17 December 2019

Tawassul Yang Benar Dalam Islam dan Tawassul Dengan Bacaan Al-Qur’an



Tawassul Yang Benar Dalam Islam dan Tawassul Dengan Bacaan Al-Qur’an


Tawassul Yang Benar Dalam Islam dan Tawassul Dengan Bacaan Al-Qur’an 
Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
••


➡ Tawassul Yang Benar Dalam Islam
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

.
Allah subhanahu wa ta’ala mecipkatan manusia di dunia inibukan hanya diciptakan kemudian dibiarkan begitu saja tanpa arah dan tujuan, akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk sebuah tujuan yang agung, yaitu untuk beribadah kepada-Nya,sebagaimana firman Allah,
ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍﻟْﺈِﻧﺲَ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”[1]
Ibadah merupakan sarana bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan bentuk rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang diberikan kepadanya.
Ibadah itu ada berbagai macam, diantara bentuk ibadah adalah tawassul
  • ➡ A. Apa yang Dimaksud dengan Tawassul?
Tawassul secara etimologi (bahasa) adalah menjadikan sebuah perantara yang baik untuk mencapai tujuan.
Adapun secara syariat, tawassul adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan sebuah perantara yang disyari’atkan untuk mencapai sebuah tujuan.
**********
  • ➡ B. Apa yang dimaksud dengan Perantara (Wasilah)?
Wasilah adalah sebab-sebab yang menghantarkan kepada maksud dan tujuan
✅ Allah ta’ala berfirman,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺑْﺘَﻐُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻮَﺳِﻴﻠَﺔَ ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥ
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untk mendekatkan diri kepadanya, dan.berjihadlah (berjungalah) dijalan-Nya agar kamu beruntung.”[2]
✅ Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, yang dimaksud wasilah adalah, “Al-Qurbah.”, yaitu amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.
✅ Qatadah rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut berkata, “Yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan melaksanakan amalan-amalan yang diridhoi oleh-Nya.”[3]
➡ Wasilah itu sendiri terbagi menjadi dua, wasilah kauniyyah dan wasilah syar’iyyah :
✅ 1. Wasilah kauniyyah . Adalah sebab-sebab alami yang Allah ciptakan untuk mencapai sesuatu, contohnya: Allah mencipkatan air sebagai sebab penghilang dahaga, makanan sebagai penghilang lapar, pakaian untuk melindungi diri dari cuaca panas dan dingin, wasilah kauniyyah ini bersifat umum baik untuk mukmin ataupun kafir.
✅ 2. Wasilah syar’iyyah ialah sebab-sebab atau perantara yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana yang tertera dalam al-quran dan sunnah, contohnya: mengucapkan kalimat syahadat dengan penuh keyakinan dan ketulusan merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga, dan sebab dijauhkannya dari api neraka, silaturahmi merupakan sebab dipanjangkan umur dan dilapangkan rezeki
  • ➡ C. Macam-Macam Tawassul
Tawassul terbagi menjadi dua, yang pertama adalah tawassul masyru’, yaitu tawassul yang diperbolehkan dan dianjurkan oleh syari’at, dan yang kedua tawassul ghoiru masyru’, yaitu tawassul yang tidak disyariatkan.
  • Tawassul Masyru’ (yang disyariatkan).
Tawassul masyru’ memiliki beberapa bentuk:
➡ 1) Bertawassul kepada Allah dengan asmau’ul husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
Yaitu seperti seseorang mengatakan, “Ya Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, Al-Lathif Al-Khabir berikanlah kepadaku keselamatan.”
✅ Allah ta’ala berfirman,
ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺄَﺳْﻤَﺎﺀُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰٰ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﻩُ ﺑِﻬَﺎ
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.”[4]
Telah disebutkan dalam banyak riwayat yang menunjukkan akan disyari’atkannya berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan asma’ul husna, diantaranya apa yang telah diriwayatkan dari Rasulullah shallalhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mendengar seorang pria berkata ketika bertasyahud,
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻳﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﺍﻷﺣﺪ ﺍﻟﺼﻤﺪ، ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﻠﺪ ﻭﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ، ﻭﻟﻢﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻛﻔﻮﺍ ﺃﺣﺪ ﺃﻥ ﺗﻐﻔﺮ ﻟﻲ ﺫﻧﻮﺑﻲ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ ﺍﻟﻐﻔﻮﺭ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
Allaahumma innii as-aluka yaa allaah, bi-annakal waahidul ahadush-shomad, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad, an taghfiro lii dzunuubii, innaka antal ghofuurur-rohiim.
“Ya Allah yang Maha Esa tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada seorangpun yang setara dengan-Mu, aku memohon kepada-Mu ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau yang Maha.Pengampun lagi Maha Pemurah.”
✅ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
ﻗﺪﻏﻔﺮ ﻟﻪ، ﻗﺪ ﻏﻔﺮ ﻟﻪ
Sungguh ia telah diampuni, sungguh ia telah diampuni.”[5]
➡ 2) Bertawasul kepada Allah dengan iman dan amal sholeh yang pernah dikerjakan. Seperti seseorang berkata, “Ya Allah dengan keimananku kepada-Mu, dan cintaku kepada utusan-Mu maka ampunilah aku.”, atau dengan menyebutkan amalan-amalan kebajikan yang pernah dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan rasa takut kepada Allah.
✅ Allah ta’ala berfirman,
ﺭَّﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻨَﺎ ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻣُﻨَﺎﺩِﻳًﺎ ﻳُﻨَﺎﺩِﻱ ﻟِﻠْﺈِﻳﻤَﺎﻥِ ﺃَﻥْ ﺁﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ ﻓَﺂﻣَﻨَّﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎﺫُﻧُﻮﺑَﻨَﺎ ﻭَﻛَﻔِّﺮْ ﻋَﻨَّﺎ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﺄَﺑْﺮَﺍﺭِ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”[6]
➡ 3) Bertawassul kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, Allah ta’ala berfirman,
ﻭَﺫَﺍ ﺍﻟﻨُّﻮﻥِ ﺇِﺫ ﺫَّﻫَﺐَ ﻣُﻐَﺎﺿِﺒًﺎ ﻓَﻈَﻦَّ ﺃَﻥ ﻟَّﻦ ﻧَّﻘْﺪِﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻨَﺎﺩَﻯٰ ﻓِﻲ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺃَﻥ ﻟَّﺎﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧﺖَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺇِﻧِّﻲ ﻛُﻨﺖُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.”[7]
➡ 4) Bertawassul kepada Allah dengan menampakkan kelemahan dan kefaqiran kepada Allah.
✅ Allah ta’ala berfirman :
ﻭَﺃَﻳُّﻮﺏَ ﺇِﺫْ ﻧَﺎﺩَﻯٰ ﺭَﺑَّﻪُ ﺃَﻧِّﻲ ﻣَﺴَّﻨِﻲَ ﺍﻟﻀُّﺮُّ ﻭَﺃَﻧﺖَ ﺃَﺭْﺣَﻢُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴﻦَ
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”[8]
➡ 5) Bertawassul kepada Allah dengan do’a orang shalih yang masih hidup
Sebagaimana para sahabat meminta dido’akan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tertimpa kekeringan, adapun setelah Rasulullah wafat, mereka memita untuk dido’akan oleh Al ‘Abbas paman Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam .
➡ 6) Bertawassul kepada Allah dengan mengakui dosa dan kesalahan, sebagaimana Allah berfirman,
ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺏِّ ﺇِﻧِّﻲ ﻇَﻠَﻤْﺖُ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲ ﻓَﻐَﻔَﺮَ ﻟَﻪُ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢُ
Musa berdo’a, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[9]
  • ✅ Tawassul Groiru Masyru’ (yang dilarang oleh syari’at).
Diantara bentuk tawassul yang dilarang sayariat adalah:
➡ 1) Bertawassul Kepada Orang yang Sudah Meninggal Dunia
Yaitu dengan meminta dido’akan oleh orang yang telah meninggal agar dikabulkannya sebuah hajat atau maksud tertentu, maka tawassul seperti ini termasuk jenis tawassul yang dilarang oleh syari’at. Karena orang yang telah meninggal tidak mampu mendengar hajat seseorang, apa lagi berdo’a meminta kepada Allah agar hajat itu dikabulkan sebagaimana mereka mampu melakukan hal itu ketika masih hidup.
Para sahabat seperti Umar bin Khaththab, Mu’awiyah bin abi Sufyan dan orang-orang yang hadir bersama mereka dari kalangan para sahabat dan tabi’in , ketika ditimpa musibah kekeringan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , mereka tidaklah ber tawassul dan meminta pertolongan kepada Rasulullah yang telah wafat agar diturunkan hujan, sebagaimana mereka pernah melakukannya saat Rasulullah masih hidup. Akan tetapi, mereka ber tawassul kepada sahabat Rasulullah yang masih hidup seperti Al ‘Abbas paman nabi dan Yazid bin Al Aswad radhiyallahu ‘anhuma.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Allah sungguh kami dahulu bertawassul kepadamu dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan air kepada kami, dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah air kepada kami.”
Tidaklah para sahabat meninggalkan tawassul kepada Rasulullah yang telah wafat sebagaimana mereka melakukannya ketika Rasulullah masih hidup , kecuali karena hal itu tidak disyari’atkan, dan cukuplah hal ini menjadi bukti bahwa bertawassul kepada orang yang telah meninggal merupakan bentuk tawassul yang dilarang
➡ 2. Bertawassul dengan Kedudukan Nabi shallallahu alaihi wasallam
Yaitu seseorang meminta kepada Allah dengan wasilah kedudukan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam , atau dengan kedudukan nabi-nabi yang lain, contohnya seseorang mengucapkan, “Ya Allah dengan kedudukan Nabi Muhammad berikanlah kepadaku kelapangan rezeki.”. Maka ber tawassul yang seperti ini merupakan tawassul yang dilarang.
✅ Adapun lafadz hadits yang menyebutkan,
ﺇﺫﺍ ﺳﺄﻟﺘﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﺳﺄﻟﻮﻩ ﺑﺠﺎﻫﻲ؛ ﻓﺈﻥ ﺟﺎﻫﻲ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻈﻴﻢ ‏[10 ]
Apabila kalian meminta kepada Allah maka mintalah kepada- Nya dengan(wasilah) kedudukanku, karena kedudukanku disisi.Allah itu kedudukan yang agung.”
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini merupakan hadits palsu yang tidak boleh dijadikan landasan dalam beramal,sebagaimana tidak ada satupun dari para ulama ahlul hadits yang pernah menyebutkan shahihnya hadits ini.
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa tawassul merupakan sebuah bentuk peribadatan kepada Allah, maka hal itu tidaklah ditetapkan kecuali dengan dalil yang jelas dan kuat.
➡ 3) Bertawassul dengan Dzat Makhluk
Yaitu meminta kepada Allah dengan maksud menjadikan dzat makhluk sebagai perantara, maka hal ini juga merupakan bentuk tawassul yang tidak disyariatkan, karena Allah Ta’ala tidak mensyariatkan kepada hambanya untuk menjadikan dzat makhluk sebagai wasilah, sebagaimana Allah tidak menjadikan dzat makhluk sebagai sebab di-ijabahinya sebuah do’a.
Wallahu ta’ala a’lam.
Ditulis Oleh Ustadz Hisban Hamid
_________________________
[1] Surat Adz-Dzariyat, ayat 56
[2] Surat Al Ma’idah, ayat 35
[3] Tafsiru Al-Quran Al-Adhim, Ibnu Katsir (3/103) Daaru
Thaibah, Riyadh
[4] Surat Al-A’raf, ayat 180
[5] Hadits shohih, riwayat Abu Dawud, An-Nasa’iy, dan Ahmad.
[6] Surat Ali Imran, ayat 193
[7] Surat Al Anbiya, ayat 87
[8] Surat Al Anbiya, ayat 83
[9] Surat Al Qasas, ayat 16
[10] Majmu’ al Fatawa, Ibn Taimiyyah (1/319)
Referensi :
•Aqidatu At-Tauhid, Syaikh Sholih bin Fauzan al Fauzan, penerbit maktabah Dar al Minhaj, cetakan pertama 1434 H
•At-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, al Imam Nashiruddin alAlbany, penerbit maktabah al Ma’arif, cetakan pertama2001-1421
=
  • ➡ Tawassul Dengan Bacaan Al-Qur’an
Diperbolehkan bagi seseorang untuk duduk di masjid atau di rumahnya membaca Al-Qur’an. Ketika ia selesai membacanya, ia memohon kepada Allâh Ta`âla agar memberikan pengampunan dan rahmat bagi orang yang sudah meninggal dunia, dengan bertawassul melalui bacaan Al-Qur’annya tersebut.
Adapun orang-orang berkumpul di rumah duka untuk membaca Al-Qur’an, lalu menghadiahkan bacaan Al-Qur’an mereka kepada orang yang meninggal dunia, kemudian mereka diberi upah atas hal itu oleh keluarga yang ditinggalkan, maka itu adalah Bid`ah Munkar yang wajib ditinggalkan…”
Kitab Minhâjul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jâbir Al-Jazâ’iry rahimahullâh, Bâb Al-Ibâdât, Ahkâmul Janâ’iz.
Translated by: Danni Nursalim Harun Al-Bandunjy Al-Azhary
=
Note:
  • Contoh Do’a Tawassul Setelah Membaca Al-Qur’an.
Memulai Doa dengan Memuji Allah dan Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia (Asma-ul husna).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” kemudian beliau bersabda,
إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء
Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)
Ya Allah Dengan keimananku kepada-Mu, dan cintaku kepada utusan-Mu dan Bacaan Al-Qur’an Ini maka ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”
Bisa Juga Setelah Membaca Al-Qur’an Bertawassul Dengan Membaca ini
➡ Doa Nabi Nuh ‘alaihissalam,
“رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ”
robbighfir lii wa liwaalidayya wa liman dakhola baitiya mu`minaw wa lil-mu`miniina wal-mu`minaat, wa laa tazidizh-zhoolimiina illaa tabaaroo
Artinya: “Ya Rabbi ampunilah aku, kedua orang tuaku dan siapapun yang memasuki rumahku dalam keadaan beriman. Serta orang yang beriman laki-laki dan perempuan”. QS. Nuh (71): 28.
➡ Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,
“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“
Robbanaghfir lii wa liwaalidayya wa lil-mu`miniina yauma yaquumul-hisaab
Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.
➡ Doa Untuk Saudara Yang Wafat Agar Dirahmati dan Diampuni Dosa-Dosanya Oleh Allah
 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“
Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm”
(Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).

