by Qurratul ‘Ain
Buat isteri2 atau bakal2 isteri, di sini aku ingin sekali berkongsi
dengan kalian mengenai konsep poligami yang seharusnya diterima dengan
hati terbuka (seperti janjiku dalam entri bertajuk ‘Kalau Ustazah Mau
La’). Perkongsian ilmu kali ini adalah hasil tulisan Dr. Yusuf
Al-Qardhawi bertajuk Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an &
Sunnah, Cetakan Pertama Januari 1997, Citra Islami Press . Pintaku,
bacalah dengan akal yang waras lagi rasional bersuluh iman, bukan emosi
yang membutakan mata hati sehingga tak nampak apa yang indah di dalam
isi.
POLIGAMI
Orang-orang Kristen dan Orientalis menjadikan tema poligami ini
seakan merupakan syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, atau salah satu
perkara yang wajib, atau minimal sunnah untuk dilaksanakan. Yang
demikian ini tidak benar alias penyesatan, karena dalam praktek pada
umumnya seorang Muslim itu menikah dengan satu isteri yang menjadi
penentram dan penghibur hatinya, pendidik dalam rumah tangganya dan
tempat untuk menumpahkan isi hatinya. Dengan demikian terciptalah
suasana tenang, mawaddah dan rahmah, yang merupakan sendi-sendi
kehidupan suami isteri menurut pandangan Al Qur’an.
Oleh karena itu ulama mengatakan, “Dimakruhkan bagi orang yang
mempunyai satu isteri yang mampu memelihara dan mencukupi kebutuhannya,
lalu dia menikah lagi. Karena hal itu membuka peluang bagi dirinya untuk
melakukan sesuatu yang haram.
Allah berfirman:
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara
isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena
itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga
kamu biarkan yang lain terkatung-katung..” (An-Nisa’: 129)
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang mempunnyai dua isteri, kemudian lebih mencintai
kepada salah satu di antara keduanya maka ia datang pada hari kiamat
sedangkan tubuhnya miring sebelah. ” (HR. Al Khamsah)
Adapun orang yang lemah (tidak mampu) untuk mencari nafkah kepada
isterinya yang kedua atau khawatir dirinya tidak bisa berlaku adil di
antara kedua isterinya, maka haram baginya untuk menikah lagi, Allah SWT
berfirman,
“Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (An-Nisa’: 3)
Apabila yang utama di dalam masalah pernikahan adalah cukup dengan
satu isteri karena menjaga ketergelinciran, dan karena takut dari
kepayahan di dunia dan siksaan di akhirat, maka sesungguhnya di sana ada
pertimbangan-pertimbangan yang manusiawi, baik secara individu ataupun
dalam skala masyarakat sebagaimana yang kami jelaskan. Islam
memperbolehkan bagi seorang Muslim untuk menikah lebih dari satu
(berpoligami), karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah yang
bersih, dan memberikan penyelesaian yang realistis dan baik tanpa harus
lari dari permasalahan.
Poligami pada Ummat Masa Lalu dan Pada Zaman Islam
Sebagian orang berbicara tentang poligami, seakan-akan Islam
merupakan yang pertama kali mensyari’atkan itu. Ini adalah suatu
kebodohan dari mereka atau pura-pura tidak tahu tentang sejarah.
Sesungguhnya banyak dari ummat dan agama-agama sebelum Islam yang
memperbolehkan menikah dengan lebih dari satu wanita, bahkan mencapai
berpulah-puluh orang atau lebih, tak ada persyaratan dan tanpa ikatan
apa pun.
Di dalam Injil Perjanjian Lama diceritakan bahwa Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman mempunyai beratus ratus orang isteri.
Ketika Islam datang, maka dia meletakkan beberapa persyaratan untuk
bolehnya berpoligami, antara lain dari segi jumlah adalah maksimal
empat. Sehingga ketika Ghailan bin Salamah masuk Islam sedang ia
memiliki sepuluh isteri, maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Pilihlah
dari sepuluh itu empat dan ceraikanlah sisanya.” Demikian juga berlaku
pada orang yang masuk Islam yang isterinya delapan atau lima, maka Nabi
SAW juga memerintahkan kepadanya untuk menahan empat saja.
Adapun pernikahan Rasulullah SAW dengan sembilan wanita ini merupakan
kekhususan yang Allah berikan kepadanya, karena kebutuhan dakwah ketika
hidupnya dan kebutuhan ummat terhadap mereka setelah beiau wafat, dan
sebagian besar dari usia hidupnya bersama satu isteri.
Adil Merupakan Syarat Poligami
Adapun syarat yang diletakkan oleh Islam untuk bolehnya berpoligami
adalah kepercayaan seorang Muslim pada dirinya untuk bisa berlaku adil
di antara para isterinya, dalam masalah makan, minum, berpakaian, tempat
tinggal, menginap dan nafkah. Maka barangsiapa yang tidak yakin
terhadap dirinya atau kemampuannya untuk memenuhi hak-hak tersebut
dengan adil, maka diharamkan baginya untuk menikah lebih dari satu.
Allah berfirman:
“Jika kamu takut berlaku tidak adil maka cukuplah satu isteri” (An-Nisa’:3)
Kecenderungan yang diperingatkan di dalam hadits ini adalah
penyimpangan terhadap hak-hak isteri, bukan adil dalam arti
kecenderungan hati, karena hal itu termasuk keadilan yang tidak mungkin
dimiliki manusia dan dimaafkan oleh Allah.
Allah SWT berfirman:
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isten(mu), walaupun
kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu
cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (An-Nisa’: 129)
Oleh karena itu, Rasulullah SAW menggilir isterinya dengan adil,
beliau selalu berdoa, “Ya Allah inilah penggiliranku (pembagianku)
sesuai dengan kemampuanku, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap
apa-apa yang Engkau miliki dan yang tidak saya miliki.” Maksud dari doa
ini adalah kemampuan untuk bersikap adil di dalam kecenderungan hati
kepada salah seorang isteri Nabi.
Rasulullah SAW apabila hendak bepergian membuat undian untuk
isterinya, mana yang bagiannya keluar itulah yang pergi bersama beliau.
Beliau melakukan itu untuk menghindari keresahan hati isteri-isterinya
dan untuk memperoleh kepuasan mereka.
Hikmah Diperbolehkannya Poligami
Sesungguhnya Islam adalah risalah terakhir yang datang dengan
syari’at yang bersifat umum dan abadi. Yang berlaku spanjang masa, untuk
seluruh manusia.
Sesungguhnya Islam tidak membuat aturan untuk orang yang tinggal di
kota sementara melupakan orang yang tinggal di desa, tidak pula untuk
masyarakat yang tinggal di iklim yang dingin, sementara melupakan
masyarakat yang tinggal di iklim yang panas. Islam tidak pula membuat
aturan untuk masa tertentu, sementara mengabaikan masa-masa dan generasi
yang lainnya. Sesungguhnya ia memperhatikan kepentingan individu dan
masyarakat.
Ada manusia yang kuat keinginannya untuk mempunyai keturunan, akan
tetapi ia dikaruniai rezki isteri yang tidak beranak (mandul) karena
sakit atau sebab lainnya. Apakah tidak lebih mulia bagi seorang isteri
dan lebih utama bagi suami untuk menikah lagi dengan orang yang
disenangi untuk memperoleh keinginan tersebut dengan tetap memelihara
isteri yang pertama dan memenuhi hak-haknya.
Ada juga di antara kaum lelaki yang kuat keinginannya dan kuat
syahwatnya, akan tetapi ia dikaruniai isteri yang dingin keinginannya
terhadap laki-laki karena sakit atau masa haidnya terlalu lama dan
sebab-sebab lainnya. Sementara lelaki itu tidak tahan dalam waktu lama
tanpa wanita. Apakah tidak sebaiknya diperbolehkan untuk menikah dengan
wanita yang halal daripada harus berkencan dengan sahabatnya atau
daripada harus mencerai yang pertama.
Selain itu jumlah wanita terbukti lebih banyak daripada jumlah pria,
terutama setelah terjadi peperangan yang memakan banyak korban dari kaum
laki-laki dan para pemuda. Maka di sinilah letak kemaslahatan sosial
dan kemaslahatan bagi kaum wanita itu sendiri. Yaitu untuk menjadi
bersaudara dalam naungan sebuah rumah tangga, daripada usianya habis
tanpa merasakan hidup berumah tangga, merasakan ketentraman, cinta kasih
dan pemeliharaan, serta nikmatnya menjadi seorang ibu. Karena panggilan
fithrah di tengah-tengah kehidupan berumah tangga selalu mengajak ke
arah itu.
