BismillahHirahmanirRahim... الحمد لله syukur kepada الله Everything happening with الله permission : #Sesungguhnya Aku berniat kerana الله:Tugasan geraktubuh badanKu Daku Niatkan Tasbih anggota tubuhku buat الله. Ku serahkan seluruh kehidupanku kebergantungan sepenuhnya kepada~Mu Ya الله.. Setiap Detik Hatiku menyebut Subhanallah سبحان الله Denyutan Nadiku dengan Alhamdulillah الحمد لله Degupan Jantongku bertasbih LA ILAHA ILLALLAH لا إله إلا الله Nafasku berzikir Allāhu akbar الله أكبر
19 December 2019
Maulid Nabi SAW
Maulid Nabi SAW
Ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).
Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yang membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.
Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw. Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15) Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yang terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yang 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583) Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dengan puasa.
Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya. Contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yang berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yang perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dengan hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yang lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yang berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dengan puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.
Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yang perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)
Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “dineraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dengan kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.
Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun
mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.
Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yang lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yang lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dengan doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yang menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yang dilarang adalah syair syair yang membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yang memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yang mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).
Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al
Imran 164)
2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dengan makanan makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.
3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.
4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
Berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.
7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
Dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.
9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
Dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi Dengan karangan maulidnya yang bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
Dengan maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
Yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : ”maulid ibn katsir”
13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
Dengan maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
Telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al
lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
15. Imam assyakhawiy
Dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
Dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy
yang terkenal dengan ibn diba’ Dengan maulidnya addiba’i
18. Imam ibn hajar al haitsami
Dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
19. Imam Ibrahim Baajuri
Mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari’
Dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji Dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji
23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
Dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
Dengan maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’
25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
Dengan maulid al maulid mustofa adnaani
26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
Dengan maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”
27. Syihabuddin Al Halwani
Dengan maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
Dengan maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar
29. Asyeikh Ali Attanthowiy
Dengan maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa
30. As syeikh Muhammad Al maghribi
Dengan maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah. Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yang menentang dan melarang hal ini,
mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yang menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yang jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.
Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yang dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.
Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yang dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yang adil dan yang semacamnya merupakan hal yang baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yang dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yang duduk, dan Imam Nawawi yang berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yang melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)
Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yang tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yang Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw. Jauh berbeda bila kita yang berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.
Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yang padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yang hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yang luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yang sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yang terncantum pada Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,
Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yang mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)
Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yang diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yang sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yang dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yang mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yang mustahab (yang dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yang menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib. Contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yang wajib .
Contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karenadiperlukan untuk menaruh siwak yang hukumnya sunnah.
Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yang wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dengan Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
Sebagaimana penulisan Alqur’an yang merupakan hal yang tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yang membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yang wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah. Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yang awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yang masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.
Walillahittaufiq
Related posts
Ayat Tasybih
Ayat Tasybih
Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan, wajah dll yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut.
Sebagaimana makna Istiwa, yang sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT” , entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat ayat dan Nash hadits lain, bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits qudsiy disebutkan Allah swt turun kelangit yang terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir, Maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yang terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka, jelaslah bahwa hujjah yang mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan hadits qudsiy diatas, yang berarti Allah itu tetap di langit yang terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yang terendah.
Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yang bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab : ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”, demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yang menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yang beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yang tidak baik yang mempermasalahkan masalah ini.
Lalu bagaimana dengan firman Nya : ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut berbai’at pada sahabat.
Juga sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yang fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya….” (shahih Bukhari hadits no.6137) Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yang taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.
Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat/madzhab dalam menafsirkannya, yaitu:
1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih
Madzhab ini mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd Allah swt, dengan i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan) Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.
Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para imam yang memegang madzhab tafwidh.
2. Madzhab takwil
Madzab ini menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dengan keesaan dan keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.
Seperti ayat :
”Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) (QS Attaubah:67),
dan ayat : ”Innaa nasiinaakum”. (sungguh kami telah lupa pada kalian QS Assajdah 14).
Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : ”dan tiadalah tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64)
Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)
Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, ”wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125)
Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy). Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).
Walillahittaufiq
Related posts
18 December 2019
Keharusan Tabarruk di Sisi Islam
Keharusan Tabarruk di Sisi Islam

amri el wahab
بسم الله الرحمن الرحيم
وصلى الله على خير خلقه سيد المرسلين سيدنا ومولانا محمد
وعلى آله الطاهرين الطيبين
Risalah:
Dalil-dalil keharusan mengambil
berkat dari bekas minuman muslimin
berkat dari bekas minuman muslimin
Mukaddimah iman
Berkata al Allamah Dr Umar Abdullah Kamil di dalam Mafahimnya:
Salah satu contoh ta’zim ialah dengan mengambil berkat dengan salah satu anggota Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم seperti rambut Baginda dan barang peninggalannya seperti jubah Baginda صلى الله عليه وآله وسلم.
Bahagi-bahagikanlah ia (rambut ini) antara orang ramai
Faedah dari hadith ini:
Hal ini juga tidak disanggah oleh Baginda صلى الله عليه وآله وسلم malah Baginda menggalakkan perbuatan ini. Lihat semula kata perawi ‘Lalu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم meletakkan cawan tersebut di tangan kanak-kanak tersebut.’
Rujukan:
Moga-moga Allah merahmati saya dan kamu semua, serta mentaufikkan kita dikalangan orang yang diberi pandangan inayahNya, amin.
Risalah ini membincangkan tentang keharusan mengambil berkat atau bertabarruk dengan bekas minuman muslimin; yang mana merupakan sunnah yang telah thabit dilakukan oleh Rasulullah, dan dikuti oleh imam-imam salaf soleh terkemudian.
Malangnya, baru-baru ini kita mendapati sesetengah individu mengeksplotasi kedudukan dan populariti mereka untuk menyesatkan orang yang cuba menghidupkan sunnah ini. Malah lebih dari itu, mereka telah menidakkan sunnah ini malah menganggapnya suatu perbuatan bidaah yang sesat.
Tidakkah individu ini menyedari bahawa dia telah menyakiti Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dengan kata-katanya, dengan menyeleweng informasi dengan dakwaan perkara sunnah itu bidaah, dan yang bidaah itu sunnah; sedangkan mereka mengaku kononnya hanya memegang sepanduk Al Quran dan Sunnah?
‘Dia’ yang dikatakan di atas tiada lain adalah saudara Asri Zainal Abidin, bekas mufti Perlis yang cuba membuat kenyataan ‘pro-tajdid’ yang dijangka menimbulkan gimik, bagi memesongkan pandangan masyarakat dari tuduhan ‘tauliah tidak berlesannya’.