➡ Doa Meminta Ampun #1
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻰ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﺄَﺣْﻴَﺎﺀِﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟْﺄَﻣْﻮَﺍﺕ
Allahumaghfirli WaliWalidayya Wal Muslimina wal muslimat, wal mu’minina mal mu’minat, al ahyaa’i minhum wal amwat
Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal”.
➡ Doa Meminta Ampun #2
“ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ“.
Robbanâghfirlanâ dzunûbanâ wa isrôfanâ fî amrinâ, wa tsabbit aqdâmanâ, wanshurnâ ‘alal qoumil kâfirîn”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami. Serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. QS. Ali Imran (3): 147.
➡ Doa Meminta Ampun #3
“رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“.
Robbanâ innanâ âmannâ faghfirlanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâbannâr”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka”. QS. Ali Imran (3): 16.
➡ Doa Meminta Ampun #4
“رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ“.
Robbanâ innanâ sami’nâ munâdiyan yunâdî lil îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ. Robbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ, wa tawaffanâ ma’al abrôr”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kalian kepada Rabbmu”, maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. QS. Ali Imran (3): 193.
➡ Doa Meminta Ampun #5
“رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“.
Robbanâ âmannâ faghfir lanâ warhamnâ wa Anta khoirur rôhimîn”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik”. QS. Al-Mu’minun (23): 109.
➡ Doa Meminta Ampun #6
“رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“.
Robbanâ atmim lanâ nûronâ waghfirlanâ, innaka ‘alâ kulli syai’in qodîr”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. At-Tahrim (66): 8.
=
➡ Doa Setelah Membaca Al-Qur’an Shahih 1
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله.
أما بعد: فإنَّ إحياء السنن النبوية من أعظم القربات إلى الله،
Sesungguhnya menghidupkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk amal yang sangat bernilai untuk mendekatkan diri kepada Allah.
فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ، قَالَ: (( مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا )) [رواه مسلم].
✅ Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala semua orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim).
فإليكم أحبتي في الله، هذه السُّنة التي غفل عنها كثيرٌ من الناس:
Catatan:
Realita menunjukkan bahwa ketika banyak orang meninggalkan amalan yang sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka muncullah amalan yang mengada-ada.
Banyak orang mengganti bacaan yang sesuai sunah Nabi di atas dengan bacaan tashdiq yaitu ucapan Shadaqallahul ‘azhim yang tidak ada dalilnya
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.”
“Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.” HR. Ashhaabus Sunan dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153.
Dari Aisyah Radhiallahu’anha, dia berkata: “Setiap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam duduk di suatu tempat, setiap membaca Al-Qur’an dan setiap melakukan shalat, beliau mengakhirinya dengan beberapa kalimat.” Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Aku berkata: “Wahai Rasululllah! Aku melihat engkau setiap duduk di suatu majelis, membaca Al-Qur’an atau melakukan shalat, engkau selalu mengakhiri dengan beberapa kalimat itu.” Beliau bersabda: “Ya, barangsiapa yang berkata baik akan ditulis pada kebaikan itu (pahala bacaan kalimat tersebut), barangsiapa yang berkata jelek, maka kalimat tersebut merupakan penghapusnya. (Kalimat itu adalah: doa di atas).” (HR. An-Nasa’i dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah, hal. 308. Imam Ahmad 6/77. Dr. Faruq Hamadah menyatakan, hadits tersebut shahih dalam Tahqiq ‘Amalul Yaum wal Lailah, karya An-Nasa’i hal. 273).
Saudaraku, berikut ini adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah dilalaikan oleh banyak orang.
يُسْتَحَبُّ بعد الانتهاء من تلاوة القرآن أن يُقال:
((سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ)).
Setelah selesai membaca al Qur’an dianjurkan untuk mengucapkan bacaan berikut ini: Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. Yang artinya: maha suci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
الدليل: عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))([]).
✅ Dalilnya, dari Aisyah beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- duduk di suatu tempat atau membaca al Qur’an ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat”. Akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Ya Rasulullah, tidaklah anda duduk di suatu tempat, membaca al Qur’an ataupun mengerjakan shalat melainkan anda akhiri dengan beberapa kalimat?” Jawaban beliau, “Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. ”
) إسناده صحيح: أخرجه النسائي في “السنن الكبرى” (9/123/10067)، والطبراني في “الدعاء” (رقم1912)، والسمعاني في “أدب الإملاء والاستملاء” (ص75)، وابن ناصر الدين في “خاتمة توضيح المشتبه” (9/282).
Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubro 9/123/1006, Thabrani dalam ad Du-a no 1912, Sam’ani dalam Adab al Imla’ wa al Istimla’ hal 75 dan Ibnu Nashiruddin dalam Khatimah Taudhih al Musytabih 9/282.
وقال الحافظ ابن حجر في “النكت” (2/733): [إسناده صحيح]، وقال الشيخ الألباني في “الصحيحة” (7/495): [هذا إسنادٌ صحيحٌ أيضاً على شرط مسلم]، وقال الشيخ مُقْبِل الوادعي في “الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين” (2/12: [هذا حديثٌ صحيحٌ
✅ Al Hafizh Ibnu Hajar dalam an Nukat 2/733 mengatakan, “Sanadnya shahih”. Syaikh al Albani dalam Shahihah 7/495 mengatakan, “Sanad ini adalah sanad yang juga shahih menurut kriteria Muslim”. Syaikh Muqbil al Wadi’I dalam al Jami’ al Shahih mimma laisa fi al Shahihain 2/12 mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang shahih”.
وقد بَوَّبَ الإمام النسائي على هذا الحديث بقوله: [ما تُختم به تلاوة القرآن].
Hadits ini diberi judul bab oleh Nasai dengan judul “Bacaan penutup setelah membaca al Qur’an”.
Bagi Qari’ hendaklah dia berdo’a kepada Allah عزّوجلّ sesuka hatinya, setelah membaca Al-Qur’an, dan bertawassul kepada Allah dengan yang dibacanya itu. Karena hal ini termasuk amal shaleh yang menjadi sebab dikabulkannya do’a. dan yang tepat adalah membaca do’a berikut ini :
~•••~~~ (Lanjut ke Halaman 2) ••~~••~~
➡ Doa Setelah Membaca Al-Qur’an Shahih 2
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي
إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ وَحُزْنَهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَجًا
Allaahumma innii ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika, au ‘allamtahu ahadan min kholqika, awista’tsarta bihi fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana robii’a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.”
“Ya Allah, sungguh aku adalah hambaMu, anak hambaMu yang laki-laki dan anak hambaMu yang perempuan. Ubun-ubunku berada di tanganMu. Pasti terjadi keputusanMu pada diriku dan adillah ketentuanMu pada diriku. Aku memohon kepadamu dengan segala asma milikMu, yang Engkau sebutkan untuk diriMu, atau Engkau turunkan dalam kitabMu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhlukMu, atau masih dalam perkara ghaib yang hanya Engkau sendiri yang mengetahui. Jadikanlah Al-Qur’an penyejuk hatiku, cahaya penglihatanku, pembebas kesedihanku dan pengusir kegelisahanku.”
Tiada lain, Allah pasti akan menghilangkan kesulitan dan kesedihannya, dan menggantikannya dengan kemudahan.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad).
=
  • ✅ NDAK ADA RUGINYA!
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA
Mungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.
Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.
✅ Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]
“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]
Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.
Akan segera dikabulkan doanya. Atau;
Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;
Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.
Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.
Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]
“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]
Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.
Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.
✅ Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.
✅ Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.
✅ Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.
✅ Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.
Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?
•••••••••••••••••••••••
_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_
_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_
Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.
Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pahala, Kebaikan, Amal Shalih Pemberat Timbangan Di Akhirat Kelak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.
Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq
_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim)