Sesungguhnya ini adalah salah satu dari tiga pilihan yang terpampang
di hadapan para wanita yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah kaum
laki-laki. Tiga pilihan itu adalah:
1. Menghabiskan usianya dalam kepahitan karena tidak pernah merasakan kehidupan berkeluarga dan menjadi ibu.
2. Menjadi bebas (melacur, untuk menjadi umpan dan permainan kaum
laki-laki yang rusak). Muncullah pergaulan bebas yang mengakibatkan
banyaknya anak-anak haram, anak-anak temuan yang kehilangan hak-hak
secara materi dan moral, sehingga menjadi beban sosial bagi masyarakat.
3. Dinikahi secara baik-baik oleh lelaki yang mampu untuk memberikan
nafkah dan mampu memelihara dirinya, sebagai istri kedua, ketiga atau
keempat.
Tidak diragukan bahwa cara yang ketiga inilah yang adil dan paling
baik serta merupakan obat yang mujarab. Inilah hukum Islam. Allah
berfirman:
“Dan hukum siapakah yang lehih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (Al Maidah: 50)
Di antara hikmah beristri lebih dari satu (poligami):
1. Dengan banyaknya istri akan memperbanyak keturunan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا؛ فَإِنِّي مُبَاةٍ بِكُمُ الأُمَمَ))
“Menikahlah kalian dan buatlah keturunan karena aku berbangga dengan kalian di depan umat-umat yang lain.”
2. Terkadang wanita itu ada yang mandul tidak bisa beranak, maka
manakah yang lebih utama? Apakah mencerainya atau tetap bersamanya
menikah lagi, manakah yang lebih utama? Membiarkan suami tanpa keturunan
atau dia menikah lagi? Jawabnya, yang lebih utama adalah tetap
bersamanya dan membiarkannya menikah lagi.
3. Wanita pada saat nifas dan haidnya seringkali suami tidak bisa
sabar menahan sehingga akan menyeretnya pada sesuatu yang haram, dan
jalan keluar dari masalah ini adalah dengan suami menikah lagi.
4. Kadang pada wanita ada beberapa aib (kekurangan) maka yang lebih utama adalah suami menikah lagi dan tidak menceraikannya.
5. Bisa jadi wanita seringkali sakit, maka yang lebih utama adalah
suami menikah lagi dan tidak menceraikannya, atau mungkin ia sabar atas
istrinya akan tetapi dia tidak kasihan terhadap dirinya.
6. Banyaknya istri (poligami) akan mempererat hubungan beberapa keluarga. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
“Dan Allah (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan
manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah2 dan adalah Rabbmu Maha
Kuasa.” (Al-Furqan: 54)
7. Seorang wanita itu harus ada orang yang memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya berupa nafkah dan lainnya, maka dengan poligami
seorang suami yang akan melaksanakan hal itu. Dan ilmunya berada di sisi
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ahli Makrifat itu tidak mempunyai makrifat jika ia tidak mengenal
Allah dari segala sudut dan dari segala arah mana saja ia menghadap.
Ahli Hakikat hanya ada satu arah iaitu ke arah Yang Hakiki itu sendiri.
“Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah” (Al-Qur-an)
“Ke mana saja kamu memandang”, sama ada dengan deria atau akal atau
khayalan, maka di situ ada Wajah Allah”. Oleh itu dalam tiap-tiap ain
[di mana] ada ain (Zat Ilahi) dan semuanya adalah “La ilaha illalLah”
(Tiada Tuhan Melainkan Allah).
Dalam “La ilaha illalLah” semua wujud ada terkandung, iaitu Wujud
Semesta Raya dan Wujud secara khusus; atau Wujud atau apa yang dianggap
Wujud; atau wujud Hakiki dan Wujud makhluk.
Wujud makhluk tertakluk kepada kepada “La ilaha” yang bererti bahawa
segala-galanya kecuali Allah adalah kosong(batil), iaitu dinafikan
bukan diisbatkan. Wujud Hakiki termasuk dalam “illaLlah”. Oleh itu
semua kejahatan tertakluk di bawah “La ilaha” dan semua yang dipuji
tertakluk di bawah “illaLlah”.
Semua wujud terkandung dalam mengisbatkan Keesaan (La ilaha illaLlah)
dan anda mesti memasukkkannya juga dalam menamakan hamba yang paling
mulia (dalam mengatakan Muhammadun RasuluLlah).
“Muhammadun RasuluLlah” ini mengandungi tiga alam.
1.Muhammad itu menunjukkan Alam Nyata(Alam Nasut); iaitu alam yang boleh dipandang dengan deria(senses).
2.Rasul itu menunjukkan Alam Perintah(Alam Malakut); iaitu Alam
batin berkenaan rahsia-rahsia tanggapan yang mujarad; dan ini terletak
antara yang muhaddas dengan Yang Qadim.
3.Nama Ilahi(Allah) itu menunjukkan Alam Pertuanan(Alam Jabarut). Lautan darinya terpancar pengertian dan tanggapan.
“Rasul” itu sebenarnya pengantara yang muhaddas dengan Yang Qadim;
kerana tanpa dia tidak akan ada wujud, kerana jika yang muhaddas
bertemu dengan yang Qadim, maka binasalah yang muhaddas dan tinggallah
Yang Qadim.
Apabila Rasul diletakkan pada tempatnya yang wajar pada kedua itu,
maka barulah alam ini diperintahkan, kerana pada zhohirnya ia adalah
hanyalah seketul tanah liat, tetapi batinnya ia adalah khalifah Allah.
Pendeknya, maksud mengisbatkan Tauhid itu tidaklah sempurna dan
tidaklah meliputi tanpa diisbatkan Keesaan atau Tauhid Zat, Sifat dan
Lakuan. Pengisbatan itu difahami dari “Muhammadun RasuluLlah”.
Apabila seorang ahli Makrifat berkata “La-ilaha illaLlah” maka ia
ketahui pada hakikatnya bukan hanya pada majazi sahaja, iaitu tidak
ada jalan lain melainkan Allah. Oleh itu wahai saudaraku, janganlah
hanya mengucapkan dengan mulut saja syahadah yang mulia ini, kerana
dengan itu mulut sajalah yang akan mendapat manfaatnya. Dan ini
bukanlah matlamat yang hendak dituju. Yang pentingnya ialah Mengenal
Allah sebagaimana Ia sebenarnya.
“Allah itu dahulu seperti Ia sekarang jua tanpa sekutu, dan Ia sekarang seperti Ia dahulu jua”.
Fahamilah ini, dan anda tidak akan dibebankan lagi dengan penafian,
dan tidak ada yang tinggal bagi anda lagi melainkan pengisbatan agar
apabila anda berkata anda akan berkata; “Allah, Allah, Allah”.
Tetapi kini hati anda dibebankan dan pandangannya lemah. Semenjak anda
dijadikan anda hanya berkata; La-ilaha…….. tetapi bilakah penafian itu
akan berkesan?. Bahkan ia tidak berkesan kerana penafian itu hanya
dengan lidah sahaja. Jika anda nafikan dengan Akal iaitu dengan Hati
anda dan rahsia anda yang paling dalam, maka seluruh alam ini akan
lenyap dari pandangan anda dan anda akan lihat Allah sendiri, bukannya
diri anda sendiri dan juga makhluk-makhluk lain. Kaum Sufi menafikan
wujud yang lain kecuali Allah. Maka mereka mencapai kedamaian dan
kerehatan dan terus memasuki KalamNya. Mereka tidak akan keluar lagi.
Tetapi penafian anda tidak ada langsung hujungnya…………
Ghirullah(selain Allah) tidak akan lenyap dengan hanya mengatakan
“tidak” dengan lidah sahaja; dan belum sempurna juga lagi dengan mata
keimanan dan keyakinan, tetapi akan lenyap dengan pandangan secara
langsung dan berhadapan muka.
“Sesungguhnya Allah itulah matlamat anda yang terakhir” (Al-Qur’an).
Dialah sumber segala-galanya. Maka anda tidak perlu lagi nafi dan
tidak perlu isbat. Ini adalah kerana Yang Wajib itu telah memangnya
isbat walaupun belum anda isbatkan, dan yang ghairullah itu sememangnya
nafi walaupun sebelum anda nafikan.
Tidakkah anda ingin menemui guru yang dapat mengajar anda bagaimana
menafikan ghairullah dan membawa anda kepada kedamaian di mana anda
dapati tidak ada yang lain kecuali Allah?. Maka barulah anda hidup
dengan Allah dan dapat menjadi penghuni “Dalam tempat tinggal
orang-orang yang ikhlas di Majlis Tuhan Yang Maha Agung”, dan ini
adalah semuanya hasil daripada ingat anda dan makrifat anda bahawa
“Tiada Tuhan selain Allah”.
Anda tahu kata-kata Syahadah itu sahaja dan yang paling dalam yang
anda tahu ialah berkata; “Tidak ada yang patut disembah melainkan
Allah”. Ini adalah pengetahuan orang-orang awam(biasa) tetapi apakah
kaitannya dengan pengetahuan atau ilmu orang-orang Sufi?.
