Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang
tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban
mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah Ta’ala yang maha
mulia di akhirat nanti, sebagai balasan keimanan dan keyakinan mereka
yang benar kepada Allah Ta’ala sewaktu di dunia.
Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ahlus sunnah wal jama’ah di zamannya,
menegaskan ideologi Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau,
“(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban)
mengimani (bahwa kaum mu’minin) akan melihat (wajah Allah Ta’ala yang
maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang
shahih”[1].
Imam Ismail bin Yahya al-Muzani berkata[2], “Penghuni surga pada hari
kiamat akan melihat (wajah) Rabb (Tuhan) mereka (Allah Ta’ala), mereka
tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allah Ta’ala, maka
wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan mata-mata
mereka dengan karunia-Nya akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan
(hidup) yang kekal abadi…”[3].
Demikian pula Imam Abu Ja’far ath-Thahawi[4] menegaskan prinsip yang
agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah
Allah Ta’ala bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani),
(dengan pandangan) yang tanpa meliputi (secara keseluruhan) dan tanpa
(menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang
ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an):
{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}
“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23).
Penafsiran ayat ini adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala ketahui dan
kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua
hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau inginkan.
Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil
(menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata),
serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan
selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan
patuh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada
orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5].
Dasar Penetapan Ideologi Ini
1- Firman Allah Ta’ala,
{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}
“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS al-Qiyaamah:22-23)
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan
melihat wajah Allah Ta’ala dengan mata mereka di akhirat nanti, karena
dalam ayat ini Allah Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata
depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari
wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah Ta’ala dengan
indera penglihatan mereka[6].
Bahkan firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka
yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka
rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah Ta’ala.
Dan waktu mereka melihat wajah Allah Ta’ala adalah sesuai dengan
tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di
waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam
setiap pekan[7].
2- Firman Allah Ta’ala,
{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ
وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ
فِيهَا خَالِدُونَ}
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak
ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni
surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).
Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan
melihat wajah Allah Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Ta’ala[8]. Dalam
hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah
kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan
(dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah
memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke
dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu
itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan
penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih
mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas[9].
Bahkan dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan
yang paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di
surga lainnya[10].
Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi
(yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah
yang maha mulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi)
semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka
berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal
perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah” [11].
Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau
“Ighaatsatul lahafaan”[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di
akhirat ini (melihat wajah Allah Ta’ala) adalah balasan yang Allah
Ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di
dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna
dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan
bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau
menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh do’a Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih, “Aku meminta
kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)
dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di
dunia)…”[13].
3- Firman Allah Ta’ala,
{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}
“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan
pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS
Qaaf:35).
4- Firman Allah Ta’ala,
{كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari
kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (QS
al-Muthaffifin:15).
Imam asy-Syafi’i ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Ketika
Allah menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka
(kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang
dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka)”[14].
5- Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak
bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur
sehingga tidak bisa ditolak).
Imam Ibnu Katsir berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman
akan melihat (wajah) Allah Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan
dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang
(mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga
mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15].
Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami
sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin
Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allah
Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama
(dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu
melihat-Nya…”[16].
Kerancuan dan Jawabannya
Demikian jelas dan gamblangnya keyakinan dan prinsip dasar Ahlus
Sunnah wal Jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok
sesat yang pemahamannya menyimpang dari jalan yang benar, seperti
Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengingkari keyakinan yang agung ini,
dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil
(argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, yang kemudian mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa
nafsu mereka.
Akan tetapi, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati
bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela
kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil
untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya[17].
Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:
1- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,
{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ
أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى
الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا
تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا
فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ
الْمُؤْمِنِينَ}
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya),
berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku
dapat melihat-Mu”. Allah berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk
melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya
(seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh
dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia
berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang
pertama-tama beriman” (QS al-A’raaf:143).
Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah menolak permintaan nabi
Musa ‘alaihis salam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang
berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala
tidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya[18].
Jawaban atas syubhat ini:
– Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya,
adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan
penjelasan para ulama ahli bahasa arab.
Ibnu Malik, salah seorang ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya:
Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya
Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya[19]
Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala menolak
permintaan nabi Musa ‘alaihis salam tersebut sewaktu di dunia, karena
memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di
akhirat nanti maka Allah Ta’ala akan memudahkan hal itu bagi orang-orang
yang beriman[20]. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, tidak ada
seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala
sampai dia mati (di akhirat nanti)”[21].
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allah
Ta’ala)? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Dia terhalangi
dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya?”[22]. Oleh
karena itulah, Ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah melihat Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka sungguh dia telah
melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allah” [23].
– Permintaan nabi Musa ‘alaihis salam dalam ayat ini untuk melihat
Allah Ta’ala justru menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mungkin untuk
dilihat, karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh
seperti nabi Musa ‘alaihis salam meminta sesuatu yang mustahil terjadi
dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah
Ta’ala. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas,
apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala hanyalah
dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya, dan nabi
Musa ‘alaihis salam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu,
bahkan beliau adalah termasuk nabi Allah Ta’ala yang mulia dan hamba-Nya
yang paling mengenal-Nya[24].
Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada
hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan
bukan mendukungnya.
2- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,
{لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}
“Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia
dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi
Maha Mengetahui” (QS al-An’aam:103).
Jawaban atas syubhat ini:
– Sebagian dari para ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini: “Dia
tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini,
sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman)
bisa melihatnya[25].
– Dalam ayat ini Allah Ta’ala hanya menafikan al-idraak yang berarti
al-ihaathah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat
tidak sama dengan meliputi[26], bukankan manusia bisa melihat matahari
di siang hari tapi dia tidak bisa meliputinya secara keseluruhan?[27]
– al-Idraak (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih
khusus dari pada ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-Idraak
menunjukkan adanya ar-ru’yah (melihat Allah Ta’ala), karena penafian
sesuatu yang lebih khusus menunjukkan tetap dan adanya sesuatu yang
lebih umum[28].
Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran
ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan
mereka dan bukan mendukungnya.
Penutup
Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan
prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allah
Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka
peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan
semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.
Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi
mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari
mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang
kesempurnaannya, na’uudzu billahi min dzaalik.
Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang
mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan
mendapatkan kemuliaan tersebut”[29].
Akhirnya kami berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:
Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)
dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 12 Rabi’ul awwal 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 23, cet. Daarul manaar, Arab Saudi).
[2] Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam
asy-Syafi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin
nubalaa’” (12/493).
[3] Kitab “Syarhus sunnah” tulisan al-Muzani (hal. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah).
[4] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salaamah, imam besar dan
penghafal hadits Rasulullah r (wafat 321 H). Biografi beliau dalam
kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (27/15).
[5] Kitab “Syarhul aqiidatith thahaawiyyah” (hal. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).
[6] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/448).
[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal.899).
[8] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/452).
[9] HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).
[10] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/453).
[11] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/262).
[12] Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H).
[13] HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam
“Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al
Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al
Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul
jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).
[14] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).
[15] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).
[16] HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).
[17] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).
[18] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/469) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/455).
[19] Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).
[20] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 302) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).
[21] HSR Muslim (no. 169).
[22] HSR Muslim (no. 291).
[23] HSR Muslim (no. 177).
[24] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).
[25] Tafsir Ibnu Katsir (3l310).
[26] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3l310).
[27] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).
[28] Ibid.
[29] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab “An Nihayah fiil fitani wal malaahim” (hal. 127).
Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang
tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban
mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah Ta’ala yang maha
mulia di akhirat nanti, sebagai balasan keimanan dan keyakinan mereka
yang benar kepada Allah Ta’ala sewaktu di dunia.
Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ahlus sunnah wal jama’ah di zamannya,
menegaskan ideologi Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau,
“(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban)
mengimani (bahwa kaum mu’minin) akan melihat (wajah Allah Ta’ala yang
maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang
shahih”[1].
Imam Ismail bin Yahya al-Muzani berkata[2], “Penghuni surga pada hari
kiamat akan melihat (wajah) Rabb (Tuhan) mereka (Allah Ta’ala), mereka
tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allah Ta’ala, maka
wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan mata-mata
mereka dengan karunia-Nya akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan
(hidup) yang kekal abadi…”[3].
Demikian pula Imam Abu Ja’far ath-Thahawi[4] menegaskan prinsip yang
agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah
Allah Ta’ala bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani),
(dengan pandangan) yang tanpa meliputi (secara keseluruhan) dan tanpa
(menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang
ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an):
{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}
“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23).
Penafsiran ayat ini adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala ketahui dan
kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua
hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau inginkan.
Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil
(menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata),
serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan
selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan
patuh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada
orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5].
Dasar Penetapan Ideologi Ini
1- Firman Allah Ta’ala,
{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}
“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS al-Qiyaamah:22-23)
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan
melihat wajah Allah Ta’ala dengan mata mereka di akhirat nanti, karena
dalam ayat ini Allah Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata
depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari
wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah Ta’ala dengan
indera penglihatan mereka[6].
Bahkan firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka
yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka
rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah Ta’ala.
Dan waktu mereka melihat wajah Allah Ta’ala adalah sesuai dengan
tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di
waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam
setiap pekan[7].
2- Firman Allah Ta’ala,
{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ
وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ
فِيهَا خَالِدُونَ}
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak
ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni
surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).
Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan
melihat wajah Allah Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Ta’ala[8]. Dalam
hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah
kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan
(dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah
memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke
dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu
itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan
penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih
mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas[9].
Bahkan dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan
yang paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di
surga lainnya[10].
Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi
(yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah
yang maha mulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi)
semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka
berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal
perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah” [11].
Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau
“Ighaatsatul lahafaan”[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di
akhirat ini (melihat wajah Allah Ta’ala) adalah balasan yang Allah
Ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di
dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna
dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan
bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau
menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh do’a Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,
أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ
[As-aluka ladzdzatan nazhor ila wajhik, wasy-syauqo ilaa liqo’ik]
“Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di
akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu
dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[13].
3- Firman Allah Ta’ala,
{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}
“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan
pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS
Qaaf:35).
4- Firman Allah Ta’ala,
{كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari
kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (QS
al-Muthaffifin:15).
Imam asy-Syafi’i ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Ketika
Allah menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka
(kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang
dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka)”[14].
5- Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak
bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur
sehingga tidak bisa ditolak).
Imam Ibnu Katsir berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman
akan melihat (wajah) Allah Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan
dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang
(mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga
mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15].
Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami
sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin
Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allah
Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama
(dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu
melihat-Nya…”[16].
Kerancuan dan Jawabannya
Demikian jelas dan gamblangnya keyakinan dan prinsip dasar Ahlus
Sunnah wal Jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok
sesat yang pemahamannya menyimpang dari jalan yang benar, seperti
Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengingkari keyakinan yang agung ini,
dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil
(argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, yang kemudian mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa
nafsu mereka.
Akan tetapi, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati
bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela
kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil
untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya[17].
Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:
1- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,
{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ
أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى
الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا
تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا
فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ
الْمُؤْمِنِينَ}
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya),
berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku
dapat melihat-Mu”. Allah berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk
melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya
(seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh
dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia
berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang
pertama-tama beriman” (QS al-A’raaf:143).
Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah menolak permintaan nabi
Musa ‘alaihis salam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang
berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala
tidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya[18].
Jawaban atas syubhat ini:
– Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya,
adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan
penjelasan para ulama ahli bahasa arab.
Ibnu Malik, salah seorang ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya:
Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya
Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya[19]
Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala menolak
permintaan nabi Musa ‘alaihis salam tersebut sewaktu di dunia, karena
memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di
akhirat nanti maka Allah Ta’ala akan memudahkan hal itu bagi orang-orang
yang beriman[20]. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, tidak ada
seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala
sampai dia mati (di akhirat nanti)”[21].
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allah
Ta’ala)? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Dia terhalangi
dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya?”[22]. Oleh
karena itulah, Ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah melihat Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka sungguh dia telah
melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allah” [23].
– Permintaan nabi Musa ‘alaihis salam dalam ayat ini untuk melihat
Allah Ta’ala justru menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mungkin untuk
dilihat, karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh
seperti nabi Musa ‘alaihis salam meminta sesuatu yang mustahil terjadi
dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah
Ta’ala. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas,
apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala hanyalah
dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya, dan nabi
Musa ‘alaihis salam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu,
bahkan beliau adalah termasuk nabi Allah Ta’ala yang mulia dan hamba-Nya
yang paling mengenal-Nya[24].
Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada
hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan
bukan mendukungnya.
2- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,
{لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}
“Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia
dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi
Maha Mengetahui” (QS al-An’aam:103).
Jawaban atas syubhat ini:
– Sebagian dari para ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini: “Dia
tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini,
sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman)
bisa melihatnya[25].
– Dalam ayat ini Allah Ta’ala hanya menafikan al-idraak yang berarti
al-ihaathah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat
tidak sama dengan meliputi[26], bukankan manusia bisa melihat matahari
di siang hari tapi dia tidak bisa meliputinya secara keseluruhan?[27]
– al-Idraak (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih
khusus dari pada ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-Idraak
menunjukkan adanya ar-ru’yah (melihat Allah Ta’ala), karena penafian
sesuatu yang lebih khusus menunjukkan tetap dan adanya sesuatu yang
lebih umum[28].
Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran
ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan
mereka dan bukan mendukungnya.
Penutup
Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan
prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allah
Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka
peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan
semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.
Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi
mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari
mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang
kesempurnaannya, na’uudzu billahi min dzaalik.
Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang
mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan
mendapatkan kemuliaan tersebut”[29].
Akhirnya kami berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:
Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)
dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 12 Rabi’ul awwal 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 23, cet. Daarul manaar, Arab Saudi).
[2] Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam
asy-Syafi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin
nubalaa’” (12/493).
[3] Kitab “Syarhus sunnah” tulisan al-Muzani (hal. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah).
[4] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salaamah, imam besar dan
penghafal hadits Rasulullah r (wafat 321 H). Biografi beliau dalam
kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (27/15).
[5] Kitab “Syarhul aqiidatith thahaawiyyah” (hal. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).
[6] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/448).
[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal.899).
[8] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/452).
[9] HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).
[10] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/453).
[11] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/262).
[12] Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H).
[13] HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam
“Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al
Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al
Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul
jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).
[14] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).
[15] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).
[16] HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).
[17] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).
[18] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/469) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/455).
[19] Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).
[20] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 302) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).
[21] HSR Muslim (no. 169).
[22] HSR Muslim (no. 291).
[23] HSR Muslim (no. 177).
[24] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).
[25] Tafsir Ibnu Katsir (3l310).
[26] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3l310).
[27] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).
