اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
Tugasan gerakkerja organ-organ tubuh badanKu kepada اللهَ
Daku Niatkan Tasbih anggota-anggota organ tubuhku buat اللهَ.
Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya KepadaMu Ya اللهَ
Tahmid Dengan Denyutan Nadiku اللهَ (اَلْحَمْدُ ِللهِ) الله
Tahlil Degupan Jantungku لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله) اللهَ )
Takbir Hela Turun Naik Nafasku (اللَّهُ أَكْبَرُ) اللهَ
اَلْحَمْدُ ِللهِ syukur kepadaMU YA اللهَ اللهَ ALLAH اللهَ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ .... اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ ALLAH اللهَ
Kisah Nabi Yunus A.S
Nabi Yunus a.s. ialah salah seorang rasul dan nabi yang diturunkan oleh Allah s.w.t. untuk membimbing manusia ke jalan yang benar.
Kisah Nabi Yunus A.S
Tidak banyak yang dikisahkan oleh Al-Quran tentang Nabi Yunus sebagaimana yang telah dikisahkan tentang nabi-nabi Musa, Yusuf dan lain-lain. Dan sepanjang yang dapat dicatat dan diceritakan oleh para sejarawan dan ahli tafsir tentang Nabi Yunus ialah bahawa beliau bernama Yunus bin Matta. Ia telah diutuskan oleh Allah untuk berdakwah kepada penduduk di sebuah tempat bernama "Ninawa" yang bukan kaumnya dan tidak pula ada ikatan darah dengan mereka. Ia merupakan seorang asing mendatang di tengah-tengah penduduk Ninawa itu. Ia menemui mereka berada di dalam kegelapan, kebodohan dan kekafiran, mereka menyembah berhala menyekutukan kepada Allah.
Nabi Yunus membawa ajaran tauhid
Yunus membawa ajaran tauhid dan iman kepada mereka, mengajak mereka agak menyembah kepada Allah yang telah menciptakan mereka dan menciptakan alam semesta, meninggalkan persembahan mereka kepada berhala-berhala yang mereka buat sendiri dari batu dan berhala-berhala yang tidak dapat membawanya manfaaat atau mudarat bagi mereka.
Ia memperingatkan mereka bahawa mereka sebagai manusia makhluk Allah yang utama yang memperoleh kelebihan di atas makhluk-makhluk yang lain tidak sepatutnya merendahkan diri dengan menundukkan dahi dan wajah mereka menyembah batu-batu mati yang mereka pertuhankan, padahal itu semua buatan mereka sendiri yang kadang-kadang dan dapat dihancurkan dan diubah bentuk dan memodelnya. Ia mengajak mereka berfikir memperhatikan ciptaan Allah di dalam diri mereka sendiri, di dalam alam sekitar untuk menyedarkan mereka bahawa Tuhan pencipta itulah yang patut disembah dan bukannya benda-benda ciptaannya.
Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Kerananya mereka tidak dapat menerimanya untuk menggantikan ajaran dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sudah menjadi adat kebiasaaan mereka turun temurun. Apalagi pembawa agama itu adalah seorang asing tidak seketurunan dengan mereka.
Mereka berkata kepada Nabi Yunus: "Apakah kata-kata yang engkau ucapkan itu dan kedustaan apakah yang engkau anjurkan kepada kami tentang agama barumu itu? Inilah tuhan-tuhan kami yang sejati yang kami sembah dan disembahkan oleh nenek moyamg kami sejak dahulu. Alasan apakah yang membenarkan kami meninggalkan agama kami yang diwariskan oleh nenek moyang kami dan menggantikannya dengan agama barumu? Engkau adalah seorang yang ditengah-tengah kami yang datang untuk merusakkan adat istiadat kami dan mengubah agama kami dan apakah kelebihan kamu diatas kami yang memberimu alasan untuk mengurui dan mengajar kami. Hentikanlah aksimu dan ajak-ajakanmu di daerah kami ini. Percayalah bahawa engkau tidak akan dapat pengikut diantara kami dan bahawa ajaranmu tidak akan mendapat pasaran di antara rakyat Ninawa yang sangat teguh mempertahankan tradisi dan adat istiadat orang-orang tua kami."
Barkata Nabi Yunus menjawab: "Aku hanya mengajak kamu beriman dan bertauhid menurut agama yang aku bawa sebagai amanat Allah yang wajib ku sampaikan kepadamu. Aku hanya seorang pesuruh yang ditugaskan oleh Allah untuk mengangkat kamu dari lembah kesesatan dan kegelapan menuntun kamu ke jalan yang benar dan lurus menyampaikan kepada kamu agama yang suci bersih dari benih-benih kufur dan syirik yang merendahkan martabat manusia yang semata-mata untuk kebaikan kamu sendiri dan kebaikan anak cucumu kelak. Aku sesekali tidak mengharapkan sesuatu upah atau balas jasa daripadamu dan tidak pula menginginkan pangkat atau kedudukan. Aku tidak dapat memaksamu untuk mengikutiku dan melaksanakan ajaran-ajaranku. Aku hanya mengingatkan kepadamu bahawa bila kamu tetap membangkang dan tidak menghiraukan ajakanku , tetap menolak agama Allah yang aku bawa, tetap mempertahankan akidahmu dan agamamu yang bathil dan sesat itu, nescaya Allah kelak akan menunjukkan kepadamu tanda-tanda kebenaran risalahku dengan menurunkan azab seksa-Nya di atas kamu sebagaimana telah dialami oleh kaum terdahulu iaitu kaum Nuh, Aad dan Tsamud sebelum kamu.
Mereka menjawab peringatan Nabi Yunus dengan tentangan seraya mengatakan: "Kami tetap menolak ajakanmu dan tidak akan tunduk pada perintahmu atau mengikut kemahuanmu dan sesekali kami tidak akan takut akan segala ancamanmu. Cubalah datangkan apa yang engkau ancamkan itu kepada kami jika engkau memang benar dalam kata-katamu dan tidak mendustai kami."
Nabi Yunus tidak tahan tinggal dengan lebih lama di tengah-tengah kaum Ninawa yang berkeras kepala dan bersikap buta-tuli menghadapi ajaran dan dakwahnya. Ia lalu meninggalkan Ninawa dengan rasa jengkel dan marah seraya memohon kepada Allah untuk menjatuhkan hukumannya atas orang-orang yang membangkang dan berkeras kepala itu.
Sepeninggalan Nabi Yunus penduduk Ninawa mulai melihat tanda-tanda yang mencemaskan seakan-akan ancaman Nabi Yunus kepada mereka akan menjadi kenyataan dan hukuman Allah akan benar-benar jatuh di atas mereka membawa kehancuran dan kebinasaan sebagaimana yang telah dialami oleh kaum musyrikin penyembah berhala sebelum mereka. Mereka melihat keadaan udara disekeliling Ninawa makin menggelap, binatang-binatang peliharaan mereka nampak tidak tenang dan gelisah, wajah-wajah mereka tanpa disadari menjadi pucat tidak berdarah dan angin dari segala penjuru bertiup dengan kecangnya membawa suara gemuruh yang menakutkan.
Dalam keadaan panik dan ketakutan , sedarlah mereka bahawa Yunus tidak berdusta dalam kata-katanya dan bahawa apa yang diancamkan kepada mereka bukanlah ancaman kosong buatannya sendiri, tetapi ancaman dari Tuhan. Segeralah mereka menyatakan taubat dan memohon ampun atas segala perbuatan mereka, menyatakan beriman dan percaya kepada kebenaran dakwah Nabi Yunus seraya berasa menyesal atas perlakuan dan sikap kasar mereka yang menjadikan beliau marah dan meninggalkan daerah itu.
