06 March 2018

Ayat ayat Poligami



by Qurratul ‘Ain

Buat isteri2 atau bakal2 isteri, di sini aku ingin sekali berkongsi dengan kalian mengenai konsep poligami yang seharusnya diterima dengan hati terbuka (seperti janjiku dalam entri bertajuk ‘Kalau Ustazah Mau La’). Perkongsian ilmu kali ini adalah hasil tulisan Dr. Yusuf Al-Qardhawi bertajuk Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah, Cetakan Pertama Januari 1997, Citra Islami Press . Pintaku, bacalah dengan akal yang waras lagi rasional bersuluh iman, bukan emosi yang membutakan mata hati sehingga tak nampak apa yang indah di dalam isi.
POLIGAMI
Orang-orang Kristen dan Orientalis menjadikan tema poligami ini seakan merupakan syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, atau salah satu perkara yang wajib, atau minimal sunnah untuk dilaksanakan. Yang demikian ini tidak benar alias penyesatan, karena dalam praktek pada umumnya seorang Muslim itu menikah dengan satu isteri yang menjadi penentram dan penghibur hatinya, pendidik dalam rumah tangganya dan tempat untuk menumpahkan isi hatinya. Dengan demikian terciptalah suasana tenang, mawaddah dan rahmah, yang merupakan sendi-sendi kehidupan suami isteri menurut pandangan Al Qur’an.
Oleh karena itu ulama mengatakan, “Dimakruhkan bagi orang yang mempunyai satu isteri yang mampu memelihara dan mencukupi kebutuhannya, lalu dia menikah lagi. Karena hal itu membuka peluang bagi dirinya untuk melakukan sesuatu yang haram.
Allah berfirman:
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung..” (An-Nisa’: 129)
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang mempunnyai dua isteri, kemudian lebih mencintai kepada salah satu di antara keduanya maka ia datang pada hari kiamat sedangkan tubuhnya miring sebelah. ” (HR. Al Khamsah)
Adapun orang yang lemah (tidak mampu) untuk mencari nafkah kepada isterinya yang kedua atau khawatir dirinya tidak bisa berlaku adil di antara kedua isterinya, maka haram baginya untuk menikah lagi, Allah SWT berfirman,
“Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (An-Nisa’: 3)
Apabila yang utama di dalam masalah pernikahan adalah cukup dengan satu isteri karena menjaga ketergelinciran, dan karena takut dari kepayahan di dunia dan siksaan di akhirat, maka sesungguhnya di sana ada pertimbangan-pertimbangan yang manusiawi, baik secara individu ataupun dalam skala masyarakat sebagaimana yang kami jelaskan. Islam memperbolehkan bagi seorang Muslim untuk menikah lebih dari satu (berpoligami), karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah yang bersih, dan memberikan penyelesaian yang realistis dan baik tanpa harus lari dari permasalahan.
Poligami pada Ummat Masa Lalu dan Pada Zaman Islam
Sebagian orang berbicara tentang poligami, seakan-akan Islam merupakan yang pertama kali mensyari’atkan itu. Ini adalah suatu kebodohan dari mereka atau pura-pura tidak tahu tentang sejarah. Sesungguhnya banyak dari ummat dan agama-agama sebelum Islam yang memperbolehkan menikah dengan lebih dari satu wanita, bahkan mencapai berpulah-puluh orang atau lebih, tak ada persyaratan dan tanpa ikatan apa pun.
Di dalam Injil Perjanjian Lama diceritakan bahwa Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman mempunyai beratus ratus orang isteri.
Ketika Islam datang, maka dia meletakkan beberapa persyaratan untuk bolehnya berpoligami, antara lain dari segi jumlah adalah maksimal empat. Sehingga ketika Ghailan bin Salamah masuk Islam sedang ia memiliki sepuluh isteri, maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Pilihlah dari sepuluh itu empat dan ceraikanlah sisanya.” Demikian juga berlaku pada orang yang masuk Islam yang isterinya delapan atau lima, maka Nabi SAW juga memerintahkan kepadanya untuk menahan empat saja.
Adapun pernikahan Rasulullah SAW dengan sembilan wanita ini merupakan kekhususan yang Allah berikan kepadanya, karena kebutuhan dakwah ketika hidupnya dan kebutuhan ummat terhadap mereka setelah beiau wafat, dan sebagian besar dari usia hidupnya bersama satu isteri.
Adil Merupakan Syarat Poligami
Adapun syarat yang diletakkan oleh Islam untuk bolehnya berpoligami adalah kepercayaan seorang Muslim pada dirinya untuk bisa berlaku adil di antara para isterinya, dalam masalah makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, menginap dan nafkah. Maka barangsiapa yang tidak yakin terhadap dirinya atau kemampuannya untuk memenuhi hak-hak tersebut dengan adil, maka diharamkan baginya untuk menikah lebih dari satu. Allah berfirman:
“Jika kamu takut berlaku tidak adil maka cukuplah satu isteri” (An-Nisa’:3)
Kecenderungan yang diperingatkan di dalam hadits ini adalah penyimpangan terhadap hak-hak isteri, bukan adil dalam arti kecenderungan hati, karena hal itu termasuk keadilan yang tidak mungkin dimiliki manusia dan dimaafkan oleh Allah.
Allah SWT berfirman:
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isten(mu), walaupun
kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu
cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (An-Nisa’: 129)
Oleh karena itu, Rasulullah SAW menggilir isterinya dengan adil, beliau selalu berdoa, “Ya Allah inilah penggiliranku (pembagianku) sesuai dengan kemampuanku, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa-apa yang Engkau miliki dan yang tidak saya miliki.” Maksud dari doa ini adalah kemampuan untuk bersikap adil di dalam kecenderungan hati kepada salah seorang isteri Nabi.
Rasulullah SAW apabila hendak bepergian membuat undian untuk isterinya, mana yang bagiannya keluar itulah yang pergi bersama beliau. Beliau melakukan itu untuk menghindari keresahan hati isteri-isterinya dan untuk memperoleh kepuasan mereka.
Hikmah Diperbolehkannya Poligami
Sesungguhnya Islam adalah risalah terakhir yang datang dengan syari’at yang bersifat umum dan abadi. Yang berlaku spanjang masa, untuk seluruh manusia.
Sesungguhnya Islam tidak membuat aturan untuk orang yang tinggal di kota sementara melupakan orang yang tinggal di desa, tidak pula untuk masyarakat yang tinggal di iklim yang dingin, sementara melupakan masyarakat yang tinggal di iklim yang panas. Islam tidak pula membuat aturan untuk masa tertentu, sementara mengabaikan masa-masa dan generasi yang lainnya. Sesungguhnya ia memperhatikan kepentingan individu dan masyarakat.
Ada manusia yang kuat keinginannya untuk mempunyai keturunan, akan tetapi ia dikaruniai rezki isteri yang tidak beranak (mandul) karena sakit atau sebab lainnya. Apakah tidak lebih mulia bagi seorang isteri dan lebih utama bagi suami untuk menikah lagi dengan orang yang disenangi untuk memperoleh keinginan tersebut dengan tetap memelihara isteri yang pertama dan memenuhi hak-haknya.
Ada juga di antara kaum lelaki yang kuat keinginannya dan kuat syahwatnya, akan tetapi ia dikaruniai isteri yang dingin keinginannya terhadap laki-laki karena sakit atau masa haidnya terlalu lama dan sebab-sebab lainnya. Sementara lelaki itu tidak tahan dalam waktu lama tanpa wanita. Apakah tidak sebaiknya diperbolehkan untuk menikah dengan wanita yang halal daripada harus berkencan dengan sahabatnya atau daripada harus mencerai yang pertama.
Selain itu jumlah wanita terbukti lebih banyak daripada jumlah pria, terutama setelah terjadi peperangan yang memakan banyak korban dari kaum laki-laki dan para pemuda. Maka di sinilah letak kemaslahatan sosial dan kemaslahatan bagi kaum wanita itu sendiri. Yaitu untuk menjadi bersaudara dalam naungan sebuah rumah tangga, daripada usianya habis tanpa merasakan hidup berumah tangga, merasakan ketentraman, cinta kasih dan pemeliharaan, serta nikmatnya menjadi seorang ibu. Karena panggilan fithrah di tengah-tengah kehidupan berumah tangga selalu mengajak ke arah itu.
Sesungguhnya ini adalah salah satu dari tiga pilihan yang terpampang di hadapan para wanita yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah kaum laki-laki. Tiga pilihan itu adalah:
1. Menghabiskan usianya dalam kepahitan karena tidak pernah merasakan kehidupan berkeluarga dan menjadi ibu.
2. Menjadi bebas (melacur, untuk menjadi umpan dan permainan kaum laki-laki yang rusak). Muncullah pergaulan bebas yang mengakibatkan banyaknya anak-anak haram, anak-anak temuan yang kehilangan hak-hak secara materi dan moral, sehingga menjadi beban sosial bagi masyarakat.
3. Dinikahi secara baik-baik oleh lelaki yang mampu untuk memberikan nafkah dan mampu memelihara dirinya, sebagai istri kedua, ketiga atau keempat.
Tidak diragukan bahwa cara yang ketiga inilah yang adil dan paling baik serta merupakan obat yang mujarab. Inilah hukum Islam. Allah berfirman:
“Dan hukum siapakah yang lehih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (Al Maidah: 50)