Pengetahuan anda yang sekarang itulah yang menghalang anda memahami
pengetahuan orang-orang pilihan(Sufi). Masihkan anda menafikan
pengetahuan yang didapati dari bimbingan guru menuju Hakikat, padahal
mereka yang dipimpin itu memandang tidak yang wujud kecuali Allah?
Mereka bukan sahaja mengenal Allah dengan Iman dan keyakinan saja,
tetapi mereka memandang dengan cara pandangan yang terus tanpa halangan.
Omong kosong tidak sama dengan melihat, bertemu muka.
Sebagai kaum muslim kita sering melafadzkan kalimat لا اله الا الله
محمد رسول الله (laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah) atau yang lebih
dikenal dengann kalimat tauhid. Tapi selama ini kita
hanya sebatas melafadzkannya dengan lisan tanpa dibarengi dengan
kamantapan hati serta pengetahuan tentang makna dan hakekat kalimat
tersebut. Padahal kalimat tauhid mengandung makna yang sangat dalam dan
memberikan pengaruh yang luas bagi kehidupan manusia di dunia ini.
Kalimat laa ilaaha illallah terdiri atas nafyu “laa ilaaha” dan
itsbat “illallah”. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Artinya seorang
muslim tidak boleh hanya melafadzkan nafyu-nya tanpa itsbat atau
sebaliknya hanya meng-itsbat-kan tanpa me-nafyi-kan.
Kalimat tauhid harus merupakan perkataan hati dan sekaligus perkataan
lidah. Perkataan hati mencakup pengetahuan mengenai kalimat itu dan
pembenarannya, mengetahui sebenar-benarnya apa yang dikandungya berupa
penafsiaran dan penetapan, mengetahui hakekat sesembahan yang dinafikan
selain Allah, mengetahui sesembahan yang dikhususkan kepada-Nya, dan
yang lainnya mustahil ditetapkan sebagai sesembahan. Menerapkan
pengertian ini dengan melibatkan hati sanubari yang didasari
pengetahuan, ma’rifat, keyakinan dan kondisi adalah merupakan syarat
diharamkannya neraka bagi orang yang mengatakannya. Di dalam shahih
Muslim disebutkan sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang mengucapkan
laa ilaaha illallah serta mengkufuri apa yang disembah selain Allah,
maka diharamkan harta dan darahnya sedang perhitungannya ada pada
Allah.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Hakekat laa ilaaha illallah
adalah tidak ada kesenangan dan kenikmatan yang sempurna bagi hati
kecuali dalam kecintaan kepada Allah dan bertaqarrub kepada-Nya dengan
mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya. Kecintaan tak akan terjadi
kecuali dengan berpaling dari kecintaan selain-Nya, sedangkan Muhammad
Rasulullah adalah secara murni mengerjakan apa yang beliau perintahkan
dan menahan dari apa yang dilarang dan dicegah beliau.”
Sedangkan Ibnu Qoyyim berpendapat: “Tauhid bukan sekedar pernyataan
seseorang hamba bahwa tiada pencipta selain Allah, Allah adalah Rabb dan
penguasa segala sesuatu, sebagaimana orang-orang yang menyembah berhala
juga menyatakan seperti itu, tetapi tetap dalam kemusyrikan. Tauhid
mengandung kecintaan kepada Allah, tunduk dan merendahkan diri
kepada-Nya, patuh sebenar-benarnya untuk taat kepada-Nya, memurnikan
ibadah kepada-Nya, menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha
Tinggi dengan segenap perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan,
mencinta dan marah karena-Nya, serta menghindarkan diri dari segala
sesuatu yang menyeret kepada kedurhakaan kepada-Nya. Barangsiapa
mengetahui hal itu tentua mengetahui sabda Nabi: “Sesungguhya Allah
mengharamkan api neraka atas orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah
karena dengan ucapannya itu ia mengharap pertemuan dengan wajah-Nya.”
Dan juga sabdanya: “Tidak masuk neraka orang yang mengatakan laa ilaaha
illallah.”
Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “Inilah penjelasan yang paling
penting tentang makna laa ilaaha illallah. Sekedar ucapan tauhid ini
saja belum mampu menjaga darah dan harta, bahkan juga tidak hanya
sebatas pada penetapannya saja, tidak terbatas pada perbuatannya yang
tidak berdo’a kecuali kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.
Harta dan darahnya tidak diharamkan bila seseorang menambahi
kekufurannya dengan sesuatu yang disembah selain Allah. Andaikata ia
bimbang dan ragu-ragu tentang kalimat ini, maka darah dan hartanya tidak
diharamkan. “
Lebih lanjut lagi Muhammad bin Wahab menjelaskan kalimat tauhid
mempunyai kepentingan membebaskan manusia dari penyembahan sebagian
diantara manusia terhadap sebagian yang lain kepada penyembahan Dzat
Yang Maha Esa dan Yang Maha Kuasa. Taqwa menjadi ukuran dan kebanggaan
yang selalu diharapkan manusia, bukan tradisi jahiliyah yang diwariskan
bapak dan nenek moyang kepada anak-anaknya. Maka setiap muslim yang
benar-benar dalam keislamannya akan memperoleh kebebasan menyelami
kalimat ini, sehingga ia termasuk orang yang menyembah Allah berdasarkan
pengetahuan, kepandaian dan keyakinan.
Pengaruh Kalimat laa ilaaha illallah dalam Kehidupan Manusia
Seperti halnya shalat, kalimat tauhid juga memberikan pengaruh pada
diri seorang muslim dalam kehidupannya. Al-Maududi menyebutkan ada
sembilan pengaruh kalimat laa ilaaha illallah dalam kehidupan manusia:
Pertama, dengan kalimat ini pandangan seorang muslim tidak menjadi
sempit, berbeda dengan orang yang mengakui banyak sesembahan, terlebih
lagi bagi yang mengingkari-Nya.
Kedua, menumbuhkan kehormatan dan harga diri yang tidak bisa diperbuat oleh sesuatu yang lain.
Ketiga, menumbuhkan sikap tawadhu’ tanpa menghinakan dan rendah hati tanpa menyombongkan diri.
Keempat, seorag mukmin akan mengetahui secara yakin, tiada jalan
keselamatan dan keberuntungan kecuali dengan menyucikan diri dan beramal
sholeh.
Kelima, tidak tersusupi rasa putus asa, sebab ia yakin Allah mempunyai simpanan di langit dan di bumi.
Keenam, menunjukkan manusia kepada kekuatan besar berupa ambisi,
keberanian, sabar, keteguhan hati, dan tawakkal ketika mengemban
urusan-urusan penting karena mengharap ridha Allah, dan juga merasakan
satu kekuatan yang menguasai langit dan bumi.
Ketujuh, menggerakkan keberanian pada manusia dan mengisi hati dengan
semangat. Karena yang membuat manusia menjadi takut dan melemahkan
ambisinya ada dua hal, yaitu; kecintaan terhadap dirinya sendiri, harta
dan keluarga serta keyakinannya bahwa disana ada seseorang selain Allah
yang dapat mematikan manusia.
Kedelapan, mengangkat kemampuan manusia, menumbuhkan ketinggian,
kepuasan dan kecukupan, membersihkan hati dari noda-noda kerakusan,
tamak, dengki, rendah diri, suka mencela dan sifat-sifat kurang baik
lainnya.
Kesembilan, iman kepada laa ilaaha illallah menjadikan seorang mukmin
selalu terkait dengan syari’at Allah dan sekaligus menjaganya.
Ibnu Rajab menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan kalimat tauhid:
“Allah tidak melimpahkan kenikmatan kepada seorang hamba lebih besar
daripada memberinya pengetahuan tentang laa ilaaha illallah. Kalimat ini
bagi para penghuni surga bagaikan air dingin bagi para penduduk dunia.
Karenanya disediakan daruts-tsawab dan darul iqab. Karenanya pula para
rasul diperintahkan berjihad. Maka barangsiapa yang menyatakannya, harta
dan darahnya terjaga. Dan barangsiapa yang tidak mau mengatakannya,
harta dan darahnya dihalalkan. Kalimat ini merupakan kunci surga dan
kunci dakwah para rasul.”
Maka dari itu, megapa Allah menjadikan kalimat tauhid sebagai rukun
Islam yang pertama dan yang terpenting dalam Islam? Yaitu untuk
menjadikan seseorang manusia sebagai muslim. Yang dimaksudkan muslim
adalah hamba yang taat dan tunduk kepada Allah. Seseorang tidak bisa
disebut hamba Allah kecuali ia benar-benar beriman dari hatinya bahwa
tidak ada illah selain Allah. Karena kita akan menjadi muslim sejati
dengan mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya jika
kita sudah memiliki keyakinan yang kuat tentang kebenaran-kebenaran
Islam yang dimulai dari rukunnya yang pertama. Wallahu a’lam bishshowab.