Untuk menebus dosa, mereka keluar dari kota dan beramai-ramai pergi ke bukit-bukit dan padang pasir, seraya menangis memohon ampun dan rahmat Allah agar dihindarkan dari bencana azab dan seksaan-Nya. Ibu binatang-binatang peliharaan mereka dipisahkan dari anak-anaknya sehingga terdengar suara teriakan binatang-binatang yang terpisah dari ibunya seolah-olah turut memohon keselamatan dari bencana yang sedang mengancam akan tiba menimpa mereka.
Allah yang Maha Mengetahui bahawa hamba-hamba-Nya itu jujur dalam taubatnya dan rasa sesalannya dan bahawa mereka memang benar-benar dan hatinya sudah kembali beriman dan dari hatinya pula memohon dihindarkan dari azab seksa-Nya, berkenan menurunkan rahmat-Nya dan mengurniakan maghfirat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang dengan tulus ikhlas menyatakan bertaubat dan memohon ampun atas segala dosanya. Udara gelap yang meliputi Ninawa menjadi terang, wajah-wajah yang pucat kembali merah dan ebrseri-seri dan binatang-binatang yang gelisah menjadi tenang, kemudian kembalilah orang-orang itu ke kota dan kerumah masing-masing dengan penuh rasa gembira dan syukur kepada Allah yang telah berkenan menerima doa dan permohonan mereka.
Berkatalah mereka didalam hati masing-masing setelah merasa tenang, tenteram dan aman dari malapetaka yang nyaris melanda mereka: "Di manakah gerangan Yunus sekarang berada? Mengapa kami telah tunduk kepada bisikan syaitan dan mengikuti hawa nafsu, menjadikan dia meninggalkan kami dengan rasa marah dan jengkel kerana sikap kami yang menentang dan memusuhinya. Alangkah bahagianya kami andaikan ia masih berada di tengah-tengah kami menuntun dan mengajari kami hal-hal yang membawa kebahagiaan kami di dunia dan di akhirat. Ia adalah benar-benar rasul dan nabi Allah yang telah kami sia-siakan. Semoga Allah mengampuni dosa kami."
Adapun tentang keadaan Nabi Yunus yang telah meninggalkan kota Ninawa secara mendadak, maka ia berjalan kaki mengembara naik gunung turun gunung tanpa tujuan. Tanpa disadari ia tiba-tiba berada disebuah pantai melihat sekelompok orang yang lagi bergegas-gegas hendak menumpang sebuah kapal. Ia minta dari pemilik kapal agar diperbolehkan ikut serta bersama lain-lain penumpang. Kapal segera melepaskan sauhnya dan meluncur dengan lajunya ke tengah laut yang tenang. Ketenangan laut itu tidak dapat bertahan lama, kerana sekonyong-konyong tergoncang dan terayunlah kapal itu oleh gelombang besar yang datang mendadak diikuti oleh tiupan angin taufan yang kencang, sehingga menjadikan juru mudi kapal berserta seluruh penumpangnya berada dalan keadaan panik ketakutan melihat keadaan kapal yang sudah tidak dapat dikuasai keseimbangannya.
Para penumpang dan juru mudi melihat tidak ada jalan untuk menyelamatkan keadaan jika keadaan cuaca tetap mengganas dan tidak mereda, kecuali dengan jalan meringankan beban berat muatan dengan mengorbankan salah seorang daripada para penumpang. Undian lalu dilaksanakan untuk menentukan siapakah di antara penumpang yang harus dikorbankan. Pada tarik pertama keluarlah nama Yunus, seorang penumpang yang mereka paling hormati dan cintai, sehingga mereka semua merasa berat untuk melemparkannya ke laut menjadi mangsa ikan.
Kemudian diadakanlah undian bagi kali kedua dengan masing-masing penumpang mengharapkan jangan sampai keluar lagi nama Yunus yang mereka sayangi itu, namun melesetlah harapan mereka dan keluarlah nama Yunus kembali pada undian yang kedua itu. Demikianlah bagi undian bagi kali yang ketiganya yang disepakati sebagai yang terakhir dan yang menentukan nama Yunuslah yang muncul yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan kapal dan para penumpang yang lain.
Nabi Yunus yang dengan telitinya memperhatikan sewaktu undian dibuat merasa bahawa keputusan undian itu adalah kehendak Allah yang tidak dapat ditolaknya yang mungkin didalamnya terselit hikmah yang ia belum dapat menyelaminya. Yunus sedar pula pada saat itu bahawa ia telah melakukan dosa dengan meninggalkan Ninawa sebelum memperoleh perkenan Allah, sehingga mungkin keputusan undian itu adalah sebagai penebusan dosa yang ia lakukan itu. Kemudian ia beristikharah menghenimgkan cipta sejenak dan tanpa ragu segera melemparkan dirinya ke laut yang segera diterima oleh lipatan gelombang yang sedang mengamuk dengan dahsyatnya di bawah langit yang kelam-pekat.
Nabi Yunus ditelan ikan paus (ikan Nun)
Selagi Nabi Yunus berjuang melawan gelombang yang mengayun-ayunkannya, Allah mewahyukan kepada seekor ikan paus (ikan Nun) untuk menelannya bulat-bulat dan menyimpangnya di dalam perut sebagai amanat Tuhan yang harus dikembalikannya utuh tidak tercedera kelak bila saatnya tiba.
Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan paus yang membawanya memecah gelombang timbul dan tenggelam ke dasar laut merasa sesak dada dan bersedih hati seraya memohon ampun kepada Allah atas dosa dan tindakan yang salah yang dilakukannya tergesa-gesa. Ia berseru didalam kegelapan perut ikan paus itu: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau, Maha sucilah Engkau dan sesungguhnya aku telah berdosa dan menjadi salah seorang dari mereka yang zalim."
Setelah selesai menjalani hukuman Allah , selama beberapa waktu yang telah ditentukan, ditumpahkanlah Nabi Yunus oleh ikan paus itu yang mengandungnya dan dilemparkannya ke darat . Ia terlempar dari mulut ikan ke pantai dalam keadaan kurus lemah dan sakit. Akan tetapi Allah dengan rahmat-Nya menumbuhkan di tempat ia terdampar sebuah pohon labu yang dapat menaungi Yunus dengan daun-daunnya dan menikmati buahnya.
Nabi Yunus setelah sembuh dan menjadi segar kembali diperintahkan oleh Allah agar pergi kembali mengunjungi Ninawa di mana seratus ribu lebih penduduknya mendamba-dambakan kedatangannya untuk memimpin mereka dan memberi tuntunan lebih lanjut untuk menyempurnakan iman dan aqidah mereka. Dan alangkah terkejutnya Nabi Yunus tatkala masuk Ninawa dan tidak melihat satu pun patung berhala berdiri. Sebaliknya ia menemui orang-orang yang dahulunya berkeras kepala menentangnya dan menolak ajarannya dan kini sudah menjadi orang-orang mukmin, soleh dan beribadah memuja-muji Allah s.w.t.
Pokok cerita tentang Yunus terurai di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah Yunus ayat 98, surah Al-Anbiaa' ayat 87, 88 dan surah Ash-Shaffaat ayat 139 sehingga ayat 148.
Pengajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yunus.
Bahawasannya seorang yang bertugas sebagai da'i - juru dakwah harus memiliki kesabaran dan tidak boleh cepat-cepat marah dan berputus asa bila dakwahnya tidak dapat sambutan yang selayaknya atau tidak segera diterima oleh orang-orang yang didakwahinya. Dalam keadaan demikian ia harus bersabar mengawal emosinya serta tetap meneruskan dakwahnya dengan bersikap bijaksana dan lemah lembut, sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 125 yang bermaksud : "Serulah, berdakwahlah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik { sopan dan lemah lembut } ."