Tawasul Dalam Islam: Satu Pencerahan



Tawasul Dalam Islam: Satu Pencerahan


(Artikel ini telah diberi kebenaran oleh penulis asal untuk saya siarkan di blog saya. Penulisnya adalah Al-Fadhil Ustaz Raja Ahmad Mukhlis (Kembara Sufi) )


Isu tawassul sebenarnya merupakan suatu isu yang berkaitan dengan bagaimana kaedah berdoa, bukan berkaitan dengan aspek aqidah seperti yang cuba ditonjolkan oleh sesetengah golongan Wahhabi dan orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran mereka, walaupun tidak mengaku Wahhabi.


            Ada yang cuba memberi kesamaran kepada masyarakat awam, dengan mengatakan, tawassul dalam Islam hanya bermakna, kita meminta seseorang yang hidup untuk berdoa kepada Allah s.w.t. untuk kita.


            Makna yang sempit ini bukanlah makna sebenar tawassul dalam Islam, bahkan ia merupakan satu bahagian daripada tawassul dalam Islam. Maka, takrif tawassul tersebut tidak merangkumi seluruh intipate tawassul dalam Islam.


Definisi Tawassul:


            Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskan bahawa, tawassul dari segi bahasa ialah, mengambil wasilah (perantaraan) bagi mencapai sesuatu yang diingini.


            Tawassul kepada Allah s.w.t. bermaksud: mengambil perantaraan untuk mendapatkan keredhaan Allah s.w.t. dan mendapat pahala dengan mengambil jalan perantaraan dan sebab yang membawa kepadanya.


            Firman Allah s.w.t. yang bermaksud: "wahai orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan carilah wasilah (perantaraan) kepada-Nya. (Al-Ma'idah: 35)


            Jenis-jenis tawassul yang disepakati ulama' tentang keharusannya:


1)Tawassul kepada Allah s.w.t. dengan zat Allah s.w.t.. Ianya berdasarkan firman Allah s.w.t.: "bersabarlah, dan tidaklah sabar kamu melainkan dengan Allah" (An-Nahl: 127)


2)Tawassul dengan nama Allah s.w.t. dan sifat-sifat-Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah s.w.t. yang bermaksud: "bagi Allah nama-nama yang mulia, maka berdoalah dengannya" (Al-A'raf: 180)


            3)Tawassul dengan amal soleh. Hal ini berdasarkan doa yang disebutkan di dalam Al-Qur'an "wahai Tuhan kami, sesunnguhnya kami beriman, maka ampunilah kami…" (Ali- Imran: 10)


            Adapun jenis-jenis tawassul yang diperselisihkan oleh para ulama' tentangnya ialah, tentang tawassul kepada Allah s.w.t. dengan perantaraan Nabi Muhammad s.a.w., para Nabi a.s., para malaikat dan para solihin.


            Sheikh Syed Abu Al-Husien Abdullah bin Abdul Rahman Al-Makki r.h.l. menegaskan bahawa, para ulama sebelum Ibn Taimiyah sepakat tentang keharusan bertawassul dengan diri Rasulullah s.a.w. dan para solihin, sehinggalah datang Ibn Taimiyah lantas menyalahi pendapat para ulama' sebelumnya.


            Sebenarnya, kebanyakkan para ulama empat mazhab bersepakat tentang keharusan bertawassul dengan Rasulullah s.a.w. dan orang-orang soleh, menurut pendapat Dr. Yusuf Al-Qaradhawi.


            Imam Ahmad bin Hanbal r.h.l. mengharuskan bertawassul kepada Rasulullah s.a.w. semata-mata, tidak boleh baginya, bertawassul dengan selain Rasulullah s.a.w.


            Dr Yusuf Al-Qaradhawi mengandaikan bahawa, golongan yang membenarkan tawassul kepada Rasulullah s.a.w. sahaja, kerana bagi mereka, hanya Rasulullah s.a.w. sahaja yang telah dijamin sebagai ahli syurga dan diredhai Allah s.w.t., sedangkan orang-orang soleh yang lain belum pasti diredhai Allah s.w.t.


            Menurut beliau, qiyasan ini tidak tepat kerana ianya menghukum tentang sesuatu perkara yang ghaib.


            Hakikatnya, kita bertawassul kepada orang-orang yang soleh kerana husnu-dhon (pra sangka baik) kita terhadap Allah s.w.t. dan para solihin, yang mana, mudah-mudahan Allah s.w.t. meredhai mereka.


            Adapun khilaf baru dalam Islam, tentang tawassul dengan Rasulullah s.a.w., lahir dari Ibn Taimiyah kerana menurutnya, tidak boleh bertawassul dengan si mati sedangkan Rasulullah s.a.w. telahpun wafat. Adapun tawassul yang dibolehkan hanyalah tawassul dengan orang-orang yang masih hidup. Dalil yang beliau gunakan ialah tentang hadis di mana Saidina Umar Al-Khattab bertawassul dengan Al-Abbas setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. dalam meminta hujan kepada Allah s.w.t. Sebelum Ibn Taimiyah, dapat dilihat kesepakatan ulama bahawa, diharuskan bertawassul kepada Rasulullah s.a.w. samada ketika baginda hidup mahupun setelah kewafatan Baginda s.a.w.


Dalil Keharusan bertawasssul dengan Rasulullah s.a.w. sewaktu hidup dan setelah kewafatan Baginda s.a.w.:


            Seorang buta bertemu Rasulullah s.a.w. lalu meminta agar Rasulullah s.a.w. berdoa kepada Allah supaya Allah menyembuhkannya. Rasulullah s.a.w. kemudiannya mengajarkannya tentang suatu amalan, agar Allah s.w.t. memperkenankan hajatnya.


            Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "ambillah wuduk dan perelokannya, kemudian solat dua rakaat. Setelah itu, berdoalah dengan doa ini: "Wahai Tuhanku, aku berdoa meminta kepada-Mu dengan Nabimu, Nabi rahmat, wahai Muhammad, aku mengadap Tuhan-Ku dengan (perantaraan) mu, dalam meminta hajatku, maka perkenankanlah hajatku…"


            Setelah lelaki buta itu berdoa dengan doa itu, Allah s.w.t. menyembuhkan penyakitnya.


            Hadis ini riwayat Ahmad, An-Nasa'i, Ibn Majah dan Ibn Huzaimah.


            Menurut Al-Baihaqi, Al-Haithami, At-Tabari, dan Az-Zahabi, hadis ini hadis sahih.


            Hadis ini menunjukkan secara jelas, tentang kebolehan atau keharusan berdoa kepada Allah s.w.t. dengan betawassul dengan Rasulullah s.a.w., secara mutlak, tanpa terbatas dengan kehidupan Baginda s.a.w. semata-mata.


            Pendapat yang menolak tawassul setelah kewafatan Baginda s.a.w. tidak tepat kerana hadis ini mutlak, tentang doa bertawassul dengan Rasulullah s.a.w., tidak kira sama ada ketila Baginda s.a.w. hidup ataupun setelah Baginda s.a.w. wafat.