Umumnya ramai orang yang hanya menyebut aspek kehidupan manusia
itu hanya terdiri daripada rohani dan jasmani. Jarang diantara mereka
yang mengetahui bahawa aspek kehidupan manusia itu terdiri daripada
rohani jasmani jiwa dan raga.
Rohani jasmani jiwa dan raga.
Dalam firman Allah Taala surah Shaad (38:71-73) yang bermaksud:
Ingatlah ketika Tuhan mu berfirman kepada malaikat:
Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah
Ku sempurnakan kejadianya, maka Ku tiupkan kepadanya Ruh Ku. Maka
hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu
bersujud semuannya.
Pada ayat yang lain pula, Allah menjelaskan tentang penciptaan jiwa (nafs). Surah Asy Syams (91:7-10) . Firmanya yang bermaksud:
Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan
kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang
yang mengotorinya.
Selain itu, Allah juga berfirman dalam Al Quran tentang proses kejadian jasad (jisim). Surah Al Mukminun (23:12-14):
Dan sesungguhnya Kami telah menciptkan manusia dari sari pati dari
tanah, Kemudian jadilah sari pati itu air mani yang disimpan dalam
tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk
lain, maka maha suci Allah. Pencipta yang paling baik.
Alam raga
Raga itu adalah daripada unsur tanah yang berkeadaan pepejal bersifat
kering. Unsur tanah boleh cair menjadi air yang bersifat basah, air
meruap menjadi angin yang bersifat dingin dan angin boleh menghidupkan
api yang bersifat panas. Oleh itu unsur tanah, air, angin dan api adalah
disebut unsur alam benda. Pergerakan unsur inilah yang membina tenaga
alam semesta untuk keperluan manusia membina kesihatan hidup rohani,
jasmani, jiwa dan raganya.
Alam raga seperti kehidupan tumbuhan, haiwan dan manusia memerlukan
unsur alam benda untuk membina tenaga raga yang di perolehi dari bahan
makanan, minuma, udara dan api (haba).
Saripati makanan, minuman, udara dan haba membina tenaga raga manusia
yang teriri daripada darah, urat, nafas dan haba untuk membina tenaga
jiwa.
Alam jiwa
Bermula tenaga jiwa manusia adalah terbit dari tenaga alam raga iaitu
darah. Darah adalah cecair yang mengandungi saripati makanan, minuman,
udara dan haba yang mengitari seluruh anggota tubuh badan manusia.Darah
adalah berpusat di jantung sanubari tubuh badan manuia. Dari jantung
sanubari manusialah terbitnya tenaga jiwa dalam bentuk perasaan yang
dikenali dengan nafsu amarah.
Nafsu ammarah disebut oleh Allah di dalam Al-Quran, Firman Allah yang bermaksud,
“ Sesungguhnya nafsu (ammarah) itu sangat menyuruh berbuat jahat. “ (Surah Yusuf: 53)
Nafsu amarah ini adalah perasaan yang maseh lagi dipengaruhi alam
benda yang membina alam raga. Oleh itu nafsu amarah adalah seperti sifat
haiwan yang cenderung kepada makan minum, beranak pinak dan permusuhan
untuk menguasai alam benda.
Ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Ali Imran, yang bermaksud:
Dijadikan indah pada pandangan manusia, merasa kecintaan apa-apa yang
dingininya (syahwat) iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang
bertimbun dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang
ternakan dan sawah ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi
Allah tempat sebaik-baik kembali.
Oleh itu nafsu amarah adalah sentiasa mendustakan nama tuhanNya
kerana hanya mengucapkan nama alam benda yang disembahnya. Sesungguhnya
alam raga yang dibina dari alam benda telah menghijab manusia sehingga
lalai mengingati nama tuhanNya. Oleh itu nafsu amarah yang terbit dari
unsur api pula sangat mudah diresapi oleh sifat syaitaniah yang dicipta
dari unsur api yang mendusti nama tuhanNya.
Nafsu amarah cuma boleh dibendung setelah mata hati sanubarinya
menyaksi لا اله الا الله محمد رسول الله (lailahailallah
Muhammaduraslullah) ia itu menyaksikan tiada tuhan yang di sembah
melainkan Allah dam menyaksikan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah.
Hanya setelah hati sanubari manusia dipancarkan oleh Nur kebenaran
Kalamullah yang di wahyukan kepada junjungan besar Nabi Muhammad saw
menerusi Malaikat Jibril as sajalah baru nafsu amarah boleh beraleh
kepada nafsu Lawwamah. Nafsu lawwamah adalah kesedaran jiwa manusia yang
lalai kepada alam benda setelah mengingati nama Allah tetapi maseh
lalai kepada tuhanNya kerana asyik mencela kejahatan makhluk (syaitan).
Di dalam Al-Quran, Allah berfirman yang bermaksud:
“ Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah (mencela dan pengkritik diri). ” (Al-Qiamah: 2)
Nasfu lawwamah beraleh kepada nafsu mulhammah setelah hati sanubari
manusia dipancari Nur Kalamullah yang bermula dengan memuji nama
tuhanNya, Alhamdulillah ia itu Alhamdulillahirabilalamin seperti yang
terkandung dalam surah Pembukaan al Quran ia itu al Fatihah. Dengan
memuji nama tuhanNya, maka turunlah di hati sanubari manusia sifat
Rahman dan Rahim seperti ayat al Fatihah yang berikutnya. Dengan sifat
Allah yang Rahman dan Rahim inilah melenyapkan sifat cela manusia dan
menyembah sifat Allah untuk menenangkan hati sanubari manusia dan
beraleh kepada nafsu Mutmainnah itu jiwa yang tenang.
Firman Allah,
“ Demi nafsu (manusia) dan yg mnjadikannya (Allah) lalu diilhamkan
Allah kepadanya mana yg buruk dan mana yg baik, sesungguhnya dpt
kemenanganlah org yg mnyucikan hatinya dan rugilah (celakalah) org yg
mngotorkannya. ” (As-Syam: 8-10)
Dengan nafsu mutmainnah manusia menyembah afaal Allah ia itu dengan
menurut segala perintah Allah. Dan manusia akan kembali kepada tuhannya
dalam keadaan redo meredoi. Maka layaklah manusia itu menjadi hamba
Allah yang meninggalkan segala dakwa dakwi dan masuk ke dalam syurgaNya.
Seperti yang dinyatakan oleh Al Quran (Al-Fajr : 27-30 ) yang bermaksud:
Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang tenang lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam
golongan hamba-hambaKu, masuklah ke dalam syurgaKu.
Hasil kegigihan melatih diri untuk memakrifatkn diri kepada Allah,
orang yang brnafsu mutmainnah akan meningkat kepada nafsu radhiah. Orang
ini memiliki keseluruhan sifat mahmudah dan kuat hubungan hatinya
dengan Allah. Orang ini memdapat pimpinan ilmu laduni dan mempunyai
pandangan mata hati yang tajam atau dikenali sebagai firasat.
Sepertimana sabda Rasulullah SAW:
“ Takutilah akan firasat org mukmin, bahawasanya org2 mukmin itu
melihat dgn nur Allah (petunjuk Allah SWT). “ (Riwayat At-Tirmizi)
Tabiat orang peringkat ini luar biasa, ia tidak takut pada bala Allah
dan tidak tahu gembira pada nikmat Allah, yang ia tahu hanya keredhaan
Allah dan hukuman-Nya.
Firman Allah yg brmaksud:
“ Ssungguhnya wali2 Allah itu tak pernah rasa takut dan bimbang. “ (Surah Yunus: 62)
Nafsu mereka sudah terkikis dari akar umbinya sekali dan mereka
disinari oleh nur syuhud kepada makrifat, bertalu talu masuk ke dalam
hati nurani yang tetap waja itu.
Alam di sekeliling mereka laksana cermin. Apabila melihat alam ia
‘nampak’ (teringat atau terasa) akan Allah. Hal itu berlaku setiap
ketika.Makam ini yang disebut sebagai makam musyahadah seperti mana
Rasulullah SAW bersabda di dalam hadis tentang sifat ‘al-ihsan’.
Sabda Rasulullah saw:
“ … maksud ehsan ialah apabila engkau menyembah Allah hendaklah
terasa seolah olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat
melihat-Nya ketahuilah bahawa Allah melihat kamu. “ (Riwayat Muslim)
Sifat sifat mahmudah yang timbul dari nafsu radhiah ialah zuhud,
ikhlas, wara’, mninggalkan perkara perkara yg bkn urusannya, memelihara
hukum-hakam Allah dan lain2 sifat kerohanian yang tinggi.
Makam nafsu ini hanya dapat dicapai oleh para wali Allah. Mereka
dapat merasa nikmat melakukan kebajikan dan berbudi luhur. Zikir
wiridnya hebat, bukan sekadar di lidah tetapi hatinya penuh khusyu’ dan
tawadhu’ mengingati Allah.