Di dalam diri Nabi Yunus Allah telah memberi contoh betapa ia telah disesalkan atas tindakannya yang tergesa-gesa kerana kehilangan kesabaran, meninggalkan kaum Ninawa, padahal mereka masih dapat disedarkan untuk menerima ajakannya andaikan ia tidak terburu-buru marah dan meninggalkan mereka tanpa berunding lebih dahulu dengan Allah yang telah mengutusnya.
Atas pelanggaran yang telah dilakukan tanpa sedar Allah telah memberi hukuman kepada Nabi Yunus berupa kurungan dalam perut ikan paus sebagai peringatan dan pengajaran agar tidak terulang lagi setelah ia diberi ampun dan disuruh kembali ke Ninawa melanjutkan dakwahnya.


Mengikut logik, tiada manusia yang boleh hidup dalam keadaan begitu. Bagaimanapun, satu ibadat yang tidak pernah ditinggalkan Nabi Yunus ketika menghadapi saat-saat sukar serta berada dalam suasana gelap gelita di dalam perut ikan Nun itu adalah zikir.
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ .... اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ ALLAH اللهَ
Kisah Nabi Yunus A.S
Kisah Nabi Yunus A.S
Nabi Yunus a.s. ialah salah seorang rasul dan nabi yang diturunkan oleh Allah s.w.t. untuk membimbing manusia ke jalan yang benar.
Kisah Nabi Yunus A.S
Tidak banyak yang dikisahkan oleh Al-Quran tentang Nabi Yunus sebagaimana yang telah dikisahkan tentang nabi-nabi Musa, Yusuf dan lain-lain. Dan sepanjang yang dapat dicatat dan diceritakan oleh para sejarawan dan ahli tafsir tentang Nabi Yunus ialah bahawa beliau bernama Yunus bin Matta. Ia telah diutuskan oleh Allah untuk berdakwah kepada penduduk di sebuah tempat bernama "Ninawa" yang bukan kaumnya dan tidak pula ada ikatan darah dengan mereka. Ia merupakan seorang asing mendatang di tengah-tengah penduduk Ninawa itu. Ia menemui mereka berada di dalam kegelapan, kebodohan dan kekafiran, mereka menyembah berhala menyekutukan kepada Allah.
Nabi Yunus membawa ajaran tauhid
Yunus membawa ajaran tauhid dan iman kepada mereka, mengajak mereka agak menyembah kepada Allah yang telah menciptakan mereka dan menciptakan alam semesta, meninggalkan persembahan mereka kepada berhala-berhala yang mereka buat sendiri dari batu dan berhala-berhala yang tidak dapat membawanya manfaaat atau mudarat bagi mereka.
Ia memperingatkan mereka bahawa mereka sebagai manusia makhluk Allah yang utama yang memperoleh kelebihan di atas makhluk-makhluk yang lain tidak sepatutnya merendahkan diri dengan menundukkan dahi dan wajah mereka menyembah batu-batu mati yang mereka pertuhankan, padahal itu semua buatan mereka sendiri yang kadang-kadang dan dapat dihancurkan dan diubah bentuk dan memodelnya. Ia mengajak mereka berfikir memperhatikan ciptaan Allah di dalam diri mereka sendiri, di dalam alam sekitar untuk menyedarkan mereka bahawa Tuhan pencipta itulah yang patut disembah dan bukannya benda-benda ciptaannya.
Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Kerananya mereka tidak dapat menerimanya untuk menggantikan ajaran dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sudah menjadi adat kebiasaaan mereka turun temurun. Apalagi pembawa agama itu adalah seorang asing tidak seketurunan dengan mereka.
Mereka berkata kepada Nabi Yunus: "Apakah kata-kata yang engkau ucapkan itu dan kedustaan apakah yang engkau anjurkan kepada kami tentang agama barumu itu? Inilah tuhan-tuhan kami yang sejati yang kami sembah dan disembahkan oleh nenek moyamg kami sejak dahulu. Alasan apakah yang membenarkan kami meninggalkan agama kami yang diwariskan oleh nenek moyang kami dan menggantikannya dengan agama barumu? Engkau adalah seorang yang ditengah-tengah kami yang datang untuk merusakkan adat istiadat kami dan mengubah agama kami dan apakah kelebihan kamu diatas kami yang memberimu alasan untuk mengurui dan mengajar kami. Hentikanlah aksimu dan ajak-ajakanmu di daerah kami ini. Percayalah bahawa engkau tidak akan dapat pengikut diantara kami dan bahawa ajaranmu tidak akan mendapat pasaran di antara rakyat Ninawa yang sangat teguh mempertahankan tradisi dan adat istiadat orang-orang tua kami."
Barkata Nabi Yunus menjawab: "Aku hanya mengajak kamu beriman dan bertauhid menurut agama yang aku bawa sebagai amanat Allah yang wajib ku sampaikan kepadamu. Aku hanya seorang pesuruh yang ditugaskan oleh Allah untuk mengangkat kamu dari lembah kesesatan dan kegelapan menuntun kamu ke jalan yang benar dan lurus menyampaikan kepada kamu agama yang suci bersih dari benih-benih kufur dan syirik yang merendahkan martabat manusia yang semata-mata untuk kebaikan kamu sendiri dan kebaikan anak cucumu kelak. Aku sesekali tidak mengharapkan sesuatu upah atau balas jasa daripadamu dan tidak pula menginginkan pangkat atau kedudukan. Aku tidak dapat memaksamu untuk mengikutiku dan melaksanakan ajaran-ajaranku. Aku hanya mengingatkan kepadamu bahawa bila kamu tetap membangkang dan tidak menghiraukan ajakanku , tetap menolak agama Allah yang aku bawa, tetap mempertahankan akidahmu dan agamamu yang bathil dan sesat itu, nescaya Allah kelak akan menunjukkan kepadamu tanda-tanda kebenaran risalahku dengan menurunkan azab seksa-Nya di atas kamu sebagaimana telah dialami oleh kaum terdahulu iaitu kaum Nuh, Aad dan Tsamud sebelum kamu.
Mereka menjawab peringatan Nabi Yunus dengan tentangan seraya mengatakan: "Kami tetap menolak ajakanmu dan tidak akan tunduk pada perintahmu atau mengikut kemahuanmu dan sesekali kami tidak akan takut akan segala ancamanmu. Cubalah datangkan apa yang engkau ancamkan itu kepada kami jika engkau memang benar dalam kata-katamu dan tidak mendustai kami."
Nabi Yunus tidak tahan tinggal dengan lebih lama di tengah-tengah kaum Ninawa yang berkeras kepala dan bersikap buta-tuli menghadapi ajaran dan dakwahnya. Ia lalu meninggalkan Ninawa dengan rasa jengkel dan marah seraya memohon kepada Allah untuk menjatuhkan hukumannya atas orang-orang yang membangkang dan berkeras kepala itu.
Sepeninggalan Nabi Yunus penduduk Ninawa mulai melihat tanda-tanda yang mencemaskan seakan-akan ancaman Nabi Yunus kepada mereka akan menjadi kenyataan dan hukuman Allah akan benar-benar jatuh di atas mereka membawa kehancuran dan kebinasaan sebagaimana yang telah dialami oleh kaum musyrikin penyembah berhala sebelum mereka. Mereka melihat keadaan udara disekeliling Ninawa makin menggelap, binatang-binatang peliharaan mereka nampak tidak tenang dan gelisah, wajah-wajah mereka tanpa disadari menjadi pucat tidak berdarah dan angin dari segala penjuru bertiup dengan kecangnya membawa suara gemuruh yang menakutkan.
Dalam keadaan panik dan ketakutan , sedarlah mereka bahawa Yunus tidak berdusta dalam kata-katanya dan bahawa apa yang diancamkan kepada mereka bukanlah ancaman kosong buatannya sendiri, tetapi ancaman dari Tuhan. Segeralah mereka menyatakan taubat dan memohon ampun atas segala perbuatan mereka, menyatakan beriman dan percaya kepada kebenaran dakwah Nabi Yunus seraya berasa menyesal atas perlakuan dan sikap kasar mereka yang menjadikan beliau marah dan meninggalkan daerah itu.