Moga-moga kita dijauhkan dari individu-individu sebegini yang memperlekehkan Sunnah, semata-mata untuk mencari simpati orang lain. Seakan-akan dia mahu dikatakan ‘walaupun saya ditangkap kerana tidak bertauliah-itu tidak mengapa, asalkan saya masih mahu menegakkan ‘tajdid’; iaitu dengan membatalkan Sunnah yang telah lama dipegang erat oleh ulama’ kita. Alangkah hina dan jijiknya perbuatan ini
Ya Allah jauhkanlah hamba-hambaMu ini dari menjadi orang yang menyakiti Nabi dengan perbuatan dan kata-katanya, ya Rab.
Justeru dalam masa yang singkat ini, saya yang hina akan menerangkan dalil-dalil yang jelas tentang keharusan tabbaruk (mengambil berkat) dalam skop yang lebih kecil iaitu tabarruk dengan bekas minuman orang mukmin.
والله أعلم بالصواب
.....................................
.....................................
Sebelum pergi lebih jauh, mari bersama-sama saya memahami apakah maksud tabarruk (mengambil berkat).
Berkata al Allamah Dr Umar Abdullah Kamil di dalam Mafahimnya:
Tabarruk secara istilah ialah
- Memohon kepada Allah kebaikan pada sesuatu perkara.
- Ia boleh juga dimaksudkan sebagai al ta’zim iaitu memulia dan mengagungkan sesuatu perkara.
Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mencium Hajarul Aswad. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم juga pernah tawaf mengelilingi Kaabah dan menyentuh Hajarul Aswad ini dengan tongkat Baginda, lalu Baginda mengucupnya. Oleh itu, para ulama mengistinbatkan hukum harus mengucup setiap perkara yang layak dimuliakan (dalam Islam) dan perkara yang berkaitan dengannya.
Dengan erti kata yang mudah, tabarruk adalah salah satu cara memohon kebaikan yang melimpah ruah dari Allah Taala, seperti meminta penyembuhan dari penyakit dengan perantaraan seorang muslim yang soleh (atau Nabi) kerana kedudukannya yang tinggi di sisi Allah. Justeru orang yang bertabarruk dengan benda-benda, para solihin atau barang peninggalan mereka, hakikatnya memohon kebaikan yang banyak dari Allah melalui jalan Nabi atau orang soleh tersebut. Inilah yang dilakukan oleh jemaah para sahabat terhadap barang peninggalan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم . Lihat Mafahim Tabarruk, halaman 5.
Pada waktu yang sama ia adalah perbuatan memuliakan (ta’zim) muslim soleh tersebut yang merupakan perkara yang digalakkan di dalam syariat Islam.
Salah satu contoh ta’zim ialah seperti mengucup tangan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم
Salah satu contoh ta’zim ialah dengan mengambil berkat dengan salah satu anggota Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم seperti rambut Baginda dan barang peninggalannya seperti jubah Baginda صلى الله عليه وآله وسلم.
Tabarruk hakikatnya tiada lain adalah salah satu cabang bertawassul kepada Allah Taala, dengan kemuliaan sesuatu; sama ada peninggalan berbentuk benda, tempat atau individu tertentu. Tawassul ialah: menghadapkan permintaan kepada Allah di dalam doanya dengan perantaraan kedudukan pangkat Nabi atau seseorang hanba yang soleh. Misalnya, dengan berdoa;
‘Ya Allah dengan kedudukan NabiMu, ampunilah dosaku dan tutupilah aibku!’
(Diambil dari Agamamu Dalam Bahaya karangan Al Allamah Abu Abdullah Alawi al Yamani, hlm165 )
Bertawassul adalah harus, bahkan disunatkan bertawassul dengan para Nabi, wali dan orang-orang soleh, sama ada yang hidup atau yang telah meninggal dunia. Dalilnya cukup banyak, yang in sya Alah akan dibincangkan pada huraian yang akan datang.
Syarat orang yang bertabarruk dan bertawassul
Berkata al Allamah Syeikh Muhammad Fuad ibn Kamaluddin al Maliki di dalam bukunya Wasilah Para Abid:
Amalan bertabarruk dan bertawassul ini tidak ditegah di dalam Islam, apatah lagi untuk dihukum sebagai kafir atau syirik, kerana perkataan yang diungkapkan bertujuan untuk meminta syafaat dan memohon doa kepada Allah; sama ada disebut secara jelas atau tidak. Syaratnya, hendaklah orang yang berdoa, merupakan:
- Seorang Muslim yang mentauhidkan Allah.
- Beri’tiqad bahawa yang mendatangkan manfaat dan mudharat hanya Allah.
………..
Apakah dalil yang menunjukkan keharusan mengambil berkat secara umum?
Maka jawapannya ialah: mengambil berkat dengan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم adalah harus. Allah berfirman ketika menghikayatkan tentang Nabi Yusuf عليه السلام :
Malah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sendiri telah menggalakkan perbuatan tabarruk ini. Di dalam hadith disebut, bahawa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم membahagi-bahagikan rambutnya kepada para sahabat untuk mereka mengambil berkat dengannya.