Firman Allah SWT:
“ Berzikirlah pada Tuhanmu dalam hatinya dalam keadaan merendah diri dan takut. “ (Al-A’raf:205)
Mereka yang telah sampai ke peringkat nafsu mardhiah kelihatan lebih
tenang dan tenteram. Hati dan jiwanya telah benar benar sebati dengan
Allah SWT.
Sabda Rasulullah SAW yg brmaksud:
“ Apabila kamu sekalian melihat seseorg mukmin itu pendiam dan
tenang, maka dekatilah ia. Ssungguhnya dia akan mengajar kamu ‘hikmat’. “
(Riwayat Ibnu Majah)
Segala gerak-geri org di peringkat nafsu ini diredhai Allah. Sabda Rasulullah SAW dlm hadis Qudsi:
“ Sentiasalah hamba-Ku berdampingan kepada-Ku dengan mengerjakan
ibadat sunat hingga aku kasihkan dia maka apbila Aku kasihkan dia
nescaya adalah Aku pendengarannya yg ia mendengar dgnnya, penglihatan yg
ia melihat dgnnya, pertuturan lidahnya yg ia bertutur dgnnya, penampar
tgnnya yg ia menampar dgnnya, brjalan kakinya yg ia brjalan dgnnya dan
brfikir hatinya yg ia brfikir dgnnya. “ (Riwayat Imam Bukhari)
Orang yang dapat mncapai martabat nafsu mardiah digelar wali Allah dlm martabat yang istimewa.
Orang yang berada di peringkat nafsu kamilah ini, berada di peringkat
nafsu tertinggi. Setiap perlakuannya benar2 mengikut garis keredhaan
Allah dan tidak pernah terdorong oleh hasutan nafsu dan syaitan kepada
kejahatan.
Cintanya tertumpu pada Allah, ingatannya pada Allah tidak pernah
putus. Allah SWT membayangkannya dalam hadis Qudsi yang brmaksud:
“ Ssungguhnya telah lama org yg baik2 itu rindu utk brtemu dgn Aku,
dan (sebaliknya) Aku lebih rindu utk brtemu dgn mereka. ” (Riwayat Abu
Darda’)
Hanya para rasul, para nabi dan wali Allah shj yang boleh sampai ke
taraf nafsu kamilah. Orang soleh, pejuang kebenaran boleh menuju ke
tingkat nafsu yg tinggi itu dgn proses mujahadah yg brsungguh sungguh.
Apabila kita telah mengenal di mana tahap nafsu kita, maka dapatlah
kita brusaha meningkatkannya ke peringkat yg lebih tinggi dan
mndorongnya kpd kebaikan. Bahkan tuntutan meningkatkn nafsu ke makam
yang tinggi adalah diperintahkan.
Kerana orang yang berada di peringkat nafsu terendah yang brtaraf
binatang, bererti ia sentiasa berada dalam suasana maksiat dan berdosa
serta menderhakai Allah. Maka wajiblah meninggalkan segala maksiat dan
kembali menjadi hamba Allah yang taat.
Alam jasad
Alam jasad adalah alam kehidupan yang menyatakan keadaan nyawa jiwa
raga manusia. Kehidupan jasmani dinyatakan oleh parasrupa, gerakgeri,
tingkahlaku dan budibahasa. Kehidupan jasmani adalah pendirian hidup
manusia zahir dan batin untuk menyembah nama, sifat, afaal Allah swt.
Parasrupa kehidupan jasmani manusia adalah untuk menyembah nama Allah.
Gerakgeri kehidupan jasmani manusia untuk menyembah sifat Allah.
Tingkahlaku kehidupan jasmani manusia untuk menyembah afaal Allah dengan
menurut segala perintahNya. Budibahasa manusia adalah untuk menyatakan
diriNya.
Alam rohani
Alam rohani adalah alam roh yang menyatakan kudrat, iraat, ilmu dan hayat tuhan.
….sambung kemudian.
Hantu Raya dalam budaya Melayu, merujuk kepada sejenis makhluk halus dan
perkara tahyul. Ia dikatakan terdiri daripada golongan jin atau
syaitan, yang dipelihara bagi tujuan membantu tuannya melakukan kerja
dan juga bagi memudaratkan musuh. Pemeliharaan makhluk halus ini
dikenali sebagai saka.
Hantu Raya akan dikawal oleh pemiliknya yang boleh menyuruhnya
melakukan apa-apa juga jenis kerja berat. Hantu Raya juga boleh disuruh
oleh tuannya bagi merasuk seseorang. Hantu raya mempunyai keupayaan
menjelma sebagai manusia biasa atau haiwan lain, dan biasanya Hantu Raya
akan menjelma sebagai tuannya.
Hantu Raya yang dipelihara itu akan perlu diberi makan sebagaimana
yang dipersetujui. Biasanya makanan yang disediakan dikenali sebagai
acak / sajian termasuk telur, ayam panggang, pulut kuning dan
sebagainya. Sekiranya tidak dijaga dengan baik dan diberi makan, Hantu
Raya yang kelaparan itu akan menyerang tuannya.
Hantu Raya biasanya perlu diwarisi, dan sekiranya tidak diturunkan
kepada waris, tuannya akan menjadi bangkai bernyawa. Tubuhnya mati dan
berbau busuk, tetapi apabila hendak dikebumikan, ia akan bangkit seperti
hidup. Selain itu, ia akan makan dengan lahapnya apabila diberi makan.
Matlamat
Hantu Raya biasanya dipelihara bagi tujuan membantu tuannya melakukan
kerja-kerja berat. Hantu Raya juga boleh disuruh membinasa musuh atau
orang yang dibenci pemiliknya. Dinamakan Hantu Raya bersempena saiznya
yang besar seperti penggunaan dalam bahasa Melayu Balairaya, jalanraya
dan sebagainya
Kelebihan
* Hantu Raya biasanya mampu melakukan kerja-kerja berat seperti empat atau lima orang dengan mudah.
* Ia boleh menjelma sebagai manusia.
* Ia boleh membinasa musuh atau orang yang dibenci pemiliknya.
Kelemahan
* Pengamal ilmu sihir hitam atau ilmu sesat ini adalah satu perbuatan syrik dalam ugama Islam.
* Hantu Raya akan mengamuk sekiranya tidak dijaga dengan baik.
* Tuannya sukar untuk mati sekiranya tidak ada orang hendak menerimanya.
* Hantu raya suka menyamar sebagai pemiliknya dan akan tidur bersama isteri tuannya jika tidak dikawal.
Penelitian secara ilmiah
Bagaimana tuan punya menurunkan kepada warisnya adalah melalui keris
yang diperturunkan dari generasi ke generasi. Biasanya setitik darah
tuannya dikehendaki untuk memastikan tuan yang baru dan akan menurut
perintah tuannya.
Ramai orang tua yang mengamalkan bahawa dengan mempunyai pendamping
ini mereka merasa selamat dari ancaman musuh tetapi hantu raya atau jin
ini ada kelemahannya.
Kelemahan hantu raya
Dari segi agama Islam, gunakan lada kering, garam dan arang sahaja.
Setiap batang lada patahkan tiga bahagian dengan bacaan Al-Fatihah
setiap satu dan sebanyak 40 batang lada kering diperlukan (jadi 120
batang kecil). Bacakan ayat Kursi sebanyak 33 kali dan hembuskan keatas
air. Renjis air ini ke atas garam dan arang tadi.
Kemudian gunakan arang ini untuk menghidupkan api di atas dupa.
Letakkan sedikit lada dan garam sedikit demi sedikit sehingga habis.
Masa yang sesuai dari pukul 6.00 petang sehingga habis lada di bakar.
Hantu raya akan lari atau mengakibatkan dia cedera disebabkan oleh gas
lada ini. Biasanya ia akan membunuh tuannya kerana tuannya tidak dapat
mengubatinya.
Ayat Kursi adalah pantang jin dan lada serta garam
adalah musuhnya. Gunakan sebaiknya kaedah ini sekiranya anda memasuki
rumah yang lama tidak diduduki atau diganggu hantu raya atau anda
mengalami sakit yang tiada puncanya. Asapkan badan atau bahagian yang
sakit dengan asap lada ini. Insya ALLAH, doa anda dimakbulkan oleh ALLAH
S.W.T.
Saya telah merujuk Kamus Al-Muhit karangan Al-Fairuz Abadi tentang asal perkataan “istidraj”ini. Pengarang kamus ini berkata:
” Istadrajahu- membawa makna ia menipu dan ia merendah-rendahkannya”.
Jika dikata:” Istidrajullah al-abda”(Allah menIstidrajkan hambanya)
membawa erti/makna setiap kali hambaNya (insan) membuat/ menambah/
membaharui kesalahan yang baru maka setiap kali itu juga Allah akan
membuat/ menambah/ membaharui nikmatNya ke atas hambaNya itu dan setiap
itu juga Allah membuatkan hambaNya itu lupa untuk memohon ampun atas
dosa yang dilakukan terhadapnya dan setiap itu juga Allah akan
mengambilnya sedikit demi sedikit(ansur-ansur) dan Allah tidak
mengambilnya dengan cara yang mengejut!