            Menurut Sheikh Syed Muhammad Alawi r.a., Imam At-Tabari turut meriwayatkan bahawa, para sahabat masih menggunakan lafaz doa tawassul tersebut setelah kewafatan Baginda s.a.w. (Mafahim yajib an-tusohhah)


Dalil yang lain: Tawassul Adam dengan Rasulullah s.a.w.


Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:


            Takkala Nabi Adam a.s. melakukan kesilapan, beliau berkata: : "Wahai Allah, dengan hak Muhammad, ampunkanlah aku." Allah s.w.t. berfirman: " Wahai Adam, bagaimana engkau mengenali Muhammad, sedangkan aku belum menciptakannya lagi?


            Nabi Adam a.s. menjawab, takkala engkau menciptakan aku dengan tangan-Mu (kekuasaan-Mu), dan meniupkan ke dalamku roh-Mu, aku mengangkatkan kepalaku lantas terlihat di arasy ada tertulis, "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad ialah Rasulullah". Maka, aku tahu, engkau tidak akan meletakkan suatu nama beriringan dengan nama-Mu, melainkan engkau teramat mencintainya."


            Allah s.w.t. berfirman: "benar wahai Adam. Dia (Muhammad) sangat ku cintai, maka, berdoalah dengan haknya, sesungguhnya aku telah mengampunimu. Ketahuilah bahawasanya, kalau tidak kerananya (Rasulullah s.a.w.) nescaya aku tidak menciptamu."


            Hadis riwayat Al-Hakim, As-Suyuti dan Al-Baihaqi. Menurut Al-Hakim dan As-Suyuti, hadis ini hadis sahih. Menurut Al-Baihaqi, hadis ini tidak paslu. Hadis ini juga turut disahihkan oleh Al-Qostolani, Az-Zarqoni dan As-Subki.


            Hadis ini juga ada jalan yang lain, melalui riwayat Ibn Abbas, dengan lafaz, kalau bukan kerananya (Muhammad), nescaya Aku tidak menciptakan Adam, Syurga dan Neraka." dan diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al-Jauzi dan Ibn Kathir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (jilid 1, m/s 180)


            Walaupun ada sebahagian ulama yang mendakwa hadis ini hadis palsu, namun menurut ulama' muhaqqiqin, makna hadis tersebut tetap sahih, seperti yang dijelaskan oleh Sheikh Syed Muhammad Alawi Al-Maliki dalam bukunya, Mafahim yajib An Tusohhah.


Dalil tentang keharusan bertawassul dengan selain daripada Rasulullah s.a.w.


            Majoriti ulama Islam juga mengharuskan bertawassul kepada para solihin dan para wali Allah, selain daripada bertawasul dengan Rasulullah s.a.w.


            Hal ini seperti yang dijelaskan di dalam hadis sahih Al-Bukhari r.a., di mana, Saidina Umar pernah berdoa meminta hujan kepada Allah s.w.t. dengan menyebut "Wahai Tuhan kami, kami pernah bertawassul (meminta hujan) dengan (perantaraan) Nabimu, maka Engkau menurunkan hujan, kini, kami bertawassul dengan bapa saudara Nabimu (Al-Abbas), maka turunkanlah hujan kepada kami".


            Hadis ini jelas menunjukkan bahawa, keharusan berdoa dengan orang-orang soleh selain daripada bertawassul dengan Rasulullah s.a.w.. Adapun Ibn Taimiyah menggunakan hadis ini untuk membela pendapat beliau bahawa, tawassul kepada Rasulullah s.a.w. tidak dibolehkan selepas kewafatan Baginda s.a.w. kerana Saidina Umar tidak bertawassul dengan Rasulullah s.a.w. lagi setelah ketiadaan Baginda s.a.w. dalam hadis tersebut.


            Kefahaman Ibn Taimiyah mengenai hadis tersebut disanggah oleh ramai para ulama yang muktabar. Hal ini kerana, telah terbukti di dalam hadis yang lain, di mana para sahabat masih lagi bertawassul dengan Rasulullah s.a.w. setelah kewafatan Baginda s.a.w., seperti yang dinukilkan oleh Shiekh Syed Muhammad Alawi Al-Maliki.


            Menurut Sheikh Syed Muhammad Alawi Al-Maliki lagi, Saidina Umar r.a. tidak bertawassul kepada Allah dengan Rasulullah s.a.w. untuk meminta hujan dalam hadis tersebut untuk menjelaskan bahawa, kita boleh bertawassul dengan selain daripada Rasulullah s.a.w.


            Saidina Umar tida bertawassul dengan Rasulullah s.a.w. dalam perkara meminta hujan kerana hujan merupakan rahmat dan keperluan bagi yang masih hidup, bukan bagi yang telah tiada. Maka, Saidina Umar bertawassul dengan Al-Abbas kerana Al-Abbas masih lagi hidup, dan beliau (Al-Abbas) berhajat juga kepada air pada musim kemarau tersebut. Jadi kefahaman Saidina Umar r.a. dalam situasi tersebut, menyebabkan beliau bertawassul kepada Allah s.w.t. dengan kedudukan Al-Abbas di sisi Allah s.w.t. kerana pada ketika itu, Saidina Al-Abbaslah memerlukan air dari hujan, berbanding dengan Rasulullah s.a.w. yang telah wafat pada ketika itu, yang tidak berhajat kepada hujan. Maka, beliau meminta belas kasihan Allah s.w.t. dengan kedudukan Al-Abbas yang juga masih hidup dan memerlukan hujan pada ketika itu.


            Maka, Saidina Umar r.a. bertawassul dengan Saidina Al-Abbas di hadapan Allah s.w.t. untuk menagih simpati Allah s.w.t. supaya menurunkan hujan, dan memberi minum umat Islam yang masih hidup termasuklah kekasih Allah dan Rasulullah s.a.w., Al-Abbas, bukan kerana tidak boleh bertawassul kepada Rasulullah s.a.w. setelah kewafatan Baginda s.a.w.




            Dalil yang lain tentang keharusan bertawassul dengan orang-orang soleh, seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Majah r.a., tentang doa sewaktu keluar dari rumah menuju solat, iaitu "Wahai Tuhanku, aku meminta kepada-Mu, dengan hak orang-orang yang berjalan (di atas jalan) menujumu, dengan hak orang yang berjalan ini… maka jauhilah kami dari azab neraka…" (Hadis riwayat Ibn Majah)  Al-Hafiz Abu Hasan mengatakan, hadis ini, hadis hasan.



            Berdasarkan hadis-hadis tersebut, jelaslah bahawa, berdoa kepada Allah dengan perantaraan Rasulullah s.a.w., para solihin dan sebagainya, dibenarkan di dalam Islam. Ini kerana, tawassul tidak ada kaitan dengan aqidah, kerana, setiap orang yang bertawassul, hanya menyakini, hanya Allah s.w.t. lah yang mampu memberi manfaat dan kemudaratan kepada mereka. Tawassul cuma suatua kaedah, diantara pelbagai kaedah-kaedah dalam berdoa kepada Allah s.w.t.


Rahsia kaum sufi dalam persepsi Tawassul


            Ada juga di kalangan masyarakat awam yang terkeliru dengan dakwaan Wahhabi, yang mengatakan bahawa, tawassul kepada Allah dengan para masyaikh seperti yang dilakukan oleh golongan sufi adalah syirik.


            Sebenarnya, berdasarkan dalil-dalil yang dijelaskan sebelum ini, menunjukkan kepada kita bahawa, tawassul merupakan ajaran Islam. Tawassul bukanlah bererti menyembah selain daripada Allah s.w.t., tetapi tawassul merupakan salah satu kaedah berdoa kepada Allah s.w.t., dan salah satu simbol adab kita di hadapan Allah s.w.t.


            Para sufi yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah memahami makna tawassul dan rahsia disebalik tawasssul. Ia bukanlah bermakna, kita berdoa kepada selain Allah s.w.t., kerana tawassul dalam Islam hanya sekadar menggunakan kedudukan seseorang di sisi Allah, dalam berdoa kepada Allah s.w.t.


            Persoalannya, mengapakah kita perlu menggunakan kedudukan orang lain antara kita dengan Allah s.w.t, sedangkan Allah s.w.t. menegaskan bahawa, tiada sempadan antara kita dengan Tuhan?


            Tawassul bukanlah sempadan antara kita dengan Tuhan. Tawassul bukanlah perantaraan dalam pengabdian kita kepada Tuhan. Tawassul sekadar kaedah berdoa yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w., kepada Allah s.w.t., dengan menjadikan kedudukan seseorang di sisi Allah s.w.t., supaya Allah s.w.t. menerima hajat kita.


            Tetapi, tanpa tawassul juga, tidak menafikan bahawa Allah s.w.t. mampu menunaikan hajat kita. Malah, tawassul juga tidak mewajibkan Tuhan menunaikan hajat kita. Samada kita bertawassul dengan seseorang atau tidak, doa kita tetap sampai kepada Allah s.w.t. selagi kita ikhlas dalam berdoa, dan terserah kepada Allah s.w.t. untuk menunaikan hajat kita atau tidak.


            Adapun di sisi para sufi, tawassul merupakan suatu simbol adab kita di hadapan Allah s.w.t.. Kita berdoa, misalnya, "wahai Tuhanku, dengan kedudukan Sheikhku di sisi-Mu, ampunkanlah aku."


            Mengapa para sufi menganggap tawassul ialah adab kita di hadapan Allah s.w.t.. Ini kerana, para sufi merasakan diri mereka sangat hina dan kerdil di hadapan Allah s.w.t., dan mereka teramat malu untuk mengadap Allah s.w.t. dengan dosa mereka yang menggunung, kemudian meminta pula daripada Tuhan untuk menunaikan hajat kita, sedangkan kita empunya dosa yang menggunung di hadapan Allah s.w.t.