(Diambil dari: Aqidah Muslimin-Aqidah Yang Diakui Fakulti Usuluddin Universiti al Azhar, hlm 97 )
Iaitu hadith riwayat Anas katanya:
لما رمى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم الجمرة نحر نسكه ثم ناول الحالق شقه الأيمن فحلقه، فأعطاه أبو طلحة لأمي سليم بأمر من النبي صلى الله عليه وآله وسلم ثم ناوله شقه الأيسر فحلقه، فقال: اقسم بين الناس
Ertinya:
Ketika Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم melontar jamrah, Baginda menyembelih binatang korban. Kemudian (Nabi mengarahkan tukang gunting mencukur rambut Baginda yang mulia) lalu tukang gunting mula mencukur bahagian kanan kepala Rasulullah. Lalu Abu Talhah memberi rambut Baginda صلى الله عليه وآله وسلم kepada Ummu Sulaim dengan perintah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم (lihat perkataan dengan perintah Rasulullah). Kemudian tukang gunting mencukur bahagian kiri kepala Rasulullah yag mulia, lalu bersabda:
Ketika Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم melontar jamrah, Baginda menyembelih binatang korban. Kemudian (Nabi mengarahkan tukang gunting mencukur rambut Baginda yang mulia) lalu tukang gunting mula mencukur bahagian kanan kepala Rasulullah. Lalu Abu Talhah memberi rambut Baginda صلى الله عليه وآله وسلم kepada Ummu Sulaim dengan perintah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم (lihat perkataan dengan perintah Rasulullah). Kemudian tukang gunting mencukur bahagian kiri kepala Rasulullah yag mulia, lalu bersabda:
Bahagi-bahagikanlah ia (rambut ini) antara orang ramai
(Dikeluarkan oleh Muslim (3142), Abu Daud (1982), al Tirmizi (912), al Humaidi (1220), Ibn Khuzaimah (2928), al Nasaie di dalam al Kubra Tuhfah al Asyraf dan lain-lain. sila rujuk Mausuah Yusufiyah, halaman 157)
Begitu juga hadith soheh yang berbunyi:
عن أنس بن مالك قال:كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا صلى الغداة جاء خدم المدينة بآنيتهم فيها الماء،فما يؤتى يإناء إلا غمس يده فيه فربما جاؤه في الغداة الباردة فيغمس يده فيها
Ertinya:
Dari Anas bin Malik, beliau berkata: adalah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ketika waktu pagi akan didatangi oleh penduduk Madinah dengan membawa bekas yang berisi air. Rasulullah akan meletakkan tangannya yang mulia ke dalam bekas, apabila diberikan kepada Baginda صلى الله عليه وآله وسلم. Kemungkinan, orang ramai datang kepada Rasulullah pada waktu pagi yang dingin, lalu Baginda meletakkan tangannya ke dalam bekas tersebut.
Berkata Imam al Nawawi ketika mensyarahkan hadith ini di dalam kitabnya Syarah Soheh Muslim, beliau menerangkan bahawa: hadith ini menunjukkan kesabaran Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bagi menyelesaikan kemaslahatan (keperluan) muslimin, dan kesudian Baginda صلى الله عليه وآله وسلم untuk memenuhi kehendak orang yang berhajat.
Serta hadith ini juga membawa maksud bahawa Baginda صلى الله عليه وآله وسلم memberi berkat kepada muslimin, dengan celupan tangan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم yang mulia ke dalam bekas berisi air tersebut. Dalam waktu yang sama, hadith menunjukkan kesungguhan para sahabat dalam bertabarruk dengan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Lihat Soheh Muslim Bisyarhi al Nawawi, Jilid 8, hlm 90, Bab Qurb al Nabi Min al Nas.
Hadith Soheh ini dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam Sohehnya dengan lafaz dan isnad ini, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Humaid di dalam Musnad Anas bin Malik, Ibnu Saad dan al Tabrani di dalam Kitab al Da’awaat, Ibn Abi Dunya di dalam Fadhail al Dua’, al Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah di dalam musnadnya serta lain-lain.
Lihat juga al Arba’un al Buldaniyah karangan al Musnid al Muhaddith Abi al Faidh Muhammad Yasin bin Isa al Fadani رضي الله عنه , halaman 11.
Jika kita melihat di dalam kitab hadith Sunan Sittah dan kitab-kitab hadith yang masyhur, kita mendapati tidak sedikit hadith sebegini yang menunjukkan keharusan mengambil berkat dari Rasulullah. Malah dalam sesuatu keadaan Baginda sendiri mempromosi dan menggalakkan perbuatan ini seperti hadith yang lepas; yang melayakkan ia dianggap sebuah sunnah. Tetapi sekarang bukanlah masa untuk kita membincangkan masalah tabarruk dengan terperinci, kerana ia memerlukan waktu yang benar-benar mencukupi, in sya Allah pada waktu yang lain.
Ringkasnya, beberapa hadith yang lepas menunjukkan dalil umum keharusan amalan bertabarruk ini. Sekarang kita akan cuba menumpukan hadith-hadith berkaitan tabarruk dengan sisa minuman muslim sahaja, sesuai dengan tajuk dan masa yang tersedia.
………..
Dalil-dalil keharusan bertabarruk dengan
bekas minuman orang Islam.
1) Hadith pertama
Dikeluarkan oleh Imam al Bukhari di dalam Bab Minuman Dari Bekas Minuman Nabi صلى الله عليه وآله وسلم :
عن أبي حازم عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال : ........... فأقبل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يومئذ حتى جلس في سقيفة بني ساعدة هو وأصحابه، ثم قال: 'اسقنا' لسهل. قال: فأخرجت لهم هذا القدح فأسقيتهم فيه. قال أبو حازم: فأخرج لنا سهل ذلك القدح فشربنا فيه. قال: ثم استوهبه، بعد ذلك، عمر بن عبد العزيز فهبه له
Maksudnya:
Dari Abi Hazim dari Sahl ibn Saad رضي الله عنه, beliau berkata (hingga katanya):…… Lalu pada suatu hari Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dan sahabat-sahabat duduk di bumbung rumah Bani Saedah. Kemudian Baginda bersabda kepada Sahl: ‘berikanlah kami minuman’. Lalu Sahl berkata: aku mengeluarkan sebuah bekas (cawan) ini, lalu aku memberi mereka minum dengan menggunakannya.
Berkata Abu Hazim (perawi hadith): Lalu Sahl pun mengeluarkan bekas tersebut, maka kami minum air daripada cawan tersebut. Sahl berkata: selepas itu, Umar bin Abdul Aziz meminta agar dihadiahkan cawan ini kepadanya, lalu beliau menghadiahkannya.
Lihat Soheh Muslim Bisyarhi al Nawawi, Juzuk 13, Bab: Kitab al Asyribah, hadith no 2007, cetakan Muassasah Qurtubah.
Lihat juga hadith yang sama maknanya pada Fathul Bari Syarah Soheh al Bukhari, jilid 13 halaman 121, cetakan Dar al kutub al Ilmiyah. Lihat juga hadith yang sama pada Syarah Soheh Muslim oleh Imam al Nawawi, Jilid ke-7, hadith nombor 2007.
Dari hadith ini, kita dapat mengambil beberapa faedah:
1. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dan para sahabat berkongsi menggunakan sebuah cawan untuk minum air bersama-sama. Ini dalil keharusan menggunakan cawan yang mempunyai bekas air liur muslimin.
2. Oleh kerana mengetahui kemuliaan cawan ini, yang mana digunakan oleh Nabi dan sahabat-sahabat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم , Saiduna Umar bin Abdul Aziz meminta dari Saiduna Sahl agar dihadiahkan cawan ini kepadanya; untuk mengambil berkat dari benda yang pernah digunakan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.