Di antara hikmah beristri lebih (poligami)


Di antara hikmah poligami
Di antara hikmah beristri lebih dari satu (poligami):

1. Dengan banyaknya istri akan memperbanyak keturunan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا؛ فَإِنِّي مُبَاةٍ بِكُمُ الأُمَمَ))
“Menikahlah kalian dan buatlah keturunan karena aku berbangga dengan kalian di depan umat-umat yang lain.”
2. Terkadang wanita itu ada yang mandul tidak bisa beranak, maka manakah yang lebih utama? Apakah mencerainya atau tetap bersamanya menikah lagi, manakah yang lebih utama? Membiarkan suami tanpa keturunan atau dia menikah lagi? Jawabnya, yang lebih utama adalah tetap bersamanya dan membiarkannya menikah lagi.
3. Wanita pada saat nifas dan haidnya seringkali suami tidak bisa sabar menahan sehingga akan menyeretnya pada sesuatu yang haram, dan jalan keluar dari masalah ini adalah dengan suami menikah lagi.
4. Kadang pada wanita ada beberapa aib (kekurangan) maka yang lebih utama adalah suami menikah lagi dan tidak menceraikannya.
5. Bisa jadi wanita seringkali sakit, maka yang lebih utama adalah suami menikah lagi dan tidak menceraikannya, atau mungkin ia sabar atas istrinya akan tetapi dia tidak kasihan terhadap dirinya.
6. Banyaknya istri (poligami) akan mempererat hubungan beberapa keluarga. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
“Dan Allah (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah2 dan adalah Rabbmu Maha Kuasa.” (Al-Furqan: 54)
7. Seorang wanita itu harus ada orang yang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya berupa nafkah dan lainnya, maka dengan poligami seorang suami yang akan melaksanakan hal itu. Dan ilmunya berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hakikat dua kalimah syahadah



Ahli Makrifat itu tidak mempunyai makrifat jika ia tidak mengenal Allah dari segala sudut dan dari segala arah mana saja ia menghadap. Ahli Hakikat hanya ada satu arah iaitu ke arah Yang Hakiki itu sendiri.
“Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah” (Al-Qur-an)
“Ke mana saja kamu memandang”, sama ada dengan deria atau akal atau khayalan, maka di situ ada Wajah Allah”. Oleh itu dalam tiap-tiap ain [di mana] ada ain (Zat Ilahi) dan semuanya adalah “La ilaha illalLah” (Tiada Tuhan Melainkan Allah).
Dalam “La ilaha illalLah” semua wujud ada terkandung, iaitu Wujud Semesta Raya dan Wujud secara khusus; atau Wujud atau apa yang dianggap Wujud; atau wujud Hakiki dan Wujud makhluk.
Wujud makhluk tertakluk kepada kepada “La ilaha” yang bererti bahawa segala-galanya kecuali Allah adalah kosong(batil), iaitu dinafikan bukan diisbatkan. Wujud Hakiki termasuk dalam “illaLlah”. Oleh itu semua kejahatan tertakluk di bawah “La ilaha” dan semua yang dipuji tertakluk di bawah “illaLlah”.
Semua wujud terkandung dalam mengisbatkan Keesaan (La ilaha illaLlah) dan anda mesti memasukkkannya juga dalam menamakan hamba yang paling mulia (dalam mengatakan Muhammadun RasuluLlah).
“Muhammadun RasuluLlah” ini mengandungi tiga alam.
1.Muhammad itu menunjukkan Alam Nyata(Alam Nasut); iaitu alam yang boleh dipandang dengan deria(senses).
2.Rasul itu menunjukkan Alam Perintah(Alam Malakut); iaitu Alam batin berkenaan rahsia-rahsia tanggapan yang mujarad; dan ini terletak antara yang muhaddas dengan Yang Qadim.
3.Nama Ilahi(Allah) itu menunjukkan Alam Pertuanan(Alam Jabarut). Lautan darinya terpancar pengertian dan tanggapan.
“Rasul” itu sebenarnya pengantara yang muhaddas dengan Yang Qadim; kerana tanpa dia tidak akan ada wujud, kerana jika yang muhaddas bertemu dengan yang Qadim, maka binasalah yang muhaddas dan tinggallah Yang Qadim.
Apabila Rasul diletakkan pada tempatnya yang wajar pada kedua itu, maka barulah alam ini diperintahkan, kerana pada zhohirnya ia adalah hanyalah seketul tanah liat, tetapi batinnya ia adalah khalifah Allah.
Pendeknya, maksud mengisbatkan Tauhid itu tidaklah sempurna dan tidaklah meliputi tanpa diisbatkan Keesaan atau Tauhid Zat, Sifat dan Lakuan. Pengisbatan itu difahami dari “Muhammadun RasuluLlah”.
Apabila seorang ahli Makrifat berkata “La-ilaha illaLlah” maka ia ketahui pada hakikatnya bukan hanya pada majazi sahaja, iaitu tidak ada jalan lain melainkan Allah. Oleh itu wahai saudaraku, janganlah hanya mengucapkan dengan mulut saja syahadah yang mulia ini, kerana dengan itu mulut sajalah yang akan mendapat manfaatnya. Dan ini bukanlah matlamat yang hendak dituju. Yang pentingnya ialah Mengenal Allah sebagaimana Ia sebenarnya.
“Allah itu dahulu seperti Ia sekarang jua tanpa sekutu, dan Ia sekarang seperti Ia dahulu jua”.
Fahamilah ini, dan anda tidak akan dibebankan lagi dengan penafian, dan tidak ada yang tinggal bagi anda lagi melainkan pengisbatan agar apabila anda berkata anda akan berkata; “Allah, Allah, Allah”. Tetapi kini hati anda dibebankan dan pandangannya lemah. Semenjak anda dijadikan anda hanya berkata; La-ilaha…….. tetapi bilakah penafian itu akan berkesan?. Bahkan ia tidak berkesan kerana penafian itu hanya dengan lidah sahaja. Jika anda nafikan dengan Akal iaitu dengan Hati anda dan rahsia anda yang paling dalam, maka seluruh alam ini akan lenyap dari pandangan anda dan anda akan lihat Allah sendiri, bukannya diri anda sendiri dan juga makhluk-makhluk lain. Kaum Sufi menafikan wujud yang lain kecuali Allah. Maka mereka mencapai kedamaian dan kerehatan dan terus memasuki KalamNya. Mereka tidak akan keluar lagi. Tetapi penafian anda tidak ada langsung hujungnya…………
Ghirullah(selain Allah) tidak akan lenyap dengan hanya mengatakan “tidak” dengan lidah sahaja; dan belum sempurna juga lagi dengan mata keimanan dan keyakinan, tetapi akan lenyap dengan pandangan secara langsung dan berhadapan muka.
“Sesungguhnya Allah itulah matlamat anda yang terakhir” (Al-Qur’an).
Dialah sumber segala-galanya. Maka anda tidak perlu lagi nafi dan tidak perlu isbat. Ini adalah kerana Yang Wajib itu telah memangnya isbat walaupun belum anda isbatkan, dan yang ghairullah itu sememangnya nafi walaupun sebelum anda nafikan.
Tidakkah anda ingin menemui guru yang dapat mengajar anda bagaimana menafikan ghairullah dan membawa anda kepada kedamaian di mana anda dapati tidak ada yang lain kecuali Allah?. Maka barulah anda hidup dengan Allah dan dapat menjadi penghuni “Dalam tempat tinggal orang-orang yang ikhlas di Majlis Tuhan Yang Maha Agung”, dan ini adalah semuanya hasil daripada ingat anda dan makrifat anda bahawa “Tiada Tuhan selain Allah”.
Anda tahu kata-kata Syahadah itu sahaja dan yang paling dalam yang anda tahu ialah berkata; “Tidak ada yang patut disembah melainkan Allah”. Ini adalah pengetahuan orang-orang awam(biasa) tetapi apakah kaitannya dengan pengetahuan atau ilmu orang-orang Sufi?.
Pengetahuan anda yang sekarang itulah yang menghalang anda memahami pengetahuan orang-orang pilihan(Sufi). Masihkan anda menafikan pengetahuan yang didapati dari bimbingan guru menuju Hakikat, padahal mereka yang dipimpin itu memandang tidak yang wujud kecuali Allah? Mereka bukan sahaja mengenal Allah dengan Iman dan keyakinan saja, tetapi mereka memandang dengan cara pandangan yang terus tanpa halangan. Omong kosong tidak sama dengan melihat, bertemu muka.