Allah berfirman di dalam ayat 182 Surah Al-A’raf yang bermaksud(sila
rujuk untuk kepastian) :”Orang2 yang mendustakan ayat-ayat Kami(Allah),
nanti akan Kami { binasakan mereka itu dengan beransur-ansur } sedang
mereka tidak tahu.”
Cuba anda lihat maksud ayat Alquran yg berada di dalam isyarat { }.
Itu adalah maksud “istidraj” yang sedang kita bincang sekarang. Iaitu ia
membawa makna “Istidraj” suatu perkara yang di luar adat kebiasaan yang
belaku terhadap seseorang insan bertujuan untuk membinasakan ‘insan’
tersebut dengan cara berangsur-ansur atau tidak disedari atau sedikit
demi sedikit dan bukan mengejut. Jika kita beriman benar-benar pada
Allah, Insya Allah takkan terjadi “istidraj” pada kita. Percayalah.. 
Imam AlQurtubi telah berkata di dalam buku tafsinya yang bernama Tafsir Jamie’ Al-Ahkam. Antaranya:-
Seorang ulamak tafsir yang bernama ‘Add-Dhohhak’ telah mengulas
mengenai ayat 182 Surah Al-a’raf ini. Katanya: “Allah berfirman :Setiap
kali mereka menambah/membuat/membaharui maksiat yg baru maka setiap itu
Aku(Allah) membaharui/menambah/membuat nikmat ke atas mereka”.
*** Dr.Abd.Qadir As-Sa’di(bekas pensyarah di Universiti Al al-Bayt,
Jordan) telah berkata mengenai asal usul pemberian
nama”Add-Dhohhak-ulamak tafsir” tadi : “diberi beliau nama tersebut
kerana… beliau berada dalam kandungan ibunya selama 2 atau 4 tahun.
Pabila dilahirkan beliau lahir dalam keadaan yang sudah pun
bergigi(tumbuh gigi) dan pabila dilahirkan beliau terus ketawa”.
Subhanallah… begitulah keajaiban penciptaan Allah.
Ketika mana Tentera Islam mendapat harta Kisra(Maharaja Parsi) maka
Saidina Umar Al-Khattab telah berkata: [“Wahai Tuhan! Aku ingin meminta
perlindungan dari engkau dari menjadi orang yang mendapat “Istidraj”
kerana aku mendengar Engkau berfirman(maksud ayat 182 Surah Al-A’raf)
:Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami(Allah), nanti akan Kami
binasakan mereka itu dengan beransur-ansur sedang mereka tidak tahu” ]
Istidraj: “diberi kepada mereka nikmat dan dihilangkan kepada mereka erti kesyukuran”.
Professor Dr.Qahtan Ad-Duri(salah seorang pensyarah di Universiti Al
al-Bayt, Jordan) telah berkata di dalam bukunya Usuluddin Al-Islami:
Al-Istidraj :-
Iaitu perkara luar biasa yang berlaku ke atas orang Fasik atau Kafir
sebagai tipu daya buat mereka. Ia akan menambahkan lagi kejahilan dan
kebodohan mereka sehinggalah balasan Allah s.w.t menimpa mereka di dalam
keadaan mereka lupa.
Allah s.w.t telah berfirman di dalam ayat 44 – 45 surah Al-An’am yang bermaksud: (sila rujuk untuk kepastian)
“Tatkala mereka lupa akan apa yg diperingatkan kepada mereka, Kami
bukakan bagi mereka beberapa pintu tiap-tiap sesuatu (nikmat dan
kesenangan), sehinggalah apabila mereka telah bersuka ria dengan
(kesenangan)yang mereka perdapat itu, lalu dengan se-konyong-konyong
Kami siksa mereka, sehingga mereka berputus asa.” -44- “Maka
dihapuskanlah akhirnya kaum yang aniaya; dan pujian-pujian bagi Allah
Tuhan Semesta Alam” -45-
Rasulallah s.a.w telah bersabda yang bermaksud:
“Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hambaNya di dunia
ini apa yang hamba itu suka atau berhajat, sedangkan hambaNya itu tetap
dalam kemaksiatannya maka itulah ISTIDRAJ”. Selepas itu Rasulallah s.a.w
pun membaca ayat tadi 44- 45 (surah Al-An’am) yang bermaksud… (sila
rujuk makna ayat 44 dan 45 pada perenggan yg tersebut tadi).
Tamat Cerita “Istidraj”. Semoga anda faham dan berwaspada atau berhati-hati dalam setiap langkah anda !!!
Orang Melayu kebanyakannya begitu mengambil berat dalam perkara-perkara
yang berhubung dengan adat istiadat, sehingga ada pepatah Melayu yang
menyatakan ” Biar Mati Anak Jangan Mati Adat “. Pepatah ini menunjukkan
betapa kuat dan kukuhnya pegangan orang-orang Melayu tentang adat
istiadat mereka.
Persoalannya golongan manakah yang mengada dan memperkenalkan adat
istiadat dan perkara khurafat tersebut dan sejak bilakah mulanya adat
istiadat dan perkara khurafat itu telah bertapak dalam masyarakat Melayu
?
Persoalan yang lebih besar dan penting ialah adakah adat-istiadat
yang diamalkan oleh orang-orang Melayu itu bertepatan dan selari dengan
Hukum Syarak atau bertentangan sama sekali dengan Hukum Syarak?
Amalan Khurafat ialah perbuatan atau perkara-perkara yang menyalahi
hukum syarak yang masih terdapat dalam aktiviti masyarakat Melayu moden
sehingga ke hari ini. Kepercayaan yang telah kuat bertapak dan berakar
umbi dalam masyarakat Melayu itu seolah-olah telah menjadi satu pegangan
atau tradisi yang mesti dilakukan dalm majlis-majlis atau perayaan
tertentu.
Sebenarnya banyak perkara Khurafat yang dilakukan oleh masyarakat
Melayu antara contohnya ialah apabila ada majlis perkahwinan dengan
upacara persandingan yang seolah-olah satu kewajipan, sedangkan
persandingan itu merupakan adat Hindu yang mengagung-agungkan Dewa Rama
dan Dewi Sita.
Begitu juga apabila ada sesuatu kematian, dan selepas kematian mesti
diadakan kenduri masuk kubur, 3 hari (makan serabai ), kenduri pecah
perut pada hari ke 7, kenduri 40 hari iaitu ruh berpisah dengan waris
dan kenduri 100 hari iaitu turun batu nisan dan bagi ruh itu memasuki
dalam jemaahnya sebagai ahli kubur.
Kebiasaannya orang yang menghidup dan memainkan peranan utama dalam
hal ehwal adat istiadat Masyarakat Melayu dan perkara-perkara Khurafat
yang menyeleweng dan bertentangan dengan Syariat Islam ini adalah
terdiri daripada Bomoh, Pawang, Bidan, Dukun, Guru latihan pertahanan
diri, Mak Andam dan seumpamanya.
Peranan mereka dalam menghidupkan adat istiadat dan perkara Khurafat
ini bergantung kepada bidang masing-masing. Antara Contoh-contoh adat
istiadat dan perkara Khurafat yang sering dilakukan oleh orang-orang
Melayu sampai sekarang antaranya ialah seperti :-
a. Mendirikan Rumah Baru.
Antara Syarat dan adat Istiadat yang mesti di buat untuk mendirikan
rumah baru ialah seperti mengantungkan buah kelapa muda di tiang seri
rumah, menanam tahi besi / emas / perak / tembaga pada setiap tiang seri
rumah dan menepung tawar sebagai upacara memulih rumah tersebut.
Acara-acara tersebut akan dilakukan oleh Bomoh, kononnya untuk
mengelakkan daripada di ganggu oleh jin dan syaitan dan untuk
mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada semua penghuni rumah
tersebut. Sebenarnya upacara tersebut tidak lebih daripada upacara
menjamu jin dan tidak ada kena mengena dengan keselamatan dan
kesejahteraan penghuni rumah itu.
b. Upacara Menurunkan Perahu / Kapal yang baru ke laut.
Upacara ini di lakukan oleh Bomoh dengan harapan perahu / kapal
tersebut selamat daripada gangguan hantu laut dan sebagainya semasa
belayar di lautan luas. Upacara dilakukan dengan perahu itu di pulihkan
dengan jampi serapah dan mentera dengan menggunakan tepung tawar dan
sebagainya.
c. Kenduri Tolak Bala.
Kenduri ini dilakukan setahun sekali di tengah padang di sesebuah
kampung, dengan setiap penduduk membawa sepinggan makanan. Imam di
jemput untuk membaca doa dan Bomoh pula di jemput untuk membaca jampi
serapah supaya kampung tersebut selamat dari bala bencana pada tahun
tersebut.
