.
Ternyata, semua hanya lakonan. Dan pemilik sebenarnya hanya
Allah. Ketika lakonan selesai, harta milik itu pun kembali kepada Allah swt.
Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan
apa-apa? Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu,
kehidupan pun berlalu melupakan lakonan yang pernah kita mainkan.
Kematian mengingatkan bahwa hidup ini sementara. Kejayaan
dan pencapaian kadang-kadang menghanyutkan manusia kepada sebuah khayalan bahwa
dia akan hidup selama-lamanya; sampai bila-bila. Seolah dia ingin menyatakan
kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan
kenikmatan yang ada di sekelilingnya.
Ketika kematian mulai datang menjengah berupa rambut yang
semakin beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin kerepott, barulah
dia tersadar. Bahawa, segala-galanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu
bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian
berakhir.
Selepas menjalani hukuman pancung
Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga. Seorang
hamba Allah yang mengingat kematian akan sentiasa sedar bahwa hidup ini teramat
berharga. Hidup tak ubah seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas
akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan
bersungguh-sungguh. Petani itu khuatir, dia tidak mendapat apa-apa ketika
ladang harus dikembalikan.
Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika
menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya
mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun
waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu
yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai
arti kehidupan.
** Petikan daripada: Santritafaqquhfiddin (Daarut-Tauhid,
Jakarta).
Jadi, dengan sebab itu saya suka mengajak kita semua agar
menelusuri jalan tarikat dan tasauf. Pembinaan jiwa insan mesti dimulakan dari
dalam. Di mana ruh iman di dalam itu mahu atau tidak kemudiannya akan memancar
keluar lalu menjiwai seluruh tindakan dan perlakuan. Jadi, iman bukan sekadar
ditepek-tepek macam kita menempek gambar di blog ini. Bukan.
Bernasib Baik atau Celaka Selepas Mati!
Elias Hj Idris
Kita perlu ingat, memilih agama dan menganuti kepercayaan
bukan sama seperti memilih pakaian di pasar raya. Baju yang tidak selesa
dipakai atau yang sudah buruk dapat dibuang lalu digantikan dengan yang baru.
Kepercayaan beragama membabitkan soal untung nasib - di antara hidup dan mati;
antara bernasib baik ataupun celaka selepas mati.
Kita juga perlu ingat bagaimana Allah s.w.t. mengizinkan
manusia menganuti apa sahaja kepercayaan. Itulah sifat kemurahan Allah s.w.t.
Namun terdapat catatan dalam al-Quran yang dengan tegas menyebutkan bahawa;
Agama yang diredai Allah s.w.t. hanyalah Islam!
Gejala murtad begitu menjadi-jadi di kalangan teman-teman
kita dan bangsa sendiri. Ia berpunca daripada susur-galur kefahaman agama suci
ini yang tidak ada dalam diri; kesan daripada kejayaan dogma sekularisme Turki
yang dibawa ke mari oleh Onn Jaafar. Kehidupan mereka yang rutin dan biasa;
makan, tidur, berusaha untuk jaya, berkeluarga dan sekadar menunggu masa untuk
mati, kemudiannya. Akhirnya, bangsa kita jadi begitu mudah menyanggah Allah
s.w.t. ketika berada dalam kejahilan. Mereka menolak Tuhan yang hakiki lalu
menerima konsep tuhan yang berbilang-bilang. Nauzubillah.

Persoalan ini pernah ditimbulkan oleh seorang doktor
falsafah dalam bidang Sains Bioteknologi dari Amerika, Fidelma O’Leary dalam
program 'Inside Mecca' terbitan National Geographic. Beliau bertanya, “Kalau
benar Jesus itu tuhan kenapa dia mesti menyembah tuhan pula?” Akhirnya beliau
memeluk Islam dan pergi menunaikan fardu haji di Mekah bersama-sama dengan dua
juta umat yang lain. Di sana dia melihat sendiri keajaiban satu-satunya tempat
ibadat di dunia yang tidak pernah pun ditutup kepada orang ramai.
Gejala murtad semakin menjalar dalam masyarakat Melayu
sekarang. Asalnya mereka itu menjadi pelarian... pelarian jati diri dengan
melupakan asal-usul. Mereka ingin jadi Melayu Baru. Jadi mereka berusaha agar
segala-galanya mesti berbentuk baru, termasuk kepercayaan juga. Sedangkan pada
hakikatnya bukan zat Allah s.w.t. itu yang tidak betul... tetapi diri mereka
yang serba kekurangan! Kejahilan telah menjerumuskan mereka ke jurang tipu-daya
syaitan dan pengaruh kebendaan. Mereka sendiri yang tidak faham akan hakikat
kehidupan sebenar lalu mencipta kepalsuan.

Ia tidak ubah dengan perbuatan mereka yang membentuk batu
dan tanah menjadi patung atau mengukirnya daripada kayu dengan tangan mereka.
Apabila siap kemudian ditanam pula rasa takut dalam diri sendiri lalu menyembah
patung itu semula. Dan paling parah mengikut kajian terbaru, cuma kira-kira 10%
saja daripada orang Melayu Malaysia yang masih bersolat. Ini jelas menunjukkan
90% bakinya itu sekadar manusia yang menyerupai haiwan; haiwan berakal dengan
kebiasaan rutin di atas tadi; makan, tidur, berusaha untuk jaya, berkeluarga
(dan seks juga!) dan sekadar menunggu masa untuk mati - dan masuk neraka!
Mati Ibarat Mimpi
Wallahu Alam Bishshawab.
Moga Bermanfaat.
Insya ALLAH
.........................................................

No comments:
Post a Comment