Hakikat Lailahaillallah Muhammadurrasulullah – لا اله الا الله محمد رسول الله

Hakikat Lailahaillallah Muhammadurrasulullah – لا اله الا الله محمد رسول الله


Sebagai kaum muslim kita sering melafadzkan kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله (laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah) atau yang lebih dikenal dengann kalimat tauhid. Tapi selama ini kita hanya sebatas melafadzkannya dengan lisan tanpa dibarengi dengan kamantapan hati serta pengetahuan tentang makna dan hakekat kalimat tersebut. Padahal kalimat tauhid mengandung makna yang sangat dalam dan memberikan pengaruh yang luas bagi kehidupan manusia di dunia ini.
Kalimat laa ilaaha illallah terdiri atas nafyu “laa ilaaha” dan itsbat “illallah”. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Artinya seorang muslim tidak boleh hanya melafadzkan nafyu-nya tanpa itsbat atau sebaliknya hanya meng-itsbat-kan tanpa me-nafyi-kan.
Kalimat tauhid harus merupakan perkataan hati dan sekaligus perkataan lidah. Perkataan hati mencakup pengetahuan mengenai kalimat itu dan pembenarannya, mengetahui sebenar-benarnya apa yang dikandungya berupa penafsiaran dan penetapan, mengetahui hakekat sesembahan yang dinafikan selain Allah, mengetahui sesembahan yang dikhususkan kepada-Nya, dan yang lainnya mustahil ditetapkan sebagai sesembahan. Menerapkan pengertian ini dengan melibatkan hati sanubari yang didasari pengetahuan, ma’rifat, keyakinan dan kondisi adalah merupakan syarat diharamkannya neraka bagi orang yang mengatakannya. Di dalam shahih Muslim disebutkan sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah serta mengkufuri apa yang disembah selain Allah, maka diharamkan harta dan darahnya sedang perhitungannya ada pada Allah.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Hakekat laa ilaaha illallah adalah tidak ada kesenangan dan kenikmatan yang sempurna bagi hati kecuali dalam kecintaan kepada Allah dan bertaqarrub kepada-Nya dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya. Kecintaan tak akan terjadi kecuali dengan berpaling dari kecintaan selain-Nya, sedangkan Muhammad Rasulullah adalah secara murni mengerjakan apa yang beliau perintahkan dan menahan dari apa yang dilarang dan dicegah beliau.”
Sedangkan Ibnu Qoyyim berpendapat: “Tauhid bukan sekedar pernyataan seseorang hamba bahwa tiada pencipta selain Allah, Allah adalah Rabb dan penguasa segala sesuatu, sebagaimana orang-orang yang menyembah berhala juga menyatakan seperti itu, tetapi tetap dalam kemusyrikan. Tauhid mengandung kecintaan kepada Allah, tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya, patuh sebenar-benarnya untuk taat kepada-Nya, memurnikan ibadah kepada-Nya, menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha Tinggi dengan segenap perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan, mencinta dan marah karena-Nya, serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menyeret kepada kedurhakaan kepada-Nya. Barangsiapa mengetahui hal itu tentua mengetahui sabda Nabi: “Sesungguhya Allah mengharamkan api neraka atas orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah karena dengan ucapannya itu ia mengharap pertemuan dengan wajah-Nya.” Dan juga sabdanya: “Tidak masuk neraka orang yang mengatakan laa ilaaha illallah.”
Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “Inilah penjelasan yang paling penting tentang makna laa ilaaha illallah. Sekedar ucapan tauhid ini saja belum mampu menjaga darah dan harta, bahkan juga tidak hanya sebatas pada penetapannya saja, tidak terbatas pada perbuatannya yang tidak berdo’a kecuali kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Harta dan darahnya tidak diharamkan bila seseorang menambahi kekufurannya dengan sesuatu yang disembah selain Allah. Andaikata ia bimbang dan ragu-ragu tentang kalimat ini, maka darah dan hartanya tidak diharamkan. “
Lebih lanjut lagi Muhammad bin Wahab menjelaskan kalimat tauhid mempunyai kepentingan membebaskan manusia dari penyembahan sebagian diantara manusia terhadap sebagian yang lain kepada penyembahan Dzat Yang Maha Esa dan Yang Maha Kuasa. Taqwa menjadi ukuran dan kebanggaan yang selalu diharapkan manusia, bukan tradisi jahiliyah yang diwariskan bapak dan nenek moyang kepada anak-anaknya. Maka setiap muslim yang benar-benar dalam keislamannya akan memperoleh kebebasan menyelami kalimat ini, sehingga ia termasuk orang yang menyembah Allah berdasarkan pengetahuan, kepandaian dan keyakinan.
Pengaruh Kalimat laa ilaaha illallah dalam Kehidupan Manusia
Seperti halnya shalat, kalimat tauhid juga memberikan pengaruh pada diri seorang muslim dalam kehidupannya. Al-Maududi menyebutkan ada sembilan pengaruh kalimat laa ilaaha illallah dalam kehidupan manusia:
Pertama, dengan kalimat ini pandangan seorang muslim tidak menjadi sempit, berbeda dengan orang yang mengakui banyak sesembahan, terlebih lagi bagi yang mengingkari-Nya.
Kedua, menumbuhkan kehormatan dan harga diri yang tidak bisa diperbuat oleh sesuatu yang lain.
Ketiga, menumbuhkan sikap tawadhu’ tanpa menghinakan dan rendah hati tanpa menyombongkan diri.
Keempat, seorag mukmin akan mengetahui secara yakin, tiada jalan keselamatan dan keberuntungan kecuali dengan menyucikan diri dan beramal sholeh.
Kelima, tidak tersusupi rasa putus asa, sebab ia yakin Allah mempunyai simpanan di langit dan di bumi.
Keenam, menunjukkan manusia kepada kekuatan besar berupa ambisi, keberanian, sabar, keteguhan hati, dan tawakkal ketika mengemban urusan-urusan penting karena mengharap ridha Allah, dan juga merasakan satu kekuatan yang menguasai langit dan bumi.
Ketujuh, menggerakkan keberanian pada manusia dan mengisi hati dengan semangat. Karena yang membuat manusia menjadi takut dan melemahkan ambisinya ada dua hal, yaitu; kecintaan terhadap dirinya sendiri, harta dan keluarga serta keyakinannya bahwa disana ada seseorang selain Allah yang dapat mematikan manusia.
Kedelapan, mengangkat kemampuan manusia, menumbuhkan ketinggian, kepuasan dan kecukupan, membersihkan hati dari noda-noda kerakusan, tamak, dengki, rendah diri, suka mencela dan sifat-sifat kurang baik lainnya.
Kesembilan, iman kepada laa ilaaha illallah menjadikan seorang mukmin selalu terkait dengan syari’at Allah dan sekaligus menjaganya.
Ibnu Rajab menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan kalimat tauhid: “Allah tidak melimpahkan kenikmatan kepada seorang hamba lebih besar daripada memberinya pengetahuan tentang laa ilaaha illallah. Kalimat ini bagi para penghuni surga bagaikan air dingin bagi para penduduk dunia. Karenanya disediakan daruts-tsawab dan darul iqab. Karenanya pula para rasul diperintahkan berjihad. Maka barangsiapa yang menyatakannya, harta dan darahnya terjaga. Dan barangsiapa yang tidak mau mengatakannya, harta dan darahnya dihalalkan. Kalimat ini merupakan kunci surga dan kunci dakwah para rasul.”
Maka dari itu, megapa Allah menjadikan kalimat tauhid sebagai rukun Islam yang pertama dan yang terpenting dalam Islam? Yaitu untuk menjadikan seseorang manusia sebagai muslim. Yang dimaksudkan muslim adalah hamba yang taat dan tunduk kepada Allah. Seseorang tidak bisa disebut hamba Allah kecuali ia benar-benar beriman dari hatinya bahwa tidak ada illah selain Allah. Karena kita akan menjadi muslim sejati dengan mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya jika kita sudah memiliki keyakinan yang kuat tentang kebenaran-kebenaran Islam yang dimulai dari rukunnya yang pertama. Wallahu a’lam bishshowab.