            Maka, para sufi merasa tidak layak untuk mengharapkan agar Allah s.w.t. menunaikan hajat mereka, sedangkan mereka juga yakin Allah s.w.t. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Namun, rasa rendah diri mereka di hadapan Allah s.w.t. membuatkan mereka bertawassul dengan orang-orang yang mempunyai kedudukan di sisi Allah, menurut prasangka mereka.


            Seolah-olah, lafaz doa mereka di hadapan Allah s.w.t., Ya Allah, aku begitu hina di hadapan-Mu. Aku tidak layak untuk menghadap-Mu dengan tubuh badan yang diselaputi maksiat dan dosa ini. Namun, Engkau Maha Penyayang dan Maha Pengampun, tetapi Engkau juga Maha Adil. Jika Engkau membenci aku sekalipun dengan kemaksiatanku, maka ampunilah dosaku dengan hak para guruku yang berkedudukan di sisi-Mu. Ampunilah aku kerana aku juga umat kekasih-Mu Muhammad s.a.w. Aku juga anak murid kepada Sheikh Fulan bin Fulan yang aku rasakan mempunyai kedudukan di sisimu. Maka, ampunilah aku dengan kedudukan mereka di sisi-Mu."


            Lihatlah, inilah makna sebenar tawassul dalam berdoa, iaitu beradab kepada Allah s.w.t. Siapalah kita untuk merasa besar dan hebat di sisi Allah s.w.t.  Jika seseorang itu merasa kerdil di hadapan seorang raja sekalipun, dia akan mencari seseorang yang mempunyai kedudukan yang dekat di sisi raja tersebut, sebagai perantaraan untuk bertemu raja tersebut melalui orang tersebut. Jadi, bagaimana pula dengan orang yang merasa kerdil di hadapan Allah s.w.t., salahkah dia mengunakan kedudukan seseorang di sisi Allah s.w.t. untuk berhadapan dengan Allah s.w.t.?


            Maka, tawasssul hanyalah sekadar adab dalam berdoa kepada Allah s.w.t., kerana merasa diri kita kerdil dan hina di sisi Allah s.w.t. Bukankah Allah s.w.t. memberitahu kepada kita tentang betapa hinanya kita di hadapan Allah s.w.t. dengan firman-Nya "kamu semua fuqoro' (faqir) di hadapan Allah"?


            Bagi para sufi juga, mereka berdoa kepada Allah s.w.t. juga bukanlah kerana mereka inginkan sesuatu hajat, atau minta kepada Allah s.w.t. sesuatu hajat, tetapi mereka berdoa kerana Allah s.w.t. yang menyuruh mereka berdoa, dan menjadikan doa itu ialah salah satu simbol ibadah kepada Allah s.w.t. Jika tidak, nescaya mereka tidak berdoa kepada Allah s.w.t. kerana mereka faham dan yakini bahawa, Allah s.w.t. Maha Mengetahui hajat kita walaupun kita tidak memberitahu kepada-Nya dengan doa tersebut. Jadi, doa itu sendiri bagi para sufi, ialah untuk menunjukkan rasa rendah diri kita kepada Allah s.w.t., kerana meminta-minta merupakan suatu sifat yang hina, maka berdoa dan meminta di hadapan Allah s.w.t. merupakan adab dan simbol rendah diri kita di depan Allah s.w.t. Mereka tidak berdoa kerana menginginkan sesuatu, tetapi mereka berdoa juga untuk merendahkan diri mereka kepada Allah s.w.t., kerana mereka yakin Allah s.w.t. Maha Mengetahui tentang hajat kita, tanpa perlu kita memberitahunya.


            Maka, kefahaman para sufi dalam masalah doa dan tawassul merupakan mutiara yang terang dan jelas tentang aqidah mereka yang utuh dan mantap kepada Allah s.w.t.


            Jadi, tawassul kepada Allah s.w.t. dalam pengertian ini, bukanlah suatu perkara yang syirik ataupun boleh membawa kepada syirik. Golongan yang cuba mengharamkan tawassul yang merupakan ajaran Islam, semata-mata kerana takut umat Islam akan menyembah selain daripada Allah s.w.t. dan melakukan syirik dengan menyembah para wali dan berdoa kepada selain Allah s.w.t., merupakan suatu usaha yang batil dan melampui. Ini kerana, perjuangan mereka berdasarkan su'uk adhon (buruk sangka) terhadap umat Islam yang bertawassul.


            Mereka cuba membuang tawassul yang merupakan adab dalam berdoa yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w., semata-mata kerana takut umat Islam jatuh ke jurang syirik, adalah tidak berasas sama sekali.


            Rasulullah s.a.w. sediri tidak takut umat Baginda s.a.w. kembali syirik dan menyembah selain daripada Allah s.w.t., kerana perkara tersebut tidak akan berlaku dalam umat Islam.


            Renungilah hadis ini:


            Seorang sahabat bernama Syaddad bin Aus bertanya kepada Rasulullah s.a.w., "apa yang menyebabkan aku lihat pada mukamu (iaitu kemuraman)?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "aku memikirkan tentang perkara yang paling aku takut, yang akan berlaku pada umatku, setelah ketiadaanku". Syaddad bertanya: " Apakah yang akan berlaku?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "Syirik dan syahwat yang tersembunyi". Syaddad bertanya lagi: " Wahai Rasulullah, adakah umat kamu akan kembali mempersekutukan Allah setelah ketiadaanmu?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "Syaddad…mereka tidak akan menyembah matahari, bukan, berhala dan batu,  tetapi (yang aku takut ialah) mereka riya' dalam amalan mereka" Syaddad bertanya lagi, "adakah riya' itu syirik?" Rasulullah s.a.w. menjawab, "ya". Syaddad bertanya lagi: "apa pula syahwat yang tersembunyi itu?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "seseorang berpuasa pada waktu paginya, kemudian, apabila timbul keinginan syahwat kepada dunia, dia aka membuka puasanya".  (Hadis riwayat Ahmad dan Al-Hakim, dan hadis ini sahih dari sudut sanadnya).


            Oleh itu, tawassul bukanlah pintu kepada syirik jika kita memahami tawassul hanyalah sekadar adab dalam berdoa kepada Allah s.w.t. Ini kerana, syirik tidak akan kembali ke dalam jiwa umat Islam, kerana perkara tersebut dinafikan sendiri oleh Rasulullah .s.a.w. Apa yang ditakuti hanyalah syirik kecil, iaitu penyakit riya' dalam beribadah, di kalangan umat Islam.


            Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan membantu kita untuk ikhlas dalam pengabdian kita kepada-Nya. Isu tawassul ini merupakan suatu isu yang tidak perlu menjadi titik perpecahan umat Islam, kerana ianya masalah khilafiyah, dan tidak ada kaitan dengan aqidah. Ikutilah pendapat majoriti ulama' Islam yang membenarkan tawassul dengan Rasulullah s.a.w. dan para solihin kerana hujah mereka amat kuat daripada Sunnah.


            Semoga Allah membantu kita semua dalam menghirup secebis keredhaan dan rahmat-Nya.


Al-Faqir ila Allah…


Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin

Al-Azhar…Mesir…


Sumber:


Mafahim yajib an Tusohhah (Shiekh Al-Arif billah Syed Muhammad Alawi Al-Maliki)

Fusul fi Al-Aqidah baina As-Salaf wa Al-Khalaf (Dr. Yusuf Al-Qaradhawi)

As-Salafiyah Al-Mu'asoroh, munaqosyat wa rudud ( Sheikh Abu Al-Husien Abdullah bin Abdul Rahman)

As-Salafiyah (Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buti)

La dharo'I' li hadmi al-athar an-nabawiyah (Dr. Umar Abdullah Kamil dll

Ajit Kembara Sufi at 10:47 PM



Powered by Blogger.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️💚💚💚💚💙💙💙💙💙💙💙💜💜💜💜💜💜🖤🖤🖤🖤🖤💛💛💛💛💛💛💓💓💓💓💓💓💗💗💗💗💗💗💖💖💖


Tawassul


Tawassul

Saudara saudaraku masih banyak yang memohon penjelasan mengenai tawassul, wahai saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pada Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al- Maidah-35).

Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda :“Barangsiapa yang mendengar adzan lalu menjawab dengan doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)
Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw. Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yang saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.
Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dengan doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yang melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yang melihatnya” (dengan paman nabi saw yang melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yang ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.
Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yang sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yang dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.
Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dengan syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yang mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yang membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yang mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.
Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.
Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yang hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yang mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dengan doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yang sama dengan riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dengan ku kesuatu tempat. Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..?”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah. Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yang sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yang telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)
Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati, karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yang tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian,justru mereka yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah? , si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah?,
Tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.  Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.
Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT, entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.
Saudara saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh berdoa dengan perantara, boleh berdoa dengan perantara orang shalih, boleh berdoa dengan perantara amal kita yang shalih, boleh berdoa dengan perantara nabi saw, boleh pada shalihin, boleh pada benda, misalnya “Wahai Allah Demi kemuliaan Ka’bah”, atau “Wahai Allah Demi kemuliaan Arafat”, dlsb, tak ada larangan mengenai ini dari Allah, tidak pula dari Rasul saw, tidak pula dari sahabat, tidak pula dari Tabi’in, tidak pula dari Imam Imam dan muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul saw mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.