[28] Ibid.
[29] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab “An Nihayah fiil fitani wal malaahim” (hal. 127).
16 Kategori Manusia Yang Tidak Dapat Menatap Wajah Allah
Ditulis oleh Ustaz Ghani Shamsudin
MONDAY, 03 MARCH 2008 13:59
Salah satu nikmat yang paling besar yang dikecapi oleh penduduk
syurga ialah mereka dapat melihat dan menatap wajah Allah Azza Wajalla.
Allah berfirman dalam Surah al Qiamah ayat 22-25
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
Pada hari akhirat kelak, muka (orang-orang yang beriman kelihatan)
berseri-seri; justeru mereka dapat menatap wajah Tuhannya. Sebaliknya
muka (orang-orng kafir) serba muram dan pucat hodoh justeru mereka yakin
akan menghadapi seksaan yang berat dan dahsyat.
Namun bagi orang yang bernasib malang mereka tidak akan dapat masuk
syurga dan menatap wajah Allah . Golongan yang tidak akan dapat menatap
wajah Allah yang mulia ialah :
1. Orang yang menjual janji setianya dengan Allah dengan harga
yang tidak seberapa daripada habuan duniawi yang fana ini.(Orang
bersumpah palsu) Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَناً
قَلِيلاً أُوْلَـئِكَ لاَ خَلاَقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلاَ
يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ وَلاَ يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ
يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)[ آل عمران : 77
Sesungguhnya orang-orang yang mengutamakan keuntungan dunia yang
sedikit dengan menolak janji Allah dan mencabuli sumpah mereka, mereka
tidak akan mendapat bahagian yang baik pada hari akhirat, dan Allah
tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan memandang kepada
mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan membersihkan mereka (dari dosa),
dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya
2. Pemerintah yang menjauhkan diri dari suka duka rakyat, tidak
peduli kepada penderitaan mereka dan tidak kesihan terhadap kemiskinan
dan keperitan hidup yang dihadapi oleh mereka.
عن أبي مريم الأزدي رضي الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
(من ولي من أمور المسلمين شيئاً ،فاحتجب دون خلّتهم ،وحاجتهم ،وفقرهم،
وفاقتهم، احتجب الله عنه يوم القيامة، دون خلّته ، وحاجته ، وفاقته، وفقره )
صحيح رواه أبو داود وصححه الألباني
Abu Mariam al Azadi R.A. meriwayatkan bahawa Rasulullah pernah bersabda :
“ Siapa yang memikul apa-apa jawatan atau tugas menguruskan orag
Islam namun dia gagal memenuhi tanggongjawab dan dia mengelak daripada
menyelesaikan keperluan mendesak, kepentingan, kemiskinan dan kepapaan
umat Islam nescaya Allah akan mengelak (menjauhkan diri) daripadanya
pada hari kiamat kelak daripada menyelesaikan keperluannya yang
mendesak, kepentingan, kemiskinan dan kepapaannya pada hari tersebut.”
Hadith Sahih riwayat Abu Daud dan dianggap berstatus sahih oleh al Albani.
3. Orang Tua yang Berzina
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ( (
ثلاثة لايكلمهم الله يوم القيامة ، ولا ينظر إليهم ، ولا يزكيهم ، ولهم
عذاب أليم: شيخ زانٍ ، وملك كذّاب ، وعائل مستكبر ) أخرجه مسلم
Abu Hurairah R.A. meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. pernah bersabda:
“Tiga orang Allah enggan bercakap-cakap dengan mereka pada hari
kiamat kelak. Allah tidak sudi memandang muka mereka, Allah tidak akan
membersihkan mereka daripada dosa (dan noda) . Untuk mereka disiapkan
seksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang tua yang berzina,
pemerintah yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabbur.”
Hadith ditakhrijkan oleh Muslim.
4. Pemerintah Atau Kerajaan Yang Suka Berbohong (Dusta)
5. Orang miskin yang takabbur
6. Orang yang tak sudi menolong walau dengan mengajukan seteguk air.
في حديث ابي هريرة (……. ورجل منع فضل ماء ، فيقول الله : اليوم أمنعك فضلي ، كما منعت فضل مالم تعمل يداك
Dalam Hadith riwayat Abu Hurairah ada disebutkan prasa berikut: ..
orang yang enggan memberi lebihan air minum (yang dia miliki kepada
orang yang keputusan air minum). Sehingga Allah bersabda : Pada hari ini
Aku akan menghalangmu daripada mendapat lebihan kurniaKu, persis
sepertimana kamu menghalang orang lain daripada mendapat kurniaan yang
bukan tangan kamu yang menciptanya.
7. Pembai’ah dan pengundi pemimpin kerana kebendaan
وعن أبي هريرة – رضي الله تعالى عنه – قال: قال رسول الله -صلى الله
عليه وسلم-: ( ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة، ولا ينظر إليهم، ولا
يزكيهم، ولهم عذاب أليم: رجل على فضل ماء بالفلاة، يمنعه من
ابن السبيل، ورجل بايع رجلا بسلعة بعد العصر، فحلف له بالله لأخذها
بكذا وكذا فصدقه، وهو على غير ذلك، ورجل بايع إماما لا يبايعه إلا للدنيا،
فإن أعطاه منها وفى، وإن لم يعطه منها لم يف ) متفق عليه.
Dalam hadith riwayat Abu Hurairah bahawa Rasulullah pernah bersabda
”Tiga orang Allah tidak akan bercakap cakap dengannya pada hari
kiamat kelak. Malah Allah tidak akan menoleh (memandang) kepadanya,
Allah tidak akan menyucikan dirinya (daripada dosa) . Sebaliknya
disediakan untuknya seksa yang sangat pedih. Pertama; orang yang
mempunyai bekalan air yang banyak di suatu kawasan lapang atau sahara
tapi ia enggan untuk memberi minum ”Ibnu al Sabil” para musafir (yang
kehabisan bekalan minuman ). Kedua; orang yang menawar untuk membeli
barangan selepas asar dengan bersumpah atas nama Allah; bahawa dia akan
membeli atau mengambil barang itu dengan harga tertentu.Janjinya itu
dipercayai benar oleh penjual. Pada hal dia sebenarnya langsung tidak
berniat untuk membelinya . Ketiga; orang membai’ah pemimpin (mengundi
dan memilih atau melantik pemimpin) semata-mata kerana perhitungan
keduniaan (kebendaan). Kalau orang yang dipilihnya itu memberikan janji
habuannya maka barulah dia akan menunaikan kewajibannya. Kalau tidak ia
akan bersikap enggan (atau ingkar).” (Hadith Muttafaqun ’alaihi)
8. Penderhaka Ibu Bapa
Rasulullah bersabda:
عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
: ( ثلاثة لاينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة :العاق لوالديه ، والمرأة
المترجلة المتشبهة بالرجال والديوث) صحيح أخرجه أحمد والنسائي
Abdullah Bin Omar R.A. meriawayatkan bahawa Rasulullah pernah bersabda:
“Tiga orang Allah tidak akan sudi memandang wajah mereka pada hari
kiamat kelak: Penderhaka kepada dua ibu bapanya, wanita yang berlagak
lelaki yang meniru kaum jantan dan golongan orang Daiyuth. Hadith sahih
ditakhrijkan oleh Ahmad dan Nasaii
9. Wanita yang berlagak seperti lelaki (Tomboy)
عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه قال :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
( ثلاثة لاينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة :العاق لوالديه ، والمرأة
المترجلة المتشبهة بالرجال والديوث ) صحيح أخرجه أحمد والنسائي
10. Orang Lelaki yang Dayyuth
Suami atau bapa yang tidak lagi mempunyai rasa cemburu dan maruah diri
sehingga membiarkan isteri berjahat dengan orang lain tanpa rasa cemburu
dan marah
Apabila perasaan cemburu yang positif ini sudah tidak ada lagi dalam
diri seseorang ; maka tidak ada usaha untuk menentang kemungkaran
terhadap maruah keluarga atau diri sendiri. Dengan itu kejahatan akan
bermerajalela.