Kenali rohani jasmani jiwa dan raga manusia


Umumnya ramai orang yang hanya menyebut aspek kehidupan manusia itu hanya terdiri daripada rohani dan jasmani. Jarang diantara mereka yang mengetahui bahawa aspek kehidupan manusia itu terdiri daripada rohani jasmani jiwa dan raga.
Rohani jasmani jiwa dan raga.
Dalam firman Allah Taala surah Shaad (38:71-73) yang bermaksud:
Ingatlah ketika Tuhan mu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadianya, maka Ku tiupkan kepadanya Ruh Ku. Maka hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuannya.
Pada ayat yang lain pula, Allah menjelaskan tentang penciptaan jiwa (nafs). Surah Asy Syams (91:7-10) . Firmanya yang bermaksud:
Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya.
Selain itu, Allah juga berfirman dalam Al Quran tentang proses kejadian jasad (jisim). Surah Al Mukminun (23:12-14):
Dan sesungguhnya Kami telah menciptkan manusia dari sari pati dari tanah, Kemudian jadilah sari pati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain, maka maha suci Allah. Pencipta yang paling baik.
Alam raga
Raga itu adalah daripada unsur tanah yang berkeadaan pepejal bersifat kering. Unsur tanah boleh cair menjadi air yang bersifat basah, air meruap menjadi angin yang bersifat dingin dan angin boleh menghidupkan api yang bersifat panas. Oleh itu unsur tanah, air, angin dan api adalah disebut unsur alam benda. Pergerakan unsur inilah yang membina tenaga alam semesta untuk keperluan manusia membina kesihatan hidup rohani, jasmani, jiwa dan raganya.
Alam raga seperti kehidupan tumbuhan, haiwan dan manusia memerlukan unsur alam benda untuk membina tenaga raga yang di perolehi dari bahan makanan, minuma, udara dan api (haba).
Saripati makanan, minuman, udara dan haba membina tenaga raga manusia yang teriri daripada darah, urat, nafas dan haba untuk membina tenaga jiwa.
Alam jiwa
Bermula tenaga jiwa manusia adalah terbit dari tenaga alam raga iaitu darah. Darah adalah cecair yang mengandungi saripati makanan, minuman, udara dan haba yang mengitari seluruh anggota tubuh badan manusia.Darah adalah berpusat di jantung sanubari tubuh badan manuia. Dari jantung sanubari manusialah terbitnya tenaga jiwa dalam bentuk perasaan yang dikenali dengan nafsu amarah.
Nafsu ammarah disebut oleh Allah di dalam Al-Quran, Firman Allah yang bermaksud,
“ Sesungguhnya nafsu (ammarah) itu sangat menyuruh berbuat jahat. “ (Surah Yusuf: 53)
Nafsu amarah ini adalah perasaan yang maseh lagi dipengaruhi alam benda yang membina alam raga. Oleh itu nafsu amarah adalah seperti sifat haiwan yang cenderung kepada makan minum, beranak pinak dan permusuhan untuk menguasai alam benda.
Ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Ali Imran, yang bermaksud:
Dijadikan indah pada pandangan manusia, merasa kecintaan apa-apa yang dingininya (syahwat) iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang bertimbun dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakan dan sawah ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat sebaik-baik kembali.
Oleh itu nafsu amarah adalah sentiasa mendustakan nama tuhanNya kerana hanya mengucapkan nama alam benda yang disembahnya. Sesungguhnya alam raga yang dibina dari alam benda telah menghijab manusia sehingga lalai mengingati nama tuhanNya. Oleh itu nafsu amarah yang terbit dari unsur api pula sangat mudah diresapi oleh sifat syaitaniah yang dicipta dari unsur api yang mendusti nama tuhanNya.
Nafsu amarah cuma boleh dibendung setelah mata hati sanubarinya menyaksi لا اله الا الله محمد رسول الله (lailahailallah Muhammaduraslullah) ia itu menyaksikan tiada tuhan yang di sembah melainkan Allah dam menyaksikan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah.
Hanya setelah hati sanubari manusia dipancarkan oleh Nur kebenaran Kalamullah yang di wahyukan kepada junjungan besar Nabi Muhammad saw menerusi Malaikat Jibril as sajalah baru nafsu amarah boleh beraleh kepada nafsu Lawwamah. Nafsu lawwamah adalah kesedaran jiwa manusia yang lalai kepada alam benda setelah mengingati nama Allah tetapi maseh lalai kepada tuhanNya kerana asyik mencela kejahatan makhluk (syaitan).
Di dalam Al-Quran, Allah berfirman yang bermaksud:
“ Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah (mencela dan pengkritik diri). ” (Al-Qiamah: 2)
Nasfu lawwamah beraleh kepada nafsu mulhammah setelah hati sanubari manusia dipancari Nur Kalamullah yang bermula dengan memuji nama tuhanNya, Alhamdulillah ia itu Alhamdulillahirabilalamin seperti yang terkandung dalam surah Pembukaan al Quran ia itu al Fatihah. Dengan memuji nama tuhanNya, maka turunlah di hati sanubari manusia sifat Rahman dan Rahim seperti ayat al Fatihah yang berikutnya. Dengan sifat Allah yang Rahman dan Rahim inilah melenyapkan sifat cela manusia dan menyembah sifat Allah untuk menenangkan hati sanubari manusia dan beraleh kepada nafsu Mutmainnah itu jiwa yang tenang.
Firman Allah,
“ Demi nafsu (manusia) dan yg mnjadikannya (Allah) lalu diilhamkan Allah kepadanya mana yg buruk dan mana yg baik, sesungguhnya dpt kemenanganlah org yg mnyucikan hatinya dan rugilah (celakalah) org yg mngotorkannya. ” (As-Syam: 8-10)
Dengan nafsu mutmainnah manusia menyembah afaal Allah ia itu dengan menurut segala perintah Allah. Dan manusia akan kembali kepada tuhannya dalam keadaan redo meredoi. Maka layaklah manusia itu menjadi hamba Allah yang meninggalkan segala dakwa dakwi dan masuk ke dalam syurgaNya.
Seperti yang dinyatakan oleh Al Quran (Al-Fajr : 27-30 ) yang bermaksud:
Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, masuklah ke dalam syurgaKu.
Hasil kegigihan melatih diri untuk memakrifatkn diri kepada Allah, orang yang brnafsu mutmainnah akan meningkat kepada nafsu radhiah. Orang ini memiliki keseluruhan sifat mahmudah dan kuat hubungan hatinya dengan Allah. Orang ini memdapat pimpinan ilmu laduni dan mempunyai pandangan mata hati yang tajam atau dikenali sebagai firasat.
Sepertimana sabda Rasulullah SAW:
“ Takutilah akan firasat org mukmin, bahawasanya org2 mukmin itu melihat dgn nur Allah (petunjuk Allah SWT). “ (Riwayat At-Tirmizi)
Tabiat orang peringkat ini luar biasa, ia tidak takut pada bala Allah dan tidak tahu gembira pada nikmat Allah, yang ia tahu hanya keredhaan Allah dan hukuman-Nya.
Firman Allah yg brmaksud:
“ Ssungguhnya wali2 Allah itu tak pernah rasa takut dan bimbang. “ (Surah Yunus: 62)
Nafsu mereka sudah terkikis dari akar umbinya sekali dan mereka disinari oleh nur syuhud kepada makrifat, bertalu talu masuk ke dalam hati nurani yang tetap waja itu.
Alam di sekeliling mereka laksana cermin. Apabila melihat alam ia ‘nampak’ (teringat atau terasa) akan Allah. Hal itu berlaku setiap ketika.Makam ini yang disebut sebagai makam musyahadah seperti mana Rasulullah SAW bersabda di dalam hadis tentang sifat ‘al-ihsan’.
Sabda Rasulullah saw:
“ … maksud ehsan ialah apabila engkau menyembah Allah hendaklah terasa seolah olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahawa Allah melihat kamu. “ (Riwayat Muslim)
Sifat sifat mahmudah yang timbul dari nafsu radhiah ialah zuhud, ikhlas, wara’, mninggalkan perkara perkara yg bkn urusannya, memelihara hukum-hakam Allah dan lain2 sifat kerohanian yang tinggi.
Makam nafsu ini hanya dapat dicapai oleh para wali Allah. Mereka dapat merasa nikmat melakukan kebajikan dan berbudi luhur. Zikir wiridnya hebat, bukan sekadar di lidah tetapi hatinya penuh khusyu’ dan tawadhu’ mengingati Allah.
Firman Allah SWT:
“ Berzikirlah pada Tuhanmu dalam hatinya dalam keadaan merendah diri dan takut. “ (Al-A’raf:205)
Mereka yang telah sampai ke peringkat nafsu mardhiah kelihatan lebih tenang dan tenteram. Hati dan jiwanya telah benar benar sebati dengan Allah SWT.
Sabda Rasulullah SAW yg brmaksud:
“ Apabila kamu sekalian melihat seseorg mukmin itu pendiam dan tenang, maka dekatilah ia. Ssungguhnya dia akan mengajar kamu ‘hikmat’. “ (Riwayat Ibnu Majah)
Segala gerak-geri org di peringkat nafsu ini diredhai Allah. Sabda Rasulullah SAW dlm hadis Qudsi:
“ Sentiasalah hamba-Ku berdampingan kepada-Ku dengan mengerjakan ibadat sunat hingga aku kasihkan dia maka apbila Aku kasihkan dia nescaya adalah Aku pendengarannya yg ia mendengar dgnnya, penglihatan yg ia melihat dgnnya, pertuturan lidahnya yg ia bertutur dgnnya, penampar tgnnya yg ia menampar dgnnya, brjalan kakinya yg ia brjalan dgnnya dan brfikir hatinya yg ia brfikir dgnnya. “ (Riwayat Imam Bukhari)
Orang yang dapat mncapai martabat nafsu mardiah digelar wali Allah dlm martabat yang istimewa.
Orang yang berada di peringkat nafsu kamilah ini, berada di peringkat nafsu tertinggi. Setiap perlakuannya benar2 mengikut garis keredhaan Allah dan tidak pernah terdorong oleh hasutan nafsu dan syaitan kepada kejahatan.
Cintanya tertumpu pada Allah, ingatannya pada Allah tidak pernah putus. Allah SWT membayangkannya dalam hadis Qudsi yang brmaksud:
“ Ssungguhnya telah lama org yg baik2 itu rindu utk brtemu dgn Aku, dan (sebaliknya) Aku lebih rindu utk brtemu dgn mereka. ” (Riwayat Abu Darda’)
Hanya para rasul, para nabi dan wali Allah shj yang boleh sampai ke taraf nafsu kamilah. Orang soleh, pejuang kebenaran boleh menuju ke tingkat nafsu yg tinggi itu dgn proses mujahadah yg brsungguh sungguh.
Apabila kita telah mengenal di mana tahap nafsu kita, maka dapatlah kita brusaha meningkatkannya ke peringkat yg lebih tinggi dan mndorongnya kpd kebaikan. Bahkan tuntutan meningkatkn nafsu ke makam yang tinggi adalah diperintahkan.
Kerana orang yang berada di peringkat nafsu terendah yang brtaraf binatang, bererti ia sentiasa berada dalam suasana maksiat dan berdosa serta menderhakai Allah. Maka wajiblah meninggalkan segala maksiat dan kembali menjadi hamba Allah yang taat.
Alam jasad
Alam jasad adalah alam kehidupan yang menyatakan keadaan nyawa jiwa raga manusia. Kehidupan jasmani dinyatakan oleh parasrupa, gerakgeri, tingkahlaku dan budibahasa. Kehidupan jasmani adalah pendirian hidup manusia zahir dan batin untuk menyembah nama, sifat, afaal Allah swt. Parasrupa kehidupan jasmani manusia adalah untuk menyembah nama Allah. Gerakgeri kehidupan jasmani manusia untuk menyembah sifat Allah. Tingkahlaku kehidupan jasmani manusia untuk menyembah afaal Allah dengan menurut segala perintahNya. Budibahasa manusia adalah untuk menyatakan diriNya.
Alam rohani
Alam rohani adalah alam roh yang menyatakan kudrat, iraat, ilmu dan hayat tuhan.
….sambung kemudian.