Wabilllahittaufiq

Related posts

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


TIGA KAEDAH TAWASSUL YANG DIBENARKAN SYARAK

P 3
TIGA KAEDAH TAWASSUL YANG DIBENARKAN SYARAK
1. BERTAWASSUL DENGAN MENGGUNAKAN NAMA-NAMA ALLAH
Firman Allah di dalam Al-Quran: “Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdo’alah kepada-Nya dengan nama-nama-Nya tersebut.” (surah Al-A’raf: 180)
2. BERTAWASSUL DENGAN DOA ORANG SOLEH YANG MASIH HIDUP
Iaitu berjumpa dengan orang-orang saleh yang amal ibadatnya bertepatan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, para ulama dan sesiapa sahaja orang saleh yang masih hidup dan meminta orang yang shaleh itu mendoakan untuk kita.
3. BERTAWASUL DENGAN AMALAN SOLEH
Iaitu bertawassul dengan amalan saleh yang pernah kita lakukan. HADIS YANG SELALU DIJADIKAN CONTOH ADALAH HADIS TIGA ORANG LELAKI YANG TERPERANGKAP DI DALAM GUA. Seorang berdoa kepada Allah dengan mengatakan bahawa dia telah taat kepada ibu bapanya, seorang lagi mengatakan dia hampir berzina tetapi dia tinggalkan zina kerana takutkan azab Allah, orang yang ketiga pula berdoa dengan menyebut bahawa dia orang yang amanah, memegang amanah yang diberikan kepadanya dan mengembalikan kepada pemiliknya. Maka dengan amalan saleh itu mereka berdoa kepada Allah agar dibukakan pintu gua yang tertutup sehingga memerangkap mereka di dalamnya.
Ketika orang pertama berdoa, batu yang menutupi gua itu terbuka sedikit, sehinggalah cukup doa ketiga-tiga mereka, barulah batu itu berbuka sehingga mereka dapat keluar daripadanya. (lihat Sahih Bukhari)



💞💞💞💞💞💞🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤💜💜💜💜💜💜💛💛💛💛💛💛❤❤❤❤❤💚💚💚💚💚💙💙💙💙💙♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

7 TANDA REZEKI DIBERKATI ALLAH SWT

7 TANDA REZEKI DIBERKATI ALLAH SWT
7 TANDA REZEKI DIBERKATI ALLAH SWT
■ 1) Kita akan sentiasa rasa cukup dengan apa yang kita ada. Dan kadang-kadang tu kita rasa macam lebih dari cukup. Ini adalah salah satu petandanya sebab orang yang dapat rezeki tanpa keberkatan akan rasa sentiasa dalam kekurangan dan tidak puas dengan apa yang dia ada. Contohnya bila dapat duit, duit tu rasa sekejap saja habis. tapi kalau duit tu ada keberkatan, boleh cukup belanja sebulan dan boleh sampai tahap cukup buat simpanan.
■ 2) Bila perilaku atau keadaan dalam keluarga dilihat stabil atau bahagia, ia boleh dikatakan yang rezeki keluarga itu ada keberkatan. Punca permasalahan dalam keluarga kadang-kadang boleh dilihat kembali pada akarnya, iaitu punca mendapatkan nafkah keluarga. Bila bercampur harta halal dan haram seperti rasuah maka wang tersebut sentiasa rasa tak cukup.
■ 3) Apabila kita terasa mudah untuk menjaga solat dan juga melakukan amal ibadah yang lain, maka boleh lah dikata kan yang rezeki yang kita peroleh itu diberkati. Rezeki yang di perolehi boleh melakukan ibadah umrah atau haji. Boleh jadi kenapa sebahagian daripada kita susah sangat nak solat sebab rezeki kita tak diberkati.
■ 4) Lagi satu lagi kesan positif bila rezeki kita diberkati ialah bila orang sekeliling kita suka dekat kita atau senang dengan kehadiran kita. Perkara seperti ini boleh dilihat bila kita bersama rakan-rakan atau ahli keluarga yang lain. Kehadiran kita memberi manfaat kepada orang lain dan tidak menyusahkan.
■ 5) Seterusnya ialah apabila anak-anak cemerlang dalam pelajarannya. Sebab itu pentingnya mencari rezeki yang halal yang diberkati sebab duit yang kita guna buat beli makanan dan barang-barang untuk anak-anak sebenarnya ada kesannya.
■ 6) Kalau rumah kita orang rajin ziarah, itu maknanya rezeki kita ada keberkatan. Kedatangan tetamu sebenar nya membawa rezeki dan keberkatan di dalam rumah tangga kita.
■ 7) Dan yang terakhir sekali bila doa kita senang termakbul. Sebab Nabi SAW pernah bersabda doa yang tak dimakbul kan antara sebabnya adalah kerana makan dari rezeki yang haram.
Maka itulah petanda rezeki orang yang mempunyai keberkatan. Tapi kita sering terlupa yang rezeki di ada bermacam jenis, bukan sekadar tertumpu pada harta semata.
Dalam apa pun yang kita dapat di dunia ini, semua tu tak lain tak bukan adalah rezeki dari Allah SWT kurniakan. seperti yang terdapat didalam ayat al-Quran, surah At-Talaq ayat 2-3:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan. dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan keperluannya”
Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh manusia untuk meneruskan kelangsungan hidup di dunia merupakan ibadat iaitu selagi ia dilakukan dengan niat yang baik dan tidak melanggar hukum-Nya. Rezeki yang berkat adalah rezeki yang dicari dengan titik peluh sendiri, bukan dengan cara menunggu pemberian daripada orang lain seperti meminta sedekah, derma dan sebagainya padahal tubuh badan masih lagi kuat dan sihat. Hal ini amat dilarang keras oleh Islam kerana ia merupakan perbuatan yang memalukan dan menghinakan.
Selalunya manusia itu apabila berkaitan dengan berkah (berkat, barakah) menjuruskan kepada rezeki dan menilai disegi banyaknya keuntungan yang diperolehi. Sebaliknya mereka beranggapan tiada keberkatan daripada Allah SWT apabila rezeki yang mendatang itu sedikit sedangkan usaha yang dikeluarkan cukup banyak dan berlipat ganda, namun kepada kedua kedudukan tersebut manusia selalu terlupa dan tidak mahu bersyukur kepada Allah.
Kehidupan yang berkat itu sebenarnya akan sentiasa mencukupkan dan kecukupan itu membolehkan keberkatan didalam kehidupan. Apabila mempersoalkan amaun banyak atau sedikit, bererti manusia itu tidak pernah puas sehinggakan tidak tahu mereka bersyukur, maka tiadalah keberkatan dari Allah didalam kehidupan. Sesungguhnya segala yang dimiliki oleh manusia diatas muka bumi ini walau sebanyak mana atau sangat sedikit, mahu pun mungkin tidak punya suatu apa, sebenarnya segala itu adalah kurnia daripada Allah SWT.
Nabi SAW bersabda maksudnya, “Sesungguhnya Allah yang Maha Luas KurniaNya lagi Maha Tinggi akan menguji setiap hambaNya dengan rezeki yang diberikan. Barang siapa yang redha dengan pemberian Allah, maka Allah akan memberkati dan melapangkan rezeki baginya dan barang siapa yang tidak redha nescaya rezekinya tidak diberkati”
(HR Ahmad)
Nabi Muhammad SAW melalui Sabda Baginda diatas sekali gus menjelaskan bahawa keberkatan dari Allah SWT itu tidak ditentukan amaun banyak atau sedikit rezeki yang diperolehi. Keberkatan Illahi itu terletak diatas rasa keredhaan hamba Allah keatas apa sahaja bentuk mahu pun jumlah kurniaanNya.
Sebaliknya rezeki itu sendiri merupakan perujian daripada Allah SWT kepada manusia sejauh mana mereka benar benar bertakwa dan berserah diri kepadaNya. “Wahai orang orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar benar takwa kepadaNya, dan janganlah kamu mati melainkan dengan berserah diri”
(Surah Ali-Imran (3) ayat 102)
Dalam kita memahami pengertian rezeki yang berkat, kita tidak boleh membataskan rezeki itu hanya pada wang ringgit tetapi meliputi kesihatan. Ilmu,sahabat, masa lapang, idea dan berbagai lagi sehinggakan kemampuan melaksanakan amal ibadah juga merupakan rezeki. Bila kita dapat memahami makna rezeki yang berkat secara tidak lansung kita sudah menambahkan rezeki dengan meluaskan pengertian rezeki itu sendiri. Jika seseorang mendapat gaji yang besar tetapi tidak merasai cukup kerana terlalu banyak perkara yang perlu di bayar dan merasai sentiasa tak cukup.
Sedangkan ada setengah orang berpendapatan sederhana tetapi mencukupi menyara isteri dan anak-anak, mampu membeli rumah, kereta dan mampu membiayai pengajian anak-anaknya ke universiti. Ini adalah petanda rezeki yang tak berkat dengan rezeki yang berkat.

5 Tanda Seseorang Itu Mendapat Keberkatan al-Quran



5 Tanda Seseorang Itu Mendapat Keberkatan al-Quran:

1. Boleh membaca al-Quran

2. Mendalami dan merasai nikmat ketika membaca al-Quran.

3. Mula menghafal al-Quran.

4. Berusaha beramal dengan al-Quran.

5. Mengajar orang lain membaca al-Quran.



RENCANA


Cara mudah menghafaz al-Quran..10 tip ini boleh dijadikan panduan

Cara mudah menghafaz al-Quran...10 tip ini boleh dijadikan panduan

MENGHAFAZ al-Quran memerlukan kesungguhan dan motivasi yang tinggi daripada seseorang.
Justeru, 10 tip mudah di bawah ini, mungkin boleh dijadikan panduan buat mereka yang mahu menghafaz.
Moga dipermudahkan.