11.Pengamal Budaya Kaum Luth
عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
(لاينظر الله – تعالى- إلى رجل أتى رجلاً ، أو امرأة في الدّبر ) صحيح
اخرجه الترمذي
Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. bersabda : Allah
tidak akan sudi memandang wajah orang yang menyetubuhi lelaki atau
mendatangi isterinya di duburnya. Hadith sahih ditakhrijkan oleh al
Turmuzi
12. Pengamal Seks Abnormal
Golongan ini termasuk kalangan yang bernafsu terhadap binatang dan tergamak melakukan hubungan jenis dengan binatang .
13.. ”Al-Mannan” atau pemberi yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya; baik lelaki mahupun perempuan.
عن ابي ذر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاثة : (
لايكلمهم الله يوم القيامة ، ولايزكيهم ، ولهم عذاب أليم ) فقالها رسول
الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار ، فقلت : خابوا وخسروا من هم يارسول
الله قال: المنان والمنفق سلعته بالحلف والمسبل ازاره ) اخرجه مسلم
Abu Zar meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda: “ Tiga orang Allah
tidak akan bercakap-cakap dengan mereka. Allah tidak akan membersihkan
mereka daripada dosa (dan noda) malah disiapkan untuk mereka seksa yang
sangat pedih. Baginda mengulang prasa itu tiga kali. Lalu (kata Abu Zar)
aku pun menambah, malang , kecewa dan rugilah mereka ; siapakah mereka
itu wahai Rasulullah?. Beginda menjawab al Mannan atau orang yang suka
mengungkit-ungkit pemberiannya, orang yang melariskan barang jualannya
dengan sumpah (palsu) dan orang suka melabuhkan pakaiannya (
kerana-menunjuk-nunjukan kekayaan ).
Hadith di takhrijkan oleh Muslim
14. Orang suka menunjuk-nunjuk kekayaan dengan pakaian labuh menyapu tanah dan berjalan di muka bumi dengan angkuh atau
المسبل إزاره المختال في مشيته
“Orang melabuh-labuhkan pakaian (menunjuk-nunjuk kekayaan dengan
sikap boros) yang berjalan dengan cara bermegah-megah dengan diri
sendiri.”
15. Penjual yang melariskan barang jualannya dengan cara berdusta dan membohong
عن ابي ذر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (
ثلاثة لايكلمهم الله يوم القيامة ، ولا يزكيهم ، ولهم عذاب أليم : المسبل
إزاره ، والمنان ، والمنفق سلعته بالحلف الكاذب ) أخرجه مسلم في كتاب
الإيمان
Abu Zar meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda :
Tiga orang Allah tidak akan bertutur kata dengan mereka. Allah tidak
akan membersihkan mereka dan untuk mereka disediakan azab yang sangat
dahsyat… penjual yang melariskan barang jualannya dengan sumpah palsu.
16.Isteri yang tidak berterima kasih terhadap suami
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم: ( لاينظر الله إلى امرأة لاتشكر لزوجها وهي لاتستغني عنه ) صحيح
أخرجه النسائي وصححه الالباني
Abdullah Bin Omar R.A. meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. pernah
bersabda: “Bahwa Allah tidak akan memandang muka isteri yang tidak
berterima kasih (kufur nikmat) kepada suaminya. Pada hal dia sendiri
tidak boleh tidak memerlukan kepada suaminya itu.”
Hadith sahih ditakhrijkan oleh al Nasasii dan di anggap sahih oleh al Albani.
Nabi SAW bersabda :-
ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي
Ertinya : Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat (bermakna tiada
bantuan dari dikenakan azab) mereka di hari kiamat : Si penderhaka
kepada ibu bapa, si perempuan yang menyerupai lelaki dan si lelaki
DAYUS” ( Riwayat Ahmad & An-Nasaie: Albani mengesahkannya Sohih :
Ghayatul Maram, no 278 )
Dalam sebuah hadith lain pula :
ثلاثةٌ قد حَرّمَ اللهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى – عليهم الجنةَ :
مُدْمِنُ الخمر ، والعاقّ ، والدّيّوثُ الذي يُقِرُّ في أَهْلِهِ الخُبْثَ .
رواه أحمد والنسائي .
Ertinya : Tiga yang telah Allah haramkan baginya Syurga : orang yang
ketagih arak, si penderhaka kepada ibu bapa dan Si Dayus yang membiarkan
maksiat dilakukan oleh ahli keluarganya” ( Riwayat Ahmad )
Malah banyak lagi hadith-hadith yang membawa makna yang hampir dengan
dua hadith ini. Secara ringkasnya, apakah dan siapakah lelaki dayus?
ERTI DAYUS
suami tiada kuasa?Dayus telah disebutkan dalam beberapa riwayat athar dan hadith yang lain iaitu :-
1) Sabda Nabi : –
وعن عمار بن ياسر عن رسول الله قال ثلاثة لا يدخلون الجنة أبدا الديوث
والرجلة من النساء والمدمن الخمر قالوا يا رسول الله أما المدمن الخمر فقد
عرفناه فما الديوث قال الذي لا يبالي من دخل على أهله
Ertinya : Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar dari Rasulullah
SAW berkata : ” Tiga yang tidak memasuki syurga sampai bila-bila iaiatu
Si DAYUS, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang ketagih arak”
lalu sahabat berkata : Wahai Rasulullah, kami telah faham erti orang
yang ketagih arak, tetapi apakah itu DAYUS? , berkata nabi : “IAITU
ORANG YANG TIDAK MEMPERDULIKAN SIAPA YANG MASUK BERTEMU DENGAN AHLINYA
(ISTERI DAN ANAK-ANAKNYA) – ( Riwayat At-Tabrani ; Majma az-Zawaid,
4/327 dan rawinya adalah thiqat)
Dari hadith di atas, kita dapat memahami bahawa maksud lelaki DAYUS
adalah si suami atau bapa yang langsung tiada perasaan risau dan ambil
endah dengan siapa isteri dan anaknya bersama, bertemu, malah
sebahagiannya membiarkan sahaja isterinya dan anak perempuannya dipegang
dan dipeluk oleh sebarangan lelaki lain.