Hantu Raya



Hantu Raya dalam budaya Melayu, merujuk kepada sejenis makhluk halus dan perkara tahyul. Ia dikatakan terdiri daripada golongan jin atau syaitan, yang dipelihara bagi tujuan membantu tuannya melakukan kerja dan juga bagi memudaratkan musuh. Pemeliharaan makhluk halus ini dikenali sebagai saka.

Hantu Raya akan dikawal oleh pemiliknya yang boleh menyuruhnya melakukan apa-apa juga jenis kerja berat. Hantu Raya juga boleh disuruh oleh tuannya bagi merasuk seseorang. Hantu raya mempunyai keupayaan menjelma sebagai manusia biasa atau haiwan lain, dan biasanya Hantu Raya akan menjelma sebagai tuannya.
Hantu Raya yang dipelihara itu akan perlu diberi makan sebagaimana yang dipersetujui. Biasanya makanan yang disediakan dikenali sebagai acak / sajian termasuk telur, ayam panggang, pulut kuning dan sebagainya. Sekiranya tidak dijaga dengan baik dan diberi makan, Hantu Raya yang kelaparan itu akan menyerang tuannya.
Hantu Raya biasanya perlu diwarisi, dan sekiranya tidak diturunkan kepada waris, tuannya akan menjadi bangkai bernyawa. Tubuhnya mati dan berbau busuk, tetapi apabila hendak dikebumikan, ia akan bangkit seperti hidup. Selain itu, ia akan makan dengan lahapnya apabila diberi makan.
Matlamat
Hantu Raya biasanya dipelihara bagi tujuan membantu tuannya melakukan kerja-kerja berat. Hantu Raya juga boleh disuruh membinasa musuh atau orang yang dibenci pemiliknya. Dinamakan Hantu Raya bersempena saiznya yang besar seperti penggunaan dalam bahasa Melayu Balairaya, jalanraya dan sebagainya
Kelebihan
* Hantu Raya biasanya mampu melakukan kerja-kerja berat seperti empat atau lima orang dengan mudah.
* Ia boleh menjelma sebagai manusia.
* Ia boleh membinasa musuh atau orang yang dibenci pemiliknya.
Kelemahan
* Pengamal ilmu sihir hitam atau ilmu sesat ini adalah satu perbuatan syrik dalam ugama Islam.
* Hantu Raya akan mengamuk sekiranya tidak dijaga dengan baik.
* Tuannya sukar untuk mati sekiranya tidak ada orang hendak menerimanya.
* Hantu raya suka menyamar sebagai pemiliknya dan akan tidur bersama isteri tuannya jika tidak dikawal.
Penelitian secara ilmiah
Bagaimana tuan punya menurunkan kepada warisnya adalah melalui keris yang diperturunkan dari generasi ke generasi. Biasanya setitik darah tuannya dikehendaki untuk memastikan tuan yang baru dan akan menurut perintah tuannya.
Ramai orang tua yang mengamalkan bahawa dengan mempunyai pendamping ini mereka merasa selamat dari ancaman musuh tetapi hantu raya atau jin ini ada kelemahannya.
Kelemahan hantu raya
Dari segi agama Islam, gunakan lada kering, garam dan arang sahaja. Setiap batang lada patahkan tiga bahagian dengan bacaan Al-Fatihah setiap satu dan sebanyak 40 batang lada kering diperlukan (jadi 120 batang kecil). Bacakan ayat Kursi sebanyak 33 kali dan hembuskan keatas air. Renjis air ini ke atas garam dan arang tadi.
Kemudian gunakan arang ini untuk menghidupkan api di atas dupa. Letakkan sedikit lada dan garam sedikit demi sedikit sehingga habis. Masa yang sesuai dari pukul 6.00 petang sehingga habis lada di bakar. Hantu raya akan lari atau mengakibatkan dia cedera disebabkan oleh gas lada ini. Biasanya ia akan membunuh tuannya kerana tuannya tidak dapat mengubatinya.
Ayat Kursi adalah pantang jin dan lada serta garam adalah musuhnya. Gunakan sebaiknya kaedah ini sekiranya anda memasuki rumah yang lama tidak diduduki atau diganggu hantu raya atau anda mengalami sakit yang tiada puncanya. Asapkan badan atau bahagian yang sakit dengan asap lada ini. Insya ALLAH, doa anda dimakbulkan oleh ALLAH S.W.T.


Istidraj itu bahaya


Saya telah merujuk Kamus Al-Muhit karangan Al-Fairuz Abadi tentang asal perkataan “istidraj”ini. Pengarang kamus ini berkata:
” Istadrajahu- membawa makna ia menipu dan ia merendah-rendahkannya”.