• Niat dan bersungguh-sungguh menghafaz 30 juzuk al-Quran.
• Bersabar dengan setiap cabaran yang dihadapi.
• Memberi fokus sepenuhnya ketika menghafal.
• Carilah kaedah menghafal al-Quran yang benar-benar sesuai dengan diri sendiri.
• Sentiasa menjaga disiplin dan masa.
• Jauhi maksiat dan tinggalkan dosa.
• Jaga pemakanan dan amalkan makan makanan sunah seperti kismis, kurma dan badam sebagai rutin harian.
• Tangani stres dengan baik supaya fokus hafalan tidak terganggu.
• Perlu rehat dan tidur yang cukup.
• Sentiasalah riadah supaya cergas ketika beribadah.


RENCANA
Baca al-Quran setiap hari..ini rahsia dua hafiz muda yang berjaya hafal 30 juzuk al-Quran
Untuk bergelar hafiz muda, banyak pengorbanan harus dilakukan, ini kata Khaer Farish (kiri) dan Bilal (kanan).

Baca al-Quran setiap hari...ini rahsia dua hafiz muda yang berjaya hafal 30 juzuk al-Quran

MENGHAFAL al-Quran merupakan satu impian paling mulia.
Al-Quran mengandungi pelbagai cabang ilmu duniawi dan ukhrawi. Ia juga adalah kitab yang mengandungi perintah dan panduan Ilahi kepada manusia sekalian alam.
Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Sesiapa membaca satu huruf daripada al-Quran, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan digandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif lam mim’ itu satu huruf, akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (Hadis riwayat al-Tirmidzi)

Namun, untuk bergelar seorang hafiz, jiwa raga perlu cekal dan ikhlas. Tiada keluhan, tiada rungutan.

Menjelajahi rutin harian dua hafiz muda, sememangnya memberi rumusan yang bukan calang-calang.
Mereka mengakui, perlu menghindarkan diri dari dunia yang penuh lara.

Tiada televisyen dan tiada telefon bimbit. Tiada juga makanan yang ‘karut-marut’. Celik mata pada saat orang lain sedang dibuai mimpi dan paling signifikan bagaimana mencatur disiplin diri.

Perkongsian bermakna hafiz-hafiz ini melalui satu wawancara khas bersama Sinar Islam diharap dapat membuka minda masyarakat terhadap peri pentingnya kehadiran kumpulan hafiz sebagai benteng pertahanan paling ampuh dalam Islam.
Tidak rugi kepada kita mendidik anak kita menjadi celik al-Quran pada usia yang mentah. Pepatah menyebut melentur buluh biar daripada rebungnya.

Hidup tidak lengkap tanpa al-Quran

APABILA melihat kanak-kanak mengalunkan ayat al-Quran, pasti hati kita akan tersentuh. Emosi kita akan berlebihan tatkala anak-anak kecil sudah mampu menghafal ayat-ayat suci. Hebat bukan, sejak kecil sudah bergelar hafiz.
Pada akhir zaman ini, ibu bapa sangat dianjurkan untuk menyuntik kesedaran dan minat anak mereka terhadap kitab suci ini. Ketahuilah, al-Quran adalah penyembuh, sahabat karib dan panduan paling afdal untuk kita mengharungi kehidupan di alam fana ini.
Sifat penulis yang ingin mengetahui bagaimana rutin seorang hafiz mendorong penulis menemui beberapa kanak-kanak hebat yang mengabdikan kehidupan mereka dengan bacaan indah ayat-ayat suci.
Ternyata hasil temu bual, Sinar Islam merumuskan bahawa bukan satu tugas mudah untuk menghafal 30 juzuk al-Quran. Terlalu banyak cabaran dan ranjau perlu diredah.
Apabila sudah bergelar hafiz pula, ada liku lain pula yang terpaksa dihadapi. Ya, untuk mengingat semua ayat yang sudah dihafal! Perlukan istiqamah dan sentiasa mengulang dan konsisten.
Kepada Sinar Islam, pelajar Akademi Al-Quran Amalillah (Akmal) cawangan Shah Alam, Khaer Farish Mohamed Irdzam, 12, menceritakan pola rutin untuk bergelar seorang hafiz.
“Apa yang saya kongsikan, banyak perkara yang perlu dikorbankan untuk menghafal 30 juzuk al-Quran.
“Seperti saya, saya perlu ke akademi setiap hari Isnin hingga Sabtu bermula jam 8 pagi hingga 6 petang. Selepas itu, seawal pukul 9.30 malam saya sudah masuk tidur. Hari Ahad adalah hari cuti,” ujarnya.
Pun begitu, sebagai hafiz, Khaer Farish tidak akan sama sekali meninggalkan al-Quran meskipun sehari.

“Saya memang akan ulang dan ulang (hafalan), takut tak ingat. Ustaz saya pernah pesan, kalau kita tinggalkan al-Quran sehari, al-Quran akan tinggalkan kita selama 10 hari. Kalau kita tinggalkan al-Quran 10 hari, al-Quran akan tinggalkan kita 100 hari.

“Sebab itulah saya tak nak tinggalkan al-Quran. Saya tak nak al-Quran tinggalkan saya,” bicaranya dengan nada bersungguh.

KECINTAAN mendekatkan diri dan membaca al-Quran harus dipupuk sejak dari kecil lagi.

Elak TV, telefon

Benarkah pelajar hafiz tidak boleh menonton televisyen? Jawab Khaer Farish berterus-terang:
“Memang tak boleh tengok televisyen dan telefon pintar. Mak saya cukup jaga hal ini. Saya hanya boleh menonton setiap hari Isnin hingga Sabtu iaitu selepas pulang dari akademi pukul 6.30 petang hingga 8.30 malam. Selepas itu, saya perlu mengaji.”
Bual bicara anak pintar semakin rancak. Kali ini, beliau galak bercerita tentang kisah bagaimana beliau mula masuk ke Akmal.
Ceritanya, hal itu dicadangkan oleh kedua ibu bapanya.
“Sebenarnya, sebelum ini saya pernah menghafal juz amma (juzuk ke-30 dalam al-Quran) ketika bersekolah di Sekolah Rendah Agama Integrasi Shah Alam sebelum ini. Bila masuk sekolah tahfiz, saya rasa sangat teruja hendak menghafal 30 juzuk al-Quran dalam masa setahun,” jelasnya yang memasuki sekolah tahfiz sepenuh masa dan berulang-alik dari rumah ke akademi setiap hari.
Bermula dengan satu muka surat al-Quran bagi hafalan baharu sehari, Khaer Farish mula mendapat ‘rentak’ selepas sebulan di akademi berkenaan.

“Sehari, maksimum, saya boleh hafal enam muka surat sehari bagi hafalan baharu. Akhirnya pada 12 Disember 2018, saya berjaya menghabiskan 30 juzuk al-Quran iaitu selama 261 hari tidak termasuk hari cuti dan cuti sakit,” ujarnya yang kini dalam proses mendapatkan sijil syahadah bagi memantapkan bacaan dan hafalan di akademi itu.

Meskipun kini bergelar hafiz, Khaer Farish memberitahu Sinar Islam, dirinya menyimpan impian untuk bergelar seorang doktor suatu hari nanti.

Rutin padat Bilal

Rutin yang direntas Khaer Farish turut sama dengan apa yang dilalui Syed Muhammad Bilal Syed Helmy atau Bilal.
Bilal merupakan pelajar tingkatan lima Maahad Tahfiz Al-Quran Wal Qiraat, Shah Alam. Beliau mula bersekolah di situ sejak empat tahun lalu.
Bezanya, Bilal merupakan pelajar tahfiz akademik. Selain belajar tahfiz, Bilal juga perlu menyeimbangkan pengajiannya dengan subjek akademik yang lain seperti Matematik, Sains, Sejarah dan sebagainya.
Ujar Bilal, 18, cabaran paling besar dalam menghafaz al-Quran adalah mengulang hafalan selepas habis 30 juzuk al-Quran.
“Bagi seorang hafiz, ia 1,000 kali lebih susah daripada hafalan yang baharu. Sebab dalam tempoh waktu menghafaz 30 juzuk itu, ada ustaz dan ustazah yang beri bimbingan.
“Bila sudah habis 30 juzuk, saya terpaksa mengulang sendiri. Walaupun masih ada juga bimbingan dari ustaz dan ustazah tetapi mereka akan lebih memfokuskan kepada pelajar yang belum habis hafal,” katanya yang tamat menghafal 30 juzuk al-Quran pada 26 Januari 2018.
Sepanjang dalam tempoh hafalan, Bilal akan bangun seawal pukul 4 pagi.
Anak muda ini terlebih dulu akan mengemas bilik dan bersiap sedia untuk melakukan qiamullail pada pukul 5 pagi.

PELAJAR Akmal cawangan Shah Alam khusyuk menghafaz ayat-ayat suci al-Quran.

“Bagi saya, antara pukul 4 pagi hingga 5 pagi, ia adalah waktu mutiara bagi saya kerana tempoh yang paling mudah hendak hafal ayat-ayat baharu.

“Kelas untuk tasmik akan bermula jam 7 hingga 8.30 pagi, kemudian ulang balik bacaan dari pukul 9.30 hingga 10.30 pagi.
“Selepas itu, kira-kira pukul 11 pagi, saya akan belajar akademik hingga pukul 2 petang. Petang pula ada aktiviti kokurikulum yang berbeza setiap hari,” jelasnya yang akan menyambung hafalan ayat baharu pada pukul 8 malam.

Jaga pemakanan

Bilal meneruskan naratif cerita yang membuatkan penulis teruja untuk mendengar.
Ujar Bilal, antara perkara paling penting dalam hafalan al-Quran ialah pemakanan.
“Antara yang wajib dimakan setiap hari adalah minum madu dan makan vitamin C sebelum tidur. Selain itu, Pak Haji (Pengetua Maahad Tahfiz Al-Quran Wal Qiraat, Mohammad Bokhari Shariff) juga ada sediakan kismis dan kurma untuk kami makan.
“Apa yang menjadi pantang larang bagi kami ialah makanan segera, makanan proses seperti burger, organ dalaman dan asam jeruk. Untuk makanan yang lain, kami juga seperti orang lain, makan lauk seperti kebanyakan orang,” ujarnya.
Pada saat remaja seusianya leka dan obses dengan telefon pintar, pendekatan itu dihindari oleh Bilal. Ya, beliau tiada langsung telefon bimbit!