2) Pernah juga diriwayatkan dalam hadith lain, soalan yang sama dari sahabat tentang siapakah dayus, lalu jawab Nabi:-
قالوا يا رسول الله وما الديوث قال من يقر السوء في أهله
Ertinya : Apakah dayus itu wahai Rasulullah ?. Jawab Nabi : Iaitu
seseorang ( lelaki) yang membiarkan kejahatan ( zina, buka aurat,
bergaul bebas ) dilakukan oleh ahlinya ( isteri dan keluarganya)
Penerangan Ulama Tentang Lelaki Dayus
Jika kita melihat tafsiran oleh para ulama berkenaan istilah Dayus, ia adalah seperti berikut :-
هو الذي لا يغار على أهله
Ertinya : “seseorang yang tidak ada perasaan cemburu (kerana iman)
terhadap ahlinya (isteri dan anak-anaknya) (An-Nihayah,2/147 ; Lisan
al-Arab, 2/150)
Imam Al-‘Aini pula berkata : “Cemburu lawannya dayus” ( Umdatul Qari, 18/228 )
Berkata pula An-Nuhas :
قال النحاس هو أن يحمي الرجل زوجته وغيرها من قرابته ويمنع أن يدخل عليهن أو يراهن غير ذي محرم
Ertinya : cemburu ( iaitu lawan kepada dayus ) adalah seorang lelaki
itu melindungi isterinya dan kaum kerabatnya dari ditemui dan dilihat
(auratnya) oleh lelaki bukan mahram ” (Tuhfatul Ahwazi, 9/357)
Disebut dalam kitab Faidhul Qadir :
فكأن الديوث ذلل حتى رأى المنكر بأهله فلا يغيره
Ertinya : Seolah-olah takrif dayus itu membawa erti kehinaan (kepada
si lelaki) sehingga apabila ia melihat kemungkaran (dilakukan) oleh
isteri dan ahli keluarganya ia tidak mengubahnya” ( Faidhul Qadir,
3/327 )
Imam Az-Zahabi pula berkata :-
فمن كان يظن بأهله الفاحشة ويتغافل لمحبته فيها فهو دون من يعرس عليها ولا خير فيمن لا غيرة فيه
Ertinya : Dayus adalah sesiapa yang menyangka ( atau mendapat tanda)
bahawa isterinya melakukan perkara keji ( seperti zina) maka ia
mengabaikannya kerana CINTAnya kepada isterinya , maka tiada kebaikan
untuknya dan tanda tiada kecemburuan ( yang diperlukan oleh Islam) dalam
dirinya” ( Al-Kabair, 1/62 )
Imam Ibn Qayyim pula berkata :-
قال ابن القيم وذكر الديوث في هذا وما قبله يدل على أن أصل الدين الغيرة
من لا غيرة له لا دين له فالغيرة تحمي القلب فتحمى له الجوارح فترفع السوء
والفواحش وعدمها يميت القلب فتموت الجوارح فلا يبقى عندها دفع البتة
Ertinya : Sesungguhnya asal dalam agama adalah perlunya rasa ambil
berat (protective) atau kecemburuan ( terhadap ahli keluarga) , dan
barangsiapa yang tiada perasaan ini maka itulah tanda tiada agama dalam
dirinya, kerana perasaan cemburu ini menjaga hati dan menjaga anggota
sehingga terjauh dari kejahatan dan perkara keji, tanpanya hati akan
mati maka matilah juga sensitiviti anggota ( terhadap perkara haram),
sehingga menyebabkan tiadanya kekuatan untuk menolak kejahatan dan
menghindarkannya sama sekali.
Dayus adalah dosa besar
Ulama Islam juga bersetuju untuk mengkategorikan dayus ini dalam bab dosa besar, sehingga disebutkan dalam satu athar :
لَعَنَ اللَّهُ الدَّيُّوثَ ( وَاللَّعْنُ مِنْ عَلَامَاتِ الْكَبِيرَةِ فَلِهَذَا وَجَبَ الْفِرَاقُ وَحَرُمَتْ الْعِشْرَةُ)
Ertinya : Allah telah melaknat lelaki dayus ( laknat bermakna ia
adalah dosa besar dan kerana itu wajiblah dipisahkan suami itu dari
isterinya dan diharamkan bergaul dengannya) (Matalib uli nuha, 5/320 )
Walaupun ia bukanlah satu fatwa yang terpakai secara meluas, tetapi
ia cukup untuk menunjukkan betapa tegasnya sebahagian ulama dalam hal
kedayusan lelaki ini.
Petikan ini pula menunjukkan lebih dahsyatnya takrifan para ulama tentang erti dayus dan istilah yang hampir dengannya :
والقواد عند العامة السمسار في الزنى
Ertinya : Al-Qawwad ( salah satu istilah yang disama ertikan dengan
dayus) di sisi umum ulama adalah broker kepada zina” (Manar as-sabil,
2/340 , rawdhatul tolibin, 8/186 )
Imam Az-Zahabi menerangkan lagi berkenaan perihal dayus dengan katanya :-
الديوث وهو الذي يعلم بالفاحشة في أهله ويسكت ولا يغار وورد أيضا أن من وضع يده على امرأة لا تحل له بشهوة
Ertinya : Dayus, iaitu lelaki yang mengetahui perkara keji dilakukan
oleh ahlinya dan ia sekadar senyap dan tiada rasa cemburu ( atau ingin
bertindak), dan termasuk juga ertinya adalah sesiapa yang meletakkan
tangannya kepada seorang wanita yang tidak halal baginya dengan syahwat”
(Al-kabair, 1/45 )
Cemburu Dituntut Islam & Jangan Marah
Ada isteri yang menyalahkan suami kerana terlalu cemburu, benar
cemburu buta memang menyusahkan, memang dalam hal suami yang bertanya
isteri itu dan ini menyiasat, saya nasihatkan agar isteri janganlah
memarahi suami anda yang melakukan tindakan demikian dan jangan juga
merasakan kecil hati sambil membuat kesimpulan bahawa suami tidak
percaya kepada diri anda. Kerap berlaku, suami akan segera disalah erti
sebagai ‘tidak mempunyai kepercayaan’ kepada isteri.
Sebenarnya, kita perlu memahami bahawa ia adalah satu tuntutan dalam
Islam dan menunjukkan anda sedang memiliki suami yang bertanggungjawab
dan sedang subur imannya.
Selain itu, bergembiralah sang suami yang memperolehi isteri solehah
kerana suami tidak lagi sukar untuk mengelakkan dirinya dari terjerumus
dalam lembah kedayusan. Ini kerana tanpa sebarang campur tangan dan
nasihat dari sang suami, isteri sudah pandai menjaga aurat, maruah dan
dirinya.
Nabi SAW bersabda :
من سعادة ابن آدم المرأة الصالحة
Ertinya : “Dari tanda kebahagian anak Adam adalah memperolehi wanita
solehah ( isteri dan anak)” ( Riwayat Ahmad, no 1445, 1/168 )
Memang amat beruntung, malangnya tidak mudah memperolehi isteri
solehah di zaman kehancuran ini, sebagaimana sukarnya mencari suami yang
tidak dayus. Sejak dulu, agak banyak juga email dari pelbagai golongan
muda kepada saya menyebut tentang keterlanjuran mereka secara ‘ringan’
dan ‘berat’, mereka ingin mengetahui cara bertawbat.
‘Ringan-ringan’ Sebelum Kahwin
Jika seorang bapa mengetahui ‘ringan-ringan’ anak dan membiarkannya,
ia dayus. Ingin saya tegaskan, seorang wanita dan lelaki yang telah
‘ringan-ringan’ atau ‘terlanjur’ sebelum kahwin di ketika bercinta,
tanpa tawbat yang sangat serius, rumah tangga mereka pasti goyah.
Kemungkinan besar apabila telah berumah tangga, si suami atau isteri ini
akan terjebak juga dengan ‘ringan-ringan’ dengan orang lain pula.
Hanya dengan tawbat nasuha dapat menghalangkan aktiviti mungkar itu
dari melepasi alam rumah tangga mereka. Seterusnya, ia akan merebak pula
kepada anak-anak mereka, ini kerana benih ‘ringan-ringan’ dan
‘terlanjur’ ini akan terus merebak kepada zuriat mereka. Awas..!!
Dalam hal ini, semua suami dan ayah perlu bertindak bagi mengelakkan diri mereka jatuh dalam dayus. Jagalah zuriat anda.