2) Hadith kedua
Dikeluarkan di dalam Fathul Bari karangan Imam Ibn Hajar Al Asqalani, Jilid 15, halaman 241, hadith nombor 7342, cetakan Darul Fikr:
عن أبي بردة قال: قدمت المدينة فلقيني عبد الله بن سلام. فقال لي: انطلقْ إلى المنزلِ فأسقيَك في قَدَحٍ شَرِبَ فيه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وتصلي في المسجد صلى فيه النبي صلى الله عليه وآله وسلم، فانطلقت معه فأسقاني سويقا وأطعمني تمرا وصليت في مسجده
.
Maksudnya:
Dari Abi Burdah, beliau berkata: ketika aku tiba di Madinah, aku bertemu dengan Abdullah bin Salam. Lalu beliau berkata padaku: marilah ke rumahku, aku aku memberi engkau minum dengan cawan yang pernah digunakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Serta, aku akan mengizinkan engkau solat di tempat yang pernah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dirikan sembahyang padanya. Lalu aku (Abu Burdah) bersama-sama Abdullah ibn Salam bertolak ke rumahnya, lalu beliau menjamuku dengan meminum sawiq (sejenis minuman berasaskan gandum) dan tamar, serta aku solat di tempat solat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم .
Faedah di dalam hadith ini ialah:
1. Para sahabat juga bertabarruk dengan barang-barang Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, antaranya cawan yang pernah digunakan Baginda.
2. Malah, sahabat telah menjadikan tempat yang pernah didirikan solat oleh Nabi; sebagai tempat yang yang mulia di sisi Allah Taala, kerana ia pernah dugunakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Malah, mereka mengajak teman-teman solat di sana, untuk mengambil berkat Nabawiyah padanya.
3) Hadith ketiga
Dikeluarkan di dalam Riyadh al Solihin karangan Imam Nawawi, halaman 269, hadith bernombor 771:
عن أم ثابت كبشة بنت ثابت أخت حسان بن ثابت رضي الله عنه وعنها قالت:دخل عليّ رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم فشرب من في القربة معلقة قائما فقمت إلى فيها فقطعته
رواه الترميذي وقال حديث حست الصحيح
Maksudnya:
Dari Ummi Thabit Kabsyah binti Thabit, iaitu saudara kandung Hasan ibn Thabit-moga-moga Allah meredhai kedua-duanya-beliau berkata:
Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم masuk menemuiku, lalu Baginda minum air dari qirbah (bekas minuman yang diperbuat dari kulit binatang) yang tergantung, dalam keadaan berdiri. Lalu aku pergi mengambil qirbah tersebut dan memotong mulutnya.
Hadith riwayat Tirmizi, beliau berkata: Hadith ini hasan soheh.
Berkata Imam al Nawawi dalam mensyarahkan hadith ini: sesungguhnya beliau (Ummu Thabit) memotong mulut qirbah ini untuk menjaga tempat yang pernah disentuh oleh mulut Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم , mengambil keberkatan dengannya dan menjaganya/mengelakkannya dari ibtizal (haus).
4) Hadith keempat
Hadith Saiduna Ali bin Abi Talib رضي الله عنه , beliau berkata: Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah memberikan saya minum air lebihannya dari cawannya, dan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:
سؤر المؤمن شفاء
Ertinya: Lebihan makanan/minuman orang mukmin itu adalah ubat yang menyembuhkan.
Hadith ini, yang dikenali sebagai Musalsal bil Saqaya, adalah hadith yang amat masyhur di kalangan ulama hadith sejak zaman berzaman. Kenapa tidak, jika kita melihat para muhaddith yang meriwayatkannya, mereka adalah ulama’-ulama’ besar di zamannya; antaranya:
- Al Muhaddith Syeikh Muhammad Saed ibn Muhammad Sunbul.
- Syeikh Ahmad ibn Muhammad al Qusyasyi, tuan punya wirid.
- Abu al Khair Syamsuddin Muhammad ibn Imran al Dimasyqi, Qari yang terkenal.
- Kesemua penghulu-penghulu keturunan Nabi yang mulia dimulai oleh: Saiduna Ali al Ridha, Saiduna Musa al Kazhim hinggalah Saidina Ali رضي الله عنهم أجمعين
Faedah dari hadith ini:
1. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sendiri yang menggalakkan perbuatan mengambil berkat dari bekas minuman orang mukmin.
2. Perbuatan ini diteruskan sejak zaman berzaman dikalangan ulama khasnya dan orang awam secara am. Buktinya, wujudnya ahli hadith yang meriwayatkan hadith musalsal ini hingga kini.
3. Ulama yang meriwayatkannya adalah ulama yang menjadi sandaran umat Islam pada zamannya; mengharuskan kita mempercayai kebenarannya sebagai suatu hadith yang warid dari Nabi, bukan hadith yang palsu.
5) Hadith kelima.
Berkata Imam Nawawi di dalam kitab yang sama, Bab Adab al Syarab, hadith bernombor 768:
عن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه: أن رسول الله أُتي بشراب، فشرب منه، وعن يمينه غلام وعن يساره أشياخ فقال للغلام: أتأذن لي أن أُعطي هؤلاء؟ فقال الغلام: لا والله،لا أوثرُ بنصيبي منك أحدا. فتلّه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في يده
رواه البخاري
Ertinya:
Dari Sahl ibn Saad al Sa’idi رضي الله عنه : bahawasanya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah dihidang dengan segelas minuman. Lalu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم minum air tersebut, sedangkan di sebelah kanan Baginda terdapat seorang kanak-kanak dan di sebelah kiri Baginda beberapa orang tua. Lalu Baginda bertanya pada kanak-kanak tersebut: adakah engkau mengizinkan aku memberi lebihan minuman ini kepada mereka?
Maka kanak-kanak itu berkata: aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan memberikan bahagianku yang kuterima darimu ini kepada orang lain! Lalu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم meletakkan cawan tersebut di tangan kanak-kanak tersebut.
Hadith ini diriwayatkan oleh al Bukhari. Berkata Imam Nawawi: kanak-kanak tersebut ialah Saiduna Abdullah ibn Abbas رضي الله عنهما .
Penutup
Hadith akhir ini menunjukkan kesungguhan sahabat iaitu Saiduna Abdullah ibn Abbas untuk bertabarruk dengan sisa minuman Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Ketahuilah, para sahabat adalah orang yang amat mementingkan ithar, iaitu mementingkan kemaslahatan mukmin yang lain berbanding kehendak peribadi.