“Memang saya pernah minta daripada mak dan ayah tetapi mak tak bagi sebab hendak menjaga hafalan al-Quran saya. Mak takut saya lalai.

“Tengok televisyen pun ada masa tertentu. Dalam sehari, dari pukul 10 pagi hingga sebelum waktu Zuhur saja saya boleh tonton. Tapi selalunya saya tak menonton sebab bosan,” jelasnya.
Walaupun cuti sekolah, namun aktiviti mengulang bacaan al-Quran dan mengulang kaji pelajaran perlu diteruskan Bilal. Pihak sekolahnya menyediakan sistem Borang Cuti Sekolah yang memerlukan segala aktiviti dilakukan di rumah dicatat dan ditandatangani ibu bapa.
“Mak biasanya akan tanya dulu aktiviti saya buat sebelum turunkan tanda tangan setiap hari. Saya sendiri pun rasa hidup saya tidak lengkap jika tak baca al-Quran sehari.
“Pernah saya tertidur dan tidak mengulang bacaan, saya rasa macam nak marah orang dan hati gundah gulana. Sebab itu saya perlu baca al-Quran setiap hari,” katanya.

Anak hafiz al-Quran bukan penghapus dosa ibu bapa

BIARPUN jadual pelajar tahfiz di sekolah agak ketat dengan rutin harian masing-masing, namun kehidupan mereka sebenarnya masih lagi sama seperti orang lain.
Pendakwah, Ustaz Mohd Fakhrurrazi Hussin atau lebih dikenali sebagai Imam Muda Fakhrul berkata, tanggungjawab mereka lebih besar lagi kerana perlu menjaga dan memelihara al-Quran.

“Mereka tidak boleh buat apa yang tidak dibolehkan oleh syariat dan orang yang hafal al-Quran ini perlu lebih warak serta menjauhi perkara-perkara syubhah (halal dan haramnya tidak jelas),” katanya kepada Sinar Islam.


Melihat kembali konsep al-Quran, beliau yang juga Musyrif Akademi Al-Quran Amalillah Cawangan Shah Alam berkata, kalam ALLAH itu juga mengajar kita untuk mengejar duniawi, selain ukhrawi (akhirat).
Ia sebagaimana firman ALLAH SWT: “Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan ALLAH kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia; dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba ALLAH) sebagaimana ALLAH berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmat-Nya yang melimpah-limpah); dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi; sesungguhnya ALLAH tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan.” (Surah al-Qasas: 77).
Berdasarkan ayat itu, Imam Muda Fakhrul berkata, konsep yang ditekankan ALLAH SWT adalah melebihkan akhirat, namun dunia juga jangan dilupakan. “Apa sahaja yang kita buat di dunia ini adalah untuk mendapat bahagian di akhirat,” ujarnya.
Kepada satu soalan, beliau menjawab: “Ada sesetengah orang menganggap anak sebagai penghapus dosa ibu bapa. Sebab dulu ibu bapa tiada pendidikan tahfiz, jadi mereka bawa anak mengaji al-Quran sebagai penghapus dosa. Sebenarnya, menghantar anak ke sekolah tahfiz ini bukan sebagai penghapus dosa ibu bapa tetapi untuk kita membina generasi yang lebih baik.” jelasnya.
Sementara itu, seorang lagi pendakwah, Ustazah Shadiya Abbas menjelaskan, apabila seseorang itu memilih untuk menjadi hafiz al-Quran, dia sebenarnya telah memilih untuk menguasai dunia dan akhirat.
Bagaimana untuk mewujudkan 1 rumah, 1 hafiz al-Quran? Berkongsi beberapa tip penting, Shadiya menjelaskan, ia bermula daripada niat ibu bapa sejak anak mereka masih dalam kandungan lagi dan kerap berdoa supaya kita bersama anak-anak menjadi ‘Hamlatul Quran’ iaitu pemelihara al-Quran.
http://polopoly.karangkraf.com:8080/polopoly/polopoly_fs/1.923841.1552638152!/image/image.jpg
Selain itu, ujar beliau, pasangan suami isteri perlu bekerjasama dengan menjadikan al-Quran sebagai rutin harian untuk dibaca bersama anak-anak.
“Bukan itu sahaja, kita perlu juga sentiasa memperbaiki bacaan dan berusaha menghafaz surah-surah pendek dari juzuk 30.
“Kita juga perlukan sokongan harta benda. Dr Aidh al-Qarni berkata, ibu ayah yang menghabiskan hartanya untuk anak-anak mendapat pendidikan al-Quran tidak akan rugi kerana di dalam al-Quran memiliki segenap lautan ilmu,” jelasnya.

Bagi menjadikan al-Quran sebagai suatu keseronokan, beliau menitipkan pesanan supaya ibu bapa boleh mengadakan permainan berbentuk silang kata surah dalam kalam ALLAH itu dan kuiz kisah al-Quran.


💙💙💙💙💙💙💙💚💚💚💚💚💚💚❤❤❤❤❤❤💛💛💛💛💛💛💜💜💜💜💜🖤🖤🖤🖤🖤💞💞💞💞💞💞




Quran Colour Code 2019 🕋🕌

Quran Colour Code 2019 🕋🕌

Always do Loving, Seeing, Reading, Hearing & Translating Quran much easiest than before with Al-Quran Tajweed Colour Code anytime anywhere simply durable and flexible, Let do it. Insya Allah. Any idea for getting better inform to : @MyRedz
Tqvm

https://t.me/QuranColourCode2019

https://t.me/QuranColourCode2019


Read Quran Colour Code
Any Comment or anything to getting better please inform to :https://telegram.me/RedzWang

https://t.me/ReadQuranColourCode

https://t.me/ReadQuranColourCode




Quran Colour Code
Always Read Quran EveryTime, Make it IstiqomahTime. Quran Completed our life... Any suggestion please send to telegram.me/RedzWangFX

https://t.me/QuranColourCode

https://t.me/QuranColourCode



Al Quran Nul Qareem
Read Quran countinously

https://t.me/alqurannulqareem

https://t.me/alqurannulqareem



ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAH

Program membaca al quran harian.
Mulai Tarikh: 10/03/2019 (Ahad)
Berikut Dari 18 Disember 2019 Rabu

Sematkan ayat Al Quran dalam dada.

Drp Ibnu Mas'ud r.a Rasullullah s.a.w bersabda maksudnya:
"Barangsiapa membaca satu huruf daripada al quran maka baginya satu kebajikan. Satu kebajikan menyamai 10 pahala. Aku tidak mengatakan ﺍﻟﻢ itu satu huruf tetapi ا satu huruf ل satu huruf dan م satu huruf"

Hadis hasan sahih riwayat At Tirmidzi.

Zikir Imam Al  Ghazali
setiap hari 1000x
Jumaat  -Ya Allah
Sabtu     -Laa ila haillallah
Ahad      -Ya hayyu ya qayyum
Isnin      -La haulawala khuwwata illa billa hil a'li yilazim
Selasa   - Selawat kpd nabi
Rabu      - Istighfar
Khamis  -Subhanalla hil
a'dziimi wabiham dih

Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:
“Bacalah al- Qur'an kerana ia akan datang pada hari akhirat kelak sebagai pemberi syafaat kepada tuannya".
(Hadis Riwayat Muslim)

Rasullullah S.A.W  bersabda
"Sesiapa menghafaz 10 ayat dari permulaan Al Kahfi maka terhindar daripada Al Dajjal".
Hadis Riwayat Muslim

Rasullullah saw bersabda
"Sesiapa yang membaca ketika bangun subuh Auzubilla himinash syaitoonirrojim, kemudian membaca 3 ayat akhir surah Al Hasyr maka Allah swt mewakilkan 70 malaikat berselawat atasnya sehingga petang, begitu juga waktu petang dan jika dia meninggal hari itu dikira mati syahid".
Hadis riwayat At Tafmidzi

Drp Abu Hurairah ra, Rasullullah saw bersabda
"Siapa saja yang mengajak kepada kebenaran, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangai sedikitpun. Dan sesiapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun".
Hadis riwayat Muslim.

Lets Joint this Channel
https://t.me/joinchat/A7WgohMuyw_q04rz_Znxtg

INTRODUCTION OF
AL-QURAN

Segala sesuatu yang terkait dengan Al-Quran akan menjadi mulia:

Jibril Alaihissalam, Al-Quran turun bersamanya, maka ia pun menjadi pemimpin malaikat dan dia mendapat gelar “Ruhul-amin”

Dan Nabi Muhammad shollallhu ‘alaihi wasallam, Al-Qur’an turun kepada beliau...maka beliau menjadi pemimpin seluruh umat manusia, serta sebaik2 Nabi dan Rasul.

Al-Quran turun untuk Umat Nabi Muhammad, maka mereka pun menjadi umat terbaik

Dan turun di bulan Ramadan, maka menjadi bulan yang paling mulia.

Dan turun di malam Lailatul Qadar, maka menjadi malam yang paling baik...

Maka demi Allah, yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia, bahawa Al-Quran, apabila turun di hati seorang hamba, maka ia akan menjadi sebaik-baik manusia.

Kerana Nabi sallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

Dan apabila Al-Quran turun dalam hidupmu dan pada suatu harimu, maka hari tersebut menjadi sebaik-baik hari untukmu.

Sehingga hari-hari terbaikmu adalah hari-hari ketika engkau bersama dengan Al-Quran.

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️