Kenduri tolak bala sebenarnya boleh di buat pada bila-bila masa sahaja dan di mana-mana jua dengan syarat :-
i. Tidak bercampur antara lelaki dan perempuan yang ajnabi dalam majlis tersebut
ii. Melaksanakan kaedah-kaedah yang tidak menjadi tegahan syarak dalam majlis itu.
d. Upacara Persandingan.
Persandingan sebenarnya adalah salah satu bentuk pemujaan dalam agama
Hindu di mana mempelai yang bersanding itu sebenarnya meniru adat Hindu
yang memuja Dewa Rama dan Dewi Sita.
Persandingan secara ini memperlihatkan di sebelah perempuan Mak Andam
sebagai pengiring utamanya dan di sebelah pihak lelaki pula Bomoh
sebagai pengiringnya. Kedua-dua mempelai ini di arak dan di sanjung
serta di
puja sepertimana orang-orang Hindu memuja Dewa Rama dan Dewi Sita,
dengan sebab itulah pengantin baru di gelar sebagai Raja Sehari.
e. Mengandung / Kelahiran bayi
Sebelum ibu melahirkan anak, Bidan di jemput untuk mengadakan upacara
lenggang perut. Semasa kelahiran bayi persiapan di buat dengan
menyediakan kain kuning tujuh lapis, tilam dan bantal bewarna kuning
serta pulut kuning dan putih. Duri di letakkan di bawah rumah supaya
jangan di ganggu oleh hantu penanggal. Sementara pantang larang selepas
bersalin pula adalah selama 45 hari.
f. Adat meninggal dunia dan selepas kematian.
Semasa seseorang meninggal dunia Bomoh akan meletakkan gunting di
atas mayat semasa baru meninggal dunia. Semasa hendak menghantar mayat
ke kubur diadakan pula kenduri masuk kubur, selepas 7 hari kematian,
diadakan kenduri pecah perut, selepas 14 hari di adakan kenduri makan
serabai ( sejenis kuih). Kenduri 40 hari sebagai tanda ruh berpisah dari
waris. Kenduri 100 hari sebagai kenduri turun batu nisan dan ruh si
mati telah masuk ke dalam kumpulannya di alam kubur.
Sebenarnya memperbanyakkan sedekah bacaan ayat-ayat Al-Quran dengan
apa cara sekalipun, asalkan tidak menyalahi syarak dan tidak terdapat di
dalamnya sesuatu yang menyalahi syarak dengan diniatkan pahala sedekah
itu untuk disampaikan kepada ibu bapa yang telah mati daripada
waris-warisnya yang masih hidup terutamanya anak-anak adalah digalakkan
dalam Islam.
g. Upacara membuka gelanggang latihan pertahanan diri.
Upacara ini biasanya di lakukan oleh guru latihan pertahanan diri
yang juga merupakan seorang Bomoh yang dilakukan supaya pelatih-pelatih
latihan pertahanan diri di gelanggang tersebut tidak mendapat sebarang
kecederaan semasa berlatih. Antara alat dan upacara yang di lakukan
ialah seperti menyembelih seekor kambing atau ayam hitam dimana darah
ayam dan kambing tersebut di semah di sekeliling gelanggang.
Sesetengahnya menyapu darah tersebut di tapak kaki pelatih latian
pertahanan diri. Selepas itu Bomoh tersebut akan menyeru nama-nama
panglima tertentu seperti Panglima Hitam dan sebagainya. Akhir sekali
Bomoh tersebut akan mengasapkan kemian di sekeliling gelanggang dengan
tujuan untuk menghalau hantu-hantu jahat daripada menghampiri gelanggang
latihan pertahanan dirinya.
h. Membuang Air Kecil/Besar
Salah satu adat lagi yang sering di peringatkan oleh orang-orang tua
kepada anak-anak muda mereka jika hendak membuang air semasa di dalam
hutan atau di tempat-tempat yang sunyi atau di padang-padang atau ketika
hendak melalui sesuatu kawasan atau pokok besar hendaklah meminta izin
terlebih dahulu daripada Jin atau penunggu yang kononnya menunggu tempat
tersebut dengan menyebut “Minta tabik
tok nenek, anak cucu tak tahu bahasa, nak tumpang kencing” atau “Minta
ampun tok nenek anak cucu nak tumpang lalu”. Kononnya jika tidak meminta
izin kemungkinan orang tersebut akan di sampuk oleh penunggu tempat
tersebut.
Kesemua adat-adat di atas sebenarnya adalah campuran daripada
pengaruh agama Hindu, agama Buddha dan adat istiadat orang-orang Asli
yang memuja roh. Adat-adat tersebut masih kuat diamalkan dalam budaya
orang Melayu, yang menyangkakan sebahagian daripada adat Melayu yang
tidak bertentangan dengan agama Islam, tetapi sebenarnya adat istiadat
dan budaya tersebut terang-terang bertentangan dengan Islam. Contoh
Peralatan dalam pemujaan jin Yang biasa dilakukan oleh Bomoh, Pawang dan
seumpamanya.
Peralatan yang sering digunakan oleh Bomoh dalam pemujaan jin yang
kononnya dikatakan sebagai salah satu upacara dalam adat istiadat Melayu
yang tidak boleh ditinggalkan antaranya adalah
seperti berikut :-
a. Puja Kubur.
Puja kubur adalah sebahagian daripada amalan sesetengah orang Melayu
yang masih tebal dengan adat istiadat dan tradisi Melayu kuno dengan
agama Hindu puja Dewa. Mereka percaya bahawa penghuni kubur itu boleh
menghasilkan hajat mereka apabila di minta terutamanya apabila mereka
berada di dalam kesusahan.
Kebiasaanya beberapa jenis makanan atau ” jamu ” seperti ayam
panggang, bertih, pulut kuning, pisang emas dan lain-lain lagi di bawa
dan diletakkan di atas kubur itu sebagai jamuan untuk penghuni kubur
tersebut, sebelum meminta sesuatu hajat, yang hakikatnya adalah untuk ”
jamu ” Jin . Yang jelas di sini sebenarnya mereka telah tertipu dengan
permainan Jin yang mahu menyesatkan mereka.
b. Keris, Kemian dan Limau.
Keris sering dikaitkan dengan latihan
pertahanan diri, kekuatan, kemegahan dan kemashuran. Kebiasaannya banyak
daripada keluarga orang Melayu yang mempunyai atau menyimpan keris
sebagai sebahagian daripada barang pusaka yang perlu di pelihara dan di
jaga dengan baik. Keris tersebut perlu dimandikan dengan limau dan di
asapkan dengan kemian serta di balut dengan kain kuning atau hitam dan
di simpan di tempat yang selamat. Pemujaan keris ini selalunya di buat
pada malam jumaat dengan bacaan mentera dan jampi-jampi tertentu.
Pemujaan itu dilakukan dengan tujuan untuk memelihara kekuatan keris
tersebut, supaya penjaga (saka) keris itu tidak menggangu keluarga
mereka dan sebagainya. Sebenarnya keris tersebut tidak mempunyai apa-
apa kuasa kerana ianya adalah merupakan besi semata-mata tetapi yang
berperanan terhadap keris tersebut, sebenarnya adalah terdiri daripada
Jin yang menjadi khadam kepada keris tersebut.
c. Ancak.
Ancak di buat daripada buluh yang hampir sama dengan sangkak. Ada
juga terdapat ancak yang di buat daripada daun pisang yang di isi dengan
pulut kuning, bertih, ketupat dan sebagainya.
Ancak juga di gunakan sebagai “jamu” untuk Jin keturunan atau Jin
penjaga kampung supaya tidak menggangu anak cucu atau penduduk kampung
tersebut pada tahun itu. Kepercayaan menjamu dengan menggunakan ancak
ini masih ada sehingga ke hari ini terutamanya bagi mereka yang masih
ada lagi atau berpegang dengan saka atau Tok- Nenek atau
Jembalang-jembalang keturunan.
d. Sanggu
Sanggu atau sampan biasanya diperbuat daripada upih pinang atau
seludang kelapa. Upih atau seludang yang digunakan mestilah yang jatuh
dari pokok dalam keadaan tercacak pada pangkal pokok. Di ambil upih atau
seludang itu mestilah pada waktu senja.
Waktu membuat sanggu pula mestilah pada waktu tengah malam, mengadap
ke arah matahari naik dan hendaklah di asap dengan kemian dan di baca
mentera atau jampi-jampi tertentu. Tujuan pemujaan Jin yang menggunakan
sanggu ini kebiasaannya adalah untuk memuja Jin keturunan atau saka.