Untuk menebus dosa, mereka keluar dari kota dan beramai-ramai pergi ke bukit-bukit dan padang pasir, seraya menangis memohon ampun dan rahmat Allah agar dihindarkan dari bencana azab dan seksaan-Nya. Ibu binatang-binatang peliharaan mereka dipisahkan dari anak-anaknya sehingga terdengar suara teriakan binatang-binatang yang terpisah dari ibunya seolah-olah turut memohon keselamatan dari bencana yang sedang mengancam akan tiba menimpa mereka.
Allah yang Maha Mengetahui bahawa hamba-hamba-Nya itu jujur dalam taubatnya dan rasa sesalannya dan bahawa mereka memang benar-benar dan hatinya sudah kembali beriman dan dari hatinya pula memohon dihindarkan dari azab seksa-Nya, berkenan menurunkan rahmat-Nya dan mengurniakan maghfirat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang dengan tulus ikhlas menyatakan bertaubat dan memohon ampun atas segala dosanya. Udara gelap yang meliputi Ninawa menjadi terang, wajah-wajah yang pucat kembali merah dan ebrseri-seri dan binatang-binatang yang gelisah menjadi tenang, kemudian kembalilah orang-orang itu ke kota dan kerumah masing-masing dengan penuh rasa gembira dan syukur kepada Allah yang telah berkenan menerima doa dan permohonan mereka.
Berkatalah mereka didalam hati masing-masing setelah merasa tenang, tenteram dan aman dari malapetaka yang nyaris melanda mereka: "Di manakah gerangan Yunus sekarang berada? Mengapa kami telah tunduk kepada bisikan syaitan dan mengikuti hawa nafsu, menjadikan dia meninggalkan kami dengan rasa marah dan jengkel kerana sikap kami yang menentang dan memusuhinya. Alangkah bahagianya kami andaikan ia masih berada di tengah-tengah kami menuntun dan mengajari kami hal-hal yang membawa kebahagiaan kami di dunia dan di akhirat. Ia adalah benar-benar rasul dan nabi Allah yang telah kami sia-siakan. Semoga Allah mengampuni dosa kami."
Adapun tentang keadaan Nabi Yunus yang telah meninggalkan kota Ninawa secara mendadak, maka ia berjalan kaki mengembara naik gunung turun gunung tanpa tujuan. Tanpa disadari ia tiba-tiba berada disebuah pantai melihat sekelompok orang yang lagi bergegas-gegas hendak menumpang sebuah kapal. Ia minta dari pemilik kapal agar diperbolehkan ikut serta bersama lain-lain penumpang. Kapal segera melepaskan sauhnya dan meluncur dengan lajunya ke tengah laut yang tenang. Ketenangan laut itu tidak dapat bertahan lama, kerana sekonyong-konyong tergoncang dan terayunlah kapal itu oleh gelombang besar yang datang mendadak diikuti oleh tiupan angin taufan yang kencang, sehingga menjadikan juru mudi kapal berserta seluruh penumpangnya berada dalan keadaan panik ketakutan melihat keadaan kapal yang sudah tidak dapat dikuasai keseimbangannya.
Para penumpang dan juru mudi melihat tidak ada jalan untuk menyelamatkan keadaan jika keadaan cuaca tetap mengganas dan tidak mereda, kecuali dengan jalan meringankan beban berat muatan dengan mengorbankan salah seorang daripada para penumpang. Undian lalu dilaksanakan untuk menentukan siapakah di antara penumpang yang harus dikorbankan. Pada tarik pertama keluarlah nama Yunus, seorang penumpang yang mereka paling hormati dan cintai, sehingga mereka semua merasa berat untuk melemparkannya ke laut menjadi mangsa ikan.
Kemudian diadakanlah undian bagi kali kedua dengan masing-masing penumpang mengharapkan jangan sampai keluar lagi nama Yunus yang mereka sayangi itu, namun melesetlah harapan mereka dan keluarlah nama Yunus kembali pada undian yang kedua itu. Demikianlah bagi undian bagi kali yang ketiganya yang disepakati sebagai yang terakhir dan yang menentukan nama Yunuslah yang muncul yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan kapal dan para penumpang yang lain.
Nabi Yunus yang dengan telitinya memperhatikan sewaktu undian dibuat merasa bahawa keputusan undian itu adalah kehendak Allah yang tidak dapat ditolaknya yang mungkin didalamnya terselit hikmah yang ia belum dapat menyelaminya. Yunus sedar pula pada saat itu bahawa ia telah melakukan dosa dengan meninggalkan Ninawa sebelum memperoleh perkenan Allah, sehingga mungkin keputusan undian itu adalah sebagai penebusan dosa yang ia lakukan itu. Kemudian ia beristikharah menghenimgkan cipta sejenak dan tanpa ragu segera melemparkan dirinya ke laut yang segera diterima oleh lipatan gelombang yang sedang mengamuk dengan dahsyatnya di bawah langit yang kelam-pekat.
Nabi Yunus ditelan ikan paus (ikan Nun)
Selagi Nabi Yunus berjuang melawan gelombang yang mengayun-ayunkannya, Allah mewahyukan kepada seekor ikan paus (ikan Nun) untuk menelannya bulat-bulat dan menyimpangnya di dalam perut sebagai amanat Tuhan yang harus dikembalikannya utuh tidak tercedera kelak bila saatnya tiba.
Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan paus yang membawanya memecah gelombang timbul dan tenggelam ke dasar laut merasa sesak dada dan bersedih hati seraya memohon ampun kepada Allah atas dosa dan tindakan yang salah yang dilakukannya tergesa-gesa. Ia berseru didalam kegelapan perut ikan paus itu: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau, Maha sucilah Engkau dan sesungguhnya aku telah berdosa dan menjadi salah seorang dari mereka yang zalim."
Setelah selesai menjalani hukuman Allah , selama beberapa waktu yang telah ditentukan, ditumpahkanlah Nabi Yunus oleh ikan paus itu yang mengandungnya dan dilemparkannya ke darat . Ia terlempar dari mulut ikan ke pantai dalam keadaan kurus lemah dan sakit. Akan tetapi Allah dengan rahmat-Nya menumbuhkan di tempat ia terdampar sebuah pohon labu yang dapat menaungi Yunus dengan daun-daunnya dan menikmati buahnya.
Nabi Yunus setelah sembuh dan menjadi segar kembali diperintahkan oleh Allah agar pergi kembali mengunjungi Ninawa di mana seratus ribu lebih penduduknya mendamba-dambakan kedatangannya untuk memimpin mereka dan memberi tuntunan lebih lanjut untuk menyempurnakan iman dan aqidah mereka. Dan alangkah terkejutnya Nabi Yunus tatkala masuk Ninawa dan tidak melihat satu pun patung berhala berdiri. Sebaliknya ia menemui orang-orang yang dahulunya berkeras kepala menentangnya dan menolak ajarannya dan kini sudah menjadi orang-orang mukmin, soleh dan beribadah memuja-muji Allah s.w.t.
Pokok cerita tentang Yunus terurai di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah Yunus ayat 98, surah Al-Anbiaa' ayat 87, 88 dan surah Ash-Shaffaat ayat 139 sehingga ayat 148.
Pengajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yunus.
Bahawasannya seorang yang bertugas sebagai da'i - juru dakwah harus memiliki kesabaran dan tidak boleh cepat-cepat marah dan berputus asa bila dakwahnya tidak dapat sambutan yang selayaknya atau tidak segera diterima oleh orang-orang yang didakwahinya. Dalam keadaan demikian ia harus bersabar mengawal emosinya serta tetap meneruskan dakwahnya dengan bersikap bijaksana dan lemah lembut, sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 125 yang bermaksud : "Serulah, berdakwahlah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik { sopan dan lemah lembut } ."