Tetapi di dalam situasi ini, kita mendapati Ibn Abbas menyalahi ithar. Kenapa? Kerana tiada ithar dalam melakukan ketaatan. Para sahabat adalah generasi yang sering berlumba-lumba mengikut sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم . Mereka amat bersemangat untuk bertabarruk dengan Rasulullah, berasa tamak untuk mendapat perkara-perkara yang berkaitan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Beliau mahu hanya beliau seorang sahaja yang dapat menikmati lebihan minuman Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tanpa mahu berkongsi dengan sahabat lain.
Hal ini juga tidak disanggah oleh Baginda صلى الله عليه وآله وسلم malah Baginda menggalakkan perbuatan ini. Lihat semula kata perawi ‘Lalu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم meletakkan cawan tersebut di tangan kanak-kanak tersebut.’
Hakikatnya hadith pada situasi ini mengajar kita erti bersunguh-sungguh untuk mengambil berkat dari peninggalan orang soleh semaksima yang mungkin. Jika tidak kerana kelebihan perbuatan ini, Saiduna Ibnu Abbas adalah orang yang terakhir minum dari cawan tersebut selepas menghidangkannya terlebih dahulu kepada orang-orang tua berdekatan dengannya. Beliau mesti lebih memahami firmanNya:
Moga-moga Allah membuka bagi kita seluas-luas pintu-pintu kebaikan dan keimanan dan menutup segala pintu-pintu kejahatan dan kesesatan.
وصلى الله على سيد المرسلين سيدنا محمد وعلى آله الطاهرين وسلم تسليما كثيرا
Rujukan:
- Fathul Bari Syarah Soheh al Bukhari, oleh Amirul Mukminin fil Hadith: Imam Ibn Hajar al Aqalani, cetakan Dar al kutub al Ilmiyah
- Soheh Muslim Bisyarhi al Nawawi, oleh Muhyiddin al Imam Yahya ibn Syaraf al Nawawi , cetakan Muassasah Qurtubah
- al Arba’un al Buldaniyah, oleh al Musnid al Muhaddith Abi al Faidh Muhammad Yasin bin Isa al Fadani رضي الله عنه
- Wasilah Para Abid, oleh al Allamah Syeikh Muhammad Fuad ibn Kamaluddin al Maliki
- Mafahim Tabarruk, oleh al Allamah Dr Umar Abdullah Kamil.
- Agamamu Dalam Bahaya, oleh Al Allamah Abu Abdullah Alawi al Yamani
- Aqidah Muslimin-Aqidah Yang Diakui Fakulti Usuluddin Universiti al Azhar
-الحمد لله على تمام النعمة-
Ujang1230
13/6/10@726pm
HUKUM TABARRUK
KAJIAN ILMIAH : HUKUM TABARRUK (Mengambil berkat) DAN DALIL-DALILNYA YANG NYATA. – Pengajian Aswaja Pemurnian Nusantara
Tuduhan Wahhabi Salafi :
Tuduhan Pertama:
Tuduhan Pertama:
“Astaghfirullah! Nabi SAW tak suruh kita taksub dengan peninggalan baginda kecuali Al Quran dan As Sunnah sahaja! Sila fahamkan khutbah terakhir Nabi SAW! Tak pernah para sahabat sibukkan diri dengan isu rambut Nabi, serban Nabi, capal Nabi dan sebagainya! Sebaliknya menegakkan SUNNAH Nabi SAW itu yang paling utama bagi mereka!”
Tuduhan Kedua:
Tuduhan Kedua:
“Para Sahabat Nabi tak pernah sibuk dengan fesyen Nabi dan tak pernah sibuk nak minum air rambut Nabi! Astagfirullah! Zaman sekarang ni, macam-macam ahli bid’ah dan ahli syirik buat! Lepas ni apa pulak? Kalau kita sayang Nabi SAW, buktikan dgn taat kepada Allah dan Rasul bukan sekadar percaya dgn kuasa ajaib yg ada pada rambut Nabi atau lainnya! Itu Sunnah Nabi SAW yg utama!”
Tuduhan Ketiga:
Tuduhan Ketiga:
“Nabi SAW memang manusia terpilih dan disayangi Allah. Tapi pernahkah Allah atau Nabi SAW sendiri suruh kita sibukkan diri dengan tubuh badan Nabi SAW? Allah suruh ikut Nabi SAW bukan taksub dgn tubuh badan atau peninggalan Nabi!”
Jawapan Ahlul Sunnah Wal Jamaah :
Semoga Allah sembuhkan penyakit otak kaum Wahhabi Salafi. Sesungguhnya amalan mengambil berkat dari Nabi itu merupakan amalan-amalan mulia para Sahabat Nabi SAW. Jika ianya haram dan menyebabkan kufur, sudah tentu Nabi melarangnya! Melalui ucapan-ucapan dan tuduhan-tuduhan kamu sendiri, bermakna kamu baru sahaja mengkafirkan para Sahabat kerana melakukan syirik dan khurafat terhadap peninggalan Nabi!
DALIL-DALIL TABARRUK – sila baca dengan tenang dan berlapang dada.
DALIL PERTAMA:
Jawapan Ahlul Sunnah Wal Jamaah :
Semoga Allah sembuhkan penyakit otak kaum Wahhabi Salafi. Sesungguhnya amalan mengambil berkat dari Nabi itu merupakan amalan-amalan mulia para Sahabat Nabi SAW. Jika ianya haram dan menyebabkan kufur, sudah tentu Nabi melarangnya! Melalui ucapan-ucapan dan tuduhan-tuduhan kamu sendiri, bermakna kamu baru sahaja mengkafirkan para Sahabat kerana melakukan syirik dan khurafat terhadap peninggalan Nabi!
DALIL-DALIL TABARRUK – sila baca dengan tenang dan berlapang dada.
DALIL PERTAMA:
Disebut dalam Musnad Imam Ahmad, mafhumnya :
“Daripada Abdullah, maula Asma bin Abu Bakar berkata : Asma mengeluarkan (menunjukkan) kepadaku sehelai pakaian yang ada dua lubang yg berjahit.
Lalu Asma berkata : Ini adalah pakaian Rasulullah SAW. Ia dahulu pernah disimpan oleh Aisyah. Ketika Aisyah wafat, aku menyimpannya. Kami akan mencelupkannya ke dlm air untuk menjadi ubat kepada orang sakit di kalangan kami.”
“Daripada Abdullah, maula Asma bin Abu Bakar berkata : Asma mengeluarkan (menunjukkan) kepadaku sehelai pakaian yang ada dua lubang yg berjahit.