Suami juga patut sekali sekala menyemak hand phone isteri, beg isteri
dan lain-lain untuk memastikan tiada yang diragui. Mungkin ada isteri
yang curang ini dapat menyembunyikan dosanya, tetapi sepandai-pandai
tupai melompat akhirnya akan tertangkap jua. Saya tahu, pasti akan ada
wanita yang kata.
“habis, kami ini tak yah check suami kami ke ustaz?”
Jawabnya, perlu juga, cuma topic saya sekarang ni sedang mencerita
tanggung jawab suami. Maka perlulah saya fokus kepada tugas suami dulu
ye.
Cemburu seorang suami dan ayah adalah wajib bagi mereka demi menjaga maruah dan kehormatan isteri dan anak-anaknya.
Diriwayatkan bagaimana satu peristiwa di zaman Nabi
قَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ : لَوْ رَأَيْتُ رَجُلاً مَعَ امْرَأَتِي
لَضَرَبْتُهُ بِالسّيْفِ غَيْرُ مُصْفِحٍ عَنْهُ ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ
اللّهِ صلى الله عليه على آله وسلم فَقَالَ : أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ
سَعْدٍ ؟ فَوَ الله لأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ ، وَالله أَغْيَرُ مِنّي ،
مِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ الله حَرّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَن.
Ertinya : Berkata Ubadah bin Somit r.a : “Jika aku nampak ada lelaki
yang sibuk bersama isteriku, nescaya akan ku pukulnya dengan pedangku”,
maka disampaikan kepada Nabi akan kata-kata Sa’ad tadi, lalu nabi
memberi respond : “Adakah kamu kagum dengan sifat cemburu (untuk agama)
yang dipunyai oleh Sa’ad ? , Demi Allah, aku lebih kuat cemburu (ambil
endah dan benci demi agama) berbandingnya, malah Allah lebih cemburu
dariku, kerana kecemburuan Allah itulah maka diharamkan setiap perkara
keji yang ternyata dan tersembunyi.. ” ( Riwayat Al-Bukhari &
Muslim )
Lihat betapa Allah dan RasulNya inginkan para suami dan ayah
mempunyai sifat protective kepada ahli keluarga dari melakukan sebarang
perkara keji dan mungkar, khasnya zina.
BILA LELAKI MENJADI DAYUS?
Secara mudahnya cuba kita lihat betapa ramainya lelaki akan menjadi DAYUS apabila :-
1) Membiarkan kecantikan aurat, bentuk tubuh isterinya dinikmati oleh
lelaki lain sepanjang waktu pejabat (jika bekerja) atau di luar rumah.
2) Membiarkan isterinya balik lewat dari kerja yang tidak diketahui
bersama dengan lelaki apa dan siapa, serta apa yang dibuatnya di pejabat
dan siapa yang menghantar.
3) Membiarkan aurat isterinya dan anak perempuannya dewasanya
terlihat (terselak kain) semasa menaiki motor atau apa jua kenderaan
sepanjang yang menyebabkan aurat terlihat.
4) Membiarkan anak perempuannya ber’dating’ dengan tunangnya atau teman lelaki bukan mahramnya.
5) Membiarkan anak perempuan berdua-duaan dengan pasangannya di rumah kononnya ibu bapa ‘spoting’ yang memahami.
6) Menyuruh, mengarahkan dan berbangga dengan anak perempuan dan isteri memakai pakaian yang seksi di luar rumah.
7) Membiarkan anak perempuannya memasuki akademi fantasia, mentor,
gang starz dan lain-lain yang sepertinya sehingga mempamerkan kecantikan
kepada jutaan manusia bukan mahram.
8) Membiarkan isterinya atau anaknya menjadi pelakon dan berpelukan
dengan lelaki lain, kononnya atas dasar seni dan lakonan semata-mata.
Adakah semasa berlakon nafsu seorang lelaki di hilangkan?. Tidak
sekali-sekali.
9) Membiarkan isteri kerja dan keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna.
10) Membiarkan isteri disentuh anggota tubuhnya oleh lelaki lain
tanpa sebab yang diiktoraf oleh Islam seperti menyelematkannya dari
lemas dan yang sepertinya.
11) Membiarkan isterinya bersalin dengan dibidani oleh doktor lelaki tanpa terdesak dan keperluan yang tiada pilihan.
12) Membawa isteri dan anak perempuan untuk dirawati oleh doktor
lelaki sedangkan wujudnya klinik dan hospital yang mempunyai doktor
wanita.
13) Membiarkan isteri pergi kerja menumpang dengan teman lelaki sepejabat tanpa sebarang cemburu.
14) Membiarkan isteri kerap berdua-duan dengan pemandu kereta lelaki tanpa sebarang pemerhatian.
Terlalu banyak lagi jika ingin saya coretkan di sini. Kedayusan ini
hanya akan sabit kepada lelaki jika semua maksiat yang dilakukan oleh
isteri atau anaknya secara terbuka dan diketahui olehnya, adapun jika
berlaku secara sulit, suami tidaklah bertanggungjawab dan tidak sabit
‘dayus’ kepad dirinya.
Mungkin kita akan berkata dalam hati :-
” Jika demikian, ramainya lelaki dayus di kelilingku”
Lebih penting adalah kita melihat, adakah kita sendiri tergolong dalam salah satu yang disebut tadi.
Awas wahai lelaki beriman..jangan kita termasuk dalam golongan yang berdosa besar ini.
Wahai para isteri dan anak-anak perempuan, jika anda sayangkan suami
dan bapa anda, janganlah anda memasukkan mereka dalam kategori DAYUS
yang tiada ruang untuk ke syurga Allah SWT.
Sayangilah dirimu dan keluargamu. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Akhirnya, wahai para suami dan ayah, pertahankan agama isteri dan
keluargamu walau terpaksa bermatian kerananya. Nabi SAW bersabda :
من قتل دون أهله فهو شهيد
Ertinya : “Barangsiapa yang mati dibunuh kerana
mempertahankan ahli keluarganya, maka ia adalah mati syahid” ( Riwayat
Ahmad , Sohih menurut Syeikh Syuaib Arnout)
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.
Maksud ayat: Surah an Nur ayat 35 – 38.
“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di
dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu
seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan
minyak dari pohon yang banyak berkahnya, iaitu pohon zaitun yang tumbuh
tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang
minyaknya sahaja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas
cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang
Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di
masjid-masjid yang telah diperintahka untuk dimulakan dan disebut
namanya di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang, lelaki yang
tida dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari
mengingati Allah dan dari mendirikan solat dan dari membayar zakat.
Mereka takut pada suatu hari (yang dihari itu) Hati dan penglihatan
menjadi goncang. Mereka yang mengerjaka demikian itu supaya Allah
memberikan balsan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari
apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan kurnianya kepada
mereka. Dan Allah memberi rezeki pada siapa yang dikehendakinya.”
(An-Nur: 35-38)
1.1. Hakikat Cahaya
Kejelasan, penafsiran dan pengertian ayat misykat memberi bantuan
yang amat besar dalam memahami persoalan hati dan perjalanan suluk.
Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia diumpamakan dengan
lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat adalah suatu
lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama dengan
lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita
yang menerangi.
Perumpamaan ketiga-tiga komponen ini adalah perumpamaan dari manusia
yang beriman yang padanya ada jasadnya, hatinya dan cahaya yang ada di
dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan dengan
kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.
“Allah cahaya langit dan bumi”
Bermaksud; Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada langit dan
bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya.
Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebahagian petunjuk bagi
orang mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan,
kebesaran dan kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.
Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi hatinya, kaca
ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang merupakan
petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia mampu
melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari
Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam
perumpamaan.
Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita atau hati
yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang
diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu
diserupakan dengan mutiara kerana sangat cemerlangnya cahaya bintang
tersebut.
Kita perhatikan di sini, perbincangan tentang kaca dan semua
pelitanya atau tentang hati dan cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan
bintang yang mutiara (al-Kaukub ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu
bersinar. Demikian pula kacanya, ia bersinar kerana cemerlang dan putih
bersih.
Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari mana dan
dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati? Bagaimana
kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain, cahaya
itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk
pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang
diperolehinya hingga ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani
tersebut?
Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang dinyalakan adalah
pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati orang mukmin
dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya atau
yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah
timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah
syariat Allah.
Menurut Ibnu Kasir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada dalam
diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi
murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan
seperti minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit
pun keruh.
Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah merupakan sumber
dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat, yang
merupakan sumbe dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya.
Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:
“Yang minyaknya sahaja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api”
Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi kerana
kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api.
Kadar besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa
besar cahaya hati yang diperoleh dari sinaran cahaya syariat?
Demikianlah adanya, dan kerana itulah Allah berfirman:
“Cahaya di atas cahaya”
Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan
kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis
yang mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita
dan minyak. Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat
benderangnya cahaya, kerana pelita yang ada di dalam tempat yang sempit
menyerupai lubang yang tidak tembus, di mana ia mampu menghimpun dan
memadukan seluruh cahaya. Hal ini berbeza seandainya di tempat yang
luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan berserakan. Sedangkan
(dinding) kaca merupakan suatu yang paling banyak menambah penerangan,
demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.
Menurut Ibnu Kasir’As-Saddi yang pernah berkata tentang firman Allah
tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak bila
bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan memancarkan
cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman bersatu
padu.
Dengan demikian, perumpamaan yang Allah buat untuk menerangkan
kebebasan hidayahNya telah sempurna, dan dari penjelasan tentang
perumpamaan tersebut, kita tahu bahawa penunaian syariat Allah lah yang
mampu memberikan cahaya iman yang abadi.
Selain itu, berdasarkan pendapat Ibnu kasir’As-Saddi juga, cahaya api
dan cahaya minyak bila bersatu padu memancarkan sinar, dan tidak akan
bersinar satu di antaranya tanpa yang lain. Demikian juga cahaya
al-Qurán dan cahaya iman ketika bersatu padu, dan satu di antaranya
tidak akan memancarkan cahaya tanpa yang lain.
Di sini, kita sudah mulai memahami bahawa kewujudan kandungan
al-Qurán merupakan makanan yang kekal bagi kalbu, sebab dengan al-Qurán
pelita hati akan tetap menyala terang dan akan tetap memperolehi
petunjuk. Bertambahnya perpaduan cahaya hati dan pancarannya bergantung
kepada kadar penunaian seseoang terhadap kandungan al-Qurán dan misykat
atau jasad akan memantulkan cahaya ini sehingga jalan baginya menjadi
terang dan juga bagi yang lain.
“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia
kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Maksudnya Allah membimbing kepada cahaya syariat-Nya atau Allah
memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dari ahli Iman sehingga
mereka memperolehinya dan mengikuti petunjuk yang diberikan kepada
mereka.
Ayat berikutnya menjelaskan tentang tempat mereka yang hatinya dipenuhi cahaya dan hidayah:
“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya.”
Ketika menerangkan ayat misykat (lubang yang tidak
tembus) yang terdapat di sebahagian rumah Allah, iaitu masjid, an-Nasafi
mengulas bahawa Misykat adalah jasad orang mukmin yang hatinya adalah
mencintai masjid. Dapat disimpulkan bahawa titik tolak kepada pendidikan
keimanan yang tinggi adalah masjid dengan cara menyucikan diri di dalam
masjid pada waktu pagi dan pada waktu petang dengan melaksanakan solat
di dalamnya. Ini adalah kerana mereka adalah lelaki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula dari jual beli dari mengingat
Allah, dari mendirikan solat, dan dari membayar zakat. Mereka takut pada
satu hari (yang di hari itu) hati penglihatan menjadi goncang.
Hidup sehat adalah salah satu kunci dari panjang umur. Untuk hidup
sehat, kita tentu memerlukan nutrisi yang baik dan sehat pula. Inilah
beberapa jenis makanan yang diklaim berkhasiat membuat awet muda dan
tetap sehat.
1. Minyak Zaitun
Empat dekade lalu, para peneliti dari Seven Coutries Study menyimpulkan
bahwa lemak tak jenuh dengan rantai tunggal (monounsaturated) dalam
minyak zaitun secara luas bermanfaat untuk menekan risiko penyakit
jantung dan kanker di Kepulauan Crete di Yunani. Kini masyarakat juga
sudah banyak yahu bahwa minyak zaitun mengandung folifenol, antioksidan
kuat yang bisa mencegah jenis penyakit akibat penuaan.
2. Yogurt
Pada era 1970an, wilayah Georgia dikabarkan memiliki jumlah penduduk
yang berusia rata-rata di atas 100 tahun yang lebih banyak ketimbang
negara lain. Laporan pada saat itu mengklaim bahwa rahasia dari umur
yang panjang tersebut adalah yogurt.
Meskipun kekuatan yogurt dalam memperpanjang usia belum pernah
terbukti secara langsung, yogurt adalah makanan yang kaya kalsium yang
dapat mencegah osteoporosis. Selain itu, yogurt juga mengandung bakter
baik yang mempertahankan kesehatan pencernaan serta mengurangi risiko
mengidap penyakit usus yang berkaitan dengan usia
3. Ikan
Tiga puluh tahun lalu, para ahli mulai meneliti mengapa penduduk asli
Alaska (inuit) bisa terbebas dari penyakit jantung. Alasannya, menurut
perkiraan para ahli, adalah tingkat konsumsi ikan yang luar biasa. Ikan
memang mengandung banyak lemak omega-3, yang bisa membantu menurunkan
kolesterol dan penyumbatan dalam pembuluh darah serta mencegah ritme
jantung abnormal.
4. Cokelat kokoa
Masyarakat Kuna di Kepulauan San Blas, Panama, tercatat memiliki risiko
penyakit jantung lebih rendah hingga sembilan kali lipat di banding
penduduk lainnya yang tinggal di Panama. Alasannya? Warga Kuna rajin
sekali meminum kokoa yang kaya flavanols, antioksidan yang dapat
membantu memperlancar peredaran darah. Menjaga kesehatan pembuluh darah
berarti menekan risiko tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, penyakit
ginjal dan demensia.
5. Kacang
Riset yang dilakukan kelompok Seventh-Day Adventists (aliran Kristiani
yang menerapkan hidup sehat dan diet vegetarian) menunjukkan bahwa
seseorang yang makan kacang rata-rata memiliki umur panjang dua setengah
tahun. Kacang dikenal kaya akan lemak tidak jenuh, sehingga makanan ini
menawarkan manfaat serupa dengan minyak zaitun. Kacang juga mengandung
beragam vitamin, mineral dan zat phytochemical termasuk antioksidan.