Di dalam diri Nabi Yunus Allah telah memberi contoh betapa ia telah disesalkan atas tindakannya yang tergesa-gesa kerana kehilangan kesabaran, meninggalkan kaum Ninawa, padahal mereka masih dapat disedarkan untuk menerima ajakannya andaikan ia tidak terburu-buru marah dan meninggalkan mereka tanpa berunding lebih dahulu dengan Allah yang telah mengutusnya.
Atas pelanggaran yang telah dilakukan tanpa sedar Allah telah memberi hukuman kepada Nabi Yunus berupa kurungan dalam perut ikan paus sebagai peringatan dan pengajaran agar tidak terulang lagi setelah ia diberi ampun dan disuruh kembali ke Ninawa melanjutkan dakwahnya.

Nabi Yunus Dalam Perut Ikan NUN
RAKAMAN peristiwa Nabi Yunus a.s. dalam perut ikan Nun menjadi satu teladan utama untuk kita memahami dengan lebih dekat lagi akan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Mengimbas kembali saat undian untuk keluar daripada kapal dan terjun ke dalam laut, maka Nabi Yunus a.s. yang telah ditakdirkan menjadi pilihan Allah, telah terjun dengan rela ke dalam laut lalu ditelan oleh ikan Nun dengan izin Allah.
Pada kali ini, Ustaz Muhammad Syaari Ab Rahman dalam rancangan Ibrah, Isnin lalu telah menyandarkan kisah ini menerusi Surah Al-Anbiya ayat 87 yang bermaksud, “Dan (sebutkanlah peristiwa) Zun-Nun, ketika ia pergi (meninggalkan kaumnya) dalam keadaan marah, yang menyebabkan ia menyangka bahawa Kami tidak akan mengenakannya kesusahan atau cubaan; (setelah berlaku kepadanya apa yang berlaku) maka dia pun menyeru dalam keadaan yang gelap-gelita dengan berkata: “Sesungguhnya tiada Tuhan (yang dapat menolong) melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolongkanlah daku)! Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.
Kemarahan Nabi Yunus a.s. meninggalkan kaumnya menjadi teguran Allah kepada rasulnya itu. Walaupun demikian, teguran Allah itu membuktikan kepada Nabi Yunus bahawa nikmat dan hidayah itu adalah kehendak Allah SWT dan kamu (Nabi Yunus) pun tidak boleh memaksa untuk orang beriman kepada-Nya.
Dalam keadaan kegelapan itulah suara seorang lelaki yang dirakamkan Allah SWT dalam perut ikan Nun bertasbih memuji Allah dan memohon ampun di atas kelalaiannya. Para ulama memberikan perincian bagaimana keadaan kegelapan yang dihadapi oleh Nabi Yunus a.s. itu.
Ibnu Kathir dan Ibn Mas’ud mengatakan bahawa kegelapan itu terdiri daripada tiga kegelapan yang nyata. Pertama, kegelapan di dalam perut ikan itu sendiri yang sempit. Kedua, kegelapan itu juga di dalam keadaan gelap di dasar lautan, dan ketiga pula kegelapan tanpa apa-apa cahaya seperti gelapnya malam.
Lafaz doa dan rayuan daripada Nabi Yunus a.s. seperti yang dirakamkan dalam al-Quran yang bermaksud, “Sesungguhnya tiada Tuhan (yang dapat menolong) melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolongkanlah daku)! Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri” menjadi satu daripada teladan utama kita mendidik jiwa untuk melafazkannya sewaktu ditimpa ujian dan musibah.
Nabi Yunus a.s. telah mengakui kesilapannya dan memohon keampunan daripada Allah swt. Ingatkah lagi kita peristiwa musibah yang ditimpakan sahabat-sahabat kita di Pantai Timur baru-baru ini? Apakah kita benar-benar menginsafi peristiwa tersebut dan menyedari kesalahan yang kita telah lakukan?
Para ulama berbeza pandangan, tentang lamanya masa dan tempoh Nabi Yunus a.s. berada di dalam perut ikan Nun itu. Ada yang mengatakan sama ada dalam tempoh 3 hari, 1 minggu dan 40 hari. Walau bagaimanapun, teladan kisah ini melalui kisah Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Yunus itu.
Firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 88 yang bermaksud, “Maka Kami kabulkan permohonan doanya, dan Kami selamatkan dia dari kesusahan yang menyelubunginya; dan sebagaimana Kami menyelamatkannya Kami akan selamatkan orang-orang yang beriman (ketika mereka merayu kepada Kami).
Tasbih yang diucapkan oleh Nabi Yunus a.s. itu diterima oleh Allah sebagai salah satu daripada kekuatan dan perkenan-Nya untuk mengeluarkan Baginda daripada perut ikan Nun itu. Sekiranya tiadalah Nabi Yunus itu untuk mengingati Allah dengan zikir dan tasbih, tentu tidak akan terselamat dirinya daripada ujian itu.
Sebagaimana yang dinyatakan menerusi Surah As-Soffat ayat 143 dan 144, “Maka kalaulah dia bukan dari orang-orang yang sentiasa mengingati Allah (dengan zikir dan tasbih), tentulah dia (Nabi Yunus) akan tinggal di dalam perut ikan itu hingga ke hari manusia dibangkitkan keluar dari kubur.”
Nabi Yunus pun telah dicampak keluar daripada perut ikan ke daerah yang tandus (kontang). Ibnu Mas’ud menyatakan keadaan Nabi Yunus pada waktu itu seperti burung yang tiada bulu pada dirinya. Keadaan yang dihadapi oleh baginda itu adalah sunatullah kerana logiknya memang berada di dalam perut ikan yang sempit dan dahsyat kegelapannya.
Kemudian, Allah telah menurunkan keajaiban kedua dengan memberikan tenaga pemulihan melalui tumbuhnya sejenis pokok yang berdaun lebar sebagai melindungi. Ibnu Abbas menyatakan pokok itu adalah pokok labu kerana pokok itu mempunyai khasiat untuk memperbaiki kerosakan kulit.
Ini sebagaimana firman Allah dalam Surah As-Soffat ayat 145 dan 146 yang bermaksud, “Oleh itu Kami campakkan dia keluar (dari perut ikan) ke tanah yang tandus (di tepi pantai), sedang dia berkeadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan (untuk melindunginya) sebatang pokok yang berdaun lebar.”
Ibnu Kathir menyebut di dalam tafsirnya bahawa daun pokok itu di dalam keadaan rendang serta buahnya di dalam keadaan baik (tidak tua dan muda) serta tidak terlalu mentah dan terlalu masak.
Kemudian, kembalilah Nabi Yunus a.s. kepada kaumnya yang beriman kepada Allah SWT. Firman Allah Taala yang bermaksud, “Dan (Nabi Yunus yang tersebut kisahnya itu) Kami utuskan kepada (kaumnya yang seramai) seratus ribu atau lebih. (Setelah berlaku apa yang berlaku) maka mereka pun beriman, lalu Kami biarkan mereka menikmati kesenangan hidup hingga ke suatu masa (yang ditetapkan bagi masing-masing).” (Surah As-Soffat ayat 147-148)
Demikianlah Allah memperihalkan tarbiah utama kepada Nabi Yunus a.s. untuk tidak meninggalkan kaumnya biarpun ujian besar menimpa kepadanya kerana dakwah yang dilaksanakan tidak dihiraukan. Peristiwa ini mendidik para pendakwah untuk terus berjuang walau apa juga keadaan sekalipun berlaku kerana hidayah itu adalah milik Allah SWT. Benarlah bahawa doa itu sebagai senjata utama orang mukmin.