Lalu Asma berkata : Ini adalah pakaian Rasulullah SAW. Ia dahulu pernah disimpan oleh Aisyah. Ketika Aisyah wafat, aku menyimpannya. Kami akan mencelupkannya ke dlm air untuk menjadi ubat kepada orang sakit di kalangan kami.”
(Ini pula dianggap syirik, bidaah, khurafat oleh WAHHABI?)
DALIL KEDUA:
DALIL KEDUA:
Disebutkan dalam hadith : “Rasulullah SAW membahagi-bahagikan rambut Baginda kepada para sahabat supaya mereka bertabarruk (mengambil berkat) dengannya (rambut).” (HR Bukhari & Muslim)
(Takkan Nabi pun si WAHHABI nak tuduh ahli syirik, khurafat, bid’ah dan lain-lain sedangkan Nabi sendiri agih-agihkan rambut mulia baginda?)
DALIL KETIGA:
DALIL KETIGA:
Hadith daripada Anas r.a : “Ketika Rasulullah SAW melihat Jamrah, Baginda SAW berkorban (sembelih binatang) kemudian Baginda SAW meletakkan pencukur di rambut sebelah kanan lalu mencukurnya, lalu memberikannya (rambut) kepada Abu Talhah. Kemudian Baginda SAW meletakkan pencukur di sebelah kiri lalu mencukurnya, lalu berkata : Bahagi bahagikan kpd org ramai ( Riwayat at Tirmidzi)(KENAPA NABI SURUH BAHAGI-BAHAGIKAN?UNTUK BUAT BENDA KHURAFAT KE?)
DALIL KEEMPAT:
DALIL KEEMPAT:
Ubaidah r.a berkata. “Kalaulah aku memiliki sehelai rambut Baginda SAW, maka itu lebih berharga bagiku daripada dunia dan segala isinya.” (Riwayat al Bukhari) (KENAPA BELIAU BEGITU TAKSUB DENGAN RAMBUT NABI? SAHABAT NI AHLI BID’AH KE?)
DALIL KELIMA:
DALIL KELIMA:
Abu Bakar r.a berkata “Aku melihat Khalid al Walid meminta rambut bahagian depan Rasulullah dan dia menerimanya. Dia biasa meletakkannya di atas matanya dan menciumnya.”
Diketahui bahawa kemudian dia meletakannya di “qalansuwah” (penutup kepala yg dililit serban) miliknya & selalu menang dalam peperangan (Riwayat Al-Waqi dlm Al-Maghazi & Ibn Hajr dlm al Ishabah fi Tamyiz As-Sahabah)
Diketahui bahawa kemudian dia meletakannya di “qalansuwah” (penutup kepala yg dililit serban) miliknya & selalu menang dalam peperangan (Riwayat Al-Waqi dlm Al-Maghazi & Ibn Hajr dlm al Ishabah fi Tamyiz As-Sahabah)
(TAKSUB BETUL KHALID AL-WALID DENGAN RAMBUT NABI SAMPAI BAWAK RAMBUT NABI PERGI BERPERANG BERSAMA-SAMA? KHALID AL-WALID NI AHLI BID’AH KE? WAHHABI SALAFI TAK TAKUT KE KENA BELASAH DENGAN DIA KAT AKHIRAT NANTI SEBAB TUDUH DIA AHLI BID’AH????)
DALIL KEENAM:
DALIL KEENAM:
Ummu Salamah memiliki beberapa helai rambut Nabi SAW dalam sebuah botol perak dan orang-orang akan pergi & mendapat berkat melalui rambut-rambut itu dan mereka sembuh. (Riwayat Al-Hafiz Al-Aini dalam Umdah Al-Qari)
(SYIRIK KE NI? MANA BOLEH PERCAYA RAMBUT NABI ADA POWER. MANA BOLEH TABARRUK-TABARRUK NI!)
DALIL KETUJUH:
DALIL KETUJUH:
Para sahabat berebut-rebut mengambil wudhu Rasulullah SAW & mengusap usapkannya ke wajah & kedua dua tangan mereka. Bagi mereka yg tidak sempat mendapatkannya, mereka mengusap daripada basahan tubuh sahabat lain yg terkena bekas wudhu Rasulullah SAW, lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka.” (Riwayat al Bukhari) (TAKSUBNYA SAHABAT DENGAN AIR WUDHUK NABI! INI PERBUATAN BID’AH JUGAK KE?)
DALIL KELAPAN:
DALIL KELAPAN:
Setelah Rasulullah saw wafat, Asma binti Abubakar Asy-syiddiq ra menjadikan baju Rasulullah saw sebagai perubatan. Bila ada yang sakit, maka beliau akan mencelupkan baju Rasulullah saw ke air lalu air itu diminumkan pada yang sakit (Sahih Muslim : 2069).
(KENAPA BELIAU TAKSUB DENGAN BARANG-BARANG PENINGGALAN RASULULLAH? BUKANKAN MUHAMMAD IBN ABD WAHHAB KATA MENGAMBIL BERAKAH DARI BARANG PENINGGALAN RASULULLAH ITU SYIRK? NAK IKUT SIAPA SEKARANG?)
DALIL KESEMBILAN:
DALIL KESEMBILAN:
Rasulullah saw sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai barakah untuk perubatan, sebagaimana sabda beliau : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebahagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (Sahih Bukhari : 5413). Ucapan Rasulullah saw : “Demi air liur sebahagian dari kami” menunjukkan bahawa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit (dengan izin Allah swt setentunya) sebagaimana juga doktor dapat menyembuhkan (dengan izin Allah). Hadith ini menjelaskan bahawa Rasulullah saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan tanah bumi juga pada hakikatnya membawa keberkahan dari Allah swt.
(WAHHABI KATA ULAMA BUKAN MAKSUM! IKUT AL-QURAN DAN SUNNAH SUDAH CUKUP! BARAKAH BARAKAH DARI ULAMA SEMUNYA SYIRK! SEKARANG, WAHHABI BERANI TUDUH RASULULLAH SYIRK?)
DALIL KESEPULUH
DALIL KESEPULUH
Seorang sahabat meminta Rasulullah saw solat dirumahnya supaya bekas tempat solat itu boleh dijadikan musollah dirumahnya. Maka Rasulullah saw datang ke rumah orang itu dan bertanya : “Di mana tempat yang kau inginkan aku solat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat solatnya Rasul saw hingga dijadikan musollah. (Sahih Bukhari: 1130).