Jika dikata:” Istidrajullah al-abda”(Allah menIstidrajkan hambanya) membawa erti/makna setiap kali hambaNya (insan) membuat/ menambah/ membaharui kesalahan yang baru maka setiap kali itu juga Allah akan membuat/ menambah/ membaharui nikmatNya ke atas hambaNya itu dan setiap itu juga Allah membuatkan hambaNya itu lupa untuk memohon ampun atas dosa yang dilakukan terhadapnya dan setiap itu juga Allah akan mengambilnya sedikit demi sedikit(ansur-ansur) dan Allah tidak mengambilnya dengan cara yang mengejut!
Allah berfirman di dalam ayat 182 Surah Al-A’raf yang bermaksud(sila rujuk untuk kepastian) :”Orang2 yang mendustakan ayat-ayat Kami(Allah), nanti akan Kami { binasakan mereka itu dengan beransur-ansur } sedang mereka tidak tahu.”
Cuba anda lihat maksud ayat Alquran yg berada di dalam isyarat { }. Itu adalah maksud “istidraj” yang sedang kita bincang sekarang. Iaitu ia membawa makna “Istidraj” suatu perkara yang di luar adat kebiasaan yang belaku terhadap seseorang insan bertujuan untuk membinasakan ‘insan’ tersebut dengan cara berangsur-ansur atau tidak disedari atau sedikit demi sedikit dan bukan mengejut. Jika kita beriman benar-benar pada Allah, Insya Allah takkan terjadi “istidraj” pada kita. Percayalah.. 🙂
Imam AlQurtubi telah berkata di dalam buku tafsinya yang bernama Tafsir Jamie’ Al-Ahkam. Antaranya:-
Seorang ulamak tafsir yang bernama ‘Add-Dhohhak’ telah mengulas mengenai ayat 182 Surah Al-a’raf ini. Katanya: “Allah berfirman :Setiap kali mereka menambah/membuat/membaharui maksiat yg baru maka setiap itu Aku(Allah) membaharui/menambah/membuat nikmat ke atas mereka”.
*** Dr.Abd.Qadir As-Sa’di(bekas pensyarah di Universiti Al al-Bayt, Jordan) telah berkata mengenai asal usul pemberian nama”Add-Dhohhak-ulamak tafsir” tadi : “diberi beliau nama tersebut kerana… beliau berada dalam kandungan ibunya selama 2 atau 4 tahun. Pabila dilahirkan beliau lahir dalam keadaan yang sudah pun bergigi(tumbuh gigi) dan pabila dilahirkan beliau terus ketawa”. Subhanallah… begitulah keajaiban penciptaan Allah.
Ketika mana Tentera Islam mendapat harta Kisra(Maharaja Parsi) maka Saidina Umar Al-Khattab telah berkata: [“Wahai Tuhan! Aku ingin meminta perlindungan dari engkau dari menjadi orang yang mendapat “Istidraj” kerana aku mendengar Engkau berfirman(maksud ayat 182 Surah Al-A’raf) :Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami(Allah), nanti akan Kami binasakan mereka itu dengan beransur-ansur sedang mereka tidak tahu” ]
Istidraj: “diberi kepada mereka nikmat dan dihilangkan kepada mereka erti kesyukuran”.
Professor Dr.Qahtan Ad-Duri(salah seorang pensyarah di Universiti Al al-Bayt, Jordan) telah berkata di dalam bukunya Usuluddin Al-Islami:
Al-Istidraj :-
Iaitu perkara luar biasa yang berlaku ke atas orang Fasik atau Kafir sebagai tipu daya buat mereka. Ia akan menambahkan lagi kejahilan dan kebodohan mereka sehinggalah balasan Allah s.w.t menimpa mereka di dalam keadaan mereka lupa.
Allah s.w.t telah berfirman di dalam ayat 44 – 45 surah Al-An’am yang bermaksud: (sila rujuk untuk kepastian)
“Tatkala mereka lupa akan apa yg diperingatkan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka beberapa pintu tiap-tiap sesuatu (nikmat dan kesenangan), sehinggalah apabila mereka telah bersuka ria dengan (kesenangan)yang mereka perdapat itu, lalu dengan se-konyong-konyong Kami siksa mereka, sehingga mereka berputus asa.” -44- “Maka dihapuskanlah akhirnya kaum yang aniaya; dan pujian-pujian bagi Allah Tuhan Semesta Alam” -45-
Rasulallah s.a.w telah bersabda yang bermaksud:
“Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hambaNya di dunia ini apa yang hamba itu suka atau berhajat, sedangkan hambaNya itu tetap dalam kemaksiatannya maka itulah ISTIDRAJ”. Selepas itu Rasulallah s.a.w pun membaca ayat tadi 44- 45 (surah Al-An’am) yang bermaksud… (sila rujuk makna ayat 44 dan 45 pada perenggan yg tersebut tadi).
Tamat Cerita “Istidraj”. Semoga anda faham dan berwaspada atau berhati-hati dalam setiap langkah anda !!!

Amalan khurafat bomoh Melayu



Orang Melayu kebanyakannya begitu mengambil berat dalam perkara-perkara yang berhubung dengan adat istiadat, sehingga ada pepatah Melayu yang menyatakan ” Biar Mati Anak Jangan Mati Adat “. Pepatah ini menunjukkan betapa kuat dan kukuhnya pegangan orang-orang Melayu tentang adat istiadat mereka.