Rencana ini telah disiarkan dalam segmen Agama akhbar Berita Harian edisi 10 Februari 20
Berkat zikir Nabi Yunus dalam perut ikan NUN

Mengikut logik, tiada manusia yang boleh hidup dalam keadaan begitu. Bagaimanapun, satu ibadat yang tidak pernah ditinggalkan Nabi Yunus ketika menghadapi saat-saat sukar serta berada dalam suasana gelap gelita di dalam perut ikan Nun itu adalah zikir.
Nabi Yunus berdoa kepada Allah SWT, La ilaha illa
anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin yang bermaksud: “Tiada Tuhan
melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah daripada
orang-orang yang menganiaya diri sendiri.”
Setiap zikir yang diamalkan, bahkan ibadat lain
termasuk membaca al-Quran, solat dan doa kita akan diangkat ke langit.
Ada zikir yang naik sehingga langit pertama saja
kemudian ia akan hilang. Bagaimanapun, zikir para nabi akan naik dari langit
pertama hingga ketujuh, malah dikenali oleh seluruh penduduk di langit.
Sebab itu, ada orang jasadnya berjalan di atas muka
bumi tetapi namanya sentiasa disebut dan dikenali seluruh penduduk langit.
Nabi Yunus adalah seorang yang cukup terkenal di
langit. Ketika Nabi Yunus berterusan berzikir, ia naik ke langit dan suaranya
itu sangat dikenali semua malaikat.
Bagaimanapun, zikir yang diungkapkan itu datangnya
dari tempat yang pelik iaitu Nabi Yunus berzikir dari dalam perut ikan Nun yang
terletak di dasar laut.
Sebab itulah penting sekali memanjatkan doa serta
merayu kepada Allah SWT supaya menerima segala amal ibadat yang kita lakukan.
Allah SWT turut merakamkan keadaan zikir Nabi Yunus
itu. Allah SWT menyatakan di dalam al-Quran, sekiranya Nabi Yunus tidak
memperbanyakkan zikirnya, maka baginda tidak akan diselamatkan oleh-Nya.
Seperkara lagi hakikat yang manusia perlu ingat dan
dijadikan panduan untuk selalu melazimi amalan berzikir. Tidak kira apa saja
makhluk yang berada di atas muka bumi ini turut berzikir kepada Allah SWT dengan
cara mereka sendiri yang tidak difahami manusia.
Firman Allah SWT yang bermaksud: “Langit yang tujuh
dan bumi serta sekalian makhluk yang ada padanya, sentiasa mengucapkan tasbih
bagi Allah dan tiada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, akan
tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Ia adalah Maha
Penyabar, lagi Maha Pengampun. (Surah al-Israa’, ayat 44)
Artikel ini disiarkan pada : Rabu, 2 January 2019 @
1:30 AM
Kisah Nabi Yunus Dan Kelebihan Zikir Nabi Yunus
“Laa ila ha illa anta, subhaanaka innii, kuntu minazzolimin”
Ertinya: Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguhnya, aku termasuk dalam orang-orang yang zalim.
Pernahkah anda mendengar atau membaca zikir ini?
Ia dikenali sebagai zikir Nabi Yunus, dan merupakan zikir yang dibaca oleh Nabi Yunus A.S. ketika Baginda berada dalam perut ikan nun. Ia juga dikenali sebagai Doa Nabi Yunus.
Disebabkan zikir ini juga, Allah S.W.T. telah menyelamatkannya, yang akhirnya membolehkannya keluar dari perut ikan yang menelannya itu.
Zikir ini mengandungi kelebihan yang amat baik jika kita mengamalkannya, iaitu manfaat dikeluarkan kita daripada kesusahan atau bencana.
Namun, sebelum kita bercakap mengenai kelebihan zikir ini, apa kata kita mengimbau serba sedikit mengenai kisah Nabi Yunus A.S. yang ditelan ikan nun kerana ia mempunyai banyak pengajaran yang boleh kita ambil.
Kisah Nabi Yunus ditelan ikan nun
Diceritakan seperti dalam al-Quran mengenai kisah ini, di mana Nabi Yunus diutuskan oleh Allah S.W.T. untuk berdakwah kepada kaumnya. Kaum Baginda sangat ingkar dan enggan beriman kepada Allah, sehingga membuatkan Nabi Yunus berasa amat marah kepada mereka dan membuat keputusan untuk meninggalkan kaumnya.
Di sini, pengajaran pertama yang kita dapat ambil adalah Allah telah memerintahkan Nabi Yunus untuk berdakwah kepada kaumnya, dan tidak menurunkan perintah untuk Baginda meninggalkan mereka. Namun, disebabkan perasaan marah, Nabi Yunus meninggalkan kaumnya tanpa disuruh Allah.
“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahawa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘ Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk dalam orang-orang yang zalim.” (Surah al-Anbiya’ ayat 87).
Baginda seterusnya menumpang di atas sebuah kapal yang berlayar. Pada suatu ketika, di saat kapal hampir karam akibat laut bergelora, anak-anak kapal terpaksa mengambil keputusan untuk membuang banyak peralatan kapal termasuk penumpang untuk mengelakkan kapal karam.
Atas hikmah Allah untuk memberi pengajaran, ketika sesi cabutan undi untuk menentukan siapa yang perlu terjun dari kapal tersebut, nama Nabi Yunus A.S. yang muncul sebagai orang yang perlu terjun dari kapal.
Maka, Baginda pun terjun dari kapal hingga akhirnya ditakdirkan pula oleh Allah S.W.T. Baginda ditelan oleh seekor ikan nun yang besar.
Ketika tersedar, Baginda sudah pun berada dalam perut ikan, dan ikan tersebut membawanya jauh ke dasar lautan membelah kegelapan malam.
Maka, ketika itu Nabi Yunus berasa amat takut kerana berada dalam kegelapan di dalam perut ikan sehingga Baginda mula menangis.
Setelah itu, Baginda mula bertasbih dan berzikir kepada Allah S.W.T. dengan bersungguh-sungguh dan tidak berhenti sehinggakan tidak makan, tidak minum dan tidak bergerak. Baginda hanya berpuasa, dan hanya berbuka puasa dengan bertasbih.
Ketika inilah Nabi Yunus A.S. membaca zikir di atas, dan beliau benar-benar bertaubat kepada Allah S.W.T. serta menangis tanpa henti.
Melihatkan kesungguhan dan ketulusan hati Nabi Yunus A.S, Allah S.W.T. menerima taubat Baginda dan memerintahkan ikan nun tersebut untuk mengeluarkan Baginda daripada perutnya pada ketika Baginda mulai sakit-sakit berada dalam perut ikan itu.
Akhirnya, ikan nun tersebut berenang ke sebuah pulau, dan ia lantas memuntahkan isi perutnya sehingga keluarlah Nabi Yunus dari perutnya.
Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut undi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, nescaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, kerena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (Surah as-Saffat ayat 139-148).
Justeru, daripada kisah Nabi Yunus ini, banyak pengajaran yang dapat kita ambil. Sedangkan nabi pun diuji sebegitu, apatah lagi kita yang hanya manusia biasa. Apabila kita diuji, hanya satu tempat sahaja yang boleh kita mengadu dan meminta tolong, iaitu Allah S.W.T. kerana Dia yang Maha Berkuasa untuk memberi jalan keluar kepada kita.
Dan jika kita benar-benar bertaubat dan memohon keampunannya, Dia Maha Pengampun dan akan mengampuni dosa-dosa kita.
Manfaat membaca zikir Nabi Yunus
Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud: “Barangsiapa mempunyai apa-apa hajat, hendaklah ia berwuduk, kemudian sujud kepada Allah, sambil membaca tasbih Nabi Yunus sebanyak 40 kali dengan cara jari telunjuknya menghadap ke arah kiblat ketika ia sujud. Sesungguhnya sesiapa yang berbuat demikian akan diperkenankan doa dan permintaannya.”