(TIDAK BOLEH BEKAS TEMPAT SOLAT ITU DIJADIKAN SEBAGAI MUSOLLAH! SYIRIK! MESTI DIPECAHKAN!)
DALIL KESEBELAS
DALIL KESEBELAS
Allah memuji Rasulullah saw dan Umar bin Khattab ra yg menjadikan Maqam Ibrahim as (sebenarnya tempat itu bukan makamnya, tetapi tempat Nabi Ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yang kemudian dinamakan Maqam Ibrahim as) sebagai tempat solat (musollah), sebagaimana firman Nya : “Dan mereka menjadikan tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat solat” (Al-Imran:97). Maka jelaslah bahawa Allah swt memuliakan tempat hamba-hamba Nya berdoa, bahkan Rasulullah saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
(WAHHABI KATA TAK BOLEH BERTABARRUK DI TEMPAT BEKAS BEKAS NABI KERANA ITU PERBUATAN SYIRK? SIAPA YANG SYIRK SEKARANG? UMAR IBN KHATTAB ATAU OTAK KAMU?)
DALIL KEDUA BELAS
DALIL KEDUA BELAS
Diriwayatkan ketika Rasulullah saw baru sahaja mendapat hadiah sehelai selendang yang bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasulullah saw. Maka riuhlah para sahabat yang lain menegur si peminta. Maka sahabat yang meminta itu berkata : “Aku memintanya kerana mengharapkan keberkahannya kerana dipakai oleh Nabi saw dan ku inginkannya untuk kafanku nanti” (Sahih Bukharin:5689). Demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.
(MUHAMMAD IBN ABD WAHHAB, PENGASAS WAHHABI, KATA MENGAMBIL BERAKAH DARI BARANG PENINGGALAN RASULULLAH ITU SYIRK? NAK IKUT SIAPA SEKARANG?)
DALIL KETIGA BELAS
DALIL KETIGA BELAS
Salim bin Abdullah ra melakukan solat sunnat di tepi sebuah jalan. Apabila ditanya, dia berkata bahawa ayahku solat sunnat ditempat ini. Dan berkata ayahku bahawa Rasulullah saw solat di tempat ini. Dan dikatakan bahawa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Sahih Bukhari:469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasulullah saw. Bagi mereka, tempat-tempat yang pernah disentuh oleh tubuh Rasulullah saw tetap mulia walaupun telah diinjak ribuan kaki. Mereka mencari keberkahan pula dengan mendirikan solat ditempat tersebut. Demikian pengagungan mereka terhadap Rasulullah saw.
Semoga dengan keterangan ini, golongan Wahhabi Salafi serta pengikutnya insya-Allah akan dibuka hati mereka masing-masing agar tidak mudah menyesatkan, mengkafirkan dan sebagainya kepada saudara muslim kita sendiri. Supaya golongan Wahhabi Salafi juga mengamalkan amalan Salafussoleh seperti mana kita Ahlus Sunnah Wal Jamaah mengamalkannya. Aameen.
Wallahu a’lam
Semoga dengan keterangan ini, golongan Wahhabi Salafi serta pengikutnya insya-Allah akan dibuka hati mereka masing-masing agar tidak mudah menyesatkan, mengkafirkan dan sebagainya kepada saudara muslim kita sendiri. Supaya golongan Wahhabi Salafi juga mengamalkan amalan Salafussoleh seperti mana kita Ahlus Sunnah Wal Jamaah mengamalkannya. Aameen.
Wallahu a’lam
Tabarruk
Tabarruk
TABARRUK – Mengambil Keberkahan Dari Bekas atau Tubuh Shalihin
Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad saw, peninggalan-peninggalannya saw, dan para pewarisnya yakni para ulama, para kyai dan para wali dan shalihin. Karena hakekat yang belum mereka pahami, mereka berani menilai kafir (sesat) atau musyrik terhadap mereka yang bertabarruk pada Nabi saw atau ulama.
Mengenai azimat (Ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat ayat Alqur’an.
Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yang sejelas jelasnya, bahwa benda benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yang shalih, maka sebagaimana diriwayatkan :
Para sahabat seakan akan hampir saling berkelahi saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no. 186),
Allah swt menjelaskan bahwa ketika Ya’qub as dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian Yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam firman Nya SWT :
“(Berkata Yusuf as pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” (QS Yusuf 93), dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf as) MAKA IA (Ya’qub as) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS Yusuf 96).
Ini merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya menyebutkan sorban yusuf dengan ucapannya : “PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” .
Untuk apa disebutkan masalah baju yang dilemparkan kewajah ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah SWT memuliakan benda benda yang pernah bersentuhan dengan tubuh hamba hamba Nya yang shalih. kita akan lihat dalil dalil lainnya.
Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yang sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yang sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
Rasul saw sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pada hakikatnya seluruh ala mini membawa keberkahan dari Allah swt.
Seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yang kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130)
Nabi Musa as ketika akan wafat ia meminta didekatkan ke wilayah suci di palestina, menunjukkan bahwa Musa as ingin dimakamkan dengan mengambil berkah pada tempat suci (shahih Bukhari hadits no.1274).
Allah memuji Nabi saw dan Umar bin Khattab ra yang menjadikan Maqam Ibrahim as (bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yang dinamakan Maqam Ibrahim as) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firman Nya : “Dan jadikanlah tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS Al Imran 97), maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
Diriwayatkan ketika Rasul saw barusaja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.
Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yang merobek perutnya dengan luka yang sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), “Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yang sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”
Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata : “Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).
Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw.
Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).
Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345).
Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yang memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925) Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw Tentunya umar bin khattab sudah dikatakan musyrik karena disakratulmaut bukan ingat Allah malah ingat kuburan Nabi saw Tentunya para sahabat sudah dikatakan musyrik dan halal darahnya, karena mengkultuskan Nabi Muhammad saw dan menganggapnya tuhan sembahan hingga berebutan air bekas wudhunya, mirip dengan kaum nasrani yang berebutan air pastor Nah.. kita boleh menimbang diri kita, apakah kita sejalan dengan sahabat atau kita sejalan dengan generasi sempalan.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik. Sebagimana sabda Nabi saw : “Kebekahan adalah pada orang orang tua dan ulama kalian” (Shahih Ibn Hibban hadits no.559) Dikatakan oleh Al hafidh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy menanggapi hadits yang diriwayatkan dalam shahih muslim bahw Rasul saw membaca mu’awwidzatain lalu meniupkannya ke kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuh yang dapat disentuhnya, hal itu adalah tabarruk dengan nafas dan air liur yang telah dilewati bacaan Alqur’an, sebagaimana tulisan dzikir dzikir yang ditulis dibejana (untuk obat). (Al Jami’usshaghiir Imam Assuyuthiy Juz 1 hal 84 hadits no.104)
Telah dibuktikan pula secara ilmiah oleh salah seorang Profesor Jepang, bahwa air itu berubah wujud bentuknya dengan hanya diucapkan padanya kalimat kalimat tertentu, bila ucapan itu berupa cinta, terimakasih dan ucapan ucapan indah lainnya maka air itu berubah wujudnya menjadi semakin indah, bila diperdengarkan ucapan cacian dan buruk maka air itu berubah menjadi buruk wujud bentuknya, dan bila dituliskan padanya tulisan mulia dan indah seperti terimakasih, syair cinta dan tulisan indah lainnya maka ia menjadi semakin indah wujudnya, bila dituliskan padanya ucapan caci maki dan ucapan buruk lainnya maka ia berubah buruk wujudnya, kesimpulannya bahwa air itu berubah dengan perubahan emosi orang yang didekatnya, apakah berupa tulisan dan perkataan.
Keajaiban alamiah yang baru diketahui masa kini, sedangkan Rasul saw dan para sahabat telah memahaminya, mereka bertabarruk dengan air yang menyentuh tubuh Rasul saw, mereka bertabarruk dengan air doa yang didoakan oleh Rasul saw, maka hanya mereka mereka kaum muslimin yang rendah pemahamannya dalam syariah inilah yang masih terus menentangnya padahal telah dibuktikan secara dalil shahih dan pula pembuktian ilmiah, menunjukkan pemahaman mereka itulah yang jumud dan terbelakang.
Walillahittaufiq
Related posts
TABARRUK – Mengambil Keberkahan Dari Bekas atau Tubuh Shalihin
Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad saw, peninggalan-peninggalannya saw, dan para pewarisnya yakni para ulama, para kyai dan para wali dan shalihin. Karena hakekat yang belum mereka pahami, mereka berani menilai kafir (sesat) atau musyrik terhadap mereka yang bertabarruk pada Nabi saw atau ulama.
Mengenai azimat (Ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat ayat Alqur’an.
Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yang sejelas jelasnya, bahwa benda benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yang shalih, maka sebagaimana diriwayatkan :
Para sahabat seakan akan hampir saling berkelahi saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no. 186),
Allah swt menjelaskan bahwa ketika Ya’qub as dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian Yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam firman Nya SWT :
“(Berkata Yusuf as pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” (QS Yusuf 93), dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf as) MAKA IA (Ya’qub as) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS Yusuf 96).
Ini merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya menyebutkan sorban yusuf dengan ucapannya : “PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” .
Untuk apa disebutkan masalah baju yang dilemparkan kewajah ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah SWT memuliakan benda benda yang pernah bersentuhan dengan tubuh hamba hamba Nya yang shalih. kita akan lihat dalil dalil lainnya.
Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yang sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yang sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
Rasul saw sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pada hakikatnya seluruh ala mini membawa keberkahan dari Allah swt.
Seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yang kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130)
Nabi Musa as ketika akan wafat ia meminta didekatkan ke wilayah suci di palestina, menunjukkan bahwa Musa as ingin dimakamkan dengan mengambil berkah pada tempat suci (shahih Bukhari hadits no.1274).
Allah memuji Nabi saw dan Umar bin Khattab ra yang menjadikan Maqam Ibrahim as (bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yang dinamakan Maqam Ibrahim as) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firman Nya : “Dan jadikanlah tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS Al Imran 97), maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
Diriwayatkan ketika Rasul saw barusaja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.
Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yang merobek perutnya dengan luka yang sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), “Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yang sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”
Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata : “Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).
Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw.
Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).
Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345).
Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yang memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925) Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw Tentunya umar bin khattab sudah dikatakan musyrik karena disakratulmaut bukan ingat Allah malah ingat kuburan Nabi saw Tentunya para sahabat sudah dikatakan musyrik dan halal darahnya, karena mengkultuskan Nabi Muhammad saw dan menganggapnya tuhan sembahan hingga berebutan air bekas wudhunya, mirip dengan kaum nasrani yang berebutan air pastor Nah.. kita boleh menimbang diri kita, apakah kita sejalan dengan sahabat atau kita sejalan dengan generasi sempalan.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik. Sebagimana sabda Nabi saw : “Kebekahan adalah pada orang orang tua dan ulama kalian” (Shahih Ibn Hibban hadits no.559) Dikatakan oleh Al hafidh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy menanggapi hadits yang diriwayatkan dalam shahih muslim bahw Rasul saw membaca mu’awwidzatain lalu meniupkannya ke kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuh yang dapat disentuhnya, hal itu adalah tabarruk dengan nafas dan air liur yang telah dilewati bacaan Alqur’an, sebagaimana tulisan dzikir dzikir yang ditulis dibejana (untuk obat). (Al Jami’usshaghiir Imam Assuyuthiy Juz 1 hal 84 hadits no.104)
Telah dibuktikan pula secara ilmiah oleh salah seorang Profesor Jepang, bahwa air itu berubah wujud bentuknya dengan hanya diucapkan padanya kalimat kalimat tertentu, bila ucapan itu berupa cinta, terimakasih dan ucapan ucapan indah lainnya maka air itu berubah wujudnya menjadi semakin indah, bila diperdengarkan ucapan cacian dan buruk maka air itu berubah menjadi buruk wujud bentuknya, dan bila dituliskan padanya tulisan mulia dan indah seperti terimakasih, syair cinta dan tulisan indah lainnya maka ia menjadi semakin indah wujudnya, bila dituliskan padanya ucapan caci maki dan ucapan buruk lainnya maka ia berubah buruk wujudnya, kesimpulannya bahwa air itu berubah dengan perubahan emosi orang yang didekatnya, apakah berupa tulisan dan perkataan.
Keajaiban alamiah yang baru diketahui masa kini, sedangkan Rasul saw dan para sahabat telah memahaminya, mereka bertabarruk dengan air yang menyentuh tubuh Rasul saw, mereka bertabarruk dengan air doa yang didoakan oleh Rasul saw, maka hanya mereka mereka kaum muslimin yang rendah pemahamannya dalam syariah inilah yang masih terus menentangnya padahal telah dibuktikan secara dalil shahih dan pula pembuktian ilmiah, menunjukkan pemahaman mereka itulah yang jumud dan terbelakang.
Walillahittaufiq
Related posts
Subscribe to:
Posts (Atom)