Persoalannya golongan manakah yang mengada dan memperkenalkan adat istiadat dan perkara khurafat tersebut dan sejak bilakah mulanya adat istiadat dan perkara khurafat itu telah bertapak dalam masyarakat Melayu ?
Persoalan yang lebih besar dan penting ialah adakah adat-istiadat yang diamalkan oleh orang-orang Melayu itu bertepatan dan selari dengan Hukum Syarak atau bertentangan sama sekali dengan Hukum Syarak?
Amalan Khurafat ialah perbuatan atau perkara-perkara yang menyalahi hukum syarak yang masih terdapat dalam aktiviti masyarakat Melayu moden sehingga ke hari ini. Kepercayaan yang telah kuat bertapak dan berakar umbi dalam masyarakat Melayu itu seolah-olah telah menjadi satu pegangan atau tradisi yang mesti dilakukan dalm majlis-majlis atau perayaan tertentu.
Sebenarnya banyak perkara Khurafat yang dilakukan oleh masyarakat Melayu antara contohnya ialah apabila ada majlis perkahwinan dengan upacara persandingan yang seolah-olah satu kewajipan, sedangkan persandingan itu merupakan adat Hindu yang mengagung-agungkan Dewa Rama dan Dewi Sita.
Begitu juga apabila ada sesuatu kematian, dan selepas kematian mesti diadakan kenduri masuk kubur, 3 hari (makan serabai ), kenduri pecah perut pada hari ke 7, kenduri 40 hari iaitu ruh berpisah dengan waris dan kenduri 100 hari iaitu turun batu nisan dan bagi ruh itu memasuki dalam jemaahnya sebagai ahli kubur.
Kebiasaannya orang yang menghidup dan memainkan peranan utama dalam hal ehwal adat istiadat Masyarakat Melayu dan perkara-perkara Khurafat yang menyeleweng dan bertentangan dengan Syariat Islam ini adalah terdiri daripada Bomoh, Pawang, Bidan, Dukun, Guru latihan pertahanan diri, Mak Andam dan seumpamanya.
Peranan mereka dalam menghidupkan adat istiadat dan perkara Khurafat ini bergantung kepada bidang masing-masing. Antara Contoh-contoh adat istiadat dan perkara Khurafat yang sering dilakukan oleh orang-orang
Melayu sampai sekarang antaranya ialah seperti :-
a. Mendirikan Rumah Baru.
Antara Syarat dan adat Istiadat yang mesti di buat untuk mendirikan rumah baru ialah seperti mengantungkan buah kelapa muda di tiang seri rumah, menanam tahi besi / emas / perak / tembaga pada setiap tiang seri rumah dan menepung tawar sebagai upacara memulih rumah tersebut.
Acara-acara tersebut akan dilakukan oleh Bomoh, kononnya untuk mengelakkan daripada di ganggu oleh jin dan syaitan dan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada semua penghuni rumah tersebut. Sebenarnya upacara tersebut tidak lebih daripada upacara menjamu jin dan tidak ada kena mengena dengan keselamatan dan kesejahteraan penghuni rumah itu.
b. Upacara Menurunkan Perahu / Kapal yang baru ke laut.
Upacara ini di lakukan oleh Bomoh dengan harapan perahu / kapal tersebut selamat daripada gangguan hantu laut dan sebagainya semasa belayar di lautan luas. Upacara dilakukan dengan perahu itu di pulihkan dengan jampi serapah dan mentera dengan menggunakan tepung tawar dan sebagainya.
c. Kenduri Tolak Bala.
Kenduri ini dilakukan setahun sekali di tengah padang di sesebuah kampung, dengan setiap penduduk membawa sepinggan makanan. Imam di jemput untuk membaca doa dan Bomoh pula di jemput untuk membaca jampi serapah supaya kampung tersebut selamat dari bala bencana pada tahun tersebut.
Kenduri tolak bala sebenarnya boleh di buat pada bila-bila masa sahaja dan di mana-mana jua dengan syarat :-
i. Tidak bercampur antara lelaki dan perempuan yang ajnabi dalam majlis tersebut
ii. Melaksanakan kaedah-kaedah yang tidak menjadi tegahan syarak dalam majlis itu.
d. Upacara Persandingan.
Persandingan sebenarnya adalah salah satu bentuk pemujaan dalam agama Hindu di mana mempelai yang bersanding itu sebenarnya meniru adat Hindu yang memuja Dewa Rama dan Dewi Sita.
Persandingan secara ini memperlihatkan di sebelah perempuan Mak Andam sebagai pengiring utamanya dan di sebelah pihak lelaki pula Bomoh sebagai pengiringnya. Kedua-dua mempelai ini di arak dan di sanjung serta di
puja sepertimana orang-orang Hindu memuja Dewa Rama dan Dewi Sita, dengan sebab itulah pengantin baru di gelar sebagai Raja Sehari.
e. Mengandung / Kelahiran bayi
Sebelum ibu melahirkan anak, Bidan di jemput untuk mengadakan upacara lenggang perut. Semasa kelahiran bayi persiapan di buat dengan menyediakan kain kuning tujuh lapis, tilam dan bantal bewarna kuning serta pulut kuning dan putih. Duri di letakkan di bawah rumah supaya jangan di ganggu oleh hantu penanggal. Sementara pantang larang selepas bersalin pula adalah selama 45 hari.
f. Adat meninggal dunia dan selepas kematian.
Semasa seseorang meninggal dunia Bomoh akan meletakkan gunting di atas mayat semasa baru meninggal dunia. Semasa hendak menghantar mayat ke kubur diadakan pula kenduri masuk kubur, selepas 7 hari kematian, diadakan kenduri pecah perut, selepas 14 hari di adakan kenduri makan serabai ( sejenis kuih). Kenduri 40 hari sebagai tanda ruh berpisah dari waris. Kenduri 100 hari sebagai kenduri turun batu nisan dan ruh si mati telah masuk ke dalam kumpulannya di alam kubur.
Sebenarnya memperbanyakkan sedekah bacaan ayat-ayat Al-Quran dengan apa cara sekalipun, asalkan tidak menyalahi syarak dan tidak terdapat di dalamnya sesuatu yang menyalahi syarak dengan diniatkan pahala sedekah itu untuk disampaikan kepada ibu bapa yang telah mati daripada waris-warisnya yang masih hidup terutamanya anak-anak adalah digalakkan dalam Islam.
g. Upacara membuka gelanggang latihan pertahanan diri.
Upacara ini biasanya di lakukan oleh guru latihan pertahanan diri yang juga merupakan seorang Bomoh yang dilakukan supaya pelatih-pelatih latihan pertahanan diri di gelanggang tersebut tidak mendapat sebarang kecederaan semasa berlatih. Antara alat dan upacara yang di lakukan ialah seperti menyembelih seekor kambing atau ayam hitam dimana darah ayam dan kambing tersebut di semah di sekeliling gelanggang.
Sesetengahnya menyapu darah tersebut di tapak kaki pelatih latian pertahanan diri. Selepas itu Bomoh tersebut akan menyeru nama-nama panglima tertentu seperti Panglima Hitam dan sebagainya. Akhir sekali Bomoh tersebut akan mengasapkan kemian di sekeliling gelanggang dengan tujuan untuk menghalau hantu-hantu jahat daripada menghampiri gelanggang latihan pertahanan dirinya.
h. Membuang Air Kecil/Besar
Salah satu adat lagi yang sering di peringatkan oleh orang-orang tua kepada anak-anak muda mereka jika hendak membuang air semasa di dalam hutan atau di tempat-tempat yang sunyi atau di padang-padang atau ketika hendak melalui sesuatu kawasan atau pokok besar hendaklah meminta izin terlebih dahulu daripada Jin atau penunggu yang kononnya menunggu tempat tersebut dengan menyebut “Minta tabik
tok nenek, anak cucu tak tahu bahasa, nak tumpang kencing” atau “Minta ampun tok nenek anak cucu nak tumpang lalu”. Kononnya jika tidak meminta izin kemungkinan orang tersebut akan di sampuk oleh penunggu tempat tersebut.
Kesemua adat-adat di atas sebenarnya adalah campuran daripada pengaruh agama Hindu, agama Buddha dan adat istiadat orang-orang Asli yang memuja roh. Adat-adat tersebut masih kuat diamalkan dalam budaya orang Melayu, yang menyangkakan sebahagian daripada adat Melayu yang tidak bertentangan dengan agama Islam, tetapi sebenarnya adat istiadat dan budaya tersebut terang-terang bertentangan dengan Islam. Contoh Peralatan dalam pemujaan jin Yang biasa dilakukan oleh Bomoh, Pawang dan seumpamanya.
Peralatan yang sering digunakan oleh Bomoh dalam pemujaan jin yang kononnya dikatakan sebagai salah satu upacara dalam adat istiadat Melayu yang tidak boleh ditinggalkan antaranya adalah
seperti berikut :-
a. Puja Kubur.
Puja kubur adalah sebahagian daripada amalan sesetengah orang Melayu yang masih tebal dengan adat istiadat dan tradisi Melayu kuno dengan agama Hindu puja Dewa. Mereka percaya bahawa penghuni kubur itu boleh menghasilkan hajat mereka apabila di minta terutamanya apabila mereka berada di dalam kesusahan.
Kebiasaanya beberapa jenis makanan atau ” jamu ” seperti ayam panggang, bertih, pulut kuning, pisang emas dan lain-lain lagi di bawa dan diletakkan di atas kubur itu sebagai jamuan untuk penghuni kubur tersebut, sebelum meminta sesuatu hajat, yang hakikatnya adalah untuk ” jamu ” Jin . Yang jelas di sini sebenarnya mereka telah tertipu dengan permainan Jin yang mahu menyesatkan mereka.
b. Keris, Kemian dan Limau.
Keris sering dikaitkan dengan latihan
pertahanan diri, kekuatan, kemegahan dan kemashuran. Kebiasaannya banyak daripada keluarga orang Melayu yang mempunyai atau menyimpan keris sebagai sebahagian daripada barang pusaka yang perlu di pelihara dan di jaga dengan baik. Keris tersebut perlu dimandikan dengan limau dan di asapkan dengan kemian serta di balut dengan kain kuning atau hitam dan di simpan di tempat yang selamat. Pemujaan keris ini selalunya di buat pada malam jumaat dengan bacaan mentera dan jampi-jampi tertentu.
Pemujaan itu dilakukan dengan tujuan untuk memelihara kekuatan keris tersebut, supaya penjaga (saka) keris itu tidak menggangu keluarga mereka dan sebagainya. Sebenarnya keris tersebut tidak mempunyai apa-