Sabda Baginda lagi yang bermaksud: “Sesungguhnya aku ketahui satu kalimah yang apabila dibaca oleh mereka-mereka yang ditimpa bala atau kesusahan, Allah akan lepaskan si pembacanya dari kesusahan. Kalimah tersebut ialah tasbih saudaraku Nabi Yunus A.S.”
“Laa ila ha illa anta, subhaanaka innii, kuntu minazzolimin”
Ertinya: Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguhnya, aku termasuk dalam orang-orang yang zalim.
Justeru, amalkanlah zikir ini jika anda ditimpa masalah atau bencana, dan jadikanlah amalan agar diri sentiasa terpelihara daripada bencana.
Semoga perkongsian ini memberi manfaat kepada para pembaca SalamToday.
Foto: Shopify Partners, Rawpixel.com, Pixabay & Blaque X (Pexels), Mukesh Mishra (Burst)
Kisah Nabi Yunus Yang ‘Dikuarantin’ Dalam Perut Ikan Nun
OLEH FIEYZAH
LEE • 9 APR 2020 •
Kisah Nabi Yunus AS tidak asing lagi dalam kalangan kita.
Kisah baginda yang terperangkap di dalam perut ikan nun merupakan antara
iktibar yang boleh dipelajari. Apa iktbar tersirat yang boleh kita lihat?
Sebelum itu, ayuh kita singkap sejenak apa kisah yang berlaku kepada baginda
AS.
Di dalam kitab tafsir Ibnu Katsir ada mengisahkan bahawa
baginda telah ditelan oleh ikan paus. Ada jumhur ulama yang menyebut bahawa ikan
nun itu tidak sama dengan ikan paus dan sebahagiannya lagi menyifatkan bahawa
ia adalah serupa sahaja.
Nabi Yunus berasal daripada keturunan Bunyamin dan telah
dilantik sebagai nabi ketika berusia 30 tahun.
Baginda AS telah berdakwah kepada kaumnya selama 30 tahun.
Namun, kaumnya degil dan menolak ajakan dakwah baginda. Tidak ramai yang mahu
beriman kepada Allah.
Disebabkan kedegilan kaumnya itu, baginda telah mengadu
kepada Allah. Namun, Allah menyuruh Nabi Yunus tetap meneruskan dakwahnya
kepada kaum tersebut dalam tempoh masa yang ditetapkan. Ada beberapa riwayat
yang mengatakan bahawa tempoh masa tersebut ialah selama 40 hari.
Jika dalam masa yang diberikan itu tidak berjaya membendung
kedegilan kaumnya, Allah akan menurunkan bala kepada mereka.
Namun, apabila masa semakin suntuk, kelihatan awan hitam
telah keluar dan mula berarak di langit. Disebabkan baginda takut akan azab
yang bakal menimpa, lalu baginda mengambil keputusan untuk meninggalkan
kaumnya.
Namun, tahukah anda dalam tidak disangka sebenarnya kaum
yang ingkar tadi telah mula terdetik untuk menyahut seruan Nabi Yunus
terutamanya apabila mereka melihat awan hitam yang begitu meggerunkan hati
mereka.
Mereka mula mencari Nabi Yunus, namun hampa kerana baginda
sudah pergi daripada kaumnya untuk menyelamatkan diri.
Nabi Yunus Dilempar Dari Kapal
Nabi Yunus telah melarikan diri dengan menaiki kapal. Namun,
malang tidak berbau apabila kapal yang dinaikinya telah dibadai ombak kencang
dan hampir tenggelam disebabkan oleh muatan yang penuh.
Mereka mengambil keputusan untuk meringankan beban kapal
tersebut dengan membuang sedikit muatan. Namun, keadaan tetap tidak pulih.
Disebabkan itu mereka telah membuat undian untuk melemparkan
salah seorang daripada penumpang di atas kapal ke dalam lautan.
Tiga kali undian dilakukan dan ketiga-tiganya tertuju kepada
Nabi Yunus. Apabila melihatkan situasi yang memihak kepadanya, Nabi Yunus akur.
Namun, nasibnya tidak hanya terhenti di situ kerana Allah
telah menghantar ikan nun untuk menelan Nabi Yunus. Baginda AS ditelan
bulat-bulat tanpa sebarang kecederaan yang menimpanya.
Mafhum: “Dan (sebutkanlah peristiwa) Zun-nun, ketika
ia pergi (meninggalkan kaumnya) dalam keadaan marah, yang menyebabkan ia
menyangka bahawa Kami tidak akan mengenakannya kesusahan atau cubaan; (setelah
berlaku kepadanya apa yang berlaku), maka ia pun merayu dalam keadaan gelap
gelita dengan berkata: “Sesungguhnya tiada Tuhan (yang dapat menolong)
melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya,
tolonglah daku)! Sesungguhnya aku sendiri dari orang-orang yang menganiaya diri
sendiri.” (surah Al-Anbiya, 21:87)
Apa Yang Nabi Yunus Lakukan Dalam Perut Ikan Nun
Dalam waktu inilah, baginda mula sedar bahawa kejadian yang
telah menimpanya adalah balasan Allah kerana telah meninggalkan kaumnya
terkapai-kapai sebelum tempoh masa yang diberikan berakhir.
Baginda telah berputus asa sebelum sampai masanya dan ia
adalah perbuatan yang sangat dibenci kerana kita telah berpaling dan memutuskan
usaha ke atas sesuatu perkara yang sedang diusahakan.
Sepanjang tempoh berada dalam perut ikan nun, baginda tidak
putus-putus berdoa dan memohon keampunan kepada Allah, berharap agar Allah
mengampunkan dosanya yang telah dilakukan terhadap kaumnya.
Perasaan lapar kerana tiada makanan, perasaan takut kerana
keadaan perut ikan yang gelap gelita dan perasaan kesakitan yang menimpa diri
itu mula wujud dalam diri baginda.
Bayangkan, jika anda dikurung di dalam tempat yang
sunyi-sepi dan gelap gelita. Apa yang boleh anda lakukan melainkan dengan mengharapkan
bantuan luar.
Siapa orang luar yang akan memberi bantuan kepada anda jika
tiada orang yang tahu keberadaan anda? Pastinya pada waktu itu anda akan mula
memohon kepada Allah, tuhan sekalian alam kerana waktu inilah anda hanya akan
mengharapkan kepada keajaiban.
Mungkin salah teori yang saya bawakan, namun bagi sesetengah
orang, itulah yang akan mereka lakukan. Berharap kepada yang Maha Kuasa. Dan
itu jugalah yang dilakukan oleh Nabi Yunus.
Baginda tukarkan perasaan takut itu kepada sebuah pengharapan
yang sangat besar kepada Allah. Jika benar baginda akan terperangkap di dalam
perut itu selama-lamanya, biarlah Allah mengambil nyawanya di saat dosanya
telah diampunkan.
Dan jika masih punya harapan untuk baginda keluar daripada
perut ikan itu, biarlah Allah keluarkan baginda dalam keadaan baginda tidak
ingkar akan arahan Allah.
Dalam tempoh inilah baginda mengambil peluang untuk
mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan memohon keampunan. Baginda
memperbanyakkan zikir, istighfar dan amalan-amalan sunat lain agar Allah
memberinya peluang kedua.
Sehingga akhirnya Allah telah mengeluarkan baginda daripada
perut ikan nun itu dengan melemparkannya ke sebuah pulau dan memberinya peluang
kedua dengan ganjaran nikmat dan menyembuhkannya daripada penyakit yang
dialami.