6. Anggur
Minum alkohol dalam jumlah moderat diklaim dapat melindungi dari
penyakit jantung, diabetes dan kepikunan. Banyak jenis minuman
beralkohol yang bisa mendatangkan manfaat tersebut, tetapi banyak
penelitian yang memfokuskanya pada anggur merah. Anggur merah mengandung
resveratrol, zat yang diperkirakan mendatangkan berbagai manfaat
tersebut.
7. Blueberry
Dalam sebuah riset yang dipublikasikan pada 1999, peneliti dari Jean
Mayer Human Nutrition Research Center memberikan ekstrak blueberry pada
tikus. Pemberian ekstrak ini diberikan selama periode kehidupan tikus
yang setara dengan 10 tahun kehidupan manusia.
Tikus yang diberi ekstrak ini menunjukkan
keunggulannya ketimbang tikus biasa saat uji keseimbangan dan koordinasi
ketika mereka mencapai usia lanjut. Kandungan dalam blueberry (dan
berry lainnya) diduga dapat mengurangi peradangan (inflamasi) dan
kerusahan bersifat oksidatif, yang mana ini berhubungan dengan penurunan
daya ingat dan kemampuan motorik saat lanjut usia.
IBADAT solat difardukan ke atas setiap Muslim bagi menunjukkan kepatuhan
penuh ikhlas seorang hamba terhadap pencipta-Nya Yang Maha Esa. Solat
sebenarnya mempunyai seninya yang tersendiri di samping 1001 rahsia yang
belum dirungkai sepenuhnya, kecuali kita mengetahuinya sebagai ibadat
diwajibkan ke atas setiap umat Islam.
Rahsia ketenangan dapat dirasai apabila dapat mengerjakan solat
dengan betul dan khusyuk. Solat yang ditunaikan dengan rasa khusyuk,
tawaduk dan hanya mengharapkan keredaan Allah SWT semata-mata, akan
membuahkan kenikmatan dan rahmat yang memenuhi segala aspek kehidupan
dunia dan akhirat.
Baru-baru ini Pertubuhan Kebajikan Islam Malaysia (Perkim) dengan
kerjasama Masjid Umar Al-Khattab telah menganjurkan seminar ‘Solat dari
Perspektif Sains’ di Bukit Damansara pada 23 Januari lalu.
Program tersebut telah menghimpunkan seramai 200 orang hadirin yang
terdiri daripada saudara Muslim, mualaf dan penduduk setempat.
Pengarah Program, Mohd. Mustaqiim Asmuji yang juga selaku Ketua Unit
Dakwah Penyelidikan berkata, program tersebut telah memberi pengetahuan
kepada peserta cara dan. kaedah menyempurnakan ibadah solat dengan
pergerakan serta postur badan yang betul ketika bersolat.
“Ia ini juga mendedahkan peserta kepentingan penjagaan kesihatan,
sekali gus menerangkan kebaikan solat dalam penjagaan kesihatan yang
betul yang telah terbukti melalui alatan-alatan yang digunakan dalam
kajian solat yang telah dijalankan.
“Pergerakan rukun dalam solat yang membabitkan angkat tangan ketika
niat, takbirratullihram, sujud, rukuk, duduk iktidal sehingga memberi
salam sebenarnya mempunyai rahsia tersendiri seperti satu senaman
ringan.
“Program ini juga menyelidiki hikmah dan kesan terapeutik perubatan
daripada pergerakan ibadat solat yang sempurna kepada kesihatan manusia.
Solat sebagai suatu aktiviti fizikal unik yang ditunaikan secara
berterusan memainkan peranan penting dalam memelihara keseinambungan
sistem fisiologikal manusia yang meliputi kesihatan fizikal, mental,
rohani dan emosi,” kata Mustaqiim.
Selain itu tambahnya, para peserta juga diberi peluang untuk
melakukan teknik-teknik pergerakan solat yang betul dalam 13 rukun yang
dipimpin oleh penceramah undangan.
Program tersebut telah dirasmikan oleh Datuk Wan Mansor Abdullah selaku Pengerusi Masjid Umar Al-Khattab.
Pensyarah Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan, Fakulti Kejuruteraan
Universiti Malaya, Prof. Madya Dr. Fatimah Ibrahim telah menyampaikan
empat modul kepada peserta antaranya adalah ‘Komposisi Badan’. Komposisi
badan ketika dalam keadaan rukuk, berdiri tegak, sujud, duduk antara
dua sujud, duduk tahiyat dan salam dapat menghasilkan keputusan rawatan
pada otot, pelancaran aliran darah, membantu proses pengepaman jantung
dan melancarkan aliran darah ke otak.
Solat umpama senaman ringan dan berpuasa juga umpama diet yang baik
kerana aktiviti ini boleh meningkatkan kadar pembakaran badan dan
menurunkan kolestrol badan serta dapat menghindar penyakit jantung dan
kegemukan.
Modul ‘Solat dari Perspektif Sains kepada Jantung’ pula menekankan
sujud kerana ia adalah postur yang terbaik untuk kesihatan jantung
kerana keadaan ini adalah sesuai dengan tarikan graviti yang akan
mengakibatkan lebih banyak darah mengalir ke otak dan menjadikan otak
lebih sihat dan cergas.
Pergerakan solat juga disyorkan kepada pesakit kardiovaskular sebagai
suatu senaman iaitu dengan bersolat selama 30 minit yang bersamaan 12
rakaat bagi setiap hari untuk mendapatkan kesan yang efektif.
Kajian telah membuktikan bahawa kadar denyutan jantung adalah paling
rendah pada kedudukan sujud ini adalah kerana nada jantung yang nominal
adalah baik untuk jantung dan nilai prognostik denyutan jantung dalam
populasi yang sihat juga menjadi penentu kepada faktor risiko penyakit
kardiovaskular.
Modul ‘Terapi Sakit Pinggang’ pula telah dibuktikan dengan
melampirkan beberapa kajian analisis yang dapat memulihkan fungsi
otot-otot dan merawat sakit pinggang dengan kaedah bersolat. Postur dan
pergerakan solat boleh digunakan sebagai salah satu rawatan pemulihan
alternatif untuk menyembuhkan atau mengurangkan sakit pinggang bukan
sahaja kepada pesakit pinggang yang kronik tetapi juga disyorkan kepada
wanita mengandung.
Keputusan analisis kajian telah menunjukkan peningkatan dan kesan
positif kepada pesakit mati pucuk selepas melakukan solat dalam
penerangan Modul ‘Terapi Mati Pucuk’. Pergerakan solat juga melancarkan
perjalanan darah di sekitar otot lantai pelvik untuk pemulihan ke atas
pesakit.
Majlis diserikan lagi dengan majlis penutup dengan
penyampaian cenderahati kepada penceramah yang disampaikan Pengarah
Dakwah Perkim Kebangsaan, Abdul Hanif Harun.
RASULULLAH S.A.W bersabda yang ertinya:-Barang siapa yang mengerat kukunya pada ;
Hari Sabtu:Nescaya keluar dari dalam tubuhnya ubat dan masuk kepadanya penyakit.
Hari Ahad :Nescaya keluar daripadanya kekayaan dan masuk kemiskinan.
Hari Isnin :Nescaya keluar daripadanya gila dan masuk sihat.
Hari Selasa:Nescaya keluar daripadanya sihat dan masuk penyakit.
Hari Rabu :Nescaya keluar daripadanya was-was dan masuk kepadanya kepapaan.
Hari Khamis :Nescaya keluar daripadanya gila dan masuk kepadanya sembuh dari penyakit.
Hari Jumaat : Nescaya keluar dosa-dosanya seperti
pada hari dilahirkan oleh ibunya dan masuk kepadanya rahmat daripada
Allah Taala.