apa kuasa kerana ianya adalah merupakan besi semata-mata tetapi yang berperanan terhadap keris tersebut, sebenarnya adalah terdiri daripada Jin yang menjadi khadam kepada keris tersebut.
c. Ancak.
Ancak di buat daripada buluh yang hampir sama dengan sangkak. Ada juga terdapat ancak yang di buat daripada daun pisang yang di isi dengan pulut kuning, bertih, ketupat dan sebagainya.
Ancak juga di gunakan sebagai “jamu” untuk Jin keturunan atau Jin penjaga kampung supaya tidak menggangu anak cucu atau penduduk kampung tersebut pada tahun itu. Kepercayaan menjamu dengan menggunakan ancak ini masih ada sehingga ke hari ini terutamanya bagi mereka yang masih ada lagi atau berpegang dengan saka atau Tok- Nenek atau Jembalang-jembalang keturunan.
d. Sanggu
Sanggu atau sampan biasanya diperbuat daripada upih pinang atau seludang kelapa. Upih atau seludang yang digunakan mestilah yang jatuh dari pokok dalam keadaan tercacak pada pangkal pokok. Di ambil upih atau seludang itu mestilah pada waktu senja.
Waktu membuat sanggu pula mestilah pada waktu tengah malam, mengadap ke arah matahari naik dan hendaklah di asap dengan kemian dan di baca mentera atau jampi-jampi tertentu. Tujuan pemujaan Jin yang menggunakan sanggu ini kebiasaannya adalah untuk memuja Jin keturunan atau saka.
Perkakas dan alat “jamu” yang di isi di dalam sanggu ini ialah, antaranya pulut kuning, ayam panggang, bertih, beras kunyit dan sireh pinang. Di tengah-tengah sanggu itu dipacakkan layar, lilin di letakkan di hujung dan di belakang sanggu. Kemudian sanggu tersebut di layarkan sebagai jamuan bagi Jin-Jin keturunannya.
e. Sangkak
Sangkak pula di perbuat daripada buluh dengan mengikut syarat-syarat tertentu. Di atasnya diletakkan seekor ayam panggang yang telah di proses dengan syarat-syarat tertentu ataupun pulut kuning dan bertih
sebagai “jamu” bagi Jin yang dihajatinya, samada Jin keturunannya atau Jin penjaga kampung supaya jangan menggangu keluarga atau kampung tersebut pada tahun itu.
Kemian diletakkan bersebelahan dengan sangkak tersebut sebagai bauan wangi yang sangat di sukai oleh Jin yang juga menjadi syarat utama untuk memanggil Jin tersebut.
Terdapat dua cara menguna dan meletakkan sangkak ini. Jika sangkak tersebut di buat untuk keselamatan keluarga maka ianya dibuat dan diletakkan di dalam rumah dengan di ikuti oleh majlis tahlil dan sebagainya. Jika sangkak tersebut di buat untuk menjaga kampung pula maka ianya di letakkan di tepi hutan atau di pinggir kampung dengan bacaan mentera dan jampi serapah tertentu dan kadang-kadang di sembelih pula seekor kambing atau kerbau.
f. Pemujaan Tanduk Kerbau.
Tanduk kerbau sering dijadikan bahan pemujaan oleh sesetengah kumpulan orang yang mempercayai akan kuasa yang ada padanya. Adakalanya digunakan dalam majlis-majlis tertentu seperti pertabalan pangkat atau meraikan sesuatu majlis.
Kepercayaan ini sebenarnya ada hubungan dengan kepercayaan puja Dewa bagi satu puak di Tanah Jawa, yang mempercayai adanya kuasa pada tanduk kerbau itu apabila di puja dan di sembah. (sebenarnya adalah kuasa Jin )
Pemujaan tanduk kerbau sering di aitkan dengan sesuatu keturunan. Namun apa yang jelas tanduk kerbau ini di gunakan sebagai alat pemujaan untuk menyeru Jin dan sebagai makanan atau ” jamu” kepada Jin tersebut. Tujuannya supaya Jin itu tidak menggangu kampung tersebut atau anak cucu orang yang berkenaan.
Biasanya tanduk tersebut diletakkan di atas suatu tempat tertentu, di atasnya di nyalakan lilin. Kain warna kuning atau merah di mahkotakan di bahagian kepala, sementara di sekelilingnya dihidangkan dengan kuih muih, pulut kuning, bubur merah dan lain-lain lagi. Pawang atau Bomoh akan memulakan upacara dengan membaca mentera atau jampi serapah tertentu untuk memanggil Jin berkenaan. Kadang kala apabila Jin itu datang, ia akan memasuki tubuh Pawang atau bomoh tersebut, dan bomoh itu akan bercakap sesuatu atau memberi nasihat atau amaran kepada mereka.
Ringkasnya pemujaan-pemujaan seperti yang dilakukan di atas adalah terang-terang bertentangan dengan agama Islam yang mulia dan semata-mata perkara Khurafat yang mesti kita jauhi demi keselamatan dan kebahagian hidup kita di dunia dan akhirat.
Keselamatan, kesihatan dan rezeki manusia sebenarnya telah di tentukan oleh Allah s.w.t dan bukannya bersebab dari upacara pemujaan tersebut. Hanya orang-orang yang sesat sahaja yang masih percaya kepada kuasa-kuasa pemujaan dan perkara-perkara Khurafat tersebut lah yang memberi sebab kepada
keselamatan, kesihatan dan keselamatan mereka.
KERIS LAGENDA ALAM MELAYU
Keris tidak dapat dipisahkan daripada orang Melayu. Keris merupakan lambang dalam alam latihan pertahanan diri bagi hulubalang-hulubalang dalam masyarakat Melayu sejak dari dahulu hingga kini.
Kehebatan dan kemegahan seni latihan pertahanan diri juga tidak akan teserlah tanpa penggunaan keris. Demikian juga sebahagian daripada permainan seni latihan pertahanan diri tidak akan sempurna jika tidak ada permainan keris.
Keris juga merupakan senjata utama kepada ahli-ahli latihan pertahanan diri Melayu. Tanpa keris seperti ada kecacatan pada seni latihan pertahanan diri tersebut. Sungguhpun keris tidak di bawa berjalan merata-rata pada zaman sekarang, namun ia masih lagi berfungsi sebagai mercu kemegahan seni latihan pertahanan diri tersebut, terutamanya pada saat upacara tamat latihan.
Keris juga memainkan peranan penting kepada sesetengah Bomoh, Pawang dan Dukun. Di dalam arena perubatan tradisional Melayu, keris digunakan sebagai alat perantaraan antara Jin dengan Bomoh bagi mengadakan upacara tertentu. Kadang-kala keris itu di asap dengan kemian terlebih dahulu untuk menyeru Jin yang dihajati. Setelah beberapa ketika datanglah Jin yang di seru itu melalui Bomoh tersebut. Ada sesetengah Bomoh yang menggeletar tubuh badan mereka apabila dimasuki Jin, namun ada juga yang sampai berguling-guling dan tidak ketinggalan juga yang berkeadaan biasa apabila dimasuki oleh Jin tersebut. Setelah selesai upacara itu dan Jin tersebut telah keluar dari tubuh bomoh, maka keris tersebut akan di kucup, di asap dan disarungkan kembali ke dalam sarungnya.
Biasanya orang-orang yang terlibat dalam bidang latihan pertahanan diri dan perbomohan gemar menggunakan keris, kerana mereka mempunyai kepercayaan yang kuat kepada kuasa keris tersebut. Sesetengahnya mendakwa memperolehinya dalam mimpi, apabila bangun dari tidur, didapatinya keris tersebut telah berada di sisinya.
Sesetengahnya pula mendapat keris tersebut setelah sekian lama bertapa di tempat-tempat tertentu. Tidak kurang juga yang memperolehinya dari warisan turun temurun dari datuk nenek mereka, yang kononnya mereka adalah warisnya dengan disyaratkan kepada mereka yang menjaga keris itu, mestilah melakukan apa jua syarat yang diperlukan sebagai penjaga warisan keris tersebut.
Dengan memiliki keris tersebut, jadilah ia seorang Bomoh ataupun pendekar dengan bantuan Jin penjaga keris terebut. Keris itu dihormati sebagai tetamu dan di jaga dengan rapi. Sesetengahnya mengambil kesempatan pada malam Jumaat untuk mengasapkan keris tersebut dengan kemian dan dimandikan dengan sintuk dan limau nipis bagi menjaga kuasa yang ada pada keris tersebut supaya tidak hilang. Selepas itu keris tersebut di bungkus dengan kain kuning atau hitam, di kucup dan di simpan di tempat yang khas dan selamat.
Ada di antara keris-keris itu yang berbunyi pada waktu malam atau siang mengikut keadaan dan keperluan. Contohnya bila ada tetamu hendak datang atau bila ada sesuatu bencana yang akan berlaku seperti banjir, musuh akan datang menyerang dan sebagainya. Keadaan berbunyinya berbeza-beza. Ada yang keluar masuk sarung tanpa henti sehingga diberhentikan, ada juga yang berlegar-legar atau bergegar di tempatnya dan macam-macam cara lagi.
Mengikut perkiraan lojik, adakah keris itu mempunyai nyawa untuk berbunyi atau bergerak-gerak ataupun keluar masuk ke dalam sarungnya sendiri? Tetapi apa yang sebenar berlaku ialah bergeraknya keris itu adalah disebabkan oleh Jin penjaga keris itu yang mahu memberitahu sesuatu kepada tuannya.
Orang yang sebeginilah yang selalunya di anggap Tok Keramat oleh sesetengah orang. Sebenarnya bagi orang yang memiliki keris tersebut, Jin penjaga keris itu bukan lagi sebagi khadam kepada keris itu, tetapi
sebaliknya sebagai tuan kepada manusia, kerana manusia (tuan keris) itu terpaksa akur dan patuh kepada segala kehendak Jin tersebut.
Kerana itulah keris tersebut perlu di asap dan dilimaukan sebagai syarat perhubungan mereka. Jika tidak Jin itu akan menggangu tuannya atau jika tuan keris itu sudah meninggal dunia maka Jin itu akan menggangu anak-cucunya pula dengan berbagai-bagai kesusahan dan penyakit. Penyakit itulah yang dinamakan “saka” atau keturunan. Maka bagi anak cucu yang mahu membela, maka diamlah Jin tersebut dari menggangu, sementara yang tidak mahu menerima, saka Jin itu akan terus menerus menggangunya.
-Hj. Ahmad b. Hj. Che Din-