Itulah Allah, Maha Pemurah dan Maha Pengampun. Siapalah kita
untuk melawan takdir Allah. Namun, apabila diimbas kembali, setiap yang Allah
hadirkan dalam hidup kita adalah bersebab.
Mungkin sebagai balasan atas dosa-dosa kecil mahupun besar yang
telah terlanjur ataupun kerana Allah ingin mengingatkan kita kepadaNya sendiri
untuk lebih dekat dan tidak melupakan pergantungan kepada tuhan.
Kesimpulan
Dalam tempoh kuarantin ini, kita masih diberi nikmat yang
cukup besar, iaitu kerajaan dan barisan pemimpin yang baik dan prihatin akan
rakyat, punya tempat untuk berteduh, punya teknologi untuk berhubung dan
mendapatkan maklumat serta banyak lagi nikmat yang cukup banyak dan berjela
jika hendak disenaraikan di sini.
Apa kata, sebelum kita mengeluh, dongak sedikit ke atas dan
pandang lebih lagi ke hadapan. Lihatlah bagaimana negara lain mahupun orang
lain yang sedang bertarung dengan masalah wabak penyakit ini.
Jika ingin dibandingkan dengan peristiwa Nabi Yunus, amat
jauh sekali. Sekurangnya kita masih punya cahaya matahari sedangkan kuarantin
baginda penuh dengan gelap gelita.
Oleh itu, dalam masa ini, banyakkan bersyukur dan muhasabah
kembali akan setiap tindak tanduk kita sebelum ini. Adakah amalan kita cukup
untuk dibawa bekal menghadap Allah nanti?
Banyakkan berdoa dan memohon keampunan kepadaNya. Bukan
keampunan ke atas dosa-dosa anda sahaja, namun dosa-dosa yang dilakukan oleh
semua insan. Tidak salah mendoakan orang lain juga dalam masa yang sama anda
akan diganjari pahala.
Jadi, bagaimana kuarantin anda setakat ini?
Wallahu a’alam.
Nabi Yunus Ditelan Ikan Nun, Kisah Taubat Seorang Nabi

Nama sebenar Nabi Yunus adalah Yunus Bin Mataa. Nabi Yunus diutuskan kepada kaum di sebuah tempat yang bernama Niwana. Kisah yang mahsyur ini selalu didendangkan kepada kita. Mari kita lihat dan ambil pelajaran yang bermakna dengan kisah yang agung ini.
Mengikut kajian Nabi Yunus a.s adalah susur galur daripada Nabi Yaakub a.s daripada jalur Bunyamin saudara kepada Nabi Yusuf a.s
Berdasarkan firman Allah dalam ayat 98 surah yunus
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
maka ada baiknya kalau (penduduk) sesebuah negeri beriman (sebelum mereka ditimpa azab), supaya imannya itu mendatangkan manfaat menyelamatkannya. Hanya kaum Nabi Yunus sahaja yang telah berbuat demikian – ketika mereka beriman, Kami elakkan azab sengsara yang membawa kehinaan dalam kehidupan dunia dari menimpa mereka, dan Kami berikan mereka menikmati kesenangan sehingga ke suatu masa (yang Kami tentukan).
Di dalam kisah ini kaum yang berada di Niwana telah mengingkari seruan dakwah tersebut. Setelah panjang masa berlalu, yunus a.s telah keluar ke hadapan kaumnya dan memberi amaran akan datang azab yang pedih kepada mereka akibat daripada mereka mengingkari seruan dakwah tersebut. Lalu Yunus a.s berlalu pergi dan meninggalkan kaumnya dan menaiki kapal.
Kapal yang dinaiki oleh Nabi Yunus tersebut dilambung ombak yang tinggi dan hampir karam, maka tidak ada pilihan lain perlu dikurangkan muatan. Sekiranya seluruh isi kapal akan tenggelam
Takdir Allah Mengatasi Segalanya
Setelah berbincang dikalangan ahli kapal, lalu mereka setuju untuk mencabut undi untuk memilih siapa yang sepatutnya dikeluarkan daripada kapal. Takdir Allah, Nabiyullah Yunus dipilih. Namun disebabkan ahli kapal lain tidak sanggup untuk membuang Yunus a.s maka dibuat undian yang kedua tetap sama, dan seterusnya undian ketiga tetap kepada Nabi Yunus.
Maka terjunlah Nabiyullah ini ke dalam laut lalu disambar oleh ikan nun. Kisah ini dirakam oleh Allah swt dalam surah As-saafat 140-142
إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
(Ingatkanlah peristiwa) ketika ia melarikan diri ke kapal yang penuh sarat. (Dengan satu keadaan yang memaksa) maka dia pun turut mengundi, lalu menjadilah ia dari orang-orang yang kalah yang digelunsurkan (ke laut). Setelah itu ia ditelan oleh ikan besar, sedang ia berhak ditempelak.

Doa Nabi Yunus
Setelah ditelan oleh ikan nun, makan ikan tersebut terus menyelam sehingga ke dasar lautan, lalu Nabi yunu mendengar suara yang lembut bertasbih memuji Allah. Maka tersedarlah Yunus a.s bahawa Allah sentiasa ada, sentiasa mendengar, sentiasa mengetahui dan tiada suatu yang tidak berada dalam pengetahuan Allah. Sedangkan ikan dan kehidupan di dalam laut ini sekali pun Allah tahu, inikan pula baginda sebagai nabi yang diuji dengan keingkaran kaumnya.
Maka tersedar daripada itu, lalu Nabi Yunus terus berdoa dengan suatu doa yang sangat agung yang dirakam dalam alquran al-anbiya : 87-88
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan (sebutkanlah peristiwa) Zun-Nun, ketika ia pergi (meninggalkan kaumnya) dalam keadaan marah, yang menyebabkan ia menyangka bahawa Kami tidak akan mengenakannya kesusahan atau cubaan; (setelah berlaku kepadanya apa yang berlaku) maka ia pun menyeru dalam keadaan yang gelap-gelita dengan berkata: “Sesungguhnya tiada Tuhan (yang dapat menolong) melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolongkanlah daku)! Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.
Lalu setelah itu Allah memperkenankan Doa Nabi Yunus ini, Ikan nun itu memuntahkan Nabi Yunus a.s di tempat yang gersang lalu Allah selamatkan nabi yunus dengan rezeki daripada sisi. Berdakwahlah nabiyullah ini kepada kaum dan mereka menerima dakwah nabi yunus.
Antara pelajara yang kita boleh ambil daripada kisah ini, perubahan yang kita mahukan perlulah bermula dengan diri kita, dan mulakan itu dengan mengaku kelemahan dan kesalahan yang kita telah lakukan. Kerana dengan sedar kelemahan dan kesalahan barulah kita boleh mula memperbaiki dan sedikit demi sedikit menuju kebaikan dan kejayaan. Benarlah kata-kata Nabi Daud, satu perempat daripada masa kita perlu diperuntukkan untuk bermuhasabah diri.
Sumber:
اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
..................................................................
.......................................................................................................
.......................................................................................................................
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
Doa dan usap keseluruh tubuh setiap lepas solat
Maka ucaplah sebutlah, lafazlah, katalah dengan lidahmu disetiap saat akan zikir memuji dan mengAgungkan kebesaran ALLAH Swt dengan Tasbih dibawah secara istiqomah.
100 X (سُبْحَانَ اللَّهِ)
100 X (سُبْحَانَ اللَّهِ)
100X (أسْتَغْفِرُاللهَ)
100X (الْحَمْدُ لِلَّهِ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ)
100X (اللَّهُ أَكْبَرُ)
100X (اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
100X (اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ)
100X (لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّىْ عَلَىْ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ ٱلظَّالِمِينَ
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ ٱلظَّالِمِينَ
آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
.........................................................................
Zikirullah












No comments:
Post a Comment