Perkakas dan alat “jamu” yang di isi di dalam sanggu ini ialah,
antaranya pulut kuning, ayam panggang, bertih, beras kunyit dan sireh
pinang. Di tengah-tengah sanggu itu dipacakkan layar, lilin di letakkan
di hujung dan di belakang sanggu. Kemudian sanggu tersebut di layarkan
sebagai jamuan bagi Jin-Jin keturunannya.
e. Sangkak
Sangkak pula di perbuat daripada buluh dengan mengikut syarat-syarat
tertentu. Di atasnya diletakkan seekor ayam panggang yang telah di
proses dengan syarat-syarat tertentu ataupun pulut kuning dan bertih
sebagai “jamu” bagi Jin yang dihajatinya, samada Jin keturunannya atau
Jin penjaga kampung supaya jangan menggangu keluarga atau kampung
tersebut pada tahun itu.
Kemian diletakkan bersebelahan dengan sangkak tersebut sebagai bauan
wangi yang sangat di sukai oleh Jin yang juga menjadi syarat utama untuk
memanggil Jin tersebut.
Terdapat dua cara menguna dan meletakkan sangkak ini. Jika sangkak
tersebut di buat untuk keselamatan keluarga maka ianya dibuat dan
diletakkan di dalam rumah dengan di ikuti oleh majlis tahlil dan
sebagainya. Jika sangkak tersebut di buat untuk menjaga kampung pula
maka ianya di letakkan di tepi hutan atau di pinggir kampung dengan
bacaan mentera dan jampi serapah tertentu dan kadang-kadang di sembelih
pula seekor kambing atau kerbau.
f. Pemujaan Tanduk Kerbau.
Tanduk kerbau sering dijadikan bahan pemujaan oleh sesetengah
kumpulan orang yang mempercayai akan kuasa yang ada padanya. Adakalanya
digunakan dalam majlis-majlis tertentu seperti pertabalan pangkat atau
meraikan sesuatu majlis.
Kepercayaan ini sebenarnya ada hubungan dengan kepercayaan puja Dewa
bagi satu puak di Tanah Jawa, yang mempercayai adanya kuasa pada tanduk
kerbau itu apabila di puja dan di sembah. (sebenarnya adalah kuasa Jin )
Pemujaan tanduk kerbau sering di aitkan dengan sesuatu keturunan.
Namun apa yang jelas tanduk kerbau ini di gunakan sebagai alat pemujaan
untuk menyeru Jin dan sebagai makanan atau ” jamu” kepada Jin tersebut.
Tujuannya supaya Jin itu tidak menggangu kampung tersebut atau anak cucu
orang yang berkenaan.
Biasanya tanduk tersebut diletakkan di atas suatu tempat tertentu, di
atasnya di nyalakan lilin. Kain warna kuning atau merah di mahkotakan
di bahagian kepala, sementara di sekelilingnya dihidangkan dengan kuih
muih, pulut kuning, bubur merah dan lain-lain lagi. Pawang atau Bomoh
akan memulakan upacara dengan membaca mentera atau jampi serapah
tertentu untuk memanggil Jin berkenaan. Kadang kala apabila Jin itu
datang, ia akan memasuki tubuh Pawang atau bomoh tersebut, dan bomoh itu
akan bercakap sesuatu atau memberi nasihat atau amaran kepada mereka.
Ringkasnya pemujaan-pemujaan seperti yang dilakukan di atas adalah
terang-terang bertentangan dengan agama Islam yang mulia dan semata-mata
perkara Khurafat yang mesti kita jauhi demi keselamatan dan kebahagian
hidup kita di dunia dan akhirat.
Keselamatan, kesihatan dan rezeki manusia sebenarnya telah di
tentukan oleh Allah s.w.t dan bukannya bersebab dari upacara pemujaan
tersebut. Hanya orang-orang yang sesat sahaja yang masih percaya kepada
kuasa-kuasa pemujaan dan perkara-perkara Khurafat tersebut lah yang
memberi sebab kepada
keselamatan, kesihatan dan keselamatan mereka.
KERIS LAGENDA ALAM MELAYU
Keris tidak dapat dipisahkan daripada orang Melayu. Keris merupakan
lambang dalam alam latihan pertahanan diri bagi hulubalang-hulubalang
dalam masyarakat Melayu sejak dari dahulu hingga kini.
Kehebatan dan kemegahan seni latihan pertahanan diri juga tidak akan
teserlah tanpa penggunaan keris. Demikian juga sebahagian daripada
permainan seni latihan pertahanan diri tidak akan sempurna jika tidak
ada permainan keris.
Keris juga merupakan senjata utama kepada ahli-ahli latihan
pertahanan diri Melayu. Tanpa keris seperti ada kecacatan pada seni
latihan pertahanan diri tersebut. Sungguhpun keris tidak di bawa
berjalan merata-rata pada zaman sekarang, namun ia masih lagi berfungsi
sebagai mercu kemegahan seni latihan pertahanan diri tersebut,
terutamanya pada saat upacara tamat latihan.
Keris juga memainkan peranan penting kepada sesetengah Bomoh, Pawang
dan Dukun. Di dalam arena perubatan tradisional Melayu, keris digunakan
sebagai alat perantaraan antara Jin dengan Bomoh bagi mengadakan upacara
tertentu. Kadang-kala keris itu di asap dengan kemian terlebih dahulu
untuk menyeru Jin yang dihajati. Setelah beberapa ketika datanglah Jin
yang di seru itu melalui Bomoh tersebut. Ada sesetengah Bomoh yang
menggeletar tubuh badan mereka apabila dimasuki Jin, namun ada juga yang
sampai berguling-guling dan tidak ketinggalan juga yang berkeadaan
biasa apabila dimasuki oleh Jin tersebut. Setelah selesai upacara itu
dan Jin tersebut telah keluar dari tubuh bomoh, maka keris tersebut akan
di kucup, di asap dan disarungkan kembali ke dalam sarungnya.
Biasanya orang-orang yang terlibat dalam bidang latihan pertahanan
diri dan perbomohan gemar menggunakan keris, kerana mereka mempunyai
kepercayaan yang kuat kepada kuasa keris tersebut. Sesetengahnya
mendakwa memperolehinya dalam mimpi, apabila bangun dari tidur,
didapatinya keris tersebut telah berada di sisinya.
Sesetengahnya pula mendapat keris tersebut setelah sekian lama
bertapa di tempat-tempat tertentu. Tidak kurang juga yang memperolehinya
dari warisan turun temurun dari datuk nenek mereka, yang kononnya
mereka adalah warisnya dengan disyaratkan kepada mereka yang menjaga
keris itu, mestilah melakukan apa jua syarat yang diperlukan sebagai
penjaga warisan keris tersebut.
Dengan memiliki keris tersebut, jadilah ia seorang Bomoh ataupun
pendekar dengan bantuan Jin penjaga keris terebut. Keris itu dihormati
sebagai tetamu dan di jaga dengan rapi. Sesetengahnya mengambil
kesempatan pada malam Jumaat untuk mengasapkan keris tersebut dengan
kemian dan dimandikan dengan sintuk dan limau nipis bagi menjaga kuasa
yang ada pada keris tersebut supaya tidak hilang. Selepas itu keris
tersebut di bungkus dengan kain kuning atau hitam, di kucup dan di
simpan di tempat yang khas dan selamat.
Ada di antara keris-keris itu yang berbunyi pada waktu malam atau
siang mengikut keadaan dan keperluan. Contohnya bila ada tetamu hendak
datang atau bila ada sesuatu bencana yang akan berlaku seperti banjir,
musuh akan datang menyerang dan sebagainya. Keadaan berbunyinya
berbeza-beza. Ada yang keluar masuk sarung tanpa henti sehingga
diberhentikan, ada juga yang berlegar-legar atau bergegar di tempatnya
dan macam-macam cara lagi.
Mengikut perkiraan lojik, adakah keris itu mempunyai nyawa untuk
berbunyi atau bergerak-gerak ataupun keluar masuk ke dalam sarungnya
sendiri? Tetapi apa yang sebenar berlaku ialah bergeraknya keris itu
adalah disebabkan oleh Jin penjaga keris itu yang mahu memberitahu
sesuatu kepada tuannya.
Orang yang sebeginilah yang selalunya di anggap Tok Keramat oleh
sesetengah orang. Sebenarnya bagi orang yang memiliki keris tersebut,
Jin penjaga keris itu bukan lagi sebagi khadam kepada keris itu, tetapi
sebaliknya sebagai tuan kepada manusia, kerana manusia (tuan keris) itu
terpaksa akur dan patuh kepada segala kehendak Jin tersebut.
Kerana itulah keris tersebut perlu di asap dan dilimaukan sebagai
syarat perhubungan mereka. Jika tidak Jin itu akan menggangu tuannya
atau jika tuan keris itu sudah meninggal dunia maka Jin itu akan
menggangu anak-cucunya pula dengan berbagai-bagai kesusahan dan
penyakit. Penyakit itulah yang dinamakan “saka” atau keturunan. Maka
bagi anak cucu yang mahu membela, maka diamlah Jin tersebut dari
menggangu, sementara yang tidak mahu menerima, saka Jin itu akan terus
menerus menggangunya.
-Hj. Ahmad b. Hj. Che Din-